Please, Hold On : The Beginning [part 1]

Author              : Arsvio

Main Cast         : Lee Donghae (Aiden Lee), Han Cheonsa (Angelle Han)

Support Cast    : Super Junior, Daniel Han, Kevin Han, Adelynn Lee.

Rating               : PG-15

Length              : Sequel

Note                 : Cerita ini merupakan sidestory dari ff-ku terdahulu ‘Trapped in Love with Game’. But, it’s Ok if you guys didn’t read that ff before. Kalian akan tetap mengerti jalannya cerita sebab memang berbeda tokoh utama. If you love this ff, please visit me at http://www.purpleonact.wordpress.com.

 

“Silakan, Nona,” kepala pelayan Kang membukakan pintu bagi nona mudanya, Han Cheonsa.

Cheonsa nampak mengatur napas sebelum masuk ke dalam ruangan kerja ayahnya. “Gamsahammida, Tuan Kang,” ucapnya seraya melangkah masuk.

“Annyeonghasimika, Appa,” salam hormat Cheonsa ketika dilihat ayahnya yang sedang sibuk menekuri lembaran berkas.

Sang ayah hanya tersenyum sembari menutup map yang baru saja selesai ditandatanganinya. “Duduklah, Cheonsa-ya. Ada yang ingin Appa sampaikan padamu,”. Tuan Han mendorong kursinya ke belakang dan berdiri untuk menghampiri putrinya yang telah duduk di sofa tamu di ruangannya.

“Ah, Daniel kau datang tepat waktu,” ucap tuan Han ketika melihat sosok putra sulungnya memasuki ruang kerjanya. “Kurasa, Daniel yang akan menyampaikannya padamu Cheonsa-ya. Ini mengenai pernikahanmu,” tuan Han menyilangkan kakinya dan bersandar di punggung sofa.

Daniel meletakkan sebuah map di hadapan Cheonsa. “Aku sudah mengurus semuanya. Detailnya dapat kau baca di map itu,” ujar Daniel dengan datar. “Aku sudah melakukan negosiasi dengan pihak SM Ent tentang pernikahanmu, pun juga dengan keluarganya. Semua sudah beres. Aku juga sudah membuatkan janji agar kau bisa menemuinya,” terang Daniel dengan lancar.

Tuan Han tersenyum bangga melihat kinerja putra pertamanya. “Kau memang negosiator handal, Dan,”.

Daniel menundukkan kepalanya singkat sebagai ucapan terima kasih pada pujian sang ayah. Lelaki berwajah tampan ini tidak terlalu suka dengan basa-basi. “Kurasa, menjadi salah satu investor SM Ent tidak terlalu buruk. Beberapa artisnya sedang melambung di kancah internasional, jadi perusahaan tidak akan merugi. Malah kemungkinan saham kita akan naik,”.

Terdengar ledakan tawa tuan Han. “At always, Dan. You got it perfectly,” sekali lagi pujian keluar untuk Daniel.

Daniel melirik adiknya yang sedang membaca map yang diberikannya. Dia menatap Cheonsa dengan pandangan sulit diartikan, antara sayang, kasihan, dan kecewa. Entahlah, Daniel adalah lelaki dingin yang sangat jarang menunjukkan ekspresi, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda ketika dia memandang adiknya.

“Angel,” sapa Daniel pada Cheonsa untuk menarik perhatian gadis tersebut. Sang kakak lebih menyukai memanggil adiknya dengan nama luar negerinya, semata karna terbisa saat mereka mengeyam pendidikan barat sejak high school. “Kalau ada yang kau inginkan, katakan pada tuan Jang. Dia akan mengurusnya,”.

Cheonsa tersenyum pada sang kakak walau tahu Daniel tidak akan membalasnya. “Gamsahammida, Oppa. Ini sudah sempurna,” Cheonsa mengangkat map di tangannya.

_LDH_

“Oh my,” Cheonsa memegang dadanya ketika menangkap basah seseorang yang ‘menguping’ di balik pintu. ”Kevin, what’re you doing here?” sengaja Cheonsa memelankan nada bicaranya. Kevin menatap Cheonsa sejenak, kemudian menariknya menjauh dari ruang kerja sang ayah.

“Kevin,” Cheonsa memiringkan kepalanya untuk melihat wajah adik lelakinya yang sedari tadi hanya diam. “Do you have something to talk to me?” tangan Cheonsa terangkat menepuk halus pundak Kevin.

“It is true, isn’t it?” Kevin masih saja bermuka dingin. Pandangannya menatap lurus ke udara di depannya. “You will marry that guy, won’t you?”.

Cheonsa menghela napas dan mengelus punggung adik lelakinya tersebut. Sejak awal, adiknya selalu mengungkapkan keberatan atas pernikahannya. “Kevin-a,” ucapannya terputus saat Kevin tiba-tiba berdiri.

“I’ll back home late,” Kevin mencium pipi Cheonsa kilas dan segera berlalu. Dia sudah terlalu gerah untuk mendengarkan segala alasan yang ayah dan noonanya berikan. Ada rasa tidak rela jika noonanya segera menikah.

Cheonsa hanya menggeleng melihat polah kekanakan adiknya. Dia berdiri untuk masuk ke dalam rumah. Menoleh dan tersenyum saat deru suara motor Kevin melaluinya. “No matter what will happen, you always be my sweetest lil brother,” monolog Cheonsa.

_LDH_

“Dokter Han?” terdengar suara Donghae yang sarat keterkejutan saat melihat gadis yang ditemuinya. “Jadi-,” Donghae menunjuk Cheonsa dengan telunjuknya sembari duduk. Kentara sekali dari wajahnya bahwa dia tidak percaya dengan keberadaan gadis di hadapnya.

“Ne, kau masih mengingatku, tuan Lee,” Cheonsa tersenyum melihat mimik kaget yang Donghae tunjukkan. Bukankah itu terlalu berlebihan. Bahkan sekarang dia melihat dengan jelas kening Donghae yang berkerut. “Ya, akulah orang yang ingin menemuimu,”.

“Apakah ini lelucon?” Donghae mengayunkan tangannya di udara. “Gadis yang dijodohkan denganku adalah…kau…?” Donghae meragukan kata terakhirnya.

“Yes, that’s me, Mr. Lee,” ucap Cheonsa mantap. “Pertemuan ini, yah, aku ingin mengenalmu lebih,” terang Cheonsa.

Donghae memejamkan matanya sejenak. Diulurkan tangannya ke depan. “Chakaman, Dokter Han. Ini sungguh tak masuk akal bagiku. Jadi bisa kau berikan satu alasan untukku agar menerima perjodohan ini?”.

Cheonsa terkikik ringan. “Kau bisa memanggilku Cheonsa, tanpa embel-embel dokter. Dan aku hanya ingin mengoreksi perkataanmu tentang ‘perjodohan’. Aku sedikit kurang nyaman dengan kata itu karena faktanya, akulah yang memintamu menjadi pendampingku,”.

Donghae terkesiap dengan perkataan gamblang Cheonsa. Biasanya seorang pria yang melamar gadisnya, namun ini sebaliknya. Dan gadis cantik di depannya ini dengan mudah mengucapkan kalimat yang secara implisit sebagai lamaran. “Berikan aku satu alasan, kenapa kau menginginkanku menjadi pendampingmu?”.

