Please, Hold On [part 4]

Main Cast         : Lee Donghae (Aiden Lee), Han Cheonsa (Angelle Han)

Support Cast    : Super Junior, Daniel Han, Kevin Han, Adelynn Lee.

Rating               : PG-15

Length              : Sequel

“Hyung, kau sudah bangun?” nada serak bangun tidur milik Donghae. Dengan mata yang masih memejam, Donghae meraba-raba tempat sebelahnya. Membuka sedikit matanya dan mengangkat kepala dalam posisi tengkurap. Dia membuka lebar matanya dan mengerjapkan beberapa kali.

Sprei motif dengan warna deep purple, dinding bercat pale purple yang senada, dan aroma lavender yang menyebar di udara sekitarnya. Donghae membalikkan badannya dan bangkit duduk di ranjang. Dia mengusap wajahnya dengan satu sapuan. Astaga, dia benar-benar lupa kalau sekarang dirinya sudah berada di apartemen barunya. Sebuah dorm di lantai 9, tepat berada di bawah dorm anak-anak Super Junior. Disingkap selimut tebalnya dan segera beranjak keluar dari kamarnya.

Donghae menyandarkan tubuhnya di sudut tembok dan melipat tangannya di depan dada. Terpaku cukup lama dengan posisi tersebut dan tersenyum saat memerhatikan punggung seorang gadis. Dia menyeret kursi di ruang makan. Menimbulkan deritan yang membuat seseorang yang tengah sibuk di dapur menoleh ke arahnya. “Morning,” senyumnya sembari duduk.

“Morning,” gadis yang mulai hari kemarin bermarga Lee itu berjalan mendekat. “Minum air putih di pagi hari baik untuk kesehatan,” Cheonsa menyodorkan segelas air pada Donghae.

“Gomawo,” Donghae menegak air putihnya hingga habis separuh gelas. Dia meletakkan gelas tersebut dan mengedarkan pandang ke sekeliling. “Bukankah apartemen ini dulunya sudah berpenghuni? Bagaimana kau mendapatkannya?”.

“Dan Oppa yang membelinya dari pemilik yang lama, mereka pindah,” tanpa menoleh, Cheonsa melanjutkan mencuci selada.

“Pindah?”.

“Yeah, dengan penawaran yang lumayan menguntungkan untuk sedikit memaksa pindah,”.

“Huft, benar juga,” sungut Donghae pada perkataan gadis itu. Mengingatkan akan dirinya yang juga sedikit dipaksa untuk terikat pernikahan dengan salah satu keluarga Han. Uang memang berkuasa. Donghae menoleh saat terdengar bel pintu. “Biar aku saja,” tawarnya yang segera beranjak berdiri.

“Noonaaa…” teriakan seseorang membuat Donghae sedikit menjengit.

“Tak usah berteriak. Dia ada di dapur,” seloroh Donghae dengan berjalan menuju tempat semula.

Cheonsa tersenyum saat seseorang mencium pipinya dengan cepat dan menyambar tomat irisan yang baru saja ditatanya. “Morning, Kevin-a. Have you a breakfeast?”.

“Not yet,” Kevin menyandarkan badannya di konter dapur. “Kau tak menyuruhku untuk makan bersama dengan dua gunung es itu kan, Noona?”.

“Dan jika kau bergabung maka akan jadi tiga gunung es,” kekeh Cheonsa yang ditanggapi cibiran Kevin. Dia memandang Kevin dengan penuh harap. “Apa pun, tapi Daniel tetap hyungmu. Kau harus membiasakan diri di rumah tanpa adanya diriku,”.

“Oh, aku tak janji, Noona,” Kevin hanya mengangkat bahunya dengan malas. Dia kembali mencomoti tomat yang dipotong Cheonsa. “Mungkin setiap pagi aku bisa mampir ke sini,” canda Kevin yang sukses membuat mata Donghae terbelalak lebar.

“Duduklah di sana,” perintah Cheonsa dengan dagunya.

“Tenang saja, Hyung, aku tak akan begitu sering,” Kevin terkikik riang melihat raut murung lelaki disebelahnya. “Pagi ini kebetulan aku mengantar mobil Angel Noona, Hyung,” jelas Kevin yang tak tega juga jika candaannya nanti menimbulkan masalah.

Donghae memerosotkan bahunya lega. Tak terbayang jika dia harus berbagi Cheonsa setiap paginya dengan adik iparnya sendiri.

“Tapi besok pagi aku akan mencari alasan untuk bisa datang kemari. Juga pagi berikutnya dan berikutnya lagi,” gelak tawa Kevin membahana. Dan Donghae melotot ke arahnya.

_LDH_

Jung memainkan kursinya, memutar ke kiri dan kanan dengan lambat. “Dia sudah mendaftarkan pernikahannya, bukan?” pertanyaan retoris yang ditanggapi dengan anggukan lelaki di hadapannya. Jemari lentiknya mengetuk-ketuk meja. “Kalau begitu tunggu apa lagi?”.

Lelaki di hadapnya mendesah pelan kemudian menyurungkan punggungnya ke sandaran singgasana presdir miliknya. “Apakah harus secepat ini? Tunggulah sebentar. Lagipula mereka baru pindah kemarin,”.

Jung mengerutkan kenignya dengan samar. “Kenapa dia bersikeras pindah ke aparteman yang, yah, jika dikatakan kualifikasinya jauh dari rumah megah kalian?”.

“Alasan yang sama kurasa,”.

“Lee Donghae?”.

“Ya, tentu saja. Bukankah media akan curiga jika Donghae bolak-balik ke rumah?”.

“Tapi ini akan menyulitkanku mendapatkan segala yang kubutuhkan untuk rencana ini,”.

“Tenanglah, pasti banyak jalan menuju Roma,” tuan Han mencondongkan badannya ke arah meja dan menopang dagunya dengan kedua tangannya.

