Hell-O Joonmyun!

Author: @realniida (Ming)

Cast: Exo K’s Suho, Kim YoungMi (OC)

Genre: Romance, little bit of comedy

Rating : General

Length: Oneshoot

Summary: Bertemu denganmu harusnya membuatku senang. Aku memang senang, kalau saja kondisinya lebih baik, dan kalau saja kita tidak terjebak dalam ruangan 1×2 meter seperti ini. Hell-o Kim Joonmyun!

 

Hell-O Joonmyun!

-YoungMi’s Point of View-

Bias-bias sinar memenuhi kamarku. Sinar-sinar itu menembus beningnya kaca yang terpasang indah di kusen bercat ungu muda, serasi dengan warna cat kamarku. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela satu-satunya di kamarku tersebut rutin membangunkanku setiap pukul 7, saat di mana matahari sudah menyinarkan cahayanya setelah bangun secara sempurna dari tidur panjangnya. Eomma, adalah orang yang memberi ruang pada matahari dengan membuka gorden ungu bercorak kupu-kupu di kamarku setiap paginya.

Pagi yang menyenangkan, pikrku. Summer holiday masih akan berakhir seminggu lagi,dan aku sudah punya setumpuk rencana indah untuk menghabiskan hari-hari terakhir liburanku, termasuk rencana-rencana indahku hari ini. Aku menyibak selimut berwarna soft ungu-ku, lalu menuju kamar mandi, tempat di mana petualanganku hari ini dimulai.

Aku mematut diriku di depan kaca. Aku hanya ingin memastikan penampilanku baik-baik saja, minimal tidak terlihat berantakan. Hari ini aku akan menghabiskan waktuku seharian di luar rumah, itu alasan mengapa aku berdandan sedikit lebih ribet dari biasanya. Setelah memastikan aku berpenampilan baik, aku melangkahkan kakiku menuruni tangga.

Sampai di balik pintu aku mengganti sandal rumahku, sehingga sekarang aku memakai wedges dengan heel sekitar 5cm berwarna peach, yang senada dengan pakaianku hari ini. Aku keluar dari dorm, dan memastikan kunci otomatis beroperasi dengan semestinya.

Aku memasuki lift, dan memencet tombol ‘G’. Di dalam lift aku tidak sendiri, sebelum aku memasuki lift ini, sudah ada seorang namja yang ku-kira-kira lebih tinggi 10cm dariku. Ia benar-benar tampan, bahkan masker hitam polos yang menutupi sebagian wajahnya tidak bisa menutupi  kilau pesonanya. Sebuah keberuntungan bagiku, melihat orang yang sekarang berdiri di sebelahku ini bagaikan mood buster yang membuat moodku menembus skala tertinggi dari tingkat yang pernah ada.

Pintu lift terbuka, setelah sepersekian detik lalu terdengar bunyi ‘ting’.  Sedikit kecewa memang, aku harus berpisah dengan namja tampan yang sedang ku kagumi selama beberapa menit ini.

“tidak keluar nona?” ia menatapku bingung, sehingga sekarang  wajah malaikatnya itu dapat kulihat dengan jelas.

“eh?”  ucapku yang masih terpaku

“Nona?” ucapnya dengan nada yang lebih tinggi. Ia nampaknya sudah tidak sabar menantiku menjawab pertanyaan singkatnya.

“ah, iya! Aku keluar” jawabku gugup. Aku cepat-cepat berjalan keluar, memperkecil kemungkinan untuk ia mengenali wajahku yang sudah pasti terlihat sangat bodoh sekarang.

Aku mencoba berjalan se-normal mungkin. Menghilangkan semburat merah di pipi setelah melalui kejadian memalukan seperti tadi rupanya bukan hal yang mudah. Setelah melewati kawasan apartemen dan mencapai jalan besar, aku langsung menyetop taksi yang hampir melintas. Namun herannya, taksi itu tidak berhenti.

“oh, bodohnya kau Young, taksi itu berpenumpang!” umpatku pada diri sendiri yang dengan bodohnya berusaha menyetop taksi, padahal tulisan “FULL” sudah menyala dengan terangnya di bagian atas taksi tersebut.