“Karna aku memilihmu, Donghae-ssi,”.

Donghae semakin mengerutkan alisnya. “Hanya itu?” sangkalnya. “Kuakui, kau seorang gadis cantik. Kau juga seorang dokter dan keluargamu terpandang. Bukankah sangat mudah untuk memilih salah satu dari sekian eksekutif muda atau sesama rekan dokter untuk menjadi pendampingmu? Tapi kenapa malah memilihku?” tunjuk Donghae pada dirinya sendiri.

Cheonsa nampak berpikir sejenak. “Uumm, apakah itu penting bagimu Donghae-ssi? sudah kukatakan bahwa aku memilihmu. Jelas, itu menunjukkan bahwa aku menginginkanmu. Lalu adakah alasan yang lebih tepat dari ini?”.

“Oke, dokter Han, maksudku Cheonsa, apakah menurutmu menikah adalah sesuatu yang bisa dijadikan permainan?” Donghae nampak menghela napas pelan, sedangkan Cheonsa melipat bibirnya untuk menahan tawa melihat Donghae yang masih kaku mengucap namanya. “Semua orang pasti menginginkan menikah dengan orang yang dicintainya, lalu kau-“ tunjuk Donghae pada Cheonsa.

“Dan menurutmu aku main-main, Donghae-ssi?” Cheonsa mencondongkan tubuhnya ke arah Donghae. “Dan menurutmu juga, apakah cinta menjadi satu-satunya landasan dalam pernikahan?”.

“Seperti itulah. Karna aku tahu, financial bukan menjadi masalah bagimu,” Donghae sedikit dilanda nervous saat berdekatan dengan gadis yang baru dikenalnya tersebut. Wangi tubuh Cheonsa yang manis, tidak berlebihan seperti layaknya wanita kalangan atas, menyeruak di udara.

“Oh, ayolah. Cinta akan tumbuh seiring waktu. Dan lagi pula, kita akan bertunangan dahulu sebelum menikah. Ada waktu bagi kita berdua untuk saling mengenal,” terang Cheonsa dengan lancar tanpa canggung.

“Tapi kita bahkan baru bertemu untuk kedua kalinya. Dan ini bahkan pertama kalinya menemuimu sebagai ‘calon tunangan’,“ Donghae menjentik-jentikkan jari telunjuk dan tengahnya di udara untuk menekan kata ‘calon tunangan’.

“Lalu apa bedanya sekali, sehari, sebulan, setahun, sepuluh tahun kalau kau memacari gadis yang bukan takdirmu, tetap saja kalian akan terpisah,”.

“Benar, tapi lama berpacaran menjadikan ajang untuk saling mengenal,”.

“Begitukah? Lalu kenapa banyak pasangan yang berpacaran lama, menikah, toh akhirnya bercerai,” sangkal Cheonsa. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa jika kita memang tak ditakdirkan bersama, waktu juga yang akan memisahkan,”.

“Jadi,kau menganggap pertunangan dan pernikahan ini sebuah pertaruhan? Itu tidak lucu, Cheonsa-ssi,”.

“Memangnya aku pernah mengatakan seperti itu? itu kesimpulanmu sepihak,” dengus Cheonsa. “Umurku sudah memenuhi untuk menikah, karirku bagus, dan aku memikirkan seseorang yang kuinginkan untuk bersama, jadi kenapa aku harus menunda dengan membuang waktu berhargaku hanya untuk berpacaran?”.

“Lalu apa untungnya bagiku?” Donghae menunjuk dirinya sendiri.

Cheonsa menarik sebelah sudut bibirnya. “Tadinya bahkan aku memikirkan ide gila untuk membayarmu sebagai kompensasi, tapi tindakan seperti itu bukankah sama saja dengan menghinamu?” tanya retoris Cheonsa. “Jadi aku hanya ingin menjalani pernikahan ini, tanpa dasar kontrak ataupun uang. Bukankah menikah bukan karena ingin meraup keuntungan?”.

“Lalu bagaimana kalian membujuk SM Ent?”

“Oppaku sudah bernegosiasi, dan bersepakat untuk tetap mengizinkanmu menikah,” Cheonsa memang menghindari mengatakan bahwa perusahaan ayahnya menawarkan investment menggiurkan bagi pihak SM Ent.

“Tapi-,”

“Ah, tunggu sebentar,” Cheonsa memotong ucapan Donghae dan segera berdiri untuk menjauh ketika dering ‘relax’ milik mika mengalun dari smartphonenya. Hanya sekitar semenit kemudian Cheonsa telah kembali.

“Maaf, Donghae-ssi, aku harus kembali ke rumah sakit. Detail pembicaraan kita bisa kau baca di map ini,” ujar Cheonsa sembari mengansurkan map merah pada Donghae. Wanita ini segera bergegas dan berlari kecil seolah waktu sedetik pun begitu berharga.

Donghae hanya mengernyitkan kening, melihat wanita tersebut terburu-buru. Matanya mengikuti arah gerak Cheonsa sampai wanita itu masuk ke dalam Toyota Camry putih yang terparkir di depan restoran. Dia dapat melihat dengan jelas raut wajah Cheonsa karena jarak dari tempatnya duduk dan mobil Cheonsa hanya terpisah 5 m dan terhalang kaca. Memuaskan rasa penasarannya pada dokter muda tersebut.

Hembusan nafas lelah mengalir begitu saja dari mulut Donghae. Dibukanya map yang diserahkan Cheonsa tadi. Menelusuri setiap tulisan yang tercantum di sana. Dan akhirnya, matanya membulat. “MWO?” pekiknya setelah membaca tanggal pertunangan dan pernikahan yang hanya berjarak 1 bulan saja. “Kurasa gadis itu perlu ke psikiater,” Donghae menutup mapnya.

Antara kesal dan terkejut, Donghae masih terpekur menatapi map merah di hadapnya. Diangkatnya map tersebut dengan satu tangan dan dipandanginya. “Kenapa pernikahan ini seperti syuting sebuah program acara?” keluhnya. Bagaimana tidak, jika di map tersebut tertata dengan rapi dan teliti semua mengenai pertunangan dan pernikahannya, mulai dari jadwal fitting baju, perancangnya, tanggal pertunangan dan pernikahan, gereja tempat pemberkatan, dan masih banyak detail lagi.

_LDH_

“MWORAGO?” nada tinggi Leetuk menggema di ruang tengah dorm.

Donghae sudah menutup telinganya berulang kali setiap sang leader berteriak seperti tadi. “Sudah selesai terkejutnya, Hyung? Kenapa malah kau yang lebih banyak berteriak daripada aku?,” tangannya menghentak di udara.

“Ini sedikit absurd, Hae-ya. Tadi manager ingin bicara denganku tentang masalahmu, tapi karena tidak sempat, maka dia memintaku bertanya langsung padamu,” Leetuk memijit keningnya pelan. Mulutnya meniupkan udara dengan sekali hembusan. “Terlalu tak masuk akal,”.

“Annyeong,” sebuah suara tiba-tiba menginterupsi.

Donghae dan Leetuk serentak mendongakkan kepala. Kemudian membalas sapaan tersebut dengan senyum yang masih terpaksa. “Tumben kau mampir ke dorm, Wonnie?” ucap Donghae dengan nada yang dibuat biasa.

