9

Mr. Perfect [part 3]

 

Author : Kyusung

Rating : PG 15

Genre : Romance

Main Cast :

–        Cho Kyuhyun (Super Junior)

–        Park Saena (OC)

–        Nickhun (2PM)

P.S : Annyeong… ketemu lagi sama author geje ini. Adakah yang nunggu ff ini? hahaha.. *author kepedean. Mungkin dipart ini ceritanya agak lebih panjang dari biasanya. Hope u like it ^^ Continue reading

14

Mr. Perfect [PROLOGUE]

Author : Kyusung

Rating : PG

Genre : Romance

Main Cast :

–        Cho Kyuhyun

–        Park Saena

–        Nickhun

Support Cast :

–        Kim Jong Woon as Cho Yesung

–        Park Jungsoo as Park Jungsoo

Ps : Annyeong ^^ kyusung imnida,, ni ff pertama aku. Jgn lupa koment ya readers, klo byk yg koment ff ni bakal aku lanjutin tp klo dikit ya aku ga janji bakal dilanjutin apa nggak. Hehehe… Hope u like it. ^__^

Continue reading

8

Mafia’s Princess [part 1]

author         : ifaaaa
Genre          : Romance, Action
Cast             : Cho Kyuhyun , Nichkhun , Song Victoria , (OC) Cho Ha-Ra
Length         : Part 1-?

Diclaimer    : This Fanfict is mine, also all of the story is mine except kyuhyun,khuntoria and other cast are belong to them self. Don’t take my ff without my permission.

Pernah dipost di : ahnjunkyong.wordpress.com

NO SILENT READER !

Continue reading

10

[Freelance] Mafia Princess [part 1]

author         : ifaaaa
Genre         : Romance, Action
Cast             : Cho Kyuhyun , Nichkhun , Song Victoria , (OC) Cho Ha-Ra
Length        : Part 1-?

Diclaimer   : This Fanfict is mine, also all of the story is mine except kyuhyun,khuntoria and other cast are belong to them self. Don’t take my ff without my permission.

Pernah dipost di : ahnjunkyong.wordpress.com

NO SILENT READER !

Nichkhun’s pov.

BRUUUK
“omooo~ buku-buku ku??”
“ah, mianhae aku tidak sengaja menabrakmu. gwenchana?”
yeoja itu berdiri sambil mengambil buku-bukunya yang berserakan ditanah.
“tidak apa-apa. bukunya tidak ada yang lecet, hanya sediki kotor” ucapnya sambil berdiri dan merapikan buku-bukunya.
“aku menanyakan keadaanmu. bukan buku-bukumu”
“kau menanyakan keadaanku? haha tentu saja aku baik-baik saja. yang jatuh itukan buku-ku bukan aku” dia tertawa kecil. Manisnya yeoja ini…
aku melirik kearah jam tanganku. ah ya aku masih ada urusan.
“baiklah aku pergi dulu. maaf atas kejadian tadi” ucapku lalu berbalik menuju ke mobilku.
“cha..chankamman !!”
aku berbalik lagi kearahnya.
“wae?”
“bisa kau beri aku tumpangan? aku sedang terburu-buru. boleh ya?” dia tersenyum sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. sepertinya ia kedinginan.
“memang kau mau kemana?” tanyaku.
“ke apartementku.”
“ah ya, apartementmu dimana?”
“kau mau mengantarku?”
dia ini bagaimana sih? ditanya malah balik bertanya. Aneh.
“Ne. aku mau mengantarmu. tapi.. apartementmu tidak jauh dari sini kan?”
dia hanya mengangguk.
aku membuka pintu mobil dan menyuruh gadis itu masuk kemobil.

***

aku baru tahu bahwa cinta itu begitu sederhana.

Continue reading

10

LAST AND NOW LOVE

Well, ini ff buatan dongsaeng saya yang juga author wff, cuma karena lagi sibuk nampaknya *sotoy* dia nitipin ini buat di posting, okey.. ayo baca dan komen ^^ buat Queen, aku tambahin foto ya hehehehe~ *ditakol Queen*

[author: Queentamaknae ]


Hai.. apakabar semua ? aku rindu wff. Udah lama aku ngak nulis ff dan sekarang aku nulis lagi. Terima kasih buat Amanda onni udah nolongin aku ngepost makasih onni sayang. Aku rindu onni-onni di wff, sarang umma dan reader. Dari pada aku banyak bacot mending langsung baca aja ff oneshot aku semoga suka ya

 

Cinta lama…
Cinta lama…

Yah…aku tidak percaya lama datang kembali yang biasa kita bilang dengan sebutan CLBK dan cinta lama itu datang kembali pada ku. Dan sungguh aku sangat mengharapkan cinta lama itu kembali tapi sekarang….aku juga mencintai orang lain sekarang. Apakah selamanya aku mengharapkan cinta yang dulu akan kembali lagi pada ku ? tuhan tolonglah aku.

“uh…capeknya!” aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Capek..ya aku rasakan sekarang pulang dari kerja part time-ku. Aku hanya hidup sendiri disini dan tidak memiliki siapa-siapa. Orang tuaku tidak sudi memiliki ku karena aku seorang anak haram dari seorang hubungan ibuku dengan laki-laki lain. Lalu, saat aku berumur menjelang 12 tahun ayah ku membuangku karena jijik melihatku dan ibuku…DIALAH ORANG YANG AKU BENCI DI DUNIA INI !!

Aku termenung memikirkan nasibku dan seseorang yang dulu pernah mengisi kehidupanku dulu. Henry lau ya dialah cinta lamaku. Ngak terasa air mata sudah keluar dari mata ini dan mengalir jatuh.

Young eun…kau sudah bejanji pada henry jangan menangis. Tolong tuhan hentikan air mataku ini. Sungguh aku rindu henry tapi dimalah memilih perempuan lain pada aku.

BACK POV

Aku mengaguminya. Sungguh aku mengaguminnya. Pipinya yang cubi itu yang aku suka. Sungguh dia sangat membuatku terpukat.

Dan akhir-akhir ini ntah sejak kapan dia dekat padaku sering me-sms ku , perhatian dengan ku.

Dan kemarin dia mengatakan SUKA pada ku melalui pesan-sms. Oh, sungguh dunia ini mau runtuh, hati ku sangat senang ia mengatakan SUKA pada ku.
Continue reading

17

[Freelance] Unrequited

Author : Ry Yuiri

Main Cast : Victoria (fx), Nichkhun (2 pm),

Support cast : Choi Minho (SHINee), Yoona (SNSD), Chansung (2pm)

Genre : Romance

Category : Oneshot FF

Rating : AG

Tag : Victoria, Nichkhun

“Anyeong Haseo (benar tidak tulisannya?) ini adalah FF pertama saya lho. Benar-benar FF pertama saya. Saya tergerak untuk membuat FF saat menonton virtual couple Khuntoria di salah satu episode WGM. Saya kemudian mulai berimajinasi, apa yang terjadi  ya ketika syuting mereka telah berakhir? Dan pada akhirnya, FF ini jadi J. Mungkin karya ini tak sebagus yang saya ataupun kalian kira. Tapi yah, let’s enjoy it J.”

Salam, Ry Yuiri.

____________________________________________________________________________________

Beberapa minggu…

Ah tidak, hari ini telah berbulan-bulan kiranya selepas berakhirnya syuting reality show We Got Married bersama dengan Victoria. Sudah berbulan-bulan kiranya, aku tak pernah bertemu langsung dengan yeoja itu. Tak pernah lagi menyaksikan candanya, ataupun mendengar suaranya yang lucu.

Kenapa aku malah menghitung hari-hari itu?

