So Tired to Loving You [part 1]

Author : Nurul (Park Seul Ah)
Main Cast : Park Seul Ah (OC), Cho Kyuhyun ‘Super Junior’, Lee Donghae ‘Super Junior’, Park Neul Ra (OC)
Support Cast : Super Junior, Kim Chan Ra (OC)
Rating : All Ages
Genre : Sad, Rommance

Ps : Aku minta maaf ya kalau ff ini ga seperti yang diharapkan tapi insyaallah lanjutannya bakalan bagus dan seru jadi tunggu part selanjutnya aja ya! Aku juga butuh comment kalian loh buat ngelanjutin FF ini pokoknya semua yang ada dipikiran kalian tuangin (?) aja di comment ya! semoga suka deh sama FF nista ku ini keke.

Disclaim : cerita ini semuanya asli dari pikiran aku loh jadi please don’t be a plagiator ^_^

***

Apa seperti ini rasanya patah hati? Apa sesakit ini rasanya mencintai orang yang tak mungkin mencintai kita? Aku tau, aku adalah orang yang paling bodoh. Orang yang bodoh karena mencintai ‘dia’. Mencintai orang yang mungkin tidak tahu kalau aku ada didunia ini dan menghirup udara yang sama dengannya. Sakit. Sangat sakit melihat dia tersenyum kepada semua fans perempuannya, sakit karena aku hanya bisa melihatnya dari jauh, sakit karena aku harus memendam perasaan bodoh ini, sakit karena aku tau aku hanya menjadi seorang fans baginya, dan sakit karena aku harus merasakan perasaan ini sendirian karena aku tau ‘dia’ tak mungkin membalas perasaanku dan tak mungkin merasakan apa yang kurasakan saat ini. It hurts. It hurts…

Aku memang berlebihan, terlalu berlebihan malah tapi memang ini yang aku rasakan saat aku tau bahwa aku telah jatuh cinta pada idolaku sendiri. CHO KYUHYUN. Ya dia itu adalah cho kyuhyun, magnae dari sebuah boyband korea yang sangat terkenal yaitu super junior. Haaah aku sudah berusaha untuk melupakannya dan membuang perasaan ini jauh-jauh tapi… semuanya sia-sia, percuma karena satu kata ini. Satu kata yang selalu diidam-idamkan orang agar bisa merasakannya, satu kata yang ‘katanya’ bisa membuat hari-hari lebih indah jika kita merasakannya. Tapi tidak bagiku, satu kata itu telah membuat aku tersiksa, membuat aku menderita, dan membuat hidupku berubah karena merasakannya. CINTA. Ya satu kata itu adalah cinta.

Mengapa aku bisa merasakan cinta yang seperti ini? Mengapa diriku bisa terperangkap dalam cinta yang membuat aku menderita? Bukankah cinta itu anugerah yang terindah, yang tuhan berikan kepada kita? Tapi kenapa aku malah merasakan perih ini? Aku ingin merasakan cinta yang indah, yang membuat aku tersenyum. Aku ingin mempunyai cinta yang sama seperti yang orang lain rasakan. Aku lelah jika harus terus-terusan mencintai. Aku juga ingin dicintai. Jika aku mendapat sebuah pilihan, lebih baik aku dicintai oleh orang yang tidak aku cintai daripada harus mencintai orang yang sama sekali tidak mencintaiku, karena itu sangat menyakitkan. Aku sudah terlalu sering menangis, membuang air mata ini dengan percuma karenanya. Aku ingin berhenti. Aku ingin terbebas dari semua ini, tapi perasaan memang tak bisa berbohong. Aku terlalu mencintainya. Aku terlalu mencintainya sampai-sampai aku melupakan rasa sakit ini, rasa sakit yang teramat sangat. Mungkin ini klise dan terlihat sangat bodoh, tapi… sungguh aku mencintainya melebihi diriku sendiri.

“yaaaa!” teriak neul ra sambil melemparkan bantal kepadaku

“yaaa! Appo!” ucapku sambil mengelus kepalaku yang sakit. Haaaaah dia itu mengganggu saja!

