Please, Hold On [Part 5]

Author              : Arsvio

Main Cast         : Lee Donghae (Aiden Lee), Han Cheonsa (Angelle Han)

Support Cast    : Super Junior, Daniel Han, Kevin Han, Adelynn Lee.

Rating               : PG-16

Length              : Sequel

 

“When time couldn’t erase all the pain, then avenge became a goal of life,”

 

[One month later]

Cheonsa memandangi dengan intens calendar di meja kerjanya. Dia menyusuri setiap hari di calendar tersebut dengan ujung telunjuknya. “It’s been a month,” desahnya. Dan sebulan ini dia berhasil menjalani lakonnya sebagai seseorang yang hidup dengan damai di keluarga kecilnya. Mengesampingkan segala perih yang ditanggungnya, dan memilih menutup mata atas semua masalah keluarganya.

Bahagia?. Entah dengan kalimat apa mendeskripsikannya. Cheonsa cukup tenang ketika sejenak menyingkirkan kekhawatirannya. Hanya masalah waktu saja hingga air tenang berubah menjadi beriak. Di sisi lain, dia juga tak bisa sepenuhnya menikmati kehidupan rumah tangganya. Waktu bersamanya dengan Donghae bahkan bisa terhitung dengan jari akibat kesibukan masing-masing. Cheonsa melirik sederet tugas di agenda miliknya, kemudian mengecek arlojinya. 09.00 pm.

Cheonsa menyambar ponsel yang hampir dari petang tadi tidak dihiraukannya. Matanya membulat ketika didapati puluhan pesan dan miss call dari seseorang. Siapa lagi jika bukan ‘Lee Donghae’. Seingatnya, malam ini, Donghae pulang dari tournya SS4.

Cheonsa menepuk keningnya pelan. “Pasti sekarang dia sangat marah,”. Menyesali diri yang tidak bersegera mengecek ponselnya. Bukan salah Cheonsa jika memang dirinya tidak bisa membalas pesan Donghae. Karna memang semenjak sore ini, dirinya disibukkan dengan operasi pembedahan seorang pasien.

***

Cheonsa berjalan lambat mendekati sosok yang tengah duduk di sofa. Dia mendekat dan duduk tepat disebelah lelaki tersebut. “Hi,” sapanya sedikit kaku.

“Setelah sejak seminggu tak bertemu dan tak menghubungiku, juga sejak lima jam lalu tak bisa dihubungi, kau hanya berucap ‘hi’?” lelaki tersebut mengangkat tangannya untuk menirukan gaya Cheonsa tadi. Pandangannya masih menatap lurus plasma tv di depannya.

“Maaf, sore tadi aku ada operasi jadi tak bisa mengangkat telephon ataupun membalas pesanmu,”.

“Hah, benar. Aku lupa kalau istriku ini adalah dokter. Kenapa aku selalu diduakan dengan pasien-pasienmu, sih?” sebelah tangan Donghae menghentak di udara. Matanya sudah mau menatap Cheonsa.

Cheonsa hanya melorotkan bahunya. Apa pria di hadapannya ini juga tidak menyadari kalau dirinya juga merasa di duakan dengan para fans?. Seperti kata Donghae, mereka tidak bertemu seminggu ini, lalu ketika sudah bertemu malah mempersoalkan masalah yang kecil. “Aku minta maaf, Tuan Lee,” ucap Cheonsa penuh penekanan.

Donghae hanya melengos. Memandang kembali plasma tv yang memutar film kesukaannya, ‘Titanic’. Entah berapa kali dia sudah menontonnya.

Cheonsa sedikit putus asa menghadapi sikap merajuk suaminya. Dia menghela nafas panjang kemudian memilih untuk menyingkir sebentar. Semoga saja, kekesalan Donghae hanya dikarenakan dirinya yang lelah saja.

***

Jung memainkan pisau lipat di tangannya, dengan tatapan kosong. “Damn it,” ucapnya kasar penuh kekesalan. “Gadis itu ingin barmain-main denganku rupanya,”. Wanita baya ini sedang membara karna merasa dipermainkan oleh takdir.

Genap sebulan, usahanya sia-sia saja. Dia tidak bisa mendapatkan surat pernikahan Cheonsa. Menjadikan beberapa rencana besarnya tertunda. Begitu pun dengan hal licik lainnya yang gagal dilaksanakan.

“KAU BENAR-BENAR TAK BERGUNA,” marahnya pada lelaki yang menundukkan kepalanya sedari tadi.

“Maaf Nyoya. Ada seorang yang menolongnya ketika aku akan melancarkan aksi,” lelaki, anak buahnya itu semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Bodoh, apa dia sempat melihat wajahmu?”.

“Saya rasa karna pencahayaan kurang, dia tidak begitu memperhatikan,” bela sang anak buah.

“Lain kali kau gagal melakukan tugasmu. Aku sendiri yang akan menghabisimu,”. Lelaki yang sedari tadi mendengar omelan bossnya itu segera mengangguk. Kemudian segera beranjak pergi dari hadapan wanita itu.

“Sudah kubilang untuk menyerahkan urusan anak lelaki itu padaku, Jung,” seorang lelaki lain yang duduk di sofa angkat bicara. Dia memutar-mutar gelasnya, menyesapi bau anggurnya, dan kemudian meneguknya.

“Kupikir menghabisi anak itu hanya masalah sepele, Woon-a”.

