Not Human’s Heart [part 3]

Main Cast: Kim Hyo Jin, Cho Kyu Hyun, Super Junior

Genre: Romance (?), Frienship, yang jelas ni FF gaje

Rating: All Age

Author: Rahmi SarangheSUJU

Anyong… Awalnya saya hanyalah reader diblog ini (gak da yg nanya) dan saya paling benci dg FF yg tidak masuk akal (maksudnya alurnya tidak masuk akal, karena menimbulkan pertanyaan2 bagi reader, seperti kenapa harus begitu, kan tidak harus seperti itu, konflik yang dibuat2 dan klise) Dan akhirnya hukum karma pun berlaku, sekarang malah saya yang tidak masuk akal, so cekidot. Tak usah dimasukin kehati ya…nikmati saja…

 

*****

Matahari mulai meninggi. Sungguh pagi yang cerah, Hyo Jin dapat melihat bagaimana matahari pagi menembus jendela kaca restauran yang masih sepi, permukaan benda-benda yang berada tak jauh dari jendela itu berkilauan diterpa matahari pagi. Restauran ini baru saja dibuka, dan semua karyawannya sedang bersiap-siap. Hyo Jin baru saja sampai dan langsung membantu rekannya bersih-bersih meskipun ia bertugas sebagai kasir ia tetap merasa berkewajibaan membantu rekan-rekannya. Ketika ia tengah asik membersihkan benda-benda yang ada disekitarnya, sebuah suara membuat hyo Jin mendadak menghentikan kegiatannya. Suara itu menyebut kata, Super Junior yang otomatis membuat Hyo Jin mengalihkan pandangannya ke Televisi Layar datar yang terletak di sudut ruangan. Tanpa pikir panjang lagi Hyo Jin mendekati televisi itu agar dapat melihat lebih jelas. Begitu ia telah sampai di depan LCD televisi itu, Hyo jin langsung melihat beberapa orang namja berbaris rapi, dan di sana di antara sederetan namja-namja tampan itu ia menemukan sosok seorang pemuda yang sangat ia kenal. ‘Oppa,’ lirihnya sambil membekap mulutnya dengan ekspresi takjub, tak percaya, dan terharu. Seorang pemuda yang berbadan di atas rata-rata teman-teman yang ada di samping kiri kananya memulai pembicaraan.

Super Junior has been reorganized from a 12 member group to one with 13 members. Let’s ask our new member, to introduce himself,’ ujar Shindong semangat.

Lalu ketika microphon beralih ke tangan pemuda yang dikenalkan sebagai anggota baru itu, DEG!!! Jantung Hyo Jin mendadak semakin giat beraktivitas melebihi biasanya.

Hello This is the new face of Super Junior. Kyuhyun,’ucap pemuda yang bernama Kyuhyun dengan senyum tipis yang terulas diwajahnya. DEG!!! senyum itu, senyum hangat yang sudah lama menghilang itu akhirnya sukses membuat Hyo Jin meneteskan air mata. ‘Oppa!!’ serunya tercekat. Ia sudah tak bisa mengendalikan air matanya lagi. Pandangannya mengabur karena air mata yang terus saja menyeruak memenuhi setiap sudut ruang mata dan membanjiri pipinya

He not Only sing well but also acts well. He is also very good looking, right?’ ujar pemuda yang dikenal Hyo Jin sebagai Kangin. Semenjak tahu Kyuhyun berhasil lolos audisi Hyo Jin semakin giat mencari tahu dan mengenali Super Junior lebih jauh lagi.

Thank you,’ balas Kyuhyun masih sambil tersenyum tipis. Hyo Jin bergegas menghapus air matanya. Ia tak mau ketinggalan momen ini, tak dapat melihat wajah Kyuhyun dengan senyum itu karena alasan bodoh; air mata yang mengaburkan pandangan bukanlah suatu alasan yang mudah diterima di saat penting seperti ini.

Kemudian Kangin menambahkan,’he is an ambitious fellow. So, keep your eyes on him. plus super junior has released a new album and he plays a significant role in it please send your love and support for Kyu Hyun.’