Rupanya aku orang yang cukup traumatic. Aku mengurungkan niatku untuk naik taksi. Aku memilih untuk berjalan. Tidak ada salahnya juga menghemat uang, lagipula berjalan juga membantu mengurangi pemanasan global.

Aku berjalan melalui trotoar yang dilapisi dengan paving. Sudah lama rasanya aku tidak melalui jalanan ini. Bukannya aku sudah jarang berjalan, hanya saja kali ini aku menuju tempat yang sedikit berbeda dari biasanya.

‘Hyundae World’ itulah nama tempat yang akan ku kunjungi. Tempat tersebut  didesas-desuskan merupakan mall terbesar dan termewah se-Korea. Merk-merk Internasional, dan harga-harga selangit akan banyak kau temukan di sana. Hal tersebutlah yang menyebabkanku jarang mengunjungi Mall ini.

Namun hari ini aku ingin sekali menghabiskan waktuku di sini, terlebih lagi Mall ini memiliki Cinema dengan kualitas internasional. Semua maniak film layar lebar pasti akan tergiur, begitupun diriku. Tiket mahal? Oh, ayolah, apa gunanya punya eomma dan appa yang pergi bekerja seharian?

Entah suhu kota ini terlalu panas, atau aku yang sedang tidak sehat. Aku baru melewati setengah perjalanan, namun aku sudah merasa haus. Sangaaaat haus. Aku pun memutuskan untuk berhenti sejenak dan membeli minuman. Bubble tea! Itulah hal yang terpikirkan olehku pertama kali. Aku ingat pernah membeli bubble tea di sekitar sini. Aku terus mengedarkan pandanganku. Dan, bingo! Aku menemukan kedai bubble tea itu.

Mungkin aku terlalu kehausan. Ya, mungkin. Dua gelas plastic ukuran jumbo yang baru beberapa menit lalu berisi bubble tea sekarang sudah berada di tempat sampah. Aku menghabiskannya dengan sangat cepat. Ya, itu salahsatu indicator kalau aku sedang dehidrasi.

Tidak jauh lagi, aku akan mencapai Hyundae World. Namun, perasaanku tidak enak. Seperti ada suatu yang mengganjal. Tiba-tiba saja aku teringat dengan jam tangan yang melingkar di tangan kiriku.

“Ya Tuhan!”  pekikku. Aku kembali merutuki diriku sendiri untuk kedua kalinya dalam hari ini. Menurut  tiket XXI yang sudah kupesan dua hari lalu, film akan diputar mulai pukul 09.15 dan sekarang sudah pukul 09.10!

Tak ingin melakukan hal bodoh untuk yang ketiga kalinya, aku segera berlari. Aku berusaha berlari sekencang mungkin, namun ternyata berlari sambil memakai wedges itu tidak mudah. Dan…..

“aw!” aku tersungkur. Wedgesku yang sebelumnya terpasang cantik di kaki kananku, sekarang sudah terlepas. Besi pengaitnya rusak! Aku menatap nanar wedges impor seharga $ 120 milikku.

Aku melepas wedges yang terpasang di kaki sebelah kiriku. Aku menjinjingnya, dan berniat melanjutkan ‘perjuanganku’ mengejar film yang sudah ku dapatkan tiketnya. Namun sekali lagi ‘perjuanganku’ terhambat. Aku merasakan nyeri yang luar biasa dipergelangan kaki kananku.

“masa bodoh!” itu yang kupikirkan sekarang.

Aku akhirnya berhasil mencapai ‘Hyundae world’. Aku bergegas menuju lantai 4, tempat di mana terdapat cinema yang katanya terbaik se-Korea itu. Aku menuju lift, namun niat tersebut ku urungkan. Melihat puluhan orang berjubel mengantre memasuki lift membuatku enggan.

“eskalator tidak terlalu buruk” ucapku dalam hati untuk memotivasi diriku sendiri.

