Please, Hold On [part 3]

Author              : Arsvio

Main Cast         : Lee Donghae (Aiden Lee), Han Cheonsa (Angelle Han)

Support Cast    : Super Junior, Daniel Han, Kevin Han, Adelynn Lee.

Rating               : PG-15

Length              : Sequel

Note                 : Cerita ini merupakan sidestory dari ff-ku terdahulu ‘Trapped in Love with Game’. But, it’s Ok if you guys didn’t read that ff before. Kalian akan tetap mengerti jalannya cerita sebab memang berbeda tokoh utama. If you love this ff, please visit me at http://www.purpleonact.wordpress.com.

 

Donghae membalik badannya, siap melangkah pergi. Dia tak ingin terlibat sesuatu yang di luar jangkauannya. Sudah cukup dia mengetahuinya saja. Selangkah, dua langkah, tiga langkah dan terhenti. Tangannya terkepal sempurna di samping tubuhnya. Dari tempatnya berdiri, dapat didengar isakan tertahan gadis itu. Dipejamkan matanya, mencoba mengusir bayangan lemah seorang Han Cheonsa. “Tidak bisa,” desisnya sembari mengeleng-geleng pelan. Secara perlahan, diputar tubuhnya kemudian melangkah berlawanan dengan semula.

Tangan kiri Cheonsa menopang badannya yang setengah membungkuk, sedangkan tangan kanannya masih membekap mulutnya sendiri untuk menahan isakan. Dadanya terlalu sesak untuk dapat berdiri tegak. Kenyataan memukulnya sedemikian rupa.

Donghae melihat pemandangan di depannya dengan miris. Wanita yang selalu terlihat tegar di hadapannya, kini memperlihatkan sisi lainnya. Dan dia tidak menyukainya. Rasanya ada ribuan semut yang tiba-tiba menggerogoti jantungnya. Diulurkan tangannya dengan pasti, membantu Cheonsa untuk berdiri tegak. Dibimbingnya tubuh mungil itu masuk dalam dekapannya.

Tak perlu lama bagi Cheonsa untuk mengenali siapa yang memberikan pelukan tersebut. Didongakkan kepalanya hingga mata merahnya bertemu dengan pandangan teduh itu. “Hae-ya,” rintihnya.

Senyum getir terulas di bibir tipis Donghae. Dengan sebelah tangannya, dia membesut air mata yang terus menuruni pipi Cheonsa. “Uljima, Cheonsa-ya,” kembali dieratkan pelukannya dan membenamkan wajah gadisnya di dada bidangnya. “Uljima, Cheonsa-ya,” ulangnya kembali dengan membelai punggung gadis tersebut.

Tak ada yang bisa dilakukan Cheonsa selain menerima pelukan tersebut. Walaupun sebenarnya kakinya ingin berlari dan menyembunyikan sisi lemahnya dari siapa pun, tapi ada daya. Semakin dibenamkan wajahnya di dada tunangannya. Meluapkan segala kekecewaan pada makan malamnya dengan sang ayah dan beban keadaan ibunya.

_LDH_

“Jadi mereka memilih mengatur pernikahan itu sendiri?”.

Tuan Han merapatkan duduknya pada tubuh Jung. Menyandarkan kepalanya pada pundak Jung. “Ya, seperti yang kau dengar tadi,” ucapnya sembari memejamkan mata. Mengistirahatkan sejenak letih tubuhnya.

“Menurutmu, mereka mampu mempersiapkan dengan baik?”.

“Yah, kurasa. Karena pernikahan ini hanya akan dilangsungkan secara sangat sederhana,”.

Jung menyunggingkan bibirnya, tersenyum melecehkan. “Seorang anggota keluarga Han bersedia melangsungkan pesta sederhana? Sungguh ironis,” sindirnya.

“Bukan karena itu, tapi karena status Lee Donghae,” bela Tuan Han dengan memejamkan matanya.

Jung menolehkan kepalanya kilat ke arah lelaki di sebelahnya. “Kenapa, anak itu memilih seorang superstar menjadi suaminya, sih? Bukankah akan menambah rumit suasana jika netizen sampai mengetahuinya?” sebal Jung.

Tuan Han hanya terkekeh ringan. “Kurasa sebuah rasa obsesi fans pada idolanya,”.

“Cih, merepotkan. Persis seperti Oemmanya. Like daughter like mother,”.

“Sudahlah Jungie, bisakah tak membahas tentang itu, hm?”

Jung hanya mengangkat tangannya ke udara. “Mengelak lagi? Kenapa? Masih memikirkan wanita sial itu?”.

Tuan Han serta merta bangun dari bersandarnya. Memandang Jung dengan rasa lelah. “Bagaimana pun, wanita yang kau sebut sial itu masih istriku dan Cheonsa adalah darah dagingku,”.

Jung mencibir meremehkan. “Benar-benar sebuah keluarga,” dia berdiri dari duduknya dan segera beranjak. Telinganya akan pengang jika terus mendengar pembelaan Tuan Han.

“Jungie,” panggilan Tuan Han yang tak digubris wanita tersebut.

_LDH_

[The next morning, @Seoul]

Donghae melajukan mobilnya pelan ketika memasuki halaman rumah megah, kediaman keluarga Han. Diberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah tersebut. Dia memijit tengkuknya pelan kemudian mengecek arlojinya. Pukul sembilan, pantas saja dirinya amat lelah setelah memaksakan diri menempuh 4 jam perjalanan demi kembali ke Seoul.

Ditolehkan kepalanya ke samping dan mendapati Cheonsa yang tertidur. Tangannya sudah terulur dan menyentuh bahu Cheonsa untuk membangunkannya. Namun, diurungkan niatnya untuk mengguncang bahu gadis itu setelah melihat lingkar hitam di bawah mata Cheonsa. Tangannya beralih untuk menyingkap rambut Cheonsa yang jatuh berantakan di wajah cantik itu.

Donghae membuka pintu mobilnya dan berjalan cepat menuju pintu. Memencet bel dan memastikan bahwa salah satu pelayan keluarga Han membukakannya. Dia menganggukkan kepala saat kepala pelayan Kang menyapanya hormat. Segera setelahnya, Donghae berbalik kembali ke mobilnya. Kemudian, membopong gadisnya yang masih terlelap dalam tidur.

“Biar kami bantu, Tuan Lee,” ucap pelayan Kang yang telah mengisyaratkan dengan jemarinya agar beberapa pelayan mendekat.

“Tidak perlu. Tolong tunjukkan kamarnya saja,” tolak Donghae dengan pelan, takut kalau-kalau suaranya mengganggu tidur Cheonsa.

Seorang pelayan wanita memandu Donghae menuju kamar Cheonsa di lantai dua. Membukakan pintu kamar nona mudanya dan menyilakan Donghae masuk. Pelayan tersebut tetap berdiri di pintu kamar nonanya, berjaga jika saja tunangan nonanya memerlukan sesuatu.

Direbahkan tubuh lelah Cheonsa di ranjang dengan hati-hati. Donghae menarik selimut yang terlipat rapi di atas ranjang untuk menutupi tubuh Cheonsa hingga dada. “Agashi, bisakah kau mengambilkan salep obat luar?” ucap Donghae yang menoleh pada pelayan tadi.