Woon hanya mengangkat tangannya enteng. “Tapi nyatanya? Kau tidak bisa menganggap remeh hal kecil, Jung,” Woon berjalan mendekati Jung. Mengelus lembut pipi wanita itu. “Anak lelaki itu cukup merepotkan juga. Aku menyelidiki kegiatannya akhir-akhir ini. Selain dunia balap, dia juga menjelajah juga dunia malam, sepertimu. Orang-orang yang merasa kurang dengan dunia terang mereka,”.

Jung memejamkan matanya, menikmati sentuhan Woon di pipinya. Beberapa detik kemudian, matanya membuka. Mencermati apa yang pria itu sampaikan. Bagaimana pun, Jung tidak bisa mengesampingkan saran Woon. Lelaki yang mengenalkannya pada dunia kelam yang dia geluti sekarang.

Jangan berpikiran bahwa dirinya menaruh hati pada lelaki itu. Sebab hatinya sudah terikat kuat dengan Lee Jung Shik atau Han Jung Shik. Laki-laki yang selama hampir 28 tahun ini dipujanya. Sehingga dia rela untuk berada di sisi lelaki tersebut walau harus terluka.

Jung menerawang, mengenang masa 28 tahun silam. Sepasang kekasih dengan gelora asmara yang menggebu, harus menghadapi perpisahan karna kekuasaan. Dirinya harus merelakan lelaki yang sungguh dicintanya untuk menikah dengan Han Eunri, gadis cantik dari keluarga terpandang. Di kala itu, dia hanyalah seorang gadis dengan hati hancur yang nyaris bunuh diri, jika saja Woon tak menolongnya.

Woon-lah, satu-satunya orang yang disampingnya. Menyemangatinya untuk bangkit kembali merebut semua yang harusnya menjadi miliknya sejak dulu. Rasa dendam dan amarah sudah menjadi tatto permanen di tulangnya. Dan saat ini, ketika kerikil-kerikil kecil menghalangi rencananya, dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkannya. Termasuk dengan hal keji sekali pun, membunuh.

***

Cheonsa melirik jam dinding di ruang makan. Pukul 11.00 pm. Sudah dua jam dia didiamkan oleh Donghae. Dia berjalam mendekat ke arah tumpukan paper bag di sudut ruang makan dekat dengan tempat sampah. Memunguti beberapa item super mahal yang sengaja diletakkan di situ. “Apa dia harus semarah ini?” keluhnya ketika membuka satu persatu isi dari paper bag tersebut.

Cheonsa menarik kardus dari salah satu paper bag dan mengangkat tinggi isinya. Sepasang stiletto Louboutin yang cantik. “Dia mau membuang oleh-oleh ini?”. Cheonsa memajukan bibirnya. Harga mahal yang harus dikeluarkan untuk membawa pulang sepatu ini nyatanya tak membuat lelaki itu sedikit merasa sayang untuk melemparkannya ke tempat sampah.

Cheonsa mengaduk-aduk isi paper bag yang lain. Meneliti beberapa hadiah yang belum sempat Donghae berikan padanya sepulang dari Paris. Sepatu, tas, dress, dan sebuah lingerine. Cheonsa mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. “Bagaimana cara dia membelinya?”. Tak terbayang betapa risih Donghae ketika memilihnya. “Astaga,” Cheonsa bergidik membayangkannya.

Cheonsa mengamati berbagai barang yang sudah berserakkan di lantai ruang makannya. Tangannya mengelus dagu, mencoba berpikir bagaimana mengatasi sikap merajuk Donghae. Wajahnya mencerah ketika sebuah ide gila terlintas. “Come on, Cheonsa. You can do it,” ucapnya menyemangati diri sendiri.

***

[And this is what a great wicked plan she have]

Cheonsa memutar-mutar tubuhnya di depan kaca besar di sudut kamarnya. “Hae-ya, kau tahu ada seseorang yang membuang stiletto indah ini. Dan beruntungnya aku menemukannya,”.

Donghae bergeming, menundukkan kepalanya untuk menekuri konten iphone-nya. Sama sekali tak tertarik dengan omongan Cheonsa. Dia benar-benar kesal ketika perempuan yang kini menjadi istrinya tak memberi kabar ketika dia berada di luar negeri. Pun juga ketika dia pulang. Sang istri malah masih mengutamakan pekerjaannya.

“Hah, kurasa aku harus berterima kasih pada orang yang membuangnya,”. Cheonsa mengamati Donghae dari cermin. Melihat kalau usahanya untuk menarik perhatian pria itu belum berhasil. “Oh, kau tidak mau melihat betapa cocok dan pasnya stiletto ini, Hae-ya,” rajuknya.

Donghae bersikap tak acuh. Diletakkan iphone-nya di meja kecil dekat ranjang. Setelahnya berniat untuk mengubur dirinya di dalam selimut. Moodnya benar-benar jelek. Namun sekilas ekor matanya menangkap sosok Cheonsa. Nafasnya terhenti dalam satu tarikan. Matanya langsung membulat dan menatap lurus perempuan itu.

“Why do you give me that look? Am I beautiful?” Cheonsa memutar tubuhnya menghadap Donghae dan mengibaskan rambutnya ke belakang.

Donghae mengerang pelan. Dirinya benar-benar tersiksa dengan pandangannya sekarang. Tepat di depannya, seorang perempuan yang siang malam dirindunya, memakai lingerie pemberiannya, juga sepasang stiletto. Gengsinya luruh seketika. Amarahnya hilang bagai lapisan debu tipis yang tertiup angin. Disingkap selimutnya dan berjalan cepat ke arah Cheonsa. Dengan satu gerakan cepat, merengkuh tubuh sang istri dalam pelukkannya.