Apa aku benar-benar telah jatuh cinta?

Jujur saja,  aku tak pernah ‘benar-benar’ jatuh cinta. Maksudku, aku jatuh cinta namun tak pernah ‘benar-benar’ jatuh cinta. Menurutku, wanita-wanita itu hanya seorang pelipur lara. Hanyalah sebuah hadiah yang dikirim ke permukaan bumi demi menyenangkan pria-pria kesepian. Bukankah takdir alam memang berkata seperti itu?

Namun mengapa aku merasa kosong seperti ini?

“Nichkhun-hyung, beberapa menit lagi kita akan naik ke atas panggung,” Chansung memecahkan pikiranku, meleburkannya ke dalam pecahan-pecahan kecil. Dia menghampiriku dengan kostum peraknya. Sungguh tak jauh berbeda dengan kostum milikku.

Aku tak segera sadar begitu saja. Aku meliriknya terlebih dahulu, kemudian mulai menghayal lagi. Chansung mengernyitkan alisnya yang penuh glitter perak, dia duduk berseberangan denganku. “Kau kenapa, Hyung? Sakit?”

Aku menatap Chansung lagi, tersenyum sesaat seolah-olah tak ada apa-apa. Aku menjawab tatapannya, “Aniyo, capek mungkin. Haha. Sudahlah, kenapa kita malah berada di sini? Seharusnya kita telah berada di belakang panggung.”

Dalam diam, aku meninggalkan Chansung yang masih menampakkan wajahnya yang penuh akan pertanyaan. Secepat aku meninggalkannya seorang diri, secepat itu pula ia melupakan kejadian tadi.

Mungkin, melupakan adalah jalan yang terbaik, apa kau punya pendapat?

***

Victoria memijat lehernya perlahan-lahan,  ia merenggangkan seluruh ototnya hingga lemas. Tak ayal, sesekali ia memukul-mukul kepalanya ringan akibat migran yang menyerangnya secara membabi buta.

Choi Minho membawa beberapa minuman dingin, ia menyodorkannya ke Victoria yang tengah sibuk dengan pemijatan oleh dirinya sendiri. “Capek?” tanyanya.

Victoria tidak merespon, ia meraih minuman kaleng tersebut dan meneguknya hingga setengah. “Gomawo,”  Victoria akhirnya berkata.

Sunyi menyelimuti mereka berdua.

Victoria membuka suara di tengah kesunyian mereka, “Minho-sshi… saya sudah lama merasa aneh.”

“Aneh? Maksudnya aneh kenapa?”

“Ehm…” Victoria mengerutkan keningnya, menatap dalam-dalam ke atap meskipun ia tahu bahwa ia tak fokus. Dia mengekspresikan dirinya yang tengah berpikir.  Minho tersenyum, merasa geli melihat wajah imut Victoria.

Victoria melanjutkan, “Kenapa ya, fans-fans akan brutal saat melihat artis idolanya pacaran? Apa mereka tak ingin orang yang dia sayangi bahagia?”

Minho tertawa sembari memegangi perutnya. Ia tertawa bukan karena pertanyaan polos Victoria, namun ia tertawa karena melihat gaya bicara Victoria yang lucu saat menanyakan hal itu. “Kau kenapa, Minho-sshi?”

Ania…” Minho berhenti memegangi perutnya yang geli. Ia mencoba untuk serius. “Saya tidak tahu, mungkin Noona bisa tanya sama mereka.”

Victoria memonyongkan bibirnya, ia mendesah kesal.

“Jadi, kita sekarang berbicara tentang Nichkun-Hyung ya?” Minho menebak-nebak asal sembari tertawa geli. Ia tak tahu kalau wajah Victoria seketika berubah menjadi merah bagaikan buah kesemek.

Victoria mengalihkan pembicaraan cepat , “AH! Saya akan ke ruang make-up … pemotretannya bakal dimulai dan jangan telat, Minho-sshi.”

Victoria meninggalkan ruangan dengan muka yang memerah. Dia menggigit bibirnya pelan. Apa yang akan terjadi jika saya benar-benar jatuh cinta dengan seseorang yang tak semestinya saya cintai?

***

Dempulan bedak tipis disapukan di sekitar wajah  cantik Victoria. Lipstick bening dioleskan pada permukaan bibirnya yang mungil.

Saat ini, wajah Victoria bagaikan seorang putri.

TV yang terpasang dalam ruang rias menampilkan konser 2pm sedari tadi. Victoria tak dapat menahan dirinya untuk tidak menyaksikan mantan suaminya tampil dalam acara tersebut. Sesekali Victoria tersenyum saat melihat Nichkhun menampilkan image-nya yang cool. Di atas panggung, Nichkhun bagaikan sebuah bintang yang bersinar terang. Paling terang di atas langit.

Victoria terkejut saat layar televisi tiba-tiba beralih menampilkan duet mesra antara Nichkhun dan Yoona. Mereka berduet di atas panggung yang sama. Mereka berduet. Berduet dengan mesra. Mereka berduet sembari saling menggenggam tangan masing-masing. Mereka bernyanyi sambil saling menatap. Menatap dengan ekspresi bahagia.

Nichkhun sedang bekerja, Victoria hanya dapat menyimpulkan fakta itu. Itu hanyalah pekerjaan. Ya… hanyalah pekerjaan.

Namun ekspresinya, senyumannya, tatapan matanya….

Tunggu dulu, Apakah… Nichkhun juga menganggap Victoria hanya tuntutan pekerjaan? Victoria baru memikirkan fakta itu. Atau jangan-jangan Nichkhun berbaik hati kepadanya hanya untuk menaikkan rating acara, iya kan?

Omo… Khunna!” seorang gadis yang Victoria tak kenal berteriak tak jauh darinya. Khunna? Apa bedanya sebutan itu dengan Khuntoria?

Di mata Nichkhun, semuanya mungkin sama saja.

Gadis yang tadinya berteriak berkata lagi, “Uwa… Mereka sangat serasi iya kan? Aku sudah dari dulu berharap mereka akan dipasangkan. Akhirnya semuanya terwujud… Aigoo! Sungguh, sangat serasi!” perkataannya bagaikan pedang yang menusuk ulu hati Victoria.

Pada intinya, cinta ini akan terkubur dengan sendirinya, iya kan?

Tak lama berselang, pelukan dari belakang dilakukan oleh Nichkhun. Ekspresi Yoona terkejut, seolah-olah hal itu tidak masuk dalam skenario panggung. Merupakan kejadian yang natural.

Gadis yang merupakan fans Khunna itu berteriak lagi. Melengking. Menyayat telinga Victoria.

Victoria membeku, tulang-tulangnya serasa meleleh. Suara-suara seakan lenyap tak berbekas.

Victoria merasa lengannya ditarik oleh seseorang. “Vic-Noona, pemotretannya bakal dimulai,” Minho menarik lengan Victoria keluar dari ruangan, tidak memperdulikan Victoria yang bahkan belum berganti kostum pemotretan.

Minho berbisik, “Kau terlalu mudah untuk ditebak, Noona…”

***

Beberapa menit setelah pentas, twitter milikku kebanjiran. Mereka mempermasalahkan duetku tadi dengan Yoona. Semua itu memang telah direkayasa dan itu adalah pekerjaan, kenapa mereka begitu sibuk mengurusi urusan orang lain?

Banyak yang kegirangan, dan banyak pula yang menudingku dengan mengatasnamakan Khuntoria. Aku tak tahu harus membalas yang mana dan bagaimana. Salah-salah, karirku lah yang dipertarukan.

“Oppa…” suara manja itu berbisik di telingaku. Menggelitik naluriku.

