15

Stop the Falling Rain

“You will always have a special place in my heart….”

Sunghee POV

This is legato. You have to play it smoothly,” kataku lembut pada muridku yang sedang memainkan tuts tuts di hadapannya dengan lincah. Jari jarinya menari bebas diatas black and white buttons itu. Menari. Dance. Kata itu selalu mengingatkanku pada sesuatu.

Alice-begitu aku memanggilnya- menyelesaikan permainan dengan memuaskan, menurutku. Alicia Ventresca adalah murid pianoku. Aku mengajar di salah satu sekolah seni di San Diego. Negara ini berbatasan dengan Mexico. Tidak heran Alice adalah seorang gadis berdarah campuran Mexican-American. Umurnya baru menginjak 8 tahun tetapi dia adalah anak kecil tercerdas yang pernah kutemui.

Aku tersenyum dan mengelus rambut emasnya. “You played it perfect sweetie. I don’t think there’s anyone better than you,” kataku memuji membuatnya tersenyum senang,

Aku mengambil tasku, dan mengeluarkan sebatang lolipop yang biasa ku berikan padanya bila berhasil melancarkan suatu lagu dalam waktu kurang dari dua minggu. Alice senang menerimanya. “Thaaanks Autumn,” katanya memanggilku dengan nama inggrisku. Mengapa aku memilih Autumn sebagai nama Englishku? Ada sejarah sendiri untuk itu.

Aku hanya tersenyum, lagi lagi. “You deserve it, for sure.” Kataku membuatnya tersenyum kegirangan. Senyum yang selalu kulihat pada diri seseorang yang seharusnya sudah kulupakan. Senyumnya yang seperti ini kerap kali membuatku teringat padanya.

Aku hendak mengancingkan kembali tasku ketika sebuah benda jatuh menghempas lantai dengan suara kecil. Ah benda itu. Tiba tiba muncul di depan pintu rumahku dan memporak porandakan sebagian dari akal sehatku.

Alice menunduk dan mengambilnya. “Wedding? Hey… this is your  dancer, right?” kata Alice. Gadis hebat. Betapa ia berbicara kepadaku seolah olah dia adalah gadis di usia awal 20. Siapa yang menyangka gadis cerewet ini hanyalah berusia delapan tahun?

So… he is getting married in three days?” katanya lagi. Membuatku menelan ludahku. Aku menunjukkan senyum termanisku kepadanya. “I guess…. He is,”jawabku tercekat enggan mengumbar kelemahanku di depan gadis cilik ini. Continue reading

8

Roses Along the War [3/?]

 

 

Specialshin and Ifasheitte Proudly Present.

Chapter 3 written by Specialshin

 

 

Hara tersenyum melecehkan memandang Revolver Sungmin yang lengkap dengan peredam tersebut mengarah tepat ke keningnya. “Kau tidak akan membunuhku, Lee Sungmin. Kau bilang kau sayang padaku,” ucap Hara santai.

“Sebagai sahabat, ya.” Ucap Sungmin tegas seakan tidak ada yang bisa mengganggu gugat pernyataannya. “Tch…” Hara mendecak sinis. Donghae mendesis memperingatkannya tetapi Hara mengabaikannya.

“Setidaknya title ‘sahabat’ cukup untuk membuatmu tidak membunuhku,” ucap Hara ringan, tidak mengalihkan pandangan meremehkan tetapi waspadanya pada Sungmin. “Kalau kau menyentuh Yoonji, aku akan melakukannya,” ucapnya menarik pelatuk pistol dengan ujung ibu jarinya, menandakan dia serius.

Hara masih meremehkan rupanya. “Atau cepat cepat saja kubunuh dia, siapa tahu kau langsung sadar kalau hidup tanpa dia juga tidak apa apa,” ucapnya mengabaikan peringatan kedua Donghae yang sudah mengenali tatapan berbahaya Sungmin.

“CHO HARA DIAM!” teriak Sungmin diiringi tembakan yang dilepaskannya, sedikit miring ke kiri sehingga berdesing melewati telinga Hara beberapa senti, dan mendarat mulus menembus tembok di belakangnya. Hara terlihat shock sementara Donghae hanya mengangkat kedua bahunya. “Sudah kubilang, kau tidak menurut,” ucapnya ringan.

Hara terlihat emosi. Tidak disangkanya Lee Sungmin berani melakukan itu demi seorang Yoonji. “Tch,” decaknya lagi dan mengeluarkan silver string elastic dari kotak kecil di pinggangnya, dan dengan gesit melemparkan tali itu ke bawah lewat jendela. “Lebih cepat kutemukan jalang itu lebih baik,” katanya sambil melompat turun dan menghilang dari pandangan.

Sungmin terpaku sementara mencoba mencerna apa yang akan dilakukan gadis licik itu pada kekasihnya dan meraih ponsel dengan cepat. “Yoonji, kau dimana!?” katanya terburu buru.

