SUDDENLY MARRIED!!!! – Part 4 [END]

Title    :           Suddenly Married‼ (Part 4)

Author:          Uchikyasha

Maincast:       Lee Sungmin, Shin Yoonji

Supportcast:  Hye Chan

Rating :           PG-15

Genre :           Romantic comedy, Love, Chapters/Parts

PS       :           Selamat membaca dan semoga terhibur. Cerita ini pernah dikirim waktu lomba di blog Spesial Shin. Tapi, ini lebih lengkap dari sebelumnya. Semoga nggak kependekan lagi dan nggak datar lagi. ;)

 

Shin Yoonji POV

Jam 8 tepat. Aku kembali memperhatikan riasan dan gaunku di depan pintu yang berkaca gelap sebuah ruangan di rumah sakit yang memantulkan jelas diriku. Melihat gaun ini mengingatkan keberuntunganku kemarin. Aku hanya membayar seratus ribu won. Padahal harganya satu juta won. Bahkan aku mendapatkan bonus sepatu! Aku harus menceritakannya pada ibu dan Hye Chan. Mereka pasti tidak akan percaya. Sungmin pasti juga tidak akan percaya jika aku ceritakan. Aku tersenyum saat melihat semuanya sempurna. Aku berjalan perlahan menuju ruangan eomma. Untung saja Hye Chan bersedia menginap dan menjaga ibu sementara aku memutuskan pulang. Sahabatku itu memang bisa diandalkan. Sebagai hadiah, aku akan berusaha agar dia bisa menemui biasnya, Choi Seunghyun alias TOP Big Bang. Semoga Sungmin bisa membantuku. Kenapa sih dia tidak suka Super Junior saja? Kan aku tidak perlu repot-repot mencari Seunghyun itu yang berbeda manajemen dengan Suju. Hye Chan selalu biasa saja jika bertemu langsung dengan Suju, dan akan menjadi gila saat melihat Seunghyun hanya di tv. Dia juga mempunyai hubungan yang buruk dengan Yesung. Hanya ada pertikaian jika mereka bertemu. Aku rasa, mungkin sebenarnya mereka saling menyukai. Haha.

“Anyeong hasyeo!” seruku begitu masuk ke dalam kamar. Eomma dan Hye Chan segera berpaling ke arahku.

“Omona! Apa kau Shin Yoonji yang serampangan itu?” tukas Hye Chan dan segera mendekatiku, memperhatikan ku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Dia seperti melihat alien saja.

“Ya, kau kira aku tidak bisa berubah menjadi seorang putri?” seruku.

“Wah, gaun dan sepatu ini terlihat mahal.” Sudah ku duga dia akan terkagum-kagum melihat gaun dan sepatuku. Aku tidak menghiraukan Hye Chan dan segera mendekati ranjang eomma. Wanita itu hanya tersenyum melihatku.

“Bisa juga kau berpenampilan layaknya seorang wanita kelas atas.” katanya.

“Keureom! Hajiman, kalian tahu, aku hanya membayar seratus ribu won untuk gaun dan sepatu ini.” seruku bersemangat. Apa respon yang kudapat? Mereka tertawa terbahak-bahak. Aish, harusnya aku tidak bercerita pada mereka.

“Hahahaha! Tidak mungkin! Gaun itu sangat indah juga sepatunya. Kau tidak mengutilkan?” tebak Hye Chan. Aku mendaratkan sebuah jitakan agar otaknya itu kembali bekerja secara normal.

“Neo michisseo?? Bagaimana aku mengutil barang sebesar ini? Baboya!” sengitku.

“Aku percaya.” sebuah suara terdengar tidak asing di telingaku. Sungmin muncul dengan setelan resmi yang membalut indah tubuh idealnya. Oh, James Bond ku datang di saat yang tepat. Aku segera menyelipkan rambutku yang terurai ke belakang telinga. Hal yang selalu aku lakukan jika tengah gugup. Apa dia akan mencemoohku seperti biasa, atau akan memujiku? Dia berjalan ke arahku dan tersenyum manis. Aigoo, jantungku berdebar sangat kencang dan berhasil membuatku sedikit sesak napas.

“Numoo-numoo yeppeuda.” ujarnya dan membuatku serasa terbang ke langit ke tujuh.

