My Lovely Bunda [part 2/2]

Tag (tokoh) :   Kim Jong Woon as Alif

Kim Jong Jin as Ahda

Kim Ah Jung a.k.a Omma as Nurhaliza Darmawan a.k.a Bunda

Kim Na Ra as Fatimah az Zahra

dan Super Junior as Garuda Boys (#ngarang abiiis)

Genre : Family? yg Pasti GAJE!

Rating : All Age

Nama : Rahmi sarangheSUJU

 

Anyong FF Gaje datang lagi….saya baru saja mengirimnya ke SJFF2010, kira-kira yang seperti ini dipublis gak ya? so cekidot…

 

My Lovely Bunda Part 2

‘Aku…’ baru saja Zahra akan menyelesaikan jawabannya…

‘Tentu saja bekerja, Lif. Dia sudah jadi pegawai kita semenjak dua minggu yang lalu,’ potong bunda cepat.

‘Oya? Baguslah,’ jawab Alif datar sambil mengunyah makanannya.

‘Bunda yang paksa Zahra bekerja di sini, upah yang ia terima di tempat kerjanya yang lama terlalu sedikit, sementara ia harus membiayai kuliahnya dan membantu adik-adiknya di panti asuhan juga,’ bunda berbicara terus terang tanpa peduli dengan Zahra yang memang pendiam semakin dalam terdiam sekaligus malu-malu.

‘Hmm bunda, bukankah panti asuhan yang sebesar itu ada donatur tetapnya, kenapa nona Zahra yang mesti bekerja keras. Bunda yakin, bunda tidak punya maksud lain dari semua ini?’ dengan ekspresi datarnya, Alif malah semakin blak-blak-an lagi, yah terus saja abaikan si Zahra ini.

‘Ck! Kau G-R sekali! Memangnya lelaki di dunia ini cuma kau seorang, heh?’ Bunda kesal bukan main. ‘Putra Bunda tidak hanya kau seorang, kau lupa bunda punya sepuluh orang putra? Eh tidak, member Garuda Boys ada sepuluh orang ditambah Ahda. Semuanya sebelas! Bunda akan jodohkan Zahra dengan salah seorang dari mereka. Yang pasti, mereka semua tidak bodoh seperti kau. Kau mau tahu? Radit saja, pemuda tertampan dan terseksi di Garuda Boys saja sudah akrab dengan Zahra, sampai mereka bertukar nomor Hanphone. Bersiap-siaplah Alif Darmawan!!!’ seiring dengan kalimat terkhirnya, Nyonya Darmawan alias bunda mendadak berdiri dengan kesal dan dengan kasar ia meraih nampan berisi makanan yang belum ia habiskan, membawa benda itu menjauh dari bangku yang baru saja ia duduki. Sepertinya ke tempat pencucian piring di bagian belakang café.

Alif hanya menganga melihat tingkah bundanya. Ia shock bukan main. Lain halnya dengan Alif, Zahra malah terkekeh. Tertawa melihat ekspresi cengo Alif.

‘Bang!!! Jangan sampai lalat memasuki mulutmu!’ ujar Zahra terkekeh geli yang membuat Alif kembali mengumpulkan kesadarannya.

Alif berusaha memulihkan dirinya lagi dan menelan kembali makanan yang tadinya sempat tersangkut di kerongkongan.

‘Waa, kalau begini aku jadi merasa bersalah,’ ujar Zahra sambil tersenyum-senyum, bertolak belakang dengan ungkapan rasa bersalahnya.

‘Kudengar dari bunda, bang Alif dan bunda akhir-akhir ini sering ribut gara-gara masalah ini? Bunda benar-benar membuat aku tak bisa menahan tawa, beliau selalu menceritakan soal bang Alif yang selalu tak bisa dibujuk untuk menikah secepatnya, sekaligus beliau menceritakan bagaimana kalian bertengkar gara-gara ini. Sebagai orang yang sedikit banyak terlibat dalam hal ini, aku ‘kan jadi merasa tak enak hati karena telah menyebabkan bang Alif dan bunda ribut,’ Alif rasanya ingin membantah ucapan gadis di depannya ini, tapi gadis ini tak memberikan kesempatan sedikit pun, dia terus saja nyerocos. Di mana gadis pendiam yang ia jumpai beberapa waktu yang lalu?

‘Tenang saja. Aku akan bantu membujuk Bunda untuk tak lagi mendesak abang menikah. Benar kata bunda tadi, sebagai GFF, aku tak hanya mengidolakan bang Alif seorang, sebenarnya aku ini Rangga lovers juga. Maaf ya bang, aku terkesan memanfaatkan keadaan ini. Sepertinya, aku bahagia di atas penderitaan orang lain. hehe…Jujur saja, aku sebenarnya senang sekali diajak bunda bekerja di sini, bayarannya lebih besar, selain itu ada kemungkinan aku bisa bertemu abang-abang GB di sini. Terimakasih,’ ujar gadis di depan Alif ini sambil tersenyum dan menyeruput minumannya hingga berbunyi ‘sruuut’. Alif seperti biasa hanya memasang tampang datarnya. Meski ia agak kaget juga, ternyata gadis di depannya ini adalah gadis yang sangat berterus terang dan bukanlah gadis pendiam seperti perkiraannya. Ya memang, Zahra bukanlah gadis yang pendiam, dia hanya menjadi pendiam terhadap orang yang baru ditemui dan dikenalnya. Jika Zahra sudah merasa nyaman dan merasa seolah-olah sudah mengenal lawan bicaranya dalam waktu yang cukup lama, gadis ini akan bersikap lebih fleksibel, hangat, polos dan terkesan suka berterus terang; apa yang terpikirkan maka itulah yang akan ia ucapkan. Maka, tak heran jika ia sudah merasa ‘sejiwa’ dengan lawan bicaranya itu, ia akan mudah akrab.

