Still I Love You part 2

Still I Love You

Title: Still I Love You

Lenght: 2 of ?

AUTHOR: MIN

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam FF ini adalah diri mereka sendiri. FF ini hanya khayalan, tak ada maksud apapun dalam FF ini. FF ini asli buatan saya yuuri66 © 2012

 

***

Pergi. Begitu tersadar sosok itu telah pergi dari hidupnya. Tak dapat di cegah. Semua telah berakhir. Sirna tiada arti. Hanya meninggalkan pilu, menyayat setiap sisi relung hatinya. Bahkan tangisan pun tak merubah segalanya. Ia sadar kesempatan kedua tak kan pernah datang padanya. Tak kan pernah. Karna semua telah berakhir!

Still I love You part 2 – In The End.

Hyuna, mata gadis itu menatap lurus jalan didepannya. Dilangkahkan kakinya sejauh yang ia bisa. Ia ingin berteriak melampiaskan gejolak yang bercokol dihatinya, tapi pita suaranya seakan tercekat; enggan bersuara. Ia  tak menangis walaupun hatinya terasa tersayat. Dinginnya angin malam yang berhembus tak membuatnya berniat mengeratkan cardigan yang membalut tubuhnya. Ia tak perduli dengan dirinya, yang ia tahu; ia harus pergi sejauh yang ia bisa untuk saat ini.

**

Yunho menghela napas dalam memandang pintu kamar adiknya. Sejak kejadian tadi sore, adiknya tak pernah keluar kamar lagi. Saat ia menanyakan pada Jaejoong bagaimana keadaan adiknya, sahabatnya itu hanya memintanya untuk tenang. Tapi tetap saja kecemasan melandanya.

Diketuknya pintu kamar Hyuna. “Hyuna, keluarlah! Sampai kapan kau akan mengurung diri di kamar? Semuanya sudah berkumpul di apartement bibi Kim. Cepatlah kau keluar!!”

Yunho terdiam menunggu jawaban dari adiknya. Cukup lama ia menunggu, tak ada jawaban yang kunjung ia terima. Kembali ia ketuk pintu kamar adiknya. “Jung Hyuna!! Sampai kapan kau akan bersikap seperti itu hah?? Cepat keluar!!!” ujarnya gusar, di raih knop pintu. Tak terkunci. Seketika perasaan takut melandanya. Dengan cepat ia masuk ke kamar Hyuna. Matanya membulat, rahangnya menegang. Hyuna tak ada di kamarnya.

“Kemana Hyuna?” dipandangnya menyeluruh kamar adiknya itu. Kosong. Dengan cepat ia keluarkan ponselnya tuk menelpon adiknya.

Yunho terkesiap begitu mendengar dering ponsel dari arah meja belajar adiknya itu. Ia putus sambungan telponnya, dilangkahkan kakinya ke arah meja belajar. Ponsel Hyuna tergeletak di meja dengan sebuah memo disampingnya.

Diraihnya memo itu. Dibacanya dengan seksama. ‘Aku pergi mencari udara segar. Sampaikan maafku pada omma, bibi dan paman karna tak bisa ikut berpesta bersama kalian. Tak usah khawatir, aku baik – baik saja. Jangan mencariku dan jangan cemas!!  Aku pasti kembali dan saat aku kembali, aku akan menjadi gadis yang tegar. -Hyuna.’

Napas Yunho memburu. Kepalanya terasa berdenyut kuat. Dengan cepat ia berlari pergi meninggalkan apartementnya. Hyuna pergi tanpa sepengetahuannya. Adiknya pergi karna masalah tadi sore.

“Aishh kenapa bisa jadi seperti ini??” umpatnya kesal, ia meruntuki ketidak pekaannya pada perasaan Hyuna. Ia ingin adiknya menjadi mandiri tapi ia tak memikirkan perasaan Hyuna. Perasaan bersalah perlahan menggerogoti hatinya.

Langkah Yunho terhenti saat dirasakan seseorang mencengkram tangannya kuat. Ditolehkan kepalanya. Tampak Jaejoong tengah menatapnya, alis Jaejoong terpaut. “Kau mau kemana Yunho? Yang lain sudah menunggu!! Mana Hyuna?”

Yunho mendesah berat. “Hyuna pergi Jaejoong!! Dia tidak ada di kamarnya!!” ujar Yunho histeris sembari memberikan memo dari Hyuna pada Jaejoong.

Perkataan Yunho seperti  sengatan yang meluluh lantahkan hatinya, terasa begitu memilukan. Dibacanya memo pemberian Yunho. Rahangnya mengeras. Kapalanya seperti dihantam kuat. Perasaan cemas perlahan menjalar keseluruh aliran darahnya. Hyuna, gadis itu pergi! Tapi kemana?

“Apa kau sudah menghubunginya?” dicengkramnya bahu Yunho.

“Hyuna meninggalkan ponselnya!!! Aku tak tahu, ia ada dimana sekarang!!”

Jaejoong tersentak. Pikirannya kalut. Ia tak dapat berpikir jernih saat ini. Seketika siluet wajah Hyuna berkelebat di dalam pikirannya. Hatinya terasa perih. Wajahnya terpekur dalam. ‘Kau pergi kemana Hyuna?’

“Kita harus mencarinya sekarang, Jaejoong!!” ujar Yunho sembari bergegas pergi.

Lagi. Jaejoong menahan tangan Yunho. Yunho menyerengit bingung memandang sahabatnya itu. “Ada apa lagi? Kita harus mencarinya!!”

Jaejoong mengangkat wajahnya perlahan. Perlahan ia gelengkan kepalanya. “Kita tak akan mencarinya, Yunho.”

“Eh?” Mata Yunho membulat. “Ya!! Kau bercandakan??”

Dihirupnya oksigen sebanyak yang ia bisa, mencoba menenangkan hatinya. “Aku serius.” Ditatapnya Yunho penuh. “Bukankah di memo, ia mengatakan akan kembali? Aku yakin, ia akan kembali!!”

Yunho mencibir. Ditatapnya Jaejoong sinis. “Bagaimana kau bisa begitu yakin Hyuna akan kembali hah??”

Jaejoong terdiam. Dihelanya napas pelan. “Karna aku mengenal Jung Hyuna seperti mengenal diriku sendiri!! Ia tak akan senekat itu dan kau harus percaya padanya!!” ditatapnya Yunho lekat.

Yunho mendesah berat. Jaejoong terlihat begitu yakin. “Kau yakin Hyuna akan kembali?”

Jaejoong mengangguk mantap. “Aku yakin!!” ditatapnya lagi memo dari Hyuna. ‘Karna aku tahu sejauh apapun ia pergi, ia akan selalu kembali ke sisiku. Walaupun aku memintanya pergi sekalipun.’

**

Hyuna menatap sekeliling, ia tak mengenal tempatnya berdiri saat ini. Yang ia tahu, kini ia berada di sebuah komplek perumahan. Rumah bertipe minimalis berjajar rapih di sekelilingnya. Komplek itu terasa sunyi, tak ada pejalan kaki selain dirinya. Ia menelan ludahnya perlahan. Seketika perasaan takut menyelimuti tubuhnya. Disandarkan tubuhnya ke salah satu tiang lampu jalan yang menghadap rumah mewah bergaya Eropa.

Dihirupnya napas kuat, mengusir rasa takut yang kian menggelayutinya. “Semua akan baik – baik saja Hyuna.” Gumamnya pelan.

Matanya menyipit saat sinar terang dari sebelah kanan jalan kian dekat dengannya. Sebuah mobil kian dekat, ia mundur kebelakang tiang memberi ruang agar mobil itu bisa lewat.

“Setidaknya bukan aku sendiri  yang melewati jalan ini.”

Hyuna kembali berjalan, ia harus mencari seseorang untuk ditanyai tempatnya sekarang berada. Ia harus pulang, sudah cukup acaranya ‘pergi dari rumah’. Ia tak ingin kakaknya mendapat masalah karna kepergiannya yang tanpa izin.

Dikepalkan tangannya didepan dada. “Kau harus menjadi gadis yang tegar Jung Hyuna!! Harus!!” disemangati dirinya sendiri.

