Untold

Author: Chocolatanned

Title: Untold

Cast: Lee Sungmin

        Yoo Eunhee (OC)

        and the others Cameo

Length: OneShot

Rating: Teen.

Genre: Romance

Author’s Note : Hallo semuanyaaa. Aku tau ini masih abal tapi selamat membaca^^ FF ini juga udah aku publish di wordpress pribadi ku: chocolatanned.wordpress.com. thank you.

p.s: poster credited to Evrisca Eonnie (ifasheitte.wordpress.com)

 

 

[!!!] PERHATIKAN LATAR WAKTU NYA BAIK-BAIK.

…….

December 15, 2011

Yoo Eunhee’s POV

“Ya! Eunhee!” Aku menengok ketika mendengar suara cemprengnya itu. Dia ada disebrang jalan sana dengan senyum kelincinya. Dengan lari bocah, dia menghampiriku.

“Kali ini apa lagi? Kau menghindar dari kuis?” Dia bertanya dengan nafasnya yang tersengal.

“Hu’um.” Jawabku singkat. Tentu saja dia tahu alasan mengapa aku pulang kuliah disaat yang belum waktunya ini. Dia sudah menjadi sahabatku hampir selama 10tahun lebih. Ckck, waktu yang cukup lama bukan?

“Aish! Dasar bocah nakal! Sampai kapan kau terus menerus malas mengerjakan tugas hah? Kapan kau bisa lulus dan menjadi sarjana? Kurasa hal itu tidak akan pernah terjadi. Kau ini kan sangat pemalas.” Ocehnya panjang lebar.

“Kalau begitu, untuk apa aku punya sahabat sepertimu? Tentunya untuk membantu mengerjakan skripsi ku, sungmin-a~” aku berkata sedikit meledeknya. Kami terus berjalan. Kaki ku dan kaki Sungmin sudah tahu jelas dimana tempat tujuan kami tanpa diberitahu terlebih dahulu.

“YAK! Enak saja, kau! Aku akan membantumu setelah skripsi ku selesai. Makanya cepat selesaikan semester ini, dan akan kubantu kau menyusun skripsi mu.” kaki kami terhenti tepat setelah ia berkata seperti itu. Bukan. Bukan karena omongannya, melainkan karena kami sudah sampai didepan toko ice cream favorit kami. Kami pun masuk dan langsung duduk ditempat biasa. Seorang pelayan menghampiri kami.

“Ice cream seperti biasa?” Tanya pelayan itu dengan senyum nya yang sudah ku hafal.

“Tentu!” Sungmin menjawab singkat. Kami -aku dan sungmin- memang hampir setiap hari ke toko ice cream ini. Hingga hampir semua pelayannya hafal dengan pesanan kami.

“Memangnya kau tidak lelah kuliah terus? Kuliahmu belum selesai-selesai, Eunhee-ya~ cobalah serius.” Sungmin mulai berbicara lagi.

“Yayayayayayayaya setidaknya kau tidak harus mengatakannya dengan cukup jelas, kan? Itu membuatku kelihatan sangat bodoh.”

“Memang kau bodoh.”

“Yak!”

“Eunhee bodoh.”

“Bawel kau.”

“Kau bodoh.”

“Iya memang, dan kau pintar. Puas?”
Tawanya menggelegar seketika. Aku selalu heran, mengapa aku bisa punya sahabat bodoh ah tidak, maksudku pintar-karena aku sudah terlanjur bilang dia pintar, jadi aku harus konsisten- sepertinya?

“Permisi, ini pesanan kalian” pelayan tadi menaruh ice cream pesananku dan sungmin.

“Minggu ini kau ada acara tidak?” Sungmin bertanya sambil menyuapkan sesendok ice cream ke mulutnya.

“Menurutmu?” Aku menjawabnya dengan pertanyaan lagi. Tumben sekali dia bertanya hal yang sudah pasti ia tahu jawabannya.

“Kau lebih senang menghabiskan waktu luangmu untuk tidur daripada keluar rumah. Jadi dapat ku pastikan, minggu ini kau dirumah.” Ia mencolek sedikit ice cream ku lalu menjilat jarinya itu. Dasar jorok¬_¬

“Kalau sudah tahu, mengapa harus bertanya? Memangnya ada apa? Kau mau ke apartemen ku? kalau iya, jangan lupa belikan makanan ya! Bahan makanan ku habis. Dan lagi, appa belum mengirimkan uang.” Aku sedikit mengerucutkan bibir mengingat appa ku yang tukang pelupa itu belum mengirimkan jatah bulananku. Ya, aku tinggal sendiri di sebuah apartemen yang lumayan besar. Appa ku tinggal di London untuk menjalankan bisnisnya. Eomma? Sudahlah, jangan bicarakan dia. Aku anak semata wayang dan aku hanya memiliki appa. Lalu aku lahir dari rahim siapa? Aku tidak tau dan tidak pernah ingin tau. Mungkin kalau ditanya seperti itu aku akan jawab aku dilahirkan oleh appaku. Masa bodoh dengan fikiran orang lain atas jawaban konyol ku itu. Yang pasti aku percaya keajaiban tuhan dan bisa saja aku memang dilahirkan oleh appaku.

“Ya! Kau ini selalu saja begitu. Aku hanya ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Ucapan sungmin kembali menyadarkanku

“Seseorang? Nugu?”

“Ummmmm ada deh~”

“Yeeeee~ teman mu ya? Laki-laki? Tampan tidak? Kaya? Mirip Choi Siwon, tidak?” Aku kembali antusias saat teringat namja perfect idola ku itu. Siapa lagi kalau bukan Choi Siwon.

PLAAKK!

“AW! Appaseo~~~” aku memegangi kepalaku yang kurang dari 2detik lalu menjadi sasaran jitakan tangan kekar Sungmin.

“Selalu saja membawa-bawa nama namja kuda itu.” Cerocos Sungmin.

“Memangnya kenapa? Kau cemburu? Hahahahahahahahahahhaahahaha” aku tertawa meledeknya.

“Untuk apa cemburu dengannya! Aku jauh lebih tampan darinya huh.” Ia menyingkapkan tangannya di dada.

“Aigooo~~~ tapi dia lebih manly.”

“YAK! YOO EUNHEE! APA MAKSUD MU?”

-cCc-

The Following Morning.

Minggu pagi. Aku masih terlelap dengan mimpi indahku. Hhh~

TINGNONG! TINGNONG!

Suara apa itu? Bel? Aiiisssshhh mengganggu saja. aku membenamkan kepalaku di bantal. Suara mengganggu itu sudah tidak terdengar. Baguslah. Aku mencoba merapatkan kembali kedua mataku.

TINGNONG! TINGNONG!

Haisssshhhhhhhh demi apapun suara itu sangat mengganggu.

TINGNONG! TINGNONG!
TINGNONG! TINGNONG!

“YAK! TUNGGU SEBENTAR!” Aku melangkah gontai menuju pintu. Tanpa melihat dari intercom, langsung saja ku buka pintu apartemenku.

“Yoo Eunhee! Lihat lah tampangmu! Sudah seperti zombie~ hahahahaha.” Aku hafal suara ini. Bahkan mataku masih setengah tertutup tapi aku bisa tahu jelas siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan…

“Sungmin! Untuk apa kau kesini pagi pagi? Mengganggu saja! Lagipula kau kan tahu password apartemenku. Untuk apa masih memencet bel?! Itu-mengganggu-tidurku-tahu!!” Aku menekan setiap perkataanku. Sungmin malah langsung masuk kedalam.

“Sengaja. Biar kau bangun. Itu aku bawakan bahan makanan. Cepat mandi dan dandan yang cantik! Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.” Ia mendorong-dorong tubuhku yang masih terdiam didepan pintu.

“Hmmmmmmmm” aku hanya menjawab seadanya lalu masuk ke dalam kamar mandi.

30 menit ku habiskan untuk bersiap-siap. Setelah rapi, aku berjalan keluar kamar dan menemukan Sungmin sedang menonton tv.

“Aisssh jinjja! Kau ini lama sekali.” Ia langsung berdiri lalu menarik tanganku.

“Kita mau kemana sih? Aku saja belum sarapan. Kau kira aku tidak lapar??!!” Ia menyeretku untuk memasuki mobilnya.

“Harus ku bilang berapa kali kalau aku akan mengenalkanmu pada seseorang, hah??!” Sungmin menjalankan mobilnya.

“Yayayayayaya, terserah kau. Tapi setidaknya belikan aku makanan duluuu~ aku lapar~ sungmin-a.” Rengekku sambil menarik-narik ujung kaosnya.

“Haissssshh.” Ia mengerem mendadak mobilnya.

“Cepat turun, sana! Beli jjajangmyeon dan cepat habiskan ya.” Aku bersorak dan langsung turun dari mobilnya.