“Jeongmal?” tukasku dengan wajah yang panas. Sungmin mengangguk dan mencium punggung tanganku.

“Ah, seandainya Seunghyun juga mencium tanganku seperti itu..” gumam Hye Chan sedikit iri ku rasa. Aku dan Sungmin hanya tersenyum melihat yeoja gila itu.

“Ajhumma, bagaimana keadaanmu?” tanya Sungmin pada eomma.

“Aku sudah sehat Sungmin. Aku, tidak menyangka sebentar lagi kalian akan menjadi suami istri. Aku, sangat bahagia, ada yang akan menggantikanku menjaga Yoonji.”  Eomma mulai lagi…

“Aku, hanya tidak ingin membuang waktu, ajhumma.” kata Sungmin dan menatapku. Membuang waktu? Maksudnya?

“Baiklah, sebaiknya kalian berangkat sekarang jangan sampai terlambat.”

“Ah, ye. Kalau begitu, kami berangkat.” kata Sungmin dan menggenggam tanganku.

“Eomma, Hye Chan-ah, kami berangkat.” ujarku.

“Shin Yoonji! Sungmin-ssi! Hwaiting! Jangan hamil dulu sebelum kembali ke sini ya.”

“Yak Hye Chan jaga ucapanmu‼”

**

Finally, Author POV

Sungmin dan Yoonji berdiri di depan kantor catatan sipil tepat jam 9 tepat. Yeoja itu, heran kenapa tiba-tiba Sungmin berhenti, dan tidak segera masuk.

“Kau masih punya waktu untuk lari. Karena begitu kita masuk ke dalam, kau tidak akan bisa melarikan diri.” ujar Sungmin dan menatap Yoonji yang hari ini sangat cantik. Dan Sungmin tidak bisa berhenti menatapnya.

“Aku rasa, aku yang seharusnya berkata seperti itu padamu.” kelakar Yoonji, dan tersenyum. Sungmin terkekeh pelan dan mengulurkan tangannya pada Yoonji. Tanpa ragu, Yoonji meraih tangan Sungmin, dan mengenggamnya erat, kemudian bersama keduanya masuk ke dalam kantor, menuju loket nomor 3. Suasana kantor sedikit ramai, banyak orang berlalu-lalang, sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri (bayangkan saja kantor catatan sipil di Secret Garden : D). Sedangkan Yoonji tampak sedikit cemas dan meilirk kiri-kanan, mencoba mencari kehadiran orang tua Sungmin yang tak juga terlihat.

Mereka sampai diloket nomor 3. Di belakang antrian ada bangku panjang. Di sana duduk seorang namja berumur sekitar 60 tahun. Yoonji sangat mengenal sosok itu, meskipun dari belakang.

“Jung ajhussi!” serunya dan mendekati namja tersebut. Dia membungkuk saat berada di depan ajhussi.

“Aigoo! Yoonji, kau cantik sekali.” ujar ajhussi dan berdiri, menatap lebih dekat, tetangga favoritnya itu. Dia menyayangi Yoonji, sama seperti putrinya sendiri.

“Gomapta ajhussi. Ajhussi juga terlihat sangat tampan dengan jas itu. Pasti, para wanita akan tergila-gila seandainya ajhussi masih muda. Hehe.” canda Yoonji.

“Hahaha. Kau ini bisa saja. Kau tidak tahu kan, kalau aku dulu pangeran di blok kita.” ujar ajhussi bangga dan menepuk dadanya.

“Terima kasih ajhussi, sudah mau datang sebagai saksi Yoonji.” kata Sungmin dan menunduk.

“Sungmin, aku sudah menganggap Yoonji sebagai anakku sendiri. Apapun akan kulakukan untuk melihatnya bahagia.”

“Ajhussi… kau membuatku terharu.” ujar Yoonji.

“Kau selalu menolongku. Hanya ini yang bisa kulakukan.” Jung Ajhussi menepuk pundak Yoonji. “Tapi… tiba-tiba menikah seperti ini tanpa persiapan apapun, kau Yoonji… kau… tidak sedang hamilkan?” sambung ajhussi sambil setengah berbisik. Yoonji dan Sungmin saling melihat satu sama lain dan tertawa geli.