“Jangan menggodaku Mrs. Lee,” serunya tajam.

Cheonsa meletakkan kedua tangannya di belakang punggung. Mengangkat bahunya cuek dan memasang wajah tak acuh sebagai jawaban pernyataan Donghae.

“Baik, jangan salahkan aku, Miss Angelle Lee,”. Donghae mencium bibir Cheonsa dengan cepat dan sedikit kasar. Meluapkan segala rindunya, juga kekesalannya. Kedua tangan kokohnya melingkar kuat di pinggang Cheonsa, mengakibatkan tubuh mungil itu sedikit terangkat.

Cheonsa tersenyum samar atas ciumannya. Dia menang. Dikalungkan kedua tangannya di leher Donghae. Menikmati waktu berharganya bersama lelaki tersebut.

…and this night beautifully ended…

***

Cheonsa memasuki kamarnya kembali saat Donghae tak kunjung menyusulnya di ruang makan. Bibirnya tersenyum ketika mendapati sang suami masih terlelap dengan posisi tengkurap. Dilangkahkan kakinya mendekat. Cheonsa menarik selimut dan memenahinya hingga menutup punggung polos Donghae.

Cheonsa berjongkok tepat di depan wajah pulas Donghae. Disibakkan poni depan milik Donghae hingga memaparkan kening favoritnya. Batas pinggir rambut Donghae yang membuat pusat meruncing di tengah menambah indah keningnya. Alis tebal yang melebar di ujung pelipis, hidung bangir meninggi, disempurnakan dengan bibir tipis yang memesona.

Kepala Cheonsa menoleh ketika iphone Donghae bergetar. Dijangkaunya ponsel tersebut, keningnya berkerut ketika mendapati puluhan pesan dari Kyuhyun. Cheonsa tersenyum, lalu mencondongkan badannya dan mengecup kening Donghae lembut. “Wake up, Mr. Lee. You will have a broadcasting at 09.00,”.

“Eungh,” Donghae mengeram kecil kemudian membalikkan badannya. Matanya mengerjap dan sedikit mengerut membuka. “Ini masih terlalu pagi, Sayang,” tangannya merengkuh Choensa hingga perempuan itu merapat ke arahnya.

“Ini sudah pukul 08.30, sedangkan jadwalmu pukul 09.00,”.

Donghae menunjukkan raut herannya. “Seingatku jam 10.00,”.

“Kyunnie mengirimu pesan. Jadwal kalian diajukan pukul 09.00,”.

“NE?” sentak Donghae yang langsung terbangun. Matanya membuka lebar, melupakan rasa kantuk dan malasnya. “Aish,” rutuknya. Donghae menarik bagian selimut yang lebih tipis dan membebatkan pada pinggangnya. Dia setengah berlari menuju kamar mandi dengan tersaruk-saruk selimutnya.

Cheonsa hanya terkikik ringan melihat tingkah lelaki itu. Dia segera beranjak, mengambil sarapan dan membawanya ke kamar. Walaupun hanya punya sedikit waktu, namun sarapan tak boleh terlewatkan.

“Buka mulutmu, um?” Cheonsa menyuapkan roti selai pada Donghae yang masih sibuk mengancingkan kemejanya. Donghae mondar-mandir mengambi ini itu di kamarnya, sedangkan Cheonsa mengekornya sembari menyuapkan sarapan.

“Au puang aga laut,” ucap Donghae yang tak jelas sebab pipinya penuh berisi roti.

“Maksudmu, kau pulang larut?” perjelas Cheonsa yang mendapat anggukan Donghae. Cheonsa sedikit mencebikkan bibirnya. Sepertinya dia memang harus bersabar menjadi pendamping seorang superstar. Mau dikata apa, semua memang sudah keputusannya.

Donghae memberikan gelas yang isinya sudah habis pada Cheonsa. Walaupun persiapannya yang hanya memakan waktu 15 menit, tapi dia kini sudah berpakaian rapi, juga sarapan. Senyumnya tersungging menyadari bahwa semua karna Cheonsa.

Tangan Cheonsa terulur membersihkan remah-remah roti dan sisa susu di tepi bibir Donghae. “Have a nice day, Hae-ya” ucapnya untuk mengawali hari.

“Kau juga, Sayang,”. Donghae memberikan pelukan singkat dan mencium pipi Cheonsa sebelum kembali berlari menyambar kunci mobilnya.

***

Tuan Jang mengangsurkan sebuah berkas pada atasannya, Daniel. “Saya menelusuri dan menemukan ini, Sanjangnim. Agaknya mereka bergerak lebih agrasif,”.

Daniel membuka map tersebut dan mulai menelitinya. Dia menyeringai lebar. “Jadi mereka sudah menginvestkan pada perusahaan semu yang kubuat,”.

Tuang Jang mengangguk, namun raut wajahnya terlihat sangat gusar. “Sanjangnim, mereka hanya menaruh 15% kekayaan itu pada perusahaan ini. Itu jumlah yang kecil. Sisanya, masih belum diketahui. Saya rasa mereka tidak akan memilih perusahaan ini lagi,”.

Daniel menegakkan kepalanya. “Mereka mencurigai kita?”.

