Please, Hold On [part 2]

Author              : Arsvio

Main Cast         : Lee Donghae (Aiden Lee), Han Cheonsa (Angelle Han)

Support Cast    : Super Junior, Daniel Han, Kevin Han, Adelynn Lee.

Rating               : PG-15

Length              : Sequel

Note                 : Cerita ini merupakan sidestory dari ff-ku terdahulu ‘Trapped in Love with Game’. But, it’s Ok if you guys didn’t read that ff before. Kalian akan tetap mengerti jalannya cerita sebab memang berbeda tokoh utama. If you love this ff, please visit me at http://www.purpleonact.wordpress.com.

 

Donghae kembali menatapi jam dinding di ruang latihannya. Sepuluh menit lagi latihan mereka usai. Dan tak dipungkiri bahwa dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan seseorang. Seseorang yang seminggu lalu resmi menjadi tunangannya.

Dia segera bergegas menyambar perlengkapan mandi dan membersihkan diri secepat mungkin setelah latihan dance hari ini selesai. Dengan terburu, dijejalkannya kaus dan training yang tadi dipakainya ke dalam tas. Dan bersiap menjalani rutinitasnya yang baru, ‘menjemput gadisnya’.

“Whoa, sekarang kau tak sabar bertemu Cheosa, ya?” cibir Eunhyuk, sahabatnya. “Cih, padahal seminggu ini kau terus menggerutu tak jelas ketika jam menunjukkan pukul 4 sore. Lihat sekarang? Ckckck…” decak Eunhyuk.

“Hish, berhenti mengolokku,” Donghae menyikut pelan dada sahabatnya tersebut. “Aku pergi dulu,” pamit singkatnya pada member lain.

“HYUUNGG, salamku untuk kakak ipar,” teriak Kyuhyun tiba-tiba.

“As you wish, Kyunie,” Donghae menjawab tanpa menoleh dan hanya melambaikan tangan.

_LDH_

Donghae mengetuk-ngetukkan jemarinya pada kemudi, kemudian melongokkan kepalanya ke kaca depan. Menunggu Cheonsa keluar dari rumah sakit tempatnya bekerja. Dia mengecek kembali arloji di pergelangan tangannya. “Kenapa lama sekali?” gerutunya, padahal baru lima menit berlalu.

Sejenak kemudian, kaca mobil di pintu penumpangnya diketuk pelan oleh seorang perempuan. Donghae menoleh dengan cepat dan segera membuka master locknya untuk membiarkan perempuan yang sudah ditunggunya, masuk.

“Mian, terlambat,” ucap Cheonsa sembari menutup pintu mobil. Dilepas jas putih kebesarannya dan melipatnya menjadi dua.

Donghae mencuri pandang pada Cheonsa, selalu tertarik dengan segala gerak-gerik gadis itu. “Langsung kuantar kau pulang. Malam ini aku masih ada schedule,” jelas Donghae singkat.

Cheonsa mengerutkan keningnya, lalu memutar duduknya sehingga menghadap Donghae. “Hae-ya, kau tak perlu memaksakan diri menjemputku setiap hari jika sedang sibuk,”.

“Aku masih bisa melakukannya. Dan bukankah ini yang kau inginkan? Agar kita memiliki waktu untuk saling mengenal lebih,” singgung Donghae enteng.

“Benar, tapi tidak harus seperti ini bukan?” Cheonsa masih menatap Donghae, sedangkan yang ditatap terus mencoba bersikap tak acuh. Terselip rasa bersalah di hatinya karena memaksakan kehendak, tapi dia juga tidak bisa menarik semua kembali. “Setidaknya, gunakan waktumu yang sedikit ini untuk istirahat saja. SS4 tinggal beberapa hari lagi, jaga kondisimu,”.

Donghae tersenyum samar dengan perhatian yang Cheonsa tunjukkan. Dia selalu menyukai ketika gadis itu menceramahinya. Seminggu ini, dia mulai terbiasa dengan ucapan atau sikap Cheonsa yang mencemaskan keadaannya.

“Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat.” sangkal Donghae, mencoba memancing rasa khawatir Cheonsa. Menyenangkan rasanya ketika ada orang yang mengomelimu karena rasa sayangnya.

“Jangan membantah, Tuan Lee. Kau tentu tidak ingin membuat ribuah ELF kecewa karena performmu yang tak maksimal kan?”.

“Hemm,” Donghae hanya bergumam menyembunyikan rasa bahagianya.

“Ah, tolong berhenti sebentar di bakery depan,” Cheonsa menunujuk dengan jarinya.

Donghae menepikan mobilnya. “Kau ingin membeli kue untuk siapa?”.

“Kevin. Dia sangat menyukai caramel,” Cheonsa melepas seat beltnya. Tanpa memandang wajah Donghae yang mulai mendung.

“Hanya untuk Kevin?” tanyanya ketus.

Cheonsa mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil ketika mendengar pertanyaan ketus Donghae. Dia tersenyum saat menyadari raut wajah tunangannya tersebut terlihat agak sebal. “Baiklah, untukmu juga Tuan Lee. Vanila cake, right?”.

_LDH_

“Sanjangnim, ini adalah beberapa dokumen yang Anda minta,” assisten pribadi tuan Han menyodorkan map.

“Gomawo, Jung-a,” Tuan Han segera membuka map tersebut dan mengeceknya. “Oh ya, pastikan kau membuatkan aku janji dengan pengacaraku siang ini,” titah Tuan Han.

“Ne, Sanjangnim,” Jung mencatat dalam note kecilnya.

Tuan Han malah terkekeh mendengar jawaban assistennya. “Sejak kapan kau terlihat sangat formal seperti ini, Jung? Di sini tak ada orang lain selain aku dan kau,”.

