Fallen [PROLOG]

Author : Krisma Rah Sangga

Facebook : Krisma Rah Sangga

Twitter : Krisma Rah Sangga

Main Cast :     •    Cho Kyuhyun a.k.a Super Junior Kyuhyun
•    Lee Donghae a.k.a Super Junior Donghae
•    Krisma Rah Sangga a.k.a Park Gi Eun
•    Aida Safitri a.k.a Park Min-Young
•    Dona Aryanti a.k.a Kim Hyun Jin—Hyun Jin Seonsaengnim

•    Vina Ida M.S a.k.a Shin Yoon Ji

Support Cast :       •    Angelita Faahruri a.k.a Choi Jin Hee
•    Dody Adi Pratama a.k.a Choi Sung Joon
•    Mutiara Aldina a.k.a Lee Hyori
•    Julyan Prasetyo a.k.a Park Hae Jin

•    Lucy Pramestiani Agatha a.k.a Jun Ji Hyun

Genre  : Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy.

 Tapi surga telah dikunci dan disegel…

Kita harus melakukan perjalanan keliling dunia

untuk melihat apakah mungkin ada pintu yang

dibiarkan terbuka.

—HEINRICH VON KLEIST, On The Puppet Theater

AWAL MULA

HELSTON, INGGRIS,

SEPTEMBER 1854

Sekitar tengah malam, kedua mata gadis itu akhirnya terbentuk. Tatapannya ekspresif, separuh penuh tekad dan ragu-ragu—yang jelas, akan mendatangkan masalah. Ya, memang sudah tepat, kedua mata tersebut. Meninggi ke arah alisnya yang indah dan anggun, hanya beberapa sentimeter dari geraian rambut gelapnya.

Pemuda itu memegang kertas tersebut sepanjang lengan untuk memeriksa kemajuan gambarnya. Sungguh sulit, bekerja tanpa sang gadis dihadapannya, tetapi pemuda itu tak pernah bisa menggambar dengan kehadiran sang gadis. Sejak si pemuda tiba dari London—bukan, sejak ia pertama kali melihat sang gadis—ia harus berhati-hati agar selalu berjarak dengan gadis itu.

Kini setiap hari gadis itu mendekati si pemuda, dan setiap hari lebih sulit daripada sebelumnya. Karena itulah pemuda tersebut pergi besok pagi—ke India, Amerika, ia tidak tahu dan tidak peduli. Kemana pun ia pergi, akan lebih mudah dari pada berada disini.

Ia mencondongkan tubuh di atas gambar itu lagi, mendesah saat menggunakan ibu jari untuk menyempurnakan coretan arang pada bibir bawah sang gadis yang penuh. Kertas tak bernyawa ini, tiruan kejam ini, adalah satu-satunya cara untuk membawa sang gadis.

Lalu, saat meluruskan tubuh di bangku kulit perpustakaan, ia merasakannya. Sapuan rasa hangat di tengkuk.

Gadis itu.

Kehadiran sang gadis memberi pemuda itu sensasi yang ganjil, seperti semacam kehangatan yang tersebar ketika sebatang kayu hancur menjadi debu dalam kobaran api. Ia tahu tanpa memutar tubuh, gadis itu berada disana. Si pemuda menutupi tiruan sang gadis yang tertoreh pada kumpulan kertas dipangkuannya, tapi ia tidak bisa menghindar dari gadis itu.

Kedua matanya tertuju pada sofa panjang berwarna gading diseberang ruang tamu, tempat hanya beberapa jam sebelumnya sang gadis muncul diluar dugaan, belakangan dibandingkan teman-temannya yang lain, dalam balutan gaun sutra merah jambu, untuk bertepuk tangan bagi anak perempuan tertua tuan rumah setelah permainan harpsichord indahnya. Pemuda itu menatap ke seberang ruangan, keluar jendela, ke beranda, tempat satu hari sebelumnya sang gadis menghampirinya tiba-tiba, segenggam bunga peony liar berwarna putih di tangan. Gadis itu masih beranggapan perasaan tertarik yang ia rasakan terhadapnya bersifat murni, bahwa pertemuan mereka yang cukup sering di gazebo hanya sekedar… kebetulan yang menyenangkan. Begitu polosnya! Pemuda itu takkan pernah memberi tahu si gadis—itu rahasia yang harus ditanggungnya.

