14

As Time Goes By

Image and video hosting by TinyPic
As Time Goes By

Author                  : Maya Saputri

Genre                   : Romance

Cast                       : Kim Heechul ( Super Junior) ,Im Yoona (SNSD), Tiffany (SNSD)

Aku dapat merasakan tangannya memeluk erat pinggangku. Yah memang wajar, secara aku melajukan motorku dengan sangat cepat.

Dia yang duduk dibelakangku adalah pacarku, Im Yoona. Aku dan dia sudah berpacaran selama hampir dua tahun. Aku mencintainya, tentu saja. Aku mencintainya. Aku… mencintainya…?

“Hee, jangan lupa menjemputku dua jam lagi ya. Kalau sampai kamu lupa, uhh~ aku akan cubit pipi kamu sampai lebar dan merah, hihi” ucapnya sambil mencubit pipiku seraya tersenyum lebar.

“Iya sayang, kapan sih aku pernah lupa, hmm?”

Just in case aja, hehe”

“Yasudah sana kamu masuk kelas, nanti kelasnya sudah keburu dimulai…”

“Iya iya… tapi sebelumnya…”

“Apa?” tanyaku bingung.

Cuppst.

Satu ciuman kilat mendarat di bibirku. Wajahku memerah. Dia menciumku di depan kampusnya! Di tempat umum! Di depan banyak orang! Dan bisa-bisanya dia langsung lari setelah melakukannya!

“Im Yoonaaaaaa!!” teriakku. Tapi dia hanya tertawa sambil berlari menuju kelasnya.

Hahaha memang dasar kelakuannya sangat kekanakkan sekali. Tapi justru itulah yang membuatku suka padanya. Dia adalah wanita yang menyenangkan.

* * *

Slurrpp… “Ahh~ memang tidak ada yang mampu mengalahkan nikmatnya meminum cola dingin dihari sepanas ini” ucapku pada diriku sendiri.

Green Park, tempatku berada sekarang ini merupakan tempat favoritku sejak masih SMA. Tempatnya sangat nyaman, pohonnya rindang dan pemandangannya bagus. Panasnya matahari tak terasa karena aku duduk di bawah pohon besar. Masih sekitar satu jam tiga puluh menit lagi sampai pada waktu aku harus menjemput Yoona.

Kulipat jaketku dan kutaruh di bangku panjang tempat aku duduk sekarang, dan kuletakkan kepalaku diatasnya. Sambil menunggu waktu, ada enaknya juga aku tidur sebentar, pikirku.

”Heechul?”

Aku mendengar ada suara wanita memanggilku, akupun terbangun dan menolehkan wajahku ke sumber suara.

“Ahh ternyata memang benar Heechul!” ucapnya sambil tersenyum lebar seraya berjalan kearahku.

DEGG! Aku tidak mampu menyembunyikan ekspresi kaget dari wajahku. Dia…

“Tiffany…?”

* * *

Empat tahun yang lalu.

“Aku mencintaimu, Hee…”

“Aku lebih mencintaimu, Fan” kemudian aku mengecup bibirnya.

Aku benar-benar mencintainya. Aku mencintainya lebih dari apapun di dunia ini.

“Hee, tidak terasa yah kita sudah setahun berpacaran” ucapnya. “Semenjak masih duduk di kelas satu SMA, sampai sekarang kita sudah mau naik ke kelas tiga…”

“Sampai nanti kita kuliah, bekerja, sampai selamanya, aku akan selalu bersamamu. Aku akan selalu mencintaimu…”

Tiffany, seorang gadis manis yang sudah setahun ini menjadi pacarku. Gayanya yang feminim, wajahnya yang manis, eye-smile yang tampak setiap kali dia tersenyum… Adalah sekian dari sejuta hal yang aku suka darinya.

Hari ini adalah hari dimana kami tepat telah menjalani satu tahun berpacaran. Kami merayakannya dengan makan malam bersama dan berjalan-jalan mengelilingi kota.

