Be Happy, Please? [part 4/END]

By Sugih Miinah Hartika

Main Cast:

Donghae

Yesung

Leeteuk

Genre:

Family, brothership

 

Untuk semua yang ngikutin FF saya, makasih banyak atas review kalian. Itu sangat membantu. Saya persembahkan chapter 4 sebagai penutup FF ini.

Selamat membaca ^^

The last Story……….

“aku.. aku yang sudah membunuh appa kalian.” Ungkap Yesung sambil menundukkan wajahnya. Bila eomma Leeteuk dan Donghae meninggal karena sakit, lalu mengapa appa mereka bisa meninggal?

“huh? Apa maksudmu?” tanya Leeteuk bingung.

“aku tahu persis dia meninggal beberapa bulan lalu. Apa kau akan percaya jika aku bilang bahwa orang yang membunuhnya adalah aku hyung?”. Leeteuk tak bergeming dari posisinya. Ia menatap Yesung tajam. Memang benar appanya meninggal beberapa bulan yang lalu karena kasus tabrak lari sebelum ia menemukan Donghae. Namun Leeteuk sama sekali tak menyangka. Kenapa harus Yesung orangnya!!

“apa dunia memang sesempit ini? Kenapa dia harus ayahmu? Dan kenapa Donghae juga saudara kandungmu? KENAPA?!!” Yesung berteriak. Meneriaki dirinya dan nasibnya, merasa bersalah tentunya.  Sedangkan Leeteuk mengepalkan tangannya kuat.

“aku tak peduli.” Ucap Donghae di ambang pintu. Kedua orang yang sedang berdebat itu merasa terkejut.

“Hae ya.. kembalilah ke kamarmu.” Pinta Leeteuk mendekat pada Donghae.

“kau yang berbuat salah, kenapa harus aku yang menanggungnya hyung?” Donghae berkata lirih sambil menatap Yesung.

“tidak Hae.. aku juga bersalah padamu.”

“kau bersalah karena meninggalkanku hyung. tak ada alasan lain.”

“Donghae..” panggil Leeteuk.

“aku membunuh appamu Hae.” Ucap Yesung membuat Donghae yakin bahwa dirinya memang tak pantas berada di dekat Donghae.

“aku bahkan tak mengenalnya. Kenapa aku harus marah? Aku tak peduli.” Ucap Donghae yakin. Leeteuk diam menatap Donghae tajam, Yesung cukup terkejut dengan reaksi Donghae.

“dia membunuh appa kita!” ucap Leeteuk tegas.

“appamu hyung,” ucap Donghae. “ingatlah bahkan aku tak pernah melihat wajahnya.”.

“tapi dia tetap appamu Lee Donghae!”

“aku tak peduli!! Selama ini aku hanya mengenal Yesung hyung, tak ada yang lain!!” sisi keegoisan Donghae kembali muncul membuat Leeteuk kali ini tak bisa menahan marahnya. Dan sebuah tamparan mendarat di pipi Donghae. Donghae memegangi pipinya dan mulai menangis.

“hyung! jangan sakiti dia!” teriak Yesung tak terima Donghae di tampar.

“diam!! Dia dongsaengku. Aku berhak atas dirinya!!” tutur Leeteuk tajam, “dan, sebaiknya kau pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran dan melaporkanmu pada polisi!!” Leeteuk mengusir Yesung.

“tak ada yang boleh pergi. Hyung.. jika kau merasa bersalah padaku maka tetaplah disampingku. Kumohon..” pinta Donghae.

“aku akan berusaha menebusnya hyung.” Yesung menatap Leeteuk yang tak ingin menatapnya. “aku akan menebus kesalahanku.” Ucapnya lagi sambil berlalu.

“kubilang jangan pergi!!” jerit Donghae berusaha mengejar namun ditahan Leeteuk.

“andwae hyung!! Yesung hyung!! jangan pergi!!” Donghae menjerit pilu berusaha melepaskan diri dari Leeteuk. “hyungie~~” jerit Donghae memanggil Yesung. Namun Yesung tak pernah melihatnya lagi.

.

.

.

Leeteuk memandang Donghae frustasi. Bagaimana tidak, bahkan Donghae tak ingin melihat wajahnya.