“Ajhussi! Apa yang kau katakan?! Aku ini gadis baik-baik tidak mungkin hamil diluar nikah!” seru Yoonji sedikit kesal, namun pada akhirnya tersenyum.

“Yah, kau tahukan pergaulan jaman sekarang. Tapi ngomong-ngomong Sungmin, dimana saksimu?”

“Aku tidak tahu ajhussi. Kita tunggu 10 menit lagi.” jawab Sungmin dan tersenyum. Sebenarnya, Sungmin sangat berharap kedua orang tuanya menjadi saksi dari hari bersejarahnya. Kalaupun mereka tidak datang, dia bisa datang lagi ke rumah orang tuanya untuk memberikan pernghormatan sebagai suami istri. Tapi, dia tetap berharap mereka datang.

10 menit telah berlalu. Sungmin mendesah pelan. Yoonji yang mendengarnya menghela napas segera menyentuh pelan pundak calon suaminya itu.

“Gwenchana Min-min?” tukasnya pelan.

“Gwenchana, jjagi. Ku rasa, aku harus menghubungi Leeteuk untuk menjadi saksiku.” katanya seceria mungkin. Tapi, Yoonji tetap bisa menangkap kesedihan di mata Sungmin.

“Bagaimana kalau kita pergi minum kopi sebentar sambil menunggu?” tawar Yoonji.

“Tidak perlu. Kita bisa menemui mereka lagi setelah kita sah menjadi suami istri.” Sungmin segera mengeluarkan hapenya menghubungi Leeteuk. Yoonji hanya bisa melihat. Memang Sungmin tidak bisa dibantah saat dia benar-benar serius.

“Yobo-” kalimat Sungmin terpotong karena  Yoonji sudah merebut hapenya. Belum sempat Sungmin protes dan merebut hapenya kembali, Yoonji malah memegang pundaknya dan membalikkan badannya ke belakang. Betapa terkejutnya, dari pintu masuk diujung sana, ada appa dan eommanya. Yah, Sungmin tidak salah lihat. Itu benar-benar appa dan eommanya.

“Anyeong haseyo ajhussi! Ajhumma!” seru Yoonji bersemangat, dan membungkuk dalam pada calon mertuanya yang terlihat sangat resmi dan berkelas. “Terima kasih banyak sudah mau datang.”

“Yoonji, kau cantik sekali hari ini.” puji Sungmin eomma. Ada sebuncah kebahagiaan yang mendalam pada Yoonji. Dia senang, berhasil membuat calon mertuanya terpukau.

“Cih, jangan senang dulu bocah! Kalau saja istriku tidak memaksaku ke sini, aku juga tidak mau datang.” ujar Lee ajhussi angkuh. Istrinya hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang arogan.  Padahal, suaminya yang melarang istrinya agar tidak berdandan terlalu lama agar mereka tidak terlambat datang. Entah Yoonji sadar atau tidak, Sungmin appa menyukainya, sejak pertama mereka bertemu. Dia merasa, yeoja yang dipilih anaknya ini spesial.

“Terima kasih sudah mau datang.” kata Sungmin datar dan membungkuk, dan hanya mampu menatap eommanya.

“Apa ini orang tuamu Lee Sungmin?” tukas Jung ajhussi dan mendekat. “Anyeong haseyo, aku Jung Jae Yong tetangga Yoonji sekaligus yang menjadi saksinya hari ini.”

“Oh, anyeong haseyo Jung-ssi, kami Sungmin appa dan eomma.” ujar Lee ajhumma ramah dan membungkuk. Sementara suaminya hanya melihat sesaat, kemudian membuang pandangannya ke arah lain.

“Baiklah, karena semua sudah berkumpul, ku rasa sekarang aku bisa mengambil formulirnya.” ujar Sungmin dan berjalan ke arah loket. Begitu membelakangi mereka semua, senyum Sungmin merekah lebar. Hari ini, hari yang paling bahagia menurut Sungmin.

**

Yoonji POV

Ingin sekali rasanya aku berteriak bahagia. Jam 9 lewat 20 menit. Dengan tanda tangan terakhir dariku, aku resmi menjadi istri seorang Lee Sungmin. Aku ingin sekali memeluk Sungmin. Tapi, ada Jung ajhussi, serta appa dan eommaku yang baru. Hehe.

