Our Love [part 4/END]

Author: khansa_aquaizan

Main Cast: Sungmin, Siwon, You a.k.a Hyobin/Hyo-chan

Support Cast: Your Best Friend (Hyunmi)

Rating: all age

Genre: Love

FF ini merupakan last part dari FF Our Love ^^ Terima kasih untuk admin yang udah ngepublish FF ini dan semua pembaca. Terima kasih juga untuk komentarnya. Semoga kedepannya author bisa bikin FF yang lebih bagus lagi. Jangan lupa mampir ke blog pribadi author sungminandme.blogspot.com & missaquaizan.wordpress.com. Once again, gomawo. I hope you enjoy it ^^

P.S. By the way, mungkin di FF selanjutnya author pengen bikin FF yang tokoh utamanya Kyuhyun. Ditunggu ya ^^

 

Eh, di mana kalungku, batinmu. Kamu lalu meraba-raba lehermu, tetapi kalung itu tidak ada!

“Ada apa?” tanya sahabatmu.

“Apa kau lihat kalungku?” tanyamu.

“Kalung? Kalung apa?”

“Kalung yang di tengahnya ada cincin. Apa kau melihatnya?” tanyamu panik sambil terus memeriksa seluruh laci yang ada di kamar rawat inapmu.

“Eh, apa mungkin perawat yang mengganti bajumu yang menyimpannya?” sahabatmu balik bertanya. “Tapi, kalau tidak salah Siwon oppa sudah mengambil barang-barangmu.”

Siwon? Kalau memang benar Siwon yang mengambilnya, apa siwon sudah melihat kalungku, kamu bertanya dalam hati.

“Cepatlah! Sebentar lagi Siwon akan datang menjemputmu,” ujar sahabatmu mengingatkan.

Ya, hari ini, setelah menjalani perawatan selama dua minggu penuh di rumah sakit, kamu sudah diperbolehkan pulang. Sahabatmu datang untuk membantumu membereskan barang-barangmu dan sebentar lagi Siwon akan datang menjemputmu.

Clek, terdengar suara pintu yang dibuka. Refleks kamu dan sahabatmu menoleh ke arah pintu.

“Bagaimana, sudah siap?” tanya Siwon yang baru datang.

“Sudahlah aku saja yang membereskan sisanya,” kata sahabatmu seraya mendorongmu ke dekat Siwon. “Kau pulang duluan saja bersama Siwon.”

“Eh, tapi…” Kamu tidak ingin ditinggal berdua saja dengan Siwon. Entap kenapa kamu merasa begitu canggung begitu melihatnya. Apalagi fakta bahwa kemungkinan besar kalungmu ada di Siwon.

Tiba-tiba Siwon menggandeng tanganmu. “Terima kasih Hyunmi. Maaf merepotkanmu. Kau yakin bisa pulang sendiri?” tanya Siwon pada sahabatmu.

“Ya, aku tidak apa-apa. Kalian berdua bersenang-senanglah,” jawab sahabatmu sambil tersenyum.

“Ta-tapi…” Kamu memandang Siwon dan sahabatmu bergantian.

“Kami pergi dulu,” ujar Siwon pamit pada sahabatmu sambil menarik tanganmu berjalan keluar kamar. Tanpa kamu sadari, Siwon mengedipkan mata pada sahabatmu, berterima kasih karena sudah membiarkan kalian pergi berdua.

 

*

“Kita mau ke mana oppa?” tanyamu saat berada di dalam mobil bersama Siwon.

“Nanti juga kau akan tahu.” Siwon tersenyum misterius sambil tetap berkonsenterasi menyetir.

Mendengar jawaban Siwon barusan, kamu memasang muka cemberut dan melipat tanganmu di dada. Mengobrol dengan Siwon membuatmu lupa dengan rasa canggungmu yang barusan.

“Kita sudah sampai,” ujar Siwon. Ia lalu membuka pintu mobil, dan berlari kecil membukakan pintu mobil untukmu.

“Eh, ini…” Kamu terperangah. Tempat yang ada di hadapanmu ini benar-benar menakjubkan.

“Indah bukan?”

Tempat itu terletak di atas bukit. Karena sudah malam, kamu dapat melihat dengan jelas bintang-bintang yang bertaburan di langit dan lampu-lampu yang menghiasi kota Seoul.

“Tempat ini indah sekali,” jawabmu sambil tersenyum ke arah Siwon.

Siwon balas tersenyum.

“Rupanya kalian di sini?” tiba-tiba terdengar suara namja dari belakang kalian.