Yoonji terdengar gemetar di ujung sana. “Ani.. aku tidak tahu.. maksudku, tadi ada gadis aneh mengacungkan pistolnya kearahku dan… Donghae

Continue reading

17

Roses Along the War [2/?]

Specialshin and Ifasheitte Proudly Present.

Chapter 2 written by Ifasheitte

 

 

 

“Cho… Hara?”

***

Gadis dengan rambut digelung keatas, pakaian serba hitam dan lengkap dengan kacamata hitamnya itu berjalan mendekat kearah Sungmin dan Donghae, ia menarik kacamata hitamnya terlepas dari wajahnya kemudian melepas ikatan rambutnya sehingga gelungan rambutnya tergerai memperlihatkan rambutnya yang setengah kecoklatan itu tergerai bebas.

Tangan gadis bernama Cho Hara itu tergerak menyentuh bahu Sungmin lalu menggerakannya seolah-olah sedang membersihkan bahu Sungmin, lalu dia tersenyum dibalas oleh tawa kecil dari Sungmin.

“dingin…” Hara menengadahkan kepalanya lalu menatap Sungmin lagi, kali ini tangannya terlepas dari bahu Sungmin dan beralih menggosokkan kedua teapak tangannya sendiri. Donghae dengan cepat menarik tangan Hara, membuat Hara menoleh bingung “apa?”

Donghae menariknya untuk berpindah berdiri dihadapannya lalu melepas  jaket hitamnya dan memakaikannya pada bahu Hara. “begini lebih baik.”

“gomawo…” ucap Hara singkat kemudian menoleh ke arah Sungmin lagi. Kali ini Sungmin yang mengernyit bingung, Hara memang suka memandanginya, mengganggunya, apalagi jika Sungmin sedang menghabiskan waktunya dengan Yoonji, Hara malah semakin  gencar untuk terus mengganggu Sungmin.

“aku sangat menyukaimu.” Ucap Hara enteng sambil terus tersenyum pada Sungmin.

Sungmin dan Donghae yang mendengarnya hanya menghela nafas keras, tapi dalam maksud yang berbeda. Hara memang sudah biasa mengucapkan kata-kata manis pada Sungmin, sampai Sungmin selalu mual jika Hara mengatakannya karena… ya, Sungmin hanya menganggapnya sahabat tidak lebih.

Seperti yang sudah dijelaskan, Sungmin hanya melihat Yoonji. Hatinya sudah didipenuhi oleh Yoonji tanpa secelah pun yang tersisa untuk Hara.

Dan Donghae? Dia juga sudah terbiasa mendengar kata-kata itu yang Hara ucapkan untuk Sungmin, Donghae memang terlihat biasa saja tapi jauh di dalam hatinya ia ingin kata-kata itu tertuju untuknya, bukan untuk Sungmin.

Continue reading

18

Roses Along the War [1/?]

sooo after that long hiatus (my last chaptered ff was lover’s fight) i’m back with new story. the main cast will be SJ’s Sungmin and Donghae, paired up with 2 OC’s.

ini ff duet. part ganjil authornya saya (specialshin) part genap authornya ifasheitte. really need your comment and support guys! enjoy.!

Roses Along the War 1 by Specialshin.

\

 

                                     

Sungmin membidik target yang berada jauh 100 meter dihadapannya dan peluru itu mendesing cepat menembus lingkaran hitam kecil di tengah papan tersebut. Sungmin tersenyum puas dan melakukan tembakan keduanya, dan hasilnya tidak kalah spektakuler dari itu.

Seseorang menepuk  bahunya dari belakang. Sungmin menoleh lalu membungkuk dengan hormat. “Master,” ucapnya sementara pria tua yang dipanggil master tersebut hanya tersenyum bangga. “Kau adalah asset besar organisasi kita. Sungmin-ah. Kau dan Donghae.” Katanya. Sungmin hanya tersenyum tipis mendengarnya.

Crazioneer, suatu organisasi besar semacam mata mata dari FBI yang ada di korea. Dengan para special agent tangguh yang dilatih super ketat mulai dari mereka berusia balita. Lee Sungmin dan Lee Donghae adalah dua dari yang terbaik di antara mereka dengan skill menembak dan bela diri paling menonjol bahkan semenjak mereka berusia 5 tahun.

Organisasi itu benar benar terkemuka diantara mereka mereka yang mengetahuinya. Tidak banyak yang pernah mendengar nama Crazioneer karena itu adalah badan bawah tanah buatan FBI, yang diletakkan di benua asia untuk membentuk sumber daya yang tangguh tanpa tercium oleh musuh dan mata mata di luar sana.

Kang Junghwan, pria separuh baya namun tangguh pemimpin nomor satu Crazioneer, mantan special agent FBI namun ditugaskan kembali ke Negara asalnya untuk merintis organisasi yang merupakan proyek besar dan ada di urutan ke 4 dalam skala prioritas FBI. Pria itu sudah menganak emaskan Sungmin dan Donghae semenjak mereka berdua menjadi partner mematikan bagi teman temannya di usia balita.

