A Happy Ending

Author              : didafirdha

Main Cast         : Lee DongHae (Donghae), Han Ri Chan (OCs)

Support Cast    : Kyuhyun

Rating               : T

Genre               : Romance

Length             : Oneshoot, 13 pages

PS: Annyeong! Hadir kembali dengan FF terbaru, semoga kalian suka, mian banyak typo, liat rating ya, maafkan author kalo adegannya agak gimanaaa gitu, selamat membaca, jangan lupa tinggalkan komen J FF ini ada di WPku, didarizkyfirdhausa.wordpress.com silahkan kunjungi J

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

“Kriek” suara pintu terbuka.

Aku pun memasuki rumah baruku, sebenarnya bukan rumah baru, aku sudah mendiami rumah ini bersama suamiku, Donghae. Tapi entah kenapa rasanya aku tidak ingin berada di rumah ini. Pertama memiliki rumah ini rasanya sangat bahagia, itulah yang ku rasakan saat pertama menikah dengannnya.

“Fiuuhh” aku menghela nafasku. Ku lihat jam menunjukkan pukul 6 petang, aku sangat lelah setelah seharian bekerja. Donghae jelas belum pulang, setelah hampir 6 bulan kami menikah, aktifitas kami masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Saat aku pulang, Donghae belum pulang, saat aku pulang awal, aku menemukan dia namun kurasa dia akan kembali ke kantornya.

Setelah dia menjadi manager perusahaan entah kenapa kesibukannya sama saja seperti saat dia di Super Junior, aku pun memutuskan untuk mandi dan mengistirahatkan diriku sejenak, Aku ingin sekali melepaskan penat akan pekerjaanku bersama Donghae, ku rasa hal itu akan sangat jarang terjadi.

Aku pun berniat memasak malam ini, tapi kurasa Donhae juga sudah makan di dekat kantor nya, jadi aku putuskan untuk membuat ramyun saja. Aku pun makan sambil melihat tayangan di televisi, tapi entah kenapa siaran itu tidak cukup menghiburku, yang kubutuhkan sekarang hanya lah Donghae, aku merindukannya.

To : My Fishy

Kapan kau pulang? Aku merindukanmu

Aku pun memutuskan untuk mengirim pesan padanya. tak lama kemudian terdengar nada sms masuk.

From : My Fishy

Sepertinya agak malam chagi, mianhae. Kau tidur dulu saja, nanti aku menyusul. Ku mohon jangan menungguku.

Apa? Lagi? Aku harus tidur sendiri lagi?

Aku pun melemparkan ponselku ke sembarang arah, aku tak peduli yang kuinginkan sekarang hanya Donghae, aku ingin dipeluk olehnya. Aku hanya ingin dia disampingku, aku ingin melepaskan masalah dan kepenatanku akan pekerjaanku dengannya, tapi kapan saat itu akan datang?

Aku pun menangis, sengaja ku keraskan suara tangisanku, aku menangis sangat keras, aku tak peduli ada orang yang mendengar tangisanku. Aku pun mutuskan untuk masuk kamar, dan membanting pintu. Aku segera merebahkan diriku di tempat tidur, aku pun tertidur.

Saat aku tertidur, aku merasakan sesuatu yang melingkar dipinggangku, sepasang tangan, ya Tangan Donghae. Seharusnya bisa lebih indah dari ini jika saja…ah sudahlah, aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku.

Esok paginya, aku bangun terlebih dahulu, kulihat Donghae masih tertidur pulas, aku tersenyum melihat wajah ini, wajah ini yang selalu ku rindukan setiap harinya, andai saja aku melihat wajah ini tidak hanya di pagi hari…

Aku pun memutuskan untuk bangun dan bersiap siap kemudian menyiapkan sarapan untukku dan Donghae.

Selesai menyiapkan sarapan, aku pun kembali ke kamar dan membangunkan Donghae..

“Hae-yya..bangun, apa kau tidak terlambat” aku membangunkannya sambil mengguncangkan pelan tubuhnya.