Langkahnya terhenti saat mobil yang barusan lewat berhenti tepat didepannya. Perasaan takut kembali menghampirinya. Ia takut orang di dalam mobil itu adalah pria hidung belang yang tengah mencari mangsa.  Dibalikkan tubuhnya cepat saat sang pemilik mobil keluar. Dilangkahkan kakinya secepat yang ia bisa, saat terdengar derap langkah di belakangnya. Tepat dugaannya, ia dikuti. Pemilik mobil itu sepertinya seorang pria, ia mengetahuinya dari derap langkah yang berat dari sepatu pria itu. Napasnya memburu. Terlalu takut rasanya tuk menoleh kebelakang. Ia nyaris berlari saat pria itu mencengkram lengannya kuat.

Matanya terpejam, ia takut. Amat sangat takut.  Ia mencoba melepaskan cengkraman ditangannya. “Kyaaaa!!! Lepaskan aku!!! Tolong aku!!” teriaknya, mencari pertolongan. Berharap salah satu penghuni komplek perumahan itu akan keluar dan menolongnya.

“Ya!! Jung Hyuna tenanglah!! Ini aku, buka matamu!!”

Hyuna seketika terdiam. Suara pria itu seperti ia kenal. Ditelan ludahnya perlahan. Diatur napasnya yang memburu. Perlahan ia buka matanya yang terpejam. Ia tatap pria didepannya.

Hyuna terduduk lemas. “Cha- Changmin.” Ia tergagap. “Kau rupanya.” Ujarnya lega. Untunglah ia bertemu Changmin bukan pria hidung belang yang sempat terlintas di pikirannya.

Changmin menarik tubuh Hyuna bangun dari duduknya. “Sedang apa kau malam – malam disini?”

Hyuna tergagap. “Akh aku.. aku-.” Tak mungkin ia bilang sedang pergi dari rumah dan tersasar sampai komplek ini pada Changmin. Rasanya memalukan jika mengatakan hal itu pada Changmin, terlebih ia belum mengenal Changmin dengan baik.

“Aku menunggu jawabanmu Jung Hyuna.” Ujar Changmin lagi.

Hyuna tersenyum getir kearah Changmin. “Aku..hmm.. aku tersasar saat di suruh Omma belanja keperluan makan malam.” Bohongnya. Hanya jawaban itu yang terlintas di kepalanya tuk mengelabui Changmin.

Alis Changmin terpaut. Ditatapnya Hyuna lekat. “Benarkah?” entah kenapa ia merasa Hyuna berbohong padanya.

Hyuna tergagap. “Ne, aku.. aku- benar  – benar tersasar soalnya supermarket di dekat rumahku tutup jadi aku mencari tempat lain dan tersasar sampai sini.” Hyuna mengumpat atas kebodohannya saat berbohong, pria sepintar Changmin tak mungkin dengan mudah ia kelabui.

Changmin terkekeh kecil. Tepat dugaannya kalau Hyuna tengah berbohong. “Aku baru tahu kalau ada supermarket yang sudah tutup sebelum jam 9 malam.” Dapat ia lihat wajah Hyuna memerah, ia kembali terkekeh kecil.

“Ya!! Jangan menertawakan ku seperti itu!!! Kau sendiri kenapa ada dikomplek ini?”

Changmin tersenyum tipis. Ditolehkan wajahnya ke salah satu rumah. “Aku tinggal di sini dan itu rumahku.”

Hyuna mengikuti arah pandang Changmin. Matanya membulat, rupanya rumah mewah bergaya Eropa itu adalah rumah Changmin. “Oh itu rumahmu.”

Changmin mengangguk. “Ne, itu rumahku.”

Hyuna terdiam begitu pula dengan Changmin, tak ada perkataan lagi yang terucap dari bibir mereka. Rasa canggung menyergap diantara mereka. Hyuna melirik Changmin sekilas, pria itu hanya diam menatapnya. Ditundukkan kepalanya dalam. Dapat ia dengar degup jantungnya memompa kuat saat Changmin memandangnya.

“Hyuna, aku-.”

“Akhh lebih baik aku pulang sekarang!! Omma pasti cemas mencariku!!” selanya cepat. Ia tak ingin rasa canggungnya dan Changmin semakin berlarut.

Hyuna mengukir senyum tipis tuk Changmin. “Sampai jumpa besok di sekolah, Changmin. Senang bertemu denganmu malam ini.” Dibalikkan tubuhnya meninggalkan Changmin. Langkahnya terhenti saat Changmin menahan tangannya.

“Biar aku antar kau pulang.”

“Eh? Tapi.. tapi- aku..”

“Aku tak akan membiarkanmu pulang sendiri Jung Hyuna!!” ujar Changmin tegas, seolah perkataannya tak boleh dibantah.

Hyuna sedikit terperajat saat Changmin sudah menggenggam tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil pria itu. Changmin membukakan pintu mobil untuknya bahkan pria itu juga memasangkan seatbelt ditubuhnya. Perlakuan Changmin benar – benar membuat tubuhnya memanas. Baru pertama kali ia terima perlakuan seperti itu, terlebih dari seorang pria.

“Gomawo Changmin, maaf merepotkanmu.” Ujarnya. Changmin hanya tersenyum simpul membalas perkataannya. Kemudian pria itu mulai melajukan mobilnya.

“Oh ya, apa kau tahu dimana aku tinggal?”

Changmin kembali tersenyum menjawab pertanyaannya. Perangai Changmin seolah menunjukan ia tahu di mana tempat tinggal Hyuna.

**

“Gomawo, kau sudah mengantar ku. Aku tidak tahu kau tahu apartement ku.” Di tolehkan kepalanya kearah Changmin.

Changmin mengulas senyum di wajahnya. “Aku hanya tahu apartement Junsu dan setahuku, kau adalah tetangganya Junsu.”

“Akhh begitu rupanya. Baiklah, sampai jumpa besok di sekolah, Changmin.” Seraya keluar dari mobil Changmin.

“Gomawo dan hati – hati dijalan.”

Changmin mengangguk. “Ne, sampai jumpa besok di sekolah.” Dinyalakan mesin mobilnya dan berlalu meninggalkan Hyuna.

Hyuna melambaikan tangannya sampai mobil Changmin menghilang di tikungan depan apartementnya. Dibalikkan tubuhnya. Hyuna sedikit terperajat saat mendapati seorang pria tengah menatapnya dengan pandangan menusuk.

“Aku pulang.” Bibirnya mengulas senyum getir kearah pria itu.

**

“Syukurlah omma ku tak bertanya macam – macam perihal ketidak hadiran Hyuna di acara tadi.” ujar Yunho, memecah keheningan malam di balkon kamar Jaejoong.

Jaejoong mengangguk kecil. “Ne, kau benar.” Matanya memandang lurus ke depan apartementnya.

“Tapi sebenarnya kemana perginya Hyuna?” dilirik arloji di pergelangan kanannya, waktu menunjukan pukul 8 malam. “Ya!! Kalau Hyuna tak kembali juga sampai pukul 9 malam, kau harus bertanggung jawab atas hilangnya Hyuna.”

“Kau tak perlu khawatir akan hal itu, kalau sampai terjadi,  aku akan mencarinya sampai ketemu.”

Yunho menghirup napas kuat. Dapat ia rasakan dinginnya  angin malam menusuk kulitnya, dirapatkan jaketnya. Ditolehkan wajahnya kearah Jaejoong, sahabatnya tengah memandang lurus kearah depan apartement. Tangan Jaejoong mencengkram kuat tralis balkon apartementnya. Walaupun Jaejoong terlihat tenang, tapi ia tahu sahabatnya lah yang paling mencemaskan adiknya. Dihelanya napas kuat, kembali ia tolehkan wajahnya kearah depan apartement.

Yunho menyipitkan matanya, saat mobil sport merah memasuki gerbang apartementnya. “Mobil siapa itu? Aku baru pertama kali melihatnya.” Dipertegas pandangannya menatap mobil itu. Matanya membulat saat seorang gadis keluar dari mobil itu.

