Every Day With SUJU – Part 6

Title : Every Day With SUJU? (part 6)

Tag  :  Super Junior, IU

Genre : Frienship (?)

Rating : All Age?

Author : Rahmi SarangheSUJU

Mianhe readers FF ini masih gaje dan semakin ngawur, maklum masih amatiran. Terimakasih kepada Admin yang telah mempublis dan terimakasih juga untuk pembaca yang memang telah sudi membaca (?) Happy Reading.

 

******

‘Sungmin-sii, benarkah pembantumu merayumu hanya karena ingin memanfaatkanmu untuk membayar hutangnya, haha,’ Sebenarnya sang presenter tahu ini semua hanyalah gosip murahan, tapi ia ingin mengungkapkan gosip ini sebagai lelucon yang akan menaikkan rating program variety show yang ia bawakan.

‘Hyaa, dari mana anda mendapatkan berita itu?’ dengan polosnya, Sungmin malah bertanya balik.

‘Dari pembantuku,’ jawab presenter ngakak, berharap perkataannya adalah lelucon yang sangat lucu.

‘Ya…  Mungkin saja pembantu kami bersahabat dekat dengan pembantu anda, lalu mereka saling mencurahkan isi hati?’ Shindong menimpali.

‘Oh tidak, pembantuku bilang dia dapat informasi ini dari ibu-ibu di swalayan terdekat,’ bukan isi pembiaraan mereka yang lucu sesungguhnya, tapi cara pengucapan yang didramatisir membuat semua orang tertawa.

Sebuah gosip terlepas dari benar atau tidak, yang jelas pasti selalu ada penyebab yang mengakibatkan gosip itu berhembus. Sang presenter tidak akan bertanya jika pembantunya tidak mengungkapkan gosip ini, dan sang pembantu juga tidak akan mengungkapkan, jika ibu-ibu di swalayan tidak menyebut-nyebut berita isapan jempol itu. Begitu seterusnya, jika tidak ada dua orang gadis labil yang berbelanja di swalayan ibu-ibu tadi, sambil marah-marah karena bias mereka, Sungmin Super Junior telah dimanfatkan oleh pembantunya sendiri, gosip itu mungkin hanya akan berenti di dua remaja labil. Puncaknya adalah ketika dua orang yang berprofesi sebagai semi rentenir dengan riangnya mengumbar omongan bahwa mereka, tepatnya salah satu dari mereka yang bernama Bos Park- akan mendapatkan tanda tangan Super Junior dan mungkin sebentar lagi akan bertemu dengan mereka. Tentu saja semua orang yang mendengar bualan Bos Park tidak akan percaya semudah itu. Dan Bos dengan senang hati menceritakan dia mempunyai seorang klien yang mempunyai hutang pada Bos Park, dan klien yag istimewa ini adalah pembantu di dorm Super Junior. Berdasarkan dua kata itu, pembantu dan hutang, kata-kata yang diucapkan dari mulut ke mulut itu berkembang menjadi sebuah wacana; Sungmin Super Junior dimanfaatkan oleh pembantunya untuk membayar hutang si pembantu.

‘Hya…Ahjussi!’ setelah sekian lama diam, akhirnya Teukie unjuk suara. ‘Sebenarnya kami tidak memiliki pembantu,’ tambah Teukie kalem dengan senyum lesung pipitnya.

‘Woa, benarkah? Lalu, siapa yang mengurus bocah-bocah seperti kalian di rumah?’

‘Kami tidak mempunyai pembantu, dia hanyalah seorang gadis yang luar biasa hebat. Dan dia tidak memanfaatkan siapa pun di sini. Dia seperti ibu bagi kami.’

IU yang masih di depan layar televisi dengan jajangmyeonnya tidak lagi tersedak, tapi mendadak ingin muntah.

‘Week, Oppa? Ibumu? Jangan bercanda, aku ini masih gadis, apakah aku setua itu untuk dikatakan seperti ibu?’

Oke, besok pagi pasti IU akan memperlihatkan reaksi mualnya kepada seluruh member di dorm. Karena siaran ini, siaran ulang yang di rekam tadi siang dan di putar malam ini, dan sekarang sudah terlalu malam untuk ke luar rumah untuk mendatangi bocah-bocah itu, akhirnya IU memutuskan untuk tidur saja. Siapa suruh berbiicara sok manis begitu? Seperti ibu apanya?