“Tidak. Hanya saja, untuk saat ini, surat pernikahan palsu yang digunakan nona Jung, masih terbatas penggunaanya. Beberapa saham dan properti, memerlukan kehadiran nona Angel sendiri untuk mencairkannya,”.

Daniel mengangguk-angguk membenarkan ucapan asistennya. Dia mengetuk-ketukkan pena di berkas tadi. “Tuan Jang, fokuskan saja pada pengumpulan fakta ini. Biarkan para tikus bermain-main dulu, sampai akhirnya masuk perangkap,”.

Ucapan percaya diri Daniel nyatanya tidak membuat asistennya mengubah ekspresi kecemasannya. “Sanjangnim, saya hanya mengingatkan bahwa mereka bisa saja bertindak lebih jauh. Dan saya khawatir dengan keselamatan nona Angel sendiri,”.

“Maksudmu? Mereka tidak akan berani menyentuh Angel karna hanya Angel yang bisa mencairkan warisan itu,”.

Tuan Jang menghela nafas panjang. “Benar, tapi dikatakan bahwa jika sampai nona Angel mengalami musibah yang mengakibatkan kelumpuhan atau  terburuknya adalah meninggal, maka 50% warisan akan dihibahkan di yayasan,”. Tuang Jang nampak mengamati Daniel sejenak. “Dan saya hanya takut jika mereka nekat membahayakan nona Angel, kemudian menggunakan yayasan palsu untuk menampung hibah tersebut,”.

“Damn it,” umpat Daniel yang menyadari kemungkinan baru saja yang dipaparkan. Dicengkeram dengan sangat pena di genggamannya. “Dan satu-satunya cara untuk menghindari kemungkinan terburuk itu adalah-,”.

“Perceraian nona Angel,” sambung tuang Jang.

***

Kevin menggerak-gerakan kepalanya dengan pelan, mengikuti irama lagu yang tersalur dari headphonenya. Matanya terpejam dan jemarinya bergerak ringan mengetuk pahanya.

Seorang perempuan paruh baya memasuki ruangannya. Dia tersenyum ketika mendapati keponakan lelakinya bersantai di ruangnya. “Have you been here for while?”. Sang Bibi menarik salah satu headphone yang tersumpal di telinga Kevin.

Kevin membuka matanya. “Ah, just couple minutes ago,” jawabnya malas sembari membenahi cara duduknya. “Hanya merasa bosan saja, Bi. Maaf jika tak memberitahumu akan kedatanganku,”.

Sang bibi malah terkekeh ringan. “Aigoo, sejak kapan uri Kevin menjadi begini sopan?”.

Kevin memajukkan bibir bawahnya untuk menanggapi celotehan sang Bibi. “Sejak rumah menjadi pekuburan karena ditinggalkan oleh malaikat tercantiknya. Dan sekarang tak ada alasan bagiku untuk pulang kesana,”.

Sang bibi membelai rambut Kevin. “Noonamu sudah mempunyai kehidupannya sendiri. Seharusnya kau juga senang jika melihatnya bahagia,”.

“Tapi aku kesepian, Bi. Selama ini hanya noona yang menjadi alasanku bertahan di keluarga ini,”.

“Kau memiliki duniamu sendiri Kevin-a. Sepantasnya jika kau berbahagia juga di sana,”.

“Hish, tapi aku benar-benar merindukan noona,” ucap Kevin blak-blakan. “Sekarang tidak ada lagi orang yang memarahiku jika aku tak pulang. Tak ada orang yang dengan setia menungguiku di pinggir sirkuit. Tak ada lagi orang yang memberikan salam paginya untuk membangunkanku,”.

Bibinya hanya menggeleng-geleng dengan tersenyum. “Kalau begitu carilah seorang gadis,”.

“Haish, itu bukan penyelesaian, Bi,”.

“Lalu?”.

“Bagaimana kalau aku culik kembali Angel Noona dari Lee Donghae itu,” khayal Kevin.

“Kau terlalu berimajinasi, Dear. Sudahlah kau hanya merasakan sister-complex saja,”.

“Aku serius, Bi,” rajuk Kevin. Bersamaan dengan itu, seorang masuk ke ruangan tersebut dan membungkuk hormat pada sang Bibi.

“Ada apa, Jae?”.

Jae meletakkan sebuah foto di hadapan Bibi Kevin. Dia melirik sejenak keberadaan Kevin yang membuatnya sedikit ragu untuk membarikan informasi.

“Tak apa, Jae. Biarkan dia juga mendengarkan,”.

Jae mengangguk. “Kwon Young Roo, 35 tahun, distrik Kagnan, buronan nomor 21, dan ahli dalam penggunaan senjata berupa pisau,”.

Wanita paruh baya itu mengangkat dan mengamati foto tersebut. Dia menyunggingkan senyum miringnya. “Jadi orang seperti ini yang dikirim wanita laknat itu untuk menghabisi keponakanku?” tanya retorisnya pada diri sendiri,

***

“Kenapa Oppa tak pernah menceritakannya?” tanya tajam Cheonsa pada lelaki di hadapnya.

Lelaki itu melepas kacamatanya dan memijit keningnya pelan. Didorong kursinya mundur kemudian beranjak menghampiri adik perempuannya. Disandarkan tubuhnya di meja kerjanya. “Karena bukan kapasitasku untuk mengumbar aib itu, Angel,”.

“Dan sekarang semua terasa menyakitkan ketika aku melihatnya sendiri, Oppa,”.