Pemuda tersebut berdiri dan berbalik, sketsa-sketsanya ditinggalkan di bangku kulit. Dan sang gadis berada disana, berdiri didepan gorden beludru merah delima dalam balutan gaun tidur putih polos. Rambutnya yang berwarna hitam terurai dari kepangan. Ekspresi wajahnya persis dengan yang sering digambar pemuda itu. Ada semburat merah, menyebar pada kedua pipi sang gadis. Apakah gadis itu marah? Malu? Ia ingin sekali mencari tahu, tapi tak mengizinkan dirinya bertanya.

“apa yang kau lakukan disini?” Pemuda itu bisa mendengar hardikan dalam suaranya sendiri, dan menyesali ketajaman nada bicaranya, mengetahui sang gadis takkan mengerti.

“Aku—aku tidak bisa tidur,” jawab sang gadis itu tergagap, bergerak kea rah perapian dan bangku si pemuda. “Aku melihat lampu kamarmu menyala lalu” —sang gadis berhenti, menunduk menata[ kedua tangannya—“kopermu di depan pintu. Apakah kau akan pergi?”

“Aku bermaksud memberi tahumu—“ Ia terdiam. Seharusnya ia tidak berbohong. Ia tak pernah berniat membiarkan gadis ini tahu rencananya. Memberitahunya hanya akan membuat segalanya makin buruk. Sekarang saja ia sudah membiarkan segalanya berkembang terlalu jauh, karena berharap kali ini akan berbeda.

Gadis itu mendekat, dan tatapan kedua matanya tertuju pada buku sketsa si pemuda. “kau menggambar diriku?”

Nada terkejut dalam suara sang gadis mengingatkannya pada betapa besar jarak diantara pemahaman mereka. Bahkan setelah seluruh waktu yang mereka habiskan bersama beberapa minggu terakhir ini, gadis itu belum juga melihat kebenaran yang ada dibalik ketertarikan mereka.

Baguslah—atau setidaknya, ini yang terbaik. Karena beberapa hari terakhir ini, sejak pemuda itu memutuskan pergi, ia harus bersusah payah menarik diri dari sang gadis. Usahanya sangat menyiksanya sehingga, begitu sendirian, ia menyerah pada keinginannya yang terus memuncak untuk melukis sang gadis. Ia memenuhi halaman-halaman bukunya dengan gambar leher jenjang, bahu bagai pualam, dan rambut hitam kelam sang gadis.

Kini pemuda itu menoleh kembali pada sketsanya, tidak malu karena ketahuan melukis sang gadis, tapi lebih buruk. Gelombang perasaan dingin mengalir ke seluruh tubuhnya ketika ia menyadari bahwa dengan tahunya sang gadis—terungkapnya perasaan pemuda itu—akan menghancurkan gadis tersebut. Pemuda itu seharusnya lebih berhati-hati. Awalnya selalu seperti ini.

“Segelas susu hangat dengan sesendok penuh gula cair,” ia bergumam, masih memunggungi sang gadis. Lalu ia menambahkan dengan sedih, “Minuman itu akan membantumu tidur.”

“Bagaimana kau bisa tahu? Itu persisi seperti yang ibuku selalu—“

“Aku tahu,” ia berkata, berbalik menghadap sang gadis. Keterkejutan dalam suara gadis itu tidak mengejutkannya, tetapi ia tidak bisa menjelaskan bagaimana ia bisa tahu, atau mengatakan sudah berapa kali ia memberikan minuman yang sama pada gadis itu pada masa lalu ketika bayangan-bayangan dating, bagaimana ia memeluknya hingga si gadis tertidur.

Ia merasakan sentuhan sang gadis bagai membakar menembus kemejanya, tangan gadis itu menyentuh lembut bahunya, menyebabkannya tersentak. Mereka belum pernah bersentuh dalam kehidupan ini, dan sentuhan pertama selalu membuatnya kehilangan napas.

“Jawab aku,” bisik gadis itu. “Apakah kau akan pergi?”

“Ya”

“Kalau begitu, bawa aku,” pinta gadis itu tanpa berpikir. Tepat sepertu pada masa lalu, ia memperhatikan sang gadis terkesiap, ingin menarik kembali permohonannya. Ia bisa melihat luapan emosi gadis itu pada kerut diantara kedua matanya. Sang gadis akan merasa terlalu terburu-buru, lalu bingung, lalu malu akan keterusterangannya. Ia selalu melakukannya, dan entah berapa kali sebelumnya, si pemuda melakukan kesalahan dengan menenangkan sang gadis pada saat seperti ini.

