Not Human’s Heart [part 4]

Main Cast: Kim Hyo Jin, Cho Kyu Hyun, Super Junior

Genre: Romance (?), Frienship, yang jelas ni FF gaje

Rating: All Age

Author: Rahmi SarangheSUJU

Terimakasih admin, FF saya sudah dipublis. Saya adalah tipikal author yang akan melanjutkan FFnya pabila sudah melihat FF saya sudah dipublis, meski FF saya sedikit sekali yang baca…it’s Oke (sok ngingris) saya akui FF saya memang gaje. #mojok,mewek,gigit-gigit ujung baju!!. So selamat membaca, bagi yang baca tentu saja. Tapi, sebelumnya saya mohon maaf karena tokoh yang saya gunakan mungkin sama dg FF lain, tdk ada maksud apa2 hanya bingung mu pake nama apa buat yojanya.

 

******

‘Aigoo, ternyata kau memang mirip dengan Ji Hyun. Bahkan kau lebih cantik,’ ujar seorang wanita yang menyambut Hyo Jin begitu Hyo Jin menginjakkan kakinya di depan pagar sebuah rumah yang luar biasa besar. Wanita paruh baya itu menyambut Hyo Jin dengan senyuman dan pelukan seorang ibu yang penuh kehangatan.

Ya, hangat. Hyo Jin merasakannya ketika  wanita itu membentangkan tangannya dan Hyo Jin pun menjatuhan tubuhnya kepelukan wanita itu. Suasana ini membuat Hyo Jin tiba-tiba merindukan ibunya.

‘Omma, ayo disudahi saja berpeluk-pelukannya. Kalian akan sakit jika berlama-lama di luar dalam cuaca yang sedingin ini. Sudah berapa lama Omma menunggu kami sambil berdiri di sini? Lihat, baju Omma terasa dingin seperti ini,’ Soo Hyun yang ikut berdiri di belakang Hyo Jin meraba lengan baju Ommanya. Nyonya Kim melepaskan pelukannya dan membawa Hyo Jin memasuki rumah.

‘Mianhe, ajumma. Aku membuat ajumma menunggu,’ ujar Hyo Jin benar-benar merasa tak enak.

‘Ommo! jangan panggil aku ajumma, panggil Omma, ya?’

‘Ne?’ Hyo Jin menatap Nyonya Kim kaget dan kemudian ia mengalihkan tatapannya ke arah Soo Hyun yang melewati dirinya sambil membawa tas pakaian milik Hyo Jin. Soo Hyun membalas tatapan Hyo Jin dan tersenyum seraya mengangguk pelan.

‘Ne, Omma,’ ujar Hyo Jin kemudian, mereka pun akhirnya kembali saling tersenyum.

Hyo Jin bahkan masih tak henti-hentinya tersenyum ketika mereka telah berkumpul lagi untuk makan malam. Kali ini karena ia akhirnya menyadari bahwa Tuhan selalu bersamanya, mengawasinya, menjaganya dan selalu siap mengirimkan orang-orang yang akan mengulurkan tangan ketika ia nyaris jatuh ke liang penderitaan. Inilah kebahagiaan hakiki yang pernah ia rasakan sepanjang ia bernafas di dunia ini, kebahagiaan karena ia selalu merasakan keberadaan Tuhan Yang Maha Agung.

Hyo Jin mengamati Nyonya Kim seraya membantunya menyiapkan makan malam. Nyonya Kim, wanita paruh baya yang garis-garis kecantikan masih membekas jelas di wajahnya yang mulai memunculkan keriput-keriput kecil, wanita yang sungguh baik hati, wanita yang menyambutnya dengan senyum dan pelukan hangat seorang ibu, seorang malaikat penyelamat yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya.

******

Seperti seorang pendaki yang sedang khusuk dengan tali pengaitnya, saat Hyo Jin berfikir hidupnya sangat menyenangkan saat itulah seseorang memanggilnya dari bawah, membuyarkan konsentrasinya sehigga tali itu pun lepas kendali yang membuat tubuhnya terjatuh dari tebing yang tinggi menghantam tanah yang terjal.

