Still I Love You part 1

Still I Love You

Title: Still I Love You

Lenght: 1 of ?

Author: Min

Disclaimer: Tokoh yang ada dalam FF ini adalah diri mereka sendiri. FF ini hanya khayalan dan tak ada maksud apapun dalam FF ini. FF ini asli buatan saya yuuri66 © 2012

‘Still I Love You’ adalah FF chapter ke dua belas saya

oOo

Beribu – ribu pertanyaan terus berkelebat didalam pikiranku..

Tentangmu..

Tentangnya..

dan…

Tentang kita..

Tentang suatu rasa, yang sampai saat ini tak mampu ku lukiskan walau hanya lewat kata.

Yang ku tahu, rasa ini telah membelenggu hatiku begitu kuat.

Membuat jiwaku melambung tinggi ke langit..

tapi..

Rasa ini pula yang membuat nafas ku sesak tak tertahankan, seolah malaikat maut tengah merenggut jiwaku..

Apakah kau merasakan hal yang sama?

Atau hanya aku saja yang merasakan hal ini?

*Still I Love You*

Tak pernah terbayang sosok itu akan menghilang dari hidupnya. Cahaya yang selalu menjadi penerang hatinya kini telah redup, tak bersisa. Hanya tersisa kegelapan yang membelenggu jiwa. Ia sadar sebuah jarak kini telah terbentang jelas dihadapannya, tanpa mampu ia lalui.

Still I Love You – LOST

 “Aku mencintaimu, oppa. Aku sangat mencintaimu.”

Hyuna menatap dalam pria didepannya itu. Tampak jelas keterkejutan di wajah pria itu saat mendengar pengakuannya. Hyuna sadar pria itu tak pernah menganggapnya lebih dari seorang adik, tapi tak bisa kah ia berharap lebih dari pria itu. Berharap agar pria itu juga memiliki perasaan yang sama padanya. Berharap pria itu hanya menjadi miliknya seorang.

“Aku serius dengan apa yang aku katakan oppa. Aku mencintaimu!! Amat sangat mencintaimu, Jaejoong oppa!! Aku ingin kau menjadi milikku!! Hanya milikku!!” ujarnya lugas. Ia ingin menekankan pada Jaejoong kalau ia serius dengan perasaannya pada pria itu.

Hyuna terdiam menunggu reaksi Jaejoong selanjutnya. Pria itu hanya diam menatapnya, tanpa mengatakan sepatah katapun.

‘Apa kau mempunyai perasaan yang sama padaku, oppa? Bolehkah aku berharap lebih padamu?’

Jaejoong termangu menatap Hyuna, ia tak menyangka gadis itu akan mengatakan hal seperti itu padanya. Entahlah ia sendiri bingung dengan perasaannya pada gadis itu, ia menyayangi gadis didepannya itu. Amat sangat menyayangi Hyuna!! Tapi ia tak tahu rasa sayang seperti apa yang menggambarkan sosok Jung Hyuna di hatinya. Yang ia tahu, ia tak ingin kehilangan gadis itu!! Ia tak ingin Hyuna pergi jauh darinya tapi-. Apakah yang ia rasakan itu sama seperti yang dirasakan Hyuna padanya? Apakah ia juga ingin memiliki gadis itu hanya untuknya seorang?

Perlahan ia gerakan tangannya, disentuhnya lembut wajah Hyuna. Dapat ia tangkap rona kemerahan di pipi gadis itu. Seketika hatinya terasa hangat melihat reaksi yang ditunjukan Hyuna padanya. Di condongkan wajahnya kearah gadis itu, dapat ia lihat manik mata gadis itu yang meneduhkan. Napas Hyuna terasa lembut menyentuh kulit wajahnya. ‘Rasanya begitu menenangkan sedekat ini denganmu, Hyuna. Hatiku terasa tenang bersamamu. Apakah perasaanku ini sama seperti perasaanmu padaku?’

Dapat ia rasakan jantungnya berdegup kencang tak terkendali, tubuhnya terasa panas. Jaejoong begitu dekat dengannya, bahkan hembusan napas pria itu terasa jelas di wajahnya. Dilihatnya Jaejoong memejamkan mata. Dadanya bergejolak kuat, saat bibir pria itu semakin dekat ke bibirnya. Dialihkan wajahnya cepat dari Jaejoong, tanpa sadar ia pun mendorong tubuh Jaejoong menjauh darinya. Ia tak siap dengan perlakuan Jaejoong padanya.

Jaejoong terkejut saat dirasakan Hyuna mendorong tubuhnya menjauh. Bahkan gadis itu kini mengalihkan wajah darinya. Hatinya terasa perih mendapat penolakan gadis itu.

“Maaf oppa, aku… aku-“ di hirup napasnya dalam, mencoba menenangkan hatinya yang kian bergejolak.

Jaejoong terdiam menatap Hyuna, gadis itu tampak menunduk dalam. Dihelanya napas berat. Disentuhnya puncak kepala Hyuna dan mengusap rambut gadis itu lembut.

“Sepertinya apa yang kau rasakan padaku hanya perasaan sesaat saja, Hyuna.”

Hyuna mengangkat wajahnya cepat. Jaejoong tampak tersenyum getir. Hyuna termangu menatap Jaejoong, raut wajah pria itu tampak kecewa dengan sikapnya tadi.

“Maaf oppa, aku.. aku-“

Jaejoong kembali mengusap kepala Hyuna. “Sudahlah, aku tak akan menganggap serius apa yang kau katakan. Aku hanya menggodamu saja tadi. Habis wajahmu lucu sekali Hyuna” Jaejoong terkekeh kecil.

“Kajha!! Kita pulang!! Aku tak ingin Yunho marah padaku karna membawa adik kecilnya terlalu lama.” Diraihnya jemari Hyuna kedalam genggamannya. Hyuna terpangu menatap jemarinya yang digenggam Jaejoong. Kepalanya terasa berdenyut, perkataannya hanya dianggap gurauan oleh Jaejoong. Jaejoong tak pernah menganggapnya seorang gadis, pria itu hanya menganggapnya adik kecil. Benarkah saat Jaejoong ingin menciumnya tadi hanya candaan semata? Apakah tak ada sedikitpun dirinya di hati Jaejoong?

‘Apa bagimu perasaanku ini hanya gurauan, oppa?’

Jaejoong menatap lurus jalan didepannya. Tangannya menggenggam erat jemari Hyuna. Ia tak menyangka perkataan itu akan keluar dari mulutnya. Ia sadar apa yang ia lakukan tadi bukan hanya sekedar gurauan terhadap Hyuna tapi saat gadis itu mendorongnya tadi, ia sadar; jika ia mencoba melewati jarak antara dirinya dan Hyuna, ia hanya akan menyakiti gadis itu –gadis yang ia jaga dengan sepenuh hatinya, Hyuna. Ia hanya akan menyakiti dan menghancurkan hubungannya dengan Hyuna.

Hyuna terdiam, hatinya terasa sesak. Dadanya membucah menahan pilu di hati. Rasanya ia ingin berteriak melampiaskan semua gejolak yang bercokol dihatinya. Ingin rasanya ia melepaskan genggaman Jaejoong. Tapi tak bisa, ia sangat menginginkan kehangatan setiap Jaejoong menyentuhnya, sampai akhirnya ia sadar; ia menginginkan Jaejoong menjadi miliknya. Hanya miliknya!!

Jaejoong menghentikan langkahnya saat sampai didepan pintu apartement Hyuna. Ditolehkan wajahnya kearah Hyuna yang terdiam di sampingnya. Gadis itu terus menundukkan kepalanya. Jaejoong tersenyum tipis, diusapnya kepala Hyuna.