“ayolah Hae.. biarkan mereka memeriksamu, nae?” Pinta Leeteuk. Donghae tetap tak bergeming dari posisinya. Leeteuk pindah menuju sisi ranjang satunya, mencoba untuk berada di hadapan Donghae, namun Donghae kembali berbalik, tetap tak ingin melihatnya. Leeteuk pasrah, akhirnya ia berlutut di sisi ranjang Donghae sambil terisak.. “hyung mohon Hae. Dengarkan hyung kali ini. Kau ingin apa? Hyung akan kabulkan asal kau mau diperiksa. Jangan begini. Jangan menyiksa tubuhmu.” Ungkap Leeteuk memohon. Ia sangat hawatir. Donghae menolak segala macam pengobatan padahal kondisi tubuhnya menurun.

Donghae bereaksi. Ia mulai merasakan matanya panas. Bulir air mata segera keluar. “benarkah?” tanya Donghae akhirnya. Sebuah senyuman segera terkembang dibibir Leeteuk, “nae.” Jawab Leeteuk mengangguk.

“aku ingin bertemu Yesung hyung, boleh?” pinta Donghae. Leeteuk menarik senyumnya, “maaf”, ucapnya murung.

“aku sudah tahu. Kau tak akan mengabulkannya. Aku benci padamu!!” tutur Donghae. Leeteuk tak dapat berucap apapun.

“sudah Hae. Sudah cukup!! Kau tak bisa memaksaku.” Ucap leeteuk mutlak namun masih bernada lembut. Donghae berdecak pelan.

“baiklah. lupakan semuanya!! Singkirkan obat-obatan itu!! dan jangan sentuh aku!!!” teriak Donghae kesal pada semua orang termasuk dokter dan perawat yang ada. Ia hempaskan tangan seorang perawat yang mencoba memasang jarum infus padanya. Leeteuk benar-benar kehilangan kesabarannya. Namun ia tak bisa marah, sudah cukup ia menampar Donghae satu kali, ia tak ingin mengulangnya lagi. Ia hanya bisa menahan marah dengan tangisnya. Ia berlalu pergi dan menangis keras saat sudah benar-benar berada di luar.

.

.

.

Leeteuk POV

Siang ini aku kembali mengunjungi Donghae dirumah sakit. Dia masih saja mendiamkanku sampai saat ini.

Kulihat seseorang yang tak asing berjalan di depanku. Kudekati, dan benar saja itu dia. Yesung!! Kenapa dia kemari terus sih? Kupercepat langkahku, kuraih sedikit kaosnya membuatnya menghentikan langkahnya, dan yang selanjutnya.. tentu saja dia terkejut.

“hyung..”

“untuk apa kau kemari huh?”

“maaf..”

“pulanglah. Aku tak ingin ia melihatmu dan berteriak histeris lagi saat kau tinggalkan nantinya.”

Tanpa aba-aba dia memutar arahnya, pulang mungkin. Sering sekali dia kemari tanpa sepengetahuan Donghae. Aku tahu seberapa sayangnya dia pada Donghae. Tapi kesalahannya tak bisa kumaafkan. Mengapa harus dia yang jadi penyebab kematian appa. Dunia memang benar-benar sempit kurasa.

Kini aku berada di depan pintu ruang rawat Donghae. Kubuka perlahan. Sekarang adalah jam tidur siangnya. Namun untuk siang ini sepertinya tidak. jangankan tidur siang, aku bahkan tak melihat dia di ranjangnya.

“Hae ya..” panggilku. Tak ada sahutan. Kuperiksa kamar mandinya. Mungkin dia disana.

“Hae..” nihil. Dia benar-benar tak ada di ruangan ini. Kucari di sekitar rumah sakit. Dia benar-benar hilang!! Oh Tuhan… dia kemana!!

Sekitar 15 menit mencari, aku mulai putus asa. Dia hilang!! hatiku cemas. Kakiku mulai lemas. mataku dengan liar menyapu setiap sudut rumah sakit. Namun tetap tak menemukannya. Dan tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Kulihat ternyata Yesung. Dia masih disini rupanya.

“kau kenapa hyung?” tanyanya menangkap raut hawatir di wajahku.