Siwon memposisikan duduk di sebelah Donghae. “Yeah, kebetulan lewat,” jawab Siwon sekenanya. “Err…aku mengganggu?” tanyanya yang merasakan ketegangan antara Donghae dan Leetuk.

“Ani, Siwonnie. Hanya saja kau tidak akan percaya jika kami menceritakan masalah ini padamu,” ujar Leetuk bijak.

“Jadi kenapa kalian tidak mulai bercerita saja. Aku akan menjadi pendengar yang baik,” Siwon menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.

“Baiklah, tapi kuingatkan jangan terkejut berlebihan,” Dan lima belas menit kemudian, ruang tengah sudah terpenuhi dengan lontaran kalimat keterkejutan Siwon.

“Sebentar, apa yang kau maksud Han Cheonsa adalah Angelle Han? Putri kedua pemilik Hansang Finance?” tanya Siwon.

“Aku tidak tahu nama baratnya, Wonnie. Tapi, yah, dia putri pemilik dari Hansang Finance. Kau mengenalnya?” selidik Donghae saat melihat wajah serius Siwon. Leetuk juga ikut antusias menunggu jawaban Siwon.

“Tidak bisa disebut mengenal karena aku hanya beberapa kali bertemu dengannya di pesta Charity perusahaan,” Siwon mengelus dagunya sembari mengingat sosok Cheonsa. “Angelle Han adalah salah satu dari pewaris Hansang Finance, namun sepertinya dia tidak tertarik dengan dunia bisnis dan malah memilih menjadi seorang dokter. Pun juga dengan adiknya, Kevin Han yang lebih memilih dunia balap daripada bisnis. Satu-satunya putra yang terjun di perusahaannya adalah Daniel Han, kakak dari Angel,” terang Siwon.

Donghae mengerutkan keningnya. “Chakaman, Wonnie. Maksudmu, adik Cheonsa adalah pembalap nasional Kevin Han? Pembalap berprestasi namun terkenal trouble maker?”.

“Benar. Dia memang tidak pernah mengumbar jati dirinya di depan public sebagai putra terakhir dari Hansang Finance,” Siwon melipat tangannya di depan dada. “Hah, tak kusangka, malah kau yang akan menikahi Angel. Harusnya waktu itu aku lebih agresif untuk mendekatinya,”.

Donghae dengan kilat menengokkan kepalanya ke arah Siwon. “Kau menyukainya, Wonnie?”.

Siwon mencibir ke arah Donghae. “Dokter muda, cantik, dari keluarga terpandang, siapa yang tidak tergiur, Hae-ya?”.

Donghae bergidik mengingat Cheonsa. Meski diakuinya bahwa gadis itu cantik tapi pembicaraannya dengan Cheonsa siang tadi menambah satu sifat dokter itu, ‘aneh’. “Kalau begitu kau saja yang menikah dengannya,” ucap santai Donghae. Dan “Aww, Hyuuung,” protesnya ketika Leetuk menggeplak kepalanya menggunakan map merah yang dipegangnya.

_LDH_

“Oemma, minggu depan aku melangsungkan pertunangan,” ucap Cheonsa memulai percakapan. “Aku sungguh berharap Oemma bisa ada diantara kami,” Cheonsa menggerakkan tangannya untuk menjangkau jemari ibunya.

Semilir angin sore di taman nyatanya tidak mampu mengusir gelisah di hati Cheonsa. Dia mengeratkan genggamannya di jemari sang ibu, tapi pandangan eommanya seakan sudah terkunci pada udara kosong di depannya. “Oemma, aku harus bagaimana? Bukankah saat seperti ini adalah saat di mana seorang ibu akan memberikan wejangan pada anak perempuannya ketika akan menuju gerbang pernikahan, hm?”.

Cheonsa memasukkan oksigen dalam paru-parunya dengan tarikan panjang. “Oemma tahukah, bahkan orang yang akan bertunagan denganku, dia tidak mengenalku. Aku yang memaksanya menikahiku,” senyum getir terukir di bibir Cheonsa. “Aku juga bahkan tak yakin bisa memperoleh kehidupan bahagia dengannya,”.

Sekian banyak kalimat yang meluncur dari bibir Cheonsa, namun wanita yang dipanggil ‘Oemma’ hanya mampu berkedip dengan memasang wajah dingin. “Tapi, ketika aku melihat punggungnya, aku yakin dia sosok yang bisa diandalkan. Setidaknya, aku bisa bersandar di sana jika letih,” kembali senyum pahit tersungging di bibir tipis Cheonsa. “Aku lelah Oemma. Sangat. Kami membutuhkanmu, jadi kumohon kembalilah,” lirih Cheonsa.

Seorang berpakaian biru muda menghampiri Cheonsa dengan ibunya. “Maaf, waktu agashi habis. Nyonya Han harus beristirahat,” ucapnya mengingatkan.

Cheonsa hanya tersenyum dan mengangguk. “Oemma, aku pulang dahulu. Jaga diri Oemma baik-baik. Aku sayang Oemma,” Cheonsa mengecup kening ibunya. Dan sang ibu masih setia dengan diamnya. “Silakan, suster,”.

Perawat yang dimaksud segera mengambil alih kursi roda nyonya Han dan membawanya masuk. Cheonsa masih memandangi punggung perawat yang membawa ibunya tersebut sampai menghilang di balik pintu. Pintu putih yang memancarkan aura dingin yang berlabel milik rumah sakit kejiwaan.

“Oemma, apa yang sebenarnya Oemma sembunyikan? Beban macam apa yang Oemma bawa?” selalu pikiran yang sama setiap Cheonsa mengunjungi sang ibu.

_LDH_

“Wah, putra keluara Han sudah di sini rupanya,” lelaki yang mengenakan leather jacket bewarna coklat tanah mendekati Kevin yang sedang bergurau dengan teman satu genknya. “Oh, Kevin-a, mana noonamu yang cantik itu?”.

Seketika senyum pudar, dan wajah Kevin mengeras mendengar ucapan lelaki tersebut. “Apa maumu?” ucapnya datar dengan suara rendahnya. Kentara sekali suatu emosi terlipat pada kata pendek tersebut.

“Hei, aku hanya menanyakan kabar noonamu yang cantik itu. Ah, kurasa kapan-kapan aku bisa mengencaninya?” ucapnya dengan memamerkan seringaian.

Kevin langsung berdiri dari duduknya. Memposisikan dirinya berdiri tepat dihadapan lelaki tersebut. “Kalau kau berani menyentunya, kupastikan mayatmu tidak akan bisa dikenali,” geram Kevin. Teman genknya hanya bisa melihat pertengkaran kecil Kevin dengan pandangan melecehkan pada lelaki berjaket coklat tersebut.

“Kita berlomba Kevin-a. Jika kau menang, kau bisa mengambil apa pun dariku. Tapi jika kau kalah, aku berniat untuk mengencani noonamu yang cantik itu,” wajah serius lelaki tadi.