“Baiklah, kita resmi menjadi suami istri. Ayo, membungkuk hormat padaku. Atau aku harus menciummu terlebih dahulu?” ujar Sungmin padaku dan tertawa.

“Mwo? Shireo! Aku akan memberi hormat yang pertama pada Jung ajhussi juga apoji dan eommonim.” kataku dan  beralih pada ketiga orang yang kusebut. “Jung ajhussi, apoji, eommonim, terimalah hormatku.” ujarku dan membungkuk agak dalam beberapa saat, kemudian kembali berdiri tegak.

“Yah, yah. Jadilah istri yang baik.” pesan Jung ajhussi.

“Setelah ini, kau harus datang ke rumah lagi eo?” kata eommonim dan memelukku sesaat.

“Semoga kau tidak sekurang ajar dia,” sengit apoji tanpa melihatku. Aigoo, aku harus banyak-banyak bersabar menghadapi apoji.

“Yeobo, ini kan hari bahagia mereka. Bisa tidak kau ikut bahagia?” tukas eomonim.

“Aku pun terpaksa datang ke sini. Sudah selesaikan? Ayo kita pulang.” Ajhussi bergegas pulang.

“Chakkaman apoji! Aku punya permintaan.” Apoji mengehentikan langkahnya dan menatapku. “Maukah… apoji dan eomonim ikut ke rumah sakit bertemu eommaku?” lanjutku ragu-ragu.

**

Yoonji POV

Sekarang kami sudah di rumah sakit. Hye Chan sudah pulang lebih dulu sebelum kami datang. Sedangkan Jung ajhussi minta diturunkan di stasiun terdekat. Katanya dia ada urusan.

“Maaf, aku sedang berantakan.” ujar eomma tidak enak pada apoji dan eomonim. Yah, eomma memang sedikit berantakan. Tapi dia tetap cantik.

“Tidak apa-apa, Yoonji eomma. Kami juga datang tiba-tiba ke sini” kata eomonim, mengerti kondisi eomma saat ini.

“Ini pertama kalinya kita bertemu, tapi aku malah tidak memberikan kesan yang baik.” ujar eomma masih merasa tidak enak meski eomonim sudah mengatakan tidak apa-apa.

“Kita sudah menjadi keluarga sekarang. Anda tidak perlu merasa tidak enak pada kami.” kata eomonim lagi. Assa, beruntungnya aku punya mertua seperti eomonim. Eomma hanya tersenyum dan mengangguk. “Cepatlah sembuh besan, setelah ini ita harus mengadakan resepsi yang meriah untuk mereka. Aku sebenarnya kaget saat mereka memutuskan tiba-tiba menikah hari ini. Tapi, setelah melihat anda, aku jadi tahu kenapa mereka terburu-buru menikah.”

“Aku sebenarnya juga kaget. Aku hanya meminta Sungmin menjaga Yoonji karena aku sudah tua. Tapi dia malah langsung menikahinya.” kata eomma dan tertawa. Huh, masih mengelak lagi. “Sungmin appa, apa anda baik-baik saja? Anda hanya diam dari tadi? Apa anda terkena sariawan?”

Mw-mwo??? Yak! Apa yang eomma katakan??? Aku melotot pada eomma agar menjaga ucapannya. Apa dia tidak tahu, sedang mengajak beruang gunung yang ganas bercanda??? Sementara apoji belum menjawab, eomonim dan Sungmin sangat terlihat sedang menahan tawanya. Terutama Sungmin! Rasanya aku ingin sekali pingsan sekarang. Ya Tuhan, jangan biarkan apoji membenci eommaku! Aku mohon!

“Ehem! Aku hanya tidak tahu harus berkata apa. Semoga kita bisa menjadi besan yang akrab.” jawab apoji sedikit kaku. Aku mendesah sangat keras hingga bisa didengar semuanya ku rasa. Buktinya mereka semua melihat kearahku. Aku tersenyum getir dan tertawa garing pada mereka semua yang terdiam seketika.  Berhasil, membuat semuanya tertawa.Termasuk…  apoji? Untuk pertama kalinya aku melihatnya tertawa. Hem, bukankah kemajuan yang luar biasa bisa langsung melihatnya tertawa tanpa tersenyum dulu? Aku ikut tertawa meski tidak mengerti mereka tertawa untuk apa. Aku sendiri tertawa karena bahagia bisa membuat apoji tertawa. Sepertinya, suasana kaku tadi sudah mencair. Semoga ini menjadi awal yang baik. Untukku, terutama untuk hubungan Sungmin dan appanya.