‘Keluarlah dari rumah itu!’ Hyo Jin menatap layar handphonenya dengan ekspresi datar. ia baru saja menerima sebuah pesan singkat dari Kyuhyun. Sesaat kemudian ia pun memasukkan lagi benda itu ke dalam saku celemek merahnya, dan melanjutkan kembali pekerjaan yang tadinya sempat tertunda.

‘Banyak hal yang akan terjadi jika kau mengabaikanku!’ pesan kedua dari Kyuhyun yang diterima Hyo Jin sepanjang hari ini. Ia kembali memasukkan benda itu kali ini ke dalam tas punggungnya lalu melangkah ke luar restaurant. Jam kerjanya telah habis, setelah pamit kepada rekan-rekan kerjanya Hyo Jin bermaksud hendak pulang. Jarak antara restaurant dengan rumahnya cukup dekat, cukup hanya dengan berjalan kaki saja.

Begitu ia sampai di depan rumah berpagar hitam, handphone Hyo Jin kembali berdering. Kali ini sebuah panggilan, bukan lagi sebuah pesan.

‘Yobseo? Ne?’ Hyo Jin langsung mematung begitu ia mendengar seseorang berbicara di seberang telpon. Rasa takut seketika menghantamnya dan wajahnya pucat pasi. Seperti seseorang yang kehilangan akal sehat, dengan lemah seolah-olah ia sedang mengerahkan seluruh sisa-sisa tenaganya untuk melakukan tindakan itu Hyo Jin mengalihkan tatapannya ke arah rumah yang berdiri di balik pagar bercat hitam. Seakan-akan ia mendapatkan kekuatan dari rumah yang sedang ia tatap, hyo Jin pun akhirnya membuka pagar dan segera berjalan cepat memasuki rumah yang besar itu.

‘Omma,’ lirih Hyo Jin saat kakinya belum juga berhasil memasuki rumah. ‘Omma,’ Hyo Jin memanggil ibu angkatnya itu dengan sisa tenaganya. Begitu wanita yang ia panggil omma membukakan pintu, Hyo Jin memeluk wanita itu erat-erat. Dan kejadian yang menimpa Hyo Jin pun terulang, sang Omma terlihat jauh lebih shock, air matanya berjatuhan mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa putranya. Melihat keadaan sang Omma, Hyo Jin menguatkan dirinya sendiri untuk lebih tegar. Ia ingin menenangkan ommanya, tapi terlebih dahulu ia lah yang harus tenang.

****

Hyo Jin menatap Soo Hyun yang terbaring lemah dengan slang infus terpasang dilengannya. Soo Hyun masih tak sadarkan diri sejak keluar dari ruang IGD. Nyonya Kim menatap putranya sendu, air matanya telah mengering karena telah ia habiskan dengan meraung selama Soo Hyun diruang IGD. Nyonya Kim mengusap kepala putranya dengan lembut.

Hyo Jin melihat pemandangan itu dengan rasa bersalah yang tak dapat lagi ia tahan. Ia bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Nyonya Kim, mengahampiri Soo Hyun yang terbaring.

‘Oppa, mianhe,’ suara Hyo Jin bergetar. Hyo Jin meremas selimut yang menutupi tubuh Soo Hyun. Ia tak sanggup menatap wajah Soo Hyun. Hyo Jin menundukkan wajahnya dan air matanya mulai berjatuhan, ini semua terjadi karena dirinya.

‘Mianhe, Oppa. Aku yang salah. Mianhe,’ Hyo Jin terisak tak tertahankan.

Meski tak sepenuhnya mengerti, Nyonya Kim berdiri, meraih Hyo Jin ke dalam pelukannya

‘Sssst, sudahlah, tidak ada yang bersalah anakku, kenapa kau sampai berfikir seperti itu?’ Nyonya Kim mengusap-usap punggung Hyo Jin yang berada dalam pelukannya.