“Kenapa aku harus mau menerima tantanganmu, Jae? Dan satu hal, aku tidak berniat menjadikan noonaku bahan taruhan,” Kevin menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kau takut kalah, Kevin-a? Jadi pembalap nasional ini takut untuk bertarung denganku?” pancing lelaki yang dipanggil Jae. “Pengecut,” Jae terus saja mendesak.

“Heh, tidak ada satu untung pun jika aku menang. Memang, apa yang bisa kuambil darimu, hum? Para gadis pelacur itu?” tunjuk Kevin pada segerombolan wanita-wanita malam yang tadi menemani Jae. “Maaf aku tidak berminat sedikit pun,”. Kevin siap membalikkan badannya, namun terhenti ketika Jae membisikkan sesuatu.

“Prince of Hansang Finance, bagaimana kabar ibumu?” ucap Jae lirih.

Kevin langsung membalikkan badannya kembali kemudian mendelik. “Kita bertanding,” ucap Kevin cepat. Dia tidak ingin identitas dirinya dibuka di depan umum. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana menang dari lelaki tersebut. Mengorbankan noonanya? Tentu tidak. Pun kalau dia kalah, dia lebih memilih nyawanya berakhir di tangan Jae, daripada menyerahkan noonanya pada lelaki tersebut.

Jae tersenyum penuh kemenangan. “OK, persiapkan dirimu untuk kalah,” Jae memutar tubuhnya dan menaiki motor balapnya. Dia menolehkan kepalanya sesaat pada Kevin yang sudah menggembor-gemborkan gas motor balapnya, kemudian menutup kaca helmnya.

_LDH_

“Donghae-ya, bogosipo,” ucap wanita di seberang sambungan.

Donghae merasakan kesejukkan saat mendengar suara wanita tersebut. Bibirnya mengulas senyum, dan matanya berkaca-kaca karena dirinya juga merindukan sosok wanita tersebut. “Oemma, na do bogosipo,”.

“Heh, Oemma tak menyangka putra Oemma yang cengeng ini sudah memikirkan masa depan,” terdengar helaan nafas lembut.

“Oemma,” Donghae tak tahu bagaimana menjelaskan tentang pertunangannya. Menuturkan bahwa dirinya dikejar-kejar seorang perempuan yang meminta untuk dinikahi. Sungguh konyol. Baru saja dia akan membuka mulutnya, namun terpotong dengan ucapan ibunya.

“Oemma bangga padamu, Hae-ya,” ucap ibunya yang membuat Donghae mendonggakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. “Kau sudah dewasa. Hah, Oemma tak menyadari ternyata waktu cepat berjalan ya?”.

Setitik air mata sudah meleleh di pipi ‘King of Tears’ ini. Mendengarkan bahwa sang ibu dengan tegas mengatakan bangga padanya. Pujian apalagi yang saat ini bisa lebih indah daripada kata itu. Sebuah inti dari bakti seorang putra pada keluarganya. Donghae hanya mampu diam, mendengarkan ucapan ibunya karena saat ini dadanya bergemuruh.

“Oemma bahagia karena kau akhirnya menemukan jodohmu,”. Hening. Sepertinya sang ibu juga larut dalam luapan emosi terharu. “Hae-ya, dia cantik, bukan dalam raga saja, tapi Oemma bisa melihat bahwa hatinya juga demikian,” tutur ibu Donghae dalam menilai Cheonsa.

Donghae sedikit mengernyitkan kening. “Oemma, sudah bertemu dengannya?” heran Donghae. Sepengetahuan Donghae, bahkan dia baru bertemu Cheonsa kemarin.

“Jadi kau tidak tahu? Kau ini, dasar. Dua hari lalu Cheonsa datang ke Mokpo. Dia menemani Oemma seharian,”.

“Dia ke rumah?” heran Donghae lagi.

“Apa Cheonsa tidak memberitahukanmu? Apa kalian sedang ada masalah?” terdengar nada panik di akhirnya.

“Ah, a..aniyo, Oemma. Dia memang tidak memberitahukannya. Mungkin mau memberikan sebuah kejutan bagiku,” Donghae tertawa hambar. Sebenarnya, hatinya mendongkol karena gadis itu dengan seenaknya menemui keluarganya, namun mendengar oemmanya yang antusias, apa dia sanggup menceritakan kebenarannya?. Tidak.

“Ah, anak muda. Ne…ne, Oemma tahu,” sahut sang ibu syarat dengan kelegaan.

Donghae melipat bibirnya karena kebohongan. Dia hanya ingin agar ibunya tidak khawatir padanya. “Tentu, dan jangan bilang pada Cheonsa jika aku ternyata sudah mengetahui kejutannya, Oemma,” candanya.

“Ah, ne,” ucap ibunya sembari terkikik ringan. “Hae-ya, Oemma benar-benar senang Cheonsa mau berkunjung dan mengobrol banyak dengan Oemma. Dia gadis yang mengagumkan. Kau harus menjaganya, arraso?”.

Hati Donghae tertohok dengan ucapan tersebut. “Eh, tentu, Oemma,” nada kikuk sedikit terdengar. “Oemma, mianhata aku ada jadwal. Kututup telephonnya. Aku menyayangimu, Oemma,”.

“Ne. Ingat kata-kata Oemma, Hae-ya,” ucap sang ibu.

Donghae mematikan sambungan telephonnya. Menatapi layar iphonenya dengan perasaan campur aduk. Tak dipungkiri ada rasa hangat ketika berbicara dengan ibunya tentang pertunangannya. Namun, mengingat Cheonsa, gadis yang baru dikenalnya dan akan segera menjadi tunangannya, secara bersamaan dia bimbang. Rasa antara hangat, kesal, bingung, dan terkejut berintegrasi menjadi satu warna di hatinya. “Arrghhh…mollaa…” Donghae mengacak rambutnya asal.

_LDH_

Cheonsa keluar dari camry SE white-nya bersamaan dengan sebuah black audi yang baru saja terpakir di sisinya. Gadis itu menghentikan langkahnya karena mengenali sesosok pria yang keluar dari mobil tersebut. Tanpa disembunyikan, senyum mengembang membuat dirinya terlihat tambah sempurna.

“Annyeonghaseyo. Kau tepat waktu, Donghae-ssi. Kukira, kau tak akan datang,” sapa Cheonsa.

“Jadi kau berharap aku tidak datang, Cheonsa-ssi?” Donghae membenahi jaket yang dikenakannya.

“Tentu tidak. Ayo masuk,” ajak Cheonsa. Dan Donghae mau tak mau mengiringi langkah gadis itu.

“Selamat datang, Nona Han. Mari ikut saya,” seorang pelayan butik langsung menunjukkan area VIP pada pelanggannya.

Donghae menghempaskan tubuhnya di sofa, sedangkan Cheonsa tengah menerima sebuah gaun untuk dicobanya. Dengan malas Donghae mengutak-atik iphone miliknya sembari menunggui Cheonsa. Dia benar-benar merasa enggan untuk berada di tempatnya kini. Beberapa saat kemudian, terdengar sapaan dari suara yang mulai dihafalnya.

“Bagaimana menurutmu?” Cheonsa berkacak pinggang untuk memamerkan gaun yang dicobanya.

Nafas Donghae tiba-tiba tercekat. Sekejap, dia lupa dengan kekesalannya yang menumpuk tadi. “I…i..itu, sedikit pucat untukmu. Tidak pantas,” dengan gugup Donghae menyampaikan pendapatnya.