‘Kenapa berterimakasih? Seharusnya aku yang minta maaf karena telah berani-beraninya menolak gadis semanis dan sebaik dirimu. Nona Zahra, carilah pria baik-baik. Aku jelas-jelas tak layak untukmu, aku ini tipikal pria yang lebih mencintai pekerjaan dari pada wanita, apa lagi member GB yang lain. Kau bisa lihat ‘kan, kami sama saja. Menjadi pendamping seorang member Garuda Boys adalah suatu kemalangan bagi seorang wanita. Mereka, para gadis terkadang tidak berfikir sampai sejauh ini, yang terpikir oleh mereka hanya yang manis-manis saja,’ Alif berhenti sejenak demi menenggak air bening di sampingnya dan mengelap permukaan mulutnya dengan serbet. Ia hendak melanjutkan omongannya tapi malah diserobot oleh Zahra.

‘Kenapa bicara seperti itu? Bang Alif hanya belum menemukan gadis yang abang cintai dan gadis yang mencintaimu apa adanya. Gadis yang mau mengerti dan mau menerima bagaimanapun kondisi bang Alif. Kalau suatu saat bang Alif menemukan gadis seperti itu dan kalian saling mencintai, kehidupan bang Alif sebagai artis bukanlah sebuah hambatan yang berarti, bukan?’

‘Aku sudah selesai, meskipun aku pegawai yang disayangi bunda, bukan berarti aku bisa seenak-nya berleha-leha. Aku musti bekerja lagi,’ dan gadis itu pun berlalu, meninggalkan Alif sendirian. Bagus juga dia pergi, pikir Alif, tidak enak dilihat orang, meskipun kami tidak hanya berduaan di ruangan ini tapi berduaan dalam satu meja ‘kan bisa menimbulkan pikiran yang tidak-tidak bagi siapa saja yang melihat kami, memang aku pria manis apaan? Begitu Alif menoleh ke arah lain, tatapan Alif tak sengaja berbenturan dengan pemandangan antrian pengunjung. Antrian pengunjung Café Bunda yang sepenuhnya perempuan itu semakin lama semakin panjang saja, antrian panjang yang di mulai dari pintu masuk hingga ke depan kasir. Perempuan-perempuan itu melirik sekilas-sekilas ke arah Alif yang duduk di bangku yang agak jauh dari mereka.

 

*****

Alif POV

            GFF, aku mencintai kalian! Kalian begitu mencintaiku meski hanya dapat memandangku dari jauh, bagaimana tidak dengan seorang wanita yang akan mendampingiku kelak? Wanita yang menjadikan aku halal baginya -wahaha bahasaku keren ya- dengan sebuah cara yang disebut pernikahan dan yang pasti wanita ini akan sering-sering kutinggalkan dan bahkan bisa jadi kutelantarkan, tapi dia tetap mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Rasanya tak dapat kubayangkan betapa luar biasanya wanita seperti ini. Ya, rasanya wanita yang punya banyak cinta lah yang bisa bertahan mencintaiku kelak. Kapankah wanita yang luar biasa ini akan hadir dalam hidupku? Hmm…Aku akan menunggu saat itu tiba.

Aku pun meraih Iphoneku dan mulai bertwitt-ria, aku sengaja meng-upload foto hasil selca-ku saat aku bangun tidur di hotel ketika Asia Tour Singapura akan berlangsung 12 jam kemudian. Dan menyapa followersku, ‘cuaca hari ini bagus.’ Semua orang memang bebas melakukan apa saja di jejaring sosial ini. Dan kita ingin orang mengenal pribadi kita seperti apa, itu adalah sebuah pilihan bukan? Aku ingin semua orang mengenalku sebagai pribadi yang ceria, hangat dan penuh keoptimisan, maka, statusku harusnya adalah kalimat-kalimat atau kata-kata yang selalu menggambarkan keceriaan, kehangatan dan keoptimisan. Dengan harapan, semua keceriaan, kehangatan dan keoptimisan itu dapat menulari semua orang.

 

*****

Dari hari ke hari bunda semakin gila saja, membuatku sebentar lagi pasti akan kehilangan kewarasan juga, oopss! Bukan!! Bundaku tidak gila, kata-kata adalah doa, aku tidak boleh bicara sembarangan. Maksudku, keinginan bunda untuk memiliki menantu dari hari ke hari semakin menggila saja. Sekarang Zahra diangkat  anak oleh bunda yang otomatis berarti Zahra adalah anak angkatnya. Dan target pun beralih pada gadis itu. Aku sih enjoy-enjoy saja, malah bersyukur aku tak di desak lagi untuk menikah oleh bunda. Masalahnya adalah, rasanya benar-benar tak enak ada orang asing, yang entahlah siapa dia, memanggil bundaku dengan panggilan bunda dan sok berakrab ria dengan bunda. Cih! Memang siapa dia? Oke, bundaku memang bunda yang terbaik, siapa saja boleh diangkat anak olehnya. Tidak heran member merasa iri kepadaku karena hal ini; memiliki bunda yang baik dan sangat menyenangkan. Mereka telah menganggap bunda sebagai ibu mereka sendiri, begitu juga sebaliknya bunda telah menggap member sebagai putra-putra bunda sendiri. Apa lagi member yang memiliki keluarga yang luar biasa sibuk atau alasan-alasan lain yang membuat mereka tidak mendapatkan kasih sayang orang tua secara utuh; bunda merupakan oase di tengah-tengah terbatasnya limpahan kasih sayang orang tua. Bunda terkadang sengaja datang dan membawakan makanan untuk kami yang sedang latihan, jika ada di antara kami yang sakit beliau tidak hanya akan khawatir tetapi juga ikut menjaga sampai kami sembuh. Hmm…Tapi, kenapa Zahra juga harus diangkat bunda sebagai anaknya? Bukankah bunda baru saja mengenal Zahra. Entah kenapa aku merasa sedikit tidak rela ada orang asing yang memanggil bundaku dengan sebutan bunda.