“Jaejoong, bukankah gadis itu Hyuna?” ditolehkan wajahnya cepat kearah Jaejoong.

Jaejoong menatap lekat gadis yang baru saja keluar dari mobil. Gadis itu Hyuna. Ya, gadis itu memang Hyuna. Warna rambut yang kecoklatan dengan dress putih dan cardigan hitam yang membalut tubuh gadis itu. Tak salah lagi gadis itu Hyuna. Tapi siapa yang mengantar gadis itu pulang?

“Hei benarkan itu Hyuna?”

“Ne, gadis itu memang Hyuna.” Dipandangnya gadis itu lekat.

“Kau tunggu disini, biar aku yang menghampirinya. Aishh dasar!! Bisanya selalu membuatku cemas!!” Yunho mengumpat kesal, kakinya beranjak meninggalkan Jaejoong sendirian di balkon.

Jaejoong menatap Hyuna yang tengah berbincang dengan sang pemilik mobil itu. Rasanya ia ingin turun menyusul Yunho tuk menghampiri gadis itu. Tapi kakinya terasa berat tuk melangkah pergi, ia telah berjanji pada dirinya sendiri tuk perlahan meninggalkan Hyuna. Membiasakan gadis itu tanpa dirinya. Tapi kenapa begitu berat dan menyakitkan? Seolah keputusan yang ia buat adalah suatu kesalahan.

“Bisakah diriku juga membiasakan hidup tanpamu, Hyuna?” matanya terus menatap gadis itu tak teralihkan.

**

Yunho menatap Hyuna penuh. Hyuna tengah tersenyum kearahnya, senyum terpaksa. Tak dapat ia tahan rasa kesal, kecewanya terhadap Hyuna yang terkesan kekanakan dengan pergi dari rumah tanpa sepengetahuannya.

“Darimana saja kau? Apa kau pikir, dengan pergi seperti itu bisa menyelesaikan masalah hah? Apa yang ada di pikiranmu Jung Hyuna sampai kau melakukan hal itu? Kau tidak memikirkan perasaanku? Sampai kapan kau akan bersikap seperti anak kecil? Dan siapa yang mengantarmu pulang tadi?” cecarnya. Adiknya itu hanya diam memandangnya.

“Bukankah aku sudah meninggalkan memo, kalau aku mencari udara segar? Bukankah aku juga menulis, agar tidak usah cemas dan jangan mencariku? Bukankah oppa yang memintaku tuk menjadi dewasa dan belajar membiasakan diriku tanpamu? Lantas kenapa malah oppa bersikap seperti itu padaku?” ditatapnya Yunho penuh.

Yunho mengepal geram, adiknya benar – benar membuatnya jengkel. Walaupun ia mengatakan agar Hyuna mandiri dan dewasa tapi tetap saja tidak dengan cara seperti itu. “Ya!! Jung Hyuna! Kau ini-“

“Aku seperti ini karna kau oppa, kenapa kau malah menyalahkanku? Aku sedang berusaha menjadi Jung Hyuna yang berbeda!! Menjadi Jung Hyuna yang mandiri, dewasa dan tidak bergantung padamu!! Jadi tolong berhentilah memperlakukan aku seperti anak kecil!!” selanya cepat, tak terasa air matanya mulai tergenang di pelupuk, bibirnya bergetar menahan tangisannya agar tak tumpah.

Yunho terpangu. Ia tak menyangka perkataan seperti itu keluar dari mulut adiknya. Entah kenapa ia merasa Hyuna –adiknya perlahan meninggalkannya sendiri ketempat yang tak bisa ia masuki.

Hyuna menatap Yunho yang tampak terkejut dengan perkataannya. Ia tahu, perkataannya menyakiti hati kakaknya itu. Tapi bukankah kakaknya yang memintanya tuk bersikap seperti itu? Memintanya tuk mandiri, dewasa dan tidak bergantung padanya. “Maafkan aku, karna perkataanku menyakiti hatimu oppa. Ku mohon percayalah padaku!!” di peluk kakaknya perlahan. “Kau menginginkan ku berubah, jadi percayalah padaku.” Dipererat pelukkannya di tubuh Yunho.

Yunho terdiam saat Hyuna memeluknya. Pelukkan Hyuna terasa menusuk tubuhnya, hatinya tersayat. Apa yang harus ia lakukan? Mempercayai Hyuna atau memintanya tuk menjadi Hyuna yang dulu? Entah kenapa adiknya, terasa asing baginya. Dapat ia rasakan pelukkan ditubuhnya mengendur. Hyuna menatapnya penuh. Sorot mata gadis itu, tak pernah ia lihat sebelumnya.

“Percayalah padaku, aku tahu kau menginginkanku menjadi Hyuna yang lebih baik. Jadi percaya padaku, oppa.”

Yunho terdiam. Hyuna beranjak dari depannya dan berjalan meninggalkannya yang masih menimbang setiap perkataan adiknya itu. Ditolehkan wajahnya manatap sosok adiknya yang menghilang masuk kedalam lobi apartement.

“Jung Hyuna, kenapa aku menjadi tak rela melihat perubahanmu? Padahal aku yang memintamu tuk berubah.”

**

Hyuna menghentikan langkahnya saat mendapati Jaejoong berdiri di depan pintu apartementnya. Dapat ia rasakan jantungnya memompa kuat. Perasaan takut menyergapnya. Entah kenapa ia takut Jaejoong membencinya? Perkataan Jaejoong tadi sore, sudah cukup menjelaskan arti dirinya bagi pria itu. Dihirupnya napas dalam. Kembali ia langkahkan kakinya dan menghampiri Jaejoong.

Jaejoong memandang Hyuna lekat. Dilihatnya gadis itu berjalan menghampirinya. Tak ada tangisan di wajah gadis itu melainkan sebuah senyum yang menghias bibir gadis itu.

“Malam oppa, senang melihatmu. Bagaimana acara tadi? Apa menyenangkan? Aishh pasti menyenangkan bukan? Sayang sekali aku tak bisa ikut. Jalan – jalan tadi membuatku lelah, jadi aku ingin cepat istirahat.” Ujar Hyuna, mencoba setenang mungkin menghadapi Jaejoong walaupun jantungnya kebat – kebit dan tersayat saat Jaejoong menatapnya.

“Aku masuk duluan ya, oppa. Jalja.” Diraih knop pintu apatementnya dan bergegas masuk kedalam. Ia tak sanggup melihat Jaejoong terlalu lama, rasanya begitu menusuk dan memilukan, membuatnya tak bisa membendung air matanya.

Jaejoong menatap pintu apartement Hyuna yang tertutup. Gadis itu tak menatap wajahnya walaupun bibir gadis itu mengulaskan senyum tapi ia tahu senyum yang ditunjukkan padanya hanya senyum kepura – puraan.

“Hyuna kau bukanlah Hyuna, kau berubah. Membuatku tak bisa mengenalimu.”

**

Hyuna merebahkan tubuhnya di ranjang. Di hela napasnya berat. Ditolehkan wajahnya kearah meja lampunya, diraihnya bingkai foto di atas meja itu. Ditatapnya dalam gambar diri di foto itu. Disentuhnya foto itu perlahan.

Bibirnya menyunggingkan senyum pilu kearah foto itu. Foto dirinya, Yunho, Jaejoong dan Junsu yang diambil akhir tahun lalu saat melihat cassiopeia di pantai. “Tak akan ada lagi moment seperti itu, semua telah berakhir. Tak ada lagi Jung Hyuna yang bisa bermanja pada mereka.” Gumamnya lirih,  di dekapnya foto itu di dada. Dapat ia rasakan air matanya menetes dari sudut matanya.

“Semuanya telah berubah dan tak akan kembali seperti dulu.” Dipejamkan matanya perlahan, meninggalkan kepenatan alam nyatanya dan masuk kedalam dunia mimpi. Ia terlelap.

**

“Ya!! Jung Hyuna!! Aishh kau sungguh terlalu meninggalkanku!!”

