Secret of Life

CAST

:: Henry Lau

:: Zhoumi

:: Tan Hanggeng

:: Victoria

:: Kim Kibum (slight)

 

GENRE

:: Family :: Angst :: Tragedy

 

RATED

:: Aman

 

DESCLAIMER

:: All member’s SuperJunior (13ELIEFE to PROM15E) belongs to GOD, their PARENTS, SMENT, FanBase, and absolutely ELF. But this FanFict real belong to me ^^

 

Happy reading gurlsssss ;)::

 

::

Seorang namja duduk terisak di sebelah peti mati berwarna hitam gelap. Tak hentinya ia menangis sesegukan membuat para pelayat lain merasa iba. Bukan para pelayat itu tak ingin menghampiri namja tampan itu, hanya saja mereka takut jika namja itu tiba-tiba mengamuk dengan kondisi kalutnya sekarang.

 

Akhirnya ada satu pelayat yang memberanikan diri menghampiri namja yang masih sesegukan itu. Tangannya mengambang diudara, bimbang antara menyentuh atau tidak. Tapi tuHan memberikan jalannya, disentuhnya pundak namja yang sesegukan itu hingga ia menoleh horor menatap pelayat itu.

 

Sepersekian detik, namja yang masih menangis itu menatap aneh pelayat yang ternyata adalah seorang namja jangkung. Bukan, bukan karena namja yang menangis itu kerdil, hanya saja ia terlalu pendek untuk dibilang jangkung.

 

“Hentikan Tangismu….” titah menyebalkan menurut namja manis itu pun meluncur bebas dari namja jangkung. Senyum bak matahari pun tercetak sempurna di bibir tipis sang namja jangkung. Namja manis itu hanya diam, memandangi wajah namja jangkung yang sama sekali tak ia kenal. Namja jangkung itu merunduk, menyamakan posisinya agar bisa menatap manik hitam namja manis itu.

 

“Uljima, hentikan Tangisanmu..”

 

“Shireo! Siapa kau berani memberikan titah seperti itu padaku?” namja jangkung itu Hanya terkekeh geli mendengar jawaban namja manis itu, dan jangan lupa ekspresi menggemaskan dengan dua pipi nya yang sudah memerah atau lebih tepatnya menjadi merah muda.

 

“Namaku Zhoumi, mulai sekarang kita berteman ne?” namja tampan itupun mengulurkan Tangannya untuk bersalaman. Namun namja manis itu malah menyeritkan dahinya bingung dengan kelakuan namja jangkung, Zhoumi di hadapannya. Merasa diacuhkan, dengan bibir dipout Zhoumi dan dengan banyak paksaan meraih Tangan namja manis itu untuk digenggamnya.

 

“Dasar namja menyebalkan! Aku Henry”

 

“Haha menyebalkan tetap saja kau menyebutkan namamu kan?”

 

“Tetap saja dasar namja jangkung menyebalkan!” Zhoumi terkekeh untuk kedua kalinya melihat sikap kekanak-kanakan Henry dihadapannya. Di pikiran Henry, walaupun namja jangkung itu menyebalkan namun tetap saja ia bisa membuatnya berhenti menangis.

 

“Berarti kita sekarang temenan ne? Anggap saja aku gegemu Henry”

 

“Ne namja jangkung menyebalkan!” Jemari Henry pun meraih kelingking Zhoumi dan menautkannya. Sekilas, namja manis itu tersenyum walaupun tak ia tunjukkan langsung pada namja jangkung dihadapannya. Zhoumi dengan lembut mengelus puncak kepala Henry dan kembali mengeluarkan senyuman manisnya.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

Pagi itu hujan mengguyur kota seoul sudah lebih dari dua jam. Namja manis itu sudah mulai merasa bosan, jelas terlihat dari raut wajahnya yang beberapakali mendengus dan membuang tatapannya pada beberapa titik. Seorang namja jangkung daTang dengan keadaan basah dibagian mantel dan surai merahnya tepat dihadapan namja manis itu.

 

“Lama sekali kau daTang, tak tahu apa aku menunggumu sudah hampir setengah jam”

 

“Ah mianhe Henry, kau lihat sendiri bukan hujan diluar cukup kencang” bela namja jangkung itu seraya melepaskan mantel yang melekat ditubuhnya. Masih dengan wajah dibuat bosan, Henry mulai luluh saat melihat tetesan air jatuh dari surai merah Zhoumi.