-cCc-

Aku baru saja menghabiskan dua porsi jajangmyeon dan kurasa perutku ingin meledak. Langsung saja aku mengikuti langkah Sungmin yang kembali masuk kedalam Civic putihnya itu. Ia kembali menjalankan mobilnya. Seperti biasa, obrolan ngalor-ngidul yang keluar dari mulut kami berdua. Tibatiba ia menghentikan mobilnya didepan sebuah taman. Aku sangat penasaran. Sebenarnya siapa yang ingin ia temui dan kenalkan kepadaku? Apa temannya? Kurasa iya. Namja atau yeoja ya? Apa jangan-jangan dia mencoba untuk menjodohkan ku dengan salah satu teman namjanya lagi? Aaahh andwae! Enak saja! Aku kan hanya mencintai…-

“Ya! Kau mau turun tidak?” Suara Sungmin menghentikan omongan dalam hati ku itu. Fiuuhh…hampir saja aku memberitahu kalian siapa orang yang aku cintai. Hahahahaha.

“Neeeee! Kau ini bawel sekali.” Aku langsung turun dari mobil dan menjajari langkahnya. Ia terlihat sangat bersemangat dan tersenyum cerah. Sebenarnya siapasih? Aku melihat kedepan. Kearah pandangan Sungmin. Didepan sana hanya ada seorang yeoja berambut merah gelap yang membelakangi kami. Apa mungkin dia yang ingin dikenalkan kepadaku? Seorang yeoja?

Kurasa memang yeoja itu yang ingin dikenalkan kepadaku. Fiuuhh untung saja bukan namja aneh-aneh lagi. Semakin dekat, senyum Sungmin semakin terkembang. Ia kelihatan seperti bocah yang baru saja dibelikan mainan baru dari Amerika oleh ayahnya. Senyumnya kelihatan sedikit norak. Oke, sedikit. Lebih banyak tampan dan imutnya. Hey! Aku ini berpikiran apa? Tibatiba tangan Sungmin menggandeng lenganku. Sepertinya istilah menggandeng kurang tepat. Lebih tepatnya adalah menarik lenganku.

Jarak kami dengan yeoja berambut bergelombang itu hanya sekitar 2meter. Dia membalikkan badannya. Ia langsung tersenyum. Manis sekali. Wajahnya juga imut. Pipinya lumayan chubby. Badannya kecil. Ia tidak lebih tinggi dari ku tapi ia imut. Sangat malah. Mata coklat-hazel nya menggambarkan keceriaan. Oh baiklah, dia sangat menarik. Cantik dan imut.

“Hey! Kau sudah lama menunggu?” Sungmin melepaskan tangannya dari lenganku dan langsung menghampiri wanita itu. Aku merasa kehilangan. Maksudku agak sedikit aneh saja, tadi kan ada tangan besar yang menarik-narik lenganku.-.

“Umm tidak kok, oppa. Aku juga baru datang.” Ia masih mempertahankan senyum manisnya. Aku terlalu sibuk memperhatikan dia sampai-sampai tidak mendengar apa yang mereka obrolkan.

“Ohiya, apakah dia..-” yeoja itu berkata sambil melirik kearahku

“Yaampun! Ne, dia yang ingin ku kenalkan padamu.” Sungmin kembali menarik lenganku untuk mendekat kearah mereka. Yeoja itu tersenyum kearahku. Aku membalas senyumannya.

“Seperti yang ku ceritakan, dia sahabatku. Namanya Eunhee.” Sungmin memperkenalkan aku kepada yeoja itu.
Aku masih saja tersenyum sambil mengulurkan tanganku. Walaupun sebenernya jantung berakselerasi. Takut dengan kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari bibir Sungmin.

“Kang Minhae imnida.” Yeoja itu membalas uluran tanganku. Sesaat kami saling tersenyum.

“Ah ya Eunhee, Minhae ini adalah pacarku.”

DEG! Mwoya? Pa….car? Pa-car? P-a-c-a-r? Aku…tidak salah dengar kan? Kenapa kalung yang kugunakan ini rasanya seperti mencekik leherku? Dan kancing-kancing bajuku seperti menusuk kedalam dadaku? Sakit. Sejurus lamanya aku terdiam. Namun aku segera tersadar dan langsung saja memukul pelan bahu Sungmin.

“YA! Kau punya pacar??!!! Mengapa tidak pernah cerita kepadaku hah! Dasar menyebalkan!” Aku pura-pura marah padanya. Padahal dada ku tak karuan sakitnya.

“Hahahahahahahahahhaha kalau ku ceritakan duluan berarti namanya bukan surprise dong. Aku kan sengaja ingin mengenalkanmu langsung dengan Minhae-ku ini.” Sungmin tertawa. Aku ikut-ikutan tertawa.

“Baiklah Minhae-ssi. Namja mu ini sangat menyebalkan!” Aku mencoba mengajak Minhae bercanda bersama kami.

-cCc-

Aku melepaskan sepatu kets ku dan segera masuk kedalam kamar. Perasaanku……..entahlah. Yang jelas aku lelah. Sepertinya tadi aku hanya berjalan-jalan di taman bersama Sungmin dan Minhae. Yaaa walaupun aku terlihat seperti kambing congek. Ah tapi aku jauh lebih cantik dibandingkan kambing congek.

Aku masuk ke kamar mandi. Merendam tubuhku sebentar. Mencoba menghilangkan rasa lelah yang menempel dibadanku dan…….hatiku.

15menit lamanya aku berendam. Kini aku tidur-tiduran dikasur. Memandang langit-langit kamarku. Mengapa bayangan Sungmin dan Minhae yang sedang tertawa bersama yang tergambar di langit-langit kamarku? Kenapa? Aku senang karena akhirnya satu-satunya sahabatku berhasil berpacaran lebih dahulu daripada aku. Ku akui, aku sama sekali belum pernah berpacaran. Begitu juga dengan Sungmin sebelum ia menjadikan yeoja yang bernama Minhae itu menjadi ‘Minhae-nya’

“AARRRRGGGHHHHHHHHHH” aku berteriak tanpa sadar. Kenapa aku jadi geram? Untuk apa aku jadi kesal saat mengingat Sungmin memanggil Minhae dengan ‘Minhae-ku’? Kenapa perasaanku jadi tidak enak saat memikirkan kejadian tadi? Aku merasa……….ah entahlah. Kulirik jam kecil diatas meja. Sudah menunjukkan pukul 8 malam. Aku tidak berniat untuk melakukan apa-apa lagi jadi sepertinya aku memang harus tidur.

-cCc-

December 17, 2011.

Langkahku kali ini sedikit tergesa. Seperti biasa, aku diburu waktu untuk segera mencapai kelasku pagi ini. Tidak usah bertanya, karena sudah terlihat jelas kalau aku terlambat. Menerlambatkan diri, lebih tepatnya.

Aku membuka pintu kelas dan langsung menelan air liur ku saat mata tajam milik Shin saem sudah menusuk ke manik mata ku. Setelah berdiam beberapa detik, aku melangkah kan kaki ku perlahan. Hampir semua mata terarah pada ku. Rasanya seperti aku ini baru saja membunuh seseorang. Terintimidasi. Padahal aku hanya terlambat kurang dari satu jam.

Aku berjalan pelan kearah kursi yang masih kosong saat kuperhatikan mata-mata teman sekelasku ini tak lagi menatapku tajam melainkan menatap mengejek. Bibir mereka bergetar seperti menahan tawa. Aku terduduk. Hening. Lalu…..semuanya meledak. Seluruh orang di ruangan ini tertawa kencang tak terkecuali Shin Saem. Hey, ada apa? Kenapa mereka tertawa dan aku tidak? Apa ada hal yang terlewatkan olehku?

-cCc-

Aku mengambil nampan lalu memberikannya kepada ahjumma-yang aku tak pernah tahu namanya-. Ahjumma itu mengisikan beberapa macam makanan. Aku mengambil tempat agak dipojok, dibawah penghangat ruangan. Entahlah, aku hanya suka duduk dibawah sini saat bulan2 desember dan duduk didekat pendingin ruangan pada awal juli.

Aku memasang headset lalu sengaja memencet tombol ‘shufffle’ agar iPod ku menyetel lagu secara acak. Dentingan suara gitar terdengar indah. Aku hafal betul, ini intro dari Like We Used To. Aku menyumpit beberapa nasi dan potongan daging. Makan ditemani sebuah lagu memang paling enak.

