Not Human’s Heart [part 2]

Main Cast: Kim Hyo Jin, Cho Kyu Hyun, Kim Soo Hyun dan Super Junior.

Genre: Romance (?), Frienship.

Rating: All Age

Author: Rahmi SarangheSUJU

Anyong, FF gaje ini sudah pernah dipublis diSJFF2010. Silahkan membaca bagi yang ingin membaca (hm?).

*****

‘ohh!! Oppa!’ Hyo Jin tidak sedikit pun berupaya menyembunyikan keterkajutan  dari wajahnya ditengah-tengah ramainya antrian pengunjung café yang hendak makan siang. Seketika keterkejutan itu berganti senyum yang sangat sumringah, meski pria yang baru saja ia panggil Oppa tetap bertahan dengan raut wajah datarnya. Tanpa senyum pun, wajah itu tetap saja enak di pandang, berkulit putih, tampan, dan menunjukkan karismatik seorang kaum intelek. Dengan wajah seperti itu tidak ada seorang pun yang akan menduga bahwa ada kegelapan yang sesungguhnya tengah menaungi sang pria. Gelap, tak ada sedikit pun celah untuk seberkas cahaya.

‘Oppa…tumben sekali ke sini, ada apa?’ tanya Hyojin dengan ke-antusiasan yang tanpa ditutup-tutupi (?)

‘Rendang (ha?), kimci dan dan jeruk dingin,’ujar pelan pria tampan dengan postur jangkung seorang model di depan hyo jin itu. Lagi-lagi wajah tampan itu bergaris datar, hanya saja sekarang dibubuhi ekspresi muak yang sangat kentara.

‘Hahaha…’tawa lemah Hyo jin, ‘araseo,’tambahnya kemudian yang diperlengkap dengan senyum yang selalu terkembang.

****

Setelah menyelesaikan pekerjaan, Hyo Jin digantikan oleh rekan kerjanya untuk mengambil jatah waktu istirhat yang telah disediakan.

‘Aku rasa kau sudah mengerti apa yang akan terjadi jika kau…lagi-lagi kutemukan,’lebih kepada berbisik, pemuda bermuka datar plus muak tadi menyambut Hyo jin yang baru saja bergabung di meja makannya.

‘Ish…Oppa jangan rusak suasana makan siang yang damai ini. Kita makan dulu ya, nanti saja bicaranya. Lihat itu, makananmu separo saja belum dihabiskan Oppa…’Hyo jin masih saja tersenyum sambil mengunyah makanannya. Ia pun terkekeh kemudian, begitu mengetahui pemuda tampan di depannya ini menurut begitu saja, makan dalam diam.

‘Kita lihat saja sampai kapan kau bisa menertawai ini semua,’ celetuk pemuda tampan itu kemudian setelah terdiam beberapa saat dengan nada bicara yang sama dengan nada bicara seseorang ketika memuji makanan tapi dengan nada acuh tak acuh. ‘Ini enak,’ mungkin seperti itu. Pemuda  itu pun menyelesaikan suapan terakhirnya.

‘Yaa Oppa…bukankah kau sudah kenal betul siapa diriku? Di dunia ini tidak ada lagi yang kumiliki selain tawa ini..dan lagi… bukankah sudah pernah kubilang apa pun akan kulakukan jika itu memang bisa mengembalikan semuanya, bahkan tawa ini, harta terakhirku ini akan kuberikan. Kenapa kau menuduhku menertawakanmu…ishh…Oppa ini,’Hyojin meleletkan bibir bawahnya, lalu menyuap makanannya lagi.

‘Lagi pula hanya orang gila yang mau menganggap hidup kita yang gila ini hanyalah sebuah lelucon,’ sambung Hyo Jin.

‘Baguslah kalau kau mengerti,’ucap pemuda itu malas-malasan sambil mengelap permukaan bibirnya dengan serbet, seolah-olah ia muak untuk mengucapkan satu patah kata pun saat ini. Dan dengan ekspresi yang sama ia memundurkan kursi yang baru saja ia duduki dan berdiri kemudian…memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan melangkah pergi dengan karisma penuh pesona yang tak terbantahkan.

‘Oppa,’ panggil Hyo jin sebelum pemuda itu menghilang dibalik pintu café. ‘Kyuhyun Oppa!’ Hyo Jin bergegas menyusul si pemuda dan meninggalkan makanan yg belum ia habiskan. Dengan langkah cepat seakan lupa dengan perutnya yang membesar, Hyojin mensejajarkan langkahnya dengan pemuda bernama Kyuhyun itu.

‘Oppa, selamat ya…kau akhirnya lolos audisi dan bergabung dengan Super Junior, sejak awal aku sudah yakin kau akan berhasil. Oppa luar biasa hebat, Oppa Fighting!!’ setelah kyuhyun tak terlihat lagi, Hyo jin pun berbalik dan kembali memasuki Café.