Eskalator ternyata tidak seburuk yang aku kira. Ya, eskalator lebih buruk dari yang ku kira! Kalau saja cara jalanku masih normal , atau setidaknya aku masih memakai alas kaki, aku takkan menjadi pusat perhatian seperti tadi. Sungguh, ini sangat memalukan!

Aku memasuki kawasan bioskop. Kaki telanjangku merasakan lembut, dan empuknya karpet yang terpasang di  sepanjang kawasan ini. Pendingin ruangannya juga berfungsi sempurna. Bahkan aku merasa kedinginan sekarang. Makin lama aku memasuki sentral dari kawasan ini, hawa dingin makin menusuk.

“Oh tidak, jangan lagi” batinku dalam hati. Dosa apa nenek moyangku Tuhan… Kau buat aku malu dengan bertelanjang kaki di tempat elit, dan sekarang kau menghukumku lagi dengan membuatku ingin buang air kecil.

Awalnya aku berniat untuk ‘menahan’ sebentar, namun aku sudah tidak kuat! Aku langsung menghambur menuju toilet. Bahkan nyeri di kakiku kuabaikan demi sesegera mungkin mencapai  tempat tersebut.

“Cobaan apalagi ini Tuhan?” ratapku dalam hati. Sekarang aku sedang berdiri diantara penuhnya orang dalam toilet. Nyeri di kakiku menjadi dua kali lipat setelah menyentuh dinginnya lantai toilet, komplit bukan?

Aku menyusuri pintu-pintu toilet, berharap ada yang segera membuka pintu. Namun hampir ujung, aku masih tidak menemukan pintu yang terbuka. Aku memilih untuk menyandarkan tubuhku di dinding pojok, sambil menunggu pintu kamar kecil paling pojok yang berada di sebelahku ini terbuka.

Tuhan sepertinya masih menyayangiku. Aku melihat pintu yang sedari tadi kuawasi, terbuka sedikit. Tak membiarkan orang lain merebut ‘incaranku’, aku segera mendorong pintu tersebut. Aku terkejut, namun orang yang berada dalam kamar kecil tersebut juga tak kalah kagetnya.

“kya… hppppffttt” aku refleks berteriak. Namun teriakanku tertahan. Sekarang sebuah tangan besar berkulit putih sedang membekap mulutku. Namja yang ku lihat di kamar kecil tadi sontak menarikku ke dalam kamar kecil bersamanya. Ya, kuulangi, BERSAMANYA!

“Hello!” ucapnya sambil menggerakkan kesepuluh jari tangannya ke kiri dan ke kanan. Ia terlihat mencoba menyapaku. Tapi dengan gesture seperti itu, dibandingkan menyapa dia lebih mirip orang ayan.

“kyaaaaa!” teriakku lagi.

“psssstt, jangan berteriak” bisiknya sambil menempatkan jari telunjuknya di depan bibirku. Dia terlihat sangat tampan, apalagi jari telunjuknya terasa seperti sengatan listrik bagiku. Tunggu, jari telunjuknyaa……..

“kyaaaaaaaaaaaa” pekikku spontan, sambil mendorong keras kedua bahunya menjauh dariku. Aku tak pernah berfikir tenagaku sekuat itu, tetapi sekarang ia benar-benar terdorong keras hingga terduduk di kloset yang tertutup.

“sudah ku bilang, jangan berteriak” bisiknya . Ia memasang wajah memohon dan  sedikit ekspresi khawatir.

“Nona, apa kau baik-baik saja?” teriak seseorang dari luar pintu kamar kecil dengan nada sedikit khawatir.

“please….” Ucap namja bermata sipit di depanku ini.

“ah, iya, aku baik-baik saja!” balasku kepada seseorang di luar kamar kecil dengan nada meyakinkan.

“Benarkah, tetapi kenapa anda berteriak?” Tanya seseorang yang berbeda, dari depan kamar kecil.

“ah tidaaak, hanya saja…… kyaaaaaaa, klosetnya bagus sekali! Aku ingin punya seperti ini di rumah! ah, klosetnya bagus… waaaah, mengkilaaat…. Hehehe”  jawabku dengan nada yang ditinggi-tinggikan, menambah kesan norak pada diriku sendiri.

