Still I Love You part 4

Still I Love You

Title: Still I Love You

Lenght: 4 of ?

Author: Min

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam FF ini adalah diri mereka sendiri. FF ini hanya khayalan, tak ada maksud apapun dalam FF ini. FF ini asli buatan saya yuuri66 © 2012

Sesal. Kenapa penyesalan selalu datang disaat semua telah sirna? Terlambat. Waktu tak kan kembali, waktu kan terus bergulir. Untuk apa di sesalkan, kalau semua telah berakhir. Bukankah lebih baik membuka lembar baru? Memulai semuanya dari awal, melupakan kenangan lalu.

Still I Love You part 4 – He, Between You and Me.

“Hyuna, kau-“

Hyuna menghela napas kuat. Diseka air matanya perlahan. Bibirnya menyungging senyum getir kearah pria disampingnya. Pria itu hanya terdiam menatapnya.

“Ya Junsu!! Jangan melihatku seperti itu!! Akhh apa latihanmu sudah selesai?”

Junsu terkesiap. “Akh sebentar lagi.”

“Apa kau haus? Ini. Aku sudah membelikan mu minum.” Disodorkannya sebotol air mineral ke arah Junsu.

Junsu hanya terdiam menatap Hyuna. “Hyuna, kau rindu dengan Jaejoong hyung?” tanyanya ragu. Dapat ia tangkap perubahan raut wajah Hyuna, bibir gadis itu mengatup.

“Kau rindu dengan semua waktu yang kau lalui bersama dengan Jaejoong hyung?”

Hyuna mendesah pelan. Dialihkan wajahnya ke arah lapangan. Kepalanya penat. Di gigit bibir bawahnya pelan. Pandangannya beralih menatap langit. “Ne, aku merindukan setiap waktu yang ku lalui bersamanya. Apa kau ingat Junsu, tahun lalu ia duduk disini bersamaku menunggumu dan Yunho oppa selesai latihan? Ditolehkan wajahnya ke arah Junsu. “Tapi.. sekarang hanya aku sendiri yang menunggumu, tanpa ia di sisiku.”

Ditatapnya Hyuna sendu, dapat ia tangkap kesedihan di manik kecoklatan gadis itu. “Hyuna kau-.”

“Aishh sudah ku bilang jangan menatap ku seperti itu!! Aku seperti gadis paling menyedihkan sedunia kalau kau menatapku seperti itu!!” Sela Hyuna cepat. Dikerucutkan bibirnya, tangannya terlipat didepan dada.

Junsu mendesah singkat. Diusapnya puncak kepala Hyuna pelan. “Jaejoong hyung sungguh beruntung, dicintai sampai seperti itu. Aishh kenapa bukan aku saja yang dicintai olehmu sampai seperti itu? Kenapa kau malah mencintai Jaejoong hyung? Sungguh menyebalkan!!”

Hyuna mendelik kearah Junsu. “Mwo? Apa katamu? Aishh kau ini, perkataanmu sungguh aneh!! Sudah sana kembali latihan!!” didorongnya Junsu, kembali ke lapangan.

Junsu mencengkram lengan Hyuna kuat. Ditatapnya gadis itu lekat.

“Apa lagi, Junsu? Sudah sana kembali latihan!!”

Junsu mendesah berat. Perlahan ia lepaskan cengkraman tangannya di lengan Hyuna. “Tunggu aku sampai latihan selesai!! Awas kalau kau sampai pulang duluan!!”

“Ne, aku akan menunggumu. Sudah sana latihan lagi.”

**

Hyuna melirik arloji dipergelangan kiri tangannya, pukul 6 sore. Matanya menatap pintu ruang club sepak bola. Sudah hampir 15 menit ia menunggu Junsu ganti pakaian tapi pria itu tak kunjung selesai.

“Aishh Kim Junsu!!! Lama sekali kau ganti pakaiannya!!” gerutunya kesal.

“Kau belum pulang Hyuna?”

Hyuna menoleh pelan, tampak seorang pria berjalan kearahnya. Pria itu Changmin. Tubuhnya mematung, menatap Changmin yang kian mendekat. Entah apa yang harus ia katakan pada Changmin saat ini.

“Apa kau menunggu Junsu, Hyuna?”

Napasnya tercekat, Changmin tepat berdiri didepannya.

Alis Changmin terpaut, Hyuna tampak terkejut melihatnya. Ditepuknya bahu Hyuna pelan. “Ya!! Jung Hyuna!!”

Hyuna terkesiap. “Ne?”

Changmin mendesah berat. “Kenapa kau belum pulang? Apa kau menunggu Junsu?”

Hyuna mengangguk pelan. “Ne, aku menunggu Junsu. Kau sendiri, kenapa belum pulang?”

“Aku masih mempersiapkan untuk festival penutupan orientasi besok.”

Hyuna mengangguk paham. Entah apa lagi yang harus ia katakan pada Changmin, ada perasaan canggung saat bersama Changmin. Setiap perkataan Changmin yang terarah padanya bagaikan isyarat yang sulit ia terka.

“Hyuna, aku-.”

“Ya!! Hyuna!! Maaf membuatmu menunggu lama.” Tampak Junsu yang keluar dari ruang club.

Langkah Junsu terhenti, mendapati Hyuna tengah bersama Changmin. Kesekian kalinya ia melihat Hyuna bersama Changmin. Entah sejak kapan Hyuna dekat dengan Changmin.

“Akhh Changmin, aku duluan ya.” Pamit Hyuna, dibalikkan tubuhnya dari Changmin dan berjalan ke arah Junsu.

“Hyuna, ada yang ingin aku bicarakan denganmu besok!!” ujar Changmin cepat.

Hyuna menghentikan langkahnya. Ditolehkan kepalanya, ditatapnya Changmin. “Ne?”

“Setelah festival penutupan orientasi besok, aku ingin bicara berdua denganmu.”

**

Hyuna tersenyum kearah Junsu. “Sampai jumpa besok, Junsu.” Diraihnya knop pintu apartementnya.

“Ya!! Tunggu!!” cegah Junsu cepat, dicengkramnya pergelangan tangan Hyuna.

“Ada apa lagi?”

Ditatapnya Hyuna lekat. “Apa hubunganmu dengan Changmin? Sejak kapan kau jadi dekat dengannya?” Ada sesuatu antara Hyuna dan Changmin yang tak ia ketahui, membuatnya penasaran tentang kedekatan Hyuna dan Changmin.

Hyuna menyerengit mendengar pertanyaan Junsu. Kenapa Junsu tiba – tiba menanyakan hubungannya dengan Changmin? Tak biasanya. “Antara aku dan Changmin…” perkataannya tergantung, ia tampak berpikir sejenak. “Sesuatu yang rumit. Aku juga bingung menjelaskannya.” Lanjutnya.

“Sesuatu yang rumit? Maksudnya?”

Hyuna berdecak pelan. “Aishh  sudah ku bilang, aku sendiri bingung menjelaskannya! Lagipula kau ini kenapa tiba – tiba menanyakan tentang Changmin hah?”

