I LOVE MY ANGEL, KYU! – Part 2

Author                       : Whindalee

Cast                            :

–         Park Hye Jae (OC)

–         Kyuhyun as Angel Kyuhyun

–         Leeteuk as Hye Jae’s Hyung

–         Donghae as Donghae

Support Cast            :

–         Park Min Ho as Hye Jae’s appa

–         Park Min Young as Hye Jae’s eomma

Genre                        : Family, Romance, Sad, Tragedy, Friendship & Brothership.

Length                       : Continue

Rating                        : PG-15

 

Sebelumnya..

 

“Ah, ne. Aku pernah melihatmu di dalam mimpiku! Kau orang yang ada dimimpiku tadi bersama appa. Tapi yang kuingat rambutmu itu putih.”, ucap Hye Jae sambil mengerak-gerakkan jari telunjuknya ke arah kepalanya sendiri.

“Mwo, mimpi? Aigo, ternyata aku juga terkenal di alam mimpi y? He.. He.. He.. Ah ne, aku harus merubah penampilanku setiap mendapatkan tugas.”, jawabku langsung.

“Kau malaikat maut yang punya percaya diri tinggi!”, ujar Hye Jae menyunggingkan senyumnya.

“Aish.. Sudah berapa kali kukatakan, aku malaikat pelindung! Sudahlah sebaiknya kau istirahat sekarang dan aku akan tidur disini!”, sahutku emosi sambil berjalan menuju sofa yang ada dikamarnya.

“Kau tidak akan berbuat macam-macam kan?”, tanyanya dengan wajah ketakutan.

“Aku punya harga diri dan aku ini malaikat, Hye Jae! Mulai besok kau panggil aku oppa! Arra? Sudah tidur sana!”, sahutku kesal dengan mengelengkan kepala.

“Arraseo..”

Lalu kami pun terlelap dalam tidur.

Selanjutnya..

 

Leeteuk Pov

 

Tok.. Tok.. Tok..

Kuketuk pintu kamar Hye Jae untuk membangunkan Hye Jae dan Kyuhyun yang ada dikamarnya saat ini.

“Hye Jae, Kyuhyun… Bangun ini sudah pagi! Apa kalian tidak pergi sekolah?”, panggilku yang masih mengetuk pintu.

“Ne, hyung!”, sahut Kyuhyun dari dalam dan membuka pintu kamar itu.

“Kajja, kau mandi dulu! Aku akan membangunkan Hye Jae.”, ujarku sambil masuk ke kamar Hye Jae.

“Ne..”

 

Saat di dalam kamar Hye Jae, aku melihat bingkai foto kecil yang terletak di meja belajarnya. Difoto itu ada kami berlima. Appa, eomma, aku, Kyuhyun sepupuku yang sudah kami anggap dongsaengku sendiri, dan Hye Jae. Tapi entah kenapa aku merasa sedikit asing dengan Kyuhyun. Hah, ini mungkin perasaanku saja.

Sudah dua tahun appa meninggalkan kami, apa Hye Jae juga akan menyusul appa? Aku takut hal buruk seperti itu datang. Kami sangat menyayangi Hye Jae dan mungkin kami tidak akan sanggup jika Hye Jae pergi meninggalkan kami semua.

“Hye Jae, jebal! Bertahanlah untuk kami!”, ujarku yang tidak terasa air mata sudah terjatuh dari sudut mata.

“Appa.. Kumohon jangan ajak Hye Jae denganmu!”, batinku.

 

Flashback

2 tahun yang lalu

 

“Hye Jae, bertahanlah! Appa sedang membelikan obat untukmu!”, ucapku panik.

Kulihat Hye Jae terus memegang dadanya sambil merintih kesakitan. Aku tahu itu pasti sakit sekali.

“Oppa… Appayo, oppa!”, ucapnya lemah dengan wajah yang membuat hatiku terasa seperti tersayat oleh sebilah pisau.

“Ne.. Sabar ya saeng! Oppa dan eomma ada disini.”, sahutku sambil memeluknya bermaksud untuk menghilangkan sedikit rasa sakitnya kini.

