Still I Love You part 3

Still I Love You

Title: Still I Love You

Lenght: 3 of ?

Author: Min

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam FF ini adalah diri mereka sendiri. FF ini hanya khayalan, tak ada maksud apapun dalam FF ini. FF ini asli buatan saya yuuri66 © 2012

 

***

Ia tak pernah tahu, saat ia harus melepas apa yang  paling tak ingin ia lepas. Begitu tersadar cintanya telah pergi, menjauh dari hidupnya. Ia sadar, kini ia telah sendiri. Perlahan, kesendirian mulai menyelimuti hatinya. Meninggalkan sebuah lubang yang perlahan mulai meluas di relung jiwanya. Meninggalkan luka yang teramat dalam.

Still I Love You part 3 – You and I.

Hyuna terdiam, saat manik matanya bertemu pandang dengan sosok yang tengah perlahan mulai ia lupakan.

‘Kenapa harus bertemu? Kenapa tuhan seolah tak mengizinkan ku tuk melupakannya?’

**

Jaejoong terdiam. Rahangnya menegang saat matanya beradu pandang dengan gadis yang duduk tak jauh dari mejanya. ‘Hyuna?  Kenapa kau ada di sini?’

Dipandangnya Hyuna lekat. Bibirnya terasa berat memanggil nama gadis itu. Walaupun ia tahu hatinya berkata lain tapi ada sesuatu yang mencegahnya tuk memanggil gadis itu. Dialihkan wajahnya dari Hyuna. ‘Anggaplah kau tak melihatnya Kim Jaejoong!!’ Perasaannya terasa terperi, mengabaikan kehadiran gadis itu tapi janji tetaplah janji, ia tak akan menarik janjinya sendiri tuk tidak membiarkan gadis itu masuk lebih jauh ke pikirannya terlebih hatinya!! Tak akan ia biarkan keambiguan di hatinya menjadi nyata!

“Hyuna… Hyuna… Hyuna…. Kenapa aku harus melihatmu saat ini?” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Yunho menatap Jaejoong sahabatnya, tampak kejanggalan. Jaejoong tiba – tiba terdiam dan mengalihkan wajah kearah jendela. Padahal Jaejoong tampak baik tadi. Ditepuknya bahu Jaejoong pelan. “Jaejoong, kau ke-“ perkataannya terhenti, saat mendengar gumam dari bibir sahabatnya itu. Ia terdiam. Jaejoong menggumam nama adiknya, Hyuna. Matanya berputar menatap seisi ruangan kafe, mencari keberadaan Hyuna.  Pencariannya terhenti saat mendapati adiknya, sedang duduk disalah satu meja dekat mejanya. Adiknya tengah menatap kearahnya. Akh bukan kearahnya tapi kearah Jaejoong, sahabatnya. Tak teralihkan. Tapi kenapa Hyuna berada di kafe dekat kampusnya? Mestinya, adiknya itu sudah pulang kerumah. Apa yang dilakukan Hyuna sampai berada di area kampusnya?

“Jung Hyuna!!!” panggilnya geram.

“Jung Hyuna? Ada adikmu disini?” tanya Hyewon dan Heeyoung bersamaan. Dialihkan pandangannya kearah belakang mengikuti arah pandang Yunho, meja nomor 5. Tampak seorang gadis tengah menatap kearah meja mereka.

Jaejoong menatap Yunho lekat saat pria itu menyebut nama Hyuna. Dapat ia tangkap raut kemarahan di wajah Yunho saat mengetahui keberadaan Hyuna di kafe itu.

**

Hyuna tersentak saat seseorang menyerukan namanya lantang. Tampak seorang pria tengah menatapnya geram. ‘Yunho oppa?’ Dialihkan wajahnya cepat dari Yunho. ‘Aishhh!! Bagaimana ini?’ umpatnya cemas.

Jaejoong terkesiap saat Yunho beranjak bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Hyuna. Dengan sigap ia bergegas menyusul Yunho. “Yunho!!” panggilnya.

Yunho mempercepat langkahnya menuju Hyuna. Tak di hiraukannya panggilan Jaejoong. Dapat ia lihat raut ketakutan di wajah Hyuna.

Hyuna menelan ludahnya perlahan saat Yunho dan Jaejoong semakin dekat kearahnya. ‘Tamat riwayatmu Jung Hyuna!!!’ ia nyaris beranjak bangun dari duduknya, saat jemarinya terasa digenggam seseorang. Di dongakkan wajahnya menatap orang yang kini menggenggam tangannya. Tampak Changmin telah berdiri disampingnya dengan senyum yang menghias bibirnya.

“Changmin..” ujarnya, lirih.

“Ayo kita temui kakakmu.” Ajak Changmin.

Seketika langkah Jaejoong terhenti, saat matanya menangkap seorang pria yang sudah berdiri di samping Hyuna dan menggenggam tangan gadis itu. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang berkecamuk kuat di dadanya. ‘Siapa yang bersamamu, Hyuna? Kenapa ia menggengam tanganmu?’

Alis Yunho terpaut saat seorang pria menggenggam tangan adiknya. Tapi kenapa Hyuna bisa bersama pria itu? Sedang apa adiknya bersama pria itu?

“Hyuna dengan Changmin?”

**

Hyuna menggeleng pelan saat Changmin mengajaknya menemui Yunho dan Jaejoong. “Anni, aku-.”

“Kajha!! Aku tak mau kakakmu marah karna kau disini bersamaku.” Sela Changmin cepat. Ditatapnya Hyun lekat, meyakinkan gadis itu.

Hyuna mendesah berat. Perlahan ia beranjak bangun dari duduknya. Di tatapnya Changmin. Pria itu hanya tersenyum dan terus menggenggam tangannya.

“Kajha, kita temui Yunho sunbae dan Jaejoong sunbae.”

Hyuna berjalan pelan dibelakang Changmin. Wajahnya tertunduk dalam, tak berani ia pandang raut wajah kakaknya saat ini. Dihirupnya napas dalam, menenangkan hatinya.

“Annyeong Yunho sunbae. Annyeong Jaejoong sunbae. Senang bertemu kalian disini.” Sapa Changmin.

Yunho mendelik menatap pria didepannya. Ia kenal pria itu, pria itu Changmin, juniornya di club sepak bola SMA dulu. Tapi kenapa Changmin bisa bersama Hyuna?

“Changmin, bisa kau jelaskan padaku kenapa kau bisa bersama dengan adikku saat ini?” tanya Yunho penuh selidik. Ditatapnya Changmin, kemudian matanya beralih ke tangan Changmin yang tengah menggenggam tangan adiknya. “Dan kenapa kau juga menggenggam tangan adikku seperti itu?” ditatapnya Changmin sinis.

Changmin tersenyum kecil kearah Yunho. “Kami hanya akan makan bersama. Apa tidak boleh sunbae?” Ditolehkan wajahnya kearah Hyuna yang masih tertunduk dibelakangnya. Dipererat genggaman tangannya. Kembali ia tatap Yunho. “Aku tengah menenangkan Hyuna yang sepertinya takut bertemu denganmu sunbae, makanya aku genggam tangannya.”

Yunho mendesah berat. Ditatapnya Hyuna yang hanya diam tertunduk tanpa berani menatapnya. “Hyuna, sampai kapan kau akan tertunduk seperti itu?”

Hyuna terperajat. Diangkat kepalanya. Ditatapnya Yunho sendu. “Ann.. annyeong Yunho oppa.” Bibirnya mengukir senyum getir. Dialihkan pandangannya kearah Jaejoong yang kini sudah berdiri disamping Yunho. “Annyeong Jaejoong oppa.” Kembali ia tudukkan wajahnya, saat Jaejoong menatapnya lekat. Dapat ia rasakan jantungnya memompa kuat.

Jaejoong terdiam menatap Hyuna. Gadis itu hanya melihatnya sekilas kemudian kembali tertunduk. Pandangannya beralih kearah jemari tangan Hyuna yang digenggam oleh Changmin.  Baru kali ini ia lihat jemari gadis itu digenggam pria lain selain dirinya, Yunho dan Junsu. Ia tak pernah menyangka gadis itu akan dekat dengan pria lain selain dirinya. Entah kenapa ia tak menyukai pemandangan di depannya saat ini. Amat sangat tidak suka!

