Gallery
20

Autizz_fam [Which One That Very Strauge??]

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Autizz_fam [Which one that very strauge??]

Genre : tentuin aja ndiri, yg jelas nie cerita sangat2 tidak jelas*ditimpuk reader*

Cast : yang pastinya Autizz family

Author said : Sekarang kita bercerita tentang kisah sebuah keluarga yang sedikit aneh,.mengapa dibilang aneh? Baca saja dulu, maka kalian akan mengerti..hehe..Sok dinikmatin..bukan makanan ya..tapi ceritanya, kalau mau sambil makan juga boleh..tapi makanannya dari anda sendiri..*ditimpuk raeder*

<<AUTIZZZZ>>

”Yoomin-ah!!aku pergi dulu ya!!” teriak Yesung.
”Hyung, tunggu aku! Yoomin-ah, aku pergi dulu ya!!” teriak Donghae tak kalah nyaring.
”Appa!!kalau pulang bawa makanan ya” kata Hyunjin manja kepada Donghae.
”Minta beliin sama Appa Junsu aja ya, Appa pulang malam hari ini” jawab Donghae. Hyunjin menatap Appanya yang lain yaitu Junsu.
”Appa hanya dirumah hari ini, tidak kemana-mana” jawab Junsu, ketika menyadari Hyunjin menatap kearahnya.
”Sudah, biar Appa Yesung yang belikan” Yesung membuat Hyunjin tersenyum.
”Appa!kalau Noona dibeliin, Jongmin juga dong” pinta Jongmin pada Appanya. Yesung mengangguk mengiyakan.
”Kalian berdua, kapan mau berangkat?udah terlambat tuh” kata Yoomin tiba-tiba.
”Umma!!mau dibeliin makanan gak?aku dan Noona udah pesan dengan Appa Yesung” kata Jongmin. ”Jangan minta sama Appa Donghae, dia pelit” sambungnya.
’PLETAKK’ sebuah buku mendarat tepat dikepala Jongmin.
”Apa kau bilang? Appaku pelit?” teriak Hyunjin.
”Memang iya kan?” Jongmin melempar balik buku itu, dan terjadilah perang buku antara Hyunjin dan Jongmin.
Sementara kedua Appa mereka sudah kabur duluan karena takut terlambat.
”Hyunjin-ah, Jongmin-ah!!hentikan!!buku Appa sudah hancur tau!” teriak Taecyeon.
”Noona duluan Appa” Jongmin melas.
”Tidak perduli siapa yang duluan. Cepat bereskan!” perintah Taecyeon. Kedua kakak beradik itu segera menurutinya.

”Noona, menurutmu aneh mana, Appa Yesung atau Appa Donghae?” tanya Jongmin setelah mereka selesai membereskan buku-buku milik Taecyeon yang berserakan akibat ulah mereka.
”Tentu saja Appa Yesung, anaknya aja aneh” jawab Hyunjin.
”Iiihh, maksudmu aku aneh? Yang aneh itu Appa Donghae, selain aneh dia juga pelit” Jongmin naik darah.
”Aku tidak mau dimarahi oleh Appa lagi. Lebih baik kita tanyakan kepada seluruh orang yang ada dirumah ini. Appamu atau Appaku yang aneh” Hyunjin memberi usul.
Kedua kakak beradik itu melancarkan misinya. Dimulai dari Ummanya, Yoomin.
”Umma, menurutmu aneh mana?Appa Yesung atau Appa Donghae?” tanya mereka berdua.
”Dua-duanya. Kalau tidak aneh bukan Appa kalian” jawab Yoomin singkat dan jelas. Keduanya saling pandang-memandang. Dan mereka segera berlari ke taman dan mendapatkan Appa mereka yang lain, Junho.
”Oppa, anehan mana..Appa Yesung atau Appa Donghae” kata Hyunjin membuat Junhotersentak.
”Hey, aku Appamu. Seenaknya saja memanggilku seperti itu” ambek Junho.
”Wajahmu sama sekali tak mendukung” jawab Hyunjin dan segera berlari meninggalkan Junho yang kesal, dan tak lupa ia menarik Jongmin.
”HYUNJIN!!!!”
Mereka berlari ke dapur dan mendapati Junsu yang sedang minum.
”Appa!!” teriak mereka berdua.
”Yak! Kalian membuatku tersedak” Junsu memukul-mukul dadanya yang sakit.
”Mianhae Appa”
”Ne, gwenchana. Ada apa?” kedua kakak beradik itu menanyakan hal yang sama. Dan jawabannya adalah…
”Semua Appa kalian itu aneh. Kecuali Appa,.hehe” Hyunjin dan Jongmin menghela nafas.
”HYUNJIN!!!” teriak Junho yang masih mencari kedua anak itu.
”Jongmin-ah. Kabur!!!” mereka berdua kembali berlari meninggalkan Junsu yang masih nyengir-nyengir.*Junsu emang nggak aneh, tapi sarap…hahaha…**Lari!!!Yoomin bawa panci!!*

Sampailah mereka ditempat Taecyeon berada.
”Hah, Appa….” kata mereka terengah-engah.
”Kalian kenapa sih, kok kelihatan capek banget?” tanya Taecyeon khawatir.
”Menghindar dari terkaman monster baby face, Appa” jawab Jongmin yang membuat Hyunjin tertawa.
”Ha?? Sudahlah, kenapa mencariku?” kedua anak itu menanyakan hal yang sama. Dan jawaban Taecyeon adalah..
”Yang aneh itu Umma kalian” tiba-tiba…
”Yak! Apa kau bilang?” tanya Umma mereka.
”Yoomin-ah” kaget Taecyeon.
”Noona, lebih baik kita pergi” ajak Jongmin. Sekali lagi mereka tidak mendapatkan jawaban yang pasti.

”Yoomin-ah, Hyung!!apa aku tidak cocok jadi Appa?” tanya Junho melas.
”Heh??” Taecyeon dan Yoomin bingung.
”Aku bukan ’Oppa atau Hyung’,,aku kan Appa mereka” sambung Jonho, dan sekarang hampir menangis.
”Yak! Taecyeon-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa Junho sampai seperti ini?” tanya Junsu khawatir dan segera mengambil posisi tepat disamping Junho.
”Hyung! Aku bukan ’Oppa atau Hyung’ kan?” rengek Junho. Junsu menjadi bingung dengan yang dikatakan Junho berulang-ulang kali itu.
Sementara Hyunjin dan Jongmin yang memperhatikan tingkah Appa mereka yang satu itu menjadi bingung.
”Noona, sepertinya yang aneh itu bukan kedua Appa kita. Melainkan Appa Junho” Jongmin memberikan pendapat.
”Kau benar Jongmin-ah…” Minhae mengangguk setuju.

<<AUTIZZZZ>>

Author said : Sekian dulu ceritanya yo…kita lanjutin cerita-cerita keluarga yang aneh ini nanti,,kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan tinggalkan pertanyaan itu di forum komentar..Di part yg pertama ini castnya belum keluar semua. Dan sedikit bocoran, cast dicerita keluarga tidak jelas ini sangaaaaattttt buanyak..hehe

KAMSAHAMNIDA…^0^

12

Rap’s Teacher

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Rap’s Teacher

Genre : Comedy, Gaje

Author said : gak PD bwt ngepost ni FF cacat. Tapi, berharap kalian suka. Don’t be Silent Reader ok? Yang Silent reader, q doain kamu biar sadar..aminn

****

Disebuah rumah, yg gedeeeee buanget. Hidup seorang cewek yg hobinya ngayal. Namanya Fani. Dia punya bapak namanya Lee Donghae. Sekarang mereka ada disalah satu ruangan yang ada di rumah itu, tepatnya ada di sebelah barat rumah dekat pohon pisang kesayangan Bapak Donghae.

“Nak, kamu ngayalin apa lagi hari ini??” Tanya Donghae pada anakanya yang lagi komat kamit gak jelas sambil tangannya gerak-gerak gak jelas.

“Ihh…Papa gangguin aja deh!! Skarang Fani lagi ngayal ada dipanggung besar, dikelilingin banyak penonton. Seru deh!” cerita Fani heboh. Donghae antusias mendengar cerita anaknya yang paling disayang itu.

”Kamu jadi penyanyi??” tanya Donghae lagi. Tapi Fani malah menggelengkan kepalanya.

”Loh, terus jadi apa? Dancer??” tebakan Donghae salah lagi. ”Terus apa? Masa jadi tukang pel panggung??” Fani memonyongkan bibirnya.

”Papa tega banget. Masa anaknya yang cantik nan imut ini dido’ain jadi tukang pel. Aku tu lagi ngayal jadi rapper. Kan seru tuh!” Donghae manggut-manggut sambil geleng-geleng(?).

”Kamu mau belajar rap gak??” Fani dengan antusias langsung menganggukkan kepalanya. Dia menarik lengan kemeja Donghae.

”Mau banget Pa!! Papa mau ngajarin??” Donghae menggeleng.

”Bukan, nanti Papa cariin gurunya” Donghae mengambil ponselnya.

”SEKARANG!!” pinta Fani didepan telinga Donghae.

”Sakit telinga Papa kalau kamu teriak gitu” Donghae mengusap telinganya.

”Maunya sekarang~~” sekarang Fani meminta sambil ngigitin bajunya Donghae.

”Idih, ni anak. Kayak kucing aja ngigitin baju” Donghae menggelengkan kepalanya.

”Bukan kucing Pa, tapi tikus” koreksi Fani. Donghae hanya tersenyum, dan mulai menyuruh sekertarisnya Siwon untuk mencarikan guru rap untuk Fani.

”Bagus deh kalau kamu tikus, kalau kucing bisa-bisa Papa kamu makan lagi”

 

***

 

”Pak, gurunya sudah datang” lapor Siwon pada Donghae yang lagi asik meratiin anak kesayangannya yang lagi tampil dipanggung, yang pastinya hanya terjadi dialam khayalan anaknya itu aja.

”Oh bagus, suruh dia masuk segera” masuklah seorang cowok tegap dan berwajah sedikit garang. ”Nak, gurunya sudah datang” Fani langsung berdiri dan memperhatikan wajah calon gurunya itu.

”Hm,,namanya siapa??” tanya Fani.

”Nama saya TOP” jawab cowok itu.

“Namanya aneh, coba tunjukin cara rapnya” perintah Fani, Donghae hanya tersenyum melihat audisi dadakan dari anaknya itu.

TOP mulai menunjukkan aksi ngerapnya, dan ekspresi Fani>>>>>

“Kok jadi aneh gitu sih?? Suaranya berat banget” Fani mengubah suaranya seperti suara TOP ngerap.

”Hah??” TOP mengernyitkan alisnya.

”Kalau gitu kamu gak lulus jadi guru anak saya” kata Donghae sambil menyisip tehnya.

”What?? Awas kalian!! Apa kalian tidak tau kalau ibu saya sangat galak??” TOP malah bercucuran air mata.

”Gak! Sudah pergi ah!!” usir Fani enteng. ”SELANJUTNYAA!!!” teriak Siwon setelah TOP meninggalkan rumah dengan bercucuran air matanya.

Selanjutnya masuklah seorang cowok imut yang sebagian wajahnya tertutup oleh rambut.
”Kamu model atau rapper??” tanya Donghae.

”Ah, saya mah rapper Pak. Bukan model” jawab cowok itu.

”Kok rambutmu kayak gitu??” tanya Fani.

”Ini teh salah potong, mba tukang guntingnya kesukaan ngeliatin poto artis Indonesia jadinya modelnya gini deh”

”Serah deh, nama?” tanya Fani lagi.

”Mir”

”Lanjut aja” Mir mulai ngerap, dan ekspresi Fani >>>>>

”Yang kamu omongin tadi apa? Kok kayak lajunya kereta api ya?? Bisa-bisa kalau aku belajar dari kamu bibirku bisa jadi BIMOLI(Bibir Monyong Lima Senti)”

”Gitu ya? Yaudah deh, makasih udah dibolehin masuk kerumah besar ini” Mir malah tersenyum.

”Sebenarnya kamu dapat orang itu darimana??” tanya Donghae pada Siwon.

”Saya nemu di depan rumah lagi nyoba ngintip-ngintip lewat pagar rumah yang tingginya mencapai 5 meter itu, pake loncat lo Pak” jawab Siwon dengan kekaguman yang luar biasa.

”Yaudah Pa, aku terima dia jadi guru maling aku aja!!” Fani tersenyum senang, dan Donghae dan Siwon ternganga lebar mendengar ide dari Fani.

”Hehe” Donghae dan Siwon nyengir.

 

***

 

Sudah hampir sepuluh orang yang dibawa Siwon untuk menjadi guru rap Fani. Mulai dari Minho, Junhyung, Taecyeon, Nickhun, CAP, Dujun, Key, Simon, Kibum, dan yang terakhir..GD.

“Pa, aku mau dia jadi guru aku!!!” Fani histeris.

”GAK!!” tolak Donghae.

”Loh kok gitu?? PAPA!!!!!” teriak Fani di telinga Donghae.

”Skali gak tetap gak!!” Donghae bersikukuh.

”Alasannya apa??” tanya Fani dan GD barengan.

”Dia ngalahin tinggi badan Papa!!” jawab Donghae.

”Apanya, udah pasti sixpack-an Papa, gantengan dia sih. Dan udah jelas lebih tinggi Papa dari pada dia” Fani merengut kesal.

”Nah itu dia~~…dia lebih rendah dari Papa. Papa kan jadi minder” jawab Donghe.

”Apanya yang mau diminderin, kan tinggi Papa?” Fani masih bingung.

”Papa lebih tinggi dari dia, kan gak asik tuh”

”Bapak aneh” tanggap Siwon dan GD barengan.

”Udah deh, kamu gak usah jadi guru aja. Jadi pacar aja ya!!” Fani menggaet tangan GD.

”Iya deh, gapapa. Mending sama kamu..hehe” GD mencubit pipi Fani.

”Ah, kamu bisa aja” Fani menempeleng kepala GD keras. Sampai-sampai cowok itu terpelanting 50 meter(?).

”Trus siapa yang jadi gurunya Fani??” tanya Siwon.

” Yojeum manhi yawin nareul bomyuh chingudeuri marhae. Nuh gateun ae dashi mannajineun mallago marhae. Heundeuruh nohgo ddo woollyuh nohgo~” komat-kamit seseorang dari balik jendela mengalihkan pandangan keempat manusia itu.

Fani langsung tersenyum. ”Dia aja Pa!!” tunjuk Fani.

”Hah??” kaget Donghae melihat perawakan dari cowok yang ditunjuk Fani itu. Baju compang-camping dan topi ala petani dikepalanya sambil megang gunting gede.

”Sonsaengnim!!!!” teriak Fani. Cowok itu melihat kearah suara yang berasal dari cewek cantik dan imut.

”Saya??” tanyanya bingung. Fani mengangguk.

”Namanya siapa??” tanya Siwon.

”Eunhyuk” jawabnya.

”Haha..Eunhyuk Sonsaengnim! Ajarin saya ngerap ya” pinta Fani. Eunhyuk langsung tersenyum.

”Pasti Neng!!” jawabnya.

”Yah~~,,kenapa dia nak!! Dia kan tukang kebun!! Ah kayak nggak ada yang lain aja!!” Donghae histeris lagi.

”Yang penting dia kan lebih tinggi dari Papa” Fani nyengir kuda.

”Yuk kita ngerap bareng!!!!!!!” koor Fani. Dan pada hari itu, di seluruh rumah besar itu diharuskan untuk ngerap atas permintaan putri dari pemiliki ruma, FANI!

“Anakku emang the best+aneh…kkkkk”

END

Gallery
16

Jebal, be my girl Kyurin-ah!!

Author said: huahh..udh lama gak post FF, banyak bgt tugasku+ujian tengah semester. Dan sekarang udh selesai, do’ain dpt nilai yg bagus-bagus ya!!. Oh iya, special dedicated for my chingu,,Park Kyurin. Ini FF perdana-ku yg special tuk my bestfriend bersama istrinya yg baru seumur jagung. akhirnya my evil pny istri juga. Jadi gak perlu gangguin aku sama Umin lagi…happy reading chinguu~~

-evilevilevilevil-

“Kyurin-ah, saranghae..” kata Kyuhyun tiba-tiba, saat mereka berdua sedang makan siang di café kampus.

“Mwo? Jinjayo???” Tanya Kyurin enteng, sambil melahap jajangmyoennya.

“Aku serius!!” yakin Kyuhyun.

“Hah, aku harus mengetesmu dulu” Kyurin beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Kyuhyun yang sedang melongo.

“MWO? Tes?? Apa yang dipikirkan yeoja itu? Menolak namja setampan aku?? Micheo aniya??” omelnya sambil melemparkan sumpit dengan kasar.

”Animnida, yeoja itu tidak gila” suara seorang yeoja ampuh membuat Kyuhyun mengalihkan perhatiannya.

”Noe?” Kyuhyun berdiri dari duduknya, senyum merekah dibibirnya. Dia segera berjalan dan memeluk yeoja itu. ”Bogoshipo!!!” teriaknya.

”Nado, bagaimana kabarmu?” tanya yeoja itu sambil melepaskan pelukan Kyuhyun.