Jung hanya menyunggingkan senyum miringnya. “Mencoba menikmati waktu-waktu terakhir dimana aku menyapamu dengan formal, Sanjangnim,”.

“Jadi kau sudah tak sabar untuk mengganti margamu, Jung? Mendekatlah,” tuan Han menjentik-jentikkan jari tengahnya sebagai isyarat.

Jung melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping atasannya tersebut. “Yang jelas aku tak ingin mengganti nama depanku dengan marga yang kau sandang sekarang,” ucap Jung sinis.

Tuan Han melingkarkan tangannya di pinggang Jung, mendekapnya dari samping, sehingga kepalanya tepat berada di perut Jung. “Tentu, aku juga tak sabar ingin membuangnya dari namaku. Bersabarlah, sebentar lagi kita mendapatkannya,”

Jung hanya tersenyum licik sembari mengelus puncak kepala seorang yang seharusnya menjadi atasannya tersebut. Dibuang pandangannya ke arah luar, mengamati puluhan pekerja bangunan yang tengah memeras keringat membangun gedung. Walaupun baru sepertiganya yang selesai dikerjakan, namun sudah dapat dipastikan gedung itu, nantinya, merupakan maha karya megah.

_LDH_

Seorang wanita paruh baya meletakkan sebuket lili putih di meja kecil. Dia tersenyum sembari sibuk memperindah tatanan bunga tersebut pada vas. “Bagaimana kabarmu, Eunri-ya?” sang wanita masih terpusat pada lilinya.

Dia melangkah dan meposisikan diri tepat berada di samping wanita yang tadi di panggil ‘Eunri’. “Kau masih tak mau angkat bicara, Eunri-ya?” katanya dengan lembut. “Kenapa Eunri-ya? Siapa yang sebenarnya ingin kau lindungi, hum?” nada bicaranya mulai naik karena sang Eunri membungkam mulutnya.

Wanita itu memutar tubuhnya sehingga berdiri tepat di depan ‘Eunri’-nya. “Kau bodoh, Eunri-ya. Sangat bodoh,” ucapnya sembari memainkan gembok emas putih 18 karat di ‘Crocodile Birkin Bag’ miliknya. “Katakan, Eunri-ya. Katakan padaku,”.

Sang wanita mencondongkan tubuhnya ke depan, dan menumpukan sebelah tangannya di kursi yang diduduki Eunri. Kursi roda, tepatnya. “Kau tak lelah dengan membisu seperti ini?” perkataan lembutnya sarat kegetiran.

Dicarinya focus mata Eunri. Meski mata indah Eunri menatap ke depan, sang wanita tetap tidak bisa menemukan titik pandangnya. Alis wanita tersebut terangkat sebelah menunjukkan kepicikannya.

“Baiklah, kau memilih diam. Tapi aku tidak, Han Eunri,” wanita tersebut menegakkan tubuhnya. Merapikan coatnya yang bahkan tak kusut sedikit pun, lalu berjalan angkuh meninggalkan Eunri-nya.

Sepeninggalannya, Eunri memutar bola matanya untuk memandang punggung wanita baya , yang hanya terpaut 3 tahun lebih tua darinya, tersebut. Benar-benar memfokuskan pandangannya pada wanita tersebut, seakan mengerti apa yang diinginkan wanita tadi.

_LDH_

Daniel memeriksa dokumen di hadapannya dengan cermat. Mengoreksi, menganalisis, dan memutuskan suatu tindakan. Rutinitas menjemukan yang harus dihadapinya setiap hari. Suatu ketukan di pintunya membuatnya berhenti sejenak.

“Jang-ssi, apakah kau memperoleh perkembangan?” tanya Daniel langsung saat melihat orang kepercayaannya memasuki ruangan.

Tuan Jang menganggukkan badannya hormat pada atasannya. Perbedaan umur yang hanya terpaut 7 tahun, menyebabkan dirinya cukup memahami sosok atasannya tersebut. Seorang Daniel Han yang berkepribadian tegas cenderung dingin, perfeksionist, serta cerdas. “Belum, Sanjangnim. Aku hanya bisa melaporkan ini,” ucapnya sambil menyodorkan beberapa map di meja Daniel.

Daniel mengurut keningnya pelan. “Selain ini, apakah kau sudah mengurus persiapan pernikahan Angel?” tanya Daniel membelokkan masalah.

“Nona Angel menolaknya dan lebih memilih mengurusnya sendiri, Sanjangnim. Saya hanya sekedar memantau saja,” jawabnya. “Sanjangnim, tidakah pernikahan ini terlalu terburu-buru. Mohon maaf jika pendapat saya tidak berkenan,”

Daniel menegakkan duduknya. Terdiam sejenak untuk menanggapi pendapat assistennya. “Kau benar, sangat benar. Tapi tak ada yang bisa kulakukan selain mengikuti permainan ini. Kau pun tahu seperti apa kondisinya, Jang-ssi. Oleh karenanya selalu pantau perkembangannya setiap saat,” Daniel menjalin jemarinya menjadi satu.

“Ne, Sanjangnim,”.

“Meski Angel berkeras menyiapkan sendiri, tolong ambil alih tentang pengamanannya. Pastikan tidak terendus media,” Daniel mengingatkan.

“Tentu, Sanjangnim,”.

_LDH_

“Hya, kau bocah tengil. Mau bermain curang,” Kyuhyun memiting seseorang dengan tangannya. Menjadikan kepala orang tersebut tepat di bawah ketiaknya. Kembali dia menoyor kepala orang tersebut.

Orang yang dimaksud memberontak sekuatnya. Dia menginjak-injak kaki Kyuhyun berharap pitingannya lepas. Tapi tetap saja Kyuhyun bisa menghindar, membuatnya sebal karna kalah. “Hya, lepaskan,” tangannya menggapai-gapai ke atas mencari tangan Kyuhyun yang menjitak kepalanya. “Dan, oh siapa yang kau panggil bocah? Aku bahkan sudah menyelesaikan studi sarjanaku saat kau masih digencet kakak angkatan,”.