“Masuklah! Bibi dan Yunho pasti sudah menunggumu didalam.” Dilepaskan genggaman tangannya dari jemari Hyuna. Ia langkahkan kakinya kearah pintu apartementnya yang berada di samping pintu apartement Hyuna.

Hyuna mengangkat wajahnya yang terpekur. Ditatapnya Jaejoong yang kini tengah meraih knop pintu apartementnya. “Aku serius dengan perkataanku, oppa!! Aku mencintaimu!! Aku ingin kau menjadi milikku!!!” ujarnya lugas. Bibirnya bergetar, tak terasa cairan bening mulai menggenang dipelupuk matanya.

Jaejoong terdiam di depan pintu. Ditolehkan wajahnya kearah Hyuna, gadis itu tampak menahan tangis.

“Aku akan menunggumu di balkon kamar seperti biasa, oppa!!” ujarnya cepat. Diraih knop pintu apartemennya, bergegas masuk kedalam.

“Aku tak akan pernah keluar lagi ke balkon kamarku tuk menemuimu, Hyuna. Tak akan pernah!”

Hyuna terdiam sejenak. “Aku akan tetap menunggumu, oppa.” Seraya masuk kedalam apartementnya.

Jaejoong menatap pintu apartement Hyuna yang tertutup. Ia menghirup napas dalam, mencoba menenangkan hatinya. “Jangan membuatku melakukan kesalahan lebih jauh dari ini, Hyuna.” Gumamnya lirih.

**

Hyuna, mata gadis itu menelisik balkon kamar di samping apartemennya, berharap sosok itu akan keluar dari kamar dan berjalan menghampirinya.

“Oppa, ku mohon keluarlah!!Ku mohon…” gumamnya penuh harap.

Manik matanya terpatri kuat menatap balkon kamar samping apartementnya. Tak terasa cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya, perlahan cairan itu mulai membasahi pipinya.

“Ternyata kau serius dengan perkataanmu, oppa.”

Jaejoong mengintip di balik tirai kamarnya. Hyuna, gadis itu masih menunggunya. Menunggunya tuk menghampiri gadis itu. Tapi pengakuan Hyuna padanya tadi, membuatnya sadar hubungannya dengan gadis itu tak boleh melebihi kasih seorang kakak pada adiknya. Ia hanya akan menganggap Jung Hyuna sebagai gadis kecil yang ia jaga dengan sepenuh hatinya. Ia tak ingin Hyuna masuk lebih jauh kedalam hatinya, kedalam pikirannya!!

“Maaf Hyuna, biarlah hubungan kita tetap seperti ini dan tak akan berubah!!”

**

Hyuna menggeliat saat sinar mentari menerobos masuk diantara sela tirai kamarnya. Matanya mengerjap, menyeimbang penglihatannya yang mulai tampak. Matanya berputar melihat sekitar, ia kini berada di dalam kamarnya. Padahal seingatnya, ia tertidur di balkon kamarnya saat menunggu Jaejoong semalam. Siapa yang memindahkannya ke kamar? Seharusnya ia masih berada di balkon. Matanya menatap balkon. Perlahan ia beranjak bangun dan berjalan ke pintu kaca geser yang menghubungkan kamarnya dengan balkon. Digesernya pintu kaca itu, pintu itu tak terkunci.

Seandainya, kakaknya yang membawanya masuk kedalam kamar, pasti pintu kaca geser itu akan dikunci tapi hal itu tidak terjadi. Apakah Jaejoong yang membawanya masuk? Dengan cepat ia langkahkan kakinya ke balkon, matanya menatap jendela kamar Jaejoong yang masih tertutup tirai.

“Apa kau yang membawa ku masuk kekamar, oppa?”

Hyuna mulai menaiki pijakan dinding balkon apartemennya yang terhubung dengan balkon kamar Jaejoong. Saat ia akan melompat ke balkon kamar Jaejoong, tiba – tiba tirai jendela kamar Jaejoong terbuka dan tampak seorang pria keluar dari kamar. Ia terperajat dan terjatuh ke belakang.

“Ya!! Jung Hyuna!! Kau ingin mati hah??” ujar pria itu yang kini telah memeluk tubuhnya kuat dan menariknya ke dalam balkon.

Napas Hyuna tersengal, ia hampir jatuh ke bawah apartement kalau saja pria itu tak menolongnya.

“Aishh kau ini!! Untunglah aku keluar, kalau tidak kau sudah jatuh dan mati!! Kau harus menghilangkan kebiasaanmu yang selalu masuk lewat balkon kamar Jaejoong hyung!!” omel pria itu padanya.

“ Aishh kau tahu, gara – gara kau aku hampir jatuh kebawah!! Kau membuatku kaget saat tahu kau tiba – tiba muncul dari kamar Jaejoong oppa!!”

“Ya!! Kau ini!! Aku yang menolongmu!! Kenapa kau malah menyalahkanku? Setidaknya ucapkan terima kasih padaku!!” ujar pria itu kesal.

Hyuna mendengus. “Ne, gomawo Junsu. Sudah menolongku yang hampir mati!” diulaskan senyum tipis kearah Junsu.

“Itu baru benar.”

Hyuna berjalan masuk melintasi Junsu didepannya. “Junsu, dimana Jaejoong oppa? Biasanya ia masih tidur tapi kenapa hari ini tempat tidurnya sudah rapih!” ditolehkan wajahnya kearah Junsu.

“Kau lupa hari ini tahun ajaran baru? Jaejoong hyung sudah berangkat dengan Yunho hyung daritadi. Kau tidak lupakan, mulai hari ini  kita hanya akan berangkat sekolah berdua? Tanpa Jaejoong hyung dan Yunho hyung.”

Hyuna terdiam memandang Junsu. Ia benar – benar lupa, mulai hari ini ia tak kan bisa melewati masa sekolahnya bersama Jaejoong lagi karena pria itu kini sudah kuliah dan akan memulai kehidupannya sebagai mahasiswa. Membuatnya sadar, akan kehilangan waktunya bersama Jaejoong. Pria itu tak akan lagi bersamanya di sekolah dan menemani harinya.

“Sampai kapan kau akan diam seperti itu? Cepat bersiap!! Aku tak ingin telat di hari pertama kita menjadi siswa kelas XII!!”

Hyuna mengangguk kecil, kemudian berjalan kearah pijakan balkon kamar Jaejoong. “Tunggu aku Junsu. Aku akan bersiap.” Ujarnya. Ia bersiap menaiki pijakkan balkon.

“Ya!! Jung Hyuna!! Jangan lewat dinding balkon lagi!! Lewat pintu depan saja!!!” teriak Junsu histeris.

Hyuna mendengus. Ia menoleh sekilas kearah Junsu. “Lebih cepat lewat sini!!” ujarnya mantap, sambil melompat ke balkon kamarnya.

“Ya!! Jung Hyuna!! Kenapa aku bisa bersabar memiliki teman masa kecil sepertimu?”

Hyuna terkekeh melihat raut wajah Junsu yang tampak kesal padanya. “Junsu, tunggu aku di depan apartement ya!!”

“Aishh kau ini!!!Cepat bersiap!! Kalau tidak, aku tinggal!!”

**

“Yey!!! Kita sekelas lagi Junsu!!” pekik Hyuna senang seraya memeluk Junsu yang berdiri disampingnya.

Junsu menghela napas berat membaca namanya dan Hyuna di kelas yang sama. “Aishh sial sekali aku bisa sekelas denganmu lagi.”