”Baik, kau sendiri?? Hmm..kelihatannya kau semakin sehat, kelihatan lebih gemuk” Kyuhyun tersenyum lagi, membentuk bulan sabit dengan matanya. ”Hah, Hyunjin-ah!! BOGOSHIPO!!” Kyuhyun memeluk yeoja yang bernama Hyunjin itu lagi.

”Ne..ne, wajar kalau kau bersikap seperti ini. Sudah lama kita tidak bertemu. Hmm, boleh aku memesan makanan??” tanya Hyunjin.

Kyuhyun tersenyum, ”Biar aku yang pesan. Chogiyo!!” Kyuhyun memanggil pelayan. ”Aku pesan Ramyeon” teriaknya membuat Hyunjin sedikit kaget.

”Kau masih ingat makanan kesukaanku??” tanya Hyunjin.

”Tentu, aku tidak akan pernah melupakan itu” jawabnya.

Sementara tak jauh dari tempat mereka berdua duduk, seorang yeoja yang tak lain adalah Kyurin merungut sebal. ”Apa-apaan dia? Baru saja mengucapkan cinta padaku, sekarang sudah bermesraan dengan yeoja lain. Nappun namja! Jo Kyuhyun NAPPUN!!” geramnya, hingga buku tebal yang sedang dipegangnya menjadi kusut.

Kyurin pergi meninggalkan pemandangan yang membuat darahnya naik. ”Sebaiknya aku ke perpustakaan. Itu akan membuatku lebih santai” Kyurin melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, tentu saja dengan perasaan yang panas.

***

”Ah maaf” Kyurin sedikit kaget saat ia secara tidak sengaja menjatuhkan sebuah kamus kekepala yeoja yang sedang asik membaca sebuah buku fiksi.

”Ne, gwenchana..” yeoja itu tersenyum pada Kyurin, dan Kyurin semakin kaget sewaktu melihat dengan jelas wajah yeoja itu.

”Kau??”

”Ah, Hyunjin imnida. Aku bukan mahasiswa disini. Jadi, wajar kalau kau tidak pernah melihatku sebelumnya.

”Oh, Kyurin imnida..” Kyurin mencoba seramah mungkin.

”Hyunjin-ah!!” teriak Kyuhyun dari luar pintu kampus. Dia langsung menghampiri Hyunjin. ”Eh, Kyurin? Dia Hyunjin, dia…” Kyuhyun mencoba mengenalkan Hyunjin pada Kyurin.

”Aku ada kelas, permisi!” kata Kyurin dengan ketus dan meninggalkan Kyuhyun yang sedang ternganga lebar lagi, dan Hyunjin dengan senyum misteriusnya.

”Ada apa dengan yeoja itu?? Dasar aneh” Kyuhyun memanyunkan bibrnya.

”Tapi kau menyukainya kan?? Dasar! My evil jatuh cinta pada yeoja yang lebih evil darinya!!” Hyunjin mengacak-acak rambut Kyuhyun.

”Yak!! Awas kau!!” Kyuhyun mengejar Hyunjin yang sudah lari duluan.

***

Kyurin POV

Apa-apaan mereka berdua? Pamer kemesraan dihadapanku? Dasar kau, Kyuhyun BABO!! Siapa tadi? Hyunjin? Ok, dia memang kelihatan lebih imut dibanding denganku-author PD-tapi,..akhhhh, untuk apa juga aku memikirkannya.

Aku melangkahkan kakiku kearah yang tidak jelas. Sebenarnya aku berbohong saat kubilang aku ada kelas. Habisnya dadaku sesak jika melihat mereka berdua. Sebaiknya aku makan di cafe favoritku, PUMPKIN CAFE.

Sejarah dari cafe itu sangat unik. Tentu saja sejarah dari pemiliknya. Dari cerita yang kudengar, pemilik cafe itu ada dua orang yang saling mencintai saat mereka pertama kali bertemu. Dan sang namja, pada saat mereka pertama bertemu itu tanpa basa-basi dia langsung menyatakan perasaannya. Dan hal yang tak terduga terjadi, sang yeoja juga tanpa ragu menerima pernyataan namja itu. Ah,,sungguh cerita yang menurutku liar. Tapi, yang membuatku kagum sampai sekarang mereka masih bersama. Dan terdengar kabar kalau mereka telah menikah. Aku juga ingin menikah dengan….

Argghhh, kenapa yang kupikirkan namja bodoh itu. Jo Kyuhyun, hilanglah kau dari pikiranku sekarang juga. Aku komat kamit membacakan mantra untuk mengusir bayangan Kyuhyun, tapi….

”Jagiya! Apa yang kau lakukan? Komat-kamit tidak jelas” suara ini, tak lain milik, Kyuhyun?

”YAK!! Micheo aniya!!” teriakku kesal, wajahku mulai memanas karena malu. Dia memanggilku apa tadi? Jagiya?? OH My…

”Anio, aku masih waras. Kau yang tidak waras, komat-kamit tidak jelas” Kyuhyun mengambil tempat duduk tepat dihadapanku. ”Ini tempat favoritku, kau juga sering kesini ya??” tanyanya sambil melihat kesekeliling.

”Ne” jawabku seadanya.

”Ya, cafe ini milik hyungku. Jadi aku sering datang kesini. Yang lebih asik, aku dapat discount” katanya berbisik. Membuatku mengulum senyum menahan tawa.

”Hmm..apa kau menerimaku??” tanya Kyuhyun membuatku menghentikan senyumku.

”Sudah kubilang aku akan mengetesmu dulu” jawabku.

”Jajangmyeon datang!!” Hyunjin membawa 2 piring jajangmyeon di tangannya.

”Aduh, gak usah repot-repot bawain kesini. Aku bisa kedalam kok” Kyuhyun menyambut Hyunjin, tapi matanya tertuju pada jajangmyeon itu. Dasar, pikirannya sekarang pasti dipenuhi dengan ‘betapa enaknya jajangmyeon ini’.

”Kyurin-ssi, silahkan dinikmati. Kubuat dengan tanganku sendiri. Selamat makan, aku kedalam dulu” Hyunjin tersenyum ramah padaku. Hey, dia membiarkan namchinnya makan berdua dengan yeoja lain? Dasar aneh.

”Kenapa melamun? Kalau tidak mau biar aku saja yang makan” Kyuhyun menarik piring jajangmyeonku, tapi kutahan.

”Aku juga lapar!”

***

”Kyurin-ah, terimalah daku!!” teriak Kyuhyun dari tengah-tengah kampus. Kyurin menutupi wajahnya dengan buku-buku yang ada ditangannya, menutupi malu.

”Kyurin-ah, jagiya…jebal~~” lagi-lagi Kyuhyun bertingkah gila.

”Ok! Kalau kau tidak mau menatapku sekarang, aku akan…” dia kelihatan berpikir. ”aku akan…ha! aku akan bermain PSP satu minggu penuh tanpa makan dan minum!!” ancaman Kyuhyun membuat Kyurin berhenti melangkah.

”Yak! Kau gila sekaligus aneh! BABO!!” teriak Kyurin dan melanjutkan langkahnya keluar dari lingkungan kampus. ”Dia sudah gila apa? Sudah jelas-jelas mempunyai yeochin yang cantik dan baik. Masih saja berniat selingkuh, bahkan terhadapku yang sudah pernah bertemu dengan yeoja yang bernama Hyunjin itu” langkah Kyurin terhenti ketika dilihatnya sosok yang sangat dikenalnya untuk 2 hari ini, Hyunjin. Dia sedang~~

”Tidak mungkin, pasti aku salah lihat” gumam Kyurin sambil mengucek-ucek matanya. Hyunjin sedang berciuman dengan namja, dan namja itu bukan Kyuhyun. ”Aku harus memberitahu Kyuhyun sekarang” aku berlari menuju kampus lagi.

”Kyuhyun-ah!” panggilku padanya yang sedang menyantap jus jeruknya. Senyum mengembang dikedua bibirnya.

”Apa kau berubah pikiran??” tanyanya senang. Kyurin memutar kedua bola matanya.

”Bukan itu, tapi kulihat Hyunjin sedang berciuman dengan namja lain?” bisik Kyurin ditelinga Kyuhyun. Tapi reaksi Kyuhyun>>

”Apa hubungannya denganku??” pertanyaan itu membuat Kyurin ternganga lebar.

”Apa maksudmu??” tanya Kyurin. ”Bukankah dia yeochin-mu??” Kyurin mengerutkan keningnya.

”Hahahaha, tentu saja bukan! Siapa juga yang mau dengan yeoja galak sepertinya” Kyuhyun bergidik ngeri-kyu minta dibanting-.

”Jadi maksudmu~” Kyurin masih bingung.

”Aahh…jangan bilang kau mengira dia pacarku!” tebak Kyuhyun. Kyurin menundukkan kepalanya, dan menganggukkan kepalanya.

”HAHAHAHAHAHA!!!” tawa keras keluar dari Kyuhyun.

”YAK! Jangan tertawa seperti itu, aku semakin malu! BABO!!” Kyurin menepuk kepala Kyuhyun, membuat Kyuhyun berhenti tertawa.

”Hah, baiklah..makanya kalau aku bicara dengarkan sampai tuntas, BABO! Hyunjin itu sahabatku, dia sudah lama tinggal di Jepang. Dan baru pulang 2 hari yang lalu. Hmm,, ikut aku!” Kyuhyun menarik Kyurin menuju Pumpkin Cafe. Dimana disana mereka bertemu Hyunjin tengah berbincang dengan seorang namja.

”Hyunjin-ah!! Hyung!!” panggil Kyuhyun. Kedua orang itu langsung tersenyum saat melihat orang yang memanggil mereka.

”Kyu, kau membawa yeochin-mu??” tanya namja itu.

”Hmm, jadi apakah kalian berdua sudah…” Hyunjin tersenyum penuh arti.

”Belum, bahkan dia mengira aku berpacaran denganmu. Kalau itu terjadi, aku pasti akan mati dibunuh Sungmin hyung” Kyuhyun melirik kearah namja yang bernama Sungmin itu.

”Ya, aku akan membunuhmu dengan cara halus. Tidak ada jajangmyeon dan GAME” Sungmin menekankan kalimatnya. Kyuhyun bergidik ngeri.

”Jadi, ini…” Kyurin masih bingung.

”Oh iya, ini Sungmin hyung. Pemilik cafe ini, dan dia adalah suami dari Hyunjin” jelas Kyuhyun. Kyurin baru mengerti sekarang.

”Bahkan sebentar lagi kami akan memberikan keponakan untuk Kyuhyun” sambung Sungmin.

”Jinja??” tanya Kyuhyun kaget.

”Loh, yeobo. Kau belum memberitahu Kyu??” tanya Sungmin.

”Hehe, aku kira dia sepintar yang kalian bilang. Tapi dia sama sekali tidak sadar dengan perubahan pola makanku yang bertambah 5x lipat dari biasanya. Ternyata Jo Kyuhyun itu babo” kata Hyunjin seenak teingnya.

”Yak, apa yang kau katakan?” Kyuhyun kelihatan tidak terima.

”Jadi, apa keputusanmu Kyurin-ah. Menerimanya??” tanya Hyunjin tanpa mempedulikan Kyuhyun.

Kyurin tertunduk malu, dan menganggukkan kepalanya. ”Mwo? Jeongmal?? HUAAAA!!! TUHAN TERIMA KASIH!! Jagiya!! GUMAWO!!!” Kyuhyun mengangkat Kyurin dan membawanya berputar-putar.

”AaAA~~~~~~~ KYU, turunkan aku!! PUSING!!” Kyurin meronta-ronta.

”Kyu, kasihan. Turunkan dia” suruh Sungmin. Dan Kyuhyun mengikuti permintaan itu.

”Gumawo Kyurin-ah!” Kyuhyun mengecup kening Kyurin, membuat pipi Kyurin memerah.

”Chukae!! Akhirnya evilku mempunyai yeochin juga” Hyunjin mendekati Kyurin. ”Kalau Kyuhyun macam-macam denganmu, bilang saja padaku atau Sungmin oppa. Kami tidak akan segan-segan untuk menghukumnya” kata Hyunjin dengan senyum evilnya.

”Hyunjin-ah, kau lebih evil dibandingkan denganku” Kyuhyun menarik Kyurin dan memeluknya.

Akhirnya, kedua orang itu memulai kehidupan baru mereka. Dan katanya mereka juga ingin mengikuti jejak Sungmin dan Hyunjin, yang langsung menikah setelah 1 bulan pacaran. Sungguh ajaib dua pasangan ini.

-evilevilevilevil-

Author said: mian kalo jelek,,dan terlalu pendek. Ini FF dadakan soalnya..hehe. Leave some koment please!!

Gallery
6

TRANSFORM

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : TRANSFORM

Cast : Teen Top

Author said : cerita baru lagi,,,,hahaha. Silahkan dibaca!!!

****

Someone POV

Mereka sudah sampai, aku akan menunggu mereka. 6 orang itu. Aku akan melihat kemampuan mereka, sejauh mana mereka bisa melakukan tugasnya dengan baik. Dan..menemukanku.

End of POV

****

6 orang siswa baru melangkahkan kaki mereka ke sebuah gedung, lebih tepatnya sebuah sekolah. Penampilan mereka yang nyentrik dengan rambut yang berwarna warni membuat mereka langsung menjadi perhatian seluruh siswa, bahkan guru.

”Ehem!!” seorang guru mendekati mereka. ”Siapa kalian??” tanyanya sinis.

”Dimana kelas kami??” tanya salah satu dari mereka, berambut panjang dan sebagian dicat warna putih.

Guru itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan murid itu. ”Hahaha,,sonsaengnim??” tanya seorang dari mereka lagi sekarang yang rambut bercat putih berkombinasi dengan coklat sambil merangkul guru itu.

”Lepaskan tanganmu!” perintah guru itu. Siswa yang berbadan tegap dan rambut yang sedikit dicat dengan warna biru menarik siswa yang merangkul guru tadi.

”Jangan bertindak sembarangan” katanya penuh penekanan.

”Perkenalkan, panggil saja saya CAP. Kami siswa baru disini” siswa berbadan tegap tadi memperkenalkan dirinya. ”Dia Chunji” CAP menunjuk siswa yang merangkul guru tadi. Chunji menundukkan kepalanya sambil berkedip ke guru itu. ”Yang ini Niel” CAP menunjuk siswa yang berambut panjang tadi. Niel hanya mendelik sekilas ke gurunya itu, kemudian kembali fokus ke handphonenya. ”Ini Ricky” siswa berbadan mungil itu menundukkan kepalanya sedikit sambil tersenyum. ”Dia Changjo” siswa berbadan sedikit gempal dengan rambut yang bagian depan dicat putih itu tersenyum. ”Dan yang disana L.Joe, tapi bisa dipanggil Joe” siswa berambut paling mencolok itu sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun. Kenapa dia disebut paling mencolok? Karena warna rambutnya yang sangat nyentrik, Soft pink. Niel menarik sebuah tali yang menyangkut ditelinga Joe. Pantas saja dia tidak bereaksi, dia sedang menggunakan headset tadi.

”Wae??” tanyanya pada Niel. Niel mendelikkan kepalanya kearah guru itu. Joe melirik kearah gurunya, dan menundukkan kepalanya sedikit. Kemudian memasang kembali headset itu ketelinganya.

Melihat tingkah siswa-siswa baru ini, sang guru menggelengkan kepalanya. ”Victoria sonsaeng, ada masalah apa??” tanya seorang guru lagi yang menghampiri mereka, pakaiannya sangat dewasa, seperti wanita kantoran. ”Ah, Gahee sonsaeng. Ini….” belum sempat Victoria melanjutkan kalimatnya, Gahee sudah memotongnya.

”Kalian siswa baru??” tanya Gahee.

”Ne” sahut CAP.

”Hmm, baiklah. Victoria sonsaeng akan mengurus kalian. Karena dia adalah wali kelas kalian” kata Gahee enteng. Victoria membelalakkan matanya.

”MWO?” kagetnya.

”Kenapa Sonsaeng? Kau tidak menerimanya??” tanya Gahee dengan senyum yang ’menyeramkan’.

”Ah, anio. Aku hanya kaget” jawab Victoria.

”Baguslah. Belajar dengan baik” pesah Gahee. Siswa-siswa itu menganggukkan kepalanya, kecuali Joe. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Gahee.

Victoria menghembuskan nafasnya, ”Baiklah! Kalian ikut aku” perintahnya segera diikuti oleh siswa-siswanya itu.

’KELAS XI 3’ Tulisan itu terpampang jelas didepan pintu kelas itu.

”Ini kelas kalian, ayo masuk” mereka masuk dengan sangat tegap. Tidak ada rasa gugup dihati mereka.

”Yoreobeun! Kalian mendapatkan teman baru. Silahkan perkenalkan diri kalian” perintah Victoria.

”CAP imnida” CAP memperkenalkan dirinya pertama kali.

”CAP??” tanya seorang siswi.

”Ya, kalian cukup panggil aku seperti itu” jawab CAP. Siswi itu mengerutkan keningnya.

”Ricky imnida” Ricky menundukkan kepalanya.

”Apa benar kau siswa kelas XI??” tanya seorang siswi kepada Ricky.

”Ya, aku melangkah 1 tahun” jawab Ricky enteng.