“Kau adiknya Yunho ya? Aku Hyewon dan ini Heeyoung. Kami teman sekampusnya Yunho dan Jaejoong.”

Jaejoong dan Yunho sedikit terperajat, tampak Hyewon dan Heeyoung sudah berdiri diantara mereka.

Hyuna mengakat wajahnya perlahan. Tampak dua orang gadis sudah berdiri diantara Jaejoong dan Yunho.

“Namamu Hyuna kan? Bagaimana kalau kau dan kekasihmu ini bergabung saja bersama kami?” ajak Hyewon.

“Ya!! Hyewon!! Pria ini bukan kekasih adikku!!” ujar Yunho gusar sembari menunjuk Changmin.

Hyewon melirik Yunho.  Alisnya terpaut. “Mwo? Kalau mereka bukan sepasang kekasih, tentu meraka tak akan bergandengan tangan seperti itu kan? Benarkan Jaejoong mereka berdua ini sepasang kekasih?” dialihkan pandangannya kearah Jaejoong.

“Anni Hyewon. Hyuna dia..” matanya menatap lurus kearah Hyuna “Dia tidak punya kekasih.” Jawab Jaejoong.

“Ne, apa yang Yunho sunbae dan Jaejoong sunbae katakan-.”

“Oppa salah, aku dan Changmin memang sepasang kekasih.” Sela Hyuna cepat. Digenggamnya erat tangan Changmin. Matanya menatap Jaejoong lekat. Dapat ia tangkap keterkejutan diwajah pria itu.

Yunho terperajat. “Ya!! Jung Hyuna!! Apa – apaan perkataanmu itu??” ditatapnya Hyuna, geram.

Hyuna mengalihkan wajahnya dari Yunho. “Benarkan Changmin, kita ini sepasang kekasih?” dipererat genggaman tangannya. Ditatapnya Changmin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia jabarkan. Changmin tampak terkejut, bingung dengan perkataannya barusan. ‘Kumohon Changmin, bantu aku.’

Changmin terdiam menatap Hyuna. Gadis itu menatapnya dalam. Dapat ia rasakan genggaman tangan Hyuna yang semakin menguat di jemarinya. ‘Kenapa kau bicara seperti itu Hyuna? Apa maksudmu?’

“Kau kekasihku kan, Changmin?”

Changmin terkesiap, saat Hyuna kembali menanyakan hal itu. Ditatapnya Hyuna lekat. “Ne, aku memang kekasihmu Hyuna.” Diusapnya puncak kepala Hyuna lembut. Dialihkan wajahnya kearah Jaejoong dan Yunho yang tampak terkejut mendengar perkataannya barusan.

“Maaf sunbae, aku memang kekasih Hyuna. Maaf, tidak mengatakan pada kalian yang sebenarnya.” Dibungkukkan tubuhnya kearah Jaejoong dan Yunho.

Yunho terbelalak, mendengar pengakuan Changmin. “MWO?? APA KAU BILANG??” Teriak Yunho geram. Bagaimana bisa adiknya memiliki kekasih tapi ia tak tahu hal itu? Apa semua itu hanya lelucon yang dibuat adiknya tuk membuatnya marah?  Tidak. Ia tahu itu bukan sebuah lelucon, terlebih ia mengenal Changmin.

“Aishhh Yunho!! Kau jangan berteriak seperti itu!! Tidak usah kalian pikirkan, lebih baik kalian berdua bergabung saja bersama kami.” Ajak Hyewon sambil menarik Hyuna dan Changmin ke meja mereka.

“Maaf, tapi aku dan Changmin tidak bisa. Kami masih ada urusan.” Tolak Hyuna halus.

“Eh? Benarkah? Sayang sekali kalau begitu.”

“Maaf. Senang berkenalan denganmu onnie, lain kali kita bertemu lagi.”

“Yunho sunbae, Jaejoong sunbae dan nunna kami permisi dulu.Senang berjumpa dengan kalian.”

“Oppa, kami permisi dulu.” Pamit Hyuna sambil berjalan pergi bersama Changmin.

“Ya!! Kalian!! Aishhh!! Jung Hyuna kau harus menjelaskan semuanya dirumah nanti!!” teriak Yunho kesal.

Yunho mencibir kesal. “Kau percaya kalau mereka benar – benar sepasang kekasih?” Dialihkan pandangannya kearah Jaejoong. Jaejoong hanya terdiam menatap Hyuna yang kini sudah berjalan pergi bersama Changmin.

“Ya!! Jaejoong!! Jangan diam saja!! Kau juga tidak percayakan kalau Hyuna sudah memiliki kekasih?” Tak ada jawaban, Jaejoong terus terdiam dan menatap kepergian Hyuna lekat, tak teralihkan.

Yunho menghela napas berat. Jaejoong tak memperdulikan perkataannya sama sekali. “Sepertinya percuma bicara denganmu saat ini.” Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan Jaejoong yang masih diam mematung, menuju mejanya.

Jaejoong menatap Hyuna yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. “Tidak mungkin… tidak mungkin Hyuna, dia-…” dapat ia rasakan kepalanya terasa berdenyut kuat. Hatinya terasa tersayat, rasanya begitu memilukan. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Kau.. benar – benar pergi, Hyuna. Kau menuruti perkataanku… tuk membiasakan dirimu tanpaku.”

“Tapi.. kenapa? Kenapa dengan cara seperti itu? Kenapa Hyuna?”

“Aku-“

“Sampai kapan kau akan terus memandangnya seperti itu, Jaejoong?”

Jaejoong sedikit terperajat, ditolehkan wajahnya kearah samping. Tampak Heeyoung masih berdiri disampingnya. Gadis itu tengah menatapnya dalam dengan senyum yang menghiasi bibir gadis itu.

“Heeyoung kau-.”

Heeyoung menghela napas pelan. Ia memang tak banyak bicara sejak tadi. Ia hanya jadi pemerhati yang baik tapi perangai Jaejoong menunjukan gelagat yang berbeda, walaupun ia tak mengenal pria itu dengan baik. Jaejoong yang ia lihat saat ini tampak memendam luka, luka yang tak tersentuh dan tersembunyi. Mungkin Jaejoong pun tak menyadari luka yang perlahan mengikis relung jiwanya itu.

“Akan ku anggap, aku tak mendengar semua perkataanmu barusan.” Dikembangkan senyumnya kearah Jaejoong. “Akupun tak akan memaksamu tuk mengatakan apa yang kau rasakan saat ini.”

“Heeyoung, kau-.”

“Sudahlah jangan berwajah tak mengenakan seperti itu.” Diraihnya jemari Jaejoong dan mengajak pria itu kembali ke meja mereka.

**

Hyuna menghentikan langkahnya setelah keluar dari kafe. Perlahan ia lepaskan genggaman Changmin di tangannya. Changmin tampak menghentikan langkahnya dan berbalik menatapnya. Ditatapnya Changmin sendu. “Maaf Changmin. Maaf, membuatmu susah dan berbohong seperti itu. Maaf.” Dapat ia rasakan cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Maafkan aku…. aku.. aku – telah banyak menyusahkanmu.” Air matanya mengalir perlahan membasahi pipi.

“Maafkan aku.” ujarnya terisak.

Changmin terdiam menatap Hyuna. Gadis itu tengah menangis kuat. Hyuna terlihat rapuh, begitu memilukan dipandangannya. Diusapnya puncak kepala gadis itu lembut. Perlahan ia rengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukkannya.

“Jangan menangis, kumohon.” Ujarnya lirih.

Hyuna membeku, merasakan pelukan Changmin di tubuhnya. Hangat. Pelukkan Changmin menghangatkan hatinya yang terasa pedih, tercabik, dan terluka. Tak kuasa ia menahan tangisnya, ia menangis kuat didalam lindungan pelukkan Changmin ditubuhnya.