Junsu tergagap. Aku..aku- aku hanya merasa aneh melihat kau dekat dengan pria lain selain aku, Jaejoong hyung dan Yunho hyung!! Itu saja.” Dialihkan wajahnya dari Hyuna.

“Aishh dasar kau ini!!” kembali ia raih knop pintu dan bergegas masuk kedalam apartementnya.

Junsu terdiam menatap pintu apartement Hyuna. Dihelanya napas berat. “Aishh Kim Junsu!! Kenapa kau jadi ingin tahu segala hal tentang Hyuna?” umpatnya.

**

Hyuna terperajat mendapati seseorang dikamarnya. “Yunho oppa, sedang apa kau dikamarku?” ditatapnya Yunho yang tengah berbaring diranjangnya. Dilangkahkan kakinya kearah Yunho, kakaknya.

“Kau sudah pulang rupanya. Aku menunggumu Hyuna.” Sambil beranjak bangun dan duduk ditepi ranjang.

“Ada apa oppa? Apa ada yang ingin kau bicarakan denganku?” sembari duduk disamping Yunho.

Yunho mendesah singkat. Entah ia harus mulai dari mana, ia sendiri bingung apakah harus menanyakan hal itu pada Hyuna. Tentang sesuatu yang mungkin akan menyakiti hati adiknya itu.  Apakah ia mampu? Dihelanya napas berat.

Dapat ia tangkap kejanggalan dari perangai kakaknya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi apa?

“Katakan apa yang ingin kau katakan padaku oppa!! Jangan bersikap seperti itu!!” ujarnya kesal.

Yunho menatap adiknya lekat. Dihirup napasnya dalam. “Kau serius dengan ucapanmu kemarin?”

Alis Hyuna terpaut. “Ucapan yang mana?” ia benar – banar tak mengerti arah pembicaraan Yunho saat ini.

Yunho mencibir kesal. “Ya!! Jung Hyuna!! Kau-.. Aishh yang dikafe saat kau bilang berpacaran dengan Changmin!!”

Hyuna seketika terdiam. Dapat ia lihat raut kesal diwajah kakaknya. Padahal ia sudah menghindari Yunho dirumah sejak kemarin. Tapi dengan mudahnya ia melupakan tentang alasannya menjauhi Yunho -ucapannya tentang ia dan Changmin berpacaran.

‘Aishhh Hyuna, kenapa kau malah melupakan hal sepenting itu?? Aishh bodoh!!’ umpatnya.

“Ya!! Hyuna!! Jawab pertanyaanku!! Apa kau serius berpacaran dengan Changmin??”

Yunho mulai tampak gusar dengan sikapnya. Entah apa yang harus ia katakan? Kembali berbohong bahwa ia dan Changmin memang berpacaran? Pasti Changmin akan marah padanya jika ia kembali mengaitkan pria itu dengan masalahnya.

“Ya!! Jung Hyuna!! Jawab!! Atau kau berbohong tentang hubunganmu dengan Changmin karna ingin membuat Jaejoong cemburu dan menarik perhatiannya?? Apa benar seperti itu??”

Hyuna tersentak mendengar perkataan Yunho padanya. Hatinya mencelos. Apa maksud perkataan kakaknya itu dengan ia membuat Jaejoong cemburu? Apa kakaknya tahu kalau ia mencintai Jaejoong?

Yunho menghela napas berat tuk kesekian kali. Hyuna tampak terpaku menatapnya. Entah kenapa ia jadi emosi dan tak bisa mengatur perkataannya. Ia sudah cukup jengkel dengan sikap adiknya pada Jaejoong maupun sebaliknya. Ia hanya ingin kepastian, agar adik dan sahabatnya itu tak ada yang tersakiti. Hanya itu. Apa ia salah?

“Oppa, apa kau..kau-  kau tahu perasaanku padanya?”

Dihirupnya napas dalam. Diusapnya puncak kepala Hyuna. “Aku hanya tahu kau selalu menginginkannya menjadi milikmu Hyuna.”

Dialihkan wajahnya dari Yunho. Bibirnya menyunggingkan senyum getir. “Tapi ia tak akan pernah menjadi milikku. Tak akan pernah!!” dapat ia rasakan butiran airmata mulai tergenang dipelupuk.

Yunho hanya terdiam menatap raut wajah adiknya, seburat luka tampak jelas diwajah Hyuna. “Kenapa kau berpikir dia tak akan pernah menjadi milikmu?”

Dipejamkan matanya perlahan dapat ia rasakan bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Diihirupnya napas dalam, menguatkan hatinya dari rasa sakit yang kian menusuk. “Karna baginya, jalan kami berbeda dan tak ada sedikitpun aku dihatinya!!” bibirnya bergetar. “Aku hanyalah ‘adik’, tak lebih dari itu.” Disekanya cepat air mata yang mengalir.

Ditatapnya wajah Hyuna dalam, adiknya tengah menahan tangis. Pertama kalinya, ia melihat kesedihan dan luka yang teramat dalam di wajah adiknya. Kesedihan dan luka yang tak mampu ia sembuhkan. Dihelanya napas berat, entahlah kata apa yang harus ia katakan pada adiknya. Dengan cepat direngkuhnya Hyuna ke dalam pelukkannya. ‘Mungkin pelukkan ini bisa menenangkanmu, Hyuna.’

Hyuna hanya terdiam merasakan pelukkan Yunho ditubuhnya. Kakaknya itu hanya diam dan terus memeluk erat tubuhnya. Memberikan kehangatan dan ketenangan yang perlahan menjalar ke hatinya. “Oppa, gomawo.” Perlahan ia gerakan jemarinya membalas pelukan Yunho.

“Jeongmal gomawo, Yunho oppa.”

**

Jaejoong melirik sekilas kearah pintu kamarnya yang tiba – tiba terbuka. Tampak adiknya masuk kedalam kamarnya. “Ada apa Junsu?”

Junsu menghela napas berat. Dihempaskan tubuhnya di ranjang kakaknya. Diliriknya Jaejoong yang tengah membaca buku. “Hyung, kau datang ke festival penutupan orientasi besok?”

“Hmmm.” Jaejoong menggumam pelan sambil terus fokus membaca bukunya.

“Hyung, besok kau tak usah datang.”

Jaejoong menoleh cepat kearah Junsu. Junsu menatapnya penuh, ada sorot tak biasa dari tatapan Junsu padanya. Sorot mata Junsu tajam. Sesuatu yang tak biasa ditampakkan Junsu padanya. Dipandangnya Junsu lekat.

“Kenapa kau melarangku datang besok?” tanyanya, heran.

Junsu mendesah berat. Tanpa sadar ia melarang Jaejoong datang, entah kenapa ia tak ingin kakaknya datang saat festival penutupan orientasi. “Aku tidak tahu. Hanya saja-”

Alis Jaejoong terpaut. Sebenarnya ada apa dengan adiknya itu? “Ada apa denganmu Kim Junsu? Kau bisa berbicara denganku. Apa kau ada masalah dengan festival besok?”