Hyuna menoleh pelan, saat seseorang memanggil namanya. Dilihatnya Junsu tengah berjalan kearahnya dengan tangan menyilang di depan dada. Sorot mata pria itu tajam, seolah menandakan kemarahan yang siap meluap.

“Ya!! Jung Hyuna! Kau tahu, aku sudah menunggumu lama ternyata kau malah meninggalkanku dan berangkat sekolah lebih dulu!!! Aishh kau itu sungguh menjengkelkan!!”

Hyuna menghela napas pelan, ia bangkit dari duduknya. Ditatapnya Junsu lekat. “Aku tak meminta mu tuk menungguku Junsu. Lagipula kau menunggu dimana? Aku tak melihatmu tadi.”

Junsu mencibir. Ditatapnya Hyuna sinis. “Tentu saja menunggu di apartement ku!! Setiap pagi kau kan selalu datang!! Tapi kenapa hari ini tidak hah?”

“Akhh maaf Junsu, aku lupa bilang padamu. Mulai hari ini dan seterusnya aku tidak akan sesering dulu ke apartementmu. Kalau bukan hal yang begitu penting aku tak akan ke apartementmu. Jadi, kita bertemu di depan apartement saja ya setiap mau berangkat sekolah.”

“Eh?” Junsu termangu menatap Hyuna. Ada yang tak beres dengan gadis itu saat ini. Akh bukan hanya saat ini, tapi sejak acara tadi malam. Tak biasanya Hyuna tak hadir saat keluarganya dan keluarga Jung berkumpul. Biasanya gadis itu paling bersemangat, karna bisa bertemu dengan kakaknya dan bermanja pada kakaknya itu. Tapi tidak dengan tadi malam. Bahkan kakaknya dan Yunho menunjukan perangai yang berbeda tadi malam. Sepertinya ada sesuatu yang ia lewatkan. Sesuatu yang merubah gadis di depannya itu.

“Apa ada hal yang tak aku ketahui? Apa yang terjadi? Kau, Jaejoong hyung dan Yunho hyung, ada apa dengan kalian? Dan kenapa kau tidak ada saat acara semalam? Tak mungkin kau tidur seperti kata Yunho hyung!! Sedangkan kau begitu bersemangat kemarin!! Katakan padaku apa yang terjadi?” di cengkramnya bahu Hyuna kuat. Matanya menatap Hyuna lekat, meminta penjelasan gadis itu.

Hyuna meringis pelan saat Junsu mencengkram bahuny. “Aishh Junsu!! Lepaskan!! Sakit tahu!!” di singkirkan tangan Junsu dari bahunya.

“Aishh lantas apa yang terjadi? Katakan padaku!!!”

“Tidak terjadi apa –apa, Junsu. Kau tak perlu cemas seperti itu. Memang semalam aku tertidur dan Yunho oppa tak tega membangunkanku!!”

Mata Junsu menyipit, ditatapnya gadis itu lekat. Entah kenapa ia merasa Hyuna tengah membohonginya. “Benarkah? Kau tidak berbohong padaku kan?”

Hyuna mengalihkan wajahnya dari Junsu. Ia tak mau sahabatnya itu mengetahui kebohongannya, ia tak ingin Junsu tahu apa yang terjadi antara dirinya, Jaejoong dan Yunho. “Aishh! Tentu saja!! Sudahlah duduk dulu dan taruh tasmu!! Jangan mencurigaiku seperti itu.” Ujarnya cepat dan bergegas meninggalkan kelas.

“Ya!! Jung Hyuna!! Aku belum selesai bicara!! Kembali kau!!” teriak Junsu kesal, saat Hyuna pergi meninggalkannya. Ditaruh tasnya cepat dan bergegas mengejar Hyuna. “Aishh!! Jangan membuatku penasaran!! Kau tak bisa membohongiku Jung Hyuna!!”

Hyuna berlari saat Junsu berusaha mengejarnya. Ditolehkan wajahnya kearah belakang, dilihatnya Junsu semakin mendekati dirinya. “Aishh keras kepala sekali dia!!!” umpatnya kesal.

“Ya!! Jung Hyuna!! Berhenti kau!!!”

“Sudah aku katakan tidak terjadi apa – apa Junsu!!!” sambil melihat Junsu, dipercepat larinya.

“Ya!! Kau pikir bisa membohongi ku hah? Berhenti kau!!” di percepat larinya mengejar Hyuna. Junsu menghentikan langkahnya saat dilihatnya seseorang berjalan kearah Hyuna dengan buku yang menjulang cukup tinggi di tangannya.

Hyuna tersenyum senang saat Junsu berhenti mengejarnya.”Menyerah juga kau Junsu!!” Diulaskan senyum kemenangan. “Ternyata hanya segitu kemampuan berlari kapten club sepak bola .” ejeknya, matanya terus melihat kearah Junsu tanpa memperdulikan jalan di depannya.

“Ya!! Hyuna berhenti!! Kalau tidak kau akan menabak orang di depanmu!!!”

Hyuna menyerengit mendengar teriakkan Junsu. “Aishh kau pikir bisa membohongiku hah?” Di alihkan wajahnya kearahnya depan, ia sedikit terperajat saat dilihatnya seseorang membawa  tumpukan buku yang menjulang tinggi dan nyaris menabraknya. “Omo!!” pekiknya. Dipejamankan matanya cepat, tepat saat itu ia menghantam keras orang yang membawa tumpukan buku itu.

Junsu menutup matanya saat melihat Hyuna menabrak orang yang membawa tumpukan buku itu. “Akhh pasti sakit rasanya.”

Hyuna jatuh menindih sang pemilik buku. Diangkat tubuhnya perlahan, kepalanya terasa pening. “Akh maaf aku tak melihatmu.”ujarnya lirih. Wajahnya tertunduk, tangannya memijat pelipis kanannya yang terasa perih. Kepalanya cukup keras menghantam lantai tadi.

“Gwachana. Bisakah kau bangun dari tubuhku?” ujar sang pemilik buku itu.

Hyuna mengangkat wajahnya. Ia terperajat, matanya membulat menatap orang yang ia tabrak. “Akh kau.. Cha.. Cha- Changmin.” Ujarnya tergagap. Dengan cepat ia bangun dari tubuh Changmin. Rasanya memalukan menabrak Changmin dan menindihnya seperti itu.

Changmin sedikit terperajat mengetahui Hyuna yang menabraknya. “Kau rupanya, Hyuna.”  Seketika mata Changmin membulat, dengan cepat ia menghampiri Hyuna. “Pelipismu berdarah!!” Di keluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengelap darah di pelipis gadis itu.

“Eh?” Hyuna sedikit terperajat saat Changmin menyentuh pelipisnya. Bahkan ia tak begitu jelas mendengar perkataan Changmin padanya.

Junsu bergegas menghampiri Hyuna dan Changmin. “Ya!! Sudah ku katakan padamu untuk berhenti!! Kau saja yang tak mempercayai perkataanku!!” ujar Junsu gusar.

Junsu termangu menatap Hyuna, pelipis gadis itu berdarah dan Changmin sedang berusaha menghentikan aliran darah di pelipis Hyuna. “Hyu..Hyuna, kau.. kau- berdarah. Darahmu… darahmu banyak sekali Hyuna.” Junsu tergagap.

Hyuna menoleh pelan kearah Junsu. “Benarkah?” Disentuh pelipis kanannya yang terasa perih. Matanya membulat, mendapati tangannya penuh dengan noda darah. Seketika kepalanya terasa berat. Detik berikutnya semua terasa gelap.

**

Jaejoong menghentikan langkahnya saat mendengar pertengkaran dari arah ruang auditorium. Dilangkahkan kakinya kearah ruang auditorium. Matanya membulat mendapati dua orang yang ia kenal tengah beradu mulut.

“Yoochun sunbae dan Heeyoung.” Gumamnya lirih. Matanya menatap lurus kearah Yoochun dan Heeyoung. “Kenapa Heeyoung bisa bersama Yoochun sunbae?” Perlahan ia langkahkan kakinya mendekat, mencoba memperjelas pendengarannya.

‘Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Kenapa bisa bertengkar hebat seperti itu?’