Yoona.

Gadis itu duduk tepat di sampingku, mengintip-intip kegiatan yang tengah kulakukan. “Lagi apa?” tanyanya.

“Biasalah. Twitter.”

Yoona membulatkan mulutnya pertanda ia telah mengerti.

“Oppa… Yoona bahagia banget tadi,” Yoona berkata dengan manja. Kemudian ia melanjutkan, “Apa Oppa juga senang?”

Yoona itu memiliki senyuman yang imut. Aku akui itu. Dulu, dulu sekali, aku sempat tergoda dengan senyumannya yang imut. Sebentuk lengkungan tipis yang sangat indah.

Aku mengangguk sekilas atas pertanyaan yang diberikannya. Gadis itu bersorak, tersenyum malu-malu.

***

Job Khunna kebanjiran pelanggan.

Aku lelah ketika harus membagi waktuku antara Khunna dan 2pm. Banyak yang bertubrukan satu panggung sehingga aku harus siap-siap kelelahan karena mesti ganti pakaian dan make-up dengan cepat.

Aku mulai bosan kerja.

Nah, apalagi hari ini. Setelah aku bercapai-capai ria dance dengan 2pm. Aku mesti bolak-balik ruang ganti untuk tampil lagi dengan Yoona di sebuah acara award.

“Nichkhun-sshi!” seorang pria paruh baya menyapaku. Aku menerka-nerka bahwa ia adalah script-writer acara ini.

Ne?”

“Saat kau tampil nanti, tolong rangkul Yoona ya, di lehernya, di pinggangnya atau yang mana saja itu semua terserah kamu.” Lelaki itu menjelaskannya kepadaku dengan semangat. Ah, lagi-lagi hal ini terjadi.

Ne…” aku tak bisa berkomentar lebih banyak. Apa yang semestinya kuperbuat? Bukannya ‘benar’ bahwa aku dan artis-artis lainnya itu hanyalah sebuah boneka hiburan?

Aku tak peduli.

Award music kali ini benar-benar megah seperti tahun-tahun sebelumnya. Awalnya, aku sedikit gugup mesti bernyanyi berdua di panggung sebesar ini. Apalagi dengan tuntutan bahwa aku mesti beradegan rangkul-rangkulan dengan Yoona.

Aku tak menduga bahwa Victoria juga akan ada.

Dia berada di sana. Duduk satu meja dengan anak-anak kami –ah… maksudnya, mantan anak-anak kami. Dia tampak cantik dengan setelan gaunnya yang anggun. Dengan rambut ikal yang panjang dan senyuman yang manis. Sungguh, dialah yang tercantik.

Aku bernyanyi sambil sesekali menatap wajahnya. Aku tak peduli di sampingku ada Yoona. Mataku hanya menuju dirinya.

Aku lupa kalau aku mesti beradegan mesra.

Apa yang mesti aku lakukan?

Kenapa aku mesti melakukan adegan ini di hadapan Victoria? Oh ya ampun. Apapun. Asal jangan di hadapan Victoria.

Tidak bisa. Aku seorang yang professional.

Aku merangkul pundak Yoona sehingga semua penonton berteriak histeris. Wajah Victoria terkejut, aku tahu itu. Namun ia hanya bisa tersenyum. Bertepuk tangan pelan.

Sungguh, aku merasa bahwa aku adalah lelaki paling bodoh sedunia.

***

Saya menyerah, Victoria berbisik dalam hati. Artis seperti dirinya tak diperbolehkan untuk jatuh cinta. Seolah-olah hal itu merupakan hukum alam tanpa persetujuan. Alih-alih, toh dirinya akan sakit hati. Teriris.

Mereka akhirnya selesai bernyanyi. Wajah Nichkhun maupun Yoona berseri-seri bahagia, mungkin hanya itu yang dapat disimpulkan oleh Victoria.

MC yang sedari tadi menggoda Nichkhun dan Yoona akhirnya melayangkan pertanyaan yang menohok batin Victoria, “Nichkhun-sshi… sekarang kamu pilih siapa diantara Victoria atau Yoona?”

Keringat dingin membanjiri tubuh Victoria, dadanya berdentum-dentum gemetaran. Victoria menunjukkan kegugupannya dengan meremas-remas jemarinya, kuat.

Nichkhun tertawa lepas, meski tak ada yang tahu apa penyebab pastinya. Sementara saat ini, ada banyak mata yang menatap Victoria. Splash dari kamera menghujani dirinya, membuatnya kelimpungan sedikit.

“No comment,” jawab Nichkhun cepat. Tampaknya, Sang MC tak puas oleh jawaban Nichkhun, ia kemudian bertanya lagi, “Kalau begitu, kau bahagia saat bersama siapa, Yoona atau Victoria?”

Seketika, senyuman itu lepas dari wajah Nichkhun.

***

Oh ya ampun, mengapa hal ini harus terjadi?

MC sialan ini terus saja menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaannya yang juga sialan. Apa yang mesti aku katakan?

Ini di hadapan publik. Itu masalahnya.

“Aku bahagia dengan kedua-duanya,” jawabku singkat. Aku tak peduli lagi jika MC itu puas atau tidak. Terserah dia saja.

Tampaknya memang MC-nya belum puas. Dan sebelum dia mulai bertanya-tanya pertanyaan-pertanyaan aneh lagi, aku memutuskan untuk menarik lengan Yoona keluar dari panggung.

Suara teriakan mulai terdengar lagi dan kemudian aku berpikir bahwa aku melakukan hal bodoh lagi.

***

Akhirnya, segala kejadian menakutkan itu telah usai.

Perasaanku masih kacau balau akibat kejadian tadi, apalagi, pertanyaan-pertanyaan dari para fans menderaku bertubi-tubi. Bahkan member 2pm pun, ikut-ikutan seperti mereka. Membuat emosiku memuncak mencapai ubun-ubun.

Beberapa menit  setelah berganti pakaian di ruang ganti, aku bermaksud menemui Sulli dalam ruangan khusus untuk f(x).  Seperti biasa, kami akan membicarakan masalah reality show yang kami pegang bersama sebagai MC. Hitung-hitung, ruangan tersebut mungkin beberapa ruangan setelah ruangan ini.

Kembali lagi ketika aku melangkahkan kakiku keluar ruangan, pertanyaan-pertanyaan itu menderaku bertubi-tubi, tak henti-hentinya mereka bertanya sehingga aku akhirnya memberi respon senyuman untuk membuat mereka mengerti. Namun sayangnya, mereka terlihat semakin tak mengerti. Semakin meledak-ledak layaknya orang kesurupan.

Ada sesuatu yang menghentak-hentak jantungku dan meletup-letup bagai berondong jagung ketika aku benar-benar berada di muka ruangan itu, kini. Ujung jemariku sulit menyentuh gagang pintu. Apakah Victoria ada di dalamnya? Bagaimana aku mesti menemui Victoria jika Victoria benar-benar berada di dalam?

Aku memberanikan diri untuk memutar gagang pintu dan menghambur ke dalamnya. Tubuhku menegang menyaksikan pemandangan yang terpapar di hadapanku.

Tubuhku seketika remuk redam, menyelam dalam lautan petir basah.

***

“Noona, kau tidak apa-apa?” Minho duduk berhadapan dengan Victoria yang tengah memucat. Mimik gadis itu menggambarkan bahwa ia terguncang hebat. Sangat mudah membaca keadaan gadis itu.

Victoria tak menjawab apa-apa atas pertanyaan Minho.