Kamu membelalakan matamu begitu melihat siapa yang datang. “Su-Sungmin?”

“Ada urusan apa kau ke sini?” tanya Siwon sinis.

Sungmin menatap Siwon tajam. “Aku ingin merebut Hyobin darimu.”

Siwon menggenggam tanganmu posesif. “Dia sekarang sudah menjadi yeoja chingu-ku, tak akan kubiarkan kau merebutnya sekalipun kau adalah hyung-ku.”

Sungmin mendengus kesal. “Bagaimana kalau kita bertarung. Siapa yang menang, dia yang berhak mendapatkan Hyobin.”

Kamu membelalakan matamu, terlalu kaget dengan apa yang baru saja diucapkan Sungmin.

 

*

 

“Jadi, kau masih mencintai Sungmin?” Pintu kamar rawat inapmu yang tidak tertutup rapat membuat Sungmin dapat mendengar pertanyaan sahabatmu.

Sungmin yang sedang berdiri di depan pintu melihatmu terdiam, tanpa menjawab sepatah kata pun.

Tak beberapa lama kemudian, Sungmin mendengarmu berbicara. “Aku lelah, aku ingin tidur.”

Sungmin menghela napas. Ia tahu persis kebiasaanmu. Ia tahu kamu akan mengalihkan pembicaraan jika ada pertanyaan yang menurutmu terlalu sensitif untuk dibicarakan.

Sungmin kemudian duduk di deretan kursi panjang yang tak jauh dari kamar inapmu.

“Kenapa kau tidak masuk?” tanya Siwon lagi.

“Itu bukan urusanmu,” jawab Sungmin dingin.

“Kau masih meragukan bahwa ia mencintaimu?” tanya Siwon sambil duduk di sebelah Sungmin.

Sungmin menoleh ke arah Siwon, tidak mengerti dengan apa yang dongsaeng-nya tanyakan.

“Bagaimana kalau lusa kita buktikan sendiri siapa yang sebenarnya dicintai Hyobin, aku atau kau?” tawar Siwon.

Sungmin menatap dongsaeng-nya lekat-lekat. Apakah ini memang cara yang terbaik?

 

*

 

“Aku terima tantanganmu,” jawab Siwon sambil melangkah ke depan mendekati Sungmin.

“Tu-tunggu dulu,” katamu tercekat. “Oppa hentikan!” teriakmu.

Sungmin dan Siwon tidak memedulikan teriakanmu. Mereka saling berhadapan, bersiap untuk bertarung layaknya lelaki. Tetapi, kali ini berbeda dari sebelumnya. Kali ini mereka melakukannya dihadapanmu. Kamu merasa panik, tegang, cemas, sekaligus takut. Bagaimana cara untuk menghentikan mereka berdua?

Lalu kamu melihat Siwon meninju perut Sungmin. Tak mau kalah, Sungmin pun membalas Siwon dengan melayangkan tinjunya ke wajah Siwon.

“Hentikan!” teriakmu panik.

Tiba-tiba matamu menangkap sesuatu yang terlihat berkilau di leher Sungmin. Kamu memicingkan matamu untuk menajamkan penglihatanmu. Tidak salah lagi, itu adalah cincin! Ya, kamu melihat cincin yang mirip dengan cincinmu menggantung di leher Sungmin.

Di saat kamu masih terperangah, Siwon dan Sungmin masih tetap melanjutkan perkelahiannya. Siwon melayangkan pukulannya ke wajah Sungmin. Sebelum Sungmin terjatuh ke belakang, Siwon menarik kerah baju Sungmin, bersiap untuk meninjunya sekali lagi.

“Sungmin!” teriakmu histeris.

Siwon terdiam. Meskipun ia sudah bisa menebak siapa namja yang akan kamu pilih, jauh di dalam hatinya ia masih berharap kamu akan memilihnya. Sementara Siwon terdiam, Sungmin memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong tubuh Siwon.

“Oppa!” pekikmu sambil menghampiri Sungmin. “Kau tidak apa-apa, oppa?” tanyamu khawatir pada Sungmin yang masih terbaring di tanah.

Siwon hanya memandangmu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa berkata apa-apa, Siwon meninggalkan kalian berdua. Ia tidak ingin mengganggumu dan Sungmin. Sebenarnya ia sudah tahu jika akhirnya akan seperti ini. Hanya saja, walaupun sedikit, Siwon berharap kamu akan memilihnya.

*

“Oppa, kau tidak apa-apa?” tanyamu lagi. Kamu sama sekali tidak menyadari bahwa Siwon sudah tidak ada.

