Fallen : Orang asing yang sempurna [part 1 A]

Author : Krisma Rah Sangga
Facebook : Krisma Rah Sangga
Twitter : Krisma Rah Sangga
Main Cast :     •    Cho Kyuhyun a.k.a Super Junior Kyuhyun
•    Lee Donghae a.k.a Super Junior Donghae
•    Krisma Rah Sangga a.k.a Park Gi Eun
•    Aida Safitri a.k.a Park Min-Young
•    Dona Aryanti a.k.a Kim Hyun Jin Seusangnim

•    Vina Ida M.S a.k.a Shin Yoon Ji

Support Cast :       •    Angelita Faahruri a.k.a Choi Jin Hee
•    Dody Adi Pratama a.k.a Choi Sung Joon
•    Mutiara Aldina a.k.a Lee Hyori
•    Julyan Prasetyo a.k.a Park Hae Jin

•    Lucy Pramestiani Agatha a.k.a Jun Ji Hyun

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy.

Ps : Cast di Prolog semuanya aku ganti ._.V kecuali Kyu dan Donghae .-.

 

Tapi surga telah dikunci dan disegel…

Kita harus melakukan perjalanan keliling dunia

untuk melihat apakah mungkin ada pintu yang

dibiarkan terbuka.

—HEINRICH VON KLEIST, On The Puppet Theater

 CHAPTER 1A:

ORANG ASING YANG SEMPURNA

 Gi Eun menerobos masuk lobi sekolah Sword & Cross yang diterangi lampu neon sepuluh menit lebih lambat daripada seharusnya. Petugas berdada bidang dengan pipi merah dan papan penjepit kertas dikepit di bawah lengan berotot besi sudah mulai memberikan berbagai perintah—yang berarti Gi Eun terlambat.

“Jadi ingat, obat, kamar, dan merah,” petugas itu membentak kelompok yang terdiri atas tiga murid yang memunggungi Gi Eun. “Ingat peraturan dasarnya, maka takkan ada yang terluka,”

Gi Eun cepat-cepat menyelinap ke belakang kelompok itu. Ia masih sibuk memikirkan apakah telah mengisi setumpuk tinggi formulirnya dengan benar, apakah penjaga berambut cepak yang berdiri dihadapan mereka ini lelaki atau perempuan, apakah ada orang yang akan membantunya membawa tas selempang raksasa ini, apakah orangtuanya akan menyingkirkan Mobil Chevrolet Sonic-nya yang tersayang begitu di rumah setelah mengantarkannya disini. Sepanjang musim panas mereka mengancam menjual mobil itu, dan kini mereka punya alasan yang bahkan tidak bisa dibantah Gi Eun. Tak seorang pun diperbolehkan membawa mobil disekolah baru Gi Eun. Lebih tepat, sekolah anak nakal barunya.

Ia masih berusaha menerima istilah itu.

“Bisakah kau, eh, bisakah kau mengulang yang tadi?” ia bertanya pada petugas itu. “Apa tadi, obat—?”

“Wah, lihat apa yang dibawa badai ke sini,” petugas itu berkata lantang, lalu melanjutkan, menjelaskan perlahan. “Obat. Jika kau salah satu murid yang dalam pengobatan, ke sinilah kau pergi untuk menjaga dirimu tetap terarah, waras, bernapas.” Perempuan, putus Gi Eun, memperhatikan petugas itu. Tak ada lelaki yang cukup sinis untuk mengatakan semua itu dengan nada yang begitu manis.

“Mengerti.” Gi Eun merasa perutnya bergejolak. “Obat.”

Sudah bertahun-tahun ia tidak berurusan dengan obat-obatan. Setelah kecelakaan musim panas terakhir, dr. Sanford, dokter spesialisnya di Hopkinton—dan alasan orangtuanya mengirimnya  ke sekolah berasrama jauh-jauh di New Hempshire—berniat mengobatinya lagi. Walaupun akhirnya berhasil meyakinkan dr. Sanford mengenai kestabilan palsunya, Gi Eun memerlukan analisis selama sebulan hanya untuk menghindari obat antipsikotis yang mengerikan itu.

Karena itulah ia baru masuk sebagai murid tahun terakhir Sword & Cross satu bulan penuh setelah sekolah dimulai. Menjadi murid baru sudah cukup buruk, dan Gi Eun benar-benar gugup jika harus masuk ke kelas-kelas tempat semua anak sudah saling kenal. Tapi dilihat dari penampilan kelompok ini, ia bukanlah satu-satunya anak yang baru tiba hari ini.