Minho tak menyerah, “Noona, kita sudah kenal sejak lama, saya tahu bagaimana seorang Victoria-sshi. Victoria-sshi tidak mudah menyerah akan apapun. Sesulit apapun rintangan itu, Victoria-sshi selalu yakin kalau Victoria-sshi pasti dapat menaklukkannya. Saya yakin dengan Victoria-sshi, saya percaya.” Minho tersenyum lembut. Menggenggam jemari Victoria yang mendingin akibat rasa shock yang menerkamnya.

Victoria tak merespon sama sekali, tatapannya lurus tak menentu. Minho kemudian melanjutkan perkataannya, “Dan ketika Victoria-sshi benar-benar tak sanggup menanggung semuanya, saya akan tetap disini. Berada di sampingmu.”

Perkataan Minho membuat Victoria mengangkat wajahnya. Mereka saling bertatapan. Victoria menatap kedua bola mata Minho dengan sayu, menguarkan kesedihan yang mendalam yang ada di dalam hatinya. Sementara itu, debaran halus mulai berkembang dalam hati Minho. Debaran-debaran itu tak lama menjadi semakin terasa tatkala Victoria semakin dalam menatap wajahnya. Tatapan sayu yang indah. Sepasang mata itu mencari-cari ketulusan yang sesungguhnya.

Victoria menemukan ketulusan di dalam mata Minho. Segalanya perlahan-lahan mencair. Jemari lentik Victoria mulai meremas jemari Minho.

Mereka berciuman.

Victoria berciuman dengan Minho, merasakan bibir lembut namja itu untuk pertama kalinya. Bahkan, bersama Nichkhun pun, ia tak pernah melakukan ini.

Deru nafas mulai terdengar di wajah kedua insan tersebut. Aroma manis menguar diantara keduanya. Perasaan Victoria menghangat, meski tidak hangat seutuhnya.

Tiba-tiba, pintu terbuka.

Dan dengan ekspresi keterkejutan yang terpancar dari wajahnya, Nichkhun menyaksikan mereka berdua.

“Nichkhun-sshi…” Victoria berkata pelan setelah melepaskan ciumannya dengan Minho. Selama beberapa detik, hening menyelimuti mereka. Keheningan ganjil itu membuat mereka larut dalam pikiran masing-masing.

“Ehm…” Nichkhun bersuara. Perasaannya tercampur aduk. “Aku..Ehm…Sulli ada?”

Nichkhun tak dapat menata perkataannya. Perasaannya benar-benar tercampur sehingga untuk mengucapkan satu kata pun sangat sulit dilakukan. Bibirnya seakan terkunci  akibat menyaksikan pemandangan menyakitkan tadi.

Sama dengan Nichkhun, mulut Victoria juga turut pula terkunci. Gadis itu tak dapat mengucapkan apapun lagi, lidahnya kelu.

Minho memecah suasana, “Dia sedang tidak ada. Mungkin keluar bersama dengan member lainnya…” ujarnya tenang. Nichkhun bergegas pergi dari hadapan mereka, sementara Victoria semakin terpuruk pada keadaannya.

Nichkhun melihatnya berciuman dengan orang lain, apa yang mesti dia lakukan?

Tapi yah, Victoria berpikir, dirinya tak ada ikatan apapun dengan Nichkhun. Mungkin namja itu biasa saja melihatnya berciuman dengan lelaki lain. Mungkin di mata Nichkhun, dirinya bukan apa-apa.

Victoria menyerah akan perasaannya.

***

Secepat mungkin, aku ingin keluar dari situasi ini.

Aku masih tak dapat mempercayai ini, kejadian ini sungguh amat sulit untuk dipercaya. Bagaimana mungkin Victoria dapat berciuman dengan orang lain tepat di hadapannya?

Aku melangkah cepat-cepat sejauh mungkin dari ruangan tadi. Aku tak tentu arah. Segalanya terjadi begitu cepat sehingga aku belum siap akan semuanya. Tubuhku masih didera shock yang lumayan mengentak-hentak, membuatku kelimpungan.

Banyak orang yang menyapaku hanya sekedar menanyakan keadaan atau memberi salam, namun aku sedang tidak ingin untuk merespon mereka. Aku tidak bisa.  Ada bunyi nyaring di telingaku sehingga aku tak dapat mendengar suara apapun selain itu, tidak ada.

Aku berjalan cepat bagaikan berada di atas angin. Kemudian aku memasuki sebuah ruangan secara acak. Apapun itu, asalkan aku dapat meredakan emosiku yang meledak-ledak ini.

Ternyata, ruangan itu dipenuhi oleh anggota SNSD dan Yoona ada diantaranya. Aku tak berkata apa-apa namun mereka langsung heboh melihatku. Aku tak tahu apa yang mereka lihat dariku sehingga mereka menjadi heboh mendadak,  namun melihatku hening selama beberapa detik, mereka membiarkan aku dan Yoona berduaan.

“Oppa… Kau kenapa? Kamu berkeringat banyak…” Yoona bertanya sambil membungkukkan dirinya agar data menatap mataku. Aku tetap terdiam.

Kenapa aku berada di sini? Aku juga tidak tahu.

Aku melihat sebotol air putih yang belum terbuka. Aku meraihnya cepat dan meneguk beberapa. Air segar mengalir ke tenggorokanku, meredakan panas yang meguar dari seluruh tubuhku. Pikiranku mulai dingin.

Wajah Yoona masih bertanya-tanya, dan aku tetap dalam diam. Lagi-lagi tanpa mengucapkan sepatah dua kata, aku menghempaskan diri di atas sofa panjang hitam. Aku memejamkan mata sebentar. Segalanya telah berakhir.

Ya, tak ada yang dapat menyangkal kalau-kalau segalanya telah berakhir.

Aku kemudian membuka mata. Mengerjap-ngerjap akibat penerangan yang secara tiba-tiba. Dan kemudian, selepas aku membuka kedua mataku, aku telah mencoba untuk melupakannya.

***

Beberapa tahun kemudian…

Dulu, lama sekali, Victoria dan Nichkhun mengubur sebuah time capsule yang berisikan kenangan-kenangan mereka. Mereka menguburkan benda tersebut di bawah pohon yang rindang selepas syuting episode terakhir We Got Married. Victoria sebenarnya tak ingin pergi ke sana karena ketika ia berada di sana, maka kenangan-kenangan lama itu akan menguar, memuncak kembali dalam hidupnya.

Victoria awalnya tidak ingin berniat untuk menggali time capsule itu kembali. Namun alarm pertanda hari ini telah waktunya tidak jemu-jemu mengingatkannya. Ia tidak ingin tindakannya itu akan mengusik kecemburuan suaminya.

Ya, dia telah menikah sejak setahun yang lalu.

Sejak kejadian ciumannya itu, dirinya dan Nichkhun tak pernah lagi bertegur sapa. Mereka hanya sekedar melempar senyum bagaikan orang asing. Apalagi, dia dan Minho pacaran sejenak. Hubungannya dengan Nichkhun akhirnya meregang dan pada akhirnya, mereka kehilangan kontak satu sama lain.

Victoria menikah dengan seorang pengusaha asal China yang tua tiga tahun di atasnya. Victoria telah meninggalkan dunia entertainment sejak dirinya menikah. Meskipun begitu, dia mengakui kalau ia bahagia. Perlahan-lahan, ia mulai mewujudkan impiannya. Bahwa dirinya akan membuka toko roti, yang kemudian berisikan makanan khas Cina, Korea dan seperti janjinya, masakan Thailand. Sementara Nichkhun, ia keluar dari 2pm dan kembali ke Thailand. Untuk alasan pastinya, Victoria juga tak tahu.