_LDH_

Kyuhyun memiringkan tubuh jangkungnya dan memandang heran lelaki yang melamun di depannya. “Kenapa lagi sekarang?” tanyanya. “Apa kalian belum ‘melakukannya’ sehingga membuatmu muram seperti ini, hm?” Kyuhyun mengangkat kedua alisnya dan menggerak-gerakkan ke atas. Menjadikan sebuah pukulan melayang ringan untuk menggeplak kepalanya. “Hyuuungg, appo,”.

“Makanya jangan berpikiran mesum,” gemas Donghae.

“Jadi kali ini apa lagi?” ringis Kyuhyun tak kalah gemas. “Masalah honey moon?”.

“Eh?”.

“Astaga hyung, kau bukan anak kecil yang akan mengambek jika liburanmu dibatalkan kan?”.

“Bukan itu, Kyunnie”.

“Lalu?”.

“Sudahlah, masak aku harus bercerita padamu, bocah,”.

“Hya, sekarang kau memanggilku bocah?” gelegar Kyuhyun.

“Hish, jangan berisik. Lekas berlatih. Perbaiki gerakan dancemu yang kacau itu,”. Donghae memutar dan mendorong bahu Kyuhyun.

“Ish, baik-baik,” kesal Kyuhyun.

“Masak aku harus bercerita bahwa pagi ini morning kiss-ku didahului dongsaeng tengil satu itu. Juga pagi berikutnya yang kukira tak akan selamat dari kejahilannya,” gumam Donghae tanpa sengaja.

“Aku mendengarnya, Hyung,” ejek Kyuhyun yang segera berlari.

“HYA, AWAS KAU,”.

_LDH_

Lagi-lagi, malam ini Kevin terlibat baku hantam dengan sekelompok orang. Sudah tak terhitung lagi berapa kali lelaki ini beradu dengan genk lain. Hanya masalah sepele kali ini. Salah satu rekannya menuduh lawan mereka bertindak curang pada balap jalanan minggu lalu.

Seorang, yang berbaur dalam perkelahian, tanpa disadari terus mengincar mangsanya. Matanya mengawasi sang mangsa walaupun lawan di hadapannya terus mendesak. Dengan sekali pukulan telak, dia merobohkan lawan di hadapnya. Dia bergerak mendekati mangsa sesungguhnya dan mengeluarkan pisau lipat dari saku bagian dalam jaketnya.

Dengan yakin dan penuh perhitungan bahwa tikamannya akan berakibat fatal, dia menggerakkan tangannya untuk menikam sang mangsa dari belakang. Namun, sebuah gerakan cepat malah membuat tubuhnya terpelanting ke tanah. Pisau di tangannya terlempar hingga menimbulkan bunyi denting ketika menumbuk aspal.

Kevin berbalik dengan cepat sebab menyadari sebuah ancaman baginya. Yang didapati adalah seorang yang tak dikenalnya tersungkur di aspal dengan pisau yang tak jauh darinya. Nafas Kevin memburu. Ditolehkan kepalanya ke arah lain dan mendapati Jae dengan sikap pertahanannya. “Jae?” heran Kevin.

_LDH_

Jae diam lalu mencengkeram bahu Kevin kemudian mendorongnya ke depan pelan agar dia dapat melihat punggung Kevin. Ditajamkan penglihatannya. “Tergores sedikit,” ucapnya.

“Erghh,” ritih Kevin yang baru merasakan perih di punggung bawah kirinya. Tanggannya menggapai luka tersebut dan menutupnya sehingga dapat dirasakan darah membasahi telapak tangannnya. “Kenapa kau membantuku, Jae?”.

“Bukan saatnya menayakan itu. Ikut aku,” Jae memegang lengan Kevin dan membimbingnya menuju mobil sport hammer miliknya.

Jae membersihkan darah di luka Kevin, mengobatinya, kemudian menempelkan kasa untuk menutupi luka tersebut. Dia melakukannya dengan cepat dan terampil seakan pekerjaan itu hal yang sepele. “Selesai,” ucapnya.

Kevin merapikan kausnya dan memakai jaketnya kembali. “Kau belum menjawab pertanyaanku Jae. Kenapa melakukan ini?” Kevin menatap tajam Jae yang tengah membereskan P3K-nya.

Jae balas menatap Kevin, dengan pandangan datarnya. “Bukan waktu yang tepat untukmu mengetahuinya,”.

Kevin menyunggingkan senyum miringnya. “Aku sungguh tak memahamimu,”. Didorongkan punggungnya hingga meyentuh sandaran jok. “Kau temanku, dulu. Kemudian, mengkonfrontasiku. Sekarang, kau menolongku. Ada di pihak siapa kau sebenarnya? Dan apa maumu?”.

Jae terdiam sejenak. “Semua telah diatur dalam permainan Kevin-a. Dan aku hanya bertugas sebagai benteng,”.

“Jangan berbelit, Jae,”.

Jae menatap lurus ke depan dan tersenyum miring kharismatik. “Terkadang tidak mengetahui adalah hal yang terbaik, Kevin-a,”.

Kevin mendengus kasar. Rasanya akan sia-sia menanyai Jae. Tangannya membuka pintu mobil Jae, dan bersiap pergi.

“Pukul 09.00 p.m at Marvellous café,” Jae memastikan Kevin mendengar perkataannya. Setelahnya, dia memacu hammer sportnya menjelajah jalanan.

_LDH_

Cheonsa menekuk lututnya dan menumpukan dagu dengan landasan punggung tangannya di sana. Tergiang dengan jelas jeritan sang ibu saat terakhir kali dia mengunjunginya. “Pergi?” tanya lirihnya pada diri sendiri. Mungkin salah satu alasan dia mau meninggalkan rumah kediaman keluarga Han, yang menurutnya penuh kenangan, adalah perkataan ibunya. Dia memang tak mengerti apa pun, belum tepatnya. Sang ibu membisu selama ini, pertama kali mengucap, perkataannya adalah bahwa dia harus pergi dari rumahnya.

