Switch [Light 2]

Starring:
– Super Junior Eunhyuk as Lee Hyuk Jae
– Super Junior Kyuhyun as Cho Kyu Hyun
– Ulzzang Park So Ra as Choi Hyun Sun
– Ulzzang Jo So Yeon as Choi Yoon Sun

PS:
Yeay! I’m back. Muahahahahahahahaha
Sebelumnya terimakasih banyak untuk semua reader yang sudah menyempatkan diri membaca part yang sebelumnya, terutama untuk yang kasih komentar. Berkat kalian aku bisa lanjutin cerita ini. Kerasa banget gimana buntunya ide ketika gaada orang yang berkomentar apa-apa :”(
Sepertinya jalan ceritanya makin rumit, makin ngawur sebetulnya. Kkkkkk~

Monggo dibaca dulu deh. Semoga lanjutan ceritanya gak mengecewakan :D

LIGHT 1

***

Setelah menerima telepon Hyuk Jae yang memintanya untuk membelikan makan siang dan mengantarkannya, Hyun Sun segera bergegas menuju tempat tinggal pria itu. Dia tidak mengerti dengan pemikirannya. Bukankah lebih mudah untuk membeli makanan pesan antar saja? Sebenarnya tidak masalah kalau harus membelikan Hyuk Jae makanan untuk sarapan, makan siang atau makan malam karena biasanya juga seperti itu. Pria itu memang tidak tahu diri. Sudah punya penghasilan sendiri, tapi tidak bisa membiayai kebutuhan hidupnya. Yang membuat gadis itu kesal adalah tidur siangnya terusik gara-gara pria bernama Lee Hyuk Jae. Lagipula entah kenapa Hyun Sun mau saja menuruti kata pria itu, dia bisa saja memesankan makanan pesan antar untuk Hyuk Jae dan melanjutkan tidurnya, tapi hatinya malah tergerak untuk membatalkan tidur siangnya dan pergi ke kediaman Hyuk Jae.

Hyun Sun mengetuk pintu apartemen Hyuk Jae berkali-kali, tapi sang penghuni masih belum membukakan pintunya. Tadi dia sudah memencet bel, tapi tidak dibuka juga. Pikiran yang tidak-tidak sudah menghinggapi kepalanya. Pria itu memang suka sekali mengerjai Hyun Sun, apalagi saat harus mengusik tidur gadis itu, seperti sebuah kebiasaan.

“Yak! Lee Hyuk Jae, buka pintunya!” teriak Hyun Sun sambil menggedor pintu. Dia tidak peduli kalau nanti ada tetangga Hyuk Jae yang memarahinya. “Yak! Lee Hyukjae, buka pintunya! Yak! Yak!”

“Lee Hyuk Jae, aku akan hitung sampai 3. Kalau kau tidak buka pintunya, aku akan pergi,” katanya lagi, belum mau menurunkan nada suaranya.

“Satu…”


“Dua…”

“Ti…ga!”

“Yak! Lee Hyuk Jae, kau mau buka pintunya tidak?” Lihat! Apa yang dilakukan gadis bernama Hyun Sun dari keluarga Choi itu? Bukankah tadi dia bilang akan meninggalkan apartemen Hyuk Jae, jika pria itu tidak membukakan pintu sampai hitungan ketiga?

“Lee Hyuk Jae!” Hyun Sun masih giat menggedor pintu kayu itu.

“Ya….k!”

Bertepatan dengan gedorannya yang kesekian kali, pintu itu terbuka. “Aish! Kau berisik sekali. Pintunya tidak aku kunci,” bentak Hyuk Jae tepat setelah kepalanya menyembul dari balik pintu.

“Oh! Mian.” Merasa bersalah, Hyun Sun hanya menunjukkan cengirannya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ayo masuk!”

Pria bernama Lee Hyuk Jae itu terlihat sangat menyedihkan sekarang dan Hyun Sun baru mengerti kenapa pria itu punya permintaan yang aneh-aneh. Sebenarnya permintaannya mudah, meminta Hyun Sun datang ke apartemennya, dan permintaannya yang aneh soal membelikan makan siang tadi hanya sebuah kamuflase saja. Pria itu tahu betul seorang Hyun Sun tidak akan mau berkorban banyak, misalnya mengabaikan tidur siangnya yang indah, kalau hanya untuk datang menemui Hyuk Jae. Sekarang pria itu sedang demam, tidak ada yang mengurusinya karena dia memang tinggal sendirian, keluarganya tinggal di Incheon.

“Kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang sakit?” tanya Hyun Sun geram dan dengan telaten meletakkan kompresan di atas kening Hyuk Jae, tentu saja setelah pria itu terbaring di atas ranjangnya.

“Kau pasti akan mengira aku bohong. Kalau aku mati pun kau pasti akan bilang aku bercanda. Kau hanya akan percaya kalau aku bilang aku belum makan,” jawab Hyuk Jae tanpa membuka matanya. Baginya terlalu berat bahkan untuk bernafas sekalipun.

“Karena kau hanya selalu terlihat menyedihkan saat kelaparan, makanya aku seperti itu. Salah sendiri, kenapa menjadikan segala hal sebagai lelucon?”

Kali ini Hyuk Jae tidak menjawab, dia benar-benar sedang sakit.

“Kau sudah makan? Mau aku suapi?”

“Benarkah?” tanya Hyuk Jae kegirangan, bahkan sekarang dia mampu membuka kedua matanya.

“Baiklah. Baiklah. Aku suapi,” sesal Hyun Sun atas perkataannya tadi.

***

Hari ini untuk ke sekian kalinya Choi Dong Seop mengadakan acara jamuan besar-besaran di rumahnya. Semua kolega bisnisnya tak luput dari undangan makan malam mewah ini dan pasangan baru, Kyu Hyun dan Hyun Sun, di keluarga itu lagi-lagi menjadi highlight pada acara malam ini.

Hyun Sun masih belum keluar dari kamar meski taman belakang rumahnya itu sudah dibanjiri oleh tamu-tamu ayahnya. Dia baru saja selesai memulaskan make-up ke seluruh wajahnya, dalam hal ini dia tidak begitu pandai. Rambut panjang berwarna cokelat karamel yang biasa ia gerai sengaja digulung kali ini, semuanya dimaksudkan agar rambutnya tidak menutupi bagian bahunya yang terekspos karena gaun yang dia pakai. Pilihannya jatuh pada sebuah gaun tanpa lengan berbahan satin, berwarna hijau tua, yang panjangnya semata kaki. Kemudian dia menggunakan sepasang heels berwarna hitam yang tingginya hanya sebatas tujuh sentimeter. Biasanya dia mampu menggunakan heels yang lebih tinggi dari itu, tapi gaun panjang tidak akan cocok dipakai dengan heels yang terlalu tinggi.

Jika Hyun Sun lebih menonjolkan sisi glamor, lain halnya dengan Yoon Sun yang sudah berbaur dengan beberapa tamunya. Adik kandung Choi Hyun Sun ini lebih memilih menggunakan gaun ketat, berlengan pendek, sepanjang lutut. Warna yang dipilihnya juga tidak terlalu strong, orchid. Tapi, heels yang digunakannya lebih tinggi dari milik Hyun Sun. Gadis itu juga hanya memoleskan make-up berwarna natural.

“Yoon Sun-ssi, di mana kakakmu? Dia akan ikut acara malam ini, kan?” tanya salah seorang pria di antara kerumunan orang yang Yoon Sun ada di dalamnya.

“Tentu. Mungkin sebentar lagi dia turun,” jawab Yoon Sun tanpa meninggalkan senyum hangat yang sedari tadi memang dia pamerkan pada setiap tamunya.

“Ayahmu mengadakan acara sebesar ini, apakah untuk mengumumkan tanggal pernikahan Hyun Sun dan Kyu Hyun?” tanya salah seorang yang lainnya. Kali ini seorang wanita yang kira-kira usianya terpaut empat tahun di atas Yoon Sun. Pakaiannya sedikit terbuka dan bibirnya dipoles oleh lipstick berwarna merah pekat, agak sensual.

