12

Dandelion #10 (Why, Baby? Sequel Edition) -END-

sebelumnya…

#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9

Dandelion #10 (Why, Baby? Sequel Edition)

LAST CHAPTER Special Yunho PoV

…my beautiful girl…

Seperti mimpi, semuanya berjalan seperti sedia kala. Aku dan Sojung, Changmin dan Jung. Aku sedikit tidak mengerti hubungan mereka. Aku sering melihat Jung bersama laki-laki lain yang kuketahui bernama Dongwoon, sedangkan Changmin sering keluar bersama Jonghyun. Bukankah lebih baik jika mereka lebih sering bersama seperti aku dan Sojung? Dengan begitu mereka bisa saling mengenal lebih dekat.

Ah, itu terserah mereka saja. Aku tidak mau ikut campur!

Aku dan Sojung, hubungan kami berjalan dengan lancar. Setelah aku wamil, aku berjanji akan menikahinya. Aku sudah meminta persetujuan dari semua pihak. Agensi, manajer, Changmin, fans, orangtuaku, dan orangtua Sojung. Mereka semua menyetujui kami menikah setelah wamil.

Karena itu mulai bulan depan aku berencana untuk masuk wamil, sehingga aku bisa menikah dengan Sojung secepatnya.

***

2 tahun kemudian…

Aku mencari keberadaannya di antara para fans dan wartawan yang menyambutku keluar dari wamilku. Mencari dan terus mencari, tetapi paras cantiknya tidak dapat kutemukan. Apa dia tidak menyambutku? Seharusnya dia tahu hari ini aku akan keluar dari wamil!

“Yunho-ya!” Manajer hyung memanggilku. “Sampai jumpa lagi!”

Aku segera membungkuk untuk memberi salam kepadanya. Setelah melakukan wawancara singkat dan beberapa kali memberikan fan service, aku berjalan menuju mobil.

Long time no see, oppa…” Suara itu menyambutku sesaat setelah kubuka pintu mobilku.

Aku melihatnya. Sosok yang membuatku resah. Sosok yang membuatku marah, karena aku merindukannya tetapi tidak bisa bertemu dengannya. Sosok yang hampir membuatku gila, karena kami berdua selalu saja dilibatkan pada suatu keadaan yang sangat-sangat menyebalkan.

Aku tersenyum senang. Segera aku naik ke mobil, dan memeluknya erat. “Jagiya~” kulepas pelukanku, dan mencium bibir mungilnya kilat. “Changmin menjagamu dengan baik?”

Sojung mengangguk. “Tetapi dia tidak begitu baik.”

“Mengapa?”

“Sepertinya Jung tidak menyukainya.” Kali ini giliran manajer hyung yang menjawab pertanyaanku. Sesaat setelahnya, manajer hyung segera memacu mobil dengan kecepatan sedang.

Aku mengerti apa yang dikatakan manajer hyung tentang Jung dan Changmin. Sesaat sebelum aku wamil, Changmin pernah mengatakan bahwa Jung masih belum bisa menerimanya. Dan dia tidak ingin memaksa perasaan Jung, meskipun sebenarnya Changmin sangat-sangat ingin menjalin hubungan dengan Jung. Changmin bilang, Jung masih trauma.

Aku masih menggenggam tangan Sojung, dan membelai rambutnya yang hitam pekat itu. Dua tahun tidak bertemu, sepertinya dia hidup dengan sangat baik. Wajahnya masih sama, tetapi auranya sangat berbeda. Sojung yang sekarang, dia seperti sedang menikmati hidupnya dengan baik. Ibunya pun sudah bebas dari penjara, dan saat ini sedang membangun sebuah toko roti. Ayahnya, Sojung pernah mengatakan dia tidak ingin bertemu dengannya lagi.

Sojung yang sekarang, adalah Sojung yang sangat hangat, dewasa, dan periang.

“Jung masih sering bersama namja bernama Dongwoon itu?” tanyaku.