Donghae keluar dari kamar mandi dengan masih menggusak rambutnya yang basah. Dia menyampirkan handuknya, lalu berjalan mendekati ranjang. Membuat suatu goncangan kecil saat dirinya naik ke ranjang, menyingkap selimut, dan membaringkan badannya.

Diperhatikan Cheonsa yang masih terpekur dengan lamunannya. Tidak terganggu sama sekali dengan kehadirannya. Padahal, dirinya sendiri sibuk mengatur nafas, mengeluar-masukkan udara dengan pelan untuk mengurangi kegugupannya. Memang benar ini malam kedua mereka sekamar, tapi untuknya ini seperti baru pertama karena malam kemarin dia langsung tertidur lelap setelah terlalu lelah dengan acara wedding mereka.

“Kau belum mengantuk, Cheonsa-ya?” Donghae membenarkan letak tangannya yang digunakan untuk menyangga kepalanya.

Cheonsa tersetak pelan dengan suara di dekatnya. Dia menoleh dan hanya tersenyum kecil. “Oh,” ucapnya yang tidak menjawab pertanyaan Donghae.

“Ada yang sedang mengganggu pikiranmu?”.

Cheonsa menselonjorkan kakinya, menarik selimut, dan ikut berbaring. “Hm,” gumamnya. Dan untuk kedua kali tidak menjawab pertanyaan. Ditatapnya langit-langit putih kamarnya. Kemudian, dia memiringkan badannya menghadap Donghae. Merasa bahwa ini saat yang tepat baginya untuk bercerita.

Donghae menolehkan kepalanya kilas lalu membuang pandangannya lagi. Rasanya dadanya sesak jika terlalu lama memandangi Cheonsa. Tapi, ini menyenangkan. Menyadari bahwa seorang gadis cantik terbaring di sisinya.

“Tentang oemma,” mulai Cheonsa. “Oemma menderita depersi sejak dua tahun belakangan. Dan setahun lalu, kami sepakat membawanya ke rumah sakit agar oemma mendapatkan perawatan intensif,”.

Donghae memerhatikan dengan seksama penuturan Cheonsa. Dia ikut memiringkan badannya menatap gadis itu. “Lalu?”.

“Sampai sekarang aku bahkan tak mengetahui alasan apa yang membuat Oemma menanggung tekanan berat. Aku bukan putri yang baik ya?”. Cheonsa memainkan jemarinya di atas bantal. Terlihat sebuah penyesalan di matanya. “Tepat tiga hari setelah Oemma dirawat di rumah sakit, Dan Oppa memindahkannya ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali aku,”.

Donghae mengerutkan keningnya. Namun, dia menahan diri untuk tak bertanya dan membiarkan gadis itu yang nanti akan menjawab pertanyaannya dengan sendirinya.

“Ketika aku bertanya, Dan Oppa tidak pernah sekali pun menggubrisnya. Dan menyuruhku untuk tetap diam saja,” Cheonsa menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah bercerita. “Mungkin bukan waktu yang tepat untukku mengetahuinya. Yang aku percaya adalah Oppa melakukan yang terbaik,”.

Donghae mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Cheonsa. Menepikan anak-anak rambut yang jatuh di pipi gadis itu.

“Maaf jika baru menceritakannya sekarang,”.

“Tidak mengapa,” Donghae menarik tangannya. Darahnya berdesir ke atas ketika dilihatnya Cheonsa yang membalas perkataannya dengan senyum.

“Kau kecewa?”.

“Untuk?”.

“Mengetahui keadaan keluargaku yang tidak sesempurna seperti orang luar bayangkan,”.

Donghae menghembuskan nafas dengan panjang. “Aku tidak mempermasalahkannya. Karena faktanya setiap keluarga memiliki problemnya sendiri. Tentang masalah Oemmonim, aku turut bersimpati. Jangan khawatir, beliau pasti bisa melaluinya,”.

“Gomawo,”.

“Hm,” gumam Donghae. Dia berdeham untuk mengusir rasa canggungnya. Entah mengapa tiba-tiba saja terlintas hal konyol dipikirannya. “Err…bolehkah aku meminta sesuatu?” ucapnya dengan sedikit ragu.

Cheonsa memasang wajah penasarannya. “Apa?”.

“Err…bolehkah aku memelukmu?” ucap Donghae dengan tersendat di setiap katanya.

Cheonsa tertegun namun kemudian malah terkikik ringan mendengar permintaan tersebut. Apakah ada seorang suami yang meminta izin untuk memeluk istrinya sendiri?. Sungguh aneh.

Donghae membalikkan tubuhnya dengan cepat. Membelakangi Cheonsa untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas. “Lupakan,” kesalnya sekaligus malu. Digembungkan pipinya. Namun sejenak kemudian, dia merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Donghae melirik ke bawah dan melihat tangan indah itu. Membuat nafasnya benar-benar terhenti di kerongkongan.

Cheonsa menyurungkan keningnya di punggung Donghae. Bernafas dengan teratur di sana. Dan mengeratkan rangkulannya di pinggang lelaki tersebut. Merilekskan diri dengan memejamkan mata, menikmati harum yang menguar dari tubuh Donghae.

Donghae merasakan deru hangat yang menerpa punggungnya. Dia membaringkan badannya, kemudian menyelipkan tangannya melewati leher Cheonsa. Menarik tubuh gadis itu untuk merapatkan tubuhnya. Diciumnya kening sang istri, sedangkan Cheonsa membenahi posisi kepalanya sehingga nyaman bergelung di dada Donghae.

“Kau habis lari marathon, tuan Lee?” canda Cheonsa masih memejamkan mata.

“Wae?”.

“Jantungmu berdegub cepat sekali,”.

“Eh?”

_LDH_

Donghae menggeser kursi dan duduk di depan meja makan. Setelah acara sarapan mereka terganggu dengan sedikit masalah, akhirnya mereka bisa menyantap makan pagi ini dengan tenang. “Kau tidak menyukainya?”.

“Hm?”

“Nona Jung, asisten Abeoji tadi?”.

