8

Always Love You, My Junhyungie [part 1]

Author : Hannie SparKyuDeerYoon

Main Cast : Yong Junhyung, Park Yul Min

Support Cast : Lee Gikwang, Yang Yoseob, Kim Sunmin

Rating : AMAN DIBACA SEMUA UMUR ..

Genre : Romance, Comedy

Disclaim : Semua berawal dari khayalan author .. #plakk

Ps : Bagi yang sudah berkunjung ke WP author, ato FB author, ato fanfictionloverz pasti dah pernah baca FF ini. Author terinspirasi bikin FF ini dari BBF. Tapi taunya ceritanya jauuuh beda banget sama BBF. Jadi, cuman awal – awal nya aja yang mirip BBF. Dan bagi readers, diharapkan menyediakan kantong kresek klo tiba2 muntah ato sebagainya. *Author banyak bacot*

Happy Reading All~

  Continue reading

5

drabble :: love [Sebuah Kisah]

PS :

annyeonghaseyo^^ Pasti sudah menunggu tulisan L~ (PeDe.com)

tanpa basabasi. .yuks cekidott~

Love [Sebuah Kisah]

“Sunbae, mau apel? Akan ku kupaskan untukmu.”

“Tidak, aku sedang tidak ingin makan.”

“Kalau begitu minum?”

“Tidak juga.”

“Kalau begitu aku akan memijit kakimu.”

“Tidak! Aku sedang sakit dan aku ingin istirahat!”

***

“Mau kemana, sunbae?”

“Kamar mandi.”

“Biar kubantu.”

“Tidak! Aku bisa sendiri!”

Continue reading

11

My (Friend)-(Girl), Friendship or Playgirl ??

 

 

Author      : 4M_Hyun_A

Title        : My (Friend)-(Girl), Friendship or Playgirl ??

Cast          :

  • Yong Junhyung (BEAST)

  • Yang Yoseob (BEAST)

  • Son Dongwoon (BEAST)

  • Park Jiyeon (T-ARA)

Genre       : Friendship ,Romance

Length      : Oneshoot

Rating        : T ,PG -14

Disclaimer  : THIS FANFICT IS MINE!! AND OF COURSE YONG JUNHYUNG TOO XDDD~

Note         : Please leave ur comment after u read my fanfict.. kalo ada kritik & saran saya terima kok.. biar saya bisa belajar dari kritikan & saran readers sekalian.. I HATE SILENT READERS !!! so ,u must comment after u read yoo /puppy eyes *maksa mode on* .. oiya, maaf yaa buat Jiyeon biased *bow* dia aku bikin jadi playgirl disini *dibakar diadem*

Backsound   : Thanks To – Junhyung~Yoseob B2ST

 

***

“Sobie-ah, janji ya !! selamanya kita akan menjadi sahabat sejati” kata Junhyung.

“Ne hyung. Kita pasti bisa menjadi sahabat selamanya” balas Yoseob.

Continue reading

8

Lightless

Lanjutan nih!! Mian ya kalo ngebingungin. Aku juga bingung dengan hidupku ini(?)

Udh, daripada author banyak ngomong, langsung aja dibaca.

Happy Reading ^^

***

Author: Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Lightless*sekuel of Beutiful (1st story) and I’m Sorry (2nd story)*

Cast : Lee Gikwang, Son Dongwoon, Yang Yoseob

Genre : Sad

***

(Still Hyunjin POV)

Aku masih betah menatap nisan yang ada dihadapanku sekarang ini. Tubuhnya sudah terkubur disana. Mungkin bagi sebagian orang akan sangat mudah melupakan orang ini. Tapi tidak denganku, tiada hari yang kulewati tanpanya. Dia selalu ada, saat aku sedih maupun senang. Memang masih ada sedikit kekesalanku padanya. Kenapa dia tidak memberitahuku, kenapa dia merahasiakannya padaku.

”Jagi,,bagaimana kalau aku mati besok? Apa kau akan sangat sedih? Apa kau akan menangis?” pertanyaan itu kembali terngiang ditelingaku. Tidak kusangka pertanyaan ini memang menjadi kenmyataan. Oppa! Kenapa kau tidak bertahan. Kenapa kau mengucapkan selamat tinggal padaku dengan cara yang sangat memalukan seperti ini. Kau kira aku tidak akan sedih jika mengetahui kalau orang yang sangat kucintai meninggalkanku tanpa mengucapkan selamat tinggal. Oppa,,kau sangat tega padaku. Lee Gikwang, neo nappun namja!!

”Hyunjin-ah, ayo kita pulang” ajak Yoomin padaku yang sama sekali tidak mau meninggalkan makam Gikwang.

Bukannya menuruti ajakan Yoomin, aku malah kembali duduk disamping makamnya.

”Shiro,,aku tidak mau meninggalkannya. Dia..dia..dia tidak mengucapkan selamat tinggal padaku. Aku ingin bersamanya. Biarkan aku disini, kumohon…” air mata kembali membasahi kedua pipiku. Benar, aku masih ingin bersamanya. Meskipun seharian kami bersama kemarin, sama sekali tidak mengurangi rasa rinduku padanya.