Bunda memperkenalkan Zahra pada semua member yang datang ke café dan dengan tak tau malunya bunda mengumumkan ingin salah satu dari mereka menjadi menantunya. Dan aksi pun dilancarkan. Zahra terkadang disuruh menggantikan bunda mengantar makanan pada kami yang sedang latihan di ruang gedung ajensi. Itu sih masih wajar, yang lebih gilanya bunda juga menyuruh Zahra mengatar makanan ke dorm. Memangnya kami boy band keren apaan? Membiarkan seorang gadis memasuki dorm kami, memasuki dorm sekumpulan pria-pria berstatus lajang. Oke, aku memang berlebihan. Bibi pengurus dorm kami juga seorang wanita, dan pernah juga ada salah satu program acara sebuah stasiun televisi yang krunya sebagian adalah wanita memasuki dorm kami. Tapi, konteksnya jelas berbeda bukan?

Baiklah, sampai sejauh ini gadis bernama Zahra itu cukup tahu diri juga, dia hanya mengantar sampai depan dorm. Menelponku untuk keluar, memberikan bawaannya, lalu pergi begitu saja. Sudah.

Tapi anehnya, kenapa Zahra bisa dekat dengan Rangga? Semenjak pertemuan pertama Zahra dengan member, terutama dengan Rangga, aku sering mendengar Rangga berbicara di telpon dengan Zahra. Bahkan sampai betah berlama-lama telpon-telponan layaknya sepasang ABG labil yang tengah kasmaran. Ya…Memang sih dia pernah mengaku sebagai fansnya si Rangga, tapi tidak begini caranya ‘kan? Bunda bilang gadis itu gadis baik-baik dan terhormat. Baik-baik apanya? Terhormat apanya? Apa bedanya gadis kesayangan bunda itu dengan fans labil kami, jika di setiap sela-sela latihan Garuda Boys, dia membiarkan dirinya ditelpon oleh pemuda yang otaknya agak condong kekiri-kirian itu?  Cih!!!

Hey!!! This is not my business!!! Perasaan bunda tidak pernah mengajarkan aku untuk bersu’uzon-ria. Astaghfirullah… Bagaimana kalau mereka tak seburuk yang aku pikirkan? Bukankah itu artinya aku berfikiran buruk sendiri? Dan otomatis aku kotor sendirian? Ya!! Tertawalah sepuasnya kalian di atas sana, sementara aku berkecimpung dilautan kotoran otakku sendiri!!!

‘Yah…yah…hihihi yah kikik,’ hmm? Bocah siapa ini? Kenapa menghalangi jalanku? Dan jangan seenaknya memanggilku ayah, aku bukan ayahmu. Apakah tampang seimut aku sudah pantas jadi seorang ayah?

‘Alif, bawa dia ke sini! Dan tutup pintunya, bahaya kalau dia sampai keluar!’ aku melihat bunda mengibaskan tangannya, menyuruh aku mendekat.

Aku mengikuti perintah bunda, menatap balita yang masih menatapku dengan mata bulat beningnya. Okh…kurasa aku mulai tersihir dengan wajah polos tanpa dosanya itu, karena tanpa dikomandoi sudut bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman begitu bocah itu juga menarik sudut sudut bibirnya, memamerkan dua giginya yang tumbuh seperti gigi kelinci, dan menenggelamkan kedua bola matanya. Aku menekuk kakiku dan mensejajarkan tubuhku dengan ukuran tubuhya, lalu meraih bocah itu, mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum akhirnya tubuh mungil itu berada dalam dekapanku.

Aku menutup pintu café di belakangku dan membawa bocah dalam pangkuanku ini mendekati bunda. Selama perjalanan kami menuju bunda, kami masih saling memandang satu sama lain, dia dengan senyum polosnya, aku dengan senyum gemeeees-ku. Mulut mungilnya masih saja menyebut kata ‘yah’ dengan cadel sambil terkikik-kikik dan sesekali mengeluarkan suara yang melengking. Sungguh bahagia sekali sepertinya, seolah-olah topan badaipun tak kan sanggup meruntuhkan kebahagiaan bocah ini.

‘Anak siapa, bunda?’ tanyaku begitu kami sudah berada di depan bunda yang sedang sibuk membereskan piring-piring.

‘Anak Zahra’ ucap bunda santai, eh! Aph-…

‘Aphua!!!? Anak Zahra?’ tuh kan, apa kubilang?

Mendengar teriakanku bunda terlonjak kaget dan mengelus-elus dadanya seraya beristighfar.

‘Ih!!!’ Pletak!!!

‘Adaw!!! Sakit!’ aku menjerit menyuarakan rasa sakitku di bagian kepala yang baru saja dijitak bunda dengan kesal.

‘Kenapa berteriak? Jantungku nyaris copot gara-gara teriakanmu itu,’ bunda kesal bukan main.

Kuusap-usap kepalaku yang berkemungkinan benjol karena jitakan bunda.

‘Aku ‘kan hanya terkejut bunda, ternyata gadis itu sudah punya anak. Siapa ayahnya bunda?’ tanyaku semakin ngawur.

Sebelum bunda sempat membalas kengawuranku, sebuah suara menghentikan kami.

‘Hikss,’ senyum polos yang tadinya menghiasi wajah bocah dalam gendonganku ini kini lenyap sudah berganti dengan ekspresi terkejut campur mendung, layaknya langit yang menghitam karena awan gelap yang mengandung berton-ton air hujan yang siap di tumpah ruahkan ke bumi.

