Be Happy, Please? [part 1]

By Sugih Miinah Hartika

Main Cast: Donghae, yesung and leeteuk

Other cast

Genre: Brothership

.

.

.

Annyeong..

Sebelumnya saya minta maaf karena lagi-lagi ‘membuang’ FF saya kesini. Thanks juga to admin yang bersedia menampungnya *Plak..

Kali ini saya bawa brothership tentang Yesung ama Donghae sebenernya, cuman nanti ada bang Leeteuknya juga. Langsung dibaca aja chingu~

 

Chapter 1, begin….

“Donghae ya~ ireona. Palli..”

“ungh~”

“ya!! Bangun!! Kau tak sekolah, huh?!”

“sebentar lagi.”

“ini sudah jam 7 pagi dan bel sekolahmu sepertinya sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu.”

 

Tersenyum. Itu yang bisa kulakukan saat mengingat sikap perhatianmu padaku.

 

“kubuatkan bubur khusus untukmu Hae. Dimakan ya. Kau masih sakit.”

“tidak hyung. aku mual.”

“ayolah. Mana bisa sembuh kalau kau tak mau makan.”

“aku tak mau.”

“lalu apa maumu humh?”

“aku ingin memelukmu.”

 

Lagi-lagi tersenyum saat mengingat betapa manjanya aku padamu.

 

“kita mandi bersama?!”

“ya hyung!! aku tak mahu!! Aku sudah besar, aku malu!!”

“kenapa harus malu? Aku hyung mu Donghae ya!”

“tetap saja.”

“aku tak ingin kau tiba-tiba terjatuh di kamar mandi. Aku tak mungkin membiarkanmu mandi sendiri saat kakimu masih sakit. Aku hanya hawatir.”

“ish hyung, kakiku hanya terkilir. kau berlebihan. ckckck”

 

Kau itu seorang hyung yang sangat protektif, dan lebay. Kutebak kau akan segera memukulku bila kau mendengar kata itu langsung.

Hemh, lalu kemana kau sekarang? Kemana sikap perhatianmu itu? kemana sikap protektifmu itu? bahkan aku tak bisa bermanja-manja lagi padamu.

Hyung.. Yesung hyung. kau berubah..

~~~

Yesung POV

Ku tatap layar handphone sekali lagi, kubaca sms terakhir yang ku terima. Berharap sms itu hanya bohong. Semoga aku tadi salah membacanya.

Dongsaengmu hilang. Mianhae.. aku tak bisa menjaganya dengan baik. Aku menunggu dirumah. Cepatlah pulang Sungie!!

Isinya tak berubah!!

“Hae~ kau dimana saeng!”

Kupercepat laju mobilku menuju rumah. Rasa dingin dari tadi menyerang seluruh tubuhku. Aku sangat hawatir.

Saat sampai dirumah, seseorang menyambutku dengan raut muka cemas. Membuatku tak lebih baik.

“bagaimana ceritanya hyung?” tanyaku langsung padanya.

“saat aku kesini untuk mengantar makanan dia sudah tak ada.” Jawabnya. Aku mencoba tetap tenang dan berfikir posotif.

“mungkin dia main ke rumah temannya? Apa hyung sudah menelfon teman-temannya?” tanyaku lagi.

“sudah. Tapi itulah masalahnya Sungie, bahkan ia tak masuk sekolah hari ini.” Jawab teuki hyung membuatku semakin cemas. Donghae adalah tipe orang yang baik dan patuh. Ia tak pernah bolos dari sekolahnya kecuali bila memang ada keperluan. Lalu sekarang ada apa dengannya.

“kita berpencar mencarinya Sungie.” Ajak Teuki hyung akhirnya. Thanks to Teuki hyung yang selalu berada di sampingku dan Donghae. Padahal dia hanyalah seorang tetangga kami semenjak dua bulan yang lalu. Persetan dengan itu. toh dia menyayangi kami berdua. Aku mengangguk dan hendak berpencar mencari Donghae.

 

Normal POV

Dua jam berlalu. Yesung semakin merekatkan jaketnya. Kini ia benar-benar merasakan dinginnya kota seoul ditengah malam dan berada di antara salju-salju yang tebal. Ia terus mencari dongsaeng tersayangnya. Lelah tak ia pedulikan. Dingin tak ia hiraukan. Hanya Donghaelah yang terpenting sekarang. Dan ia mulai terisak..

Di tempat lain Leeteuk tak kalah sibuk. Ia mencari Donghae, adik tetangga barunya. Sekali lagi ia berbisik pada dirinya sendiri, ‘ia adik orang lain teuki. Sadarlah!!’ bisiknya.

Lalu dimana Donghae?

Dimana orang beruntung yang disayangi oleh banyak orang itu?

Terjadi sesuatu padanya?

Apa ia sedang bersenang-senang?

Ya..

Dia sedang bersenang-senang. Dia bersenang-senang dengan tangisnya. Tubuhnya gemetar. ia terduduk di antara hamparan salju yang luas.

Ia benci..

Ia benci pada hamparan salju ini. Ini adalah sebuah lapangan luas tempatnya sering bermain dengan Yesung. Salju membuatnya dingin. Donghae tak suka itu. donghae tak suka tempat bermainnya menjadi dingin. sama seperti hyung yang disayanginya saat ini, begitu dingin. ia terus menangis, menangis dalam diam.

“hyung..” ujarnya lirih diantara suara angin berhembus.

“kau dimana?” katanya dengan tatapan kosong. Ia melamun..

“aku tak dapat menemukanmu.”

“aku.. aku tak mengenalmu lagi. Kau,, sudah berubah. Kau membenciku!” ucapnya semakin pelan. bahkan sangat pelan. ia terus menangis. Menangis, dan menangis.