Pelayan yang dimaksud segera beranjak memenuhi permintaan tanpa banyak tanya. Tak sampai lima menit, dia telah kembali dan memberikan obat yang Donghae minta.

Dengan lembut, Donghae mengoleskan salep tersebut di pipi Chonsa yang tergores. Memastikan luka tersebut terobati agar tak meninggalkan bekas. Dan tak jenuh, dia merapikan anak-anak rambut dokter muda tersebut ,yang menurutnya, mengganggu pemandangan akan wajah Cheonsa.

Donghae masih betah duduk di pinggir ranjang gadis itu sembari menatapi wajah letih Cheonsa. Dia menarik napas panjang saat sadar dirinya sudah terlalu lama terpaku. “Sekarang, apa yang harus kulakukan, Cheonsa-ya?” lirihnya.

_LDH_

Daniel melangkahkan kakinya menuju ruangan Presdir untuk membicarakan masalah proyek pembangunan kantor utama yang baru. Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu, namun tiba-tiba dirurungkan karena mendengar suara tak wajar. Diputarnya kenop pintu dengan perlahan untuk meminimalisir bunyi.

Kepalanya sedikit menyembul untuk mengintip keadaan dalam ruangan Presdirnya. Pandangannya menatap tajam dua orang yang tengah dimabuk asmara di sana. Muak. Daniel menarik kepalanya lagi dan menutup pintu itu kembali.

Dia berjalan dengan wajah datarnya. Selalu saja tanpa ekspresi. Seolah apa yang dilihatnya baru saja adalah sebuah hal biasa. Mungkin saja rasanya telah mati saat menonton adegan menjijikan yang diperankan Presdir kebanggaan Hansang Finance yang tak lain ayahnya sendiri.

_LDH_

“Apakah kau mengalami kesulitan, Cheonsa-ssi,” ucap seorang wanita paruh baya yang memakai jas putih seperti milik Cheonsa.

“Sejauh ini, tidak, Dokter Ahn,” jawab Cheonsa.

“Siang ini ada operasi pembedahan pada kasus diseksi aorta. Aku ingin kau mendampingiku,”. Dokter Ahn menyalakan computed radiography untuk melihat hasil rontgen pasiennya yang menunjukkan robekkan di dinding aorta.

Cheonsa mengamati paparan rontgen tersebut dengan cermat. Juga mendengarkan penjelasan dokter ahli yang menjadi pembimbingnya saat ini. Kurang dari 4 semester lagi, dia akan memperoleh gelar spesialis bedahnya.

“Oh ya. Tolong cek up keadaan pasien Lee Seung Hyun sekarang, Cheonsa-ssi. Pastikan kondisinya stabil,”.

“Ne,” Cheonsa segera beranjak dan sedikit membungkukan badan untuk menghormati seniornya.

_LDH_

Donghae memainkan makan siangnya dengan sumpit. Mengaduk-aduk nasinya tanpa ada selera untuk menyantapnya. Tak diperhatikannya Eunhyuk yang sedari tadi mengamati tingkah lakunya.

“Kau ada masalah lagi, Hae-ya?”.

Donghae menegakkan kepalanya, lalu menaruh sumpitnya. “Satu-satunya masalahku akhir-akhir ini adalah dia,” rujuknya pada seseorang.

Eunhyuk mengelap bibirnya dengan tissue. Ikut meletakkan mangkuk dan sumpitnya di atas meja. “Wae?” nafsu makannya tergantikan rasa simpati pada rekannya. “Masih belum yakin dengan keputusanmu?” bingo, Eunhyuk dapat menebaknya.

“Bagaimana aku yakin dengan keputusanku, sedangkan aku sendiri meragukan apakah aku sudah memutuskan atau belum,”.

“Apa yang pada dirinya yang kau ragukan, Hae-ya?”.

Donghae menesah dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. “Kuakui bahwa aku mulai terbiasa dengan keberadaannya, tapi cukupkah seperti itu, Hyuk? Lalu apa bedanya dia denganmu bagiku?”.

“Dia cantik dan aku tampan,” sahut Eunhyuk asal yang kemudian mendapat tatapan membunuh Donghae. “Ok-ok. Orang bilang, mata adalah cermin hati. Pernahkah, kau melihat jauh dalam matanya? Ketulusannya untuk memilikimu?”.

Donghae memutar memorinya. Teringat kembali dengan mata cokelat tua milik Cheonsa. Tapi, yang terekam adalah saat terakhir dia melihat mata itu memerah memancarkan kepedihan. Hatinya juga pilu ketika menyaksikannya, tapi dia bimbang dengan perasaan itu. Apakah rasa itu hanya sebuah simpati dan rasa kasihan? Atau sesuatu yang lain. Donghae kemudian hanya menggeleng pelan sebagai jawaban pertanyaan Eunhyuk. “Aku tak tahu, Hyukie,”.

“Cobalah, Hae-ya. Kau pasti akan merasakan perbedaannya, jikalau dia orang yang dipilihkan Tuhan untukmu,”.

Donghae malah terkekeh hambar menanggapi ucapan Eunhyuk. “Sejak kapan kau menjadi agamis seperi Siwon?”. Dan gara-gara ucapannya, kini Donghae harus menahan sakit di keningnya yang terkena lemparan sumpit dari Eunhyuk.

_LDH_

“Kenapa akhir-akhir ini kau tak mengunjungiku?” protes seseorang.

Cheonsa hanya tersenyum sembari menempelkan stetoskop di dada orang tersebut. “Bukankah ada dokter lain yang sudah selalu mengecek keadaanmu?”.

“Tapi aku mau hanya kau yang memeriksaku,” sungutnya dengan wajah cemberut.

“Oh baiklah, pasienku yang tampan,” canda Cheonsa yang selalu bisa meluruhkan lelaki itu. “Hey, berapa kali kuingatkan kalau aku lebih tua darimu. Jadi bisakah kau menggunakan bahasa yang lebih sopan, Seungri-ya?”.

Lelaki yang dipanggil Seungri hanya melemparkan pandangannya ke arah lain. Memberangut lagi dengan memajukan bibirnya.

Cheonsa terkikik ringan. “Kau ini lelaki dewasa Seungri-ya. Kenapa masih suka mengambek seperti ini, huh?” Cheonsa melepas stetoskopnya dari telinga, kemudian membiarkannya menggantung di leher. “Keadaanmu stabil, Seungri-ya,” Cheonsa mengubah nada bicaranya menjadi serius.

“Berapa persen kemungkinannya, Noona?”. Keakraban yang terjalin antara keduanya selama hampir setahun belakangan menyebabkan Seungri memanggil Cheonsa dengan sebutan ‘Noona’ bukannya ‘Dokter’.

“Seungri-ya,” ada sesuatu yang rasanya menohok ulu hati Cheonsa saat mendengar pertanyaan itu. “Besar kecilnya persentase, semua hanya sebuah kalkulasi manusia. Dialah penggenggam hidup sebenarnya,”.

Seungri menolehkan pandangannya untuk menatap dokter favoritnya. Dia selalu tersenyum ketika sang dokter menyemangatinya. “Hum, tentu. Aku juga sudah meminta kepadaNya,”.

“Apa yang kau minta?” Cheonsa memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran.

“Agar dokter cantik ini mau menjadi yeojaku ketika aku sembuh nanti,” ucap Seungri dibarengi cengiran lebarnya.

