Sakura, Sakura

Author           : HanHyunRa / Oca Ananda’s

Main Cast      : Minho – Shinee as Sakura

                          Rio – OC (Original Character)

                          Onew – Shinee as Kak Minho 

Genre                         : Romance, Fantasy

Rating            : 13

Disclaimer    : Cerita ini diadaptasi dari komik berjudul sama. karakter Kak Saku aku ubah menjadi Kak Minho,  yang lain tak ada berubahan. Happy Reading!

 

Sakura, Sakura

            Liburanku di Kyoto yang seharusnya menyenangkan malah jadi ngebosenin gini.

Aku duduk di teras depan rumah kak Minho sambil memegangi buku yang hanya kubuka halaman tengahnya. Mengedarkan pandangan ke penjuru halaman rumah kak Minho yang sudah di hiasi bunga sakura yang berjatuhan. “Sayang sekali dimusim bunga sakura yang indah ini aku tidak bisa berdua bersama kak Minho” gumamku yang terselipkan sebuah kekecewaan.

Padahal, satu tahun yang lalu ketika aku kelas 6 SD kak Minho berjanji padaku akan mengajaku melihat bunga sakura bersama di sini. Tapi nyatanya ketika aku sudah ada waktu untuk berlibur, dia malah sibuk dengan ‘tugas kuliahnya’. Aku tahu sih, ini bukan salah kak Minho, tapikan masa di musim semi yang indah ini dia sama sekali tak meluangkan waktunya untukku yang sudah datang jauh – jauh dari Tokyo untuknya. Lagipula…besok kan hari ulang tahunku :’(

“Hari ini aku ada janji” katanya waktu aku mengajaknya pergi melihat bunga sakura.

“Kok begitu!?” kataku tak terima dengan jawaban kak Minho.

“Besok saja, ya? Aku janji, deh.” ucapnya memberi kompensasi.

“Hari ini kamu jalan – jalan sendiri dulu ya.” Ujar kak Minho, ekspresinya merasa bersalah.

Huuh…terpaksa aku harus jalan – jalan sendiri hari ini. Meskipun kak Minho sudah memberikanku peta Kyoto, sialnya aku buta arah. Jadi aku hanya bisa duduk termangu disini, menghabiskan waktuku yang harusnya mengesankan malah jadi membosankan.

***

Flashback

Sejak kecil, aku selalu bersama kak Minho. Entah itu tidur, makan, bahkan ketika aku masuk sekolah dasarpun aku selalu di temani kak Minho. Ibu adalah wanita karir yang selalu pulang malam, jadi kak Minho yang selalu merawatku dan menemaniku. Kata nenekku ketika beliau masih hidup, ia sering bercerita bahwa kak Minho yang menemani Ibu melahirkan aku, dia juga orang pertama yang menggendongku. Karena Ayah sendiri bekerja di luar kota, aku jarang sekali mendapat kasih sayang dari ayah, untung saja kak Minho menggantikan posisi Ayah. Aku merasa terlindungi jika bersama kak Minho. Nenekku juga menambahkan, ketika aku berumur 3 tahun aku akan menangis sambil meronta – ronta ketika kak Minho pergi sekolah. Aku sangat haus akan perhatian dan kasih sayang dari kak Minho. Tapi, dari dulu kak Minho punya banyak sekali teman perempuan, aku benci melihat mereka. Kak Minho harus di buat malu olehku karena aku selalu mengusili teman perempuan kak Minho. Tapi kak Minho tak pernah memarahiku, aku makin tergantung olehnya. Temanku bilang aku kena kelainan psikologis yang di sebut Brother-complex. Sebutan untuk seorang anak perempuan yang mempunyai hasrat seksual yang besar terhadap kakak/adik nya dan merasa cemburu terhadap kakak/adik nya sendiri.

Flashback : END

***

“Aaahhh” angin musim semi memang buat ngantuk. Aku membaringkan tubuhku di teras depan rumah kak Minho yang terbuat dari kayu.

“Padahal aku mau jalan – jalan sama Kak Minho” keluhku sambil memejamkan mata.

“Jalan sama aku yuk. Mau?” tiba – tiba terdengar suara berat. Aku membuka mataku, melihat sosok namja yang berdiri di sampingku. Hah? Siapa dia?

“Rio” aku terkejut dan segera membangunkan tubuhku.