“salah sendiri! Kenapa dari tadi kerjaanmu melamun saja?! Memangnya aku disini Cuma mau melihat kau melamun? Ya! Kita ini harus menyelesaikan tugas kim Songsaengnim secepatnya! Apa kau mau kita tidak mendapat nilai?!”

“haish bisa tidak sih kau tidak berteriak seperti itu? Kau pikir rumahku ini kebun binatang? Ne ne ne, apa yang harus kulakukan sekarang?” tanyaku berjalan kearahnya

“sekarang cepat gambar ini dan setelah itu kau gunting!” neul ra menyerahkan setumpuk gambar dan kertas kearahku

Mwo?! dia menyuruhku menggambar? Dan.. what?! Apakah sebanyak ini yang harus ku gambar? dia kan tau aku tidak bisa menggambar tapi kenapa malah memberikan tugas seperti ini kepadaku?

“yaa! Apalagi yang kau pikirkan? Cepat kerjakan!” omelnya

“ne” jawabku mulai menggoreskan pensil di kertas. Haah dari pada dia ngomel-ngomel terus mending aku kerjakan saja, yaa walaupun aku tak tau hasilnya akan seperti apa kekeke

Apa kalian tau? Aku sudah lelah dan bosan berdebat dengannya. Dia itu park neul ra, sepupu sekaligus sahabatku. Walaupun dia itu cerewet, sadis, kejam tapi jujur aku nyaman menjadi sahabatnya dan bersyukur mempunyai sepupu seperti dia. Jika aku sedih, dialah orang pertama yang menasehatiku, menghiburku. Haah dia selalu bisa menghiburku makannya aku senang berteman dengannya.

“aigooo.. ya! Kenapa gambarmu seperti cacing kepanasan? Apa kau bisa menggambar?! Haaah kau itu memang tidak bisa diandalkan!” omelnya yang kini telah berada di sampingku

“ya! Kenapa kau terus memarahiku? Kau tau sendiri kan aku paling tidak bisa menggambar? Tapi kenapa kau malah menyerahkan tugas itu kepadaku?” ucapku membela diri

Hah enak saja dia memarahiku seperti itu, baru saja tadi aku puji-puji. Aku menyesal tadi memujinya!

“hahaha aku lupa kalau kau tidak bisa menggambar. Setiap kau menggambar pasti hasilnya selalu abstrak tak jelas gambar apa hahahaha dan lihat ini gambarmu hahaha” ejeknya sambil tertawa

“ya! Sudah menyuruh, memarahi, sekarang kau mengejek ku hah?! Tertawa lagi! ya cukup! Hentikan!” haaah enak saja! sudah menyuruhku sekarang dia malah tertawa! Apakah sebahagia itu bisa mengejekku hah?!

“yaaa!!! Berhenti tertawa kalau kau masih menyayangi nyawamu!”

“hahaha mian mian habis gambarmu lucu sih”

“haish!” aku memonyongkan bibirku, kesal melihat dia tertawa

“yasudah sini biar aku yang menggambar” dia mengambil kertas didepanku

“lalu aku?”

“kau yang mengguntingnya park seul ah sepupuku yang pabo”

“ya!” dia tertawa, menyebalkan -_-

Ah kenapa tidak dari tadi saja dia yang menggambar dan aku yang menggunting? Kalau gitu kan aku tidak usah mendengar ejekan dan tertawanya yang menyebalkan itu! Sepertinya dia memang sengaja ingin mengejeku -_-

“haaah akhirnya selesai juga pekerjaan kita! Aku ingin menonton tv” ucapnya sambil tiduran di ranjangku dengan tangannya yang memegang remote. Huh enak sekali dia!

“heh! pekerjaanmu belum selesai! kita masih harus membersihkan ini!”  tunjuk ku ke sampah yang berserakan di lantai tapi dia pura-pura tidak mendengar ucapanku dan matanya terfokus pada tv didepannya

“kau saja yang membersihkannya, aku lelah!”