Setelah kurang lebih satu jam berbincang-bincang-yang didominasi para eomma-orang tua Sungmin memutuskan untuk pamitan. Aku dan Sungmin hendak mengantar mereka sampai di pintu keluar rumah sakit. Tapi apoji bersikeras agar kami tetap tinggal di kamar menjaga eomma. Terpaksa kami hanya melihat mereka dari luar pintu dan menghilang dibelokan lorong. Kemudian, Sungmin tersenyum padaku. Apa maksudnya? Dia menarik tanganku dengan antusias masuk kembali ke dalam kamar, dan berdiri berjejer di samping ranjang eomma.

“Eomma,” seru Sungmin tanpa canggung pada eomma yang sepertinya juga setengah kaget, namun segera tersenyum, seakan sudah biasa dipanggil Sungmin dengan sebutan eomma. “Terimalah hormatku.” lanjutnya dan membungkuk hormat, kemudian kembali berdiri tegak.

“Ya,ya. Aku terima menantuku. Aigoo, rasanya aneh memanggilmu  dengan sebutan menantu. Aku hanya berpesan padamu, apapun yang terjadi kau harus tetap bersama yeoja ini. Sekalipun dia minta cerai, kau pukul saja kepalanya keras-keras. Dengan begitu, saraf-saraf diotaknya kembali tersambung dan dia bisa kembali berpikir normal.” kata eomma dan membuatku kesal. Tapi, karena hari ini hari bahagiaku, aku diam saja dan memasang tampang masamku.

“Aku akan selalu berada di sampingnya eomma! Tenang saja.” ujarnya dan mencubit pipiku gemas. Tiba-tiba, Sungmin kemudian berseru, seperti mengingat sesuatu dan merogoh saku celananya, mencari sesuatu. Setelah menemukan benda yang dicarinya, dia mengeluarkan sebuah kotak beludru biru tua, kemudian membukanya. Aku terkesan saat melihat sepasang cincin berkilauan muncul dari dalam kotak.

“Walaupun tidak ada pesta meriah, tidak memakai gaun pengantin yang indah serta jas yang keren  dan tidak ada kue yang menjulang tinggi, paling tidak kita masih bisa bertukar cincin.” katanya dan memberikan aku cincin yang besar, sementara dia memegang cincin yang kecil. Setelah mengembalikan kotak cincin ke dalam sakunya, dia memakaian cincin yang dipegangnya ke jari manisku, begitupun sebaliknya dengan diriku. Kemudian, tanpa terduga dia memegang pundakku dan memiringkan kepalanya seperti hendak menciumku. Aku berteriak histeris dan menahan dadanya.

“Ka-kau gila???” bentakku dan mendorongnya agak keras hingga Sungmin terhuyung ke belakang. Aku gelagapan dan menatap eomma yang tertawa geli.

“Bukankah di drama-drama, setelah memasang cincin biasanya pengantin pria akan langsung mencium pengantin wanitanya?” tukasnya sambil menyeringai.

“Apa kau tidak bisa menunggu sampai kita berduaan?” protesku keras. Sungmin berhasil membuat wajahku panas. “Eomma akan menutup mata dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Kau tenang saja. Aish, baru berciuman saja kau sudah seperti akan mati, lalu bagaimana kau akan menjalankan malam pertamamu hah?” katanya tanpa basa-basi. Oh, aku rasa sekarang wajahku semakin mengepul-ngepul karena semakin panas. Malam pertama? Bagaimana bisa aku melupakan itu? Aku melirik Sungmin yang juga salting. Malam pertama? Aku tidak mau membayangkannya‼

“Aish! Yang penting sekarang eomma cepat sembuh supaya aku bisa mengadakan pesta agar semua wanita di seluruh Korea ini tahu kalau Sungmin sudah terikat denganku.!” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan karena siatuasi disini sudah aneh suasananya.