“Hyuna, kau masuk di kelas XII apa?”

Hyuna menoleh kearah sampingnya, tampak temannya –YoungJi tengah membaca pengumuman pembagian kelas.

“XII A Youngji, kita sekelas lagi.” Ujar Hyuna senang dan memeluk Youngji singkat.

“Berarti ini tahun ketiga kita di kelas yang sama Hyuna.”

“Kelas XII A rupanya.”

“Akhh Changmin, kau juga dikelas XII A.” Ujar Junsu seraya menepuk bahu seorang pria.

Hyuna menoleh kearah pria yang kini tengah berbincang dengan Junsu. Pria itu bernama Changmin, ia adalah ketua osis di sekolahnya. Changmin, sosok yang paling ingin didekati oleh para siswi. Ia memiliki reputasi yang sangat baik dari pelajaran sampai ekstrakurikuler. Tak heran ia begitu terkenal di sekolah.

“Wahh senang rasanya bisa sekelas dengan ketua osis. Kenalkan aku Jung Hyuna.” sapa Hyuna ramah, tangannya terjulur kearah Changmin.

Changmin menatap Hyuna yang tengah tersenyum kearahnya. “Shim Changmin.” Seraya menjabat tangan Hyuna.

“Senang bisa sekelas dengan ketua osis yang di idolakan para siswi. Aku Lee Youngji.”

Junsu mendengus melihat Hyuna dan Youngji yang kini tengah mengajak Changmin berbincang. “Aishh dasar kalian berdua!! Changmin, lebih baik kita segera ke kelas!! Tak usah kau hiraukan kedua gadis itu!!” ajak Junsu, dirangkulnya bahu Changmin.

“Ya!! Kim Junsu!! Kau mengganggu saja!!” teriak Youngji kesal.

“Ya!! Lee Youngji!! Kau itu berisik sekali!!!” balas Junsu.

Mata Youngji membulat mendengar perkataan Junsu padanya. “Mwo?? Apa katamu??? Kau ingin kuhajar hah??” Youngji mendengus kesal.

Hyuna terkekeh kecil melihat perdebatan Junsu dan Youngji. Dengan cepat ia rangkul bahu Youngji dan mengajak gadis itu tuk menyusul Junsu dan Changmin yang berjalan kearah kelas baru mereka.

“Kajha!! Kita susul Junsu dan Changmin.” Ajak Hyuna.

“Aishh sial sekali aku bisa sekelas dengan Junsu lagi!!” umpat Youngji kesal.

“Tapi bagi Junsu, ia beruntung bisa sekelas lagi denganmu.”

Youngji menoleh cepat kearah Hyuna. “Mwo?? Maksudmu??”

Hyuna tersenyum kecil kearah Youngji. “Kau tanya saja langsung pada Junsu.” Di kedipkan sebelah matanya kearah Youngji.

**

“Rasanya menenangkan ya?”

Jaejoong menoleh ke sampingnya. Ditatapnya sekilas wajah sahabatnya –Yunho, kemudian kembali fokus menyetir. “Apa maksudmu dengan menenangkan, Yunho?”

Yunho melipat tangannya di depan dada. Ditolehkan kepalanya kearah Jaejoong yang tengah menyetir. “Tidak ada yang berisik lagi sekarang.”

Alis Jaejoong terpaut. Ia tak paham arah pembicaraan sahabatnya itu. “Maksudmu?”

“Tidak ada Hyuna yang ribut ingin duduk disamping kemudimu dan tidak ada Junsu yang ribut minta menyalakan tv di dalam mobil.”

Jaejoong terkekeh kecil. “Kau benar, sudah tidak ada mereka berdua lagi yang berangkat bersama kita.”

“Juga tidak akan ada lagi Hyuna yang selalu datang kekelas kita setiap jam istirahat.” tambah Yunho

Jaejoong kembali terkekeh. “Ne, kau benar.”

“Aishh kadang aku heran dengan Hyuna, kenapa ia lebih sayang kau dibanding aku yang kakaknya!! Hah~ rasanya menyebalkan setiap ia mendahulukanmu dibanding aku!!” Yunho menghela napas dalam. Kembali matanya menatap Jaejoong.

Jaejoong terdiam, mulutnya enggan tuk berucap menanggapi perkataan Yunho. Mengingat pengakuan Hyuna semalam padanya, sudah membuatnya penat. Ia tak menyangka gadis itu menyatakan cinta padanya. Bahkan gadis itu rela menunggunya di balkon kamar semalaman.

Hyuna, gadis itu tampak asing dimatanya. Gadis itu bukan seperti Hyuna yang ia kenal, bukan Hyuna yang selalu bermanja padanya, bukan Hyuna yang selalu bergantung padanya, bukan Hyuna adik kecilnya. Hyuna yang ia lihat semalam, seorang gadis yang beranjak dewasa dan telah mengenal cinta. Tergambar jelas dari sorot mata dan keseriusan gadis itu padanya.

Walaupun ia mengatakan, gadis itu hanya bergurau tapi ia sendiri sadar tak ada gurauan dari setiap perkataan Hyuna padanya semalam. Karna ia paham seperti apa seorang Jung Hyuna. Ia mengenal Hyuna seperti mengenal dirinya sendiri. Tapi apakah ia benar – benar mengenal Hyuna? Mengenal Hyuna yang menyatakan cinta padanya?

“Kau iri? karena beranggapan adikmu lebih menyanyangi aku dari pada kau. Padahal adikku sendiri lebih menyayangimu dibanding aku.”

“Akhh itu karna aku dan Junsu menyukai hal yang sama. Kami sama – sama menyukai sepakbola, sedangkan kau lebih menyukai basket.”

“Walaupun rasanya menenangkan seperti ini tapi entah kenapa aku jadi merindukan Junsu dan Hyuna. Aku rindu dengan keributan yang mereka ciptakan setiap kita akan berangkat sekolah.”

“Kau berkata seperti itu seolah kita tak akan bertemu mereka lagi Yunho. Kita masih bersama mereka dirumah dan menghabiskan waktu kita bersama mereka berdua.”

“Kita sudah dewasa Jaejoong, ada hal yang tak mungkin bisa kita lakukan bersama lagi. Kita bukan lagi anak kecil yang bebas bermain, kita sudah harus memikirkan masa depan. Kita akan menjadi orang yang seperti apa? Siapa pendamping hidup kita kelak? Begitupula dengan Hyuna dan Junsu, kita tak mungkin selamanya menjaga mereka berdua. Kita semua sudah beranjak dewasa dan akan mengambil jalan hidup kita masing – masing.”

“Sejak kepergian ayahku, baru sekarang terpikir; siapa yang akan mendampingi hidup Hyuna kelak? Siapa yang akan menjaganya? Aku tak bisa selalu menjaganya. Aku akan punya jalan hidupku sendiri begitupula dengan Hyuna. Baru aku sadari sekarang, adikku bukan lagi adik kecilku tapi ia mulai tubuh menjadi gadis dewasa dan suatu saat aku akan melepasnya pergi. Junsu pun seperti itu, kau tak mungkin selalu bersama dengannya, Jaejoong”

Jaejoong terdiam. Perkataan Yunho membuatnya sadar, semua telah berubah. Ia, Yunho, Junsu dan Hyuna semuanya akan memiliki jalan hidup masing – masing. Tak akan bisa selalu bersama.

“Kau benar Yunho, kita semua telah beranjak dewasa dan akan menempuh jalan yang berbeda dalam hidup kita. Akupun baru menyadarinya, kita tak akan selalu bersama seperti dulu.”