“Kok? Kok kamu tau namaku!?” pekikku kaget plus takut.

“Tertulis dibukumu nih” ujarnya sambil terkikik. Aaa sial, aku sudah berpikir kalau dia penguntit.

“Nyasar ya?” tanya orang asing itu, sok tahu.

“Bukan urusanmu!” bentakku sambil merampas buku milikku yang dari tadi di genggamnya.

“Tanggal begini enaknya ke taman Maruyama. Sakuranya bagus – bagus” dia menjelaskan dengan nada sok.

“Kuil Hirano dan Konkai komyo juga seru.” Ujarnya yang diakhiri dengan senyum tipis.

“wah” aku terkagum – kagum. Seru juga sih kayaknya, tapi masa aku jalan sama orang asing yang baru aku kenal, eh tidak maksudku dia yang sok kenal padaku.

“Nah, jalan yuk!” bujuknya sambil merangkul bahuku. Sontak aku langsung menghempaskannya.  “Nggak mau!” tolakku mentah – mentah.

“Jangan manja. Kak Minho-mu lagi sibuk ‘kan?” katanya yang lagi – lagi membuatku kaget. Bagaimana dia bisa tahu kak Minho?!

“Nggak ada gunanya sedih sendiri kan?” katanya lagi dan mendekatkan wajahnya kearahku, seolah bisa membaca perasaan lewat mataku ini.

“Ayo Rio! Sakura disini, indah lho!” Ajaknya dengan tawa seperti anak kecil. Aku memutar otak sejenak…

“Ah..iya..” ujarku meng-iyakan ajakannya.

Meskipun dia orang asing tapi, apa salahnya? Aku rasa dia bukan orang jahat. Aku mengikutinya di belakang melihat hoodie hitam dan rambut hitam mengkilatnya, tingginya kira – kira 5 cm dariku. Aku bisa mendengarkan dia menyenandungkan lagu (?). Tiba – tiba tersadar dari ingatanku, ah iya! aku belum menanyakan namanya.

“Eh, namamu siapa?” tanyaku tanpa ragu.

Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku. “Sakura Ki” jawabnya.

Eh? Sakura Ki (Pohon Sakura)? Kok namanya aneh.

“Nama kecilmu?” tanyaku lagi, merasa tidak ngeh dengan namanya itu.

“Ki (Pohon)” Jawabnya sambil kembali berjalan.

Serius tuh? Namanya aneh… Ah yasudahlah.

“Kupanggil kau sakura ya?” ujarku.

“Terserah kamu” katanya, menoleh ke arahku dan memberikan pandangan dalam yang membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aih, aku tidak suka dipangangi seperti itu. kemudian memberi senyuman, seperti bisa membaca pikiranku.

Tiba di taman Maruyama kami melihat indahnya sakura yang bermekaran. Wah, sakura di sini lebih indah dari pada di rumah kak Minho. Orang – orangpun beriuh-rendah di taman itu mengagumi sebuah karya seni alami itu.

Tak jauh dari taman Maruyama kita berjalan ke Kuil Hirano. Kuil ini terlihat sangat indah jika dilihat dari kejauhan karena dihiasi oleh pohon – pohon sakura yang cantik. Banyak sekali masyarakat yang berkunjung ke kuil ini, hanya untuk melihat pemandangan dari lantai atas kuil. Mereka terus mengeluarkan mesin pemotret dengan lensa yang memiliki tingkat fokus tinggi dan membidik pemandangan dari kuil.

Ahh, senangnya!

“Bagaimana, Rio? Capek, ya?” tanya Sakura saat kita berjalan keluar dari Kuil Hirano.

“Ah, enggak kok” kataku. “Aku suka sakura sih.” Tambahku dan menyimpulkan senyuman.

Entah kenapa, ketika aku mengucapkan itu pipi Sakura jadi merah.

“Oh..begitu.” ucapnya, seperti tersipu.

“Bagus, Deh!” ujar Sakura ceria.

“Sekarang, kita naik ke sana!” ucap Sakura sambil menunjuk ke arah kuil di belakangnya, Kuil Konkai komyo.

Kuil itu tinggi sekali, di artikelnya sepertinya tidak setinggi itu. Dari penglihatanku aku tahu  terdapat sekitar 1000 anak tangga. Saking kecilnya, kuilnya terlihat sangat kecil dari bawah.