“Teuki, tadi eomma menelepon appamu! Kenapa tidak diangkat-angkat ya?”, tanya eomma yang masuk ke kamar Hye Jae dengan wajah sangat cemas sambil menggenggam ponsel.

“Mungkin appa dalam perjalanan pulang. Eomma tenang saja!”, ujarku menenangkan eomma.

“Ne, tapi perasaan eomma tidak enak, Teuki.”, ucapnya sambil terus mondar-mandir.

“Eomma, tenanglah..”, ujarku lembut.

“Oh, mianhae. Eomma hanya takut terjadi hal buruk padanya! Hye Jae, kau bersabar sedikit ya! Appa pasti pulang membawa obat untukmu.”, sahut eomma menghampiriku yang masih memeluk Hye Jae dan mengelus kepalanya dengan lembut.

“Ne.. Eomma.”, ucap Hye Jae pelan.

Kulihat wajah Hye Jae semakin pucat, keringat dinginpun sudah mengalir sekarang. Aku takut melihat Hye Jae seperti ini dan eomma hanya bisa menangis melihat Hye Jae.

“Kenapa harus kau yang sakit, Hye Jae? Andai saja rasa sakitmu bisa dipindahkan, eomma bersedia menggantikanmu, Hye Jae!”, kata eomma dalam tangisnya.

“Eomma..”, ujarku menenangkannya.

“Mianhae, aku selalu membuat kalian menangis!”, ucap Hye Jae dengan suara yang hampir tidak terdengar.

“Aniyo, Hye Jae!”, sambung eomma sambil menyeka air matanya.

Sesaat suasana menjadi hening. Kurasakan pelukan Hye Jae semakin mengendur.

“Hye Jae.. Hye Jae! Jebal, irona!”, panggilku dengan keras saat melihatnya sudah tidak sadarkan diri dipelukanku.

Kuletakan jariku ditangan Hye Jae untuk mengetahui denyut nadinya.

“Masih ada denyutan tapi lemah. Eomma, kita harus segera bawa dia kerumah sakit!”, ucapku panik.

“Tapi Hye Jae membenci tempat itu, Teuki! Kau tidak ingat apa yang dia lakukan saat dia ada di rumah sakit? Dia sama sekali tidak mau makan dan minum sampai membuatnya koma”, jawab eomma langsung untuk mengingatkan ku.

“Eomma, jika Hye Jae dibiarkan terus begini dia bisa mati, eomma!”, sahutku dengan suara yang agak keras.

“…….”, eomma hanya diam.

“Aku akan membawa Hye Jae, eomma!”, ucapku lagi sambil menggendong Hye jae kepundakku.

“Arraseo.. Eomma ikut, Teuki!”, ujar eomma membantuku membukakan pintu kamar Hye Jae.

Lalu kamipun langsung bergegas ke rumah sakit menggunakan mobilku.

“Hye Jae, kau pasti kuat! Eomma dan Teuki oppa sangat menyayangimu! Jebal, bertahanlah!”, ucap eomma yang kembali meneteskan air matanya sambil mengelus kepala Hye Jae dipangkuannya.

“Eomma.. Jebal! Uljima, apa eomma tidak mendengar yang Hye Jae katakana tadi? Dia sedih melihat kita menangis, eomma!”, ucapku lirih.

“Ne, eomma hanya takut kehilangan Hye Jae, Teuki.”, jawab eomma pelan.

“Na do, eomma.”

Kukendarai mobil ini secepat mungkin tanpa menghiraukan rambu-rambu lalu lintas karena yang ada dipikiranku saat ini adalah menyelamatkan dongsaengku, Hye Jae.

Tiba di rumah sakit, Hye Jae langsung dilarikan ke UGD. Aku dan eommapun semakin terkejut ketika melihat tubuh appa yang berlumuran darah dilarikan ke ruang UGD juga. Tangisan eomma mendadak pecah.

“Namphyeon, apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa seperti ini?”, ucap eomma tidak percaya sambil memegang tangan appa.

Appa hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Senyum diwajahnya itu membuatku dan eomma takut.

“Mianhae.. Kalian tidak boleh masuk ke dalam!”, ucap ganhosa sambil menutup pintu ruang UGD.