 

“Ah sudahlah duduk, dan pesan saja minuman yang kau inginkan”

 

Zhoumi pun berjalan menuju seorang waiters dan memesan secangkir minuman panas. Tak lama ia kembali menghampiri Henry yang sedang menikmati coklat panas. Suasana sangat hening, Hanya senyuman-senyuman ambigu dari Zhoumi. Zhoumi menatap lekat wajah Henry, terlihat sedikit gurat kesediHan diwajah putih susu itu. Zhoumi mengerti mengapa namja manis dihadapannya yang sudah ia anggap dongsaengnya sendiri terlihat sedih. Ia juga tau apa dampaknya jika ia membicarakan ‘orang itu’ pada namja manis dihadapannya.

 

“Kau sudah selesai dengan coklatmu? Jika sudah ayo kita pergi pulang sebelum hujan semakin lebat”

 

“Gege baboya! Ini memang sudah lebat hujannya” Henry pun beranjak dari duduknya dan menatap tajam Zhoumi yang tertawa geli mendengar jawaban Henry. Bukan ia benar-benar bodoh, ia Hanya sedang membuat mood Henry kembali lagi. Keduanya pun berjalan di bawah payung hitam besar yang digenggam Zhoumi sebelum membayar bill minuman mereka kepada ahjussi penghuni kasir.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

“Hem sudah lama aku tak berkunjung ke sini. Sudah satu setengah tahun lebih rasanya aku rindu tempat ini” Seorang namja manis bersipuh di sebuah makam elit di pinggiran kota. Dengan sebuket bunga lily di genggaman Tangan kanannya, namja itu mengelus singkat nisan yang terTanam kokoh pada pangkal makam itu.

 

KIM KIBUM

21 Agustus 1987-15 June 2010

 

 

Itulah nama seorang namja yang terpampang jelas pada batu nisan berlatar belakang hitam pekat. Diletakkannya sebuket bunga lily itu tepat di badan makam yang sengaja ditumbuhi rerumpuTan halus bak dirawat setiap hari.

 

“Gege, Kibum-ge. Mianheyo baru daTang menjengukmu. Mianhe karena aku terlalu sering menghabiskan waktuku dengan namja jangkung menyebalkan itu. Mianhe yang sudah mulai mengabaikan dirimu” Setetes air mata pun jatuh telak melewati pipi cubby bagian kanan namja itu. Sengaja, ia tak menyekanya dan membiarkannya jatuh menetes. Malah ia berfikir tak rasional dengan membiarkan air maTanya datuh di pusara namja bernama Kim Kibum itu dan membuatnya hidup kembali.

 

“Gege kau tau? Aku sangat bahagia sekarang karena namja jangkung menyebalkan itu dapat menemaniku seperti dirimu dulu. Menjadi gege yang menjagaku dan melindungi diriku. Bedanya, dulu saat semua orang mengucilkanku kau menarikku untuk kau lindungi. Hanya itu perbedaannya gege!” Suara namja itu semakin bergetar saat kali ini ia tak membiarkan air maTanya meluncur bebas lagi.

 

“Gege, nama namja itu adalah Zhoumi-ge. Namja jangkung menyebalkan yang selalu menemani dongsaengmu setelah kau pergi satu setengah tahun lalu. Gege bisa melihat bukan baiknya namja jangkung menyebalkan itu? Aku merasa roh mu masuk kedalam raga namja itu, sama dengan sikap mu”

 

Sepersekian menit tak ada jawaban dari si penghuni makan, namja manis itu tersenyum getir meratapi nasibnya. Ditinggal oleh seorang namja yang sudah menemaninya selama lima tahun terakhir, sebagai seorang gege. Dengan embel-embel hepatitis, namja berparas tampan dan terkesan dingin itu pergi meninggalkan Henry tiba-tiba. Alasan itu sudah cukup membuat hati namja ringkih seperti Henry terluka.

 

“Kibum-ge, aku pulang dulu ne? Ini sudah sore dan aku harus kembali ke rumah sebelum Zhoumi-ge sibuk mencariku. Kau tenang saja ne disana, aku akan mengenalkannya padamuhsuatu hari nanti” Setelah mengelus puncak nisan hitam itu, Henry pun beranjak dari tempatnya dan berjalan pelan keluar dari kompleks makam. Sesekali ia menoleh kebelakang, menatap makam namja Kim itu. Walaupun sudah hampir satu setengah tahun, tetap saja hatinya belum bena-benar ikhlas dalam urusan kepergian namja Kim tersebut.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

Di sebuah ruangan berwallpaper merah marun, berdirilah dua orang berwajah oreantal di dekat jendela besar ruangan itu. Yang satu adalah seorang namja, dan satu lainnya adalah seorang yeoja. Keduanya diam, hanya saling memandangi seorang namja jangkung bersurai merah yang sedang duduk di taman luar ruangan itu. Pandangan yeoja itu sangat miris, air mata pun tertahan diujung mata coklatnya. Sementara sang namja, jangan ditanya ia juga hanya menunjukkan wajah getirnya pada sosok jangkung dihadapannya.