Victoria turun dari mobilnya sendirian. Pohon itu kembali mengingatkannya kepada saat-saat yang hangat itu. Vicotria memandang sayu, ia berjalan perlahan menyentuh kulit dari pohon tersebut, merasakan teksturnya yang kasar. Kemudian, tatapannya teralih ke tanah tempat time capsule itu terkubur.

Victoria telah membawa alat perkakasnya dari rumah, ia mulai menggali tanah yang terhampar di hadapannya. Ia sangat ingat bahwa time capsule itu terkubur di sini. Terkubur dengan berbagai kenangan-kenangan itu.

Dia terpekik saat sekop kecilnya menyentuh sesuatu yang keras. Dan disanalah, time capsule itu berada. Sebuah kotak yang berbentuk harta karun dan bertuliskan Khuntoria pada tutupnya. Victoria tersenyum pahit.

Dengan sapu tangan merah muda yang ia bawa, dia membersihkan tanah yang menumpuk pada benda tersebut. Ia mengeluarkan kunci yang tersimpan di dompetnya, perasaannya campur aduk. Kemudian, benda itu terbuka. Berbunyi klik pelan.

Udara semakin dingin dan angin bertiup sayup-sayup. Victoria hampir mengeluarkan seluruh isinya. Dia tersenyum geli saat melihat DVD episode we got married. Berbagai foto-foto saat mereka memasak bersama, dimana mereka benar-benar terlihat seperti sepasang suami istri nyata.

Kemudian, foto saat mereka mengandarai kuda di Thailand. Belum lagi foto-foto ketika dirinya dibawa oleh Nichkhun menemui keluarganya. Sesuatu yang menyesakkan menghantam dada Victoria, mereka memang tak mengatakan cinta. Mereka mungkin hanyalah virtual couple dimana segalanya terlihat tidak nyata. Namun, seluruh kebahagian terpancar dari kedua bola mata mereka.

Victoria merasa asing ketika ia mengeluarkan sepucuk surat dari dasar kotak tersebut. Setahu Victoria, mereka tidak pernah menyelipkan apapun ke sana. Namun mengapa surat itu ada disana? Apakah mungkin ada seseorang yang pernah membuka time capsule ini sebelum dirinya?

Perlahan-lahan, Victoria membuka lipatan kertas itu. Kemudian membaca isinya yang dituliskan dengan agak berantakan.

To My Victoria…

Saat aku sedang menuliskan surat ini, aku melihat kau yang sedang bahagia bersama dengan pendamping hidupmu yang sebenarnya. Berita itu disiarkan besar-besaran sehingga aku yang tak ingin melihat pun, terpaksa melihatnya. Hahaha, apa aku terlihat jahat, Victoria?

Pertama-tama, maaf ya, tulisanku tak pernah bagus. Kita berdua adalah pendatang, tapi, bertahun-tahun aku berada di Korea, tulisanku tak pernah berubah menjadi bagus.

Maafkan aku yang melanggar janji untuk membuka time capsule ini lebih dulu dibandingkan dengan dirimu. Namun ketahuilah, mungkin ketika saat itu datang (saat kita telah diperbolehkan membuka benda ini,  aku mungkin sudah tidak ada di sana. Aku tak sanggup

.Aku mencintaimu Victoria. Bukanlah ‘pernah’ mencintai, namun tetap mencintaimu. Sampai saat ini pun, aku mencintaimu. Aku tak tahu kenapa, kaulah satu-satunya wanita yang pernah membuatku seperti ini. Jatuh cinta sejadi-jadinya. Kau masih ingat kan saat-saat aku membawamu ke rumahku? Perasaanku menghangat saat melihatmu bersama keluargaku. Apalagi, ibuku telah menganggapmu benar-benar sebagai istriku dan sebagai menantunya.

Dan kemudan, hari ini, kau telah menemukan suamimu yang sebenarnya.

Tidak usah takut bahwa aku akan menculikmu atau apa, aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Aku yakin, suatu saat Tuhan akan mendengarkan doaku. Aku rela dengan sepenuh hatiku. Aku hanya akan melihatmu dari tempat-tempat yang tidak terlihat olehmu. Aku akan menjadi apa pun. Aku akan tetap ada di dekatmu, bersamamu, meski suatu saat nanti aku meninggal dan tak berwujud lagi. Tapi cintaku akan terus ada di sisimu. Terus bersemayam di hatimu. Aku pasti akan selalu ada kapanpun kau memanggil namaku. Aku akan menjadi angin yang menyejukkanmu saat kau diterpa terik mentari. Aku akan menjadi satu-satunya bintang di langit saat kau melihat di kegelapan malam. Aku akan menjadi nyanyian dan lirik lagu untuk membuatmu tentram dan tenang. Apapun, kapanpun, cintaku akan selalu bersamamu. Cintaku akan selalu melindungi kalian.

Dari seseorang yang selalu mencintaimu dengan tulus.

Kemudian, surat kejujuran itu pun berakhir. Victoria mengusap matanya yang telah berair sejak tadi. Wajahnya memerah akibat kesedihan yang menderanya. Ia akhirnya tersadar kalau ternyata, dahulu cinta itu pernah ada. Mereka pernah saling mencintai. Mereka pernah mempunyai perasaan saling memiliki. Dan amat disayangkan, cinta itu akan terwujud ketika mereka saling mengucapkan secara nyata. Dan meskipun seperti itu, semuanya tetap sama saja. Tak ada yang dapat diubah.

Cinta yang pernah kami tumbuhkan, pada akhirnya tetap menjadi sesuatu yang tak berbalas dan selamanya akan tetap seperti itu.

 

TAMAT.

Thanks for reading :)

 

3

[Freelance] Waktu Pacaran di Ancol

Author: Beauty

Cast: Bee, Nickhun.

Category: OneShot geje

Pernah dimuat di blogku: http://wp.me/p1rQNR-t

Ha~h.

Aku menghela nafas. Bosen beneran lah aku. Nyonyah sama tuan lagi pada pergi mbawa si kembar. Ngajakin si Endah. Lha ya iya, wong Endah itu babysitter je. Aku disuruh tinggal di rumah ngejagain.

Kadang-kadang lha aku bingung sama Nyonyah. Wong apartemen udah dijagain sama satpam di bawah ko ya aku masih suka disuruh jaga rumah. Udah jelas-jelas orang yang bukan orang apartemen pasti kan ga bakal diijinin masuk gitu aja sama Pak Satpam. Tapi kenapa, kalo jalan-jalan mesti akuuuuu terus yang ditinggal di rumah. Lah *mbuh lah. Pokoke menurute aku Tuan sama Nyonyah itu ga adil.

Tapi ya wis. Mau gimana *maning. Wong nasib orang kecil kan ya begini. Nurutin yang punya duit.

Aku akhire smsan aja lah sama Mba Dewi, itu pembantune Bu Abas yang tinggal di lante 14. Mba Dewi juga lagi ditinggal, tapi sambil disuruh njagain cucunya Bu Abas yang umurnya hampir 3 tahun. Sama kaya si kembar.

Sebenere sih, kalo ga ada si kembar kerjaan itu enak, wong ga ada yang tiba-tiba dateng ngobrak-abrik dapur. Tapi ini ko rasanya kangen yah? Suaranya si kembar itu lucu banget. Suka manggil-manggil. “Mbak Bee, Mbak Bee..” gitu. Yah, biarpun biasanya ujungnya ga enak. Kadang “Mbak Bee… eek.” Atau “Mbak Bee… minumna tumpah.” Malah pernah, “Mbak Bee… ini apa?” begitu ditengok, eh lagi megang peso mau ditusuk-tusuk ke kompor! Laaah, pokoke bikin seport jantung lah.

