SUDDENLY MARRIED!!!! – Part 3

Title    :           Suddenly Married‼

Author:          Uchikyasha

Maincast:       Lee Sungmin, Shin Yoonji

Supportcast:  Hye Chan

Rating :           PG-15

Genre :           Romantic comedy, Love, Chapters/Parts

PS       :           Selamat membaca dan semoga terhibur. Cerita ini pernah dikirim waktu lomba di blog Spesial Shin. Tapi, ini lebih lengkap dari sebelumnya. Semoga nggak kependekan lagi dan nggak datar lagi. ;)

 

Yoonji POV

Kami, lebih tepatnya aku, Sungmin dan eommanya sudah duduk di ruang tamu yang sangat berkelas, setelah selesai dengan adegan pertemuan yang mengharukan di pintu masuk tadi. Aku duduk bersama Sungmin di sofa yang bersebrangan dengan eommanya. Melihat ruang tamu berkelas dan mewah ini, aku baru tahu seberapa kayanya Sungmin dulu.

“Eomma, sebenarnya, aku datang ke sini untuk mempertemukan eomma dengan Yoonji.” Ujar Sungmin dan menyesap tehnya yang ada di atas meja.

“Kenapa kau tidak mengenalkannya dari dulu pada eomma?” ujar  ajhumma dan tersenyum padaku. “Eomma dan Yungmin bisa berteman dengan Yoonji.”

Sungmin hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebiasaannya kalau tidak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin dia belum siap ajhumma. Selama ini dia sangat sibuk.” Kenapa jadi aku yang menjawab? Semoga ajhumma tidak menilaiku lancang. Aku melirik Sungmin sesaat yang tersenyum.

“Eomma, Yungmin oddiya?” ujar Sungmin dan melihat keadaan sekitar. Aku juga penasaran dengan Yungmin.Aku sudah pernah melihatnya di foto. Dia cantik dan manis. Pastinya lebih anggun dariku yang sedikit urakan dengan wajah standar. Aigooo, apa aku pantas masuk dalam keluarga Sungmin? Aku merasa sangat kecil dan tidak ada artinya. Seharusnya, aku mundur dari dulu. Seharusnya, kami tidak bersama. Kenapa tiba-tiba aku menjadi merendahkan diri begini? Terlalu banyak berpikir membuat perutku sakit.

“Yungmin sedang studi tur ke Mokpo. Besok dia pulang. Kalau dia ada di sini sekarang, dia pasti yang paling senang kau pulang ke rumah.” Jawab ajhumma dan  tiba-tiba berpaling dan menatapku. “Yoonji, kau tidak apa-apa? Kau sepertinya pucat,”

“A-anieyo ajhumma. Aku baik-baik saja.” jawabku bohong.  Aku merasakan tanganku digenggam Sungmin. Dia tersenyum manis. Senyum favoritku, senyum yang membuatku yakin, kalau memang aku pantas bersamanya.

“Gwenchana?” tukasnya dan menyelipkan sebagian rambutku ke belakang telinga. Aku mengangguk mantap.

“Yungmin eomma! Siapa yang datang??” seru suara yang sedikit bass. Suara khas namja yang berwatak tegas. Kalau Sungmin sudah keluar dari rumah ini, berarti satu-satunya namja yang ada di rumah ini adalah… Sungmin appa‼ Baru saja aku sedikit berlega, sekarang jantungku yang melompat-lompat. Tuhan, kuatkan diriku di dalam sana!

“Aku akan membawanya masuk yeobo.” Jawab ajhumma dengan pandangan lurus ke arah Sungmin, seakan menanyakan kesiapan Sungmin untuk berhadapan langsung dengan appanya, setelah 4 tahun bertikai dan tidak pernah bertemu sama sekali. Kalau aku jadi Sungmin, mungkin aku akan segera berlari keluar. Tapi, namja ini tetap terlihat tenang, dan mengangguk.

“Aku, siap eomma.” Gumamnya dan melirik ke arahku. Aku juga ikut mengangguk, sekeras mungkin tersenyum untuk menyembunyikan kegugupanku. Ajhumma bangkit dari kursinya dan berjalan, dengan kami mengekor di belakang. Kami berjalan ke sebuah lorong yang lantainya licin terbuat dari kayu, melintasi sebuah taman yang sangat indah. Sungmin tersenyum saat melewati taman itu. Mungkin, dia punya kenangan yang indah di sana bersama keluarganya. Kemudian, kami berhenti di depan sebuah ruangan yang pintunya dilapisi kertas berwarna kecoklatan dengan gambar-gambar abstrak yang tidak aku mengerti. Ajhumam berbalik ke belakang sebentar, menatap kami bergantian, kemudian kembali berbalik ke depan dan membuka pintu dengan cara digeser.