 

*****

Mimpi apa IU semalam, di pagi yang masih buta dua orang pria angker tengah menghadang dirinya ketika ia hendak ke luar menuju dorm Super Junior.

‘Bwaa!!! IU-ah, sudah kau mintai tanda tangan Super Junior untukku?’ kalimat pertama yang di ucapkan Bos Park di pagi ini dan sukses membuat IU kaget setengah mati.

Bos Park benar-benar pria yang gigih, sampai-sampai ia memberikan IU tenggat waktu satu bulan utuk membayar hutangnya, jika IU berhasil mempertemukan Bos Park dengan Super Junior, terutama Siwon. Bos Park Masih mengikuti IU yang terus saja berjalan hingga ia telah tiba di depan gerbang (?) dorm Super Junior. Kebetulan ia bertemu Sungmin yang sepertinya hendak joging, meski dengan alat-alat penyamaran agar tak dikenali oleh ELF yang anarkis (?).

‘Oppa! Oppa! Sini sebentar! Tolong aku!’ IU melambai-lambaikan tangannya agar Sungmin mendekati mereka. Bos Park dan bawahannya sumringah.

‘Ahjussi ini penggemarmu, bisakah Oppa memberikan dia tanda tangan?’ pinta IU setelah Sungmin berada di dekat mereka.

‘Anyeong Sungmin-sii, Bos Park Imnida,’ IU melongo melihat perubahan tingkah Bos Park, akan sangat aneh jika melihat pria paruh baya yang bertampang sangar tiba-tiba bertingkah sok imut dan sok manis. Iii, makhluk apaan itu?

Sungmin memperhatikan Bos Park dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Ia rasa ia pernah lihat orang ini. ‘Oh ya, pria tak jelas di kampusnya IU, apa hubungan mereka dengan IU,’ Sungmin masih berfikir ketika tangannya sedang membubuhkan tanda tangan di jaket kulitnya Bos Park. Tidak tanggung-tanggung, tanda tangan itu tercetak tepat di bagian dada Bos Park. Bos Park mendadak alangkah luar biasa bahagianya, bahkan ia menurut saja ketika IU mendorongnya untuk pergi.

‘Ahjussi, kau sudah mendapatkan tanda tangan Sungmin Oppa kan? Sekarang, pulanglah! Lain kali kita bertemu lagi ya?’ ujar IU sambil mendorong Bos Park, mengantar dua orang pria angker tapi lembut hatinya dan sedikit bodoh itu, hingga berada di seberang jalan.

IU kembali ke tempat di mana Sungmin masih mematung menunggunya.

‘Siapa mereka?’ tanya Sungmin penasaran.

‘Oh, Bos Park itu, paman temanku Oppa, cha! Oppa mau Jogging bukan? Sana pergilah, Aku juga harus bergegas, aku tidak mau terlambat kuliah nanti, anyong Oppa,’ IU meninggalkan Sungmin yang masih belum bergerak dari berdirinya.

Tanpa perintah pasti dari otaknya, Sungmin bukannya jogging ia malah berlari mengejar dua orang pria yang memang terlihat angker itu.

‘Ahjussi! Cankaman!’ Seperti drama bukan? Kenapa pula Sungmin harus kebetulan bertemu dengan IU yang sedang bersama dengan ahjussi-ahjussi yang mencurigakan itu dan kenapa pula ia harus tahu siapa Bos Park ini. Kenapa Sungmin harus tahu kalau Bos Park ini adalah rentenir yang sedang menagih hutang kepada IU? Kenapa, kenapa dan kenapa?

 

****

‘Ne, Ajumma! Oh ya…? Aku tidak tahu,’ IU memasang earphone di telinganya, sementara tangannya sibuk mencuci piring. Pekerjaannya harus tetap jalan jika tak ingin terlambat masuk kerja di swalayan yang jaraknya memang tidak jauh dari dorm. Tapi, melihat pekerjaan di dorm yang begitu banyak, bisa-bisa IU benar-benar akan terlambat.

‘Sungmin tidak memberitahumu? Bahkan aku menyuruh Sungmin untuk mengantarmu…Ish! Ada apa dengan anak itu? Berani-beraninya dia melawan perintah orang tua?’ Nyonya Lee, Ommanya Sungmin mengomel-ngomel sendiri di seberang telpon.