Diam-diam ia melirik tiga murid lain yang berdiri membentuk setengah lingkaran di sekitarnya. Di sekolahnya yang terakhir, Dover Prep, ia berjumpa sobat karibnya, Ji Hyun, saat tour pengenalan sekolah pada hari pertama. Di sekolah yang seluruh muridnya bisa dibilang telah saling mengenal sejak lahir, bahwa Gi Eun dan Ji Hyun satu-satunya murid bukan dari keluarga kaya sebenarnya sudah merupakan alasan yang cukup kuat bagi mereka untuk bersahabat. Tapi kedua gadis itu tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa mereka juga punya obsesi yang persis sama terhadap film-film kuno yang persis sama—terutama jika ada Albert Finney di dalamnya. Setelah menyadari pada tahun pertama saat mereka menonton Twofor the Road, tak seorang pun dari keduanya bisa membuat popcorn tanpa menyebabkan alarm kebakaran berbunyi, Ji Hyun dan Gi Eun tidak terpisahkan. Hingga…. hingga mereka harus melakukannya.

Di samping Gi Eun ada dua cowok dan seorang cewek. Gadis itu kelihatannya mudah ditebak, berambut pirang dan cantik seperti bintang iklan Neutrogena, dengan kuku-kuku terawat berwarna merah muda pastel yang serasi dengan map plastiknya.

“Aku Hyori,” gadis itu berkata setengah menggumam, member Jessy senyuman lebar yang menghilang secepat munculnya, sebelum Gi Eun bisa menyebutkan namanya sendiri. Keramahan sesaat gadis itu mengingatkan Gi Eun lebih pada versi selatan gadis-gadis di Dover daripada orang yang ia kira bakal ditemuinya di Sword & Cross. Gi Eun tidak bisa memutuskan apakah ini menenangkan atau tidak, seperti ia tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan gadis dengan penampilan seperti ini di sekolah anak-anak nakal.

Disebelah kanan Gi Eun ada cowok dengan rambut pendek cokelat, mata cokelat, dan bintik-bintik disepanjang hidung. Tapi dari tingkahnya yang tidak mau menatap mata Gi Eun dan terus saja menarik-narik kulit ibu jarinya yang terkelupas, Gi Eun punya kesan bahwa, seperti dirinya, pemuda itu mungkin masih kaget dan malu karena mendapati dirinya berada di sini.

Sebaliknya, cowok yang berada dikirinya, agak terlalu cocok dengan bayangan Gi Eun akan tempat ini. Dengan tas selempang dibahu, rambut hitam acak-acakan, dan mata hijau besar yang dalam. Bibirnya penuh dan berwarna merah muda alami yang diidamkan kebanyakan gadis. Ditengkuknya, tato hitam berbentuk sinar matahari  terlihat nyaris bercahaya pada kulitnya yang putih, muncul dari ujung kaus berwarna hitam.

Tidak seperti dua anak yang lain, ketika cowok itu berpaling untuk membalas tatapan Gi Eun, ia bertahan memandang Gi Eun dan tidak melepaskan tatapannya. Bibirnya menipis membentuk garis lurus, namun tatapan kedua matanya hangat dan hidup. Pemuda itu menatap Gi Eun, berdiri tak bergerak seperti patung, membuat Gi Eun merasa terpaku di tempatnya juga. Gi Eun menarik napas. Kedua mata itu begitu intens, malaikat, dan yah, agak bikin waswas.

Dengan berdeham keras, si petugas menyela tatapan tajam cowok itu, yang seperti setengah sadar. Gi Eun merona dan berpura-pura sibuk menggaruk kepala.

“Yang sudah mengerti peraturannya, silahkan pergi setelah menyerahkan barang-barang berbahay kalian.” Petugas itu memberi isyarat kearah kardus besar dibawah tanda dengan huruf-huruf besar hitam bertuliskan BENDA-BENDA TERLARANG. “Dan ketika aku berkata pergi, Sung Joon”—petugas itu mencengkeram bahu anak yang wajahnya berbintik-bintik, membuat anak itu melonjak—“maksudku segera ke ruang olahraga untuk bertemu pembimbing murid-murid baru. Kau”—petugas itu menunjuk Gi Eun—“masukkan barang-barang berbahayamu dan tetap disini.”

Keempat anak itu bergerombol kea rah kardus dan Gi Eun memperhatikan, dengan terkejut, ketika murid-murid lain mulai mengeluarkan isi saku mereka. Gadis tadi mengeluarkan pisau lipat Swiss Army merah muda seoanjang delapan sentimeter. Pemuda yang bermata hijau dengan enggan mengeluarkan kaleng cat semprot dan pisau pemotong kardus. Bahakan Sung Joon yang malang memasukkan beberapa kotak korek api dan sewadah kecil bensin pematik. Gi Eun nyaris merasa bodoh karena tidak memiliki barang-barang berbahaya—tapi ketika melihat anak-anak lain merogoh saku dan memasukkan telepon genggam ke kardus, ia menelan ludah.