Cheonsa meletakkan cangkir tehnya. “Aku tak tahu dengan kata apa untuk menjabarkannya, Hae-ya. Aku hanya merasa tidak cocok saja dengannya,”.

“Hanya itu?”.

“Entahlah, Hae-ya. Ada sesuatu pada diri Nona Jung yang membuatku merasa tak nyaman untuk berada di dekatnya. Dan jangan tanya apa itu, karna aku juga tak mengerti,”. Cheonsa kembali merengkuh cangkirnya.

“Hanya saja, rasa ketidaksukaanmu terlihat dengan jelas melalui sikap ketusmu tadi,”. Donghae menyumpit nasinya dan mengarahkan ke mulutnya.

“Tapi aku sudah bersikap cukup sopan, menurutku. Kau marah?” Cheonsa mengangkat pandangannya dengan sedikit takut.

Donghae mengunyah dan menelan nasinya sebelum menjawab. “Tidak, aku hanya tidak ingin kau bersikap keras pada orang lain tanpa alasan,”.

“Maaf. Tapi untuk dia, kumohon beri aku waktu untuk mencari jawabannya. Mungkin rasa ini hanya sebuah rasa cemburu karna wanita itu lebih sering berada di sisi Appa dibandingkan dengan Oemmaku,”.

Donghae mengambil tissue dan menyapukan dengan lembut di ujung bibir Cheonsa. Mengelap sedikit sisa teh di sana. “Tak perlu meminta maaf, Sayang,”.

Cheonsa langsung menegakkan kepalanya saat mendengar sapaan Donghae untuknya. “Kau memanggilku apa?”.

“Wae? kau tak suka?”.

“Ani aku hanya tak terbiasa mendengarnya,” Cheonsa nampak salah tingkah.

“Kalau begitu aku akan membuatmu terbiasa. Oh, ya, hari ini biar kuantar,”.

Cheonsa hanya mampu tersenyum dengan kehangatan yang diciptakan Donghae di paginya. Rasanya, pagi berikutnya akan tak kalah menyenangkan dari ini. “Kau tidak berangkat bersama member lain?”.

Baru saja Donghae akan membuka mulut, sudah terdengar suara bel pintu. Dan sudah dapat dipastikan siapa yang menekannya di sepuluh menit sebelum rutinitas atau jadwalnya. “Astaga, bocah setan itu,” Donghae hanya mengelus keningnya, sedangkan Cheonsa terkekeh pelan.

_LDH_

”Apa maksud, Sanjangnim?” Daniel meletakkan map yang baru saja dibacanya. Dia berbicara dengan bahasa formal karena ini lingkup kantor.

“Almarhum Kakekmu mewariskan beberapa kekayaan berupa saham dan asset perusahaan atas nama Cheonsa. Jadi aku berpikir bahwa akan baik jika gedung pusat yang baru itu diatasnamakan Cheonsa juga,”.

Daniel mengelus dagunya. “Rinciannya?”.

“Aku belum bisa mengetahuinya, Dan. Hanya warisan atas namamu dan Kevin yang sudah diketahui. Bukankah kau juga sudah mengetahuinya sendiri?” tuan Han mendorong punggungnya menyentuh sandaran sofa.

Daniel sedikit mengingat dan tersentak pelan. Dia menemukan satu teka-teki. Tapi, lelaki ini hanya manggut-manggut mengerti untuk menunjukkan rasa terkejutnya. “Aku akan memeriksanya ulang, Sanjangnim. Akan kuhubungi Angel untuk membicarakan ini,”.

“Masalah Cheonsa, aku sudah mengutus Jung untuk menghubunginya terlebih dahulu. Bekerjasamalah dengan Jung untuk menyelesaikan proyek ini,”.

Daniel hanya menarik sudut bibir kanannya. “Baiklah kalau begitu. Aku akan membuat janji dengan nona Jung nanti,”. Daniel mendorong mundur kursinya dan membungkukan badan sedikit kemudian berlalu.

_LDH_

“Tuan Jang, cepat hubungi Angel. Buatkan aku janji makan siang hari ini dengannya. Dan pesankan agar dia tidak melakukan apa pun yang berhubungan dengan perusahaan,” titah Daniel ketika dia tiba di ruang kerjanya.

Daniel menghempaskan tubuhnya di kursi direktur miliknya. “Jadi ini maksudnya, Appa,”. Dia menelaah dan mereka-ulang semua kejadian.

“Sanjangnim, saya sudah menghubungi nona Angel, ah maksud saya Ny. Lee,” asisten Daniel nampak masih belum terbiasa dengan status Cheonsa.

Daniel kembali membentuk seriangaian. “Dia tetap nona Angel, tuan Jang. Pernikahan ini hanya kedok belaka,”.

Tuan Jang memiringkan kepalanya sedikit tanda ketidakmengertiannya. Bagaimana mungkin sebuah pernikahan hanya dijadikan sebuah tameng saja?.

“Tujuh tahun tahun lalu, pengacara kepercayaan Harabeoji menemuiku, jika kau masih ingat. Ketika itu umurku sudah mencapai 23 tahun dan berhak mengetahui isi wasiat Haraboeji. Dan ketika aku menyanyakan tentang wasiat untuk kedua adikku-,” Daniel memberikan petunjuk. “Disebutkan bahwa Cheonsa Han akan mengetahui dan menerima warisan jika-,”.

“Dia sudah menikah,” lanjut tuan Jang yang mulai mengerti arah pembicaraan.

“Bingo, tuan Jang. Dan itulah yang ditunggu mereka. Surat pernikahan Angel akan menjadi syarat cukup untuk membuka wasiat yang diberikan harabeoji padanya. Aku memperkirakan persentase warisan milik Angel bahkan mencapai 40% dari total kekayaan Hansang Finance,”.

“Tapi, saya masih heran mengapa almarhum Tuan Han Jae Woon memberikan sebagian besar kekayaan Hansang pada nona Angel? Bukan pada Anda sebagai putra tertua,”.

Daniel tersenyum miring, dia mengetahui dengan jelas alasannya walaupun kakeknya tak pernah bercerita. “Karena hanya Angel yang tidak berambisi memilikinya,”.