Dari balik bahu ajhumma, aku bisa melihat seorang pria paruh baya duduk dibelakang sebuah meja kayu. Pernah nonton film kolosal semisal Jewel In The Palace? Bayangkan saja, kami adalah para dayang dan pelayan yang tengah memasuki ruang peristirahatan sang raja. Seperti itulah gaya ruangan ini. Ajhussi tidak menoleh sedikitpun saat pintu dibuka. Beliau sibuk membaca Koran yang diletakkannya di atas meja tersebut. Ajhumma masuk dan segera duduk di samping ajhussi. Dengan tidak percaya diri, aku masuk bersamaan dengan Sungmin. Aku dan Sungmin segera memberi hormat sebelum kami duduk. Setelah kami duduk dihadapannya pun, ajhussi tak sedikitpun mengangkat kepala untuk melihat kami.

“Kenapa kau memasukkan orang asing hah? Apa kau tidak takut kehilangan barang?” gumam ajhussi pelan, namun tajam dan pedas. Aku semakin menundukkan kepala. Berbeda dengan Sungmin, yang tetap menegakkan kepala, dan melihat dengan raut muka serius ke ayahnya.

“Yeobo, jangan begitu. Lihatlah, anak kita Sungmin pulang. Apa kau tidak senang?” ujar ajhumma lembut dan memegang pundak ajhussi.

“Apa kau lupa? Anakku cuman Yungmin, tidak ada yang lain. Arraso?” kembali ajhussi melontarkan jawaban pedas. Secara tidak langsung dia sudah menyatakan kalau Sungmin sudah tidak ada baginya. Ini semua lebih rumit dari yang aku bayangkan!

“Yeobo… apa kau tidak rindu pada Sungmin? Lihatlah dia sekarang. Dia sudah besar dan dewasa. Apa kau belum bisa menerimanya setelah 4 tahun?” ajhumma masih terus membujuk ajhussi.

BRRAAKKK‼

Ajhussi memukul meja dengan keras. Sampai-sampai aku terkejut dan badanku tersentak ke belakang. Arwahku! Arwahku! Kembalilah!

“Apa kau tidak mengerti??? Sudah kubilang jangan sembarangan menerima orang asing! Siapa itu Sungmin?! Aku tidak kenal dengannya! Cepat usir dia sebelum aku yang mengusirnya!” bentak ajhussi pada ajhumma, kemudian menatapku tajam dengan mata merahnya. Badanku rasanya lemas seketika.

“Terserah appa tidak mau menerimaku. Aku datang ke sini, hanya mau mengenalkan calon istriku, Shin Yoonji. Tidak ada alasan yang lain.” Ujar Sungmin datar. Namun, tatapan ajhussi tetap lurus padaku. Ajhussi sepertinya ingin menelanku bulat-bulat. Semoga itu cuman perasaanku saja.

“Yeobo, dia Shin Yoonji. Yeoja yang sudah 4 tahun menemani Sungmin. Dia calon menantu kita.”

“Cih, tidak pernah muncul, tiba-tiba datang membawa orang asing yang lain,” Ajhussi tetap menatapku tajam. Malah kini menatapku secara keseluruhan. Aku sempat mencuri-curi pandang. Tapi begitu tatapan mata kami bertemu, aku segera menunduk kembali. Aku menghembuskan napas pelan, mengumpulkan keberanianku untuk mengangkat kepala dan bicara pada ajhussi. Oke, aku siap!

“Jugiyo, ajhussi.  Maaf, aku lancang masuk ke sini, belum  memperkenalkan diriku sebelumnya. Jeonnun, Shin Yoonji imnida. Senang bertemu ajhussi.” Kataku sewajar mungkin, dan tersenyum seramah yang aku bisa. Semoga tidak terlihat seperti aku tengah menyeringai!

“Apa pekerjaanmu?” tukas ajhussi datar.