Yah, dia mengakui kalau gadis calon tunangannya tersebut cantik. Gaun yang dipakai Cheonsa tadi walaupun terlihat anggun ketika dipakai, namun ada yang kurang. Warnanya tidak cocok di kulit putih Cheonsa.

“Baiklah,” Cheonsa berbalik untuk mencoba gaun lagi.

“Uumm…tidak cocok,” pendapat Donghae pada gaun kedua.

“Err…terlalu ramai,” ucapnya pada gaun ketiga.

“I..itu terlalu terbuka,” Donghae meniup-niupkan udara dari mulutnya. “Kenapa AC di ruangan ini tak berfungsi?”. Dia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. Gugup. Padahal ratusan model dan artis cantik pernah ditemuinya. Dan banyak dari mereka yang akrab dengan dirinya, tapi ketika di hadapan Cheonsa, mengapa tiba-tiba dirinya menjadi nervous?.

Donghae menahan nafasnya sejenak ketika Cheonsa keluar dengan gaun keempat yang dicobanya. Gaun dengan warna easter purple, elegan, dan tidak terlalu terbuka melekat dengan sempurna di tubuh Cheonsa. “O..oke,” disatukan ibu jari dan telunjuknya membuat lingkaran kecil sebagai tanda ok.

Cheonsa tersenyum. “Baik, kita ambil yang ini,”. Dia berbalik kembali ke ruang ganti.

“Fiuh, udara benar-benar panas,” Donghae semakin mempercepat kibasan tangannya.

“Tuan Lee, ini tuxedo Anda,” giliran dirinya yang memfitting baju. Donghae segera beranjak dan mencoba tuxedonya.

Dan Cheonsa sudah berada di posisi Donghae tadi, duduk di sofa, bertugas sebagai komentator. “Itu, terlalu cerah,” pendapatnya ketika Donghae menunjukkan tuxedonya.

“Uumm…” Cheonsa meletakkan tangannya di dagu, membuat Donghae mau tak mau kembali mengagumi ekspresi serius gadisnya, ya gadisnya. “Terlalu glamour,”.

“Bagaimana dengan yang ini? Dan semoga ini yang terakhir, aku malas untuk mencoba lagi. Ini sudah tuxedo ketiga. Pukul 2 nanti, aku ada schedule. Aku sibuk,” cerocos Donghae dengan satu tarikan nafas.

Cheonsa memiringkan kepalanya. Sebernarnya dia akan mengatakan bahwa tuxedo itu perfect, namun dia hanya mengerutkan bibirnya. Dia berdiri dan mendekat ke arah Donghae. Kemudian, mulali mencopot jas yang dipakai lelaki tersebut.

“Ya…ya…a..apa yang kau lakukan?” untuk kesekian kali Donghae merasa gugup. Kalau bisa marah, dia akan meluapkan pada neuron-neuron tubuhnya yang terlalu berlebih dalam menerima rangsang sentuh gadis tersebut. Dengan jarak sedekat itu, dia mampu melihat paras rupawan Cheonsa. Mencium wangi parfumnya yang manis, tak berlebih.

Seakan tak memedulikan protes Donghae, Cheonsa menyerahkan jas tersebut pada pelayan. Dia meraih tangan Donghae dan membuka kancing di manset kemeja putih lelaki tersebut. Digulungnya lengan kemeja Donghae sampai siku. Pun, Cheonsa juga melonggarkan dasi yang dikenakan Donghae.

Donghae bahkan tak protes lagi. Dia terlalu sibuk mengatur degup jantungnya yang secara tiba-tiba menggila. Memberikan panas berlebih pada tubuhnya. Matanya terus menelusur sosok gadis yang sibuk dengan tuxedonya. Tidak dapat dikatakan bahwa ini tanda cinta pada pandangan pertama, karena sebagian dirinya masih menolak eksistensi gadis itu. Digeleng-gelengkan kepalanya pelan untuk menyangkal bahwa dengan waktu singkat dia sudah jatuh hati dengan seorang Han Cheonsa.

“Bagaimana kalau seperti ini saja,” ucapan Cheonsa menyentak kesadaran Donghae.

Donghae melihat pantulan dirinya di cermin. Kemeja putih dengan lengan tergulung sampai siku, dasi longgar, dan dua kancing teratas kemeja yang terbuka. Alis Donghae bertaut, heran. “Ya! Kenapa tampilanku seperti orang frustasi? Bagaimana bisa bertunangan dengan style seperti ini. Selera fashionmu sungguh buruk, Nona Han,” cibir Donghae.

Cheonsa tertawa lebar, membuat Donghae terhenyak karena lagi-lagi dia harus menambahkan sesuatu di daftar tentang Han Cheonsa, tawanya mempesona. “Kau terlihat keren dengan tampilan seperti ini, Donghae-ssi,” Cheonsa mengacungkan dua jempolnya di hadapan Donghae dan kembali terkekeh.

Donghae melihat kembali pantulan dirinya. “Ya, ini kau sebut keren? Ini acak-acakan,”. Dan sejenak kemudian Donghae malah ikut terkekeh bersama Cheonsa. Membayangkan bagaimana jika dia bertunangan dengan style yang dikatakan keren oleh gadisnya itu.

Tanpa terasa, inilah kenangan pertama atas senyum mereka. Sebuah tawa yang mengembang begitu tulus tanpa paksaan.

_LDH_

“Jadi kau memutuskan untuk menerimaku, Donghae-ssi?” Cheonsa membuka pembicaraan.

Donghae menghela nafas pendek. “Lalu adakah cara agar aku menolakmu, Cheonsa-ssi?”. Dia dilema antara menerima dan menolak gadis di sampingnya. Sebagian dirinya menolak gadis ‘gila’ yang tiba-tiba mengajaknya menikah, namun di sisi lain ada kenyamanan yang tiba-tiba menyebar saat dirinya bersama gadis tersebut.

Cheonsa tersenyum. “Mianhe. Mungkin karena aku terlalu terobsesi padamu. Tapi, sungguh aku menginginkanmu menjadi pendampingku,” Cheonsa menekan-nekan jemarinya yang mulai bergetar tanda gugup.

“Kau seorang ELFishy?” tebak Donghae tiba-tiba.

“Ya, sejak kalian debut. Waktu itu, aku pulang ke Korea untuk liburan musim panas,” Cheonsa memandangi jemarinya dan tersenyum ketika mengenangnya.

“Maksudmu kau tinggal di luar negeri?” penasaran Donghae.

“Yah, sejak high school, aku dan adikku, Kevin, menyusul Dan Oppa untuk tinggal di Massacusset. Guna mendapat kualitas pendidikan yang lebih baik, menurut Appa,” Cheonsa menerawang masa lalunya. Jika kala itu bisa memilih, dia pasti akan menetap di Korea.

“Ah, jadi karena itu, kau memiliki nama barat. Angelle Han?”. Pembicaraan yang mulai terjadi mengalir rileks. “Jadi aku harus memanggilmu Cheonsa atau Angelle? Seperti dua saudara laki-lakimu yang lebih memilih menggunakan nama barat mereka,”.