_LDH_

Daniel menyesap capucino miliknya, lalu meletakkan cangkirnya di meja. “Apa tadi Nona Jung menemuimu?”.

“Apa yang sebenarnya diinginkannya, Oppa?. Ada perlu apa sehingga dia membutuhkan surat pernikahanku?”.

“Kau menyerahkannya?”.

“Tentu saja tidak. Dan aku harus berterima kasih pada Donghae yang tadi berkelit untuk tak memberikannya,”.

“Baguslah. Jangan bertindak atau memberikan keputusan apa pun menyangkut perusahaan,”.

“Bukankah Oppa sendiri tahu bahwa aku memangg tak pernah mencampuri urusan perusahaan,”.

“Benar, tapi kali ini, sepertinya kau akan terlibat. Suka tidak suka,” Daniel memberi jeda. Menghela nafas panjang sebelum bercerita. “Kukira kau harus tahu sekarang, Angel.”.

Cheonsa hanya menautkan kedua alisnya. Banyak hal dalam keluarganya yang masih menjadi tanda tanya besar baginya. Setelah pernikahannya, mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengetahui. Sebab, apa pun yang terjadi pada keluarga Han, dia sudah memiliki seseorang yang menanggungnya.

“Apakah pengacara Haraboeji sudah menemuimu?” tanya Daniel yang dijawab dengan gelengan kepala dari Cheonsa. “Kurasa kau dan suamimu perlu bertemu dengannya segera. Dia nantinya yang akan menjelaskan duduk perkaranya,”.

Cheonsa mengunci mulutnya untuk tak bertanya lebih lanjut. Dia hafal benar karakter Daniel. Jika sang kakak sudah menyuruhnya, maka yang perlu dilakukan hanya menurutinya agar semua pertanyaannya mendapat jawaban.

_LDH_

Kevin menurunkan topi baseballnya agar menutupi separuh wajahnya. Dia berjalan tergesa namun tetap menjaga agar tak dicurigai. Dilangkahkan kakinya mengikuti sosok Jae yang menghilang di balik ruangan.

Dengan cekatan dia menahan pintu yang akan tertutup tatkala Jae masuk ke dalam sebuah ruangan. Kevin sengaja menahannya sebentar, memastikan kondisi, kemudian menyelinap mengikuti Jae. Dia segera menundukkan badannya dan merapatkan dirinya di belakang sofa. Menunggu sesuatu terjadi. Sempat dilihatnya sebuket bunga lili putih yang terletak di sudut sofa.

“Kau berhasil melaksanakan tugasmu?” suara seorang perempuan.

Kevin menajamkan pendengarannya. Matanya bergerak-gerak tak tenang setelah mendengar sebuah suara yang familiar.

“Dia sudah bergerak, Nyonya. Hampir saja berhasil,”.

“Bagaimana keadaannya, Jae?”.

“Hanya mengalami sebuah luka kecil di punggung bawahnya yang tak membahayakan. Nyoya tak perlu khawatir,”.

Kevin tertegun. Mereka membicarakan tentang dirinya. Wanita itu, juga Jae. Tapi dia masih belum mengetahui siapa yang dimaksud dengan ‘dia’ oleh Jae. Kevin memberanikan diri mengintip dan betapa terkejutnya dia bahwa wanita itu adalah seorang yang sangat dekat dengannya.

“Teruslah mengamati. Pastikan dia mengerti sedikit demi sedikit,” tutur sang wanita.

Kevin menumpukan tangannya pada paha, kemudian berdiri. Menunjukkan dirinya di depan sang wanita dan Jae. “Apa kabar, Bibi?”.

_LDH_

“Kau nampak gelisah, Sayang,” Donghae mengulurkan tangannya. Dia sudah mengerti benar kebiasaan Cheonsa ketika gugup.

Cheonsa hanya tersenyum kemudian mengulurkan tangan kirinya yang bergetar pada Donghae. Membiarkan lelaki itu memberikan ketenangan untuknya. “Karna ini bersangkutan dengan keluargaku,”.

“Nona Han?” sapa seorang paruh baya yang baru saja memasuki ruangan. “Ah, aku lupa, seharusnya aku memanggilmu Ny. Lee sekarang,” candanya kemudian duduk di singgasana ruangannya.

“Annyeonghasimika, Tuan Park,” Cheonsa menundukkan sedikit kepalanya.

“Hm, kurasa sudah saatnya aku menyampaikan wasiat Tuan Han Jae Woon padamu,”. Tuan Park yang merupakan pengacara pribadi keluarga Han nampak membuka sebuah map. “Kau, nona Han Cheonsa akan berhak mengetahui isi dari surat wasiat kakekmu setelah resmi menikah,”.

Donghae juga Cheonsa menyimak perkataan sang pengacara saat membacakan warisan. Cheonsa nampak berpikir sedikit demi sedikit. Mulai menemukan titik terang mengenai percakapannya dengan Daniel tadi siang.

_LDH_

Kevin mensedekapkan kedua tangannya di depan dada dan berdiri angkuh. “Apa maksud ini semua, Bi?”.

“Kau menangkap basah aku, Kevin-a?” wanita tersebut memberikan isyarat dengan tangannya agar Jae keluar dan membiarkan dia berbicara empat mata dengan keponakan lelakinya tersebut. Jae membungkuk sedikit dan segera berlalu.

“Kau sedang bermain petak umpat, Bi? Denganku?”.

Terdengar suara tawa renyah dari wanita paruh baya tersebut. “Untuk apa bermain denganmu, Kevin-a. Kau sudah cukup dewasa, Dear,”.

“Lalu, apa tujuanmu mengirim Jae untuk mengkonfrontasiku? Kemudian menolongku. Dan pembicaraanmu tadi, seolah memberikan kesan kau peduli,” seru Kevin dingin.