“Jangan bercanda bocah,” nada sebal Kyuhyun. Tangannya kembali mengacak-acak rambut mangsanya.

“What on earth are you doing?” teriaknya tak kalah sebal. “Kau merusak tatanan rambutku,” teriaknya.

“Biar saja, siapa suruh kau bermain curang, huh,” Kyuhyun masih belum puas mengerjai mangsanya. Tubuh mereka beradu di ruang tengah dorm suju. Dan teriakan mereka sudah memekakkan telinga semenjak 3 jam lalu saat berduel game.

“Siapa yang curang, huh? kau saja yang bodoh,” balasnya.

“Mwo? Berani mengataiku bodoh? Dasar bocaahhh…,” Kyuhyun semakin menggusak rambut lawannya.

Donghae berjalan melalui ruang tengah dan hanya bisa menepuk keningnya. “Astaga tidak cukupkah aku memiliki satu dongsaeng setan?” kedua tangannya menghentak-hentak di udara sembari berlalu. Tidak ingin ikut andil pada perang dunia yang tengah berlangsung di dormnya.

Seorang gadis yang baru saja tiba memiringkan kepalanya heran. Melihat kekasihnya yang bertengkar dengan seseorang yang sedikit asing baginya. Langkahnya mendekat pada dua orang yang sibuk berperang dan alisnya semakin berkerut. Tak berlangsung lama, dia memekik. “KEVIN HAN, is that you? oh boy,”.

Teriakkan Lynn serta merta menghentikan kebrutalan dua orang yang bergelut. Kyuhyun memasang wajah bingungnya, sedangkan Kevin, yang dipitingnya, mendongakkan kepala. “Adelynn?” sahut Kevin dengan nada tanya.

Lynn membungkukkan badannya sehingga sejajar dengan kepala Kevin yang masih di bawah kuasa Kyuhyun. “Oh boy, long time no see. You get more and more cute,” tangan Lynn terulur mencubit kedua pipi Kevin. Senyumnya terkembang sempurna.

Kevin memasang senyum aegyo yang sangat jarang ditunjukkan kepada orang lain kecuali kakak perempuannya. “I’m longing for you, Lynn,” senyumnya masih tak lepas. “And could you tell this man to let me go cause I wanna embrace you,” jari telunjuk Kevin menunjuk-nunjuk Kyuhyun.

“Hya, jangan macam-macam,” teriak Kyuhyun langsung sembari mengeratkan tangannya di leher Kevin. “Dan kau mengenalnya, Lynn?”.

Lynn masih saja membungkuk dan hanya mendonggakkan kepalanya ke atas untuk menatap Kyuhyun. “Mr. Cho, bisakah kau melepaskannya. Kau bisa membunuhnya jika seperti ini,”.

“Hish, dan membiarkan dia memelukmu? TI-DAK,” tekan Kyuhyun. “Lagipula kenapa kau malah menyapanya dulu sih? Sebenarnya yang menjadi kekasihmu itu aku atau dia?” cerocos Kyuhyun dengan nada tinggi.

Lynn menegakkan badannya. Mendengus namun kemudian dengan kilas dia mencium pipi Kyuhyun. “Apa kabar hari ini kekasihku?” tekan Lynn pada kata ‘kekasihku’.

“Aaa…gadis pintar. Kenapa tidak sekalian di sini,” Kyuhyun menunjuk bibirnya dengan sebelah tangannya yang bebas.

Kevin memanfaatkan tangan Kyuhyun yang melonggar untuk melepaskan diri. Dia juga memberikan bonus injakan kuat di kaki Kyuhyun, menyebabkannya berteriak heboh kembali. “Ish, dasar maniak. Bagaimana bisa Lynn berpacaran dengan orang sepertimu sih?” omel Kevin sembari merapikan rambutnya.

“HYAA,” teriak Kyuhyun kembali, masih berloncat-loncat kecil memegangi punggung kakinya yang tadi diinjak Kevin.

Lynn berjengit dan menutup telinganya. “Bisakah kalian tidak berteriak lagi. For God sake, both of you are adult,” Lynn mendekati Kevin dan membantunya merapikan rambutnya yang benar-benar kacau.

“Hya hentikan-hentikan, untuk apa kau membantunya,” Kyuhyun menarik tangan Lynn seraya meringis karena kakinya masih berdenyut. “Mau membuatku cemburu, huh?”.

“Apakah perang telah usai?” sapa suara khas Donghae dari arah belakang. “Ah, Lynn, kau datang rupanya,” dia mengelus rambut adiknya tersebut pelan. Seorang perempuan cantik mengikuti langkah Donghae dari belakang kemudian melongok dari balik bahu Donghae.

“Angel unni,” sapa Lynn singkat. Tentu saja dia mengenal kakak beradik keluarga Han ini. Karena ketika di Massacusset dulu mereka sudah berteman. Karena sifat tertutupnya, hanya Kevin yang menjadi satu-satunya teman Lynn. Jarak antara Hardvard dan MIT yang tak begitu jauh, mengumpulkan mereka dalam komunitas orang korea.

“Hi, Lynn. Maaf ketika pesta pertunanganku kemarin tak sempat mengobrol banyak,” ramah Cheonsa.

Lynn menganggukkan kepalanya pelan. “Never mind, Unni. Aku juga datang terlambat kala itu. Dan bocah ini, bagaimana bisa aku tak menemukannya di pestamu,” renggut Lynn ditujukan pada Kevin.

“Hey, bukan salahku. Salahkan pacarmu yang terus saja menempel padamu, membuatku gerah saja,” sindir Kevin yang membuat Lynn terkekeh ringan.