Sojung mengangguk. “Dan Changmin masih sering bersama Jonghyun. Ah, molla. Aku tidak tahu hubungan seperti apa di antara mereka!”

Aku tersenyum jahil. “Ya! Bagaimana jika memikirkan kita saja? Kapan kita akan menikah?”

Continue reading

Advertisements
4

Destiny

sekarang part 5, terakhir^^

part sebelumnya, baca disini

 

Destiny

 

Semakin hari hubunganku dengan Taemin semakin membaik. Aku pun merasa menjadi yoja paling bahagia karena ada Taemin yang selalu menemaniku meskipun umur kami berbeda.

Tapi aku tidak peduli. Sejak dulu aku menerimanya sebagai namjachinguku, aku memang tidak pernah mempedulikan statusku sebagai noona. Karena bagiku, cinta itu hanya ada aku dan dia. Bukan umurku, dan umurnya.

***

Minggu malam yang indah adalah ketika aku duduk di jendela kamarku, dan Taemin duduk di jendela kamarnya. Kemudian kami menceritakan kegiatan kami, teman-teman kami, tugas-tugas kami, semuanya, yang terjadi dalam satu minggu. Kami jarang sekali bertemu, tetapi kami selalu menyempatkan waktu ketika minggu malam di jam dan tempat yang sama untuk berdua saja. Seperti saat ini.

“Bagaimana harimu?”

Badannya masih terlihat sedikit lembab karena baru saja selesai mandi. Rambutnya pun dibiarkan basah. “Menyenangkan, noona. Aku bertemu banyak sekali murid training dari daerah yang lain.” jawabnya sambil mengacak-acak rambut basahnya. Sedikit terlihat… seksi.

“Apakah ada yang cantik?”

“Tentu saja cantik semua. Tetapi bagiku noona yang tercantik!”

“Ey… Bohong!” tuduhku. Dia tidak pernah sekali pun mengatakan bahwa aku cantik.

“Ya! Noona itu cantik! Seperti aku…”

Seperti dia? Aku tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Noona tidak pernah memperhatikan? Kita itu mirip! Apalagi jika noona tersenyum. Kata orang, jika kita mirip dengan kekasih kita, maka dia adalah jodoh kita.”

Jodoh? Benarkah? Mengapa aku senang mendengarnya mengatakan kita berjodoh? Ah, sepertinya aku akan lebih sering tersenyum setelah ini… Karena kita memang berjodoh…

*** Continue reading

4

Taemin-ah! Dugeun Dugeun~

ini lanjutannya yang dulu pernah aku post di halaman ini
part #1 #2 #3, sekarang part 4 nya…

yuuk langsung cekidot aja^^

Taemin-ah! Dugeun Dugeun~

Hari ini hari pertama aku menjadi mahasiswi! ^^

Rasanya senang! Ternyata menjadi mahasiswi itu enak… Selain mendapat teman baru, banyak sekali namja tampan dan keren yang berada di sekitarku…

Ups… Jangan bilang pada Taemin, nanti dia marah padaku >.<

***

Aku bosan!

Penjelasan dari Profesor Kang tidak satu pun yang masuk dalam pikiranku. Sama sekali. Bukan karena materi, Profesor Kang sudah sangat berpengalaman dalam bidang mengajar. Tetapi karena sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Taemin, namjachinguku itu.

Aku sudah menjadi mahasiswi, dan dia masih murid SMU. Jadwal kami selalu saja berbeda, tidak seperti saat kami masih sama-sama SMU dulu. Ketika aku ada di rumah, dia sedang bersekolah. Atau sebaliknya. Ketika dia ada di rumah, aku yang sedang kuliah. Aku sering pulang malam, dan ketika aku pulang dia sudah tidur. Ketika aku sedang libur, dia sedang berlatih –kau ingat dia seorang murid training, kan?-

Kami bertetangga, tetapi tidak pernah bertemu sama sekali.

Pletak!

Aish… Siapa yang melemparku dengan penghapus ini, hah?

“Hyorin-ah!”