“Sungie..” apa ini saatnya aku meminta dia menebus kesalahannya? Dengan menemukan Donghae untukku? Persetan dengan rasa malu. Donghae lebih penting.

“hyung..”

“Su..Sungie.. dia menghilang.” Ucapku.

“Mworago?!” ia terlihat terkejut.

“dia tak ada dimanapun. Bagaimana? Aku takut terjadi sesuatu padanya.”

“tak akan hyung.” dia menghiburku?

“bisakah.. bisakah kau membantuku mencarinya?” tanyaku akhirnya.

“tentu saja. dengan senang hati.” Ucapnya tersenyum hangat.

.

.

.

Normal POV

Yesung tersenyum. Ia sangat tahu dimana Donghaenya sekarang. Tentu saja…

Ia pergi menuju sebuah lapangan. Dan memang Donghae ada disana. Yesung menghampiri dongsaengnya tersebut.

“Hae ya..” panggilnya. Yesung merasa Seakan sedang merasa deja vu, namun kali ini tak ada salju yang menutupi lapangan itu. Ia ingat terakhir Donghae menghilang dan pergi ke tempat itu. Donghae memandangnya sayu, lalu sebuah senyum terukir di wajahnya.

“sedang apa kau disini hmm?” tanya Yesung memakaikan jaketnya pada Donghae lalu duduk di dekat Donghae. Yesung sangat tahu kondisi Donghae. Donghae menggeleng pelan.

“hyung, bogoshippo.” Ujar donghae menyandarkan kepalanya di bahu Yesung. Suara Donghae terdengar lirih, membuat hati Yesung sakit seketika. Donghaenya terdengar lemah.

“gwaenchanayo?” tanya yesung lembut, membelai rambut Donghae.

“lama sekali kita tak bertemu. Aku juga merindukanmu Saeng.” Ujar Yesung.

“aku benci kau hyung!” Donghae terisak. “kau akan menyesal karena sebentar lagi aku akan pergi selamanya. Kau puas?” ia benar-benar menangis sekarang.

“jangan bilang seperti itu. kau harus kuat!!”

“untuk apa? Aku tak ingin hidup lagi!! Kau dan juga Leeteuk hyung membuatku gila!”

“mianhae..”

“sakit hyung!! disini sakit sekali.” Tutur donghae sambil memegang dadanya. Ia memejamkan matanya kuat.

“nde? Kalau begitu ayo kembali ke rumah sakit.” Ajak Yesung.

“jantungku sakit. Memang sakit. Tapi hatiku lebih sakit! Semua karenamu!! Karena Leeteuk hyung!! semua karena kalian!!” Donghae kini menangis lebih keras. Yesung terdiam, air mata mulai berdesakan keluar dari matanya.

“maafkan hyung Hae. Jebal.. hyung berjanji, hyung akan menebus semua kesalahanku pada kalian.”

“kalau begitu kembalilah.” Pinta Donghae. Yesung diam. Donghae mengerti.

“paling tidak habiskan hari ini bersama. Bagaimana hyung?” Yesung mengangguk.

“nae. Tapi jika kau mulai merasa sakit bilang padaku.” Donghae tersenyum lebar.

.

.

.

Yesung menutup ponselnya. Baru saja ia memberi tahu Leeteuk bahwa Donghae ada bersamanya.

“memangnya kau mau kemana?” tanya Yesung.

“aku ingin ke apartement kita yang dulu. Makan bersama disana.” Pinta Donghae.

“aaaahhh~ bukan hal yang sulit sepertinya. Baiklah..”

 

Mereka sampai di apartement mereka yang dulu. Donghae nampak terlihat sangat senang.

“hyung, aku ingin kau yang masak. Dulu aku yang selalu memasak untuk kita.” Oceh Donghae sambil mengamati ruangan apartementnya dulu. Tak ada yang berubah dimatanya.

“apa tak ada yang menyewa ruangan ini lagi ya?” ujarnya.

“sepertinya tidak.” jawab yesung melangkah menuju dapur.

“hyung, jika kau tak bisa memasak masak ramen saja untukku. Tak usah memaksakan diri.” Tutur Donghae membuat yesung menggaruk belakang kepalanya. Dia memang payah dalam urusan memasak.