“HYA,” sentak Kyuhyun yang telah siap menjitak kepala Kevin. Membuat Kevin memundurkan kepalanya untuk berkelit.

“Baiklah apakah sudah selesai?” tanya Donghae sembari memiringkan kepalanya. “OK, kuanggap sudah. Aku dan Cheonsa akan keluar sebentar,”.

Donghae mendekati Lynn dan mencium pipi adik kesayangannya tersebut. “Kurasa kau bisa meminta bantuan Yesung Hyung atau Wookie jika duo setan ini berulah lagi. Aku pergi dulu,”.

Cheonsa hanya mengulum senyumnya. Pagi ini dia mengunjungi dorm suju untuk membantu Donghae berkemas luggage-nya sebelum ke Singapura. Bagusnya, dia diantar oleh Kevin yang akhirnya malah asyik berduel game dengan sang evil magnae.

“Kevin-a, kau bisa pulang dulu,” Cheonsa menepuk punggung adiknya. Kevin hanya bergumam lalu dengan reflex merendahkan tubuhnya agar sang kakak bisa memberikan kecupan di pipinya. Seperti kebiasaan mereka.

“Ck..ck..lalu siapa yang menciumku?” tunjuk Kyuhyun pada dirinya sendiri. “Cheonsa Noona, bukankah sekarang aku juga dongsaengmu,” rayu Kyuhyun yang kemudian mendapat pelototan dari semua yang ada di sana.

“Arra…arra…” jawab Kyuhyun tak bersemangat dengan mengibas-kibaskan tangannya.

_LDH_

Sebuah black audy memasuki pekarangan kecil nan asri. Terparkir tepat di depan sebuah bangunan klasik yang masih terawat. Sang empunya masih mengamati bangunan tersebut dari balik kemudi. “Ini gereja, Cheonsa-ya?”.

Cheonsa hanya mengangguk untuk mengiyakan. “Ayo turun,” ajaknya, lalu membuka pintu mobil.

Dengan sedikit ragu, Donghae mengikuti Cheonsa yang kini sudah berdiri di depan pintu masuk gereja tua tersebut. Pandangannya masih sibuk menelusur detail bangunan tersebut. Terpesona dengan nuansa klasik yang ditawarkan. Terasa kehangatan dan kekeluargaan menyambut setiap jemaatnya.

“Lets inside, Hae-ya,”.

Donghae mengulas senyumnya untuk Cheonsa. Mereka beriringan memasuki gereja. Melewati barisan-barisan bangku panjang, menuju ke bangku terdepan.

Cheonsa mengingat semua memori yang masih disimpannya atas tempat tersebut. Tersenyum sembari menatap lurus ke depan gereja. Matanya hampir menitikkan air mata jika tidak ingat dengan siapa dia kini datang.

Donghae masih mengagumi setiap lekuk arsitektur gereja. Atmosfir sakral dan hangat terpancar kental di ruang yang tak terlalu besar tersebut. Pandangannya masih menelisik interior gereja, sampai dia sadar bahwa dirinya sudah berdiri di depan altar.

Cheonsa menyatukan kedua tangannya di depan dada. Memejamkan mata dan berdoa. Gadis ini terlarut dalam doanya seolah tak terusik dengan keberadaan Donghae.

Mengikuti apa yang dilakukan Cheonsa. Donghae ikut memejamkan mata dan berdoa. Entah apa yang ada di barisan doa mereka. Apakah suatu kontradiksi yang saling bertentangan kuat ataukah malah suatu hal yang sama dan saling menguatkan.

Donghae membuka matanya pertama kali. Diliriknya Cheonsa yang masih bergeming. Rasa damai bergelayut di dadanya ketika melihat gadis itu khusuk dalam komunikasinya dengan Sang Kuasa. Saat air mata membuat garis di pipi gadis itu, dia seperti melihat seorang yang pasrah terhadap takdirnya. Diulurkan tangannya untuk mengusap air mata tersebut, namun tak bisa, tangannya hanya menggantung di udara. Dia ragu sekaligus canggung dengan suasana ini. Pada akhirnya Donghae hanya menarik tangannya secara kilat ketika menyadari gerakan halus Cheonsa.

Cheonsa menarik nafas panjang sebelum membuka matanya. Ditundukkan kepalanya dan mengusap bekas air mata yang tanpa dikehendakinya telah meluncur bebas. Dengan masih menatap altar depannya, “Aku memilih gereja ini untuk pemberkatan kita,”.

Tubuh Donghae menegang, ia melupakan satu fakta bahwa pernikahannya hanya kurang dari 3 minggu lagi. Bagaimana pun ini sangatlah terburu, bagaimana bisa dia menyiapkan mentalnya dalam waktu singkat untuk terikat selamanya dengan seorang gadis. Seseorang yang akan menjadi tanggung jawabnya kelak. Seseorang yang akan di sisinya dalam kondisi apa pun.

Cheonsa menoleh pada Donghae yang tak kunjung merespon. Dia sangat tahu bahasa tubuh lelaki yang disebelahnya. “Aku tahu, maaf jika membuatmu tak nyaman. Seharusnya, aku menemuimu jauh hari. Memastikan bahwa kau menerimaku. Bukan seperti ini,”.

Donghae tersenyum miris lalu menunduk, memerhatikan jemarinya yang saling bertaut. “Kalau kau mengerti, kenapa masih memaksakan semua ini?”.

“Karna aku tak punya pilihan, Donghae-ya. Tuhan hanya memberikanku jalan ini,” ucap Cheonsa tanpa emosi.

“Apa maksudmu?”