Mwo?! Apa yang dia bilang? Lelah?! Dia pikir dia saja yang lelah?! Aku juga lelah!

“ya! Kau pikir aku tidak lelah? Ayo cepat kau bersihkan!” ucapku sambil menarik-narik kakinya

“hei seul ah! Jangan tarik-tarik kakiku. Ne aku akan membersihkannya” mendengar ucapannya aku langsung membanting kakinya ke ranjangku

“ya! Pelan-pelan!” teriaknya. Hahaha biarkan saja, memang enak aku banting begitu haha

Ketika aku dan neul ra sedang membersihkan sampah-sampah yang berserakan, tiba-tiba mataku tertuju pada tv dikamarku. Aku melihatnya, aku melihatnya tersenyum dengan seorang yeoja diampingnya. Ah aku lupa hari ini super junior kan tampil di salah satu acara tv. Tapi siapa perempuan itu? Kenapa dia berada disamping kyuhyun? Dan kenapa kyuhyun malu-malu menatap yeoja disampingnya? Apa yeoja itu pacarnya? Setengah berlari aku mendekati tv itu dan duduk di pinggir ranjangku sambil mendengarkan perkataannya. Hatiku berdegup kencang, aku takut. Aku takut kalau yeoja disampingnya itu adalah pacarnya.

Walaupun aku takut, aku tetap tersenyum dan membuang pikiran-pikrian itu dikepalaku tapi seketika senyumku hilang dan aku merasakan hatiku seperti teriris-iris pisau yang tajam. Hatiku.. hatiku seperti ada yang menginjak-injak. Sakit. Sangat sakit mendengar ia berkata ‘dia itu yeojachingu ku, aku sangat amat mencintainya melebihi apapun, melebihi cintaku pada diriku sendiri. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya walaupun dia sudah tak mencintaiku. Ah neomu saranghae kim chan ra! Aku tak bisa hidup tanpanya’ haaah tak terasa pipiku sudah basah terkena air mataku sendiri. Aku menangis. Ini tangisanku yang ke .. ah aku tidak tau, yang jelas aku menangis lagi karenanya. Dan ini, tangisan ini benar benar membuat hatiku sesak. Aku sulit bernafas. Kini putus sudah semua harapanku untuk bisa menjadi kekasihnya. Dia.. dia sudah memilih wanita lain untuk mendampingi hidupnya. Aku memang tak pantas mendapatkan cinta darinya. Aku memang harus begini. Aku akan tetap begini. Aku akan tetap menjadi seorang fans walaupun hatiku meronta-ronta kesakitan.

“yaaa! Kau kenapa seul ah?” neul ra memeluku. Mungkin dia sadar bahwa aku menangis. Aku semakin terisak dalam pelukannya.

“kau kenapa?” tanya nya panik. Aku menggelengkan kepala

“sakit. Sakit neul ra. Neomu appa” ucapku yang mungkin tak terdengar olehnya. Aku tak sanggup bicara. Suaraku, hatiku, organ tubuhku seketika tidak berfungsi

“yaaa apa karena orang itu? Apa karena dia kau menangis lagi?” aku menggeleng mendengar pertanyaannya

“haaaaaah” desahnya sambil melepaskan pelukannya dan dia memegang erat pundaku.

“aku tau, kau menangisi dia lagi kan? mau sampai kapan kau begini terus? Mau sampai kapan kau menangisi dia? Apakah dia tau kalau kau menangis untuknya? Apakah dia peduli dengan perasaanmu? Kenal saja tidak. Kau itu bodoh seul ah! Kau itu sudah menyakiti dirimu sendiri!” aku menunduk mendengar ucapannya. Aku terdiam karena semua ucapannya benar, aku memang bodoh. Aku memang bodoh!