 

Tiba tiba pandangan teduh pria itu mengeras. Sungmin menatapnya waspada dan benar saja, ia menarik sebilah pedang lurus dari pinggangnya dan menghunuskannya tepat kearah bahu Sungmin membuat pria itu terpaksa mengelak ke kanan.

 

Junghwan memutar mutar pedangnya lihai dan kembali mengarahkan benda tajam itu pada murid kesayangannya tersebut memaksanya untuk berkelit dan melakukan salto ke belakang guna menghindari mata pedang yang mengincar jantungnya itu.

Saat pria itu lengah, Sungmin menarik pistol M5 lengkap dengan peredam yang diselipkan di pinggangnya tadi. Ia membidik pedang gurunya itu tetapi terlambat, pedang itu bergerak sehingga Sungmin tidak sempat menembaknya.

Continue reading

34

(FREELANCE) 7 Years of Love 1

Title: 7 Years of Love part 1

Author: Debby

Gendre: Romatic, friendship, humor & continue

Rate: all age

Cast:

–          Choi Siwon

–          Park Hyora

–          Yoona

–          Cho Kyuhyun

Another cast:

–          Superjunior member

–          Bigbang member

–          Lee Yoora

–          Lee Soora

–          Kim Gyuri

–          Kim Nayoung

–          Park Eun Min

Note: author ada karang nama girlband disini

Annyeong reader, ini fanfic murni dari pikiran saya. Maaf jika ada beberapa bagian dari fanfic saya sama dengan fanfic lain itu hanya suatu kebetulan, jika kalian tidak suka dengan nama Park Hyora ada di cerita ini kalian bisa anggap kalau itu dari kalian sendiri.

So….

Happy reading.. ^^

Continue reading

20

Only When I Sleep

Disclaimer : everything is mine except the casts. they’re God’s. di post juga di wordpress saya specialshin.wordpress.com

Heechul memandang sendu gundukan tanah di hadapannya, dengan nama yang terukir indah di batu nisan di atasnya. Bukan namanya yang terukir indah, bukan itu. Namanya memang indah. Setidaknya menurut Heechul.

Choi Sang Kyo (5 Juni 1989 – 29 September 2011)

Heechul meraba lagi tulisan cetak miring di nisan Sang Kyo, kata kata yang dipilihnya sendiri. ‘we let you go peacefully, but please keep appearing in our dreams’

 

Heechul memandang lagi gundukan tanah merah itu sampai puas, sebelum akhirnya ia meletakkan mawar putih yang dibawanya diatas makam gadis itu.

“Kyo… kau selalu takut sendiri. Sekarang aku datang menemanimu,” katanya dengan ketenangan yang dipaksa. Senyum terpaksa itu sudah terasa familiar di bibirnya belakangan ini. Dengan pekerjaan yang menuntut full senyum dari wajahnya mana mungkin dia sempat berkeluh kesah?

 

Heechul memandang sekali lagi tempat dimana gadis itu dimakamkan sebelum kemudian ia bangkit dan menghembuskan nafas pedihnya. Satu minggu sudah berlalu tanpa senyum cerianya dan itu bukan hal mudah.

“Kyo-ya… kalau kau datang ke mimpiku, aku berjanji tidak akan pernah bangun lagi,” ucap Heechul pahit, masih berusaha menahan semua emosi dan tekanan yang ia rasakan semenjak menerima telepon yang mengabarkan gadis itu telah menghembuskan nafas terakhirnya.

 

Choi Sang Kyo… Choi Sang Kyo.. . nama itu terus menetes netes begitu saja seperti air. Tidak bisa dihentikan. Bagaimana tetesan itu tetap berlanjut padahal sang pemilik nama telah pergi selamanya? Heechul menundukkan kepalanya berusaha menutup kedua telinga denggan telapak kanannya.

Ternyata panggilan itu datang dari hatinya.  Nama itu seakan memanggil manggil tidak berhenti, dan orang itu tidak kunjung datang juga. Jadi panggilan itu terus bergaung di telinganya.

 

Heechul menarik nafas panjang lalu berbalik, menekan tombol kunci mobil disusul dengan suara ‘bip’ keras dan suara kunci terbuka dari dalam. Ia memasuki mobilnya lalu memacu kendaraan itu kembali ke rumahnya.

Langkah demi langkah diambilnya memasuki jalan setapak menuju pintu rumahnya. Rumah ini terlalu penuh kenangan keceriaan. Heechul membuka pintu pelan pelan mempertahankan keheningan yang sekarang dibutuhkannya. Ia menapak mengendap menuju kamarnya, melepas asal sepatu dan jaketnya lalu membaringkan dirinya di atas kasur king size tersebut.

Heechul mengucapkan permohonannya, dan merasa bodoh karena yakin tidak akan ada yang bisa mendengarkan ucapan itu.

“Choi Sang Kyo, kalau kau tidak datang ke dalam mimpiku biar aku saja yang menyusulmu,”

-oOo-

Continue reading