‘Tidak Ajumma, Oppa tidak pernah memberitahuku…bahkan,’ Ya, bahkan IU dan Sungmin akhir-akhir ini tidak pernah berinteraksi. IU jarang sekali menemukan Sungmin berada di sekitar IU, Sungmin terlihat lebih suka berada di kamar, jika pun mereka tak sengaja bertemu atau harus berkumpul dalam satu ruangan, seperti ketika makan misalnya – Sungmin lebih banyak diam. Dan tidak mungkin IU akan menyampaikan ke pada Nyonya Lee keadaaan aneh yang menimpa putra tercintanya itu.

Sekarang saja, begitu pulang dari aktivitasnya seharian ini, Sungmin langsung berkubur dikamarnya dan tidak pernah keluar lagi.

‘Oppa, Sungmin Oppa, kau tidur?’ IU tidak mendengar suara apa pun selama ia mengetuk pintu berkali-kali dan memanggil-manggil Sungmin juga berkali-kali.

IU mulai putus asa, ia memutuskan sudah tidak peduli lagi. Begitu ia berbalik hendak meninggalkan pintu kamar Sungmin.

‘Akhhh,’ IU terkejut bukan main. Ia memegangi dadanya berharap jantungnya masih ada di sana. Senyum evil namja yang baru saja membuat IU nyaris jantungan ini masih saja terukir di wajah tampannya, membuat IU gemeeees, luar biasa gemes.

‘Op…’begitu IU hendak melayangkan tinjunya ke bahu tingginya Kyuhyun, pintu di belakang IU terbuka dan menyembul-lah kepala Sungmin di baliknya dengan wajah khawatir.

‘Ada apa? Apa yang terjadi?’ tanyanya dengan rambut awut-awutan.

‘Ish…Oppa kenapa dari tadi kupanggil-panggil kau tak menyahut?’ IU berkacak pinggang merasa teramat kesal.

‘Salahmu sendiri sudah jelas aku tidur kenapa masih diipanggil-panggil,’ Sungmin dengan seenaknya memasuki kamarnya dan berbaring lagi di ranjangnya. Kyuhyun mengikuti, ia melewati IU dengan menyenggol bahu gadis itu. ‘Minggir,’ ujar Kyuhyun dengan tidak sopannya.

‘Ya! Oppa kenapa kalian jahat sekali padaku? Oppa,’ IU menerobos masuk ke kamar dua pemuda yang telah berani-beraninya mengacuhkan dirinya. IU menarik-narik selimut Sungmin yang kembali bergelung di ranjangnya.

‘Oppa, sekarang sudah sore menjelang malam, kau tidak mandi? Kenapa tidur lagi?’ Sungmin bergeming.

Kyuhyun melepaskan semua alat penyamarannya, jaket hitamnya dan melemparkan semua benda itu ke atas ranjangnya. Dalam sekejap Kyuhyun menghempaskan tubuhnya di atas ranjang itu. Tubuhnya terasa sangat letih.

‘IU-ah siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar laki-laki, keluar sana!’ perintah Kyuhyun tajam sambil menumpukan kepalanya ke kedua pergelangan tangan.

‘Oppa bangun,’ IU merengek, mengabaikan Kyuhyun.

‘Tadi Ommamu menelpon, dia tanya kenapa aku tak datang ke jamuan makannya. Ajumma bilang kau disuruh mengantarku, kenapa kau tak memberi tahuku Oppa?’ seraya duduk di samping ranjang di belakang Sungmin, IU menarik-narik selimut Sungmin yang masih tak bergeming.

Sungmin menarik selimutnya hingga wajahnya benar-benar tersembunyi dibalik selimut.

‘Kau tidak dengar apa kata Kyuhyun?’ tanyanya pelan dan lembut di balik selimut. Selembut selimut tebal yang tengah menutupi tubuhnya.

‘Jangan lupa, tugasmu di sini bukanlah memasuki kamar kami dengan seenak hatimu. Kau digaji bukan untuk itu. Keluarlah.’

Kalimat yang diucapkan dengan sangat teramat lembut itu entah kenapa tetap saja membuat dua orang yang berada di kamar itu selain Sungmin tentu saja – melongo. Kyuhyun apa lagi, ia langsung terduduk dari tidurnya. Setajam apa pun perkataannya selama ini, tidak pernah setajam yang diucapkan hyungnya barusan. Meskipun kalimat itu di ucapkan dengan sangat lembut, tapi memiliki makna yang sangat dalam efek sayatannya.

Kyuhyun bahkan belum sanggup menutup mulutnya, masih shock kenapa hyungnya bisa berbicara seperti itu. Ia melirik IU yang juga masih melongo, tapi lebih mengejutkan lagi adalah wajah IU mendadak sumringah.