“Arraso! Aku akan cepat sembuh. Ingat, kalian berdua tidak boleh berpisah apapun yang terjadi. Melahirkan anak yang banyak.” pesan eomma.

“Eomma kira aku babi yang bisa melahirkan banyak anak sekali hamil?” Sengitku dan menatap tajam Sungmin yang kerjanya hanya bisa tertawa tanpa bisa membelaku sedikutpun.

“Kau kan banyak makan seperti babi.” kelakar eomma dan tertawa puas bersama Sungmin. Lagi-lagi, aku tidak bisa protes. Karena, entah kenapa aku senang bisa melihat mereka tertawa terbahak-bahak seperti itu. Suamiku, tertawa bersama eommaku. Perutku terasa geli, saking bahagianya. Semoga aku bisa selalu merasakan kebahagiaan ini setiap harinya.

**

Sungmin POV

Ini hari kedua setelah pernikahanku. Siang yang cerah hari ini, aku dan Yoonji mengadakan upacara. Semua tamu yang tidak diundang dan datang secara sukarela telah berkumpul. Semuanya datang dengan wajah sedih, dan sebagian besar memakai pakaian berwarna hitam. Beberapa yang telah datang terlebih dahulu sudah duduk melingkar di meja berbentuk kotak. Beberapa yang baru datang mencoba bergabung dengan yang telah lebih dulu datang setelah mengucapkan salam padaku dan Yoonji. Sementara aku menemani Yoonji yang sedari tadi tidak berhenti menangis sambil menatap foto ibunya yang berada di atas altar. Yah, eomma Yoonji meninggal tadi pagi. Dia terkena serangan jantung mendadak dan tak bisa ditolong lagi dini hari tadi. Jung ajhussi memimpin upacara tadi dan eomma sudah dikuburkan disamping kuburan Yoonji appa. Yoonji terus terisak, sudah tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Bahkan, dia tidak mengindahkan kata-kataku. Yang dilakukannya hanyalah terus menangis, bahkan sampai upacara selesai dan semua tamu telah pulang termasuk Hye Chan yang angkat tangan dengan Yoonji.

“Eomma… eomma… kajima…” ratap Yoonji menyayat hati lagi. Aku kehilangan akal untuk membujuknya berhenti menangis. Bahkan, sahabatnya Hye Chan tak mampu membuatnya diam. Yang bisa kulakukan hanyalah selalu berada di sampingnya dan berusaha menyemangatinya yang sepertiny sia-sia. Aku bahkan membatalkan semua jadwalku khusus hari ini. Pasti sekarang teman-teman Suju sudah mulai konser  SS4 di Singapura.

“Eomma…. kenapa eomma harus pergi? Bukankah eomma bilang mau melihat cucu eomma nanti?” isaknya dengan air mata yang semakin deras. Aku mengehembuskan napas pelan, menatap langit-langit, berusaha keras agar air mataku tidak jatuh.

“Jjagi, eomma tidak bisa tenang jika kau terus menangis seperti ini.” lirihku dan menariknya dalam pelukanku, membiarkan dia terisak di dadaku.

“Aku tidak terima! Aku tidak terima dia meninggal seperti ini. Aku belum pernah membahagiakannya di sisa hidupnya. Seharusnya dia ada di pesta resepsi kita! Seharusnya dia menyicipi kue dari potongan pertama. Seharusnya dia membantuku merias wajahku. Seharusnya… seharusnya…” Yoonji tak mampu melanjutkan kalimatnya yang terpotong tangisannya sendiri. “Aku sudah yatim piatu sekarang. Aku sudah tidak punya orang tua lagi.”

“Jadi kau juga menganggap kami sudah mati?!” Seru sebuah suara bass yang sangat ku kenal. Appa, eomma, dan Yungmin muncul di pintu masuk. Aku segera membantu Yoonji berdiri. Yeoja ini sangat lemah sekarang.

“Appa, eomma, Yungmin…” isaknya.

“Apa kau tidak menganggap aku dan Sungmin eomma sebagai orang tuamu?! Dasar bodoh! Kau sudah menjadi bagian keluarga Lee dan otomatis kami juga orang tuamu!” bentak appa. Yoonji tersentak dan hanya bisa tertunduk.