Ngomong-ngomong tentang lagu ini, aku jadi teringat seorang namja. Yang ehem,  10 tahun belakangan ini selalu disampingku. Menjadi orang yang benar-benar tahan berdekatan denganku. Aku masih ingat betul, saat pertama kali ia sengaja melemparkan bola basket ke wajahku agar dia bisa berbicara denganku. Aku saja baru tahu fakta itu beberapa bulan lalu saat aku dan Sungmin-oke, namja kumaksud adalah si bocah yang satu ini-bermain jujur2an. Dia salah satunya temanku yang tahan bertahun-tahun bersama ku. Kuberitahu, aku adalah orang tidak terlalu peduli dengan dunia sosial. Mau orang itu tidak nyaman denganku, mau berteman denganku, aku tidak pernah memikirkannya lebih lanjut. Toh aku sudah berusaha bersikap sewajarnya dengan makhluk yang disebut manusia itu.

Aku akui, bohong sekali kalau aku bilang aku tidak peduli pada Sungmin padahal jelas-jelas dia lah orang yang terakhir kali kuingat sebelum tidur dan pertama kali teringat saat aku bangun. Bingung?

Mungkin rasa kepedulian ku terhadap Sungmin sudah terlalu berlebihan sehingga bisa bilang yeah, aku…menyukainya. Baru 3tahun terakhir ini aku menyadari kalau aku benar-benar mencintainya. Tapi aku sadar, kami bersahabat. Dimana-mana, yang namanya sahabat itu tidak baik kalau harus saling suka. Karena itu aku berusaha menekan dalam-dalam perasaanku ini walaupun pada akhirnya aku yang harus mengalah pada hatiku. Rasa cinta tidak bisa dilawan, bukan? Itu yang terjadi padaku. Aku mencoba menjalani semua dengan sewajarnya.

Dan sekarang aku terlambat. Kalaupun harus mengakui perasaan yang sudah ku pendam hampir 3tahun ini, aku malah akan merusak segalanya. Persahabatan kami. Dan hubungan Sungmin dan pacarnya. Ya, pacarnya. Baru kemarin dia mengenalkan pacarnya itu padaku. Cukup membuatku kaget setengah hidup.

Aku benar-benar bingung untuk menempatkan diri. Sebagai sahabatnya, aku harus benar-benar mendukungnya total, bukan? Tapi bagaimana dengan perasaanku sendiri? Aku harus diam saja? Seperti selama ini? Tapi aku….takut kehilangan Lee Sungmin-ku. Itu tidak akan terjadi, Eunhee! Sungmin tidak akan merubah sikapnya hanya karena ia sudah memiliki kekasih. Tapi, sepanjang kami mulai bersahabat, sebelumnya Sungmin belum pernah punya kekasih. Well, aku memang tidak bisa menghitung seberapa banyak wanita yang menaksir Lee Sungmin. Tapi aku tidak pernah tahu kenapa dia tidak pernah menanggapi serius semua perhatian yang diberikan wanita-wanita itu. Tadinya, dengan santai aku berpikiran bisa saja Sungmin ingin menjaga perasaanku sebagai sahabatnya dengan cara mengacuhkan yeoja-yeoja yang mengejarnya. Tapi sekarang? Aku mematahkan pemikiranku sendiri.

Dan tentang perilaku Sungmin terhadapku nantinya, aku….tidak akan terlalu memikirkannya. Mungkin mulai saat ini aku harus terbiasa melakukan apa-apa yang biasanya dibantu Sungmin, sendiri. Ia pasti tidak lagi punya banyak waktu untukku. Yah, setidaknya begitu saja.

Aku mengerjap kaget saat sebuah tangan melambai-lambai didepan kedua mataku. Aku langsung melepas headset ku dan menengok kearah kanan.

“Aigoooo Yoo Eunheee! Aku sudah memanggil mu berkali-kali tapi kau malah diam saja.” Keluh Sungmin, yang kini sudah terduduk disampingku. Aku hanya menyengir santai. “Mian,” ucapku lalu kembali memasang sebelah headset karena yang satunya lagi dipakai oleh Sungmin. Aku kembali melanjutkan makan ku.

“Ohiya! Menurutmu, wanita seperti Minhae itu suka nya apa ya?” Sungmin meletakkan tangan kanannya didekat hidung, ciri khas nya saat sedang berpikir. Aku mendengus pelan, mana ku tahu. Memangnya yang pacarnya Minhae itu siapa? Aku?

“Memangnya kalian sudah berpacaran berapa lama? Masa kesukaannya saja kau tidak tahu.” Aku membalikkan pertanyaannya. Sungmin mengerutkan alisnya.

“Umm sudah hampir 2 bulan. Tanggal 17 nanti anniversary kami yang ke-2 bulan. Karena itu aku mau membelikannya hadiah.” Jawab Sungmin riang. Tapi sayangnya itu malah membuatku semakin tertohok. Sudah hampir 2 bulan? Selama itukah dia menutupinya dari ku? Dan oh, dengan santainya dia berkata begitu tanpa ada rasa bersalah. Setidaknya, aku masih sahabatnya kan? Bukan kah aku berhak tahu tentang apa yang terjadi dengannya. Apa dia tidak mau memberitahu ku lagi? Terlalu private, begitu? Lalu untuk apa punya sahabat kalau begitu. Aku cukup kesal dan ku kira daripada aku berbicara kasar terhadapnya dan memancing pertengkaran, lebih baik aku pergi dari sini.

“Aku ke toilet.” Ucapku singkat tanpa bisa mengontrol aura dingin yang pasti terdengar jelas dari ucapanku tadi. Aku berjalan menjauhinya. Aku kesal sekali. Bukan, bukan hanya karena cemburu. Tapi aku merasa tidak di hargai sebagai sahabatnya. Entahlah, sebelumnya aku belum pernah se-kesal ini dengan Sungmin.

“Eunhee-ya!” Panggilnya. Aku berhenti berjalan, tanpa menengok. Kudengar langkah kaki sedikit berlari kearahku. Dan tangan Sungmin sudah mengulurkan sneakers nya kearahku. Aku menatap sneakers itu bingung.

“Wae?” Tanya ku sambil mengerutkan kening. Tiba-tiba saja ia tertawa sendiri, terbahak-bahak.

“Puahahahahahahahah. Eunhee-ya, cepatlah pakai saja sneakers ku. Aku tidak mau kau ditertawakan setiap orang” Katanya sambil menunjuk kearah kaki ku. Aku mengikuti arah pandangannya dan gotcha! Aku melihat sepasang kaki yang di kaki kanan menggunakan sepatu sandal berwarna khaki dan kaki kirinya memakai flip-flop hitam. Aigoo! Aku baru sadar kenapa teman-teman sekelas tadi menertawakanku saat datang terlambat. Yoo Eunhee! Kau mempermalukan dirimu sendiri!

-cCc-

Aku berjalan cepat keluar gerbang kampus ku sambil menutupi kepala ku. Oh well langit sangat gelap bahkan rintikan salju sudah mulai turun. Dan bodohnya lagi, aku lupa membawa mantel! dengan terpaksa aku terduduk di halte bus mengingat stasiun subway cukup jauh dari sini dan hujan salju sudah mulai turun dengan derasnya. Yoo Eunhee lihatlah akibat ketelodoran mu hari ini. Setelah mempermalukan diri sendiri tadi pagi, aku menyusahkan diriku sendiri lagi. Kurang bodoh apa? Ini semua garagara Lee Sungmin. Well, biasanya aku berangkat kuliah bersama nya dan dia juga yang mengantarku pulang. Tapi tadi pagi orang itu sudah menelfon ku kalau ia tidak bisa berangkat bersama ku. Jujur saja aku sengaja menerlambatkan diri karena aku cukup kesal. Sebelumnya Sungmin tidak pernah tidak berangkat dengan ku. Dan alhasil aku malah lupa membawa mantel.

Hampir satu jam aku berdiri di halte ini tanpa ada satu pun bus yang lewat. Mengapa hari ini terasa seperti semua tidak berpihak kepada ku? Aku menghela nafas kesal. Daritadi aku sudah menahan diri untuk tidak menyentuh handphone ku dan menghubungi Sungmin. Tapi kurasa keadaan sudah semakin gawat. Hidungku sudah mengeluarkan uap dingin sedaritadi. Kalau begini caranya aku bisa mati membeku. Dengan hati sedikit bergetar aku mengambil handhone lalu mencari nama Sungmin di Contact Name dan menghubunginya. Sedikit resah hatiku saat mendengar nada sambung. Aku takut kemungkinan terburuk yang berkeliaran di otak ku menjadi kenyataan. Ah maldo andwae! Sungmin pasti bisa menjemputku.

“Yeoboseyo.” Jawabnya akhirnya dari sebrang sana. Tapi mengapa Sungmin berteriak seperti itu? Sepertinya ia sedang berada di tempat yang cukup ramai.

“Yeoboseyo, Sungmin-a” aku berkata sedikit keras agar ia bisa mendengarku. Well, suaraku beradu dengan bunyi hujan.