‘Huwaaa,’ dan benar saja, air berton-ton itu tumpah-lah sudah membanjiri pipi mulusnya.

Kutatap bunda dengan tatapan horor, bingung dengan kondisi yang tengah terjadi dan apa yang musti dilakukan. Bunda malah mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.

Detik kemudian bunda meraih bocah yang tengah meraung ini dari pangkuanku.

‘Ooo, Syifa sayang…cup…cup, kenapa menangis…hey…hey lihat itu ada cicak,’ Bunda menunjuk cicak yang kebetulan memang sedang nangkring di salah satu sudut dinding café (?). Lalu, bocah yang bernama Syifa itu pun mengikuti arah telunjuk bunda sambil sesenggukan. Dan…Ajaib!!! Syifa pun diam. ‘Cicak cicak di dinding,’ Syifa tertawa ketika bunda menyanyikannya dengan riang.

Bunda melirikku sekilas.

‘Ini gara-gara dirimu!’ desis bunda penuh penekanan yang membuat aku merinding. Wuahaha.

 

***

‘Syifa ini anak panti. Zahra yang membawanya ke sini. Tadinya Zahra akan membawa Syifa pulang ke kampung halamannya. Tapi, bunda cegah. Tidak mungkin kan, anak sekecil ini dibawa-bawa dalam perjalanan sejauh itu. Nanti kalau masuk angin bagaimana? Ditinggal di panti juga tidak mungkin, tidak ada yag bisa menjaganya kecuali Zahra dan tante Farah. Farah mendadak juga ada keperluan mendesak sekarang,’ bunda menjelaskna panjang lebar sambil memegangi cemilan yang diemut Syifa. Enak sekali dia, aku saja yang anak kandung bunda tak sampai disuapi seperti itu.

‘Jadi, bunda akan jadi pengasuh dia sampai gadis itu kembali?’

‘Ck! Kau ini! ‘Dia’, ‘gadis itu’, mereka punya nama. Siapa yang mengajarimu jadi anak nakal seperti itu? Aduh..aduh, Syifa kau berat sekali sayang, tangan nenek sampai pegal begini,’ bunda memang terlihat kecapean.

‘Sini bunda, biar kugendong!’ aku meraih Syifa dan dalam sekejap Syifa sudah berada dalam pelukanku. Bocah ini masih sibuk dengan cemilannya, mulutnya belepotan coklat dan kuambil tisu yang ada di meja di sampingku dan membersihkan mulutnya. Syifa menyodor-nyodorkan coklat lezatnya ke wajahku yang membuat aku terpaksa berkelit menghindari serangannya sekaligus terkekeh karena tingkahnya itu. Kulihat bunda langsung duduk di bangku terdekat dan memukul-mukul lengannya yang tadi menggendong Syifa dengan tangannya yang lain.

‘Bunda jelas-jelas sudah tua, kenapa sok kuat mau mengasuh Syifa segala? Biarkan saja Zahra membawanya! Atau serahkan dia ke karyawan di sini,’ ujarku tak mau peduli alis cuek bebek dan tanpa ku sadari bunda sudah menatapku dengan tatapan membunuhnya.

‘Rasanya aku tak pernah punya putra yang tidak punya perasaan seperti itu,’ oke, sindiran bunda telak menohok rasa prikemanusiaanku yang hemm memang agak mengabur akhir-akhir ini.

‘Bukan begitu bunda, akibatnya lihat saja bunda jadi keletihan seperti ini ‘kan? Sampai kapan bunda akan menjaga Syifa, sampai si Zahra kembali? Lagian, untuk apa dia pulang kampung kalau dia harus menelantarkan anak orang seperti ini,’ entah kenapa aku sedikit kesal dengan gadis yang bernama Zahra ini, ia meninggalkan tanggung jawab dengan seenaknya.

‘Zahra kembali nanti sore, dia harus pulang kampung karena ada anak-anak terlantar yang mesti ia jemput di kampungnya, tentu saja hanya Zahra yang bisa menjemput karena hanya dia yang tahu daerah kampung halamannya itu. Sementara Rangga juga tidak bisa, dia hari ini ada drama musikal, bukan? Asisten Rangga yang diutus Rangga untuk menemani Zahra jelas tidak tahu daerah situ,’ jelas bunda lagi. Tunggu! Rangga?

‘Rangga? Apa hubungannya Rangga dengan semua ini bunda?’

Buk! Buk! Aku menoleh pada gadis kecil yang tengah memukul-mukul dadaku dengan tangan mungilnya. Hey!! Kemeja merahku sekarang belumuran coklat? Yah lanjutkan saja aktivitas barumu itu, jika itu membuatmu senang? Kotorilah sesukamu kemeja merah favoritku ini dengan coklatmu itu, bocah nakal!

‘Ya Tuhan, anakku… Memang kau tidak tahu? Lama-lama kau bisa jadi autis, Alif! Sibuk dengan duniamu sendiri dan tidak peduli dengan semua orang yang ada di sekitarmu! Rangga dan Zahra ‘kan satu kampung dan sudah lama mereka bekerja sama untuk membangun kampung mereka. Termasuk membawa anak-anak terlantar di kampung mereka ke panti Farah yang memang tak diragukan lagi kualitasnya itu. Ckck, aku salut dengan Rangga, dalam keadaan sesibuk apa pun dia masih sempat memikirkan nasib orang banyak. Aku berharap sekali hubungan Rangga dan Zahra tidak hanya sekedar hubungan sekampunghalaman saja. Bagus sekali kalau mereka akhirnya menikah,’ diakhir kalimatnya suara bunda agak bergetar dan ia dengan sengaja mengalihkan tatapannya dariku. Aku tahu, harapan itu sesungguhnya ditujukan padaku. Aku menghela nafas berat dengan pelan. Bunda berusaha pura-pura melupakan harapannya, tapi aku tahu, jauh dilubuk hati bunda, harapan itu masih ada. Mendadak aku merasa seperti manusia paling kejam di dunia ini.