Aku menoleh. Ah, ternyata Kibum. Setelah lulus SMU, kami memutuskan untuk masuk di jurusan yang sama. Sebenarnya Yi En juga mendaftar di jurusan yang sama dengan kami, tetapi dia gagal di ujian wawancara.

Kibum berjalan mengendap-endap menuju bangku kosong di sebelahku, kemudian duduk di sana. “Sudah dengar akan ada perlombaan menyanyi antarmahasiswa baru?” tanyanya lirih agar tidak mengganggu mahasiswa lain yang sedang mendengarkan penjelasan dari Profesor Kang.

Aku menggeleng.

“Tim paduan suara mahasiswa sedang mencari anggota baru. Kau ikut saja! Suaramu kan bagus!”

Aku terkejut. “Eh? Tidak! Suaraku tidak bagus!”

“Jangan bercanda! Aku pernah mendengarmu bernyanyi saat SMU!”

“Aku memang pernah menyanyi saat SMU tetapi itu karena…”

Belum sempat aku mengelak, Kibum dengan enaknya memotong perkataanku. “Aku juga akan mengikuti perlombaan tersebut…”

“Aish… Pantas saja kau menyuruhku ikut juga!”

“Ayolah~ Tidak ada salahnya kau mencoba, Hyorin! Ku dengar ketua paduan suara kampus itu tampan! Dan suaranya bagus! Kau tidak tergoda?”

Aku berhenti menulis. Kutatap Kibum di sebelahku dengan tatapan tajam. “Bagiku, Lee Taemin itu namja yang paling tampan!”

“Hhh… Bocah itu… Kau masih berkencan dengannya? Pantas saja kau tidak ada kemajuan… Berkencanlah dengan yang lebih berpengalaman! Bukan dengan bocah yang masih polos itu!”

Plak!

Sebuah penghapus papan melayang mengenai kepala Kibum. Beberapa detik kemudian suasana menjadi hening, sangat hening hingga aku tersadar yang melempar penghapus tersebut kepada Kibum adalah Profesor Kang.

“Diam, atau kalian akan kubunuh!”

  Continue reading

8

Dandelion #9 (Why, Baby? Sequel Edition)

L~ balik!!!!! udah lama nunggu ya? kkk

ini udah part 9 berarti tinggal 1 part lagi, ditunggu ya… kalo dandelionnya selesei, projet baru L~ castnya infinite… hayooo siapa yg suka ngacung semua ^^

 

sebelumnya…

#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8

Dandelion #9 (Why, Baby? Sequel Edition)

Special Changmin PoV

…lost in love…

Aku menggigit bibir bawahku. Sakit? Tidak. Aku sudah kebal. Tetapi aku belum pernah melihat mereka seperti itu di depanku. Berlebihan.

Lagi-lagi kulihat mereka berciuman, bahkan mungkin kali ini mereka akan melakukannya karena mereka sudah melepas baju masing-masing. Kulangkahkan kakiku perlahan meninggalkan apartemennya, berjalan menuju mobilku.

“Berbahagialah, jebal…” lirihku. Kupejamkan mata lelahku dari kenyataan pahit yang membebaniku. “Jika tidak aku bisa gila karena kalian…”

***

“Thailand?”

Yunho hyung mengangguk. Pagi ini wajahnya terlihat berseri-seri. Tentu saja, karena kemarin baru saja dia berbaikan dengan kekasih yang dicintainya, dan kucintai juga. “Manajer hyung belum memberitahumu? Mereka memberikan kita waktu libur satu minggu. Aku dan Sojung akan berlibur ke Thailand.”

“Oh…”

“Kau mau ikut?” tanyanya.

Aku diam sejenak. Ikut dengan mereka pergi ke Thailand… Sama saja dengan menaburi garam dalam lukaku. “Tidak, hyung. Ini saat yang tepat untuk kalian bersama-sama.”

“Arasseo. Lalu kau akan kemana?”

Aku menggeleng. “Molla. Pulang kampung?” jawabku sekenanya. “Aku merindukan orangtua dan adikku.”

