My Lovely Bunda [part 1/2]

Tag (tokoh) :   Kim Jong Woon as Alif

Kim Jong Jin as Ahda

Kim Ah Jung a.k.a Omma as Nurhaliza Darmawan a.k.a Bunda

Kim Na Ra as Fatimah az Zahra

dan Super Junior as Garuda Boys (#ngarang abiiis)

Genre : Family? yg Pasti GAJE!

Rating : All Age

Nama : Rahmi sarangheSUJU

Lagi-lagi karena saya mulai tak sabar. FF ini pernah saya kirim ke SJFF2010 dalam judul My Lovely Omma, tp belum dipublis…sambil menunggu, saya iseng-iseng mengedit dan timbul lah ide merubahnya dalam versi indonesia dan beginilah jadinya…tambah gaje dan ancuuurr…sama kok, bedanya cuma FF ini jd twoshot dan agak sedikit islami. oke, dari pada saya semakin gila…cekidot aja deh….hehe. oya mianhe…jika clouds berkeberatan uri Yeppa diobrak-abrik seperti ini…

 

Café Bunda sudah mulai sepi, setelah tadi dipadati oleh pengunjung yang antusias ingin melihat artis idola mereka dalam jarak dekat. Hanya tinggal beberapa orang saja, dan sang idola yang sejak pagi berdiri di meja kasir saat ini digantikan oleh kasir yang sesungguhnya agar ia dapat beristirahat. Seorang wanita paruh baya menghampiri sang idola yang merupakan salah seorang member boyband papan atas Indonesia yang biasa dikenal, Garuda Boys. Wanita paruh baya tersebut menyodorkan segelas minuman dingin ke sang idola yang ternyata adalah lead vocal di Garuda Boys.

‘Terimakasih, Bunda,’ ujar ayahnya Blacket, nama kura-kura piaraan sang idola- itu sambil meraih minuman yang di sodorkan sang ibu dan mengusap bahunya yang mulai pegal dengan tangannya yang lain.

‘Aduuh!! Putra Bunda sudah bekerja sangat keras hari ini. Sini! Bunda pijiti,’ ujar Bunda sembari mengulurkan tangannya dan mulai memijiti bahu mungil, namun keren putranya itu.

‘Tidak usah Bunda, Bunda juga pasti lelah, harusnya aku yang pijiti Bunda. Nanti, apa kata fansku, jika melihat aku yang bukannya memijiti bundanya yang kelelahan, malah dipijiti Bunda,’ elak pemilik mata mungil yang indahnya dapat melelehkan hati remaja-remaja putri Indonesia itu.

‘Ah! Biarkan saja orang mau berkata apa, tidak ada salahnya seorang ibu memijiti anak lelakinya, ayo sini!’ Pemuda yang dijuluki si lelaki aneh di Garuda Boys itu hanya pasrah membiarkan ibunya yang bersikeras memijiti dirinya.

‘Alif sayang?’ ujar Bunda pelan sambil memijiti bahu Alif. Alif sudah mulai was-was mendengar sang bunda menyebut namanya dengan nada seperti ini. Perasaannya mulai tak enak…

‘Ya, Bunda?’ jawab Alif pasrah sekaligus bersiap siaga menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.

‘Alif putraku sayang, lusa kau juga ada jadwal ke sini ‘kan?’

‘Ya. Kenapa, Bunda?’ ujarnya pura-pura tidak tahu akan diarahkan ke mana pembicaraan ini.

‘Lusa, tidak usah ke sini, kau temani Bunda saja ya?’ ujar Bunda lagi dengan nada yang semakin membuat Alif semakin merinding dan sekarang semakin menumpuklah perasaan was was di dalam hatinya.

‘Ke mana, Bunda?’

‘Hmmm, bertemu calon mantu Bunda,’ ujar Bunda riang mengabaikan perasaan anaknya yang sedang ketar ketir.

            Tuh kan? Apa kubilang? Huweee, Tuhan… kasihani hambaMu ini, Blacket tolong aku… jerit Alif dalam hatinya. Bunda adalah wanita yang paling ia hormati dan cintai di dunia ini, tapi kalau Bunda begini, sepertinya bunda tak asik lagi. Alif bersungut di dalam hati. Akhir-akhir ini Bundanya selalu saja begini, menyebut-nyebut hal-hal yang berbau pernikahan dalam tempo dan dalam kurun waktu yang sesingkat-singkatnya kali dua puluh empat jam. Eh, maksudnya, enam puluh menit dalam satu jam, dua puluh empat jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu, dua belas bulan dalam setahun, tema pernikahan itu tak bergeser dari deretan daftar pembicaran paling hits sepanjang sejarah hidup Bunda akhir-akhir ini.

‘Bundaaaa,’ rajuk Alif, memasang wajah paling teramat sangat menyedihkannya. Tapi, entah kenapa semakin terlihat imut dan lucu di mata GFF, Garuda’s Forever Friend, -sebutan untuk fans Garuda Boys-  terutama Alifers, nama untuk fans Alif seorang.

‘Ah…Why?’ bunda sok nginggris, juga tak mau kalah dalam memasang wajah paling memelas yang pernah ia miliki selama ia bernafas di dunia ini.

‘Bunda, suatu saat aku pasti akan menikah, tapi tidak sekarang, ya? Aku masih ingin mewujudkan impian-impianku, Bunda,’ lagi-lagi Alif merajuk dengan lembut.

‘Impian yang mana lagi, sayang? Bukankah sekarang, impianmu itu sudah terwujud? Bukankah sekarang kau sudah menjadi penyanyi paling terkenal di dunia?’ Bunda tak mau kalah dengan anaknya ini dalam beradu ‘pasang tampang paling memelas dan setel suara paling merajuk’-nya. Bunda sekarang duduk di depan Alif yang sedang malas-malasan mengunyah santap siangnya. Selera makan Alif mendadak jadi buruk, meski ia lapar bukan main.

‘Belum bunda, belum seterwujud itu. Konser di Eropa baru satu kali, dan baru satu tempat di Perancis. Di Sidney bahkan di batalkan. Konser di Korea juga baru sekali. Impianku adalah menjadi member boyband yang melegenda di dunia, Bunda,’ ujar Alif lembut dengan ekspresi datar ples mata kecilnya yang menerawang ke masa depan. Masa depan yang entah berpuluh-puluh tahun jaraknya dari sekarang di saat dirinya dan ke-sembilan member Garuda Boys lainnya yang beruban dan mulai keriput, berkumpul bersama dalam satu panggung sambil menggenggam piala penghargaan musik paling bergengsi di seluruh dunia di tangan mereka masing-masing, penghargaan yang keratusan kalinya. Mereka silih berganti mengucapkan terimakasih sambil berlinang air mata untuk Tuhan Yang Maha Esa, untuk orang-orang terkasih termasuk GFF yang telah membesarkan nama mereka hingga menjadi boyband besar Indonesia yang melegenda di dunia. Pokoknya Jacko si King of Pop lewat deh.