Yoon Sun mengerti betul maksud wanita itu bertanya demikian padanya, tapi gadis ini tidak pernah ambil pusing mengenai pernikahan kakaknya. Sebenarnya dia sering mewaspadai ucapan ayahnya, takut jika terselip kapan pernikahan itu akan dilangsungkan. Tapi, untuk apa? Bahkan sebesar apa pun terselip niatan untuk menggagalkan pernikahan kakaknya dan membawa kabur Kyu Hyun, gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun Kyu Hyun sering menjamin bahwa pernikahan antara dia dan kakaknya tidak akan pernah ada. “Tanggal pernikahan mungkin sudah ditetapkan, tapi aku tidak tahu apakah appa akan mengumumkannya mala mini atau tidak,” jawab Yoon Sun akhirnya. Sebenarnya sangat berat mengucapkan itu, tidak rela. Dia harus menurut pada takdir.

“Yoon Sun-ah!” Sadar namanya disebut, Yoon Sun mencari sumber suara yang menyebutkan namanya barusan. Dia hanya ingin memastikan tebakannya benar sebelum tersenyum dan menghampiri laki-laki yang ingin ditemuinya saat itu. Tepat ketika dia berbalik ke belakang, sosok Kyu Hyun sedang tersenyum padanya. Dia kembali ke kerumunan itu untuk meminta izin sebelum kakinya melangkah mendekati Kyu Hyun. Pria tampan itu terlihat sangat keren seperti biasa.

“Adik iparku cantik sekali mala mini,” komentar Kyu Hyun saat Yoon Sun dengan senyumnya berhenti satu langkah di depannya, tapi senyum itu menghilang seketika lolosnya kata-kata Kyu Hyun.

“Adik ipar?” tanya Yoon Sun meremehkan, meski kentara sekali di wajahnya ada kekesalan dan keterkejutan. “Jadi begitu?” tandasnya, kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin.

Kyu Hyun memang senang menggoda gadis di hadapannya saat ini. Mungkin rata-rata ucapannya itu keterlaluan, tapi melihat ekspresi wajah yang gusar dari gadis yang sangat dicintainya itu membuatnya terlihat lebih senang. Bukankah mengetahui kenyataan bahwa orang yang kau sukai itu cemburu adalah hal yang paling menyenangkan?

“Oh! Ayolah! Aku hanya bercanda,” kata Kyu Hyun akhirnya setelah melihat tidak ada niatan baik dari Yoon Sun untuk mengubah ekspresi wajahnya seperti saat menjamu tamu-tamunya tadi. Kali ini gilirah Kyu Hyun yang tertohok oleh kata-kata yang keluar dari mulut putri kedua Choi Dong Seop itu.

“Aku tahu kau hanya bercanda. Tapi ketika aku tahu yang akan menikah denganmu adalah kakakku, kata-kata itu jadi terdengar sangat menyakitkan.”

***

Sudah hampir berjalan satu jam acara jamuan itu, tapi Hyun Sun baru beberapa menit yang lalu mulai menggamit lengan kanan Kyu Hyun. Perempuan yang secara resmi bertunangan dengan Kyu Hyun itu agak gerah ketika harus berdekatan dengan laki-laki, terutama Cho Kyu Hyun. Ditambah lagi dia tahu adik kandungnya, Yoon Sun, memandang mereka dengan tidak suka. Baru kali ini Hyun Sun melihat adiknya itu secara terang-terangan memberikan tatapan tak sukanya. Mungkinkah telah terjadi sesuatu yang salah di antara ketiganya?

Pikiran Hyun Sun yang melanglang buana entah ke mana tertepis ketika untuk ke sekian kalinya ayah yang begitu dihormatinya mengenalkan mereka, Kyu Hyun dan Hyun Sun, sebagai pasangan. Lagi-lagi bibir berwarna merah itu tersenyum, tidak sampai menampakkan giginya karena takut warna lipstick-nya itu sudah menodai gigi putihnya.

“Kalian berdua tampak sangat serasi. Oh! Dong Seop-ssi, betapa beruntungnya kau memiliki putri secantik ini dan juga calon menantu yang sangat tampan. Kapan mereka akan menikah?”

Choi Dong Seop, pria paruh baya yang mengarak Kyu Hyun dan Hyun Sun berkeliling taman belakang, tersenyum mendapat sanjungan. Matanya yang terhalangi lensa kacamata memandang bangga pada sepasang kekasih, yang tidak yakin bisa disebut demikian, kemudian mengatakan hal yang sangat mengejutkan, “bulan depan. Mereka akan menikah bulan depan.”