Dan senyum itu? Masih betah di sana, senyum yang sudah lama tak dilihat Hyo Jin. Air mata Hyo Jin semakin menjadi, tapi ia tersenyum dan bahkan terkekeh!!?

‘Oppa,’ lirihnya lagi disela-sela tawa dan air mata yang tak kunjung juga berhenti. ‘Itu dirimu kan Oppa, syukurlah akhirnya kau menemukan dirimu lagi.’

Hyo Jin menghapus air matanya lagi, Hyo Jin bahkan tidak sadar seorang pemuda sudah berada di sampingnya memperhatikan Hyo Jin dan layar televisi bergantian dengan tatapan heran. Begitu juga dengan rekan-rekan kerja Hyo Jin, mereka menghentikan aktivitas sejenak demi melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Hyo Jin.

Seorang rekan Hyo Jin hendak menghampiri, tapi segera dicegah oleh pemuda tadi dengan gelengan. ‘Biarkan saja,’ isyarat pemuda itu dengan gerakan bibirnya. Gadis yang berseragam sama dengan Hyo Jin itu pun mengerti mengangguk kepada sang pemuda dan mundur teratur tanpa suara (?).

Hyo Jin sudah menghapus air matanya dan layar televisi pun berganti dengan iklan shampoo. Tapi fikirannya masih dipenuhi oleh senyum itu. Senyum yang sudah menjadi tujuan hidupnya dalam beberapa bulan terakhir ini.

Hyo Jin yakin betul ia sedang tak bermimpi saat ini, itu adalah senyum yang nyata, ia dapat merasakan kehangatan yang terpantul dari senyum tipis itu ke hatinya. Itu adalah Kyuhyun Oppa yang sesungguhnya. Kyuhyun Oppanya yang beberapa hari yang lalu mendatangi dirinya dengan tatapan penuh kebencian. Ya, mereka adalah orang yang sama hanya saja dalam dua sisi yang berbeda. Dan itu, pemuda tampan dengan senyum itu adalah Kyuhyun yang sesungguhnya.            Jika Hyo Jin teringat kemasa-masa yang kelam itu di mana hanya ada air mata dan dendam yang terlihat di wajah Kyuhyun, ia rasanya tak sanggup bernafas meski hidupnya juga menyedihkan tetapi jauh lebih sakit rasanya jika menyaksikan wajah tanpa senyum itu. Rasanya seperti ketika nyawamu akan tercerabut dari dalam tubuhmu. Berlebihan memang, tetapi pernahkah kau menghunuskan pedang tepat ke jantung seseorang yang selama ini kau sayangi. Begitulah rasanya, hidup segan mati tak mau, kau hanya akan diliputi rasa penyesalan sepanjang hidupmu. Tapi, karena rasa penyesalan itu jugalah Hyo Jin harus jauh lebih kuat dan ia juga harus jauh lebih banyak tersenyum dari biasanya, agar bisa bertahan untuk mengembalikan senyum itu.

 

*****

Hyo Jin menatap dengan shock benda-benda yang tergeletak begitu saja di depan pintu rumahnya. Pakaian-pakaiannya yang memang tak seberapa berserakan di atas panci makanan dan koper kecil yang juga berserakan di bawahnya.

‘Apa-apaan ini?’ ujar Hyo Jin sambil merapikan benda-benda yang berserakan itu. Namun, sebelum itu matanya menangkap secarik kertas yang tertempel di pintu.

‘Hyo Jin-ah, maafkan aku. Aku melakukan ini karena terpaksa. Kuharap kau mengerti dan kuharap kau mendapatkan tempat tinggal yang jauh lebih baik dari pada ini.’ Hyo Jin membaca kalimat yang tertera di atas secarik kertas itu. Ia tahu, kertas ini adalah kertas yang sengaja ditinggalkan oleh sipemilik rumah kontrakan yang sekarang akan ia tinggalkan ini. ‘Tidak apa-apa ajumma, terimakasih atas segalanya, selama ini kau telah baik kepadaku,’ bisik Hyo Jin sambil tersenyum ketika membayangkan kembali betapa baiknya wanita itu kepadanya. Meskipun hubungan mereka hanyalah sebatas antara pemilik rumah dengan penyewa rumah, tapi kebaikan wanita itu membuat Hyo Jin merasa wanita itu seperti ibunya sendiri.