Junsu beranjak, berjalan kearah pintu kamar Jaejoong  dan perlahan meraih knop pintu. “Tidak ada masalah denganku, Hyung. Hanya saja kedatanganmu, akan menyakiti hatinya.” Dibukanya pintu kamar, berlalu pergi meninggalkan Jaejoong.

Jaejoong terpaku menatap pintu kamarnya yang telah tertutup. Perkataan Junsu terngiang di benaknya. “Kedatanganku akan menyakiti hatinya? Menyakiti Hyuna..” bibirnya mengukir senyum getir.

Kepalanya tertunduk dalam. Dihelanya napas dalam. Dipejamkan matanya perlahan, disentuh dadanya pelan. Sakit yang begitu menusuk. “Walau sakit, biarkan aku tuk melihatnya… mungkin-  tuk yang terakhir kalinya…”

**

Hyuna mendesah berat. Kepalanya berdenyut kuat. Matanya menatap keramaian di lapangan sekolah dari balik jendela kelasnya. Festival penutupan orientasi siswa baru telah dimulai sejak tadi siang. Lapangan sudah disesaki para pengujung yang ingin menyaksikan festival tersebut.

“Sudah dimulai. Apakah kau akan datang oppa?” matanya menatap pintu gerbang sekolah.

“Hyuna!!”

Hyuna menoleh pelan, tampak Youngji berdiri didepan pintu kelas. “Ne, Youngji. Ada apa?”

Youngji menghela napas. Dilangkahkan kakinya kearah Hyuna yang duduk di kursi dekat jendela. “Semua siswa sedang berada di lapangan menikmati festival tapi kenapa kau malah sendirian dikelas?”

“Aku ingin dikelas saja Youngji.” Bibirnya mengulas senyum tipis.

Youngji mencibir kesal. “Aishh kau ini!!” Diraihnya tangan Hyuna, memaksa temannya itu untuk berdiri. Dengan cepat ia mengajak temannya itu menuju lapangan sekolah. “Katanya Jaejoong sunbae dan Yunho sunbae sudah datang. Apa kau tak ingin bertemu mereka?”

Hyuna menahan tubuhnya dari tarikan Youngji. Tubuhnya terasa berat seketika saat mendengar nama pria itu. Rasa sakit itu kembali menusuk hatinya. “Tubuhku sedang kurang baik Youngji, aku ingin istirahat saja diruang kesehatan.” Dilepaskannya jemari Youngji yang mencengkram pergelangan tangannya dan berjalan meninggalkan Youngji yang menatapnya heran.

“Mwo? Ya!! Hyuna!! Ada apa denganmu hah? Tak biasanya kau bersikap seperti itu!”

Hyuna menghentikan langkahnya. “Aku hanya ingin istirahat di ruang kesehatan, mengertilah.” Kembali ia langkahkan kakinya meninggalkan Youngji.

Youngji mencibir. “Aishh ada apa dengannya? Biasanya ia akan sangat senang jika mendengar nama Jaejoong sunbae tapi kenapa malah sebaliknya?”

**

Jaejoong menatap bangunan sekolahnya dulu. Dihelanya napas berat. ‘Apa kita akan bertemu? Entah kenapa rasanya sudah lama tak melihat wajahmu, Hyuna.’ Bibirnya mengukir senyum getir.

Yunho mendesah berat, ditatapnya Jaejoong yang terpaku menatap bangunan sekolahnya. ‘Apa yang tengah kau pikirkan saat ini Jaejoong? Hyuna kah?’ Di tepuknya bahu Jaejoong singkat. “Sampai kapan kau akan terdiam seperti itu?”

Jaejoong terkesiap. Ditolehkan wajahnya. “Ne?”

Yunho menghela napas berat. “Apa yang kau pikirkan hmm?”

“Akh Yunho, aku-“

“Ya!! Yunho!! Jaejoong!! Cepat masuk!! Didalam ramai sekali!!”

Yunho menatap gadis yang tengah melambaikan kedua tangan kearahnya dan Jaejoong. “Ne, Hyewon!! Kau dan Heeyoung tunggu sebentar disana!!”

“Kajha!! Kita masuk, sepertinya kedua gadis itu sudah tak sabar menunggu.” Dirangkulnya bahu Jaejoong, mengajak sahabatnya itu masuk.

**

Junsu mengumpat. Ia tak menemukan Hyuna diantara keramain festival. Padahal Hyuna bilang akan menemuinya di stand club sepak bola. Tapi sejak  festival dimulai gadis itu tak kunjung datang. Dimana gadis itu sebenarnya?

“Aisshh dimana Hyuna?? Kenapa lama sekali datangnya?? Katanya ingin membantu mendata anggota baru club tapi sampai sekarang belum datang!!” matanya menatap stand yang disesaki siswa baru yang ingin mendaftar ke club.

Diraihnya ponsel disaku celana. Di telponnya Hyuna. Junsu mendesah gusar, tak ada jawaban; ponsel Hyuna tak aktif. “Tidak aktif!!” umpatnya kesal.

“Kalian terus mendata siswa baru yang ingin bergabung di club ya? Aku pergi sebentar!!” ujarnya, kepada salah satu anggota club sembari berjalan meninggalkan stand.

Seketika langkahnya terhenti. Bibirnya terkatup rapat. ‘Akhirnya ia datang.’

**

Jaejoong berjalan pelan mengikuti Yunho dan Hyewon yang berjalan memasuki lapangan sekolah yang telah dipadati siswa dan para alumni yang datang ke festival penutupan orientasi. Ada rasa rindu saat melihat suasana festival itu. Ia ingat, festival tahun lalu ia banyak menghabiskan waktunya bersama gadis itu. Menikmati setiap acara yang disungguhkan para anggota club. Sudut bibirnya mengulas senyum getir, mengingat waktu lalu.

‘Entah kenapa aku begitu merindukan saat bersamamu. Aneh bukan?’ Kembali bibirnya menyunggingkan senyum.

Heeyoung menatap Jaejoong yang tengah tersenyum. Senyum yang sama saat Jaejoong bercerita tentang gadis itu. Senyum getir yang terpaksa diukir Jaejoong, untuk menutupi perasaannya.

“Kau sedang memikirkan gadis itu, Jaejoong?”

Jaejoong menoleh kearah Heeyoung. “Ne?”

Heeyoung menggeleng cepat. “Tidak. Aku tak mengatakan apapun.”

Tanpa sadar ia mengajukan pertanyaan seperti itu pada Jaejoong tadi. Sejak ia melihat raut terluka di wajah pria itu, entah mengapa ada rasa simpati di hatinya.

Aneh. Ia sendiri merasa aneh dengan keperduliannya pada Jaejoong. ‘Heeyoung, ada apa denganmu? Kau dan Jaejoong belum lama saling mengenal tapi mengapa kau begitu perduli padanya? Apakah kau seperti melihat cerminan dirimu dulu pada diri Jaejoong?’

Alis Jaejoong terpaut menatap Heeyoung yang tengah tertunduk dalam. “Apa kau baik – baik saja, Heeyoung?”

Heeyoung terkesiap. “Akkh ne.”