~~~

Di tengah keputusasaannya Yesung akhirnya tersadar. Bukankah seharusnya dia adalah orang yang sangat mengenal Donghae? Harusnya dia adalah satu-satunya orang yang mengetahui dimana Donghae berada.

“baboya~” ucapnya merutuki diri sendiri sambil berlari.

Dan benar saja. senyum terkembang di bibir manisnya saat menemukan sosok yang ia cari.

“Donghae ya~” bisiknya sambil mendekati Donghae. Namun senyumnya hilang. Donghae sama sekali tak menghiraukannya.

“Hae..” panggilnya agak keras. Donghae tetap membelakanginya.

“hyung..” ucap Donghae akhirnya, kini berbalik menatapnya.

“ne, waeyo?”

“apa ini kau?” tanya Donghae sambil menatap Yesung dengan mata sayunya.

“ya..” sela Yesung tertahan. Merasa kaget dan tak dapat berucap lagi apapun.

“apa kau sudah kembali?” tanya Donghae lagi sambil tersenyum hambar.

“hei.. ada apa denganmu huh?” tanya Yesung akhirnya meraih pipi Donghae. Dan ia mulai khawatir merasa pipi dan wajah Donghae sangatlah dingin, terlalu lama di bawah hujan salju, pikir Yesung.

“tidak.. hanya saja.. aku.. hanya.. itu..” ucap Donghae terdengar ragu dan menahan tangisnya.

“Hae ya..” tegur Yesung semakin hawatir.

“aku kehilanganmu.”

“…”

“aku merasa aku kehilanganmu.” Tes. Tes. Air mata mulai mengalir.

“aku benci mengatakan ini, tapi kau berubah hyung.” ucap Donghae serak.

“Hae..”

“kau berubah. Aku.. aku mulai hawatir.”

“hey..”

“aku hawatir kalau kau mulai memperhitungkan hubungan kita yang memang bukan saudara kandung.” Ucap Donghae semakin parau. Yesung segera meraih Dongsaengnya itu kedalam pelukannya. Tak ada penolakan. Donghae terlihat sangat lemah dan rapuh saat ini.

“aku.. aku mulai takut jika kau sewaktu-waktu mulai membuangku. Aku tahu persis bahkan kita bukan saudara kandung. Kau mulai tak menyayangiku..” racau Donghae. Ia memejamkan matanya, merasa kehangatan yang mengalir dari tubuh Yesung.

“Donghae ya.. apa yang kau katakan.” Sela Yesung.

“aku sadar, kau mulai menjaga jarak denganku.”

“sst.. cukup Hae.”

“karena aku bukan dongsaengmu.”

“ani..”