Hyo Jin menyeret koper hitam miliknya yang di atas koper itu juga dipenuhi oleh peralatan memasak dan juga matras serta selimut yang biasa ia gunakan untuk tidur. Hmm..Kemana barang-barang ini akan ku bawa? pikir Hyo Jin sambil memandangi halte yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Meskipun bayi yang sudah bersemayam selama empat bulan dalam perutnya ini tidak rewel, seharian bekerja di restauran membuatnya lelah dan ingin istirahat segera. Oh ya, Bayi…Hyo Jin bahkan sampai tidak sadar bahwa saat ini ia sedang mengandung empat bulan. Sungguh anteng sekali bayinya, di saat ibu-ibu lain merasakan berbagai macam keluhan di bulan-bulan awal kehamilan mereka Hyo Jin malah nyaris tak merasakan apa-apa. Ia bahkan tak pernah mengalami mual dan memuntahkan makanan, sebaliknya Hyo Jin semakin menaruh minat yang banyak untuk makan hingga berat tubuhnya mungkin sekarang bertambah beberapa kilo selain berat bayinya sendiri. Seolah paham keadaaan ibunya, sang bayi tidak sedikit pun menunjukkan tingkah yang akan menyulitkan si ibu. Mungkin benar bagaimana keadaaan dan perasaan sang ibu akan mempengaruhi kehamilan, tapi keadaan dan perasaan Hyo Jin baik-baik saja bahkan jauh lebih baik-baik saja saat ini, setidaknya itulah yang selalu ia yakinkan pada dirinya saat ini atau sampai kapan pun itu.

Hyo Jin mengusap – usap perutnya sambil tersenyum, lagi? Jika senyum itu bukanlah senyum yang manis tentu akan membosankan karena terlalu seringnya ia tersenyum. Tapi senyum yang di miliki Hyo Jin luar biasa manis hingga dapat meluluh lantakkan hati siapa saja yang memandangnya, mungkin hanya orang yang bodoh yang bisa memungkiri itu. (lebay ye)

‘Kau lihat senyum itu sayang?’ bisik Hyo Jin pada gundukan diperutnya. Seorang ibu-ibu yang baru saja duduk di halte yang sama dengan Hyo Jin reflek memperhatikan tingkah Hyo Jin.

‘Kau bahagia hari ini?’ ujar Hyo Jin lagi, masih tak sadar dengan tatapan geli wanita yang duduk tak jauh darinya itu.

‘Ne, Omma juga bahagia hari ini, makanya cepatlah besar sayang, agar kau bisa lebih sering melihat senyum Appamu.’

 

******

Akhirnya Hyo Jin memutuskan untuk kembali ke restouran tempat ia bekerja. Hanya restauran yang terpikirkan olehnya saat ini. Malam sudah menjelang, Hyo Jin merasa tak sempat lagi mencari kontrakan yang baru. Masalah di mana ia akan tinggal setelah ini, besok saja ia pikirkan sekarang ia butuh istirahat. Begitu Hyo Jin memasuki restauran ia disambut oleh tatapan heran rekan-rekan kerjanya. Tentu saja karena jadwal kerja Hyo Jin adalah siang hari bukan malam hari. Setelah menceritakan peristiwa pengusiran dirinya oleh pemilik rumah kontrakan, Hyo Jin pun di izinkan oleh rekan-rekannya menginap di ruang ganti hanya untuk satu malam ini. Semua rekan-rekan Hyo Jin sangat baik kepadanya, meski sebagian besar sudah mengetahui latar belakang kehidupan Hyo Jin tapi tak sedikit juga yang merasa iba dan malah berniat ingin membantu.

 

******

Hyo Jin membuka matanya perlahan-lahan begitu mata hari pagi menerpa wajahnya. Restauran ini memang memiliki jendela kaca yang tinggi, dan gordennya selalu dibiarkan terbuka seperti itu sehingga matahari dengan bebasnya dapat masuk memenuhi setiap ruangan yang dapat di jangkaunya.