 

******

‘Yaaa…kenapa mendadak begini? setidaknya kau beritahu jauh-jauh hari,’ pemilik Café tidak terima begitu saja pengajuan pengunduran diri Hyo jin yang begitu tiba-tiba. Dan lagi, Hyo jin belum genap satu bulan bekerja, bukankah aneh jika ia mendadak mengundurkan diri sementara bila ditilik perjuangannya yang gigih ketika menghendaki pekerjaan ini, sudah sewajarnya orang-orang beranggapan ia tidak akan mengundurkan diri begitu cepat.

‘Apa alasanmu mengundurkan diri?’

Alasan? Jawaban apa yang akan ia beri? Ia tak mempunyai alasan yang logis saat ini. hidupnya memang tak pernah logis. Selalu melewati ambang batas akal fikiran manusia. (labay ye)

Pemuda kaya raya, cerdas dan gila bisnis di depannya ini mungkin saja akan menertawainya jika tahu alasan Hyo Jin mengundurkan diri.

‘Aku tidak bisa terima pengunduran diri yang mendadak ini, kecuali jika kau memiliki alasan yang sangat kuat. Aku hanya akan memberimu dua pilihan Nona Hyo Jin, menjelaskan alasannya atau kembali bekerja.’

‘Baiklah sajangnim, begini…meskipun saya tidak mengajukan pengunduran diri, sebentar lagi saya mungkin akan dikeluarkan. Sebelumnya saya pernah bekerja di kedai ramen dan entah bagaimana caranya akhirnya saya dikeluarkan setelah dituduh mencuri. Sebagai buktinya mereka menemukan beberapa ramen mentah yang entah dengan cara apa sudah ada begitu saja di loker saya. Bukankah itu tidak masuk akal, Sajangnim? Apakah saya sebegitu miskinnya sampai-sampai untuk mendapatkan ramen pun saya harus mencuri. eh…Memang benar saya miskin…Sajangnim hehe,‘ Hyo Jin menundukkan kepalanya lemah, lalu menegakkannya kembali dengan gerakan yang cepat. ‘Tapi, tidak akan sampai seperti itu Sajangnim,’ sambung Hyo Jin lagi. Sajangnim mengangguk-angguk mengerti. ‘Berikutnya saya bekerja di sebuah restoran sebagai pencuci piring, entah kenapa setiap piring yang saya cuci akan kotor kembali, otomatis pemilik restoran memecat saya karena dia mengira saya tidak becus dalam bekerja. Lalu, kemudian saya bekerja di supermarket, mereka juga memecat saya dengan modus yang sama, dituduh mencuri. Nah sekarang apa lagi yang akan terjadi pada saya, satu hal yang pasti, Sajangnim pasti akan memecat saya.’

Sang sajangnim mengangguk-angguk lagi dibalik meja kerja dan di atas kursi kebesarannya. Ia menatap wanita hamil berseragam kerja hitam lengkap dengan topi merah yang bertengger di kepalanya-dengan intens. Sajangnim berusaha mencari kebohongan di balik ucapan Hyo Jin, tapi ia tahu ia tak akan menemukan itu. Ia mengenal wanita ini. Anak seorang mantan jaksa yang hidupnya sedang terlunta-lunta.

Diperhatikan seperti itu dan dengan suasana hening untuk beberapa saat membuat Hyo Jin akhirnya berkesimpulan pemuda di depannya ini mengira kalau dirinya sedang mengarang cerita, mungkin sebentar lagi ia akan ditertawai. Ya tertawai saja, hidupnya memang seperti opera van java.

‘Sajangnim tidak percaya pada saya?’ Hyo Jin pun berkata kemudian, mendengar itu, sajangnim akhirnya marik nafas berat yang terdengar sangat jelas, ia mundur kebelakang menyandarkan punggungnya kesandaran kursi dengan masih menatap lekat Hyo Jin.

‘Kenapa tidak membela diri kalau kau memang tidak bersalah?’siapa sangka sajangnim akhirnya malah bersimpati membuat Hyo Jin terkaget-kaget.

‘ne?’ ucapnya tidak menyangka…

‘oh…saya tentu saja membela diri sebisa saya sajangnim…tapi saya tetap saja dipecat. dan akhirnya saya menyadari satu hal…saya memang lebih baik tak usah saja membela diri…hehe,’ ujar Hyo Jin dengan imbuhan akhir sebuah kekehan…

‘Kenapa begitu? aku benci orang yang pesimis…’ Sajangnim meletakkan tangannya di atas meja dan mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di sana.

‘Haha…bukan pesimis Sajangnim, saya hanya berusaha menerima kenyataan,’ Akhirnya tawa renyah Hyo Jin berhasil mengubah suasana kaku menjadi cair, seolah-olah pembicaraan ini bukan lagi pembicaraan antara bos dan bawahannya tapi pembicaraan antara dua orang yang berteman. Tentu saja karena Hyo Jin tidak mengetahui bahwa sang sajangnim menaruh minat yang besar untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya gadis ini hidup.

‘Kenyataan?’ mulai sajangnim yang sedikit lagi akan mengantarkan dirinya pada ranah pribadi kehidupan Hyo Jin.

