Recursive [8]

rec4

Character/Pairing(s): Hyun Seung/HyunA(Trouble Maker)
Rating: R

“Fair is whatever God wants to do.” ― Leif Enger

[0] [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Perempuan itu cantik, meskipun bibirnya semerah gincu dan bulu mata palsunya membuatnya terlihat tidak asli. Di tempat yang lain barangkali ia akan mendapat pujian ditambah lirikan penuh apresiasi dan siulan nyaring. Tapi di depan tim produksi drama yang akan ia bintangi, rasanya seperti mengenakan kostum badut ke acara gala dinner. Semuanya terasa salah. Bahkan gaun hitam kasualnya terasa salah. Apakah roknya terlalu pendek, apakah hak sepatunya terlalu tinggi, apakahapakah?

Hyuna mengeratkan genggamannya pada tas tangan emas yang dibawanya. Bahkan kehadiran Lee Joon di sampingnya tidak membantu banyak. Ia masih merasakan tatapan tidak setuju dari orang-orang. Ia masih bisa mengingat apa yang ditulis oleh wartawan dalam artikel mengenainya.

__________________________________________________________________

Hyuna, aktris film porno yang terkenal karena seksualitasnya, akan bermain dalam drama bersama aktor terkenal Lee Joon. Sebagian masyarakat meyakini drama itu akan memiliki unsur seksualitas yang tinggi dengan kedua pemain utamanya diperankan oleh Hyuna dan Lee Joon.

__________________________________________________________________

Aku tidak bisa membayangkan Hyuna sebagai gadis baik-baik. Aku masturbasi dengan melihat filmnya, bagaimana aku bisa tidak memikirkan hal yang aneh-aneh ketika melihatnya?

__________________________________________________________________

Apa yang pelacur itu lakukan sampai bisa mendapat peran itu? Apa ia tidur dengan seluruh kru drama itu? Sungguh memalukan. Oh, benar juga, tidur dengan laki-laki kan memang pekerjaannya, mana mungkin ia malu.

__________________________________________________________________

“Jadi Hyuna-sshi, saya rasa anda sudah mengerti sebagian besar pekerjaan anda nanti?”

“Ya, terima kasih atas penjelasannya. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”

“Naskahnya sudah diterima?”

“Sudah, meskipun saya baru mempelajari sedikit…”

“Tidak apa-apa, shooting baru dimulai bulan depan. Gunakan waktu ini sebaik-baiknya. Saya dan kru lain menantikan bekerja sama dengan anda.”

“Tentu, terima kasih.”

“Joon, bantu Hyuna sebaik mungkin.”

“Tentu saja, Songsaenim.”

Pria itu, sutradara dari drama yang akan dibintanginya, tersenyum kecil sebelum keluar dari ruangan. Kru-kru yang lain mengikutinya. Sebagian memberikan senyum, sebagian mengacuhkannya.

Tubuhnya gemetaran, padahal pertemuan ini bukan sesuatu yang sebegitu spesialnya hingga ia harus merasa gugup. Tapi di sinilah dia, masih kaku sekalipun tim produksi dramanya sudah keluar. Hyuna menghela nafas. Ia menoleh ketika merasakan lengan melingkari bahunya.

“Joon oppa…”

“Tenanglah, mereka orang-orang baik, kok. Kalau kau gugup begini setiap bertemu mereka, kamu tidak akan bisa mengucapkan dialogmu dengan baik nanti.”

“Aku tahu, tapi…” “Ah, tidak. Aku akan berusaha lebih keras untuk berikutnya.”

“Nah, itu baru Hyunaku.”

Hyuna mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan panggilan ‘hyunaku’. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa, hanya tertawa dan membentuk tanda ‘victory’ dengan jari telunjuk dan tengahnya.

__________________________________________________________________

[A date?]

From: HyunA

To: J.S.
Hai, mister JS, apa kabar? Maaf tidak menghubungimu belakangan ini, tapi aku sedang super sibuk dengan pekerjaan baruku. Meskipun kurasa kamu tidak akan peduli aku minta maaf atau tidak sebenarnya.
Anyway, ini hari Sabtu, aku tidak ada kesibukan sekarang jadi kupikir akan, kau tahu, ‘menyenangkan’ untuk bicara denganmu. Malam minggu haha.