“sudahlah jangan menangis lagi, arra?!” ucapnya tersenyum sambil tangannya mengusap air mata di pipiku

Aku mengangguk dan tersenyum walaupun itu semua berbeda dengan apa yang kurasakan saat ini. Aku mencoba untuk tetap tegar walaupun aku tau itu sangat sulit. Aku harus tersenyum, aku harus tersenyum untuk orang-orang yang kusayangi termasuk neul ra.

***

Bunyi alarm membangunkanku, membangunkanku dari mimpi buruk ku. Mimpi buruk yang mungkin akan selalu kurasakan. Aku duduk di ranjang, kakiku menopang tangan dan daguku. Aku menangis, ya aku menangis. Semalaman aku tidak bisa tidur, aku terus menangis memikirkannya. Hatiku sakit. Entah sudah berapa kali kurasakan sakit ini, rasa sakit ini muncul setiap aku mengingat wajahnya, mengingat perkataannya. Aku sudah tidak tau harus berbuat apa untuk menghilangakan rasa sakit ini. Aku mengeratkan tanganku pada kakiku, aku terus menangis sampai sebuah suara menyadarkanku.

“sayang, apa kau sudah bangun?” tanya seseorang dibalik pintu

Suara itu.. aku rindu dengan suara itu. Sudah berbulan-bulan aku tidak mendengar suara itu. Aku ingin menjawabnya tapi kuurungkan niatku, aku ingin tau apa yang akan dia katakan setelah dia meninggalkanku. Aku segera mengusap air mataku dan kembali ke posisiku semula. Tidur. Berpura-pura tidur lebih tepatnya.

Jklek

Aku mendengar bunyi knop pintu dibuka dan aku melihat dibalik selimut pintu kamarku pun terbuka.

“haah ternyata kau belum bangun, eomma sangat rindu padamu seul ah” ucap eomma sambil tangannya membelai rambutku

Rindu? Eomma bilang rindu? Kalau eomma rindu padaku kenapa eomma dan appa meninggalkanku disini sendirian? Kemana janji kalian? Bukankah kalian bilang hanya pergi beberapa minggu? Tapi ini.. ini sudah lebih dari kata beberapa minggu. haah bagi kalian pekerjaan kan lebih penting daripada aku, makannya kalian lebih memilih meninggalkanku sendirian di rumah sebesar ini.

“apa kau masih marah pada eomma dan appa seul ah? Kami seperti ini juga kan demi kebaikanmu juga”

Kebaikan? Apakah melihat aku yang kurang kasih sayang dari kalian adalah kebaikan? Apakah dengan kalian yang jarang di rumah, tidak pernah menemaniku belajar, tidak pernah menanyakan ‘apakah aku baik-baik saja’ itu sebuah kebaikan untuk ku? Aku kesepian eomma. Apakah kau tau bagaimana kesepiannya aku? setiap kali aku mempunyai masalah, aku ingin menceritakan semuanya, aku ingin berbagi semuanya denganmu eomma tapi kau kemana? Kau tak ada disampingku kan?

Mataku panas, dan seketika butiran-butiran air turun membasahi pipiku. Aku menangis, kali ini aku menangis karena orang tuaku bukan karenanya. Aku sedih karena setiap aku punya masalah mereka tidak ada disampingku, aku sedih karena mereka sudah berbohong padaku, aku sedih karena mereka lebih mementingkan pekerjaan perusahaan itu daripada menemaniku yang sedang merasakan sakit ini.

#Flash Back#

“eomma, appa, apakah kalian akan pergi lagi? apakah kalian akan meninggalkanku disini sendirian?” tanyaku sewaktu eomma dan appa sedang membereskan barangnya.

“ne putriku, tapi kau tenang saja eomma dan appa tak akan meninggalkanmu lama-lama kok. Mungkin hanya beberapa minggu” aku cemberut mendengar ucapan appa

“jadi, kalau begitu berarti besok kalian tidak akan hadir di acara pelepasanku dong? dan kalian tidak mengambil ijazah ku disekolah?” tanyaku dengan nada sedih. Eomma tersenyum kemudian mendekatiku.