**

Hyuna menghela napas dalam, ditelungkupkan wajahnya di meja. “Membosankan!!! Tidak ada Jaejoong oppa lagi di sekolah!!” gerutunya.

“Ya!! Jung Hyuna!! Kerjaanmu hanya menggerutu saja!! Aku yang adiknya Jaejoong hyung, biasa saja ia sudah tak di sekolah ini.”

Hyuna mengangkat wajahnya, ditolehkan wajahnya kearah meja belakang. Matanya menyipit menatap Junsu. “Ya!! Kim Junsu!! Memangnya salah aku rindu dengan Jaejoong oppa hah??”

Junsu mencibir. “Aishh kau ini!! Tentu saja salah!! Mestinya kau rindu dengan Yunho hyung bukan dengan Jaejoong hyung!! Sebenarnya kau atau aku yang adiknya Jaejoong hyung hah??”

“Tentu saja kau tapi biasanya jam istrahat seperti ini aku sudah berada di kelas Jaejoong oppa. Rasanya membosankan tidak bersamanya seperti sekarang.”

Junsu menghela napas dalam. “Kau kan masih bisa menemuinya nanti setelah Jaejoong hyung pulang kuliah.”

Hyuna terdiam. Kepalanya tertunduk. Ia sangat ingin bersama Jaejoong saat ini – akh bukan hanya saat ini tapi untuk seterusnya dan selamanya. Tapi sepertinya tidak mungkin, apa yang ia rasakan di hatinya, tidak sama dengan perasaan Jaejoong padanya. Jaejoong hanya menganggapnya adik, tak lebih dari itu. Ia sendiri masih meraba hatinya, kenapa ia bisa begitu menginginkan Jaejoong hanya menjadi miliknya? Kenapa ia bisa menyimpulkan perasaannya pada Jaejoong adalah cinta? Bahkan ia berani mengakui langsung perasaan itu pada Jaejoong. Yang ia tahu, ia tak ingin Jaejoong pergi dari hidupnya.

“Aishh Hyuna, bisakah kau tidak bersikap seperti itu? Kau tahu, setiap kau mendatangi kelas Jaejoong hyung dulu, hampir setiap siswi membicarakanmu terutama kakak kelas kita!! Kau dengan beraninya ke area kelas XII demi menemui Jaejoong hyung!! Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu hah?”

Hyuna mengangkat wajahnya. Ditatapnya Junsu lekat. Junsu yang ditatap seperti itu oleh Hyuna sedikit bergedik. “Ya!! Jung Hyuna!! Jangan menatapku seperti itu!!” herdik Junsu, sorot mata Hyuna tampak berbeda saat memandangnya dan baginya, Hyuna seperti orang yang berbeda.

“Aku rasa, kau mengerti kenapa aku bersikap seperti itu Junsu.”

Junsu terdiam. Hyuna benar, ia tahu kenapa gadis itu bisa bersikap seperti itu, karna Hyuna sangat menyayangi Jaejoong –kakaknya. Bukan sekedar menyayangi tapi gadis itu mencintai kakaknya. Ya, Hyuna mencintai Jaejoong. Gadis itu begitu bergantung pada Jaejoong, Jaejoong lah yang paling banyak menghabiskan waktunya bersama Hyuna dibandingkan dengan Yunho yang kakak kandung Hyuna. Dari kecil, Jung Hyuna hanya memandang kakaknya. Hanya ada Jaejoong dilingkup pandangan Hyuna bahkan sampai sekarang.

“Aku tidak mengerti dan tak akan mau mengerti!!”

Hyuna mencibir. “Jangan membuatku tuk menjelaskan padamu Junsu.”

“Aku tidak butuh penjelasanmu. Karna bagiku tak akan ada yang berubah walau kau menjelaskannya sekalipun!! Tak akan pernah berubah!” ditekankan setiap perkataannya.

“Junsu, aku-“

‘Sreg’ terdengar suara kursi yang bergeser

“Maaf Junsu, aku permisi. Sepertinya aku berada ditengah pembicaraanmu dan Hyuna.”

Hyuna mendongak menatap pria yang kini sudah beranjak bangun dari duduknya. Ia tak menyadari, pria itu berada diantaranya dan Junsu daritadi. Kalau saja pria itu tak permisi pergi, mungkin ia akan terus berbicara dengan Junsu tentang perasaannya pada Jaejoong.

“Akhh maaf Changmin membuatmu terganggu.” Ujar Junsu cepat, saat Changmin beranjak bangun dari kursi disampingnya sembari mengambil bukunya yang berada disamping meja Junsu.

Changmin hanya tersenyum kecil, membalas perkataan Junsu. Kembali ia langkahkan kakinya pergi meninggalkan kelas.

“Aishh gara – gara kau Changmin jadi pergi kan!!! Sepertinya pembicaraan kita membuatnya tak nyaman!” tuding Junsu.

Hyuna beranjak bangun dari duduknya dan bergegas menyusul Changmin. Junsu benar, pembicaraannya dan Junsu membuat Changmin tak nyaman. Bahkan pria itu lebih memilih pergi dari kelas karna pembicaraan itu.

“Ya!! Jung Hyuna!! Kau mau kemana? Kita belum selesai bicara!!!” teriak Junsu, begitu Hyuna beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kelas.

**

Hyuna mempercepat langkahnya saat melihat Changmin tak jauh darinya. “Changmin!!” panggilnya.

Hyuna semakin mempercepat langkahnya begitu Changmin menoleh dan menatapnya. Diulas senyum simpul kearah Changmin.

“Ada apa?”

“Aku ingin minta maaf padamu.”

Alis Changmin terpaut. “Minta maaf untuk apa?”

“Karna membuatmu tak nyaman saat berada di kelas tadi dengan pembicaraanku dan Junsu.”

Changmin terkekeh. “Kau merasa bersalah padaku karna itu?”

Hyuna mengangguk. “Ne, aku tidak menyadari kau teman sebangku Junsu dan maaf pembicaraanku tadi mengganggumu saat membaca.”

Changmin menghela napas dalam. “Aku sudah terbiasa kalau kau tak pernah menyadari kehadiranku, Hyuna.”

Hyuna menyerengit bingung, alisnya terpaut. Ia tak mengerti maksud perkataan Changmin. Perkataan Changmin seperti mengisyaratkan kejadian tadi pernah terjadi sebelumnya. “Maksudmu? Aku tak pernah menyadari kehadiranmu?”

“Bukankah selama ini, pandanganmu hanya terfokus pada satu orang saja? Kau tak perduli dengan sekitarmu.”

Hyuna benar – benar di buat bingung dengan perkataan Changmin. Ia tak paham arah pembicaraan pria didepannya itu. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

Changmin kembali menghela napas panjang. Detik berikutnya bibirnya mengukir senyum tipis tuk Hyuna. “Bahkan kau melupakan saat itu. Padahal aku selalu ingat dan tak pernah sekalipun terlupa.”

“Aku tak mengerti maksud perkataanmu. Apa yang terlupa?”

“Kau selalu memandangnya, tapi kau tak pernah tahu saat kau memandangnya ada seseorang juga yang selalu memandangmu.” Diusapnya puncak kepala Hyuna. Dibalikkan tubuhnya dan meninggalkan Hyuna yang kini diam terpaku.

Hyuna menyentuh puncak kepalanya yang di sentuh Changmin tadi. Dipandangnya sosok Changmin yang mulai menjauh dari pandangannya. Otaknya berputar mencerna maksud perkataan Changmin tadi. “Apa maksud perkataanmu Changmin? Aku tidak mengerti.”