”Wow, anak jenius” tambah siswi itu lagi. Ricky hanya sedikit tersenyum.

”Changjo imnida”

”Chunji imnida. Siswi disini cantik-cantik ya” kata Chunji. CAP menatap tajam dia. ”Hah, maaf” Chunji mengerti arti tatapan itu, dan dia hanya bisa meminta maaf.

”Niel imnida” Setelah Niel, semua siswa masih menunggu satu orang lagi memperkenalkan diri. Tapi, sama sekali tidak ada kalimat yang meluncur dari bibir siswa itu. Untuk kesekian kalinya Niel menarik tali yang melekat pada telinganya.

”Mwoya?” tanyanya pada Niel. Niel hanya memutar bola matanya. Joe melihat kesekelilingnya, semua pasang mata menatap kearahnya.

”Ah, L.Joe imnida. Kalian bisa panggil Joe” akhirnya kalimat yang ditunggu-tunggu oleh teman sekelasnya muncul juga.

”Yak!! Aku suka gaya rambutmu” kata seorang siswi yang duduk paling belakang sambil mengarahkan jarinya kearah Joe, seolah-olah menembaknya. Semua siswa tertawa mendengar komentar dari siswi tersebut.

”Sudahlah, cepat kalian duduk dibangku kalian” perintah Victoria. Keenam orang itu berjalan kebangku mereka.

”Thank You, Vicky” kata Chunji ketika melewati Victoria, yang membuat guru itu bergidik ngeri. Joe yang masih berada dibelakang Chunji mendorongnya dengan keras.

”Jaga sikapmu” kata Joe.

”Kita lanjutkan pelajaran” mereka melanjutkan pelajaran matematika.

****

Victoria sedang membaca sebuah buku di perpustakaan untuk mempersiapkan pelajaran selanjutnya. Dan konsentrasinya menghilang karena kedatangan Chunji.

”Hallo, Vicky” panggil Chunji pelan ditelinga Victoria.

”Yak!! Ada apa denganmu?” teriak Victoria. Teriakannya itu mengganggu konsentrasi seluruh pengunjung perpustakaan.

”Ssstttt, ini perpustakaan sonsaeng” kata Chunji dengan polosnya, membuat Victoria menggeram. Dan segera beranjak meninggalkan perpustakaan.

Chunji hanya bisa tersenyum melihat kekesalan gurunya itu. Kemudian pandangannya mengedar keseluruh perpustakaan seperti sedang menyelidiki sesuatu. Kemudian dia melihat seorang siswi yang sedang menyelipkan sebuah kaset disela-sela buku yang tersusun rapi, hanya saja Chunji sama sekali tidak bisa melihat wajah siswi itu, karena tertutup oleh tumpukan buku. Dia segera beranjak dari duduknya, dan berlari ketempat siswi mencurigakan itu. Tetapi, dia terlambat. Karena siswi itu sudah tidak ditempat. Dia sudah lari.

”Siapa dia? Apa yang diletakkannya??” Chunji segera mengambil kaset yang diselitkan disela-sela buku tadi. ”Kaset apa ini??” Chunji mengerutkan alisnya. Dan dia segera keluar perpustakaan sambil membawa kaset itu. Tentu saja dia menyembunyikan kaset itu.

****

”Hey! Park Yoomin imnida” berdiri seorang siswi dihadapan CAP yang sedang mengutak atik handphonenya. ”Apa yang kau lakukan?” tanya Yoomin sambil berusaha melihat kelayar handphone CAP.

”Aniyo” dengan cepat CAP menyembunyikan handphonenya. Yoomin duduk dibangku Chunji yang berada disamping CAP. ”Oooo…kenapa penampilan kalian sangat nyentrik? Apa kalian calon artis??” tanya Yoomin pada CAP.

”Mwo? Artis?? Hyung, apa benar kita terlihat seperti penyanyi yang sambil menggerakkan tubuhnya di atas panggung” celetuk Changjo yang berada dibangku tepat dibelakang CAP.

”Sama sekali tidak” jawab CAP. Yoomin semakin mengernyitkan keningnya. Teman-teman barunya ini terlalu misterius.

”Hyung, kau sedang apa??” tanya Changjo pada Ricky yang sedang sibuk dengan laptopnya.

”Hyung?? Dia lebih tua darimu??” kaget seorang siswi yang baru saja masuk kedalam kelas sambil membawa sebotol air.

”Ya, kami melompat 1 tingkat” jawab Changjo. Siswi yang baru datang itu melemparkan botol minumannya kepada seorang siswi yang duduk di bangku paling belakang, dibelakang tempat duduk Joe.

”Gumawo!” katanya pada siswi itu.

”Oh iya, aku Park Eunmin. Dan dia Lee Hyunjin” siswi tadi memperkenalkan dirinya dan temannya yang sedang minum itu.

”Hyunjin” gumam Joe pelan, tak seorang pun yang mendengarnya, kecuali Niel yang duduk disampingnya.

”Hyung, Chunji menemukan sesuatu” bisik Niel pada CAP.

CAP langsung berdiri kemudian menggerakkan sedikit tangannya, memberikan kode kepada teman-temannya. Keempat orang itu langsung berdiri serempak. Ricky menutup laptopnya. Kemudian kelima orang itu berjalan dengan tegap meninggalkan kelas.

”Kemana mereka??” tanya Eunmin.

”Entahlah, sikap mereka terlalu aneh” Yoomin mengendikkan bahunya.

”Haha, kalian mau bermain tebak-tebakan??” pertanyaan Hyunjin menarik perhatian teman-temannya. ”Siapa mereka…” lanjut Hyunjin. Kedua temannya itu mendekatkan wajahnya, serius.

”Mereka, adalah…..” Hyunjin menggantungkan kalimatnya.

”Siapa?” tanya Yoomin antusias.

”makhluk planet yang nyasar di Bumi..hahahahaha” Hyunjin tertawa keras berhasil mengerjai teman-temannya itu. Botol kosong mendarat dikepalanya.

****

”Apa yang kau temukan??” tanya CAP pada Chunji. Sekarang mereka ada dilapangan basket yang sepi.

Chunji memberikan kaset itu kepada CAP, kemudian CAP memberikan kepada Ricky untuk dicek apa isinya.

”Aku menemukannya diperpustakaan, seorang siswi sengaja menyimpannya disana” lapor Chunji.

”Apa ini?!” kaget Niel.

”ini, video pembunuhan itu…” sambung Joe.

”Bagaimana seorang siswi bisa mendapatkan video ini??” tanya Changjo.

”Mungkin saja bisa, jika dia adalah pembunuhnya” sahut Ricky. Semua menganggukkan kepalanya.

”Aku akan menelpon Amber Sajangnim” CAP mengambil handphonenya dan mengetik beberapa nomor disana.

”Yoboseo, sajangnim. Kami mendapatkan satu petunjuk. Sepertinya ini langsung dari tangan target” lapor CAP.

”Baguslah, lanjutkan penyelidikan kalian. Lebih cepat, lebih baik” sahut seseorang diseberang sana.

”Baiklah” CAP memutuskan sambungan. ”Ricky, kau cari petunjuk melalui video itu” perintah CAP.

”Baik!” jawab Ricky.

”Kita kembali kekelas. Jangan mengundang kecurigaan” mereka semua segera menuju kekelas, karena pelajaran selanjutnya akan segera dimulai.

****

Someone POV

Wah, ternyata pencarian mereka cepat juga. Aku akan memberikan nilai tambah untuk mereka. Tapi sayangnya aku bukan seorang guru, hahahaha. Kalau untuk detektif lain, mungkin akan besok atau beberapa hari kedepan untuk mendapatkan video rekaman itu.

End of POV

****

”Pelajaran cukup sampai disini, pelajari kembali dirumah” ucap Gahee menutup pelajarannya.

”NE” sahut seluruh siswa. Kemudian Gahee meninggalkan kelas, dan para siswa membereskan barang-barangnya bersiap untuk pulang.

”Uhh,,kenapa selalu tegang jika Gahee sonsaeng yang memberikan pelajaran” keluh Yoomin.

”Tapi tidak untuk Hyunjin” sahut Eunmin yang duduk disampingnya, sambil mendelik kearah Hyunjin yang sedang tidur dibangku paling belakang barisan mereka.

”Dia sama sekali tidak menarik perhatianku, meskipun dia sama cantiknya seperti kalian” celetuk Chunji. Dia bisa mendengar dengan jelas percakapan kedua siswi itu karena dia dan CAP duduk dibelakang mereka.

”Mwo?” kaget Yoomin.

”Hyung, seluruh sekolah sudah kosong, hanya tinggal kita disini dan ketiga orang ini” lapor Changjo setelah mengelilingi seluruh sekolah.

Eunmin dan Yoomin mengerutkan keningnya.

Mendengar laporan Changjo tadi, Joe langsung berdiri dari duduknya. Baru kali ini dia menunjukkan ekspresinya, setelah seharian ini hanya mendengarkan apapun itu yang keluar dari headsetnya. Sementara Niel, membelalakkan matanya. Kemudian menatap satu persatu siswi yang masih bersama mereka itu.

Joe  menatap Niel, seolah-olah sedang berbicara satu sama lain. ”Entahlah, tapi itu tidak mungkin” kata Niel.

”Tapi detaknya masih terdengar jelas…sangat jelas”  tambah Joe.

”Ada apa?” tanya CAP pada kedua orang itu. Joe dan Niel membungkam.

”Sudahlah, kita pulang sekarang” kata Chunji sambil mendorong satu persatu teman-temannya itu.

”Berhentilah bermain game Ricky” kata CAP. Dengan sangat kecewa Ricky menutup laptopnya dan bergegas mengejar teman-temannya keluar.

“Kalian kenapa??” Tanya Chunji pada kedua siswi yang masih terdiam seperti patung. “Hahahahaha, sudahlah..apa dia akan tidur sampai besok?” Tanya Chunji lagi.

“Astaga! Dia masih tidur?” Eunmin berjalan kebangku belakang, dan mengetuk dengan botol kepala Hyunjin.

“Eunmin! Kau menjatuhkan ini” kata Yoomin.

”Ah, gumawo. Pin ini sangat berarti bagiku” kata Eunmin sambil mengambil Pin bergambar merak itu.
”Sedang apa kau?” tanya Joe pada Chunji yang masih berdiri didepan kelas. Joe mengintip kedalam dan tatapannya bertemu dengan Hyunjin yang baru saja bangun. Mengetahui dia sedang bertemu pandang dengan Joe, Hyunjin langsung menunjukkan senyumnya.

”Ayo pergi!” Joe manarik Chunji menyusul teman-temannya.

”Ayo!” ketiga siswi itupun pergi meninggalkan sekolah.

****

Someone POV

Wow, cara yang jenius untuk mengetahui keberadaan seseorang. Mereka cukup kreatif..

End of POV

****

“Hah, aku masih sangat penasaran dengan mereka. Kalian lihat bagaimana cara Niel dan Joe bertatapan. Setelah itu mereka mengucapkan hal yang tidak jelas. Hah, sungguh membuat orang pusing” oceh Yoomin.

”Ya, tapi..si Ricky itu jenius ya?” Eunmin tersenyum dengan ucapannya itu.

”Hey, hey…tidak biasanya kalian membicarakan seorang namja?” sahut Hyunjin yang sedang tiduran di tempat tidur.

”Ada masalah nona?” tanya Yoomin menyindir.
”Hahahahaha…kalian ini ada-ada saja. Tapi, mereka memang menarik perhatianku. Kalian juga kan?” tanya Eunmin.

Hyunjin dan Yoomin menganggukkan kepalanya. “Apalagi yang bernama Joe, dia bisa menghilang dari dunia nyata meskipun matanya tidak tertutup..aneh bukan?” Hyunjin memberikan komentarnya.

“Sudahlah, sku mau mandi duluan. Setelah itu kalian” Yoomin langsung mengambil handuk dan masuk kekamar mandi.

”Aku rasa dia menyukai CAP” bisik Hyunjin pada Eunmin.

”Kau benar…hahahahahahaha”

****

”Hyung, aku menemukan sesuatu. Mungkin ini bisa dijadikan petunjuk selanjutnya” kata Ricky sambil menarik Chunji yang ada disampingnya.

”Apa?” tanya Chunji.

”Ini..” Ricky menunjukkan sesuatu yang ada didalam video rekaman pembunuhan masal yang sedang mereka selidiki. Pembunuhan 5 orang siswa oleh seseorang siswi yang tak dikenal.

”Disini, di video ini selalu muncul gambar ini” Ricky menunjukkan gambar yang membuat Chunji mengerutkan keningnya.

”Merak??” Chunji menyipitkan matanya berusaha mengingat sesuatu. ”Ah, yeoja itu. Apa mungkin??” Chunji berkecamuk dengan pikirannya sendiri.

”Aku pergi kesupermaket dulu” tiba-tiba Niel berpamitan, dan keluar menggunakan sepedanya.

”Park Eunmin? Dia pembunuhnya??” Chunji tidak mempedulikan pamitan Niel.

”Jangan sembarangan dulu. Jika salah orang, itu akan mencelakakan kita” pesan CAP.

”Tapi, menurut Joe dan Niel tadi, dia masih ada disekolah. Padahal disekolah hanya tersisa kita, dan ketiga yeoja itu” ingat Changjo.

”Tiga yeoja. Bukan berarti dia yang kalian sebut tadi” sahut Ricky.

”Ricky benar, kita butuh petunjuk lagi” kata Chunji.

****

Suara dari handphone Niel semakin terdengar nyaring, Niel menghentikan sepedanya dan segera mengambil handphone yang ada do sakunya. Dan dia sedikit kaget waktu melihat ke layar handphone miliknya itu. ”Dia ada disekitar sini..” gumamnya, kemudian mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru. Dan pandangannya berhenti di seorang yang sangat jelas dikenalnya. ”Park Yoomin. Rumah itu, GPS??” GPS yang ada dihandphonenya menunjukkan tepat dimana rumah Yoomin berada. Dengan pikiran yang berkecamuk Niel kembali mengendarai sepedanya untuk pulang.

****

”Aku menemukan ini dilokasi kejadian kemarin, mungkin ini bisa menjadi petunjuk” Changjo melemparkan sebuah koin pada Joe.

”Kau bisa menggunakan ini untuk membeli minuman kaleng” kata Joe.

”Aniyo, koin itu hanya bisa digunakan untuk membeli minuman kaleng di sekolah kita. Dan boba kau lihat bagian belakangnya” Joe membalikkan koinnya.

”169??” Joe mengerutkan keningnya.

”Ya, aku tidak mengerti dengan angka itu. Tadi sewaktu aku ke cafetaria, mereka yang membeli minuman tidak memasukkan koin yang mempunyai angka seperti itu. Hanya koin yang biasa” lapor Changjo lagi.

”Tapi, bukannya untuk membeli minuman harus memencet beberapa dijit angka untuk memilih minuman?” kali ini CAP yang angkat bicara.

”Benar juga..” saat mereka berdiskusi dengan serius seseorang dengan kasarnya membuka pintu rumah mereka.

”Park Yoomin!! DIA!” teriak Niel pada teman-temannya.

”Kenapa dengan Yoomin??” tanya CAP.

”GPS menunjukkan dia orangnya” lapor Niel.

****

”Kau ingin memesan apa?” tanya Joe pada Changjo.

”Aku pesan minuman saja” jawab Cahngjo.

Mereka sekarang sedang di cafetaria, mereka akan menyelidiki sesuatu disini.

”HYUNJIN-AH! 169! Seperti biasa!” teriak Yoomin pada Hyunjin yang ingin membeli minuman kaleng.

”Baiklah” sahut Hyunjin. Dan untuk kesekian kalinya, mata Joe dan Hyunjin bertemu pandang. Hyunjin tersenyum lagi pada Joe.

Changjo yang mendengar teriakan Yoomin langsung tersentak. ”169?”.

”Hai, kau ingin beli minuman??” tanya Hyunjin pada Joe.

Tapi, namja berambut pink itu sama sekali tidak menjawab. ”Nikmatilah!” Hyunjin melemparkan minuman kaleng pada Joe, dan segera disambut dengan mudah oleh Joe.

Kemudian Hyunjin berjalan kembali menuju tempat duduknya yang disana duduk juga Yoomin dan Eunmin.

”Hyung, Yoomin??” tanya Changjo.

”Kita kembali kekelas” perintah Joe. Kemudian mereka kembali kekelas.

****

Someone POV

Sedikit lagi ini semua akan berakhir, sudah cukup sampai disini aku memberikan petunjuk untuk kalian. Akan kutunggu..

End of POV

****

Joe berdiri didepan pintu kelas, entah apa yang dilakukannya. Dengan headset yang menggatung di telinganya dia mengedarkan pandangannya.

Tak lama kemudian, Yoomin dan Eunmin berjalan melewatinya. ”Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoomin. Joe membelalakkan matanya saat kedua siswi itu menyapanya.

”Aniyo..” Joe langsung masuk kedalam kelas dan duduk dibangkunya.

”Ah, aku harus mengambil buku di loker” Yoomin pergi keluar kelas dan menuju lokernya. Tanpa sepengetahuannya CAP mengikutinya dari belakang.