Plak!!! Sebuah jitakan sukses membuat Alif kembali menjejak bumi.

‘Adaw!’ Bunda mendadak kesal melihat anak bujang pertamanya ini semakin jauh mengawur.

‘Bunda,’ Alif kembali merajuk sambil mengusap-usap kepala besarnya yang terasa perih terkena jitakan lembut sang bunda tercinta, mata mungil nan indah itu kembali fokus menatap bundanya. Tapi, Bunda buru-buru merubah ekspresi kesalnya yang tadi sempat menguap menjadi lebut kembali layaknya seorang ibu. Bunda meraih tangan putra paling kerennya itu, dan menggenggamnya dengan lembut.

‘Alif putraku sayang, kau tahu ‘kan Bunda ini sudah tua. Bunda sangat berharap sekali melihat kau menikah dan punya anak sebelum akhirnya Bunda mati. Tidakkah kau ingin membahagiakan Bunda sebelum Bunda mati? Bagaimana kalau Bunda mati sebelum kau selesai mewujudkan semua impianmu itu? Kau mau saat semua impianmu tercapai, lalu memutuskan ingin menikah Bunda sudah tidak ada lagi di sisimu?’

Mendengar perkataan terakhir sang Bunda, Alif sontak menghentikan kegiatan makannya, sendok yang tadi berada di tangannya terlepas dan tangan itu sekarang terentang membelah jarak antara dirinya dan bunda tercinta, jari telunjuk yang mungil itu teracung dan mendarat di bibir mungil bunda. Alif menatap tajam bundanya. Bunda malah kaget, mematung dan terheran-heran dengan tingkah bocahnya yang tak lagi bocah ini.

‘Bunda! Jangan pernah menyebut kata itu lagi Bunda. Bunda mau, anak Bunda ini jadi gila? Apa yang terjadi dengan GFF jika mendengar kabar kalau salah seorang member Garuda Boys yang paling tampan, lead vocal paling karismatik dan satu-satunya member yang dari hari-kehari semakin keren dan awet muda ini tiba-tiba mendadak gila gara-gara bundanya baru saja menyebut-nyebut kata mati?’ Alif masih sempat narsis berlipat-lipat di tengah kegusarannya. Seakan-akan aura kenarsisan semua member berkumpul di dalam dirinya. Narsisnya si bungsu evil Garda apa lagi, lebih mendominasi!!

‘Ish…’ Bunda menjauhkan tangan sang putra dari bibirnya dengan kesal. ‘Kau…Alif, kau mempermainkan Bunda?’ Bunda mulai memasang ekspresi yang merupakan jurus terakhir dan yang pasti jurus andalannya. Nah…nah bersiap-siaplah dirimu, Alif Darmawan!

‘Mr. Alif,’ mata Bunda sudah mulai memerah, pokoknya wajah itu mendadak sendu dan sangat kelabu membuat Alif mendadak sulit berkutik. ‘Kau tidak menyayangi Bunda?’ Bunda mengusap air matanya sambil sesenggukan. Alif ternganga, merutuki dirinya sendiri karena telah berani-beraninya membuat wanita yang sangat disayanginya ini meneteskan air mata. Alif meremas rambutnya dan meringis mulai putus asa dengan keadaan ini. ‘Bunda,’ lirihnya tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan air mata itu karena air matanya juga mulai menggenang di pelupuk mata.

Ternyata memang benar kata pepatah, cinta seorang ibu sepanjang jalan. Melihat ekspresi putranya yang tak ubahnya seperti anak hilang, Bunda menghapus air matanya dan kembali memasang senyum seorang ibu.

‘Ya…ya, Bunda tahu, tak perlu Bunda tanyakan pun, Bunda sudah tahu kau sangat menyayangi Bunda. Sudah, sudah hapus air matamu, jelek sekali,’ Bunda meraih pipi putranya dan mengusap-usapnya lembut, berusaha menghentikan air mata putranya yang mungkin sebentar lagi akan jatuh.

‘Ow, putra Bunda yang sudah sebesar ini, kenapa mudah sekali menangis sih? Jelek sekali,’ bujuk Bunda sambil merapikan rambut Alif yang memang modelnya awut-awutan.

Dan benar saja, air mata itu pun jatuh sudah. Tes…tes, melewati wajah datarnya dan jatuh ke punggung tangan Bunda yang masih mengusap pipi Alif.

Ahda yang tadinya sibuk melayani pengunjung dan memang sesekali memperhatikan perdebatan antara dua orang ibu dan anak itu sekali lagi menolehkan pandangannya kepada bunda dan abangnya dan mendapati pemandangan yang tak enak di pandang mata itu.

‘Cih…!! Ada apa lagi dengan si kepala besar itu?’ sungutnya di dalam hati. Pengunjung yang tengah menunggu pesanannya membuat Ahda akhirnya mengurungkan niat menghampiri bunda dan abangnya itu.

‘Hey! Sudah, kenapa malah kau yang menangis sih? Seharusnya Bunda yang menangis,  kenapa kau yang menangis? Cih…! Mana lead vokal Garuda Boys yang melegenda itu? Cengeng sekali, hapus air matamu!’ bujuk Bunda lagi.

Alif menuruti perintah bundanya, ia menghapus air matanya dengan punggung tangan sambil sesekali sesenggukan. Terbayang bukan, seorang pemuda umur 28 tahun sesenggukan seperti apa?

‘Sssst, sudah…’ tangisan Alif sudah mulai reda. Ia sudah tak sesenggukan lagi.

‘Maafkan Bunda ya, Bunda tak akan mengulanginya lagi,’ gak kebalik tuh, bang?

‘Ti-dak,’ suara Alif yang memang serak serak basah sekarang tambah serak dan bergetar, pipinya basah oleh bekas-bekas air mata, begitu juga dengan bulu matanya masih dipenuhi oleh bulir-bulir air mata. Puncak hidung mancungnya memerah. Benar-benar deh seperti bocah yang baru saja raungannya mereda. ‘Aku yang harus minta maaf, aku yang jahat karena telah membuat Bunda menangis. Maaf Bunda,’ ujarnya nyaris hampir menangis lagi.

