Switch [Light 1]

Starring:
– Super Junior Eunhyuk as Lee Hyuk Jae
– Super Junior Kyuhyun as Cho Kyu Hyun
– Ulzzang Park So Ra as Choi Hyun Sun
– Ulzzang Jo So Yeon as Choi Yoon Sun

PS:
Hallo! Hallo! Perkenalkan, aku Caca.
Ini cerita pertamaku di WFF setelah resmi jadi author tetap yang baru di sini. Aku bawa sebuah cerita yang kayaknya udah biasa, apalagi kalo bukan yang genre-nya romance? Haha
Ini cerita murni buah karyaku, kalau nanti kalian menemukan kesamaan nama atau cerita mungkin itu hanya kebetulan aja.
Hope you like it dan ceritanya nagih. Happy reading! :D


***

Memasuki waktu seminggu semenjak acara pertunangan Choi Hyun Sun, putri pertama Choi Dong Seop si pemilik salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kawasan Daegu, suasana di kediaman keluarga besar Choi itu tidak menampakan perubahan sama sekali. Seperti hari-hari sebelumnya, Hyun Sun akan bangun lebih pagi dari siapa pun di rumah ini, bahkan pembantu rumah tangganya sekalipun hanya untuk menjalankan aktifitas rutin setiap paginya selain di musim dingin, bersepeda. Kemudian kembali lagi ke rumah setelah basah kuyup oleh keringat, membantu membuatkan sarapan, membangunkan adiknya, barulah setelah itu pergi untuk mandi dan bersiap-siap pergi.

Setelah membuat sarapan, Hyun Sun segera beranjak menuju kamar adiknya. Dia sangat kelelahan pagi itu, sehingga dengan sengaja melepas dahaganya dulu dengan meneguk air putih di dalam gelas tinggi yang baru saja dituangnya. Kemudian menuang air lagi ke dalam gelasnya dan membawanya menuju kamar adiknya. Sepertinya dahaganya masih belum berkurang sedikit pun.

“Yoon Sun-ah, ireona palli!” Mungkin itulah tutur kata terhalus yang akan digunakan seseorang untuk membangunkan orang yang sedang tidur. Terutama jika orang yang dibangunkannya itu adalah orang terkasihnya. Tapi, jangan harap itu akan dilakukan oleh Hyun Sun. Tidak ada tutur kata baik baginya dalam menghadapi adiknya, Choi Yoon Sun. Mereka memang dekat, sangat dekat. Mereka memang saling menyayangi, sangat sayang. Hanya saja ada cara lain yang lebih baik digunakan mereka berdua untuk menunjukkan rasa sayang. Inilah cara Hyun Sun membangunkan adiknya dari tidur. Menuangkan air di dalam gelasnya sampai habis tepat ke wajah manis adiknya yang sedang tertidur pulas.

“Tolong! Aku tenggelam. Tolong! Tolong aku!” Yoon Sun meronta di atas tempat tidurnya setelah mendapat perlakuan dari kakaknya. Matanya masih terpejam. Dia bermimpi atau mengigau. Entahlah.

Hyun Sun masih belum kehabisan akal untuk membangunkan adiknya yang memang terkenal sebagai putri tidur. Dia menaruh gelas yang tadi digenggamnya dengan kasar ke atas meja kecil di dekatnya sehingga menimbulkan bunyi, “duk!”. Setelah itu menempeleng pipi adiknya. Tidak cukup keras memang, tapi jika dilakukan berkali-kali akan mengakibatkan rasa ngilu dan panas kemudian berbekas. Kali ini berhasil? Jangan tanya! Tentu saja.

“Yak! Eonni, apa yang kau lakukan? Rambutku basah, kan. Kasurku juga,” keluh Yoon Sun dengan suara serak setelah cukup lama tersadar dari tidur panjangnya. “Aish! Aku harus mencuci rambutku lagi, padahal tadi malam aku baru keramas.”

“Tidak perlu. Barusan aku menyirammu dengan air putih.”