‘Ish Oppa! Wae? Kenapa aku tak boleh memasuki kamarmu. Meski pun kau larang, hari ini aku akan memuaskan diriku untuk berada di kamar ini. Aku diterima di sebuah restauran ternama Oppa, tentu saja sebagai koki. Aku gadis yang beruntung bukan Oppa? Begitu tamat kuliah aku langsung diterima sebagai koki. Tidak lama lagi aku akan buka Café sendiri seperti mimpiku selama ini. Oppa tidakkah kalian bangga padaku? Nanti, Jika Oppadeul Super Junior mampir ke caféku, aku akan menggratiskan semua makanan yang kalian pesan,’ IU berkata panjang lebar, seolah-olah ia adalah gadis paling beruntung di dunia, ia bahkan tak peduli dengan Sungmin yang masih betah bergelung, dan juga tak peduli pada Kyuhyun yang malah menatapnya dengan ekspresi khawatir yang aneh.

 

****

Hari pun berlalu, dan perpisahan itu pun datang jua.

‘Huwaaa, Oppa. Aku pasti akan merindukan kalian,’ IU lah yang paling keras tangisnya. Ia telah menghabiskan berkotak-kotak tisu yang di sodorkan kepadanya. IU menyabet tisu terakhir dan mendenguskan hidungnya dengan suara berisik yang sangat keras di sana, membuat semua orang yang mendengarnya berjengit ngeri.

‘Aku tidak akan pernah merindukanmu!’ balas Kyuhyun sok tak peduli.

‘YA! Tidak bisakah sedikit saja kau ikut larut dalam susana haru ini?’ bentak Kim Heechul sambil memelototkan matanya yang juga mulai berair. Semua yang ada dalam ruangan itu ikut berkaca-kaca. Kim Jong Woon menghembuskan nafas yang sedari tadi membuat dadanya sesak. Eunhyuk layaknya seorang bocah, terisak di sudut ruangan dengan berselonjor kaki dan tangan terkulai, bibirnya sesekali melebar hingga menampakkan gummynya yang selalu ia banggakan, tapi sekarang gummy itu tak bersinar karena terkontaminasi oleh, air mata, dan errr ingusnya.

Donghae sebatas berkaca-kaca, karena begitu air mata akan menetes ia buru-buru mengerjapkan matanya yang indah itu agar air matanya tak jatuh dan membanjiri pipinya. Mata Wookie juga sudah basah, ia menutup ujung hidungnya dengan tisu yang ada digenggaman. Siwon yang akhir-akhir ini terlihat tak tampan lagi dan bahkan terkesan lucu ketika memasang ekspresi merajuk, tak seperti dulu yang membuat ia tambah imut dikala merajuk, mungkin disebabkan faktor usia yang menyebabkan ia tak cocok lagi pasang tampang merajuk –  entah kenapa ia terlihat semakin tampan dan seksi dengan setetes air mata itu sekarang. Kibum masih kalem seperti biasa dan Shindong berpelukan dengan Kangin. Leeteuk, sang leader -yang air matanya paling banjir karena ia tak kunjung menghapus air mata itu sedikitpun dan  justru bukannya terlihat menyedihkan, tapi malah lucu dan siapa saja pasti tak tahan ingin menghapus air mata yang membanjir itu- menenangkan IU sambil memeluknya singkat.

‘Jaga diri baik-baik IU-ah, jangan merindukan dan memikirkan kami terlalu banyak. Kau juga harus memikirkan hidupmu,’ ujar Teukie PD selangit di sela-sela tangisnya.

‘Anni! Aku tidak terlalu merindukan dan memikirkan kalian,’ ujar IU dengan polosnya sambil terisak, suaranya sengau karena hidungnya yang mendadak tersumbat ingus, nafasnya masih naik turun, matanya masih basah dan tumpukan tisu masih saja bertambah tinggi.

‘Hyaaa…Sudahlah, jangan berlebihan. Tempat kerjamu kan masih di kota Seoul, tidak jauh dari sini. Kenapa kalian seperti orang yang akan berpisah selama-lamanya?’ gubrak!!! Hyung menejer merusak suasana!!!

‘Oya, Sungmin-ie mana?’ tanya Menejer Hyung sambil membawa tas jinjingan berisi kado perpisahan untuk IU dari semua member.