Pagi mulai beranjak, siang pun mulai menampakkan diri, dan café kami sudah mulai didatangi pengunjung. Kutatap bunda dari taman kecil di belakang café kami melewati dinding kaca tembus pandang. Bunda menyuruhku bermain dengan Syifa. Bunda bilang bunda sudah tidak kuat lagi menggendong gadis kecil ini. Wanita yang paling kucintai itu sekarang sedang sibuk melayani pengunjung tanpa menyadari, aku, putranya yang paling bodoh ini sedang mengamatinya. Untuk wanita seumur bundaku, tubuh mungil itu memang terlihat masih kuat, tapi tak bisa dipungkiri, usia memang sudah mulai mempengaruhi gerak-geriknya, beliau tak lagi selincah dulu. Selincah di mana beliau menggendong aku di punggunya sambil berlari sewaktu aku masih kecil

‘Yah…yah! Yah…yah,’ gadis kecil yang sedang menggerakkan tubuhnya dalam pangkuannya ini sukses menghalau kegalauan yang sempat menghinggapi pikiran dan perasaanku.

‘Mmm…mmm,’ hanya itu suara yang bisa ia perdengarkan sejak tadi, tapi aku tahu sekarang ia sedang menginginkan aku membawanya kembali ke dalam karena tangannya teracung ke arah di mana bunda berada. Waa, kacau kalau begini, bagaimana jadinya jika aku tak bisa menghentikan rengekannya ini? Di tengah kepanikan, tak sengaja mataku menangkap seekor kupu-kupu yang hinggap di atas ranting bunga yang daunnya berguguran. Aku menunjuk kupu-kupu itu dan berusaha agar Syifa memperhatikan arah telunjukku. Ia melakukannya dan sekarang ia tak lagi merengek. Syifa diam dan menatapku sekilas lalu kembali menatap kupu-kupu itu lagi. Syifa mulai mengacungkan tangannya ke arah kupu-kupu dan aku pun mengerti ia ingin kami mendekati kupu-kupu itu. Begitu kami sudah berada dalam jarak dekat dengan kupu-kupu itu, Syifa menatapnya lekat-lekat. Sesekali ia menatapku, dan mulut mungilnya lagi-lagi melontarkan kata-kata andalannya,’mm mm.’ Kemudian aku mengangguk seraya tersenyum dan mengeja,’ku-pu-ku-ku-pu.’ Dan ia pun membalas,’mm’ seolah mengerti apa yang aku katakan. Pertualangan kami pun berlanjut, aku mengajaknya mendekat ke kolam ikan yang berukuran kecil di taman itu yang banyak sekali ikan kecil, lagi-lagi aku menunjuk-nunjuk. Menunjuk ikan kecil itu agar Syifa juga melihatnya. Kali ini reaksinya; terkekeh kecentilan begitu melihat ikan itu meliuk-liuk di dalam air. Riang sekali. Tiba-tiba ia memiringkan kepalanya sambil memamerkan senyum menakjubkan dengan lesung pipi yang sangat teramat manis, demi dapat menatap wajahku, seakan-akan ia ingin tahu apakah aku juga ikut berbahagia seperti dirinya. Aku membalasnya dengan senyum yang juga tak kalah merekah sambil mengedip-ngedipkan mataku sok centil. Entah seperti apa aku, yang pasti aksiku sukses membuat ia terkekeh dan kembali memusatkan kembali perhatiannya kepada sekumpulan ikan-ikan kecil itu. Kemudian aku mengajaknya menapaki jembatan kecil yang sengaja dibuat di tengah kolam kecil itu agar kami dapat sampai di seberang kolam. Ia langsung menolak saat aku menurunkannya dari gendongan dan hendak mengajaknya berjalan menapaki jembatan itu, sepertinya Syifa ketakutan dan aku pun kembali menggendongnya. Kami mengelilingi kolam kecil itu dan menyebrangi jembatan kecilnya berkali-kali sampai aku keletihan dan terduduk di batu kecil di tepi kolam dengan Syifa dipangkuanku. Aku bersenandung dan menggoyang tubuh Syifa yang bersandar keletihan di pangkuanku. Pohon kecil di belakang kami cukup menaungi kami dari panasnya terik matahari. Rasanya damai sekali.

Kemudian aku mengajaknya berdiri dan beranjak ke bagian taman yang masih tertutup atap café karena matahari sudah mulai meninggi dan daun daun itu tak sanggup lagi menaungi kami. Ia tak menolak ketika aku menyodorkan segelas air putih kemulutnya, terlihat ia sangat kehausan. Syifa juga memakan cemilan yang aku sodorkan. Tapi, belum habis separo Sifya menjatuhkan cemilannya. Aku memasang ekspresi sedihku dan menggeleng agar ia mengerti bahwa tidak boleh membuang-buang makanan. Syifa sesaat menatapku seperti sedang berfikir, lalu kemudian ia menunjuk-nunjuk cemilannya yang terjatuh itu. Mungkin menyuruhku untuk mengambil cemilan itu lagi. Haha, lucu sekali. Lagi-lagi, aku pun membiarkan Syifa berjalan mengelilingi taman café kami yang memang kecil, hingga ia terduduk di lantai dan tersandar ke pintu café. Ia kelelahan. Aku mengikuti Syifa yang duduk di lantai dan kelelahan, tapi begitu ia kugoda dengan menutup muka dan membukanya lagi dengan seruan, ‘ba!’ Ia masih sanggup terkikik-kikik.