“Eonni! Jangan menangis lagi. Eonni tidak akan sendiri. Aku akan selalu menemani eonni kok. Aku akan selalu membuat eonni tertawa terbahak-bahak.” Yungmin mengamit lengan Yoonji dengan manja. Adikku memang sangat manis. Kemudian, eomma datang dan memeluknya sesaat, dan membelai penuh sayang kepala Yoonji.

“Mungkin eommamu memang tidak bisa digantikan. Tapi, kau maukan menganggapku sebagai eommamu juga?” tukas eomma penuh kehangatan. Yoonji tersenyum sekilas dan segera memeluk eomma, dan menangis lirih dipundak wanita itu.

“Eomonim, jeongmal gomawo…” katanya sesenggukan. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan berjalan pelan ke arah appa, dan segera memeluknya. Appa terlihat gelagapan.

“Apoji, mianhae.” isak Yoonji. Eomma memberi isyarat pada appa agar membalas pelukan Yoonji. Dengan kaku, appa membalas pelukan Yoonji dan menepuk punggungnya. “Apoji, berjanjilah padaku.” ujar Yoonji masih memeluk appa.

“Wae?” tukas appa datar. Yoonji merelai pelukannya, dan menatap appa dalam-dalam.

“Berjanjilah appa akan berbaikan dengan Sungmin. Karena sebenarnya, Sungmin sangat menyayangi appa, dan berharap bisa berbaikan dengan appa.” Appa menatapku, namun aku segera memalingkan wajahku. Aku belum bisa menatap appa sekarang. Shin Yoonji, apa yang kau lakukan? Yeoja itu kini beralih padaku.

“Sungmin, aku mohon,” isaknya dan mengenggam kedua tanganku. “Bagaimanapun, dia appamu. Kau seharusnya merasa beruntung masih memiliki appa. Sedangkan aku, saat aku sangat merindukannya, ingin memeluknya, aku tidak tahu harus ke mana mencarinya, karena dia memang sudah tidak ada. Mungkin sekarang kau sangat membencinya. Tapi, begitu dia sudah pergi, kau akan sangat menyesal. Sungmin, jebal…”

Aku mendesah pelan dan untuk pertama kalinya, berani menatap appa. Yungmin mengamit lenganku, tersenyum manis dan menarikku mendekati appa. Sedangkan eomma, mendorong appa mendekatiku. Untuk pertama kalinya juga, aku bisa sedekat ini dengan appa diluar kondisi seperti kemarin. Aku bingung harus berkata apa. Sepertinya appa juga bingung akan mengatakan apa.

“Ng… jwesonghamnida. Aku sudah mengcewakanmu. Tapi tolong, mengerti pilihanku.” kataku pada akhirnya tanpa mampu menatap appa.

“Dasar anak zaman sekarang. Tidak pernah mendengarkan kata-kata orang tuanya. Mereka seenaknya saja.”

Aku hanya mmapu tertunduk. Appa sepertinya belum memaafkanku.

“Appa, oppa kan sudah minta maaf. Katakan sesuatu yang manis, appaku sayang.” Yungmin terdengar sedang merayu ayah.

“Yeobo, apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” giliran eomma yang merayu appa. Aku mendengar ayah menghela napas.

“Jadilah suami yang baik. Jaga istrimu, jangan biarkan dia menangis lagi. Apapun pilihanmu, aku sudah tidak peduli lagi.”

Aku mengangkat wajahku, dan menatap appa, yang tersenyum tipis padaku. Air mataku segera meluncur, dan aku segera memeluk appa sangat erat. Ya Tuhan, aku sangat merindukan tubuh besar ini. Pelukannya selalu berhasil membuatku hangat. Eomma, Yungmin dan Yoonji ikut memeluk kami berdua. Salah satu tanganku memeluk bahu Yoonji, membuatnya lebih rapat padaku dan appa, membuatnya masuk lebih dalam ke keluarga barunya. Membuat dirinya menyadari bahwa dia tidak sendiri.

THE END

Akhirnya tamat juga. Tetap dikoment ya… Terima kasih untuk para reader yang setia menunggu keluarnya ff gaje ini. Once again jeongmal gomapta‼

2 thoughts on “SUDDENLY MARRIED!!!! – Part 4 [END]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s