Sungmin yang masih terbaring di tanah terlihat seperti meringis kesakitan. “Ah, di sini sakit sekali,” ujar Sungmin sambil menunjuk pada bibirnya yang berdarah.

“Eh, di sini oppa?” tanyamu sambil mendekatkan kepalamu agar bisa melihat luka itu lebih dekat.

Tanpa kau sadari, tiba-tiba Sungmin mendorong kepalamu dengan tangannya dan mendekatkan kepalanya dengan kepalamu.

Kamu bisa merasakan sentuhan hangat bibir Sungmin di bibirmu. Sejenak kamu terdiam, tidak menyangka Sungmin akan mencium mu.

Sungmin lalu melepaskan ciumannya, dan berbisik di telingamu. “Pejamkan matamu.”

Kamu pun menuruti perintahnya dan memejamkan matamu. Kamu merasakan Sungmin mengalungkan sesuatu di lehermu. Sontak kamu membuka mata dan melihat ada sesuatu melingkar di lehermu. Ya, itu adalah kalung! Kalung yang terbuat dari rantai. Ada sesuatu yang dikaitkan pada kalung itu, sebuah cincin!

Kamu memperhatikan cincin itu baik-baik. Itu seperti cincin milikmu, tetapi lubang cincin itu terlihat lebih besar. Apa mungkin… Kamu pun menatap Sungmin, meminta penjelasan darinya.

“Kau benar. Itu bukan cincinmu,” ujar Sungmin seakan tahu apa yang kamu pikirkan. “Kau tahu, saat kita putus, aku juga mengalungkan cincin milikku, sama sepertimu.” Sungmin terdiam sejenak. “Jadi, kupikir daripada memakai cincin milik kita masing-masing, bagaimana jika kita bertukar saja? Kau mengalungkan cincin milikku dan aku mengalungkan cincin milikmu.”

“Aku hanya ingin saat kau melihat cincin itu, kau akan ingat bahwa aku akan terus berada di sampingmu, mencintaimu juga menjagamu,” tambah Sungmin.

 

*

 

“Oppa, oppa, ayo bangun! Oppa, oppa, ayo bangun…”

Tit, Siwon menekan salah satu tombol handphone-nya. Ya, itu adalah suara alarm yang terdapat di handphone Siwon. Suara manis seorang yeoja, suaramu. Suaramulah yang membangunkan Siwon setiap paginya selama tiga tahun terakhir. Sayangnya kau tidak mengetahui hal ini.

Siwon terduduk di tempat tidurnya di sebuah apartemen mewah di Seoul. Ia memandang layar handphone-nya. Satu lagi yang tidak kamu ketahui adalah Siwon memajang fotomu yang sedang tersenyum lebar sebagai wallpaper handhone-nya. Hal terakhir yang harus kamu ketahui ialah Siwon, ia sudah mencintaimu bahkan sebelum kamu dan Sungmin bertemu.

Siwon menghela napas. Masih ada hal lain yang tidak kamu ketahui. Siwon-lah yang mangajukan diri untuk membintangi film yang naskahnya dibuat olehmu. Ia juga yang meminta pada sutradara agar kamu terlibat dalam proses syuting. Alasannya hanya satu, agar ia bisa lebih dekat denganmu.

Saat tahu kamu putus dengan Sungmin, Siwon memanfaatkan kesempatan itu untuk menjalin hubungan denganmu. Kamu tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Siwon saat kamu menerimanya. Kamu juga tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan Siwon ketika ia mengetahui kamu masih mencintai Sungmin.

Siwon beranjak dari tempat tidurnya menuju ke arah jendela besar yang memisahkan antara kamar tidurnya dan beranda apartemennya. Ia menatap handphone-nya, dan mulai mengetik SMS untuk Sungmin.

Jika aku melihat Hyobin menangis lagi, pada saat itu aku akan memaafkanmu.

Trrrttt, Trrrttt. Tak lama kemudian, handphone Siwon bergetar. Balasan dari Sungmin.

Tenang saja, aku tidak akan melakukannya. Aku akan menjaganya baik-baik J

Siwon menghembuskan napas. Ia memandang langit dari jendela yang ada di apartemennya. “Hmmm… bagaimana aku menjelaskan pada wartawan bahwa aku dan Hyobin sudah putus?” gumamnya menyebutkan namamu. “Aishh, seharusnya tadi aku meminta pertanggungjawaban Sungmin untuk membuat konferensi pers.”

 

***

 

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s