‘Ish… Kau lihat ‘kan, Bunda tidak jadi menangis? Jika kau tak ingin Bunda menangis, hentikan tangisanmu yang konyol itu! Sudah setua ini masih juga menangis,’ Bunda berdecak sok kesal menghadapi tingkah Alif.

Mendengar ancaman bundanya, Alif mendadak memasang senyum yang menawan hingga mata kecilnya menghilang. Detik kemudian, Alif sudah berada dipelukan bundanya. Kedua tangan Alif melingkar disekeliling pinggang Bunda dan kepala besarnya bersandar di bahu wanita paling dipujanya di dunia ini.

‘Tapi, Alif, putra Bunda sayang… Sekali ini saja, bantu Bunda, ya? Bunda sudah terlanjur berjanji dengan teman Bunda mengenalkan kau dengan putrinya, putri angkatnya. Bunda akan merasa sangat tidak enak sekali pada teman Bunda itu jika Bunda mengingkari janji Bunda. Bunda janji ini yang terakhir kalinya, kita hanya perlu bertemu, setelah itu Bunda berjanji tidak akan mengungkit masalah pernikahanmu lagi. Kau bebas menentukan kapan kau akan menikah, Bunda tak akan mengganggumu lagi,’ Bunda membelai pelan kepala Alif yang bersandar di bahunya.

‘Benarkah, Bunda? Ini yang terakhir ya?’ dengan sedikit ragu akhirnya Alif mengangguk, memenuhi permintaan Bundanya. Tapi, kata ‘yang terakhir’ membuatnya merasa risih jika memikirkan makna lain dari kata-kata itu. ‘Maaf Bunda, tapi aku tetap ingin melanjutkan mimpi-mimpiku dulu ya, Bunda,’ rengek Alif yang dibalas anggukan oleh Bundanya. Menyetujui ikut denganku besok saja, itu sudah sangat luar biasa bagiku Alif sayang, kita lihat saja besok apakah kau akan tetap bersikukuh dengan kata ‘nanti..nanti’-mu itu? bunda membatin.

Tiba-tiba, Ahda sudah berdiri di depan ibu dan anak itu. Alif menatap Ahda tajam, seolah-olah tatapan itu menyuarakan isi hatinya; ini gara-gara kau! Coba aku juga punya alasan seperti dirimu, ‘masih kecil’ lah, ‘melanjutkan kuliah dulu’ lah, ‘harusnya abang duluan’ lah, aku pasti juga merdeka dari ‘nerakanya’ orang dewasa ini. Aku kan masih muda. Banyak GFF yang mengakui aku masih imut-imut. Hidupku rasanya terlalu menyenangkan hanya untuk dipusingkan oleh hal-hal yang berbau ‘dewasa’. Begitu panjang pergolakan batin Alif sampai-sampai ia hanya baru tersadar ketika jitakan Ahda mendarat di kepalanya. ‘Bang! Kau manja sekali…Kau tak layak jadi abangku. Minggir Sana!’

Bunda hanya terkekeh melihat tingkah dua pangerannya.

Tindakan Ahda membuat Alif melepaskan pelukannya dari bunda.

‘Bocah! Awas kau!’ Alif meradang dan berniat mengejar Ahda yang berlari menghindari abangnya.

 

******

Alif POV (Point of View)

Dan di sinilah aku sekarang, berada di belakang ekor bunda. Eh, salah! Maksudnya, aku sekarang mengekori ke mana bundaku melangkah. Hey!!! Aku tidak sedurhaka itu sampai-sampai mengatai bundaku sendiri memiliki ekor. Jika itu terjadi, berarti aku juga punya ekor dong karena aku terlahir dari keturunan yang memiliki ekor. Ah, sudahlah, sepertinya aku sudah mulai gila. Sebagai orang yang dikenal jutaan GFF si pemuda anehnya Garuda Boys yang berbakti dan penyayang kepada orang tua, aku ingin sekali mewujudkan harapan bundaku; memberinya seorang menantu dan cucu sesegera mungkin. Tentu saja aku akan mewujudkannya, tapi tidak sekarang. Dan semua orang juga tahu semua harapan bundaku pasti aku wujudkan, salah satu harapan bundaku; mempunyai anak tertampan dan sukses menjadi penyanyi yang go internasional, sudah! Sebagi Muslim, menghajikan keluarga, sudah! Lalu, menghadiahkan Café Bunda yang sudah lama diimpi-impikan Bunda, juga sudah! Jika disebutkan satu persatu, tentu fiksi ini akan berubah menjadi sebuah novel bukan lagi sebuah cerpen. Nah, sekarang harapan yang bunda bilang harapan terakhirnya ini pasti juga akan kuwujudkan, aku ‘kan anak yang berbakti. Tapi, masalahnya adalah waktu, bunda maunya sekarang juga, sementara aku berharap, bunda bersabar sebentar lagi. Jujur, aku masih belum puas bermain (Ingat umur, bang!).

Ting… Tong! Kami tiba di depan rumah yang terlihat sederhna, tetapi ukurannya luar biasa besar. Berapa banyak jumlah penghuni rumah ini? Pikirku, sebelum akhirnya aku melihat plang yang berdiri di depan rumah besar itu. ‘Panti Asuhan bla bla bla’

Oh panti asuhan, toh?

Seorang wanita seumuran bundaku muncul di balik pintu dan melongokkan kepalanya ke arah kami yang masih berdiri di balik pagar bercat hijau ini. Rupanya itulah teman bunda yang sering beliau ceritakan. Setelah saling berpelukan -bunda dan temannya itu- bunda memperkenalkan aku pada temannya dan akhirnya aku dibawa ke dalam panti asuhan yang memang besar. Panti asuhan sekarang memang dalam keadaan sepi, karena sebagian besar penghuninya sedang bersekolah. Aku duduk di sebuah kursi ruang tamu sambil sesekali melirik foto-foto yang bergelantungan di dinding. Banyak sekali fotonya, sepertinya foto penghuni panti ini. Dalam setiap foto itu terdapat dua orang atau lebih dan masing-masing mereka mempunyai medali-medali penghargaan yang tergantung di leher mereka, sepertinya mereka berfoto sehabis memenangkan sebuah perlombaan. Kulihat Bunda masih asik bercengkrama dengan temannya dan sesekali teman bunda menanyaiku yang kujawab ala kadarnya. Meski pun aku terkenal dengan sikap konyolku, aku bisa jadi jauh lebih pendiam di depan orang yang jauh lebih tua dariku. Takut, jika sikap konyolku nantinya membuat orang itu beranggapan aku tak menghormati orang yang lebih tua.