**

Jaejoong menatap auditorium didepannya. Kakinya enggan melangkah masuk. Entahlah ia sendiri tak yakin akan mendaftar di club basket lagi saat kuliah. Tapi selebaran kegiatan club yang diberikan tadi pagi saat orientasi mahasiswa baru membuatnya tertarik.

“Apa perlu aku ikut kegiatan club basket lagi?”

“Sudah ikut saja. Katanya kalau kita tidak ikut club di kampus, nilai keaktifan kita akan berpengaruh. Apa kau tahu hal itu?”

Jaejoong sedikit terperajat saat seorang gadis sudah berdiri disampingnya dengan senyum menghiasi wajahnya.

“Kau siapa?”

Gadis itu kembali tersenyum. Dijulurkan tangannya kearah Jaejoong. “Aku Jin Heeyoung. Mahasiswi jurusan design semester pertama. Kau?”

“Kim Jaejoong, mahasiswa jurusan sastra semester pertama.” Dijabatnya tangan Heeyoung, tanda perkenalan.

“Senang berkenalan denganmu, Jaejoong. Apa kau berencana masuk club basket?”

Jaejoong mengangguk singkat. “Ne, rencananya seperti itu. Apa kau juga?”

“Ne, aku akan masuk club basket.”

“Bukankah di Universitas Sunkyunkwan ini tidak ada club basket putri?”

Heeyoung terkekeh. Ditatapnya Jaejoong. “Tapi tim basket putra pasti membutuhkan manager bukan? Aku akan mendaftar sebagai manager tim basket. Lagipula tertulis di selebaran ini.” Seraya mengangkat selebaran yang sama dengan yang dipegang Jaejoong.

“Kajha!! Kita masuk!!” ajak Heeyoung, sambil menarik Jaejoong masuk.

“Akhh ternyata sudah cukup banyak yang mendaftar menjadi anggota club basket.” Ujar Heeyoung matanya berputar menatap sekeliling auditorium.

“Ne, kau benar.”

“Baiklah!! Dengar semuanya!! bagi mahasiswa baru yang ingin bergabung dengan club basket  silahkan membentuk barisan tiga berbanjar didepan saya. Kami akan mulai mendata!!” Terdengar teriakan seorang pria dari tengah auditorium.

“Ya!! Cepat kita berbaris!!” ajak Heeyoung antusias, kembali ia menarik Jaejoong bersamanya.

“Baiklah, rapihkan barisan kalian. Kami akan mulai mendata para anggota baru.” Ujar pria yang tadi berteriak ditengah auditorium.

“Perkenalkan nama saya Park Yoochun. Saya adalah kapten club basket Universitas Sunkyunkwan. Saya berterima kasih atas kehadiran kalian diruang auditorium ini. Saya senang ternyata banyak mahasiswa baru yang tertarik untuk masuk club basket. Bahkan diantara para pria yang mendafar, ada seorang wanita yang juga ikut mendaftar. Sudah ku duga kau akan datang Heeyoung.” Diulas senyum tipis kearah Heeyoung.

Jaejoong menoleh cepat kearah Heeyoung yang berdiri disampingnya. Ditatapnya wajah Heeyoung. “Kau mengenal kapten basketnya?”

Heeyoung mencibir.  Matanya menatap tajam Yoochun. Kemudian ia mendelik kearah Jaejoong. “Hanya kebetulan kenal.” Seraya tersenyum tipis.

“Benarkah?”

“Ne, hanya kebetulan saja mengenalnya.” Ditegaskan kalimatnya. Matanya kembali menatap Yoochun tajam.

Jaejoong terdiam. Ditatapnya Heeyoung, gadis itu tampak menyembunyikan sesuatu. Sepertinya ada sesuatu antara gadis itu dengan Yoochun. Tapi apa?

**

“Ya!! Hyuna!! Kau pulang duluan ya!! Aku masih ada urusan di clubku!!”

Mata Hyuna membulat mendengar perkataan Junsu. “Ya!! Kim Junsu!! Kau tega membiarkan sahabatmu ini pulang sendiri dengan bus hah??”

“Kalau kau tidak mau pulang sendiri dan naik bus, kau tunggu aku sampai kegiatan club sepak bola selesai.”

“Mwo?? Ya!! Bukankah kau tahu kita harus cepat pulang!! Omma kita akan merayakan hari pertama kita menjadi siswa kelas XII dan hari pertama Yunho oppa dan Jaejoong oppa menjadi mahasiswa!!!”

Junsu mendengus kesal. Matanya mendelik menatap Hyuna. “Aku tahu tapi aku adalah kapten club sepak bola tidak mungkin aku pulang lebih dulu daripada anggotaku!!”

“Ya!! Kau suruh saja wakilmu yang menggantikanmu!! Lalu kau pulang denganku!!” rajuk Hyuna.

“Aishh Jung Hyuna!! Kau ini benar – benar ya!! Akh kenapa aku bisa bersabar denganmu!!” tangannya mengepal geram, dihirupnya napas dalam mencoba menenangkan hatinya.

“Aku tak bisa!! Changmin sedang rapat osis sekarang!! Sudah kau pulang duluan bantu omma dan bibi, menyiapkan acara nanti malam.”

“Eh Changmin wakil club sepak bola?”

“Aishh kau ini!! Ne, Changmin adalah wakilku di club sepak bola. Tidak mungkinkan aku berbincang dengannya tadi pagi dan sebangku dengannya kalau aku tak mengenalnya. Sudah kau pulang sana!!” di dorongnya Hyuna keluar ruang club sepak bola.

“Ya!! Kim Junsu!! Aku tak mau pulang naik bus!!!!” rengek Hyuna.

**

“Baiklah, cukup tuk kegiatan awal club basket ini. Minggu depan kita akan mulai latihan. Sekarang kalian dipersilahkan tuk bubar!!” ujar Yoochun mengakhiri kegiatan club basket.

“Fuih akhirnya selesai juga, bosan rasanya daritadi hanya mendengar celotehan Yoochun sunbae.”

Jaejoong terkekeh kecil melihat Heeyoung yang kini mencibir ke arah Yoochun. “Kau ini selalu berterus terang dengan apa yang kau rasakan ya.”

“Lebih baik berterus terangkan? Daripada dipendam, terasa menyakitkan.”

Jaejoong terdiam. Kemudian senyum simpul menghias bibirnya. “Ne, kau benar.”

“Akhh Jaejoong, apa kau akan langsung pulang?”

“Aku-“

“Ya!! Jaejoong!!!”

Jaejoong menoleh kearah asal suara tersebut. Tampak Yunho yang kini tengah berlari kearahnya. Kembali ditolehkan kepalanya kearah HeeYoung. “ Sepertinya aku akan langsung pulang. Memangnya ada apa?”

“Akhh tadinya aku ingin meminta kau menemaniku membeli perlengkapan club yang di suruh Yoochun sunbae. Tapi sepertinya lain kali saja.” Matanya menatap pria yang kini berjalan kearahnya dan Jaejoong.

“Jaejoong, kau sudah selesai?” tanya Yunho.

“Ne. Bagaimana denganmu?”

“Aku juga sudah. Akhh siapa gadis yang bersamamu ini?” matanya mendelik kearah Heeyoung.

Heeyoung yang merasa ditatap Yunho, menjulurkan tangannya. “Jin Heeyoung, mahasiswi design semester pertama sekaligus manager club basket yang baru.” Diulaskan senyum kearah Yunho.