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: J.S.

To: HyunA
Aku pergi ke gereja tiap sabtu sore. Baru bisa balas malam begini. Ajakanmu masih berlaku? Aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam ini, tapi kurasa aku bisa mengerjakannya sambil mengobrol.

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: HyunA

To: J.S.

Ah, ternyata kau sungguh taat ya. Terakhir kali aku pergi ke gereja entah berapa tahun yang lalu. Tidakkah hidupmu indah sekali, ibadah dan bekerja… Apa kau tidak pernah melakukan hal lain, yang lebih menyenangkan?

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: J.S.

To: HyunA
Kenapa kau berhenti?

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: HyunA

To: J.S.

Berhenti apa? -_-

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: J.S.

To: HyunA

Berhenti datang ke gereja, berhenti percaya pada Tuhan.

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: HyunA

To: J.S.

Oh.

Itu, begitu saja. Aku sadar bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkanku, takdir datang dan aku tidak bisa mengubahnya. Meskipun aku sudah memohon, berdoa ratusan ribuan kali.

Kalau dia memang ada, kenapa dia begitu tidak adil? Kenapa dia membiarkan aku yang tidak pernah melakukan kejahatan apapun menderita, padahal begitu banyak orang jahat yang hidup dengan senang, tanpa ada kesusahan sedikit pun.

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: J.S.

To: HyunA
Semua hal yang terjadi pasti punya makna dibaliknya, kurasa kau harus percaya itu. Perbuatan buruk dan baik sama-sama akan mendapat ganjaran.

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: HyunA

To: J.S.

Makna? Membuatku jadi seperti sekarang ini? Kau menyuruhku percaya bahwa ada sesuatu yang baik dibalik semua yang aku alami?

Kau tahu, kau benar sesuatu tentangku. Aku ini pelacur. Aku jadi seperti ini pun… Ketetapan tuhan? Di mana letak keadilan?

__________________________________________________________________

[Re: A date?]

From: J.S.

To: HyunA

Berapa nomor teleponmu?

__________________________________________________________________

Hyuna menggit bibirnya, menahan makian yang memaksa untuk dimuntahkan keluar. Semua ingatannya kembali begitu saja, sedikit pertanyaan dari JS membuatnya mengingat semua hal yang dilaluinya hingga ia sampai pada saat ini. Ia marah, murka, entah pada siapa. Pada Tuhan yang eksistensinya tak pernah terasa, pada dirinya sendiri yang larut dalam nasib, pada dunia, pada takdir?

Pesan yang masuk dari JS selanjutnya membuat perempuan itu mengernyitkan keningnya. Apakah karena itu JS atau karena emosinya saat itu, ia membalas pesan itu dengan berisi nomor telepon pribadinya. Konyol, bodoh, idiot, absurd. Ia tahu. Tapi pada saat itu ia tidak peduli bahwa ia telah memberikan nomornya pada seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya.

‘Percaya’ itu sebuah kata yang berat. Ketika memberikan kepercayaan, rasanya seperti memberikan orang lain jantung. Apakah orang itu bisa menjaganya dengan baik, atau justru menghancurkannya dengan mudah. Percaya itu sesuatu yang rapuh. Hyunah tidak berani memberikan jantungnya.

Perempuan itu menatap layar komputernya dengan dahi mengernyit. Kadang ia berpikir apakah ia terlalu terbuka pada orang asing ini, yang tidak ia ketahui asal usulnya, wujudnya, apapun dan siapapun dia. JS, inisial itu saja yang ia tahu. Bahkan mungkin itu bukan inisial namanya. Jenggot Saruman, Jambu Sirsak, Jejaring Sosial… Tapi mungkin karena ia tidak tahu siapa JS, mungkin karena JS tidak mengenalnya ia jadi merasa lebih santai. Karena ia tidak perlu mengkhawatirkan apa pendapat JS tentangnya, karena JS tidak akan menilainya sama seperti orang lain.