 

“Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika Henry tau keadaan Zhoumi sesungguhnya” suara parau menahan tangis pun terdengar dari yeoja itu. Sang namja yang berada tepat disampingnya mengalihkan pandangannya pada sang yeoja yang masih menatap lurus kedepan.

 

“Kita harus mempersiapkan semuanya vic, tak mungkin kita menyembuyikan masalah ini semakin lama bukan?”

 

“Tapi aku sungguh tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Henry saat mengetahui itu semua? Saat dulu kehilangan Kibum oppa saja ia sudah sepertinya raga tak bernyawa, bagaimana sekarang?” Suara yeoja yang dipanggil Vic itupun semakin parau karena menahan gejolak sedihnya. Sang namja di sampingnya pun dengan lembut membalikkan tubuh yeoja itu hingga keduanya berhadapan.

 

“Menangislah di pundakku atau kalau perlu menangislah di dadaku, jangan kau pendam lagi Vic aku tau bagaimana perasaanmu sekarang”

 

Bagai di hipnotis oleh perkataan namja dihadapannya, yeoja itu atau yang bernama Victoria langsung berhambur di pelukan namja itu dan mensejajarkan kepalanya di dada bidang namja itu. Akhirnya suara isakan itupun terdengar makin lama makin kencang hingga membuat gema di ruangan merah marun itu. Namja itu, Hanggeng hanya bisa membelai lembut puncuk kepala yeoja yang menangis di dadanya sambil sesekali mencuri pandang pada sosok namja jangkung bersurai merah yang masih betah duduk dipekarangan rumah.

 

Sementara sang namja jangkung bersurai merah dipekarangan rumah, sedang sibuk membaca sebuah novel. Entah novel jenis apa yang membuat si jangkung itu benar-benar serius. Terlihat jelas dari pandangannya yang tak berpaling dari buku itu walaupun hanya beberapa detik. Tak lama ia memberi sebuah pengganjal halaman buku itu dan menutupnya. Namja itu, Zhoumi memandang langit yang kebetulan sedang gelap berawan. Senyum sunshinenya pun ia keluarkan walaupun dengan raut wajah seperti menahan sesuatu.

 

“Bagaimana jika suatu saat aku tak dapat melihat pipi chubby mu? Ck, tak dapat ku bayangkan Henry”

 

Senyuman getir merubah senyuman sunshine itu tiba-tiba. Ada apa dengan namja dengan senyum seribu waat itu? Entahlah, hanya dirinya, Tuhan, dan mungkin kedua orang berwajah oriental didalam yang mengetahuinya.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

Salju, seberkas benda putih nan dingin yang dikirim Tuhan untuk umat manusia pada musim dingin seperti biasanya. Ini adalah tahun ke dua dimana Henry dan Zhoumi resmi menjadi seorang ‘gege’ dan ‘dongsaeng’. Ditahun pertama lalu, Henry selalu mengajak bermain perang salju dengan Zhoumi, Victoria dan tentu saja Hanggeng. Namun sepertinya musim dingin tahun ini akan menjadi sedikit berbeda untuk Henry dan ketiga orang lainnya. Dari beberapa hari yang lalu, Zhoumi pergi entah kemana tak memberikan kabar pada namja manis itu.

 

Henry berdiri di sebuah ruangan besar didalam rumah Hanggeng. Semenjak kepergian namja dingin itu, Zhoumi mengajaknya untuk tinggal bersama gegenya itu. Awalnya Henry merasa takut jikalau si empunya rumah tak menyukainya dan memberikan perlakuan tidak menyenangkan lagi padanya. Salah, perkiraan Henry salah besar! Karena si empunya rumah -Hanggerng dan Victoria sangat menerima kehadiran namja manis itu di rumah mereka.

 

Bermain biola, ya itulah yang sedang namja manis itu lakukan. Suasana yang hening, raut wajah yang datar, dan suara gesekan biola yang mengeluarkan nada kesedihan cukup membuat siapa saja yang mendengarnya bergidik ngeri. Permainan biola Henry makin keras namun tetap konsisten dengan nada sedih yang ia keluarkan. Entah karena bersemangat atau karena terlalu menghayati permainannya, senar biola itu pun putus melukai jari terlunjuknya hingga mengeluarkan cairan merah.

 

“Aishhh apa-apaan ini? Tumben sekali senar ini putus. Sshhhh” namja manis itupun menyeka cairan merah yang keluar dari telunjukknya menggunakan bibir tipisnya. Dan tiba-tiba saja hujan cukup kencang disertai dengan salju tumpah di bumi Seoul ini.