“Maafkan aku Changmin… maafkan aku… aku – kembali menyusahkanmu.”

Changmin mengeratkan pelukkannya pada Hyuna. Diusapnya lembut rambut Hyuna. Gadis itu menangis dalam pelukkannya, tangisan itu terdengar memilukkan ditelinganya. Begitu kuat dan menyedihkan.

“Jangan menangis Hyuna, Kumohon.” Dieratkan pelukkannya.

**

Hyuna merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya, matanya menerawang. Angannya mengawang pergi menuju kilasan kejadian saat di cafe tadi. Pikirannya penat, terhimpit perasaannya yang menyesakkan jiwa. Ia benci saat matanya memandang Jaejoong. Benci pada pikirannya yang tak pernah henti memikirkan Jaejoong. Benci saat dirinya hanya terpusat dan begitu menginginkan Jaejoong!! Kenapa setiap ia ingin menghapus pria itu dalam hidupnya, pria itu selalu hadir? Seolah tak mengizinkan Jaejoong pergi dari hidupnya,dari relung hatinya.

“Kenapa begitu susah menghapusmu dari hidupku, oppa?” gumamnya.

“Kenapa kau harus hadir didalam hidupku? Hatiku? Pikiranku?” dirasakan gumpalan air dimatanya mulai tergenang.

“Kenapa aku begitu menginginkan mu? Kenapa aku begitu bodoh, membiarkanmu masuk kedalam lubuk hatiku yang terdalam?”

Bibirnya bergetar menahan tangis. “Kenapa aku begitu mencintaimu? Kenapa rasa cintaku padamu menyakitkan seperti ini?” dapat ia rasakan butiran air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.

“Jauhkah lah ia dariku tuhan, kumohon.. Kau yang menghadirkan rasa cinta ini dihatiku, kau pula yang bisa menghapus rasa ini. Kumohon, hapuslah rasa yang membelenggu jiwaku ini.”

“Aku…aku- tak kuat menanggung.. rasa cinta ini.. aku tak kuat..” isaknya.

**

Yunho menoleh pelan kearah Jaejoong yang hanya termangu menatap jalan didepannya. Jaejoong terus terdiam, tak ada sepatah katapun yang terucap dari sahabatnya itu. Jaejoong terlihat begitu labil, pandangan matanya pun tampak kosong.  Yunho mendesah berat, dialihkan wajahnya menatap jalan dan kembali fokus menyetir.

“Kau terpukul mengetahui Hyuna sudah memiliki kekasih?”

Jaejoong terkesiap, ditolehkan wajahnya kearah Yunho yang tengah menyetir. “Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”

Yunho kembali menghela napas berat tuk kesekian kalinya. Ditepikan mobilnya. Matanya menatap Jaejoong penuh. “Terlihat jelas di matamu.”

Jaejoong terperajat. “Eh? Aku… aku.. tidak-.”

“Apa yang tidak? Kau pikir sudah berapa lama kita bersahabat? 1 tahun? 2 tahun? Tidak Jaejoong!! Kau pikir, aku tak tahu apa yang kau rasakan??” sela Yunho cepat.

“Aku mengenalmu dengan baik, perangaimu bahkan perasaanmu!! Aku tidak bodoh!! Walaupun kau tak pernah mengatakannya padaku tapi aku tahu!!”

Jaejoong terdiam. Dialihkan wajahnya dari Yunho. Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum dingin. “Tidak seperti yang kau pikirkan Yunho!! Perasaanku tidak seperti yang kau kira!!”

“Baiklah, kalau kau bilang pikiranku salah. Sekarang katakan padaku, kalau kau tak pernah memiliki perasaan seperti itu pada Hyuna!! Katakan kau hanya menganggap Hyuna sebagai adik dan tak ada perasaan khusus padanya!! Katakan kalau memang pikiranku itu salah!!” ditatapnya Jaejoong lekat.

Jaejoong tak berkutik. Bibirnya terkatup rapat. Dialihkan kembali wajahnya kearah luar jendela. “Kenapa aku harus berbicara seperti itu? Tentu saja aku hanya menganggapnya adik dan kau pun tahu hal itu.”

Yunho mendesah berat. “Katakan dengan melihat mataku Kim Jaejoong!! Kalau kau tak mengatakannya dengan melihatku, ku anggap kau berbohong tuk mengelabuiku sekarang!!” ujarnya lugas.

Jaejoong mencibir. Di tatapnya Yunho. Yunho tampak menatapnya penuh, menanti perkataan yang akan keluar dari mulutnya. Debaran jantungnya kian kuat, tak terkendali. Perasaan sesak menggelayuti hatinya. Mulutnya kelu tuk digerakkan. Pita suaranya seakan tercekat, tertahan; tak mampu tuk berujar.

“Yunho aku.. aku-.” Dipejamkan matanya perlahan. Dihirupnya oksigen sebanyak yang ia bisa, menenangkan hatinya yang kian bergejolak kuat. Di tatapnya Yunho lekat. Sudut bibirnya terangkat mengulas senyum simpul. “Aku menyayangi Hyuna seperti aku menyayangi Junsu. Ia sudah ku anggap sebagai…adikku sendiri.” Dapat ia rasakan sesak memenuhi hatinya.

Yunho mendelik. Kembali menatap depan kemudi. Di starter mobilnya. Dihelanya napas kuat. ‘Kau bodoh Kim Jaejoong! Kau akan menyesal dengan perkataanmu itu! Padahal aku hanya mengetesmu saja.’

**

Jaejoong terdiam menatap balkon kamar Hyuna . Tirai kamar gadis itu tertutup rapat. Dilangkahkan kakinya kearah pijakkan menuju balkon kamar gadis itu. Dinaiki pijakan balkon kamarnya. Entah kenapa ia ingin melihat Hyuna dari dekat, walaupun ia tak akan menemui gadis itu secara langsung.

“Ya!! Jaejoong hyung!! Kau sedang apa? Jangan bilang kau akan melompat ke balkon kamar Hyuna.”

Jaejoong menoleh cepat saat terdengar suara adiknya dari arah belakang. Junsu tampak bersandar di tralis balkon. Dihelanya napas pelan. Perlahan ia turun dari pijakkan dan berjalan menghampiri adiknya itu.

“Aku tidak akan ke kamar Hyuna, hanya menikmati angin malam saja.” Di sunggingkan senyum tipis ke arah Junsu.

Junsu mendesah berat. “Aishh kau tidak bisa membohongiku hyung! Kenapa kau begitu mengkhawatirkan Hyuna? Ia kan hanya luka seperti itu, tidak sampai di jahit. Lagipula lukanya juga tak terlalu dalam, yah walaupun tadi berdarah cukup banyak tapi kan sudah tidak apa – apa. Jadi kau tak perlu khawatir hyung.” Ujarnya cepat.

Jaejoong menyerengit mendengar perkataan Junsu. Ia tak paham dengan arah pembicaraan adiknya itu. Memangnya ada apa dengan Hyuna? “Apa maksud perkataanmu Junsu?” dicengkramnya bahu Junsu kuat. Ditatapnya Junsu tajam.

“Bukannya hyung mau ke kamar Hyuna, karna khawatir dengan luka di pelipisnya?”

“Hyuna terluka?”

“Jadi hyung tak tahu hal itu? Bukankah biasanya Hyuna akan mengatakan apapun pada hyung? Aku pikir Hyuna sudah mengatakannya pada hyung.”

Jaejoong melepaskan cengkramannya di bahu Junsu dengan cepat ia berjalan kearah pijakan balkon kamarnya dan melompat ke balkon kamar Hyuna. Pikirannya kalut. Yang ia tahu, ia harus menemui Hyuna sekarang!

Junsu mendesah singkat. Sepertinya ia salah menyampaikan hal itu pada Jaejoog. Sudah ia duga, Jaejoong akan langsung menemui Hyuna tuk melihat keadaan gadis itu. ‘Hyung, kau membuat dirimu tak pernah bisa lepas dari Hyuna.  Apa kau sadar akan hal itu hyung?’