Dia hanya membuka sedikit matanya dan kembali tidur.

“Hae-yya, coba kau lihat sekarang jam berapa?” aku berusaha membangunkannya.

Sekali lagi dia hanya membuka matanya dan menatapku, kemudian tiba- tiba dia mengangkat tangannya dan meraih tubuhku. Kontan saja aku langsung kaget.

“Hae-yya, apa apaan kau ini, aku tidak ingin bajuku kusut” ucapku dalam pelukannya. wajahku pun memerah karena malu.

“Hehe..mianhae chagi, baiklah aku akan bangun” dia bangkit dan menatapku lagi, tapi kali ini dia meraih daguku dan mencium bibirku sekilas.

“Morning kiss” Donghae tersenyum dan bangkit menuju kamar mandi.

Ya, aku merasakan hal itu lagi, hal yang sangat aku butuhkan darinya, tapi untuk kali ini hanya sekejap saja.

Sekarang aku berhadapan dengan Donghae di meja makan untuk menikmati sarapan kami.

“Chagi, nanti aku pulang agak larut”

Aku yang sedang menikmati sarapan ini, tiba- tiba menghentikan makanku.

“Aku sudah tau”

“Mianhae chagi”

“Sudah, aku sedang malas berdebat, aku berangkat dulu” aku berjalan menuju pintu depan dan mengambil sepatuku.

“Oh iya, jangan lupa menghidupkan lampu otomatisnya” kataku sebelum aku keluar.

Aku pun segera menuju mobilku dan memacu menuju kantor.

Di lampu merah, aku pun berhenti sejenak dan menyandarkan kepalaku ke sandaran jok mobil. Aku memijat mijat keningku, sambil memikirkan tentang aku dan Donghae.

Sampai di kantor, masih terasa sepi karena aku berangkat terlalu pagi. Tapi tak apa daripada aku harus bertengkar dengan Donghae lagi. Aku merasa belum menjadi istri sepenuhnya karena hampir setiap hari selalu bertengkar dengannya. Wajarlah, semua sibuk dengan urusan masing- masing. Pulang kadang membawa emosi yang sangat labil. Dulu waktu awal pernikahan kami, hampir setiap hari kami bertengkar, ya kadang dia tidak ada di sampingku karena kesibukannya. Tapi sekarang aku sudah malas berdebat lagi, aku pun hanya bisa menghela nafas untuk menurunkan emosiku.

Tak terasa sudah jam 3 sore, aku berencana pulang cepat kali ini karena aku akan membawa pekerjaanku ke rumah, ku pacu mobilku menuju apartemenku.

“Krieek” pintu terbuka.

Aku terkejut karena menemukan sepatu Donghae ada di depan pintu. Hatiku sangat senang karena aku bisa bertemu dengannya sore ini.

“Hae? kau sudah pulang? katanya kau pulang larut? aku berteriak di depan pintu.

Tapi aku lebih terkejut lagi karena tiba- tiba dia muncul di depanku.

“Hanya sebentar, mengambil berkasku”

Aku hanya ber-oh ria, entah aku menjadi bad-mood saat ini.

“Kau, kenapa jam segini sudah pulang?” tanya Donghae padaku.

“Aku memang sengaja, sudah penat di kantor”

“Beristirahatlah, kau perlu istirahat cukup”

Apa? istirahat? istirahatku sangatlah cukup, tidak seperti ketika aku belum menikah dengannya, tapi kenapa sekarang pengorbananku dengan pindah pekerjaan menjadi sia- sia. Hae, bukan kata itu yang aku ingin dengar dari mulutmu, tapi kata kata yang menanyakanku ada apa di kantor, ada masalah apa? ceritakan padaku. Hanya itu yang kuinginkan Hae,,

“Katanya kau mau kembali ke kantor? sudah sana pergi”

“Kau, kenapa?” raut wajahnya berubah menjadi memelas.

“Tidak apa, sudah cepat pergi” kataku ketus sambil berjalan menuju kamar.

Aku pun masuk kamar dan merebahkan diriku di tempat tidur.