***

Aku berubah pikiran. Kusuruh manajer hyung membelokkan mobilnya ke arah bandara. Aku ingin pergi ke Jepang. Sepertinya menyendiri disana saat ini lebih baik. Menenangkan diri, atau sekadar berjalan menikmati angin malam mungkin akan memberikan ketenangan.

“Permisi.” Kataku pada seorang wanita yang sudah duduk di kursi sebelahku.

Perempuan di sebelahku itu diam saja. Dia terlihat menangis karena pundaknya bergetar. Sesekali kudengar dia terisak, menggumamkan sebuah nama seseorang lirih. Karena tidak mau mengganggunya, aku segera duduk dan mengeluarkan iPodku.

Tetapi perempuan di sebelahku itu tidak henti-hentinya menangis, dan aku merasa tidak tega. Melihatnya menangis seperti itu, mengingatkanku pada Sojung noona ketika hubungan kami diketahui oleh Yunho hyung. Menangis seperti orang gila karena kehilangan seseorang yang dicintainya. Mungkin perempuan di sebelahku ini tidak seberuntung Sojung noona yang bisa mempertahankan hubungannya dengan Yunho hyung.

Kukeluarkan sebuah sapu tangan dari balik jas abu-abuku, dan memberikannya kepadanya. “Nona, untuk mengusap airmatamu.”

Dia mendongak. Entah mengapa aku merasa mengenal perempuan itu.

Continue reading

11

Can’t Keep This Promise For You

Can’t Keep This Promise for You

 

“Kikwang-ah, apa tidak mengapa kita bersembunyi di sini?”

“Jangan khawatir, mereka tidak akan menemukan kita!”

“Sungguh?”

“Percaya padaku!”

Aku memandang wajah teman sekelasku itu. Kami berdua sedang bersembunyi di perpustakaan, menghindari guru piket. Aku dan Kikwang adalah teman dekat. Dimana ada Kikwang, disitu pasti ada aku. Begitu pula sebaliknya. Sebenarnya aku sudah lama menyukai Kikwang, dan ketika kami harus bersembunyi bersama seperti ini, dadaku pasti akan berdegup kencang sekali.

“Minji-ya, kau tunggu di sini! Aku akan mengalihkan perhatian guru piket!”

“Cepat kembali, ya?”

“Pasti. Tunggu aku!”

Satu jam sudah Kikwang meninggalkanku di sini. Apa aku harus mencarinya? Tetapi, dia menyuruhku menunggunya. Kikwang bisa marah jika aku mengingkari janjiku. Meskipun dia masih kecil, dia selalu menepati janjinya dan marah apabila ada yang mengingkari janji. Mungkin, jika dia sudah besar, dia akan menjadi seorang pemimpin yang andal.

Kuputuskan untuk menunggunya di sini, sampai dia datang!

 

***

 

“Minji-ya! Bangun! Kau tertidur?”

Aku merasakan seseorang mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku membuka mataku perlahan. “Kikwang… Kau sudah kembali?”

“Jangan katakan kau menungguku di sini sampai tertidur!”

Aku mengusap mataku yang masih mengantuk. “Aku memang menunggumu, Kikwang….”

“Ya Tuhan! Minji, maafkan aku. Ayo keluar dari sini! Ini sudah malam!” Kikwang menarik tanganku. “Ayo, Minji!”

“Sudah malam?” tanyaku sedikit terkejut. “Ouh… Pantas saja badanku sakit semua…” aku mengusap lenganku. Sudah berapa lama aku tertidur? 2 jam? Kurasa lebih. Aku merasakan kakiku kram. Kikwang sepertinya mengetahuinya. Dia langsung menggendongku.

“Kali lain, jika aku belum kembali, kau pergi saja!” katanya ketus.

“Aku takut kau memarahiku…”

“Tapi tidak harus menungguku selama itu! Untung saja aku pergi ke perpustakaan dulu, jika tidak? Mungkin malam ini kau akan menginap di sekolah!”

Aku mendengus kesal. “Baiklah, baiklah. Tetapi mengapa kau lama sekali?”