Kamu dimana, dengan siapa
Semalam berbuat apa

Terdengar lagu Yolanda, lagu favoritku yang aku jadiin ringtone sms. Tak buka smsnya, eh, dari Mbak Dewi. ‘*Kowe lagi sendirian, *mbok?’ tanyanya.

‘Iya. Nyonyah pergi dari tadi pagi,’ aku njawab.

‘Eh, ikut aku aja yuh? Aku dibolehin pergi sama Nyonyah dari abis ashar sampe isya.’Mbak Dewi sms lagi.

Lha gimana sih? Ya aku ga bisa ya. Tau sendiri nyonyahe aku orangnya galak kalo ketawan aku bikin salah. Ini lagi disuruh jaga rumah malah diajakin pergi. ‘Lah, *emoh lah, Mbak. *Mbok nanti nyonyah telepon ke rumah, aku ga ada, nanti aku dimarahin.’

‘Alah, bilang aja nanti pas dia telepun kamu lg di kamar mandi.’

Ih, Mbak dewi *kepriben sih? Emange nyonyahe aku baik kaya Bu Abas? Ah ga ah. ‘Ga lah, Mbak. Aku ga berani.’ Aku njawab sms-e Mbak Dewi terus ke kamar mandi. Tiba-tiba kebelet pipis. Lagi pipis aku denger HP-ku bunyi lagi. Pasti Mbak Dewi lagi, mau ngebujukin aku lagi. Pokoke aku emoh. *Wong dia palingan juga pergi sama Mas Tulus, pacarnya. Sama aja aku jalan sendirian kalo begitu.

Setelah selesai dari kamar mandi, aku ambil HP-ku, pengin liat Mbak dewi njawab apa. ‘Bik, saya sama tuan ga pulang hari ini. Kita tiba-tiba dapet tamu di villa. Jadi mungkin pulangnya baru besok sore atau lusa pagi. Jaga rumah yang bener ya.’

Hah? Nyonyah? Nyonyah ga pulang?

Kangen Band nyanyi lagi di HP aku, tapi di depan, telepon rumah juga bunyi. Aku buru-buru ke depan, sapa tau telepon penting. “Halo?” sapaku.

“Bik?” Wah, Nyonyah. Bener kan, telepon penting.

“Iya, Nyah, saya udah terima sms-nya. Baru saya baca wong tadi saya barusan dari kamar mandi.”

“Oh, ya udah. Ya gitu aja, Bik…”

Iiih, Nyonyah ini lho. Wong udah berkali-kali dibilang nama aku itu Bee. Kenapa jadi Bik melulu sih???

“… jaga rumah yang bener. Kalo ada tamu yang kamu ga kenal, ga usah dibuka pintunya.”

“Iya, Nyah.”

“Udah. Ada yang mau disampaikan, Bik?”

Aku ragu-ragu. Kira-kira boleh ga ya? Kayaknya sih ga bakalan boleh.

“Ga ada? Ya udah…”

“Eh, Nyah!” wah, keceplosan!

“Apa? Cepetan ngomong!”

“Anu, Nyah. Saya diajakin sama Mbak Dewi jalan-jalan ini sore. Boleh ga, Nyah?”

Boleh ga ya? Boleh ga ya? Boleh ga ya?

Kok nyonyah diem aja ya? Kayaknya keberatan deh. “Anu Nyah… kalo…”

“Ya udah. Tapi jangan kemaleman pulangnya. Inget, kamu mesti jaga rumah. Nanti saya telepon lagi lho sekitar jam 7-an. Kalo kamu ga di rumah, awas kamu ya.”

Wah, tumben Nyonyah baik bener. “Iya, Nyah. Makasih, Nyah. Makasih.” Klik. Kututup teleponnya.

“Mbak Dewiiiiiiiiiii……. Ikuuuuuuuuut……….”

Akhire, jam 4, aku udah siap. Aku nungguin di lift. Kata Mbak Dewi tadi dia udah mau masuk lift. Ting! Kedengeran bunyi lift udah sampe di lantaiku, lantai 8. Begitu pintu lift kebuka, di dalem udah ada Mbak Dewi sama Mas Tulus.

Hhh, ya iyalah, sama Mas Tulus. Yang itu sih ga bisa dihindarin deh pokoknya, wong emang niatnya mereka kan emang mau pacaran sore ini.

“Eh, Mas Tulus. Ngikut juga, Mas?” basa-basi…, yang penting nyapa, pikirku.

“Iya,” jawab Mas Tulus.

“Emang kita mau kemana sih, Mbak?” Aku nanya ke Mbak Dewi.

“Ke PRJ. Deket-deket aja sih, yang penting jalan-jalan.”

“Oh…” ke PRJ, toh. Biarin lah. Aku juga pengin jalan-jalan. Aku udah mikir mau beli kerak telor banyak-banyak. Itu sebenere makanan kesukaanku, tapi wong nyonyah ga suka, aku selalu dilarang beli. Padahal pake uang-uangku sendiri. Akhire aku kalo beli kerak telor jarang-jarang deh.

Sampe di halaman apartemen, tiba-tiba Mbak Dewi dan Mas Tulus bilang ke aku kalau mereka mau mampir ke tempat temennya Mas Tulus dulu. Namanya Ojak. Rumahnya di depan komplek rusun di sebelah apartemen. Yah… mampir dulu deh. Kelamaan dong nanti. Keburu malem.

Tapi ya aku bisa apa. Wong mereka yang ngajakin. Ya aku cuman bisa nurut. *Manut.

Sampe di rumah si Ojak, ternyata si Ojak itu mau ikut. Dan aku juga terkejut.

Ooo, jadi namanya Ojak toh. Si tukang ojek yang sering mangkal di depan apartemen. Kadang-kadang suka nganterin aku ke pasar juga. Aduh, aku jadi deg-degan. Abisnya aku kan agak naksir dia. Abisnya mukanya mirip pokalisnya band wali sih. Terus orangnya juga kalem, ga suka nggodain aku kayak tukang ojek yang lain.

Aduh, gimana nih? Aku deg-degan. Untung tadi aku agak dandan.

Mas Tulus manggil aku, “Bik, sini.”

Aku mendekat. “Ih, Mas Tulus ini loh. Nama saya itu Bee, Mas. Masa orang-orang sukanya manggil saya Bik, sih?”

“Alaaah, beda-beda tipis juga, ga usah protes deh,” Mas Tulus menjawab asal. Terus dia bilang lagi, “Udah sini, Bik. Ini kenalin, namanya Ojak. Tukang ojek yang suka mangkal di depan apartemen.”

Aku senyum-senyum, “Iya, Mas. Udah tau.”

“Oh, udah tau toh. Ayo kenalan dulu.” Mas Tulus nyuruh.

Aku ngulurin tanganku ke dia, dia nerima. Kami berdua sama-sama malu-malu. Tapi kok hatiku seneng banget ya?

“Bee.”

“Ojak.”

Akhirnya kami berempat pergi ke PRJ. Aku seneng banget. Matahari sore cerah banget, hawanya ga *sumuk-sumuk banget, terus… aku jalan bareng Mas Ojak!!! Kami ngomong-ngomong dan dia langsung bilang kalo sebenere dia udah lama memperhatikan aku. Katanya aku manis banget.

Aaaaaaah, *Biyuuuung… aku seneeeng…

Kami sampe di PRJ dan agak kecewa. Soale ternyata sepi banget. Akhirnya kami sepakat buat langsung aja ke Ancol. Deket inih, kata Mas Tulus.