Tak terasa air mataku keluar lagi, harusnya Donghae tau apa yang aku butuhkan. Aku membutuhkan perhatianmu Hae. Aku merasa ada yang bergetar di saku ku, sepertinya ada pesan masuk, segera aku membacanya.

From : My Fishy

Mianhae, aku belum bisa membahagiakanmu, Jeongmal saranghae chagi~ Nôrûl hangsang saranghal gôya…

Setelah membaca pesan itu, air mataku mulai menetes lagi. Aku juga sangat mencintaimu Donghae. Tapi sampai kapan akan terus seperti ini. Air mataku pun menetes deras dan tak terasa aku mulai tertidur. Aku bahkan tidak tau apakah Donghae pulang atau tidak.

o0o

“huft” aku menghela nafas sambil menyenderkan tubuhku di kursi kantor.

Hari terasa begitu cepat, lagi- lagi aku harus pulang dan menemukan Donghae belum di rumah. Tapi aku merasa malas untuk pulang ke rumah.

“Richan, kau belum pulang?” tanya seseorang yang membuatku menoleh ke arah pintu.

“Kyuhyun? haha belum”

“Aku rasa ada yang salah denganmu, ayo ikut makan”

“Apa?” aku baik- baik saja oppa”

“Sudah ayo ikut” Kyuhyun memaksaku dan menarik tanganku.

“Oke, sebentar, aku membereskan barangku dulu”

Kyuhyun membawaku ke sebuah restoran. Oh iya, Kyuhyun ini mantan pacarku, sebelum aku bersama Donghae, aku bersamanya. Kami sama- sama sudah menikah, Donghae sempat tidak rela mmbiarkanku bekerja di perusahaan ini karena ada Kyuhyun, tapi aku terus memberinya pengertian. Kami pun duduk di meja yang dipilihkan oleh pelayannya. Kami pun segera memesan makanan.

“Sebenarnya ada apa dengan dirimu?” kyuhyun mulai berani bertanya padaku.

“Yaaa…masih seperti dulu oppa”

“Donghae lagi?”

“Ya, aku bertengkar dengannya lagi”

“Sudah kubilang, tahan emosimu”

“Kalau menahan emosi, aku bisa oppa. Tapi sampai kapan pikiran dan kejenuhan ini ada dipikiranku, aku lelah oppa. Kalau aku sampai rumah, aku hanya ingin menceritakan semuanya yang ada di kantor padanya, bukan seperti ini.”

“Kau terlihat sangat lelah”

“Ya, semakin kesini aku rasa bebanku bertambah”

“Bersabarlah, sesuatu itu akan indah pada waktunya”

“Ya oppa”

“Ayo makan, habiskan makananmu, aku tidak ingin melihatmu kurus begitu”

“Haha kau bisa saja oppa”

Kyuhyun, dia selalu bisa membuatku kembali tersenyum. Hanya padanya aku bisa menceritakan masalahku dengan Donghae, mungkin benar apa yang dikatakannya, sesuatu itu akan indah pada waktunya.

Akhirnya aku kembali ke rumah, daaaaaaaaannn kembali menemukan Donghae belum di rumah. Aku tak mau berlama- lama, aku pun segera mandi dan pergi tidur.

Esok harinya, saat aku menyiapkan sarapan.

“Kemarin dari mana saja chagi?”

“Hm? tidak kemana- mana. Hanya makan malam saja”

“Ku dengar kau bersama dengan Kyuhyun?” Apa yang kalian bicarakan?!” suara Donghae meninggi, kurasa dia mulai cemburu.

“Kami tidak membicarakan apa- apa” jawabku ketus.

“Apa yang kau bisa bicarakan dengannya tapi tidak denganku?!!” suaranya semakin meninggi, dia membentakku

“Bukan hal penting, sudahlah aku sedang tidak ingin bertengkar!!” jawabku dengan suara yang tak kalah tingginya

“Kenapa kau lebih memilih Kyuhyun daripada aku?!!!!” dia kembali membentakku.