“Benarkah?”

Jaejoong tampak khawatir menatapnya. “Ne, aku baik – baik saja.”

“Akhh itu dia!!” pekik Yunho tiba – tiba.

“Siapa?” tanya Jaejoong sembari menghampiri Yunho. Matanya mengikuti arah pandang Yunho. Rahangnya mengeras menatap pria yang tak jauh darinya. Adiknya.

Junsu tampak berjalan kearahnya. Tatapan Junsu, sama saat memintanya tidak datang ke festival semalam.

“Kau datang hyung.”

“Tentu saja kami datang. Akhh apa stand club sepak bola ramai?” Tanya Yunho antusias.

Junsu mengalihkan wajahnya kebalakang, menatap stand club sepak bola. “Ramai. Banyak yang berminat bergabung.”

“Kau sendiri saja? Mana Hyu-.” Bibir Yunho terkatup. Tak meneruskan perkataannya, matanya melirik ke arah Jaejoong. Saat ini nama adiknya tabu tuk di ucapkan.

Junsu menatap Jaejoong lekat. Dilihatnya rahang Jaejoong menegang, raut wajahnya tampak tertekan saat Yunho hampir menyebut nama gadis itu. ‘Kenapa kau harus menampakkan wajah seperti itu Hyung? Bukankah ia hanya adik bagimu? Tapi kenapa kau-‘ Kepalanya berdenyut kuat.

Junsu mendesah berat. Untuk apa ia memikirkan perasaan Jaejoong saat ini. Lagipula ia tak ada hak tuk terlibat diantara kakaknya dan gadis itu. “Maksud hyung, Hyuna?”

“Akhh ne, dimana dia?” Yunho kembali melirik kearah Jaejoong. Memperhatikan setiap perubahan raut wajah sahabatnya itu.

“Entahlah, aku juga tidak tahu.”

“Hyung, siapa kedua gadis yang bersama kalian ini?” matanya menatap gadis yang terdiam disamping Yunho dan Jaejoong.

“Kenalkan ini Hyewon dan Heeyoung. Mereka berdua teman kuliah kami.” Jelas Yunho.

“Aku pikir mereka kekasih kalian berdua, Hyung.”

“Mwo? Ya!! Junsu!!” pekik Yunho, dapat ia rasakan pipinya memanas.

“Mereka berdua teman kuliah kami Junsu. Heeyoung, Hyewon kenalkan dia adikku namanya Junsu.”

Junsu membungkuk sekilas. “Maaf noona, aku pikir kalian berdua kekasih Jaejoong hyung dan Yunho hyung. Kim Junsu imnida, aku adiknya Jaejoong hyung.”

“Tak apa, senang mengenalmu Junsu. Benarkan Heeyoung?”

“Ne, senang mengenalmu Junsu.”

“Ne, senang berkenalan dengan kalian noona. Hyung, bagaimana kalau kalian berkeliling dulu sebelum acara utama dimulai.” Usul Junsu.

“Yunho, benar kata Junsu. Lebih baik kita berkeliling. Perutku lapar, kita ke stand makanan ya?”

“Kau lapar Hyewon?”

Hyewon mengangguk mantap. “Ne, aku lapar.”

“Baiklah, kita ke stand makanan dulu. Junsu, temani kami berkeliling.”

Junsu terkesiap. “Ya!! Yunho hyung!! Tapi aku ingin-“

“Tak ada kata tapi!! Temani kami berkeliling!!” sela Yunho, sambil menarik Junsu pergi.

“Yunho, aku tak lapar. Kalian berempat saja yang makan! Aku ingin ke stand basket dulu.” Ujar Jaejoong cepat.

“Eh? baiklah. Kalau begitu kita bertemu didepan panggung jam empat sore ya?”

“Ne, baiklah. Jam empat sore didepan panggung.” Sambil berbalik pergi.

“Aku juga tidak lapar. Aku ikut Jaejoong saja.” Ujar Heeyoung sambil berjalan kearah Jaejoong.

Jaejoong menghentikan langkahnya. Ditatapnya Heeyoung. “Kau mau ikut denganku?”

Heeyoung mengangguk. “Ne. Tak apa kan?”

“Ya!! Heeyoung!! Kau meninggalkanku sendiri!” rajuk Hyewon.

“Kau kan bersama Yunho dan Junsu, nanti jam empat sore kita bertemu di depan panggung.”

“Baiklah, kalau begitu. Khaja Hyewon!!” ujar Yunho sambil mengajak Hyewon pergi.

Heeyoung menatap Jaejoong yang tengah melihat kepergian Yunho, Junsu dan Hyewon. “Jaejoong, tak apa kan aku ikut bersamamu?”

Jaejoong menoleh kearah Heeyoung, bibirnya mengulaskan senyum. “Ne, tentu saja. Lebih baik daripada aku sendiri.”

“Akan ku tunjukan hal yang menyenangkan di festival ini padamu.”

**

Hyuna melangkahkan kakinya cepat. Tangannya di  dada, merasakan degup jantungnya yang cepat. Rasa sakit menjalari seluruh tubuhnya. Napasnya memburu, kepalanya terasa berdenyut kuat. Perkataan Youngji tadi membuatnya kalut. Jaejoong datang. Apa yang harus ia perbuat jika bertemu dengan pria itu? Tersenyum biasa dan melupakan hal yang pernah terjadi? Semudah itukah melupakannya?

Langkah Hyuna berhenti tepat di ruang kesehatan. Diraihnya knop pintu dan membukanya perlahan. ‘Setidaknya aku akan tenang disini.’ Dilangkahkan kakinya masuk.

“Siapa?”

Hyuna terkesiap. Suara seorang pria. ‘Bukankah mestinya tak ada orang diruangan ini?’ Dilangkahkan kakinya kearah ranjang dekat lemari obat. Tampak seorang pria tengah berbaring. Wajah pria itu tampak pucat, sepertinya tak sehat.

“Rupanya kau Hyuna, aku pikir anggota osis yang mencariku.” Pria itu tersenyum kearahnya.

“Changmin, kau sakit?” sembari duduk di kursi dekat ranjang. Tak ia sangka dapat bertemu Changmin di ruang kesehatan, mestinya pria itu tengah sibuk mengurus jalannya acara festival.

“Hanya sedikit lelah.”

“Benarkah? Tapi kau tampak-“

“Kau khawatir padaku?” sela Changmin. Ditatapnya Hyuna lekat.

Hyuna mendesah singkat. Disentuhnya kening Changmin dengan punggung tangannya. Ia enggan menjawab pertanyaan pria itu. “Panas.”

Changmin terkekeh mendengar perkataan Hyuna. Dilihatnya Hyuna beranjak dari duduknya. Ia terkesiap bangun, menarik lengan gadis itu. “Kau mau pergi?”

Hyuna menoleh. Changmin mencengkram lengannya kuat. Menatapnya penuh. Ia terkekeh geli melihat raut wajah Changmin. “Tidak. Aku hanya ingin mengambil kompres dingin di kulkas.” Dapat ia rasakan cengkraman Changmin mengendur.