“ramen tak baik untukmu Hae.”

“aku ingin itu hyung. sudah lama sekali.”

“baiklah. Tapi sedikit saja ne?”. Donghae mengangkat bahunya ragu, Yesung berdecak pelan, ikut merasa ragu.

.

.

.

“sedang apa kalian sekarang? Apa dia baik-baik saja?”

“ya. Sampai sejauh ini dia baik-baik saja hyung.”

“tolong jaga dia untukku Sungie.”

“tentu saja hyung. bahkan aku jamin dia akan bisa sembuh kembali.”

“jangan bercanda!! Tapi.. aku berharap ucapanmu bisa di dengar Tuhan.”

“Tuhan sudah mendengarnya dan akan segera mngabulkannya hyung.”

“…”

 

Yesung kembali menutup ponselnya setelah memberi kabar tentang Donghae pada Leeteuk. Tiba-tiba Yesung mendengar suara pintu yang ditutup dengan kasar. Ternyata itu adalah pintu kamar mandi yang ditutup Donghae dengan sangat keras. Yesung segera menghampiri pintu malang tersebut dan segera mengetahui jika pintu tersebut dikunci dari dalam.

“kau tak apa?” tanya Yesung agak keras mengingat Donghae di dalam. Ia tahu terjadi sesuatu di dalam.

“Lee Donghae buka pintunya!!” teriak Yesung. Ia hawatir setelah mendengar Donghae muntah-muntah di dalam. Yesung mulai tak sabar. Ia menggedor pintu sekuat mungkin, lebih tepatnya mendobrak. Namun sebelum pintu itu terbuka paksa, ia sudah terbuka. Donghae keluar sambil mengelap bibirnya.

“gwaenchana.” Ucap donghae mencoba tersenyum.

“pembohong!! Ayo duduk.” Ucap Yesung mengajak Donghae duduk dan memberinya segelas air hangat.

“ayo kembali ke rumah sakit sekarang.” Ajak Yesung. Donghae menggeleng kuat. Ia mencengkram tangan Yesung.

“aku ingin disini dulu. Aku takut hyung.. aku takut tak bisa bertemu denganmu lagi. Jangan.. aku ingin disini.” Isak Donghae.

“Donghae, jangan begini. Dokter lebih tahu yang terbaik untukmu.”

“Shiroo!! Aku ingin disini bersamamu hyung. kumohon..”

Yesung mengerti. Waktu untuk mereka bersama memang terasa berkurang sekarang. Ia memeluk Donghae. Menangis…

 

 

 

Donghae terlelap dalam pelukan Yesung. Yesung tak hentinya melantunkan sebuah lagu untuk Donghae. Dulu ia sering sekali bernyanyi untuk Donghae.

 

“hyung suaramu indah”

‘kau selalu berkata begitu. Apa sekarang suaraku masih terdengar indah?’ batin Yesung sambil terus mengusap rambut Donghae.

 

“nyanyikan sebuah lagu untukku hyung”

‘akan kunyanyikan banyak lagu untukmu. Apapun yang kau inginkan, akan ku kabulkan Dongsaengku!!’

 

“kita akan selalu bersama hyung.’

Senyum Yesung menghilang. ‘andai aku Tuhan! Aku bisa merubah segalanya menjadi indah!!’

.

.

.

“Hae.. aku tak ingin kau pulang larut malam. Ku antar pulang sekarang ya?” ucap Yesung membelai pipi Donghae, mencoba membangunkannya. Donghae tak menjawab.

“Hae ya.. bangun saeng. Kau harus kembali ke rumah sakit.” Ajak Yesung lagi. Namun Donghae tak bergeming.

“Hae bangun..” panggilnya lagi. Donghae tetap tak bergeming. Yesung tahu keadaannya. Ia meraih wajah Donghae dan menepuk-nepuk pipi Donghae.

“heii.. jangan menakutiku. Ayo bangun Hae!!” pekiknya.

“Lee Donghae!!” Yesung berteriak frustasi. Ia memandangi wajah Donghae yang pucat tak berawarna itu.

“Demi Tuhan.. Lee Donghae bangun!!!”

Yesung meraih ponselnya dan segera memanggil leeteuk dan ambulans tentunya. Setelah itu ia kembali berteriak mencoba membangunkan Donghaenya…

.