‘Ceritanya dimulai dari ayah saya, sajangnim. Sewaktu masih hidup beliau melakukan kesalahan yang tidak terampuni. Kesalahan yang bahkan dosanya takkan terhapuskan sampai tujuh turunan. Hehe mungkin ini terdengar berlebihan dan sedikit tidak masuk akal, tapi memang begitulah kenyataannya sajangnim. Sajangnim pasti masih ingat dengan berita mengenai ketua badan pemberantasan korupsi yang dituduh menjadi dalang dari sebuah pembunuhan, tapi akhirnya setelah sang ketua tewas dalam sebuah kecelakaan ketika hendak dipindahkan ke rumah tahananan, tuduhan ini terbukti tidak benar. Bukti-bukti yang semula memang lemah akhirnya tidak ada satu pun yang dapat memberatkan tertuduh dan akhirnya terkuaklah kasus suap seorang jaksa yang sebelumnya menangani kasus sang ketua. Jadi, kesimpulannya sang jaksa telah menuduh dan menjebloskan sang ketua pemberantasan korupsi ke penjara bukan atas dasar kebenaran tapi ada uang yang bermain di sana. Dan sang jaksa itu adalah ayah saya. Saya adalah anak yang menghebohkan seluruh jagat tanah air ini beberapa bulan yang lalu dengan video mesum. Saya tidak menyalahkan siapa pun yang menghujat saya karena vidio itu, maupun hujatan kepada saya sebagai seorang anak dari seorang jaksa yang korup. Dan setelah ayah saya meninggal karena serangan jantung, Ibu saya masuk rumah sakit jiwa karena masalah-masalah yang datang tidak henti-hentinya. Hidup saya sudah seperti sinetron, sajangnim. Sinetron yang mendapat rating tinggi karena berkisah tentang seorang tokoh utama yang selalu dirundung nestapa…hehe,’ cerita Hyo Jin panjang lebar, ia pun terkekeh seolah-olah menertawai hidupnya sendiri. ‘Tapi, bagi saya itu semua belum seberapa, tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh seseorang di luar sana. Seorang anak manusia yang menjadi korban akibat kesalahan ayah saya. Sang Ibu  meninggal lebih dulu sebelum tewasnya sang ayah.  Setelah sakit dan dirawat dirumah sakit beberapa hari semenjak tertuduhnya suami tercinta sebagai dalang pembunuhan, Ibu dari pemuda itu pun akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit. Kami, aku dan putra dari ketua badan pemberantas korupsi itu awalnya adalah teman karena kedua orang tua kami juga beteman, tapi ayah saya malah menodai persahabatan itu dengan penghianatannya. Dan persahabatan itu pun akhirnya berubah menjadi permusuhan. Saya akan menanggung semua dosa yang telah dilakukan oleh ayah saya. Saya selalu berfikir bagaimana caranya agar saya dapat mengembalikan kebahagian yang telah kami rampas. Apa pun akan saya lakukan untuk itu.’Tidak ada sedikitpun keraguan dalam ucapan Hyo Jin, seolah-olah ia sedang  coba mengatakan kepada dunia bahwa itulah tujuan hidupnya.

‘Jadi maksudmu kau lebih baik mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum ‘tangan’ itu mendepakmu keluar?’ Tau-tau Sajangnim sudah berada di samping Hyo Jin menyandarkan tubuhnya dipinggiran meja dan melipat tangannya di dada sambil mengamati Hyo Jin yang dari tadi bercerita panjang lebar di depannya.

‘Setelah sekian panjangnya uraian tentang hidupmu itu, akhirnya hanya menghasilkan satu hal?’ Sajangnim berusaha ber-retoris yang dijawab Hyo Jin dengan ekspresi bingungnya. ‘Bukakah menyerah sebelum berperang itu merupakan tindakan seorang pesimis? yaaa….Hyo Jin-sii,’ ujar Sajangnim lemah sambil memunggungi Hyo jin, mengitari meja dan kembli duduk di kursi kebesarannya.

‘Kau lupa bahwa ada tangan lain dengan kuasa yang tak terbantahkan di atas sana…? Aku kira seringkali diterpa seperti itu akan merubah seseorang menjadi emas yang cantik. Ternyata kau hanyalah seorang gadis yang lemah dan pesimis.’

‘Ne?’ Hyo Jin malah semakin bingung di todong dengan pertanyaan retoris itu. Apa lagi datangnya dari Sajangnim. Sajangnim yang baru beberapa hari ini ia kenal, yang terkesan tidak peduli dengan siapa pun. ‘A…aku..’ sambungnya kemudian.

‘Ya sudah…kau akan tetap bekerja di sini, kita akan hadapi bersama aku penasaran apa yang akan di lakukan pemuda itu berikutnya.’

 

TBC

Gaje kan? yah..begitulah…

5 thoughts on “Not Human’s Heart [part 2]

  1. oh my god..
    Sedih, pilu n tragis bgt…
    Tapi aku salut sm Hyojin, dia bisa menanggapi semua masalah yg dia hadapi dgn optimis..
    Apa yg b’buat smua itu Kyu??
    Masih ttp bingung!!

    Jia Jung

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s