“Di hadapan Tuhan, aku berkata sejujurnya Hae-ya. Aku menginginkanmu hadir di hidupku. Dan percaya bahwa kaulah orang yang tepat. Tak ada kata cinta yang membuncah, tak ada janji yang membumbung, tak ada mimpi yang terangkai indah. Hanya sebuah kepercayaan yang aku punya,” Cheonsa menerangkannya dengan nada lembut.

Donghae membisu dengan perkataan Cheonsa. Terlalu sesak dan terhimpit dengan realita itu. “Kau tahu, menikah artinya kau dan aku akan terikat selamanya di depan Tuhan. Ini bukan sebuah permainan atau pun pertaruhan,”.

“Aku tahu, Hae-ya. Aku sudah memikirkan ini jauh sebelum kau mengucapkannya,” emosinya teraduk. Kakinya ingin berlari meninggalkan lelaki tersebut, namun kebulatan hatinya berkata lain. Menyuruhnya agar tetap berdiri tegak menatap lelaki bermarga Lee itu.

“Lalu sekarang, katakan padaku, bagaimana caranya agar aku juga berbesar hati menerimamu, Cheonsa-ya?”.

Cheonsa hanya menggeleng pelan. “Aku sama sekali tak tahu jawabannya, Hae-ya. Mungkin inilah satu-satunya hal yang tak bisa kupecahkan,” sesalnya.

“Seminggu ini, aku berusaha menerimamu berotasi di kehidupanku. Tapi cukupkah dengan seperti ini?” tanya Donghae dingin.

Sekali lagi Cheonsa menggeleng lemah. “Hanya kau yang bisa menjawabnya,”. Gadis ini berdiri, tak sanggup mendengar bantahan lain. “Tanyakanlah pada hatimu sendiri, Hae-ya,” lirihnya sebelum beranjak pergi.

Donghae masih berdiam tatkala Cheonsa mencapai pintu gereja. “Tuhan, tuntun aku selalu,” dialognya sebelum keluar menyusul gadisnya.

_LDH_

[The other side, @SJ’s Dorm]

Lynn berjalan menuju ruang tengah. Mengeleng-geleng frustasi melihat lelaki yang sudah dua jam terakhir sibuk memencet-mencet joysticknya. Dilangkahkan kakinya mendekat hingga berada di samping lelaki tersebut. Telunjuknya didorongkan pada bahu sang lelaki, berharap lelaki tersebut mengindahkannya.

“Kyu Oppa, it’s been 7 o’clock. You must have a dinner,”. Hanya jawaban bergumam yang tak jelas yang dia dapatkan.

“Do you notice me?” Lynn menyerukan suaranya.

“Hmm, ya Lynn. Hold on for second,” jawabnya dengan tak jelas karna bercampur ekspresi gemas dengan obyek game di depannya.

“Hish,” dengus Lynn sebal. Dipencetnya hidung Kyuhyun kemudian digerakkan ke samping kanan dan kiri. “I told you, lets have dinner,” tekan Lynn pada setiap perkataannya.

“”Hya, Lyyynnn…sakiiit,” rengek Kyuhyun yang langsung melepas joysticknya. “Aish, jinja,” Kyuhyun memandang Lynn dengan raut sebalnya karna melihat tulisan ‘GAME OVER’ terpampang jelas di lcd-nya.

“Kau masih bisa meneruskannya nanti. Lekas berdiri,” Lynn berdiri dari duduknya dan menyentak sebelah tangan Kyuhyun mengisyaratkannya agar ikut beranjak dari duduknya.

Dengan hidung yang sedikit memerah dan kesal, Kyuhyun menyentak balik tangan Lynn, membuatnya terjatuh duduk. “Baiklah miss Lee, karna kau menyebabkanku kalah, berikan aku kompensasi dulu. Setelahnya, aku akan menurutimu,” smirknya seraya menunjuk bibir.

Lynn mengerutkan keningnya. Tidak menjawab. Dia tahu benar apa yang dipikirkan evil-nya tersebut. Dengan sebelah tangannya yang bebas, dia menarik dagu Kyuhyun dan menempelkan bibirnya kilat untuk memberikan kecupan.

Namun, ketika dia memundurkan kepalanya, sebuah tangan sudah lebih dulu menarik tengkuknya maju. Menjadikan ciuman itu bertahan. Kyuhyun tersenyum samar sembari menjamah lembut bibir kekasih hatinya.

“Ehem,” dehaman cukup keras tiba-tiba memecah keheningan keduanya. Mereka melepas ciumannya dan menoleh ke sumber suara.

“Hya, Hyuuunggg. Hish, kenapa kau mengganggu sekai sih,” Kyuhyun mengacungkan tangannya ke arah penginterupsi.

“Hi, Op-pa,” sedang Lynn hanya mengangkat telapak tangannya dengan canggung dan malu. Gadis ini hanya memamerkan cengirannya sebab tertangkap basah kakaknya.

Donghae memandang tajam Kyuhyun kemudian menoyor kepalanya. “Makanya pilih tempat,”. Dia mengambil sebelah tangan Lynn, “Aku pinjam adikku sebentar,”.

“Hya…ya…ya…” protes Kyuhyun sambil memegangi kepalanya yang baru saja menjadi obyek hyungnya. “Lalu siapa yang menemaniku makan?”.

“Kau bisa makan sendiri kan?” sewot Donghae yang sepertinya dalam mood yang buruk. Melanjutkan menggandeng Lynn ke ruang lain.

“Haish, aku mending menyelesaiakn level 7 saja,” Kyuhyun siap mengambil kembali joystisknya ketika teriakan menggema dari ruang seberang.

“KYUNIE MAKAN SEKARAANGG,”.

_LDH_

Lynn mengubah posisi duduknya hingga dia menghadap ke arah oppanya langsung. “Kau nampak merisaukan sesuatu, Oppa? Apakah tentang pernikahanmu?”.