“Kalau begitu, ini adalah permulaan rasa sakit sesungguhnya,” ucap Daniel enteng. Seakan dirinya sudah kebal dengan berbagai rasa lara.

“Dan benarkah dugaanku jika semua ini hanya masalah harta warisan harabeoji?”.

Daniel tersenyum kecut. Melupakan fakta bahwa adiknya cukup pintar untuk menganalisis keadaan. “Bukan hanya sesimpel itu, Angel,”.

Cheonsa membelalakan matanya tak percaya, bagaimana mungkin perselingkuhan dan konspirasi ayah kandungnya sendiri disebut ‘simple’?. “Apakah Oppa selalu memandang kecil masalah keluarga kita? Apakah hati Oppa sudah membeku?”.

“Apa kau percaya padaku, Angel?” Daniel menjawab pertanyaan Cheonsa dengan pertanyaan.

“Aku selalu mempercayaimu, Oppa. Tapi mengapa kau tidak pernah berlaku sebaliknya?” tuntut Cheonsa.

Daniel menarik nafas panjang, lalu menyeringai. “Karena kebenaran itu menyakitkan, Angel,”.

“Jadi benar kalau Appa bersama wanita itu-,” perkataan Cheonsa terpotong dengan anggukan Daniel. Seolah sang kakak sudah mengetahui lanjutan pertanyaan Cheonsa. Membuatnya mengeratkan pegangan pada tali tasnya.

Cheonsa melipat bibirnya sekedar menahan rasa perih yang menggerayang. Mau tak mau, dan seberapa pun dia menghindar, toh akhirnya masalah harus dihadapi. Dan di sini, dia memulai titik untuk menyelesaikannya. “Lalu, tindakan Oppa?”.

“Kutanyakan sekali lagi, apa kau percaya padaku?” Daniel mengucapkannya dengan datar.

Cheonsa hanya mengangguk. Untuk saat ini, hanya Daniel-lah orang yang bisa dipercayanya. Figure kakak idolanya, meski sikap Daniel yang seakan tak acuh pada adik-adiknya.

“Maka bercerailah dengan Lee Donghae,”.

***

Cheonsa meremas-remas ujung gaun tidurnya. Memikirkan ulang semua pembicaraannya tadi siang dengan sang kakak. Matanya memejam, membiarkan air mata menuruni pipi putihnya. Setidaknya, sampai ketika Donghae belum pulang, dia ingin terlihat manusiawi dengan meratapi nasibnya.

Pesona, charisma, keanggunan, keagungan, dan intelek semua itu bersatu dalam tubuhnya. Namun, buktinya, ada hal sederhana yang tak bisa direngkuhnya. Hal kecil ternama ketulusan. Andai saja ketulusan itu ada diantara keluarga besarnya, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi. Semua hanyalah sebuah kamuflase yang indah.

Cheonsa mengusap pipinya cepat saat mendengar dering ponselnya. Dia segera mengangkat panggilan tersebut. Raut wajahnya berubah menjadi tegang seketika. Hanya kurang dari semenit dia berbicara, tapi dampaknya luar biasa. Cheonsa segera berlari menuju kamarnya untuk mengganti baju.

Dirinya hampir saja menabrak seseorang saking paniknya. “Hae-ya, kau mengejutkanku,”.

“Kau mau ke rumah sakit? Tapi ini sudah pukul 08.00 malam,” ingat Donghae pada Cheonsa ketika melihat istrinya tersebut memakai coat.

“Tidak. Oemma hari ini kembali tak stabil. Pihak rumah sakit sebenarnya memintaku datang esok, tapi entahlah, aku benar-benar merasa harus ke sana sekarang,” cerocos Cheonsa.

“Kau terlalu khawatir, Sayang,” Donghae mendekati Cheonsa dan mengelus pelan lengan atas perempuan itu.

“Entahlah, Hae-ya. Aku merasa tidak tenang,” Cheonsa memberikan tatapan memohonya agar diizinkan keluar. “Kumohon,”.

“Baiklah, kita akan ke sana sekarang,”. Donghae akhirnya mengalah. Tak tega juga melihat raut kecemasan di wajah sang istri.

“Kita? Biarkan aku sendiri saja,”.

“Tidak akan, aku akan mengantarmu,”.

“Tapi kau baru saja pulang, Hae-ya. Perjalanan akan memakan waktu 3 jam,”.

“Lalu, apakah aku harus merelakan istriku menyetir keluar kota sendiri di malam seperti ini?”. Donghae menyusuri poni Cheonsa.

“Tapi-,”.

“Tidak ada tapi, aku tetap mengantarmu,” Donghae mengambil jemari Cheonsa. “Kajja,” dia menarik tubuh Cheonsa.

Cheonsa hanya tersenyum atas perhatian yang lelaki itu berikan. Setidaknya ada embun penyejuk di gersangnya hati. Lelaki itu terlalu sempurna untuk dilepaskan.

***

“Oemma, kau mendengarku?” tanya Cheonsa yang sedikit kaget saat mendapati ibunya belum terlelap di jam sekarang. “Oemma,” panggil Cheonsa sekali lagi saat ibunya masih saja tidak merespon.

“Dia…pembunuh…Sa-ya,” ratap sang ibu yang pandangannya masih kosong.

Cheonsa mengerutkan kening sambil melirik Donghae yang berada di sampingnya. “Nugu-ya, Oemma?”.