Wanita yang dipanggil ‘bibi’ oleh Kevin memutar kursinya. Berdiri dan berjalan mendekati Kevin. Dia menarik dengan lembut jaket kulit yang dikenakan Kevin dan merapatkannya. “Karena inilah caraku menjagamu, Dear,”.

Kevin membiarkan wanita itu menyentuhnya seperti dulu. Layaknya seorang ibu yang memberikan kasih sayangnya pada sang putra melalui sentuhan hangatnya. “Menjagaku dari apa, Bi? Aku sudah cukup dewasa untuk menjaga diriku sendiri,”.

Wanita itu tersenyum lembut. Senyuman yang mengingatkan Kevin pada seseorang yang sangat mirip dengannya. Membangkitkan kerinduan Kevin pada sosok seorang ibu. “Kau akan tahu seiring berjalannya waktu, My Dear. Aku hanya mengajarimu untuk bisa menjaga dirimu sendiri. Mengenalkanmu, bahwa dunia sekitarmu tak sebaik apa yang terlihat. Banyak tameng-tameng yang menutupi kebenaran sesungguhnya,”.

Kevin semakin tak mengetahui arah pembicaraan sang bibi. Wanita yang dulu sering mengasuhnya ketimbang ibunya sendiri. Salah satu wanita yang sangat disayanginya, namun beberapa tahun belakangan hubungan mereka merenggang. “Aku sungguh tak mengerti,”.

“Tak apa jika kau tak mengerti. Karena kebenaran datang sedikit demi sedikit dan menyakitkan. Dan ketika itu tiba, aku berharap kau tetap berdiri tegak, My Dear,”. Sang bibi memeluk Kevin dan menepuk-nepuk pelan punggung keponakannya tersebut.

“Aku merindukanmu, Bi,” Kevin membalas pelukan tersebut.

_LDH_

Cheonsa membatu Donghae mempersiapkan semua luggage-nya. Dia menutup koper yang sudah ditatanya dengan sekali tarik. Ditepuk-tepuknya koper tersebut, puas dengan kerjanya.

“Ehem, gomawo,” Donghae berdeham untuk mengalihkan perhatian Cheonsa. Dirapikan kaos dan kemeja yang dikenakannya. Kemudian mengambil tas punggungnya.

“Mian, tidak bisa mengantarmu ke airport,”.

“Hm, aku tahu, tidak mengapa,” dia mengambil kopernya dan menyeretnya hingga ke depan pintu. Mukanya sedikit tertekuk. Meski bibirnya berkata ‘tak mengapa’ namun moodnya masih juga buruk. Lelaki mana yang tak ingin wanita yang dikasihinya mengantar kepergiannya untuk lima hari ke depan demi menyapa fans di Vietnam dan Thailand.

“Kau baik-baik saja, Hae-ya?” tanya Cheonsa yang hanya dijawab dengan senyum dan anggukan Donghae. “Jaga diri baik-baik. Makan tepat waktu dan jangan lupa vitaminnya, Ok?” sekali lagi Donghae hanya mengangguk.

Donghae menghembuskan nafas dengan panjang. Dengan sedikit ragu, membuka tangannya, mengisyaratkan agar Cheonsa memberikan pelukan. Mungkin sekarang rasanya telah mulai menerima Cheonsa seutuhnya sebagai bagian hidupnya.

Cheonsa hanya tersenyum kemudian menyelipkan kedua tangannya di pinggang lelaki tersebut. Memeluk dan menyesap harum tubuh yang untuk lima hari ke depan akan dirindukannya. “Baik-baik, Hae-ya,”.

Donghae membenamkan wajahnya di bahu sang istri. Mendekapnya erat. “Jaga dirimu juga, Sayang,”. Dia masih asyik menikmati perpisahannya yang manis, namun dering bel pintunya berbunyi nyaring.

“Hae-ya, sudah saatnya, mereka sudah menunggumu,”.

“Sebentar lagi, Sayang,”.

Dan untuk kedua kalinya bel, yang menurutnya sialan itu, berbunyi lagi beberapa kali.

“KYUNNIE! KUBUNUH KAU NANTI,” teriaknya frustasi.

_LDH_

“Oemma, bagaimana kabarmu?” Cheonsa menarik jemari wanita paruh baya tersebut dan menggenggamnya. Dia menepikan rambut yang jatuh di wajah sang ibu dengan penuh kasih. “Maaf baru mengunjungi oemma hari ini,”.

“Oemma, dia sangat baik. Lebih dari yang aku bayangkan,” Cheonsa mulai bercerita, sedangkan ibunya tetap membisu. “Namanya Lee Donghae. Pria tampan dengan hati yang lembut,”. Cheonsa tersenyum ketika mengingat harinya bersama Donghae. “Seperti kata oemma, aku pindah ke sebuah apartemen. Walau tak semegah rumah kita, tapi aku merasakan kehangatan di sana,”.

“Oemma, apakah sekarang aku bisa berharap bahwa semua yang terjadi padaku kini akan terus bertahan hingga akhir nanti?” Cheonsa memiringkan kepalanya menatap sang ibu. “Aku hanya takut semua ini terenggut. Sikap Appa juga Dan Oppa yang seolah menyiratkan sesuatu hal, membuatku sedikit takut untuk mengetahui kenyataan yang mereka sembunyikan,”.

Cheonsa mengecup jemari ibunya. “Tapi, aku bahagia sekarang, Oemma. Semoga, apa pun yang terjadi nanti, aku bisa melaluinya. Jadi Oemma juga harus berusaha untuk sembuh,”.

Dan sedikit keajaiban, senyum tipis, walaupun sedikit tak kentara, tersungging di bibir sang ibu. Meski pandangannya masih melayang kosong ke ruang di depannya, tapi ini cukup menunjukkan sebuah harapan.

Cheonsa membelalakan matanya tak percaya. “Oemma tersenyum?”. Dia menyunggingkan senyum lebarnya. “Aku tahu, Oemma pasti bisa menjalani semua ini,”. Cheonsa mencondongkan tubuhnya dan mencium pipi kiri sang ibu. “Gomawoyo, Oemma,”

_LDH_

“Oh baiklah, sekarang Hyungku bahkan tersenyum pada ponselnya,” Kyuhyun mengangkat bahu serta tangannya. “Hya…hya…senyummu itu terlalu lebar, Hyung,”.