Bulan depan? Tiba-tiba pikiran Hyun Sun kembali menerawang entah ke mana. Apa yang harus dilakukannya selama satu bulan ke depan? Secepatnya kabur bersama Hyuk Jae atau tetap tinggal di rumah dan dibenci oleh adik satu-satunya? Kyu Hyun juga tidak kalah terkejut. Jika Hyun Sun bisa menyembunyikan perasaan itu karena pulasan make-up di wajahnya, tidak dengan Kyu Hyun. Laki-laki itu mencoba bersikap tenang, meski hatinya benar-benar gelisah saat ini. Apa yang harus dilakukannya untuk menggagalkan rencana dua orang tua, ayahnya dan ayah Hyun Sun, yang keras kepala ini?

***

Hyun Sun masih bergelut dengan pikirannya, meski tangannya dengan telaten menyuapi Hyuk Jae. Laki-laki yang terbaring di atas ranjangnya itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis yang tengah menyuapinya bubur, tapi dia tidak berkomentar sama sekali.

“Mereka akan menikah bulan depan.”

Kalimat yang diucapkan Choi Dong Seop semalam masih berkelebatan di kepalanya. Di otaknya kini berputar sebuah memori dari serentetan kejadian yang telah dilewatinya, mulai dari pertemuan pertamanya dengan Kyu Hyun, pertunangannya, kata-kata manis Kyu Hyun, dan tangannya yang menggamit lengan laki-laki itu. Dia sadar, sudah terlambat untuk menghindar dari kenyataan hidup yang akan dihadapinya. Perasaan nyaman dan aman yang dapat ia rasakan dari tunangannya itu menghangatkan jiwanya. Kemudian peristiwa saat Kyu Hyun berciuman dengan Yoon Sun juga kembali hadir, membuatnya sedikit ragu. Hingga dia merasa bahwa perlakuannya terhadap Hyuk Jae sekarang adalah salah. Dia adalah gadis yang telah bertunangan. Seharusnya dia pergi mengantarkan bekal makan siang pada dr. Cho, bukan menyuapi Hyuk Jae yang sedang sakit.

“Oppa,” kata Hyun Sun akhirnya, menyudahi penerawangannya.

“Hm?”

Hyun Sun menaruh mangkuk bubur yang sudah hampir kosong itu di pangkuannya, kemudian mengutarakan apa yang disampaikannya. “Bulan depan aku akan menikah.”

Hyuk Jae terdiam. Dia masih balik menatap Hyun Sun yang juga sedang menatapnya sendu. “Kau menyukainya?”

Kali ini Hyun Sun yang bungkam.

“Kau menyukai Kyu Hyun, kan?”

Hyun Sun menarik nafasnya gusar, “aku mohon, oppa. Jangan menanyakan hal itu lagi! Aku harap itu yang terakhir.”

“Kau menyukainya?” tanya Hyuk Jae sekali lagi.

“Dengar, oppa! Aku tidak menyukainya. Aku tidak menyukai laki-laki bernama Cho Kyu Hyun itu. Jadi, jangan bertanya padaku lagi!” Kali ini suara Hyun Sun terdengar sedikit membentak.

“Tapi, kau menyukainya.”

Hening.

“Pulanglah! Aku ingin istirahat. Terimakasih telah merawatku hari ini.” Entah apa yang salah, tapi Hyuk Jae mengatakan hal itu dengan sedikit ketus.

“Aku benar-benar tidak menyukainya, oppa.” Satu keyakinan muncul dari diri Hyun Sun bahwa dia harus menegaskan pada Hyuk Jae, dia tidak menyukai pria bernama Cho Kyu Hyun itu.

“Pulanglah!” kata Hyuk Jae sekali lagi sambil menutup kedua matanya.

***

Seminggu telah berlalu lagi. Hari menjelang sore, jarum pendek di jam dinding sudah menunjuk ruang di antara angka satu dan dua. Setelah melewati seharian, akhirnya kediaman keluarga Choi kembali ramai sepulangnya para penghuni dari gereja. Setelah seminggu penuh mereka sibuk dengan urusan duniawi, inilah saatnya kembali berinvestasi untuk kehidupan mereka yang akan datang, tentu juga untuk mengharap berkah dari Tuhan dalam menghadapi minggu selanjutnya.