Dalem hati aku sih seneng. Abisnya jalan-jalan di pante gitu loh, terang sore, sama orang yang udah lama aku (setengah) taksir. Asyik dong…

Ya gitu deh, akhirnya kita jalan-jalan di pinggir pante di Ancol. Mas Tulus sama Mbak Dewi bilang, mereka mau cari jajanan, jadi kami disuruh jalan berdua. Awalnya kita berdua malu-malu, tapi terus pembicaraan kita jadi semakin lancar. Wah, aku jadi tambah kenal Mas Ojak. Ternyata dia lumayan baik, dia suka bantuin ibunya jualan somay kalo ojekannya lagi sepi. Aku jadi tambah kagum sama dia.

Lagi asyik ngobrol, tiba-tiba Mas Ojak bilang, “Dek, maaf ye. Mas sebenernye dari tadi kebelet nih. Mas cari toilet dulu ye?”

“Oh? Oh iya deh, Mas. Aku nungguin di sini ya?”

Dia ngangguk. “Jangan lama-lama lho, Mas…”

Dia terus pergi ninggalin aku. Tapi aku ga papa sih. Sambil nungguin Mas Ojak, aku nikmatin angin yang silir-silir. Enake…

Kalo emang udah jodoh, aku mau lah sama Mas Ojak. Abisnya udah orangnya baik, gagah, mirip pokalis Wali lagi, meski lebih item sedikit. Tapi emang jadi cowok itu jangan putih-putih. Malah ga jantan. Hihihihii. Gayaku… ngomongin jantan. Hihihihii.

Lagian kalo aku jadi serius, misalnya nih, nikah sama Mas Ojak, aku kan jadinya bisa tinggal di Jakarta aja. Ga perlu pulang ke Tegal. Soale kan aku punya cita-cita pengin jualan baju-baju yang bagus-bagus di Tanah Abang. Kemaren sih pas lebaran aku ketemu Budhe Rojiah yang jualan baju di Tanah Abang, di kampung satu RT sama aku, katanya penghasilannya lumayan. Apalagi aku emang dasare seneng baju-baju bagus.

Ngomong-ngomong, udah 15 menit nih. Mas Ojak kemana ya? Aku celingak-celinguk nyariin dia. Masa ke toilet aja lama banget.

Lagi begitu tiba-tiba HP-ku bunyi, lagu Yolanda. Aku buka sms, ternyata dari Mbak Dewi. Eh, bukan ding, Mas Ojak. “Bee, ini Mbak Dewi sama Mas Tulus lagi pada makan es klamud. Kamu mau ikutan ga? Mas jemput ya? Ini Mas ga punya nomormu dan Mbak dewi bilang suruh pake nomor die aje.”

Oh, wis ketemu sama Mbak Dewi dan Mas Tulus toh. Ya wis, aku bales aja sms-nya, “Emang pada makan dimana sih? Aku ke situ aja ga papa kok.”

“Ini dari tempat kita tadi kamu jalan ke kanan. Sampe ujungnye. Nanti Mas dadah-dadah deh biar kamu ngeliat,” jawab Mas Ojak masih pake nomornya Mbak Dewi.

Ya uwis, mendingan aku langsung jalan aja.

Aku jalan terus, tapi kok ujungnya ga keliatan-keliatan ya? Perasaan dulu Ancol ga sepanjang ini deh. tau gitu aku tadi minta dijemput aja sama Mas Ojak. Lagian itu orang nyari toilet *bae jauh banget!

Sambil jalan aku ngeliatin orang-orang pada lari, olahraga. Lah, rugi. Wong Ancol ko buat olahraga. Mending buat jalan-jalan sama pacar. Ihihihiii..

Hush! Kayaknya aku udah *kesengsem bener apa yak, sama Mas Ojak? Mikirnya pacaraaan aja. Ihihihiii…

Lagi senyum-senyum sendiri, tau-tau ada yang nabrak aku dari belakang. Bruk!

“Aduh! *Lara!” aku teriak.

Orang itu bilang, “Sorry, sorry, sorry!”

“Sori! Sori! Sakit tau!” aku marah-marah. Ini orang ngapain sih? Kalo mau olahraga yang bener dong! Lari ga liat-liat! Bukannya minta maaf malah dia sibuk ngeliat-liat sekitar. Huh, baru pernah ke Ancol ya? Katrok banget sih. Tampangnya thok yang kaya orang kaya.

Dari belakang dia, kedengeran suara orang teriak-teriak, “Niiiiiiccccckhuuuuuuuuunnnnn!!!!”

Ini lagi orang-orang. Lari mbok ya lari aja, ga usah sambil teriak-teriak. Ih, ga punya kerjaan deh.

Orang yang nabrak aku tadi tiba-tiba ndorong aku, sampe aku jatuh ke pasir. Dia juga jatuh ke pasir, nindihin aku.

“Heh! Ngapain, kamu?!” aku bentak aja dia. Abisnya dia kurang ajar banget!

“Sssst!”

Eh! Kok malah sat-set-sat-set! Kamu itu lagi nindihin aku! “Ih, awas kamu!” aku pukul-pukul itu orang supaya minggir, tapi kayaknya ini orang kuat banget. Malah dia ngebekap mulut aku.

Aku kaget, melotot sama dia. Gimana dong nih, jangan-jangan dia orang jahat?! Aduh, kenapa aku apes banget sih sore ini? Jangan-jangan Nyonyah ga ikhlas ya ngebolehin aku jalan-jalan? Gimana dong niih? Mas Ojaaak, tolongin akuuuu…!

Pas kami lagi tindih-tindihan begitu, cewek-cewek yang tadi lari sambil teriak-teriak lewat. Laki-laki kurang ajar ini ngeliatin mereka lewat sambil terus nutupin mulut aku. Aku mulai panik, terus jadinya mulai susah nafas. Lha gimana ga susah nafas, coba. Udah ditindihin, dibekap mulute, takut, ya panik mbok, jadinya?

Biyunge, tulungin anakmu ini! Aku mulai nangis.

Laki-laki itu terus noleh. Ngeliat aku nangis, dia kaget. Dia langsung ngebuka tangannya. “So..sorry, sorry, I didn’t mean it. Are you alright?”

Nguomong apa tho maaas? Ra ngerti aku! Aku malah jadi tambah nangis. Takut aku!

Dia berdiri terus narik aku berdiri juga, ngebersihin badan aku, terus nunduk-nunduk, “Sorry, sorry. Are you ok? Ok?” dia ngasih tanda pake tangannya, jempol sama telunjuknya dibuletin.

*“Huhuhuu, kowe kiye sapa? Aku aja dekapak-kapakna… Ampun, Mas. Aku isih nduwe adhi sing tesih sekolah, Mas… aku aja depateni…” aku nangis.

Dia celingak-celinguk. Keliatannya bingung. “OK? Why are you crying? Don’t cry, please, I’m sorry. I’m really sorry. Did I hurt you? Are you hurt? Your head ok?”

*“Mbuh! Mbuh aku ra ngerti kowe ngomong apa!” akhire aku teriak saking bingungnya. Orang ini ngomong apa sih? Sori-sorinya sih aku ngerti. Tapi kayane ini orang bukan orang Indonesia apa ya? Kayane dia ngomong Bahasa Inggris apa ya? Itu sih dia ngomong oke-oke gitu. Tapi kan aku ga ngerti bahasa Inggris.

Gara-gara aku teriak, orang itu kayaknya panik. “Hush, ssst, calm down! Please, ssst, calm down! Lower your voice!”

*”Ngomong apa sih, rika? Aku ra bisa bahasa inggris, ora ngerti rika ngomong apa!”