“Aniyo, Kyunnie,” Donghae menggerak-gerakan telunjuknya ke kanan-kiri. “Kau tahu, dia baru saja menelphonku terlebih dulu,” bangga Donghae sembari menunjukkan layar iphone-nya.

“Lalu?”.

“Tentu saja ini luar biasa. Akhir-akhir ini selalu saja aku yang meng-contact-nya terlebih dahulu,”.

“Tsk, kukira apa,” Kyuhyun melipat kedua tangannya di depan dada dan mulai mencibir. “Pentingkah mengurusi hal sepele seperti itu? Kau terlalu berpikir kekanakkan, Hyung,”.

“Kau hanya iri saja, bukan?”.

“Tidak,” sentak Kyuhyun. “Yang terpenting adalah esensi dari setiap komunikasi yang terjalin,”.

“Hish, bilang saja kau iri karna Lynn tak pernah meng-contact-mu terlebih dulu,”.

“Tidak,”.

“Begini, Kyunnie. Aku senang ketika Cheonsa menghubungiku terlebih dahulu, karna itu artinya dia sedang memikirkanku,”.

“Cish,”.

“Jangan mengelak, Kyunnie. Mukamu sudah memerah. Oh, apakah adikku tersayang itu tidak pernah memikirkanmu ya?” Donghae mengetuk-ketukan telunjuknya di pelipis. “Atau mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan kalau kekasihnya sedang di luar negeri,”.

“Hya…hya…” Kyuhyun sudah mengacungkan telunjukknya.

“Ah, atau jangan-jangan dia malah sedang berkencan dengan pembalap nasional itu. Kukira Kevin memang lebih keren daripada kau,”.

“HYA, HYUUUNGGG,”.

Donghae tertawa puas dan segera berlari. Menyelamatkan diri dari amukan magnaenya.

_LDH_

Lima hari berlalu dengan beragam kesibukan. Donghae dengan shownya, sedangkan Cheonsa dengan pasien-pasien dan penelitian untuk thesisnya. Meskipun komunikasi tak terputus, namun tetap saja ada rasa kehilangan ketika raga tak bertemu.

Cheonsa memandangi layar ponselnya, tepat di wallpaper yang terpasang. Dia menangkupkan kedua tangannya di wajah. Ini adalah hari ke lima, dan tak dipungkiri dia sudah tak sabar untuk memangkas waktu agar segera melihat lelaki itu. “Lee Donghae,” lirihnya.

Diliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul 02.00 pm. Untuk hari ini, shiftnya berakhir sudah. Cheonsa berdiri dari duduknya dan membereskan tasnya.

Cheonsa melipat dan menyampirkan jas putih kebanggaanya di lengan. Dia berjalan menuju White Toyota Camry SE miliknya kemudian memacunya dengan kecepatan rata-rata. Entah mengapa, tiba-tiba, pikirannya melayang pada konten pembicaraannya dengan pengacara harabeojinya beberapa hari lalu. Cukup tercengang tentang warisan harabeoji padanya yang jumlahnya luar biasa, bahkan melebihi milik Daniel dan Kevin.

Memikirkan mengapa harabeoji menitipkan begitu banyak asset dan saham perusahaan padanya. Bukankah ada Daniel yang jauh lebih kompeten darinya. Dan juga, Cheonsa belum menemukan kaitan Jung yang menginginkan surat pernikahannya. Bukankah, dia tidak ada urusan dengan warisan tersebut. Kecuali jika dia menyembunyikan maksud tertentu.

Cheonsa menggeleng-gelengkan kepalanya saat imaginasinya meninggi. Memberikan tuduhan pada orang lain tanpa alasan. Dia membelokkan arah tujuannya, semula ingin pulang, menuju kantor pusat Hansang Finance. Apalagi jika bukan untuk meminta kejelasan, baik dari ayah atau kakak lelakinya.

_LDH_

“Damn it, bagaimana cara kita mendapatkannya? Aku sudah berusaha bertindak namun tak jua berhasil,” umpat Jung seraya menghempaskan tubuhnya di sofa. Diusap kening miliknya, menandakan bahwa dia sedang gundah.

“Jika kau ingin berburu, maka jangan gegabah, Jungie. Atau kau akan kehilangan mangsamu. Aku yang nanti akan memintanya sendiri,” Tuan Han menghampiri Jung dan memposisikan dirinya duduk di sofa. Tangannya membimbing kepala Jung untuk bersandar di pundaknya.

Jung menelusupkan tangannya di lengan Tuan Han dan memainkan jemari pria tersebut. “Sudah cukup lama, aku menunggu momen ini. Jadi wajar bukan jika aku sangat menginginkannya sekarang?”.

“Tentu, Jungie. Tapi kau juga perlu berhati-hati jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal,”.

Jung hanya menggerakkan kepalanya untuk mengiyakan. “Aku lelah. Ini hampir 15 tahun,”.

Tuan Han menarik tangannya dari genggaman Jung dan menyusupkan di belakang pundak Jung. Menarik wanita itu lebih merapat ke arahnya. “Kita kan melaluinya, Jungie. Bersabarlah. Kita akan mendapatkannya,”.

Tanpa mereka sadari, seseorang telah berdiri semenjak dua menit lalu tak jauh dari mereka. Disunggingkan senyum miringnya. Menyembunyikan semua rasa sakitnya atas pemandangan yang baru saja dilihatnya. Tidak satu tetes pun air mata yang mengalir. Dia hanya merasa tak pantas air matanya terurai demi sesuatu yang menjijikan.

Tuan Han mendongakkan kepalanya dan menemukan sosok tersebut. Matanya membulat dengan nafas yang tercekat di kerongkongan. “Cheonsa,” lirihnya yang segera menlepaskan rangkulannya pada pundak Jung. Tingkahnya persis seperti seorang yang ketahuan belangnya.