Jaejoong dengan cepat menggeser pintu kaca kamar Hyuna. Dapat ia tangkap keterkejutan di wajah gadis itu melihat kehadirannya. Napasnya memburu. Dilangkahkan kakinya cepat kearah Hyuna yang termangu menatapnya.

**

Hyuna terperajat dari tidurnya, saat terdengar pintu kaca kamarnya di geser cepat. Matanya terbelalak menatap kehadiran Jaejoong di kamarnya. Dilihatnya napas pria itu memburu. Jaejoong dengan cepat berjalan kearahnya yang terpaku menatap kehadiran pria itu.

“Jaejoong oppa?”

Jaejoong menatap Hyuna lekat. Disibaknya cepat poni Hyuna, tampak perban tersemat di pelipis kanan gadis itu. “Jadi benar kau terluka?”

“Oppa…”

“Kenapa kau tak mengatakan padaku kalau kau terluka hah?? Kenapa Hyuna??”

Hyuna hanya terdiam menatap Jaejoong. Pria itu tampak cemas menatapnya. Tak terasa airmatanya menetes. Ia tak menyangka Jaejoong mengkhawatirkannya. “Kau mengkhawatirkan ku oppa?” Rasanya seperti mimpi ia melihat Jaejoong saat ini, terlebih setelah ia mengatakan kalau Changmin adalah kekasihnya. Ia pikir, pria itu tak akan pernah perduli lagi padanya. Ia pikir, ia tak akan pernah melihat pria itu lagi.

Jaejoong mendesah berat, di rengkuhnya Hyuna kedalam pelukkannya. “Tentu saja aku mengkhawatirkanmu!! Kenapa kau tak mengatakan apapun padaku tentang lukamu ini hah? Kenapa kau diam saja?” dipereratnya pelukkan di tubuh Hyuna.

Hyuna menghirup napas kuat, mencium aroma tubuh Jaejoong. Menikmati kehangatan setiap Jaejoong memeluknya erat, menenggelamkan tubuhnya kedalam dekapan lengan kokoh pria itu. Air matanya kian berderai. Tapi kenapa? Kenapa Jaejoong harus memperlakukannya seperti ini? Bukankah Jaejoong sendiri yang memintanya tuk membiasakan diri tanpa Jaejoong disisinya? Kenapa pria itu malah memeluknya begitu hangat dan seolah tak ingin melepasnya?

“Aku senang… kau memelukku seperti ini oppa. Aku sangat senang…” dibalasnya pelukkan Jaejoong.

“Ku mohon tetaplah di sisiku.. aku menginginkan mu oppa, aku mencintaimu…”dipeluknya Jaejoong seerat mungkin, berharap pelukkan itu tak kan pernah mengendur.

Jaejoong terpangu mendengar perkataan Hyuna. Hyuna kembali mengatakan cinta padanya. Bukankah gadis itu kini telah memiliki kekasih? Kenapa gadis itu malah mengatakan mencintainya lagi?

Jantungnya berdetak cepat, perlahan ia lepaskan pelukkannya di tubuh gadis itu. Ditatapnya Hyuna sendu, disunggingkan senyumnya. Tangannya mengusap puncak kepala Hyuna lembut. Wajah gadis itu basah oleh air mata. Disekanya air mata gadis itu pelan.

“Hyuna, aku menyanyangimu sebagai adikku.” Dapat ia rasakan hatinya terasa pilu, saat mengatakan hal itu. “Aku akan melindungimu, menyanyangimu sebatas rasa sayang ku sebagai seorang kakak.”

Hyuna mendesah berat. Kembali perasaan sakit menghampirinya, begitu menusuk mendengar perkataan Jaejoong. Bibirnya bergetar. Ditatapnya Jaejoong sengit. “Aku bukan layangan yang bisa kau tarik ulur, bisa kau mainkan sesukamu.. Kenapa kau menarikku kembali saat aku perlahan pergi menjauh darimu, tapi saat aku kembali; kau malah mengulurku tuk kembali pergi..” airmatanya kian mengalir deras, rasa sesak memenuhi hatinya.

“Kau tahu oppa, rasa cinta ini…” bibirnya terisak. “Begitu.. begitu menyakitkan!! Kalau kau.. kau hanya memberi harapan.. tanpa pernah menyambutnya, jangan pernah kau-.” Dipejamkan matanya perlahan. “Datang kembali ke hidupku, hatiku… pikiranku.. selamanya.”

Jaejoong membeku, mendengar perkataan Hyuna. Hyuna benar, sebenarnya ia lah yang selalu kembali. Kembali menarik Hyuna kedalam hidupnya, sisinya. Ia yang meminta gadis itu tuk menjauh dari hidupnya tapi ia sendiri yang tak ingin gadis itu pergi. Jauh di dasar lubuk hatinya, ia menginginkan gadis itu tuk tetap di sisinya. Ia ingin gadis itu selalu memandangnya, memikirkannya dan menjadi miliknya. Tapi apa benar semua yang ia rasakan seperti itu? Atau yang ia rasakan hanya perasaan sesaat karna telah terbiasa bersama dengan Hyuna? Kepalanya berdenyut kuat, memikirkan hal itu.

“Hyuna, aku.. aku-.” Perkataannya tercekat, tak mampu tuk berujar.

“Pergi!!! Pergi dari hidupku sekarang!!!” didorongnya Jaejoong menjauh darinya. “Anggaplah aku tak pernah memiliki perasaan cinta padamu, oppa!!” teriaknya histeris, isak tangisnya kian kuat. “Kumohon…. ku mohon jangan terus memberiku harapan…”

Jaejoong terdiam menatap Hyuna yang kini tengah menangis kuat. Hatinya perih, begitu sakit melihat keadaan Hyuna saat ini. Ingin rasanya ia menenggelamkan gadis itu kedalam pelukkannya. Tapi hal itu hanya akan menyakiti Hyuna. Menyakiti hatinya.

“Maaf… Maaf Hyuna…”

“Maafkan aku Hyuna…” di balikkan tubuhnya, pergi meninggalkan Hyuna yang kian keras menangis.

Hyuna menatap kepergian Jaejoong, yang keluar menuju balkon kamarnya. Perasaan sesak memenuhi hatinya. Air matanya terus berderai, tak terbendung. Mengikis relung hatinya, meninggalkan lubang yang teramat dalam.

“Mestinya… rasa ini tak pernah ada dihatiku…”

**

“Kau sudah menunggu lama, Hyuna? Kajha!! Kita berangkat!!”

Junsu menyerengit menatap Hyuna. Gadis itu hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaannya. Hyuna tampak tak menyadari kedatangannya. Tak biasanya gadis itu akan diam seperti ini. Terlebih ia telah membuat Hyuna menunggu cukup lama. Ada apa dengan gadis itu?

Ditepuknya bahu Hyuna pelan. “Ya!! Jung Hyuna!!”

Hyuna berjengit saat merasakan tepukkan di bahunya. Tampak Junsu menatapnya gusar. “Akh kau sudah datang rupanya. Kajha! Kita berangkat sekolah.” Dilangkahkan kakinya berjalan meninggalkan Junsu di belakangnya.

Junsu terdiam. Ia baru sadar kalau wajah Hyuna tampak pucat dan mata gadis itu tampak bengkak seperti habis menangis. Apa karna semalam? Saat Jaejoong menemui gadis itu? Apa yang sebenarnya terjadi antara Hyuna dan Jaejoong? Mestinya gadis itu akan sangat senang bila bertemu dengan Jaejoong tapi kenapa malah sebaliknya?

“Ya!! Jung Hyuna!! Tunggu!!” dilangkahkan kakinya cepat menyusul Hyuna yang kini tengah menunggu lift.

“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau tampak seperti mayat hidup seperti ini? Bukankah Jaejoong hyung menemuimu semalam? Biasanya kau akan senang sekali dan menceritakannya padaku, tapi kenapa malah sebaliknya?”

