(KyuMao) Behind You [Chapter 2/END]

Hari ketiga…

 

Aku duduk di taman dekat ruang olahraga, mencoba lari dari keramaian. Aku melihat sekeliling. Mereka tampak begitu senang, bercanda, berlari, ah!~  sepertinya aku sedang iri. Aku tersenyum sendiri sambil memikirkan hal itu. Dulu aku juga seperti itu, dulu aku punya teman, dulu aku juga sebahagia itu, dulu aku… tidak! Aku benci mengingat masa lalu.

 

“mao-ah!” aku menoleh ke sumber suara, seorang namja dengan postur yang cukup tinggi sedang berlari kecil ke arahku. Aku menutup buku yang dari tadi terbuka tanpa aku baca satu kata pun dan berdiri. Namja itu berada di hadapanku sekarang, dia terlihat kelelahan. “gwenchana?” tanyaku ragu. Dia mengangguk sambil terus berusaha mengatur nafasnya, kemudian tersenyum meyakinkan padaku.

 

“ne! Gwenchana. Apa yang kau lakukan?” tanyanya kemudian. “tidak ada.” Jawabku seadanya. “kalau begitu ayo ikut aku!” dia menarik tanganku, aku terkejut dan mencoba melepaskan genggamannya pada tanganku. “shiireo!” teriakku cukup keras. Namja itu terus saja menarikku sampai ke suatu tempat yang asing bagiku. Di mana ini?

 

“kau mau apa? Dimana kita?” tanyaku sambil melepaskan genggaman tangannya. Dia hanya terkekeh melihatku. “Donghae-ssi!” suaraku bergema, ruangan itu sangat usang dan sepi.

 

“diamlah!” dia memaksaku duduk di kursi dan mengikatku di sana. “sekarang, kita lihat apakah Kyuhyun akan menolongmu?” kekehnya membuatku membelalakkan mata. “apa maksudmu?” tanyaku geram. Dia berjalan ke arahku dan menyamakan tingginya dengan tinggiku. “Kau tahu, yeojachinguku selalu membanggakan Kyuhyun di depanku. Dia selalu bilang, bahwa Kyuhyun akan melindungi orang yang disukainya apapun yang terjadi.” Dia tersenyum ke arahku. “dan apakah dia mau menolongmu?” Donghae menelepon Kyuhyun dan bicara bahwa dia telah membawaku dan mengancam akan melakukan sesuatu yang jahat padaku. Dia menamparku keras, aku berteriak cukup kencang. “Kau dengar Cho Kyuhyun? Apa aku terlihat sedang berbohong?” ucapnya sambil menatapku senang. Licik!

 

Sudah beberapa detik dan tidak ada tanda-tanda Kyuhyun datang. “apa kau benar-benar akan melukaiku?” tanyaku membuat Donghae menatapku tajam. “maksudku, Kyuhyun tidak mungkin datang, kau tahu? Aku bukan siapa-siapa baginya. Lalu untuk apa dia datang? Dasar babo!” aku balas menatapnya tajam. Dia tersenyum dan berdiri, ia berjalan mendekatiku perlahan.

 

“jika kau menatapku seperti itu, apa kau kira aku tidak bisa melukaimu? Kau! Gadis aneh!” dia menatapku, “selalu menyendiri! Sering pingsan tiba-tiba. Hidung mendadak berdarah. Kau aneh! Apa kau pikir tidak ada yang memperhatikanmu? Banyak anak di sini tahu bahwa kau selalu memperhatikan Kyuhyun. Banyak yang membicaraknmu di sini!” aku terkejut mendengarnya, tapi cukup! aku kesal mendengar semua omelannya.

 

“kau pikir aku peduli? Babo!” aku mengalihkan wajahku. Dan tiba-tiba terdengar pintu di dobrak. Kyuhyun!

 

 

Hari keempat…

 

Aku malas pergi ke kampus, perkataan Donghae kemarin cukup membuat nyaliku semakin menyusut. Apa benar seperti itu? Aku benar-benar tampak sangat bodoh!! Bibi Jung mendekatiku dan bertanya keadaanku. Aku hanya tersenyum, kejadian kemarin tidak terlalu melukaiku, meski aku sempat terkena lemparan kayu dari Donghae. Hanya memar di pipi kananku, ini bukan apa-apa.

 

“kemarilah, aku obati lukamu.” Bibi Jung menjulurkan tangannya. Aku menepisnya lembut. “shireo!” sahutku pelan. Untuk apa? Biarkan seperti ini, agar aku tahu rasa sakitnya, agar aku tahu sakitnya hidup di dunia, agar aku cukup berani untuk menghadapi kematianku nanti.