“Oh! Baguslah. Aku pikir kau menyiramku dengan air kaldu lagi,” kata Yoon Sun lega. Terlihat dari caranya membuang nafas, dia merasa sangat lega.
Hyun Sun merogoh saku jaket olahraganya setelah mendengar bunyi dari sana. Dia menadapat sebuah panggilan masuk melalui ponselnya, “Yeoboseyo!”

“Selamat pagi! Kau sudah bangun?” kata seseorang di ujung sambungan telepon pagi itu.

“Ne. Aku sudah bangun, bahkan saat kau masih belum selesai dengan mimpimu. Ada apa meneleponku pagi-pagi?”

“Aku ingin mengajakmu sarapan di café. Kau ada waktu?” kata orang itu lagi.

“Maaf, lain kali saja. Pagi ini aku sarapan di rumah.”

“Hm.. Baiklah. Titip salamku untuk abeoji dan eomonim, ya!”

“Ne.”

Hyun Sun masih memandangi layar ponselnya saat adiknya bertanya untuk memastikan, “Kyu Hyun oppa?” Setelahnya Hyun Sun mengangguk dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. “Sana! Mandilah! Aku sudah siapkan sarapan di bawah.”

“Ne, eonni.”

Kyu Hyun oppa yang dimaksud oleh Yoon Sun adalah pria yang seminggu lalu telah resmi menjadi tunangan Hyun Sun. Pria berusia 24 tahun itu berasal dari keluarga Cho. Di usianya yang terbilang muda, dia memiliki prestasi yang gemintang sebagai seorang dokter hewan. Setelah kerja praktiknya di sebuah peternakan di daerah Busan sebelah utara berhasil, Kyu Hyun membuka tempat praktiknya sendiri. Tempat praktiknya ini ada di sebuah perumahan yang berjarak tidak terlalu jauh dari pusat perbelanjaan milik ayah Hyun Sun. Keluarga Choi dapat mengenal keluarga Cho karena ayah Kyu Hyun adalah salah satu pemilik saham di bisnis yang dirintis oleh ayah Hyun Sun. Pertunangan mereka berdua boleh dikatakan dipengaruhi oleh hubungan bisnis kedua ayah mereka.

Lalu inilah rutinitas harian kakak-beradik, Hyun Sun dan Yoon Sun itu. Pergi kuliah bersama-sama, di mobil yang sama, setelah menyantap sarapan mereka bersama-sama. Mereka belajar di universitas yang sialnya lagi-lagi sama, hanya berbeda angkatan dan jurusan. Hyun Sun tentu saja satu tahun ada di atas Yoon Sun. Hyun Sun sudah fokus dengan cita-citanya sebagai seorang musisi di tingkat dua, sementara adiknya itu memutuskan untuk menjadi dokter hewan karena kecintaannya terhadap anjing.

“Sepulang kuliah nanti apa kau ada acara, eonni?” tanya Yoon Sun sambil melepas seatbelt-nya.

“Entahlah. Kenapa? Kau ada acara?” Bukannya menjawab pertanyaan adiknya, Hyun Sun malah melemparkan sebuah pertanyaan lagi. Bukan sembari melepas seatbelt-nya, tapi berdandan di depan cermin spion yang besarnya tidak lebih dari layar tablet yang digenggam Yoon Sun. Dan Yoon Sun menggumam sambil mengaggukan kepalanya.

“Jadi nanti aku bisa pulang lebih dulu?” tanya Hyun Sun memastikan dan adiknya itu mengangguk lagi. “Baiklah. Jangan pulang ke rumah terlalu malam! Ara?”

“Ne. Eonni tenang saja!”

***

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi tidak menghentikan juga detaknya. Suasana kampus sudah mulai lengang dan diperkirakan akan kembali ramai menjelang malam nanti. Biasanya beberapa ruangan di kampus ini akan digunakan untuk latihan beberapa grup musik atau kegiatan kemahasiswaan lainnya saat malam menjelang. Sementara mahasiswa lainnya bergegas meninggalkan kampus untuk nanti kembali lagi, lain halnya dengan Hyun Sun, dia sama sekali tidak beranjak sedikit pun dari grand piano yang sejak tadi dimainkannya di ruang aula.