Junsu menghela napas berat. Hyuna kembali tak memperdulikkannya dan malah masuk ke dalam lift. “Ya!! Jung Hyuna!! Katakan padaku apa yang terjadi!!!” ujarnya gusar, dilangkahkan kakinya menyusul Hyuna masuk ke dalam lift.

**

Junsu mendesah kesal. Ditatapnya Hyuna yang berjalan di depannya. Ia benar – benar dibuat bingung dengan sikap gadis itu. Hyuna terus diam dan tak mengatakan apapun padanya sejak mereka berangkat sampai mereka tiba di sekolah.

“Ya!! Jung Hyuna!! Habis sudah kesabaranku!! Cepat katakan apa yang terjadi!!!” disusulnya Hyuna, di hadangnya gadis itu tuk masuk ke dalam kelas.

“Kau tak boleh masuk kelas, kalau kau tak mengatakan apa yang terjadi padamu kepadaku!!” dilipat tangannya di depan dada. Matanya menatap Hyuna lekat.

Hyuna mendesah pelan, ditatapnya Junsu. Kepalanya terasa jengah, pening. Tubuhnya terasa berat dan hawa di sekitarnya terasa panas. Ia benar – benar lelah saat ini. Ia tak ingin banyak bicara, termasuk dengan Junsu. Ia hanya ingin ketenangan, menghilangkan kepenatan.

Dibalikkan tubuhnya dari Junsu. Lebih baik ia tak menghiraukan pertanyaan Junsu yang membuatnya jengah. Terlalu rumit tuk menjelaskan semuanya pada Junsu saat ini. Bahkan Junsu pun sepertinya tak menyadari perasaannya pada Jaejoong, lalu untuk apa ia menceritakan semua yang terjadi pada Junsu? Menceritakan hal itu, hanya akan kembali membangkitkan rasa sakit di hatinya. Dan ia tak mau rasa sakit itu kian menggerogoti hatinya lebih dalam.

“Ya!! Jung Hyuna!! Mau kemana kau?? Aish~” teriaknya kesal.

Hyuna mempercepat langkahnya, meninggalkan Junsu. Langkahnya terhenti. Dapat ia rasakan jantungnya berdegup kencang. Matanya terbelalak menatap pria yang kini berjalan kearahnya. Changmin kini berjalan kearahnya dan berhenti tepat di depannya.

Changmin tersenyum kecil menatap Hyuna. Gadis itu tampak terkejut melihatnya. Tapi aneh, wajah gadis itu tampak pucat dan matanya pun tampak bengkak. Ada apa dengan gadis itu? “Kau terlihat pucat hari ini Hyuna. Apa kau baik – baik saja?” disentuhnya kening Hyuna dengan jemarinya.

Hyuna menundukkan kepalanya dalam. Changmin tengah menyentuh keningnya saat ini. Jantungnya kian berdegup tak terkandali. Ia sungguh malu dengan Changmin, setelah ia mengatakan Changmin adalah kekasihnya di depan Jaejoong dan Yunho kemarin. Bahkan ia pun tak memberikan penjelasan apapun pada Changmin perihal perkataannya kemarin.

‘Aishh!! Bagaimana ini? Apa yang harus aku katakan pada Changmin?’

“Changmin, kenapa kau disini? Bukankah mestinya kau di gedung kelas X tuk orientasi siswa baru?” tanya Junsu yang kini berada diantara Hyuna dan Changmin.

“Aku ada sedikit keperluan dengan seseorang, setelah itu aku akan ke gedung kelas X.” Matanya mendelik kearah Hyuna yang terus menundukkan kepalanya.

“Owh begitu rupanya. Dan kau Hyuna, ikut denganku!! Jelaskan semuanya padaku!!” ujarnya cepat, sambil menarik Hyuna pergi.

“Akh Junsu!! Bisakah aku bicara dengan Hyuna terlebih dulu?”

Alis Junsu terpaut mendengar perkataan Changmin. Begitupun dengan Hyuna, gadis itu pun tampak sama kaget dengannya. Apa yang ingin di bicarakan dengan Hyuna? Apa ada hal lain yang tak ia ketahui tentang Changmin dan Hyuna? Kenapa Changmin dan Hyuna menjadi dekat tanpa sepengetahuannya?

“Akhhh tentu.” Hanya jawaban itu yang bisa ia berikan. Dilepaskan tangan Hyuna dari genggamannya. Dibalikkan tubuhnya meninggalkan Hyuna dan Changmin.

Langkahnya terhenti. Ditatapnya Changmin dan Hyuna sekilas. “Sejak kapan Hyuna jadi dekat dengan Changmin?”

**

Hyuna terdiam disamping Changmin, diliriknya Changmin. Pria itu tengah menatapnya. Kegugupan menyergapnya, dialihkan wajahnya cepat.

‘Aishh memalukan sekali bersikap seperti itu!’ umpatnya. Entah kenapa saat melihat Changmin ia kembali teringat saat pria itu menggenggam tangannya dan memeluknya. Membuat tubuhnya memanas dan jantungnya berdegup kian tak terkendali.

‘Aishh Jung Hyuna!! Tenangkan dirimu!!!’

Changmin terkekeh pelan melihat perangai Hyuna disampingnya. Butiran keringan mengalir di pelipis gadis itu. Wajah Hyuna tampak memerah. Mungkinkah gadis itu gugup bersamanya saat ini?

“Kau gugup?” tanyanya, memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

“Eh? Aku- gugup? Akh tidak.” Hyuna tergagap, dikibaskan tangannya cepat. Ia tahu, hal yang ia lakukan malah menampakkan dengan jelas kegugupannya. ‘Bodoh!! Jung Hyuna kau benar – benar  bodoh!!’

Changmin kembali terkekeh melihat Hyuna. Ia tahu gadis itu menutupi kegugupan di depannya. “Apa yang membuatmu gugup? Aku?” ditatapnya Hyuna lekat. Dapat ia tangkap gadis itu semakin salah tingkah dengan perkataannya. Tampak rona kemerahan di pipi gadis itu. Apakah Hyuna malu?

“Kau gugup karna bersamaku hmmm?” didekatkan wajahnya kearah Hyuna, ia suka rona kemerahan di pipi gadis itu saat ia menatap Hyuna lekat. Dalam jarak pandang yang begitu dekat, bahkan hembusan napas gadis itu terasa jelas di wajahnya.

Hyuna dibuat tak berkutik dengan sikap Changmin, hatinya kian berdegup tak beraturan saat wajah Changmin hanya beberapa centimeter dari wajahnya. “Ya…. ya Changmin!!! Wajahmu… wajahmu terlalu dekat.” Ujarnya tergagap. Ia mundur, menjauhkan wajahnya dari Changmin.

Changmin tergelitik geli, melihat Hyuna yang semakin gugup. “Kenapa? Aku kekasihmu kan? Kau malu hmm?” semakin ia dekatkan wajahnya, bibirnya nyaris menyentuh bibir Hyuna.

“Ya…. ya Changmin!! Aishh kau mengerjai ku rupanya!!” dialihkan wajahnya cepat. Dipunggunginya Changmin, ia mendengus kesal, tangannya terlipat didepan dada. Changmin ternyata mengerjainya. Bahkan sekarang pria itu malah menertawakannya.

“Kau tak ingin mengatakan sesuatu padaku tentang perkataanmu kemarin pada Jaejoong sunbae dan Yunho sunbae?”

Hyuna terdiam. Changmin masuk ke inti pembicaraan. Ditolehkan wajahnya pelan, Changmin menatapnya, menunggu jawaban dari pertanyaannya. Dihirupnya napas dalam, ia memang sudah keterlaluan karna tak mengatakan alasan perkataannya kemarin pada Changmin. Padahal pria itu tak tahu apa yang tengah melanda perasaannya saat ini.

“Maaf. Hanya itu yang bisa aku katakan padamu.” Ujarnya lirih, ditatapnya Changmin sendu.

“Hanya itu?”