Kikwang terdiam. “Aku, ada sesuatu yang harus ku kerjakan.”

“Kau tertangkap guru piket?” aku bertanya perlahan. Kikwang memelankan langkahnya. Beberapa saat kemudian dia mengangguk.

“Ya Tuhan! Pantas saja ada luka di lehermu! Guru piket melakukan apa, Kikwang? Kau baik-baik saja? Aku bisa berjalan sendiri jika kau terluka! Turunkan aku!”

“Tidak, aku baik-baik saja. Hanya luka kecil.”

“Tapi…”

“Sudahlah! Aku akan menggendongmu sampai rumah sebagai permintaan maaf!”

Beberapa menit kemudian kami saling diam. Sebenarnya aku tidak tega melihat Kikwang menggendongku dalam keadaan terluka. Aku tahu seperti apa guru piket itu. Tetapi mengapa Kikwang keras kepala sekali? Tidakkah dia tahu aku mengkhawatirkannya?

Akhirnya kami sampai juga di depan rumahku. Kikwang menurunkanku perlahan. “Hati-hati!” katanya. “Apa perlu aku mengatakan pada Omma mengapa kau pulang terlambat?”

Aku menggeleng. “Tidak. Kau cepatlah pulang, obati lukamu!”

Dia tersenyum tipis. “Masuklah!”

Aku menggeleng. “Kau saja pulang dulu!”

“Kau dulu, Minji!”

“Tidak!”

Tiba-tiba Kikwang mendekatiku, dan mengecup pipiku. “Cepat masuk! Dan mulai sekarang kau pacarku!”

Eh?

***

Aku takut bertemu Kikwang hari ini. Aku takut, dia akan tiba-tiba duduk di sebelahku dan berkata ‘lupakan perkataanku tadi malam, Minji. Aku hanya bercanda.’

Dan benar saja. Sesaat setelah aku duduk, Kikwang menghampiriku. “Minji, ini…” katanya, sambil menyerahkan sesuatu.

Aku mengangguk, tanpa melihat ke arahnya. “Terimakasih.” Tiba-tiba dia duduk di sebelahku.

“Hei! Mengapa kau masih di sini?”

“Aku menunggumu membukanya.” Dia diam sejenak. “Kau tahu, susah sekali ternyata membuat surat cinta itu! Jadi ku putuskan untuk meminta Haneun Noona untuk membuatkannya. Kekeke~”

Aku tersenyum tipis. Sudah ku duga bukan dia yang menulis ini. Kikwang bukanlah orang yang romantis!

Hari-hari yang kami lalui berjalan seperti biasa. Kikwang akan mengantarkanku pulang, sebelum tidur dia akan meneleponku mengucapkan selamat malam, di sekolah kami akan pergi ke kantin bersama, tidak ada yang istimewa.

Suatu hari ketika Kikwang mengantarkanku pulang, dia terlihat berbeda. Seperti ada sesuatu yang disembunyikannya dariku.

“Kau kenapa, Kikwang? Apa kau sakit?”

“Tidak. Minji, boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Apa?”

“Apa perlu aku mengatakan ‘aku mencintaimu’? Aku mendengar Haneun Noona selalu mengatakan itu kepada pacarnya.”

Aku terkejut. “Me…menurutku… kau tidak perlu mengatakan itu, Kikwang.”

Dia tersenyum tipis. “Aku tahu. Masuklah.”

Aku tidak mengira malam itu adalah malam terakhirku bertemu Kikwang. Keesokan harinya dia tidak datang ke sekolah. Guru mengatakan dia pindah ke Jepang. Baru aku menyadari mengapa sikapnya berbeda tadi malam.

Di tanganku telah ada surat dari Kikwang. Aku membukanya perlahan.

Untuk Minji,

Ini adalah surat cinta yang kutulis sendiri pertama kalinya. Semoga kau menyukainya.

Maafkan aku tidak mengatakannya langsung kepadamu, karena aku tidak bisa. Aku benci mengucapkan kata selamat tinggal.