Sekarang, ia sibuk dengan cemilannya lagi. Menyenangkan sekali menatap wajah polos dan murah senyumnya, meski seharian mengeluarkan keringat untuk menjaga Syifa, tapi aku tak sedikit pun merasa lelah dan bosan yang ada hanyalah perasaan damai, nyaman dan menyenangkan. Rasanya demi mempertahankan wajah polos dan senyum yang bukan main manisnya itu agar tetap berada dalam jarak pandangku, aku mampu melakukan apa saja. Mengarungi samudra? Melintasi benua? Terjun bersama air terjun Niagara? Atau mendaki gunung Everest? Boleh saja, jika memang aku memiliki sembilan nyawa.

Sehari bersama Syifa sungguh sangat menyenangkan, kebersamaan kami terasa sangat indah, rasanya seperti terbang bebas bersama burung rajawali, berada di puncak gunung paling tinggi, dikelilingi jutaan bunga warna-warni, dan disuapi bunda makanan terenak dan wangi. Oke, aku lebay!

Yang pasti, entah kenapa mendadak aku sangat ingin punya anak seperti Syifa. Aku tentu saja akan menjadi seorang ayah yang baik, bukan? Dan, apakah itu artinya aku harus menikah secepatnya agar aku bisa memiliki gadis kecil seperti Syifa?

 

Rumi Mia POV

Bunda mengamati Alif yang sedang terkikik bersama Syifa di taman yang letaknya berada di samping café. Menatap pemandangan itu, bunda malah berkaca-kaca, terharu mengharu biru dan diam-diam berharap pemandangan itu adalah nyata. Pemandangan dimana putra dan cucunya sedang tertawa-tawa bahagia. Bunda pun menghirup nafas dengan berat dan berdoa di dalam hatinya, ‘Tuhan Yang Kuasa membolak-balikkan hati setiap manusia, lunakkanlah hati putra hambaMu ini. Egois sekali jika hamba memaksakan kehendak hamba padanya. Engkaulah yang Maha Kuasa Ya Allah…’ Do’a yang selalu bunda ulang-ulang di setiap sujudnya.

 

****

Disaat-saat terakhir konser Asia Tour 3 Teipei Garuda Boys, Alif benar-benar tak bisa berkonsentrasi lagi. Semua member menyadarinya dan tahu betul apa penyebabnya. Akhirnya, sang leader, Indra menghentikan rangkaian jadwal perform mereka sejenak. Berbicara kepada ribuan GFF yang hadir untuk memberitahukan baru saja di terima kabar bahwa ibu dari salah seorang member mereka jatuh sakit dan sedang di rawat di rumah sakit. GFF terlihat shock dan ikut bersedih ketika mendengar kabar itu, terutama Alifers, fans Alif, mereka meneriakkan kata-kata penenang agar Alif jangan terlalu bersedih dan khawatir, mereka juga mendo’akan agar bunda Alif baik-baik saja. Alif yang mendengar itu, semakin berkaca-kaca dan terharu. Perasaannya yang tadinya sedikit kalut sekarang lumayan tenang ketika mengetahui begitu banyak yang mendukung dan mendo’akan kesehatan ibunya. Alif mengucapkan terimakasih sebelum akhirnya Alif pamit dan diizinkan pergi meninggalkan panggung untuk menemui ibunya dirumah sakit. Member lain berjanji akan menyusul Alif setelah menyelesaikan konser mereka.

Alif berlari menuju mobilnya, dan benar-benar tak tenang ketika menunggu jadwal keberangkatan pesawatnya di bandara, untung saja masih ada jadwal keberangkatan terakhir untuk malam ini. Alif pun masih tak henti-hetinya berlari ketika telah sampai di depan seorang perawat yang ia tanyai menuju kamar bundanya. Ia sangat khawatir dan cemas bukan main, rasanya tak ada yang dapat membendung kekhawatirannya saat ini. Hatinya terus saja menjeritkan do’a-do’a agar Tuhan menjaga sang bunda tercinta. Kakinya terasa tak menapak bumi. Jantungnya terasa tak lagi berfungsi karena untuk sesaat ia tak ingat bagaimana caranya untuk bernafas. Pandangannya mengabur dan hanya tertuju pada satu titik fokus; bayangan bunda yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit!

Meski telah sampai di depan pintu kamar rawat bunda, tangan Alif tak langsung mendorong pintu itu agar terbuka. Tangannya mendadak terasa berat untuk digerakkan. Dengan kekuatan yang tersisa, Alif berusaha membuka pintu itu. Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat membuat perasaannya tak kalah shock di banding saat ia mendapat telpon dari Ahda ketika berada di ruang ganti yang mengabarkan bundanya pingsan dan masuk rumah sakit.

Bayangan Alif meleset. Lalu, apakah kekhawatiran Alif semenjak ia berlari dari Teipei hingga sekarang ia berada di depan dua orang wanita yang tengah tertawa-tawa, dan seorang balita yang juga tengah terkikik-kikik menjadi sia-sia belaka?

Alif mematung mendapati pemandangan yang membuat ia bingung ini. Sementara dua orang wanita yang tengah menatapnya juga melakukan hal yang sama.

‘Alif? Sedang apa kau di sini, bukankah kau akan kembali besok?’ tanya bunda yang sedang duduk di tepi ranjang sambil menjuntaikan kakinya dengan santai, tidak terlihat tanda-tanda ia sedang sakit. Sementara wanita di depan bunda yang sedang duduk memeluk seorang gadis cilik juga memasang ekpresi yang menyiratkan pertanyaan yang sama.

Mendengar pertanyaan bundanya, bukannya menjawab Alif malah meneteskan air mata. Air mata lega karena mengetahui wanita yang sangat ia cintai ini baik-baik saja. Ia melangkah, awalnya pelan, semakin dekat ke bundanya Alif nyaris berlari dan menghambur kepelukan bunda.