‘Entahlah Hyung, mungkin ke tempat Lee Sung Jin, hari ini jadwal Sungmin kan juga kosong, sama seperti kita,’ jawab Teukie sekenanya. Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya. sebelum akhirnya IU benar-benar pergi diantar oleh Menejer Hyung. Datang dengan Menejer Hyung, pulang dengan Menejer Hyung. Begitulah IU.

IU menengok ke belakang, seolah-olah melihat dorm Super Junior untuk yang terakhir kalinya. Dan di sana, semua member masih melambai-lambaikan tangan mereka melepas kepergian IU.

‘Sering-seringlah main ke sini!’ teriak Eunhyuk kemudian, yang merupakan suara terakhir yang IU dengar hingga hidupnya mungkin tak lagi berhubungan dengan Super Junior.

 

*****

Akhir-akhir ini Sungmin sering sekali berdiri di hadapan rumah kecil ini. Mengamati dari mobil putihnya. Entah sejak kapan ia beralih profesi jadi pengamat rumah orang seperti ini.

Plak! Tanpa ba bi bu, sebuah jitakan mendarat begitu saja di kepalanya. Membuat Sungmin kaget bukan main. Seorang gadis yang sangat cantik sedang memandang Sungmin dengan ekspresi yang sedang marah seraya berkacak pinggang di samping mobilnya.

‘Wae? Kenapa kau memukulku nona?’ teriak Sungmin. Dia tidak tahu apa, kalau namja yang baru saja ia pukul adalah seorang member Super Junior.

‘Kenapa? Kenapa katamu! Kau ‘kan, satu-satunya makhluk hidup yang membuat gadis seceria IU murung berhari-hari gara-gara ucapan kejammu itu. Apa salahnya, hah? Kenapa kau kejam sekali padanya? Selama ini tidak ada yang bisa membuat IU menangis, tapi kau…berani-beraninya kau membuat IU menangis…Ish!! Mati Kau!!!’ gadis temperamen itu berusaha menjambaki rambut Sungmin yang dari tadi hanya duduk saja di dalam mobinya.

‘Yu Na-ah? Ada apa?’ seru seorang gadis yang muncul dari dalam rumahnya. Sungmin yakin sekali suara itu milik IU. Begitu gadis yang menjambaki rambutnya itu lengah karena dialihkan oleh suara IU, Sungmin mulai tancap gas dan meninggalkan gadis yang bernama Yu Na mencak-mencak dibelakangnya. ‘YA!!! Pengecut! Jangan Kabur!’

 

*****

‘Wooo!!!’ alangkah luar biasa terkejutnya IU begitu melihat namja yang tengah berada di hadapannya. Ia membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘o’ sambil menudingkan telunjuknya ke wajah Sungmin. Sungmin memajang tampang tanpa ekspresi di wajah imutnya. Ia menoleh sebentar ke arah IU sambil meraih daftar menu dan membacanya.

‘Kenapa Oppa bisa ada di sini?’ IU benar-benar tidak percaya apa yang ia lihat, karena saking tidak percayanya. Ia malah duduk di bangku kosong di depan Sungmin dan menatap Sungmin dengan penuh ketidakpercayaan. ’Wahh Oppa, kenapa kau sampai ada disini? Ajumma yang memberi tahumu? Waah Ajumma melanggar perjanjian, tidak bisa kalau begini,’ IU sewot, benar-benar gadis yang tidak punya ketenangan sedikit pun, begitu ekspresif sampai-sampai semua pelanggan yang sedang menikmati makanan di restoran itu memperhatikan kehebohan yang tengah berlangsung di depan mereka. Pelayan-pelayan, sekaligus rekan kerja IU yang sibuk, maupun yang sedang tidak ada kerjaan sontak melongok ke arah pertunjukan yang tengah dilakoni IU. Untung saja Sungmin berpenampilan lengkap dengan penyamarannya sehingga tak ada yang mengenal.

‘Aku mau pesan Kimchi dan Rendang,’ (Halah ngawur! Maaf aku orang Padang, pengen juga memperkenalkan masakan tradisional sendiri kepada publik hehe)’ Dengan santai seolah tidak ada yang terjadi, Sungmin menyerahkan daftar menu ke IU yang sekaligus tindakan itu menghentikan kesewotan IU. IU terdiam lalu mendadak sumringah, menyunggingkan senyumnya yang biasa. Senyum suci polos seorang bayi, senyum yang mampu melelehkan batu sekeras apa pun… Sungmin yang dari tadi hanya diam semakin membeku, tak mampu berkata-kata.