Emosiku kembali memuncak.

“Kau tanya kenapa?!!!! Pikir dirimu sendiri!! Harusnya kau sadar!! Selama ini kau kemana?!! setiap aku pulang kantor, kau dimana!! Bagaimana aku bisa menceritakan semuanya padamu, setiap kau melihatku kau selalu bilang istirahatlah!! istirahatlah!! Aku pikir istirahatku sudah cukup, tapi hatiku dan emosiku tidak bisa beristirahat!! Kau tau, setiap aku pulang aku hanya inginkan dirimu, aku ingin mengungkapkan kejenuhan dan kepenatanku, hanya itu yang kuinginkah, aku lelah menanggung beban kejenuhan itu!!” Akhirnya aku pun mengeluarkan semua yang ada di hatiku, semua kejenuhanku selama ini.

Kulihat Donghae hanya terdiam dengan raut wajah terkejut, mungkin dia tidak menyangka kalau aku akan mengeluarkan kata- kata itu, tapi mau bagaimana lagi. aku sudah sangat jenuh dan tidak kuat menyimpan semuanya di hati dan pikiranku.

“Pagi- pagi sudah membuat moodku jelek, sudahlah!!” aku pun segera menghentikan acara makanku dan bersiap pergi ke kantor.

Karena emosiku memuncak, akupun mengendarai mobilku sesuka hati, sampai- sampai banyak mobil yang mengklaksonku, aku tidak peduli. Tapi akhirnya aku berhenti di pinggir jalan. Aku terdiam dan tak kusangka air mataku mulai menetes, aku pun menangis lagi. Aku pun memukul setir mobilku, aku marah. Aku menundukkan kepalaku dan bersandar pada mobilku. Apa jadinya hatiku saat aku pulang nanti. Tak kusangka, aku tertidur di dalam mobil.

Aku terbangun karena ada sesuatu yang bergetar di saku ku.

From : Kyuhyun

Ada apa denganmu? Kenapa jam segini belum ada di kantor?

Aku terkejut membaca pesan itu dan kulihat jam tanganku, benar sudah jam 10 aku terlambat ke kantor. Tapi aku rasa dengan emosi yang sedang labil aku tidak akan pergi ke kantor, kuputuskan untuk ijin hari ini aku ingin menenangkan diri.

To : Kyuhyun

Mianhae tidak memberitahukan pdmu, hari ini aku ijin dulu.

From : Kyuhyun

Apa kau baik- baik saja?

To : Kyuhyun

Ya, aku baik baik saja. Percayalah padaku. 

Kyuhyun selalu mencemaskanku. Donghae? sudah biasa, dia tidak berani menggangguku saat emosiku sedang seperti ini. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan berganti baju lalu menuju tempat yang kurasa bisa menenangkan perasaanku. Aku pun memarkirkan mobilku di sebuah taman dekat pusat kota Seoul, taman itu terlihat sepi tapi udaranya sangat sejuk. Aku pun duduk di bangku taman yang tak jauh dari tempat parkir. Kulihat sekelilingku, sangat hijau dan udaranya sangat sejuk, ya inilah suasana yang kuinginkan. Aku melihat penjual es krim dan aku membeli sebuah es krim untukku. Ku rasa aku kembali seperti masa mudaku, es krim adalah makanan kesukaanku. Setelah aku menghabiskan eskrimku, aku mengambil headset dan memutar lagu- lagu kesukaanku, tak kupungkiri aku pun menyukai Super Junior tempat Donghae bernaung.

Suasana ini semakin bisa membuatku tenang dengan rimbunnya pepohonan disini, aku mencoba memejamkan mata sejenak dan menghadap ke atas. Aku merasakan kesejukan dan ketenangan yang selama ini kurindukan. Saat aku membuka mata, pandanganku tertuju pada sepadang namja dan yeoja yang menggendong bayi kecilnya.