“Hmm, itu terserah padamu, Donghae-ssi. Dan Oppa dan Kevin memang lebih menyukai untuk memanggilku ‘Angel’ dari ‘Angelle’ yang berarti angel dan belle,” terang Cheonsa.

“Angel untuk malaikat dan belle untuk wanita cantik. Nama yang bagus,” puji Donghae.

“Gomapta, Donghae-ssi. Tapi kurasa kau tak akan memanggilku ‘Angel’ karna nyatanya aku adalah evil yang memaksamu menikahiku,” cengir Cheonsa.

“Tapi tetap saja nama koreamu ‘Cheonsa’ juga berarti malaikat,”.

Cheonsa hanya terkekh geli. “Oh, baiklah. Terserah padamu saja,” diangkat kedua tangannya di udara.

“Jadi kau seorang fans, ya?” nada bicara Donghae melunak. Cheonsa hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan.

“Ternyata sudah lebih dari 6 tahun, ya?” Cheonsa menengokkan kepalanya ke arah Donghae.

“Dan itu mengapa kau menginginkanku? Karna kau seorang fans?” dahi Donghae berkerut. Tak dipungkiri ada rasa kecewa di hatinya. Cinta fans pada idola berbeda dengan cinta pada kekasih. Sangat berbeda.

“Tidak,” Cheonsa menyangkalnya dengan tegas karna mendengar nada kecewa lelaki di sampingnya. “Itu adalah awal mula aku mengetahui tentangmu. Seiring berjalan waktu, sungguh terlalu kekanakan jika alasanku memilihmu hanya karna aku seorang ‘die hard fans’,”.

“Lalu?”

“Oh, ayolah. Harus berapa kali kukatakan bahwa ini semua karena aku memang mengingginkanmu,” Cheonsa memasang wajah memelasnya agar Donghae menghentikan interogasinya.

“Mian. Tapi bagiku ini masih tidak bisa dipercaya,” potong Donghae.

“Tidak, kau tidak salah apa pun. Aku lah yang harusnya meminta maaf,” Cheonsa mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil Donghae. “Dan juga, mianhata, karna aku dengan lancang mengunjungi keluargamu di Mokpo,”.

Donghae menarik ujung bibirnya, tersenyum kecut. “Yeah, aku tahu. Aku kesal saat mengetahui dirimu berani mendatangi keluargaku,”.

“Jeongmal mianheyo,” Cheonsa mengalihkan pandangannya lagi ke arah Donghae.

“Tapi ternyata, Oemma sungguh terdengar bahagia ketika menceritakanmu. Aku bahkan tak tega untuk memotong ceritanya tentangmu,”. Donghae mencengkeram kemudinya pelan. Keheningan tercipta setelah dia mengucapkan kalimat tersebut.

Ditolehkan kepalanya untuk memandang Cheonsa yang terdiam. Dia dapat melihat wajah Cheonsa yang bersalah. “Dan, hei, sihir apa yang kau gunakan pada Oemma sehingga dia sungguh bahagia?” ucap Donghae dengan nada riang. Ada perasaan tidak enak hati ketika membuat dokter muda itu murung.

Cheonsa hanya tersenyum untuk menanggapinya. “Beliau hangat, Donghae-ssi. Mungkin aku rela menukar apa pun, agar kau mengizinkanku bertemu beliau,”.

Donghae mengernyit tak mengerti. Bukankah, Cheonsa juga memiliki seorang ibu, tapi dia malah merasa nyaman dengan ibunya yang baru saja dikenal. Bahkan, gadis itu menawarkan apa saja untuk diizinkan bertemu dengan oemmanya. Tapi akan terlalu sensitive jika dia menanyakan alasannya. Mungkin lain kali.

“Yeah, sepertinya dua wanita ini merasa nyaman satu dengan lainnya,” Donghae menyimpulkan. “Dan, bisakah kau memanggilku tanpa sapaan formal? Itu terlalu kaku, Cheonsa-ya,” Donghae sendiri agak kaget dengan yang diucapkannya. Bukankah dengan begitu, menandakan dia tidak keberatan lagi dengan pertunangannya. Sungguh diluar dugaannya.

Padahal sebelum berangkat tadi, Donghae uring-uringan karena malas untuk bertemu Cheonsa. Sampai-sampai partnernya, Eunhyuk, menyeretnya untuk segera beranjak. Semata karena Eunhyuk tidak tahan pada ulahnya yang mondar-mandir di dorm dengan gelisah. Tapi sekarang, entahlah. Padahal ini baru kedua mereka bertemu, tapi ada rasa nyaman ketika bersama gadis itu.

Cheonsa mengulas senyumnya. “Jadi karena kita lahir di tahun yang sama, maka aku cukup memanggilmu Donghae-ya, begitu?”.

Donghae tiba-tiba mengerucutkan bibir tipisnya. “Padahal aku ingin dipanggil ‘Oppa’ oleh perempuan yang menjadi jodohku nanti,”.

Cheonsa terkekeh ringan. “Tapi aku dan kau sebaya, Donghae-ya,”.

“Ah, panggil aku ‘Oppa’ saja, kau kan lebih muda dariku,” ucap Donghae antusias.

“Ya, aturan darimana itu?” Cheonsa pura-pura marah. “Ingat aku hanya lebih muda 1 bulan, Hae-ya,”.

“Ya~, tetap saja lebih muda, ayo panggil aku ‘Oppa’,”.

“Why should I do that?” protes Cheonsa. Gadis ini ikut merasakan kehangatan yang mulai tercipta di pembicaraan mereka.

“Yaa~, pokoknya harus,” tandas Donghae. “Lagipula kau pantas untuk memanggilku ‘Oppa’” Donghae membuat persegi panjang dengan telunjuk dan jempol kedua tangannya. Mengarahkannya untuk membingkai wajah ayu Cheonsa.

Cheonsa terkekeh kembali. “Uumm…akan kupikirkan, Hae-ya,”. Ternyata waktu bersama seorang Lee Donghae sungguh menyenangkan. Apakah ini berarti dia tak salah pilih?. Biarkan waktu yang menjawabnya.

_LDH_

Donghae menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah dorm. Tubuhnya merosot, menjadikan kepalanya tertopang sempurna di puncak sandaran sofa. “Huft,” keluhnya. Baginya, hari ini adalah hari yang aneh, antara kesal dan senang.

“Jadi bagaimana fittingnya? Apakah dia terlihat tambah cantik dengan gaun yang kalian pilih?” sebuah suara diiringi tepukan ringan di bahu Donghae.

Donghae menoleh tanpa merubah posisinya, dan menemukan sahabatnya Eunhyuk tersenyum tiga jari ke arahnya. “Apa sekarang penting menanyakan itu?” dia menatap sahabatnya dengan malas. “Aku baru menemuinya dua kali, dan pada pertemuan ketiga dia akan resmi menjadi tunanganku. Tidakkah itu lucu, Hyukie,”.

“Ya, kuakui itu sedikit terburu,” Eunhyuk memelankan kata terakhir. “Bukan tapi banyak,” koreksinya. “Tapi, kalau kau tidak mau, kenapa tetap melakukannya?” tanyanya heran.