‘Hehe,’ IU memamerkan gigi-giginya. ‘Iya…iya aku tahu…aigoo, sudah lama tidak bertemu kau tambah ganteng saja, Oppa. Hehe, tadi aku sempat kege-eran, aku pikir Oppa datang untuk mencariku. Kerinduanmu itu tak terbendung lagi sampai-sampai kau mencariku ke sini, lalu Oppa memintaku kembali. Hai…hai… Ngayalku kelewatan… wakakak,’ IU menepuk jidad utuk menghentikan kegawurannya dengan enerjik ia mengeluarkan buku saku dan mencatat pesanan Sungmin. ‘Kimchi, rendang,’ ulangnya sambil menulis dibuku sakunya.

‘Oke…segera datang harap anda menunggu sebentar,’ ujar IU ceria sambil mengedipkan mata dan mengacungkan jempolnya dan berlalu meninggalkan Sungmin.

Sungmin menyantap makananannya dengan lahap, tidak lama kemudian IU datang lagi,‘bagaimana, Oppa? Kokinya aku lo…Meskipun jurusanku tata boga, tapi yang mengajarkan aku memasak masakan kesukaanmu ini adalah Ajumma. Sejak Ajumma bilang rendang dan kimchi adalah kesukaanmu, aku belajar keras sekali membuatnya sampai menjadi makanan terlezat dan terlaris di restauran ini. Sejak saat itu, jika aku mengingatmu dan kebersamaan kita ada perasaan luar biasa yang membuncah di hatiku.’

IU meletakkan kedua tangannya di dada dan mendadak mengangakat tangan mungilnya tinggi sambil berujar, ’rasa syukur yang tiada tara karena aku telah dipertemukan denganmu. Ah, lebayku kambuh lagi…hahaha.’

Sungmin terus menyantap makanannya dengan tenang dan tampang seriusnya yang cool sekaligus cute abis (perpaduan antara keduanyalah, coba bayangkan seperti apa wajah Sungmin…bayangkan dia lagi serius, cool banget kan? Terus, bayangin juga pas dia bergaya sok imut aduh…semuanya pasti pada gak tahan dengan keimutannya).

Ehem hem… Seorang pemuda tampan berkemeja biru lembut mengejutkan IU. Pemuda itu bernama Kim Soo Hyun (maunya), Soo Hyun menghampiri IU yang sedang mengerubungi Sungmin. IU yang melihat bosnya datang dengan tatapan menegur segera menyunggingkan senyum permintaan maaf, ia memamerkan giginya sambil berujar,’hehe bos….saya sedang bicara dengan Oppa saya…saya akan segera bekerja kok bos….marahnya jangan dibuat-buat begitu…tidak cocok untuk mu…ayo senyum lagi…yaa…senyum.’

IU mencontohkan cara tersenyum, melihat IU yang memamerkan senyumnya sambil menelengkan kepala, Soo Hyun akhirnya tesenyum juga, senyum yang tak kalah dahsyatnya dengan senyum yang dimiliki IU. ‘Nah gitu dong,’ ujar IU sambil memamerkan jempolnya.

‘Ish! Bocah ini! Ayo bekerja sana! Jangan malas-malasan…!’ Soo Hyun dengan sengaja mengabaikan Sungmin sesaat.

IU berusaha memperkenalkan Sungmin pada Soo Hyun. Sebagai seorang profesional, Soo Hyun mempersilahkan tamunya menikmati makanan yang sedang dihidangkan, tapi ia menarik IU menjauhi Sungmin dengan dalih tamu tidak boleh diganggu ketika sedang menikmati makanan. IU diseret Soo Hyun menuju bagian dapur restauran dengan meggenggam pergelangan tangannya. IU terpaksa menurut sambil merengek, ‘Bos, siapa bilang Sungmin Oppa merasa terganggu? Kami sudah lama tidak bertemu dan kami ingin melepas kerinduan sebentar saja, berbaik hatilah padaku.’

‘Kalau kau melakukannya, bulan depan kau tak akan menerima gajimu,’balas Soo Hyun diketus-ketuskan.

‘Waah, bos kita sedang cemburu,’ sorak salah seorang rekan IU dari belakang, agak lebay memang, tapi di restoran ini memang begitu, semua ketularan lebaynya IU.

‘Ow, so sweet!’ nimbrung yang lain disambut dengan gelak tawa rekan-rekan IU sekaligus tamu yang dari tadi tidak hanya disuguhi makanan tapi juga tontonan gratis yang lumayan romantis.