‘Aku yang salah omma, karena akulah Oppa terbaring seperti ini. Harusnya aku mendengarkan peringatannya. Omma, aku yang salah, mianhe Omma,’ Hyo Jin melepaskan raungannya yang tadi tertahan.

‘Ssst, sudah sayang, tidak ada yang salah. Semua yang tejadi kepada kita semua, jangan lupa Tuhan lah yang menetapkannya, jika sudah waktunya oppamu terbaring seperti itu tidak ada yang bisa mencegahnya, bukan? Sudah, sudah jangan menangis lagi, kalau Oppamu mendengarnya kau bisa dimarahi,’ sekarang giliran Nyonya Kim yang berjuang menenangkan Hyo Jin meski matanya juga mulai berkaca-kaca

‘Omma,’ kedua wanita yang sedang bertangis-tangisan itu sontak menoleh ke arah sumber suara.

‘Oh, Soo Hyun? Kau sudah bangun?’ Nyonya Kim menghampiri Soo Hyun yang sedang menatapnya dengan tatapan lemah. Wajah Soo Hyun terlihat pucat, meski tak ada segores luka pun yang menodai wajah tampannya. Tiba-tiba mata Soo Hyun beralih pada tangan sebelah kirinya yang digips dan dibalut dengan perban yang tebal.

‘Aku kenapa, Omma?’ ujarnya kemudian, lalu kembali menatap Ommanya dan Hyo Jin, meminta penjelasan.

‘Ommo! Soo Hyun-ah! Kau lupa apa yang terjadi padamu? Kau amnesia setelah kecelakaan itu anakku?’ Nyonya Kim memasang wajah shocknya, tapi nada bicaranya sungguh tidak normal untuk ukuran seorang ibu yang sedang mengkhawatirkan putranya, seolah-olah nyoya Kim sedang meledek Soo Hyun.

‘Ommaaa, mana mungkin Oppa amnesia kalau baru saja dia memanggil Omma? Omma jangan bercanda yang tidak-tidak begitu,’ Hyo Jin merajuk sambil menarik-narik lengan ommnya. Nyonya Kim terkekeh lalu kembali menatap Soo Hyun yang sedang tersenyum lemah.

‘Hehe…Kau baik-baik saja sayang? Lihatlah adikmu ini, tadi dia sampai meraung-raung dipangkuan Omma,’Omma, aku yang salah,’ ujar Omma sambil menirukan tangisan Hyo Jin tadi. Soo Hyun kembali tersenyum

‘Omoo! Omma, siapa yang tadi membuat bajuku basah karena tangisannya? Oppa, bagaimana perasaanmu sekarang? Kau membutuhkan sesuatu?’

Soo Hyun malah membalas tatapan Hyo Jin dengan tatapan seperti orang yang tengah berfikir. Ia menggeleng lemah dengan ekspresi datarnya, lalu berujar, ‘kenapa? kenapa kau sampai berfikir kau yang salah, kalau berfikir seperti itu lagi, jangan pernah panggil aku oppa lagi,’ Soo Hyun membuang tatapannya ke sisi lain di ruangan itu.

‘Oppa…,’ Hyo Jin merajuk. ‘Mianhe Oppa! Tapi ini memang salahku,’ujar Hyo Jin pelan sambil menundukkan wajahnya.

‘Benarkah?’ Soo Hyun memasang senyum jahilnya, bermaksud menghilangkan hal-hal buruk yang mengganggu pikiran adiknya. Soo Hyun tak mau Hyo Jin berfikiran macam-macam. Memang benar ia sadar betul dirinya sengaja ditabrak, tapi itu semua tidak bisa dijadikan alasan untuk membuat seorang Hyo Jin diliputi rasa bersalah.

‘Ish…Oppa! Apakah Oppa tidak merasa ada seseorang yang sengaja menabrakmu? Aku sudah diperingatkan, tapi aku mengabaikannya, aku hanya…tidak menyangka akan seperti ini. Aku harus bagaimana oppa? Jika aku tahu akan begini jadinya…’ Hyo Jin nyaris akan menangis lagi.