Tidak sampai lima menit kemudian teleponnya berdering.

Hyuna menahan nafas.

“Yoboseyo…?”

“Menangis saja.”

“Apa?”

“Pesanmu tadi terdengar seperti kau ingin menangis.”

“A-aku tidak…” Sanggah Hyuna cepat meskipun nadanya menggantung di tengah, ragu, dan ia menggelengkan kepalanya meskipun ia tahu JS tidak akan bisa melihatnya. Matanya terasa panas dan ia merasakan bulir air mengalir di pipinya. Awalnya ia menggigit bibirnya keras, tapi kemudian ia tidak bisa lagi membendung isak tangisnya.

Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan tangannya yang bebas. Kukunya yang panjang mencakar pundaknya sendiri. Ia merasa kotor.

Katanya Kau penuh belas kasih…

Lalu di mana Kau selama ini?

Di mana Kau sekarang?

__________________________________________________________________

“Oi, Hyunseung.”

“Hyunseung!”

Pemuda berambut cokelat yang dipanggil itu baru menoleh beberapa detik kemudian, tampak tidak fokus. “Ya?”

Yoseob menggelengkan kepalanya, menunjuk Hyunseung dengan ujung batang rokoknya. “Dia sedang berada dalam zona hyunseung, hyung, tidak perlu repot-repot.”

Doojoon, yang dari tadi memanggil-manggil nama Hyunseung, ikut menggelengkan kepalanya. Ia tahu Hyunseung bisa jadi seperti itu kalau ada hal yang sedang meresahkannya, tapi bukannya ia senang melihat dongsaengnya melamun pada acara kumpul-kumpul mereka. Ia menepuk-nepuk bahu Hyunseung, yang dibalas dengan tatapan aneh dari dongsaengnya itu.

Hyunseung tidak mengatakan apa-apa, membiarkan Doojoon menepuk bahunya sementara Yaoseob hanya tersenyum.

Ia sedang mampir ke convenience store untuk membeli sekotak rokok (yang sekarang hanya tersisa beberapa batang setelah diambil teman-temannya) sepulang dari gereja ketika Doojoon meneleponnya dan berkata ia dan teman-temannya yang lain berada di depan gedung apartmentnya. Hyunseung hanya bisa menghela nafas dan menerima perintah untuk membeli bir kaleng dan snack lain. Sampai akhirnya jadi seperti ini, enam orang pria dewasa merokok di pinggir kolam renang, kaleng-kaleng bir tergeletak begitu saja di lantai.

“Itu baru?” Gikwang menunjuk telepon genggam bewarna putih yang berada di dalam kantung kemeja Junhyung, “sama dengan milik Hyunseung.”

“Oh, ini,” jawab Junhyung santai sambil menghembuskan asap dari mulutnya, “kata Hyunseung kameranya bagus.”

“Tapi tidak perlu sama warna juga kan,” gerutu Hyunseung sambil balas menghembuskan asap ke arah Junhyung.

“Umurmu berapa masih terganggu karena persoalan kembaran begini?” Kekeh pemuda di depannya sambil melemparkan telepon putih itu kepadanya. Seperti sengaja pamer, ingin membuatnya lebih kesal. Hyunseung menangkap benda putih itu dan menatap tajam ke arah Junhyung. Ia sempat berpikir untuk melempar benda itu ke tengah kolam renang, tapi sayangnya ia tidak sejahat itu.

“Junghyungie suka mendapat kesan kalau kalian punya hubungan khusus dengan memiliki barang yang sama,” kekeh Gikwang, yang disambut dengan tawa oleh Dongwoon dan Yoseob. Doojoon hanya menggelengkan kepalanya sambil memamerkan cengirannya.

“Oh ya, Hyunseung, kau sudah mendapat e-mailku tentang penyelidikan yang waktu itu? Menarik, kau pasti akan terkejut.”

“Harus ya, hyung membicarakan soal pekerjaan sekarang,” gerutu Yoseob, yang diacuhkan oleh Doojoon dan Hyunseung.

“Aku belum melihatnya. Kenapa?”