Donghae menopang kepala dengan sebelah tangannya yang bertumpu di pinggir sofa. Dianggukan kepalanya tak bersemangat. “Ceritakan padaku, Lynn. Bukankah kau mengenalnya lebih dulu ketika di Massacusset?”.

Lynn mengerutkan bibirnya sedikit sebelum membuka cerita. Mengingat bagaimana sosok seorang Angelle Han. “Aku tak terlalu dekat dengannya, Oppa. Namun, karena dia kakak dari Kevin, jadi aku sedikit mengenalnya,”.

“Kalau begitu, katakan yang kau tahu saja,” Donghae dengan pasrah meminta Lynn. Dia gamang dengan perasaannya sendiri setelah pembicaraannya dengan Cheonsa di gereja tadi siang.

“Dia perempuan cantik. Dan tak beda dengan Kevin, Angel Unni adalah salah satu mahasiswa dengan GPA tertinggi di lulusannya. Baik, karena kulihat Kevin memperlakukannya dengan baik, lebih bahkan. Jika aku tak salah menilai, bahkan Angel Unni layaknya seorang Oemma baginya,”.

Donghae nampak mulai tertarik dengan kata terakhir Lynn. “Oemma? Kenapa kau beranggapan seperti itu?”.

“Sikapnya pada Angel Unni berbeda dengan sikap yang ditujukan pada orang kebanyakan. Kevin merupakan seorang yang cenderung keras dengan orang disekitarnya, tapi itu tak berlaku ketika bersama Angel Unni. Dia tidak pernah membicarakan Oemma-nya, terlalu sensitive dengan kata itu. Jadi, aku juga tidak mengungkitnya,”.

Donghae memanggut-manggutkan kepalanya. “Jadi itu sebabnya Cheonsa mengatakan nyaman bersama Oemmaku di Mokpo? Tapi apa yang sebenarnya terjadi dengan hubungannya dengan Oemmanya?”.

Lynn mengangkat bahunya. “Aku tak tahu pasti. Desas-desus, kudengar Nyoya Han tidak pernah terlihat lagi di kediamannya setahun belakangan. Pun saat minggu kemarin Oppa bertunangan dengan Angel Unni,”.

Donghae nampak berpikir. “Benar juga, dan Cheonsa juga tak pernah menyinggung tentang Oemmanya,”.

“Tapi, dia seorang yang hebat, Oppa. Ketegaran yang tersorot di matanya menularkan kenyamanan bagi orang yang bersamanya,” nilai obyektif Lynn. “Itu sebabnya ketika Oppa bilang ingin menikah dengan Angel Unni, aku menyetujuinya. Hanya merasa bahwa dia adalah yang terbaik untukmu, Oppa,”.

Donghae menolehkan kepalanya ke arah Lynn, lalu mengelus puncak kepala gadis blasteran Korea-German tersebut. “Gomawo Lynn,”.

Donghae merogoh kantung jaketnya ketika iphonenya bergetar. Dibacanya 1 message dari Cheonsa.

From : Han Cheonsa

Senin, minggu depan, Appa mengundang kita berdua untuk dinner bersamanya.

Donghae segera memberikan jawaban.

To : Han Cheonsa

Ok. Sekembalinya dari Singapura aku akan menghubungimu.

From : Han Cheonsa

Aku bisa menolaknya jika kau masih sibuk. Kau pasti akan masih lelah.

Donghae tersenyum mendapat balasannya. Sebuah bentuk perhatian dari gadis tersebut. Segera disapukan jemarinya di layar sentuh iphonenya.

To : Han Cheonsa

Tak perlu. Aku pastikan datang.

From : Han Cheonsa

Gomawoyo, Hae-ya.

_LDH_

[The day after tomorrow. After SS4 @Singapura]

Donghae mematung di depan balkon kamar inap hotelnya. Kedua tangannya dimasukkan pada celana piyamanya. Rasa lelah setelah perform SS4 sepertinya tak membuat lelaki ini segera merayap naik ke tempat tidur seperti member lainnya. Pandangannya menatap dengan antusias pemandangan malam kota merlion tersebut. Menyusuri kelap-kelip keindahan lampu kota.

Dua puluh menit bertahan dalam posisi itu. Memikirkan, menimang, dan memutar ulang sedikit memorinya tentang Han Cheonsa. Dia tak pernah merasakan benar-benar jatuh hati atau pun membenci seseorang dengan sangat. Jadi, ketika sekarang harus memantapkan diri terikat dengan seorang gadis, mampukah hatinya hanya dipersembahkan teruntuk gadis tersebut?.

Ditolehkan kepalanya ke arah telepon di meja samping ranjang. Ada sedikit rasa yang menelusup padanya agar mengangkat gagang telepon tersebut dan meminta resepsionis untuk melakukan panggilan internasional. Tapi dia tak punya alasan kuat selain hanya keinginan mendengar suara gadis itu.

Donghae hanya mendesah putus asa setelah akhirnya tak jua menemukan karangan alasan yang ingin disampaikan seandainya dia menelpon gadis itu. Merutuki segala kecanggungan yang meliputinya saat menyangkut gadis tunangannya. Dihampirinya Eunhyuk yang sudah tertidur pulas. Kemudian, dia menarik selimut dan ikut membenamkan dirinya ke alam mimpi.

_LDH_

[The following day, @Seoul]

“Nona Han, aku hanya ingin mengingatkan tentang janji makan malam agashi dengan Tuan Han Jung Shik,” assisten pribadi ayahnya menemui Cheonsa di cafeteria rumah sakit.

“Tentu, aku ingat, Jung-ssi. Agashi tak perlu repot-repot menyempatkan diri menemuiku langsung di sini,” Cheonsa menyahutnya dengan sopan.