Hari ini aku pindah ke Jepang, bersama Haneun Noona.

Tunggu aku, Minji. Aku pasti akan kembali. Tidak akan lama.

Tadi malam, sebenarnya aku ingin kau menjawab mengatakan ‘aku mencintaimu’ itu perlu. Tetapi karena kau mengatakan tidak perlu, maka aku tidak mengatakannya langsung kepadamu.

Aku mencintaimu.

Kikwang.

 

***

 

7 tahun kemudian…

“Tidak, Minji. Jangan memaksaku!”

“Oppa, ayolah… Kita sudah lama tidak berlibur ke Jepang!”

“Tetapi aku tidak sedang libur, Minji.”

“Oppa! Tega sekali kau membuat tunanganmu ini bersedih…”

“Maaf, tetapi memang tidak bisa. Kali lain aku pasti akan mengajakmu ke Jepang selama satu bulan. Aku berjanji!”

Klik. Aku mematikan telepon.

Selalu saja begitu. Rui Oppa selalu saja mementingkan pekerjaannya dibandingkan aku, tunangannya. Padahal apa susahnya pergi ke Jepang, tanah airnya sendiri?

Kuputuskan untuk mengirim SMS kepadanya. Oppa, pesawat berangkat pukul 7 malam. Aku akan menunggumu jam 5 di bandara. Jika kau tidak muncul, aku akan pergi ke Jepang sendiri!

Oppa… sesekali kau harus diberi pelajaran!

 

***

 

Aku sudah menunggu Rui Oppa selama satu jam. Aku masih berharap Rui Oppa akan datang beberapa saat lagi. Apa dia tega membiarkanku pergi ke Jepang sendiri?

Kami bertunanagan sejak aku masih duduk di bangku SMA kelas 3. Sebenarnya kami dijodohkan. Dan bisa ditebak, aku menolaknya karena masih menunggu Kikwang kembali padaku. Bodohnya, menunggu cinta pertamamu kembali. Entah mengapa aku yakin bahwa dia akan kembali padaku!

Tetapi akhirnya aku luluh juga oleh perhatian dan kegigihan Rui Oppa. Aku pun bersedia bertunangan dengannya.

Aku menunggu Rui Oppa sambil mendengarkan musik dari iPhone hadiah dari Rui Oppa. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk di sebelahku.

“Kau tidak berubah, Minji.”

Aku terkejut. “Maaf?”

“Apa kau sudah melupakanku?”

Ya Tuhan, apakah dia Kikwang?

“Sepertinya memang sudah melupakanku. Apa kabarmu, Minji? Tidak ku duga kita bertemu di bandara.”

“Kikwang?”

“Benar, aku Kikwang.”

“Kau, kembali ke Korea?”

“Aku tidak tahu. Bisa ya, bisa tidak. Tergantung apakah kau mau ikut ke Jepang bersamaku.”

“Maksudmu?”

Kikwang mengeluarkan sesuatu dari celananya. Cincin. “Aku berjanji padamu aku akan kembali.” Kikwang menggenggam tanganku, hendak memakaikan cincin tersebut. “Menikahlah denganku, Minji.”

Belum sampai aku berkata sesuatu, Kikwang tiba-tiba terdiam. Di tanganku telah melingkar cincin pertunanganku dengan Rui Oppa. “Kikwang… Maaf.”

“Kau… Menikah?”

“Bertunangan…”

“Dengan siapa?”

“Dengan seseorang yang dijodohkan oleh appa…”

“Kau menerima pertunangan itu?”

“Aku tidak bisa menolak…”

“Kau tidak berusaha menolaknya?”

“Sudah, Kikwang…”

“Tidak! Kau tidak berusaha menolaknya! Kau tidak benar-benar berusaha, Minji!”

“Kikwang…”

“Kau tidak menungguku…”

“Kikwang, dengarkan aku dulu!”