“Eo! Eunhee-ya. Mianhae kau bisa menelfonku lagi nanti. Aku sedang menemani Eomma berbelanja. Disini ramai sekali. Kutelfon nanti saja lagi ya. Mianhae.” Suara Sungmin terdengar putus-putus. Aku menggigit bibir ku. Sebelum ia memutuskan telfon ini aku buru-buru berkata.

“Sungmin-a disini hujan salju nya deras dan aku tidak bisa pul-”

“Apa?! Aku tidak dengar suaramu! Sudah ya disini ramai sekali!” Sungmin memotong ucapanku.

“Andwae! Sungmin-a aku-” tut…tut..tut… Aarghhhhh sial! Dia benar-benar mematikan hubungan telfon. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba nafasku menjadi memburu. Sungmin hanya sedang menemani Eommonim belanja. Lalu apa yang salah, Eunhee? Buang pikiran burukmu! Hufft. Jadi apa yang harus aku lakukan? Menerobos hujan salju hanya dengan memakai t-shirt tipis ini seperti orang gila? Tapi kurasa aku memang sudah gila karena kini aku sudah seperti seekor unta yang lepas di kutub utara. Aku terus berlari menerjang badai, oh oke, maksudku hujan salju ini.

Sial. Kalian boleh sebut aku perempuan paling sok berani yang pernah ada di bumi ini. Baru beberapa blok berlari aku sudah menggigil. Sepertinya bola-bola kecil nan dingin itu menyergap ke dalam tulang rusukku. Membuat tubuh ku menjadi ngilu semua. Dan apalagi ini? Kepala sialan! Mengapa harus pusing disaat seperti ini? Oh, aku salah pertanyaan. Seharusnya yang aku tanyakan adalah mengapa aku dengan bodohnya berlari tanpa menutupi kepala ku sehingga kini rasa nyut-nyutan itu semakin terasa saja.

Kaki ku semakin tidak bisa menurut. Ia berjalan semakin pelan. Aku menunduk, memperhatikan jalanan yang basah tertumpuk salju. Tetapi mataku tidak bisa dibohongi. Ia dengan santainya menatap sneakers yang aku pakai, milik Sungmin tentunya. Dan itu membuatku sadar diri. Seberapa bergantungnya aku pada Sungmin selama ini. Baru kali ini dia tidak menjemputku di rumah dan akibatnya aku telat plus salah memakai alas kaki. Kalau tidak ada dia, atau lebih tepat sneakers nya, mungkin aku semakin terlihat menyedihkan saat ini. Lalu hanya karena Sungmin tidak bisa mengantarku pulang aku jadi seperti berjalan didalam freezer begini. Sudah bukan kedinginan atau menggigil lagi, aku membeku.

Bagaikan oase di padang pasir, aku menemukan mesin kopi dipinggir jalan dan lagi ada tempat meneduh disampignya. Oh Tuhan ternyata kau tidak terlalu mengabaikan hambamu yang sudah bernasib seperti hotdog beku ini. Aku berjalan lebih cepat. Kurasa mataku malah sudah berbinar membayangkan cairan hangat itu melewati tenggorokan dingin ku. Manis gulanya membelai lembut lidahku. Ohh~ aku bisa sedikit menghangatkan diri. Dan selangkah lagi aku akan merasakan semua itu! Aku langsung memasukkan beberapa sen lalu memencet tombol yang bertuliskan diatasnya ‘Hot Chocolatte’ dan dengan tidak sabar menunggu cairan hangat itu tumpah ke sebuah gelas plastik. Tet! Bunyi menandakan gelas sudah boleh diambil. Aku semakin bersemangat. Terduduk di kursi sambil menyeruput pelan Hot Chocolate yang kugenggam erat. Aku tidak perlu lagi meniupnya, karena udara dingin sudah meredam panasnya. Aku bernafas lega merasakan hidung ku yang kembali bisa bernafas nyaman. Sebelumnya, hidung ku memerah dan ya, membeku.

Sudah hampir 10 menit aku terduduk menghangatkan diri disini, tanpa mengalihkan pandanganku dari gelas kedua yang sudah kuhabiskan isinya. Dan aku mulai bosan. Dingin sudah mulai ku abaikan. Aku berdiri, bermaksud membuang gelas plastik ini. Tapi mata ku tertumbuk pada suatu objek. Di dalam cafe sebrang jalan ini, tepat lurus dihadapanku, Lee Sungmin sedang tertawa senang bersama seorang gadis yang dapat ku pastikan adalah…pacarnya. Mendadak rasa beku ku hilang tanpa sisa. Nafas ku mulai tersengal. Aku meremas kecil gelas plastik yang masih berada di dalam genggamanku. Aku mengerti sekarang. Kenapa dengan tumbennya ia beralasan menemani Eommonim berbelanja. Kenapa ia terburu-buru menutup telfon. Dia…mengabaikan ku. Lee Sungmin ku mengabaikan ku.

Koordinasi otak ku tidak bekerja dengan baik. Kaki ku pun kini menuruti hati ku. Aku berjalan cukup cepat dengan dada naik turun. Tentu saja kearah cafe sebrang sana. Mata ku tidak lepas dari dua orang yang kini terlihat sedang asik mengobrol. Dan aku sampai. Buru-buru aku membuka pintu dengan kasar.

Seorang pelayan yang berdiri didekat pintu langsung menyapa ku ramah, “Annyeong, selamat datang dan selamat-”

“Diam! Tidak usah menyelamatiku.” Ucapku cepat, memotong sapaan ramahnya dengan nada sedikit membentak. Pelayan itu memperhatikan ku takut-takut. Aku kembali mengarahklan pandangan ku kearah pojok ruangan, tempat dimana Sungmin dan gadis itu sekarang sedang cekikikan. Yang membuat hati ku semakin tersayat adalah, cafe ini sangat hangat. Sungmin dengan asiknya berduaan dengan pacarnya didalam sini sedangkan aku seperti orang gila membeku dijalanan tadi. Rasanya aku sudah hampir meledak. Langkah tidak pasti ku mengarah ke meja mereka berdua. Sebelum terlalu dekat, Sungmin sudah melihatku. Ada sedikit raut kaget lalu berubah heran dan sialnya dia malah tersenyum.

“Eunhee-yaaa! Kemarilah!” Ujarnya senang. Tampilan ku sudah tidak tahu seperti apa. Ekspresi wajahku saja aku sudah tidak bisa merasakannya. Yang ku tahu pasti adalah gadis itu, Minhae menengok kearahku lalu tersenyum

“Eunhee-ssi, kebetulan sekali bertemu disini.” Ucapnya sambil tersenyum manis. Aku mengeratkan gigi ku. Mencoba untuk tidak membalas senyumnya. Dan demi dewa neptunus, aku tidak tahu mantra apa yang menempel di senyumnya karena senyum nya bisa memaksa bibir ku untuk melengkung sempurna. Suasana menjadi sedikit canggung. Aku masih berdiri didekat meja mereka. Sungmin terlihat agak bingung. Hanya bingung, tidak ada rasa bersalah sama sekali. Aku menunggu salah satu diantara mereka untuk berbicara.

“Kau sedang apa disini?” Sungmin bertanya sambil menatapku. Dan aku hancur. Dia sama sekali tidak bertanya tentang keadaanku. Setelah terlihat seburuk ini, dia masih bertanya untuk apa aku disini?

“Harusnya aku yang bertanya. Sejak kapan Eommonim berbelanja disebuah cafe hm?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Aku sudah dipuncak kekesalan. Dia berbohong. Oh, jadi swalayan sudah pindah kesini ya? Sehingga dia harus menemani Eomma nya berbelanja di sebuah cafe.

“Umm tadi aku bertemu Minhae saat menemani Eomma jadii aku yah, kau tahulah, mengajaknya kencan disini.” Jelas Sungmin. Aku berkeping-keping. Dia membuat alasan lagi. Tanpa ada keraguan di wajahnya. Dan tanpa rasa bersalah sama sekali. Rahangku mengeras. Memangnya dia kira aku sebodoh apa sampai tidak bisa tahu kalau dia sedang berbohong?

“Oh begitu. Oh iya, tadi kau tanya kan, sedang apa aku disini. Aku…hanya ingin..mengembalikan ini, Lee Sungmin-ssi.” Aku melepas cepat sneakersnya lalu menyerahkannya kepada Sungmin. Wajahnya sedikit terkejut mendengar ucapanku. Tanpa mengucapkan terima kasih, aku berjalan keluar meninggalkan cafe ini. Dan aku sendirian. Sungmin terdiam didalam, tanpa mencoba untuk menahanku. Hahaha, menyedihkan sekali kau Yoo Eunhee. Mau mengharap apa? Sungmin mengejarmu dan menahan mu agar jangan pergi lalu meminta maaf? Hah! Aku pasti sudah gila. Bukan, aku hancur.