Tiba-tiba, seorang wanita, eh, gadis menghampiri kami sambil menating nampan yang di atasnya terdapat gelas-gelas yang berisi minuman yang kelihatannya menggiurkan. Akhh, kebetulan aku sedang haus sekali. Air liurku menetes. Gadis itu berhenti sejenak di depan pintu dan memberi salam kepada kami semua yang ada di hapannya. Oke, maksudku kepada aku dan bundaku. Setelah gadis itu mempersilahkan kami minum aku langsung menyambar minuman itu.

‘Zahra, duduk sini dekat Bunda,’ kudengar tante, teman bunda memanggil gadis itu yang baru saja akan berbalik kembali ke ruangan di mana ia muncul tadi. Kulihat dari sudut mataku    -karena aku sedang menyeruput minumanku- gadis itu menghentikan langkahnya dan duduk di samping tante.

‘Zahra, kau tidak ingin berkenalan dengan tamu kita ini? Bukankah kau mengidolakan Garuda Boys? Kau tidak ingat, siapa pemuda tampan di depan ibu ini?’ ujar tante yang entahlah aku lupa namanya- sambil tersenyum jahil.

Mendengar Garuda Boys disebut-sebut, aku pun memusatkan perhatianku sepenuhnya ke pada gadis itu. Tentu saja aku harus memberikan ‘servis’ terbaikku untuk GFF, aku mulai memamerkan senyum handalanku. Gadis itu juga menatapku dan membalas senyumku sekilas. ‘Tentu saja aku kenal dan ingat, Bu. Alif Garuda Boys siapa yang tidak kenal. Seluruh Asia juga kenal, Bu. Aku hanya malu dan tidak menyangka ternyata sekarang aku sedang berhadapan dengan seorang member Garuda Boys yang aku idolakan,’ gadis yang dipanggil Zahra oleh ibunya ini berbicara sambil melirikku dan ibunya bergantian dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Jika kugambarkan gadis ini…gerak geriknya, gestur tubuhnya atau pembawaannya, atau apalah namanya mengingatkan aku pada Ana Atafunnisa, pasangan main bang Indra, leader boy band kami, di Filem Ketika Cinta Bertasbih yang dibintanginya. Tenang dan murah senyum. Kalau dari segi penampilan…Hahaha, rasanya aku ingin tertawa ketika bayangan itu melintas di kepalaku, untung saja hanya di dalam hati, penampilannya mengingatkan aku pada Risti dan Rara, dua gadis asing yang ada di acara variety show yang dibawakan boy band kami. Mereka gadis yang berpenampilan sederhana, selalu berpakaian sopan dengan blus dan rok yang juga panjang. Tapi, meski sederhana dimataku mereka punya daya tarik tersendiri. Biasanya benda yang bernilai seni tinggi, berkualitas dan berdaya jual mahal tidak akan diletakkan di sembarang tempat. Begitu juga dengan mereka, mereka jelas adalah dua gadis yang tau betul bagaimana menghargai diri sendiri. Bagi mereka cantik tak harus buka-bukaan. Biasanya suatu daerah yang belum terjamah oleh hiruk pikuk kota pasti masih asri, segar dan indah. Tanpa sadar aku mengulum senyum, sejak kapan aku tertular penyakit si  Rangga, lead dancernya boy band kami yang otaknya condong agak ke ‘kiri-kirian’ itu?

Eh…Tapi, jika kubandingkan dia dengan Risti dan Rara yang variety shownya mengudara sekitar lima tahunan yang lalu di Indonesia, berarti gadis ini termasuk gadis yang kuno. Huwahaha, di jaman sekeren sekarang masih saja ada gadis berpenampilan kuno seperti dia. Kurasa, bukan kuno, tapi klasik. Bukankah benda klasik itu sekarang malah bernilai jual mahal, antik, sulit didapat dan diburu banyak peminatnya? Apa-apaan aku ini? Kutahan hasratku yang ingin tertawa, kupasang kembali wajah datarku mengingat orang yang bersangkutan sedang berada di depanku sedang berbicara dengan bunda. Bunda sejak tadi sering sekali melirikku, memberikan isyarat-isyarat yang tak jelas agar aku bicara dan sepertinya beliau ingin aku menggoda gadis berjilbab itu. Memangnya aku ini jin bernama iblis yang dijebloskan ke bumi hanya untuk menggoda umat manusia? Yang benar saja bunda!!! Sudah jelas aku ini tipe pria baik-baik yang mendadak jadi pendiam jika berdekatan dengan perempuan apa lagi katanya gadis ini lah yang akan di jodohkan denganku. Semua orang boleh mengenal aku sebagai lelaki yang aneh, kocak, konyol dan bisa mengundang tawa banyak orang yang ada disekitarku, tapi jika diminta dekat atau bergaul dengan perempuan aku bukan ahlinya. Ya…meskipun aku punya abang yang ahli dalam hal perempuan seperti Bang Gilang, member boyband kami yang berwajah cantik, yang punya banyak teman perempuan, dan entah kenapa kelebihannya itu tak menular sedikit pun kepadaku. Bukan berarti aku tidak punya teman perempuan sama sekali. Aku punya, tapi, yah, pertemananku dengan makhluk yang bernama perempuan itu selalu berlandaskan sebuah kepentingan. Misalnya, rekan kerjaku di dunia musik, atau kenalanku di sebuah reality show, tidak pernah ada hubungan pertemanan yang melibatkan perasaan antara aku dengan perempuan mana pun. Ah sudahlah, dialog batinku ini harus dihentikan secepatnya jika aku tak ingin wanita-wanita di depanku ini menganggap aku sebagai pemuda bodoh yang paling tampan di tanah air ini.

 

Writer POV

‘Bang…bukan begitu,’ ujar seorang pemuda yang logat Minangnya cukup kentara.

‘Setahuku, di sana bukan tempat yang strategis untuk bisnis ini. Terlalu sepi,’ tambah pemuda itu lagi. Wajah pemuda yang baru saja berbicara, agak mirip dengan seorang pemuda yang memiliki bakat sebagai dancer, khususnya tarian-tarian yang luar biasa konyol, norak, dan gaje (gak jelas). Matanya juga mirip dengan pemuda yang ternyata tarian-tarian norak itu hanyalah bakat sampingan, dan bakat utamanya adalah suara emas yang sukses mengantarkan sang pemuda menjadi lead vocal boyband papan atas Indonesia.