“aigoo anak eomma. Kau kan sudah besar, sudah dewasa jadi tak perlu kan eomma dan appa yang mengambil ijazah mu?” ucap eomma sambil tangannya membelai rambutku

“ne, kau kan sudah besar seul ah. Masa eomma dan appa harus menemanimu terus, kami kan juga ada pekerjaan yang harus diselesaikan” kali ini appa yang bicara. Aku memang terbilang anak yang manja, sangat manja malah kepada orang tuaku ini mungkin karena aku anak satu-satunya dan dari kecil mereka selalu memanjakanku.

“tapi kan, teman-temanku yang lain pasti membawa orang tuanya ke sekolah” aku menunduk menahan tangis

“kau kan bisa meminta bibi mu itu yang menemani, neul ra juga sekolah disana kan?” jawab appa yang kini telah berada di pintu

“iya, nanti biar eomma yang minta tolong bibimu agar mengambilkan ijazah mu juga” ucap eomma yang sedang merapihkan bajunya

“tapi kan..”

“sudahlah, appa dan eomma sudah terlambat. Kami pergi sekarang. Ingat jangan bertingkah sewaktu kami pergi” ucap appa sebelum dia menaiki mobilnya

“eomma pergi” eomma menyusul appa yang sudah duduk manis didalam mobil. Setelah eomma masuk ke mobil, mereka pun pergi begitu saja.

Haah bahkan sekedar mengucapkan selamat tinggal saja mereka lupa apalagi memeluk ku, mungkin memeluk ku sebelum mereka pergi itu tidak ada di pikiran mereka. Air mataku jatuh. Aku merasa, mereka sudah tidak peduli lagi padaku. Dulu, mereka selalu menemaniku dan tak pernah meninggalkanku tapi sekarang? Meninggalkan ku, meninggalkan rumah ini adalah hal biasa bagi mereka.

#Flash Back end#

Aku menutup mulut dengan tanganku ketika aku mengingat kejadian itu. Aku tak mau eomma mendengar tangisku. Mereka telah membohongiku, mereka bilang hanya beberapa minggu meninggalkanku disini tapi nyatanya? Sudah berbulan-bulan mereka tak pernah pulang dan baru sekarang ini mereka pulang.

“mianhae seul ah, mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo karena eomma sudah meninggalkanmu sendirian disini. Eomma tau kami bersalah padamu tapi jangan begini, jangan membuat eomma sedih. Setiap eomma dan appa menelepon, kamu tak mau menjawabnya. Kamu membuatku sedih seul ah” suaranya bergetar ketika mengucapkannya dan kemudian aku mendengar isakan tangis. Apakah eomma menangis? Apakah eomma menangis karena aku? ah aku memang anak yang berdosa

“eomma.. eomma juga tak ingin meninggalkanmu disini tapi pekerjaan menuntut eomma untuk pergi. Eomma kira kami hanya seminggu disana tapi karena ada suatu hal makannya eomma lama di paris dan meninggalkanmu” ucap eomma disela-sela tangisnya. Ah aku ingin memeluknya tapi aku masih kesal dengannya.

1 detik.. 2 detik.. 3 detik… 5 detik… eomma masih saja menangis, aku ingin sekali memeluknya dan…dan.. berkata bogoshipeoyo eomma tapi mulut dan tanganku tidak merespon apa yang ada di hatiku sama sekali. Aku hanya bisa diam mendengar tangisnya.

**

“seul ah, apa kau akan berangkat kuliah? Apa kau tak mau memeluk appa mu dulu?” langkahku terhenti ketika aku mendengar suara appa dan kemudian aku menoleh ke tempat appa dan eomma berada

“ania, aku sudah telat appa. Aku berangkat” ucapku berbohong kepada appa dan eomma yang sedang sarapan. Kulangkahkan kaki ku kembali yang tadi sempat terhenti dan dari sini aku bisa mendengar appa menghela nafasnya, mungkin dia sedih atau marah melihat sifatku ini.

