Difference Your Eyes

 

Author : ghefira010298

Genre   : romance, sad, angry (maybe)

Cast     : Kim Hyesun

Cho Kyuhyun

Cho Kyuhan

Happy Reading.

 

Author POV

Cho Kyuhyun dan Cho Kyuhan. Ya mereka adalah saudara kembar.

Kyuhyun adalah kakak dari Kyuhan.

Kyuhyun dan Kyuhan memang anak kembar. Jika mereka sedang berdua, tidak ada satu orangpun yang dapat membedakan mereka, kecuali Kim Hyesun. Karena mereka benar-benar sangat mirip. Mereka sama-sama tampan.

Memang, kebiasaan mereka sangatlah berbeda.

Kyuhyun lebih menyukai mengerjakan soal Matematika, tak heran ia selalu mendapatkan nilai sempurna. Walaupun soal itu sangatlah sulit. Dia pun senang bermain games di PSPnya. Tak heran, setiap pergi ke kampus, ia selalu membawa PSPnya itu.

Sedangkan Kyuhan, dia lebih menyukai bermain basket bersama teman-temannya yang lain.

Dari segi makanan, mereka pun mempunyai selera masing-masing.

Kyuhyun tak suka sayuran. Walaupun diberi uang sebanyak apapun, ia tetap tidak akan pernah mau memakan sayur.

Sebaliknya dengan Kyuhan, dia sangat sangat menyukai sayuran. Nafsu makannya menjadi menggebu-gebu jika sudah diberi sayur.

Sungguh! Memang anak kembar yang aneh.

Tapi, baik Kyuhyun ataupun Kyuhan, mereka sama-sama mempunyai suara emas yang sangat bagus. Jika mereka sedang berbicara, suara mereka pun hampir sama.

Kim Hyesun. Seperti yang sudah dibilang, hanya Kim Hyesun-lah, orang satu-satunya yang dapat membedakan mana Kyuhyun dan mana Kyuhan.

Kim Hyesun juga merupakan Yeojachingu dari Kyuhyun. Kyuhyun sangat mencintai Hyesun, begitu pun Hyesun, ia sangat mencintai Kyuhyun.

Sudah lebih dari dua tahun mereka menjalin hubungan cinta.

**

Hari ini Hyesun dan Kyuhyun berniat untuk pergi ke mall berdua, tetapi tiba-tiba Kyuhan meminta agar ia diperbolehkan ikut.

“Hyung, boleh ya aku ikut kalian berdua.” Rengek Kyuhan pada Kyuhyun.

“kau mau ikut, mau ngapain?” tanya Kyuhyun pada dongsaengnya, atau lebih tepatnya saudara kembar.

“aku ingin ikut saja. Aku ingin mencari sepatu untuk bertanding basket esok hari.”

“mwo? Kau bertanding basket lagi? Bukannya baru saja hari ini kau bertanding basket? Tak baik setiap hari bertanding basket.”

“yah Hyung, itu kan memang sudah kebiasaanku. Aku tak seperti Hyung yang suka mengerjakan soal matematika. Ya Hyung, boleh ya aku ikut. Ah, Hyesun noona, boleh kan aku ikut?” kini Kyuhan merengek pada Hyesun. Kyuhan memang memanggil Hyesun dengan sebutan noona, karena Hyesun yeojachingunya Kyuhyun, yeojachingu Hyung-nya.

“umm, aku sih boleh-boleh saja. Tapi kau harus minta izin dulu pada Hyungmu!” suruh Hyesun.

“tuh Hyung, Hyesun noona saja mengizinkan aku ikut, masa Hyung tidak mengizinkanku?!”

“aish, kau ini, seperti anak kecil saja. Yasudahlah, kau boleh ikut. Tapi karena ada kau aku jadi males nyetir, kau saja yang menyetir ya.”

“hah? Aku yang menyetir Hyung?” tanya Kyuhan kaget.

“iya. Kenapa? Mau tidak? Kalau tidak mau, yasudah, kau tak boleh ikut.” Ancam Kyuhyun. Sebenarnya itu hanyalah candaan Kyuhyun semata.

“yah Hyung, kenapa jadi mengancam begini. Yasudahlah, apa boleh buat, daripada aku gak beli sepatu. Soalnya besok aku mau tanding.” Akhirnya Kyuhan setuju dengan syarat yang diberikan Kyuhyun. Sementara Kyuhyun dan Hyesun hanya tertawa kecil melihat tingkahlaku Kyuhan.

“yaudah ayo berangkat.!” Ajak Hyesun.

Akhirnya mereka pun berangkat menuju mall.

Kyuhan menyetir di depan. Sementara dibiarkannya jok di sebelahnya kosong. Karena Kyuhyun lebih memilih duduk di belakang bersama Hyesun.

“Hyung, kenapa  duduk di belakang? Tak menemaniku di depan?” tanya Kyuhan sambil terus berkonsentrasi menyetir, memerhatikan jalan.

“aku pengen nemenin Hyesun.” Jawab Kyuhyun santai, melirik Hyesun, tersenyum dan Hyesun pun membalas senyuman Kyuhyun.

“berarti Hyung gak mau nemenin aku, gitu?” ucapnya.

“ya enggak gitu juga sih. Kamu kan tau, Hyesun  yeojaku.” Kata Kyuhyun.

“lah aku kan dongsaengmu Hyung. Kembaranmu malah.” Cibir Kyuhan.

“iya tapi kan aku pengennya sama Hyesun, Kyuhan-ah.”

“sudah sudah, kalian jangan berdebat. Kyuhan-ah, kamu mau Kyuhyun duduk di sampingmu?” tanya Hyesun pada Kyuhan.

“nde noona, aku ingin Kyuhyun Hyung duduk di sebelahku. Aku ingin kita jadi anak kembar yang seutuhnya, hehe.” Jawab Kyuhan sambil sedikit terkekeh.

“yasudah, sepulang dari mall nanti, Kyuhyun duduk di sebelahmu.” Kata Hyesun meyakinkan Kyuhan.

“mwo? Maksudmu apa chagiya?” tanya Kyuhyun kaget.

“iya , nanti kau duduk di sebelahnya Kyuhan ya sepulang dari mall nanti. Kasihan dia.” Hyesun menyuruh Kyuhyun agar sepulang dari mall nanti, Kyuhyun duduk di sebelah Kyuhan, menemani Kyuhan.

“bagaimana denganmu chagiya?” Kyuhyun sedikit khawatir.

“hahaha, kau tak usah mengkhawatirkan aku, Kyu. Lagian hanya duduk sendirian di belakang kok. Aku masih satu mobil dengan kalian. Ngapain harus mengkhawatirkan aku.?”

“yasudahlah kalau begitu.” Akhirnya mereka sepakat, bahwa sepulang dari mall nanti Kyuhyun duduk di depan, menemani Kyuhan.

**

Akhirnya mereka sampai juga di mall.

Mereka bertiga berjalan memasuki pintu masuk mall. Mereka berjalan dengan posisi yang sangat bagus. Yaitu Hyesun berada di tengah-tengah Kyuhan dan Kyuhyun. Sungguh, memang hal yang paling menyenangkan diapit oleh laki-laki kembar yang keduanya sama-sama mempunyai ketampanan yang bisa membuat wanit meleleh melihatnya :D

Aneh! Ya itulah yang mereka bertiga rasakan. Mengapa? Karena sepanjang perjalanan dari menuju pintu masuk, sampai sekarang mereka sudah di dalam mall, semua mata para pengunjung mall menatap mereka bertiga, khususnya para pengunjung wanita.

Orang-orang memerhatikan mereka dengan tatapan yang sangat memburu.

Sekilas mereka mendengar, ada seseorang yang berkata, “enak banget ya yeoja itu diapit dua pria kembar. Ganteng-ganteng lagi.”

Ada juga yang berkomentar “aduh, pria kembar itu tampan-tampan sekali. Beruntung banget yeoja yang jalan di tengah-tengah mereka.” Katanya sambil menunjuk ke arah Kyuhyun, Hyesun, dan Kyuhan.

Semua komentar mengarah pada ketampanan Kyuhyun dan Kyuhan. Serta komentar tentang beruntungnya Hyesun berjalan diapit oleh mereka berdua.

Mereka tak terlalu menghiraukan komentar-komentar yang menurut mereka itu ANEH! Ya. aneh.

Mereka tetap saja berjalan memasuki mall. Walaupun semakin mereka masuk ke dalam pusat mall, semakin banyak mata yang memerhatikan mereka.

Jangankan pengunjung, sekarang para pegawai mall pun memerhatikan gerak-gerik mereka bertiga.