“Kenapa kau tidak meminta seseorang menemanimu?” sambil memasang kompres dingin di kening Changmin.

“Semua sedang sibuk dengan festival penutupan. Aku tak ingin mereka repot karna aku. Lagipula ada kau yang menemaniku”

Hyuna terdiam mendengar perkataan Changmin. Dialihkan wajahnya dari Changmin. “Aku hanya tak sengaja ke sini.”

“Tapi kau selalu datang menemaniku saat aku sakit.”

Ditatapnya Changmin lekat. Alisnya terpaut. “Apa maksudmu? Kapan aku menemanimu?”

Changmin mendesah  berat. Dilepas kompres dari keningnya. Ia beranjak bangun, terduduk di ranjang. Ditatapnya Hyuna penuh. Hyuna tampak bingung dengan perkataannya.

“Walau kau lupa tapi aku selalu ingat. Tak pernah sekalipun aku melupakan saat itu.” Disentuhnya pipi Hyuna lembut. Matanya menatap lekat Hyuna.

Hyuna terpaku. Bibirnya terkatup rapat. Dapat ia rasakan denyut jantungnya berdegup kencang, tak terkendali. Changmin menetapnya dalam, tangan pria itu mengusap kedua pipinya lembut. Perkataan Changmin kembali membuatnya bingung menerka maksud perkataan itu. Kedua kalinya Changmin mengatakan hal itu. Hal apa yang ia lupakan tentang Changmin?

“Aku tahu kau selalu memandangnya, memikirkannya, dan hanya dia yang ada dihatimu. Tapi Hyuna apakah kau sadar bahwa ada seseorang yang selalu memandangmu, memikirkanmu dan hanya kau yang ada dihatinya. Sadarkah kau akan hal itu?”

Hyuna terbelalak mendengar setiap kalimat yang Changmin katakan padanya. Kini ia mengerti, maksud setiap perkataan Changmin. Bahwa Changmin-. “Changmin kau-.”

“Jangan katakan apapun!! Biar aku perjelas.” Sela Changmin,telunjuknya didepan bibir Hyuna; meminta gadis itu diam.

“Hyuna, aku… mencintaimu.”

**

Heeyoung tersenyum kecil menatap Jaejoong, pria itu tampak menikmati festival yang berlangsung. Bibir Jaejoong selalu melukiskan senyum, berbeda saat pertama kali mereka datang tadi.

“Kau senang?”

Jaejoong menoleh kearah Heeyoung. Gadis itu tersenyum menatapnya. “Ne. Apa kau juga senang?”

Heeyoung mengangguk. “Ne, aku senang.”

Jaejoong mengusap puncak kepala Heeyoung singkat. Bibirnya menyunggingkan senyum kearah Heeyoung. “Baguslah kalau kau juga senang. Akhh aku ingin menunjukkan tempat yang paling ramai saat festival padamu.” Digenggamnya jemari Heeyoung bergegas membawa gadis itu kearah bangunan kecil yang ramai dikunjungi pengunjung.

Heeyoung tersenyum menatap tangannya yang digenggam Jaejoong. Seketika dadanya terasa hangat. Rasa yang berbeda saat Jaejoong menggenggam tangannya, begitu menyenangkan. Sesuatu yang bergelung di dadanya, membuat jantungnya memompa cepat.  Ada yang lain pada dirinya sejak Jaejoong memeluknya waktu itu. Sesuatu yang sulit tuk ia ungkapkan lewat kata, yang ia tahu; ia begitu nyaman bersama dengan Jaejoong.

‘Hatiku nyaman bersamamu, Jaejoong…’ dipandangnya Jaejoong, senyumnya kian mengembang.

**

“Aku mencintaimu, Hyuna. Sejak pertama kali kita bertemu, pandanganku, pikiranku, hatiku hanya terpusat padamu. ”

Changmin menatap Hyuna sendu, tangannya menggenggam jemari Hyuna erat. Dilihatnya bibir Hyuna mengatup, mata gadis itu terbelalak; tampak terkejut.

Hyuna terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Jemari Changmin menggenggam tangannya erat. Kepalanya terasa berat. Ia baru mendengar pangakuan cinta Changmin padanya. Aneh. Bagaimana bisa Shim Changmin mencintainya? Hyuna sadar, tak mungkin pria seperti Changmin menyukainya apalagi sampai mencintainya!! Tak ada yang istimewa dari dirinya, tapi kenapa Changmin bisa memiliki perasaan seperti itu padanya? Candaan kah? Atau nyata?

“Changmin, kau ber-“

“Aku serius dengan perkataanku Jung Hyuna!! Aku mencintaimu!!” sela Changmin, ditatapnya Hyuna lekat; menunjukan keseriusan dari perkataannya. “Aku mencintaimu, Hyuna. Kalimat itu yang selalu ingin aku utarakan padamu.”

Hyuna memejamkan matanya perlahan. Kepalanya terasa pening. Perlahan ia lepas genggaman Changmin ditangannya. Dihirupnya napas kuat, matanya terbuka perlahan. Menatap penuh Changmin. “Tapi bagaimana bisa kau mencintaiku? Aku.. aku tak pantas untuk dicintai olehmu, kau terlalu sempurna. Sedangkan aku.. aku tak sebanding denganmu.” Dialihkan wajahnya dari Changmin.

Changmin mendesah singkat. Perlahan ia gerakan tangannya menyentuh kedua pipi Hyuna, mengarahkan Hyuna untuk menatapnya. “Ada banyak hal yang membuatku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Walau kau lupa pertemuan itu, tapi aku tak akan lupa saat itu.” Matanya menatap lurus manik mata Hyuna.

Hyuna terdiam, memandang Changmin penuh. Ia tak mengingat pertemuan yang dimaksud Changmin. Walaupun satu sekolah tapi ia jarang bertemu langsung dengan Changmin. Pertemuan dan perkenalan langsung dengan Changmin saat di depan papan pengumuman pembagian kelas. Tak ada yang istimewa saat itu, hanya perkenalan biasa. Apakah saat itu Changmin mulai mencintainya?

“Pertemuan saat di depan papan pengumuman pembagian kelas itu?” tanyanya, tak yakin. Dilihatnya Changmin menyunggingkan sudut bibirnya. Tangan Changmin mengusap puncak kepalanya lembut.

Changmin sudah menduga Hyuna akan berpikir saat itu pertemuan pertama mereka. Karna bagi Hyuna hanya ada pria itu yang ada dilingkup pandangnya, gadis itu membentengi hatinya hanya untuk pria itu. Tanpa bisa disentuh dan membiarkan seseorang masuk ke dalam hatinya selain pria itu. Bahkan tuk mengalihkan pandangan gadis itu terlalu sulit. Ia sendiri pun tahu kalau Hyuna hanya mencintai pria itu. Tapi tak bisakah ia berharap Hyuna akan melihatnya walau sekilas? Memikirkannya walau hanya sedetik? Changmin sadar, mustahil tuk menghancurkan benteng di hati Hyuna. Tapi tak salahkan tuk dicoba?