Tanpa mendapat persetujuan dariku, Sakura menarik tanganku dan menyeretku menaiki tangga itu. Sepuluh menit berlalu, kakiku rasanya mau copot, di tambah terik matahari yang membuat dahaga dan gerah.

“Cepat, nanti keburu gelap!” perintah Sakura sambil berkacak pinggang dan membalikan badan kearahku yang sempoyongan.

“Sabar dong” ucapku lesu sambil berusaha mengatur nafasku yang terengah – engah.

“Aku..nggak sanggup la..giii” rintihku kelelahan. Kepalaku pusing.

Sakura melihatku dengan tatapan ‘iya aku tahu kau lelah’.

“Kalau begitu…”

Dia mendekat kearahku yang loyo ini.

“Hup!”

“Kyaaaaa” pekikku seketika.

Dia mengangkat tubuhku dan menggendongku posisiku ada di depannya, dia menjunjung punggung dan kakiku seperti menggotong orang pingsan.

“Pegangan ya!” katanya mengingatkan. Tentu saja aku sudah menggenggam hoodienya erat – erat.

Wuuussshhhhhhhh

“Uwaaaaaaaaaaaaaa” teriakku sambil memejamkan mata kuat – kuat merasakan adrenalin dalam dadaku. Cepat sekali, rasanya seperti di bawa melayang.

“Sudah sampai..” ucapnya santai, lantas aku membuka mataku.

“Cantik bangeeeeeeettt” pekikku ketika melihat Bunga sakura yang berjatuhan banyak sekali. Angin menimbulkan suara – suara kecil yang membuat tempat ini makin indah. Wowww takjub! Kuil Konkai komyo tak kusangka indah sekali! Ternyata dibalik perjalanannya yang mematikan terdapat surga bunga sakura yang menakjubkan!. Mataku serasa seperti di pijat oleh fenomena yang ada di depanku.

Eh… “Ma..makasih, ya!” teriakku saat aku sadar aku masih berada di gendongannya. Dia menggidikan bahu. Aku sudah turun dari gendongannya dan berjalan menjauh darinya. Payah! Aku biarkan orang lain menggendongku. Aduh, jantungku berdebar kencang sekali sih. Rasanya sesak. Tapi kenapa pipiku terasa panas?

***

Malamnya…

“Jadi, dia yang menemanimu?” respon kak Minho setelah mendengar cerita jalan – jalanku bersama Sakura.

“Iya. Sakuranya bagus banget, deh” balasku antusias.

“Dia naksir kamu, tuh!” kata kak Minho terkikik usil.

“Enggak kok!” elakku. Apaan sih kak Minho, aku kan sukanya padamu.

“Kak Minho..kalau besok..” belum selesai aku berkata, kak Minho sudah memotong.

“Rio..Maaf banget yaa besok aku ada janji penting!”

“Lagii?!” pekikku mendengar ungkapannya. “Besok kan ultahku!” teriakku. Tak terima.

“Maaf ya, Rio. Kubelikan hadiah deh..” Ujar kak Rio sambil tersenyum kecut. Merasa bersalah.

“Kamu mau apa?”

Huh! Kak Minho jahat! Aku sudah tak tahan lagi! Dia tak mempedulikan aku! Dia selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Padahal besok ulang tahunku. Apa tidak bisa setidaknya meluangkan waktuku?! Padahal dia yang mengajakku ke sini, tapi apa?! Dia ingkar!

“Kak Minho bodoh!!!” umpatku kemudian berlari ke kamar.

Ku jatuhkan tubuhku ke kasur lipat dan menutupi wajahku yang berlinang air mata dengan bantal.

Aku menghela nafas panjang kemudian memejamkan mataku secara paksa.

“Kayaknya…aku harus belajar melupakanya” ucapku dalam hati. Kekecewaan ini membuatku sadar bahwa aku tidak akan pernah memiliki kak Minho. Dia lebih tua 6 tahun dan kami ini sepupu, brother-complexku mungkin memang harus disembuhkan dari sekarang.

***

Aku terbangun dari tidurku. Ku renggangkan otot – otot mata dan tubuhku seperti seekor kucing.

“hoaaaam” Kenapa tadi malam aku memimpikan Sakura ya? Ahh.. mana mungkin aku menyukai orang asing! Mungkin karena seharian kemarin aku bermain bersamanya.