Nyonya Kim bergegas meraih Hyo Jin ke dalam pelukannya, tak bisa melihat anak angkatnya itu menangis lagi.

‘Kita akan hadapi bersama, sayang. Kita bisa melewati ini bersama. Sudah, jangan berfikir yang tidak-tidak lagi,’ ujar Nyonya Kim penuh cinta.

‘Huwaaa, Omma! Kenapa Omma begitu baik padaku? Kenapa Omma menyayangi gadis yang bisanya hanya menyusahkan ini? Hiks…’ tangis Hyo Jin pecah di pelukan Nyonya Kim, cinta yang diberikan wanita ini begitu menyentuh hatinya. Apa saja yang telah ia lakukan untuk Nyonya Kim sehingga ia pantas mendapatkan cinta yang sebesar ini? Tubuh Hyo Jin bergetar dipelukan Nyonya Kim karena kerasnya ia menangis.

Sebelum Nyonya Kim melepaskan pelukannya agar dapat melihat wajah Hyo Jin yang dibanjiri air mata, sebuah tendangan mengagetkan mereka. Hyo Jin menatap perutnya, sumber sebuah tendangan itu.

‘Ommo! Hyo Jin-ah, dia menendangku. Apa cucu Omma ini marah karena telah membuatmu menangis? Aigooo…’

 

*****

Super Junior baru saja selesai latihan ketika menejer hyung menghampiri Kyuhyun dan mengatakan ada seorang pemuda yang tengah menunggunya. Dengan tubuh penuh keringat dan keletihan, Kyuhyun menghampiri pemuda yang sedang membelakanginya itu. Kyuhyun terkejut begitu pemuda itu berbalik dan menatap Kyuhyun sepenuhnya. Kyuhyun kenal betul siapa pemuda yang berada di hadapannya ini meski mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Pemuda itu memberi salam dan memperkenalkan diri yang dibalas Kyuhyun dengan ekspresi datar.

‘Kyuhyun-sii, aku akan memaafkan dan melupakan perbuatanmu padaku asal kau mau berjanji satu hal. Lupakan Hyo Jin, jangan pernah melakukan apa pun lagi padanya,’ ujar pemuda itu pelan sambil memamerkan senyum bersahabatnya.

Kyuhyun mengamati lengan kiri pemuda itu sekilas, lengan yang digips dan dibalut perban, kemudian Kyuhyun memusatkan perhatiannya lagi ke wajah si pemuda sebelum akhirnya ia memamerkan evil smirknya dan berujar,’aku tak pernah meminta untuk dimaafkan.’

‘Hmmm, baiklah, anggap saja aku ini orang baik, aku akan memaafkanmu walau kau tak memintanya. Tapi dengan syarat jangan pernah mengganggu adikku lagi,’ ujar si pemuda yang sekarang tak lagi memamerkan senyumnya. Tatapannya lurus ke depan, menusuk tepat ke manik-manik mata Kyuhyun seolah ingin menegaskan setiap kata-kata yang ia ucapkan.

‘Kenapa aku harus melakukan itu? Dari pada memikirkan hal itu, bukankah lebih baik kau memikirkan dirimu sendiri, Kim Soo Hyun-sii?’ balas Kyuhyun sambil menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil yang sejak tadi ada ditangannya.

‘Hya, Kyuhyun-sii! Tidakkah sebaiknya kau berfikir ulang untuk semua tindakkan bodoh yang kau perankan selama ini?’ ujar Soo Hyun tajam, tapi ekspresinya menunjukkan seolah-olah ia sedang berbicara dengan seorang bocah. Sementara lawannya sedang menatapnya garang.

‘Kau pasti sudah tahu apa yang akan aku katakan, bukan? Haruskah seorang anak yang tak berdosa menanggung semua perbuatan yang dilakukan oleh ayahnya? Bagaimana? Kau sering mendengar pertanyaan ini? Yah… Lebih baik aku tak mengulang pertanyaan klasik yang membuatmu hampir mati bosan ini?’