“Kau tidak mencintaiku…”

“Kikwang!” aku berteriak kesal. “Mengapa pikiranmu sempit sekali? Aku menunggumu, Kikwang! Aku mencintaimu juga! Aku yakin kau akan kembali padaku! Apa kau lupa aku pernah menunggumu sampai tertidur di perpustakaan sekolah? Apa kau lupa aku pernah menunggumu di halte bis sampai aku kehujanan? Apa kau lupa itu semua?

Selama 7 tahun aku terus menunggumu! Tetapi aku lelah, Kikwang. Aku tidak tahu sampai kapan aku harus menunggumu, menunggu janji yang diucapkan seorang anak berumur 14 tahun? Menunggu anak yang meninggalkanku tanpa alasan, dan hanya menyuruhku menunggu dia kembali.

Mengapa kau tidak mengatakan alasan mengapa kau tiba-tiba pindah ke Jepang? Apa kau pikir aku tidak sedih? Aku sangat kehilanganmu, Kikwang!

Suatu hari orangtuaku menjodohkanku dengan Rui Oppa. Aku berusaha mati-matian untuk menolak, berharap kau akan kembali. Tetapi apa? Kau tidak juga kembali ke Korea, dan sekarang kau kembali di saat yang tidak tepat.”

Kikwang terduduk lemas. Dia terlihat tidak siap menerima ini semua.

“Maafkan aku, Kikwang. Aku harus meneruskan hidupku. Aku tidak mau dibayang-bayangi janji seorang anak berumur 14 tahun, meskipun anak itu telah tumbuh dewasa dan sekarang berada di depanku.”

“Maafkah aku tidak memberitahumu alasan yang sebenarnya mengapa aku pergi. Tetapi sekarang aku disini, Minji! Tidak tahukah kau betapa sulitnya kembali ke Korea? Minji, aku mohon… Kembalilah…”

“Maaf, Kikwang. Kau terlambat. Aku tidak bisa.”

“Minji!” teriak seseorang. Aku menoleh. Rui Oppa sedang berlari tergesa-gesa menuju ke arahku dan Kikwang. Dia membawa koper besar.

“Maafkan aku! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Aku janji!” Kata Rui Oppa. Nafasnya masih belum teratur.

Aku tersenyum. Akhirnya kau datang juga. “Aku tau kau tidak akan membiarkanku pergi sendirian, Oppa…”

“Oh, temanmu?”

“Ya, namanya Kikwang. Kikwang, ini Rui Oppa, tunanganku…”

“Senang berkenalan denganmu.”

Kikwang hanya menatap Rui Oppa, bergeming.

“Dia orang Jepang.” Kataku.

“Senang bisa bertemu denganmu, Rui.” Akhirnya Kikwang bereaksi juga.

“Ayo, Minji. Pesawat akan berangkat sebentar lagi.”

“Oppa, bisakah kau meninggalkan kami sebentar? Aku akan menyusulmu.”

“Oh, baiklah.” Rui Oppa meninggalkan kami berdua.

“Aku mencintainya, Kikwang. Dia orang yang baik. Dia yang selalu menemaniku. Dia yang selalu ada di dekatku. Dia yang mengorbankan apa pun, termasuk pekerjaannya, demi aku. Maafkan aku, Kikwang. Ku harap kau bisa menerimanya.”

Kikwang menunduk. Beberapa saat kemudian dia tersenyum. “Tidak mengapa, Minji. Seharusnya aku yang meminta maaf kepadamu. Semoga kau bahagia.”

“Terimakasih. Aku harus pergi.”

“Tunggu! Maukah kau menyimpan cincin ini? Aku, aku tidak bisa memberikannya kepada wanita lain.”

Aku mengangguk, menerima cincin dari Kikwang. “Aku akan menyimpannya dengan baik. Selamat tinggal…”

berantakan ya? maaf… jadwal berantakan juga jadi gak sempet publish FF ><

 tetep nantikan dandelion yaa~~~

15

Fate

Fate

“Minji-ya!”

Aku menoleh.