Hari ini aku akan jalan – jalan sendirian. Aku nggak butuh kak Minho, akan aku buktikan kalau aku bisa mandiri.

Aku menatap kosong kearah bunga – bunga sakura yang berjatuhan di taman Maruyama.

Hari ini, Sakura nggak ada.

“Rio?” ada yang memanggilku. Dheg! Ada sebuah rasa yang aneh saat melihat sosoknya. Rasa nyaman seperti saat aku bersama kak Minho dulu.

Nggak mungkin.

“Sendirian lagi ya?” ucapnya sambil mendekat kearahku.

Nggak mungkin aku…

“Iya…” jawabku lesu.

Deg..deg..deg

“Rio..” sahut Sakura.

Ahhh! “Apa itu? Sulap ya?!” sergahku ketika melihat bunga sakura keluar dari tangannya. Sakura melihatku, senang. “Kerennn!!”

“Nah senyum dong…”

Eh? Jadi dia memberikan sulap itu agar aku tersenyum? ^^

Deg.deg.deg.

“Rio..senyummu manis sekali lho” ungkap Sakura sambil terkekeh. Ah, semburat ini keluar lagi. Rasanya damai melihat dia tertawa seperti anak kecil.

“Hahaha makasih!”

“Temani aku melihat – lihat sakura ya!” ajakku pada akhirnya.

Sakura menunjukan jempolnya dengan pasti. “Siap!” katanya dan tersenyum lebar. Aku terkekeh.

Aneh…

Sakura selalu bisa membuat hariku cerah kembali.

***

Tawaku dan Sakura bersahut – sahutan. Kali ini Sakura memakai hoodie berwarna biru, modelnya masih sama. Aku mengejeknya karena dia mempunyai jaket yang sama modelnya hanya beda warna.

Kami mengelilingi kuil Konkai komyo dengan penuh canda, beda dengan kemarin sekarang aku sudah tidak lelah lagi ketika menaikki tangga menuju kuil ini. Aku dan Sakura bisa semakin akrab, Sakura sangat bersemangat aku jadi ikut bersemangat dibuatnya!

“Hahahaha liat itu.. burung pipit sedang berpacaran” bisik Sakura. Aku terkekeh.

Ah! Mataku tertuju pada seorang namja di depanku. Apa dia.. kak Minho!? Dia..benar – benar kak Minho-ku.

Aku melihat kak Minho bersama seorang perempuan bergandengan tangan. Tawa merekapun bersahut – sahutan, seperti seorang kekasih. Dadaku sesak. kak Minho itukah janji pentingmu? Kau lebih memilih wanita itu dibandingkan aku?

Aku berlari meninggalkan Sakura.

“Rio!” Aku bisa mendengar suara Sakura yang terdengar cemas.

Aku berlari kencang seiring dengan air mataku yang keluar deras dari mataku. Hiks..hiks..

“Rio!” Sakura menahanku dan menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan tangannya yang gemetaran. Aku memalingkan mukaku, tak ingin dia mendapati aku yang menangis seperti ini.

“Jangan menangis lagi, Rio” dia menarikku kedalam pelukannya. Tangisanku menjadi – jadi, akupun bisa merasakan dadanya yang berdegup kencang beradu dengan dadaku yang kian sesak.

Aneh..

Ini sungguh aneh..

Deg.deg.deg.deg.deg.

Degup jantungku kian tak teratur.

Jantungku serasa mau meledak.

“Lepaskan!” teriakku dan menghempaskan pelukan Sakura.

“Rio!” pekik Sakura.

Aku tak mau lebih dekat dengan dia. Perasaan ini sungguh aneh, aku muak.

“SAKURAAAA!!!!” Rio berteriak dan matanya membelakak gerakannya seperti akan menagkapku.

“KYAAAAAAAA!” aku merasakan diriku terhempas. Kuil Konkai Komyo terlihat makin jauh, aku melihat anak – anak tangga itu aku lewati dengan sangat cepat. Sakuraaa tolong akuuu

***

Rasanya seperti melayang. Aku masih menutup mataku erat – erat. Rambut panjangku menjuntai dan terombang – ambing. Mungkin sekarang ini aku sedang jatuh dari kuil dan aku akan ditemukan oleh orang – orang dan sudah tergeletak tak bernyawa.

