Flashback

  1. Author             : salsabc
  2. Rating             : General
  3. Length             : Oneshoot
  4. Genre              : drama, sad, romance
  5. Cast                 :
  • Park Eun Young
  • Lee Donghae
  1. A/N                 :

Ini ff pertamaku aku pengen semua readers komen. Harap maklum ya kalo ada typo, kata-katanya kurang nyambung, dll. tolong dimaklumi ya. Makasih.

 

 

 

 

When I walked besides you
My hearts keep trembling the whole day through
Alone, thinking about you
Always keeping memories you marked
…………………………..

It was my love since the beginning
That warmly shines on my icy heart
The love that comes to me step by step
Although I’m a bit afraid

 

Namaku Park Eun Young. Aku berdiri di depan sebuah batu nisan. Nisan itu bertulis namanya. Lee Donghae. Seseorang yang sudah meninggalkanku, pergi dari hidupku untuk selamanya. Tak terasa sudah tujuh tahun ia pergi dari hidupku. Dia meninggal karena kecelakaan saat dalam perjalanan pergi menghadiri acara ulang tahunku yang kecil-kecilan.

Flashback.

“Yak, bodoh sekali kau ini Donghae,” kataku menjitak Donghae.
“Sakit Eun-Young,” kata Donghae mengusap kepalanya.
“Mana bisa nilai bahasamu bisa jelek, Kau ini orang Korea atau bukan sih?” kataku.
“Orang Korea, tapi tidak usah menjitakku,” kata Donghae.
“Ya sudah. Mianhae sudah bikin kepalamu sakit Hae,” kataku.
“Iya tidak apa-apa. Makan yuk, aku lapar,” kata Donghae.
“Kajja,” kataku.
Oh,ya aku ini yeojachingu Donghae. Aku tidak menyangka orang seeksis dia bisa menyukai yeoja jelek, galak, dan kurus sepertiku. Donghae itu siswa populer di sekolah. Bukan hanya karena pandai tetapi karena tampan dan aktif di berbagai ekskul sekolah ia menjadi tenar. Aku cukup heran dengannya ia pandai dalam setiap pelajaran. Tetapi ia benar-benar babo dalam pelajaran bahasa Korea. Aku tak habis pikir.
Oke balik ke cerita.
Di kantin aku membeli ramyun tidak pedas. Sedangkan Donghae membeli ramyun sangat pedas. Aku ini tidak suka pedas. Kami duduk di sebuah meja yang agak jauh dari pintu keluar kantin.
“Yak, cepat duduk di depanku kita harus berhadapan,” kata Donghae.
“Tidak mau kursi di depan kotor,” kataku.
“Baiklah aku bersihkan,” kata Donghae sambil beranjak dari kursinya membersihkan kursi yang kotor.
Aku tak percaya ia melakukannya hanya untukku. Hei, apa-apaan ini. Aku benci ini.
“Sudah bersih. Sekarang tidak ada alasan untuk kau tidak duduk berhadapan denganku,” kata Donghae.
Aku lebih memilih menurutinya karena dua hal. Satu karena aku kasihan ia sudah membersihkan kursi itu. Kedua karena aku tidak punya alasan untuk mengelak.
“Nah begitu,” kata Donghae.
“Mwo?” kataku bingung.
Donghae tidak menjawabku. Ia malah makan. Aish, namja ini awas ya. Aku menganga melihatnya terus ia sudah hampir menghabiskan ramyunnya dalam waktu lima menit. Bahkan aku belum menyentuh ramyunku.
“Wae? Kau tidak makan?” kata Donghae tiba-tiba.
Aku kaget. Dan langsung memakan makananku. Donghae hanya tertawa.  Selesai makan kami memasuki kelas karena bel pelajaran terakhir berbunyi.
Aku bertemu sahabatku, Seul. Kami satu kelas dengannya. Dulu sebelum menjadi yeojachingu Donghae aku duduk sebangku dengannya. Tetapi sejak itu aku dipaksa untuk duduk dengan Donghae. Aish, Donghae.
“Kau mau menonton kembang api tidak nanti malam?” tanya Seul.
“Mau. Denganmu bukan?” kataku.
“Ne. Nanti aku tunggu disana saja ya,” kata Seul.
“Hmm…”
“Eh, maaf Seul. Tetapi Eun Young sudah mempunyai acara menonton kembang api itu denganku,” kata Donghae tiba-tiba.
“Tidak Seul. Aku tidak punya acara dengannya,” kataku mengelak.
“Eh?” kata Seul bingung.
“Kalau begitu aku akan ke rumahmu nanti untuk memonton kembang api,” kata Donghae merangkul pundakku.
“Hmm, kalau begitu kita batalkan saja ya. Aku akan menonton sendiri,” kata Seul linglung.
“Jangan Seul,” kataku.
“Kau bukannya sudah mempunyai acara denganku. Kajja guru sudah datang,” kata Donghae.
Aish, mengapa aku bisa menerima namja ini menjadi namjachinguku. Walaupun menyebalkan aku sebenarnya menyukainya. Tapi aku tak pernah mengatakan bahwa aku menyukainya padanya.