“Ah, masalah itu, tadi aku baru saja mengaudit kantor cabang dan sekalian mampir,” senyum terukir di paras wanita berumur 40-an tahun ini, meski begitu dia masih nampak jauh lebih muda dari umurnya.

“Gamsahammida, agashi mau memperhatikan janjiku,” Cheonsa memberikan penekanan di setiap katanya yang mulai berubah. Terlalu jengah. Entah apa yang ada di diri sang assisten pribadi ayahnya tersebut hingga dari dulu Cheonsa tidak menyukainya. Dia selalu berusaha menahan dirinya agar menjaga kesopanan dan menghargai wanita tersebut, tapi ada gejolak lain yang menyebabkan dia sering mengabaikan wanita itu.

“Oh, baiklah. Mianhamida jika aku mengganggu waktumu. Ini adalah restoran dan meja yang sudah kupesankan,” Jung mengangsurkan amplop putih pada Cheonsa. Dia segera berdiri dan berlalu.

Cheonsa hanya memandang punggung Jung dengan perasaan rumit. Akhir-akhir ini rasa tidak sukanya pada Jung semakin besar tanpa suatu alasan. Ada aura berbeda yang terpancar dari wanita asisten ayahnya tersebut.

_LDH_

[Delazio Restaurant, @Korea]

Donghae sedari tadi melirik wajah Cheonsa yang tegang. Padahal, mereka berempat hanya mengobrol ringan. Yah, berempat Tuan Han Jung Shik, Cheonsa serta Donghae, dan satu lagi adalah asisten pribadi kebanggaan ayahnya, Park Jung Ri.

Secara implicit, Cheonsa menyampaikan rasa ketidaksukaannya. Apalagi jika bukan pada wanita yang tengah duduk di hadapnya kini. Bagaimana bisa ayahnya membawa asisten pribadinya untuk makan malam bersifat privat ini. Seharusnya bukan wanita itu yang duduk di sana. Ada seseorang yang terlupakan yang jauh lebih pantas untuk menduduki posisi itu.

Terlihat dengan jelas di mata Donghae, bahwa wanita di sebelahnya tidak nyaman dengan suasana makan malam tersebut. Pandangan Cheonsa yang tajam, senyum memukau yang dingin, dan juga Donghae menangkap sebelah tangan Cheonsa gemetar di bawah meja.

“Jadi bagaimana persiapan pernikahan kalian?” Jung angkat bicara dengan mengulas senyum indahnya.

Cheonsa terhenyak, sadar dari atmosfir kaku yang dia ciptakan sendiri. Sedari tadi ayahnya yang berbicara, tapi tiba-tiba Jung melontarkan pertanyaan yang baginya merupakan topik sensitive. Bahkan dia pun masih enggan berbicara tentang pernikahan tersebut setelah percakapan terakhirnya dengan Donghae di gereja.

Donghae yang menyadari keterkejutan Cheonsa malah berinisiatif mengambil alih. “Kami baru memilih gereja tempat pemberkatan. Masalah gaun dan cincin, kami baru akan mengurusnya besok,”.

“Apakah kalian punya cukup waktu?” tanya lanjut Jung yang membuat Cheonsa semakin memandang tajam ke arahnya.

Donghae kembali melirik Cheonsa. Dia mengambil sebelah tangan Cheonsa yang gemetar, menggenggamnya dan meletakkan di atas pahanya sendiri. Membuat Cheonsa sedikit terkejut dengan tindakan yang dilakukannya. “Masih ada cukup waktu bagi kami. Maklum jika kami baru bisa mengurusnya sekarang. Akhir-akhir ini kami berdua disibukkan dengan pekerjaan,”.

Cheonsa menatap Donghae tanpa berkedip. Membiarkan laki-laki tersebut yang menguasai percakapan dengan Jung. Menikmati ketenangan coba disalurkan melalui genggaman tangannya. Tiba-tiba saja dering ponsel Cheonsa mengalun.

Cheonsa merogoh hand bag-nya dan melihat ID caller-nya. “Maaf, tapi aku harus mengangkat ini,”. Dia segera berdiri dan menjauh. Meyakinkan pembicaraanya tak terdengar dengan ketiga orang di sana.

_LDH_

“Kau baik-baik saja,” tanya Donghae untuk ketiga kalinya pada Cheonsa yang duduk di sampingnya. Semenjak keluar dari restoran, gadis ini terlihat sangat resah. Tangan gemetar, gesture tubuh yang tak tenang, dan beberapa kali membuang pandangan ke luar jendela mobil.

“Cheonsa-ya,” panggil Donghae lagi ketika dilihatnya Cheonsa melamun. “Adakah yang terjadi?”. Dia tidak bisa untuk berpura-pura menutup mata.

“Aa…a…, tidak,” gagap Cheonsa yang bahkan tak mengetahui dengan jelas pertanyaan Donghae. “Donghae-ya, tolong turunkan aku di halte depan,” pinta Cheonsa masih dengan nada ketakutan.

“Aku akan mengantarmu sampai rumah,” Donghae menengokkan kepalanya sekilas untuk mengecek gadis di sebelahnya. Ada yang tak beres dengan gadis tersebut. Terlalu kentara jika sedang dirundung kecemasan.

“Tidak perlu, Hae-ya. Aku ada urusan lain. Turunkan aku di halte depan saja,”.

“Kalau begitu aku akan mengantarmu kemana pun,”.

“Tidak,” tolak Cheonsa cepat. “Aku pergi sendiri saja,”.

“Kau mau naik bus dengan gaun seperti itu?” tunjuk Donghae pada Cheonsa. Sebuah gaun bewarna crimson selutut dengan bahu terbuka tentu akan mengundang mata-mata nakal. “Aku akan mengantarmu,” tegas Donghae.