Dentangan nada dari tiap tuts yang ditekan Hyun Sun menggema memenuhi ruangan aula yang lengang. Tidak menutup kemungkinan suara-suara itu akan menghantui sampai ke ujung lorong lain. Seakan tidak peduli dengan hal itu, Hyun Sun masih asyik membawakan lagu “You and Me Again” yang dipopulerkan oleh Byeon Ji Seob. Sebenarnya permainan pianonya ini menggantung di udara, Hyun Sun sama sekali tidak menaruh jiwanya dalam permainan pianonya. Dalam benaknya masih terpikir peristiwa besar dalam hidupnya yang dia alami tepat seminggu yang lalu, pertunangan. Dia mengerti bahwa pertunangan bukanlah hal yang main-main. Jika Tuhan menghendaki, tahap selanjutnya yang harus dia hadapi adalah sebuah pernikahan. Kemudian setelah itu orang-orang akan lebih mengenalnya sebagai Nyonya Cho? Astaga! Memikirkannya saja …, tidak. Bahkan, dia tidak pernah punya pikiran seperti itu. Kenyataannya adalah Hyun Sun tidak memiliki perasaan apa-apa pada laki-laki bernama Cho Kyu Hyun itu. Mengenalnya saja baru beberapa minggu menjelang pertunangan. Gadis itu yakin, kalau bukan karena petunangan ini, dia tidak akan pernah mengenal laki-laki bernama Cho Kyu Hyun itu di sisa hidupnya.

“Yak! Kau pikir dengan memainkan lagu itu, kau akan terlihat keren?” ujar sebuah suara menginterupsi dari undakan tangga sebelah kiri panggung. Untuk melihat orang yang baru saja memecah belah konsentrasinya itu, Hyun Sun harus membalik badannya seratus delapan puluh derajat. Sebenarnya tanpa perlu mencari tahu si pengganggu itu, Hyun Sun sudah mendapat duplikasi si penggaggu itu di kepalanya.

“Tidak bisakah kau menghentikan kegiatan ini? Permainanmu tidak berkembang. Lebih baik kau pergi ke luar, cari udara segar dan pikirkan peran apa yang cocok untukmu di musikal nanti,” kata suara itu lagi saat Hyun Sun sudah bisa melihat wujud aslinya.

“Tidak bisakah kau katakan saja, ‘ayolah! Ini sudah sore. Ayo kita pulang! Traktir aku makan! Aku sudah lapar.’ Begitu, kan?” Kali ini Hyun Sun tidak tergesa untuk mencibir, sementara si pengganggu malah tersenyum ceria. “Aigoo! Uri Hyun Sun tumbuh menjadi gadis yang baik.”

“Sudahlah! Jangan banyak bicara!” Hyun Sun bergegas mengakhiri permainannya, menyampirkan tas selempangnya di bahu sebelah kiri kemudian merogoh sesuatu di dalam kantung depan tasnya, meraih kunci mobilnya, melemparkan kunci itu pada si pengganggu, “seperti biasa, kau yang menyetir.”

***

“Sudah empat hari berturut-turut kau mengajakku ke tempat ini. Memangnya tidak ada tempat makan yang lain, ya?” tanya Hyun Sun tidak terima setelah memesan beberapa makanan untuk disantap sebagai makan malam, tentu saja dengan suara yang sengaja dibuat pelan.

“Kau sendiri yang bilang kalau kau suka pasta. Untuk itu aku membawamu ke sini.” Hyun Sun masih dengan si pengganggu itu.

“Tapi, tidak harus setiap hari. Aku bisa gendut karena terlalu banyak makan karbohidrat dan keju.”

Si pengganggu itu mencubit gemas kedua pipi Hyun Sun, tidak peduli kalau gadis itu sama sekali tidak senang diperlakukan seperti itu. “Kau itu tetap akan cantik meski gendut. Percaya pada, oppa!”

Kali ini Hyun Sun berhasil menepis kedua tangan si pengganggu. “Cih! Kata-katamu itu manis sekali, Lee Hyuk Jae.”