“N-ne? A-aku membantu eomma berjualan jajangmyeon di kedai kecil kami.” Jawabku. Seandainya aku bisa menjawab aku adalah putri tunggal dari presdir sebuah perusahaan terkenal, mungkin ajhussi akan tersenyum padaku.

“Apa pekerjaan appamu?” tanyanya lagi.

“Appaku sudah meninggal sejak aku berumur 10 tahun ajhussi. Tapi, saat itu pekerjaannya adalah arsitek. Dia yang merancang rumah kami sendiri. Dia juga yang membuat sebagian besar perabotan dalam rumah kami seperti kursi, lemari, meja…” aku menggantung kalimatku dan kembali tertunduk. Sepertinya aku terlalu cerewet. Aku menunduk sebentar meminta maaf.

“Lalu apa yang membuatmu pacaran dengan anak tidak tahu diri itu? Apa karena dia artis? Pekerjaan yang sangat murahan dan tidak menjanjikan!” tanya ajhussi lagi. Artis. Yah, karena pekerjaannya sebagai artislah yang membuat hubungan Sungmin dan appanya memburuk. Ajhussi ingin Sungmin menjadi penerusnya di perusahaan, sedangkan Sungmin sangat mencintai menyanyi. Sejak Sungmin memutuskan keluar dari rumah dan tinggal di dorm, hubungan mereka sebagai appa dan putranya juga sepertinya putus.

“Anieyo ajhussi. Kami sudah pacaran sebelum Sungmin debut.”

“Kalau begitu, kau pacaran dengannya dulu karena tahu dia anak orang kaya kan?” pertanyaan yang sedikit menyakitkan.

“Aniyo ajhussi. Aku juga tidak tahu kalau Sungmin dulu anak orang berada. Aku hanya tahu dia itu Lee Sungmin, namja sederhana yang bahkan harus kerja part time jika ingin mengajakku kencan. Atau saat aku juga harus ikut membantunya memanen sayur agar bisa pergi ke Incheon bersama. Lucunya, uang kami habis sama sekali dan kami harus menumpang truk buah untuk sampai ke Seoul. Aku, tidak akan melupakan saat itu.” Aku tersenyum sendiri saat mengenang momen lucu itu. Aku ingat, Sungmin diam-diam menghabiskan 5 buah apel karena kelaparan.

Suara bass ajhussi yang berdehem kembali membawaku ke situasi sekarang ini. Aku melihat ajhumma tersenyum padaku. Apa aku terlalu cerewet?  Pasti ajhussi berpikir aku ini sangat menganggu.

“Jwesonghamnida ajhussi, kalau aku sangat cerewet dan mengganggumu.” Aku kembali menunduk meminta maaf.

“Terserah padamu. Aku tidak peduli. Pulanglah, aku ingin istirahat.” Ajhussi hendak berdiri dari tempatnya.

“Besok kami akan menikah. Terserah mau datang atau tidak menjadi saksiku. Aku menikah di kantor catatan sipil jam 9 pagi, loket nomor 3.”

Dengan cepat, aku berpaling ke Sungmin. M-mwoyaa?????

**

 

Sungmin POV

Aku bisa melihat, semuanya memasang ekspresi terkejut, terutama Yoonji. Tentu saja dia harus terkejut. Aku belum bilang apapun padanya tentang rencana pernikahan ini.

“Aku hanya ingin mengatakan itu.” Sambungku dan menatap eomma. Sebenarnya, kalimat ini lebih aku tujukan pada appa.

“Sungmin, apa benar besok kau akan menikah?” Eomma sepertinya tidak percaya. Aku mengangguk dengan yakin. Besok, aku akan menikahi Yoonji.

“Aku datang ke sini hanya mengatakan hal ini. Aku pergi.” Ujarku datar, menunduk sebentar dan segera bangkit, keluar dari ruangan itu. Aku mendengar derap langkah cepat di belakangku.

“Sungmin!” itu suara eomma. Aku berhenti dan berbalik. Dia berlajan pelan ke arah  ku dan membelai pelan kepalaku.

“Akan eomma pastikan, kami berdua akan datang dan menjadi saksi kalian berdua.” Kata eomma, kemudian menyatukan tanganku dengan tangan Yoonji yang sudah bersanding di sampingku. “Eomma senang, kau memilih Yoonji. Kami pasti, akan datang.”

Aku tahu, eomma selalu bisa diandalkan.