Sungguh fenomena yang sangat mengesankan !

Hyesun pun benar-benar tak menyangka bahwa dirinya selalu dibilang beruntung oleh orang-orang jika sedang jalan dengan Kyuhan dan Kyuhyun.

Di kampus pun mereka sering diperhatikan, tetapi mereka kira itu hanyalah ulah teman-teman yang tak punya pekerjaan. Tapi sekarang, sudah terbukti jelas, bahwa mereka bertiga benar-benar menjadi pusat perhatian orang-orang.

Akhirnya mereka berhenti, untuk berpisah menuju tujuan masing-masing.

Pada awalnya, Kyuhyun ingin menemani Hyesun membeli buku di Gramedia. Tapi akhirnya, ia merubah niatnya itu. Sekarang Kyuhyun berkeinginan untuk membeli PSP baru di bagian barang-barang elektronik :D

“aku mau ke Gramedia dulu ya. kalian berdua silahkan menuju tujuan masing-masing. Nanti kalau sudah selesai membeli barangnya, kita bertemu di sini lagi ya.” ucap Hyesun sebelum akhirnya mereka berpisah.

Hyesun POV

Akhirnya aku segera menuju Gramedia. Membeli buku yang sangat ku perlukan untuk kuliah.

Dan aku berpisah dengan Kyuhyun dan Kyuhan. Itu tandanya, orang-orang sekitar tak bisa memperhatikan kami lagi. Karena mungkin, perhatian mereka itu hanya tertuju pada ketampanan Kyuhan dan Kyuhyun.

Tapi sepertinya pemikiranku salah, walaupun aku sudah berpisah tujuan dengan mereka berdua, orang-orang sekitar masih menatapku seperti tatapan menyelidik.

Entah apa yang mereka pikirkan sehingga mereka menatapku dengan tatapan seperti itu.

Ah sudahlah, aku tak usah memikirkan hal itu. Biarkan saja itu menjadi urusan mereka. Aku tak ingin memperdulikan.

Sekarang aku sudah berada di dalam Gramedia.

Aku segera mencari buku yang memang sedang aku cari-cari.

“aha, itu dia bukunya.” Kataku riang. Lalu aku pun segera menghampiri rak di mana buku itu diletakkan.

Setelah mendekati rak buku ‘tujuanku’, aku segera mengambil buku itu. Yeah! Memang buku ini yang sedang aku cari-cari.

Iseng-iseng, aku mencari-cari buku yang lain. Ya hitung-hitung menghabiskan waktu sebentar di Gramedia ini, karena aku jarang banget pergi ke Gramedia, soalnya banyak waktu yang cukup menyita kegiatanku. Lagian paling juga, Kyuhan dan Kyuhyun masih sibuk mencari barang mereka masing-masing.

Aku berjalan mencari buku ataupun novel yang menurutku bagus. Berjalan pelan. Menyelusuri setiap isi seluk beluk Gramedia. Banyak buku-buku ataupun novel-novel yang bagus. Aku bingung memilih.

Tiba-tiba ada dua orang wanita mendekatiku yang aku kini tengah memilah-milah buku di hadapanku.

“maaf agassi, bukankah anda wanita yang tadi berjalan dengan dua pria kembar ya?” tanya mereka tiba-tiba.

“umm, nde. Memangnya kenapa?” jawabku.

“ania. Kau sangat beruntung tadi bisa jalan bareng mereka.” Ucap salah seorang dari mereka.

“beruntung? Beruntung kenapa agassi?” kini aku berbalik bertanya pada mereka.

“ya beruntung saja, bisa jalan dengan dua orang pria kembar, tampan-tampan lagi mereka.”

Oh! Jadi itu yang ingin mereka bicarakan padaku. Huh. Menurutku, jalan bersama Kyuhyun dan Kyuhan biasa saja. Tak ada yang suka ku lebih-lebihkan.

Ya ku akui, memang mereka tampan. Sangat malah. Tapi, aku merasa biasa saja jalan dengan mereka berdua. =_=”

“oh, kalian itu bisa saja. Mereka memang tampan, tapi aku merasa biasa saja kalau jalan dengan mereka. Justru, aku malah merasa aneh pada orang-orang sekitar yang selalu saja menatap aku dan dua pria kembar itu.” Kataku.

“bagaimana orang-orang tidak menatap kalian seperti itu, kalau agassi jalan dengan dua pria yang sama-sama memiliki ketampanan luar biasa. Mungkin kalau saya menjadi agassi, saya sudah pamer duluan ke teman-teman saya. Dan saya merasa bangga karena bisa jalan bareng mereka.” Ucap wanita yang memakai dress itu.

“ah agassi bisa saja. Yasudah, saya mau membayar buku ini dulu. Permisi.” Pamitku pada mereka. Fiuh ~ kalau aku tak pamit, mungkin mereka masih menanyakan tentang Kyuhan dan Kyuhyun.

Setelah selesai membayar, aku pun segera menuju tempat yang tadi ku sebutkan pada Kyuhyun dan Kyuhan jika sudah selesai membeli barang-barang masing-masing.

Ternyata Kyuhan dan Kyuhyun sudah menunggu. Mereka menunggu kedatanganku sambil menenteng kantong yang aku yakin isinya barang yang mereka beli masing-masing.

“maaf, sudah membuat kalian menunggu.” Kataku ketika sudah ada di dekat mereka. Aku khawatir mereka sudah menungguku lama.

“tak apa chagiya, bagaimana sudah menemukan bukunya?” tanya Kyuhyun.

“sudah. Sekarang kita mau ngapain?”

“bagaimana kalau kita lihat-lihat barang yang lain dulu. Sekalian jalan-jalan di mall ini.” Usul Kyuhan.

“lihat-lihat barang? Barang apaan?” tanya Kyuhyun.

“ya apa saja Hyung. Daripada kita pulang. Lagian ini masih jam satu. Ohya, ini jam satu, bagaimana kalau kita makan siang dulu, baru habis itu bersenang-senang?!”

“ya boleh-boleh aja. Hyesun-ah, bagaimana kau setuju tidak dengan Kyuhan?” Kyuhyun bertanya padaku.

“aku sih, mau-mau saja. Aku ikut kalian saja anak kembar!!” godaku. Entah kenapa, walaupun Kyuhyun sudah menjadi namjachinguku, aku masih saja senang menggoda mereka anak kembar. Mereka itu kalau dijejerin jadi satu, lucu sekali. Aku gemes melihatnya :D

“yasudah, oya noona, kalau boleh aku tau, noona di dalem Gramedia ngapain aja sih? Hanya membeli satu buku saja kan? Kok lumayan lama?” ucap Kyuhan.

“oh itu, tadi aku iseng-iseng nyari buku atau novel yang lain, sambil menghabiskan waktu sebentar, ku kira kalian belum ada di tempat ini.” Jawabku menggantung.

“lalu?” kini Kyuhyun yang bertanya.

“lalu, tadi ada dua orang wanita yang sama sekali tidak aku kenali. Mereka menghampiriku lalu mereka membicarakan tentang kalian berdua.”

“MWO?! Membicarakan aku dan Kyuhyun-Hyung? Memangnya siapa mereka? Apa kami kenal mereka juga?” histeris Kyuhan.

“anio, sepertinya kalian tak mengenali mereka. Intinya, mereka membahas kenapa pengunjung-pengunjung mall ini, atau orang-orang sekitar kita saat ini, menatap kita terus.”

“memangnya kenapa chagi-ya?”

“mereka semua itu terpesona dengan ketampanan kalian. Bahkan bisa dibilang mereka itu iri denganku, karena aku bisa berjalan dengan namja kembar yang tampan seperti kalian itu!”

“hah, jadi hanya itu? Baiklah, ayo Hyung kita buat semua orang makin terpesona dan makin iri dengan Hyesun noona sekarang.” Kata Kyuhan sambil merangkul pundakku tiba-tiba.

Dari wajah Kyuhyun, sepertinya Kyuhyun mengerti dengan perkataan Kyuhan. Buktinya sekarang Kyuhyun pun merangkulku.

Dan!!!!! Itu tandanya….. aku sedang dirangkul dua namja kembar yang tampan??? Aigo!

“hei! Kalian apa-apaan sih merangkulku dua-duaan begitu? Cukup Kyuhyun saja yang merangkulku Kyuhan-ah. Dia namjaku.” Ucapku mulai risih dengan perlakuan mereka.

“sudahlah noona, tenang saja. “ jawab Kyuhan santai.

“tenang? Kau bilang tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Kalian mau aku ditatap membunuh oleh semua pengunjung yang mereka sendiri terpesona dengan kalian? Iya hah?”