‘Bunda, bunda tidak apa-apa? Bunda baik-baik saja ‘kan?’ Alif memeluk bunda dengan sangat erat, membiarkan air matanya membasahi bahu bunda yang memeluknya. Melihat itu, Zahra tersenyum dan berdiri dari duduknya, lalu membawa Syifa yang dari tadi berada dalam pangkuannya untuk duduk di bangku yang terletak tidak jauh dari pintu. Niatnya untuk keluar dan meninggalkan dua ibu dan anak itu entah kenapa ia urungkan begitu saja.

‘Hey! Bunda tidak apa-apa. Kau lihat ‘kan bunda baik-baik saja. Sudah…sudah, jangan cengeng seperti ini,’ bunda mengusap-usap punggung Alif yang tengah terisak dipangkuannya. Alif melepaskan pelukannya dan menatap bunda untuk memastikan perkataan bunda.

‘Bunda tidak apa-apa, bunda hanya pingsan sebentar karena kelelahan saja. Siapa yang mengabarimu? Bunda sudah melarang semua orang agar kau tak diberitahu. Ahda yang memberitahumu? Lalu, bagaimana dengan konsermu?’

‘Aku sudah bilang berkali-kali, bunda tidak apa-apa saat bicara dengannya di telpon. Dia saja yang terlalu panik berlebihan,’ tiba-tiba Ahda sudah berada di depan pintu dan menutup pintu itu dibelakangnya. Kemudian ia melangkah menghampiri satu-satunya sofa di ruangan itu dan merebahkan dirinya di sana. Alif menatap Ahda dengan kesal, ia meraih bangku di belakangnya dan duduk sambil melingkarkan lengannya ke sekeliling pinggang bunda, lalu merebahkan kepalanya di paha bunda.

‘Bunda jangan pernah sakit lagi ya… Aku bisa gila kalau bunda sakit,’ ucap Alif pelan sambil menelengkan kepalanya ke paha bunda.

Bunda menoel kepala Alif dan berujar, ‘hus! Ucapan apa itu? Hanya orang yang tak punya Tuhan yang akan mengucapkan itu. Jika Dia berkehendak bunda sakit sekarang, meskipun kau berkata  tak mau, bunda akan tetap sakit. Sudah sebesar ini kenapa masih belum mengerti sih…’ bunda kesal dengan putranya yang tak kujung pintar juga (?)

‘Aku tahu bunda,’ Alif merengek. ‘Ya…Pokoknya sekarang aku maunya bunda tidak sakit…Aku akan melakukan apapun agar bunda tidak sakit, apapun permintaan bunda, apa pun yang bunda inginkan saat ini, walau sesulit apa pun pasti akan kukabulkan. Akan kukabulkan jika bunda mau berjanji menjaga kesehatan bunda dan tidak pernah sakit lagi. pokonya semuanya akan kulakukan. Disuruh menikah pun aku pasti mau, pokoknya semuanya,’ ucap Alif sambil menumpukan pipinya ke paha sebelah kiri bundanya.

‘Benarkah? Kau ini ada-ada saja,’ Bunda mengelus-elus rabut Alif yang modelnya memang sedang trend dan banyak ditiru oleh pemuda-pemuda zaman sekarang.

‘Aku tidak bercanda bunda, aku serius,’ rengek Alif sambil mendongak dan menatap bundanya untuk meyakinkan bundanya bahwa ia tidak sedang main-main. Ia ingin bundanya baik-baik saja dan ia akan melakukan apa pun agar bunda baik-baik saja. Sudah cukup ia selama ini bermain-main, ia ingin membahagiakan bundanya. Bunda tak boleh terlalu lelah, tak boleh terlalu banyak berfikir, bunda harus hidup bahagia, damai dan selalu merasakan ketenangan dalam hidupnya. Bukankah banyak penyakit di dunia ini yang salah satu penyebabnya adalah karena tidak adanya ketenangan hati, kedamaian dan kebahagiaan?

‘Bunda tahu…kau serius. Jadi, benar kau akan menuruti keinginan bunda? Kau mau jika bunda minta kau menikah secepatnya?’ entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul ide gila dipikiran bunda untuk memanfaatkan situasi ini.

‘Hmm…baiklah, tapi siapa yang mau menikah denganku? Apalagi secepatnya pula,’ ujar Alif sambil memeluk lutut bunda dan menumpukan lagi pipinya di paha bunda. Bunda dapat menangkap sedikit keraguan dalam ucapan Alif, tapi bunda mengabaikannya, bunda tidak akan menyia-nyiakan sekecil apa pun peluang yang ada didepan matanya. Ahda yang tadinya berbaring di sofa membelakangi bunda dan sang abang memutar tubuhnya agar dapat menyaksikan seperti apa wajah abangnya saat ini. Zahra yang duduk di dekat pintu dan tadinya sedang sibuk memegangi cemilan yang sedang diemut Syifa ikut mendongakkan kepalanya untuk melirik dua ibu dan anak itu.

‘Siapa?’ Bunda mengulang pertanyaan Alif. ‘Kau ini bicara apa anakku sayang, tentu saja Zahra,’ ujar bunda lagi. Tersirat kekagetan di wajah Zahra, Ahda tersenyum melirik abangnya yang masih menyembunyikan wajah, kemudian berpindah melirik Zahra.

‘Tidak mau!’ tolak Alif kasar yang membuat bunda kaget. ‘Aku tidak mau, dia ‘kan pacarnya si Rangga bodoh itu. Untuk apa aku menikah dengan pacar orang!’ sakartis Alif yang membuat bunda menoel kepalanya dengan kesal. Alif tahu Zahra mendengarkan ucapannya, peduli amat.

‘Ihh! Jangan bicara sembarangan! Kau harus punya bukti yang konkrit untuk menuduh orang!’