‘Bos, aku adalah koki terhebat di sini kalau bos tidak bersikap baik padaku bos akan kehilangan koki terbaik!’ suara IU masih sayup-sayup terdengar sebelum IU yang didorong Soo Hyun dengan lembut menuju dapur restoran benar-benar menghilang di balik pintu.

Seorang pelayan mendekati Sungmin yang tengah menyantap makanannya. Dan pelayan itu pun terkejut ketika menyadari ternyata pemuda yang sedang menyantap makanan di depannya ini adalah Lee Sungmin, member Super Junior.

Tapi, demi keprofesional-an, pelayan tersebut berusaha agar dirinya tidak terlihat sedang terkejut. Dia mesti menjaga privasi pelanggan sepopuler Sungmin dari serbuan fans-fans fanatik yang mungkin saja sangat banyak di restoran ini.

‘Anda teman IU ya…? Waahh, IU benar-benar gadis yang beruntung ya, punya pacar setampan bos kami, dan sekarang dia juga punya teman seorang artis sepopuler Sungmin-sii,’ Sungmin hanya melirik pelayan itu sekilas dan mengangguk kemudian kembali terfokus pada makanannya.

‘Oh ya! Silahkan menikmati makanan anda. Jika anda butuh sesuatu, panggil saja kami…’ Si pelayan pamit permisi kepada Sungmin yang sedang menyeruput colanya. Mendadak sebuah suara mengejutkan semua orang. Pelayan yang baru saja meninggalkan Sungmin sontak berbalik kembali menghampiri Sungmin yang gelas colanya telah pecah berkeping-keping dilantai. Cola yang berwarna coklat itu membasahi lantai.

Semua orang ingin melihat apa yang tengah terjadi pada pemuda itu. Sungmin yang seolah juga baru tersadar atas perbuatan yang telah ia lakukan dan sadar berpasang-pasang mata sedang tertuju padanya mencoba berdiri, berjongkok di dekat pecahan kaca dan mulai memungut satu persatu kepingan kaca yang berserakan di lantai.

Melihat itu, si pelayan segera menghentikan tindakan Sungmin.

‘Apa yang anda lakukan, biarkan saja nanti tangan anda terluka, biarkan saja kami akan membersihkannya,’ ujar si Pelayan ramah.

‘Miane..Ajumma,’ ujar Sungmin polos, menunjukan rasa bersalahnya sembari membiarkan kepingan kaca itu dibersihkan oleh pelayan lain yang baru saja datang membawa peralatan kebersihan.

‘Aku pikir, aku telah meletakkan gelas itu pada tempatnya, mianhe aku akan mengganti kerugiannya.’

Melihat keimutan Sungmin yang masih dapat terbaca (?) meski tertutup sal tebal sebagai alat penyamarannya agar tak dikenali, salah seorang dari pelayan-pelayan itu malah melukai tangannya sendiri dengan pecahan kaca. Keimutan Sungmin telah mengacaukan pikiran mereka sehingga tak fokus lagi pada pekerjaan.

Sungmin bergegas keluar restoran itu setelah menyelesaikan insiden gelas pecahnya, Entah kenapa restoran itu mendadak membuat dadanya terasa sesak. Di dalam ruangan retoran yang luas dengan pendingin yang tertata rapi entah kenapa ia sulit bernafas. Begitu Sungmin menutup pintu restoran di belakangnya, Sungmin menoleh kebelakang dan menatap retoran itu sekali lagi sebelum ia berjalan dengan cepat memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari restoran. Dadanya masih saja terasa sesak. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di tengah jalanan yang dipadati kendaraan lain.

 

*****

Lee Sung Jin terkejut melihat kemunculan hyungnya yang tiba-tiba, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sungmin berdiri di sana di depannya sambil memamerkan senyum imutnya kepada Sung Jin. Café Sung Jin memang sedang sepi, sehingga ia leluasa berbicara dengan Sungmin.