“noona tenang saja. Semuanya baik-baik saja. Kalaupun pengunjung makin menatap noona, jangan dihiraukan!”

“nde chagi-ya, kau tenang saja. Apa yang dikatakan Kyuhan itu memang benar. Kami berdua akan menjagamu. Tidak akan ada orang yang menyakitimu.” Sambung Kyuhyun.

Aku pasrah dengan keputusan mereka. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kini semuanya ku serahkan pada Tuhan dan mereka berdua.

Pokoknya, kalau terjadi apa-apa denganku dan itu semua karena ada yang iri denganku, Kyuhan dan Kyuhyun harus tanggung jawab. HARUS!

“yasudahlah, terserah kalian saja. Terserah kalian mau bawa aku ke mana. Intinya, kalau ada apa-apa denganku, karena ada orang yang iri denganku, kalian harus tanggung jawab. Aku gak mau tau. Arra?”

“arraseo.” Jawab mereka kompak. Lalu tertawa. Huft!

 

Sekarang kami bertiga berjalan-jalan menelusuri setiap titik jalan mall ini. Dengan posisi, aku berada di tengah, dan mereka berdua sama-sama merangkul pundakku. Aigo!!

“Kyuhyun-ah liat orang-orang, mereka memperhatikan kita.” Kataku pelan pada Kyuhyun.

“tenanglah chagi-ya, tak usah dihiraukan. Anggap saja mereka patung.” Yah, hanya itu jawaban enteng dari seorang Cho Kyuhyun.

Orang-orang bukan hanya menatap ketampanan Kyuhyun dan Kyuhan, tetapi mereka juga menatapku. Bahkan ada di antara mereka yang menatapku penuh dengan tatapan balas dendam.

Punya salah apa aku sama mereka sampai-sampai mereka menatapku seperti itu? Kenal mereka aja enggak.

Akhirnya kami pun tiba di sebuah restorant di dalam mall ini.

“kita makan di sini saja. Bagaimana? Aku deh yang traktir.” Ucap Kyuhan.

“kau yang mentraktir? Haha. Oke, aku setuju. Kalo ada yang mentraktir sih gak akan aku tolak.” Jawabku

“noona sih, maunya.” Ledek Kyuhan.

“ya memang itu yang ku mau. Lagian mana ada sih orang yang ditraktir tapi menolak? Huh, yasudah, kita sudah sampai di tempat makan, bisakah kalian lepaskan rangkulan kalian dari pundakku? Aku sudah risih ditatap begitu.” Suruhku pada mereka. Akhirnya mereka pun melepaskan rangkulannya dari pundakku.

Sekarang perasaanku jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Jujur, aku sangat risih.

Bukan risih karena dirangkul Kyuhyun dan Kyuhan. Tapi risih ditatap orang-orang sekitar. Rasanya tatapan mereka itu seperti hendak membunuhku sekarang ini juga -________-

“ayo, tunggu apalagi. Masuk!!!” ajak Kyuhan. Dia menggeret tanganku dan tangan Kyuhyun secara paksa untuk memasuki restorant itu.

Kami memilih tempat makan di dekat jendela. Ya selain pas jumlah kursinya, dari sini juga kami bisa melihat betapa ramainya kota Seoul pada siang hari.

Kyuhan memanggil pelayan untuk memesan makanan.

Pelayan itu akhirnya tiba di meja kami sambil memberikan kami buku yang aku yakin buku itu buku untuk menu makanan dan minuman.

“nah Hyung, kau mau pesan apa?” tanya Kyuhan pada Hyung-nya.

“hmm, pesan apa ya? aku bingung.” Jawab Kyuhyun sambil membolak-balik halaman buku menu tersebut. Dia sudah membolak balik halaman itu beberapa kali, tetapi tetap saja dia masih bingung dengan menu yang akan dipesan.

“yah Hyung, kenapa harus bingung, pesen makanan aja bingung? Kalo ngerjain soal matematika gak bingung?” sindir Kyuhan.

“yak, jangan menyamakan soal matematika dengan makanan! Soal matematika dan makanan itu beda banget hubungannya. Gak ada sama sekali malah.” Sahut Kyuhyun dengan sedikit kesal.

“hoho, Hyung, jangan marah. Aku kan hanya bercanda. Makanya, cepat mau pesan apa?!” tanya Kyuhan sekali lagi.

“aku sudah bilang tadi, aku bingung ingin memesan apa Kyuhan-ah. Coba kau tanyakan pada Hyesun!” kyuhyun menyuruh Kyuhan untuk menanyakan padaku mengenai menu apa yang ingin aku pesan.

“yasudahlah. Nah, Hyesun noona yang cantik, kau mau pesan apa?” Goda Kyuhan yang sukses membuat Kyuhyun mendadak mengeluarkan segala kekesalan pada kembarannya itu.

“hei. Apa kau bilang tadi? Yang boleh bilang Hyesun cantik itu hanya aku. Aku. Cho Kyuhyun!!!” kata Kyuhyun dengan ekspresi marahnya (?)

“aduh aduh, kalian jangan bertengkar. Kita di sini mau makan siang, atau mau ngapain? Udah, Kyuhan-ah, kau pesan saja makanan yang menurutmu enak di sini. Aku ikut kau saja. Nah, Kyuhyun-ah kau mau apa?” tanyaku pada Kyuhyun, sekalian menurunkan kadar emosinya (?)

“yaudahlah, sama saja seperti kalian. Tapi jangan ada sayurannya.” Jawab Kyuhyun sambil terus memasang wajah kesalnya. Dia sedikit memonyongkan bibirnya.

“nah kaya gitu kek Hyung dari tadi. Yaudah,  pesan Sundubu jjingaen saja. Sundubu jjingaennya tiga mangkuk, tapi yang  pakai daging sapi aja ya. minumannya?? Nah, Hyung, kau mau minum apa?” Kyuhan mulai bertanya lagi pada Kyuhyun.

“banana milk saja lah.” Jawab Kyuhyun masih dengan ekspresi wajah ditekuk.

“Hyesun noona?” kini Kyuhan bertanya padaku.

“yasudahlah, aku pesan banana milk juga. Sama kaya Kyuhyun.”

“yasudah. Pesan sundubu jjingaenya tiga mangkuk, banana milknya juga tiga ya.” kini Kyuhan mulai memesan pada pelayan.

“nde. Tunggu sebentar.” Ucap pelayan itu, lalu pergi meninggalkan meja kami.

Setelah pelayan itu pergi, ku lihat ke arah Kyuhyun. Aduh! Ternyata dia masih ngambek. Aku harus ngelakuin apa agar dia gak ngambek lagi? Tapi, walaupun dia lagi ngambek gitu, tetep ganteng kok, hihi :D

“Kyuhyun-ah, kau masih marah?” tanyaku pelan sambil mengelus-ngelus pundaknya.

“hm.” Jawabnya singkat. Oke! Dia masih marah. Ngambek lebih tepatnya.

“yah Hyung, gitu doang kok dianggap serius sih? Memangnya salah ya kalo aku bilang Hyesun noona itu cantik? Itu memang kenyataannya Hyung. Hyesun noona itu memang cantik. Semua orang juga tau kok!” Bela Kyuhan.

Kyuhyun tak menjawab. Dia masih ngambek. Hmm, sepertinya aku harus segera mengeluarkan jurus teknikku agar Kyuhyun gak ngambek lagi.

“ehem, chagi-ya, udah dong jangan ngambek lagi, nanti kalo terus-terusan ngambek, gantengnya ilang loh. Entar aku gak cinta sama kamu lagi gimana?” godaku sambil mengelus-ngelus rambut Kyuhyun lembut.

“hm..” jawabnya lagi sambil tak menoleh ke arahku sedikitpun. Aduh! Kok masih ngambek sih Kyuhyunnya?

“chagi-ya, Cho Kyuhyunku yang manis, yang ganteng, ayo dong jangan ngambek lagi. Masa hanya gara-gara masalah sepele jadi marah gitu? Kita kan tadi berangkat dari kampus dalam keadaan baik-baik aja.” Aku merayunya lagi.

Dia menoleh ke arahku, menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, “nde chagi-ya. aku udah gak marah lagi.” Akhirnya dia berbicara seperti itu. Tapi dari raut-raut wajahnya, dia masih belum sepenuhnya ‘gak ngambek.

“gak marah kok mukanya masih dilipet gitu? Senyum dong. Kalo senyum kan ganteng!” pintaku sambil merapikan poninya yang berantakkan.

“kamu mau aku senyum?”