Doojoon meraih ranselnya, mengambil notebook Samsung-nya dan menyerahkannya pada Hyunseung. “Lihat saja sendiri.”

“Memangnya ada apa hyung? Kasus narkoba yang kemarin dulu kan?” Suara Dongwoon, tapi Hyunseung sudah menulikan diri dari keadaan sekitarnya dan membuka akun emailnya. Ada beberapa e-mail baru, satu dari Doojoon. Tapi di paling atas ada nama Hyuna.

“Kami sudah mendapatkan tersangka untuk kasus itu.”

“Lalu?”

“Tidak perlu memberikan suspense begini hyung, kau seperti menceritakan kisah horror saja.”

Hyunseung mengetikan balasannya. Hyuna membalasnya dengan cepat. Seperti biasa.

“Kalian tidak akan menyangkan siapa tersangkanya…”

“Lanjutkan saja langsung.”

HyunA terdengar kacau.

“Oh, kalian pasti penasaran sekali, ya…”

Hyunseung memasukan nomor yang ada dalam email ke teleponnya.

“Aku pergi sebentar,” ujarnya pendek sebelum berjalan menjauh. Ia mendengar suara Doojoon yang memanggilnya dan ucapan Junhyung, “mungkin ia mau ke kamar mandi”. Tapi saat ini ia tidak bisa peduli.

Hyuna…

__________________________________________________________________

“Yoboseyo?”

“Menangis saja,” ujarnya pendek begitu mendengar suara perempuan itu. Ia kenal suara ini, begitu kenalnya sampai ia bisa membayangkan wajah perempuan itu dalam benaknya. Ia mengunduh banyak film Hyuna setelah itu, meskipun Junhyung (yang menginvasi laptopnya) meledeknya habis-habisan. Tapi ia perlu tahu, ia perlu melihatnya. Tidak salah lagi, Hyuna.

“Apa?” Suara feminim itu terdengar heran.

“Pesanmu tadi terdengar seperti kau ingin menangis.”

Hyunseung tahu ia benar. Suara Hyuna patah-patah, diikuti dengan isak tangis. Pemuda itu menghela nafas dan menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia berada di pintu belakang gedung apartmennya, duduk di pinggiran tangga dengan punggung menempel pada dinding. Ia menghisap rokok di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Perempuan itu masih menangis.

Ia membiarkannya. Hyuna tahu dia ada di ujung lain telepon ini, Hyuna tahu dia ada untuknya. Dan dia tidak akan pergi dalam waktu dekat.

10 thoughts on “Recursive [8]

  1. wah! hyunseung nya udah tau!
    jadi penasaran gimana pas nanti ketemu. hyuna nya pasti langsung jadi alim, kena ceramahnya hyunseung melulu. kkk…
    I’mwaiting the newest of the part, thor. hwaiting!

  2. Dasarr~
    Kenapa berasa kaya nyata gitu, ya?

    hyunseung, lo keren dengan gaya lo sendiri. Suka gue ><
    Tapi laki saya lebih keceh *lirik OnHae* wkwkwk *abaikan*

    Ditunggu lanjutannya, kak :)

  3. So sad banget Hyuna baru terlepas dari profesinya yg lama dia ternyata akan ditetapkan sbg tersangka kasus narkoba, jangan2 gara2 Lee Joon waktu ke club tsb bawa narkoba ya sehingga Hyuna terkena.. Akhirnya Hyunseung aka JS tahu siapa Hyuna yg chatting dengan dirinya selama ini, smg Hyuna nya bs ditolong.. Sedih sekali kisah hidupnya Hyuna. Ditunggu kelanjutannya chingu

  4. ………… Sumpah demi apapun ini keren banget.
    Awalnya gue kira ini cuma kumpulan percakapan gajelas, tapi ternyata ini salah satu fanfic yang gaboleh gue hapus dari bookmark.
    Well…. cuma pengen bilang, update please?

  5. annyeong,,
    Readr bru abelia imnida
    Btul bgd para readr ff ni d.tunggu bgd krn jaln critany yg ga biasa, menrik. Smgad author!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s