“Namphyeon.. Namphyeon..!!”, teriak eomma terisak-isak.

“Eomma..”

 

Aku hanya bisa menangis sambil memeluknya. Aku tidak tahu harus bicara apalagi untuk menenangkan eomma, karena saat ini pikiranku juga sama kacaunya dengan eomma. Kini dua orang yang kami sayangi ada di dalam ruangan itu untuk melawan maut. Aku berharap semoga mereka bisa bertahan.

Namun harapanku tidak terwujud, nyawa appa tidak bisa diselamatkan karena sudah kehilangan banyak darah dan Hye Jae yang kembali koma selama 2 minggu.

Senyum appa waktu itu adalah senyuman terakhir yang appa berikan padaku dan eomma.

 

Flashback End

 

Menurut saksi mata, appa mengalami kecelakaan seperti itu karena dia sedang buru-buru keluar dari apotik. Saat ingin menyeberang menuju mobilnya, tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi dan appa tidak bisa menghindarinya.

Kejadian itulah yang membuat Hye Jae menjadi anak yang pendiam sampai sekarang. Senyum cerianya sudah lama menghilang dari wajahnya. Hye Jae merasa, penyebab kematian appa adalah dirinya dan selalu menyesali kejadian itu. Tapi aku dan eomma tidak pernah menyalahkannya tentang kejadian itu. Kami pikir ini semua sudah takdirnya.

 

“Hya Jae, Irona! Apa kau tidak sekolah?”, panggilku pelan membangunkannya.

“Ne, oppa!”, jawab Hye Jae sambil mengusap matanya yang terlihat agak sembab, mungkin karena tangisannya semalam.

“Andwe.. Wajahmu pucat, Hye Jae!”, larangku langsung begitu kusadari wajahnya memang agak pucat.

“Tenang oppa, aku baik-baik saja! Aku masih bisa hidup 1.000 tahun lagi. Arra?”, ujarnya memberiku senyuman yang sudah lama tidak kulihat.

DEG…

Rasanya jantungku berhenti berdetak melihat senyumnya itu.

“Kenapa tiba-tiba kau tersenyum seperti itu, Hye Jae? Wae geuddae?”, ucapku dalam hati.

“Sudah, oppa keluar saja! Aku mau mandi dulu!”

“Arraseo..”, sahutku sambil meninggalkan kamarnya.

“Setelah mandi, segera sarapan!”, teriakku di depan kamarnya.

“Ne.. Oppa.”

 

Park Hye Jae Pov

 

“Ne.. Oppa.”, jawabku sambil masuk ke kamar mandi.  Aku duduk di bathup, tanpa kusadari air mataku mengalir.

“Apa benar waktuku sudah tidak lama? Apa aku akan segera mati?”, gumamku pelan terisak-isak.

Kututup mulutku dengan tangan karena takut tangisanku terdengar.

“Aku tidak mau meninggalkan eomma dan oppa! Tapi aku juga merindukan appa!”, tangisanku semakin pecah. Kubuka keran air agar tangisanku tidak didengar karena dengan ku menutup mulut menahan tangis itu percuma saja sekarang.

“Ottokhe? Ottokhe?”

“Jika memang tidak ada waktu lagi! Aku akan memberikan yang terbaik dan terindah untuk mereka!”, ujarku sambil menyeka air mata.

“Aku akan membuat mereka tersenyum di hari-hari terakhirku. Aku harus terlihat ceria di depan mereka, akan kusembunyikan kesedihanku sendiri disini.”, ucapku memegang dada.

***

“Eomma, sini ku bantu?”, ujarku saat melihat eomma masih sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan.

“Ah.. Tidak perlu Hye Jae! Sebaiknya kau duduk saja menunggu sarapan ini siap!”

“Ani, eomma. Kapan lagi aku akan membantumu? Aku takut tidak bisa membantumu memasak lagi eomma?”, ucapku sambil tersenyum.

Eomma dan Teuki hyung yang ada di dapur menatapku heran.

“Jangan bicara seperti itu, Hye Jae!”, sahut eomma khawatir.