Pukul tujuh malam di rumah.
“Eonnie, aku akan pergi ke menonton kembang api bersama Donghae,” kataku.
“Ne, pergilah. Aku mau menonton dvd,” kata eonnie Eun Hyun.
“Gomawo,” kataku.
Tak lama kemudian Donghae datang dengan mobilnya. Aku pergi.
“Pakaianmu menunjukan kau ini benar-benar santai,” kata Donghae di dalam mobil.
“Lalu?” kataku.
“Kau sangat cantik,” kata Donghae.
Aku menjitaknya.
“Yak, itu sakit,” katanya.
“Lain kali tidak usah bilang kata-kata itu padaku,” kataku.
“Arraseo,” kata Donghae.
Kami menuju sungai Han. Disini lah tempat yang paling bagus untuk menonton kembang api. Ternyata benar. Donghae tidak salah. Ini tempat yang indah.
Ketika pesta kembang api dimulai. Aku merasa ada tangan yang hangat menggandeng tanganku erat. Aku tahu itu Donghae. Biasanya jika ia melakukan itu padaku aku jitak kepalanya. Namun kali ini aku biarkan ia menggangdeng tanganku.
Selesai menonton kembang api. Aku dan Donghae makan kue beras. Karena kami belum makan malam kami makan banyak kue beras. Setelah makan Donghae mengantarku pulang ke rumah.
“Gomawo Eun Young,” kata Donghae.
“Untuk apa?” kataku.
“Kau tidak perlu tahu. Aku pulang dulu ya,” kata Donghae.
“Ne,” kataku.

Di sekolah.
Aku sedang berada di perpustakaan bersama Seul sambil mengerjakan tugas kelompok. Aku satu kelompok dengan Seul. Donghae? Tentu saja tidak. Aku sedang tidak ingin satu kelompok dengannya. Aku sedang marah padanya.
Selesai menyelesaikan tugas aku dan Seul duduk di taman sekolah menikmati hembusan udara.
“Eun Young, mengapa kau marah pada Donghae?” kata Seul.
“Karena ia mengikutiku terus,” kataku.
“Tapi dia mungkin mempunyai pikiran lain. Salah satunya mungkin takut kehilangan kau Eun Young,” kata Seul.
Aku tertegun dengan apa yang di katakan Seul. Mungkin benar katanya. Tetapi bisa juga tidak. Bimbang aku memikirkan ini.
Aku marah kepada Donghae karena ia memaksa guru agar aku satu kelompok dengannya. Ia merengek dengan gayanya. Tapi aku tidak mau ya tidak bisa.
Setelah pelajaran tadi Donghae menjauh dariku. Aku hanya bisa menghela napas. Sifatnya benar-benar.
Bel berbunyi tanda pelajaran terakhir dimulai. Aku memasuki kelas. Donghae meminta maaf kepadaku.
“Eun Young, maafkan aku,” kata Donghae.
“Untuk?” kataku.
“Untuk masalah kelompok tadi,” kata Donghae.
Aku tersenyum sinis. Aku ini masih marah Donghae.
“Kalau kau tidak mau memaafkannku ya sudah,” kata Donghae.
Yeah, aku menang kali ini.