“Jung Yunho, mahasiswa teknik semester pertama sekaligus sahabatnya Jaejoong. Senang berkenalan denganmu.” Dijabatnya tangan Heeyoung.

“Yunho, aku akan menemani Heeyoung dulu membeli beberapa perlengkapan club. Kau mau ikut?”

“Akhh Jaejoong, tidak usah lain kali saja. Aku tak enak sampai merepotkan Yunho juga.” Disilangkan tangannya didepan dada.

“Baiklah, aku tak masalah. Ya!! Tenang saja aku tidak merasa direpotkan.”

“Tapi aku rasa tidak usah, biar aku pergi sendiri saja.” Ujar Heeyoung tak enak.

“Sudahlah Heeyoung, kami tak merasa direpotkan olehmu.” Ujar Jaejoong seraya tersenyum.

“Kajha, kita jalan!!” ujar Jaejoong dan Yunho bersamaan seraya berjalan pergi.

Heeyoung menghela napas dalam. Ditatapnya sejenak  Jaejoong dan Yunho yang semakin menjauh darinya. “Sepertinya menyenangkan jika pergi dengan mereka berdua.”

**

“Khaja, masuklah!!” dipersilahkannya Heeyoung masuk ke dalam mobilnya.

“Akkh maaf merepotkan, Jaejoong.”

“Gwachana, masuklah.” Di bukakannya pintu belakang mobil.

“Ya!! Heeyoung!! Kau mau kemana?? Aku mencarimu daritadi!!”

Heeyoung menoleh cepat saat mendengar suara yang dikenalnya. Seorang gadis tengah berjalan kearahnya dengan tangan terlipat didepan dada. Air wajah gadis itu tampak kesal padanya. Diulaskan senyum getir kearah gadis itu.

“Kau mengenal gadis itu?” tunjuk Yunho kearah gadis yang berjalan kearah mereka.

“Ne, dia sahabatku Soo Hyewon.”

“Ya!! Kau ini!! Aku seharian menunggumu di perpustakaan tapi kau malah disini dan siapa kedua pria ini?” matanya mendelik kearah kedua pria yang berdiri disamping Heeyoung.

“Akkh maaf, Hyewon. Aku lupa padamu.” Ujar Heeyoung menyesal. “Ini Jaejoong dan Yunho.” Sembari memperkenalkan Jaejoong dan Yunho.

“Ini Soo Hyewon, sahabatku. Dia mahasiswi jurusan psikologi, semester pertama seperti kita.”

Jaejoong dan Yunho tersenyum kearah Hyewon. “Annyeong Hyewon.” Salam mereka berdua.

Hyewon menghela napas dalam. Matanya menatap Jaejoong dan Yunho bergantian. “Annyeong Jaejoong. Annyeong Yunho.” Diulaskan senyum kearah kedua pria itu.

“Apa kau akan pergi dengan mereka berdua dan meninggalkan aku sendiri??”

“Eh aku… aku..” Heeyoung tergagap. “Aku.. aku-“

“Kau ikut saja bersama kami Hyewon, kami akan menemani Heeyoung membeli keperluan club basket.” Tawar Jaejoong.

“Benarkah? Aku boleh ikut?”

“Ne, tentu kau boleh ikut.” Jawab Yunho.

Hyewon tersenyum senang dengan cepat ia melewati Heeyoung dan masuk kedalam mobil. “ Dengan senang hati aku akan ikut.” Ujarnya riang, kini ia sudah duduk di kursi belakang.

Yunho terkekeh kecil. “Temanmu mudah sekali berubah jadi senang ya.”

“Akhh maafkan sikap Hyewon ya.” Ujar Heeyoung tak enak.

“Sudahlah, kau juga masuk. Kita harus membeli keperluan club kan?”

Heeyoung mengangguk “Ne.” Lalu masuk kedalam mobil.

**

Hyuna menghela napas panjang. Rasanya lelah menunggu bus yang ingin ia naiki tak kunjung datang. Dipandangnya arloji dipergelangan kiri tangannya, hampir satu jam ia menunggu bus.

“Akhh kalau seperti ini, lebih baik aku menunggu Junsu saja tadi.” Gerutunya sesal.

“Ukhh kalau saja Jaejoong oppa belum kuliah, aku pasti akan pulang bersamanya. Menyedihkan sekali jika mengingat hal itu.” Tak terasa cairan bening mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Oppa, aku rindu denganmu.”

**

“Jadi kalian berdua bersahabat sejak kecil sampai sekarang?” tanya Hyewon tak percaya, setelah mendengar cerita tentang persahabatan Jaejoong dan Yunho.

“Ne, kami bersahabat sejak kami lahir. Karena ibu kami juga bersahabat sejak kecil.” Jawab Yunho.

“Wahh aku dan Heeyoung saja baru bersahabat sekitar 6 tahun tapi kalian berdua sejak lahir.”

“Jangan – jangan rumah kalian bertetangga?”

Jaejoong terkekeh kecil. “Ne, apartement kami bersebelahan.” Jawabnya sambil tetap fokus menyetir.

“Wahh berarti kalian berdua selalu bersama.”

Yunho mengangguk kecil. “Ne, kami berdua selalu bersama.” Ditolehkan wajahnya menatap Jaejoong.

“Apakah kalian juga memiliki tipe gadis yang sama?” tanya Hyewon.

“Akhh itu-“ pekik Jaejoong dan Yunho bersamaan. Mereka berdua tampak salah tingkah.

“Ya!! Hyewon!!!” Heeyoung menyenggol tangan Hyewon cepat. Ditatapnya tajam sahabatnya itu. “Akh maafkan Hyewon ya, dia memang seperti itu.”

“Ya!! Heeyoung!! Aku kan hanya bertanya saja!! Memangnya salah??”

Heeyoung mencibir. “Aish kau- Akhh kau ini.” Dihelanya napas dalam, mencoba tuk tenang.

“Hahahahha sudahlah tak apa. Ya kan Yunho?”

“Ne, lagipula kami sudah biasa ditanya hal seperti itu.” Sambil menoleh kearah Hyewon dan Heeyoung di kursi belakang.

“Tuh kau dengarkan, mereka saja sudah biasa ditanya seperti itu!!”

Heeyoung hanya bisa menghela napas dalam mendengar perkataan sahabatnya itu. “Terserah kau saja lah.”

“Yunho, bukankah itu-“ Jaejoong memperlambat laju mobilnya, begitu matanya menangkap sosok yang dikenalnya tengah duduk di kursi halte bus didepannya.

Yunho mengikuti arah pandang Jaejoong. Matanya membulat. “Hyuna!!” pekiknya. “Kenapa ia bisa disana?? Kenapa ia tidak bersama Junsu?”

“Siapa Hyuna?” tanya Hyewon dan Heeyoung bersamaan.

“Dia adikku. Jaejoong, cepat tepikan mobilnya.” Pinta Yunho.

Jaejoong mengangguk. Kemudian menepikan mobilnya tepat didepan halte bus.

**

Hyuna mengangkat wajahnya, saat mobil sport hitam berhenti tepat didepannya. Matanya membulat, dua orang pria dan dua orang wanita keluar dari mobil itu dan berjalan menghampirinya.

“Hyuna, sedang apa kau disini? Mana Junsu?” tanya Yunho, kakaknya.

Hyuna terdiam. Tak terasa air mata mulai membasahi pipinya. “Oppa…”

Yunho mulai panik, saat adiknya tiba – tiba menangis. “Ya!! Kenapa kau malah menangis? Sudah jangan menangis!! Semua orang melihat kearah kita!!!” dikeluarkan sapu tangannya, dangan cepat ia hapus airmata adiknya itu.