“Ne.. Kau bisa membantu eomma kapanpun.”, sambung Leeteuk oppa.

“Arraseo.. Aku bahagia masih bisa melihat kalian pagi ini!”

“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau akan selalu bersama kami.”, sahut eomma.

“Ah.. Aniyo.”, jawabku langsung. Aku melihat kesedihan di wajah mereka. Rasanya air mataku ini ingin jatuh, tapi kucoba menahannya.

 

Setelah makanan siap, aku pun sarapan bersama eomma, Leeteuk oppa, dan malaikat maut yang mengaku kalau dirinya adalah malaikat pelindung.

“Ya.. Darimana kau dapat baju itu?”, bisikku pada Kyuhyun sebab yang kulihat dia sudah memakai seragam sekolah yang sama denganku.

“Kau lupa? Aku ini angel. Arra?”, sahutnya sambil tersenyum evil.

“Ish..”

“Kajja, kita makan!”, ajak eomma.

“Ne!”, jawab kami serempak.

Kulihat Kyuhyun begitu lahap memakan daging panggang buatan eomma. Tapi dia sama sekali tidak menyentuh sayuran yang ada didepannya. Karena dia tahu aku sedang memperhatikannya, diapun berkata,

“Apa yang aku lihat? Cepatlah makan!”, ucapnya ketus.

“Dasar evil! Kau lebih pantas jadi evil dibandingkan angel.”, ujarku dalam hati.

“Enak saja kau panggil aku evil!”, bisiknya ditelingaku. Aku terkejut saat mendengar ucapannya itu.

“Mwo? Kau bisa membaca pikiranku?”, bisikku kembali tak percaya. Lalu Kyuhyun mengangguk kecil.

“Aish.. Aku bisa gila jika terus didekatmu!”, ucapku berbisik ditelinganya. Seketika wajahnya berubah jadi terkejut dan kesal.

“Aigo, ada apa dengan kalian? Kenapa dari tadi bisik-bisik seperti itu? Apa kalian sedang membicarakanku?”, tanya Leeteuk oppa membuat kami kaget.

“Ah, gwaechanna! Hye Jae hanya menyuruhku untuk makan sayuran ini. Jika aku mau memakannya maka ia akan memberikanku nomor telepon yeoja teman sekelasnya!”, jelas Kyuhyun pada Leeteuk oppa sambil mengedipkan matanya padaku.

“Ish, kenapa jadi aku yang dibawa-bawa?”, ucapku dalam hati.

“Kajja, makan saja dulu. Setelah itu kalian berangkat sekolah. Arra?”, ujar eomma menyudahi permasalahan.

“Arraseo, eomma!”, sahut kami bersamaan.

 

Setelah sarapan selesaipun aku dan Kyuhyun akan diantar oleh Leeteuk oppa ke sekolah. Sebelum pergi aku berniat melakukan sesuatu.

“Oppa, aku ingin foto bersama kalian!”. Saat ku katakan itu eomma dan Leeteuk oppa langsung menatapku.

“Mwo?”, tanya Leeteuk oppa heran.

“Ne, aku ingin foto dengan kalian. Apa kalian keberatan?”, ucapku.

“Ah.. Aniyo! Arraseo, kita foto disini saja!”

“Semua tersenyum y..”, ujar Kyuhyun yang tengah berlari menghampiri kami untuk ikut berfoto. Aku berdiri dibelakang eomma yang sedang duduk dengan tanganku dipundaknya dan eomma juga memegang tanganku itu. Leeteuk oppa dan Kyuhyun ada disamping kiri kanan mengapitku.

Klik..

“Bagus! Semuanya terlihat sangat bahagia”, ucap Kyuhyun saat melihat hasil fotonya sambil tersenyum.

“Sudah berangkat sekarang, nanti kalian bisa terlambat!”, ujar eomma.

“Ne.. Aku pergi dulu, eomma!”, jawabku sambil mencium pipi eomma.

Kamipun menuju mobil Leeteuk oppa.

“Aku duduk di depan!”, ejek Kyuhyun sambil menjulurkan lidahnya.