‘Kim Soo Hyun-sii…’

‘Cho Kyuhyun-sii,’ Soo Hyun memotong perkataan Kyuhyun dengn cepat. ‘Aku tak akan bertele-tele lagi, Kyuhyun-sii. Aku minta kau jangan lagi mengganggu Hyo Jin. Kasus ayah Hyo Jin sekarang sedang diselidiki. Kau ingat kasus suap yang melibatkan ayahnya Hyo Jin? Sekarang, sedang marak diberitakan pihak yang berwajib menemukan bukti-bukti yang berhubungan dengan kasus ini, sekaligus seseorang yang diduga ikut terlibat, tapi sampai sekarang bukti-bukti dan orang itu belum juga diperlihatkan kepada publik. Dan penyelidik yang aku minta menyelidiki khasus ini tak menemukan adanya bukti-bukti dan orang tersebut. Tidakkah kau berfikir bukti-bukti dan calon terdakwa ini hanya fiktif belaka? Dan tidakkah kau berfikir modus seperti ini juga terjadi ketika ayah Hyo Jin akhirnya memberatkan ayahmu dipengadilan? Bukti-bukti fiktif yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak tertentu dan akhirnya bukti-bukti itu sampai ke tangan ayah Hyo Jin. Bagaimanapun ayah kalian bersahabat, kebenaran haruslah tetap ditegakkan Kyuhyun-sii. Yakinlah Ayah Hyo Jin juga mengalami konflik batin ketika harus memilih antara persahabatan dan kewajiban yang diembannya, kebenaran harus didahulukan.’

‘Orang itu bukan orang bodoh yang akhirnya lebih memilih mempercayai bukti-bukti yang katamu fiktif itu dari pada mempercayai sahabat karibnya sendiri, kecuali ia telah di bodohi oleh uang!’ teriak Kyuhyun muntab.

‘Sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali pasti jatuh jua, Kyuhyun-sii, dan sayangnya ayah Hyo Jin jatuh tepat pada kasus yang menimpa ayahmu,’ ujar Soo Hyun pelan.

‘Sebelum kau melanjutkan aksi gilamu pada Hyo Jin, ada baiknya kau mencari kebenaran di balik kasus suap ayah Hyo Jin. Setelah itu kau boleh membalaskan dendam membabi butamu itu pada orang yang mendalangi semua ini,’ Soo Hyun mengamati Kyuhyun sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia sedang bersabar menunggu reaksi apa yang akan Kyuhyun perlihatkan padanya. Jika semua usahanya tidak sesuai dengan harapan, ia akan menempuh jalan lain.

Untuk sejenak wajah Kyuhyun mengeras, ia meremas buku-buku jarinya dan mengalihkan tatapannya dari Soo Hyun ke pintu masuk ruang latihan gedung SM. Dari koridor dimana mereka sedang berdiri Kyuhyun dapat melihat member lain sedang berjalan keluar, pakaian mereka  dibasahi keringat dan dari langkah gontai mereka terlihat sekali mereka sedang keletihan. Salah satu dari mereka yang melewati pintu dan keluar belakangan mengikuti member lain menengok ke kiri dan ke kanan seolah-olah sedang mencari seseorang. Setelah mata pemuda itu bertemu pandang dengan mata Kyuhyun, pemuda itu tersenyum dan melambai-lambai dengan penuh semangat ke arah Kyuhyun. Wajah Kyuhyun seketika berubah lebih lunak.

‘Kyuhyuna-ah, pulang?’ teriak pemuda itu yang membuat member lain menghentikan langkahnya dan memutar tubuh mereka mengikuti arah tatapan pemuda yang tadi memanggil Kyuhyun.

‘Ne! Sungmin Hyung! Kalian duluan saja, tunggu aku di mobil!’ jarak mereka yang jauhnya lebih dari sepuluh langkah membuat Kyuhyun balas berteriak.

‘Oke! Jangan lama-lama!’ teriak Sungmin lagi sebelum akhirnya ia dan member lain menyadari keberadaan pemuda yang berdiri di samping Kyuhyun. Sungmin dan semua member memberi salam ke arah Soo Hyun, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.