“Dia…pembunuh…Sa-ya,” Ny. Han mulai terisak walaupun matanya masih belum terisi suatu obyek. “Pembunuh…Sa-ya,”. Bahu sang bunda terguncang kecil karena isakan yang semakin menjadi. “Pembunuh…Sa-ya,” air matanya mulai merata di pipi.

Cheonsa merangkul bahu ibunya. Membawanya dalam pelukkan. “Uljima, Oemma. Uljima,” ditepuk-tepuk dengan lembut punggung sang ibu. “Oemma aman di sini. Jangan takut,” bujuk Cheonsa agar sang bunda tenang.

Tak sampai tiga puluh detik dalam posisi memeluk, tiba-tiba saja Ny. Han menghentikan tangisnya. “Pembunuh,” geramnya. Dia menarik tangan kanannya yang sejak tadi terbenam di sisinya. Kemudian menyeringai penuh kegetiran.

Dan dengan gerakan cepat, tangan Donghae melingkar di perut Cheonsa, menarik perempuan itu. Menjauh dari Ny. Han Eunri. Nafasnya tercekat, matanya membelalak melihat pemandangan di hadapnya.

“OEMMAAA!!” jerit Cheonsa setelah sadar apa yang terjadi.

***

Donghae memerhatikan wanita di sisinya dengan prihatin. Wanita berparas ayu itu terlihat seperti seorang malaikat yang sedang berduka. Dress hitam yang kontras dengan warna putih kulitnya, mengentalkan kesan lara yang ditanggungnya. Sang wanita sudah tak menangis lagi seperti semalam, namun itu malah menambah keperihan sendiri bagi Donghae. Dia lebih memilih melihat sang wanita menangis, menumpahkan emosinya, daripada terdiam seperti mayat seperti sakarang. Donghae meremas jemari wanita tersebut untuk memberikan kekuatan. Menunjukkan bahwa dirinya ada di sampingnya selalu, untuk istrinya.

Kevin, putra bungsu keluarga Han, tetap memasang wajah kakunya. Bukannya sebuah kesedihan, kedua bola matanya malah menyiratkan kebencian yang mendalam. Pandangannya menghujam ke peti hitam di depannya. Wanita yang dipanggil ‘Oemma’ itu meninggalkan luka yang mendalam di hatinya.

Daniel, putra sulung, menundukkan kepalanya semenjak peti sang bunda memasuki gereja.  Tak ada air mata yang mengalir. Karena baginya, air matanya sudah mengering sejak 18 tahun silam ketika menyaksikan adegan mengerikan. Kilasan adegan yang sampai sekarang disimpannya rapat-rapat. Daniel mengepalkan tangannya kuat, merasa gagal untuk menjaga ibunya.

Seorang wanita paruh baya dengan dress hitam elegannya memasuki gereja. Dia meletakkan sebuket bunga lili di depan peti hitam itu. Bibirnya tertarik membentuk seringaian kemenangan. “Akhirnya, aku tak perlu repot-repot menghabisimu, Han Eunri,” batinnya. Dan ketika tubuhnya membalik, sebuah tamparan tepat mendarat di pipi kirinya. Membuat kepalanya tertoleh ke kanan.

“Dimanakah letak harga dirimu hingga berani menginjakkan kakimu di sini,” geram Cheonsa.

Jung, wanita yang ditampar, memegang pipinya yang memanas akibat tamparan Cheonsa. “Kau,” tangan Jung sudah siap melayang ke wajah Cheonsa untuk membalas, namun sebuah tangan menahannya.

“Maaf, nona Jung. Saya minta untuk tidak menambah keributan di acara sakral ini,”.

“Cish, istrimu terlebih dahulu memulai, tuan Lee. Apa dia tak tahu malu?” Jung merendahkan suaranya. Jelas tersirat berjuta kemarahan di nada bicaranya.

Donghae melingkarkan sebelah tangannya ke bahu Cheonsa. Kemudian memutar tubuh Cheonsa hingga menghadap ke arahnya. Membenamkan sang istri di dada kirinya, sekedar untuk meredakan emosinya yang meletup-letup.

Cheonsa terdiam. Kepalanya terlalu pening untuk sekedar ikut mendebat wanita yang ia tampar. Setidaknya, untuk saat ini, dia membiarkan dirinya bersembunyi di tubuh lelaki itu.

“Kalau begitu, maafkan istri saya, dia hanya sedang terguncang,” Donghae menjaga kesopanannya. Dirinya juga sempat kaget ketika tiba-tiba Cheonsa menampar Jung di tempat umum. Dia tak mengerti apa yang terjadi, hanya yakin bahwa Cheonsa bukan orang yang dengan mudahnya mempermalukan orang lain tanpa alasan kuat.

“Maaf, nona Jung. Saya rasa, agashi sebaiknya meninggalkan tempat ini,” suara Daniel menyela. Mencoba ikut menengahi perdebatan kecil yang terjadi.

“Cish, kalian memang sama saja,” sungut Jung yang segera meninggalkan gereja tempat penghormatan terakhir bagi Han Eunri dengan langkah yang menghentak keras. Dan sepasang mata hitam, milik seorang pria paruuh baya yang duduk di barisan depan, mengikuti adegan tersebut dengan tatapan nanar.

“Hae-ya, sebaiknya kau bawa Angel pulang. Dan Kevin, tolong antarkan noonamu sampai depan,” perintah Daniel kemudian. Dia mengelus sebentar puncak kepala adiknya yang berada di dekapan Donghae.