“Oh, ternyata sahabatku sama sekali tidak meningkat kecerdasannya,” keluh Donghae yang kemudian mendapat pukulan ringan di dadanya. “Dia pewaris Hansang Finance, Hyukie. Dengan segala yang dia miliki, dia menyogok SM, juga dengan wajahnya dia mampu meluluhkan Oemma. Jika Oemma sudah bahagia, apa aku tega merebutnya,” terang Donghae.

“Err…apa itu tidak keterlaluan, Hae-ya,” ucap Eunhyuk miris. “Jangan katakan kalimat tadi pada Cheonsa, itu sangat menyakitkan,” nasehat Eunhyuk. “Aku pikir, dia pasti punya alasan kuat mengapa memilihmu. Mungkin saja, belum saatnya kau tahu. Jadi sekarang, tanyakan pada hati kecilmu, Hae-ya, apakah dia pantas berada di sisimu?” Eunhyuk mencoba memberikan solusi.

Donghae hanya menatap sahabatnya tersebut. Yah, walaupun tak jarang kawannya satu itu bersikap absurd tapi Eunhyuk juga bisa bersikap dewasa dan bisa diandalkan. “Entahlah, Hyukie. Akan kucoba untuk menerimanya. Aku tak tahu apa yang salah pada system tubuhku, tapi kuakui aku mulai merasa nyaman dengannya,”.

“Kalau begitu, ikuti saja kata hatimu, Hae-ya,”.

“Aku akan mencoba, Hyukie,”.

“Hah, andai saja Cheonsa yang menginginkanku, aku tak perlu berpikir dua kali untuk mengiyakan,” Eunhyuk sudah mulai bercanda. “Kau tahukan, dia cantik sekali. Hah, beruntung sekali orang yang akan memilikinya,” ucap Eunhyuk sembari menunjukkan layar ponselnya pada Donghae.

Mata Donghae membulat dan langsung bangun dari sandarannya. “YA! KAU! Darimana kau dapatkan foto itu. Cepat hapus,” Donghae mencoba meraih ponsel Eunhyuk namun kalah cepat.

“Ya, kenapa harus dihapus. Dia memperindah wallpaperku,” Eunhyuk segera berkilat dan bersiap berlari. “Ah, dia benar-benar bidadari yang turun dari langit, Hae-ya,” Eunhyuk mmengecup layar ponselnya. “Bagaimana ya, agar di mau berpaling padaku?” godanya lagi.

“YAK! MATI KAU LEE HYUKJAE!” Donghae mengerjar sahabatnya tersebut yang sudah duluan berlari.

_LDH_

The Engagment Day…

“Noona, apakah aku masih bisa seperti ini, jika kau menikah nanti?” Kevin menyandarkan kepalanya di bahu Cheonsa. Menikmati suasana pagi hari di taman belakang rumah mereka. Tubuh mereka berdua terayun pelan seiring gerak ayunan ke udara.

Cheonsa hanya mampu tersenyum, dia mengelus pipi adiknya. “Oh, boy. You’re always be my sweetest,” jawabnya.

“Kau akan berubah, Noona?”.

Cheonsa mengerutkan keningnya, jadi inilah alasan Kevin selalu menolak pernikahannya. Adiknya hanya takut jika kehilangan sosoknya. “Kevin-a, kehidupan terus berjalan. Dan perubahan itu datangnya pasti. Tapi, satu hal yang tidak pernah berubah adalah bahwa aku selalu menyayangimu,”.

Kevin tersenyum puas. Dia melingkarkan tangannya di lengan Cheonsa. “Apa kau bahagia, Noona?”.

“Lalu adakah alasan bagiku untuk tidak bahagia?” Cheonsa masih mengelus pipi Kevin.

“Hmm, aku tak tahu. Lelaki itu bahkan baru saja kau kenal,” ucap Kevin cuek. “Tapi, aku sangat berharap kau bahagia dengan pilihanmu,”.

“Sekarang, aku bahagia, besok dan seterusnya, aku yakin aku juga akan bahagia,”. Cheonsa mengecup puncak kepala adiknya. Bagi Kevin, dialah sosok kakak sekaligus ibu. Itu mengapa sifat Kevin berubah 180 derajat ketika bersama noonanya. Dari sosok berandal yang suka memberontak, dia bisa berubah menjadi sosok manis yang penurut.

“Bangun Kevin,” suara berat tiba-tiba terdengar, mengusik kebersamaan kakak-adik ini.

Kevin segera mengangkat kepalanya karena hafal dengan sang pemilik suara. “Ada masalah lagi, Hyung?”.

“Harusnya aku yang bertanya padamu,” Daniel melemparkan Koran ke pangkuan Kevin. Tertulis sebagai headline ‘Kevin Han Melakukan Balapan Liar (Lagi)’. Senyum meremehkan terulas di bibir Kevin. “Hanya masalah kecil, Hyung,”.

“Sudah berapa kali aku katakan, jangan melakukan balap liar. Apa kau pernah mendengarku?” sentak Daniel penuh emosi. “Kau punya ajang sendiri Kevin. Dan kami memberikan fasilitas padamu. Tapi kau masih saja melakukan balap jalanan. Melanggar aturan,” Daniel memang tak berteriak. Namun, kata-katanya bernada tegas dan dingin.

Cheonsa hanya mampu terdiam melihat Kevin dan Daniel. Dia sudah sering dalam posisi seperti ini. Dan diam adalah jalan terbaik. Diakuinya, tindakan Kevin salah, namun dia yakin ada dorongan kenapa Kevin melakukannya. Dan sampai saat ini dia belum menemukan alaannya.

“Bisakah kau sekali ini tidak membuat masalah. Demi apapun, Kevin, ini adalah hari pertunangan noonamu,” Daniel memandang tajam Kevin.

Kevin bangkit dari ayunannya. “Aku tahu yang aku lakukan, Hyung. Dan aku tak menyesal karna memenangkan balap jalanan itu,” Kevin berjalan menjauh. Meninggalkan Daniel yang masih menahan emosi, tak tahu dengan jalan apa dia mengontrol tindakan brutal adik lelakinya tersebut.

“Aku yang akan bicara padanya nanti, Oppa,” Cheonsa angkat bicara.

“Kuharap kali ini dia juga mendengarkanmu,”.

_LDH_

Cheonsa masih berusaha menekan rasa tak tenangnya. Dirasakan jatungnya yang menghentak berlebih, darahnya yang membuat aliran deras, dan paru-parunya yang bekerja ekstra untuk memperoleh oksigen. Dia kembali berjalan ke arah cermin besar di sudut kamarnya.

Kevin melirik noonanya yang masih menatapi pantulan diri di cermin. “Kau sudah sangat cantik, Noona,” ucapnya enteng sembari memainkan PSP kesayangannya.

Gadis itu berbalik memandang adiknya yang masih bersandar di sofa dengan santai, seolah tak takut kalau tindakannya akan membuat tuxedo yang dikenakannya kusut. Digeleng-gelengkan kepalanya pelan. Rasa gugupnya sedikit menghilang karena melihat kelakuan dongsaengnya tersebut.

Cheonsa berjalan mendekat dan tiba-tiba meraih PSP Kevin lalu melemparkan dengan asal di sofa. Dia menyentakkan tangan Kevin agar berdiri. Dirapikannya dasi Kevin yang kacau. “Kenapa dongsaengku ini manis sekali,” goda Cheonsa sambil mencubit pipi Kevin.