 

JEGERRRR~

 

“OMONA! Petirnya sangat kencang! Dan kenapa dengan perasaan ku ini? Neon eodi Zhoumi-ge?” Setetes air mata pun jatuh lagi dari manik coklat manja manis itu. Bukan, bukan karena suara petir ataupun karena jarinya yang terluka, namun ia menangis mencemaskan seorang namja yang sering ia panggil dengan ‘namja jangkung menyebalkan’.

 

“Jeongmal, aku kesepian ge. Tanpamu sungguh, aku merasa sendiri walaupun ada Victoria eonni dan Hanggeng-ge. Dorawa, cepat kembalilah gege. Hikss” Tak kuasa menahan gejolaknya, namja manis itupun jatuh lemas hingga kedua lututnya membentur lantai. Lagi lagi, air maTanya ia biarkan meluncur bebas membasahi pipi putih susunya menangisi seorang namja jangkung menyebalkan.

 

Seorang yeoja yang sedari tadi melihat keadaan terpuruk namja manis itu sungguh tak tega dan ingin segera memeluknya. Namun namja tampan dibelakangnya dengan sigap menahan bahu kekasihnya itu agar tak mendekat. Bukan, bukan karena ia cemburu jikalau kekasihnya berpaling ke namja manis itu. Namun ia yakin namja manis yang sedang menangis sesegukan itu butuh waktu sendiri dan mungkin hanya namja jangkung menyebalkan saja yang bisa membuatnya berhenti menangis.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

“Gege! Kenapa kau sangat menyebalkan dan baru sekarang kembali? Dan kenapa kau tak mengabarkan padaku kemana kau akan pergi eoh?! Kau tahu? Aku sangat mencemaskanmu gege baboya! Huh!”

 

“Hahaha, mianhe Henry aku ada urusan kantor kau tau bukan bisnis Hanggeng-ge sedang naik daun? Mau tak mau aku harus siap bolak balik Korea-China ne?” Bela namja jangkung itu seraya mengelus pelan surai hitam namja manis dihadapannya. Namja manis itu sepertinya tak puas dengan penjelasan namja jangkung itu, terbukti dengan bibirnya yang masih dipoutkan.

 

“Sudah Henry jangan kau marahi terus gegemu itu, dia kan baru pulang bagaimana kalo kau mengajaknya bermain saja atau makan bersama aku dan Hanggeng oppa ne?”

 

“Eonni, aku sebal dengan gege jangkung menyebalkan itu! Dia meninggalkan diriku tak meninggalkan pesan” Henry, namja manis itu masih mempoutkan bibirnya. “Gege, janji ne denganku jangan meninggalkan diriku Tanpa pesan lagi otte? Jika tidak kau akan benar-benar menjadi namja jangkung kelewat menyebalkan!”

 

“Hahaha ne nae Henry Lau tukang ngambek! Lain kali aku akan mengabarkannya denganmu. Kajja kita makan bareng Han-ge dan Victo”

 

Victoria dan Hanggeng hanya terkekeh melihat sikap kekanak-kanakan Henry. Sementara Zhoumi, tak berhenti tertawa sampai ia menerima deathglare mematikan dari Henry yang walaupun malah terkesan imut. Keempat orang berwajah oriental itupun duduk bersama di meja makan dan makan bersama santapan yang dibuat oleh koki Tan Hanggeng. Bukan, bukan karena satu-satunya yeoja dirumah itu tak bisa memasak, namun ia lebih mempercayai kekasihnya yang menjadi juru masak karena pasti rasanya akan jauh lebih lezat.

 

Setelah makan bersama, keempat orang berwajah oriental itu memutuskan pergi ke sebuah bukit untuk melepas penat. Sepanjang perjalanan, Henry diam memikirkan kenapa namja jangkung menyebalkan itu tidak pernah menyetir mobil kemanapun ia pergi. Pernah sekali Henry menanyakan soal itu pada Zhoumi, namun bukan jawaban yang ia tunggu melainkan hanya kekeHan kecil dan elusan lembut dari sang namja jangkung menyebalkan.

 

Dengan hembusan angin yang sejuk dan pemandangan rerumpuTan yang menjadi alasnya menyambut keempat orang berwajah oriental itu di sebuah bukit indah. Tak buang-buang waktu lagi, Victoria ditemani oleh Henry langsung melakukan aktifitas ritual mereka. Bukan, bukan seperti berdoa atau apa melainkan berselca ria menggunakan SLR yang dari berangkat menggantung di leher jenjang yeoja berwajah oriental tersebut. Sementara dua namja lainnya, hanya sesekali tersenyum memandangi tingkah namja manis dan yeoja cantik itu.

 

“Zhou….” Suara baritone namja tampan itu sukses mengalihkan pandangan namja jangkung hingga balas menatapnya.