“Ne, Hyung,” Donghae mengiyakan perintah kakak iparnya setelah menilik keadaan Cheonsa yang kacau. Dibungkukkan tubuhnya, lalu dilingkarkan tangannya di kaki Cheonsa untuk membopongnya.

Kevin mengekor Donghae dari belakang. Dia merogoh kunci di saku luar jas Donghae dan membantu membukakan pintu mobil Donghae. Setelah memastikan Cheonsa masuk, Kevin menutup pintu black audi tersebut. Sempat beberapa saat terpaku melihat noonanya, dari luar, yang hanya memejamkan mata dengan sedikit air mata yang merembes ke wajahnya. Diserahkan kunci yang dipegangnya pada Donghae.

“Gomawo Kevin-a,”.

Kevin mencekal lengan Donghae. “Tolong jaga Noona, Hyung,” pesannya. Kali ini dia tulus mengatakannya. Hatinya terketuk juga saat melihat bagaimana Donghae melindungi dan memperlakukan noona kesayangannya.

Donghae menepuk pelan jemari Kevin yang mencengkeram lengannya. “Itu sudah merupakan tanggung jawabku, Kevin-a,”.

***

Cheonsa memeluk raganya sendiri. Bibirnya gemetar. Masih jelas diingatannya bagaimana pisau itu menancap di dada sang ibu. Dia masih bisa membau anyir dari darah merah yang menodai pakaian warna biru laut milik ibunya. Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya. Dan pertanyaan utamanya adalah mengapa sang ibu nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

“Sayang,” Donghae mencoba menarik kesadaran Cheonsa. Dibelainya rambut hitam milik Cheonsa. “Kau makan dulu, ya?”. Dia mengambil semangkuk bubur di meja samping ranjang. “Em,” Donghae menodorkan sesendok bubur di depan bibir Cheonsa.

Namun sayangnya, Cheonsa sama sekali tak mengindahkannya. Diri dan hatinya seakan sedang tersedot ke dunia lain. Hanya sebuah getaran bibir dan tangannya yang menunjukkan bahwa dirinya masih bernafas dengan baik.

“Buka mulutmu, Sayang. Perutmu belum teridi sejak tadi pagi,”.

Cheonsa bergeming. Masih tetap menatap kosong ruang di hadapnya.

“Aku tak mau jika kau nanti sakit,” tangan Donghae dengan setia menggantung di udara, tepat di depan mulut Cheonsa. Menunggu reaksi perempuan itu.

Dan akhirnya, Donghae menghela nafas pelan. Diletakkan kembali sendok dan mangkuk buburnya setelah menerima penolakan Cheonsa. Tangannya terangkat dan meraup wajah Cheonsa. “Kalau dengan menangis bisa mengurangi bebanmu, maka menangislah,”.

Cheonsa menggeleng lemah. Kedua tangannya masih setia memeluk raganya. “Kenapa, Hae-ya?” rintihnya. “Kenapa Oemma melakukannya? KENAPA?” histeris Cheonsa.

Donghae menarik bahu Cheonsa ke arahnya. Menjadikan sang angel jatuh tepat di dekapannya. “Menangislah, Sayang,” tangannya mengelus dengan lembut punggung Cheonsa.

Cheonsa menenggelamkan wajahnya di bahu Donghae, hingga ujung hidungnya dapat menyentuh kulit bahu lelaki tersebut. Air matanya mengalir juga. Setetes demi setetes, dan akhirnya membuat aliran anak sungai.

Donghae bisa merasakan bahunya ,yang tak tertutup kaus, basah. Dia mengeratkan pelukannya. Tak ayal, setetes air matanya jatuh di pipi, ikut merasakan kepedihan yang diderita sang istri. “Uljima, Sayang,”.

Tangisan Cheonsa makin tak terkendali. Dia tergugu hebat di bahu Donghae. Meluapkan segala laranya. Sekarang, dirinya kehilangan sang ibu yang merupakan wanita yang paling dikasihinya. Memupuskan harapannya untuk melihat kembali senyum ibunya yang hilang semenjak bertahun lalu. Keluarganya memang bukan tipe keluarga bahagia dengan ibu yang mengasuh dan menyayangi anak-anaknya. Ny. Han Eunri seperti kehilangan arah semenjak hampir sepuluh tahun lalu. Membuat dirinya juga kedua saudara lelakinya seakan kehilangan sosok seorang ibu.

“Hae-ya,” rintihnya di sela isakan hebatnya. Kesedihan itu, kini terganti dengan luka yang membayanginya. Percerairan yang Daniel ajukan menghantamnya keras. Sekarang, bagaimana dirinya dapat melepas lelaki yang tengah memeluknya kini. Di saat dirinya berharap bisa memiliki keluarga kecil yang bahagia, tapi lagi-lagi harapan itu sirna.

Donghae dengan sabar mengelus punggung Cheonsa. Menyalurkan kasih sayangnya pada wanita itu. Yang dia tahu, wanita di pelukannya kini sedang sangat berduka akibat kematian ibunya.

Cheonsa hampir-hampir meraung. Tangan yang memeluk raganya mencengkeram kuat dressnya sendiri. Jemari kakinya menelengkung, tubuhnya menegang.

***

Donghae membenarkan kerah kausnya. Dia melirik ke arah ranjang tempat Cheonsa masih tertidur. Berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjang. Memerhatikan wajah Cheonsa yang pucat karena menangis semalaman. “Pusing?” tanya Donghae saat Cheonsa membuka matanya.