Dilihatnya Heeyoung menangis. Gadis itu berusaha menahan agar Yoochun tidak pergi. Tapi Yoochun malah menghentak tangannya keras. Heeyoung sedikit tersungkur kebelakang. Jaejoong nyaris menghampiri Heeyoung tuk membantu gadis itu. Saat kakinya akan melangkah, dilihatnya Yoochun menghampiri Heeyoung dan memeluk gadis itu.

Jaejoong terdiam melihat adegan didepannya. ‘Sebenarnya apa hubungan Heeyoung dengan Yoochun sunbae? Tak mungkin hanya kebetulan kenal.’

Dilihatnya, Yoochun melepaskan pelukkannya dan berlalu pergi meninggalkan Heeyoung yang masih menangis. Begitu Yoochun keluar, ia segera menghampiri Heeyoung.

Dihelanya napas pelan. Perlahan ia langkahkan kakinya kearah Heeyoung. Gadis itu sepertinya tak menyadari kehadirannya. Dikeluarkan sapu tangan dari sakunya. Langkahnya berhenti tepat disamping Heeyoung yang tengah tertunduk. Di julurkan sapu tangannya kearah gadis itu.

“Hapuslah air matamu.”

Heeyoung mengangkat wajahnya perlahan saat sebuah sapu tangan terjulur di depannya. Dilihatnya Jaejoong, pria itu tengah menatapnya iba.

“Jaejoong, kau.. kau- melihat.. semuanya?” ujarnya terisak. Air matanya terus berderai, tak dapat ia bendung.

“Maaf, aku tak sengaja melihat kau dengan Yoochun sunbae.” Perasaan tak enak menghampirinya saat melihat Heeyoung menangis semakin kuat.

Jaejoong sedikit terperajat saat Heeyoung tiba – tiba memeluknya dengan erat. Semakin keras tangisan Heeyoung semakin kuat pula pelukan gadis itu ditubuhnya. “Maaf Jaejoong. Kumohon.. biar.. biarkan seperti ini.. sebentar saja…” ujarnya terisak. Heeyoung terus menangis semakin kuat, melampiaskan rasa sakit yang melanda hatinya.

Jaejoong terdiam, perlahan ia gerakkan tangannya membalas pelukkan Heeyoung. Diusapnya punggung gadis itu pelan. “Menangislah sampai kau merasa puas dan tenang.”

**

Yunho menatap arloji di pergelangan kanannya. Hampir 1 jam ia menunggu Jaejoong di taman kampus, tapi sahabatnya itu tak kunjung datang.  Diraihnya ponsel di saku kanannya, dihubunginya ponsel Jaejoong. Tak ada jawaban. Berkali – kali ia menguhubungi ponsel sahabatnya itu, tak ada jawaban yang ia terima.

“Aishh kemana perginya Jaejoong?? Katanya ingin makan siang bersama? Tapi kenapa tak datang juga?” umpatnya kesal. Dengan kesal ia beranjak dari duduknya dan bergegas ke kantin, mungkin saja sahabatnya sudah lebih dulu ke sana.

Yunho memandang ke penjuru kantin. Tak ia temukan sahabatnya di sana. Kembali ia hubungi ponsel sahabatnya itu. Tetap tak ada jawaban. “Aishh sebenarnya kau ada dimana Kim Jaejoong??”

“Ya!! Yunho!!!”

Yunho memasukkan ponselnya ke saku saat terdengar seseorang memanggilnya. Matanya berputar mencari orang yang memanggilnya tadi. Pencariannya terhenti saat melihat seorang gadis tengah melambaikan tangan kearahnya dari salah satu meja di tengah kantin. Disunggingkan senyum kearah gadis itu. Dilangkahkan kakinya menghampiri gadis itu.

“Hei, kau sendirian saja? Dimana Jaejoong? Bukankah kalian berdua tak pernah terpisah?” goda gadis itu.

Yunho tersenyum tipis,diambilnya posisi duduk di depan meja gadis itu. “Kau sendiri kenapa tidak bersama Heeyoung, Hyewon?”

Hyewon terkekeh pelan. “Heeyoung ada urusan dengan seseorang makanya aku sendirian. Kalau kau?”

Yunho menghela napas berat. “Tadinya aku janjian dengan Jaejoong ke kantin tapi sudah ku tunggu, ia tak datang juga.”

“Makanya kau duluan kemari?”

Yunho mengangguk pelan. “Ne, seperti yang kulihat tapi aku bersyukur bisa bertemu denganmu jadi aku tidak sendirian disini.” Disunggingkan sebuah senyum kearah Hyewon.

Hyewon sedikit tersentak mendengar perkataan Yunho. Dapat ia rasakan pipinya memanas. “Akhh.. Yunho, apa kemarin adikmu baik – baik saja?” Dialihkan pertanyaan tuk menutupi rasa malunya pada pria itu.

“Hyuna, dia baik – baik saja. Akhh maaf karna adikku, kemarin tidak jadi pergi.”

“Gwachana, kemarin aku sudah menemani Heeyoung membeli beberapa perlengkapan club basket. Lagipula adikmu jauh lebih penting di bandingkan aku dan Heeyoung.” Bibirnya mengulaskan senyum.

“Aku tak menyangka kau orangnya perhatian. Padahal kau terlihat tak perduli.”

“Ya!! Yunho!! Aishh kau sungguh menjengkelkan!! Asal kau tahu, aku ini memiliki rasa keperdulian yang tinggi!! Kau saja yang baru mengenalku, jadi tak mengenal sifatku dengan baik!!” ujar Hyewon kesal, dilipat tangannya di depan dada.

Yunho terkekeh kecil melihat air wajah Hyewon yang tampak kesal padanya. “Wajahmu lucu sekali kalau seperti itu!!” godanya.

Mata Hyewon membulat. “Mwo?? Aishh kau menyebalkan.” Dikerucutkan bibirnya kesal.

Yunho kembali terkekeh. Dihirupnya napas dalam. Ditatapnya Hyewon penuh. “Hei, mau menjadi teman dekatku? Aku ingin tahu seberapa tinggi rasa keperdulianmu.” Diulaskan senyum tipis kearah Hyewon.

Hyewon terperajat mendengar perkataan Yunho. Kembali ia rasakan pipinya memanas. Akh bukan hanya pipinya tapi sekujur tubuhnya ikut memanas mendengar perkataan Yunho barusan. Bahkan dapat ia rasakan detak jantungnya yang berdegup kuat. “Maksudnya teman dekat? Apa seperti Jaejoong?”

Yunho berpikir sejenak. Ditatapnya Hyewon sekilas. Diusap dagunya pelan, kemudian kembali menatap Hyewon. Bibirnya mengukir senyum kearah gadis itu. “Kau maunya seperti Jaejoong atau lebih dari itu?”

“Eh?” Dapat ia rasakan jantungnya berdegup kian kuat, bahkan mungkin Yunho dapat mendengar degupan jantungnya.

Yunho tersenyum menunggu jawaban Hyewon, entah kenapa ia menyukai setiap ekspresi wajah Hyewon yang ditunjukkan padanya terutama keceriaan gadis itu. Walaupun ia baru mengenal gadis didepannya itu, tapi gadis itu mampu membuatnya senang. Ya, hanya berbicara dengan gadis itu membuatnya senang dan melupakan berbagai hal.

Hyewon terdiam menatap Yunho. Pria itu tengah tersenyum kearahnya sembari bertopang dagu. Harus ia akui, ia tertarik dengan pria didepannya itu sejak pertama kali bertemu. Entahlah apa yang membuatnya tertarik, tapi di matanya pria itu memiliki suatu nilai lebih yang tak bisa diungkapkan lewat kata.

“Mungkin lebih dari Jaejoong.” Ujarnya lirih. Dapat ia rasakan pipinya kembali memanas. Ditatapnya Yunho penuh.

**

Hyuna mengerjap bangun, menyeimbangkan penglihatannya yang mulai tampak. Disentuh pelipis kanannya yang terasa perih. Matanya berputar menatap sekitar, warna  putih mendominasi ruangan itu, sepertinya ia di ruang kesehatan sekolah.