“Tidak,” pemuda itu berbisik, teringat… selalu teringat… “Aku berlayar besok. Jika peduli padaku, kau takkan mengatakan satu petah kata pun lagi,”

Jika aku peduli padamu,” sang gadis mengulang kata-katanya, nyaris seakan berbicara pada diri sendiri. “Aku—aku cinta—“

“Jangan”

“Aku harus mengatakannya. Aku—aku cinta padamu, aku cukup yakin, dan jika kau pergi—“

“Jika aku pergi, aku menyelamatkan hidupmu.” Ia berkata perlahan, mencoba menggapai bagian diri gadis itu yang mungkin ingat. Apakah bagian itu memang ada, terkubur entah dimana? “Banyak hal yang jauh lebih penting daripada cinta. Kau takkan mengerti, tapi kau harus percaya padaku.”

Tatapan mata sang gadis menembusnya. Gadis itu melangkah mundur dan melipat kedua tangan didepan dada. Ini kesalahannya juga—ia selalu membangkitkan sifat keras gadis itu jika berbicara padanya dengan nada merendahkan.

“Maksudmu banyak hal yang lebih penting daripada ini?” sang gadis menantang, menarik tangan pemuda itu dan meletakkannya diatas jantungnya.

Oh, seandainya saja ia menjadi sang gadis dan tidak tahu apa yang akan terjadi! Atau setidaknya menjadi lebih kuat daripada dirinya sendiri dan sanggup menghentikan gadis itu. Jika ia tidak menghentikannya, gadis itu takkan pernah belajar, dan masa lalu akan terulang kembali, menyiksa mereka berdua berulang kali.

Rasa hangat kulit sang gadis yang tidak asing dibawah tangannya membuatnya mendongak dan mengerang. Ia mencoba tak mengacuhkan betapa dekatnya gadis itu, betapa ia mengetahui rasa bibir sang gadis pada bibirnya, betapa pahit perasaannya bahwa semua ini harus berakhir. Tapi jemari sang gadis menelusuri jemarinya dengan lembut. Ia dapat merasakan jantung gadis itu berdebar dibalik gaun ketunnya yang tipis.

Sang gadis benar. Tak ada yang lebih daripada ini. Tidak pernah ada. Ia hendak menyerah dan merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya ketika melihat ekspresi mata sang gadis. Seakan ia melihat hantu.

Gadis itulah yang menarik diri, tangannya terangkat ke dahi.

“Aku merasakan sensasi yang sangat aneh,” sang gadis berbisik.

Tidak—apakah sudah terlambat?

Kedua mata sang gadis menyipit ke arah sosok dalam sketsa lalu kembali ke pemuda itu, kedua tangannya berada di dada si pemuda, bibirnya terbuka penuh harap. “Katakan aku sudah gila, tapi aku bersumpah pernah berada di sini…”

Jadi memang sudah terlambat. Pemuda itu mendongak, gemetaran, dan dapat merasakan kegelapan menghampiri. Ia memanfaatkan kesempatan terakhir untuk merengkuh sang gadis, memeluknya seerat yang didambakannya berminggu-minggu.

Begitu bibir sang gadis bersatu dengan bibirnya, keduanya tak berdaya. Rasa bungan honeysuckle pada bibir sang gadis membuat pemuda itu pusing. Semakin dekat gadis itu merapatkan tubuh, perut pemuda iu semakin bergejolak dengan gairah dan kecemasan. Lidah sang gadis mencari lidahnya, dan kobaran api diantara mereka makin berkobar, makin panas, makin bertenaga seiring setiap sentuhan baru, setiap eksplorasi baru. Tetapi tidak ada satu pun yang baru.

Ruangan berguncang. Sebentuk aura disekitar mereka mulai bersinar.

Gadis itu tidak mengetahui apa pun, tidak menyadari apa-apa, tidak mengerti apapun selain kecupan mereka.

Hanya pemuda itu sendiri yang tahu apa yang akian terjadi, hal-hal gelap seperti apa yang bersiap datang pada pertemuan mereka kembali. Walaupun lagi-lagi ia tak bisa mengubah arah kehidupan mereka, ia tahu.

Bayangan-bayangan berputar tepat diatas kepala. Begitu dekat, ia mungkin menyentuhnya. Begitu dekat, ia bertanya-tanya apakah sang gadis dapat mendengar apa yang mereka bisikkan. Ia memperhatikan saat awan menutupi wajah gadis itu. Sesaat ia melihat secercah ingatan timbul dalam mata sang gadis.

Lalu tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa lagi.

2 thoughts on “Fallen [PROLOG]

  1. ahhh kereeeeeeeeeen!!!!!!!!
    aq pling suka ma ff fiksiiiiii!!!!!
    bner” kyk baca novel aq…
    lanjoooooooooot!!!!!!!!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s