“Yak,” Cheonsa sedikit menyentak. Namun akhirnya dia ikut terkekeh dengan kelakuan pasiennya tersebut.

_LDH_

Kevin menajamkan penglihatannya tatkala melihat siluet yang tak asing baginya. Terlintas di pikirannya nama seseorang yang amat dikenal. Rasa penasarannya bertambah karena yang dia tahu, orang tersebut bukan penggila dunia malam. Kaki Kevin melangkah mengikuti naluri.

Kevin merapatkan tubuhnya di dinding ruangan privasi club. Walaupun akan sia saja jika ingin mencuri dengar sebab ruangan itu kedap suara. Dan sepengetahuannya, hanya orang-orang kalangan atas yang menggunakannya. Belum sempat dia mengetahui lebih jauh tentang orang tadi, tubuh Kevin secara tiba-tiba ditarik oleh seorang yang dikenalnya sebagi rekan satu genknya.

Ketika melihat ke belakang, Kevin mulai menyadari keadaan. “Shit,” umpatnya. Mereka berlari dari kejaran beberapa orang. Dan mau tak mau, Kevin mengikuti langkah kawannya menuju belakang café.

Dan terjadilah keributan dan perkelahian sengit antara dua genk. Saling menyerang untuk mempertahankan diri. Meski sebenarnya, mereka bahkan tak tau alasan mengapa mereka beradu. Tapi jika kau tak memukul, maka kaulah yang akan dipukul. Perkelahian berlangsung cukup lama. Akan terhenti jika salah satu pihak yang merasa kalah memutuskan untuk mundur.

Di atas sana, Sebuah tangan lentik menyingkap gorden untuk memandang pertempuran antara anak muda yang terjadi di bawah. Senyum orang itu terulas puas. “Kau lihat, Eunri-ya. Dia tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tampan juga kuat,” monolognya. Setangkai lili putih yang merupakan bunga favoritnya tergenggam di tangan kiri.

_LDH_

Donghae yang baru masuk di dorm lantai 11, memandang heran hyungnya yang tergopoh-gopoh membawa nampan berisi sarapan. “Kyuhyun sakit lagi, Hyung?” tebaknya tepat sasaran ketika Sungmin akan memasuki kamar.

“Hm, tenggorokkannya meradang,” Sungmin menjawab dengan cepat dan segera berlalu.

Donghae ikut menyusul Sungmin, ingin memastikan keadaan dongsaengnya. Dia mengernyit heran dengan kekeraskepalaan magnaenya untuk hanya memakan bubur yang disiapkan Sungmin.

“Hae-ya, tolong telponkan dokter,” Sungmin menoleh pada Donghae yang berdiri mematung. Sendok yang dipegangnya menggantung di udara karena Kyuhyun menolak makan.

Donghae merogoh ponselnya, mencari nama dokter pribadi mereka, dan siap menekan ‘call’. Tapi, ibu jarinya tertahan. Dia berpikir sejenak. “Ah, tak perlu, Hyung. Biar kuantar saja dia ke rumah sakit. Kebetulan hari ini aku tak ada jadwal,”.

Kyuhyun membuka sedikit selimutnya yang tadi digunakan menutup semua wajahnya untuk menolak suapan Sungmin. “Shireo, Hyung. Panggilkan aku dokter saja,” serak Kyuhyun.

“Aniyo, Kyunnie. Kita akan pergi ke rumah sakit,”.

“Aku malas ke rumah sakit. Merepotkan, Hyung,” tolaknya lagi.

Donghae menarik selimut Kyuhyun hingga menuruni dada. “Tidak, aku akan mengantarkanmu, otte?” rayunya dengan nada membujuk.

Mata Kyuhyun melirik Donghae tajam, seakan mengetahui maksud tersembunyi hyungnya. “Kau mau menggunakanku untuk bertemu Cheonsa Noona ya?”.

“Aniyo,” Donghae tertawa terpaksa ketika kedoknya terbongkar.

“Kalau begitu telpon dokter saja,”.

“Ani, Kyunnie. Kita pergi ke rumah sakit saja,”

“Shireo,”

“Ah, kau mau Kyunnie. Ayo bergegas,” Donghae masih gencar menggoda Kyuhyun.

“Kubilang, SHI-,” sanggahan Kyuhyun yang meninggi terpotong karena sakit di tenggorokannya. “Haish~,”.

_LDH_

Dan akhirnya, disinilah mereka berdua berakhir. Di ruang tunggu pemeriksaan rumah sakit Seoul. Kyuhyun menekuk wajahnya dengan sebal, sedangkan Donghae tersenyum lebar di sampingnya.

“Hey, jangan sewot seperti itu?” Donghae menjawil lengan Kyuhyun. Dan Kyuhyun menanggapinya dengan membuang muka.

“Awas kau, Hyung,” desisnya pelan.

Donghae mengedarkan pandangannya. Mencari sosok yang dia tunggu. Sudah semenjak kemarin, dia tak pernah menghubungi gadis itu, pun juga sebaliknya. Dan ketika mendengar dongsaengnya sakit, maka kata pertama yang terlintas di otaknya adalah rumah sakit dilanjutkan dokter dan berakhir dengan nama indah gadisnya, Han Cheonsa.

Mata Donghae membesar saat ditangkapnya sosok dokter cantik yang berjalan dari ujung koridor. Jas putih, stetoskop di leher, dan dress formal yang dipakai gadis itu sungguh membuatnya bertambah memesona. Terkesan anggun dan penuh kharisma.

Cukup lama Donghae memerhatikan Cheonsa yang bolak-balik melalui koridor tersebut. Membuat dongsaeng di sampingnya benar-benar tenggelam dengan kekesalannya. “Sudah puas?” Kyuhyun menyentak lengan hyungnya tersebut.

Dan tanpa mereka sadari, seorang lelaki memerhatikan kelakuan mereka semenjak sepuluh menit lalu. Lelaki dengan kursi roda dan selang infuse yang tergantung. “Kalian ke sini hanya untuk memerhatikan Dokter Cheonsa?” pertanyaannya yang cukup keras membuat Donghae dan Kyuhyun menoleh ke arahnya.

Sang lelaki menggerakkan tangannya untuk memutar roda di kursi rodanya. Matanya mengamati Donghae dan Kyuhyun dengan penuh curiga secara bergantian. “Kalian mau apa?” ketusnya.

Kyuhyun sudah melotot dan siap beradu mulut dengan pria yang tak sopan itu jika saja tenggorokannya dalam keadaan baik-baik saja. “Ish,” dan yang bisa dilakukan hanya mendesis.

“Maaf agashi, tapi apa yang akan kami lakukan tidak ada hubungannya denganmu,” Donghae menengahi.

“Cish, tentu saja ada. Dokter yang kalian perhatikan sejak tadi itu yeojaku,” bantahnya dengan bangga.

Donghae langsung menganga dan membulatkan matanya dengan pengakuan pria di depannya. Kyuhyun juga mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. “Hya, jangan asal mengawur,”.

“Siapa yang mengawur? Aku memang namjacingunya,”.

“Neo jinja,” gemas Donghae. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Rasanya ingin menggeplak kepala lelaki itu, tapi diurungkan niatnya. Dia masih punya rasa kemanusiaan melihat kondisi lelaki di depannya.

“Waeyo? Ada yang salah?”.