“nde. Biar tambah ganteng. Kalo kamu gak senyum, Kyuhyun gak ganteng. Yang ganteng Cuma Kyuhan. Gimana tuh?” ledekku. Sepertinya dia mulai tergiur dengan godaanku.

“baiklah, oke, aku akan tersenyum.” Katanya. Sesaat kemudian dia pun tersenyum padaku. Senyuman yang paling bisa membuat ku tak henti-hentinya untuk selalu ada di sampingnya.

“nah gitu dong.” Jawabku.

Aku dan Kyuhyun pun saling berpandang-pandangan.

Mata kami saling bertemu. Aku memandangi mata indahnya itu cukup lama. Mata indah yang diciptakan Tuhan untuknya.

Kyuhyun tak pernah marah ataupun risih kalau aku menatap matanya lama. Memang, pada awalnya dia bilang kalau dia itu risih jika aku menatap matanya dengan tatapan memburu. Tapi, hari demi hari, Kyuhyun mulai terbiasa dengan perlakuanku yang satu ini. Dia sudah tak risih lagi. Bahkan dia senang kalau aku menatap matanya seperti itu.

Sungguh! Laki-laki yang sangat sempurna di mataku.

Walaupun ada orang yang menyerupai dirinya, yaitu Kyuhan. Tapi tetap saja, Kyuhyunku selalu nomer satu di hati.

Kyuhan dan Kyuhyun memang sama-sama tampan. Sama-sama memiliki dua mata yang indah. Tapi, bagiku, Kyuhyunlah yang paling tampan. Mata Kyuhyun yang paling indah.

Semua orang tak dapat membedakan mana Kyuhyun dan mana Kyuhan jika mereka sedang bersama.

Tapi tidak dengan aku!

Ya, aku. Aku bisa membedakan mana Kyuhyun, dan mana Kyuhan. Bahkan, jika mereka berpakaian sama-pun, aku masih bisa membedakan mereka berdua.

Dan aku pun turut bangga dengan diriku sendiri. Mengapa? Karena aku mempunyai satu kelebihan yang Kyuhyun dan Kyuhan sendiri belum mengetahuinya.

Kelebihanku, ya seperti yang tadi sudah ku katakan. Bahwa aku bisa membedakan mana Kyuhyun dan mana Kyuhan.

Mereka tak mengetahui hal itu. Yang mereka tau hanyalah, bahwa aku yeojachingunya Kyuhyun.

Hahaha! Aku bersyukur  mempunyai kelebihan ini.

Aku tau, Kyuhyun heran mengapa aku sering menatap matanya seperti itu. Jika ditanya olehnya, aku tak pernah menjawab jujur. Aku selalu mengelak. Karena aku ingin, Kyuhyun tak tau tentang kelebihanku ini. Kelebihan yang Tuhan dan aku saja yang tau.

“ehem!” deham seseorang. Seketika, aku dan Kyuhyun pun langsung salah tingkah. Kami mengehentikan acara tatapan mata (?) yang tadi sempat berjalan dengan waktu yang cukup lama.

“kalian, kalau mau pacaran jangan di sini. Ini tempat umum.” Sewot Kyuhan.

“ye, siapa yang pacaran?!” elak Kyuhyun.

“lah tadi buktinya, saling tatap-tatapan mata begitu. Itu namanya bukan pacaran? Hyung, kalo Cuma mau bikin aku iri, mending Hyung mengaku menang sekarang aja deh.”

“maksudmu?” tanya Kyuhyun tak mengerti dengan omongan kembarannya itu. Jujur, aku pun tak mengerti dengan omongannya Kyuhan itu.

“ya Hyung kalo mau pacaran sama Hyesun noona jangan di hadapanku! Aku belum bisa nyaingin kalian, karena aku belum punya gebetan. Nah, kalo soal aku iri, memang aku iri dengan Hyung. Hyung itu udah punya pacar, sedangkan aku? Belum. Nah maka dari maka, sekarang Hyung boleh menang membuatku iri, tapi kalau aku sudah punya pacar, liat saja nanti.” Jelas Kyuhan.

“oh jadi kau iri denganku? Begitu?” ucap Kyuhyun yang mulai mengerti dengan penjelasan Kyuhan. Kyuhan pun mengangguk.

“hahaha, tenang saja Kyuhan-ah, kau ini kan tampan, sama sepertiku, gak bakal susah deh nyari cewek.” Sambung Kyuhyun dengan kata-kata ‘pede’nya itu.

“mwo? Apa kau bilang barusan? Kau tampan?” tanyaku pada Kyuhyun.

“iya, aku tampan.” Jawabnya bangga.

“huh? Terlalu pede Kyuhyun-ah.” Sahutku ketus.

“terlalu pede? Maksudmu apa chagi-ya?” kata Kyuhyun sedikit tidak terima.

“ya kau terlalu pede, kalau kau sendiri bilang dirimu itu tampan. Mana buktinya?”

“kau mau bukti? Semua bukti sudah jelas chagi-ya. aku punya satu bukti, dan bukti itu sangat kuat.” Jawab Kyuhyun dengan yakinnya.

“satu bukti yang sangat kuat? Apa?” tanyaku penasaran.

“ya kamulah. Kamu mau jadi yeojachinguku, itu membuktikan kalau aku tampan. Coba aku tidak tampan.?  mungkin kau tidak mau menjadi yeojachingu. Ya kan chagi-ya?” ledeknya sambil mendekatkan wajahnya ke  wajahku.

Aduh! Aku malu banget dia bilang kaya gitu! Kya!! Cho Kyuhyun… awas saja kau. Jangan sampe pipiku merah. Bisa diledekin aku!

Aku mendorong tubuhnya agar wajahnya menjauh dari wajahku, “ah, itu hanya takdir saja Kyuhyun-ah. Tuhan mentakdirkan kita untuk bersama. Bukannya karena wajahmu yang tampan.” Timpalku sambil menjulurkan lidah.

“aigo-ya. hyung, noona, sudah lah jangan berdebat. Nih makan dan minumnya sudah datang.” Ucap Kyuhan yang menyadarkan bahwa makanan dan minumannya sudah datang di meja kami. Saking hebatnya berdebat, aku dan Kyuhyun tak menyadari bahwa pesanan kami sudah datang.

“ini silahkan dinikmati.” Ujar pelayan itu setelah meletakan semua pesanan kami di meja.

“gamsahamnida.” Sahutku, Kyuhan, dan Kyuhyun kompak. Pelayan itu pun mengangguk dan tersenyum. Lalu pergi meninggalkan meja kami.

“akhirnya! Mari makan!” ujar Kyuhan bersedia menyantap makanan yang ada di hadapan kami. Kami bertiga pun makan siang dengan lahapnya.

**

Setelah makan siang, entah angin dari mana, Kyuhyun memintaku untuk menemaninya bermain di timezone :D

“chagi-ya, temani aku ke timezone yu!” rengek Kyuhyun sambil menggelayutkan tangannya manja di lenganku. Sekarang kami sudah selesai makan. Kami pun sudah berjalan-jalan mengitari seluruh seluk beluk isi mall ini. Memang mall ini sangatlah bagus, tak heran jika banyak pengunjung yang datang ke sini.

“ke timezone? Kyuhyun-ah, kau tak lagi demam kan?” tanyaku sambil meletakkan punggung tanganku di dahinya. Khawatir dia sedang sakit. Umm, tidak panas. Tapi kenapa anak ini tiba-tiba minta main ke timezone? Padahal timezone kan gak ada dalam jadwal rencana (?)

“aish, kau ini.” Katanya sambil menyingkirkan tanganku, “aku tak lagi sakit. Aku sehat. Sehat wal afiat.”

“terus kenapa minta aku buat nemenin ke timezone?”

“iya nih Hyung, kaya anak kecil saja.” Tambah Kyuhan.

“aku pengen main saja. Tapi berdua dengan Hyesun. Tidak dengan kau, Kyuhan-ah.” Cibir Kyuhyun.

Kyuhan menatap Kyuhyun tajam, “oh begitu, jadi Hyung ingin bermain dengan Hyesun noona tanpa aku? Baik. tidak masalah. Tapi jangan salahkan aku jika nanti di rumah aku membuang PSPmu.” Ancamnya

“membuang PSP? Silahkan saja. Kau mau membuang PSPku yang ada di rumah, sementara aku sudah membeli yang baru.” Jawab Kyuhyun santai sambil menunjukkan kantong yang berisi PSP yang baru dibelinya itu.

“oh iya ya. ya tapi gak masalah. Hyung kan membeli PSP baru agar PSP Hyung itu ada dua kan? Nanti yang di rumah ku buang, biar PSP Hyung hanya satu.”