“Sssstt, please…”

Plis. Itu sih aku tau. Kaya yang di ‘plis dong ah’ itu kali ya…

“Don’t speak too loud, or they would notice,” sambil ngomong gitu telunjuknya ditempelin ke bibirnya. Ih, bibirnya merah amat kaya cewek.

“Listen,” orang itu ngomong lagi. “I need to get out of here. Can you help me?”

Hah? Apa sih? Mending aku lari aja ah, mumpung orang itu udah ga megangin aku lagi. Aku mundur pelan-pelan…

“Wait!” Aduh *Yuung, dia nangkep aku lagi!

“Iya, iya, iya! Aku ga lari! Aku jangan diapa-apain! Plisss…” aku nutupin mukaku takut dipukul.

“Please? Do you speak English?”

Caranya dia ngomong bikin aku berani ngeliat mukanya. Dia kayanya nanya serius. “Hah?” tanyaku.

“Do you speak English? Please, I need your help.”

“Plis. Yes, plis,” iya, plis lepasin tanganku. Aku ga mau dibunuh…

Dia ngeliatin tangannya yang megangin aku, terus ngelepasin tangannya. “Ah! I’m sorry,” sambil ngangkat tangan kaya orang nyerah.

“Can you show me the way out? Please?”

“I.. iyes. Plis…” aku usir-usir dia pake tanganku. Pergi sanah!

“No, no, no, please. Out. Please, a way out!”

Aut? Emang lagi main voli, apa, pake aut-autan segala? Aku bingung ngeliatin dia.

Dia noleh dan ngeliat ada cewek yang tadi lari-lari pada balik lagi, terus langsung jongkok, ngerapet ke pembatas antara pasir sama jalan buat pejalan kaki. Kayaknya ini orang lagi ngindarin cewek-cewek itu apa ya? Apa dia copet? Ah, tapi masa orang luar negeri nyopet? Dia ngomongnya pake bahasa Inggris, lho. Emang orang Inggris ada yang nyopet juga ya? Inggris tuh sejauh apa ya? Tau-tau mbak-mbak yang lari tadi ngeliatin aku. “Mbak, Mbak,” panggilnya.

“Mbak, liat cowok ganteng lari ke sini ga?”

Aku bingung.

“Mbak? Ada cowok ganteng lari ke sini ga?” cewek ngulangin pertanyaannya.

Aku ngeliatin si cowok tadi. Ga ganteng ah. Gantengan juga Mas Ojak.

Si mbak yang tadi nanya ngedeketin tempat cowok itu sembunyi. Aku ngeliat tangan cowok itu kayak nyembah-nyembah gitu ke aku sambil geleng-gelengin kepala. “E… e… I, iya, Mbak. Ta… tadi aku liat lari ke sana!” aku asal tunjuk aja.

Si Mbak Yang Nanya langsung balik lari, “Mbak!” teriakku, bikin cowok yang tadi nindihin aku melotot sambil geleng-geleng tambah keras.

Si Mbaknya noleh, terus aku nanya, “Emang siapa sih, Mbak? Copet, ya?”

Si Mbak mendelikin aku. “Enak aja copet! Itu Nickhun, tau! Tau ga lo Nickhun siapa?”

Aku nggeleng-nggeleng, lha wong aku ga tau.

“Ya udah, ga usah tau aja!” si Mbaknya judes banget ninggalin aku.

Ih, sombong banget. Cantik mukanya doang.

Terus aku liatin si Nickhun itu yang masih melotot-lotot ke aku. Ini lagi sama aja. Itu semua pacar-pacarnya kali ya? Dia dikejar-kejar karena selingkuh kali. Kan biasa gitu tuh kalo orang kaya. Cowok itu terus ngomong lagi yang aku ga ngerti, “Are they gone?”

Wong aku ga tau dia ngomong apa ya aku diem aja.

Dia akhirnya ngerangkak naik buat ngeliat, terus ngebuang nafas lega waktu udah ga ngeliat ada cewek-cewek itu lagi.

“Makanya, Mas… Jadi cowok itu jangan pleyboi-pleyboi.”

Dia noleh ke aku, “Thank you,”  sambil senyum.

“Ealah, wong dibilang pleyboi malah tengkyu. Emangnya bangga gitu jadi pleyboy?”

“Playboy?” dia nanya.

“Iya, situ,” aku nunjuk dia. “Pleyboy kan?”

“Me? Playboy? Ahahahahaa…” eh, eh, eh, wong dinasehati kok malah ngetawain.

“You really don’t know who I am, do you?” dia mbuh ngomong apa lagi. Tapi sih kayanya membela diri gitu.

“Alah, wis lah Mas, ga usah alasan. Dasarnya pleyboi ya pleyboi aja!”

Dia malah terus-terusan ketawa. Hu! Dasar orang *sedeng. Situ ketawa aja terus. Aku mendingan pergi aja nyari Mbak Dewi sama Mas Ojak.

“Hey, wait!” Nickhun manggil lagi.

“Apa lagi, Mas Nickhun?” baru nyadar, ternyata namanya mirip artis India jaman dulu, Mithun.

“You know me?”

“Apa manggil-manggil?” aku ga sabar.

Dia nggeleng-geleng kepala kaya mau ngebuang sesuatu dari kepalanya. “Nothing, you don’t seem like you know me. A way out?” dia nggerak-gerakkin telunjuk sama jari tengahnya kaya kaki lagi jalan.

Aku bingung. “Mbuh.”

“Eh?” dia keliatan ikutan bingung. “Ah!” tiba-tiba dia berseru sambil nulis di pasir. O…U…T.

Apaan out? Aku nggeleng-geleng aja.

Terus dia usek-usek lagi di pasir. Sekarang dia nggambar. Itu kaya pintu. Trus… dia nggambar papan ditulisin exit. OH, EXIT TOH! Bilang kek dari tadi. Kan udah tak kasih tau dari tadi.

“Eksit?” aku nanya sama dia.

“Yes, exit!”

Aku tunjukin aja jalan keluar ancol pake jariku. “Tuh, di sana.”

Dia ketawa. “Thank you!” sambil ngacungin jempolnya. Terus dia nunduk-nunduk pamitan. Abis itu dia lari-lari ke arah yang aku tunjukin.

Hah, ternyata cuman orang nyari pintu exit tah… Kenapa dia mesti pake nindih-nindihin aku segala sih? Kan aku jadinya ga enak *karo Mas Ojak… Ya udah, asal Mas Ojak jangan sampe tau.

Sekarang, waktunya aku nyari Mas Ojak lagi. Mas Ojaaaaak,,, aku dataaang…
KKEUT.

*

Mbuh: ga tau

Maning: lagi

Kowe: kamu

Mbok: kan/kalau

Emoh/moh: ga mau

Kepriben: gimana

Wong: orang

Manut: nurut

Sumuk: panas & lembab di tubuh

Biyung/Yung: emak/mak

Bae: aja

Kesengsem: terpesona

Lara: sakit

Kowe kiye sapa? Aku aja dekapak-kapakna. Ampun, Mas. Aku isih nduwe adhi sing tesih sekolah, Mas. Aku aja depateni: Kamu siapa? Aku jangan diapa-apain. Ampun, Mas. Aku masih punya adik yang masih sekolah. Aku jangan dibunuh.

Mbuh! Mbuh aku ra ngerti kowe ngomong apa: Ga tau! Aku ga ngerti kamu ngomong apa.

Ngomong apa sih, rika? Aku ra bisa bahasa inggris, ora ngerti rika ngomong apa: Ngomong apaan sih lu? Gue kagak ngarti bahasa Inggris!

Sedeng: gila

Karo: dengan