**

Still Sungmin POV

Aku menepikan mobilku disebuah jalan yang sepi. Yeoja ini sepertinya masih terkejut, sampai dia terus terdiam sejak keluar dari rumah.

“Yoonji, kau baik-baik saja?” tukasku dan menyentuh pelan lengannya. Dia seperti terkejut, namun sejurus segera tersenyum.

“Ne, gwencana. Kau, hanya bercandakan tentang pernikahan itu? Hahaha, itu lucu sekali! Aku sampai shock tiba-tiba kau bilang mau menikah denganku.” Yoonji tertawa terbahak-bahak hingga wajahnya merah. Aku tahu, dia hanya mencoba menyembunyikan kegugupannya. Aku memasang tampang kesalku-karena aku memang kesal dengan sikap main-mainnya-, dan itu berhasil membuatnya berhenti tertawa.

“Aku, tidak pernah bercanda tentang pernikahan. Dari awal pacaran, tujuanku adalah hidup bersamamu. Aku tidak pernah main-main dengan hubungan ini.” ujarku tegas.

“Aku tahu Sungmin. Tapi, menikah disaat karirmu sedang bagus, bukankah justru akan meredupkan karirmu? Apa… kau juga tidak malu memiliki istri yang hanya seorang pegawai di kedai kecil Sungmin?”

Aku mendesah pelan. Shin Yoonji memang benar-benar bodoh. Kalau aku malu mempunyai istri yang setiap hari berbau jajangmyeon, untuk apa aku bertahan selama 4 tahun bersamanya? Aku meraih lehernya cepat, dan melumat bibirnya lembut. Aku merasakan penolakan yeoja itu, tapi aku segera memeluknya erat, meredam penolakannya itu dan terus mengulum mesra bibirnya. Dia berhenti berontak, dan diam saja. Setelah aku rasa cukup, aku melepaskan ciumanku, dan menatap dalam wajahnya yang sangat merah.

“Kalau aku tidak yakin padamu, aku tidak akan mengejarmu setengah mati, dan tidak akan bertahan denganmu hingga 4 tahun. Kalaupun karirku redup, aku tidak peduli. Dengan atau tanpa Suju, aku tetap bisa bernyanyi. Dengan atau tanpa Suju, aku tetap bisa mencari uang yang cukup untuk kita berdua, bahkan juga anak-anak kita. Kau tidak perlu cemas. Selama kita bersama, kita bisa saling mendukung dan melewati semuanya. Sekalipun kita menderita, yang penting kita telah bersama. Tapi, aku janji, tidak akan membuatmu menderita.” Aku sekarang terdengar seperti sedang berpidato. Yeoja itu tersenyum, dan mengecup kelopak mataku.

“Aku percaya padamu Sungmin. Aku, mau menikah denganmu.” ujarnya malu-malu dan tertunduk. Aigoo, kenapa dia sangat manis saat malu?

“Tapi…” katanya dan kembali mengangkat wajahnya dan menatapku ragu “bagaimana jika orang tuamu tidak datang?”

“Kalau mereka tidak datang, Leeteuk akan menjadi saksiku.”

“Lalu saksiku? Eomma tidak mungkin bisa datang besok.”

“Serahkan semuanya padaku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun.”

“Sebenarnya, apa eomma yang memintamu untuk segera menikahiku?”

“Ani. Sudah lama aku memikirkannya. Aku ingin melamarmu dengan suasana yang romantis. Tapi, semuanya tidak sesuai rencana.” sesalku. Dalam pikiranku aku sudah memikirkan berbagai cara untuk melamarnya. Mulai dari melamar saat kami naik gondola, saat candle light dinner di Namsan Tower, sampai yang paling ekstrim adalah melamarnya sambil menyelam dalam aquarium raksasa penuh hiu dan ikan-ikan lain-sementara dia menunggu diluar aquarium sebagai pengunjung biasa tanpa mengetahui apapun-pernah aku pikirkan. Namun, melamarnya di depan ayah dan ibu dengan keadaan yang sangat tegang seperti tengah berada di tengah-tengah perang, benar-benar diluar skenarioku.

“Tapi kenapa sangat tiba-tiba, dan bertepatan dengan eomma yang sakit?”

Sebelum dia bertanya lebih banyak, aku kembali mengulum bibirnya mesra. Kali ini, dia tidak menolak, bahkan membalas ciumanku. Cahaya sunset yang berhasil masuk ke dalam mobil, membuat ciuman ini semakin hangat. Ciuman itu mulai telerai perlahan.