“Astaga! Kau baru menyadarinya sekarang? Kau itu memang cantik, tapi bodoh. Semua orang tahu aku ini manis.” Si pengganggu bernama Lee Hyuk Jae itu bertingkah seperti presdir di atas kursi kayu dalam café itu.

“Sepertinya kau harus pergi ke tempat praktik Kyu Hyun. Pendengaranmu tidak beres. Aku bilang kata-katamu yang manis, bukan kau yang manis. Astaga!”

“Yak! Bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada oppa-mu yang tampan ini? Kau pikir aku ini bodoh? Aku tahu persis ke mana kita harus pergi jika memiliki masalah dengan indra pendengar. Yang jelas bukan pergi ke tempat praktik dokter hewan. Aish!” kata orang bernama Lee Hyuk Jae itu lagi dengan ekspresi berlebihan. Setelahnya, dia kembali berlagak seperti seorang presdir. Terlebih saat dia mengatakan “Aish!”.

Baiklah. Saat ini Hyun Sun sedang bersama Hyuk Jae, anak laki-laki cengeng berusia 26 tahun dari keluarga Lee, berwajah lucu, bertingkah konyol, bahkan teman-teman kuliahnya saat itu menjulukinya ‘The Gagman Wannabe’. Tapi, siapa yang tahu? Saat ini Hyuk Jae telah sukses berperan dalam beberapa pementasan drama musikal, meski tidak menjadi peran utama, dan memiliki banyak penggemar. Dia digilai setiap mahasiswi di fakultas seni tempat Hyun Sun sekarang belajar. Dia juga lulusan fakultas seni itu, lalu bagaimana dia bisa mengenal Hyun Sun yang jelas-jelas baru memasuki tahun keduanya di universitas? Singkat cerita, saat penyambutan mahasiswa baru berlangsung Hyuk Jae didaulat menjadi salah seorang pemeran di drama musikal yang ditampilkan sebagai bentuk display dari salah satu kegiatan mahasiswa yang ada di fakultas seni. Hyuk Jae terpikat oleh pesona Hyun Sun saat gadis itu menampilkan kebolehannya di bidang seni dalam penyaringan anggota baru unit kegiatan mahasiswa drama musikal. Mereka semakin dekat setelah keduanya terlibat dalam suatu drama musikal di tahun selanjutnya sebagai pelatih dan pemeran.

“Oh! Hyun Sun-ah, bukankah itu tunanganmu?” tanya Hyuk Jae sambil menunjuk pada seseorang di belakang Hyun Sun. Secara naluriah, Hyun Sun mengikuti gerakan tangan Hyuk Jae. Memastikan yang dikatakan pria itu benar.

Hyun Sun memandang sejenak orang yang dimaksud Hyuk Jae, jaraknya hanya empat meja dari tempatnya dan Hyuk Jae sekarang, tidak terlalu dekat memang karena posisinya menyamping. Lagipula suasan café sore itu cukup ramai. Melihat kedua orang yang begitu dikenalnya sedang bersama-sama Hyun Sun mengernyitkan dahinya heran, “dia bersama Yoon Sun? Mereka sedang apa? Apa sebaiknya kita bergabung dengan mereka?”

“Aku rasa tidak,” jawab Hyuk Jae setelah melihat hal yang ganjil di sana. Yoon Sun, adik kesayangan Hyun Sun, sedang bersikap manja pada Kyu Hyun. Ya, mungkin sudah sewajarnya seorang adik bersikap seperti itu pada calon kakak iparnya, tapi bagi Hyuk Jae ini bukanlah hal yang wajar.

Tidak mau ambil pusing, Hyun Sun membiarkan saja kedua orang itu. Dia sibuk memerhatikan pelayan yang datang membawa pesanannya. Creamy pasta dan latte dingin yang harus bersaing dengan pesanan Hyuk Jae, macaroni schotel dan strawberry juice. “Jangan memerhatikan mereka terus! Ayo makan!” katanya mengingatkan Hyuk Jae setelah pelayan itu berlalu dan tentu saja tidak lupa mengucapkan terima kasih. Sebenarnya setengah hati dia mengatakan itu, tadinya dia berniat menghabiskan semua makanan di atas meja itu sendirian. Andaikan Hyuk Jae tidak lebih tua darinya.