Sekarang apalagi yang harus aku katakan kepada orang-orang kalau aku bukan orang gila? Rambut basah kuyup, gigi gemelutuk, baju menempel pas di badan akibat kebasahan, dan lagi, tanpa alas kaki. Walaupun keadaanku lebih parah dari yang tadi, aku sudah tidak terlalu memikirkan pandangan orang lain. Aku mengabaikan hujan salju yang terus menerpaku. Seakan mendorong ku menjauh dari cafe itu. Aku tidak habis pikir. Sebelumnya, selama aku mengenal Sungmin, dia sama sekali tidak pernah bisa berbohong. Padaku tak terkecuali orang lain. Aku masih ingat betapa bodohnya dia mengacaukan surprise party untukku di setiap tahunnya hanya karena ia tidak bisa merahasiakannya. Dan kurang dari 2 bulan ia memiliki seorang kekasih, Sungmin seperti ber-transformasi dari sifat aslinya.

Aku dibodohi olehnya walaupun aku tahu kalau dia sedang membodohi ku. Dan aku tambah merasa bodoh lagi saat airmata ini dengan bodohnya menetes begitu saja. Aku bodoh. Aku orang paling bodoh se-dunia. Aku menghapus kasar cairan bening yang terus keluar dari mata ku, dan hidung ku. Tanpa sadar aku sesenggukan. Sendirian, ditengah jalan, ingusan, apa yang kurang mengenaskan? Baiklah, aku Yoo Eunhee si bodoh yang mengenaskan.

Aku melirik arloji ku. Ternyata sudah jam 4 lewat. Cukup lama juga aku berjalan. Aku sudah sampai di gedung apartemenku. Aku memperhatikan sedikit penampilan ku di sebuah kaca spion mobil yang terparkir. Dan bayangan yang tercipta didalam kaca seakan melarangku untuk masuk lewat lobby. Tentu saja! Akan sangat memalukan. Bahkan penampilanku masih kurang rapi dibandingkan cleaning service yang bekerja di apartemen ini. Dengan suka rela walaupun agak terpaksa, aku masuk melewati pintu emergency dibelakang gedung yang langsung terhubung dengan tangga. Dengan begini tidak akan ada yang melihatku. Ngomong-ngomong, hidung ku gatal sekali. Urgh sepertinya sebentar lagi Flu akan menyerang.

-cCc-

December 18, 2011

Aku berjalan agak cepat menyebrangi jalan. Well, hari ini Dosen ku yang tua bangka itu kembali mengadakan kuis. Dan seperti biasa aku tidak akan pernah rela disuruh untuk mengerjakan soal-soal yang untuk mencari jawabannya saja harus berpikir kurang lebih 2 jam. Aku merapikan buku-buku yang belum sempat aku masukkan ke dalam tas sambil terus berjalan.

“Hatchimm! Haaaatt..chim!” Errrghh aku menggosok hidung ku yang memerah. Seperti dugaanku kemarin, hari ini aku terkena Flu. Karena itulah kepalaku terasa sedikit pening. Ini dia yang paling ku benci dari penyakit Flu. Sangat menyiksa. Aku membuka pintu toko Ice Cream langganan ku dan segera mengambil tempat duduk biasa. Well walaupun flu berat sedang bersarang, aku tetap mampir ke toko kesukaan ku ini. Dan pelayan yang sudah hafal dengan pesanan ku pun menghampiri meja yang ku tempati.

“Kau kelihatan sedang flu. Tetap mau pesan ice cream?” Tanya yeoja yang selalu melayani ku di toko ice cream ini. Aku memang sangat sering kesini namun sampai detik ini aku tidak pernah tahu siapa nama yeoja itu. Setelah bersin beberapa kali, aku pun menjawab pertanyaan pelayan tadi.

“Ummm yeah, ice cream seperti biasa saja.” Jawabku sambil kembali menggosok-gosok hidung ku. Aku jadi merasa aneh karena datang kesini sendiri. Biasanya kalau kesini aku selalu bersama Sungmin. Tak beberapa lama pesananku datang. Setelah berterima kasih, aku hanya mengaduk-aduk 4 scoop ice cream choco mint itu dengan sengaja. Yep, aku akan memakannya setelah ice cream ini mencair. Well setidaknya dengan cara ini ice cream nya tidak akan terlalu dingin kan.

Pikiran ku kembali melayang kepada kejadian kemarin. Dan apa yang terjadi setelah kejadian itu? aku menangis semalaman. Oh Tuhan sejak kapan seorang Yoo Eunhee betah menangis sepanjang malam? Meneteskan air mata setitikpun saja sangat jarang. Dan hanya karena kejadian itu aku harus menangis semalaman? Dunia mulai jungkir balik walaupun aku tidak pernah tahu siapa orang yang menemukan istilah konyol itu. Sejak kapan dunia bisa jungkir balik? Kalau begitu seharusnya manusia sudah mati semua. Oke, aku sudah mulai ngelantur kemana-mana.

Tak dapat kusangkal, kepala ku tambah pening. Kurasa pandangan ku sedikit mengabur sampai-sampai aku harus menyipitkan mata ku untuk tahu siapa orang yang baru saja masuk kedalam Toko Ice Cream ini. Oh, ternyata itu Sungmin. Hah?! Sungmin?! Mata ku refleks membesar saat orang yang kini terduduk di depanku adalah Sungmin. Dia tersenyum kepadaku. Dan aku berwajah konyol. Apa yang dia lakukan disini?!?!?!

“Aku tahu kau membolos kuis dan kau pasti kesini. Tadi aku menunggu mu didepan gerbang kampus tapi aku tak kunjung melihat mu jadi ku putuskan saja untuk langsung kesini.” Jawab Sungmin seperti bisa membaca pikiran ku. Aku mengerjapkan mata ku. Setelah sadar kalau mulutku terbuka, aku buru-buru mengatupkannya. Aku membuang nafas pelan. Masih sedikit kaget dia berada disini padahal ini adalah sesuatu yang sangat biasa.

“Oh.” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. Bukan, bukan karena sengaja. Melainkan karena setelah itu aku langsung bersin-bersin. Bukan lagi 2 kali berturut-turut, tapi sampai sekarang pun aku masih bersin-bersin tanpa henti. Haish kenapa hidung ku ikut-ikutan kaget dengan kedatangan Sungmin?

Sungmin mengulurkan sapu tangannya kepadaku. Karena terdesak aku pun mengambilnya dan menutupi hidung merah ku. Untung nya tidak ada cairan lengket yang keluar dari hidung ku. Aku menatap kikuk kearah Sungmin.

“Hey, kau kenapa? Flu?” Tanya nya dengan nada seperti biasa. Uhm sebenarnya memang keadaannya biasa saja. Mungkin hanya aku yang terlalu memikirkan kejadian kemarin. Buktinya Sungmin bersikap biasa-biasa saja padaku.

“Yep, Flu. Lumayan berat karena kepalaku sedikit sakit.” Jawab ku seadanya sambil menaikkan kedua alis ku. Dia mengangguk-angguk.

“Kenapa kau bisa terkena Flu?” Pertanyaan yang tidak ku perkirakan keluar dari mulut Sungmin. Aku sedikit menganga.

“Karena kucing tetangga ku terlindas truk.” Aku menjawabnya dengan jawaban yang setimpal dengan pertanyaan yang ia ajukan tadi.

“Hah?” Dia menatapku dengan raut bodoh. Dan seseorang tolong potong telinga ku. Ada apa dengannya? Apa dia amnesia? Kehilangan ingatan? IQnya menurun? Kenapa Sungmin kehilangan selera humor nya? Oh ayolaaaaah, aku tidak tahu kalau Lee Sungmin bisa sebodoh ini.

“Lupakan.” Ucapku asal. Malas meladeni nya yang terlihat agak berbeda dari Lee Sungmin yang biasanya walaupun sikapnya tetap sama. Aku mengaduk cairan mantan ice cream ini dan mulai menyuap nya.

“Kau kan sedang sakit. Kenapa masih minum ice cream sih. Nanti malah tambah sakit.” Tibatiba Sungmin mengomel sendiri. Aku berhenti menyuap dan menatapnya. Wajahnya terlihat khawatir. Aku mengerucutkan bibirku sebentar.

“Aku sengaja menunggu nya sampai cair. Jadi tidak akan membuatku tambah sakit.” Bela ku. Baru saja aku ingin menyuap lagi, gelas ice cream ku sudah diambil alih oleh Sungmin.

“Jangan mengelak! Menurut lah padaku sekali-kali. Kau ini ngeyel sekali. Kalau flu mu tambah parah bagaimana?” Omelnya. Ia menatapku galak. Aku memelototi nya.