Ditatapnya Changmin. Changmin hanya diam, tak menjawab pertanyaannya. Sepertinya ia salah menerka pertemuan pertamanya dengan Changmin.

Kegugupan menyergapnya. Belaian Changmin dirambutnya membuatnya terasa sesak. Dapat ia rasakan pipinya memanas. ‘Aishh Jung Hyuna!! Lakukan sesuatu tuk mengakhiri suasana yang aneh ini!!’ batinnya.

“Akh Changmin, aku-.”

“Aku pikir tak akan pernah bisa menyampaikan perasaanku ini padamu.” Selanya, ia ingin Hyuna mengetahui semua rasa yang ia rasakan dihatinya tuk gadis itu. “Tapi saat kau bilang aku adalah kekasihmu di depan pria itu. Aku senang, walau aku tahu kau hanya ingin menjadikanku sebagai prisaimu didepan pria itu. Aku senang, Hyuna.” Lanjutnya.

Hyuna terbelalak. Tubuhnya membeku seketika, Changmin mengetahui maksud terselubungnya. Bahkan Changmin tetap tersenyum lembut kepadanya setelah mengatakan hal itu. Wajahnya tertunduk, tak berani ia pandang Changmin saat ini. Ia telah mempermainkan perasaan Changmin demi kepentingan dirinya.

“Changmin, aku-“ perkataannya mengatung. Sesak menghimpit napasnya. Seketika pelupuk matanya berair, detik berikutnya pipinya telah basah oleh air mata.

“Aku hanya ingin menyampaikan rasa cinta ini padamu, Hyuna.” Diusapnya airmata Hyuna perlahan dengan jemarinya. Matanya menatap lekat Hyuna, bibirnya melukiskan sebuah senyum. “Aku tak berharap kau membalas cinta ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa ada aku yang mencintaimu. Ada aku yang selalu memandangmu. Ada aku yang selalu memikirkanmu di setiap waktuku, dan ada aku yang selalu mencintaimu.”

Bibir Hyuna terkatup. Airmatanya kian deras mengalir, sesak menghimpit napasnya. Menusuk relung jiwanya. Perkataan Changmin membuka mata hatinya bahwa ada seseorang yang mencintainya. Tak ia sangka ada pria lain selain Jaejoong yang mampu menelusup ke dalam pikirannya, mengalihkannya.

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu, Hyuna. Mencintaimu.” Digenggamnya jemari Hyuna erat.

**

Jaejoong menatap Heeyoung yang terlihat antusias, menikmati festival yang berlangsung. Senyum kecil terulas dibibirnya. Seketika senyumnya memudar, entah kenapa wajah Heeyoung tergantikan dengan wajah gadis itu, Hyuna. Tiba – tiba wajah Hyuna terbesit didalam pikirannya. Yah harus ia akui, ia mencari sosok gadis itu dikeramaian lalu lalang pengunjung festival.

‘Bahkan saat ini aku malah memikirkanmu, mencari sosokmu Hyuna.’ Pandangannya berputar, mengamati sekitar berharap menemukan Hyuna.

Jaejoong mencibir kecil, saat menyadari suatu hal. ‘Kau bodoh Jaejoong!! Bukankah kau dan Hyuna kini saling menjauh? Tapi kenapa kau malah mencarinya?’ batinnya.

Heeyoung menangkap perubahan di raut wajah Jaejoong. Raut wajah yang sama saat Jaejoong menceritakan gadis itu, gadis yang mengusik pikiran Jaejoong. ‘Kau memikirkan gadis itu lagi, Jaejoong?’

Heeyoung nyaris menggenggam jemari Jaejoong saat terdengar teriakan yang cukup keras dari arah belakang, menyerukan nama Jaejoong.

“Jaejoong sunbae!!”

Jaejoong menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Seorang gadis berjalan cepat kearahnya dan Heeyoung. Ia kenal gadis itu, namanya Youngji; teman baik Hyuna. Youngji berhenti didepannya. Napasnya naik turun. Dilihatnya Youngji tengah mengatur napasnya. Sebenarnya ada apa dengan Youngji? Kenapa dia tak bersama Hyuna?

“Akhirnya aku menemukanmu Jaejoong sunbaenim.” Ujar Youngji.

Dahi Jaejoong berkerut. “Kau mencariku? Ada apa?”

“Ne, ada yang ingin aku katakan pada sunbaenim tentang-….” Youngji melirik kearah gadis yang bersama Jaejoong. Kini ia mengerti kenapa Hyuna menghindar saat ia ajak bertemu dengan Jaejoong tadi.  “Tapi-..” perkataanya mengatung. Matanya kembali menatap gadis yang bersama Jaejoong, gadis itu kini mengalungkan tangannya di lengan Jaejoong. “Sepertinya aku mengganggu. Aku permisi, sunbaenim.” Dibalikan tubuhnya, berjalan meninggalkan Jaejoong dan gadis itu.

Jaejoong terkesiap, saat Youngji berbalik pergi. “Kau mau bicara apa? Sepertinya penting.” Cegah Jaejoong.

Youngji menghentikan langkahnya. Perlahan ia tolehkan wajahnya. Matanya menatap Jaejoong, kemudian beralih kearah gadis itu.

“Aku rasa apa yang aku katakan nanti bukan hal yang penting lagi untukmu, sunbaenim.” Youngji membalikkan tubuhnya kembali, lurus menghadap Jaejoong. “Aku hanya ingin bilang, kalau Hyuna sepertinya sedang sakit dan ia ada di ruang kesehatan sekarang. Hanya itu. Aku permisi, sunbaenim.” Kembali ia langkahkan kakinya pergi.

Heeyoung dapat merasakan tubuh Jaejoong menegang. Didongakan wajahnya menatap Jaejoong. Rahang Jaejoong mengeras, raut kekhawatiran terbentang jelas di wajah Jaejoong. “Jaejoong, apa kau-“ perkataannya terhenti, saat Jaejoong tiba – tiba berlari pergi meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Sepertinya gadis itu teramat penting untukmu, Jaejoong.” Gumamnya lirih. Matanya terus menatap punggung Jaejoong sampai siluet tubuh pria itu hilang diantara keramaian.

Langkah Youngji terhenti saat seseorang berlari cepat mendahuluinya. Dilihatnya Jaejoong tengah berlari melintasi kerumunan orang, mengarah masuk ke dalam gedung sekolahnya. Youngji terkekeh kecil. ‘Ternyata kau masih penting untuknya bahkan-.’ Ditolehkan wajahnya kearah belakang. ‘Ia melupakan gadis yang bersamanya tuk menemuimu.’

**

Jaejoong berlari cepat menuju ruang kesehatan, menyelusuri lorong kelas yang sunyi. Dapat ia dengar deru napasnya yang terengah serta derap langkah kakinya. Kekhawatiran menyelimutinya, ia tak tenang. Pikirannya dipenuhi Hyuna, membayangkan gadis itu tengah terbaring sakit di ranjang dengan mata terpejam, membuatnya kalut.