Hyun Sun sudah mulai menyantap helai demi helai pastanya, tapi Hyuk Jae masih belum menyentuh makanan yang dipesannya sedikit pun, “yak! Apa kau akan mengabaikan makananmu? Kalau begitu untukku saja.” Dalam satu gerakan, Hyun Sun mencoba memotong macaroni schotel milik Hyuk Jae, tapi dengan gesit pria itu menahannya. “Wae?”

“Aku mohon, kau jangan menangis! Tapi, kau harus melihat ini.” Tepat setelah mengatakan itu, Hyukjae menangkupkan kedua tangannya di pipi Hyun Sun dan membimbingnya untuk kembali melihat ke arah Kyu Hyun dan Yoon Sun. Hyun Sun menganga tidak percaya, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Kyu Hyun memeluk adiknya mesra, bahkan menciumnya. Penuh perasaan.

“Hyun Sun-ah, kau tidak apa-apa, kan?” tanya Hyuk Jae memastikan.

“Apa mereka gila?” tanya Hyun Sun pada Hyuk Jae. Dia masih belum bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Bagaimana bisa mereka berciuman di tempat umum seperti ini? Dasar anak muda! Aku harus beritahu eomma dan appa.”

“Eh?”

“Aku rasa ada sedikit kesalahan dengan pertunanganku.”

“Maksudmu?”

“Kau lihat sendiri, kan? Aku rasa abeoji salah mendengar nama gadis yang ingin dilamar Kyu Hyun. Aku yakin pria itu pasti mengatakan Yoon Sun, bukan Hyun Sun. Ya, nama kami memang terdengar mirip. Jadi saat Kyu Hyun mengatakan Yoon Sun, abeoji malah mendengar namaku. Kemudian abeoji datang melamarkan aku untuk Kyu Hyun. Ah! Aku mengerti sekarang.”

Lee Hyuk Jae menatap takjub pada gadis yang ada di hadapannya. Bukannya menangis melihat tunangan dan adiknya bermain di belakang, gadis itu malah berspekulasi aneh. Sekarang gadis itu serius dengan ucapannya untuk menghubungi kedua orangtuanya. Mengklarifikasi kejadian sebenarnya. “Yak! Apa yang kau lakukan?” kesal Hyuk Jae sambil merebut ponsel yang baru saja diletakkan di dekat telinga Hyun Sun.

“Waeyo? Paling tidak aku harus memberitahu eomma. Ini menyangkut perasaan seseorang. Kesalahan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Berikan ponselku!”

“Shireoyo! Aku tidak akan memberikannya.”

“Ayolah! Jangan seperti ini! Ini urusanku.”

“Pokoknya aku bilang tidak, ya, tidak.”

“Ah! Kau memang bodoh. Boleh saja kau mengambil ponselku, aku masih bisa memberitahu kedua orangtuaku sesampainya di rumah,” kata Hyun Sun penuh dengan kemenangan.

“Baiklah! Kau punya segalanya.” Kali ini Hyuk Jae mengalah. Sedikit membanting meja, dia menyerahkan ponsel itu kembali pada pemiliknya. “Ingat! Kau sudah bertunangan dengan Kyu Hyun. Orang-orang tahu sebentar lagi kalian akan menikah. Kalau kau menjelaskan ini semua pada kedua orangtuamu lalu mereka menyutujuinya, apa kata orang-orang? Mana mungkin si Cho Kyu Hyun itu bertunangan denganmu lalu menikah dengan adikmu? Pasti semua orang akan bilang keluargamu sudah gila.”