“Saranghae.” kataku dan mengecup keningnya.

“Nado,” jawabnya hanya berupa gerakan bibirnya.

“Percayalah, semuanya baik-baik saja selama kita selalu bersama.” pesanku lagi. Dia mengangguk dan tersenyum.

“Ara, Lee sajangnim. Hajiman, bisakah kau sedikit menjauh? Aku agak kepanasan di sini.” Aku segera kembali ke posisiku tepat di belakang kemudi dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

**

Yoonji POV

Kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. Hari ini aku mengalami berbagai macam perasaan yang membaur menjadi satu dan berhasil membuatku kelaparan setengah mati. Sedangkan namja di sampingku ini terlihat sangat tenang bahkan sesekali bersiul ringan. Aku hanya bisa mendesah pelan. Dia memang selalu bisa mendatangkan sesuatu yang tidak terduga. Tapi, itulah Lee Sungmin. Dan itu berhasil membuatku cinta setengah mati padanya. Ssstt, jangan beritahu Sungmin ya? Itu bisa membuatnya besar kepala, kemudian meledak dan menghilang. Haha, aku tidak bisa bayangkan kalau Sungmin tiba-tiba muncul tanpa kepala.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tukasnya menangkap basah aku yang merasa geli sendiri membayangkan dirinya tanpa kepala.

“Ani!” seruku bohong.

“Ah, aku tahu. Kau pasti… membayangkan yang tidak-tidak kan?” tebaknya. Mwo? Apa dia bisa membaca pikiranku? Apa dia E.T?

“Membayangkan yang tidak-tidak seperti apa?” tantangku.

“Contohnya seperti…. gaya apa yang akan kau lakukan saat “malam keramat” yang akan kita lakukan setelah sah menjadi suami, dan istri.”

Aku sampai tersedak air ludahku sendiri dengan kalimat Sungmin yang entah dia pelajari dari mana istilah “malam keramat” itu!

“Y-yak! Gaya apa? Ma-malam keramat apa?? Ja-jangan bicara yang tidak-tidak! Berhenti bergaul dengan silumat monyet dan siluman beruang yang berotak yadong!” seruku. Untung saja keadaan di dalam mobil tidak terlalu terang sehingga dia tidak perlu melihat wajah merahku yang mungkin sekarang sudah mengepul-ngepul saking panasnya. Sungmin tertawa puas karena berhasil membuatku gugup, sedangkan aku segera memalingkan wajah dengan cemberut keluar jendela. Saat itulah, mataku menangkap sebuah manekin yang berbalut gaun indah biru safir yang dipajang disebuah etalase yang besar dengan kaca yang bening.

“Berhenti‼” jeritku tiba-tiba yang membuat Sungmin rem mendadak, berhasil membuat kepalaku terantuk dashboard mobil.

“Yoonji-ya! Gwenchana??” seru Sungmin panik dan memeriksa keningku yang terantuk. Aku tersenyum tiga jari memastikan padanya aku baik-baik saja. Setelah melihatku tersenyum, dia malah menjitak kepalaku.

“Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku berhenti hah?! Untung saja tidak ada mobil di belakang kita!” bentaknya. Apa-apan namja ini? Wajahnya yang sangat panik tadi sekarang berubah kesal seketika. Dasar artis…

“Aku baru ingat ada sedikit urusan disekitar sini. Aku turun disini.” ujarku cepat dan segera melepaskan sabuk pengaman dan secepat kilat keluar dari mobil dan segera menutup pintunya sebelum tangannya menarik kerah bajuku dan membuatku tetap berada di dalam mobil.

“Shin Yoonji kembali!” perintahnya.

“Aku akan pulang tepat waktu kok. Aku hanya melakukan hal kecil setelah itu aku segera pulang.” kataku setengah memohon.

“Cepat naik! Apa yang akan kau lakukan disini? Sepertinya tidak aman!” seru Sungmin lagi. Naluri kekhawatiran mulai merasuki dirinya.

“Yeobo….” panggilku dengan suara super manja dan membentuk symbol hati di atas kepalaku. “Saranghae!” lanjutku dan meniupkan sebuah ciuman padanya. Biasanya ini berhasil membuatnya mengalah. Sungmin terdengar mendesah pelan. Assa!