“Kau sudah bangun??”

Hyuna menoleh pelan kearah pintu tampak sahabatnya –Junsu datang menghampirinya dengan dua minuman kaleng di tangannya.

“Kau sudah lebih baik, Hyuna? Ini untukmu.” Diambilnya posisi duduk disamping ranjang, disodorkannya susu kaleng ke arah Hyuna.

Hyuna tersenyum tipis kearah Junsu, diraihnya susu kaleng pemberian Junsu. “Gomawo Junsu, maaf merepotkanmu.” Ujarnya lirih.

Junsu menghela napas dalam. “Aku sudah biasa di repotkan olehmu.” Sembari menenggak minuman kalengnya. “Kau tahu, kau pingsan dari pagi sampai siang tapi setidaknya lukamu tak terlalu dalam dan tak perlu di jahit. Kalau sampai di jahit apa yang harus aku katakan pada bibi?? Terutama Yunho hyung, aku bisa di marahi karna tak menjagamu dengan baik.” Dihelanya napas berat.

Hyuna terkekeh kecil, melihat raut wajah Junsu. Digenggamnya lengan kanan sahabatnya itu. “Gomawo Junsu. Maaf merepotkanmu dan menyusahkanmu, pasti tadi kau kesusahan saat membawa ku ke ruang kesehatan. Maaf ya.” Bibirnya mengukir senyum kearah Junsu, berharap sahabatnya itu akan memaafkannya.

“Kau mestinya minta maaf dan berterima kasih pada Changmin, kau sudah menabraknya dan dia juga yang membawamu keruang kesehatan. Bahkan ia tadi juga menemaniku menungguimu.”

“Eh? Benarkah?” matanya membulat mendengar perkataan Junsu. Changmin menungguinya? Benarkah?

“Ne. Bahkan ia lebih panik dari pada aku saat kau pingsan tadi. Kau harus berterima kasih padanya.”

“Lalu dimana Changmin sekarang? Apa ia sudah kembali ke kelas?”

“Dia tadi dipanggil anggota osis tuk mengawasi orientasi siswa baru, kalau tidak dipanggil mungkin ia masih disini.”

Hyuna terdiam. Matanya menerawang menatap langit – langit. Dihirupnya napas dalam, seketika wajah Changmin terbayang di dalam benaknya. Ia cukup banyak merepotkan Changmin, pria itu mengantarnya pulang ke apartement saat pergi dari masalahnya, menabrak dan menindih Changmin di lorong sekolah, pria itu juga yang membawanya ke ruang kesehatan bahkan menungguinya. Baru pertama kali ia sadari ada orang lain, selain Jaejoong yang terbayang di dalam pikirannya. Padahal ia pikir tak akan pernah ada orang lain yang memasuki pikirannya, selain Jaejoong.

‘Bahkan kau tak tahu keadaanku sekarang, oppa.’

**

Jaejoong melirik Heeyoung di sampingnya, gadis itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun padanya. Ia pun tak sampai hati menanyakan masalah gadis itu, terlebih hubungan Heeyoung dengan Yoochun. Ia tak akan bertanya. Ia akan menunggu gadis itu tuk menceritakan padanya sendiri.

“Sudah merasa lebih baik?” tanyanya, memecah kesunyian diantaranya dan gadis itu. Bibirnya mengukir senyum.

Heeyoung menoleh pelan kearah Jaejoong. Jaejoong tengah tersenyum kearahnya. Disunggingkan bibirnya membalas senyum pria itu. “Ne, sedikit lebih baik.” Yah setidaknya itu jawaban terbaik yang bisa ia berikan pada Jaejoong.

Jaejoong tak menanyakan tentang Yoochun padanya, pria itu daritadi terus menemaninya tanpa membahas hubungannya dengan Yoochun, bahkan Jaejoong membalas pelukkannya saat ia menangis dan menenangkannya. Padahal ia dan Jaejoong belum terlalu saling mengenal. Ia akui, ia merasa tenang ada pria itu disampingnya saat ini.

“Kau pria yang baik. Apa kau tahu hal itu?”

Alis Jaejoong terpaut mendengar perkataan Heeyoung. “Apa maksudmu?”

Heeyoung terkekeh pelan, ditatapnya Jaejoong yang tampak bingung dengan perkataannya. “Kau tak meninggalkan seorang gadis menangis sendirian. Kau bahkan tak mengungkit masalah gadis yang menangis itu. Kau hanya berusaha menenangkan gadis itu, tanpa membuat gadis itu mengingat masalahnya. Menurutku kau pria yang baik.”

“Menurutmu aku seperti itu?”

Heeyoung mengangguk pelan. “Ne, kau seperti itu. Bahkan kemarin kau juga menenangkan adiknya Yunho yang tengah menangis. Kau pria yang baik, Jaejoong.”

Jaejoong mengalihkan wajahnya. Bayangan wajah Hyuna yang tengah menangis terlintas jelas di pikirannya. Perkataan Heeyoung membuatnya kembali mengingat Hyuna. Bukan ia yang selalu menenangkan gadis itu setiap menangis, tapi ia lah yang selalu membuat gadis itu menangis. Hyuna selalu menangis karnanya.

“Aku tak seperti yang kau pikirkan, Heeyoung.”

Heeyoung terdiam menatap Jaejoong. Wajah pria itu terlihat seperti memendam kesedihan yang teramat dalam. Yah Jaejoong terlihat sedih, padahal tadi pria itu baik – baik saja. Apa yang menyebabkan perubahan pada Jaejoong?

“Jaejoong, apa kau-.” Perkataannya terhenti saat terdengar dering ponselnya. Diambil ponselnya dari dalam tas. Dipandangnya caller id-nya. Ternyata Hyewon yang menelponnya. Ditekannya tombol terima. “Yoboseyo, Hyewon. Ne? Akh araseo.” Ditolehkan wajahnya kearah Jaejoong. “Eh kau bersama dengan Yunho?”

Jaejoong menoleh saat mendengar nama Yunho ada diantara pembicaraan telpon Heeyoung dan Hyewon. Perihal Heeyoung membuatnya melupakan janjinya dengan sahabatnya.

“Akhh kebetulan aku sedang bersama dengan Jaejoong. Baiklah, kita bertemu saja di sana.” Diputus sambungan telponnya.

“Apa Hyewon sedang bersama Yunho?”

Heeyoung mengangguk pelan. “Ne, Hyewon sedang bersama Yunho. Mereka menunggu kita di kafe Castle  dekat kampus.” Sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas.

**

Hyuna berjalan ke gedung kelas X yang berada di belakang gedung kelas XI, cukup jauh memang dari gedung kelas XII, ia harus melewati taman sekolah untuk sampai sana. Ia ingin bertemu Changmin tuk minta maaf dan mengucapkan rasa terima kasihnya, ia rasa kesibukkan pria itu sebagai ketua osis membuatnya tak bisa menemui pria itu selama 3 hari kedepan. Masa orientasi siswa baru sedang berlangsung dari kemarin sampai 3 hari kedepan, bagi siswa kelas XI dan XII sepertinya, orientasi siswa baru berarti waktu bebas tanpa ada mata pelajaran tapi bagi anggota osis, waktu yang paling sibuk dan melelahkan.

Dilangkahkan kakinya di lorong kelas X, para anggota osis sedang memberikan pengarahan di masing – masing kelas. Tanpa terkecuali dengan Changmin, pria itu tengah memberi pengarahan di kelas X C. Disandarkan tubuhnya ke dinding kelas X C dekat jendela, berharap Changmin akan melihatnya dan keluar sebentar untuk menemuinya.

“Hei, sedang apa kau disitu?”

Hyuna menoleh pelan. Tampak seorang gadis tengah berjalan kearahnya. Ia kenal dengan gadis itu, gadis itu Shin Reina, ia pernah sekelas dengan gadis itu waktu kelas X dulu. Diulaskan senyumnya kearah gadis itu.

“Reina, rupanya kau. Bisakah aku minta tolong padamu?” dihampirinya gadis itu. Ia cukup beruntung bertemu dengan Reina, karna Reina salah satu anggota osis; gadis itu wakilnya Changmin.