”Sudahlah,,biarkan dia disini dulu. Kita tunggu saja disana” Dongwoon mengajak Yoomin pergi entah kemana.

”Gikwang-ah,,apa disana sangat dingin?? Apa kau butuh selimut?? Gikwang-ah! Jawab aku!! Kenapa kau tidak menjawabku? Aku rindu gombalanmu?” aku membuka ikatan rambutku.

”Sekarang kau lihat. Rambutku sudah panjang. Kenapa kau diam saja? Bukannya kau tidak suka jika rambutku panjang…” aku menghentikan kalimatku. Sekarang aku sudah seperti orang gila. Aku menarik rambutku sendiri, frustasi.

”Arrgggghhhh!!!!!”

”Hyunjin-ah,” panggil seorang ahjumma, yang sangat kekukenal.

”Eommonim?” ya, dia adalah Eomma Gikwang.

”Kami tau kau kaget. Aku juga sebenarnya sangat kaget. Kami baru mengetahuinya semalam, saat dia masuk rumah sakit” aku memeluknya.

”Eommonim, aku..aku” aku tak bisa melanjutkan kalimatku.

”Sudahlah, sekarang kau pulang. Yoseob akan mengantarkanmu. Tabahlah, biarkan dia tenang disana” Yoseob memapahku masuk kedalam mobil. Diikuti oleh Dongwoon, Yoomin, dan Eunmin.

****

Kami sampai di restoran. Aku sengaja meminta mereka untuk mengantar aku dan Yoomin ke restoran.

”Dongwoon-ah, kau tunggu disini saja. Aku mengantar Eunmin dulu” Yoseob menurunkan kami di restoran, dan dia melesat untuk mengantarkan Eunmin.

”Sudah lebih tenang?” tanya Yoomin setelah aku meneguk airku.

”Ne” jawabku berusaha untuk tersenyum.

”Semalam, dia datang ke apartement kami dengan wajah kusut” Dongwoon memulai ceritanya. ”Kami sangat kaget, karena dia bilang dia membuatmu menangis. Dia terus mengoceh tidak jelas. Yang kami tangkap hanya, dia berhasil membuatmu membencinya”

”Sebenarnya dia sakit apa??” tanya Yoomin, sambil menepuk pundakku.

”Dia menderita kanker otak stadium akhir. Dia sendiri yang merencanakan semua ini. Rencananya untuk membuatmu marah, membuatmu membencinya. Aku tau dia sangat tidak ingin berpisah denganmu. Saat penyakitnya kambuh semalam, kami langsung membawanya ke rumah sakit. Tapi dia mencegahku untuk menghubungimu, dia masih tidak ingin rencananya gagal. Dia masih tetap pada pendiriannya sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya. Sesaat sebelum pergi, dia mengucapkan satu hal” Dongwoon menahan air matanya agar tidak jatuh. Sementara aku dan Yoomin sudah tidak bisa menahannya lagi.

”Apa?” tanyaku dengan suara parau.

”Dia mencintaimu Hyunjin. Lebih dari apapun, bahkan nyawanya sendiri. Dia tidak ingin kau sedih, dia tidak ingin kau sakit saat dia meninggalkanmu” Dongwoon tidak mampu menahan kesedihannya lagi, dia akhirnya menumpahkan air matanya juga.

”Nappun namja. Babo!” umpatku terlalu kesal.

”Kami selalu bersama-sama, dari sekolah, bermain, bahkan merintis karir kami. Tapi kenapa dia pergi secepat ini? Bukankah kami selalu bersama?” tiba-tiba Yoseob sudah bergabung bersama kami.

”Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting sekarang adalah, bagaimana kita melanjutkan hidup kita. Kalian harus semangat” Yoseob menepuk pundak Dongwoon, dan tersenyum kearahku. Dengan cepat Dongwoon memeluk Yoseob. Kini aku mengerti, begitu besarnya persahabatan mereka semua.

Lee Gikwang, kau pasti akan tetap menjadi sahabat mereka. Meskipun kau sudah berada didunia yang berbeda. Kau juga akan selalu ada didalam hatiku. Aku pasti akan selalu mengingatmu. Aku yakin kau akan selalu ada disekitar kami. Tapi, aku tidak tau apakah aku bisa menerimanya atau tidak? Bantulah aku.

****

”Kajja!! Ayo kita pulang!” ajak Yoseob pada Dongwoon.

”Hyunjin-ah, kau bisa pulang sendiri??” tanya Dongwoon padaku.

”Hmm…aku bisa pulang sendiri. Sebaiknya kalian antar Yoomin saja. Rumahnya jauh dari sini” suruhku.

”Sebaiknya aku pulang denganmu saja” rengek Yoomin padaku. Aku menggelengkan kepalaku.

”Ani, aku ingin sendiri dulu. Kau pulang lah” Aku mendorong Yoomin masuk kedalam mobil.

”Kau hati-hati ya” titah mereka bertiga, yang berhasil membuatku tersenyum.