“Tentu saja salah,” geram Donghae. Kyuhyun yang disebelahnya malah menggeser duduknya agak menjauhi Donghae. Agaknya, dia tak mau terlibat dengan pertengkaran ikan mokpo itu. Terlalu menyeramkan.

“Lalu memangnya kau siapa? Berkata seenaknya seperti itu?”.

Donghae menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. “Hish, bocah ini,”.

“Mwo? Bocah? Siapa yang kau sebut bocah, huh?”.

Donghae mengurut dadanya pelan. “Ok. Dengarkan baik-baik bocah. Aku ini adalah tu-,”.

“Seungri-ya, kenapa kau malah di sini?” sapaan dengan suara yang sudah Donghae hafal, membuat ketiga pria itu menoleh ke sumber suara.

Cheonsa sedikit terkejut dengan keberadaan Donghae di sana. “Donghae-ya? Ada apa kemari? Apa kau sakit?” cemas Cheonsa yang ditanggapi gelengan kepala oleh Donghae.

Donghae menunjuk Kyuhyun yang sudah berada di ujung bangku. “Kyuhyun-nie yang sakit,”.

“Kau mengenal pria ini, Noona?” Seungri menginterupsi pembicaraan mereka.

“Ah ya, aku dokter pribadi mereka,” aku Cheonsa untuk menutupi status hubungan mereka. Donghae mengerjap tak percaya, sedangkan Kyuhyun malah menggembungkan pipi menahan tawanya yang akan meledak.

“Kuantar kau kembali ke kamarmu dulu, Seungri-ya. Kau harus bersiap sebentar lagi,” Cheonsa berputar dan siap mendorong kursi roda Seungri. “Dan Kyuhyun-a, mintalah suster untuk membantumu dahulu,” ucap Cheonsa kemudian berlalu dengan sedikit tergesa. Dia bahkan mengabaikan Donghae yang ingin angkat bicara meluruskan tentang siapa pria yang dipanggil ‘Seungri’ itu.

Donghae mengeram putus asa dan menggusak rambutnya dengan kasar. Dia memberikan tatapan tanjamnya saat terdengar gelak tawa Kyuhyun. “Hya hentikan, itu tidak lucu,” telunjuknya teracung di udara. “Ish, bagaimana bisa dia selingkuh dihadapanku secara terang-terangan,”.

Khyuhyun mendekat dengan masih memegangi perutnya. “Hey, hyung, kuingatkan padamu, bahwa kata ‘selingkuh’ digunakan untuk dua orang yang memang menjalin hubungan. Lalu kau?”.

“Kami bertunangan,”.

“Dan sejak kapan kau menganggapnya sebagai tunanganmu?” wajah Kyuhyun seketika berubah serius. Walaupun, hyungnya jarang bercerita, tapi dia cukup cerdas untuk menganalis suasana.

Ucapan Kyuhyun serta merta membungkam Donghae. Benar, walaupun dia menerima pertunangan tersebut, toh kenyataannya hatinya sendiri masih meragukan segala tentang diri Han Cheonsa. Merasakan bimbang pada eksistensi gadis tersebut.

“Sudahlah, jangan menangis di sini,” Kyuhyun menusukkan jari telunjuknya di pipi Donghae.

Donghae sedikit berjengit ketika merasakan jari Kyuhyun yang sedikit panas. “Kau benar-benar sakit, Kyunnie?”.

“Nah, sekarang hyung baru memerhatikanku?” sindir Kyuhyun. “Lagipula, aku harusnya ada di ruang tunggu pemeriksaan THT, bukan di ruang tunggu bedah,”.

“Ah, ye. Ayo, kuantar kau,” Donghae bangkit dari duduknya dengan malas.

_LDH_

Terdengar suara bantingan pintu kamar yang membuat seisi dorm menoleh. “Apa yang terjadi di rumah sakit, Kyunnie?” tanya Eunhyuk khawatir. “Lagipula, seharusnya kau langsung ke dormu dan istirahat, kenapa malah mampir ke sini dahulu?”.

“Hanya ingin memastikan ikan mokpomu itu baik-baik saja,”.

“Ada yang terjadi?”.

“Hanya sebuah kesalahpahaman kecil, tapi sepertinya Hae Hyung terlalu menanggapinya. Aku turun dulu, Hyung,”. Kyuhyun berlalu dan menyisakan tanda tanya besar bagi Eunhyuk, Ryeowook, dan Yesung yang turut menyimak pembicaraan.

Setelah sepanjang sore hingga malam, Donghae tak keluar dari kamarnya, Eunhyuk memberanikan diri mendekat. Dia mengedarkan pandangannya di kamar sahabatnya tersebut, dan menemukan Donghae sedang terduduk di sofa dengan wajah muramnya. Ditepuknya bahu Donghae pelan. “Ada apa?”.

“Kurasa aku salah menilai seorang Han Cheonsa. Kukira dia gadis baik-baik,”. Terpancar kemarahan di wajah Donghae. Kilatan amarahnya masih terlihat dengan jelas di matanya.

“Bukankah memang seperti itu?”.

“Kau tidak akan mengatakan itu jika tahu dengan siapa aku bertemu tadi,”. Donghae mengusap wajahnya kasar. “Dia memiliki namjacingu, Hyuk,”.

Kening Eunhyuk berkerut. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Kyuhyun. “Coba tanyakan kebenarannya dahulu, jangan salah menilai hingga kau nanti menyesal,”.

“Bagian mana yang aku salah menilai? Pria itu mengakuinya, Hyuk,” jerit Donghae putus asa.

“Telpon dia, tanyakan secara baik-baik,” nada Eunhyuk yang terdengar lebih pada memerintah dibanding menyarankan.

Donghae melengos. Dia diam masih berusaha menenteramkan dadanya yang bergemuruh. “Kurasa tak perlu,”.

“Telpon dia, Hae,” bentak Eunhyuk.

Donghae menatap kilat Eunhyuk kemudian dengan kasar mengambil ponselnya dan menekan ‘call’ pada ID Cheonsa.

“…”

“Kau dimana?”

“…”

“Aku ingin ber-“

Tut…tut…

“Hya,” Donghae memandang geram layar ponselnya. “Kau lihat kan? Aku bahkan baru mengucapkan 2 kata dan dia seenaknya memutuskan sambungan. Pasti sekarang dirinya sedang bersama lelaki itu,” Donghae meninju tembok di belakangnya dengan keras. Menyalurkan semua amarahnya.

_LDH_

Tiga hari berlalu, tak ada yang berusaha menyelesaikan kesalahpahaman tersebut. Cheonsa tak sekalipun berusaha menghubungi Donghae karna dia berpikir Donghae menghindar darinya setelah mengetahui kenyataan tentang keadaan ibunya. Dia belum siap untuk berbicara blak-blakan tentang ibunya.

Dan, Donghae, jangan harap lelaki ini mau merendahkan harga dirinya. Member lain hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Donghae dengan tiba-tiba meledak emosinya, mendesah kasar, bahkan terkadang berteriak frustasi. Mereka sudah terlalu sering membujuk ‘Soft Hearted Prince’ ini untuk segera menyelesaikan masalahnya, tapi hasilnya nihil. Hingga sang evil magnae yang tak tahan melihat kelakuan hyungnya, berinisiatif menghubungi Cheonsa.