Hyuna menunduk dalam, tak sampai hati ia memandang Changmin. Tak mungkin ia katakan perkataan kemarin karna ia ingin menjadikan Changmin sebagai tamengnya di depan Jaejoong. “Maaf mengatakan hal itu, aku.. aku hanya.. hanya ingin dia.. dia-.”

“Angkat wajahmu!! Dan lihat aku Jung Hyuna!!” sela Changmin cepat. Nada suaranya lugas, lantang.

“Pandang aku!! Kenapa kau selalu seperti itu? Kenapa kau tak pernah mau memandangku? Kenapa kau selalu mengalihkan wajahmu dariku?”

Hyuna bergedik. Changmin, dia berkata begitu lugas. Suaranya pun terdengar bergetar, seperti menahan sesuatu yang siap meluap. Diangkat wajahnya pelan. Changmin menatapnya penuh, sorot matanya tajam. Rahang kokoh Changmin mengeras, baru pertama kali ia lihat air wajah Changmin yang seperti itu. “Kau.. kau- kau marah?” tanyanya ragu.

Changmin mendesah kuat. Hyuna tampak takut melihatnya, tanpa sadar ia menujukkan kegusarannya pada Hyuna. “Bisakah kau juga memandangku? Rasanya menyakitkan saat kau hanya memandangnya. Tanpa pernah sekalipun memandang yang lain.”

Hyuna menyerengit mendengar perkataan Changmin. Apa maksud perkataan Changmin sebenarnya? “Apa maksudmu? Maaf tapi aku.. aku tak mengerti apa maksudmu?”

Changmin beranjak bangun dari duduknya. Ia berdiri tepat didepan Hyuna. Gadis itu mendongak menatapnya. Percuma. Hyuna tak akan pernah mengerti maksud perkataannya. Senyum getir terulas dibibirnya. Ia gerakkan tangannya dan mengusap puncak kepala Hyuna lembut.

“Aku hanya ingin kau pandang, saat kau berbicara padaku. Itu saja pintaku.” Dibalikkan tubuhnya meninggalkan Hyuna yang diam terpangu menatapnya.

Hyuna menatap kepergian Changmin, punggung pria itu semakin jauh dari jangkauan pandangannya. Jujur, ia tak mengerti arah pembicaraan Changmin tadi. Jadi Changmin marah karna sikapnya yang tak memandang Changmin saat bicara tadi? Atau karna ia tak menceritakan alasan atas perkataannya kemarin? Atau ada hal lain yang sulit tuk ia pecahkan tentang diri Changmin?

“Kenapa perkataanmu selalu menjadi labirin yang tak bisa kutemukan jalan keluarnya?”

**

Jaejoong mendesah berat, dilemparnya bola basket ke dalam ring dengan kasar. Bola yang ia lempar mengenai tiang basket kencang. Dengan cepat ia ambil kembali bola itu dan mendriblenya menuju ring. Rasa sesak menyergapnya, tiba – tiba ia teringat dengan gadis yang kini memenuhi pikirannya.  Dengan kesal ia banting bola basketnya kuat. Bermain basket tak membuat hatinya menjadi lebih tenang malah membuatnya semakin mengingat gadis itu yang selalu menemaninya saat bermain basket.

“ARRGHHH! DAMN!!!” Teriaknya kesal.

“Jaejoong, kau kenapa?”

Jaejoong menoleh cepat. Tampak Heeyoung berjalan kearahnya. Gadis itu menatapnya cemas. Di paksakan bibirnya tuk menyunggingkan senyum. “Rupanya kau Heeyoung.”

Heeyoung mendesah berat. Tampak segurat luka diwajah Jaejoong. “Apa kau ada masalah?”

Jaejoong terbelalak mendengar pertanyaan Heeyoung. Apa ia memang tampak seperti ada masalah? Apa terlihat dengan jelas kegundahan dihatinya? “Aku tampak seperti itu dimatamu?”

Heeyoung mengangguk. “Ne, kau tampak memendam suatu masalah.” Jawabnya, mantab.

Jaejoong terdiam. Kepalanya terasa penat. Entah apa yang harus ia lakukan untuk menutupi suasana hatinya saat ini. “Aku baik – baik saja.” Di ulaskan senyum kearah Heeyoung.

“Aku ada kuliah sebentar lagi, aku duluan Heeyoung. Sampai jumpa di kegiatan club nanti siang.” Ujarnya cepat. Dibalikkan tubuhnya, bergegas meninggalkan Heeyoung yang tampak tak puas dengan perkataannya.

Heeyoung menghela napas berat. Ditatapnya Jaejoong yang berjalan meninggalkan dirinya sendiri di auditorium. Ada rasa simpati dihatinya menatap Jaejoong yang semakin menjauh. Walaupun ia baru mengenal Jaejoong tapi ia tahu Jaejoong sedang ada masalah saat ini. Raut wajah yang ditampakkan Jaejoong sama seperti saat ia memandang kepergian Hyuna – adik Yunho dengan kekasihnya kemarin.

“Jaejoong, aku tahu kau sedang ada masalah!! Maukah kau berbagi masalahmu denganku?” teriaknya lantang, saat Jaejoong hampir keluar dari auditorium.

Langkah Jaejoong terhenti. Dibalikkan tubuhnya menatap Heeyoung. Gadis itu tersenyum kearahnya.

“Maukah kau berbagi masalahmu padaku?”

Jaejoong mendesah singkat. Entah apa yang harus ia perbuat, ia tak menyangka Heeyoung akan berkata hal seperti itu padanya. Apakah ia harus menceritakan kegundahan yang tengah melandanya? Apakah ia harus berbagi semua yang ia rasakan dengan seorang gadis yang baru ia kenal? Semua rasa gundah yang tak mampu ia bagi dengan sahabatnya- Yunho. Apa harus ia bagi dengan Heeyoung?

**

Heeyoung menatap Jaejoong lekat. Jaejoong hanya diam, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir pria itu sejak ia meminta pria itu berbagi masalah dengannya. Jaejoong hanya memandang ke depan, tanpa menatapnya sama sekali. Ia sadar, seharusnya ia tak ikut campur dengan masalah yang tengah dihadapi Jaejoong. Tapi entah kenapa ia tak bisa melihat raut wajah terluka yang terpancar jelas di wajah Jaejoong. Rasanya ia ingin mengurangi setiap beban yang dirasakan Jaejoong saat ini. Aneh. Ia sendiri merasa aneh dengan rasa keperduliannya terhadap Jaejoong. Terlebih ia tak mengenal Jaejoong dengan baik. Apa hal itu ia lakukan karena Jaejoong pernah bersimpati padanya? Entahlah.

“Maaf, memaksamu untuk menceritakan hal itu padaku. Kau tak perlu mengatakannya kalau kau tak-.”

“Aku tak tahu kenapa ia bisa memasuki pikiranku. Semuanya terjadi begitu saja Heeyoung.” Sela Jaejoong. Matanya lurus memandang ke depan, tak teralihkan.

Bibir Heeyoung terkatup. Jaejoong mulai mengungkapkannya. Ditatapnya Jaejoong penuh, mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir pria itu.

Jaejoong mendongak menatap langit. “Aku tak tahu apa yang tengah kurasakan ini? Aku hanya ingin ia membiasakan diri tanpaku begitupun sebaliknya tapi-.” Dipejamkan matanya perlahan. “Sulit rasanya. Entah kenapa saat ia menjauh pergi, malah aku yang menariknya tuk kembali.”

Jaejoong menolehkan wajahnya ke arah Heeyoung yang tengah menatapnya sendu. “Ia lelah Heeyoung, dengan semua sikapku padanya. Sampai akhirnya ia lah yang memintaku pergi darinya.”

Heeyoung terdiam, mencerna semua perkataan Jaejoong. Apa yang Jaejoong bicarakan ini tentang gadis yang disukainya? Tapi siapa gadis yang dimaksud Jaejoong?

“Apa kau membicarakan gadis yang kau sukai?” tanya Heeyoung ragu.

Jaejoong terpangu mendengar pertanyaan Heeyoung. Apa perkataannya menjelaskan tentang gadis yang ia sukai? Ia hanya menyampaikan perasaannya tentang Hyuna bukan gadis yang ia sukai. “Kau berpikir aku menceritakan tentang gadis yang ku sukai?”