“oh, baiklah kalau begitu” ucap beberapa orang dari luar kamar kecil.

“huffft….” Aku menghela nafas lega.

“mmmhhhhmmmm” aku mendengar seseorang menahan tawa di belakangku.

“ya! Kenapa kau tertawa?” tanyaku retorik

“memang ku akui, toiletnya bagus” ucapnya lagi sambil menutup mulut, menahan tawa yang sepertinya sudah siap meledak.

“kau harusnya berterimakasih padaku, bukannya menertawaiku seperti ini!” ucapku berbisik, namun unsur horror jelas terdengar di dalamnya.

“ne, gomawo Nona” ucapnya sambil membungkuk ringan.

“pergi dari situ, aku mau duduk!” perintahku sambil menunjuk kearah kloset.

“ya! Kau mau apa?” ucapnya dengan mata membulat.

“kau tidak mau…” ucapnya lagi namun kali ini dengan mata yang memicing.

“bodoh, mana mungkin! Aku hanya ingin duduk, kaki ku sakit” ucapku sambil berjalan menuju kloset, dan duduk di atasnya.

“oh ya, annyeong, Joonmyun imnida” ucapnya meperkenalkan diri.

“aku sudah tau” jawabku datar.

“benarkah?” jawabnya dengan nada tak percaya. Oh, ayolah…. Bahkan aku memiliki puluhan postermu di dinding kamarku.

“hm” jawabku singkat, sambil memberi tatapan sebal padanya.

“kau tahu dari ma…”

“Kya! Aku tahu kau Kim Joonmyun, 91-liner, leader dari Exo-K, dan bergolongan darah AB!” ucapku memotong pertanyaan bodohnya itu. Entah dia yang baru saja terkena amnesia, atau baru saja mengikuti ritual cuci otak, ia seperti lupa akan ketenerannya, apalagi ketenarannya di kalangan remaja labil sepertiku.

“ahahaha, iya” jawabnya dengan wajah ngeri.

Hening……  Namun baru beberapa detik berlalu, keheningan ini dihancurkan oleh teriakannya.

“kya! Kau hanya memanggil namaku, harusnya kau memangilku oppa!” ucapnya secara tiba-tiba.

“Kya! Aku juga 91-liner!” jawabku tak mau kalah darinya.

“eh, benarkah?” Tanyanya sambil memperkecil jarak wajah kami, dan menatapku. Ia seakan benar-benar tak percaya

“ iya, aku memang terlihat sangat kekanakan, sudah banyak orang yang mengira bahwa aku anak SMA, atau bahkan tak jarang yang mengiraku masih SMP”  ucapku dengan nada bicara yang lebih tenang.

“tidak, menurutku kau manis” ucapnya. Kaget, ya, aku tak menyangka. Sontak aku langsung mengangkat wajahku, dan sekarang aku menatap lurus, tepat pada manik matanya.

-Suho’s Point of View-

“tidak, menurutku kau manis” uacapku refleks. Ia mengangkat wajahnya, dan sekarang kami bertatapan. Dari jarak sedekat ini aku dapat melihat dengan jelas semburat merah pada pipinya.

“eh” ucapnya bingung sambil mengedip-ngedipkan mata.

“ah ya, kau terlihat manis. Kau manis seperti maknae kami “ucapku sambil tertawa garing. Sebenarnya aku bingung dengan diriku sendiri, kenapa tiba-tiba menyebutkan ‘maknae kami’. Entah mengapa, dia tiba-tiba saja muncul di otakku. Mungkin saja karena gadis di depanku ini memiliki bibir tipis seperti Sehun, kulitnya juga putih. Ah, entahlah.

aku menggeleng-gelengkan kepalaku, berusaha menepis pikiran-pikiran aneh yang bermunculan di otakku.

“eh” aku berkata spontan. Ia tiba-tiba memegang tangan kananku dengan kedua tangan kecilnya.

“benarkah?” tanyanya menanyakan hal yang tidak jelas. Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung.