Ah, keluarga yang romantis. Anak itu sangatlah lucu, anak itu berada di gendongan ayahnya, mereka terlihat sangat bahagia. Aku jadi tersenyum melihatnya. Aku jadi teringat Donghae. Seandainya saja namja dan yeoja itu adalah aku dan Donghae, pasti saat ini kami sangat bahagia. Tapi sayang sekali moment itu belum ada hingga sekarang, tapi aku berharap aku bisa seperti mereka.

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku masih gencatan senjata dengan Donghae. Dia pun tidak berani menanyakan hal yang lebih padaku. Haha..aku jadi kasian padanya, tapi apa boleh buat selama dia masih seperti itu. Aku hanya meminta sedikit waktu darinya, bukan hal yang lain.

Aku lihat selama beberapa hari ini dia pulang lebih awal dari jam biasanya. Ada apa dengannya? Apa dia sudah mau berubah? Semoga tidak hanya sebentar, tapi untuk ke depannya.

Suatu hari, aku pulang dari kantor agak malam dan menemukan rumahku dalam keadaan gelap.

Aku pun membuka pintu dan menemukan sepatu Donghae. Ha? Donghae sudah pulang?

“Hae-yaa..kau lupa menyalakan lampu ya?”

Tidak ada jawaban. Aku pun berjalan sambil ku terangi dengan sinar dari ponselku dan memencet tombol lampu.

KLIK! Seketika ruangan itu sangat terang dan…sepi.

“Hae? kau sudah pulang?”

Tidak ada jawaban lagi. Aku pun berjalan ke ruang tengah dan menemukan kertas aneh di atas meja makan dan 1 tangkai bunga mawar merah. Ku buka kertas itu.

Bawa bunga itu ke halaman belakang.

Fishy

Hah, apa yang sedang dia perbuat. Aku penasaran dan menuju ke halaman belakang. Hah? Pintunya tertutup.

“Hae apa yang sedang kau rencanakan?” aku pun membuka pintu dan mataku terbelalak melihatnya.

Oh my God, aku melihat rangkaian bunga mawar merah berbentuk love di lantai disertai lilin lilin kecil disekelilingnya, Donghae berdiri di tengah tengah rangkaian bunga itu.

“Bawa bunga itu kesini” Donghae mengadahkan kedua tangannya dan aku langsung menyambutnya dengan kedua tanganku.

“Apa yang kau rencanakan dengan semua ini?” tanyaku masih tak percaya.

“Kau pasti lupa”

“Lupa? memang ada apa hae-yya?” aku mencoba mengingat apa yang Donghae maksud.

“Hari ini adalah 200 hari pernikahan kita” jawabnya dengan senyum.

“Mwo? haha bodohnya aku sampai lupa tentang hal itu. Tapi terima kasih ya, aku sangat terkesan dengan hal ini” mataku berkaca- kaca.

“Chagi, mianhae. Aku sering membuatmu marah, sering membuatku menangis. Mulai saat ini aku akan selalu ada di sampingmu, aku akan pulang lebih awal dari biasanya” dia menatap mataku dan memeluk pinggangku.

“Tapi kenapa?”

“Donghwa hyung sekarang membantuku mengurus perusahaan, jadi pekerjaanku sedikit terbantu berkat Hyung”

“Oh jadi karena itu akhir- akhir ini kau pulang lebih awal”

“Chagi, maukah kau berjanji padaku?” dia menunjukkan jari kelingkingnya

“Janji apa?” tatapku bingung

“Kalau ada masalah di kantor, kau harus menceritakan semuanya padaku. Tidak boleh kau pendam sendirian, aku takut kau menjadi stres”

“Haha..iya aku berjanji” aku tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingku di jarinya.

“Chagi?” tanya nya lagi.

“Mwo?”

“Saranghae..” dia menatap mataku.

“Nado saranghae my fishy” jawabku sambil tersenyum.

Tuhan, dia menatapku, sekarang wajahnya mendekat ke wajahku, dia mempererat pelukannya. dia memiringkan sedikit wajahnya seperti akan menciumku, jantungku berdebar dengan kencang dan aku mulai menutup mataku. Dia mencium bibirku lembut, aku pun menyambutnya. Ya, suasana inilah yang selalu ku inginkan. Tapi kurasakan ini bukan hanya ciuman biasa, kudengar nafasnya sedikit memburu dan dia mulai mencium leherku.