”169..” CAP tersenyum melihat angka yang tertulis di pintu loker milik Yoomin. Loker dengan nomor 169. Setelah Yoomin pergi, CAP dengan hati-hati membuka loker milik Yoomin, dan matanya menyipit melihat apa yang ada didalam loker itu. Sebuah foto yang menampilkan atap sekolah dan dipojok kiri bawah foto itu tertulis angka 169, dan kanan atas terdapat gambar merak.

”Ah, ini membingungkan!” CAP mengambil foto itu dan kembali kekelas.

****

”Aku mengerti angka itu!!” teriak Ricky. Niel, Changjo, Chunji, dan Joe langsung mendekat padanya.

“Apa itu?” tanya Niel.

“Itu adalah tanggal. Tanggal 16 bulan 9” jawab Ricky.

“Dan hari itu adalah hari ini??” kata Chunji.

“Ini!!” CAP melemparkan foto itu kepada teman-temannya.

”Apa ini?” tanya Changjo.

”Entahlah. Yang jelas itu membuatku pusing” jawab CAP.

Keenam orang itu mulai berpikir, agar masalah ini bisa terpecahkan. Mereka harus menemukan pembunuh 5 orang siswa itu.

”Ah, aku mengerti!!!” teriak Changjo. Kelima temannya langsung mengalihkan perhatian padanya. ”Tanggal 16 bulan 9, di atap sekolah. Dia akan ada disana pada hari ini”.

”Kemana tiga yeoja itu??” tanya Chunji.

”Ternyata benar, pembunuhnya salah satu dari mereka” timpal Ricky.

”Hyung, sebaiknya kita kesana sekarang!” ajak Niel. Keenam orang itu langsung berlari menuju atap sekolah.

****

Someone POV

Hampir 1 jam aku menunggu disini. Tapi mereka belum datang juga, kukira mereka sehebat yang kubayangkan. Ternyata aku masih harus menunggu lama disini.

End of POV

****

Sesampainya di atap, mereka dikejutkan dengan keberadaan seorang siswi yang sedang bermain dengan handphonenya.

”Park Yoomin??” kaget CAP. Joe mengenyitkan keningnya. Mereka langsung menghampiri Yoomin.

”Eh, ada apa kalian disini??” tanya Yoomin.

”Seharusnya kami yang bertanya padamu, sedang apa kau disini? Pemilik angka 169??” tanya Chunji.

”Mwo?? 169? Apa maksud kalian? Aku tidak mengerti?” Yoomin mulai panik.

”Sudahlah jangan pura-pura tidak mengerti!” gertak CAP. Yoomin semakin ketakutan, melihat enam orang namja yang sedang menatap sangar padanya.

Niel mengernyitkan keningnya ketika melihat layar handphonenya. ”Bukan dia, GPS mengarah ke tempat lain” perkataan Niel membuat CAP melepaskan cengkramannya di kerah Yoomin.

”Mwo?? Bagaimana bisa?” tanya Changjo.

”Benar, detak jantungnya berbeda” Joe mengedarkan pandangannya kesekeliling.

”Disana. Disana ada orang lain” Ricky yang melihat rekaman CCTV di laptopnya langsung menunjuk kesebelah barat atap.

Mereka berlari ke arah yang ditunjuk oleh Ricky tadi, ”Mianhae Yoomin-ah” kata CAP sebelum meninggalkan Yoomin.

”Kau tunggu saja disini, ok?” perintah Chunji, Yoomin hanya menganggukkan kepalanya.

”Itu, Eunmin…” kaget Ricky ketika melihat dari layar laptopnya.
”Kenapa kalian kesini??” tanya Eunmin.

”Apa yang kau lakukan?” tanya CAP.

”Aku, aku….” Niel dan Joe menggelengkan kepalanya. Changjo mendekat ke tempat dimana Eunmin berdiri.

“Mwo? Hanya mencoret-coret tembok. Kenapa kau sampai ketakutak seperti itu?” tanya Changjo sewaktu melihat apa yang dilakukan Eunmin.

”Berarti benar, pemilik DNA itu adalah Lee Hyunjin. Seharusnya aku mempercayai alat ini dari awal!” umpat Joe kesal sambil menarik headset yang tersambung pada sebuah alat yang baru dilihat sebelumnya.

”Hyunjin??” kaget Eunmin.

”Hyunjin tinggal bersama Yoomin??” tanya Niel.

Eunmin menganggukkan kepalanya. ”Kami tinggal bertiga” jawab Eunmin.

”SIAL!! Perilakunya sama sekali tidak mengundang kecurigaan” Chunji kesal.

”Bahkan alatku pun tidak bisa merekamnya” Ricky juga tak kalah kesalnya.

”Sudah jelas pembunuh itu adalah Lee Hyunjin, dimana dia bersembunyi??” CAP kelihatan geram, Changjo sudah berkeliling duluan dan langkahnya terhenti saat berdiri seorang yeoja yang dicari oleh teman-temannya itu tepat dihadapannya.

”Kalian sudah sampai??” tanya Hyunjin enteng. Kelima orang itu menyusul Changjo diikuti oleh Eunmin, tak lama kemudian Yoomin juga menyusul mereka.

”Kau! Kami menemukanmu” kata CAP.

”Ya, begitulah. Butuh waktu satu jam untuk menunggu kedatangan kalian. Mengira kedua orang itu target kalian? Pekerjaan yang salah besar” kata Hyunjin sambil menyandar ke tembok.

”Apa maumu sekarang?” tanya Niel.

”Orang yang emosional. Bersabarlah sedikit, Tuan Ahn. Yah, setidaknya kalian sudah melakukan tugas dengan sangat baik, berhasil menangkapku dalam waktu 2 hari. Selamat untuk kalian” Hyunjin membungkukkan sedikit tubuhnya.

Keenam orang itu mengernyitkan kening mereka. Ada apa dengan yeoja yang ada dihadapan mereka ini. Dia sama sekali tidak takut sewaktu para detektif ini menemukannya. Pembunuh yang sedang dicari oleh Ketua mereka, Amber sajangnim.

”Kenapa di video itu ada gambar merak dan angka itu? Apa maksudmu?” tanya Ricky.

”Wow, pertanyaan yang unik. Tidak pernah ada yang menanyakan hal semacam itu sebelumnya” oceh Hyunjin. ”169..itu adalah angka yang selalu ada padaku. Nomor urutanku yang masuk kedalam list pencarian polisi. Lambang merak itu sendiri, kau bisa lihat sendiri. Seharusnya kalian melihat lebih teliti” Hyunjin menunjukkan pergelangan tangannya yang terdapat gambar merak.

”Kenapa akutidk melihatnya” kesal Changjo.

”Dan sekali lagi, selamat karena kalian sudah berhasil melalui TRANSFORM” Keenam orang itu mengernyitkan alisnya, heran.

Tiba-tiba datang seorang yang sangat dikenal oleh enam orang namja itu. ”Sa,,sajangnim??” kaget Chunji.

”Kerja bagus Hyunjin” kata Amber tersenyum pada Hyunjin.

”Apa yang tidak bisa kukerjakan, onni?” tanya Hyunjin.

”Carilah pacar, merak” Amber tertawa melihat Hyunjin yang memanyunkan bibirnya.

”Tunggu, sajangnim. Kau mengenalnya??” tanya CAP mewakili teman-temannya.

”Hyunjin? Tentu. Transform yang paling terkenal” jawab Amber.

”Open Bay??” kata Changjo.

“Yes, it’s me” kata Hyunjin, membuat keenam orang itu terkejut.

“Open Bay, adalah senior kalian. Dan Hyunjin adalah Open Bay, dia yang menguji kalian untuk menjadi Transform, dan untuk selanjutnya..lakukan tugas kalian dengan baik” kata Amber. “Untuk kalian berdua, maaf membawa kalian kedalam masalah ini. Semoga kalian bisa menjaganya rapat-rapat” kata Amber pada Yoomin dan Eunmin.

”Kalian berlima keluarlah. Pekerjaan kalian sudah cukup” panggil Amber.

”Hah!! Akhirnya. Lelah sekali bersembunyi dari kalian. Kalian terlalu lincah” salah seorang dari lima namja yang dipanggil Amber tadi mengoceh tidak jelas.

”Kalian..” kaget Yoomin dan Eunmin.

”Sudah mati?? Hahaha..itu hanya rekayasa. Untuk menguji keenam orang ini” jawab GD salah satu dari kelima orang itu.

”Aku tidak percaya ini” kesal Niel, membuat Hyunjin tertawa.

”Apa kalian juga…” tanya Changjo.

”Yes, we’re transform. BIG BANG” jawab Taeyang.

“Aku semakin menjadi gila” keluh Chunji.

Semuanya hanya bisa tertawa, kecuali Yoomin dan Eunmin.

”Apa itu transform??” tanya mereka secara bersamaan.

****

Transform, semacam detektif yang belum banyak diketahui oleh orang lain. Biasanya hasil penyelidikan mereka diserahkan begitu saja kepada pihak polisi. Beberapa Transform yang sering didengar adalah Open Bay, BIG BANG, B2ST, MBLAQ, dan sekarang Transform baru TEEN TOP.

Yang memperkenalkan Transform dulu adalah, sekelompok pria yang senang menyelidiki hal-hal yang berbau misterius. Karena kecintaan mereka itu, mereka membentuk sebuah organisasi yang disebut Transform. Mereka menyebut dirinya adalah SUPER JUNIOR. Mereka adalah Transform yang paling pertama, dan paling terkenal. Hanya sedikit cerita tentang mereka, sampai sekarang yang pernah bertemu dengan mereka hanya Open Bay. Open Bay, diberi penghargaan khusus karena sudah berhasil mengusut tentang peledakan sebuah gedung, dan berbagai macam pembunuhan. Dan Open Bay lah satu-satunya Transform yang berani dimasukkan namanya ke dalam list pencarian polisi. Akan tetapi, belum pernah ada yang bisa menangkapnya. Karena polisi itu tidak bisa menemukannya, dan juga tidak pernah ada bukti yang bisa diperlihatkan untuk menangkap Open Bay ini.

Mereka tidak tau kalau Open Bay, hanyalah seorang gadis berumur 16 tahun yang masih duduk dibangku sekolah. Akan tetapi, TEEN TOP juga mempunyai ancaman sendiri bagi para detektif.

****

Epilog

”Jagiya,,makan dulu, setelah itu baru lanjutkan bermain game” suruh Eunmin.

”Nanti dulu” sahut Ricky malas.

Ya, kedua orang ini resmi pacaran sejak Ricky yang menyatakan cinta secara spektakuler. Yaitu dengan, menampilkan gambar-gambar Eunmin di halaman sekolah. Sebagai Transform tidak ada yang sulit untuk menyelidiki orang biasa seperti Eunmin. Didalam video itu juga Ricky merekam dirinya yang mengucapkan kalimat-kalimat indah. Setelah penayangan video itu, kelopak bunga sakura berjatuhan dari langit-langit. Dengan bantuan Transform B2ST yang menghamburkan bunga-bunga itu menggunakan helikopter. Pernyataan cinta yang membutuhkan uang yang banyak..

Tapi, setelah sukses dengan pernyataan cintanya. Ricky tentu saja mendapat hukuman dari Gahee Sonsaengnim karena telah membuat kotor halaman sekolah. Dan yang terkena imbas adalah B2ST dan personil TEEN TOP yang lain.

”Makan dulu” Eunmin menutup laptop Ricky dengan kasar, dan Ricky hanya bisa mengikuti perintah Eunmin.

”Baiklah, tapi..suapin”

”Ricky-ah, kau terlalu manja” komentar Joe.

”Bilang saja kau ingin” celetuk Hyunjin.

”Mwo? A…hmm” bantahan Joe terputus karena Hyunjin sudah membungkamnya dengan bibirnya.

”Ah, kalian terlalu fulgar. Tidak tau apa masih ada anak kecil disini” omel Changjo.

Joe dan Hyunjin juga sudah menjalin hubungan, dan merekalah yang paling serius. Beberapa minggu kedepan mereka akan segera melangsungkan pertunangan.

”Kenapa hanya aku yang tidak mendapat pasangan??” keluh Changjo, dia sedikit melirik CAP, Chunji, dan Niel yang sedang menarik perhatian Yoomin. Ya, seperti yang terlihat ketiga orang itu berlomba untuk mendapatkan hati Yoomin. Sampai sekarang Yoomin bingung memilih diantara ketiga namja keren itu.

”Aku bingung” gumamnya dalam hati.

Begitulah kehidupan selanjutnya Transform muda ini. Mereka tetap menjalankan pekerjaan mereka sebagai Transform, tapi mereka juga bisa memenangkan hati masing-masing dengan mendapatkan yeoja yang mereka cintai, terkecuali Changjo. Dia masih terlalu muda untuk mendapat seorang yeoja. Dia juga masih tidak ingin melakukan hal itu. Dia masih ingin fokus terhadap pelajaran dan pekerjaannya.

THE END

****

So, what ’bout it?? I’m very happy can finish this fanfic. Hope U like it, sist.

Leave coment please. It make me happy, u know?

Anyway, I love Sungmin forever (?)*I Dont know what I’m talk?? I confused…hahahahahah*

RCL, ok???

Waiting your coment*hug reader*

*ngaco bgt inggrisnya..hahaha*

Gallery
14

Coagulation *third part end*

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Coagulation

Author said : Akhirnya part end juga…ini udh tak panjangin, kalo msh kependekan juga author nyerah. Takut bgt ngengingat kejadian yg bikin nie ff lahir*nangis guling2*.

Part sebelumnya : Si Hyuk histeris lagi..apa yg diliatnya?? Baca aja yo!!

***

Sebuah mobil terpakir di depan rumah, teriakan Hyukjae membuat Donghae langsung keluar untuk melihat kadaan Hyukjae yang histeris kembali.

”Hyuk! Ada apa??” Hyukjae menunjuk mobil yang terparkir didepan rumah.

”Itu..itu…AAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!” Donghae langsung memeluk Hyukjae.

”Tenanglah, itu hanya mobil” Donghae menenangkan Hyukjae. ”Yeongra-ah!!” teriak Donghae memanggil Yeongra.

Dengan cepat Yeongra keluar dari dapur dan langsung kedepan. ”Mworago?” tanyanya.

”Bawa Hyuk kedalam. Aku akan menyambut tamu, dia histeris lagi” bisik Donghae dikalimat terakhir.

”Baiklah” Yeongra langsung menggiring Hyukjae kedalam sambil menenangkannya. ”Jagi, tenanglah…”

Donghae langsung menuruni anak tangga menuju kehalaman rumahnya menemui tamunya itu.

”HAI!!!” teriak 2 orang yeoja yang masih asing dimata Donghae.

”Ah, kalian teman Hyukjae yang kemarin ya?” tanya Donghae memastikan.

”Ya” jawab Myunji.

”Silahkan masuk, Hyukjae sedang tidak bagus keadaannya” Donghae berusaha ramah, padahal dia juga sedikit kesal dengan gadis yang bernama Saerin itu.

Saat sampai didalam rumah Myunji agak kaget melihat foto yang terpampang jelas diruang tamu. Foto pernikahan Donghae dan Yoomin. Jujur dia menyukai Donghae saat kemarin mereka bertemu. Bagaimana kalian tidak menyukai namja seperfect Donghae, pewaris perusahaan besar dan ganteng.

”Kau sudah menikah?” tanya Myunji pada Donghae.

”Kalau iya kenapa?” tanya Yoomin lagi yang tiba-tiba sudah ada disamping Donghae. Myunji menatap tak bersahabat Yoomin.

”Yeobo, Hyunjin sudah bangun belum?” tanya Yoomin tidak memperdulikan kedua tamunya.

”Molla, tadi aku kekamarnya dia sudah bangun. Tapi seperti biasa, dia menjadi patung” jawab Donghae.

”Ada apa kalian kesini?” tanya Hyukjae yang sudah baik keadaannya.

”Hyuk, kau sudah tidak apa-apa?” tanya Donghae. Hyukjae hanya menganggukkan kepalanya, kemudian menyuruh kedua temannya itu duduk.

”Ah, kalau begitu kalian berbincanglah. Aku harus memberikan Hyunjin obat. Jagi, kau ambilkan obatnya!” perintah Donghae sambil berlalu menaiki anak tangga.

”Adik kami sedang sakit, jadi memang agak sedikit sibuk” Hyukjae menjelaskan keadaan yang ada dirumahnya.

Saerin langsung mengambil tempat duduk disamping Hyukjae. ”Oppa, kau sudah baikan?” tanya Saerin.

”Ne,.” jawab Hyukjae berusaha melepaskan rangkulan Saerin.

”Bagaima…” pertanyaan Saerin segera diputus oleh Yeongra.

”Yeobo, dimana Donghae oppa?” tanya Yeongra sambil tersenyum melihat Saerin yang kelihatan kesal.

”Dia dikamar Hyunjin” jawab Hyukjae. Yeongra menganggukkan kepalanya.

”Oppa, jadi benr kau sudah menikah? Dengannya?” tanya saerin tidak percaya.

”Ya, dia istriku. Lee Yeongra” Hyukjae memperkenalkan Yeongra kepada kedua temannya. ”Jagi, ini Saerin..Park Saerin, dan disana Han Myunji” Yeongra menundukkan sedikit.