“Ya, noona. Bagaimana bisa kau mengatakan pembalap keren ini dengan manis?” protes Kevin.

“Memang kenyataanya, kau itu sangat manis,” tangan Cheonsa masih merapikan tuxedo yang dikenakan Kevin. “Ok, selesai,” ucapnya bersamaan dengan Daniel yang masuk ke kamarnya.

“Kau sudah siap, Angel?” tawar Daniel. “Tamu dan keluarga sudah menunggu di bawah. Ayo kita turun,” Daniel mengulurkan tangannya ke udara agar Cheonsa menyambutnya.

Kegugupan Cheonsa semakin berlipat ketika waktunya tiba. Dia meniup-niupkan udara keluar dari mulutnya. Tangannya sudah gemetar sejak tadi, kebiasaannya ketika gugup, takut, atau khawatir. Diatur nafasnya agar mengurangi keteganggan.

Daniel mengerak-gerakkan telapak tangannya di udara. “Kau sudah terlihat sempurna, Angel. Jangan terlalu gugup, aku akan mendampingimu,” suatu kata hangat yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang Daniel Han membuat Cheonsa menatapnya intens.

Cheonsa mengangguk dan menyambut uluran tangan Daniel. Namun, sebuah tangan mencegahnya. “Kenapa harus kau, Hyung? Biar aku saja yang mengiringi Noona,”.

“Kevin, bisakah kali ini kau tidak membuat masalah,” tegur Daniel.

“Tidak, aku hanya ingin menjadi pengiring noonaku saja,” ucap Kevin dengan penekanan pada kata ‘noonaku’.

“Ingat, bahwa aku adalah kakak tertua,” ucap Daniel datar.

“Lalu, apa masalahnya?” Kevin mengangkat bahunya.

Cheonsa nampak menghela napas pelan. Haruskan dua saudaranya bertengkar untuk masalah sepele seperti ini? Hanya berebut tentang siapa yang akan mengiringinya turun?. Cheonsa menyelipkan tangan kirinya di lengan Kevin. Kemudian dia menyelipkan tangan kanannya di lengan Daniel. “Lets go down,” ucap Cheonsa sambil mengedikkan kepala.

_LDH_

Semua mata tertuju pada sosok gadis anggun yang menuruni tangga kediaman keluarga Han dengan didampingi dua saudara laki-lakinya. Sang gadis terlihat sempurna dengan make up naturalnya dan gaun yang melekat di tubuhnya. Pun juga dengan asecoris dan high heels yang dikenakannya, yang menambah kesan indah.

Donghae tersenyum ke arah gadis tersebut. Dadanya bergemuruh dan berdegub kencang. Diremas jemarinya yang dingin karena nervous. Tapi, itu semua tak menghentikannya untuk tetap menatap Cheonsa. Dia membenci keadaan ini, tapi di waktu bersamaan, dia juga menikmati momen ini.

Sebuah pesta pertunangan kecil yang hanya dihadiri kerabat dekat dan member Super Junior. Tentu saja dengan alasan agar tak tercium media. Karena bagaimana pun, karir Donghae dengan Super Junior sedang melambung. Tidak terbayang bagaimana histerisnya fans jika mengetahui dirinya bertunangan.

Donghae memamerkan senyum terbaiknya ketika Daniel mengangsurkan jemari Cheonsa padanya. Menimbulkan desir-desir halus akibat sentuhan tersebut. Digenggamnya dengan erat jemari Cheonsa, mulai saat ini Donghae harus belajar menerima gadis ini menjadi orang spesial di hidupnya.

Tepuk tangan membahana ketika Donghae dan Cheonsa selesai bertukar cincin. “Aku tidak tahu apa yang nanti terjadi. Namun, aku janjikan untuk membiasakan diriku atas eksistensimu,” ucap Donghae lirih sehingga hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Donghae mengecup punggung tangan Cheonsa sebagai awal hubungan mereka.

Tuan Han mengulas senyum lebarnya ketika melihat prosesi pertunangan putrinya. Diangkat kedua tangannya untuk bertepuk tangan gembira bersama tamu lain. Kemudian dia membisikkan sesuatu pada lelaki paruh baya di sampingnya. Sebuah kamuflase yang sempurna. “Sangat perfect,” batinnya.

Kevin memasukkan kedua tangannya di saku celananya. Dia hanya tersenyum tipis melihat kebahagiaan noonanya. “Kau harus bahagia, Angel Noona,” ucapnya di hati. “Dan kau Lee Donghae, awas saja jika kau sampai membuat noonaku bersedih,”.

Seorang gadis bermata biru juga nampak hadir di sana dengan balutan dress pink soft simple yang elegan. Walaupun sempat terkejut dengan pertunangan tiba-tiba kakak sepupu kesayangannya tersebut, namun dia tetap mendukung segala keputusan Donghae. “You deserve to be happy, Oppa,”.

Dan sebuah tangan melingkar di pinggang gadis tersebut. Sang empunya tangan mendekatkan bibirnya di telinga sang gadis. “Jadi bagaimana kalau  minggu depan kita langsung menikah saja. Sepertinya menarik untuk mencoba ‘married in rush’, Lynn,”.

Lynn menolehkan kepalanya cepat dan memukul pelan dada kekasihnya. “Ya, Cho Kyuhyun,” protes Lynn lirih, sedangkan Kyuhyun hanya menatap ke depan dengan senyum jahilnya tanpa mengindahkan protes Lynn.

Seorang wanita kerabat dekat, yang notabenenya adalah bibi Cheonsa, malah menyunggingkan senyum miringnya, meski dia ikut bertepuk tangan. “Permulaan, Cheonsa-ya,” lirihnya.

Daniel tetap memasang wajah dinginnya. No expression. Dia juga bertepuk tangan untuk adiknya. “This is the beginning, Angelle Han. You’ve to overcome everything that mess you up later. Wish you find an affection on him,” harapnya dalam hati.

TBC*

7 thoughts on “Please, Hold On : The Beginning [part 1]

  1. q suka bgt sama ff y pokok y secara keseluruhan y q suka,,, dr jalan cerita y n cara penyampaian n kata2 yg dipake y n yg oenting feel n atmosfir pas baca tuh ngen bgt apa yg digambarin d ff y berkelas……
    kyk y dr pertunangan cheonsa n donghae semua org d sekitar cheonsa ada sesuatu alesan yg besar nih……
    Lanjut……

  2. authoor…
    aq coba lngsung mampir ke blog author kug comment aq g ad yg keluar yahh??
    ceritanya kereen…
    di blog author aq dah baca mpe part2…
    yg bikin aq pnasaran bgt itu np cheonsa ngebet bgt mw nikah ma donghae?? trlalu buru” gtoo…

  3. its an awesome ff, nice ff and daebbak ff. i dont know what i mean. but i like it. like so much. :) thanks for the ff. you know? when i read it, i feel melt. yayy, my bias donghaae. i think this ff have a unique way :) so unique. hmm.. i think that i will stay on with this ff until the ending. kya, author when part 2 will be post? i am so impatient :) kalau bisa panjangin lagi hahaaa.. seruuu buangettt kasih jempol yang banyak :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s