Dan tanpa terasa waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, saatnya aku harus mengantarnya pulang, atau aku akan dihajar oleh orang tuanya.

Keesokan harinya di sekolah.

Tifanny tidak masuk? Aneh, sepertinya tadi malam dia baik-baik saja. Aku telepon berkali-kali ke ponselnya, namun tidak di jawab. Di sms tidak dibalas, telepon rumahnya pun tidak ada yang mengangkat.

Dua hari kemudian.

Sudah tiga hari Tiffany tidak masuk sekolah. Selama itu pula aku tidak mendapat kabar apa-apa darinya. Aku sudah mendatangi rumahnya, tapi nampaknya tidak ada siapapun didalamnya. Aku benar-benar khawatir…

Namun tiba-tiba ponselku bergetar, Tiffany mengirimkan sms! Dia berkata agar aku menemuinya di Green Park pada jam pulang sekolah.

Sepulang sekolah.

“Kamu kemana saja selama ini? Mengapa tidak ada kabar?” tanyaku.

Wajahnya terlihat sendu, Terlihat jelas Tiffanny seperti habis menangis.

“Maaf… Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, hanya saja… Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan menceritakannya padamu”

“Ada apa? Apa yang terjadi?”

“Hee… Aku ingin… Kita putus…”

DEGG! Apa aku tidak salah dengar? Putus…?

“Pu… Putus? Maksud kamu? Kamu sedang bercanda kan, Fan?”

Dia menggeleng. “Aku serius…”

“Tapi kenapa? Bukankah kita baru saja berjanji selamanya akan selalu bersama?” Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, dan tanpa sadar air mataku terjatuh. Begitu juga dia.

“Aku akan pindah ke Amerika, Hee. Perusahaan ayahku sedang kacau disana, sehingga beliau harus pindah kesana untuk menanganinya”

“Tapi kamu kan bisa tetap tinggal disini…”

“Aku juga sudah bilang seperti itu, tapi orang tuaku tidak mengijinkan… Kamu tahu kan, aku tidak memiliki saudara disini, semua tinggal di Amerika… Aku sungguh tidak ingin meninggalkan kamu, tapi aku tidak bisa melawan orang tuaku, aku… Aku…”

“Aku akan menunggu kamu, Fan. Kita bisa pacaran jarak jauh, banyak pasangan yang seperti itu dan tetap utuh…”

“Aku tidak tahu kapan akan kembali lagi kesini, Hee… Aku tidak tahu apakah aku akan kembali lagi atau selamanya disana, aku benar-benar tidak tahu…”

Tiffany tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi. Tangisnya memuncak. Dia memelukku sambil menangis. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa…

* * *

“Apa kabarmu, Hee?” tanyanya. Kini dia sudah duduk disampingku.

“Bagaimana kamu bisa ada disini?”

Dia tertawa, matanya ikut tersenyum, sama seperti dulu…

“Aku sampai di Seoul tadi pagi. Lalu aku merasa bosan di rumah dan memutuskan untuk berjalan-jalan. Aku terpikirkan kamu, oleh karena itu aku datang kesini. Dan aku benar-benar tidak menyangka kamu ada disini…”

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Wajahku tertunduk, tidak sanggup menatap wajahnya yang manis itu.

“Aku datang ke Seoul untuk menemuimu, Hee”

DEGG! Lagi-lagi aku tidak dapat menyembunyikan rasa kagetku.

Aku melihat airmata di pipinya.

“Aku masih mencintaimu. Aku selalu memikirkanmu setiap hari. Aku… Aku tidak pernah melupakanmu…”

Airmatanya semakin deras membasahi pipinya yang putih. Ingin rasanya aku memeluknya, tapi entah mengapa aku masih tidak dapat bergerak. Seolah badanku menolak untuk memeluknya.

“Aku mencintaimu, aku ingin kita kembali seperti dulu. Maaf, karena dulu aku meninggalkanmu. Aku berjanji aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, aku mencintaimu, Hee”

Mulutku masih tertutup rapat. Aku tidak yakin harus mengatakan apa.