Saat mencondongkan tubuh ke depan untuk membaca tanda BENDA-BENDA TERLARANG lebih cermat, ia melihat bahwa telepon genggam, pager, dan radio dua arah sangat dilarang. Ia tidak boleh membawa mobil saja sudah cukup buruk! Gi Eun mencengkeram telepon genggam di dalam sakunya dengan tangan yang berkeringat, satu-satunya penghubung dengan dunia luar. Ketika si petugas melihat raut wajah Gi Eun, ia menampar ringan pipi Gi Eun beberapa kali. “Jangan pingsan disini, Nak, gajiku tidak cukup tinggi untuk membuatku mau melakukan napas buatan. Lagi pula, kau mendapatkan satu kesempatan menelepon setiap minggu di lobi utama.”

Satu kali menelepon… satu kali dalam seminggu? Tapi—

Ia menunduk menatap telepon genggamnya untuk terakhir kali dan melihat ada dua SMS baru. Rasanya tidak mungkin ini dua SMS terakhirnya. Yang pertama dari Ji Hyun.

Telepon segera! Akan menunggu didekat telepon sepanjang malam jadi siap2lah bercerita. Dan ingat mantra yang kuberikan. Kau akan bertahan! BTW, mungkin kau belum tahu, kurasa semua sudah melupakan…

Benar-benar cirri khas Ji Hyun, ia akan menulis begitu panjang sehingga telepon genggam Gi Eun yang jelek sejak satu minggu yang lalu memotong empat baris terakhir. Tetapi, Gi Eum nyaris merasa lega. Ia tidak ingin membaca bagaimana semua orang di sekolah lamanya sudah melupakan apa yang terjadi padanya, apa yang diperbuatnya sehingga dirinya terdampar ditempat ini.

Ia menghela napas dan membaca pesan yang kedua. Dari ibunya, yang pasti tidak tahu tentang peraturan satu telepon perminggu ini dan kalau tahu takkan menelantarkan anak perempuannya disini. Ya, kan?

Gi Eun, kami selalu memikirkanmu. Jangan nakal dan cobalah makan cukup protein. Kami akan menghubungi pada saat yang diperbolehkan. Love, M&D.

Sambil menghela napas, Gi Eun menyadari orangtuanya pasti tahu. Apa lagi alasan raut wajah mereka yang sedih ketika Gi Eun melambai digerbang sekolah pagi tadi, dengan tas selempang ditangan? Saat sarapan, ia mencoba membuat lelucon tentang bagaimana akhirnya ia bisa menghapus logat mengerikan New England yang ia dapatkan di Dover, tapi kedua orangtuanya bahkan tidak tersenyum sedikit pun. Ia pikir mereka masih marah padanya. Mereka tidak pernah menaikkan suara, yang berarti kalau Gi Eun benar-benar membuat kesalahan besar, mereka hanya mendiamkannya. Kini ia mengerti sikap aneh mereka pagi tadi: orang tuanya sudah bersedih karena akan kehilangan komunikasih dengan satu-satunya anak perempuan mereka.

“Kita masih menunggu satu orang,” si petugas bernyanyi. “Siapa ya dia?” Perhatian Gi Eun tersentak kembali ke Kotak Benda-Benda Terlarang, sekarang penuh benda yang bahkan tidak bisa dikenalinya. Ia dapat merasakan mata hijau cowok berambut gelap tadi menatapnya. Ia mendongak dan menyadari bahwa semua memandanginya. Tiba gilirannya. Ia memejamkan mata dan perlahan membuka genggaman, melepaskan telepon genggamnya dari cengkeraman dan mendarat dengan suara buk yang menyedihkan diatas tumpukan barang. Suara kesendirian.

Sung Joon dan Hyori yang seoerti boneka itu berjalan ke pintu tanpa merasa pperlu menoleh ke arah Gi Eun, tapi si pemuda kedua berpaling pada petugas.

“Aku bisa menjelaskan padanya,” ia berkata, mengangguk kea rah Gi Eun.

“Bukan bagian perjanjian kita,” si petugas spontan menjawab, seakan sudah menyangka akan mendengar perkataan ini. “kau murid baru lagi—itu berarti aturan murid baru. Kembali ke nol. Jika tidak menyukainya, seharusnya kau berpikir dua kali, sebelum melanggar aturan pembebasan bersyarat.”

Pemuda itu berdiri tak bergerak, tanpa ekspresi, ketika si petugas mendorong Gi Eun—yang terpaku mendengar istilah “pembebasan bersyarat”—ke ujung aula kekuningan.