Gadis yang diajak bicara oleh Hyuk Jae itu tertegun. Otaknya mulai berpikir keras, mencerna perkataan yang baru saja meluncur dari bibir orang yang dituakannya. “Ya, kau ada benarnya juga, oppa.” Hyun Sun masih belum puas dengan argumen yang disampaikan Hyuk Jae. Jelas terlihat Kyu Hyun dan Yoon Sun saling mencintai, meski sebenarnya dia juga tidak begitu yakin. Tapi jika memang benar nyatanya seperti itu, apa dia tega menikahi orang yang sangat dicintai adiknya? Kemudian membiarkan adiknya itu sakit hati?

***

Kediaman keluarga Cho malam ini sepi seperti malam-malam sebelumnya. Rumah besar bergaya western yang biasa dijumpai di California itu memang tidak diisi oleh banyak orang. Hanya sepasang suami-istri dengan dua orang anak dan beberapa pembantu rumah tangga. Kyu Hyun yang baru saja menjejaki kediaman itu mendesah. Mau tidak mau dia harus tetap bertahan di rumah mengerikan itu. Memiliki seorang ayah yang sangat terobsesi menjadi diktator, seorang ibu yang selalu mengangguk membenarkan apa yang dikatakan suaminya dan seorang kakak perempuan pembangkang.

“Dari mana saja kau seharian ini? Kenapa pulang sangat larut?” Jangan berharap sambutan selamat datang yang hangat ketika memasuki rumah ini! Lihat saja Kyu Hyun! Dia baru saja dijejali dengan pertanyaan dingin ayahnya saat memasuki ruang tamu. Dari kalimatnya memang terkesan penuh perhatian, posesif. Tapi, sebenarnya pertanyaan itu lebih mewakili, “dasar anak tidak tahu diri! Kau pikir rumah ini bar yang bisa kau datangi seenaknya?”

Tidak mendapat jawaban dari putranya, pria paruh baya itu berkata lagi dengan emosi yang mulai terbakar, “hari ini kau berkecan dengan Yoon Sun lagi? Sudah berapa kali aku katakan padamu? Calon istrimu itu Hyun Sun, bukan Yoon Sun. Apa kau tidak mengerti juga?”

“Tapi, aku sangat mencintai Yoon Sun, appa. Kami sudah saling mencintai sejak dua tahun yang lalu. Aku tidak bisa mengabaikan perasaanku,” kata Kyu Hyun akhirnya dengan emosi yang cukup meluap-luap.

“Cinta… Cinta… Cinta… Aku muak tiap kali kau mengatakan itu. Bagaimana bisa kau mencintai gadis cengeng seperti dia? Jelas-jelas Hyun Sun jauh lebih baik. Dia cantik, pintar, berbudi pekerti. Dia bisa menjadi istri dan juga menantu yang baik.” Guratan urat di sekujur leher ayah Kyu Hyun mulai tampak, bahkan beberapa terlihat di bagian keningnya. Wajahnya sudah berubah menjadi merah.

“Aku tidak peduli dengan pendapatmu. Sampai kapan pun aku akan memperjuangkan cintaku pada Yoon Sun.” Setelah mengatakan itu, Kyu Hyun berlalu meninggalkan ayahnya yang masih berteriak, “beraninya kau berbicara seperti itu padaku? Kembali kau, anak tidak tahu diri!” Tapi seakan tidak peduli, Kyu Hyun terus menyeret tubuhnya sampai ke kamar, membanting pintunya dengan kasar, melempar semua benda yang ada dalam genggamannya saat itu. Dia ingin menangis? Tentu saja. Tapi, apakah pantas seorang pria dewasa menangis karena dimarahi ayahnya? Cih! Menggelikan. Dengan satu gerakan cepat, dia meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Setelah nada sambung berakhir, pria itu berucap, “Yoon Sun-ah, sampai kapan pun aku hanya akan selalu mencintaimu.”

To be continued…

4 thoughts on “Switch [Light 1]

  1. Omg omg hyukjaenya gentel maksimal, goood oppa ><
    Kyu ko gitukatanya cintany sama akuu ini kenapa jdi cinta mati sama Yoon Sun fix kita marahan #sumpahlabil -_-
    sumpah sumpah seru banget thor!!! Di tunggu next part nya, jangn lama2 ya thor ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s