 

“Ne, wae gurae Han-ge?”

 

“Sampai kapan kau akan membohonginya dan membuatku dan Victo masuk dalam skenariomu ini huh?”

 

Sekali lagi namja jangkung itu terkekeh mendengar perTanyaan konyol tapi masuk akal dari gegenya. Ia kembali memusatkan pandangannya pada namja manis yang masih berselca ria dengan seorang yeoja.

 

“Mollayo ge, aku tak tega melihat Henry mengetahuinya dan membuatnya sedih kembali. Kau tau sendiri perlu waktu cukup lama untuk membuat Henry bangkit dulu. Bantulah aku untuk sekarang, jebal Han-ge”

 

“Ne aku akan membantumu. Namun jika aku boleh memberi saran, katakanlah pada Henry sejujurnya sebelum kau membuatnya benar-benar sakit hati kedepannya Zhou”

 

“Ne ge aku pasti akan mengatakannya suatu saat nanti” Zhoumi mengangguk mantap dan sekali lagi ia keluarkan senyuman sunshinenya yang membuat hati Hanggeng miris. Bukan karena tak senang melihat namja jangkung dihadapannya tersenyum, malah ia tahu jika senyuman itu bukan senyum kebahagiaan melainkan senyuman keterpaksaan.

 

Setelah pembicaraan singkat antara dua namja China, Hanggeng memilih menghampiri Henry dan Victoria yang masih sibuk memenuhi memori SLR hitam itu. Terlihat Hanggeng membisiki sesuatu pada Henry, Henry mengangguk dan berjalan menuju Zhoumi. Namja jangkung itu menaiki alisnya sebelah, jujur ia penasaran dengan apa yang dibisiki namja China yang berbeda usia dua tahun dengannya. Henry langsung menempatkan dirinya tepat di samping Zhoumi yang diduduki oleh Hanggeng sebelumnya.

 

“Ada apa? Kenapa kau berhenti berselca ria dengan Victo? Apa Han-ge mengusirmu, Henry?”

 

“Aishh! Tidak ada yang mengusirku gege jangkung menyebalkan. Aku hanya lelah dan ingin duduk di dekatmu, kau tak suka eoh?”

 

“Hahah ne tentu saja boleh, sudah jangan mempoutkan bibir mu itu. Kau terlalu imut kau tau? Hehe”

 

Atas titah menyebalkan Zhoumi, akhirnya Henry mengakhiri mode agyeonya sebelum namja jangkung itu kembali bertitah untuknya. Henry menatap lekat wajah Zhoumi dari samping, dengan raHang yang tegas, hidung yang diatas rata-rata, wajah yang cukup tampan, dan tubuhnya yang jangkung bukannya tak mudah mendapat jenis yeoja manapun.

 

“Ge, kenapa gege tak mencari pacar? Pasti namja seperti gege dengan mudah mendapatkan yeoja manapun yang gege mau seperti Han-ge”

 

“Hahaha! Tak semudah itu Henry lau. Aku hanya saja belum mendapatkan yeoja yang ku ingini. Dulu aku sempat menyukai Victo, namun saat aku tahu Han-ge juga menyukainya maka aku lebih baik mengalah. Toh sekarang Victo lebih bahagia tentunya dengan Han-ge daripada dengan ku”

 

“MWO! Gege, pernah menyukai Victo eonni? Wahhh kau kurang beruntung ge. Ck”

 

Sekarang Henry yang tertawa puas saat mengetahui jalan cinta namja jangkung di sampingnya. Sementara Zhoumi, hanya mendengus kesal menyesali apa yang barusan ia bongkar hingga membuat namja manis disebalahnya tertawa hingga memegangi perutnya.

 

“Henry…”

 

“Eum…” Jawab Henry setelah sembuh dari tawa bahagianya. Wajahnya kembali serius saat menatap wajah namja jangkung di sebelahnya yang sudah menatapnya dalam

 

“Lusa aku dan Han-ge akan pergi ke China untuk beberapa hari. Kau baik-baik saja ne dengan Victo di rumah eum?”

 

Raut wajah namja manis itu sontak berubah tiga ratus enam puluh derajat berbanding terbalik saat ia mendengar cerita cinta tragis namja jangkung tadi. Wajahnya terlihat lesuh, namun sedikit memerah dibagian pipinya mungkin karena menahan marah.

 

“Pergi lagi? Apa gege sadar gege baru daTang hari ini dan lusa harus kembali pergi?! Cih, menyebalkan sekali, dasar namja jangkung kelewat menyebalkan!” Henry pun meninggalkan Zhoumi yang masih terpaku dengan Tanggapan Henry. Henry pergi menjauh menuju mobil Hanggeng yang terletak di bawah mobil. Sementara sepasang kekasih itu menatap namja jangkung itu tajam karena mengerti perginya Henry karena ulah namja jangkung itu.