“Ah, Noona-ya, ayo masuk,” Kyuhyun memberikan jalan bagi Cheonsa untuk dapat masuk.

“Hai, Kyunnie, bagaimana tenggorokanmu?”.

“Jauh lebih baik, Noona,”. Kyuhyun mengekor Cheonsa yang berjalan di depannya.

“Siapa Kyunnie?” teriak Donghae yang segera mendapat jawabannya tatkala melihat sosok Cheonsa. Tubuhnya menegang melihat seseorang yang sedang tak ingin ditemuinya tersebut berdiri tanpa rasa bersalah di apartemennya. Dipalingkan pandangannya. Dia marah.

“Nuguya?” suara manja seorang gadis memecah ketegangan.

“Ah, dia dokter pribadi kami,” Kyuhyun menyahut. Menyelamatkan hubungan tersembunyi tersebut. “Cheonsa noona kemari untuk memeriksaku,” imbuhnya ketika melihat raut wajah gadis itu yang penuh tanya. Satu hal yang tak diprediksi oleh Kyuhyun adalah kedatangan Cheonsa bertepatan dengan gadis tersebut.

Cheonsa hanya mengangguk sebagai sikap santunnya. Dia cukup tahu siapa gadis yang tengah berbicara dengannya tersebut. Bagaimana tidak jika sang gadis merupakan salah satu dari sembilan personil SNSD yang sedang populer. Jessica Jung.

Kyuhyun membawa Cheonsa ke bagian dalam dorm. Memastikan Jessica tidak menemukan keganjilan pada keteganggan antara hyungnya dengan Cheonsa. “Mian, Noona. Aku benar-benar tak tahu jika Jess akan kemari,”.

“It’s Ok, Kyunnie. Aku yang harusnya berterima kasih karna kau mau menghubungiku dan menjelaskan kesalahpahaman kami,”.

“Oh, Kau ingin minum apa, Noona? Orange jus atau soda?”.

“Orange jus saja,”.

“Baik orange jus segera datang, tunggu di sini sebentar, Noona-ya,”. Kyuhyun melesat pergi meninggalkan Cheonsa sendiri.

Terdengar tawa di ruang tengah dorm. Suara riang seorang gadis dan lelaki yang tengah bercanda. Jelas sudah siapa pemilik tawa itu. Cheonsa berusaha mengabaikan, namun kakinya tak mau berkompromi. Dan disinilah dia, berdiri mematung di ambang pintu melihat kemesraan yang tercipta antara tunangannya dengan seorang gadis cantik.

Pandangannya bertemu dengan Donghae, tapi lelaki itu memilih untuk tak menganggap keberadaan Cheonsa yang tengah menatapnya. Mengabaikannya dan pura-pura tak melihat Cheonsa. Hatinya seketika merasakan nyeri. Bukan hanya karena melihat kehangatan antara Donghae dan Jessica tapi lebih karena lelaki itu tak mengacuhkannya. Seketika pandangannya gelap dan tubuhnya ditarik dengan lembut oleh seseorang.

“Tak perlu melihatnya jika itu membuatmu sakit, Noona,”.

Cheonsa memasukkan udara ke paru-parunya dengan tarikan nafas panjang dan tersenyum getir. “Gomawoyo, Kyunnie,” tangannya mengacak gemas rambut Kyuhyun.

_LDH_

“Hae-ya kita perlu bicara,” Cheonsa menangkap lengan Donghae. Setelah cukup lama dia menunggu hingga gadis yang bernama Jessica itu pulang, dan setelah lelah dengan sikap tak acuh Donghae.

Donghae memberikan tatapan tajam pada gadis itu. Dicengkeramnya tangan Cheonsa dan ditariknya. Dia menyeret Cheonsa ke kamarnya untuk mendapat privasi. Dihempaskannya tangan mungil itu ke udara dengan kasar. “Sekarang bicaralah,”.

“Bisakah lain kali kau tidak menggunakan orang lain untuk memanasiku?” Cheonsa membuka ganjalan hatinya.

“Lalu memangnya kau tidak melakukannya juga?”.

“Kau salah paham tentangku dan Seungri. Hubungan kami hanya sebatas dokter-pasien dan teman. Tak lebih,”.

“Lalu kau pikir aku percaya,” kata-kata dingin keluar dari mulut Donghae.

“Hae-ya. Kami memang dekat semenjak setahun lalu, saat aku menanganinya. Tapi itu bukan berarti hubungan kami berkembang seperti yang kau pikirkan,”.

“Cish, pembohong. Sejak awal kau hanya menggunakanku sebagai pelarian bukan?”.

“Apa maksudmu?” kening Cheonsa berkerut.

“Apa perlu kupertegas, Nona Han?”.

“Aku benar-benar tak mengerti Hae-ya,” Cheonsa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau mencintai lelaki tadi, tapi karena kalian tak bisa bersama kau berlari padaku. Memaksaku terikat dengan ikatan konyol ini,” teriak Donghae sembari mengangkat jemarinya. Menunjukkan sebuah cincin tersemat di jari tengahnya.

Sebuah palu terasa menghantam dada Cheonsa. ‘Ikatan konyol’, jadi itukah persepsi Donghae atas pertunangan mereka?. Mata Cheonsa mengabur karena genangan air mata. “Tak adakah kata yang lebih menyakitkan dari ini?” tantangnya.

“Kenapa? Ucapanku benar, Han Cheonsa?”. Donghae berjalan mendekati Cheonsa. Amarahnya menumpuk di sana. “Apa karna dia sudah tak punya harapan hidup lagi, hingga kau menggunakanku,” teriak keras Donghae tepat di depan Cheonsa.

PLAK.

Cheonsa menampar lelaki itu. Nafasnya tersengal, tangannya gemetar, dan matanya memerah. “Meski dia hanya memiliki kesempatan hidup sehari, jangan pernah mengatakan itu,”.

Donghae memegang pipinya. “Wae? Kau begitu mencintainya?” nada dinginnya belum juga reda dengan tamparan itu.

“Kau tak mengerti apa-apa tentang dirinya,”. Sebuah dering ponsel Cheonsa tiba-tiba terdengar. Walaupun di saat yang tak tepat, Cheonsa tetap merogoh sakunya, dia mengangkat panggilan tersebut tanpa memedulikan tatapan Donghae yang seakan ingin memangsanya.

Hanya sepuluh detik dan dua kata yang cukup membuat kaki Cheonsa lemas seketika. Seungri collapse. Tanpa sepatah kata pun, dia menubruk tubuh Donghae dan segera berlari secepatnya. Meninggalkan Donghae yang mengeram frustasi.

_LDH_

Bukan salah Kyuhyun jika dia mendengar dengan jelas setiap perkataan hyungnya. Dia memiliki telinga yang cukup berfungsi untuk menyimak teriakan Donghae. Kyuhyun melangkah masuk ke dalam kamar Donghae.

Dia bersandar di daun pintu. Melihat hyungnya yang terduduk di ranjang dengan wajah yang terbenam di kedua telapak tangan. “Kau sudah di ambang batas, Hyung,”.

Donghae mengangkat wajahnya. Menatap Kyuhyun dengan wajah basahnya oleh air mata. “Wae?”.