“Aku.. aku- aku kira..tak akan pernah bisa melihatmu lagi oppa.. Aku.. aku- rindu denganmu, oppa..” ujar Hyuna terisak, ditatapnya Jaejoong yang hanya diam menatapnya.

“Hah?? Ya!! Jung Hyuna!! Kau ini kenapa?” Yunho menyerengit bingung mendengar perkataan adiknya itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan adiknya itu?

Jaejoong perlahan berjalan kearah Hyuna. Wajah gadis itu memerah dan basah dengan air mata. Diusapnya puncak kepala Hyuna. “Sudah jangan menangis lagi.” Di sekanya airmata Hyuna.

Air mata Hyuna kian tak terbendung saat Jaejoong menyeka air matanya. “Oppa… aku.. aku“ diselingi isak tangis. “aku.. aku- rindu denganmu oppa.”

“Sudah jangan menangis lagi.” Ditariknya Hyuna kedalam pelukannya. Diusapnya lembut rambut Hyuna. “Jangan menangis lagi Hyuna, kumohon.” Dipererat pelukannya ditubuh gadis itu. “Berhentilah menangis.”

Yunho menghela napas dalam, melihat Jaejoong yang kini tengah memeluk adiknya itu. Pemandangan seperti itu sudah biasa ia lihat –Jaejoong memeluk Hyuna, adiknya. Ia tahu, dirinya tak piawai menghentikan tangis adiknya dari dulu.

Ia sadar walaupun ia adalah kakak Hyuna bukan berarti ia tempat bersandar adiknya itu. Hyuna telah memilih sahabatnya tuk jadi sandaran. Tapi ia tak ingin Hyuna selalu bersandar pada Jaejoong, bukan ia iri pada Jaejoong melainkan ia takut saat Jaejoong tak bisa lagi menjadi sandaran adiknya, adiknya akan merasa kehilangan dan tersakiti. Ia tak mau hal itu sampai terjadi.

“Akh Yunho.” Panggil Heeyoung.

“Akh ne, maaf suasananya jadi tak mengenakan seperti ini.” Ia hampir melupakan, kalau ada Heeyoung dan Hyewon yang ikut dengannya dan Jaejoong, perihal Hyuna membuatnya melupakan kedua gadis itu.

“Gwachana, aku rasa tidak usah saja membeli perlengkapan club basket hari ini.” Ujar Heeyoung, seraya tersenyum.

“Loh memangnya kenapa?”

“Kami berdua tak enak hati dan lagipula kau sepertinya harus membawa adikmu pulang.” Jawab Heeyoung, matanya menatap Jaejoong yang tengah memeluk adik Yunho.

Yunho mengikuti arah pandang Heeyoung. “Akhh maaf, adikku memang selalu seperti itu pada Jaejoong.”

“Lebih baik aku dan Hyewon permisi pamit dan sampaikan salamku pada Jaejoong.”

“Sampai jumpa, Yunho.” Pamit Hyewon.

“Maaf tak bisa mengantar kalian berdua.”

“Ne, gwachana.” Ujar Heeyoung dan Hyewon bersamaan seraya berjalan pergi.

Yunho kembali menghela napas berat, ditolehkan wajahnya kearah Jaejoong dan Hyuna yang masih terus berpelukan. “Hah~ sampai kapan mereka berdua akan seperti itu?”

**

“Kau ini, selalu saja seperti itu!! Kau harus membiasakan dirimu tak ada kami!! Aku pikir, kau habis disakiti orang jahat dijalan tadi, ternyata kau hanya merindukan Jaejoong!!” celoteh Yunho kesal. Di tolehkan wajahnya kearah Hyuna yang berjalan dibelakang Jaejoong.

“Kau ini sudah dewasa Hyuna!! Baik Jaejoong dan aku tak akan bisa selalu bersamamu!! Kau harus membiasakan hal itu!! Jangan jadi gadis yang manja!!”

Hyuna menghentikan langkahnya. “Oppa, tidak mengerti perasaanku!!” ujarnya lugas.

Yunho menghentikan langkahnya. Dipandangnya Hyuna lekat. “Apa maksudmu?” dilihatnya wajah Hyuna mulai memerah, menahan tangis.

“Baik oppa maupun Jaejoong oppa lah yang membuatku menjadi seperti ini!! Kalian berdualah yang membuatku menjadi bergantung pada kalian!!” dihirupnya napas dalam, matanya mendelik keatas menahan agar tangisnya tak tumpah.

Jaejoong menolehkan wajahnya kearah Yunho, begitupun sebaliknya. “Apa maksudmu, Hyuna?” Jaejoong buka suara.

Ditatapnya Jaejoong dan Yunho bergantian. Dihelanya napas dalam. “Aku sudah terbisa dengan kehadiran oppa dihidupku, kita selalu bermain bersama, sekolahpun masuk sekolah yang sama, oppa dan Junsu selalu ada disisiku, melindungiku, kalian tak pernah beranjak sekalipun dari sisiku. Membuatku terbiasa dan tak ingin terpisah dari kalian. Sama sekali tidak!!” air matanya mulai menetes jatuh.

“Aku tahu apa yang aku katakan terdengar egois bagi oppa tapi aku tak tahu harus berbuat apa, aku tak ingin kalian pergi dari hidupku. Aku tak ingin kalian pergi dari sisiku.” Ujarnya terisak. Air matanya terus mengalir tak terbendung lagi.

“Hyuna, kau-“

“Ada apa dengan kalian bertiga? Kenapa malah ribut didepan pintu seperti itu?” tanya Ny. Kim yang keluar saat mendengar suara ribut didepan pintu apartementnya.

“Akhh Omma kami-.”

“Kalian bertiga sudah pulang? Mana Junsu? Akh Hyuna, kau kenapa nak?” tanya Ny. Jung yang keluar dari pintu apartement keluarga Kim.

Hyuna menghapus air matanya cepat. “Gwachana omma, aku hanya kurang enak badan.” Diraihnya knop pintu apartemennya dan bergegas masuk.

Ny. Jung menyerengit bingung melihat perangai putrinya. Ditolehkan wajahnya kearah putranya, Yunho. Ditatapnya penuh selidik. “Kenapa dengan adikmu?”

Yunho tergagap “Akhh Hyuna dia.. dia-“

“Ada sedikit masalah disekolahnya tadi bi. Biar aku yang menemuinya.” Ujar Jaejoong cepat. Ditolehkan wajahnya kearah Yunho sekilas.

“Ne omma, ada sedikit masalah dengan sekolahnya tadi.” Timpal Yunho. Ia tak mau ibunya sampai curiga perihal perangai Hyuna tadi.

“Benarkah seperti itu?” tanya Ny. Jung tak yakin.

“Benar bibi. Nanti aku akan menemui Hyuna dan menenangkannya.”

Ny. Jung menghela napas dalam. “Baiklah. Kalau begitu kami berdua akan kembali menyiapkan tuk acara nanti malam.” Ujar Ny. Jung sambil mengajak Ny. Kim kembali masuk.

Yunho menghela napas lega, saat melihat Ibunya masuk kedalam. Ditatapnya Jaejoong. “Aku tak tahu harus melakukan apa pada Hyuna, dia tidak tampak seperti adikku tadi. Hyuna, dia- dia telah berubah.” Dipijat pelipisnya yang terasa pening, mengingat sikap adiknya tadi.