“Awas saja kalau jam 10 kau belum ada di rumah sakit ataupun rumah.”  ancamnya dan mengalah. Aku mengangguk seperti mainan kelinci di dashboard mobil Sungmin yang kepalanya selalu bergoyang.

“Anyeong, hati-hati dijalan!” seruku dan menggerakkan tanganku agar dia segera pergi. Mobil Sungmin pun segera melaju lagi. Begitu  mobilnya agak jauh, aku segera masuk ke dalam toko yang memajang gaun indah itu.

**

Sungmin POV

Aku masih bisa melihat Yoonji dari kaca spionku. Dia terlihat melambai sambil menjijit. Kemudian, sosoknya menghilang dalam sebuah toko baju sepertinya. Aku melambatkan mobil, memundurkan mobilku dan berhenti agak  jauh dari toko yang dimasuki Yoonji. Aku memulai penyamaran ku yang sekelas James Bond. Aku mengganti jasku dengan yang berwarna pink pucat. Tidak lupa kaca mata bening ala eksmud berbingkai lebar, topi bowler hitam dan syal tebal yang mampu menutup sebagian wajahku. Setelah ku rasa cukup, aku segera memasuki toko di mana Yoonji berada. Ternyata, sebuah toko yang menjual gaun. Untuk apa seorang Yoonji yang alergi gaun datang kemari? Dia sibuk mengamati sebuah gaun biru safir yang membalut indah sebuah manekin. Apa dia menginginkan gaun itu?

“Anyeong haseyo sajangnim. Ada yang bisa saya bantu?” seorang pegawai wanita segera datang menghampiriku begitu aku melangkah masuk.

“Hem, aku ada sedikit permintaan.” ujarku to the point, sedikit berbisik sambil terus memperhatikan Yoonji yang sedang dilayani pelayan yang lain. “Kau lihat wanita diujung sana? Bisakah kau menggantikan temanmu untuk melayaninya? Katakan pada wanita itu dia bisa membeli gaun apapun yang diinginkannya, dengan sejumlah uang yang dimilikinya. Bilang saja dia pengunjung ke seribu dan mendapatkan penawaran spesial itu. Oh ya, pilihkan juga sepatu yang cocok dengan gaunnya. Katakan saja itu bonus. Sisanya aku yang akan membayar.”

Pelayan wanita itu tersenyum, seakan mengerti. Setelah aku mengucapakan termia kasih, tanpa banyak tanya, dia membungkuk sebentar dan melaksanakan permintaanku. Kemudian dia mendekati temannya dan membisikkan sesuatu. Temannya mengangguk dan pergi. Aku berjalan mendekati mereka berdua, namun tetap menjaga jarak. Dari sini aku masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Agasshi, ada yang bisa kubantu?” ujar sang pelayan ramah.

“Ngg… gaun itu bagus ya?” tukas Yoonji.

“Tentu saja. Gaun itu edisi terbatas agasshi.” jawab sang pelayan. Yoonji mengangguk, seakan sudah bisa menebak harganya. “Agasshi apa kau mau mencobanya?” tawar si pelayan.

“Ye? Benarkah aku boleh mencobanya?” ulang Yoonji dengan mata berbinar. Pelayan itu pergi sebentar kemudian muncul lagi bersama gaun itu. Dia mengantar Yoonji ke kamar pas. Aku mengikuti dari jarak aman. Kenapa jadi aku yang berdebar menunggu bocah itu keluar dari kamar pas? Begitu mendengar bunyi pintu yang terbuka, aku segera berpaling. Kemudian, keluar seorang yeoja, yang hampir tak kukenali. Aku tertegun sejenak melihat Yoonji yang benar-benar berbeda saat mengenakan gaun itu. Dia sangat cantik. Hanya itu yang bisa kukatakan dan berhasil membuatku tertegun. Dia berputar sedikit di depan si pelayan dan meminta pendapatnya.

“Eonni, bagaimana?”

“Yeppeuda, agasshi. Kau sangat cantik.” Yah, dia tidak bohong. Memang sangat cantik. Aku semakin jatuh cinta padanya. “Pasti namjachingu agasshi akan semakin mencintai agasshi dan tidak mau berpisah.” Aku tertawa pelan mendengar ucapan si pelayan. Tepat seperti yang sedang kupikirkan. Sementara itu, Yoonji mulai bersemu merah.