Alis Heeyoung terpaut. “Eh? Bukankah kau memang membicarakan gadis yang kau sukai?”

Jaejoong terkekeh kecil melihat raut wajah Heeyoung yang tampak bingung. “Aku membicarakan Hyuna. Adik Yunho, kau tahu Hyuna kan?”

“Ne, aku tahu Hyuna. Jadi benar kau menyukai Hyuna, adiknya Yunho?”

“Eh?” Jaejoong terdiam, bibirnya terkatup rapat. Kenapa Heeyoung jadi berpikir ia menyukai Hyuna? Ia hanya menganggap Jung Hyuna sebagai adiknya, tidak lebih! Bukankah sikapnya pada Hyuna hanya sebatas rasa sayang antara adik dan kakak? Tapi entah kenapa pertanyaan Heeyoung membuatnya sesak. Apakah ada rasa seperti itu untuk Hyuna dihatinya? Rasa yang melebihi apapun, rasa cinta. Ia rasa tidak!

Disunggingkan senyum tipis ke arah Heeyoung. “Tidak. Hyuna sudah ku anggap seperti adikku sendiri, tidak mungkin ada perasaan seperti itu.” Dapat ia rasakan jantungnya berdegup kuat, rasa sesak kembali menghampirinya. ‘Aneh. Rasa sesak itu kembali datang. Sebenarnya ada apa denganku?’

**

Hyuna berjalan kearah balkon kamarnya. Dirapatkan tubuhnya ketralis balkon. Matanya menerawang menatap langit yang tengah meredupkan sinarnya. Di pejamkan matanya perlahan, menikmati sentuhan angin senja yang menerpa tubuhnya.

Bibirnya menyunggingkan senyum. “Rasanya menenangkan seperti ini.”

“Apa yang menenangkan dan kenapa kau meninggalkan ku tadi di sekolah?”

Hyuna membuka matanya cepat. Tampak Junsu yang kini sudah berdiri dibalkon kamar Jaejoong. Dapat ia tangkap kegusaran di wajah pria itu. Disungingkan senyumnya ke arah Junsu. “Maaf tapi eomma menyuruhku tuk cepat pulang tadi.” Bohongnya, tak mungkin ia bilang kalau dirinya tengah menghindari Junsu tuk saat ini. Lelah rasanya mengadapi pertanyaan Junsu tentang kemelut yang terjadi antara dirinya dengan Jaejoong. Pertanyaan Junsu kembali membangkitkan luka dihatinya, mengingatkannya tentang Jaejoong.

Junsu menghela napas dalam. Ia tahu Hyuna tengah membohonginya saat ini, tak mungkin Ny. Jung akan membiarkan Hyuna pulang sendiri tanpa dirinya. Entah apa yang gadis itu sembunyikan darinya. Yang ia tahu pasti hal itu ada hubungannya dengan Jaejoong, kakaknya.

“Apa yang terjadi antara kau dan Jaejoong hyung semalam?”

Hyuna terdiam. Dialihkan wajahnya dari Junsu. Junsu kembali menanyakan pertanyaan yang paling ia hindari saat ini. “Tidak terjadi apa – apa antara aku dan Jaejoong oppa semalam.”

Junsu berdecak kesal mendengar jawaban Hyuna. Gadis itu kembali membohonginya. “Tidak mungkin tak terjadi apa – apa!! Pasti ada sesuatu yang terjadi, buktinya kau tampak aneh hari ini.”

Hyuna menghela napas dalam, matanya menatap lurus kearah gerbang apartementnya. “Kau tak perlu tahu apa yang terjadi antara aku dan Jaejoong oppa. Karna tak akan mengubah apapun, Junsu.”

Junsu mencibir. Matanya menatap Hyuna tajam. Ia tak tahan dengan sikap Hyuna yang menutupi semuanya, seolah ia tak mengetahui apapun tentang perasaan Hyuna pada Jaejoong.

“Apa Jaejoong hyung menolakmu?”

Hyuna menolehkan wajahnya cepat kearah Junsu. Ia tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Jadi Junsu mengetahui perasaannya pada Jaejoong? Tapi kenapa Junsu seolah tak tahu tentang perasaannya pada Jaejoong saat ia akan memberitahu pria itu tentang perasaannya?

Junsu mendesah singkat melihat air wajah Hyuna yang tampak kaget mendengar pertanyaannya. Sudah ia duga Hyuna akan bereaksi seperti itu. “Maaf, aku berpura – pura tak mengetahui perasaanmu pada Jaejoong hyung saat kau ingin menceritakannya padaku waktu itu. Aku tahu kau menyukai Jaejoong hyung, Hyuna. Dan aku juga tahu kalau Jaejoong hyung hanya menganggapmu adik.”

Hyuna menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang menusuk hatinya mendengar perkataan Junsu. Matanya mendelik keatas, menahan genangan air dipelupuk matanya. Tangannya mencengkram kuat tralis balkon. Ditatapnya Junsu lekat. “Kau salah Junsu, aku tidak menyukai Jaejoong oppa-.” Dapat ia rasakan genangan air di pelupuk matanya jatuh membasahi pipi. “Aku…  aku- aku mencintainya!! Amat sangat mencintainya!! Dan aku tidak perduli ia hanya menganggapku sebagai adiknya..”

Hyuna terduduk lemas, bersandar di tralis balkon. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Isak tangisnya kian kuat, tak terbendung. “Aku tetap mencintainya, Junsu!!” bibirnya bergetar, menahan sakit yang semakin kuat menderanya. “Dan aku… aku- tak bisa menghentikan rasa cinta ini.. walau-.” Wajahnya tertunduk dalam, meredam isak tangisnya yang kian kuat. “walau cinta ini terasa begitu… menyakitkan.”

Junsu termangu menatap Hyuna yang kini tengah terduduk dengan air mata yang terus mengalir. Hyuna terlihat menyedihkan dimatanya. Tak ada senyum atau tawa di wajah gadis itu, setiap kali membicarakan Jaejoong. Tak ada binar kebahagian yang tampak di manik kecoklatan gadis itu setiap berbicara tentang Jaejoong, semua telah sirna terganti luka yang menyayat relung hati gadis itu.

Mulutnya terasa kelu tuk berucap, tak mampu ia ubah tangis diwajah gadis itu dengan senyum. Ia sadar yang mampu membuat senyum itu terkembang hanya Jaejoong, kakaknya. Dari dulu hingga sekarang, ia tak mampu membuat senyum diwajah gadis itu. Ia tak mampu.

“Maaf Hyuna.” Hanya kalimat itu yang bisa ia ucapkan tuk menutupi kesalahan yang ia perbuat –membangkitkan luka hati Hyuna.

“Maafkan aku, Hyuna. Maaf…”

**

Yunho menatap Jaejoong sekilas, kemudian kembali fokus menyetir. Jaejoong hanya diam memandang ke luar jendela, mulutnya enggan bersuara. Pembicaraannya dan Heeyoung  tadi siang menyisakan tanda tanya besar dikepalanya, tentang perasaannya pada Hyuna.

‘Apa aku  memang mencintaimu Hyuna?’ digelengan kepalanya cepat. ‘Tidak!! Tak ada perasaan seperti itu pada Hyuna!!’ bantahnya. Dihelanya napas berat. ‘Tapi… kenapa.. kenapa- hati ini begitu sesak saat memikirkan Hyuna?’

Yunho memperlambat laju mobilnya, saat dilihatnya Jaejoong tengah menggelengkan kepalanya cepat. Sahabatnya itu tampak sedang berpikir tapi entah apa yang tengah dipikirkan sahabatnya itu. Sejak tadi pagi Jaejoong memang sudah tampak aneh, sahabatnya itu jadi lebih pendiam. Sebenarnya  apa yang terjadi pada Jaejoong? Apa yang tengah dipikirkan Jaejoong saat ini?