“benarkah, benarkah, benarkah aku seperti maknae kalian?” ucapnya derngan mata berbinar. Ia sepertinya berharap sekali mendengar kata ‘ya’.

“ah, iya, kau mirip” ucapku. Aku memasang senyum tak ikhlas, sambil berusaha menarik tanganku dari cengkramannya, namun gagal.

“hahaha, sudah ku duga. Aku memang mirip Tao oppa!” ucapnya sambil menaruh kedua telapak tanggannya di pipi. Ia terus tersenyum-senyum tak jelas. Sebetulnya aku kasihan padanya. Dia salah sangka dengan ‘maknae kami’, namun biarlah ia terlihat senang sekarang.

“hehehe” aku menanggapi dengan tertawa yang sarat akan unsur keterpaksaan.

Hening….. namun kali ini tak ada yang mengganggu keheningan diantara kami, kecuali suara ramai dari luar kamar kecil yang masih terdengar berisik.

“Film nya pasti sudah selesai” ia tiba-tiba berbicara sambil menatap kosong jam tangannya.

“mianhe” ucapku penuh penyesalan.

“ani, gwencana” jawabnya sambil memaksakan senyuman.

“pasti akan kuganti” ucapku berusaha menjanjikan ‘penebusan dosa’-ku padanya.

“hahaha, tidak usah merasa bersalah seperti itu. Lupakan saja” ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depanku.

-YoungMi’s Point of View-

“hahaha, tidak usah merasa bersalah seperti itu. Lupakan saja” ucapku berusaha membuatnya yakin kalau aku ‘baik-baik saja’.

Hening kembali menyeruak diantara kami. Aku sebenarnya sangat ingin mengajaknya bicara. Tidak hanya itu, sebenarnya bagian ‘labil’ dari diriku ingin meminta tanda tangannya, atau berfoto, mungkin. Namun keinginan tersebut hanya akan menjadi keinginan, mengingat aku tak bawa alat tulis, dan berfoto dengan latar toilet bukanlah hal yang bisa dibanggakan.

Aku mengehela nafas. Aku merasa sangat lelah. Sepertinya ia juga begitu. Ia menekuk-nekukkan kakinya secara bergantian. Ia juga memijit-mijit ringan tangannya sendiri, sambil bersandar pada pintu yang terkunci.

“duduklah” ucapku padanya sambil menggeser tubhku, memberi ruang duduk untuknya di sebelahku.

“ah, ne” jawabnya. Ia terlihat senang. Sepertinya ia memang benar-benar lelah.

“JoonMyun-ah~ “ aku memanggilnya.

-Suho’s Point of View-

“JoonMyun-ah~ “ dia memanggilku. Dia benar-benar menyebalkan. Masih jelas di ingatanku ia memanggil Tao yang sudah jelas-jelas 2 tahun lebih muda dariku dengan panggilan ‘Tao oppa’, namun sekarang ia memanggilku tanpa embel-embel apapun.

“hm” jawabku singkat.

“kenapa kau bisa ada di sini?” Tanya nya sambil menolehkan kepalanya ke arahku.

“aku tidak sengaja” jawabku masih dengan nada datar.

“bagaimana bisa?” tanyanya terus menagih jawaban yang jelas dariku.

“siapa yang tahu kalau ini kamar mandi perempuan” jawabku asal.

“jelas-jelas berbeda” ucapnya dengan nada yang sebal.

“entahlah, yang aku tau aku sedang dalam keadaan terdesak, ya-kau-tau-lah, pintu bertuliskan ‘toilet’ yang pertama kali ku temukan adalah pintu ini, dan mana ku tahu ini toilet laki-laki, saat aku masuk ke sini tidak ada orang, jadi aku tidak sadar, aku salah masuk tempat.” Jelasku panjang lebar, lalu memberinya tatapan ‘puas-kau?’ .

“emmm…”  jawabnya mengerti. Aneh, aku pikir dia akan menertawaiku.

“kau tidak menertawaiku?” tanyaku heran.

“tidak, tadi pagi aku juga dengan bodohnya menyetop taksi berpenumpang”  jawabnya. eh?