“Hae” ucapku yang membuat ciumannya berhenti karena ku rasakan nafasku juga mulai memburu.

“Apa?”

“Jangan disini” kataku malu.

“Oh? baiklah. akan ku bawa kau ke kamar” kata Donghae sambil menggendongku ala bridal style.

“Yaakk, turunkah aku, aku bisa berjalan sendir”

“Tidak akan, aku tidak akan menurunkanmu, aku tidak akan melepaskanmu” katanya sambil berjalan menuju kamar. Aku pun pasrah dan hanya berpegangan di lehernya.

Sesampainya di kamar, dia menjatuhkan tubuhku di tempat tidur dan ku lihat dia membuka bajunya. Kontan aku langsung menutupi mataku dengan kedua tanganku.

“Hei, kenapa? kau malu?” aku mendengarnya sedang menggodaku. Tanganku masih berada di depan mataku, dia memaksa tanganku untuk membukanya tapi ternyata tenagaku jauh lebih kecil dari tenaga nya. Dia mencium bibirku lagi dan mulai melepas kancing bajuku. Baiklah, malam ini aku pasrah padamu Donghae. Kurasa malam ini malam terindah untukku dan Donghae.

SKIP

Sinar matahari yang terus menyinari kamar memaksaku untuk membuka mata, aku pun membuka mataku dan bangkit membuka kedua tanganku, tapi…..Omo?! aku pun menarik kembali selimutku, aku baru saja menyadari kalau aku tidak mengenakan pakaian luarku. Aku pun menepuk jidat, Oh iya semalam aku melakukannya dengan.. Aku menoleh ke sebelahku, Donghae. Dia masih tertidur dengan mulur sedikit terbuka, dia pun hanya menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut. Aku baru tersadar kalau dadanya itu sangat sixpac, Haha kenapa pikiranku menjadi seperti ini.

Aku pun mencoba membangunkannya.

“Hae-yya..bangunlah”

Dia hanya membuka sedikit matanya dan melirikku. Dia menggapai tubuhku dan memelukku lagi.

“Hari ini hari libur, sudahlah..kita berada disini saja” aku mendengar nada yang menggodaku.

“Yak! dasar mesum” kataku sambil melepaskan pelukannya.

“hahahaha..memangnya kau tidak?” tanya dia sambil mendekatkan wajahnya padaku.

Kontan aku langsung malu, wajahku berubah menjadi merah. aku pun berbalik arah membelakanginya.

“Chagi..” rayu nya.

“Mwo?”

“Gomawo” ucapnya sambil terkekeh, mendengar itu aku tambah malu dan menutupi wajahku dengan bantal.

o0o

Beberapa bulan kemudian.

Sekarang Donghae menjadi suami yang selalu ada di sampingku, hubunganku dengannya jadi semakin erat dan bahagia. Aku beruntung mempunya suami seperti dia. Dia anugrah terindah dalam hidupku.

“Hae–yaa..sarapannya sudah siap” teriakku dari ruang makan.

“Iya sebentar chagi” katanya dari lantai 2.

Aku pun duduk di meja makan dan menunggunya, hmm makanan yang ku masak hari ini benar- benar terlihat sangat lezat.

“Maaf lama menungguku” kata Donghae yang langsung duduk di hadapanku.

“Tak apa, ayo sarapan” ucapku sambil tersenyum

“Baik, gomawo chagiya” katanya sambil mengambil bagian makanannya.

Tapi tiba2 tiba aku merasa mual melihat semua makanan ini.

Hoeek..aku menutup mulutku sambil terburu-buru menuju kamar mandi.

“Chagiya? ada apa?” aku mendengar suara Donghae.