“Aku bukan Cheonsa Noona dan aku juga bukan orang yang mengenalnya dengan baik. Tapi aku dapat merasakan sakit atas ucapanmu,” Kyuhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Tidak bisakah kau membedakan mana ucapan membual dan mana ucapan benar? Jika kau tak bisa mendengarnya hanya dengan telinga dan melihatnya hanya dengan mata, setidaknya gunakan ini, Hyung,” tunjuk Kyuhyun pada dadanya sendiri.

“Apa maksudmu, Kyunnie?”.

“Ucapan lelaki yang di rumah sakit itu. Tidak bisakah hyung membaca dari raut wajah dan nadanya? Dia hanya membual, Hyung. Dia memuja Cheonsa Noona sebagai dokternya,”.

Donghae tersentak dengan perkataan Kyuhyun. Diingat kembali kejadian kala itu. Dongsaengnya benar. Wajah Seungri saat mengatakan Cheonsa adalah yoejanya, dia tersenyum. Bukannya wajah geram saat melihat lelaki lain memandang dengan intens gadisnya.

“Sudah menyadarinya? Kuharap Hyung membuat keputusan yang tepat,”.

_LDH_

Donghae berjalan dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Setelah menanyakan keberadaan seorang yang dicarinya pada resepsionis, dia segera berlari-lari kecil tak sabar menemui gadis itu. Namun, sebuah teriakan histeris menghentikan langkahnya.

Dilihatnya seorang wanita paruh baya meraung memanggil-manggil sebuah nama. Alis Donghae bertaut, sayup-sayup nama itu familiar di telinganya. Donghae mencegat perawat yang kebetulan baru keluar dari ruang operasi tepat di depannya. “Maaf agashi, benarkah pasien Seungri sudah selesai menjalani operasi?”

“Apa maksud agashi adalah Lee Seunghyun?,

“Aku hanya mengenalnya dengan Seungri,”.

“Ah, ne. Tapi sayangnya, tim dokter tak mampu menyelamatkannya,”.

Rasanya berita itu menghantamnya bagai godam. Dia teringat kembali pertengkarannya dengan Cheonsa. Membuatnya merasa amat bersalah karena sifat kekanakannya yang tak mau mendengarkan penjelasan orang lain.

_LDH_

Beberapa jam berlalu pasca operasi tersebut, namun hingga sekarang, Donghae tak bisa menjumpai Cheonsa. Dia sudah mencari di ruangan tempat para dokter residen. Tapi, seorang assisten mengatakan jika Dokter Han tidak terlihat lagi semenjak mengoperasi pasien Lee Seunghyun.

Donghae mengambil iphonenya untuk menghubungi Cheonsa. Sudah berkali-kali dia melakukannya, namun gadis itu tak mau menjawabnya. Dan sekarang, parahnya, telepon Cheonsa mati hingga dirinya hanya terhubung dengan mailbox.

Donghae sudah mengecek bagian security rumah sakit, tapi mereka mengatakan bahwa mobil Dokter Han Cheonsa belum check out. Dicobanya menghubungi Kevin, namun bocah itu menjawabnya dengan tak jelas. Menambah pusing kepala Donghae. Akhirnya, dia terduduk pasrah di bangku tunggu rumah sakit. Siapa tahu dengan begitu dia bisa melihat Cheonsa dengan ketaksengajaan.

“Donghae-ssi? Apa yang kau lakukan di sini?”.

Donghae mendongakkan kepalanya dan mendapati dokter yang telah dikenalnya dengan baik. “Ah, Dokter Ahn. Annnyeonghaseyo,” dirinya berdiri dan membungkuk hormat pada dokter tersebut.

“Aku ke sini untuk mencari Dokter Han,”.

“Cheonsa?”

“Ne,”

“Cobalah mencarinya di ruangan dokter residen,”.

“Sudah, tapi dia tidak disana semenjak melakukan operasi tadi siang,”.

Dokter Ahn mengangguk-angguk mengerti kemudian tersenyum penuh arti. “Anak itu,” lirihnya lebih pada diri sendiri. “Carilah dia di halaman belakang rumah sakit. Kurasa dia sedang menenangkan diri di sana,”.

Wajah Donghae seketika mencerah. Dibungkukkan badannya dengan cepat. “Gamsahammida, Dokter Ahn,”.

_LDH_

Cheonsa menyusuri halaman belakang rumah sakit dengan gamang. Satu per satu memorinya memutar kenangannya bersama Seungri. Dia merogoh saku jasnya dan memandangi benda pemberian lelaki itu. “Kau pasti bahagia di sana tanpa rasa sakit,” air mata membasahi pipinya yang masih belum kering karena menangis tadi.

Cheonsa berjalan lagi agak ke tepi hamparan padang ilalang dan duduk di sana. Memorinya kembali memutar, namun bukan dengan Seungri, melainkan dengan seseorang yang resmi menjadi tunangannya. Pertengkarannya dengan Donghae tadi siang seakan memaksanya menelaah ulang hubungan mereka. Lelaki itu benar. Ini semua terlalu konyol. Dirinya terlalu egois untuk memaksakan kehendak.

Hubungan tanpa didasari keyakinan kuat dan kepercayaan. Dan dibuktikan dengan pertengkaran mereka tadi. Selain itu, keadaan ibunya pasti membuat lelaki itu terbebani. Juga masalah asisten ayahnya, yang menurutnya, terlalu kurang ajar untuk ikut campur dalam privasi keluarganya. Semuanya berputar di kepala Cheonsa.

_LDH_

Donghae mengambil posisi di samping seorang gadis yang duduk sendiri termenung. Mulutnya bungkam karna rasa khawatir. Wajahnya kaku dengan ekspresi dingin yang kental.

Cheonsa yang merasakan kehadiran seseorang di sisinya, menolehkan kepalanya. “Hae-ya, bagaimana bisa kau di sini?”.

Donghae masih terdiam. Mencoba berdamai dengan perasaannya sendiri. Dan entah mulai kapan, dia menyukai sapaan lembut namanya yang terucap dari sang gadis.

Cheonsa mengulurkan tangannya menyentuh pipi Donghae. “Masih sakitkah?”.

“…”

“Kau masih marah?”

“….”

Cheonsa menghela nafas panjang. Mencoba bersabar. “Mian karna menamparmu tadi,”.

“….”

“Hari ini, untuk kesekian kali, aku melihat orang meregang nyawa di meja operasi. Kau tahu bagaimana rasanya di dalam sini, Hae-ya?” Cheonsa meraba dadanya. “Rasanya ada sesuatu yang menggoresnya. Seolah-olah dirimu telah melakukan kesalahan besar,”.

Donghae masih tak membuka mulutnya. Memilih mendengar setiap ucapan Cheonsa.

“Rasanya ingin memaki dirimu sendiri yang tak becus melakukan sebuah tanggung jawab,”.

“Tapi itu bukan kesalahanmu,” kata pertama yang terucap oleh Donghae sore itu. Tak tahan dengan keluh kesah gadis di sampinnya.

Cheonsa tersenyum hambar. “Benar. Tapi ternyata beban itu melekat, mau tidak mau,”.

“Tapi, semua telah diatur atas kehendakNya, Sa-ya”.

“Namanya Lee Seung Hyun, tapi aku lebih menyukai memanggilnya Seungri. Seorang pengidap kanker pankreas dan jantung lemah. Dia mengalami gagal jantung ketika operasi pengangkatan kankernya,”.