 

“Mianhe, jeongmal mianhe Henry. Mianhe yang tak bisa jujur sekarang dan harus membohongimu lagi. Aku hanya tak bisa melihatmu terpuruk sekarang dan membuatmu membenci ku” Ucapan lirih namja jangkung itupun menghilang seiring hembusan angin bukit yang cukup besar.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

Namja manis itu dengan lesu masuk kedalam ruangan kelas tempatnya berkuliah. Sungguh, dari raut wajahnya terlihat kelesuan ataupun tak ada semangat hidup sepeser pun tercetak disana. Ia masih mengingat betul ucapan namja jangkung kemarin saat di bukit.

 

‘Mianhe, lusa aku dan Han-ge harus pergi ke China’

 

‘Mianhe, lusa aku dan Han-ge harus pergi ke China’

 

‘Mianhe, lusa aku dan Han-ge harus pergi ke China’

 

“Ayolah hilang dari pikiranku! Abaikan saja namja jangkung kelewat menyebalkan itu! Huh”

 

UmpaTan namja manis itu mencoba menghilangkan pikirannya dari perkataan Zhoumi, namun tetap saja hati dan pikirannya kompak tak menuruti kemauannya. Akhirnya selama pelajaran dari Park seonsaengnim berlangsung, Henry hanya bisa memandangi papan putih di depan kelasnya dengan pandangan kosong. Bohong jika ia memperhatikan pembelajaran itu! Hanya satu dipikirannya sekarang, Zhoumi.

 

Akhirnya setelah duduk dua jam dengan perasaan teramat random, namja manis itu langsung keluar ruangan dengan menenteng tasnya setelah bunyi bel terdengar. Ia berjalan tergesa-gesa keluar dari tempat ia berkuliah. Dengan menaiki bis kota, ia duduk menyendiri di bangku paling belakang bis itu. Ia mengeluarkan iphonenya dan menancapkan ujung earphone di tempat seharusnya. Beberapa lagu melow mulai mengalun lembut dikedua telinganya.

 

Bis itu berhenti tepat di sebuah rumah besar yang memang di depannya terdapat halte bis. Henry turun dengan masih menggunakan earphone. Ia melangkah gontai masuk ke dalam rumah besar tersebut. MaTanya langsung terbelak saat melihat dua namja yang sangat ia kenal hendak keluar menenteng dua koper besar. Namja jangkung bersurai merah itu sontak membelakkan maTanya, cukup terkejut dengan kehadiran Henry tepat dihadapan maTanya. Dan namja tampan satunya memilih untuk diam tak bersuara.

 

“Henry-ya…. Kenapa sudah pulang? Kau membolos kah?” Tegur namja jangkung itu, namun tak ada jawaban apa-apa dari Henry yang menatapnya nanar.

 

“Henry jawab aku. Kenapa sudah pulang? Ini masih jam sebelas, dan jadwalmu pulang jam dua siang”

 

“Wae ge? Apa gege takut aku tiba-tiba muncul dan gege tak bisa pergi lagi dan membohongi ku eoh? Pantas saja tadi pagi kau memperlakukan diriku aneh, jadi seperti ini kah cara otak licikmu bekerja?!” Suara bentakan Henry cukup keras hingga membuat Hanggeng dan Victoria menoleh padanya horor. Sementara Zhoumi, awalnya ia kaget dengan bentakan namja manis dihadapannya namun ia tetap mencoba tersenyum pada Henry.

 

“Kau mengerti rupanya Henry Lau? Baiklah ini lebih mudah untukku tak perlu memberi alasan apa-apa lagi untukmu. Mianhe, aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik dan jaga Victo ne?”

 

Zhoumi mencoba mengelus lembut puncak kepala Henry, namun karena kekesalannya Henry malah menghempaskan Tangan Zhoumi. Diperlakukan seperti itu, Zhoumi Hanya tersenyum getir dan menarik kopernya menuju luar rumah yang diikuti oleh Hanggeng. Henry langsung menyerusuk masuk kamarnya saat dirasa air maTanya tak sanggup ia taHan lagi. Tak berbeda jauh dengan namja jangkung diluar yang sebetulnya menangis, namun Hanya didalam dan tak ia tunjukkan pada siapapun.

 

“Zhou, kau siap dengan semuanya?” Suara baritone Hanggeng mengistrupsi langkah Zhoumi.