“Eonni, kau membuatku malu. Besok kami akan menikah, karena itu aku ingin mengenakan gaun ini besok. Aku ingin membuat Sung-maksudku namjachinguku dan orang tuanya terkesan. Hehe.” Oh, jadi ini alasan dia membeli gaun? Dasar bodoh. Bahkan besok jika dia hanya mengenakan kemeja lusuh, jeans butut dan sneaker dekilnya aku tidak akan keberatan. Tapi… jika orang tuaku datang, mereka pasti akan sangat keberatan. Itupun kalau mereka datang. Jika mereka tidak datang besok, tentu Yoonji orang pertama yang akan sangat kecewa.

“Eo? Chukkae agasshi.”

“Gomapta eonni. Keunde… ng.. jugiyo… berapa… harga baju ini?” Ini dia titik kritisnya.

“Satu juta won agasshi.”

“Mw-mwoya??? Sa-sa-satu juta won???” Teriak Yoonji, namun segera menutup mulutnya, sadar teriakannya berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian. “Satu juta won?” ulangnya namun dalam bisikan.

“Ye agasshi. Tapi tenang saja. Karena agasshi pengunjung seribu kami, agasshi mendapatkan penawaran spesial. Gaun ini, boleh dibeli dengan harga berapapun.” Si pelayan mulai beraksi. Aku jadi tidak enak memanggilnya “si pelayan”. Aku harus tahu  namanya nanti.

“Jeongmal? Aku boleh membelinya dengan harga berapapun?” Yoonji yang tadinya patah semangat, kini mulai senang ku rasa.

“Ye agasshi. Bahkan agasshi akan mendapatkan bonus sebuah sepatu yang cocok dengan gaun ini. Agasshi bisa memilih sepatunya sendiri.”

Yoonji tersenyum sangat lebar. Tidak henti-hentinya dia berterima kasih. Dia terlihat bahagia, begitupun denganku. Langsung saja dia kembali mengganti baju, memilih sepatu yang disukainya, dan membayar gaun tersebut seharga seratus ribu won.

Setelah selesai dengan semuanya, Yoonji keluar dari toko dengan senyum sumringah, sambil menenteng dua kantong belanjaan. Yap, aku harus melaksanakan tugasku.

“Terima kasih banyak sudah membantuku.” Aku menunduk sebentar pada pelayan bernama Baek Heeyong tersebut setelah selesai membayar sisanya. Dia tengah mengantarku sampai ke pintu keluar.

“Sama-sama sajangnim.”

“Oh ya, apa kau suka Super Junior?” tukasku. Aku ingin memberikannya sesuatu yang spesial sebagai ucapan terima kasih.

“Suju? Tidak terlalu sih sebenarnya, tapi aku suka menonton mereka di tv.” Berarti dia bukan ELF? Tapi, dia bilang suka melihat kami? Sedikit membingungkan.

“Lalu, siapa yang paling kau sukai?” tanyaku lagi. Semoga bukan aku.

“Hem, siapa ya? Ku rasa, Lee Donghae. Karena aku juga berasal dari Mokpo.” Heeyong tersenyum. Ku rasa aku menemukan nyonya ikan.

“Baiklah, aku doakan semoga suatu saat dia datang dan mengajakmu makan malam romantis.”

“Aigoo, sajangnim. Itu hanya akan terjadi di dalam mimpiku.” katanya dan tertawa. Tenang saja agasshi, aku akan mewujudkannya karena kau telah menolongku.

“Baiklah, semoga terwujud. Aku pergi dulu. Anyeong.” kataku dan menunduk sebentar. Dia mengucapkan terima kasih dan membukakan pintu. Aku berjalan pelan ke arah mobil, dan masih bisa melihat sosok Yoonji dari belakang, berjalan riang sambil sedikit berjingkrak seperti anak kecil yang mendapatkan banyak coklat. Dasar Shin Yoonji. Jadi tidak sabar melihatnya besok.

TBC

Makasih sudah membaca. dan mian kalo datar-datar aja.hehe

Mungkin part selanjutnya akan menjadi yang terakhir…

:)

2 thoughts on “SUDDENLY MARRIED!!!! – Part 3

  1. Seru banget yg ini lebih detail ceritanya daripada yg pernah aku baca dulu yg langsung full 1 cerita selesai.. Misi nya SUngmin oppa berhasil senangnya.. Saatnya baca part selanjutnya..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s