“silahkan Kyuhan-ku sayang. Terserah. Kau mau membuang PSPku kek. Mau bakar PSP-ku kek. Mau banting PSPku kek. No problem. Tapi itu semua bakalan sia-sia. Karena apa? Karena PSP itu sudah rusak. Hahahahahaha.” Tawa Kyuhyun puas.

Kyuhan mendecak, “hah, memang benar ya, Hyung itu pintar.” Puji Kyuhan sambil tersenyum memaksa.

“ya jelas dong, Cho Kyuhyun!!” Kyuhyun membanggakan dirinya sambil menepuk dadanya sendiri.

“yasudahlah Hyung, terserah kau saja mau berbuat apa. Mau bunuh diri apa mau gimana, aku capek Hyung berdebat denganmu. Lagian hari juga sudah mau sore, kalau kau dimarahi eomma, aku gak mau nanggung.” Kata Kyuhan pasrah pada akhirnya menghadapi Kyuhyun. Sementara aku yang melihat pertengkaran kecil mereka, hanya tertawa geli saja.

“yasudah. Mana kunci mobil?” tanya Kyuhyun menengadahkan tangannya, meminta kunci mobil dari Kyuhan.

“mwo? Kunci mobil?”

“iya. Kau pulang naik bus saja, atau gak naik taxi!”

“HYUNG!!!!!”

“wae? Aku di sini Kyuhan-ah. Tak usah memanggilku sambil berteriak-teriak seperti itu. Aku gak budek.”

Kyuhan mengambil napas dalam-dalam, pasrah menghadapi Hyungnya ini, “ne, baiklah. Ini kuncinya.” Akhirnya Kyuhan memberikan kunci mobil pada Kyuhyun.

Tiba-tiba, Kyuhan balik menengadahkan tangannya pada Kyuhyun.

“ngapain?” tanya Kyuhyun setelah memasukkan kunci mobil ke dalam saku celananya.

“minta uang lah Hyung. Mau ngapain lagi.” Jawab Kyuhan santai sambil terus memberikan posisi tangannya seperti orang ‘minta-minta’ itu, hehe.

“uang? Buat apa?”

“ya tadi katanya aku disuruh pulang baik bus atau taxi. Makanya aku minta uang pada Hyung-ku yang maniak game ini.” Jawabnya sambil menekankan kata-kata maniak game.

“pake uang sendiri kenapa sih? Kere gak punya uang?” hina Kyuhyun.

Aduh! Sumpah demi apapun. Aku pengen banget ketawa jerit-jerit ngeliat mereka adu mulut ini.

“bukan kere, tapi miskin. Udah sini buruan kasih aku uang. Atau aku tetep ikut kalian ke timezone!” Kyuhan mengancam Kyuhyun LAGI.

“huh, yasudahlah. Nih.” Akhirnya Kyuhyun memberikan Kyuhan uang untuk pulang dengan bus atau taxi. Terserah Kyuhan mau naik apa :O

“wahaha, gomawoyo Hyungku yang paling ku sayangi ini. Terimakasih kembaranku yang paling jelek ini, wahahahaha!” kata Kyuhan sambil lari menjauh dari kami.

“yak! Awas kau di rumah!”

Akhirnya Kyuhan pun pulang. Sendiri. Entah naik bus atau taxi. Atau mungkin ngesot, wahahaha :D

“wahahahaha!” akhirnya tawaku meledak-ledak.

Kyuhyun menoleh ke arahku, “chagi, kau kenapa? Sakit ya?” tanyanya dengan wajah khawatir.

“hahahaha, sumpah demi apapun Kyu. Kau dan Kyuhan itu tadi lucu sekali, hahaha” kataku masih tak bisa mengontrol tawaku.

“lucu? Lucu apanya?” tanyanya sekali lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sama sekali.

Aku mulai mengatur tawaku. Huft~ hana, dul, set. Yeah! Aku bisa menghentikan tawaku, “tadi kalian berdua tuh lucu. Sama-sama kembaran kok berantem kaya gitu. Udah gitu saling sindir-menyindir lah. Hina-mehina lah. Benar-benar kembaran yang aneh.” Jelasku.

“ooh itu. Itu sudah biasa aku bertengkar seperti itu dengan Kyuhan. Bahkan di rumah bisa lebih dari itu. Kau mau liat?” tawarnya.

“tidak, terimakasih. Liat yang tadi aja udah bikin perutku sakit, gimana liat yang lebih?!”

“haha. Yaudah, ayok chagi kita ke timezone. Pengen main nih. Kajja.” Dia menggeret tanganku. Masuk ke dalam timezone.

 

Aku dan Kyuhyun sudah berada di dalam timezone.

“nah chagi-ya, kau tunggu di sini dulu. Aku mau beli koinnya dulu ya.” ucapnya.

“loh? Kenapa harus pake koin? Gaul dong Kyuhyun-ah, sekarang udah gak zaman pake koin, pake kartu yang isi ulang kan bisa.”

“nde aku tau, aku gak norak. Tapi pake itu boros. Kalo mau irit, ya pake koin aja.”

“hh, ya sudahlah, terserah kau saja.”

“okeoke. Aku beli koinnya dulu ya sayang.. jangan ke mana-mana! Tunggu di sini.” Cup~ dia mencium pipiku singkat sebelum akhirnya pergi untuk membeli koin.

Kya! Apa yang dilakukannya tadi? Ini tempat umum. Kyuhyun pabo!! Tuh kan orang-orang ngeliatin aku lagi. Errr -__-

Tak lama kemudian, Kyuhyun datang lagi dengan sejumlah koin di tangannya. Jujur! Aku sedikit ngambek dengannya.

“chagi, kok mukanya dilipet gitu? Kaya kertas dong.”

“ih! Kamu tuh ya!” kataku sambil mencubit kedua pipinya kencang.

“yak, apeuda Hyesun-ah!! Apa-apan sih?”

“kau yang apa-apan Kyuhyun-ah. Ngapain tadi kau mencium pipiku sembarangan? Ini tempat umum pabo!”

“hehe, gak papa lah.” Jawabnya sambil nyengar-nyengir gaje.

“mwo? Gak papa? Aku tadi diliatin pabo! Udah cukup pas jalan dengan kau dan Kyuhan aku diliatin. Sekarang aku diliatin lagi. Liat tuh, semuanya masih memandang kita.” Ucapku pada Kyuhyun. Ya. memang benar. Orang-orang masih melihat ke arahku dan Kyuhyun.

“udahlah chagi, gak usah dihiraukan. Mereka itu hanya kurang kerjaan aja.”

Aku menarik napas panjang. Mengehembuskannya secara perlahan. Okey, memang benar apa yang dikatakan Kyuhyun, aku gak usah menghiraukan mereka. Tidak usah menghiraukan tatapan mereka.

“huft, oke, baiklah aku tak akan menghiraukan mereka. Mau main gak?”

“ya jelas dong. Kajja.” Ajaknya sambil menarik tanganku. Aku hanya mengikutinya pasrah.

Dia menarikku ke tempat permainan pertama. Kalian tau? Dia mengajakku bermain basket. Tau kan yang basket di timezone? Kalo gak tau, berarti gak pernah ke timezone :D

“kita main basket. Gimana? Mau taruhan?” ajaknya.

“mwo? Taruhan? Taruhan apa? Gak liat kamu bawa kantong isinya PSP aku juga bawa kantong isinya buku?”

“gak papa. Kamu bawa tas, aku juga bawa tas, tinggal masukkin aja ke tas. Gampang kan?” jawabnya enteng sambil memeasukkan kantong belanjaannya ke dalam tasnya. Ya terpaksa aku juga mengikuti jejaknya ini.

“ya ya. terus sekarang mau apa?” tanyaku meladeninya.

“mau nguras bak mandi. Ya mau main lah chagi. Gimana sih, gitu aja masih nanya.”

“baiklah, Kyuhyunku sayang. Mau taruhan apa tadi?”

“hmm, taruhannya gimana ya yang enak?”

“yah gimana sih, kamu yang ngajak taruhan, masa bingung sendiri?!!”

“yaudahlah, gak jadi. Hehe.” Katanya sambil cengar-cengir. Memasang wajah tanpa dosa.

“huft! Capek deh.” sahutku sambil menepuk jidat, “terus sekarang tetap mau main basket?” sambungku.

“iya. Ayo mainan!” lalu dia pun memasukkan koinnya. Tak lama kemudian, bola basket pun turun. Tau kan maksudnya turun itu? :P

Aku dan Kyuhyun pun langsung memainkannya. Berusaha memasukkan bola ke dalam ring sebanyak-banyaknya agar mendapat tiket yang banyak juga :D

“ahahah, Kyu! Kau tak boleh memasukkan bola itu. Biar aku saja!” kataku sambil rebutan mengambil bola dan memasukkannya ke dalam ring.