Pikiranku melayang, aku seolah diingatkan oleh omelan D.O melalui ponsel, beberapa jam lalu. “Mengikuti gadis di Kedai Bubble Tea, Hyung?! Hyung, kau tahu, Zhitao baru saja menelepon kami, katanya ia mengikuti gadis misterius yang tadi pagi menyetop taksinya! Ya Tuhan, apakah pengaruh gadis-gadis itu sampai mengalahkan rasa tanggung jawab kalian untuk berlatih?!

-YoungMi’s Point of View-

“Tidak, tadi pagi aku juga dengan bodohnya menyetop taksi berpenumpang” jawabku jujur. Se-bodohkah itu kelakuanku? Sekarang ia menolehkan wajahnya sehingga kami bertatapan. Ia menatapku dengan wajah kaget.

Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat wajahnya yang tercetak sempurna. Ia memiliki mata yang tidak terlalu lebar, namun sangat adiktif untung terus diperhatikan. Kami terus pada posisi ini, sampai terdengar bunyi ‘kruyuuk’ dari perutku. Aku benar-benar malu. Hal ini memang sering terjadi, namun aku tak pernah membayangkan kalau hal ini akan terjadi di depan seorang Exo K’s Suho.

“ah, mianhae, jeongmal mianhe” ucapku gugup sambil membungkuk beberapa kali.

“hahaha, dasar, benar-benar seperti anak kecil” ia berbicara sambil terkekeh.

“hehehe” aku mencoba menertawakan diriku sendiri.

“apakah kau benar-benar lapar?” tanyanya setelah berhasil meredam tawanya.

“ah, iya, aku belum makan dari tadi pagi” jawabku innocent. Ia kembali tertawa, lalu mencari sesuatu dari dalam tas nya.

“ini” ucapnya sambil menyodorkan sebuah kotak kecil. Dari permukaannya yang transparan, aku dapat melihat sepotong cheese cake di dalamnya.

“benarkah ini untukku?” tanyaku dengan mata berbinar.

“tentu saja” ujarnya tegas. Aku mengambil kotak berbentuk persegi panjang itu dengan sangat bersemangat, hingga….

“kya, Kue nya jatuh!” pekikku kaget. Kini aku hanya menggenggam sebuah tutup transparan, sedangkan kotak bagian bawah beserta cheesecake-nya jatuh berserakan di lantai toilet.

“kenapa kau menjatuhkannya?” Tanyanya sambil menatap kosong cheesecake miliknya yang sudah tak layak makan.

“Mianhe” ucapku menyesal.

“Sudahlah, biar saja” ucapnya sambil menghela nafas.

Kami kembali terperangkap dalam keheningan. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Entahlah, hanya saja, tidak ada yang bisa dibicarakan. Aku bukan orang yang bisa memulai pembicaraan dengan orang asing. Mungkin sedikit aneh jika aku menyebutnya ‘orang asing’, tapi kali ini benar-benar berbeda. Aku memang sudah berkali-kali mendapatkan tandatangan eksklusif darinya, tapi baru kali ini aku bertemu dengannya, sebagai seorang ‘Kim JoonMyun’.

Aku mulai mengantuk.

“Hoaamm.” Aku benar-benar mengantuk, dan mataku semakin terasa berat.

-Suho’s Point of View-

“Hoaammm.” Ia menguap.

“Hoaaammmm” ia kembali menguap. Dia terlihat begitu mengantuk.

“YoungMi-ah” panggilku.

“Ne?” jawabnya tanpa menoleh.

“Apakah kau mengantuk” tanyaku sambil memperkecil jarak diantara kami.

“Hm..” jawabnya sambil mengangguk beberapa kali.

“Tidurlah” ucapku sambil mencoba menatapnya. Entahlah, kenapa sekarang terasa begitu sulit untuk menatapnya tanpa kehilangan diriku. Ia menggerakkan bola matanya, terlihat berfikir.

“Di mana?” tanyanya.

“Di tempat ini, aku rasa tidak mungkin bisa” ucapnya sambil meneliti ruangan sempit ini dengan mata yang menyipit.