“Rupanya kau Hyuna. Ada keperluan apa kau datang ke gedung kelas X? Apa kau tidak tahu selain anggota osis dan guru dilarang berada di area kelas X selama orientasi siswa baru berlangsung?” di dongakkan wajahnya kearah Hyuna.

Hyuna tersenyum getir. “Maaf, aku tidak tahu soal itu. Aku ke sini ingin bertemu dengan Changmin.”

Reina mencibir pelan. “Aishh kau tahu kan Changmin sedang sibuk? Kau kan bisa menemuinya nanti, setelah orientasi selesai. Lagipula kau kan sekelas dengannya.”

“Ne, kau benar tapi kalau menunggu orientasi hari ini selesai tentu lama, karna kalian pulang lebih sore daripada aku. Aku tak bisa menunggunya, aku pulang dengan Junsu.”

“Kalau kau tak bisa menunggunya, berarti urusanmu bukan urusan yang penting. Lebih baik kau pergi dari gedung kelas X, kalau ada guru yang melihatmu di sini kau akan mendapat masalah begitupula dengan anggota osis.” Ditariknya Hyuna pergi meninggalkan gedung kelas X.

“Baiklah, tapi kau tak perlu menarikku seperti itu.” Dilepaskan tangannya dari cengkraman Reina. “Tolong kau sampaikan pada Changmin, aku menunggunya di depan gerbang sekolah setelah orientasi siswa baru selesai.” Ujarnya. Dilangkahkan kakinya cepat meninggalkan gedung kelas X.

“Aishh dari dulu selalu seperti itu, tak pernah ramah padaku.” Ditolehkan wajahnya kebelakang, kearah Reina. Gadis itu masih melihat kearahnya. “Kenapa kau selalu menunjukkan wajah tak suka seperti itu padaku? Sebenarnya apa salahku padamu, Shin Reina?”

**

“Apa kalian sudah menunggu lama?” tanya Heeyoung begitu sampai di kafe Castle, diambilnya posisi duduk disamping Hyewon.

“Yahhh tidak terlalu lama juga.” Jawab Hyewon sambil menyesap coffe lattenya.

“Katakan padaku kenapa kalian bisa bersama?”

“Mestinya aku yang bertanya seperti itu, kenapa Jaejoong bersamamu?” tanya Hyewon balik, matanya manatap penuh selidik kearah Jaejoong yang duduk disamping Yunho.

Jaejoong yang merasa ditatap oleh Hyewon, mengulas senyumnya. “Kami hanya kebetulan bertemu lalu berbincang tentang basket. Benarkan Heeyoung?” Tak mungkin ia menceritakan kejadian sebenarnya, terlebih ada Yunho disampingnya.

“Akh ne, kami tadi kebetulan bertemu.” Ujarnya cepat.

“Dan kau melupakan aku yang menunggumu ditaman.” Ujar Yunho kesal, dilipatnya tangan di depan dada. Matanya menyipit menatap Jaejoong.

“Maaf, Yunho. Aku benar – benar lupa.”

“Sudahlah, tak masalah. Kalian pesan dulu, kami sudah pesan makanan tadi.”

Heeyoung menatap Jaejoong yang tengah melihat daftar menu, ia berterima kasih pada pria itu karna Jaejoong tak meceritakan kejadian tadi pada Hyewon maupun Yunho.

‘Gomawo Jaejoong, kau tak mengatakan pada mereka tentang masalahku. Gomawo.” Seketika perasaannya menghangat saat menatap Jaejoong. Bibirnya mengukir senyum kearah Jaejoong.

**

“Kau tak mau pulang denganku? Apa kau ketagihan pulang dengan bus?” Junsu menyerengit bingung menatap Hyuna, gadis itu baru saja menolak pulang bersamanya.

“Aishh bukan karna itu, Junsu!!” di kerucutkan bibirnya, tangannya terlipat di depan dada. “Aku akan menunggu Changmin sampai waktu orientasi siswa baru hari ini selesai.”

Alis Junsu terpaut mendengar perkataan Hyuna. “Apa aku tak salah dengar, kau mau menunggu Changmin pulang?”

Hyuna mengangguk pelan. “Ne. Kau sendiri yang bilang aku harus minta maaf dan berterima kasih padanya.”

Junsu berdecak pelan, ditatapnya Hyuna. “Tapi kan tak perlu menunggunya pulang. Pasti akan sampai sore. Lagipula kan bisa besok.”

“Aku takut tak bertemu dengannya besok. Ia pasti sibuk mengurusi orientasi siswa baru.”

“Aishh kau ini!! Aku bisa ditanyai macam – macam oleh bibi kalau kau tak pulang bersamaku!! Sudah kau telpon saja Changmin!!”

“Aku tak punya nomor telpon Changmin.”

Junsu menghela napas dalam. Dengan kesal ia keluarkan ponselnya dari dalam saku celananya. “Ini telpon pakai ponselku!!” diserahkan ponselnya kearah Hyuna.

Hyuna menatap ponsel Junsu ditangannya. Dihelanya napas dalam. “Ponselmu lowbat Junsu.” Sembari menyerahkan kembali ponsel Junsu.

Junsu menatap ponselnya. “Aishh pasti karna kupakai main game tadi.” Umpatnya kesal, dimasukkan ponselnya ke dalam saku.

“Sudah kau pulanglah. Akh itu YoungJi!! Kau pulang saja dengannya.” Dilihatnya Younji tengah berjalan kearah gerbang sekolah. “Ya!! Younji!!! Junsu bilang, apa kau butuh tumpangan? Katanya, ia tak ingin pulang sendiri!!!” teriaknya. Tangannya melambai kearah Youngji.

Mata Junsu membulat, melihat Hyuna tengah berteriak kearah Youngji. “Ya!! Jung Hyuna!! Apa yang kau lakukan?? Aishh!!” ditutup mulut Hyuna dengan tangannya. “Aishh!! Kau mau membuatku malu hah?”

“Benarkah? Akhh kebetulan oppaku tidak bisa menjemput.” Ujar Youngji senang.

Junsu tergagap. “Akhh itu.. itu..”

Hyuna melepas tangan Junsu dari mulutnya. Dihirupnya napas dalam. “Ne, Junsu bilang ia mau mengantarmu pulang Youngji. Benarkan Junsu?” dikedipkan mata kanannya kearah Junsu.

“Akhh itu.. itu-.”

“Sudah cepat antarkan Younji!!” selanya cepat, sambil mendorong Junsu kearah motor. “Ini kesempatan Junsu, untuk mendekatinya.” Bisiknya ditelinga Junsu.

Junsu terperajat mendengar perkataan Hyuna. “Mwo?? Ya!! Hyuna!!” pekiknya.

“Cepat Youngji, kau naik dan jangan lupa berpegangan yang erat karna Junsu terkadang suka ngebut.” Sembari menyerahkan helm tuk Younji.

“Baiklah, kalian hati – hati di jalan.”

Junsu membuka kaca helmnya. Ditatap sahabatnya itu. “Jangan lupa hubungi aku, kalau kau sudah bertemu dengan Changmin ya?”

Hyuna mengangguk pelan. “Ne. Sudah sana jalan.” Tangannya melambai sampai motor Junsu menghilang di pertigaan sekolahnya.

Disandarkan tubuhnya di gerbang sekolah menunggu Changmin. Matanya menatap jalan masuk ke dalam sekolahnya. “Semoga orientasi siswa baru hari ini cepat selesai.” Gumamnya.

**

Hyuna menatap lalu lalang siswa kelas X yang baru saja pulang. Dilirik arloji di pergelangan kirinya, waktu menunjukan pukul 3 sore. Ia tersenyum senang, berarti Changmin akan keluar sebentar lagi. Untunglah ia hanya menunggu sekitar 30 menit. Dipandangnya jalan masuk ke sekolahnya. Terlihat makin banyak siswa yang berhambur pulang.

“Mungkin setelah siswa kelas X pulang semua, baru anggota osis akan pulang.” Gumamnya, matanya terus menatap ke dalam sekolah.