‘Justru itu, Ahda! Kita akan bikin tempat itu menjadi hidup. Kehadiran kita di sana akan meramaikan kembali tempat itu. Kau tidak lupa bukan, kita hanya perlu mengembalikan kejayaan tempat yang dulu pernah menjadi tempat teramai di Jakarta,’ balas pemuda kedua yang lebih tua dari pada pemuda yang disebut-sebut agak mirip dengan salah seorang member boyband tadi. Dan, ya, ternyata pemuda yang agak mirip dengan pemuda yang- entahlah siapa itu- bernama Ahda.

Ahda menyipitkan matanya yang memang sudah sipit. Maklumlah, ibu Minang, Ayah Cina.  Meringis ragu pada pemuda yang ada di depannya, sebuah tanda-tanda dari seorang Ahda bahwa ekspresi seperti itu menunjukan ia sedang berfikir.

‘Betul Bang, ide bagus itu. Aku setuju. Masyarakat di sekitar tempat itu pasti bersyukur jika kita berhasil menghidupkan tempat itu lagi karena mereka pasti akan memperoleh keuntungan juga. Perekonomian mereka mungkin akan bangkit kembali. Orang-orang akan berbondong-bondong untuk berbisnis di daerah itu lagi,’ Ahda menoleh pada pemuda ke tiga dari tiga dialoger yang akhirnya mengeluarkan statemen setelah lama berdiam diri. Dan, pemuda ketiga ini adalah pemuda yang dari tadi di sebut-sebut sebagai pemuda yang sedikit menyerupai Ahda.

Ahda masih memandangi pemuda yang duduk di sampingnya itu dalam keadaan mulut yang tidak mingkem. Tanda-tanda yang kesekian dari Ahda bahwa dia masih dalam keadaan berfikir. Pemuda yang katanya mirip Ahda itu menyeruput capucino dingin berpenyedot blue sapphire-nya.

‘Kenapa kau bisa seyakin itu, Bang?’ ujar Ahda lagi akhirnya. Masih kepada pemuda di sampingnya.

‘Ck…Bocah! Kau lupa siapa abangmu ini, heh?’ retoris pemuda kedua yang lebih tua seraya mengacungkan telunjuknya pada pemuda di samping Ahda dengan masih menatapi Ahda.

‘Alif Darmawan -lead vocal dari boyband papan atas Indonesia yang mendunia – sekaligus putra sulung dari seorang wanita bersahaja, Nurhaliza Darmawan!’ ujar seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah alotnya perdebatan ke tiga pemuda keren tadi. Kalimat itu diucapkan dengan penuh penekanan. Layaknya kalimat yang disabdakan oleh seorang ratu yang menuntut agar seluruh perhatian bawahannya hanya ditujukan untuk sang ratu seorang. Ketiga pemuda itu pun menoleh dan memusatkan perhatian kepada wanita yang akhirnya duduk di salah satu bangku di samping mereka sambil memamerkan gigi-giginya.

‘Rapatnya belum selesai Bunda. Kenapa Bunda sudah ada di sini?’ ujar Ahda menyela senyum sumringah bundanya.

‘Ck! Apa-apaan ini, bukankah pemilik cafe ini adalah aku? Kenapa aku tidak diikutsertakan dalam rapat ini?’ Bunda berdecak kesal menerima penolakan putranya.

‘Bunda, sudah kubilang menjadi pemilik itu tugasnya hanya duduk-duduk saja sambil mempertimbangkan ide-ide bawahannya, memutuskan lalu memerintah. Apakah perlu kuulangi berulang-ulang kali?’ Ahda menghitung dengan jari-jari tangannya, dengan wajah yang juga berpotensi datar seperti wajah Alif, abang kandungnya. Alif hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Ahda yang mengajari bundanya. Anggap saja di sini bundanya Alif agak tidak terlalu pintar ya.

‘Ya, ya, aku tahu. Aku hanya mau mengingatkan, cepat selesaikan rapatnya, setelah ini sebelum pulang, kau masih harus berbicara denganku, Alif Darmawan! Ada hal penting yang ingin kubicarakan,’ tandas Omma kesal karena ia diajari oleh anaknya sendiri, lalu pergi memulai aktivitasnya lagi yang tadi sempat tertunda. Bersih-bersih.

 

*****

Dengan malas-malasan Alif menghampiri bundanya. Waktunya tak banyak, sebentar lagi ia harus pulang ke asrama karena jadwal latihan telah menanti.

Ketika Alif sudah berada di samping bundanya, sang bunda sedang asik mengelap piring-piring, bukan karena mereka kekurangan pelayan, tapi duduk seharian tanpa bergerak dan mengeluarkan keringat tentu tidak baik bagi tubuh.

‘Bunda, aku mau pulang,’ Alif memang hendak pulang ke dorm agar bisa istirahat sebentar sebelum latihan.

‘Alif, bagaimana? Sudah kau pikirkan?’ bunda langsung to the point

‘Bunda, bukankah Bunda sudah berjanji tidak akan mengungkit-ungkit masalah ini lagi. Waktu itu Bunda sudah berjanji hanya bertemu saja, tapi sekarang… Aaaa, Bundaaaaaa,’ Alif benar-benar merajuk sekarang, bahunya jatuh seperti orang yang kelelahan, dan memang ia sedang lelah hari ini setelah seharian melayani pengunjung cafe yang seperti biasa akan membludak setiap kali kedatangannya.

‘Ah, kenapa sih? Bunda hanya ingin tahu saja, apakah hatimu tergerak setelah pertemuan itu. Apakah salah Bunda menanyakan itu?’ Bunda meletakkan kain lap yang tadi ada di tangannya dan memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Alif.

‘Sama saja Bunda, menanyakan hatiku berarti membahas pernikahan, bukan? Pokoknya aku tak mau menikah sekarang. Aku ini lelaki tersibuk di seluruh Indonesia, jangankan untuk mengurus istriku nantinya, memikirkan kata pernikahan saja aku tak sempat,’ rajuk Alif lagi.

‘Aduuh… Bocah ini!’ bunda sudah mulai stres menghadapi tingkah putranya. ‘Bagaimana kalau kau berjodoh dengannya, bagaimana jika hatimu tergerak? Sekeras apa pun kau menolaknya pernikahan itu pasti terjadi. Makanya, Bunda tanyakan hatimu.’