Jaejoong menolehkan wajahnya kearah pintu apartement Hyuna. Dihelanya napas berat. “ Ne, kau benar Hyuna telah berubah.”

‘Bahkan aku tak mengenal sosok Jung Hyuna yang tadi. Ia terasa asing dipandanganku.’

**

Dihempaskan tubuhnya kasar kearah tempat tidur. Diraihnya boneka teddy bear besar dan memeluknya erat. Air matanya tak henti mengalir. Napasnya terasa sesak. Ia menangis sekuat yang ia bisa, melampiaskan rasa yang membelenggu hatinya begitu kuat. Entah kenapa ia membenci dirinya sendiri! Ia membenci sosok Jung Hyuna tadi. Ia membenci dirinya saat berkata kasar dan egois pada Jaejoong dan Yunho. Ia benci dirinya yang rapuh, yang tak kuat membendung air mata. Ia sadar, Jung Hyuna bukanlah gadis yang bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, ia hanya parasit bagi Jaejoong dan Yunho.

“Kenapa??” air matanya terus berderai. “Hyuna, kenapa kau begitu bodoh? Kenapa bersikap seperti itu? Kenapa kau begitu egois?”dipererat pelukan pada bonekanya. Tangisnya kian tak terbendung.

“Bodoh!! Bodoh!! Kau bodoh Jung Hyuna!! Amat sangat bodoh!!” runtuknya.

**

Jaejoong menatap balkon disamping balkon kamarnya. Dapat ia dengar suara isak tangis dari dalam kamar balkon itu –kamar Hyuna. Gadis itu tengah menangis, tangisan itu terdengar pilu di telinganya. Hatinya terasa begitu menyesakkan setiap mendengar tangisan gadis itu. Rasanya setiap Hyuna menangis, ingin ia seka airmatanya dan ditenggelamkan tubuh gadis itu kedalam pelukannya, meredam setiap isak tangis itu.

Dinaiki pijakan dinding balkon yang menghubungkan balkon kamarnya dengan balkon kamar Hyuna, karna ia tahu setiap gadis itu sedih, gadis itu akan mengurung diri dikamar. Dilompatinya dinding pembatas balkon kamarnya. Ditatapnya tirai kamar Hyuna yang tertutup. Dapat ia dengar kian jelas suara tangisan gadis itu didalam.

Digesernya pintu kaca kamar Hyuna, ia sudah hafal tabiat gadis itu yang sering lupa mengunci pintu kaca kamar. Tak heran membuatnya mudah memasuki kamar gadis itu. Dilihat Hyuna tengah meringkuk memeluk boneka kesayangannya. Bahkan gadis itu tak menyadari kehadirannya. Dilangkahkan kakinya perlahan mendekati Hyuna.

“Jangan menangis Hyuna, kumohon.” Dielusnya rambut gadis itu.

Hyuna berjengit saat seseorang mengelus rambutnya. Ditolehkan wajahnya cepat. Tampak Jaejoong sudah duduk ditepi ranjangnya. Pria itu menatapnya cemas. Ia bangun, matanya menatap lurus Jaejoong.

“Kenapa?” bibirnya bergetar menahan tangis. “Bukankah oppa juga tak ingin di sisiku lagi? Kenapa malah datang menemuiku? Kenapa?” airmatanya menetes jatuh.

Dipejamkan matanya perlahan. Hyuna, gadis itu terlihat sangat rapuh sekarang. Membuatnya tak kuasa tuk memeluk gadis itu. Tapi ia tak ingin gadis itu semakin bergantung padanya. Ia tak ingin Hyuna menjadi kian lemah dan rapuh karnanya.

“Kau benar Hyuna, aku memang tak mau kau selalu ada disisiku.” Tangannya terkepal, menahannya tuk tetap terlihat tenang di depan Hyuna. Dapat ia tangkap keterkejutan yang jelas diwajah gadis itu.

“Eh?” Hyuna termangu. Hatinya tercabik mendengar perkataan Jaejoong barusan. Apa ia tak salah dengar? Jaejoong membenarkan perkataannya, padahal ia pikir; ia tak akan mendengar perkataan seperti itu dari Jaejoong. Ia pikir, Jaejoong akan mengatakan akan selalu ada disisinya tapi kenyataannya berbanding terbalik dengan angannya.

“Kau harus membiasakan dirimu tanpaku Hyuna, tanpa Yunho maupun Junsu. Karna kita akan menempuh jalan yang berbeda.”

Hyuna tetap terdiam mencerna setiap kalimat yang diutarakan Jaejoong padanya.

“Kau bukan lagi gadis kecil yang akan selalu aku lindungi. Kau sudah beranjak dewasa, begitupula aku. Kau harus belajar melindungi dirimu sendiri, Hyuna.”

Air mata Hyuna terus mengalir tapi tak terdengar isak tangis dari bibirnya. Ia merasa lelah, sangat lelah. Perkataan Jaejoong memang benar, ia bukan lagi gadis kecil yang akan selalu di lindungi.

Jaejoong terdiam sejenak. Hyuna, mata gadis itu tampak kosong dan hanya menatapnya. Gadis itu terus menangis tapi tak ada isakkan ataupun kata yang keluar dari bibir gadis itu. Hatinya terasa begitu memilukan melihat Hyuna sekarang.

‘Kumohon Hyuna, jangan bersikap seperti itu. Jangan membuatku merasa bersalah mengambil keputusan ini.’

“Hyuna, aku tahu kau gadis yang tegar. Aku mengenalmu seperti diriku sendiri. Kau-.”

“Kau tak pernah mengenalku oppa, kau tak pernah tahu apa yang ada dihatiku, pikiranku!! Kau tak pernah tahu akan hal itu!” Selanya cepat. Ditatapnya Jaejoong lekat, airmatanya kian mengalir deras.

Jaejoong terdiam. Perkataan Hyuna, membuatnya sadar ia tak sepenuhnya mengenal gadis itu. Hyuna bukan lagi seperti Hyuna yang ia kenal, gadis itu telah banyak berubah tanpa ia sadari.

“Karna kau telah berubah Hyuna, kau bukan lagi sosok Jung Hyuna yang kukenal. Kau telah menjadi sosok yang berbeda dimataku. Membuatku ragu padamu. Sosokmu saat ini, membuatku sadar kalau kau bukan Hyuna kecil yang akan selalu aku lindungi dan selalu ku jaga disisiku. Karna kau telah mampu tuk sendiri tanpa aku di sisimu.”

Jaejoong beranjak dari ranjang Hyuna. Dilangkahkan kakinya meninggalkan Hyuna yang kini diam terpaku. “Biasakanlah dirimu tanpa aku disisimu. Karna kau telah mampu tanpaku.” Kakinya terus melangkah pergi.

Hyuna hanya terdiam. Perkataan Jaejoong terasa berputar didalam pikirannya. Matanya menatap lekat sosok Jaejoong yang menghilang dibalik pintu kaca kamarnya. Air matanya terus berderai, bibirnya bergetar menahan isak tangis. Ia sadar kini ia benar – benar telah kehilangan Jaejoong, pria itu tak akan pernah lagi di sisinya. Walaupun ia menghiba sekalipun, pria itu tak akan kembali ke sisinya.

“Jangan menghilang dari hidupku, oppa. Kumohon!! Tetaplah di sisiku!!” pintanya penuh harap, diselingi isak tangis yang kian kuat.

“Jangan pergi….”

Continue…

thanks for read :) dont be silent reader :)

saya sangat menghargai setiap komentar, kritik atau saran yang diberikan :)

5 thoughts on “Still I Love You part 1

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s