“kau yang tak boleh memasukkan bola!” sahutnya. Kami sangat menikmati permainan bola basket ini. Aku sungguh senang. Sangat senang! Kami berdua tertawa bersama saat bermain bola basket. Hingga tak terasa permainan pun selesai.

“yah selesai!” gerutu Kyuhyun.

“haha, kita coba permainan lain saja Kyuhyun-ah. Arra?” saranku.

“nde arraseo. Kajja.” Ajaknya. Dia menarikku ke sebuah permainan.

Di permainan itu tertera tulisan ‘dance dance revolution’. Tau gak permainan apa itu? Itu loh permainan yang bisa melatih gerakan kaki dan sinkronisasi tubuh untuk menyesuaikan hentakan kaki dengan irama lagu. untuk lagunya, bisa pilih sendiri sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

“kita main ini aja yu!” ajaknya sambil memasang tampang aegyo.

“mainan ini?” tanyaku cengo sambil menunjuk permainan itu.

“iya. Kita dance. Arra?”

Aku menghela napas pasrah, “oke, arraseo.” Jawabku pada akhirnya.

Kami menaiki permainan itu. Kyuhyun memasukkan koinnya. Setelah itu, dia kebingungan untuk memilih lagu apa.

“Hyesun-ah, lagunya yang mana nih?” tanyanya sambil mengutak-ngatik memilih lagu.

“terserah kau saja Kyuhyun-ah. Asalkan nadanya jangan yang cepat-cepat. Aku belum mahir bermain ini.”

“arraseo, aku tau itu, aku juga belum mahir.”

Akhirnya dia pun memilih lagu yang, hmm bisa dibilang cocok untuk kemampuan kami berdua. Nadanya tidak terlalu cepat, tetapi tidak terlalu pelan juga.

Lagu mulai mengalun, kami memperhatikan layar, memperhatikan setiap tanda panah yang muncul di layar. Kami menginjak-nginjak panah. Menginjak sesuai dengan panah yang ada di layar.

Tak terasa, permainan pun selesai. Aku dan Kyuhyun lekas turun dari permainan itu.

Lalu kami pun mencoba permainan yang lain hingga aku merasa sedikit lelah.

 

“sekarang kita mau main apa chagi-ya?” tanya Kyuhyun. Kami berjalan menelusuri tempat permainan. Setelah mencoba beberapa permainan yang lain.

“hmm, aku capek Kyu-ah kalau bermain. Kita sudah bermain banyak. Bagaimana kalau kita karokean saja?”

“karokean? Wah, ide bagus tuh. Kajja!”, kami pun menuju tempat karokean.

Sebelum itu, kami memilih lagu apa yang akan kami nyanyikan nantinya.

Diliat dari gerak-gerik Kyu, sepertinya dia antusias sekali diajak karokean.

“hmm, Kyuhyun-ah, kau begitu tampak antusias ku ajak karokean. Ada apa?” tanyaku padanya yang tengah memilih-milih lagu.

Dia menoleh ke  arahku, lalu tersenyum, “kau tau kenapa aku begitu antusias menerima ajakanmu untuk karokean?”

“nde. Memangnya kenapa?”

“ada aja. Nanti kau juga akan tau sendiri.” Jawabnya sambil tersenyum evil.

Yak! Cho Kyuhyun. Sekarang dia sudah berani bermain sembunyi-sembunyian denganku -,-

Setelah terasa cukup untuk memilih lagu, kami pun masuk ke dalam box tempat karokean.

Kami memasukkan koin yang khusus untuk karokean. Dan menekan tombol-tombol untuk memasukkan kode judul lagu.

Ku rasa Kyuhyun akan menyanyikan banyak lagu, eh tapi tak tahu juga… aku yang mengajaknya untuk karokean, tapi dia yang antusias menerimanya. sedangkan aku? Aku hanya mengikutinya saja. Ya anggap saja aku buntutnya Kyuhyun.

Setelah Kyuhyun menekan tombol memasukkan kode judul lagu, tiba-tiba lampu besar pun mati dan kemudian berganti dengan lampu kecil, lampu seperti lampu di diskotik.

“Kyuhyun-ah, kau ingin menyanyi?” tanyaku saat dia duduk di sampingku sambil memegang dua buah micropone.

“nde, ini satu untukmu.” katanya sambil menyerahkan salah satu micropone. Tapi aku menggeleng. Menolak pemberiannya itu.

“ania Kyuhyun-ah. Kau saja yang menyanyi.”

“kenapa chagi-ya? kau kan tadi yang mengusulkan ke sini?”

“iya, memang aku yang mengusulkan ke sini, tapi kau saja yang bernyanyi.”

“iya tapi kenapa chagi-ya? kau tak mau bernyanyi? Kau tak mau bersenang-senang denganku hari ini?” tanyanya dengan wajah lesu.

“ania, aku ingin kau bernyanyi. Itu saja yang aku ingin. Bernyanyilah untukku Kyuhyun-ah!” pintaku dengan nada lembut sambil menatap mata indahnya itu.

“k-kau ingin aku bernyanyi untukmu?”

“nde, bernyanyilah untukku! Sudah lama kau tak bernyanyi untukku!”

“haha, tenang saja chagi-ya, tanpa kau suruh, aku akan bernyanyi untukmu. itu sebabnya, mengapa aku sangat antusias menerima usulanmu.” Sambil meletakkan salah satu micropone ke tempatnya.

Oh itu sebabnya dia sangat antusias menerima usulanku. So sweet banget Kyuhyunku, hehe :*

“baiklah, sekarang cepat, bernyanyilah untukku!” dia pun mengangguk, tersenyum.

Tak lama kemudian, nada-nada lagu pun mengalun dengan indahnya.

Kyuhyun mulai bernyanyi. Dia sangat menghayati lagu itu.

Dia sesekali melihat ke arah layar, untuk membaca text lagu itu. Sesekali juga melihat ke arahku sambil tersenyum dalam nyanyiannya.

Aku memandanginya dengan takjub. Suaranya sungguh menawan. Sungguh, namja yang sempurna di mataku. Aku bersyukur telah berhasil memilikinya. Telah berhasil menaklukkan hatinya. Aku sangat senang, kalau diriku ada di hatinya.

Sekarang Kyuhyun bernyanyi sambil menghadap ke arahku. Kini kami pun saling berhadap-hadapan. Dia menatap mataku, aku pun demikian.

Menatap matanya? Ya, itulah salah satu kebiasaanku pada Kyuhyun. Aku senang menatap mata indahnya itu. Dia bernyanyi, seolah-olah arti lagu itu hanya untukku seorang.

Kami saling mandang memandang, sampai tak terasa lagu pun sudah selesai dinyanyikan olehnya.

Aku mengerjap sekali, “lagunya sudah selesai?” tanyaku sambil memiringkan kepala sedikit.

“nde. Bagaimana, kau suka?” ucapnya sambil meletakkan micropone pada tempatnya.

“sangat suka. Suaramu sungguh sangat indah Kyuhyun-ah. Aku tak tau harus bilang apa mengenai suaramu.”

“haha, suaraku memang bagus. Itu lah takdir Tuhan untukku. Ada lagi takdir Tuhan yang diberikan untukku.”

“apa itu..?”

“kau!” jawabnya singkat, sambil memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya.

“aku? Kenapa harus aku Kyuhyun-ah?”

“ya kaulah takdir Tuhan untukku. Aku bahagia memilikimu chagi-ya. aku bersyukur memilikimu chagi-ya. aku bahagia kau ada di hatiku chagi-ya. aku bersyukur. Sangat bersyukur.”

“aku juga sangat bahagia bisa memilikimu.” Dia menarik wajahku mendekat ke wajahnya, kemudian dia mencium keningku lembut.

“saranghae.” Bisiknya di telingaku, setelah mencium keningku.

“nado Kyuhyun-ah.” Jawabku. Lalu dia pun melepaskan tangannya yang tadi memegang kedua pipiku.

“mau pulang?” tanyanya tiba-tiba.

“Ya. hari sepertinya sudah  sore. Bahkan sepertinya sudah hampir malam Kita pulang saja.” Dia pun membalas perkataanku dengan senyuman khasnya itu.

Lalu kami pun keluar dari box karokean. Kami berjalan menuju pintu keluar mall. Tetapi tiba-tiba, ketika kami melewati tempat pembelian ice krim, aku menginginkan untuk membeli ice krim.