Alif benar-benar lelah, dengan lunglai ia menghampiri bangku terdekat dan duduk di sana. Bunda mengikuti duduk di samping Alif. Beruntung suasana Café Bunda sore menjelang malam ini sudah mulai sepi, jika tidak, dalam sekejap akan beredar kabar seorang Alif Darmawan, lead vocal Garuda Boys akan menikah dalam waktu dekat karena dijodohkan oleh ibunya yang diedarkan dengan tidak bertanggungjawabnya oleh gosiper yang tak sengaja mendengar.

‘Bagaimana bisa hatiku tergerak Bunda, aku tidak mengenal gadis itu,’ Alif membela diri.

‘Makanya, kalau bunda sedang bercerita tentang Zahra, didengarkan! Kau bahkan menutup telingamu dan tak mau peduli, tak sedikit pun berusaha untuk mengenalnya. Bunda yakin setelah kau mengenal dia, hatimu yang membeku itu pasti akan mencair dan tanpa Bunda minta pun kau pasti akan meminta segera dinikahkan. Soal cinta jangan ditanya, bunda yakin setelah kalian menikah kau akan tergila-gila padanya. Sekarang bunda hanya minta kau membuka hatimu untuk memikirkan pernikahan dan gadis yang tepat untuk mendampingimu mewujudkan perbuatan mulia itu adalah Zahra. Aku tak bisa melihat gadis lain yang lebih baik dari dia. Kau mau dia diambil orang? Sekarang sudah waktunya dia menikah…Atau, untuk lebih yakinnya, kau ingin menemui dia sekali lagi? Biar bunda temani?’ bunda masih belum juga menyerah. Ia menatap Alif dengan keantusiasan penuh, berharap semangatnya menulari Alif.

‘Bundaaaaa,’ Alif menggelinjang-gelinjangkan kedua kaki dan tangannya dengan ekspresi memohon tak ubahnya seperti bocah kecil yang menuntut dibelikan mobil-mobilan kepada ibunya yang tak memiliki uang sepersen pun untuk membeli benda itu. ‘Sudah kubilang aku tak punya waktu untuk melakukan itu Bunda, ish…’ Alif menatap Bunda dari sudut matanya yang mulai berair. Nafasnya naik turun.

‘Ya,ya! Aku tahu, sudahlah, tak perlu di bahas lagi. Bunda tahu, bagaimana pun Bunda memohon kau tak akan mewujudkan keinginan Bunda yang satu ini. Sibuk, sibuk, itu saja yang selalu menjadi alasanmu, bagaimana mungkin seharian ini kau bisa bermain-main di sini sementara di suruh merayu seorang gadis saja kau sok menjadi pria paling tersibuk yang pernah ada di jagad raya ini…’ Bunda memberenggut, ia berdiri dan kembali memulai pekerjaannya yang sempat tertunda.

Alif mematung saja menyaksikan bundanya. Ini sudah yang keberapa kalinya Alif dan bundanya terlibat perdebatan penuh emosional seperti ini? Dan lagi-lagi hanya soal pernikahan. Catat ya, pernikahan! Sebegitu pentingnya kah pernikahan di saat seperti ini? Sebegitu inginnya kah bunda? Pikiran Alif berkecamuk, tidak menyangka akan berada dalam kondisi sepelik ini dalam hidupnya. Ini jauh lebih pelik dari pada saat-saat awal ia berjuang merintis karir sebagai artis. Di mana ia pernah manangis saat melihat teman-teman seperjuangan sudah mulai ditampilkan oleh agensi mereka di stasiun-stasiun televisi, sementara dirinya yang mengikuti pelatihan dalam waktu yang lebih lama belum juga memulai apa pun. Sebegitu dahsyatnya kah arti dari sebuah kata; pernikahan! Sehingga dapat mengganggu keharmonisan hubungan antara seorang ibu dan anak yang selama ini terjalin bak darah dan daging yang tak ‘kan terusik oleh apapun kecuali kematian? Alif mengacak-acak rambutnya dan menggeloyorkan tubuhnya sesaaat di kursi yang di dudukinya sebelum akhirnya ia bangkit dan menghampiri sang bunda. Alif melingkarkan tangannya di sekitar leher bunda, mendekap wanita itu dari belakang.

‘Bunda, maaf. Bunda jangan terlalu keras berfikir. Tanpa bunda fikirkan pun, Tuhan sudah punya rencana terindah untukku, tinggal menunggu waktunya saja. Jika aku memang berjodoh dengan gadis itu, tentu kami akan dipertemukan lagi. Bunda tenang saja, kalau terlalu banyak berfikir nanti keriput di wajah bunda akan semakin banyak,’ ujar Alif sambil melepaskan pelukannya. Alif mengecup pipi bunda sebelum melangkah keluar. Ia masih sempat mendengar bundanya berteriak.

‘Bocah tengil!! Kau mau bilang bunda tua!? Bunda belum tua! Ingat itu! Hey! Bocah tak berbakti! Memang benar Tuhan sudah punya rencana untuk hidupmu, tapi kau dianjurkan untuk menjemput rencana itu, kau dengar!?’ Sudah berada di luar pun, suara Bunda masih sayup-sayup sampai ke telinga Alif. Untung saja beberapa menit yang lalu Ahda sudah memasang ‘close’ pada pintu café, sehingga tak ada yang akan mendengar. Sore menjelang malam memang biasanya Café Bunda ditutup untuk sejenak, memberikan kesempatan kepada pegawai untuk berbenah-benah dalam mempersiapkan jamuan untuk pengunjung yang akan makan malam. Jika waktu makan malam telah tiba, Café Bunda akan di buka kembali.

 

******

Sudah tiga minggu berlalu semenjak insiden antara bunda dan dirinya, selama itu pula Alif tidak pernah mendatangi Cafe, meski banyak waktu kosong yang biasanya menjadi jatah Café Bunda untuk didatangi. Entah kenapa, akhir-akhir ini, ia enggan sekali mendatangi tempat itu. Bukan untuk menghindari bundanya, tapi untuk menghindari perdebatan penuh emosional yang akhir-akhir ini seakan-akan menjadi momok yang tak terelakkan. Ujung-ujungnya pasti bunda akan terluka, ia tak ingin melihat raut kecewa di wajah bundanya lagi. Sementara itu, ia juga tak ingin menikah secepatnya seperti permintaan bunda. Ia masih menikmati karir keartisannya yang semakin hari semakin melejit. Nah, gadis mana yang sudi menikah dengan pria yang akan setiap saat meninggalkannya karena kesibukan sang suami yang membunuh itu? Kenapa ia harus menyia-nyiakan kehidupan anak gadis orang dengan menikahinya? Sungguh dilema bukan? Dilema oh dilema, kenapa kau hadir dalam hidupku? Memikirkan si dilema membuat Alif refleks melemparkan komik yang ada di tangannya dengan sebarang arah.