“bukan.. aku. Bukan. Dongsaengmu, iya kan?!”

“Lee Donghae cukup!” teriak Yesung frustrasi sambil tetap memeluk Donghae lebih erat.

“bahkan..” ucap Donghae lagi. Suaranya semakin mengecil di pendengaran Yesung.

“marga kita tak sama.” Ucap Donghae terdengar putus asa dan akhirnya meninggalkan sebuah isakan. Yesung mengerti, tentang Donghae, tentang hubungannya dengan Donghae. Tentang semua yang didengarnya barusan dari Donghae, itu semua benar! Semua memang benar. Ia mulai menjaga jarak dengan Donghaenya? Itu benar. Karena status hubungan mereka yang bukan saudara kandung? Itu benar. Lalu ada apa dengannya? Kenapa ia harus memikirkan hal semacam itu? toh ia hidup bahagia selama 15 tahun ini bersama Donghae. Semenjak ia menemukan Donghae, ia sudah berjanji akan tetap menjaga Donghae. Yesung sadar ia berubah jahat. Ia melukai Donghaenya.

“mianhae..” itulah katanya.

“mianhae, kau dongsaengku Hae. Kau dongsaengku.” Katanya sambil melepas pelukannya dan menatap wajah Donghae.

“kau tetap menjadi Dongsaengku.” Tegas Yesung sekali lagi. Namun ia tertegun, tatapan Donghae kosong.

“jangan berfikir seperti itu lagi.” Ucap Yesung mencoba membuat Donghae menatapnya.

“kau dengar hyung?” katanya sekali lagi meraih pipi Donghae. Bibir Donghae bergetar. Yesung menyadari satu hal. Donghae kedinginan. Ohh.. bukankah sedang turun salju? Dan berapa lama Donghae berada di tempat dingin itu? tanpa jaket yang tebal? Tanpa sarung tangan? Tentu saja Donghae akan kedinginan. Yesung segera melepas jaketnya dan memakaikan jaketnya pada Donghae. Melepas sarung tangannya juga.

“kau kedinginan. Kita pulang.” Donghae sama sekali tak meresponnya lagi sejak kata-kata terakhirnya tadi. Yesung semakin hawatir. Wajah Donghae benar-benar pucat! dan Yesung tak suka dengan tatapan kosong itu. Yesung segera membawa Donghae, menggendong Donghae di punggungnya.

“kita akan segera pulang Hae.” Ucapnya sambil setengah berlari. Dan Donghae tak mampu lagi berbuat apapun. Tubuhnya seakan mati rasa, tentu saja, ia setengah membeku. Tak ada bagian tubuhnya yang terasa hangat. Semuanya terasa kaku. Kini matanya terasa sangat berat dan akhirnya terkulai di dalam gendongan Yesung. Yesung semakin mempercepat langkahnya.

 

Yesung POV

Donghaeku..

Apa yang telah ku lakukan Tuhan..

Kumohon.. maafkan aku Hae…

Sesampainya di depan rumah, Teuki hyung sudah menunggu disana rupanya.

“ya!! Kau menemukannya dimana? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya terllihat kacau juga, sama denganku.

“tolong buka pintunya hyung. dan bisakah kau masakkan air hangat untuknya? Ia kedinginan.” Ucapku.

Kami masuk dan membawa Donghae ke kamar. Ia tertidur. Aku menidurkan Donghae di ranjangnya. Kuganti pakaiannya dan segera menyelimutinya dengan selimut yang tebal. Ku gosok telapak tangannya yang terasa sangat dingin itu. teuki hyung datang membawa air hangat.

“unghh~” tiba-tiba Donghae bersuara, namun matanya tetap terpejam.

“hyung..” ucapnya mulai mengigau.

“hyung disini Hae. Tenanglah. Kau sudah dirumah.”

“hyung..” Donghae memanggilku lagi setengah terisak.

“hy..hyung..” panggil Donghae lagi dan lagi. Hatiku mencelos. Ini semua karena aku. Donghae sedikit membuka matanya.

“dingin.” ucapnya sangat pelan. kupandangi wajah Donghae yang benar-benar pucat.