”Hmm..ara! Kajja!” mobil mereka pergi meninggalkanku sendiri. Masih sangat ramai disini, tapi kenapa aku tidak merasakannya? Aku merasa disini sangat sepi.

Kulangkahkan kakiku melewati jalan setapak. Tanpa terasa langkahku malah membawaku ke arah apatement Gikwang. Aku memutuskan untuk masuk. Sangat mudah bagiku untuk masuk kesana, karena aku tau passwordnya. Tanggal lahirnya sendiri.

Aku masuk dan mendapati ruangan yang sangat berantakan seperti biasanya. Entah apa yang membuatku untuk membersihkan ruangan ini. Saat sampai didepan televisi, aku mendapatkan sesuatu. Disana tertulis, ’to my girl, my first and last girl. My love Lee Hyunjin’. Sesuatu itu sepertinya adalah kaset rekaman. Aku memutuskan untuk membukanya.

Saat rekaman itu mulai, aku kembali menangis. Aku sangat merindukan wajah itu.

”Halo jagi!!! Saranghae,,dan Mianhae. Hah..aku merasa tidak cukup hanya dengan mengucapkan Saranghae. Aku sudah sangat mencintaimu. Tapi…apa kau akan memaafkanku jika aku meninggalkanmu nanti? Entahlah. Yang aku mau sekarang kau mengetahui kalau aku sangat, sangat, sangat mencintaimu!!! Aku tidak akan capek untuk mengatakan aku mencintaimu. Maaf, aku tidak bisa memberitahumu tentang penyakitku ini, aku tidak ingin kau sedih. Jagi,,aku pastikan akan membuatmu bahagia, akan membuatmu tertawa, dan tersenyum sebelum aku meninggalkanmu. Aku akan lakukan itu! Aku janji. Saranghae,,dan selamat tinggal” saat mematikan rekamannya, sekilas aku melihat dia menitikkan air matanya.

Aku masuk kekamarnya, tempat tidurnya sangat berantakan. Bantal berserakan kemana-mana. Buku-buku yang tidak lagi di tempatnya. Bahkan foto-fotonya berserakan kemana-mana. Mataku menangkan sebuah buku yang tergeletak di tempat tidur. Satu-satunya buku yang ada disana. Aku membaca tulisan yang ada disana, sangat tidak beraturan, seperti ditulis dengan susah payah.

’sakit. Ini sangat sakit. Kumohon hilanglah, aku ingin bertemu untuk terakhir kalinya dengan Hyunjin. Kumohon~’

Ya Tuhan, dia menahan sakitnya. Dia sangat kesakitan. Kenapa kau menyakitinya seperti ini. Kenapa kau tega padanya. Ya Tuhan, kenapa harus dia yang mengalaminya. Kenapa kau tega padanya. Kenapa bukan aku saja yang kau perlakukan seperti itu. Aku sudah tidak tahan. Aku berlari keluar dari apartement itu. Sangat sakit berada didalam sana. Seakan ada tombak yang menusuk tepat kejantungku. Dadaku sesak.

****

Aku meutuskan untuk pulang kerumah. Sepertinya aku butuh istirahat sekarang. Aku ingin melupakannya sebentar.

”Hyunjin kau pu…”

”Aku ingin istirahat, tolong jangan ganggu aku” aku meotong kalimat ibuku, dan langsung menaiki anak tangga menuju kamarku, dan menguncinya.

”Hyunjin, gwenchana?” terdengar suara ibuku di balik pintu.

”Eomma, bisakah untuk membiarkanku sendiri dulu. Aku tidak ingin diganggu dulu” kataku dari balik selimut. Aku ingin meredam tangisku agar tak satu orang pun yang tau kalau aku sedang menangis.

”Baiklah, istirahatlah” Kurasa Eomma sudah turun kebawah.

”Lee Gikwang, bogoshipda~” ucapku, dan akhirnya aku tertidur.

****

Sinar matahari masuk keadalam kamarku, dan menerpa wajahku yang masih ingin tidur.

”Hyunjin-ah!! Ayo bangun!!” teriak Eomma dari dapur seperti biasanya.

Dengan malas aku keluar dari selimutku, mengambil handuk untukku mandi. Dan bersiap melewati hariku. Hari tanpanya. Lee Gikwang.

”Matamu bengkak, apa kau menangis semalam?” tanya Eomma tepat sasaran.

”Sudahlah, jangan bahas itu” aku membuka pintu kamar mandi, tapi saat itu juga seseorang keluar dari kamar mandi.

”Ah..” kagetnya, begitu juga denganku.

”Nuguya??” tanyaku.

”Hyunjin?? Wah..yeoppo!” dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

”Siapa kau??” tanyaku lagi.

“Aku Yong Junhyung” jawabnya, senyumnya sangat menenangkan.

 

END

***

Hoho..gak kuat. Mian pendek, aku gak bisa nahan air mata pas ngetiknya. Jadi mian ya kalo jelek. Gak kebayang bgt ngalamin kejadian kayak gitu. T.T

Dimohon komentarnya ya Chingu!! Koment kalian bantuin aku lo!!

Kamsahamnida*ngambil tissue*