.

.

Leeteuk menunggu di depan UGD. Ia meremas jari-jarinya. Pandangannya entah kemana. Mendadak ia menghawatirkan Yesung. Ia mencoba memutar otaknya, mencoba mencerna apa yang di katakan Yesung beberapa menit yang lalu lewat percakapan di telfon.

 

*Flashback

“Sungie kau dimana? Cepatlah kemari.”

“tenang saja, nanti aku menyusul hyung. karena aku akan mengantarkan sebuah kehidupan untuknya.”

“…”

“pastikan dia bahagia meski aku tak ada kelak. Maafkan aku. Aku mencintai kalian.”

“apa maksudmu?”

Tuut tuut tuut,,, percakapan terputus begitu saja.

*End of lashback

 

Leeteuk menggeram frustasi. Namun sesaat setelahnya ia mendengar beberapa dokter melewatinya dan berkata, “jantung baru telah datang, siapkan operasi.”

 

‘Tungu… jantung baru? Jantung baru?’ entah kenapa kata itu terus terulang di otaknya.

 

“shit!! Kim Yesung!! Jangan bilang…..” umpatnya tiba-tiba.

.

.

.

Setahun berlalu….

Donghae sedang bersama Leeteuk di sebuah lapangan. Lapangan tempat bermainnya dulu bersama Yesung.

“aku senang karena sekarang sedang musim panas.” Ucap Donghae. Leeteuk menatapnya.

“wae?” tanya Leeteuk.

“hangat. Sama seperti hatinya, selalu hangat.” Tutur Donghae menyentuh dadanya lama. Leeteuk mengerti. Dia meninggalkan Donghae sendiri.

“hyung..” ucap Donghae entah pada siapa. Ia masih menutup matanya.

“hyung.. aku sangat tahu. Sejak dulu.. sejak dulu jantungku sudah berhenti berdetak.” Ucapnya tersenyum miris.

“karena.. karena jantung yang berdetak ini adalah jantungmu. Hidup ini.. adalah hidupmu.” Lanjutnya mulai parau.

“bagaimana caranya agar aku bisa hidup bahagia…. tanpamu…” ujarnya. Setitik air mata mulai menetes. Namun tak ada lagi tangisan pilu sekarang. Karena Donghae, Lee Donghae yang separuh hidupnya adalah milik Yesungnya, hyung tersayangnya, sudah beranjak dewasa sekarang.

Tiba-tiba sesuatu menyentuh kaki Donghae. Ia membuka matanya dan menemukan bola yang menggelinding di sekitar kakinya. Ia melihat Leeteuk melambaikan tangannya dari kejauhan. Donghae menyadari sesuatu, “inikah jawabannya?” tanyanya membalas lambaian tangan Leeteuk.

“aku berjanji akan bahagia.. untuk membayar kehidupan yang kau berikan untukku.” Ucapnya pelan, berlari menghampiri Leeteuk.

-END-

 

*Tuwh kan, ceritanya aneh. Hheu.. maaf ya bila kurang berkenan. Silahkan tinggalkan pesan kesan kalian di chapter terakhir ini kawan.

8 thoughts on “Be Happy, Please? [part 4/END]

  1. aku br ninggalin jejak d part ini, aku nebut baca dr part 1.
    aku kira yesung punya penyakt, trnyata..
    hwa.. endingnya mengharukan, jd pengen nangis..

  2. hiks..hiks..hiks…
    Sungguh mengharukan….
    Tpi knp harus Yesung oppa yg meninggal !!
    Sungguh,,aQ pengen puxa ka2k sprt so2kxa Yesung oppa…

    Oya,,sbenarxa fanfic ini sbelumxa udah prnh aQ baca…
    Tpi baru sempat ngasih komenxa !!

    Buat author,,fanficxa keren…

  3. I LIKE THIS FF!! Pas bgt,,q cri yg Yesung donghae brother krn kdua’a adlh biasq !! Huaa!! Daebak crita’a!! Bgian part in aplg akhiran’a bkin aq nyesek bwt nahan tngis..! Huee TT.TT Yesung oppa mninggall!
    Once again,,,, I LIKE THIS FF^^9

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s