“Yak! Kembalikan ice cream ku. Oh ayolah Sungmin-aaa~ aku bukan anak kecil lagi. Cepat kembalikan!” Aku berusaha mengambil gelas ice cream ku. Tapi Sungmin terus menjauhkannya dariku. Mau tak mau aku berpindah duduk disampingnya dan terus menjangkau-jangkau gelas ice cream. Tanpa sadar tangan Sungmin tibatiba sudah menggelitiku.

“Puahahahahhahaha Sungmin-a hentikan! Kubilang..hahahahahahahaa..hentikan..huahahahahahaha.” Aku tidak bisa menahan tawa ku kalau sudah digelitiki seperti ini. Karena sudah tidak tahan akhirnya aku mencubit keras perut Sungmin.

“AWW!! YAK! Yoo Eunhee kau benar-benar..errgh…sakit tahu!” Ucapnya kesal sambil memegangi perut bekas cubitan ku tadi. Entahlah, melihat wajahnya seperti itu mengingatkan tentang persahabatan ku dengannya. Kenapa aku merasa…Lee Sungmin ku baru saja kembali?

-cCc-

March 15, 2012.

Aku tidak terlalu menghitung sudah berapa bulan tapi yang pasti ini sudah berlangsung cukup lama. Semenjak kejadian di Toko Ice Cream itu, bisa dibilang hubungan ku dengan Sungmin makin membaik. Bukan berarti kembali seperti dulu. Karena sekarang Sungmin makin disibukkan dengan pacarnya itu. Kerap kali aku meminta bantuannya namun ia bilang sedang bersama Minhae dan selalu mendahulukan gadis itu. Oke, aku sama sekali tidak punya alasan untuk marah apalagi membenci Minhae. Karena kalau itu terjadi maka aku yang akan menjadi sosok antagonis, membenci gadis baik tidak bersalah sepertinya. Yaaa walaupun ia berhasil menarik perhatian Sungmin sepenuhnya tapi itu benar-benar wajar karena dia adalah yeojachingu Sungmin. Sedangkan aku?

Ah sudahlah tidak baik kalau aku harus memikirkan hal negatif di hari yang cerah ini. Walaupun diluar mendung tapi ini adalah hari yang sangat cerah untuk ku! Tentu saja karena hari ini aku libur kuliah. Hhh~ indahnya hari ini. Aku menikmati Coffee Latte ku sambil terduduk di balkon kamar. Aku merasakan kesunyian apartemen yang ku tinggali sendiri ini sampai tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama ku dari ruang tv.

“Eunhee-yaaa! Cepat kesinii!! Aku bawa pizza!” Teriak Sungmin. Oh tentu saja aku hafal suaranya. Dengan cepat aku berjalan kearah ruang tv dan di meja sudah tersaji satu pan Pizza ukuran large. Uooo~ tampaknya Dewi Fortuna sedang bersama ku hari ini.

“Ada apa kau datang kemari?” Tanyaku sambil mengunyah pizza pemberian Sungmin.

“Um aku tidak lama-lama. Hanya ingin mengantar Pizza ini dan jugaa, ummm besok aku dan Minhae berencana untuk pergi ke taman hiburan dan Minhae ingin kau ikut. Aku juga ingin kau ikut. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan bertiga? Pasti sangat menyenangkan! Kau harus ikut, okey?” Sungmin memasang senyum andalan nya. Dan yeah kurasa itu bukan ide yang buruk. Mungkin ini adalah satu-satunya cara ku  untuk bisa menghabiskan waktu bersama mereka setelah Natal dan Tahun Baru yang kulalui sendiri karena Sungmin, yeah, memilih untuk merayakannya bersama kekasihnya itu.

“Baiklah aku akan ikut tapi tidak ke taman hiburan.” Ucapku memberi saran. Aku tidak terlalu menyukai taman hiburan karena ku akui aku takut untuk menaiki wahana-wahana seperti itu.

“Okee! Aku akan beritahu Minhae kalau kita tidak jadi ke taman hiburan. Besok jam 9 kami jemput, okay. Byeee.” Sungmin pamit dan langsung keluar begitu saja. Hhhh biarlah yang penting aku bisa menikmati hari yang cerah ini~

-cCc-

The Following Day.

Setengah hari kami habiskan dengan menonton film lalu makan siang. Sekarang aku, Sungmin, dan Minhae sedang menyusuri Myeongdong. Melihat-lihat toko yang berjajar. Walaupun sedari tadi Sungmin lebih banyak berinteraksi dengan Minhae, setidaknya aku masih bisa menekan perasaan ku sendiri. Betapa lucunya. Mereka adalah pasangan berbahagia dan aku disini, memalsukan senyum-yang tidak sepenuhnya palsu-didepan mereka.

“Oppa, lihatlah bukan kah itu lucu? Bisakah kita membelinya?” Seru Minhae sambil menunjuk sebuah Couple Tee yang terlihat sedikit kekanakkan. Hahaha aku jadi ingin tertawa karena membayangkan apa reaksi Sungmin selanjutnya. Dia pasti akan menolak untuk membeli t-shirt itu. Walaupun Sungmin menyukai warna pink tetapi dia tidak menyukai hal-hal yang menurutkan kekanakkan dan..norak. Aku sibuk dengan pikiranku sampai tiba tiba ku rasakan telingaku seperti rusak saat Sungmin berkata, “Kau suka? Baiklah kita akan membelinya.”

Blast! Khayalan ku rusak semua. Aku tercengang disini. Oh oke. Kurasa aku mengerti. Bahkan Sungmin merelakan rasa tidak suka nya hanya untuk menuruti kesukaan kekasihnya. Ha-ha-ha. Tertawa lah sesuka kalian. Aku memang patut dikasihani. Setelah menunggu Sungmin dan Minhae membayar couple tee yang mereka beli, kami melanjutkan jalan-jalan. Hhhh kurasa aku perlu pengalih perhatian dan hey perutku membuatku memiliki alasan.

“Sungmin-a, Minhae-ah sepertinya aku ingin beli ddeokbokki di sebrang jalan sana. Apa kalian mau?” Tawar ku sambil tersenyum meringis. Sungmin menaikkan alisnya.

“Kau lapar? Bukan kah tadi kita sudah makan siang?” Tanya Sungmin sambil mendelik ke arah ku.

“Umm yeah aku iseng saja. Mau tidak? Biar sekalian kubelikan.” Tanya ku lagi sambil menatap Minhae.

“Aku mau satu. Tidak apa-apa kalau kau yang membelikan?” Ujar Minhae sambil menatapku tidak enak. Aku mengibaskan tanganku.

“Ah tidak apa-apa. Santai saja. Kalian tunggu sini ya, akan kubelikan.” Ujarku lalu mulai menyebraang kearah ahjumma penjual ddeokboki di sebrang jalan.

Author’s POV

Eunhee mulai menyebrangi jalanan. Sedangkan Sungmin menatap aneh kearah Eunhee.

“Hey, ada apa?” Tanya Minhae heran melihat Sungmin yang tatapannya aneh.

“Entahlah aku merasa tidak enak saja padanya. Ku rasa ini sudah terlalu lama.” Ujar Sungmin pelan. Minhae menghela nafas pelan lalu mengelus punggung Sungmin.

“Sabar lah, sebentar lagi waktunya tiba.” Kata Minhae berbisik kearah Sungmin. Sungmin hanya mengangguk lalu tersenyum.

“Baiklah, aku mau menyusul Eunhee dulu, ya.” Ucap Minhae lalu berjalan meninggalkan Sungmin. Sungmin memperhatikan Eunhee yang sedang membayar makanannya sampai tibatiba terdengar teriakan seseorang.

“AAAAAAAAAARRRRRRRGHHH!”

BRUKKKKKK!

Kejadiannya begitu cepat sehingga yang kini tertangkap di mata Sungmin adalah tubuh Minhae yang sudah terbaring didekat trotoar. Dengan cepat Sungmin berlari menghampiri Minhae lalu terduduk shock melihat kepala Minhae yang sudah berdarah terbentur trotoar

“Min!!! Minhae-aaa!” Sungmin berteriak-teriak panik melihat Minhae yang memejamkan matanya. Sungmin menepuk-nepuk pipi Minhae. Perlahan Minhae membuka matanya lalu menatap Sungmin kesal.