“Aku mengenalnya setahun lalu ketika Dokter Ahn memintaku mendampinginya untuk menangani Seungri. Kami dekat karena sifat kekanakannya yang mirip dengan Kevin. Dia tetap menghadapi penyakitnya dengan berbesar hati meski tahu bahwa kami tak akan bisa menangani kasusnya. Kami tim dokter hanya memberikan harapan kosong padanya. Karna kenyataannya kankernya sudah menyebar dan yang bisa kami lakukan hanya memperlambat kematiannya,” setitik air mata meleleh lagi.

“Senyumnya, tawanya, dan rintihannya semua yang ada di dirinya, sekarang aku merindukannya, Hae-ya. Dialah yang mengajariku tersenyum si kondisi sesulit apa pun,”.

“Aku melihatnya berjuang di meja operasi. Aku melihat bagaimana jantung itu terhenti. Aku melihat bagaimana sedikit demi sedikit nafas itu terputus,” Cheonsa menangkupan kedua tangannya di wajah, menutupi air matanya yang meluncur.

Donghae menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah Cheonsa. Rasa sesak di dadanya kini, apakah pantas jika disebut cemburu?. Demi apa pun, patutkah rasa ini ada untuk orang yang bahkan sudah damai di sana?.

“Aku merindukannya,” lirih Cheonsa kemudian. Kepalanya menunduk. Dimasukkan kedua tangannya dalam saku jas putihnya.

Donghae masih tak berkomentar. Sibuk dengan rasa tak mengenakkan yang tiba-tiba menyeruak di hatinya. “Hish,” desisnya lebih pada dirinya sendiri. Dia membiarkan Cheonsa menangis untuk mengurangi bebannya.

Cheonsa menoleh. “Gomawoyo, mau mendengarku,”. Dia mencabut tangannya dari saku jas, namun karena kurang hati-hati, sebuah jepit pemberian Seungri malah terlempar dengan gerakan tersebut. Cheonsa sedikit bergeser untuk menjangkau jepit tersebut. Tangannya menggapai-gapai, dipanjangkan jemarinya untuk menjangkau. Belum berhasil juga, kakinya ikut bergeser untuk mendekat.

“Hya, apa yang kau lakukan? Kau bisa jatuh,”.

“Barangku terjatuh,” Cheonsa masih berusaha menggapai jepit itu.

“Biarkan saja, kau bisa membelinya lagi,” kesal Donghae yang melihat Cheonsa semakin menggeser tubuhnya ke bawah.

“Tapi itu pemberian Seungri,”. Bodohnya, Cheonsa yang tak mempertimbangkan kemiringan tempat tersebut. “Aaa…,”. Hingga gravitasi menariknya ke bawah.

Donghae yang melihatnya secara reflek meraih sebelah tangan Cheonsa. Tapi terlalu terlambat, dan akhirnya dia malah ikut terguling ke bawah dengan gadis itu. Dengan akal dan kesadaran yang dimiliki, direngkuhnya tubuh Cheonsa dalam dekapannya dan ditangkupkan tangannya untuk melindungi kepala Cheonsa dari benturan.

Tubuh mereka menyatu dan terguling ke bawah menuruni padang ilalang kering. Beruntungnya, ilalang-ilalang tersebut malah menjadi bantalan. Tubuh mereka terhenti dengan posisi Cheonsa yang berada di atas tubuh Donghae.

Donghae membuka matanya, dan yang pertama dilihat adalah senyuman memesona milik gadisnya. Apakah ketika terguling tadi kepala gadisnya terbentur?. Bagaimana mungkin gadis ini malah tersenyum selebar itu. Yah, meski diakui Donghae, senyum itu membuat nafasnya tercekat.

“Hae-ya, kau tak apa-apa kan? Kau tahu? kita malah seperti roller coster,” Cheonsa terkekeh melupakan sejenak kesedihannya. “Bukankah menyenangkan? Jatuh dari tempat tinggi itu dan voila, kita tak terluka sedikit pun,”.

Donghae menepuk pelan kepala Cheonsa. “Apa otakmu tergeser ketika jatuh tadi,” marahnya.

Cheonsa malah menanggapinya dengan cengiran lebar. “Mungkin,” jawabnya enteng seraya mengedikkan bahu.

Donghae menggulingkan badannya, hingga kini dialah yang berada di atas. Kedua tangannya diletakkan di samping kepala Cheonsa untuk menahan bobot tubuhnya agar tak menindih gadis itu. Dia menempelkan keningnya pada kening Cheonsa. Memandang mata cokelat tua milik Cheonsa. “Maaf karna membentakmu tadi,”.

Cheonsa hanya tersenyum pahit. Memohon hatinya agar diteguhkan dengan keputusannya untuk tak berlaku egois. Jantungnya sudah bedegub tak karuan dengan pandangan sendu itu.

“Jangan menghilang seperti tadi karna aku khawatir. Kau tahu? Rasanya sungguh tak enak,”.

“Maaf, Hae-ya,”.

Donghae menjauhkan keningnya dan memberi jarak. Namun masih mempertahankan posisinya. “Dan jangan mematikan ponselmu, aku kalut karna tak bisa menghubungimu,”.

“Maaf dan terima kasih karena mengkhawatirkanku,” lirih Cheonsa dengan nada menyesal. Matanya balik menatap dalam mata indah milik lelaki itu. Menelusupkan rasa bersalah di hatinya. Tegakah dirinya untuk menyeret lelaki tersebut dalam hidupnya yang rumit?. Tidak. Cheonsa memejamkan matanya sejenak, memberi jeda pada apa yang akan diucapkannya. “Hae-ya, aku-,”.

Donghae menatap tajam gadis yang tengah dalam kuasanya. Mendengarkan keraguan pada kata yang akan diucapkan sang gadis.

“Aku telah memutuskan…aku…Aku melepasmu. Kita akhiri sampai di sini,” lanjut Cheonsa dengan nada bergetar.

Donghae dapat melihat berlipat-lipat kesedihan dari balik mata gadisnya. Dan detik itu pula dia menemukan jawaban kerisauan hatinya. Dimiringkan kepalanya sehingga bibir tipisnya menyentuh dengan lembut bibir Cheonsa. Menghantarkan sengatan-sengatan listrik yang dinikmatinya. Memberikan sebuah kecupan kilas. “Maaf, tapi kali ini aku juga sudah memutuskan, Cheonsa-ya,” senyumya mengembang.

_LDH_

[And this is what decision is]

“Angel, are you ready?” sapaan lembut Daniel membuat Cheonsa kembali ke alam sadarnya.

Dia menoleh heran pada oppanya yang sudah mengulurkan tangan. “Dimana Appa?” tanyanya.

Daniel menarik tangannya kembali dan berdeham. “Mobilnya bermasalah sedikit. Mungkin Appa akan terlambat. Tak perlu khawatir,” ucap Daniel yang bisa membaca raut cemas Cheonsa. “Let me lead you to him, would you?”.

Cheonsa berpikir sejenak. Menimbang, bukankah biasanya seorang ayahlah yang mengiringi putrinya untuk menuju altar?. Tapi, di saat ini keterlambatan ayahnya nyatanya tak membuat dirinya begitu kecewa. Ada sosok Daniel, sang kakak, yang menggantikannya. “Sure, Oppa,” Cheonsa mengulurkan tangan kanannya.