Aku tidak kuat, lalu memuntahkan semuanya di wastafel. Aku memperhatikan diriku di cermin. Ah kenapa ini, rasanya badanku baik- baik saja, tidak demam juga. Tapi sungguh ini terasa sangat mual dan aku pun memuntahkannya lagi.

“Ri chan? ada apa?” tanya Donghae di ambang pintu.

“Aku tidak apa- apa. Lanjutkan saja makanmu” ucapku sambil mencuci mulutku.

Kulihat dari cermin Donghae berlari dan menghilang, aku terus memegangi perutku, dan menenangkan diriku.

Tiba- tia Donghae masuk ke kamar mandi dan membawa sebuah benda yang mengejutkanku…Test pack.

“Hah? untuk apa?” tanyaku terkejut sambil terus memegangi mulutku.

“Cobalah dulu” kata Donghae lalu Donghae keluar dan aku menutup pintu kamar mandi.

Setelah hampir 1 jam aku di kamar mandi.

“Chan-ah..sedang apa kau, buka pintunya, kenapa lama sekali?” aku mendengar Donghae menggedor pintu kamar mandi.

“Yak! sebentar lagi hae-yaa” kataku sambil memperhatikan test pack itu..

Aku pun dapat melihat hasilnya, dan membuat mataku terbelalak dan aku juga tercengang..Test pack itu menunjukkan 2 buah garis yang artinya..POSITIF. Apa? Aku hamil? seolah- olah aku tidak percaya, aku pun lemas sambil berpegangan pada tepi wastafel. Aku jatuh terduduk di kamar mandi. Aku pun menanngis, tapi kali ini tangis bahagia yang aku keluarkan. Akhirnya aku punya Donghae junior. Tak pikir panjang aku pun segera keluar dan menemui Donghae. Aku membuka pintu dan terkejut menemukan dia masih berdiri di depan pintu. Kami sama sama terkejut.

“Bagaimana hasilnya Chan-ah?” tanya nya menggebu-gebu.

Aku hanya berdiri sambil berkaca- kaca dan memeluk erat suamiku ini. Kali ini aku menangis di pundaknya.

“Ya? kenapa kau menangis lagi?” tanyanya.

“Aku bukan menangis sedih bodoh! aku senang karena kita akan punya Donghae Junior” aku tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagiaku.

“Hah? benarkah” tanya nya sambil melepaskan pelukanku.

“Ya, aku positif hamil” ucapku sambil mengusap air mataku dengan punggung tanganku.

“Yaaaaa….akhirnya aku jadi seorang ayaaah” katanya sambil kembali memelukku. Kali ini dia mempererat pelukannya, Aku merasakan cairan hangat di pundakku, Donghae menangis haru. Ah, akhirnya hari ini datang juga. Terimakasih Tuhan.

“Chan-ah?” panggilnya.

“Em” jawabku.

“Mulai sekarang, kau tidak boleh terlalu lelah. Kapasitas pekerjaan mu harus dikurangi. Kau harus banyak beristirahat, pikiranmu tidak boleh terlalu jebuh, kau harus makan makanan bergizi, aku berjanji akan selalu membelikanmu makanan bergizi dan aku akan selalu menjagamu dan menjaga Donghae Junior kita”

“Hah, kau ini. Sifat over protektifmu kembali lagi”

“Bukan over protektif chagi..tapi aku tak ingin suatu hal terjadi padamu dan Donghae Junior kita” ucapnya sambil tersenyum.

“Baiklah kalau itu maumu” kataku sambil tersenyum.

Donghae pun kembali memelukku lagi, kali ini perasaan kami berdua benar- benar bahagia. Ya, memang benar. Jika kita mau bersabar, sesuatu yang indah itu akan datang pada waktunya. Aku tidak sabar menunggu Donghae Juniorku lahir di dunia yang itu artinya anugerah terindahku bertambah satu.

END

2 thoughts on “A Happy Ending

  1. so sweet akhirnya stlh mengatakan apa yg ia rasakan, RiChan bs merasakan kebahagiaan scr utuh dgn Donghae oppa. Apalagi skrg RiChan hamil lagi.. Great love story

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s