Langkahnya berhenti tepat di ruang kesehatan. Peluh mengalir dari wajahnya, napasnya memburu. Diraihnya knop pintu dan membukanya kasar, masuk kedalam ruangan.

Seketika matanya terbelalak, menatap pemandangan didepannya. Tubuhnya terpaku, rahangnya menegang. Dadanya terasa panas. Jaejoong tersadar sesuatu hal, bibirnya mengulas senyum dingin. ‘Gadis itu sudah tak bersandar padamu, Kim Jaejoong. Untuk apa kau mencemaskannya? Kau sendiri yang ingin menjauh darinya tapi kenapa malah kau yang kini berlari kearahnya?’

Gadis itu terkejut melihat kehadirannya. Akh bukan hanya gadis itu tapi pria yang bersamanya juga terkejut. “Jaejoong oppa..” gadis itu menyebut namanya lirih. Manatapnya dirinya penuh. “Kenapa oppa bisa kesini?” lanjutnya, ketidak percayaan tergambar jelas di manik kecoklatan gadis itu melihat kehadirannya.

Jaejoong berjalan pelan menghampiri gadis itu. Bibirnya kembali mengulas senyum. “Youngji bilang kau sedang sakit, makanya aku kesini tuk melihat keadaanmu tapi-.” Wajahnya beralih kearah pria yang bersama gadis itu, kini tengah menggenggam erat tangan gadis yang dulu selalu ia genggam. “Ternyata sudah ada yang menemanimu. Kalau begitu, aku pergi Hyuna.” Diusapnya puncak kepala gadis itu dan berlalu pergi meninggalkan ruang kesehatan.

‘Kau bodoh Kim Jaejoong!! Benar – benar bodoh!!’ runtuknya, senyum getir menghias bibirnya.

**

Hyuna terdiam, matanya lurus menatap pintu yang tertutup rapat. Ia masih tak bisa mempercayai kehadiran Jaejoong tadi. Dadanya sesak, membuncah menahan rasa yang bergemuruh didadanya. Bulir air mata menetes pelahan, menguap meninggalkan pedih.

‘Jaejoong oppa, kenapa? Kenapa kau datang menemuiku?’

Changmin termangu menatap Hyuna, memperhatikan air wajah gadis itu. Binar dimanik mata gadis itu perlahan redup tergantikan cairan bening yang tergenang dipelupuk lalu jatuh perlahan. Changmin sadar tatapan gadis itu takkan pernah terganti, hanya akan memandang pria itu. Perlahan ia lepas genggamannya di jemari gadis itu.

“Kenapa hanya meratapi kepergiannya, Hyuna? Bukankah sebaiknya kau kejar dia. Dia yang kau cintaikan?”

Hyuna menoleh pelan kearah Changmin. Changmin tengah tersenyum kearahnya, senyuman yang tulus. “Changmin, aku-“ Airmatanya terus mengalir, tak tertahankan.

“Kenapa masih disini hmm? Mestinya kau mengejarnya, menyampaikan perasaanmu padanya.” Diusapnya puncak kepala Hyuna pelan.

Hyuna menatap Changmin penuh. Diseka airmatanya cepat, beranjak dari duduknya dan berlari keluar ruang kesehatan.

Sudut bibir Changmin terangkat, mengukir senyum diwajahnya. Hyuna telah pergi, meninggalkannya sendiri. Perlahan ia rebahkan kembali tubuhnya ke ranjang. Matanya terpejam perlahan. Dapat ia rasakan cairan bening mengalir dari sudut matanya.

“Benar – benar bodoh kau Shim Changmin.” Gumamnya.

**

Hyuna berlari sekuat yang ia bisa, mencari keberadaan Jaejoong. Menerobos keramaian festival. Kepalanya berputar, berharap ia dapat menemukan Jaejoong. Nihil. Ia tak menemukan Jaejoong dimanapun. Ada yang harus ia katakan pada Jaejoong. Perkataan yang tak bisa ia tunda tuk diutarakan kepada pria itu. Tentang ketetapan hatinya. Tapi kemana perginya pria itu?

Napasnya naik turun, peluh membasahi wajahnya. Kakinya semakin cepat berjalan, menyusuri tiap tempat.

“Jaejoong oppa, kau dimana?” kepalanya berputar, berharap menemukan Jaejoong diantara keramaian.

Hyuna kembali berlari kecil menyeruak diantara keramaian. Lelah. Menemukan Jaejoong rasanya begitu sulit, ia seperti terjebak didalam labirin.

Langkah kakinya terhenti, ia menemukan Jaejoong. Pria itu tengah duduk disalah satu kursi dekat stand club memasak. Dengan cepat ia hampiri pria itu.

“Akhirnya aku menemukanmu Jaejoong oppa.” Dipercepat langkahnya.

**

Jaejoong menatap gadis yang tengah menunggunya. Perlahan ia langkahkan kakinya kearah gadis itu. Diambilnya posisi duduk disamping gadis itu.

Gadis itu tersenyum menyadari kehadirannya. “Kau sudah kembali rupanya.” Ujar gadis itu, seraya tersenyum.

“Maaf Heeyoung tiba – tiba aku meninggalkanmu.” Ucapnya, penuh sesal.

“Aku mengerti kau pasti khawatir dengan keadaan Hyuna.” Sembari menyodorkan sekaleng softdrink. “Apa Hyuna baik – baik saja? Aku pikir kau akan menemaninya.”

Jaejoong meneguk soft drink yang diberikan Heeyoung. Matanya menerawang ke arah gedung sekolah, menatap jendela ruang kesehatan. “Hyuna, dia baik – baik saja. Sudah ada kekasihnya yang menemani.”

Heeyoung terdiam. Ditatapnya Jaejoong, mata pria itu menatap nanar kearah gedung sekolah. ‘Kau begitu peduli pada Hyuna atau karna kau-‘

Heeyoung mendesah singkat. Menghilangkan berbagai asumsi yang ia ciptakan tentang perasaan Jaejoong pada gadis itu. Lagipula ia tak ada hubungannya dengan perasaan Jaejoong kan? Tak ada gunanya ia memikirkan hal itu.

Heeyoung mengangguk paham. “Akhh Jaejoong, apa kau lapar? Aku sudah lapar. Bagaimana kalau kita pesan makanan?” tawarnya.

“Baiklah, kalau begitu kau tunggu sini. Biar aku yang pesan.” Sembari beranjak dari duduknya.

“Akhh biar aku saja yang pesan!! Kau duduk saja disini, sepertinya kau tampak lelah. Jadi biar aku yang pesan. Kau tunggu ya!!” cegah Heeyoung, sambil bergegas ke meja pemesanan makanan.

Jaejoong tersenyum menatap Heeyoung yang tampak sedang memesan makanan. Kemudian matanya kembali beralih kearah jendela ruang kesehatan. ‘Hyuna, apa pria itu menjagamu dengan baik? Entah kenapa hatiku tak tenang.’

“Jaejoong oppa!!”