Hyo Jin mengerjap-ngerjapkan matanya, suara berisik pekerja-pekerja restauran dari ruang sebelah dan cahaya matahari pagi ini menyadarkan Hyo Jin bahwa saat ini ia tak sedang di rumah yang biasa ia tempati.

‘Pagi,’ sapa Na Na, rekan kerja Hyo Jin yang baru saja datang dan mengganti pakaiannya dengan seragam kerja.

‘Pagi Na-ah,’ sapa Hyo Jin sambil memamerkan senyum pertamanya di pagi ini.

‘Tidurmu nyenyak?’ Hyo Jin menangguk semangat. ‘Sana mandi! bagaimana bisa sudah tidur di sini pun kau masih saja telat,’ tambah Na Na sambil memamerkan senyum meremehkannya. Hyo Jin terkekeh dan segera bangkit dari duduknya menuju toilet restauran setelah mengambil peralatan mandinya terlebih dahulu. Ah Na Na, Na Na adalah satu dari sekian banyak orang yang baik di restauran ini. Jadi rasanya Hyo Jin ingin meralat ucapannya yang tempo hari ketika berbicara dengan sajangnim soal hidupnya yang seperti sinetron, di sinetron yang ia tahu biasanya begitu banyak tokoh-tokoh antagonis, nyatanya tidak begitu di hidup Hyo Jin; begitu banyak orang-orang baik.

Hyo Jin berjalan pelan menuju toilet dan tidak sengaja bertemu dengan pemilik restauran yang baru saja keluar dari ruangannya. Oke, ruangan pemilik restauran bukan berada di dekat toilet ya, hanya saja untuk menuju toilet harus melewati ruangan itu dulu.

‘Oh, Hyo Jin-ah kau sudah bangun?’ tanya si pemilik restauran agak terkejut. Lebih kepada rasa terkejutnya karena melihat tampang bangun tidur Hyo Jin yang bolehlah dibilang lucu dan awut-awutan.

‘Ne Sajangnim, terimakasih sudah mengizinkan saya menginap di sini tadi malam,’ujar Hyo Jin sambil membungkuk. Rekan-rekan Hyo Jin yang sedang bertugas tadi malamlah yang menelpon sajangnim yang telah pulang ke rumahnya agar Hyo Jin diperbolehkan tidur di restaurant hanya untuk satu malam ini saja. Dan pemuda di depannya ini benar-benar baik hati, langsung memberi izin meski peraturan restauran yang dibuatnya tidak memperbolehkan siapa pun menginap di restauran kecuali security.

‘Ah tidak apa-apa,’ balas sajangnim sambil melipat tangannya di dada. ‘Hmm, apakah pengusiranmu ini juga didalangi oleh orang itu?’tanya sajangnim ragu-ragu.

‘Sepertinya begitu sajangnim,’jawab Hyo Jin tersenyum.

‘Sepertinya? Memangnya kau tidak bertanya kepada pemilik rumah itu alasan dia mengusirmu?’tanya sajangnim lagi.

‘Tidak sempat sajangnim, rumahnya memang tidak jauh dari rumah kontrakan saya, tapi dia hanya meninggalkan secarik kertas sebagai tanda perpisahan kami, saya rasa ia sedang tak ingin ditemui, lain kali saja saya tanyakan padanya.’

 

*****

Tiit tiiit, Hyo Jin menghentikan langkahnya dan menoleh pada mobil yang suara klaksonnya seperti ditujukan pada Hyo Jin. Hyo Jin membukuk sedikit agar dapat melihat siapa pemilik mobil yang baru saja memanggil dirinya.

‘Sajangnim? Ada Apa sajangnim memanggil saya?’ ujar Hyo Jin keheranan.

‘Masuklah, akan ku antar ke mana pun kau mau pergi,’

‘Ah, Sajangnim baik sekali, terimakasih sajangnim, tidak apa-apa saya berjalan saja, soalnya saya sendiri belum tahu mau pergi ke mana,’tolak Hyo Jin halus sambil tertawa riang seperti kebiasaannya.