“You two wouldn’t leave me alone, will you? Angel Noona, may I come too?” Kevin memandangnya penuh harap.

Cheonsa membalasnya dengan senyum, lalu mengangsurkan buket bunga di tangan kirinya pada Kevin. “Of course, my lil bro,” ucapnya sembari menyelipkan tangan kirinya yang telah bebas di lengan adiknya.

_LDH_

Bukan sebuah gaun super panjang nan megah yang disandangnya. Hanya sebuah gaun putih sebatas mata kaki yang terbelah membentuk V terbalik di bagian depan dengan aksen ruffles. Gaun yang terlihat sederhana namun jika ditilik lagi, terdapat beratus berlian kecil menghias pinggang dan bagian atas. Gaun yang melekat indah di tubuh sang angel. Bahu terbuka dengan sebuah liontin di dadanya. Mahkota kecil bertabur zamrud menyempurnakan rambutnya yang di gelung.

Semua mata terpana pada pengatin wanita yang diiring oleh dua lelaki tampan di sisi kanan dan kirinya. Pemandangan sedikit ganjil karna memang biasanya sang mempelai wanita hanya diiring oleh seorang saja. Meski begitu, pemandangan tersebut menimbulkan kehangatan tersendiri di hati yang melihat. Nampak kedekatan antara ketiga saudara dari keluarga Han tersebut.

Donghae mematung di tempatnya. Menatap seorang gadis anggun yang mulai mendekat padanya. Jantungnya kembali berdetak keras seakan ingin meruntuhkan rongga dadanya. Memompa darah dengan cepat dan mengalirkannya dengan deras ke setiap sel di tubuhnya. Menanti detik-detik bahwa dirinya akan terikat suci dengan gadis cantik itu. Tanpa disadari, seulas senyum terbentuk di bibir tipisnya.

Daniel menaruh punggung tangan kirinya di depan perut, sedangkan telapak tangan kanannya membungkus jemari Cheonsa yang terselip di lengan kirinya. “Angelle Han, persiapkan dengan sungguh hati dan ragamu untuk meyongsong kehidupan baru. Tegarlah dalam segala coba yang akan mengujimu, karna setelah kita tiba di depan sana, maka tanggung jawabku sebagai oppa tergantikan dengannya,”.

Mereka bertiga berjalan sangat lambat menapaki lantai marmer hitam gereja klasik tersebut. “Bahagialah dengan pernikahan ini karna aku sudah tak akan punya kuasa lagi untuk mencampuri kehidupanmu. Sandarkan letihmu padanya dan jadilah penopang yang kokoh baginya. Bagilah segala suka dan dukamu dengannya, karna dialah sebelah jiwamu,”.

Cheonsa mengalihkan sebentar tatapannya pada Daniel. Dan semakin mempererat jemarinya di lengan kakak lelakinya tersebut. Rasanya sudah lama dia tak mendengar lelaki itu bicara sebanyak ini. Walaupun sikap Daniel dingin terhadapnya, tapi dia tahu bahwa selama ini, Daniel-lah yang selalu ada untuknya.

“Mungkin hidup tak seindah anganmu, tapi pastikan anganmu memandu hidupmu dalam mencapai sesuatu yang indah. Setelah ini, aku sudah tak akan berdiri di sisimu selalu, karna tempat itu akan diisi sepenuhnya oleh lelaki di depan sana,”.

Cheonsa hampir-hampir menitikkan air mata mendengar semua petuah Daniel. Dia melipat bibirnya untuk menahan perasaan yang mengharu biru di dadanya.

“Jadilah pelindung yang menghangatkan untuknya. Jadilah tonggak yang tegak ketika dia roboh. Jadilah pelengkap yang menyempurnakan belahannya yang hilang. Dan jadilah cahaya kecil dalam gelapnya,”

Kevin ikut menyimak perkataan kakak tertuanya dengan diam. Menyesapi makna yang diucapkan Daniel. “But, no matter what will happen, you always be our angel. So, if this angel gets hurt, we always be the sky that become your land,” Kevin menutupnya dengan kata manis ketika mereka telah sampai di depan altar.

Daniel mengambil jemari Cheonsa di lengan kirinya kemudian menyerahkan pada tangan yang telah terulur di sana. Senyumnya tersungging tulus pada lelaki itu. “Please, take care my angel,” ucap Daniel pada pria tersebut.

Begitu pun, Kevin, dia melepas jemari noonanya yang terselip di lengan kanannya. Kemudian memberikan buket bunga yang di bawanya pada Cheonsa. Dia memandang kakak perempuannya sejenak dan memberikan senyum tulusnya sebelum melangkah mundur.

_LDH_

Rangkaian sakramen pernikahan dilalui dengan khusuk. Jauh dari kata terpaksa dan bimbang. Karena saat ini mereka sedang ditautkan dalam nuansa kasihNya.

“Demi nama Allah Bapa, Allah anak, dan Allah roh kudus. Saya, Lee Donghae menerima engkau Han Cheonsa menjadi satu-satunya istri dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti kristus mengasihi jemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setia padamu,”

Cheonsa mendengarkan setiap kata yang terucap dari lelaki di sampingnya. Merekam semua dalam memorinya. Memahatkan kenangan yang tak akan terlupa sepanjang perjalanan hidupnya.

“Demi nama Allah Bapa, Allah anak, dan Allah roh kudus. Saya, Han Cheonsa menerima engkau Lee Donghae menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka dan duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di waktu sakit dan di waktu sehat, untuk dikasihi dan diperhatikan serta dihargai, seperti kristus mengasihi jemaatNya sampai kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepadaNya, kuucapkan janji setia padamu,”.

Begitu juga dengan Donghae, yang menajamkan pendengarannya untuk mengabadikan janji perempuan di sisinya. Memberikan sejuta ledakan warna di dadanya.

Pastor memandu mereka untuk penyematan cicin. Donghae meraih jemari lentik Cheonsa dan memasangkan sebuah cincin emas putih bertahta berlian di sana. Dia dapat merasakan jemari gadis itu yang gemetar, membuatnya menggenggam tangan Cheonsa sejenak untuk menyalurkan keteguhannya.

Cheonsa tersenyum tipis atas perlakuan Donghae. Memberikan sebuah harapan padanya. Diraihnya jemari lelaki tersebut dan disematkan sebuah cincin pasangan di sana. Tepukan membahana dalam gereja kecil itu, ketika Pastor mengakhiri sakramen pernikahan tersebut.

Donghae mengusap pipi Cheonsa lembut, memperkecil jaraknya, dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening gadis itu. Seorang yang kini resmi menjadi miliknya. Seorang ternama Han Cheonsa, yang mulai detik ini terganti menjadi Lee Cheonsa.

Cheonsa merasakan ketulusan dalam ciuman tersebut. Matanya memejam rapat untuk menikmati detik singkatnya yang sangat berharga. Tak ayal, setitik air mata meluncur di pipi kirinya, namun kali ini, diiringi sebuah lengkungan senyum di bibirnya.

…And this day, their souls are bonded together into a wedlock…

TBC*

 

Note: gimana? Tolong kritik dan komennya ya? Q malah gak yakin lagi ney. Galau, cingu. Tadi juga ada adegan yang aku ambil dari 49 days.

One thought on “Please, Hold On [part 3]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s