Buuk! Ngek! ‘haa?’ Alif menoleh karena suara yang terakhir mengusik kesadarannya.

‘Ooookhh, Blecket! Maaf! Maaf! Maaf!’ Alif bangkit dari berbaringnya dan segera menghampiri Blecket. Detik kemudian,

‘Wuahahaha, Bang! Ada apa denganmu? Kau mau membunuh belahan jiwamu itu?  Wuahaaha,’ Andre tau-tau sudah berada di tempat tidurnya sambil mengamati Alif seraya tertawa-tawa. Entah karena ia terlalu serius sampai-sampai ia tak sadar sedari tadi Andre sudah berbaring di tempat tidurnya sambil mengamati tingkah aneh abang seboyband-nya yang memang terkenal aneh itu. Andre khawatir, kalau-kalau terjadi apa apa pada Alif, karena keanehan abangnya itu sepertinya sudah melebihi kadar keanehan seorang Alif Darmawan yang biasanya.

‘Blecket, maaf. Kau masih marah padaku, heh? Ayolah, aku ‘kan tidak sengaja, jangan diamkan aku seperti ini!’ Alif mengeluarkan segala bujuk rayunya agar belcket memaafkannya, mulai dari mengelus-elus kura-kura itu, sampai menoel-noelnya seolah-olah Blecket benar-benar sedang marah padanya. Padahal tuh si kura-kura darat memang pendiam, dibayar berapa pun binatang itu tidak akan mau bicara, dan pemuda bodoh yang tengah merajuk padanya ini dengan seenaknya membentuk stigma, mainset(?) dan apalah- di otak bodohnya itu bahwa diamnya Blecket berarti pertanda bahwa kura-kura itu sedang marah. Jjiah…

‘Kau ini kenapa sih, Bang? Blecket ‘kan punya tempurung yang kuat, dia tidak akan merasa kesakitan hanya karena timpukan sebuah komik sekecil itu,’ Andre coba menghibur abang sekaligus satu-satunya teman yang sekamar dengannya itu.

‘Oh ya? Lalu, kenapa dia hanya diam saja?’ (plak!!!  pembicaraan tak penting) dan di saat itulah handphone Alif menjerit jerit.

            Majulah wahai pemuda Indonesia…tam..tam…tam, salah satu lagu dari album ke lima Garuda Boys mengalun penuh semangat.

‘Assalamu’alaikum, Bunda cinta?’

‘Alif putraku paling tampan,’ ujar Omma di seberang telpon. ‘Kau tidak datang ke cafe?’

‘Oh, Bunda, aku sibuk akhir-akhir ini, jadwalku padat Bunda. Bukankah aku pernah bilang sebentar lagi Asia Tour kami yang ke tiga? Jadi, sekarang aku sibuk mempersiapkan itu semua,’ dusta Alif.

Memang benar sebentar lagi Asia Tour ke tiga Garuda Boys, tapi, Alif tak sesibuk itu, buktinya baru saja ia selesai membaca komik dan bermain dengan Blecket. Hari ini adalah hari liburnya setelah satu minggu penuh latihan dan menyiapkan segalanya menjelang hari H Asia Tour 3. Hari libur yang biasanya selalu ia gunakan untuk mendatangi cafe meski hanya satu hari, sekarang malah ia habiskan dengan membaca komik dan bermain dengan Blecket.

‘Kau berani membohongi Bunda? Alif, Radit sedang bersama bunda sekarang di cafe, kau masih berani membohongi bunda?’ suara diseberang mulai bergetar. Sial! Mengapa pula si kuda -yeah adik se-boyband-ku yang dijuluki kuda karena postur tubuhnya yang ‘semegah’ kuda- itu ada di sana? Alif merutuki nasibnya yang apes karena telah ketahuan berbohong.

‘Alif, sayang, maaf, bunda telah membuatmu tak betah di sini. Memang ini salah bunda…Maaf ya…’

‘Bunda…’ Alif mulai berkaca-k lagi, tak rela mendengar bundanya berulang-ulang kali mengucapkan kata maaf. Sementara Andre hanya mengamati abangnya dengan ekspresi bingung dan mulai ikut-ikutan gundah gulana terbawa suasana yang tak jelas.

‘Bunda janji tidak akan membahas itu lagi asalkan kau sering-sering mendatangi bunda lagi, ya? Apa gunanya semua keinginan bunda yang bodoh itu terwujud, kalau malah membuat bunda kehilangan putra tercinta bunda. Bunda janji, sejanji-janjinya, kita tidak akan membahas itu lagi. Kau percaya pada Bunda?’ Bunda sudah seperti membujuk seorang bocah.

Alif mengangguk seolah-olah Bundanya melihat tindakan yang baru saja ia lakukan sebelum akhirnya ia tersadar bahwa ia baru saja melakukan tindakan bodoh.

‘Ya Bunda, ma-maaf,’jawab Alif terbata.

‘Hey, bunda macam apa bunda ini sampai sampai membuat putraku selalu mengucapkan kata maaf, seakan akan kau memiliki dosa yang tak terampuni. Sudahlah, mulai sekarang bunda tak mau mendengar kata-kata itu lagi. Bunda sudah memutuskan kita akan melewati hidup ini seperti air mengalir saja. Jadi, kita buka lembaran baru kita dan mulai kehidupan baru, bagaimana?’

‘Wuhahaha, Bundaa. Bunda bercanda? Buka lembaran baru apanya? Memangnya kita ini habis melakukan apa, sampai-sampai harus buka lembaran baru segala?’

Andre menelengkan kepalanya bingung melihat sang abang yang mendadak berubah tertawa sambil memegangi perut saking hebohnya tertawa.

 

******

‘Sesampainya di dorm kemaren, aku langsung terkapar Bunda. Tiga hari di Singapura membuat tubuhku rasanya remuk redam, makanya baru sekarang aku bisa ke sini. Aku dapat jatah libur sehari lagi, sebelum besok mulai disibukkan dengan jadwalku yang menggila itu lagi,’ Alif melepas pelukannya. Bunda menatap wajah putranya sesaat sebelum ia merapikan jaket hitam sang putra tercinta yang memang tidak berantakan.