 

“Ne, katakan padanya tempat yang sudah kuberitahu denganmu Han-ge saat sesuatu terjadi denganku. Dan jagalah ia”

 

“Akan ku beritahu ia, kau harus semangat Zhou” Hanggeng menepuk pundak namja jangkung dihadapannya. Tak ada lelahnya Zhoumi memberikan senyum sunshinenya pada setiap orang walaupun ia sedang dalam kondisi terpuruk sekalipun. Keduanya kembali melanjutkan langkahnya menuju sebuah taksi yang sudah menunggunya.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

Hari-hari pun dilewati namja manis itu berdua saja dengan Victoria di rumahnya. Hari ini sudah genap dua bulan dua namja China itu pergi dari rumah. Dipikiran namja manis itu, ini sungguh aneh karena kedua namja China itu tak pernah pergi lebih dari tiga minggu dan paling lama Hanya sebulan. Dan juga sudah dua minggu namja manis itu tak mendapat kabar apa-apa lagi dari sang namja jangkung yang berada di China.

 

Pagi ini ia sedang sarapan bersama dengan kekasih namja tampan. Sungguh, ia malas sekali menyentuh makanan itu kecuali ia ingin membuat yeoja cantik dihadapannya murka lagi. Mata yeoja cantik itu menatap aneh namja manis dihadapannya yang terlihat tak mempunyai semangat hidup. Tak lama telfon rumah itu pun berdering yang mau tak mau membuat yeoja itu berdiri dari duduknya dan menjawab telfon itu.

 

Melihat ada kesempaTan untuk kabur dari acara makannya, namja manis itupun langsung beranjak ke kamarnya saat yeoja cantik itu meninggalkannya. Entah mengapa foto seorang namja jatuh tiba-tiba membuatnya kaget. Ia memungut bingkai foto itu yang sudah berantakan dari lantai. Dahinya mulai berkerut saat mendapati selca seorang namja di dalam bingkai Hancur itu.

 

“Zhoumi-ge? Wae gurae?” Henry pun memungut pecaHan beling tersebut dengan hati-hati. Jujur perasaannya biasa saja, namun pikirannya yang lagi harus melayang pada namja jangkung itu.

 

::

 

::

 

::

 

::

 

“Kau sudah mengatakannya pada Henry?”

 

“Belum, aku tak sanggup jika Henry mengetahuinya. Zhoumi oppa, nan eodi?”

 

“Huh sudah kuduga. Dia sudah ditempatnya, mianhe kau tak membiarkanmu melihatnya”

 

“GwaencHanaya”

 

Dengan perlaHan, Hanggeng menarik tubuh yeoja di hadapannya hingga bersejajar di dada bidangnya. Tangis pun akhirnya pecah saat benteng pertaHanan yang dibuat yeoja itu dari kemarin runtuh dengan sendirinya. Namja China bernama Hanggeng itu sudah kembali ke Korea, namun ia Hanya sendiri tidak dengan namja jangkung bernama Zhoumi.

 

Hujan siang ini membuat Henry mau tak mau harus sedikit bersusah payah menuju rumahnya. Ia tak tahu jika cuaca akan berubah tiga ratus enam puluh derajat menjadi hujan seperti ini. Ia mendapati rumahnya sudah banyak bunga ucapan belasungkawa tepat di depan pagarnya. Hatinya menjadi berdegup semakin cepat layaknya kereta api berjalan melewati batas kecepaTan.

 

BRAGGGH!

 

Pintu besar itupun dibuka kasar dan menampakkan seisi ruangan dengan sebuah peti mati hitam berada ditengah-tengah beberapa orang. Semua mata sontak menatap sumber suara yang membuat perhatian mereka teralih. Dengan mimik wajah yang sulit diartikan, namja manis itu melangkahkan kakinya menuju dua orang yang teramat sangat ia kenal menatapnya nanar.

 

“Jadi seperti ini lagikah cerita hidupku? Ck, sangat menyedihkan Henry Lau!” Henry pun menyeringai hal yang tak pernah ia lakukan semenjak dua tahun belakangan ini. Dengan masih seringai di wajahnya, ia menghampiri dua orang dihadapannya dan membisikkan sesuatu yang sungguh membuat wajah kedua orang itu berubah pucat.

 

“Kalian jahat, Han-ge Victo eonni. Sangat jahat sekali!”

 

::

 

::

 

::

 

::

 

Acara pemakaman itu pun berangsur-angsur ditinggal pelayatnya karena hari sudah mulai gelap. Bukan, bukan karena malam akan daTang namun langit sepertinya turut kehilangan namja yang dikenal sangat ramah dan tampan itu. Victoria, masih menangis sesegukan diatas pusara yang masih baru itu.

 

Tiba-tiba seorang namja manis dengan pakaian serba hitamnya daTang dan duduk diselah Victoria. Namja itu menepuk pelan pundak Victoria yang sukses membuat Victoria menatapnya heran.

 

“Ka…kau Henry, kau daTang?”