“Kenapa kau disini! Cepat tolong Eunhee, bodoh! Lee Sungmin bodoh cepat tolong Eunhee!” Minhae berteriak memaki Sungmin sambil mendorong tubuh Sungmin. Tangisnya pecah. Melihat itu Sungmin pun bingung. Minhae terisak.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Sungmin bingung

“LEE SUNGMIN BODOOHHHH CEPAT TOLONG EUNHEE! DIA YANG MENGHALANGI TRUK YANG HAMPIR MENABRAKKU. DIA YANG KENAPA-NAPA” Teriak Minhae dengan suara terisak. Sungmin buru-buru berdiri lalu pandangannya tertumbuk pada orang yang sedang mengelilingi sesuatu. Dengan cepat Sungmin berlari kearah gerombolan itu. Pikirannya kalut. Semua kemungkinan negatif terlintas di otaknya. Dan saat dia melihat sesuatu yang dikerumuni oleh orang-orang tersebut, hatinya hancur. Sesosok tubuh yang sangat dikenalnya terbaring dengan darah membanjir.

Kaki Sungmin melemah. Ia jatuh berlutut disamping tubuh Eunhee. Tangannya terulur menarik kepala Eunhee keatas pahanya. Membuat darah Eunhee membasahi celana nya. Sungmin masih diam. Tetapi airmata mengalir. Tangannya mengelus pipi Eunhee. Nafasnya melambat melihat mata Eunhee tertutup rapat dengan tulang kaki yang patah. Dengan suara parau dan tercekat, dia berusaha berteriak menyuruh orang untuk memanggil ambulance. Suaranya kering. Hanya matanya yang basah akan airmata, dan tangannya yang basah akan darah Eunhee.

Sungmin sudah tidak bisa lagi bernafas dengan baik. Dia lebih dari shock. Tangannya mengusap pelan pipi Eunhee. Dia mendekatkan tubuhnya ke kepala Eunhee lalu berbisik di telinga Eunhee. Pelan dan dengan suara parau.

“Eunhee-ah kumohon bertahanlah. Buka lah mata mu sebentar. Jebal…” Bisiknya dengan isakan yang tidak bisa dibilang pelan. Sungmin memejamkan matanya pedih saat melihat Eunhee tetap bergeming. Tangannya menggenggam jemari Eunhee yang mungkin sudah patah beberapa tulang nya. Namun tibatiba Sungmin tersentak saat mendengar suara lemah yang terdengar seperti memanggil nama nya.
“Sung..miinn..aaa.” Sungmin buru-buru membuka matanya saat mengenali suara itu. Tatapannya bingung melihat mata Eunhee yang masih terpejam, tetapi bibirnya bergerak memanggil nama Sungmin.

“Sshh…Naega isseoyo (aku disini)” Sungmin mengelus pelan rambut Eunhee saat gadis itu memanggilnya sambil menahan sakit.

“Bertahanlah Eunhee-ya. Sebentar lagi ambulance datang.” Sungmin mempererat genggamannya pada Eunhee.

“Sungmin-a..kau harus tahu sesuatu..” Eunhee berkata pelan. Matanya terbuka sedikit, bibirnya bergetar menahan sakit disekujur tubuhnya yang bahkan sebagian mati rasa.

“Aku..mencintaimu.” Ujar Eunhee pelan. Dia sudah menyerah. Setidaknya ia harus mengatakannya walau itu tidak akan merubah apa-apa. Sungmin menarik nafas.

“Kalau begitu jangan tinggalkan aku.” Ucapnya pelan. Sungmin bergetar. Seluruh badannya ngilu melihat keadaan Eunhee. Dan hatinya ngilu mendengar ucapan Eunhee.

“Aku tidak janji. Setidaknya kalau nanti aku pergi, berjanjilah kau akan bahagia. Aku sudah berusaha menyelamatkan orang yang kau cintai. Aku tidak apa-apa melihat mu bersama gadis yang kau cintai asal kau harus terus bahagia. Setelah ini tidak usah pikirkan apa-apa tentang ucapan ku tadi. Anggap saja itu sebagai ucapan selamat tinggal dari ku. Jangan menyesal karena kau tidak bisa membalasnya. Karena perasaan ku…..memang tidak untuk kau balas. Minhae tidak apa-apa kan? Kau harus cepat membawanya ke rumah sakit…-” Sungmin memotong ucapan Eunhee

“Berhenti! Jangan berbicara seperti itu. Kau terluka parah. Jangan bicara macam-macam. Sebentar lagi ambulance datang dan kau akan baik-baik saja. Kau hanya perlu bertahan.” Nafas Sungmin memburu. Eunhee tersenyum dibalik bibir merahnya yang tertutup darah.

“Pastikan Minhae baik-baik saja dan kau akan tetap seperti dulu apapun yang terjadi pada ku. Aku akan tetap bertahan selama kau bahagia.” Eunhee meringis lagi sebelum dia menutup matanya. Sungmin terdiam. Nafasnya hampir berhenti sampai suara ambulance memaksanya untuk tetap sadar. Dan hari itu. Disaat keaadaan geming dan penuh kepanikan. Sungmin mengetahui sesuatu yang memang ingin didengarnya sejak dulu, tapi di saat yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali.

…..

…..

…..

…..

 

 

 

 

 

EPILOG

March 17, 2014

“Kali ini kau datang lebih pagi, Tuan Lee.” Sapa seorang suster didepan meja information. Sungmin hanya tersenyum simpul lalu melanjutkan langkah nya. Ia memasuki ruangan khusus yang dipesannya sendiri di sebuah rumah sakit yang masih milik keluarganya. Senyum masih terpeta di bibir tipis nya. Ia berjalan menuju pintu kamar rawat didalam ruangan yang sudah terlihat seperti Suite Room hotel berbintang tujuh.

Matanya langsung tertuju kepada seseorang yang terbaring sambil memejamkan mata diatas kasur. Sungmin mengambil langkah pelan seperti tidak ingin membangunkan orang itu. Dia menaruh sebuket bunga Carnation Pink yang dibawanya ke dalam vas yang berada di nakas samping kasur. Setelah itu Sungmin terduduk di kursi. Tangannya terulur mengelus rambut orang itu dengan lembut.

“Jadi kau masih tidur, eoh? Kapan kau akan bangun, Eunhee-ya? Ini bahkan sudah hampir dua tahun. Tidak tahu kah kau, aku selalu mengharapkan kau terbangun mengerjapkan mata di setiap pagi aku datang?” Sungmin tersenyum pedih. Dia selalu ber-monolog seperti orang gila. Tapi itu tidak pernah membuatnya lelah. Tangannya menggenggam tangan Eunhee.

“Kali ini aku membawakanmu Carnation Pink. Besok kau mau bunga apa, hm? Bagaimana kalau…” Ucapan Sungmin terhenti saat dilihatnya mata Eunhee bergerak pelan. Sungmin menganga kaget. Ia mengusap matanya cepat. Takut-takut yang dilihatnya hanya ilusi semata. Namun saat mata itu mengerjap lebih sering, Sungmin langsung melonjak dan memencet tombol pemanggil dokter otomatis. Nafasnya memburu menunggu dokter datang. Suara kaki orang yang sedang berlari lalu disusul suara pintu terbuka cepat membuat Sungmin sedikit kaget. Dilihatnya dokter yang masih merupakan pamannya itu pun masuk ke dalam ruangan bersama tim medis yang lain.

“Dok, tadi matanya bergerak. Dia mengerjap, Dok.” Ucap Sungmin antusias. Sang dokter hanya tersenyum lalu memegang pundak Sungmin.

“Baiklah, Sungmin-a kami akan memeriksanya lebih lanjut. Tapi maaf, bisa kah kau tunggu di luar?” Sungmin berjalan ke luar kamar rawat lalu terduduk di sofa. Jantungnya ber-akselerasi. Sampai-sampai ia kaget saat seseorang membuka pintu ruangan. Terlihat seorang yeoja yang membawa sebuket bunga masuk menghampiri Sungmin.

“Oppa, mengapa kau disini? Kenapa tidak ke dalam?” Tanya nya heran melihat Sungmin yang hanya terduduk sendirian.

“Minhae-a! Tadi Eunhee mengerjapkan matanya! Dia mengerjapkan matanya, Minhae-aaa!” Sungmin berkata senang sambil mengguncang-guncang bahu Minhae. Minhae menatap Sungmin tidak percaya. Tidak berapa lama kemudian, Dokter pun keluar dari kamar rawat Eunhee. Sungmin dan Minhae langsung menghampiri dokter dan menanyakan keaadan Eunhee. Tanpa menjawab, tibatiba Dokter itu memeluk Sungmin dan berkata dengan suara bergetar, “Dia sadar, Sungmin-a. Eunhee sudah sadar dari koma nya.”

Minhae menutup mulutnya tanpa bisa menghindari isak tangis yang keluar.

“Terima kasih, paman. Kau menyelamatkan Eunhee.” Ucap Sungmin kepada dokter yang selama ini merawat Eunhee.

“Itu sudah kewajiban ku. Sekarang kau bisa menemui Eunhee.” Dokter itu menepuk pundak Sungmin.