“Ya!! Kim Jaejoong!! Ada apa denganmu hah? Kau ada masalah??” tanya Yunho gusar, ia tak tahan tuk mengetahui apa yang tengah dipikirkan sahabatnya itu.

Jaejoong sedikit terperajat. Dialihkan wajahnya menatap Yunho. “Eh? Aku? Masalah apa?”

Yunho mendesah berat mendengar Jaejoong yang malah balik bertanya padanya. “Kau tampak sangat aneh hari ini!! Apa yang terjadi denganmu hah?”

Jaejoong kembali mengalihkan wajahnya ke luar jendela. Ia ingin menyampaikan apa yang ia rasakan saat ini pada Yunho. Tapi hal itu tentang Hyuna, adik Yunho. Terlebih ia telah mengatakan dengan jelas pada Yunho bahwa ia tak memiliki perasaan yang lebih pada Hyuna. Entah kenapa kini ia ragu tentang perasaannya pada gadis itu.

“Hanya ada sedikit masalah dengan dosen tadi.” Bohongnya. Hanya itu yang bisa ia katakan pada Yunho. ‘Maaf Yunho, aku tak bisa mence ritakannya padamu.’

Yunho berdecak kesal mendengar jawaban Jaejoong, ia tahu sahabatnya itu tengah membohonginya. Ia mengenal baik Jaejoong, perangai pria itu sudah sangat melekat di pikirannya. Dan ia tahu, ada hal yang tak ingin Jaejoong ungkapkan padanya bahkan sahabatnya itu kembali membohonginya. ‘Sebenarnya apa yang tak bisa kau ceritakan padaku, Jaejoong? Apakah hal itu menyangkut perasaanmu?’

Dihelanya napas berat. “Baiklah, kalau kau tak ingin menceritakannya padaku. Kau bisa menceritakannya kalau kau siap.”

Jaejoong tersenyum tipis mendengar perkataan Yunho. Ia tahu, Yunho memahaminya dan tak akan bertanya apapun lagi padanya sampai ia sendiri yang menyampaikannya. “Gomawo Yunho. Kau memang sahabat terbaikku.”

Yunho terkekeh kecil. Diliriknya Jaejoong sekilas. “Aku tahu, kalau aku sahabat yang baik.”ujarnya, bangga .

Jaejoong mencibir. “Aishh dasar kau ini!!”

“Akhh iya hampir terlupa, sabtu ini akan ada festival penutupan masa orientasi di SMA kita dan akan banyak alumni yang datang tuk menyaksikan festival itu. Junsu juga mengatakan padaku tuk datang bersamamu. Aku juga mengajak Hyewon dan Heeyoung biar lebih ramai. Bagaimana kau bisakan?”

Jaejoong terdiam, bibirnya terkatup. Rasanya berat tuk mengiyakan ajakan Yunho. Ada ketidaknyamanan yang terasa bila ia datang ke festival SMA-nya. Entahlah, ia sendiri tak yakin dengan perasaannya itu.

“Baiklah,kita ke festival SMA kita dulu.”

**

Hyuna menatap kearah luar jendela. Tampak kesibukan yang terjadi di halaman sekolahnya. Para anggota OSIS tengah sibuk mengatur kesiapan festival penutupan masa orietasi siswa baru di SMA-nya. Dilihatnya Changmin tengah memberikan pengarahan bagi para anggota OSIS yang lain. Dihelanya napas dalam. Matanya menatap Changmin lekat. “Kau kelihatan lelah, Changmin. Semoga festival penutupan besok berjalan lancar.” Bibirnya mengukir senyum.

“Apa yang kau lihat Hyuna?”

Hyuna sedikit terperajat saat Junsu tiba – tiba sudah berdiri disampingnya. “Aishh!! Kenapa kau suka sekali mucul tiba – tiba hah? Mengagetkanku saja!!” ujarnya gusar.

“Kau saja yang tak sadar kehadiranku!!” ditekuk wajahnya kesal.

Hyuna mencibir melihat raut wajah Junsu yang tampak kesal padanya. “Aishh kau ini, begitu saja sudah kesal.”

Ditatapnya Junsu lekat, ia baru sadar Junsu tak mengenakan seragam sekolah melainkan memakai baju club sepak bola sekolahnya. “Kau mau latihan tuk demonstrasi club di festival besok?”

“Ne, begitulah. Mungkin akan latihan sampai malam. Kau pulang sendiri tak apa kan?”

“Bukankah dari kemarin aku sudah pulang sendiri tanpamu?” tanya Hyuna polos.

“Aishh Hyuna kau- akhh.. kalau begitu hari ini kau harus menunggu ku latihan sampai selesai!!” ujar Junsu kesal. “Awas kalau kau pulang terlebih dahulu dan meninggalkanku!!” dilangkahkan kakinya cepat meninggalkan Hyuna yang tampak kesal dengannya.

“Ya!! Kim Junsu!! Aishh kenapa kau jadi seenaknya hah??” teriak Hyuna kesal.

Junsu menghentikan langkahnya. Dibalikkan tubuhnya menatap Hyuna yang tampak melipat tangannya dengan wajah gusar. Dihirupnya napas dalam. “Hyuna, Jaejoong hyung dan Yunho hyung akan datang ke festival penutupan orientasi besok.” Dapat ia tangkap air wajah Hyuna menegang setelah ia mengatakan hal tersebut. Setidaknya ia harus menyampaikan hal itu, walau ia tahu hal itu akan menyakitkan bagi Hyuna. Kembali ia balikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Hyuna yang kini diam terpangu.

Hyuna tertunduk dalam, kepalanya berdenyut kuat. Jantungnya berdegup kencang. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum getir. “Akankah aku bertemu denganmu besok Jaejoong oppa?”

**

Hyuna mendesah singkat. Matanya menerawang ke arah Junsu yang tengah berlatih sepak bola dilapangan sekolahnya. Dialihkan matanya menatap langit yang tampak kemerahan. Dihirupnya napas kuat, matanya terpejam perlahan, menikmati suara teriakan yang begitu bersemangat dari para anggota club. Suasana yang sama, saat ia menunggu kakaknya dan Junsu yang tengah berlatih tuk festival penutupan orientasi siswa tahun lalu. Hanya kali ini berbeda, ia hanya duduk sendiri dipinggir lapangan tanpa pria itu yang menemaninya. Yah tanpa pria itu. Rasa rindu itu kembali hadir, ingin rasanya ia kembali ke tahun lalu saatpria itu masih disisinya. Tapi apakah kini ia pantas kembali memikirkan dan berharap pada pria itu? Ia pun sadar, semua percuma karna waktu tak akan mundur dan tak kan berhenti berputar. Perkataannya padapria itu  semalam tak bisa ia tarik kembali. Tidak bisa.

“Bolehkah aku berharap semua itu akan kembali terjadi oppa?” perlahan ia buka matanya. Dapat ia rasakan  rindu itu kembali menelusup ke dalam hatinya yang terdalam. Mengikis perlahan – lahan jiwanya.

“Apa yang kau inginkan kembali Hyuna?”

Hyuna terdiam, suara itu- . Ditolehkan wajahnya perlahan keasal suara itu. Napasnya tercekat. Sesak.

Sudut bibirnya terangkat, mengulas senyum dingin. Ditatapnya penuh sosok pria disampingnya itu. “Menginginkan waktu yang tak akan pernah kembali…” tak terasa bulir air mata menetes pelan, membasahi pipinya. “Aku menginginkan sesuatu yang aku sadar tak akan pernah menjadi milikku. Menginginkan sesuatu yang sudah salah dari awalnya…”

“Hyuna kau-“

Continue………

thanks for read  dont be silent reader

saya sangat menghargai setiap komentar, kritik dan saran yg diberikan

 

 

 

2 thoughts on “Still I Love You part 3

  1. Wew .. Sudah lama di post ternyata .. X_x baru liat ff nya sekarang . Pdahal aku idh nunggu2 ni..
    Hhha . Eonn, chapter 4nya asap yaaa di postnya . Hhhe
    Udh gk sabr mau bca ni …
    Hhhe

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s