“entahlah, lagi pula aku tak memiliki tempat bersandar” ucapnya lagi sambil terlihat sedikit putus asa.

“benarkah tidak ada, apa kau yakin?” tanyaku padanya sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekat kearahnya. Oke, ini memang tidak biasa, tapi aku tidak pernah berfikir aku akan menjadi se-gila ini. Aku menggaruk leher belakangku, sudah menjadi kebiasaanku saat darahku terpompa dengan sangat cepat, just like now.

“eh?” ucapnya sambil menegakkan leher, tapi tetap tak menatapku. Ia terlihat bingung, dan entah-hanya-perasaanku-atau-bukan, wajahnya terlihat memerah.

“masih ada tempat, di sini” ucapku sambil mengarahkan kepalanya bersandar di pundakku. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menstabilkan kembali detak jantungku yang baru saja bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

Aku masih tidak berani menoleh kearahnya, walaupun aku berani bertaruh ia sudah terlelap sekarang. Saatnya meminta bantuan, pikirku. Aku merogoh saku celana jeans-ku, dan segera menemukan barang yang ku cari. Aku membuka ‘kunci’ digital ponselku dengan memasukkan kode rahasia. Aku mengetik pesan untuk bodyguard kami, berharap ia bisa menjadi malaikat penyelamatku, ah, ani, penyelamat kami. Saat memikirkan kata ‘kami’ aku spontan menoleh kearah gadis yang sedang tertidur di pundakku.

“dasar pembohong” bisikku padanya. Aku terkikik, mengingat dirinya yang baru beberapa menit lalu berkata “tidak mungkin bisa tidur” sekarang terlihat sangat damai berada dalam tidurnya.

Aku mengamati wajahnya, ia terlihat berbeda. Ia terlihat lebih tenang dan damai. Kesan ceriwis dan kekanakannya yang biasanya sangat ketara, seolah hilang tak berbekas. Aku tersenyum, ah tidak, aku hanya spontan menarik kedua ujung bibirku.

Aku melihat ponselku, berharap mendapat balasan dari yang-ku-harap-bisa-membantuku. Tapi nihil, tidak ada telepon masuk atau sekedar pesan balasan seperti yang kuharap. Aku menghembuskan nafas dengan kesal. Aku terus berfikir tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi jika Tao benar-benar tidak bisa ‘menyelamatkanku’ dari tempat ini. Namun pikiran-pikiran negatifku tersebut luntur setelah aku mendengar teriakan histeris dari luar ruangan. Bukan teriakan tidak suka, tetapi teriakan-teriakan fangirls yang biasa kudengar. “Dia datang!” pekikku dalam hati.

Tidak lama setelah aku mendengar kegaduhan dari luar, seseorang mendobrak pintu ruangan yang kutempati ini dengan paksa.

“Hyung, ayo pulang” ucap Tao dengan nada datar.

-YoungMi’s Point of View-

“Hoaaammmmm” aku bangun dari tidur. Namun kali ini aku tidak dibangunkan oleh ‘Sun’. Sinarnya tidak bisa masuk, gorden-nya belum dibuka. Eomma belum pulang, batinku. Aku mengingat-ngingat kapan Eomma terakhir kali membukakan gorden untukku. Ah, ya, kemarin! Itu berarti Eomma akan pulang hari ini. Itupun kalau Eomma menepati janji.

Aku menyibak selimutku. Aku, mengapa memakai pakaian seperti ini? Tanyaku dalam hati.

“Ya Tuhan, Joonmyun!” aku berteriak spontan. Aku merutuki diri sendiri yang dengan bodohnya melupakan kejadian kemarin.

“Hello” ucap seseorang dari ambang pintu kamarku yang terbuka. Ia terlihat membaca Koran. Wajahnya dibuat-buat, memberi kesan sangat serius. Tapi apapun yang ia lakukan, ini kamarku!

“Kau tahu Young, kalau membaca Koran hari ini kau pasti senang!” ucapnya sambil membuka lebar-lebar halaman pertama Koran nasional langganan Appa dengan kedua tangannya. Judul ‘Apa yang Dilakukan Member Exo di Toilet Perempuan?(!)’ terpampang dengan besar, menjadi hightline news.