“Kyuhyun-ah, aku ingin ice krim itu.” Kataku sambil menunjuk tempat ice krim.

“kau mau ice krim?” tanyanya menoleh ke arahku.

“iya. Maukah kau membelikan aku ice krim?” ucapku manja sambil menggelayutkan tanganku di lengannya.

“dasar, kau ini manja sekali.” Katanya sambil mengacak-ngacak rambutku, “baiklah aku akan membelikannya.” Sambungnya.

“oke.”

“kau tunggu di sini ya.” pesannya. Aku mengangguk. Kemudian dia pun berjalan menuju tempat ice krim itu.

Tak lama kemudian, Kyuhyun datang menghampiriku dengan satu buah ice krim di tangannya.

“ini untukmu.” ucapnya sambil memberikan ice krim padaku.

Aku mengambil ice krim itu dari tangannya, “gomawoyo Kyuhyun-ah. Ohya, kau tak membelinya juga?”

“ani, aku hanya ingin membelikannya untukmu saja.” Jawabnya sambil tersenyum.

“gomawo Kyuhyun-ah.”

“cheonman. Kajja kita pulang.” Ajaknya sambil menggandeng tanganku. Tapi ketika kami ingin melangkah pulang, kami mendengar panggilan seseorang. Orang itu memanggil Kyuhyun.

“Kyuhyun Hyung!” panggil orang itu. Kami berbalik arah. Dan ternyata orang itu adalah…….

 

Kyuhan POV

Kalian tau, sebenarnya aku tak langsung pulang ke rumah saat tadi Kyuhyun Hyung bilang kalau dia ingin bermain di timezone dengan Hyesun noona tanpaku.

Ya aku pahami itu. Mungkin Hyung ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Hyesun noona.

Sebenernya aku juga bingung mau ngapain di mall ini. Bingung ingin membeli apa.

Aku memang kembaran yang licik, hehe :D disuruh Hyungku pulang, tetapi aku tidak langsung pulang. Habis kalau aku pulang, pastilah aku tidak ada kerjaan di rumah. Yang ada hanya menonton televisi. Yah, membosankan.

Hari sudah sore. Bahkan langit sudah menunjukka tanda-tanda akan malam. Aku berniat untuk segera pulang. Kalau bertemu Hyung dan Hyesun noona, aku masih bisa ikut bersama naik mobil, kalau tidak, ya terpaksa aku harus naik bus.

Tapi ketika aku sampai di toko ice krim, aku melihat dua sosok yang sangat aku kenal.

Ya. mereka Kyuhyun Hyung dan Hyesun noona.

Ahir, ini kesempatan yang baik. aku tak perlu repot-repot naik bus untuk pulang. Lagian uang yang Kyuhyun Hyung beri tadi tidak ku pakai sama sekali.

“Kyuhyun Hyung.!” Panggilku sambil menghampiri mereka.

Mereka berbalik, dan melihat bahwa aku lah orang yang memanggil nama ‘Kyuhyun Hyung’.

Dari ekspresi wajah mereka, terlihat sekali mereka kaget dengan kedatanganku.

“KAU?!” tanya mereka berdua kompak saat aku sudah bersama mereka.

“hehe, waeyo? Kalian kaget?” tanyaku sambil tertawa kecil.

“yak, katanya tadi kau pulang, kenapa masih di sini?” sewot Kyuhyun Hyung.

“nyante Hyung.” Ucapku menenangkannya. “ya aku memang tadinya ingin pulang, tapi setelah ku pikir-pikir, kalau aku pulang, aku bingung harus ngapain di rumah. Pasti aku tidak punya kerjaan di rumah. Makanya ku putuskan untuk tetap berada di mall ini.” Sambungku menjelaskan.

“kau di sini, dengan siapa dan ngapain?” kini Hyesun noona bertanya padaku sambil menikmati ice krim yang ku yakin itu pembelian dari Kyuhyun Hyung.

“aku hanya jalan-jalan kurang kerjaan noona. Aku bingung mau ngapain. Ya setidaknya bingungku di sini tidak akan separah bingungku kalau tadi aku pulang lebih awal.” Jawabku sambil berkacak pinggang.

“lalu uang yang tadi ku berikan?” sela Kyuhyun Hyung.

“tidak ku pakai. Hyung tenang saja.”

“yasudah sini berikan padaku lagi!”

“eits, ania Hyung. Kata orang, kalau sudah memberikan sesuatu pada orang lain, tidak boleh diminta lagi loh..”

“mwo? Memangnya kenapa?!”

“ya tidak boleh saja. Jadi uang yang Hyung berikan tadi, tak boleh dikembalikan pada pemiliknya lagi. Karena sudah syah menjadi milikku, haha” tawaku puas.

“err, kau ini..” geramnya.

“yasudahlah, Kyuhyun-ah, relakan saja uangmu itu. Lagian uang yang kau berikan pada Kyuhan itu tidak banyak kok.” Hyesun noona meyakinkan Hyung.

“iya Hyung, lagian uang yang Hyung beri padaku tidak seberapa dengan Hyung mengeluarkan uang untuk membeli PSP.” Seruku.

“hmm, yasudahlah, terserah kau saja.” Ucapnya sambil mengacak-ngacak rambutnya. Frustasi kali punya kembaran kaya aku, hehe.

“hoho. Peace ya Hyung!” kataku sambil membentuk huruf V dengan jariku..

“yasudah, kita pulang, hari sudah hampir malam.” Ajak Kyuhyun kemudian.

“kajja!” sahutku dan Hyesun noona bersamaan.

Kami berjalan menuju pintu ‘exit’ mall ini.

Hyesun noona berjalan sambil masih menikmati ice krim yang ada di tangannya itu.

Ketika kami sudah berada di tempat parkir mobil, barulah ice krim yang dinikmati oleh Hyesun noona itu habis. Noona, hebat. Makan ice krimnya cepet banget.

“Kyuhan-ah, kau yang menyetir. Nih kuncinya.” Ucap Kyuhyun Hyung sambil melemparkan kunci mobil kepadaku. Hap! Aku menangkapnya sempurna :D

“yah Hyung, aku lagi yang menyetir.” Keluhku.

“iya, salah sendiri tadi gak pulang.  Yaudah, aku males nyetir. Kau saja. Masuk chagi.” Suruh Kyuhyun Hyung pada Hyesun noona. Sesuai perjanjian tadi, Kyuhyun Hyung duduk di depan, tepatnya di sebelahku. Dan Hyesun noona duduk sendiri di belakang.

Aku masih berdiri di luar mobil. Belum masuk ke dalam. Agak menjengkelkan juga sih dengan sikap Kyuhyun Hyung yang selalu seenak jidat nyuruh aku.

“hei, cepat masuk!” suruh Kyuhyun Hyung dari dalam mobil.

Aku mendecak, “baiklah.” Akhirnya aku pun masuk ke dalam mobil. Bersiap-siap untuk menjadi sopir kembali. Lebih tepatnya, sopir pribadi Cho Kyuhyun. Memang, tidak setiap kami berdua naik mobil selalu aku yang menjadi sopir. Tapi hari ini, Kyuhyun Hyung benar-benar sukses membuatku menjadi sopir pribadinya -_-

“hei bapak sopir, cepat nyalakan mobilnya. Kita pulang!” goda Kyuhyun Hyung. Okey! Dia mempermainkanku. Liat saja kau Hyung di rumah nanti.

“baiklah Tuan Cho Kyuhyun!” sindiriku. Yang disindir malah cengar-cengir gaje. Dan sekarang, Hyesun noona pun ikut-ikut tertawa kecil. Aish, mereka berdua menyebalkan.

Aku langsung menyalakan mesin mobil. Dan langsung tancap gas pergi meninggalkan mall itu.

 

Kyuhyun Hyung menyuruhku untuk mengendarai mobil menuju rumah Hyesun noona. Oke! Aku nurut-_- sebagai Dongsaeng yang baik, aku harus nurut :D

Jarak dari mall menuju rumah Hyesun noona memang bisa dibilang cukup jauh.

Aku menghentikan mobil ini tepat di depan rumah Hyesun noona.

Hyesun noona turun dari mobil, Kyuhyun Hyung membuka kaca mobil,

“gomawo Kyuhyun-ah, Kyuhan-ah sudah mau mengantarku.” Katanya.

“cheonmaneyo.” Jawabku dan Kyuhyun-Hyung kompak.

Hyesun noona terkekeh, “dasar anak kembar.”

“memangnya kalau kita anak kembar, kenapa noona?” tanyaku tiba-tiba.