Teringat saat-saat aku dan dia masih bersama. Aku masih dapat mengingat tawanya yang renyah, masih dapat merasakan ciumannya yang hangat di bibirku, pelukannya, genggaman tangannya, semuanya…

Dan tiba-tiba ponselku bergetar, membuyarkanku dari kediaman. Sms dari Yoona, mengingatkan untuk menjemputnya. 15 menit lagi kuliahnya usai.

Yoona!

Tentu saja, aku kini sudah memiliki Yoona. Mungkin itulah alasan badanku menolak untuk memeluk Tiffany.

Yoona… Dialah satu-satunya orang yang dapat menghiburku setelah kepergian Tiffany dulu. Karena dialah akhirnya hidupku kembali ceria, karena dialah aku bisa tetap hidup sampai sekarang ini. Dan bodohnya, sampai tadi pun aku masih ragu apakah aku mencintainya atau tidak?

“Hee…? Kamu kenapa diam saja?”

Kata-kata Tiffany menyadarkan lamunanku.

“Fanny, aku… Maaf, tapi kurasa sudah tidak ada lagi tempatmu dihatiku” ucapku. “Aku… Kini hatiku sudah dipenuhi oleh seorang gadis…”

Aku dapat melihat ekspresi kaget diwajahnya.

“Jadi… Jadi kamu sudah mempunyai pacar?”

Aku mengangguk.

Dia menundukkan wajahnya dan terdiam. Aku dapat melihat airmata yang terjatuh di tanah.

“Maafkan aku Fan, tapi empat tahun nampaknya merupakan waktu yang cukup lama bagiku untuk dapat melupakanmu seutuhnya” ujarku. “Seandainya kamu datang lebih cepat, tanpa ragu mungkin aku akan langsung menerima ajakanmu”

Dia mengangkat wajahnya dan menghapus airmatanya. “Tidak apa, aku tahu akulah yang salah, dari awal, tidak seharusnya aku meninggalkanmu… Jika sekarang kamu sudah berbahagia dengan wanita lain, kurasa memang itu jalan yang terbaik…” katanya sambul tersenyum lemah.

“Terimakasih kalau kamu mau mengerti, Fan. Aku… Aku harus pergi sekarang. Maaf, aku tidak dapat mengantarmu karena aku harus menjemput wanitaku”

Terlihat ekspresi sedih di wajahnya saat aku menyebut Yoona sebagai ‘wanitaku’.

“Iya, aku bisa pulang sendiri… Kamu tidak perlu meminta maaf…”

“Baiklah, kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa lagi, Fan…” ucapku. Lalu aku pun melangkah meninggalkannya. Meninggalkannya menangis di belakangku…

* * *

“Tuuh kaan kamu telaat…” teriak Yoona saat aku datang menghampirinya.

“Maaf, tadi macet, sayang…” kataku. Aku tidak ingin memberitahunya tentang Tiffany…

“Iya, yasudahlah kalau begitu ayo kita pergi” ucapnya sambil berjalan menuju tempat parkir selangkah lebih maju didepanku.

Dari belakang, aku melihatnya berjalan. Ada dorongan kuat dari tubuhku untuk memeluknya. Lalu aku menangkap bahunya dan kupeluklah dia. “Aku mencintaimu, Im Yoona” bisikku.

Sekarang, seiring berjalannya waktu, aku benar-benar menyadari betapa pentingnya dia bagiku. Aku menyadari betapa aku mencintainya dan tidak ingin dia pergi meninggalkanku.

“Uhh apa-apaan sih kamu, aku malu tauuu…” teriaknya sambil berusaha melepaskan pelukanku.

Aku tidak peduli dan tetap terus memeluknya semakin erat.

Akhirnya, setelah perlawanan yang cukup sengit, dia pun menyerah, dan membalas pelukanku.

“Aku juga mencintaimu, Kim Heechul…”

* * *