“Tidak. Tolonglah, kali ini. Aku sedang tidak ingin berdebat,” Cheonsa memandang laki-laki di sampinya dengan tatapan memohonnya.

Donghae menatap Cheonsa sejenak dan menghela napas panjang. “Baiklah. Telpon aku jika membutuhkan bantuan,” Donghae menyerah melihat tatapan gadis tersebut. Setelahnya Donghae menepikan mobilnya tepat di halte.

“Gomawoyo, Hae-ya,” Cheonsa siap membuka handel pintu mobil, namun tangannya dicekal.

“Tunggu,”. Donghae membuka jasnya, kemudian melingkarkan jas tersebut di bahu Cheonsa. “Pakailah,” ucapnya sembari membantu gadis tersebut memakai jasnya. Degup jantungnya meningkat dengan jarak sedekat ini dengan gadisnya, tapi rasa khawatirnya lebih menguasai.

“Jeongmal gomawoyo, Hae-ya,” tulus Cheonsa yang segera turun. Kemudian berlari-lari kecil menuju halte dan membaca jadwal kedatangan bus berikutnya.

Donghae melajukan mobilnya dengan lambat. Menoleh spion mobilnya sebelah kanan untuk memantau keberadaan Cheonsa. Diamatinya gadis tersebut hingga menaiki sebuah bus kota. Dan saat bus menyalipnya, tanpa pikir panjang, Donghae mengikutinya dari belakang. Ada dorongan kuat , selain khawatir, pada dirinya untuk mengetahui apa yang terjadi pada gadis tersebut. Dia harus tahu.

_LDH_

[After couple hours,@Suburb of Seoul]

Donghae mengerutkan keningnya, memandang penuh rasa penasaran setelah mengetahui tujuan Cheonsa. “Ada apa sebenarnya?” ditepikan mobilnya dan segera turun sebelum tertinggal jauh dengan gadis tersebut.

Dia melangkah lebar untuk mengimbangi Cheonsa yang berlari-lari kecil di depannya. Tetap menjaga jarak agar tak diketahui. Rasa penasarannya meninggi karna saat ini dirinya tengah menyusuri koridor rumah sakit. Jikalau itu RS dimana Cheonsa bekerja tentu tak menjadi masalah, tapi ini adalah RS kejiwaan yang jauh dari pusat kota.

Langkah Donghae terhenti ketika melihat Cheonsa masuk di salah satu kamar. Dia menyembunyikan tubuhnya di balik pintu. Dari tempatnya, telinganya mendengar dengan jelas jeritan seorang wanita dari kamar yang dimasuki Cheonsa.

_LDH_

“Cheonsa, pergi dari rumah itu,”

“PERGIII,”

“KAU HARUS PERGI DARI SANA,”

“Pergi dari sana Cheonsaaa,”

“Cheonsaa…”

Racau wanita yang sedari tadi meraung, menangis, dan mengulang kata-kata yang sama semenjak melihat Cheonsa.

Cheonsa mengguncang bahu wanita itu agak keras. “Oemma, ini Cheonsa. Kumohon tenanglah,”. Dia masih terus berusaha agar ibunya melihatnya. “Lihat aku Oemma,”.

“Oemma, jebal. Pandang aku,” teriak Cheonsa tak kalah keras. Membuat seseorang di balik pintu menutup mulutnya karena terkejut tentang satu fakta baru.

“Pergi dari rumah itu, Cheonsa-yaa,” wanita yang dipanggilnya Oemma masih terus meracau sembari menangis. “PERGIII,” tanpa sadar tangan wanita tersebut mencakar udara, dan melukai pipi Cheonsa yang berada tepat di depannya.

Beberapa suster langsung berlari mendekat untuk mengambil tindakan. Mereka memegang dengan kuat kaki dan tangan wanita tersebut ketika dia meronta. Dan salah satunya menyuntikkan obat penenang hingga secara perlahan wanita tersebut luruh dari histerisnya.

Cheonsa menatap nanar ibunya. Air mata merembes dan mengalir di pipinya. Sangat sakit melihat pemandangan di depannya. Menyaksikan bagaimana wanita yang paling dikasihinya di dunia ini tersiksa seperti itu. Dibekap mulutnya agar tidak terisak di tempat itu.

“Nona Han, mari ikut saya keluar,” seorang dokter menepuk bahu Cheonsa pelan untuk menyadarkan gadis tersebut.

“Kami menghubungi agashi karena dari tadi Ny Han Eunri terus menerus menggumamkan nama agashi, saya pikir tadinya itu suatu perkembangan, mengingat setahun ini Ny Han Eunri hanya membisu. Tapi saya sungguh tak menyangka jika dirinya malah menjadi sangat histeris dengan melihat agashi,”.

Pria paruh baya itu memberi jeda sejenak sebelum menyampaikan keadaan sebenarnya. “Ny Han Eunri mengalami depresi berat, saya khawatir ini bisa bertambah buruk, sebab setahun belakangan dirinya bahkan tak mengalami perubahan,” terang seorang psikiater yang menangani Han Eunri.

“Kumohon, lakukan yang terbaik, Dokter,”.

“Itu pasti, Nona Han. Kami akan merawatnya semampu kami,” Dokter tersebut kembali menepuk bahu Cheonsa, kali ini untuk memberikan harapan.

Cheonsa terdiam kaku. Kenyataan yang menghantamnya mengakibatkan dirinya mati rasa. Sejenak setelah itu, bahunya bergetar bersamaan dengan isak tangis. Sedangkan orang yang bersembunyi semakin membekap mulutnya dan mencengkeram handel pintu kuat. Nafas mereka tersengal karena alasan yang berbeda. Dada mereka sesak karena hal yang berbeda pula.

….And this night, one thing about Angelle Han was revealed….

TBC

One thought on “Please, Hold On [part 2]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s