“Ah! Pegal sekali. Aku mau tidur.” Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Hyun Sun setelah menutup pintu masuk. Kemudian memberi isyarat dengan tangannya, dia beranjak menuju lantai dua, ke kamarnya.

“Oh! Yoon Sun-ah, kau jadi pergi ke tempat praktik Kyu Hyun?” tanya Nyonya Choi, ibu dari dua bersaudara itu. Mendengar itu, Hyun Sun menghentikan langkahnya yang hampir menaiki anak tangga pertama.

“Iya, jadi. Ada apa, eomma?”

“Kau tidak mengajak kakakmu?”

Hening. Tidak ada respon dari Yoon Sun, tidak ada protes dari Hyun Sun. Nyonya Choi masih menunggu jawaban atas pertanyaannya. Hyun Sun dan Yoon Sun hanya saling pandang hingga Tuan Choi berdehem memecah keheningan itu.

“Ah! Aku harus segera pergi membawa anjingku ke tempat Kyu Hyun oppa. Dia pasti sudah menunggu. Sudah, ya! Aku pergi dulu.”

Yoon Sun berlalu. Dia mengurungkan niatnya untuk mengganti baju dan kembali ke garasi. Sementara Hyun Sun masih tertegun di tempatnya. Dia sama sekali berniat tidak peduli, terutama setelah kejadian di café tempo hari, jika ibunya tidak berkata seperti ini, “kau tidak menemani adikmu menemui kakak iparnya?”

Singkat cerita, Hyun Sun tidak memberitahu orang tuanya perkara yang terjadi antara Kyu Hyun dan Yoon Sun, yang dikenal sebagai calon ipar, di café tempo hari. Yang keluarga itu tahu hanyalah persiapan pernikahan Kyu Hyun dan Hyun Sun sedang berlangsung.

“A… Ah… Ehm… A… Ti… Tidak. Aku sangat lelah. Aku tidur saja.” Berhasil mengatakan kalimat-kalimat itu, meski sempat terputus-putus, Hyun Sun melesat menuju kamarnya. Bohong jika dia mengaku bahwa dia tidak peduli. Dia yakin alasan adiknya memeriksakan anjingnya pada Kyu Hyun adalah salah satu upaya untuk bisa mengunjungi pria itu sesering mungkin atau bisa jadi justru pria itu yang meminta adiknya berbuat demikian. Tapi, apa pedulinya? Bukankah dengan tegas dia sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan kedua orang itu? Dia juga sudah mengatakan bahwa tidak memiliki perasaan apa-apa pada Kyu Hyun. Meski begitu tetap saja ada perasaan tidak suka dan tidak rela karena bagaimanapun juga yang akan menjadi istri Kyu Hyun adalah dirinya, bukan adiknya itu. Dengan langkah berat dia memasuki kamarnya.

Sedikit tidak yakin, Hyun Sun merogoh saku mantel dan meraih ponsel miliknya. Antara ingin dan tidak ingin menghubungi seseorang. Setelah menimbang dan mendapat sedikit keyakinan, pada akhirnya dia menyentuh juga layar ponselnya. Kemudian menekan ikon buku telepon, menggerakkan ibu jarinya dari atas ke bawah, mencari nama kontak seseorang, Cho Kyu Hyun. Ternyata rasa ragu itu datang lagi, membuat gadis itu mendesah cukup berat. Sekali lagi dia menimbang, tapi dia justru mengabaikan nama kontak itu dan mencari yang lain.

To: Dongsaeng

Titip salamku untuk Kyu Hyun.

Tapi, sekali lagi dia mengurungkan niatnya mengirim pesan itu dan dengan gusar menghapusnya. Bahkan kata-kata itu belum bisa dikatakan sebuah pesan karena belum ditujukan pada siapa-siapa.

“Apa sebaiknya aku menelepon dia saja?” gumamnya. “Tapi, untuk apa?”