Di rumah Seul.
Aku menangis menyesali semua ini. Tiba-tiba entah mengapa aku merasa Donghae tidak bersalah tetapi aku. Aku menceritakan semuanya pada Seul. Seul mencoba menenangkanku.
“Eun Young, kau harus sabar,” kata Seul.
“Sabar bagaimana? Aku harus apa,” kataku masih terisak.
“Bagaimana kalau kau meminta maaf padanya?” kata Seul.
“Bagaimana caranya?” kataku.
“Besok hari ulang tahunmu bukan?” kata Seul.
“Iya,” kataku.
“Bagaimana kalau kau katakan itu saat itu?” kata Seul.
Aku berhenti menangis aku mengerti maksud Seul. Aku akan melakukannya.

Hari ulang tahunku. Di rumah.
“Selamat ulang tahun Eun Young,” kata eonnie Eun Hyun.
“Selamat ulang tahun juga Eun Young,” kata Seul sambil memelukku.
“Ayah dan umma pasti bangga di surga melihat anaknya berumur tujuh belas tahun,” kata eonnie Eun Hyun.
“Oh,ya Donghae masih dalam perjalanan sepertinya,” kata Seul.

Donghae POV.
Aku segera pergi menuju rumah Eun Young. Begini juga aku ini namjachingunya. Walaupun ia belum menerima maafku aku tetap akan memberinya ucapan selamat. Sambil membawa kalung sebagai hadiah ulang tahunnya aku pergi ke rumahnya. Aku sudah mengirim sms kepada Seul bahwa aku akan sampai disana sektar lima belas menit. Aku ingin memberi kejutan pada Seul.
Karena tidak sabar aku mengemudikan mobilku cepat. Sampai akhirnya aku terkena musibah. Tabrakan.
Donghae POV end.

Aku dan Seul sudah lima belas menit menunggu Donghae yang tak kunjung datang. Aku berniat membuat harapan dan meniup lilin setelah ia datang. Aku pun meneleponnya. Tetapi tidak ada jawaban. Aku merasa ada hal buruk menimpa Donghae. Aku menangis.

You who won’t answer my calls anymore, you who doesn’t want to see me at all
No matter how I beg for forgiveness, there’s already no use


Kemudian ada telepon. Dari Donghae aku mengangkat telepon itu. Rumah sakit meneleponku menggunakan ponsel Donghae. Katanya Donghae kecelakaan. Aku langsung menuju rumah sakit. Aku masuk ke UGD. Donghae disana. Melihatnya yang terbaring di kasur membuat air mataku tumpah seketika.
“Donghae babo, mengapa kau harus seperti ini,” isakku sambil menggenggam tangannya.
“Saengil chukka hamnida Eun Young,” kata Donghae.
“Maafkan aku Donghae. Untuk masalah waktu itu. Aku yang salah,” kataku.
“Iya, aku sudah memaafkannmu sebelum kau meminta maaf padaku,” kata Donghae.
“Donghae, kau tidak akan pergikan?” kataku.
“Tidak. Oh,ya itu ada kalung pakailah,” kata Donghae.
Aku mengambil sebuah kalung dimeja.
“Aku mohon jaga kalung itu dan kau ingin tahu alasan aku mengatakan gomawo padamu setelah pergi menonton kembang api,” kata Donghae.
“Ne,” kataku masih terisak.
“Aku ingin berterima kasih padamu karena kau mau menerimaku dan waktu itu pertama kalinya kau membiarkan aku menggandeng tanganmu. Dan lagi aku mohon bila aku mati jangan lupakan aku. Aku tinggal di surga bersama orang tuamu,” kata Donghae.
Aku memeluknya. Setelah memeluknya. Aku melihat matanya sudah terpejam. Dia meninggal. Meninggalkanku. Aku memeluknya lagi untuk terakhir kalinya.
“Saranghae Donghae,” kataku.
Seul yang menemaniku menangis terisak melihatku. Aku teringat aku belum mengucapkan harapanku.
“Aku ingin Donghae tetap berada di hatiku menjagaku terus. Dan aku bertekad menjadi dokter agar aku dapat menolong orang yang sakit seperti Donghae,” kataku.
Setelah itu aku memakai kalung pemberian Donghae. Lalu meraba bandul pada kalung itu.

Flashback end.

Sekarang aku sudah menjadi seorang dokter yang hebat. Aku berhasil. Donghae aku berhasil. Dan aku sekarang menjengukmu. Apa kabarmu Donghae? Apa kau bahagia disana? Aku menaruh bunga pada batu nisannya.

Goodbye Donghae. Semoga kau bahagia disana dan satu lagi jangan lupakan aku.

7 thoughts on “Flashback

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s