“Good Evening, Appa,” ucap Cheonsa dengan nada angkuhnya sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Kini, dia punya alasan kuat untuk membenci asisten ayahnya itu. Bahkan, suatu saat alasan ini jualah yang bisa membuatnya menampar pipi mulus wanita jalang tersebut.

_LDH_

Setelah menyetir dengan melampaui batas rata-rata, akhirnya Cheonsa sampai  di apartemennya dengan selamat. Cheonsa melempar tasnya di sofa kamar, kemudian membanting dirinya di ranjang. Mengingat kembali pembicaraan yang secara tak sengaja ditangkapnya tadi.

“Wanita itu, apa yang diincarnya?” tanyanya pada diri sendiri. Dia berpikir keras untuk menyatukan kepingan-kepingan kejadian untuk mendapatkan petunjuk. “Pernikahan paksa, surat pernikahan, kunci membuka warisan, asset perusahaan yang jumlahnya luar biasa, dan-“ Cheonsa tak mampu melanjutkan perkataan berikutnya. Dia memejamkan matanya. “Perselingkuhan,” akhirnya kata itu lolos juga dari bibirnya.

“Apakah kalian menginginkan warisan itu?” monolog Cheonsa. “Appa? Benarkah?” nada tak percayanya. Bagaimana mungkin seorang ayah mengincar harta milik putrinya sendiri. Namun benarkah dugaannya?. Semua praduga itu masih melayang-layang di angannya.

Cheonsa beringsut bangun dan memutar tubuhnya. Dia memandangi foto besar pernikahannya yang tergantung tepat di atas ranjangnya. Senyum dari kedua mempelai, disempurnakan nuansa hangat yang tercipta dari tangan keduanya yang terpaut. Ingatannya kembali pada hari dimana pemberkatan itu berlangsung.

“Mungkin inilah alasan sebenarnya kita terikat dalam pernikahan ini, Hae-ya. Demi warisan. Menyesakkan bukan?”. Dan air mata mengalir di pipi Cheonsa, bukan karna bayangan persekongkolan ayah dan asistennya, melainkan karna bayangan pernikahannya. “Aku berharap dugaanku salah. Tapi nyatanya, inilah satu-satunya alasan logis pernikahan ini, Hae-ya”.

Cheonsa membesut air matanya dengan kasar. Dadanya merasa sesak. Bagaimana jika ternyata semua dugaannya benar. Bahwa pernikahannya hanya dijadikan sebuah kunci pembuka bagi warisannya. Sanggupkah dia bertahan jika faktanya pernikahan tersebut hanya sebuah alat konspirasi ayahnya?. Tegakah dia menarik seseorang yang dicintainya ke lubang hitam kemelut keluarganya?. Tidak.

Cheonsa meremas kemeja depannya. Ketakutan merayapi hatinya. Kebahagiaan yang baru saja diperolehnya, bagaimana mungkin secepat ini akan berlalu. Kenapa masalah tak henti-hentinya menyapanya.

“Aku tetap berharap ini semua hanya khayalanku semata,” lirihnya. Dering ponsel menyentak kesadaran Cheonsa. Dia meraih ponselnya dan tersenyum miris saat membaca ID callernya.

“Yeoboseyo,”

“…”

“Perlu aku jemput?”

“…”

“Mwo?”

“…”

“Jangan bermain-main Hae-ya. Cepat matikan telephonya,”.

Cheonsa segera turun dari ranjang dan berlari menuju pintu apartemennya. Dia sudah tak sabar untuk menemui pria yang siang-malam dirindunya. Senyumnya mengembang ketika dilihatnya sang pria sedang mencopot sneaker-nya.

“Hi,” Donghae mengangkat sebelah tangannya sedangkan tangan yang lain masih sibuk mengurai tali sneakernya.

Cheonsa berjalan lambat mendekati Donghae. Rasa sesak yang baru saja menerpanya serasa menghablur ke udara ketika melihat lelaki itu. Tak dapat menahan kerinduannya, dia berlari kecil dan langsung menubrukkan tubuhnya pada Donghae.

Donghae sedikit terhuyung ke belakang dan kaget dengan perlakuan Cheonsa. Dia tersenyum lebar saat dirasakan Cheonsa mengeratkan pelukannya. Tangan kananya melingkar di pinggang Cheonsa, membalas pelukan tersebut, sedangkan tangan kirinya mengelus kepala Cheonsa. “Sangat merinduku?”.

Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang jawabannya hanya ‘ya’ atau ‘tidak’. Tapi nyatanya, Cheonsa tak dapat melafalkan jawabannya. Bukan karna dia ragu, sebab jawabannya pasti ya. Tapi, karna ketakutannya pada bayangan pernikahannya yang tadi hinggap di benaknya. Dia hanya dapat mengangguk.

Donghae melipat bibirnya, sekedar menahan rasa bahagianya yang ingin meledak. “Aku juga merindumu, Sayang,”. Diciumi puncak kepala sang istri untuk meluapkan rindunya.

Cheonsa semakin melesapkan wajahnya di dada Donghae. Menyembunyikan matanya yang memerah. “Kumohon untuk saat ini, biarkan aku berlaku egois untuk tetap memilikinya,” batin Cheonsa.

TBC*

 

Note: Okaaayyyy…akhirnya selesai juga part 4. Walaupun dengan ide yang tersendat-sendat, kekeke…mian kalau belum bisa memuaskan (?) kalian cingu. Moga masih dapet chemistrynya.

Oya, buat yang request agar dibuat Donghae berjuang buat nglindungi Cheonsa, sabar ya cingu. Untuk part ini mungkin sedikit datar dulu. Next, aku usahakan ya.

Visit me on http://www.purpleonact.wordpress.com

Gomawoyo..

3 thoughts on “Please, Hold On [part 4]

  1. uwwooo,,, si kevin ganggu aj nieh pagi hari nya sang pengantin baru.. u,u
    ku tunggu alasan” selanjut nya si kevin..
    haha :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s