Untuk ke sekian kalinya dia melangkahkan kakinya seperti sedang membawa setumpuk karung beras di bahunya. Dia mengambil posisi senyaman mungkin di kursi belajarnya kemudian mengetukkan ujung ponselnya ke atas meja. Kali ini entah apa yang dipikirkannya, yang jelas dengan gerakan cepat dia sudah menaruh ponselnya itu di dekat telinganya. Terdengar nada sambung dari ponsel itu dan dengan sabar Hyun Sun menunggu hingga seseorang di ujung sambungan berkata, “yeoboseyo!”

“Oh! Oppa, apa kau sedang sibuk?” tanya Hyun Sun tanpa membalas sapaan orang yang dihubunginya.

“Sebenarnya tidak terlalu sibuk. Ada apa? Tidak biasanya kau meneleponku seperti ini. Kau mulai merindukanku?”

“Ah! Tidak ada apa-apa. Apa oppa sedang di tempat praktik?”

“Ne? Bagaimana kau bisa tahu? Oh! Kau peramal rupanya?”

“Tidak. Hanya saja tadi aku mendengar Yoon Sun akan pergi mengunjungimu di tempat praktik, makanya aku tahu. Tapi, oppa… bukankah setiap hari Minggu tempat praktikmu tutup?”

“Ah! Itu… Itu… Ehm… Ya, apa salahnya aku membuka tempat praktik di hari Minggu? Lagipula pelanggan yang datang, kan, adikmu.”

“Ah! Kau benar juga. Sudah, ya.”

Entah merasa benar-benar tidak suka atau dia merasa kecewa, setelah mendapat jawaban seperti itu dia menjadi malas untuk menyambung perbincangan yang lebih panjang. Dia segera memutus sambungan teleponnya. Apa tadi yang dikatakan laki-laki itu? Adikmu? Apakah salah jika Hyun Sun ingin mendengar laki-laki itu berkata ‘adik iparku’? Tapi tidak berselang cukup lama, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk untuknya. Dengan malas dia menerima panggilan itu. “Yeoboseyo!”

***

Sepasang kekasih sedang menikmati suasana Daegu di sore hari. Angin musim semi yang bertiup senja itu menambah suasana romantis di antara keduanya. Mereka berdua sedang berjalan-jalan santai di taman kota ditemani seekor anjing peliharaan. Mereka terlihat sangat gembira, seperti tak terpisahkan. Untuk itu, mereka saling berpegangan tangan. Sesekali mengayunkan tangan mereka karena matahari masih tersenyum meski tak lagi menggantung di tengah langit.

“Rasanya sudah lama sekali tidak berjalan-jalan sore di taman. Aku masih ingat sekali kau dulu sangat cerewet setiap aku sedang ujian,” kata si lelaki membuka percakapan. “Oppa, jangan belajar di taman! Nanti kau masuk angin. Oppa, kau ini keras kepala sekali. Pakai mantelmu! Oppa, jangan pulang malam! Kalau besok kau ketiduran saat ujian bagaimana?” Laki-laki itu memperagakan kembali bagaimana kekasihnya itu dulu selalu mengatakan hal yang berbeda setiap harinya, tapi memiliki makna yang sama.

“Yak!” rengek kekasih laki-laki itu sambil memukuli lengan orang yang tengah menggenggamnya dengan sebelah tangan yang bebas dari genggaman laki-laki itu. “Itu untuk kebaikanmu juga, oppa. Kau selalu saja mengejekku.”

“Iya. Iya. Aku tahu. Maafkan aku!” Lalu bukannya melanjutkan protesnya, si perempuan malah bersikap lebih manja lagi dan hal yang dilakukannya membuat si lelaki merasa sangat senang.

“Bulan depan kau akan menikah dan aku akan jadi adik iparmu, oppa.”

Perlahan laki-laki itu melepaskan gengaman tangannya dari perempuan itu, mecoba mengalihkan topic pembicaraan, dan mengeratkan genggaman tangannya yang satu lagi pada sebuah tali kemudian berjongkok. “Jong Ja-ya, kau lapar tidak? Mau beli cemilan?” Si perempuan yang menyaksikan itu hanya tersenyum. “Kalau kau lapar, seharusnya kau bilang, oppa. Jong Ja-ya, ayo kita pergi membeli makanan!” Kemudian perempuan itu merebut anjing yang sedang di ajak berbicara oleh laki-laki tadi, tak tanggung-tanggung dia menggendong anjingnya.