“Rio” samar – samar kulihat seseorang di hadapanku. Mataku langsung membulat ketika sadar bahwa dia itu Sakura.

“Ki..kita terbang!?” teriakku sambil memegang erat pakaiannya yang sedikit aneh.

“Tenang Rio” ucapnya dan menyimpulkan senyumnya.

“Apa yang terjadi? Bajumu kok gitu?!” pekikku, penuh pertanyaan. Dia memakai baju Jepang dan rambutnya panjang diikat. Sakura menghela nafas, sedangkan aku masih melihatnya dengan tatapan penuh pertanyaan.

“Sebenarnya, aku peri sakura.” Ujarnya semakin membuatku bingung.

Peri?!

“saat melihatmu sedih sendirian, aku jadi tergugah.” Ungkapnya.

Ah, jadi dia ingin menghiburku? Ya tuhan…

“Tapi…lama – lama aku jadi…” lanjut Sakura membuat dadaku sesak kembali.

Napasku jadi sesak. Degup jantungku lagi – lagi tak teratur.

Aku ini aneh…

Aneh..

Kupejamkan mataku untuk mengelak perasaan ini. Bodoh sekali aku menyukai seorang peri.

“Rio.. aku.. Aku harus pergi” Mendengar ucapanya semua terasa gelap. Kenapa pergi!? Aku tidak…aku…kau tidak boleh..

“Pergi!? Kenapa!?” tanyaku penuh emosi sambil mengguncang bahunya. Aku menatapnya intens, melihat ke dalamnya. Mencari – cari sebuah jawaban. Tapi dia memalingkan pandangan. Kemudian menurunkanku secara halus, bahkan tak kusadari karena aku merasa bodoh…kau bodoh Rio!

“Peri Sakura dilarang berhubungan dengan manusia” jawabnya, tenang. Dia menatapku hangat, tapi aku tidak bisa tenang.

“Tapi ini sudah terlanjur. Kapan – kapan datanglah ke Kyoto lagi” katanya seiring dengan bunga sakura yang muncul dari tubuhnya. Ia berubah menjadi reruntuhan bunga – bunga sakura yang berjatuhan. “Aku pasti selalu melindungimu” ujarnya ketika tinggal wajahnya yang tersisa.

“SAKURAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriakku penuh penyesalan.

hingga akhirnya dia sirna menjadi kepingan – kepingan kecil kelopak bunga sakura yang indah.

Kenapa aku terlambat menyadarinya?

Perasaan ini…

Sebenarnya akupun menyukai Sakura… kataku dalam tangisku.

***

            Aku memasukkan baju – bajuku kedalam koper. Saatnya kembali ke kehidupanku yang membosankan di Tokyo.

“Rio, taksinya sudah datang!” kak Minho berteriak dari teras depan.

“Iyaa”

Aku segera menyelesaikan packingku dan berjalan ke teras depan.

“kapan – kapan datang lagi ya” ucap kak Minho saat aku hendak memasuki taksi.

“Tentu” jawabku dan memberinya senyuman. Kak Minho tertegun.

“Ada apa?” tanyaku mendapati dirinya.

“Kulihat ada yang berubah darimu” ungkapnya.

Aku tersenyum. “Memang…sekarang aku sedikit lebih dewasa” kataku pada akhirnya. Kak Minho menatapku heran. Aku membalasnya dengan senyuman kemudian melenggang ke dalam taksi.

Sekarang, Sakura pasti sedang mengawasiku dari atas pohon sakura itu. Kataku dalam hati dan meninggalkan Kyoto yang memberikanku sebuah pengalaman yang tak terlupakan :)

Seperti kuntum sakura yang berjatuhan  yang memenuhi lubuk hatiku.

Saat sakura mekar nanti aku pasti kembali untuk bertemu kamu.

 

TAMAT

 

Sebenernya, aku mau buat Minho Shinee jadi karakter ‘kak minho’ disini atau kalo di komik aslinya jadi ‘kak saku’ tapi berhubung Minho kayaknya mukanya kurang cocok buat karakter si Saku, jadi aku memilih Onew! :p
terus, aku inget pas di MV Ring Ding Dong Minho shinee kan gondrong tuh rambutnya akhirnya aku buat deh dia jadi karakter ‘sakura’ hehe
Kasih kritik saran ya jangan lupa! Makasih

 

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s