Cheonsa hanya mengangguk lemah dan tersenyum tipis. Akibat luapan emosinya semalam, pagi ini dia merasakan dampaknya.

Donghae mengangkat tangan kirinya untuk mengecek waktu. Mendesah pelan. Jika bisa memilih, hari ini pasti hanya akan dihabiskan untuk menjaga Cheonsa. Mengingat temperamen Cheonsa yang masih tak stabil, ditambah kondisi raga wanita itu. Namun, apa daya, dirinya sudah terikat kontrak kerja.

“Pergilah,” suara serak Cheonsa.

“Tadi aku sudah menelpon Lynn. Sebentar lagi dia akan kemari untuk menemanimu,”.

“Seharusnya tak perlu merepotkannya, Hae-ya. Aku baik-baik saja,”.

“Tapi aku tidak. Aku tidak tenang meninggalkanmu seperti ini,”.

Cheonsa hanya mengangguk lemah. Tidak membantah lagi. “Gomawoyo,”.

Donghae melengkungkan punggungnya untuk mencapai kening Cheonsa. Memberikan kecupan. “Aku pergi dulu,”.

“Hemm, hati-hati,”.

***

Donghae berjalan beriringan dengan Kyuhyun menuju basement. Wajahnya tertunduk. Merasa malas untuk menjalani hari ini. Dia menoleh karena merasakan sebuah tangan merangkulnya.

“Cheonsa Noona pasti akan baik-baik saja, Hyung,”.

Donghae mengulas senyum dan mengangguk. Dia kembali menegakkan kepalanya. Sedikit tenang karna Lynn akan datang ke apartemennya untuk menjaga Cheonsa. Dia merogoh saku jaketnya untuk mengambil iphone. Berniat memastikan Lynn dalam perjalanan menuju apartemennya. Dan karena kurang memerhatikan, bahunya sedikit menyenggol seorang yang berpapasan dengannya.

Orang tersebut sempat terhenti sejenak. Memandang Donghae beberapa detik, kemudian melanjutkan langkahnya. Donghae juga tak begitu ambil pusing. Dia mengangkat bahunya cuek, dan kembali meneruskan langkahnya.

Donghae terhenti tiba-tiba di depan mobilnya. Alisnya bertaut. Diputar tubuhnya ke arah pintu masuk ke basement. Sebuah perasaan tak enak mendadak menyergap hatinya. Selangkah, dua langkah dirinya malah berjalan berbalik.

“Hyung, cepat!” teriak Kyuhyun yang tak sabar melihat kelakuan Donghae.

Teriakan sang magnae membuat Donghae kembali ke kesadarannya. Ditepuk pelan kepalanya. “Hish, ada apa denganku,” desisnya. Dia segera berlari kembali ke arah mobil dan masuk ke dalam. Dan APV itu mulai bergerak meninggalkan apartemen.

Mata Donghae menatap ke arah luar jendela. Dia melipat bibir bawahnya. Punggung yang tadi menyandar di jok, tiba-tiba menegak. “DAMN, BERHENTI HYUNG!” dia berteriak pada managernya untuk menghentikan vannya.

Dengan sangat tergesa, Donghae keluar dari van. Berlari dan tak memedulikan beberapa ratus meter jarak yang sudah ditempuh van tadi. Akan lebih lama jika menyuruh mobil itu berputar dan berpindah jalur. Larinya semakin kencang seiring bayangan kelabu di pikirannya. Berlari dan berlari mengejar setiap detinya yang berharga.

…and this is what’s called a worry…

TBC*

Note: Mian, updatenya lama. Kekeke. Galau baca part ini?. Tenang aja, aku bukan tipe pecinta sad ending. Setiap ff yang kubuat selalu happy end, tinggal dari sisi mana happy end itu. Bye in next chap.

4 thoughts on “Please, Hold On [Part 5]

  1. omaigat! kasian banget si cheonsa, ibunya gila, ayahnya selingkuh, disuruh cerai, eh ibunya meninggal. ASTAGA! untung aja dia ga depresi kaya ibunya. kalo dia ampe depresi, kesian si ikan mokpo.
    AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!! Ini belum ada lanjutannya? WAJIB LANJUTIN! GAK MAU TAU, HARUS DILANJUTIN SESEGERA MUNGKIN. aqaqa
    Keren banget iniiiiihhhhhhhh. ak dari pagi bacain dari part awal sampai sekarang, owastagaaaaaaaaaaahhhhhh ini keren gila ceritanya. konflik ceritanya ga nanggung, setiap part pasti punya konflik sendiri jadi ga bosen bacanya. terus pemilihan katanya juga tepat, di saat sedih ya jadi ikut sedih, di saat marah ya jadi ikut marah, di saat seneng ya jadi ikut seneng, di saat kesel ya jadi ikut kesel, di saat lucu ya jadi ikut ketawa. daebak banget lah pokonya. siapa nih author-nya? mau aku todong buat part 6-nya. PLAAAAKKK!!! canda deng.
    cewe yg di poster yang jadi cheonsa-nya itu yg main 49 days, kan? cocok banget! dia emang angel banget. sip banget deh! cocok sama donghae. dan aku suka karakter donghae di sini yang dewasa dan romantisnya gak over dosis *ngebayangin hae di majalan ceci
    nice FF, Arsvio! Keep it up! Aku nantikan part selanjutnya. Jangan lama-lama! Nanti aku gerah sendiri. aqaqa

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s