‘Apa kau sedang menolak tawaranku? Tidak ada seorang karyawan pun yang bisa menolak perintah bosnya, masuklah. Kita akan bicarakan ke mana kau akan pergi setelah kau masuk ke mobilku,’ ujar sajangnim tegas dengan nada perintah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Akhirnya Hyo Jin tak bisa menolak perintah sang pemilik restauran. Selain tak bisa menolak nada penuh perintah itu, Hyo Jin juga merasa lelah setelah seharian bekerja dan sekaligus bingung tidak tahu akan ke mana. Jadi, kesimpulannya Hyo Jin memang sedang membutuhkan seseorang yang datang membantunya saat ini, apa lagi bantuan itu datang dari seseorang yang memang menawarkannya dengan nada tegas tapi Hyo Jin dapat merasakan ketulusan dari pemuda tampan yang sekarang sedang mengitari mobilnya mendekati Hyo Jin dan mengambil alih koper sarat muatan yang sedari tadi diseret Hyo Jin semenjak ia keluar dari restauran. Pemuda itu membuka bagasinya dan memasukkan barang bawaan Hyo Jin ke dalam.         ‘Sajangnim bukannya saya bermaksud menolak perintah sajangnim, tapi bukankah sajangnim tengah sibuk? Saya tidak mau merepotkan siapa pun,’ ujar Hyo Jin setelah duduk manis di samping sajangnim.

‘Kalau memang aku sedang sibuk tidak mungkin kan aku berada di hadapanmu sekarang? Sudahlah, jika berada di luar restauran begini tidak usah bersikap formal kepadaku. Panggil aku Oppa saja, Soo Hyun Oppa, oh?’ sikap pemuda yang mengaku dirinya ini bernama Soo Hyun mendadak berubah jadi jauh lebih sumringah. Kejaiman yang biasanya selalu ia perlihatkan sekarang hilang entah ke mana, membuat Hyo Jin menganga, tak percaya. Ada apa dengan pria ini? pikir Hyo Jin.

Seakan-akan mengerti dengan raut wajah Hyo Jin, Soo Hyun bergegas mengubah ekspresinya yang sumringah menjadi biasa-biasa saja.

‘Emm hem…ish…kau pasti bertanya-tanya kenapa aku menjadi baik padamu, oke aku tahu kau adalah gadis yang tegar dan tidak butuh dikasihani…Aku hanya, hmm bagaimana ya…kau itu mirip sekali dengan adikku yang sudah meninggal hanya saja dia tidak hamil sepertimu,’cerita Soo Hyun cepat, ia menatap Hyo Jin untuk melihat reaksi gadis itu.

‘Dan sekarang aku ingin kau tinggal di rumahku sampai kau menemukan tempat yang sesuai untukmu. Ibuku sudah tahu rencanaku ini, dan beliau akan senang jika kau yang mirip anak gadisnya ini tiba-tiba saja sudah berada di depannya. Ayahku sudah meninggal dan ibuku yang sudah mulai tua sudah sering mengeluh kesepian padaku karena aku sering meninggalkan beliau. Aku selalu sibuk di luar rumah bahkan terkadang sampai tidak pulang. Ibu sudah pasti senang jika ada yang menemani beliau dihari tuanya. Bagaimana?’ ujar Soo Hyun sambil tersenyum lagi.

Hyo Jin hanya terpana, bahkan lupa menutup mulutnya yang menganga. Tuhan, Engkau memang akan selalu menepati janji-janjiMU. Selalu saja ada kemudahan di balik kesulitan.

TBC

Mianhe Readers hasilnya begini, benar-benar tidak berkualitas…sebenarnya tidak ada bayangan mau bikin FF ini seperti apa…aku biarkan saja otak ini mengalir begitu saja sampai ia menemukan yang ia cari (?), ya sudah lah ya…Jangan terlalu dipikirkan…Terimakasih…aku pasrah mau diapakan FF ini…sudah dipublis saja adalah sebuah kehormatan (?)

4 thoughts on “Not Human’s Heart [part 3]

  1. ouh,, Soo Hyun oppa co cweet..
    Bener, Tuhan pasti memberikan kemudahan di setiap kesulitan n pasti slalu ada jalan keluar di setiap masalah..
    Hanya saja kita harus ttp tegar n trus b’usaha untuk bisa mencarinya..
    Keren…

    Jia Jung

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s