‘Tidak apa-apa, Kau masih sempat datang ke sini di tengah-tengah kesibukanmu itu adalah sebuah anugerah yang luar biasa besar bagi Bunda,’ tandas bunda sambil tersenyum keibuan. Sekarang, Bunda melepas topi hitam yang masih melekat di kepala putranya. Bunda menatap wajah putranya itu kembali, begitu juga dengan Alif menatap bundanya sambil tersenyum. Ibu dan anak itu saling melepas kerinduan setelah beberapa minggu tidak bersua.

‘Kau boleh saja sibuk anakku, tapi kesehatan dan ibadahmu tak boleh kau abaikan. Kalau dua hal itu sampai kau lupakan, anggap saja bunda tak pernah memiliki anak yang bernama Alif Darmawan! Mengerti?’

Alif terkekeh mendengar ancaman bundanya. Ancaman-ancaman yang selalu menjadi navigator hidupnya. Layaknya gemerincing lonceng kecil yang selalu membuat ia terjaga di saat telinganya mulai pengang oleh kebisingan dunia. Bagaikan setitik cahaya yang menenangkan di saat matanya mulai rabun oleh silaunya gemerlap kehidupan. Bunda adalah inspirasi Alif. Hampir sebagian besar lagu yang dinyanyikan Garuda Boys adalah ciptaan Alif. Sebagai seorang yang cukup religius, lagu ciptaan Alif memang bukan lagu religi namun cukup inspiratif dan sangat di sukai banyak orang dari semua kalangan. Persahabatan, perjuangan, semangat, keluarga, persatuan, kepedulian dan semua tentang kehidupan. Kehidupan yang pernah bunda ajarkan padanya. Toh mumpung ia sedang dipuncak popularitas kenapa tidak ia manfaatkan itu semua untuk berbagi nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai kebaikan yang pernah ia kecap dari ajaran bundanya. Nilai-nilai agama yang selalu ditanamkan bunda sebagai penunjuk arah dalam hidupnya.

Ia teringat, pernah suatu ketika sang bunda mendiamkannya sampai berhari-hari karena Alif lupa melaksanakan solat isa dengan alasan kesibukan sampai larut malam dan sesampainya di asrama langsung terkapar karena kelelahan tanpa menjalankan kewajiban seorang Muslim itu terlebih dahulu. Saat itu, jangankan bunda, Alif sendiri mulai merasa kesal kenapa ia bisa bolong solat Isa dan hanya terbangun ketika Bunda menelponnya untuk menunaikan solat subuh.

‘Alif, kau mau nanti di alam barzah bunda diseret ke neraka gara-gara bunda tak mengingatkanmu agar jangan lupa beribadah? Kau lebih mencintai GFFmu dari pada wanita yang jelas-jelas sudah melahirkan dan membesarkanmu dengan keringat dan darah? Kalau itu maumu, silahkan saja!…Tet!’ seiring dengan bunyi telpon genggam yang di pencet bunda di sebrang, sebuah bayangan menghantam Alif seketika; bunda di seret ke neraka!!!

‘Tidaaaak!!!!’

‘Hey,’ sentuhan bunda pada pipi Alif membuat alif tersentak dari lamunannya.

Bunda menatap Alif bingung kenapa sampai muka tampan putranya sampai sedatar itu, sukur saja tidak rata.

Alif balas menatap wajah bunda yang sudah mulai bermunculan keriput-keriputan kecil di sana. Tuhan…terimakasih telah menghadiahkan malaikat ini dalam hidupku, batin Alif.

‘Ahda mana, bunda?’ tanya Alif setelah akhirnya menyadari sang adik tak terlihat puncak hidungnya semenjak kadatangan dirinya di café milik keluarganya ini. Jika tidak melihat sang Ayah setiap kali ia ke café, itu sudah biasa karena ayahnya itu punya kesibukan sendiri sebagai pengusaha yang gila bekerja, sehingga ia merasa tak perlu menanyakan keberadaan sang ayah.

‘Dia ada jadwal kuliah hari ini,’ jawab bunda santai sambil mengambilkan minum untuk Alif. Alif melepas jaket hitam, syal tebal, dan kaca mata hitam, semua alat penyamarannya itu dan meletakkannya di salah satu kursi.

Sambil duduk di salah satu kursi yang berada di belakang konter yang memisahkan antara pengunjung dengan karyawan café, Alif menyeruput minuman yang diberikan bundanya seraya sesekali melirik ke arah tante yang berada di tempat kasir yang mulai kewalahan karena entah dari mana datangnya perlahan-lahan café yang tadinya sepi sekarang mulai di penuhi pengunjung yang umumnya adalah perempuan. Alif tidak akan berada di tempat kasir itu sekarang, tubuhnya masih lelah, makanya ia sengaja datang sesiang ini karena rasanya ia belum puas beristirahat.

‘Ini, makanlah, kau pasti belum makan,’ bunda menyodorkan senampan penuh makanan yang merupakanan favorit Alif. Inilah salah satu alasan yang membuat Alif selalu ingin mendatangi tempat ini, dibuatkan makanan favorit oleh bundanya. Bibi yang mengurus dorm pernah membuatkannya, tapi rasanya jelas saja berbeda.

‘Zahra! Sini, kita makan bersama saja, ambil makananmu dan duduklah di sini,’ perintah Bunda ke -entah siapa lah Zahra ini, Alif tak memperhatikan, ia sedang sibuk menyuap makanan ke mulutnya.

Alif mengangkat kepalanya sekilas demi melihat wanita yang dipanggil Zahra oleh bundanya.

Zahra meletakkan nampan berisi makanan di depan Alif, di samping bunda, ikut bergabung bersama mereka, duduk sambil mengangguk ramah ke arah Alif seraya tersenyum.

‘Apa kabar bang?’ sapa Zahra.

‘Okh, nona Zahra!’ Alif baru ingat, ternyata gadis di depannya ini adalah gadis yang ia dan bundanya temui beberapa hari yang lalu di panti asuhan yang luar biasa besar dan penuh bunga itu. Aduuh, bunda!! Baru saja aku memuji-mujimu selangit, dan sekarang…? Oke, kutarik lagi ucapanku!!! Batin Alif menjerit.

‘Sedang apa anda di sini?’ tambah Alif to the point dan sok formal sambil tak lupa memamerkan senyum maut yang membenamkan mata mungil nan indahnya itu.

 

TBC

Nah!! Gaje dan ancur kan? Apa saya bilang….

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s