”ANDWAE!! JIN-AH!!!” teriak Donghae dari arah kamar Hyunjin. Terlihat Yoomin langsung keluar dari dapur dan melesat menaiki anak tangga. Semua orang mengikuti Yoomin termasuk Saerin dan Myunji.

”YEOBO!! Jangan berteriak padanya!” marah Yoomin. Terlihat Donghae sudah kehilangan kesadarannya dan berteriak pada Hyunjin, membuat yeoja itu histeris lagi.

”AAAAAAAAAAAAA~~~!!!!!!” teriakan Hyunjin menggema diseluruh rumah.

”HYUNJIN-AH!!!” teriak Donghae dan menarik tangan Hyunjin yang terus mencakar dirinya sendiri. ”ANDWAEYO!!!” sentakan Donghae berhasil menarik tangan Hyunjin. Donghae yang menggunakan baju putih warnanya sudah berubah menjadi bercak-bercak merah karena darah Hyunjin yang sedikit menciprat.

Melihat darah yang mengalir begitu deras, bayang-bayang kecelakaan yang mengerikan datang dibenak Hyukjae. Dia memegang kepalanya, dan berteriak lagi.

”AAAAAAAAa….hah…AAAAAA” Yeongra langsung sigap menangkan Hyukjae.

”Astaga!!” Yoomin langsung bertindak. Dia langsung mendorong Donghae agar melepaskan tangan Hyunjin, dan itu berhasil. Merasa tangannya terlepas Hyunjin langsung memukul-mukul Yoomin tanpa terkendali.

”Dongsaeng, tenanglah…” dengan sabar Yoomin menenangkan Hyunjin.

”Nona Saerin, tolong ambilkan tas itu” pinta Yeongra pada Saerin untuk mengambilkan tas yang berisi obat-oabatan Hyukjae.

”Ini” Saerin mengambilkan tas itu dengan panik. Meskipun dia tidak mengerti dengan keadaan yang sebenarnya, tapi dia sangat takut melihat keadaan ini. Bercak darah Hyunjin yang menciprat dilantai. Bahkan dikasurnya darah itu sudah mengering.

Yeongra menyuntikkan obat penenang pada Hyukjae. ”Yeobo, jangan bergantung pada obat ini lagi. Aku tidak tega kau harus disuntik seperti ini terus” Yeongra memeluk Hyukja eyang sudah mulai tenang.

Begitu juga dengan Hyunjin yang berhenti histeris. Tapi, air mata menggenangi wajahnya. Dia menangis sekarang. Yoomin merapikan rambut Hyunjin yang berantakan. ”Tenanglah, ada Oppa dan Onni disini” Yoomin memeluk Hyunjin. Myunji sedikit kaget melihat wajah Hyunjin. Wajah yang sangat diingatnya. Tiba-tiba perasaan itu muncul lagi, perasaan yang menghantuinya selama hampir 3 bulan ini.

”Myunji-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Saerin.

Mereka keluar dari kamar Hyunjin, karen ahYunjin sudah tenang dan dia sedang bersama Hyukjae tentu saja Yeongra menjaga mereka.

Keempat orang itu sedang duduk diruang tengah. ”Maaf membiarkan kalian melihat kejadian tadi” kata Yoomin sambil mengobati luka ditangan Donghae yang tanpa sengaja terkena cakaran Hyunjin. Donghae masih lemas, pandangannya masih kosong.

”Apa dia tidak apa-apa?” tanya Myunji melihat keadaan Donghae yang sama mengkhawatirkan.

”Ya, tidak seburuk Hyunjin dan Hyukjae” jawab Yoomin. ”Yeobo, sekarang istirahatlah” dengan lemah Donghae berdiri dan menuju kamarnya.

”Jagi, beri dia obatnya” ingat Donghae pada Yoomin.

”Ya, kau tenang saja” Yoomin tersenyum. Saat itu juga Hyunjin bersama Hyukjae danYeongra menuruni anak tangga. Senyuman itu, senyuman yang dirindukan oleh Donghae. Senyuman adiknya tercinta.

”Pagi Oppa!” sambut Hyunjin. Donghae langsung memeluk Hyunjin.

”Hyunjin-ah!!!” Donghae menitikkan air matanya.

”Oppa, aku sudah sembuh” kata Hyunjin diikuti anggukan oleh Hyukjae dan Yeongra.

”Bagaimana bisa?” tanya Yoomin. Saerin dan Myunji juga sedikit memiringkan kepalanya.

”Rin menemuiku” jawab Hyunjin. Yoomin dan Donghae ternganga dibuatnya. ”Dia sangat baik ada disana. Dia terlihat lebih baik, dia tidak sepucat yang waktu itu. Wajah mengerikannya sudah hilang. Dia sangat bahagia” jelas Hyunjin dengan wajah sangat berseri, meskipun terdapat banyak luka disekujur tubuhnya.

”Aku juga melihatnya, dia sangat cantik dan lebih sehat” sambung Hyukjae. Donghae dan Yoomin menatap Yeongra.

”Hah, dia tidak memperlihatkan dirinya padaku” jawab Yeongra, dan disambut dengan rangkulan Hyukjae. Mereka berlima berpelukan bersama, dan saat itulah sosok Hyunrin muncul didepan kamarnya dengan senyuman yang sangat manis. Dia terlihat bahagia melihat saudara-saudaranya sudah tidak akan merasa bersedih lagi akan kepergiannya yang bisa dibilang sangat tiba-tiba.

”Donghae oppa, Hyukjae oppa, Hyunjin-ah, nam dongsaeng” bisiknnya pelan. Ketiga orang yang dipanggil menatap tak percaya sosok Hyunrin yang berbaju putih bersih, dan wajah yang dihiasi oleh senyuman. ”Saranghamnida, jeongmal saranghae” dan saat itu juga sosoknya menghilang.

”Nado saranghae” kata Donghae, Hyukjae, dan Hyunjin bersamaan.

”Oh, oppa..nuguseyo?” tanya Hyunjin melihat 2 orang asing yang ada dirumahnya.

”Ah, Saerin imnida. Park Saerin” Saerin memperkenalkan dirinya. Saerin menjulurkan tangannya dan disambut oleh Hyunjin.

”Han Myunji imnida” dengan sedikit ragu Myunji mengulurkan tangannya. Saat tangan mereka sudah bertaut, raut wajah Hyunjin berubah.

”Neo! Kau orangnya!!!” Hyunjin berteriak keras dan menghentakkan dengan keras tangan Myunji.

”Hyunjin-ah, waeyo??” tanya Yoomin.

”Onni!! Meskipun aku dibilang gila. Aku tidak akan melupakannya! Orang yang membunuh Hyunrin!” Hyunjin berjalan mendekati Myunji dengan tatapannya yang sangat tajam. ”Kau yang mengendarai mobil waktu itu. KAU!!” Hyunjin mendorong dengan keras tubuh Myunji sehingga yeoja itu jatuh kelantai.

Meskipun Hyunjin yang dikenal dengan keanggunannya, dia tidak akan segan-segan untuk memukul orang yang dibencinya. Apalagi orang itu adalah orang yang membunuh Hyunrin, saudaranya.

”MWO?” mata Donghae terbelalak. Rahang Hyukjae mengeras, mereka menatap dengan tajam yeoja yang ada dihadapannya itu.

”Kau!” sebuah tamparan keras mendarat dipipi Myunji. Yoomin menamparnya tanpa segan-segan. ”Kau tau bagaimana menderitanya kami? Kenapa kau tega!!” air mata mengalir dari mata Yoomin.

”Yoomin-ah, tenanglah. Sekarang juga serahkan dirimu pada polisi” suruh Yeongra, dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Air matanya juga mengalir.

”SAERIN!! Ini salahmu!! Gara-gara kau aku menabraknya!!” Myunji malah menyalahkan Saerin.

”Mwo? Kau yang mengendarai mobilnya. Kenapa kau menyalahkanku!” Saerin tidak terima.

”Aku tidak mau tau!! Serahkan diri kalian kepada polisi sekarang!!” teriak Hyukjae. ”Kalian hampir merenggut nyawaku, dan bahkan sudah merenggut nyawa adikku. Aku tidak peduli kalau kalian adalah temanku”.

”Sebentar lagi polisi akan datang” kata Donghae yang baru saja mematikan sambungan di poselnya.

”Oppa, kumohon maafkan kami!!” pinta Saerin pada Hyukjae.

”Maaf? Kau sudah membuat Hyukjae kehilangan kesadarannya. Kalian memberikan trauma yang sangat parah pada Hyukjae. Dan sudah membuat Hyunjin seperti yang kalian lihat tadi. Tapi kalian dengan mudahnya meminta maaf. Kalian sungguh tidak mempunyai perasaan” Yoomin terduduk disofa.

”Aku minta maaf, tapi ini yang harus kalian tanggung. Kita lihat keputusan hakim nantinya” kata Hyunjin dengan wibawanya. Tak lama kemudian sebuah mobil polisi terparkir didepan rumah Donghae, dan menangkap kedua yeoja itu.

####

Flashback

”Baiklah, kita liburan kepantai sekarang!!” teriak Hyunrin kesenangan. Karena Appa dan Eomma mereka sedang ada diluar negeri. Hyunrin dengan bebas bisa bertemu dengan kedua saudaranya.

”Oppa, kami akan menyusul nanti. Karena disini masih banyak pekerjaan. Kami akan menyusul dengan bus” kata Yoomin lewat poselnya.

”Baiklah, kalau begitu kami duluan” jawab Donghae.

”Mereka akan menyusul?” tanya Hyukjae. Donghae hanya menganggukkan kepalanya.

”Kalau begitu ayo!” Hyunjin menarik tangan Donghae agar segera naik keatas motor. Dan Hyukjae ditarik oleh Hyunrin.

”Sepertinya dongsaeng-dongsaengku sudah tidak sabar” kata Hyukjae yang menggelengkan kepalanya.

Ditengah perjalanan kedua motor itu berjalan beriringan. Tak lama kemudian motor Donghae dan Hyunjin mendahului Hyukjae dan Hyunrin. Dan saat itu Hyukjae yang ingin mendahului mobil yang ada didepannya. Tapi hal yang tak terduga terjadi, jaket yang digunakan Hyunrin menyangkut di kaca spion mobil tersebut menyebabkan Hyunrin terlempar dan motor yang dikendarai Hyukjae oleng dan Hyukjae terlempar ketepi jalan, Hyunrin tergeletak di tengah jalan.

####

”Myunji-ah, kemana lipstikku??” tanya Saerin panik mencari lipstiknya yang jatuh kelantai mobil.

”Aisshhh, kau ini ada-ada saja” Myunji sedikit mendelik ke lantai mobil dan matanya mendapatkan sebuah lipstik yang berada tepat di dekat kakinya. ”Itu ada didekat kakiku” Myunji memberitahu Saerin.

”Ah, terima kasih” Saerin mengambil lipstiknya didekat kaki kiri Myunji. Tapi saat itu, mata Myunji menangkap seseorang yang terbaring di tengah jalan, tapi kakinya tidak bisa menekan pedal rem karena Saerin yang sedang mengambil lipstiknya.

”YAK!!! AAAA~~” teriak Myunji. Saat itu dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hal yang tidak diinginkannya, dia melindas orang itu. Setelah Saerin berhasil mengambil lipstiknya, dengan cepat Myunji menekan pedal remnya.

”Kau kenapa?” tanya Saerin, memperhatikan Myunji yang sudah ketakutan setengah mati.

####

”RIN!!!!” teriakan Hyunjin membuat Donghae menghentikan motornya dan melihat kearah belakang. Mobil yang berhenti, motor yang terlempar ketepi jalan dan menimpa Hyukjae yang masih mengerang, tangannya terus melambai-lambai keseseorang yang sudah berlumuran darah, adiknya..sosok adiknya lah yang berlumuran darah itu.

”RIN!!!” teriak Hyunjin, dia segera turun dari motor dan berlari, dia sedikit melirik kearah sipemilik mobil ketika melewati mobil yang berhenti itu, mobil yang telah menlindas kembarannya.

”ANDWAE!! Rin sadarlah! Sadar!!” Hyunjin segera memeluk tubuh Rin yang sangat parah keadaannya. Donghae segera melemparkan dengan asal-asalan motornya dan segera berlari menuju kedua adiknya.

”Andwae Rin. Lee Hyunrin sadarlah!” Donghae menatap tubuh adiknya itu.

”Oppa! Telpon ambulans sekarang!” perintah Hyunjin. Donghae segera merogoh sakunya dan mengambil ponsel, kemudian menelpon ambulans.

Setelah itu, dia menghampiri Hyukjae. Mengangkat motor yang menimpa Hyukjae. Dan ternyata Hyukjae juga sudah tak sadarkan diri.

”Rin! Kumohon jangan pergi!! Rin!!” Hyunjin memeluk tubuh Hyunrin yang sudah tak bernyawa itu. Dia mati ditempat, tanpa mengucapkan salam perpisahan.

”ANDWAE!!!”

Hyukjae POV

Motorku oleng karena Hyunrin yang tertarik dan terlempar ketengan jalan. Aku tak bisa mengendalikan motorku dan juga ikut terjatuh. Aku tak bisa bergerak karena kakiku yang tertimpa motor.

”Rin-ah!” panggilku pada Hyunrin yang sudah tak sadarkan diri. Dan saat yang bersamaan sebuah mobil yang melaju kencang melindas tubuh Rin yang tak bisa berbuat apa-apa itu. Aku rasa tulang tengkoraknya sudah pecah, karena bagian kepalanyalah yang terlindas.

”ANDWAE!! RIN!!!!!!!!!!!” teriakku. ”Andwae! Andwae!” aku berusaha melepaskan diriku dari motor ini. Tapi, karena darah yang terus mengucur dari kaki dan kepalaku, aku menjadi merasa pusing dan akhirnya semua gelap. Untuk terkahir kalinya aku melihat Hyunrin, dalam keadaan yang sangat menggenaskan seperti ini.

Hyukjae POV end

Flashback end

####

END

Author said: hahaha,,mian endingnya gaje. Udh mumet kepala gimana cara masukin yeoboku. Dan akhirnya kepikiran caranya kek gitu…hahahaha

KOMENT YA!!! DON’T BE SILENT READERS PLEASE!!!

Gallery
19

Love from Heaven

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Love from Heaven

****

Aku berdiri di depan danau ini, danau favorit kami. Baru beberapa menit yang lalu dia pergi dari sini. Tapi, dadaku rasanya sesak. Kenapa kau melakukan itu? Ini terlalu menyakitkan. Tak kuasa rasanya aku menahan air mata ini, dan saat ini juga aku menjadi laki-laki terlemah sedunia.

”HWAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriakanku masih belum cukup untuk mengobati rasa sakit yang kau tanam didiriku. Aku terlalu mencintaimu, sampai-sampai aku tak bisa membiarkan kau memilih bersamanya. Bersama laki-laki yang kau anggap paling mencintaimu itu. Kau tidak tau kalau aku disini sangat, sangat, sangat mencintaimu.

Aku tidak peduli jika semua orang memandangiku sekarang, memandangiku yang sedang menangis, menangisimu.

***

”Joon-ah, kenapa kau hujan-hujanan seperti ini?” tanya Eomma saat aku menginjakkan kakiku dirumah.

”Anio” jawabku lemah, dan melanjutkan melangkahkan kakiku kekamarku.

”Cepat mandi, keringkan tubuhmu. Nanti kau sakit” pesan Seungho hyung.

”Aku sudah terlanjut sakit hyung” jawabku, senyum menyakitkan terukir dibibirku.

”Apa maksudmu?” tanyanya lagi. Aku hanya menggelengkan kepalaku, dan masuk kekamarku.

Dikamar ini, dipenuhi dengan fotonya bersamaku. Foto disaat kami masih bersama. Baru satu jam yang lalu dia memutuskanku, rasanya masih sangat terasa.

”Jagiya, kau mau menikah denganku?” tanyaku padanya. Dia menganggukkan kepalanya dengan sedikit malu-malu. Mendengar jawabannya, aku langsung memeluknya dan mengecup puncak kepalanya.

Itu adalah kejadian waktu aku melamarnya, seminggu yang lalu. Setelah itu kami segera menyiapkan pernikahan. Ya, kami sudah memesan gedung,  sudah memilih gaun pengantin, bahkan aku sudah memilih cincin yang sebenarnya akan kuberikan padanya tadi…tapi~

”Joon-ah, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Aku lebih nyaman berada bersamanya” katanya sambil merangkul namja yang ada disampingnya itu. Sama sekali tidak ada rasa bersalah diwajahnya. Aku hanya bisa menatap nanar kepergiannya. Sungguh sangat sakit.

”Joon-ah” terdengar panggilan Seungho hyung dari luar. Sekarang aku sedang dikamar mandi. Aku tidak tau apa yang aku lakukan sekarang, pikiranku hanya tertuju padanya. Setelah beberapa saat aku sudah tak melihat apapun, semuanya gelap.

***

Author POV

Seungho sedikit kaget melihat kamar Joon yang kosong. ”Apa mungkin dia dikamar mandi??” tanyanya. Seungho menempelkan telinganya di pintu kamar mandi, tapi tak ada suara apapun. ”ANDWAE!” Seungho langsung mendobrak pintu dengan keras.