Jaejoong terkesiap, saat terdengar suara yang menyerukan namanya. Ditolehkan wajahnya. Matanya membulat menatap gadis yang kini berdiri tepat didepannya. Kenapa gadis itu ada disini bukankah mestinya ada di-

“Hyuna…”

**

Hyuna tersenyum kecil menatap Jaejoong yang tampak terkejut melihatnya. “Oppa, ada yang ingin ku sampaikan padamu.”

Dahi Jaejoong berkerut. Apa yang akan disampaikan Hyuna padanya?

“Apa kau mau mendengarnya? Ini tentang kita, hubungan kita. Maukah oppa mendengarnya?”

Jaejoong terdiam, mencerna maksud perkataan Hyuna. Apakah tentang perasaan Hyuna padanya? Apa Hyuna akan kembali mengatakan mencintainya? Atau?

“Hubungan kita?”

Hyuna mengangguk pelan. “Ne, hubungan kita.”

“Oppa, kau cukup mendengarkannya saja. Jangan mengatakan apapun”

Alis Jaejoong terpaut. Hyuna hanya memintanya tuk mendengarkan tanpa memberikan tanggapan. Sebenarnya apa yang dikatakan Hyuna? Ditatapnya Hyuna, gadis itu tampak begitu tenang.

“Jaejoong oppa, dari kecil kau selalu bersamaku, menemani hariku. Kau tempatku bersandar, berbagi keluh kesah. Entah sejak kapan pandanganku hanya terpusat padamu, duniaku hanya ada dirimu. Tanpa membiarkan seorangpun mengusik dirimu dihidupku.” Dihirupnya napas dalam, sesak memenuhi hatinya.

“Kau pernah bilang; ‘Hyuna, kau sama berharganya dengan Junsu. Tak akan kubiarkan seseorangpun menyentuhmu.’

Jaejoong membeliak, kilasan masa lalu berkelebat didalam ingatannya. Ia ingat saat mengatakan hal itu pada Hyuna. Hyuna tengah menangis, setelah di ganggu teman sepermainannya. Ia mengatakan hal itu tuk menenangkan Hyuna.

“Saat itu aku hanya mengartikan kalimat terakhir, yaitu; aku hanya akan menjadi milikmu. Tapi aku salah, mestinya aku mengartikan kalimat itu secara utuh.” Perlahan airmata membasahi pipi.

“Hyuna, aku-“

“Kini aku mengerti, kau hanya menganggapku adikmu, seperti kau menganggap Junsu. Dan kau akan menjagaku, seperti kau menjaga Junsu. Rasa kasih yang kau berikan padaku, sama dengan yang kau berikan pada Junsu. Karna dari dulu hingga sekarang, aku hanyalah adik bagimu.”

Jaejoong terdiam. Matanya menatap nanar gadis didepannya. Hyuna tengah menahan tangisnya, meredam isak yang menggores sanubari. Tangis yang kembali ia lihat sejak gadis itu mengatakan mencintainya. “Hyuna…” tangannya terjulur, berusaha menggapai Hyuna.

Hyuna mundur selangkah, saat tangan Jaejoong berusaha menyentuhnya. “Aku yang bodoh telah salah mengartikan semua perhatianmu padaku.. Aku sadar, aku telah melangkah jauh. Menjerumuskan diriku sendiri kedalam cinta yang tak kan pernah bisa ku miliki.”

“Oppa, aku mencintaimu. Amat sangat mencintaimu…” senyum mengembang di bibirnya.

Jaejoong membeliak, beranjak dari duduknya. Berdiri dihadapan Hyuna. Hanya terdiam, tanpa menyentuh gadis itu. Menatap gadis itu penuh, pita suaranya tercekat tak mampu mengeluarkan untaian kata yang terpatri di hatinya.

“Terakhir kalinya aku mengatakan rasa itu padamu, oppa. Akan ku hapus dirimu di hatiku, menghapus rasa yang membelenggu jiwaku.” Ditatapnya Jaejoong penuh, jemarinya menyentuh pipi Jaejoong. “Selamat tinggal Jaejoong oppa.”

Jaejoong terpaku, matanya membulat. Hyuna tersenyum dengar airmata yang terus mengalir, jemari gadis itu mengusap pipinya lembut. “Terima kasih atas semua perhatian dan kasih yang kau berikan padaku.”

**

Heeyoung terdiam, memandang kejadian yang terjadi didepannya. Kepalanya terasa berdenyut. Ia baru saja mendengar apa yang seharusnya tak ia dengar. Jaejoong dan Hyuna, mereka berdua-.

Perlahan ia langkahkan kakinya kearah Jaejoong yang mematung memandang kepergian Hyuna. Disentuhnya bahu Jaejoong pelan. Jaejoong tak bergeming, mengacuhkannya.

“Kau baik – baik saja?” tanyanya.

Jaejoong terkesiap. Ditolehkan wajahnya, tampak Heeyoung tengah menatapnya. “Ne?”

Heeyoung mendesah singkat. Bibirnya mengulaskan senyum. “Tidak. Aku hanya bilang, aku sudah pesan makanannya.”

Jaejoong mengangguk pelan. “Akhh begitu rupanya.” Dilangkahkan kakinya kembali dan duduk.

Heeyoung terdiam, mengamati perubahan sikap Jaejoong. Ia akan menganggap semua ya ia lihat antara Jaejoong dan Hyuna tadi, tak pernah ada. Tak akan ia usik apa yang tengah melanda Jaejoong saat ini. Lagipula ia tak ada hubungan apapun dengan Jaejoong, hanya teman. Tak lebih.

Dialihkan pandangannya kearah kerumunan tempat Hyuna pergi tadi. Lalu beralih menatap Jaejoong yang tengah diam terpangu.

‘Kenapa kau menampakkan wajah seperti itu? Bukankah ia hanya adik bagimu, Jaejoong?’

**

“Ini yang terbaik Hyuna. Kau tak salah memilih, inilah yang harusnya terjadi dari awal.” Matanya terpejam, jantungnya berdegup kencang.

“Walau sulit, akan kuhapusmu keberadaanmu dari hatiku Jaejoong oppa dan memulai lembaran baru hidupku.”

Perlahan ia buka matanya perlahan. Bibirnya mengembangkan senyum. Dengan cepat ia langkahkan kakinya pergi, masuk kedalam gedung sekolahnya. Langkahnya terhenti, tepat didepan ruang kesehatan. Ia raih knop pintu dan membukanya.

Langkahnya terhenti mendapati ruang itu kosong. Pria itu sudah pergi. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum. Ia langkahkan kakinya kearah ranjang tempat pria itu terbaring tadi. Ia rebahkan tubuhnya di ranjang, perlahan ia pejamkan matanya perlahan.

“Terima kasih kau mencintaiku, Changmin.” Ujarnya lirih.

Continue…

thanks for read :) dont be silent reader :)

 

 

 

3 thoughts on “Still I Love You part 4

  1. aigo~ kenapa makin memilukan crta.a eon??
    huwaaa T.T nangis badai(?) aku bca.a.
    hyuna berusaha menghapus rasa cnta.a kpd JJ, tpi knp aku gk rela klo hyuna jauh dri JJ.
    sumpah nih ff bener2 daebak~^o^)/

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s