Aku berjalan menuju halte bus dekat rumahku. Hari ini aku putuskan untuk tidak membawa mobil karena dengan perasaan yang seperti ini pasti aku tidak akan fokus mengendarai mobil sendiri.

“haaah kenapa dari kemaren pikiranku kacau seperti ini?” omelku pada diri sendiri. Sekarang aku sudah berada di halte bus dan menunggu bus arah ke kampusku.

“kenapa bus nya lama sekali?” aku melirik jam di tanganku. Ommoo… jam 6?! Kenapa aku berangkat sepagi ini? Kuliah kan mulai jam 8. Aigoo pikiranku memang sedang kacau.

Aku melihat i-phone yang sedari tadi aku pegang bersama tugas-tugas kim songsaengnim. Disana terpampang foto kyuhyun yang menjadi wallpaper i-phone ku.  Aku memasangkan earphone ke telingaku dan dengan lincah tanganku mulai mencari-cari lagu yang akan kudengarkan tapi… disana aku tak mendapati lagu apapun selain lagunya. Ah aku tak mau mendengar suaranya kali ini karena dengan mendengar suaranya itu malah membuat lukaku semakin parah.

Entah mendapat magnet dari mana tanganku tiba-tiba saja membuka gallery photo yang bertuliskan ‘napeun namja’ disana banyak sekali foto kyuhyun, beratus-ratus bahkan beribu-ribu fotonya ada di i-phone ku. Aku terdiam. Aku kembali teringat akan ucapannya.

Dia yeojachinguku

Aku mencintainya, Sangat mencintainya

Aku mencintainya melebihi diriku sendiri

Aku tak bisa hidup tanpanya

Sampai kapanpun aku akan tetap mencintainya

Pipiku basah. Haah aku benci saat seperti ini. Karena saat seperti ini aku terlihat sangat lemah. aku sangat lemah karena mencintainya. Aku menutup wajahku dengan tanganku, aku tak mau orang lain melihatku yang seperti ini. Aku tak mau orang lain merasa kasihan kepadaku.

“kenapa aku cengeng seperti ini? Hanya karena dia aku begini” gumamku yang nyaris tak terdengar. Aku mengusap air mataku kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. saat itu juga bus yang akan mengantarku datang dan aku segera berjalan menuju bus itu.

Untung hanya ada beberapa orang saja di dalam bus jadi tak akan ada yang tau jika aku menangis disini. Kemudian aku berjalan mencari kursi yang nyaman dan  akhirnya aku duduk di kursi paling belakang. Ketika aku lewat, tanpa sengaja aku melihat seseorang yang aneh (menurutku) karena didalam bus seperti ini dia memakai jaket tebal,topi,masker,dan syal yang iya gantungkan dileher sampai-sampai semua bagian wajahnya tak terlihat sama sekali kecuali matanya. Ah biarkan sajalah, aku juga tak mengenalnya ini dan segera kupalingkan wajahku ke kanan sehingga aku bisa melihat suasana pagi kota seoul.

Kusanggah tanganku yang menopang daguku pada pinggiran kaca, aku menangis lagi. sepanjang perjalanan aku terus menangis. Tetapi ketika aku menangis, aku merasa ada yang janggal. Seperti ada yang memperhatikanku, aku menghapus air mataku dan menengok ke kiri. Ah benar saja dia (orang aneh itu) sedang memperhatikanku tetapi ketika aku melihatnya, dia cepat-cepat memalingkan wajahnya.

‘dasar aneh’ pekikku dalam hati

7 thoughts on “So Tired to Loving You [part 1]

  1. hah??? tamat ya? gak ada pemberitahuannya..iya, itu pasti kyuhyun yang lagi lari dari jeratan cintaku… (?)

  2. Waaaaaaa…… Keasikan baca nggak nyangka udah selesai. Menurutku sih mending si ‘orang aneh’ itu nanti dibikin seperti twist, jadi nggak ketebak thor. Tapi itu cuman ide ya thor hehehe dipake sukur, nggak dipake juga nggak pa-pa. Next part ditunggu yaaaa hehehe

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s