”Joon-ah!” teriaknya panik saat melihat Joon yang tergeletak lemah dilantai kamar mandi. Dengan segera Seungho mengangkat Joon ke tempat tidur. Mengeringkan badan Joon dengan handuk.

”Astaga! Badannya panas sekali!” Seungho mulai panik, karena wajah Joon yang sangat pucat. ”EOMMA!!” teriaknya memanggil Eommanya.

”Wae?” tanya Eommanya saat sampai didepan kamar Joon.

”Sepertinya dia demam” jawab Seungho. Dengan cepat Eomma langsung memeriksa keadaan anak keduanya itu.

***

Pagi sudah tiba, tapi Joon masih belum sadar dari pingsannya. Seungho dengan setia merawatnya. ”Dongsaeng-ah, waeguraeyo?? Kenapa kau bisa seperti ini?” pertanyaan itu selalu terngiang dikepala Seungho. Dia tidak pernah melihat Joon selemah ini.

”Sebaiknya aku menghubungi calonnya itu” Seungho merogoh koceknya, tapi saat akan menekan tombol hijau di keypadnya sebuah tangan yang hangat menahannya.

”Andwae hyung” tahan Joon lemah. ”Aku tidak boleh mengganggu kebahagiaannya” lanjutnya lagi.

”Wae? Ada apa sebenarnya denganmu?” ceritakan padaku.

”Dia membatalkan pernikahan kami. Jadi aku tidak akan mengganggunya mulai sekarang” Joon kembali menitikkan air matanya.

”Mwo? Hah, bangkitlah kembali. Cepat sembuh, aku akan mengambil sarapanmu dulu” Seungho langsung mengusap rambut dongsaengnya itu, kemudian keluar kamar menuju dapur, dimana Eommanya sedang menyiapkan sarapan.

Joon mengalihkan pandangannya ke meja yang ada disamping tempat tidurnya. Fotonya bersama mantannya itu. Dengan lemah Joon menjatuhkan foto itu. ”Aku harap bisa melupakanmu” senyum lemah terukir dibibirnya. Dan dia membenamkan kepalanya dibantal, menangis kembali.

***

Seungho sedikit kaget saat melihat seseorang yang asing sedang membantu Eommanya memasak. Seorang yeoja cantik yang sedang memasak dengan senyum yang selalu merekah dibibirnya.

”Eomma! Joon sudah sadar” lapor Seungho pada Eommanya.
”Baguslah, sekarang cepat kau sarapan. Semalaman kau tidak tidurkan?” Eomma memberikan semangkuk sup pada Seungho.

”Bagaimana dengan Joon?” tanya Seungho lagi.

”Ah, biar Hyunjin yang mengantarkan sarapannya” jawab Eommanya sambil mendelik ke yeoja itu.

”Nuguya?” tanya Seungho.

”Dia datang dari Daegu, ingin menginap disini beberapa hari sambil menunggu apartemennya yang baru untuk diperbaiki. Jadi dia akan tinggal disini bersama kita beberapa hari” Seungho menganggukkan kepalanya. ”Hyunjin-ah, kau bawakan sarapannya ini untuk Joon ya. Dia ada dikamarnya, sedang sakit” perintah Eomma. Hyunjin segera menganggukkan kepalanya dan membawa sarapan itu untuk Joon.

”Oh iya, keadaannya sangat parah. Tolong bantu dia ya” pesan Seungho.

”Memangnya dia kenapa?” tanya Hyunjin.

”Calon istrinya meninggalkannya” jawaban Seunghomembuat Eomma terbelalak.

”Mwo? Bagaimana bisa. Dasar yeoja tak berperasaan!!” Eomma langsung tak terkendali emosinya.

”Ahjumma tenanglah” Hyunjin menenangkan Eomma. ”Aku mengantarkan sarapan ini dulu” Hyunjin segera berjalan menuju kamar Joon.

***

”Pemisi, aku membawa sarapan untukmu” Hyunjin meletakkan sarapan Joon di meja kecil yang ada disamping tempat tidur. ”Hmm, apa ini?” Hyunjin mengambil bingkai foto yang sudah pecah dilantai. Dan saat melihat apa foto itu Hyunjin langsung tersenyum kemudian membuang ketempat sampah bingkai foto itu. Kemudian berjalan mengelilingi kamar Joon.

Joon memperhatikan gerak gerik yeoja yang tak dikenalnya itu dengan sedikit bingung. Tapi setelah mengetahui apa maksud dari Hyunjin, amarahnya memuncak. ”Yak! Neo micheo!!” marahnya langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri Hyunjin yang sedang melepaskan tempelan beberapa foto yang tertempel didinding itu. ”YAK!!” Joon semakin marah karena Hyunjin tidak mendengarkannya. ”Hentikan!” dalam sekali sentakan Hyunjin menghentikan tingkahnya.

”Wae??” tanya Hyunjin tanpa dosa. Membuat Joon memiringkan wajahnya, bingung.

”Nugu?” tanya Joon, ”siapa kau, micheo yeoja?!” tambahnya lagi.

”Mwo? Micheo yeoja?? Gurae, naega Hyunjininyeyo. Neo Joon?” Hyunjin malah menundukkan kepalanya formal.

”Ne, kenapa kau bisa ada disini, dikamarku?” Joon masih kesal.

”Ah ye, tadi Ahjumma menyuruhku untuk mengantarkan sarapan untukmu. Karena Seungho oppa harus istirahat setelah menjagamu semalaman tanpa tidur sedikit pun. Karena pekerjaanku sudah selesai jadi aku yang mengantarkan sarapanmu. Seungho oppa juga bilang kalau sakitmu sangat parah, jadi aku membawakan obat untukmu…”

”Stop!!” teriak Joon pada Hyunjin. ”Apa kau tidak kehabisan nafas berbicara sepanjang itu?? Kau bisa membuat kupingku pecah! OMO, kepalaku pusing lagi” Joon memegang kepalanya dan sedikit meringis.

Hyunjin langsung memapah Joon untuk rebahan di tempat tidurnya. ”Tuh kan, harusnya kau tidak marah-marah. Itu akan membuat sakitmu tambah parah..” Hyunjin kembali berbicara panjang lebar membuat Joon sedikit bising.

”Berhentilah mengoceh micheo!” Hyunjin kaget dan dia hanya bisa nyengir lebar. ”Aishh, dasar!” Joon memejamkan matanya.

”Hehe..mianhae. Sebaiknya kau makan dulu sarapanmu. Setelah itu minum obatmu..hmm” Hyunjin menyodorkan mangkuk yang berisi bubur kepada Joon sambil tersenyum riang. Sambil menghela nafas Joon mengambil mangkuk itu dan memakan bubur yang ada didalamnya.

Acara sarapannya sedikit terganggu karena Hyunjin yang menatapnya dari tadi. ”Kenapa kau masih disini?” tanya Joon akhirnya.

”Ne? Ahh..aku harus memastikan kau meminum obatmu. Sebagai calon perawat aku harus merawat pasienku dengan sungguh-sungguh. Kau pasien pertamaku loh” Hyunjin tersenyum bangga.

”Yak! Aku bukan anak kecil. Dasar kau ini! Dengan ocehanmu itu, kau bukan membuatku sembuh, tapi malah membuatku MATI” Joon menekankan kata ’mati’ pada perkataannya, dan itu berhasil membuat Hyunjin berhenti tersenyum.

”mati??” katanya pelan raut wajahnya berubah. ”Kau boleh mengatakan apapun, tapi…” Hyunjin terlihat seperti orang lain, ”tapi, tolong jangan mengatakan kata ’itu’ padaku” permintaan itu membuat Joon sedikit bingung. ’Ada apa dengan yeoja ini?’ batin Joon.

”Yak! Kenapa melamun! Habiskan sarapanmu, setelah itu kau minum obatnya. Aku akan tetap disini memastikan kau menghabiskan dan meminum obatmu” senyum kembali hadir dibibir yeoja cantik itu.

”Hah, iya, iya..daripada kau mengoceh terus” Joon menyerah.

***

Keesokan harinya, Joon sudah sembuh dari demamnya karena ’perawatan’ yang diberikan oleh Hyunjin. Dia bertekad untuk cepat sembuh daripada harus mendengar ocehan dari Hyunjin.

”Seungho oppa! Antarkan aku ke toko buku yuk!” ajak Hyunjin pada Seungho yang sedang main PS.

”Shireo~, ajak saja Mir” Seungho malah menunjuk Mir yang sedang menghapalkan rumus-rumus yang ada dibukunya. Maklum, mahasiswa jurusan teknik memang haru menghapalkan beberapa rumus untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pengerjaan tugasnya.

Hyunjin menghampiri Mir dan bertopang dagu dihadapan Mir. ”Noona, apa yang kau lakukan?” tanya Mir merasa terganggu. Kemudian Hyunjin memaerkan giginya yang putih.

”Temenin ke toko buku yuk!” ajaknya. Mir kelihatan sedikit berpikir.

”Toko buku? YUK! Kebetulan aku ada yang ingin dibeli juga” Mir berdiri dari duduknya dan menarik tangan Hyunjin.

Mereka pergi ke toko buku dengan berjalan kaki, menurut Hyunjin berjalan adalah cara olahraga yang paling ringan. ”Hey, kenapa sifat kalian bertiga berbeda satu sama lain, padahal kalian saudara?” tanya Hyunjin pada Mir.

”Molla, Seungho hyung lebih asik dibandingkan Joon hyung. Tapi mereka berdua sangat baik padaku” jawab Mir. Hyunjin menganggukkan kepalanya.

”Enak sekali jika mempunyai saudara. Jika kau sakit, maka pasti ada yang menjagamu jika orang tuamu tidak ada” Hyunjin tersenyum simpul.

”Memangnya noona tidak mempunyai saudara?” tanya Mir, Hyunjin menggelengkan kepalanya.

”Aku tidak mempunyai saudara. Dan orang tuaku juga sudah tidak ada” jawab Hyunjin riang. Membuat Mir menatapnya bingung, dan kemudian tersenyum.

”Noona, kau orang yang asik. Dan juga sedikit aneh” perkataan Mir hanya membuat Hyunjin tersenyum.

”Jeongmalyo? Kalau begitu kau juga aneh” balas Hyunjin.

”Mwo? Kenapa bisa seperti itu?” Mir tidak terima.

”Karena kau bilang aku aneh”

”Alasan seperti apa itu?”

”Molla~~” Hyunjin menutup kedua telinganya takut dimarahi oleh Mir.

”Noona” panggil Mir pelan. Membuat Hyunjin menurunkan tangannya. ”Apa Noona menyukai Joon hyung??” tanya Mir serius.

”Aniyo” jawab Hyunjin tenang.

”Jinja? Padahal aku berharap Noona bisa menjadi Noonaku sesungguhnya” Mir terlihat kecewa.

”Kenapa harus Joon?” tanya Hyunjin lagi.

”Apa maksud noona, noona menyukai Seungho hyung?” Mir kembali antusias.

”Tidak” Hyunjin menggelengkan kepalanya, membuay Mir kembali menundukkan kepalanya. ”Aku tidak menyukai siapapun” jawab Hyunjin lebih tegas.

”Apa Noona sudah mempunyai orang yang disukai?” tanya Mir lagi.

”Untuk sekarang aku lebih menyukai diriku sendiri, aku ingin tetap ada disini. Tidak ingin pergi” Hyunjin menjawab sambil melihat kelangit, dan menepuk dadanya sendiri sambil tersenyum. Mir yang melihat itu sama sekali tidak mengerti maksud tersirat dari Hyunjin.

”Aku hanya berharap noona menjadi noonaku seutuhnya” kemudian mereka masuk ke toko buku dan memilih beberapa buku yang ingin mereka beli.

***

”Joon-ah! Ayo kita kumpul. Sudah lama tidak berkumpul bersama” sahut seseorang diseberang telpon. Joon menatap wajahnya dicermin.

”Ya, sepertinya aku memang harus merefreshingkan pikiranku. Ketemu dimana?” tanya Joon.

”Hmm..bagaimana kalau di restoran milikku. Dara noona akan menyiapkan menu spesial hari ini” Joon menganggukkan kepalanya.

”Baiklah, kita bertemu disana” telpon terputus, Joon langsung mengambil jaketnya dan kunci motor.

”Apa tadi Cheondung yang menghubungimu?” tanya Eomma yang berdiri di depan pintu kamar Joon.

”Ne, dia mengajak untuk bertemu” jawab Joon.

”Apa kau ingin keluar? Malam ini?” tiba-tiba saja Hyunjin ikut-ikut bertanya.

”Aishh, micheo yeoja. Tolong jangan campuri urusanku. Aku sudah sembuh dan tidak perlu perawatanmu yang mengerikan itu” Joon sewot.

“Aku boleh ikut??” Tanya Hyunjin tanpa mengindahkan omelan Joon. ”Boleh ya, jebaa~~ll. Sudah lama aku tidak merasakan keluar malam” Hyunjin memohon.

”Shireo!” tolak Joon.

”Joon-ah, jebaa~~llllllll” Hyunjin menarik-narik baju Joon, memohon seperti anak kecil.

”Joon-ah, bawa saja” suruh Seungho.

”Tapi, hyung~~”

”Sudahlah hyung, kasihan noona sudah seperti anak kecil seperti itu” tambah Mir.

”Yak, kau anak kecil. Kenapa ikut-ikutan?” Joon menepak kepala Mir dengan buku milik Mir yang sedikit tebal.

”Hyung, kau membuatku pusing” Mir mengusap-usap kepalanya.

”Ini, pakailah. Sekarang kalian pergi saja. Kasihan Dara yang sudah masak enak untuk kalian” Eomma memberikan jaket kepada Hyunjin, yang secara tidak langsung menyuruh Joon untuk membawa Hyunjin juga.

”Eomma~~” Joon masih bersikeras. Tapi apa boleh buat, semua orang lebih mendukung Hyunjin. ”Baiklah, ayo!” Joon menarik tangan Hyunjin agar cepat masuk kedalam mobil.

***

Mereka sudah ada disebuah restoran. Hyunjin langsung menghampiri jendela yang langsung menghadap ke Sungai Han. ”Wah~~~” kagumnya.

”Noona, apa Cheondung sudah datang?” tanya Joon pada yeoja yang ada di pantry.

”Ah, Joon-ah. Belum, tunggu saja di balkon. Aku akan menyiapkan makanan untuk kalian. Apa kau membawa teman?” tanya Dara.

”Ne” jawab Joon, kemudian dia berjalan menghampiri Hyunjin yang masih terkagum dengan keindahan suasana malam kota Seoul.

”Apa yang kau lakukan?” tanya Joon membuat Hyunjin berhenti terkagum.

”Anio, aku hanya merindukan pemandangan ini. Sudang sangat lama aku tidak melihat yang seperti ini” jawab Hyunjin.

”Baru 2 hari aku mengenalmu, kau sudah membuatku pusing” Joon menggelengkan kepalanya. ”Ayo ikut aku, disana kau akan melihat dengan lebih jelas” Joon menunjuk balkon restoran itu. Hyunjin langsung tersenyum melihatnya.

”Joon-ah, ini tempat VIP. Apa kau membawa banyak uang?” Tanya Hyunjin.

“Yang mengajakku bertemu pemilik restoran ini. Dan kami sudah kenal sejak restoran ini belum dibangun” jelas Joon langsung duduk di kursi. Setelah mendengar penjelasan Joon, Hyunjin langsung berlari dengan riang ke tepi balkon.

”WHOA~~!!!!” teriaknya kagum.

”Yak! Micheo! Memalukan!” marah Joon sama sekali tidak digubris oleh Hyunjin.

”Sudah lama menunggu??” tanya seorang namja ganteng menghampiri Joon.

”Anio, baru beberapa menit yang lalu” jawab Joon. Cheondung mengalihkan perhatiannya pada Hyunjin.

”Yeochin??” tanyanya meminta penjelasan tentang keberadaan Hyunjin.

”NE!!” ”Aniyo” jawab Joon dan Hyunjin berbarengan. Joon menatap kesal Hyunjin, tapi yeoja itu hanya tersenyum dan berjalan menghampiri kedua namja itu.

Cheondung kelihatan bingung dengan jawaban kedua orang itu. “Yang mana yang benar?” tanyanya.

Dengan cepat Hyunjin menggandeng tangan Joon. ”Ya, aku yeojachingu-nya” kata Hyunjin cepat sebelum Joon menjawab.

”Yak! Apa maksudmu?” marah Joon.

”Wae? Kau kenapa jagi? Apa kau sakit lagi?” tanya Hyunjin tanpa dosa.

”Kau yang sakit, micheo!” Joon tampak kesal sekali.

”Haha..pasangan yang serasi. Dia lebih baik dibanding yang dulu. Kalian lebih cocok” sahut Dara sambil membawa nampan yang berisi makanan. Cheondung langsung membantu Dara membawakan nampan itu.

”Kuharap kalian langgeng” pesan Dara. Joon hanya tersenyum miris, sementara Hyunjin terdiam kemudian tersenyum.

”Yeoja aneh” bisik Joon.

***

Setelah makan malam, Joon, Cheondung, dan Dara mengobrol dengan asik. Sementara Hyunjin masih asik memperhatikan pemandangan bintang yang bertaburan dilangit.