“Maju,” petugas itu berkata, seakan tidak ada apa-apa. “Kamar.” Ia menunjuk ke luar jendela yang menghadap barat, ke bangunan kubus kelabu di kejauhan. Gi Eun bisa melihat Hyori dan Sung Joon berjalan perlahan ke sana, bersama pemuda kedua yang melangkah perlahan, seakan sama sekali tidak ingin mengikuti kedua rekannya.

Asramanya besar dan persegi, bangunan kotak padat berwarna kelabu dengan pintu-pintu tebal yang tidak menandakan adanya kehidupan di baliknya. Plakat batu besar berdiri di tengah lapangan rumput yang gersang, dan Gi Eun ingat tulisan PAULINE DORMITORY terpahat dipermukaan batu itu, ia melihatnya di situs internet. Kelihatannya jauh lebih jelek dibawah sinar matahari pagi yang berkabut, daripada di foto hitam putih datar.

Bahkan dari kejauhan, Gi Eun bisa melihat bagian depan asrama yang berjamur hitam. Seluruh jendelanya dipasang barisan teralis besi tebal. Gi Eun menyipitkan mata. Apakah di bagian atas pagar yang mengelilingi seluruh bangunan itu kawat berduri.

Si petugas menunduk membaca tabel, membalik-balik berkas milik Gi Eun. “Kamar nomor enam puluh tiga. Tarus tasmu dikantorku bersama yang lain untuk sementara. Kau bisa membongkar barangmu sore ini.”

Gi Eun menyeret tas selempang merahnya kea rah tiga peti hitam lain. Lalu dengan refleks ia meraih telepon genggam, tempat ia bisa menyimpan segala yang harus diingatnya. Tapi ketika tangannya merogoh saku yang kosong, ia menghela napas dan menyimpan nomor kamar hanya dalam ingatan.

Ia masih tidak mengerti kenapa tak bisa tinggal bersama orangtuanya saja, rumah mereka di Thunderbolt hanya berjarak setengah jam kurang dari Sword & Cross. Rasanya sunggu menyenangkan bisa pulang ke Savannah, tempat bahkan angin pun bertiup malas, begitu yang selalu dikatakan ibunya. Kehidupan lebih lambat dan lembut di Georgia jauh lebih cocok bagi Gi Eun daripada New England.

Tapi Sword & Cross tidak terasa seperti Savannah. Rasanya tidak seperti berada dimana pun, kecuali tempat tanpa kehidupan tak berwarna yang ditetapkan pengadilan untuk ditempatinya. Suatu hari ia menguping ayahnya bicara di telepon dengan kepala sekolah, mengangguk-angguk dengan gaya professor biologi bingung khasnya dan berkata, “Ya, ya, mungkin yang terbaik baginya kalau ia selalu dalam pengawasan. Tidak, tidak, kami tidak akan ikut campur dengan cara kerja Anda.”

Jelasnya ayah belum melihat situasi pengawasan anak perempuannya. Tempat ini terlihat seperti panjara dengan penjagaan penuh.

“Dan bagaimana dengan, apa kau bilang tadi—merah?” Gi Eun bertanya pada petugas itu, tak sabar untuk dibebaskan dari tour pengenalan.

“Merah,” kata petugas itu, menunjuk alat kecil yang tergantung pada kabel di langit-langit: lensa dengan lampu merah berkelap-kelip. Gi Eun tadinya tidak melihatnya, tapi setelah petugas itu menunjukkan kamera yang pertama, ia menyadari benda itu ada di mana-mana.

“Kamera?”

“Pintar sekali,” kata si petugas, suaranya penuh nada menghina. “Kami sengaja membuatnya kelihatan jelas untuk mengingatkan kalian. Setiap saat, di mana pun, kami mengawasi kalian. Jadi jangan mengacau—jika kau bisa menahan diri, tentu saja.”

Setiap ada yang bicara pada Gi Eun seakan ia psikopat tulen (?), ia semakin percaya bahwa itu benar.

Selama musim panas, kenangan itu menghantuinya, dalam mimpi dan pada saat-saat jarang ketika orangtuanya meninggalkannya sendirian. Sesuatu terjadi di pondok itu, dan semua orang—termasuk Gi Eun— sangat penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi. Polisi, hakim, dan pekerja juga sama tidak mengertinya dengan mereka semua. Ia dan Trevor bercanda sore itu, berkejaran di sepanjang pondok yang berjajar di pinggir danau, jauh dari murid-murid lain. Ia mencoba menjelaskan bahwa saat itu salah satu malam terindah dalam hidupnya, hingga akhirnya berubah jadi yang terburuk.

To Be Continue

Buat yang udah baca part ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

2 thoughts on “Fallen : Orang asing yang sempurna [part 1 A]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s