Aku sontak mendelik, terlalu kaget dengan berita tersebut. Melihat fotoku yang tertidur dalam gendongan seorang idola dari ribuan fangirl pada halaman utama Koran nasional benar-benar membuatku pusing.

“Apanya yang senang? Kau membuatku malu!” ucapku lalu melemparinya dengan segala properti empuk yang ada diatas tempat tidurku.

“Kya, mana ku tahu Tao akan se-ceroboh itu. Lihat, aku sudah memakai masker, sedangkan ia menampakkan 100% wajahnya!” ia mencoba membela diri. Ia terus menunjuk-nunjuk gambar Koran tersebut, tepat pada bagian dirinya, lalu berpindah pada Tao, dirinya, lalu Tao, dan begitu seterusnya.

Aku yang sudah mulai pusing dengan hal aneh yang dilakukan oleh bias nomor dua-ku ini langsung melanjutkan ritualku yang sempat tertunda, melemparinya dengan bantal, guling, dan segala benda yang ada di atas tempat tidur.

“Kya, Hentikan! Jangan begitu, aku hanya ingin melakukan penebusan dosa” ucapnya, lalu tersenyum innocent sambil mengibas-ngibaskan dua lembar tiket XXI.

“Tidak berminat” ucapku sambil melengos.

“Kya, kau mau …”

“Psssst” belum selesai ia protes, aku menghentikannya. Ponselku berdering. Dan nada ini, nada khusus untuk…

“Appa!” ucapku di telepon, mendahului orang di seberang telepon memberi salam.

“Young!” balas Appa. Namun intonasinya terasa sedikit aneh. Ia terdengar seperti sedikit membentak.

“Ne?” ucapku bingung.

“Kya! Apa yang kau lakukan di dalam, mengapa mengganti password rumah?! cepat keluar, Appa sudah bosan menunggu!” ucap Appa sambil berteriak. Aku menjauhkan ponsel dari daun telingaku, mencegah terjadinya tuli dini yang mungkin saja kualami karena teriakan Appa, bahkan walau hanya melalui ponsel.

“Ne, aku keluar segera” ucapku dengan nada sigap.

Aku memutus sambungan telepon, lalu memberi death glare padanya, pada seseorang yang sekarang sedang tertawa sambil menggaruk tengkuk-nya.

“Hehehe, aku tidak suka passwordnya, makanya semalam kuganti, hehehe” ucapnya, lalu mundur beberapa langkah, dan berlari keluar kamarku.

“Kya, Kim Joonmyun, jangan lari, di luar ada Appaaaa!” teriakku sambil berusaha mengejarnya. Namun, terlambat….

“kyaaa! Kau siapa, apa yang kau lakukan di rumahku?!” aku mendengar teriakan Appa dari arah pintu dorm.

Aku menelan ludah, lalu menutup mata. Aku bersiap-siap untuk mendengar omelan Appa selanjutnuya. Ya, ini salahmu ini salahmu Kim Joonmyuuuuuun!!!

-End-

Selesai! *joget bareng Lay. Gimana, gimana? *.* Aneh, gak jelas, atau bingung? Oke, saya masih pemula dalam dunia ini (baca : dunia per-FF-an) dan saya sadar FF ini juga masih abal~ kkkkkk Pertama, terimakasih untuk yang sudah mau membaca FF ini sampai akhir ^^ Ming udah nyiapin side story tentang Tao + sequel, tapi itupun kalau reader mau~ *reader : Nggak mauuuuuu~ *Ming : Mati  Ok, mohon tulis segala komen yang anda pikirkan tentang FF ini ^^ *maksa lu Ming! Saya sangat mengharapkan kritik dan saran anda :D Sekali lagi, terima kasih banyak :) *tring *terbang bareng unicorn *unicorn keberatan *unicorn jatuh *Lay mati *selesai *anti klimaks *digigit readers kkkkkk~ >< *Line tidak penting.

2 thoughts on “Hell-O Joonmyun!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s