”Aku ingin tetap disini. Aku tidak ingin menjadi bagian diantara kalian” gumamnya. Joon sedikit terheran dengan gumaman Hyunjin itu. Kemudian dia kembali mengobrol lagi.

Setelah melewati beberapa jam, Joon melirik ke arah Hyunjin yang sedang tertidur di kursi santai yang disediakan memang untuk bersantai. Joon sedikit tersenyum melihat tingkah yeoja itu. Dia kelihatan lebih tenang saat tidur, tidak seperti waktu ia sadar, sangat hiperaktif.

”Joon-ah, sepertinya kau harus pulang. Kasihan yeojamu sampai tertidur seperti itu” saran Dara.

”Iya, lagian ini sudah pukul 11 malam. Dia pasti sudah kelelahan” tambah Cheondung.

”Hmm, kalian benar. Nanti Eomma memarahiku jika kami pulang terlalu malam” Joon berdiri dari duduknya.

”Kami pulang dulu” Joon berjalan mendekati Hyunjin, dan menggendongnya secara perlahan agar Hyunjin tidak terbangun. Kemudian dia keluar dari restoran dan dengan pelan dan hati-hati saat memasukkan Hyunjin ke mobil. Tak berapa lama mobil itu melaju di jalanan kota Seoul.

”Noona, yeoja yang bernama Hyunjin itu sangat menggemaskan. Noona lihat kan saat Joon memperhatikannya tadi saat kita mengobrol?” tanya Cheondung.

”Ya, kau benar. Aku rasa Joon akan tertarik padanya. Mereka sangat cocok, dibandingkan yeoja yang dulu yang tidak mempunyai perasaan itu. Hyunjin jauh lebih baik” jawab Dara.

”Komentarmu terlalu panjang” Cheondung langsung lari masuk kedalam restoran menghindari pukulan dari Dara.

”Yak! Cheondung babo!!!”

”Noona memang sudah cocok dipanggil Ahjumma. Sebentar lagi noona akan dipanggil Ahjumma” Cheondung langsung masuk keruangannya, dia mengambil barang-barangnya kemudian keluar.

”Apa katamu tadi??” tanya Dara dengan wajah menyeramkannya. Cheondung nyengir lebar.

”Tidak apa-apa. Noona aku pulang dulu, Eunmin menungguku dengan calon anakku. Malam~~~ Ahjumma!!!” Cheondung langsung lari dan masuk kedalam mobilnya dan melesat pergi.

”Cheondung BABO!!!!!!!!!!!” teriak Dara keras.

”Waw! Teriakanmu dahsyat” seorang namja beridiri didepan pintu restoran sambil menutup kedua telinganya.

”GD?!!” kaget Dara*gue ga’ rela!!!!!!*author frustasi*.

***

Joon terus melirik kearah Hyunjin yang tertidur. “Kalau tidur seperti ini dia lebih menenangkan” kata Joon. Tiba-tiba Hyunjin mengerjapkan matanya.

”Ngghh…” dia menggeliat, Joon berusaha menghilangkan kekagumannya yang sempat menghampiri dirinya itu.

Hyunjin melihat kesekeliling, kemudian matanya terbelalak ketika melihat sebuah bangunan yang ada diseberang jalan. ”STOP!!” teriaknya tiba-tiba, membuat Joon mengerem mendadak.

”YAK!! Neo micheo? Untung saja jalanan sudah sepi” omel Joon.

”Mianhae, aku ingin mampir kesana. Bolehkah??” pinta Hyunjin menunjuk gedung itu.

”Baiklah” Joon segera memarkirkan mobilnya dan mengikuti Hyunjin masuk kedalam gedung itu.

”Ini adalah apartementku, aku ingin melihat dekornya dulu” Hyunjin segera menaiki tangga. Joon memberi salam kepada satpam yang sedang berjaga malam itu.

”Anda siapa?” tanya satpam itu.

”Aku hanya ingin menemani yeoja itu melihat apartementnya” jawab Joon, satpam itu mengerutkan keningnya, bingung. Tak lama kemudian dia tersenyum.

”Silahkan” Joon membungkukkan kepalanya dan menyusul Hyunjin.

”Waahh~” kagum Hyunjin. ”Ini bagus sekali” gumamnya melihat apartement yang dinuansai warna biru itu. Joon tersenyum melihat tingkah Hyunjin yang sedang mengelilingi dengan semangat apartementnya itu.

”Bagaimana menurutmu? Bagus kan??” Hyunjin menanyakan pendapat Joon.

”Yah, seleramu tidak buruk” jawab Joon.

”Aku ingin tinggal disini bersama orang yang akan menjadi pendamping hidupku. Aku harap itu bukan hanya angan-angan. Aku ingin mewujudkan hal itu” Hyunjin mengambil sebuah foto yang ada dimeja. ”Sebenarnya aku juga ingin bersama mereka, tapi~ aku masih ingin menemui belahan jiwaku” Hyunjin tersenyum seperti biasanya. Tiba-tiba ponsel Joon berbunyi menandakan ada telpon masuk.

”Yoboseyo Mir-ah?” sambut Joon.

“Hyung, cepat pulang. Eomma sudah mengomel tidak jelas” Mir kelihatan kesal sekali.

“Ne, ne..kami sedang mampir diapartement Hyunjin. Sebentar lagi akan pulang” sambungan terputus. Dan mereka akhirnya pulang karena memang sudah sangat malam.

***

Hari-hari dilalui oleh Joon bersama Hyunjin. Hyunjin berhasil membuat Joon melupakan rasa sakitnya. Dan ada sesuatu yang membuat jantung Joon berdetak dengan kencang saat dia bersama Hyunjin. Saat ini, Joon, Seungho, Mir, serta Hyunjin sedang jalan-jalan di pertokoan yang menjual banyak macam barang dan makanan.

Karena terlalu lelah, mereka memutskan untuk istirahat disebuah bangku taman.

”Aku ingin beli es krim. Kalian tunggu disini ya” Hyunjin langsung berlari kekedai yang menjual eskrim. Dia membeli es krim corn yang sangat dirindukannya. ”Hmm..lama sekali tidak memakan es krim ini” kemudian dia kembali menghampiri ketiga namja itu.

”Ini” Hyunjin memberikan es krim ke Seungho dan Mir, Joon mengernyitkan keningnya.

”Mana untukku?” tanyanya.

”Eobsho” jawab Hyunjin sambil nyengir.

”Aisshh, tega sekali kau ini” Joon menghela napasnya. Hyunjin duduk disamping Joon, sangat dekat membuat detak jantung Joon berdetak lebih cepat.

”Bagaimana kalau kita bagi dua?” goda Hyunjin. Hal itu membuat wajah Joon memerah.

“Mm…mwo?” tanyanya berusaha tetap tenang.

“Hahahahahaha….ini, aku hanya mengerjaimu saja. Cepat makan!” Hyunjin memberikan es krim kepada Joon.

Suara tawa terdengar dari Seungho dan Mir. ”Kau sungguh lucu” komentar Seungho.

”Kau jangan ikutan!” ancam Joon pada Mir, yang membuat Mir mengurungkan niatnya untuk mencela hyungnya itu.

Mereka menghabiskan waktu sore itu dengan suka ria. Ya, Joon merasakan hal itu. Tidak dipungkirinya lagi. Dia memang mencintai yeoja yang sempat dibencinya itu.

”Hyunjin-ah, saranghae~” bisiknya dalam hati.

***

”Eomma!!Noona tidak ada dikamarnya!” teriak Mir panik, saat dia ingin mengajak Hyunjin untuk sarapan.

”MWO? Kemana dia pagi-pagi begini?” Eomma ikutan panik.

”Ada apa?” tanya Joon dan Seungho barengan.

”Noona, dia tidak ada” Mir sudah ingin menitikkan air matanya. Seungho menenangkannya.

Terdengar suara bel dari luar, ”Mungkin itu Hyunjin” kata Seungho, dengan cepat Joon berlari kearah pintu untuk membukanya.

”Hyu….” kalimatnya terputus saat melihat orang yang ada dihadapannya bukan Hyunjin. ”Kau siapa?” tanya Joon pada namja asing yang ada dihadapannya itu.

”Apa Hyunjin tinggal disini sebelumnya?” tanya namja itu. Joon menganggukkan kepalanya.

”Aku GO, aku harus meluruskan masalah yang telah ditimbulkan oleh Hyunjin” kata namja itu.

”Dimana Hyunjin?” tanya Seungho yang ada dibelakang Joon.

”Kau tau dimana Hyunjin??” tanya Joon tanpa menghiraukan pertanyaan Seungho. GO menggelengkan kepalanya.

”Tapi aku membawa berita tentangnya” jawab GO.

***

”Aku tau kalian tidak akan percaya dengan apa yang akan kusampaikan” GO memulai.

”Apa maksudmu?” tanya Eomma.

”Kalian pasti tidak percaya kalau aku bilang, aku adalah seorang malaikat?” GO tersenyum.

”Malaikat??” kaget Seungho dan Mir.

”Ya, Hyunjin adalah salah satu penghuni duniaku. Jadi, selama ini dia hanyalah sebatas ilusi. Dia hanya roh yang sedang gentayangan. Joesonghamnida, sudah waktunya dia untuk kembali. Dia meminta kami untuk mengizinkannya untuk masuk kekehidupan kalian. Alasannya adalah kau” GO menunjuk Joon.

”Aku?” tanya Joon menunjuk dirinya sendiri.

”Ya, dia tidak ingin melihat orang-orang itu sedih. Tapi aku sedikit kaget saat dia meminta hal itu. Hal yang sebenarnya sangat mustahil. Jadi, maafkan atas kelancangan kami” GO langsung keluar rumah, dan dalam hitungan detik sosok itu menghilang. Keempat orang itu kelihatan berpikir.

”Eomma” Mir menitikkan air matanya, saat melihat sebuah album foto yang ada dipangkuannya. ”Dimana noona??” tanyanya sambil  menangis. Joon langsung menghampiri Mir dan melihat foto yang sedang dilihat Mir. Foto yang mereka ambil saat mereka jalan-jalan kemarin. Sebenarnya foto itu terdapat gambar mereka berempat, tapi sekarang hanya ada tiga. Gambar Hyunjin menghilang.

”NOONA!!!!” teriak Mir. Seungho dan Eomma memeluk Mir yang sangat sedih itu. Sementara Joon, dia langsung mengambil kunci mobilnya dan melesat melalui jalanan kota Seoul dan berhenti didepan sebuah apartement mewah, apartement milik Hyunjin.

”Ah, Anda datang lagi” sambut satpam yang waktu itu ramah. Joon menundukkan sedikit kepalanya kemudian berlari menuju apartement bernomor 7 itu. Saat melihat keadaan apartement itu, Joon tidak kuasa menahan air matanya lagi. Hanya ada apartement kosong tanpa perabotan yang seperti dia kunjungi waktu pertama kali itu. Dinding yang tidak bercat. Tidak ada apapun disana. ”Andwae, tidak mungkin. HYUNJIN-AH!!!!!!!!” teriak Joon frustasi.

”Maaf Tuan, Anda tidak apa-apa??” tanya satpam itu khawatir.

”Kau lihat yeoja yang waktu itu bersamaku kan, kau lihat kan. Dia ada bersamaku!!” Joon menarik kerah seragam satpam itu. Tapi, satpam itu menggelengkan kepalanya.

”Anda datang sendiri waktu itu” jawab satpam itu.

”Mwo? Kenapa Cheondung dan Dara bisa melihatnya??” Joon sudah pusing memikirkannya. Dia mengharapkan yeoja itu kembali, yeoja yang dicintainya itu.

”Apa Anda membicarakan pemilik apartement ini? Nona Hyunjin?” tanya satpam itu. Joon membelalakkan matanya.

”Kau mengenalnya?” tanya Joon. Satpam itu menganggukkan kepalanya.

***

”Nona Hyunjin adalah orang yang sangat ramah, kami semua sangat mengenalnya. Dia memesan kamar itu 3 bulan yang lalu. Seharusnya dia akan mendekorasi apartementnya seminggu yang lalu” satpam itu memulai ceritanya.

”Itu saat dia tinggal dirumahku” gumam Joon.

”Tapi, kami mendapat kabar kalau Nona Hyunjin menunda kepindahannya karena dia, dan kedua orang tuanya mengalami kecelakaan yang sangat parah. Setelah itu kami belum mendengar kabarnya lagi” satpam itu menyelesaikan ceritanya.

”Aku ingin tetap disini. Aku tidak ingin menjadi bagian diantara kalian” kalimat yang dilontarkan Hyunjin malam itu terngiang kembali di ingatan Joon. “Jadi ini maksudnya” Joon baru mengerti.

”Ini” satpam itu memberikan sebuah koran pada Joon. ”Ini adalah berita kecelakaan itu” .

Didalam berita itu ditunjukkan sebuah gambar mobil yang terbalik. ”Tidak mungkin” Joon menitikkan air matanya lagi.

***

”GO oppa, apa kalian akan menghukumku?” tanya Hyunjin pada GO.

”Ne, sekarang juga kau pergi ke pintu sana” GO menunjuk sebuah pintu yang ada disamping kanannya.

”Lakukanlah yang ada dipikiranmu. Gunakan perasaanmu, jangan gunakan ingatanmu. Itu akan membuatmu sakit” pesan GO sebelum Hyunjin menghilang dari hadapannya.

Hyunjin melewati lorong, dilorong itu banyak sekali orang yang menggunakan baju berwarna putih. Dan mata Hyunjin menangkap 2 orang yang sangat dikenalnya. ”Eomma, Appa~” panggilnya lirih. Kedua orang itu tersenyum kearah Hyunjin dan mengibaskan tangannya, seolah-olah menyuruh Hyunjin untuk pergi. Hyunjin hanya tersenyum, melihat kedua orang tuanya bahagia. Dan dengan yakin ia melangkah keluar dari lorong itu.

***

Beberapa selang masih terpasang di tubuh Hyunjin. Nafas yeoja itu masih tersengal-sengal. Dan sedikit demi sedikit matanya bergerak membuka. ”Ngghhh….” desahnya.

”Dokter! Dia sadar!!” teriak suster sambil memanggil dokter yang ada diruangannya.

Dan dengan cepat dokter itu menangani Hyunjin.

”Syukurlah, dia sudah baikan. Cepat pindahkan dia dikamar biasa” perintah dokter langsung diikuti.

***

Mir sedang berjalan melewati kampus jurusan keperawatan, karena harus menemui dosennya yang sedang menghadiri rapat yang diselenggarakan di situ.

”Aisshhh..lama banget sih” gumamnya bosan.

”Hey, kau ini! Kenapa ada disini??” tanya Seungho yang merupakan dosen di jurusan kedokteran.

”Hyung? Anio, aku menunggu dosen yang sedang rapat disini” jawab Mir. Seungho mengangguk-anggukkan kepalanya.

Tak jauh dari sana ada seorang namja sedang berlari panik menelusuri koridor kampus. ”aisshhh dimana Seungho hyung?” gumamnya panik.

Dan disisi yang lain sedang berjalan seorang yeoja dengan tumpukan buku-buku tebal ditangannya. ”Duh, berat….”

Dan tepat dihadapan Seungho dan Mir yang sedang duduk, kedua orang itu bertabrakan.

”AH!!!!” teriak Joon.

”Ah, mianhae. Aku tidak melihat tadi” yeoja itu menundukkan kepalanya meminta maaf.

Kemudian dia membereskan buku-bukunya yang berserakan itu. Sementara Joon memandangnya dengan tidak percaya.

”Hyu..Hyunjin??” tanyanya memastikan. Yeoja itu menengadahkan kepalanya meunjukkkan dengan jelas wajah cantiknya. ”ternyata benar kau Hyunjin!!” Joon langsung memeluk Hyunjin.

”Joon-ah, kau tidak apa-apa?” tanya Seungho, dibelakangnya ada Mir yang sedang menahan tawa melihat hyungnya itu. Tapi, tawanya berhenti saat melihat wajah yeoja yang dipeluk Joon.

”NOONA!!!!” teriaknya dan ikut memeluk Hyunjin.

”Hyunjin??” tanya Seungho.

”Ne, sonsaengnim! Bisakah kau membantuku” Hyunjin meminta tolong pada Seungho. Tapi bukannya membantu, Seungho malah ikutan memeluk Hyunjin. ”Omo!!” Hyunjin hampir kehabisan napas. Dan dalam sekali hentakan Hyunjin berhasil bebas dari pelukan ketiga namja bertubuh besar itu.

”Hah..hah..kalian ingin membunuhku?? Aku tidak bisa bernafas tau! Sebenarnya kalian ini siapa? Kenapa bisa tau namaku, dan langsung memelukku sembarangan seperti itu. Maaf, aku bukan yeoja sembarangan” Joon malah tersenyum mendengar omelan Hyunjin.

”Ternyata benar kau Hyunjin. Kau Hyunjin kami!!!” Joon memeluknya lagi. Tapi Hyunjin tidak menolaknya, dia merasakan kehangatan saat berada dipelukan Joon.

”Maaf, apa kita pernah kenal sebelumnya. Kenapa aku seperti dekat denganmu??” tanya Hyunjin polos.

”Kau noonaku!!” teriak Mir. Hyunjin memejamkan matanya, dan ingatan itu kembali. Ingatannya selama bersama ketiga namja itu.