Yoo Eunhee’s POV

Aku tidak tahu apa yang terjadi. Seingatku aku sedang merasakan sakit luar biasa pada tubuhku yang bagaikan ditimpa sebuah palu godam. Tapi kini aku terbangun di sebuah ruangan. Mata ku hampir tidak bisa menyesuaikan cahaya yang masuk. Badanku terasa pegal semua. Aku terbangun dan tibatiba seorang dokter langsung mengucap do’a saat aku bertanya apa yang terjadi. Memang sedikit aneh. Aku bertanya, tapi dia malah mengucap do’a syukur.

Dan sekarang aku malah ditinggal olehnya sendirian setelah dia memberitahu ku kalau aku baru saja sadar dari koma selama 2 tahun. Selama itu kah? Aku masih belum bisa berpikir dengan benar saat tiba-tiba pintu kamar rawatku terbuka. Memperlihatkan sesosok orang yang wajahnya selalu aku hapal. Dia langsung berlari ke arah ranjang ku lalu memelukku erat sampai-sampai aku susah napas.

“Sungmin-aaa aku susah napas.” Ucapku. Sungmin langsung melepaskan pelukan ku tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah ku.

“Senang bisa mendengar suara mu lagi.” Katanya lalu mengacak rambut ku pelan. Aku hanya membalas senyumannya.

“Hey kalian melupakanku.” ujar seseorang yang suaranya agak familiar untukku. Aku menengok lalu menemukan Minhae berdiri sambil menghapus airmatanya. Aku tersenyum melihatnya. Minhae berjalan menghampiri ku lalu memelukku hangat.

“Maafkan aku, Eunhee-ya. Kalau aku berhati-hati waktu itu mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Maafkan aku.” Minhae terisak di bahuku. Aku mengelus pundaknya.

“Tidak ada yang harus disalahkan. Bisa kembali sadar adalah mukjizat dari Tuhan untukku. Aku merindukan semuanya.” Balasku. Minhae melepaskan pelukannya lalu menghapus kembali airmatanya. Aku tersenyum kearahnya. Namun mata ku tertuju kepada perutnya yang membuncit. Tiba-tiba saja aku merasa sesak. Aku…aku…apakah aku benar-benar tertidur selama itu? Hah! Sadarlah Yoo Eunhee! Bagaimana bisa aku mengharapkan Sungmin membalas perasaan ku lalu menunggu ku sadar dalam waktu yang sangat lama ini. Aku benar-benar hancur. Aku baru mengetahui fakta kalau aku baru sadar dari koma-2-tahun-ku lalu ditambah dengan kenyataan kalau Minhae sedang mengandung…anak Sungmin.

Aku tidak sadar sejak kapan airmata ku menetes. Aku menatap Sungmin lalu tersenyum miris.

“Chukkae. Kau akan menjadi appa, ya? Ngomong-ngomong sudah berapa bulan usia anakmu didalam kandungan Minhae?” Aku bertanya lalu menggigit bibir ku sendiri. Mengatakan hal itu sama seperti menikam jantung ku sendiri dengan kapak besar. Suasana langsung hening sampai tiba-tiba pintu ruang rawat terbuka dan terlihat seorang namja tegap dengan wajah yang tampan, menurutku. Siapa dia? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya.

“Maaf aku terlambat. Aku mencari parkiran dulu tadi.” Ucap namja itu lalu dia berjalan dan berdiri disamping Minhae. Aku terisak. Membayangkan Sungmin sebentar lagi akan menjadi appa dan menggendong bayi kesayangannya. Masa bodoh dengan laki-laki yang baru saja datang tadi. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan ku.

“Hey ada apa ini?” Tanya namja tadi. Aku tidak menghiraukannya.

“Ah, Eunhee-ah kau salah paham. Begini, lihat aku.” Sungmin menarik tanganku menjauhi wajahku.

“Pertama, laki-laki ini adalah Lee Donghae. Dia sepupu ku. Dan dia adalah suami Minhae.” Ucap Sungmin. Aku ternganga. Otakku belum bisa berpikir dengan baik.

“Kedua, Minhae tidak sedang mengandung anakku. Yang benar saja! Aku bisa dibunuh Donghae kalau sampai menghamili Minhae.” Lanjut Sungmin. Dan aku makin menganga. Aku baru saja sadar dan sudah dikejutkan dengan kenyataan yang tidak bisa ku mengerti. Setahuku, Minhae adalah pacar Sungmin. Kenapa bisa menikah dengan Lee Donghae?

“Aku tahu kau pasti bingung. Baiklah, aku akan menceritakan sesuatu kepadamu. Kau ingat kan saat aku mengenalkan Minhae sebagai pacar ku? Sebenarnya…Minhae itu bukan pacarku. Dia hanya terlibat dalam skenario yang aku buat. Aku berpura-pura berpacaran dengannya karena aku ingin melihat reaksi mu. Tadinya aku berencana ingin mengatakan perasaan ku saat hari ulang tahun mu. Semacam kejutan ulang tahun juga. Namun kecelakaan itu terjadi tepat sehari sebelum ulang tahun mu, kau ingat? Sungguh kecelakaan itu sama sekali tidak ada dalam rencana ku. Semuanya jadi hancur. Kecelakaan itu menghancurkan rencana ku, dan menghancurkan mu. Donghae adalah sepupu ku. Aku yang membujuk-bujuknya agar mau mengizinkan Minhae untuk membantuku menjalankan rencana ini. Donghae dan Minhae sudah berpacaran jauh sebelum aku mengenalkan Minhae kepadamu. Dan kini Minhae sudah menikah dengan Donghae setahun yang lalu. Well aku sungguh minta maaf. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi mungkin saat ini kita berempat sedang berkumpul bersama sambil mengobrol bercanda. Aku tahu ini keterlaluan. Aku minta maaf. Karena rencana konyolku dua tahun yang lalu, kau jadi begini. Aku sangat minta maaf Eunhee-ya. Kau tau hari ini tanggal berapa? Ya, 17 Maret. Tepat di hari ulang tahun mu, kau sadar. Saengil Chukkae. Dan satu lagi. Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini setelah aku membuatmu celaka. Tapi aku akan tetap mengatakannya. Aku mencintaimu, Yoo Eunhee.” Jelas Sungmin panjang lebar. Airmataku mengering. Tenggorokan ku kering.

A-a-aku tidak tahu mau bicara apa. Yang pasti aku shock. Rasanya seperti bangun dari mimpi lalu disengat listrik ribuan watt. Aku tidak mengerti. Hhhh.

“Kau tidak perlu minta maaf. Ngomong-ngomong aku suka rencana mu untuk ulang tahun ku meskipun aku sudah melewatkan 2tahun umurku sendiri. Aku juga mencintaimu. Oh, sepertinya 2tahun lalu aku sudah memberitahu mu kan? Saat kecelakaan itu baru saja terjadi? Kau masih ingat? Itu benar aku berbicara kan? Aku tidak sedang bermimpi kan saat itu?” Ucapku. Sungmin menatapku lalu tersenyum. Dia memelukku. Bisa kurasakan bibirnya mencium kepalaku. Aku menengok ke arah Minhae dan Donghae tapi ternyata mereka sudah tidak ada disini. Sejak kapan mereka keluar pun aku tidak sadar.

Sungmin melepaskan pelukannya lalu dia mendekatkan wajahnya kearahku. Bibir tipisnya mengecup lembut bibir ku.

“Setelah kau pulih, kita akan segera menikah.” Kata Sungmin sambil mencium pipi ku.

“Yak! Apakah itu sebuah lamaran? Aku bahkan belum bilang kalau aku mau menikah denganmu.” Balasku.

“Aku tidak butuh jawabanmu. Pokoknya kita harus menikah.” Kata Sungmin kesal. Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajahnya. Entahlah. Terlalu banyak kejutan dalam hidupku yang datar ini. Aku mengetahui kebenarannya disaat terakhir. Setidaknya pepatah yang mengatakan harapan datang diujung penantian benar adanya.

 

 

 

KKEUT.

7 thoughts on “Untold

  1. Mantabb ceritanya, benar2 tdk tertebak endingnya akan seperti apa.. Aku kira beneran Sungmin oppa mulai melupakan Eunhee krn Minhee sbg pacarnya, ternyata semua itu hanya skenario Sungmin untuk menyatakan cintanya pada Eunhee.. Kejadian kecelakaan itu membuat Sungmin oppa shock.. But finally happy ending i like it

  2. Neomu joha ma ceritanya…
    Awalnya miris bgt alias ngenes…tega bgt sungmin mau ngerjain Eunhee tp malah rencananya bawa sial…
    Untung happy ending…aku ud sempet shock pas eunhee mengira minhae hamil ank sungmin tp untung cuma salah paham…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s