‘Wae?…Ada apa hyung ke sini?’ tanya Sung Jin penuh selidik. Bingung dengan hyungnya yang biasanya sangat sulit untuk diminta datang, dan biasanya kalau ingin datang Sungmin akan menelpon terlebih dahulu. Sung Jin membuatkan secangkir capucino untuk Sungmin yang disambut Sungmin dengan senyum imut andalannya. Tapi Sedetik kemudian ekspresi Sungmin langsung berubah, ‘yaaa…Apakah aku tidak boleh datang kesini? Kau tak menganggap aku hyungmu?’ Sungmin merenggut sambil menyeruput capucino kesukaannya (mian sebenarnya aku yang suka hihi) ‘ahhh…’ seru Sungmin setelah menyeruput capucinonya seolah-olah itu minuman terlezat di dunia. Entah zat apa yang terkandung dalam minuman itu, setelah meminumnya Sungmin merasa jauh lebih tenang. Beberapa pengunjung mulai menyadari keberadaan Sungmin yang meski telah menyamarkan penampilannya dengan kaca mata, syal tebal yang menutupi setengah wajahnya dan topi hitam yang bertengger di kepalanya, aura keartisan Sungmin tetap saja dapat dikenali orang. Pengunjung itu melirik ke arah Sungmin. Tidak lama kemudian cafe Sung Jin mulai dipadati pembeli yang sebenarnya ingin bertemu idola mereka. Sung Jin memanfaatkan keadaan itu, ia menyuruh Hyungnya membantu menyajikan minuman. Sungmin terpaksa menurut, toh keributan ini juga terjadi karena ulahnya.

 

*****

‘Annyeong, sampai ketemu besok,’ IU melambaikan tangannya kepada teman yang berjalan berlawanan arah dengannya. IU meregangkan tangan dan lehernya yang pegal. Seharian bekerja tanpa henti-hentinya sungguh melelahkan tapi menyenangkan, pikir IU sambil berjalan pelan. Seorang pemuda dengan motor besarnya dengan sigap sudah berada disamping IU.

‘Oh, Bos…,’ sambil tersenyum si bos menyerahkan helem berwarna pinknya ketangan IU.

IU menerimanya dengan tersenyum pula. Ia memakai helem dan menaiki motor besar itu dengan riang di belakang si bos. Sementara itu, dari Mobil putih Honda New Civic 2.0 AT Brilliant White Pearl, seorang laki-laki yang sejak awal memperhatikan IU mencengkram kemudi mobil dengan sangat kuat.

 

*****

Wookie dengan riang gembira menaiki tangga menuju lantai atas dengan dua botol minuman dingin di tangannya. Satu untuk Hyung umin, satu untukku, pikirnya sambil menatap dua botol minuman itu dengan tersenyum. Sehabis latihan tadi hyungnya itu langsung menghilang tanpa membawa minuman, sementara hyung-hyung yang lain telah menghabiskan minuman mereka masing-masing sambil duduk-duduk melepas lelah dan bersenda gurau.

‘Itu jatah Sungmin, bawakan itu untuknya,’ perintah Yesung datar ke Wookie yang duduk di sampingnya.

‘Ah ne, mungkin Hyung Sungmin sedang latihan martial art di atas, tadi aku sempat dengar dia bicara dengan leeteuk hyung,’ bisik wookie ke Yesung di sela-sela riuh rendah tawa member-member super junior. Begitu Wookie sampai di depan pintu menuju ruangan lepas lantai atas dorm Suju itu, langkahnya terhenti dan tangannya yang akan memutar kenop pintu menggantung di udara.

‘Hyung?’ bisik wookie shock, dia tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. Pemandangan di balik pintu kaca tembus pandang itu langsung menghentak sisi lain dari wookie yang memang mudah tersentuh dan menangis. Hyungnya yang tadi sangat ceria kenapa sekarang serapuh itu, apakah laki-laki yang berurai air mata ini adalah sungmin hyungnya yang biasanya tidak pernah menangis itu? Apa yang terjadi dengan hyungnya, Wookie sangat khawatir. Sungmin dengan lunglai terduduk di lantai. Ia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajah yang basah oleh airmata itu di sana. Tubuhnya gemetar menahan tangis seolah seperti orang yang kedinginan. Ia sesenggukan. Melihat itu, Wookie ingin sekali menghampiri hyungnya tapi begtu ia akan melangkah ia dihentikan oleh teukie yang sudah ada di samping wookie entah sejak kapan. Teukie menyentuh bahu Wookie, ’Sungmin ingin menangis, makannya dia sendirian di sini. Jika ada kita ia tak akan menangis. Bagus jika ia menangis, karena ia manusia.’ Wookie menatap sang leader yang berkata dengan tenang sambil menatap lurus ke depan di mana sungmin sedang menumpahkan seluruh kesediahannya.

TBC

Sangat diharapkan kritik dan sarannya

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s