“gak papa, hanya lucu saja. Hmm, baiklah aku masuk dulu. Kalian hati-hati di jalan. Kyuhan-ah, jangan membawa mobil terlalu ngebut ya. sudah malam. Walaupun masih jam tujuh, tapi ini sudah termasuk malam.” Hyesun noona mengingatkanku.

“iya noona, aku tau itu.” Sahutku sambil mengedipkan sebelah mata. Sebenernya pacarnya Hyesun noona itu aku atau Kyuhyun-Hyung sih? Kok yang ngobrol sama Hyesun noona aku terus? ._. tapi anehnya Hyung gak marah sama sekali.

“hmm, chagi-ya, hati-hati ya.” kini Hyesun noona berbicara pada Kyuhyun-Hyung.

“iya chagi-ya. kau tenang saja.” Jawab Kyuhyun-Hyung sambil tersenyum.

“baiklah, aku masuk dulu.” Ucapnya. Aku dan Kyuhyun-Hyung pun mengangguk.

Hyesun noona pun lantas masuk. Aku belum menjalankan mobil, karena disuruh Kyuhyun-Hyung untuk menunggu Hyesun noona benar-benar masuk ke dalam rumah dengan selamat.

Setelah Hyesun noona benar-benar masuk ke dalam rumah, aku segera menancapkan ga melaju pergi meninggalkan rumah Hyesun noona.

Jalanan yang kami lewati cukup sepi. Padahal bisa dibilang waktu masih belum terlalu larut malam. Masih jam setengah delapan. Tapi mengapa jalanan sudah sepi?

“Kyuhan-ah, kita mampir ke caffee yang terdekat yu!” ucap Kyuhyun-Hyung tiba-tiba memecah keheningan.

“ke caffee Hyung? Mau ngapain?” tanyaku mengerutkan dahi.

“mau mancing. Ya mau makan lah. Kita minum kopi dulu bagaimana? Rasanya aku lelah sekali hari ini setelah bermain seharian dengan Hyesun, walaupun begitu aku tetap senang. Mau tidak? Aku yang traktir deh.”

“Hyung yang traktir? Baiklah kalau begitu, aku mau!” aku langsung menambah kecepatan laju mobil. Kyuhyun-Hyung hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Sesampainya di caffee kami segera menuju meja yang paling dekat dengan jendela.

Caffee ini tidak terlalu ramai, tetapi tidak terlalu sepi. Caffee ini merupakan caffee terdekat yang ada selama perjalanan pulang menuju rumah.

Setelah memesan dua cangkir kopi hangat, sambil menunggu pesanan datang, aku mengobrol-ngobrol sedikit dengan Kyuhyun-Hyung.

“Hyung, kau bangga ya memiliki Hyesun noona?” tanyaku tiba-tiba.

Kyuhyun-Hyung sedikit memiringkan kepalanya, bingung dengan pertanyaanku yang satu ini, “kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“tidak, hanya ingin tau saja. Ku lihat, sepertinya Hyung sangat bangga bisa memiliki Hyesun noona.” Kataku sambil melipat kedua tangan di atas meja.

“ah itu. Nde, aku memang bangga memiliki Hyesun. Waeyo?”

“gak papa Hyung.” Jawabku meyakinkan.

Pesanan kami pun datang. Pelayan itu meletakkan dua cangkir kopi hangat di hadapan kami masing-masing.

Setelah pelayan itu pergi, kami pun menyesap kopi masing-masing. Hangat dan enak rasanya.

Aku menoleh ke arah jendela. Sepi. Ya itulah kata yang bisa kuucap mengenai jalanan di luar caffee.

Aku pun tak tahu, mengapa jalanan sudah sunyi senyap seperti ini. Padahal, waktu belum terlalu larut malam.

“Hyung, mengapa jalanan sudah sangat sepi dari kendaraan, padahal malam belum larut?”

“entahlah Kyuhan-ah, aku juga tak tahu. Mungkin orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing.” Jawabnya sambil sesekali menyesap kopi.

“ohya Hyung, sejak dulu aku heran dengan perilaku Hyesun noona yang selalu menatap mata Hyung seperti itu. Apa Hyung tidak risih ditatap seperti itu?”

“entahlah, aku pun tak tahu. Awalnya memang aku risih ditatap seperti itu. Tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan perilakunya yang satu itu.”

“memangnya alasan apa yang membuat Hyesun noona berperilaku seperti itu?” tanyaku heran.

“entahlah” jawabnya sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja, “aku pun tak tahu, jika aku bertanya, dia selalu menjawab, bahwa mataku itu adalah karunia terindah yang Tuhan berikan untukku.” Sambungnya.

“mwo? Hanya itu? Hmm, menurutku sepertinya itu bukan alasannya Hyung.” Curigaku.

“entahlah, aku pun tak tahu.”

“sepertinya ada yang disembunyikan. Hmm, apakah Hyesun noona tau perbedaan kita?” selidikku.

“aduh Kyuhan-ah, aku tak tahu juga masalah yang satu itu. Mungkin tau. Dia tau dari kebiasaan kita yang berbeda. Mungkin ia tahu kalau Kyuhyun itu yang suka bermain PSP dan mengerjakan soal matematika, sedangkan Kyuhan yang gemar bermain basket.”

“maksudku, ketika kita sedang jejeran berdua. Dengan pakaian yang sama. Apakah ia bisa membedakan kita?”

“entahlah aku tak tahu itu. Dia tak pernah mengatakan hal-hal yang seperti itu padaku.”

“Oh begitu. Yasudahlah Hyung, lupakan pertanyaan-pertanyaanku tadi. Mianhae aku terlalu banyak menanyakan tentang Hyesun noona. Aku menanyakan itu karena aku punya alasan.”

“nde, gwaenchana Kyuhan-ah. Cepat habiskan kopinya, lalu kita segera pulang. Rasanya ingin sekali aku cepat-cepat berendam di air panas dan merebahkan diri di atas kasur.”

“baik Hyung.” Lalu kami berdua pun segera menghabiskan kopi kami masing-masing.

Setelah Kyuhyun-Hyung membayar di kasir, kami pun segera ke luar dari caffee itu. Entah angin dari mana, aku memegang kunci mobil dengan tangan sambil mengayun-ngayunkan tangan menuju mobil.

“yak Kyuhan-ah, kenapa mengayunkan-ngayunkan tanganmu seperti itu? Nanti kalau kunci mobilnya terlempar bagaimana?” protes Kyuhyun-Hyung.

“tenang saja Hyung, tidak akan.” Jawabku santai sambil terus mengayun-ngayunkan tangan.

Aku terus mengayun-ngayunkan tanganku. Setelah sampai di dekat mobil, tiba-tiba saja kunci mobil itu terlempar ke tengah jalan.

“benar kan apa ku bilang, sekarang kunci mobil ada di tengah jalan kan gara-gara ulahmu?! Kau seperti anak kecil Kyuhan-ah. Cepat ambil!” marah Kyuhyun-Hyung.

Aku menunduk lemas, menyesali perbuatan. “baik Hyung.” Lalu aku berjalan menuju jalan untuk mengambil kunci mobil itu.

Jalan terlihat sangat sepi. “ah kunci ini, kenapa kau mental sih?” gerutuku saat sudah dekat dengan kunci.

Saat aku menunduk hendak mengambil kunci mobil itu, tiba-tiba sebuah sorotan yang sangat silau membuat aku menyipitkan mata.

Aku menoleh, dan melihat sebuah mobil berlaju dengan cepat dan siap menabrakku sekarang ini juga.

Kakiku sangat kaku, tak bisa digerakkan sama sekali. Aku bangkit. Tapi kakiku sama sekali tak bisa digerakan.

Mobil itu semakin cepat kecepatannya. Dan semakin dekat denganku.

“Kyuhan-ah, awas!!!!” teriak seseorang memperingatiku.

BRAK!!!!!

Sebuah bunyi decitan mobil nyaring di telingaku. Aku pasrah dengan keadaan ini. Mungkin Tuhan sudah siap untuk mengambil nyawaku saat ini juga. Tapi………………..

-TBC-

Jangan lupa tinggalkan koment di FF ini yaa :D gomawo

 

One thought on “Difference Your Eyes

  1. Ommo jangan2 Kyu oppa td sempat menyelamatkan kembarannya Kyuhan.. penasaran sekali habis TBC sich.. Smg tdk terjadi hal2 yg parah pd si kembar, nanti bgmn nasib Hyesun kalau salah satu dr mereka kenapa2.. Ditunggu author lanjutannya.. gemas sekali membaca tingkah laku si kembar Kyuhyun oppa dan Kyuhaan di depan Hyesun tadi.. Daebak

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s