‘Baiklah, karena kau akan pulang dengan hyung-hyungmu itu, sampai di sini saja pembicaraan kita,’ Soo Hyun diam sejenak, mengamati Kyuhyun, tersenyum dan kembali berujar,’ jika kau masih melanjutkan aksi balas dendammu pada Hyo Jin, aku peringatkan, kau akan kehilangan semuanya, Kyuhyun-sii. Termasuk kehilangan Super Junior-mu. Aku punya semua yang aku butuhkan untuk menghancurkanmu dalam sekejap.’ Soo Hyun menghampiri Kyuhyun dan meletakkan tangan kanannya ke bahu kiri Kyuhyun yang tengah menatapnya tajam. Soo Hyun menepuk-nepuk bahu Kyuhyun dan kembali berujar, ‘ini bukan ancaman Kyuhyun-sii, ini adalah ajakan genjatan senjata.’

Soo Hyun melangkah pergi, meninggalkan Kyuhyun yang mematung. Untuk sesaat Kyuhyun tak bergerak dari berdirinya, lalu kyuhyun menegakkan kepalanya dan menatap kepergian Soo Hyun yang mulai menghilang di ujung koridor. Dan akhirnya, Kyuhyun ingat ia harus menyusul hyung-hyungnya yang sedang menunggu di parkiran mobil.

 

TBC…

Mianhe, FF ini benar-benar gaje…

11 thoughts on “Not Human’s Heart [part 4]

  1. aigoo…
    Sumpah Soohyun oppa bnr2 gentle bgt, suka.. Suka.. Suka..
    Tapi Kyu udh tau blm ya kalo Hyojin itu lg hamil anak’a dia??
    Masa Ku g kshn sm anak kandung’a sendiri si??
    Jahat ih….
    Ditunggu part 5 nya..

    Jia Jung

  2. iisssh,
    author jgn merendahkan ff sndr dgn blg ff’a gaje dong . .
    Harus percaya diri dgn apa yg d hasilkan tu adalah yg t’baik,
    kl diri sndr blg ff’a gaje, nnt yg ada org lain malah b’pikiran ky gt!? Aku gga suka org yg underestimate k diri’a sndri.
    Pede z dlu

    Ff’a bgus ko’, gaya bahasa’a jga rapi.
    Aku lbh suka ff yg bahasa’a baku d banding yg santai

    lbh d panjang.in lg yaa tiap part’a, trz publish’a jgn kelamaan

    • gomawo deechan (mian onnie atau saeng?) makasih komennya, menghibur bgt…lain aku akan bangga dg ff sendiri hehe

  3. yei akhirnya aku nemu jd bisa baca lagi lanjootannya disini padahal iseng2 membawa berkahir amin amin ya alloh #khusyuk berdo’a
    abist yg disana punya tetangga blom di publishsih
    love it …i like it
    bagus kok kata sapa readernya dikit cuman tangan mreka aja yg lagi korengan gk bisa koment #hehehe mian para reader semua piss yo
    aku nangis lo suwerr mewek gk terasa aer mata menetess kasihan hyo jin dede jo nakal n jd epil ja’at kaya bpkmu ya kesian mama
    hyojin yg tabah yow
    wow aku suka bang soohyun saranghae great bela hyojin bang
    bang kyunie sadar woi …masa anak yg gk bersalah harus nanggung beban ortunya
    mungkin itu juga yah yg bikin hyojin legowo nrima dgn ikhlas kehamilannya yg diluar kehendak itu
    lanjot mbke chingu oennie jenk

  4. Ikut senang ada yang bersedia menerima Hyo jin dan mengangkatnya menjadi anak, semoga dengan mendapatkan kasih sayang dari seorang eomma Hyo jin dan janinnya bisa selalu sehat. ^^
    Penasaran dengan bagaiman ya reaksi Kyu nanti saat tahu kalau Hyo jin sedang mengandung anaknya….

    Next partnya ditunggu loh ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s