 

“Ne eonni, mianhe aku tadi sedang mempersiapkan diri” Jawab Henry dengan senyum dipaksakannya. Dengan jarak sedekat ini, Victoria dapat dengan jelas melihat mata namja manis didepannya bengap karena menangis.

 

“Han-ge, Victo eonni kalian punya huTang jelaskan semua ini padaku. Aku tak ingin terlihat idiot seperti ini” Lanjut namja manis itu yang membuat Hanggeng yang berada di belakangnya menelan saliva cukup berat.

 

Hujan pun mulai turun memaksa ketiga orang itu kembali kerumah mereka. Namun namja manis itu lebih memutuskan pulang menaiki bis kota dari pada bersama kedua orang yang sudah dianggapnya keluarga itu. Sesampainya di depan rumah megah milik Tan Hanggeng, Henry mulai menaiki anak Tangga menuju pintu utama rumah itu. Dengan sepelan mungkin, ia buka pintu itu dan berjalan menuju suatu ruangan yang sudah ia yakini ada dua orang yang menunggungnya.

 

Jujur perasaannya saat ini sangat kacau sekali. Ia sangat takut mendengar apa yang sebetulnya ingin sekali ia dengar. Namun ia tak ingin terlihat idiot di depan orang-orang apa alasan namja jangkung itu pergi meninggalkannya dengan cara konyol seperti ini.

 

“Kau sudah pulang Henry? Mau mandi dulu-”

 

“Sudah eonni, gumowo. Cepat katakan siapa yang mau menjelaskannya padaku? Aku lelah” Henry memotong ucapan Victoria yang bermaksut untuk berbasa-basi terlebih dahulu.

 

Hanggeng pun mendekat ke arah Henry yang terpaku di depan pintu ruangan itu. Dengan hati setenang mungkin, ia menyerahkan sepucuk surat beramplop biru muda. Henry menyeritkan dahinya saat melihat surat yang disodorkan untukknya, namun daripada ia penasaran ia ambil surat itu juga pikirnya.

 

“Kalau kau sudah membacanya, kau akan mengerti Henry Lau. Aku dan Victo permisi dulu”

 

Henry pun mendudukkan tubuhnya di atas kursi tempat tadi Victoria duduk. Sejujurnya ia ragu untuk membuka surat itu, ia takut akan menangis lagi jika membukanya. Perasaannya saat ini bercambur aduk antara marah, kesal, kecewa, dan sedihnya. Namun dengan berbagi hal, ia memutuskan untuk membuka amplop biru muda tersebut.

 

….

 

Henry Lau, kau sudah membaca suratku? Eum aku yakin sekarang kau sedang membacanya dengan kekesalan di seluruh kepalamu bukan ^^ mianhe jeongmal mianhe Henry tak mengatakannya denganmu, aku tak mau membuatmu bersedih jika mengetahuinya. Hem jika kau ingin mengetahui apa yang menyebabkan aku tak ada lagi di dunia yang sama denganmu, itu karena aku mengalami kelainan jantung semenjak empat tahun lalu hingga menjadi kebocoran jantung dan jadilah seperti ini.

Jaga dirimu baik-baik ne dan dengarkan ucapan Han-ge dan Victoria mereka akan menyayangimu lebih dari diriku. Carilah yeoja yang bisa membuatmu bahagia ne? Dan yang terakhir, mianhe jeongmal mianhe yang tak bisa menjagamu seperti dengan janjiku dua tahun lalu. Goodbye…..

 

From : Zhoumi (gege jangkungmu yang menyebalkan) ^^

 

 

“Ke…Kebocoran jan…tung?” Seketika tubuh Henry lemas hingga kertas yang ia pegang jatuh begitu saja ke lantai. Tangisnya pecah, sungguh terdengar menyakitkan dan sangat kehilangan. Ia tak pernah berfikir jika hal menyedihkan seperti ini akan terulang lagi untuknya.

 

“Baboya! Jeongmal baboya Zhoumi-ge! Mengapa baru sekarang mengatakannya padaku! Baboya!!”

 

Henry semakin terisak di lantai dengan memeluk erat kedua lututnya yang ditekuk. Sungguh ia terlihat lebih kacau dibanding dua tahun lalu saat namja Kim meninggalkannya. Sementara itu, Victoria dan Hanggeng yang melihatnya Hanya menangis dalam diam. Mereka juga merasakan kehilangan, namun bedanya keduanya sudah lebih mempersiapkan semuanya berbeda dengan namja manis itu.

 

“Gumowo gege, jeongmal gumowo…..”

 

 

::

 

::

 

::

 

::

 

 

Bad ending? Gantung? Lebay? Okay mianhe untuk itu readherdheul TT….TT please leave your respons for me^^

Y

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s