“aku tahu.” Ucapku sambil sedikit membangunkannya dan lalu memeluknya, Mengusap punggungnya.  Mencoba memberi kehangatan padanya.

“tidurlah.” Ucapku  mengusap kepalanya sambil bersenandung kecil. Donghae menyukai suaraku, itu yang kutahu.

 

Normal POV

“hyung..” panggil Donghae sambil menggerakkan badan Yesung perlahan.

“nngggghh..” ucapnya parau dengan mata tertutup.

“hyung..” panggil Donghae lagi. Yesung membuka matanya, melihat Donghae duduk bersila di sampingnya.

“sudah siang” Ucap Donghae. Yesung buru-buru bangun dan menyentuh kening Donghae, “hmm..” katanya mengangguk-anggukan kepalanya.

“ish, aku tak sakit.” Ucap Donghae sedikit beralasan. Sebenarnya kepalanya terasa sedikit sakit.

“oh ya?” ejek Yesung, “padahal semalam ada yang menggigil dan minta kupeluk lho..” lanjutnya.

“aku tidak.” Ucap Donghae mengelak.

“alasan.” Ucap Yesung sambil mengacak rambut Donghae dan tersenyum. Donghae ikut tersenyum. ‘kau kembali hyung’ ucapnya dalam hati.

“aku sudah siapkan sarapan.” Lanjut Donghae sambil melihat Yesung menuju kamar mandi.

“ne.” Ucap Yesung.

 

Donghae POV

“sepertinya kita harus membahas sesuatu.” Ucap Yesung hyung tiba-tiba.

“apa tak sebaiknya kau mandi dulu hyung?” kataku sambil menutup hidung. Dia kan baru saja pulang.

“tidak, aku ingin sekarang.” Katanya mendekat padaku dan nampak serius.

“baiklah, memangnya apa yang perlu kita bahas?”

“soal semalam.” Katanya sambil menatapku. Kuingat-ingat, semalam itu kami baru saja berbaikan bukan?! Kami baru saja berbaikan setelah sebulan terakhir ini dia mendiamkanku tanpa alasan.

“soal semalam?” tanyaku tak mengerti.

“iya. Kau bilang aku mulai merubah sikapku. Kau juga membahas tentang kita yang memang bukan saudara kandung.” Katanya.

“iya. Tapi aku tahu itu semua tak jadi masalah bukan?!” kataku memastikan.

“bagaimana kalau itu jadi masalah buatku sekarang?”

“huh? Itu..”

“kau juga bilang, kau takut bila suatu hari aku membuangmu?” tanyanya kali ini lebih serius. Aku hanya mengangguk ragu.

“bagaimana jika aku benar-benar akan membuangmu?” katanya, aku benar-benar takut sekarang.

“aku tahu kau tak akan melakukannya.” Kataku memastikan, namun dengan cepat ia menjawab, “ya…” katanya terputus lalu terdengar menghela nafas berat.

“aku akan melakukannya.” Ucapnya dengan lancar.

“ne?”

“pulanglah pada keluarga kandungmu Hae.” Katanya lagi menatapku dalam. Ini tak mungkin!! Aku tak mau!!!

“kau bercanda kan hyung?” ucapku mulai tak jelas.

“tidak.” Katanya tegas. Dan mataku mulai terasa panas.

“kau tahu sendiri, aku tak punya siapapun.” Kataku parau, mulai menangis.

“aku sudah mencari. Setidaknya kau masih mempunyai seorang hyung. selamat..” katanya tersenyum hangat.

“mwo? Kau sengaja mencari tempat dimana aku akan dibuang?” kataku mulai emosi. Bagaimana bisa dia berpikiran semudah itu.

“anio. Tentu saja tidak begitu. kupikir akan lebih baik bila kau tinggal bersama saudara kandungmu Hae. Hyungmu..” katanya dengan ringan. Mudah sekali bicara.

“baiklah bila itu yang kau mau. Katakan… katakan kemana aku harus pergi? Ke tempat hyung ku? Siapa? SIAPA HYUNGKU?!!!

TBC

Segitu dulu. Saya butuh tanggapan dulu, apa layak bila dilanjut? Udah segitu aja cuap-cuapnya. *Plak.Plak.plak… ^^

2 thoughts on “Be Happy, Please? [part 1]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s