***

Hyun Sun masih mengingat betul percakapannya dengan Kyu Hyun di telepon tadi. Bukan yang menanyakan kenapa tempat praktik Kyu Hyun buka di hari Minggu, tapi perkataan Kyuhyun yang memberitahukan permintaan orang tua pria itu untuk menemani Kyu Hyun mengunjungi neneknya di Seoul.

“Kenapa kau menutup teleponnya begitu saja?” tanya Kyu Hyun saat telepon tersambung lagi.

“Memangnya kenapa? Aku, kan, sudah selesai dengan urusanku. Makanya aku tutup teleponnya.”

“Tapi, aku belum.”

“Baiklah. Ada apa?”

“Begini. Minggu depan kau ada acara tidak?”

“Minggu depan, ya? Memang ada apa?”

“Begini. Orangtuaku meminta kita untuk mengunjungi nenek minggu depan. Bagaimana? Kau bisa, kan?”

“Ne?”

“Iya. Tapi, kita akan berangkat berdua saja. Orangtua dan kakakku akan berangkat lebih dulu.”

“Ne?”

“Kau kenapa? Kau sibuk, ya? Kalau kau sibuk, aku akan beritahu eomma. Biar nanti eomma mengatur waktu yang tepat. Bagaimana?”

“Ah! Itu… Sebenarnya… Itu… Bukan… Bukan begitu maksudku. Mungkin minggu depan aku bisa, tapi…”

“Baguslah kalau begitu. Bersiaplah karena kita akan menginap di sana selama dua hari.”

“Ne?”

“Kenapa? Kau tidak keberatan, kan? Ini hanya acara pertemuan keluarga, supaya kau terbiasa. Jangan sampai setelah menikah nanti kau tidak mengenal keluarga suamimu!”

“Ne?”

“Ah! Hyun Sun-ah, adikmu sudah datang. Nanti aku telepon kau lagi. Annyeong!”

Ekstrem. Ini benar-benar ekstrem. Yang Hyun Sun tidak habis pikir adalah kenapa pria bernama Cho Kyu Hyun itu bisa berkata demikian padahal sudah jelas dia memiliki hubungan khusus dengan adik Hyun Sun. Apakah setelah menikah nanti pria itu akan menelantarkan adiknya? Atau justru menjadikan Hyun Sun tameng agar bisa berselingkuh dengan Yoon Sun? Tidak. Bahkan hubungan antara pria itu dan Yoon Sun tidak bisa dikatakan sebagai perselingkuhan. Sekarang Hyun Sun harus bagaimana? Satu-satunya orang yang dia rasa bisa membantunya adalah Hyuk Jae, tapi pria itu sedang sakit sekarang. Demamnya sudah turun, tapi karena pola makannya tidak teratur akhirnya dia dirujuk ke rumah sakit dan menjalani rawat inap di sana. Belum lagi sikapnya terus berubah setelah Hyun Sun memberitahunya bahwa gadis itu akan segera melangsungkan pernikahan dengan Kyu Hyun.

“Tuhan, aku harus bagaimana?”

to be continued…

6 thoughts on “Switch [Light 2]

  1. waaaaaa…ceritanya kerennnnn
    saya belum tau maksud judul switch disini….
    mungkin tentang hyun sun dan yoon sun …
    peran lee hyukjae juga masih ngmbang … dia pacar ato sekedar orang terdekaat hyun sun …
    jadi tambah penasaran

  2. haloo..
    reader baru…
    bagus thor ceritanya….

    hemm….
    itu ada kebimbangan ya critanya di part ini.
    Hyukkie oppa, kalo emang cinta harus d tinjukin yah..

    lanjut thor…

  3. wah lama ga ke wff jadi ketinggalan, taunya switch udah ada part 2&3 huhu

    ceritanya makin seru nih
    konfliknya makin terasa
    aku setuju sama reader lain peran eunhyuk masih samar, kalo dia suka sama hyun sun tunjukin ke hyun sunnya

    lanjut ke part 3…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s