Seseorang yang memanggilku tadi mendekat, kemudian duduk di sampingku. Lengan kiri seragam sekolahnya dilipat, memperlihatkan sebuah tato di tangan mulusnya yang bertuliskan ‘Jiji~ya’. Dia terlalu berani untuk dipanggil siswa SMU.

Dia Yong Junhyung, kekasihku.

“Malam ini kau ada acara?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Tidak ada.”

“Kau tidak ingin melihatku battle dance?” tanyanya lagi.

“Kau ingin aku melihatmu?”

Dia memandangku. “Tentu saja! Akan kusuruh Dongwoon menjemputmu. Orangtuamu masih menganggap dia kekasihmu, kan?”

Aku menarik napas panjang. Nama itu lagi. “Masih. Tapi suatu hari nanti kuharap kau yang menjemputku, bukan Dongwoon!”

Junhyung hanya tertawa. Ini sudah biasa. Selalu ada Dongwoon di antara aku dan Junhyung. Dongwoon adalah teman dekat Junhyung. Mereka sudah berteman sejak kecil, bersama keempat siswa lainnya. Doojoon, Hyunseung, Yoseob, dan Kikwang.

Sedangkan aku dan Dongwoon, kami berkencan beberapa bulan yang lalu. Orangtuaku tahu aku berkencan dengan Dongwoon, dan tentu saja mereka setuju. Siapa yang tidak setuju putrinya berkencan dengan pewaris tunggal salah satu perusahaan besar di Korea? Mereka tidak pernah menyetujui pria lain berkencan denganku, selain Dongwoon. Dan mereka masih saja menganggap Dongwoon itu kekasihku, meskipun aku sudah mengatakan padanya berkali-kali bahwa kami sudah putus.

Bahkan mereka tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Junhyung. Mudah saja alasannya, karena Junhyung tidak sekaya Dongwoon.

  Continue reading

16

Dandelion #8 (Why, Baby? Sequel Edition)

sebelumnya…

#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7

Dandelion #8 (Why, Baby? Sequel Edition)

…too many barriers…

“Liar…”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Nara-ya, ini semua bukan seperti yang kau pikirkan!”

“Lalu bagaimana? Berpelukan dengan Jaejoong oppa di tempat umum seperti ini… Tsk” Nara membuang muka. “Sudah kukatakan padanya bahwa unni bukan orang yang tepat, dia tidak percaya. Sekarang semuanya sudah terbukti, dan dia harus tahu. Unni, jika kau memanfaatkan Yunho oppa untuk popularitasmu, aku tidak akan memaafkanmu.”

Tidak. Aku tidak memanfaatkannya, sedikit pun. Mungkin kebanyakan orang akan berpendapat seperti itu, tetapi itu tidak benar! Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku! Aku mencintainya sebagai Jung Yunho, bukan Jung Yunho TVXQ!.

***

Kupacu mobilku dengan kencang, sebelum Nara menghubunginya dan mengatakan apa yang dilihatnya di bandara itu padanya. Aku harus tiba terlebih dulu untuk memastikan bahwa Nara belum bertindak terlalu jauh.

Sebenarnya dia gadis yang baik. Jonghyun tidak mungkin salah memilih yoja. Dia tipe namja yang pemilih. Tapi dia terlalu baik, terlalu mengkhawatirkan Yunho juga. Terlalu menunjukkan persahabatannya, mencampuri semua urusan sahabatnya.

Kuparkirkan mobilku di tempat parkir gedung tempat biasa Yunho berlatih, dan segera berlari menuju dalam. Aku sudah tahu betul bagaimana keadaan gedung ini setelah hampir beberapa bulan yang lalu aku datang untuk menemui Yunho, ketika dia tidak ingin kutemui.

“Oppa!”

Yunho menoleh. “Oh? Kau datang?”

“Aku tidak bisa menghubungi ponselmu, aku khawatir.” Kataku berbohong. Ah, tidak. Aku berkata yang sebenarnya padanya. Ponselnya memang tidak aktif, karena itu aku khawatir Nara sudah mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya salah paham.

Yunho tersenyum kecil. “Kau merindukanku?”

Continue reading