“Ish.. Enak saja, yang buka pintu itu kan aku duluan, oppa!”, sahutku kesal.

“Ne, memang kau yang buka pintunya. Tapi yang duluan dudukan aku!”, jawabnya sambil menyunggingkan senyum.

“Arraseo, arraseo, aku mengalah saja! Karena aku masih waras!”, ucapku emosi sambil membanting pintu depan mobil.

“Aigo.. Tidak bisakah ku tutup pintu ini pelan-pelan, Hye Jae? Bagaimana kalau tanganku terjepit?”, ujarnya menatapku kebelakang dengan kesal.

“Bukan urusanku!”, jawabku santai.

“Aish, kau terlihat manis saat kesal!”, ejeknya membuat wajahku merah semu.

“Dasar malaikat genit.”, batinku.

Kemudian dia menengok kearahku, tatapannya itu sungguh mengerikan. Buru-buru kualihkan pandanganku keluar jendela mobil.

 

Tidak terasa kami sudah tiba di sekolah, sebenarnya aku merasa malas karena disini aku tidak punya teman dekat satupun. Aku selalu bersikap dingin dengan mereka. Tapi aku harus memanfaatkan hari-hari terakhirku dengan sangat baik.

“Ah.. Ini hari yang cerah! Aku harus semangat!”, ujarku saat keluar dari mobil Leeteuk oppa. Kyuhyun dan Leeteuk oppa menatapku bingung.

“Kau baik-baik sajakan, saeng?”, tanya Leeteuk oppa padaku sambil memegang keningku.

“Ya.. Oppa! Gwaechanna, aku hanya sedang bahagia saja.”, ucapku sambil memaksa tersenyum.

“Owh, baguslah! Oppa senang bisa melihat senyummu lagi.”, ucapnya mengelus kepalaku lembut.

“Aku akan menyemput kalian disini! Tunggu aku pulang dari kantor! Arra?”

“Arraseo, hyung”, jawab Kyuhyun dan aku hanya membalas dengan senyuman.

Aku dan Kyuhyun pun masuk ke area sekolah.

“Hey, apa kau punya teman disini?”, tanyaku.

“Apapun yang aku mau bisa kulakukan, Hye Jae!  Coba lihat saja nanti.”, sahutnya santai.

“Ya, Kyuhyun!”, teriak seorang namja dari kejauhan.

“Ada apa Wookie?”, sahut Kyuhyun sambil mengangkat tangan kanannya.

“Hah?! Benar-benar tidak bisa kupercaya”, ucapku melongo sambil mengeleng-gelengkan kepala.

“Sore ini, bisa tidak kau temani aku mengambil video game terbaru di game center?”, ajak namja itu sambil merangkul Kyuhyun.

“Jinjja? Ada game baru? Kenapa aku tidak tahu y?”, ucapnya mengaruk-garuk kepala.

“Ne, ottokhe? Bisa tidak kau temani aku?”

“Ah.. Mianhae! Aku tidak bisa. Aku dan Hye Jae sudah janji untuk menunggu Leeteuk hyung di gerbang sekolah setelah pulang nanti. Jeongmal mianhae, Wookie”

“Owh, gwaechanna! Kajja kita kelas..”, ujarnya dengan wajah sedikit kecewa sambil menarik Kyuhyun.

“Katanya dia akan selalu melindungiku. Tapi, aku malah ditinggal sendiri sekarang! Ish..”, gumamku kesal.

Entah kenapa aku senang setiap dia ada di sampingku. Apa aku menyukainya? Andwe, andwe, dia adalah malaikat yang akan mencabut nyawaku nanti.

Dari kejauhan, aku melihat Donghae oppa sedang menunggu seseorang di depan kelasku. Dia pasti menungguku lagi.

“Sampai kapan dia akan menungguku seperti itu?”, batinku dan kulangkahkan kaki walaupun berat.

Aku merasa sedikit pusing, mungkin wajahku saat ini juga agak pucat. Aku terus berjalan dan tidak memperdulikan kondisiku, sekarang aku hanya ingin tersenyum pada semua orang.

 

 

 

 

 

 

Tbc

Commentny ditunggu loh..

Gomawo! ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s