Hyuna kembali menatap arlojinya tuk yang kesekian kali. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, tapi tak ada siswa lain yang keluar dari dalam sekolahnya. Perasaan takut menyergapnya, ia takut kalau Changmin sudah pulang dan ia tak melihat saat pria itu keluar gerbang.

“Apa Changmin sudah pulang?” matanya kembali menatap lurus ke dalam sekolah. Disandarkan kembali tubuhnya ke gerbang sekolah, kakinya mulai merasa lelah berdiri selama satu setengah jam.

“Apa Reina menyampaikan pesanku pada Changmin? Bagaimana kalau ia tak menyampaikan pesanku?”

“Tenanglah Hyuna, kalau sampai jam 5 sore tak ada seorangpun lagi yang keluar, baru kau pulang. Ya seperti itu saja.” Ujarnya, mencoba menenangkan pikirannya dari kemungkinan terburuk kalau Changmin sudah pulang.

Tuk kesekian kalinya ia menoleh kedalam sekolah. Tak ada tanda – tanda siswa lagi yang pulang. Ditengadahkan kepalanya menatap atap dunia yang mulai tampak kemerahan. Dilirik kembali arlojinya, 10 menit lagi, pukul 5 sore. Kembali ia tolehkan wajahnya ke dalam sekolah. “Kalau sampai 10 menit lagi tak ada siswa lagi yang keluar, baru kau pulang Hyuna.” Ujarnya lirih, menyemangati dirinya yang mulai lelah.

Hyuna menghela napas dalam. Arlojinya menujukkan pukul 5 sore. “Sepertinya memang sudah pulang.” Gumamnya lirih. Ditatapnya sekali lagi kedalam sekolah. “Ya, sepertinya semua sudah pulang. Tinggal aku sendiri.” Dilangkahkan kakinya meninggalkan gerbang sekolahnya.

Langkahnya terhenti saat terdengar deru kendaraan dari dalam sekolahnya. Ditolehkan kepalanya kedalam sekolah, tampak beberapa siswa kelas XI dan XII yang tergabung dalam anggota osis berhambur keluar sekolah. Bahkan ia melihat Reina, diantara anggota osis yang lain. Dengan cepat ia langkahkan kakinya kembali ke depan gerbang sekolah.

“Aku tak menyangka, kau akan benar – benar menunggu Changmin pulang.” Ujar Reina, matanya melirik kearah Hyuna. Dilihatnya gadis itu hanya tersenyum menanggapinya.

Reina mencibir. “Tapi sayang sekali Changmin sudah pulang lebih dulu, karna ada urusan.” Dilangkahkan kakinya meninggalkan Hyuna yang diam terpaku mendengar perkataannya.

Hyuna menatap punggung Reina yang perlahan semakin jauh. Perkataan Reina membuat semangatnya seakan runtuh. Apa benar Changmin sudah pulang? Apa Reina memang tak menyampaikan pesannya pada Changmin?

Hyuna sedikit terperajat saat sebuah motor berhenti tepat di depannya. Dialihkan wajahnya kearah pemilik motor tersebut. Pemilik motor itu melepas helm dan menatapnya.

“Hyuna, kenapa masih ada di sekolah? Bukankah mestinya kau sudah pulang?”

Hyuna tersenyum senang. Ditatapnya sang pemilik motor yang turun dari motor dan menghampirinya. “Aku menunggumu, Changmin.” Dapat ia tangkap keterkejutan di wajah Changmin mendengar perkataannya.

“Eh? Kau- kau.. menunggukku?”

Hyuna mengangguk pelan. “Ne, aku menunggumu. Apa Reina tak menyampaikan pesanku untukmu?”

Alis Changmin terpaut. “Reina? Ia tak mengatakan apapun padaku. Memang apa pesan yang kau titipkan padanya?”

“Aku bilang, aku akan menunggumu di gerbang sekolah setelah orientasi siswa baru hari ini selesai. Tadi aku ke gedung kelas X untuk menemuimu, tapi kau terlihat sedang sibuk jadi aku minta tolong Reina untuk mengatakan hal itu padamu. Sepertinya Reina lupa menyampaikannya.”

“Ya!! Changmin!! Cepat!! Bukankah kau minta ditemani makan??”teriak salah seorang pria dari motornya yang berhenti tak jauh dari motor Changmin.

Changmin menoleh kearah Kyuhyun, sahabatnya itu tampak gusar menunggunya. “Akh aku-.” Kalimatnya tercekat, ditolehkan wajahnya kearah Hyuna yang tengah menatapnya. “Akh Hyuna, aku-.”

“Aku hanya ingin minta maaf karna tadi pagi sudah menabrak dan menindihmu. Junsu bilang kau juga yang membawaku ke ruang kesehatan, terima kasih Changmin. Dan untuk kemarin malam, sekali lagi ku ucapkan terima kasih dan maaf merepotkanmu. Aku hanya ingin menyampaikan itu padamu.” Selanya cepat. Diukir sebuah senyuman kearah Changmin.

Changmin terkekeh pelan mendengar perkataan Hyuna. “Kau menungguku hanya untuk mengatakan hal itu?”

Hyuna mengangguk. “Ne, hanya itu. Sudah itu saja, kau sudah di tunggu. Sampai bertemu besok di sekolah, Changmin.” Dilangkahkan kakinya pergi meninggalkan Changmin.

Belum sempat ia melangkah, seseorang mencengkram lengannya. Ditolehkan kepalanya. Tampak Changmin tengah menatapnya. “Bagaimana kalau kau saja yang menemaniku pergi makan?”

“Aku? Tapi.. tapi-”

Changmin menoleh kearah Kyunhyun yang tengah menunggunya. “Kyuhyun!! Maaf kau duluan saja” teriaknya.

“Ya!! Shim Changmin!! Kau-“

“Maaf, besok akan kupinjami game baruku padamu!!” selanya cepat.

“Baiklah kalau begitu. Aku tunggu janjimu besok!!” Ujar Kyuhyun semangat sambil menyalakan mesin motornya dan melaju pergi.

Changmin menolehkan kembali kepalanya kearah Hyuna. “Bagaimana apa kau mau menemaniku? Balasan karna aku mengatarmu pulang kemarin dan membawamu keruang kesehatan tadi. Bagaimana?” ditatapnya Hyuna penuh.

Hyuna berpikir sejenak. Ia memang telah banyak menyusahkan Changmin. Ditatapnya pria itu. “Baiklah tapi jangan pulang terlalu malam ya? Kalau tidak, Yunho oppa akan marah besar padaku.”

Changmin mengangguk pelan. “Ne, tidak akan.”

**

Changmin memarkirkan motornya, didepan kafe langganannya. Hyuna turun dari motor Changmin, matanya berputar menatap sekeliling. Ia kenal daerah sekitar tempat itu, daerah tersebut masih dalam lingkup universitas Sunkyunkwan; universitas tempat Jaejoong dan Yunho kuliah. Ditolehkan wajahnya kearah Changmin yang tengah melepas jaketnya. “Apa kau mau makan disini?” tanyanya, tak yakin.

“Bagaimana kalau di tempat lain saja?”

Changmin tersenyum menatap Hyuna. “Ne, ini kafe favorite ku, makanan di sini enak. Kau pasti suka.” Diajaknya Hyuna masuk.

“Kau pilih dulu tempat duduk yang kau sukai, aku mau kebelakang sebentar.” Ujar Changmin sambil berlalu meninggalkan Hyuna.

Hyuna berputar memandang sekitar kafe, mencari tempat duduk. Ia tersenyum menatap meja nomor 5, yang berada dekat jendela. Dengan cepat ia langkahkan kakinya kearah meja itu. Ditariknya kursi meja nomor 5 dan duduk. Matanya berputar mengamati setiap sisi kafe itu. Seketika rahangnya menegang, matanya melihat apa yang paling tidak ingin ia lihat saat ini.

“Jaejoong oppa dan Yunho oppa?”

Continue…

thanks for read  dont be silent reader

saya sangat menghargai setiap kritik, saran serta komentar yg diberikan

 

 

 

2 thoughts on “Still I Love You part 2

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s