”Mir? Seungho oppa!!” Hyunjin tersenyum senang. ”JOON!!!” Hyunjin memeluk Joon sekali lagi.

”Joon-ah, kenapa kau datang kesini?” tanya Seungho mengingat keberadaan dongsaengnya itu.

”Ah!, Eunmin akan melahirkan!! Siapa dokter terbaik masalah kandungan disini” Joon mulai panik.

”Melahirkan??” tanya Seungho. ”Baiklah, kita panggil Yoomin sonsaengnim!” Seungho menarik tangan Joon.

”Aku bisa membantu!!” Hyunjin ikut berlari mengikuti kedua namja itu.

”Bagaimana denganku? Noona!! Aku ikut denganmu!!” Mir ikutan berlari.

***

”Hyunjin-ah, saranghae! Nawa kyoronhaejulae??” tanya Joon. Mereka sekarang sedang ada di balkon restoran milik Dara dan Cheondung. Hyunjin hanya bisa tersenyum jahil.

”Asal kau mau membuatkanku es krim corn. Aku akan menerimamu” jawab Hyunjin.

”Mwo??” Joon sedikit mengernyitka keningnya. ”Apa tidak ada persyaratan yang lain? Dasar aneh” batin Joon.

”Aku sudah menyiapkannya, kau tinggal membuatnya di pantry” Dara tiba-tiba muncul dan dia mengedipkan matanya kearah Hyunjin.

”Gumawo onni” kata Hyunjin tanpa suara.

”Baiklah! Aku akan menerima syaratmu! Aku pasti bisa!!!” Joon berjalan kearah pantry dan mulai membuat es krim corn yang pastinya sangat susah itu.

”Jagi, aku ingin jus” pinta seorang namja imut nan ganteng nan lucu*pemikiran author banget dah tu*. GD, namjachingu Dara sedang duduk sambil memainkan poselnya.

”Ne jagi, tunggu sebentar” Dara berjalan kedapur dan membuatkan jus untuk GD.

”HUAAAA!! SUSAH SEKALI!!!!!” teriak Joon frustasi. Hyunjin hanya bisa tertawa melihat penderitaan kekasihnya itu.

”Jagi, ini minumlah” Dara memberikan jus pada GD. *GD MILIK GUEE!!!!!!!!!!!!!*author ikutan frustasi sama kayak Joon*.

END

Author said : crita yang gaje, ending yg gaje…hahahaha. Nie ff terinspirasi dari mv’a MBLAQ yg Cry, aku suka bgt pas adegan si Joon hujan-hujanan..tampak seksi*diplototin umin, Joon diusir dari rumah*. Nah, terinspirasi juga dari film’ny JJ yg ‘Postman to Heaven’,,huaaa ceritanya keren bgt. Tapi mian, kalo ceritanya kurang bagus, tapi jujur saya suka ma nie cerita hahahahahahaha*ada GD,…kkkk*

Sok, jangan lupa koment. Gue tau kalo lo ada baca ff gue tapi gak koment*punya indra keenam…kkkkkkk*

Gallery
12

Coagulation *second part*

Author : Hyuniminnie a.k.a Lee Hyunjin

Title : Coagulation

Author said : HALLO HALLO^^ saya balik dengan cerita yg atu ini,,
mohon dibaca ya…tapi kalo kurang puas gebuk aja yang main*nah, bukannye elu ye yg maen di ni ep2??**ah iya,,lupa..hehe*
Please rate and koment ^^
Let’s Dance…eh salah let’s cekidot*kejedot aja sekalian thor..hehe*

Cerita sebelumnya : Si Donge dongkol ama cewek yang tiba2 aja nubruk dia,,nahh…kira2 sapa tu cewek??..baca aja dulu ya..

****

”Mianhae,,Saerin! Jangan bersikap seperti itu!” marah gadis satunya. ”Kami teman kantor Hyukjae. Dia Saerin dan aku Myunji, kami baru tau kalau Hyukjae masuk rumah sakit kemarin karena kami juga baru kembali dari pulau jeju” jelas gadis yang bernama Myunji itu.

”Hyuuukk~,,kenapa bisa seperti ini?? Bagaimana hal ini bisa terjadi??” tanya Saerin bertubi-tubi. Raut wajah Hyukjae langsung berubah. Yeongra langsung berlari kearah Hyukjae.

”Aaaarrrgghhhhh!!!! RIIIINNNNN!!!” teriak Hyukjae histeris.

”Jagi!! Tenanglah,,jangan seperti ini!!” Yeongra menenangkan Hyukjae. Donghae menahan Hyukjae yang mulai tak terkendali, Yoomin ikut membantu. Sedangkan Saerin dan Myunji hanya bisa melihat.

”RIINN!! Ini salahku!!! RIIN!! Maafkan Oppa!! RIIINNNN!!!” teriak Hyukjae tak karuan.

”Ini bukan salahmu!! Ini kecelakaan!!” teriak Yeongra.

”Yoomin-ah!! Panggil Dokter!” perintah Donghae. Yoomin langsung berlari keluar kamar dan memanggil Dokter. Tak lama kemudian Dokter pun datang dengan beberapa suster, mereka mengambil jarum suntik yang sudah diisi dengan obat penenang. Sehingga Hyukjae tertidur.

”Yeongra-ssi,,biarkan dia istirahat. Seharusnya kalian tidak usah mengingatkannya dengan kejadian itu” pesan Dokter. Yeongra menatap tajam kearah Saerin, dan dia menarik Saerin keluar rumah sakit. Yang lain langsung mengikuti, kecuali Donghae. Dia harus menjaga Hyukjae.

####

@taman rumah sakit

”PUAS KAU!!!!??” teriak Yeongra pada Saerin. ”Aku tidak peduli kau temannya atau siapa?? Yang jelas, jangan pernah datang kesini lagi!!” Yeongra terbawa emosi.

”Hah?? Memangnya kau siapa? Seenaknya saja mengaturku!”

”Kau tidak tau, dan tidak akan pernah tau akan keadaannya! Kau tidak tau penderitannya selam 2 bulan ini. Dan sekarang, kau datang dan membuat semua kacau. Dia kembali seperti ini! Dia kembali kehilangan kesadarannya!!  Dia…” Yeongra tak mampu melanjutkan kalimatnya karena tidak bisa menahan tangisnya.

”Kenapa kau sangat sedih seperti ini? Siapa kau sebenarnya? Apa hubunganmu dengan Hyukjaeku??” Saerin mendekatkan wajahnya pada Yeongra.

Dan sebuah tamparan mendarat tepat di pipi Saerin. ”Hyukjaemu?? Apa aku tidak salah dengar” si pemilik tangan menatap tajam kearah Saerin.

”Yoomin-ah~” panggil Yeongra parau.

”Kau tenang saja Yeongra-ah. Suamimu akan baik-baik saja” Yoomin mengusap punggung Yeongra.

”Suami? Jangan main-main denganku!!” teriak Saerin lagi.

‘PLAK’ sekali lagi tamparan dahsyat mendarat tepat dipipi Saerin.

“Tidak cukup sekali rupanya? Sekarang juga dengan hormat aku minta kau untuk pergi dari rumah sakit ini. Nona Myunji! Kau bisa membawa teman gilamu ini keluar?” usir Yoomin. Myunji menahan amarahnya, dan menarik Saerin yang kelihatannya masih tidak terima perlakuan Yoomin.

”Tenanglah, Hyukjae baik-baik saja” Yoomin membawa Yeongra kembali kekamar.

####

@mobil Myunji dan Saerin

”Seharusnya kau membiarkanku mencabik-cabik wanita itu” marah Saerin pada Myunji. Myunji hanya terdiam seribu bahasa.

Pikirannya hanya berpusat pada satu orang, Lee Donghae. Pewaris Lee’s Corp yang sangat terkenal.

”YAK!! Kau mendengarku tidak??” Saerin tambah emosi.

”Ya..aku..mian” Myunji kembali memfokuskan pikirannya untuk menyetir.

####

@rumah Donghae

Hyunjin POV

Aku berjalan keluar kamarku,,entah kenapa aku ingin bertemu dengan Rin saat ini. Aku sadar kalau dia sudah tidak ada, tapi aku hanya ingin selalu dekat dengannya. Saat masuk kekamarnya, air mataku langsung jatuh tak tertahankan.

Dulu sewaktu dia masih ada, aku tidak bisa bertemu dengannya jika ada Appa dan Eomma dirumah. Bahkan bertemu dengannya diluar pun akan sangat sulit. Karena ketatnya penjagaan terhadapku, ditambah lagi Rin yang memilih keluar dari rumah dan tinggal di rumah yang sudah disiapkan oleh Oppa. Aku tidak bisa semudah itu untuk keluar dari rumah. Jadi biasa Rin yang akan datang ke rumah, itu pun kalau orang tua kami tidak ada.

Flashback

”Sssstttt…sssstttt” suara itu mengalihkan perhatianku dari masakanku. Aku mengarahkan seluruh pandanganku ke sudut ruangan, tapi tak ada apapun.

”Aissshhh…Jin-ah!” teriak seseorang dari balik jendela. Omo!! Kenapa dandanannya seperti itu!..Rin??

”Cepat buka pintunya!” katanya sambil menggaruk kepalanya yang dihiasi dengan rambut yang acak-acakan. Aku membuka pintu itu dan langsung memeluknya. Sudah hampir 1 minggu aku tidak bertemu dengannya.

”Hwa~,,bogoshipta” kataku. Dia menepuk bahuku pelan.

”Haha,,sekarangkan aku sudah disini” aku menariknya masuk sebelum ketahuan para penjaga. Haha,,tidak akan masalah jika hanya housekeeper yang bertemu dengannya. Karena para housekeeper itu juga sangat menyukai Hyunrin-ku ini..haha

”Onni!!kau tidak menyisir rambutmu lagi?!” selidikku. Dia hanya nyengir dan menganggukkan kepalanya sedikit. Aku menggelengkan kepalaku, dan membongkar isi tasku. Mengambil sebuah sisir.

”Kya!! Mau apa kau?!” tanyanya panik melihat aku yang memegang sebuah sisir. Wajahnya seperti melihat orang yang sedang memegang pistol dan mengarahkan padanya. Dia tidak suka kalau aku menyisir rambutnya, dia bilang itu akan merusak gayanya..ck

”Tentu saja membenarkan dandananmu” aku mengejarnya yang sudah berlari duluan menghindariku.

”Kya!! ANDWAE!! Kau akan merusak rambutku Jin!!” teriaknya sangat panik.

Meskipun dia berlari sekuat tenaganya, tetap saja akan tertangkap olehku yang adalah juara lomba lari antar sekolah..haha

Dia hanya menekuk wajahnya ketika aku merapikan rambutnya..

Flashback end

Aku berjalan ke meja yang ada disamping tempat tidur, dimeja itu ada sebuah foto. Didalam foto itu ada Rin, aku, Donghae Oppa, Hyukjae Oppa, Yoomin Onni, dan juga Yeongra Onni. Foto itu diambil saat Donghae Oppa dan Hyukjae Oppa menikah..acara terakhir yang dihadiri oleh Rin bersama kami. Rin, apa kau merindukan saat-saat itu? Kau menggoda Hyuk Oppa agar mencium Yeongra Onni. Saat itu wajah keduanya menjadi merah karena malu..haha. Aku rindu tawamu Rin~

Mataku beralih dari foto itu menuju ke sekotak rokok.  Itu mengingatkanku pada sesuatu, perkataannya mengenai sebuah rokok.

Flashback

”Rin-ah..bisakah kau tidak merokok lagi? Donghae Oppa saja tidak menggunakan barang itu” omelku pada Rin saat kami sedang duduk di teras belakang rumah. Hari ini Rin juga sembunyi-sembunyi untuk menemuiku.

”Aniyo,,kau tau? Barang ini bisa menghilangkan stress, dan juga asik” jawabnya sambil menghisap rokoknya dan menggaruk-garuk kepalanya yang dihiasi oleh rambut yang tak terurus itu.

”Hei,,kita ini kembar, tapi kenapa sifatmu beda denganku?” tanyaku padanya berusaha tidak memperdulikan asap rokok yang tanpa sengaja kuhirup.

”Gurae,,aku juga tidak tau. Tapi, ada satu sifat kita yang sama…..” Rin memberi jeda sebentar, dan aku tersenyum mengetahui maksudnya.

”Sama-sama menyayangi Donghae Oppa!!!!” teriak kami bersamaan. Dan dengan cepat kami menutup mulut kami, karena itu akan membuat para penjaga akan mengetahui keberadaan Rin. Selanjutnya kami tertawa bersama tanpa suara.

Flashback end

Donghae POV

Saat aku sampai dirumah aku langsung masuk dan berlari kekamar Hyunjin, perasaanku mulai tidak enak sejak dijalan menuju pulang tadi. Betapa kagetnya aku saat membuka kamarnya dia tidak ada di kamarnya.

”HYUNJIN-AH!!!” panggilku, tapi tak ada yang menyahut.

”Yeobo, waeyo??” tanya Yoomin karena kaget mendengar teriakanku mungkin.

”Hyunjin tidak ada!” aku mulai panik, kulihat Yoomin kaget dan segera melihat kesekeliling. Tak lama kemudian dia terlihat tenang.

”Kau ini,,jangan asal menyimpulkan. Mungkin dia ada di kamar Rin” aku segera mengalihkan pandanganku ke kamar Rin yang sedikit terbuka, dan berlari kesana.

Aku membuka pintunya perlahan, dan menemukannya. Untunglah tidak terjadi apa-apa padanya. Dia duduk di sisi tempat tidur, tempat favoritnya untuk mengobrol dengan Rin. Dan dia…menangis??

”Hyunjin-ah! Waeyo??” tanyaku. Tanpa basa-basi dia langsung memelukku.

”Takuuutttt~” jeritnya. Aku melepaskan pelukannya.

”Sudahlah,,sebaiknya kembali kekamar” Dia pasti mengingat kejadian mengerikan itu lagi. Aku membawanya kekamarnya.

@rumah sakit

”Besok dia sudah bisa pulang, jadi selamat. Tapi, jangan buat dia stress dulu” pesan dokter kepada Yeongra. Dengan senyuman Yeongra mengiyakan pesan dokter itu, dan masuk ke ruangan Hyukjae.

”Jagi,,kau boleh pulang besok. Kita akan bertemu Hyunjin, kau harus semangat ya” Hyukjae melihat kearah Yeongra dan tersenyum tanpa mengucapkan satu kalimat pun, tentu saja senyuman pahit.

”Gwenchana,,kau pasti bisa menghadapinya” Yeongra mengelus pipi Hyukjae.

#Keesokan harinya

Sebuah taksi berhenti didepan rumah Donghae. Dengan cepat Donghae berlari menuju taksi itu.

”Akhirnya kalian sampai juga. Hyuk, bagaimana kabarmu hari ini??” tanya Donghae pada Hyukjae yang sedang mengambil beberapa barang di bagasi taksi.

”Sedikit lebih baik” jawabnya singkat.

Donghae membantu Hyukjae membawa barang, dan mereka masuk kedalam rumah.

”Dimana Hyunjin??” tanya Hyukjae.

”Dia ada dikamar, semalaman tidak tidur. Terus berteriak ’takut’..” jawab Yoomin yang langsung memeluk Yeongra.

Tanpa bicara apapun Hyukjae langsung berjalan menuju kamar Hyunjin.

”Tidak apa-apa jika dibiarkan seperti itu??” tanya Donghae pada Yeongra, dan hanya dibalas senyuman oleh Yeongra.

”Gwenchana,,dia sudah lebih baik”

@kamar Hyunjin

”Hyunjin-ah,,oppa masuk ya” Hyukjae membuka kamar Hyunjin. Dan langsung disambut oleh Hyunjin yang berantakan penampilannya.

”Um,,kata onnimu kau sedang tidur. Dan kenapa penampilanmu seperti ini? Dimana Hyunjin yang cantik dan ceria itu??” Hyukjae memaksakan diri untuk tersenyum, padahal dirinya juga hancur sama seperti Hyunjin.

”Oppa,,aku takuuutt~~” Hyunjin menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya. Hyukjae memejamkan matanya, berusaha untuk menenangkan diri agar dia bisa lebih kuat dari dongsaeng didepannya.

”Gwenchana,,dia sudah tenang disana” Hyukjae mengusap kepala Hyunjin, dan tersenyum lagi.

####

Hyukjae sedang duduk di teras rumah, mencoba menghirup udara segar setelah 2 bulan lebih dia hanya menghirup udara di rumah sakit.

”Sudah lama sekali rasanya,,Rin..kau bahagia disana? Oppa janji akan menjaga 2 orang yang kau sayangi ini” Kata Hyukjae sambil tersenyum.

Tapi senyuman itu hilang ketika ia melihat hal yang sangat tidak ingin dilihatnya.

”ANDWAEEEEEE!!!!!!!!!!!!!”

TBC

****

Author said : Nah,,kenapa tu si Hyuk?? Ayo..ada yg bisa nebak gak??….*ini bukan kuis>>* Sekali lagi aq minta maaf kalo ada yang salah ketik ato ceritanya gx bagus sama sekali…jangan lupa koment yaaaa *hug reader,,*