‘Bunda tanya sendiri pada orangnya, dia ‘kan sangat mengidolakan si ikan teri itu,’ Alif menggerakkan kepalanya untuk mencari posisi yang enak di paha bunda. Ia dapat melihat gambar beruang di celana piyama yang dipakai bunda. Alif mengores-goreskan kukunya ke gambar beruang yang tepat di depan matanya itu, terasa keras karena tulang lutut bundanyalah yang sedang ia towel-towel.

‘Anak bodoh! Zahra memang mengidolakan Rangga. Rangga itu, pemuda yang berada pada urutan kedua yang diidolakan Zahra di Garuda Boys, Rangga juga menyukai Zahra bahkan sangat menyukai Zahra sampai pemuda itu pernah melamar Zahra, tapi ditolak oleh Zahra,’ Bunda dapat merasakan tubuh Alif mematung, mungkin karena kaget kalau ternyata Rangga sangat menyukai Zahra dan bahkan sampai melamar dan ia tak tahu semua itu.

‘Kenapa? Rangga tak menceritakannya padamu?’ Bunda dapat merasakan keterkejutan putranya karena Alif selama ini merasa mungkin mereka semua, member Garuda Boys sudah terlalu dekat sehingga tak ada rahasia apa pun di antara mereka. Tapi, kenapa Alif tak tahu kalau Rangga sudah melamar Zahra?

Mendengar Alif tak menjawab pertanyaanya, bunda pun melanjutkan, ‘kau tak ingin tahu siapa member Garuda Boys yang berada pada urutan nomor satu yang paling diidolakan Zahra?’ tanya bunda dengan nada menggoda.

‘Bunda…’ sebuah rengekan dari arah pintu membuat bunda kembali ingat bahwa mereka tak hanya berdua saja di kamar rawat rumah sakit ini. Bunda melirk sekilas ke arah suara, ia sempat melihat ekspresi Zahra yang memohon dan menggeleng-gelengkan kepalanya agar bunda tak melanjutkan ucapannya. Tapi, kali ini bunda memilih untuk mengabaikan apa pun dan kembali memusatkan perhatiannya kepala Alif yang masih menyembunyikan wajahnya.

‘Dan, kau tak ingin tahu siapa pemuda yang menyebabkan Zahra menolak lamaran Rangga, pemuda paling keren di Garuda Boys itu?’

‘Bundaaa…’Zahra benar-benar merajuk sekarang, ia sampai berdiri dari duduknya, ia tak mempedulikan Syifa yang memegangi jilbabnya dengan tangan yang belepotan coklat.

‘Pemuda itu adalah kau anakku,’ Zahra mengernyit dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar rawat inap itu.

‘Zahra sangat mengidolakanmu, dan Rangga tahu Zahra sangat mencintaimu, tapi dia masih nekat melamar Zahra karena kau selalu menolak Zahra,’ Bunda hening sejenak untuk meraba-raba apa yang tengah dirasakan putranya karena Alif hanya diam saja. Kemudian bunda dapat merasakan pipi Alif bergerak di pahanya, seperti pipi yang mengembung karena membentuk sebuah senyuman.

‘Kau memang bodoh bang, semua orang juga tahu kalau Zahra menyukaimu. Sangat, sangat menyukaimu. Kau saja yang tidak tahu. Kau harus menikahinya, jika tidak, dia akan menikah dengan bang Rangga. Jika dia menikah dengan bang Rangga, dia tidak akan bisa menjaga bunda seperti tadi. Kau tahu ‘kan, kita semua sibuk, sebelum ada kak Zahra bunda sering ditinggal sendiri. Kau sibuk dengan Asia Tour-mu, ayah sibuk dengan perusahaannya, dan aku sibuk dengan café, untung saja ada kak Zahra yang mau menjaga bunda meskipun dia juga punya kesibukan, pokoknya aku tak mau punya kakak ipar selain kak Zahra. Kau mengerti?’ titah Ahda panjang lebar layaknya ombak yang akan menerjang batu karang tanpa ada yang bisa menghalangi.

Alif mengangkat kepalanya, dan menatap Ahda tajam. ‘Bodoh katamu? Kau yang bodoh! Kau saja yang menikah dengannya, bodoh! Mana ada gadis yang mau dinikahi karena alasan agar ada yang menjaga bunda? Kalau hanya untuk menjaga bunda, kau cari saja pembantu. Kau pikir gadis mana yang mau menikah dengan pemuda yang akan menjadikan dirinya pembantu dan disuruh menjaga ibunya!?’ ujar Alif kesal dengan wajah datar andalannya.

‘Jadi, kau tak mau menikah dengannya?’ Ahda bangkit dari berbaringnya dan menatap Alif dengan penuh emosi, tidak habis pikir dengan abang satu-satunya ini. ‘Baik! Kalau itu maumu. Aku akan menikahinya sekarang juga!’Ahda tak kalah membentak.

‘Sssst! Kenapa kalian jadi bertengkar? Ahda, sudah sana! Lanjutkan lagi tidurmu! Jangan ganggu abangmu. Dia tentu punya pemikiran sendiri untuk memandang segala sesuatunya,’ ujar bunda bijak. Ahda kesal karena bunda malah membela Alif, tapi ia tetap menuruti perintah bundanya, kembali berbaring di sofa membelakangi Alif dan bunda.

‘Jangan berfikir yang tidak-tidak lagi. Zahra adalah gadis yang mencintaimu apa adanya. Dia mencintai apa yang kau cintai. Dia menerima dan mencintai orang-orang yang kau cintai dan juga sangat mencintai keluargamu. Apa lagi yang kau tunggu?’ bunda memiringkan kepalanya demi menatap wajah Alif sambil mengusap-usap kepala putranya itu.

Alif mengangguk. ‘Baiklah bunda, terserah bunda saja,’ ujar Alif kemudian.

 

 

THE END

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s