 

###

 

“Bibi Jung, apa mati itu menyakitkan?” tanyaku saat Bibi Jung menyelimutiku dengan selimut tebal yang selalu menemaniku tidur. Bibi Jung menyalakan lampu di meja samping ranjangku. “apa yang kau katakan?” tanyanya sambil menatapku sebal. Aku terkekeh, “hhhaha aku hanya bertanya ahjuma…”. “tidak lucu!” bibi Jung merapatkan selimutku, “tidurlah, dan jangan coba bertanya tentang hal itu lagi!” bibi jung keluar, dan memadamkan lampu kamarku. Gelap.

 

 

 

*Author POV*

 

Bibi Jung keluar dari kamar Mao, matanya tampak bengkak dan memerah. Ia membekap mulutnya dan berjalan cepat menuju dapur. Ia terisak di sana. Dia mengeluarkan selembar foto dari laci meja. Di sana ada orang tua dan dua anak perempuan yang sangat lucu, itu keluarga Kang. Kang Mao Ri  masih sangat bayi, dia tertidur di gendongan ibunya. Kang Jo Hyun, ayahnya menggandeng Hye Ra yang masih berumur dua tahun. Bibi Jung tersenyum kemudian menitihkan air matanya lebih deras. Itu adalah foto yang di buang Mao sehari setelah orang tuanya meninggalkannya.

 

Teeeeettttt~ Teeeeeeeet~

 

Terdengar bel dari depan, bibi Jung menyeka air matanya dan berjalan cepat menuju pintu. Ia terkejut saat mendapati Kyuhyun berada di ambang pintu.

 

“apa Mao ada, aku ingin bicara denganny?” tanya Kyuhyun yang sekarang duduk di sofa rumah super besar itu.

 

“Dia baru saja tidur, apa ada hal penting?” tanya bibi Jung ramah. Kyuhyun hanya menggeleng, ia berdiri dan berpamitan ingin pulang. “ah.. Kyuhyun-sshi, tunggu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Bibi Jung menahan Kyuhyun dan berbincang cukup lama.

 

*Author POV end*

 

 

 

Hari kelima…

 

Aku berjalan menuju ruang music, aku ingin melihat namja yang jadi alasan aku masih datang ke sini. Kosong. Lagi-lagi ruangan itu kosong. Aku melangkahkan kakiku menuju piano usang itu, dan mulai memainkan jemariku.

 

Lagi-lagi air mataku keluar dengan tanpa seizinku. Aku membiarkannya, dan terus menarikan jari-jariku di piano itu.. Kyuhyun-ssi. See How Much I Love You!

 

Apakah kau tahu?

Bahkan di dalam mimpi pun

Aku tidak punya kesempatan untuk memberi tahumu

Sudah sejak lama, kamu tetap tidak tahu

Seseorang yang selalu ada di sampingmu..

Seseorang yang tidak kau ketahui namanya

Apakah kau tahu?

 

Mendadak Kyuhyun sudah berada di belakangku, “kau senang sekali menyanyikan lagu ini ya?” tanyanya dengan nada mengejek. Aku hanya menunduk dan berjalan pergi, tapi Kyuhyun memegang tanganku. Deg~ lagi-lagi jantung seperti berhenti berdetak.

 

“ada apa?” Tanyaku sambil melihatnya datar. Aku benar-benar menyukainya, tapi setiap kali dia ada di dekatku rasa sakit ini selalu membuatku bersikap aneh terhadapnya. “aku mau bicara.” Jawabnya, ia menarik tanganku dan membawaku ke taman.

 

“Mao-ya, saranghae!!” ucapnya sambil menyunggingkan senyum yang membuatku lemas. Sungguh sekarang aku benar-benar yakin ini hanya mimpi! Tuhan~ ayolah, bangunkan aku sekarang!!! Sudah aku bilang ini terlalu indah, aku bisa mati!

 

“jangan bilang seperti itu!” ucapku dengan nada sedikit tinggi. “hah?” serunya bingung. Bagaimana aku menjelaskan semuanya, jika aku seorang Mao yang tidak seperti ini maka dengan senang hati aku akan menjawab ‘Iya! benarkah! Nado Saranghaeyo~’. Tapi aku yang sekarang ini? “Mao-ya? Ada apa?” tanyanya membangunkan lamunanku. “anii..”

 

Aku berjalan meninggalkannya, aku harus sadar! Aku tidak boleh bermimpi! Tidak boleh! Air mataku mengalir deras untuk kesekian kalinya, aku menyekanya dan, darah! Ya~ apa yang kurang? Aku seorang pecundang berumur 19 tahun yang sedang menangis dengan hidung berdarah? “Tuhan, ambil aku sekarang!” umpatku lirih. Mendadak pandanganku menjadi gelap, kepalaku benar-benar sakit. Aku terjatuh, terdengar suara Kyuhyun berteriak memanggilku dari belakang. Sakit, rasanya sungguh aku ingin menarik kata-kataku tadi. Tolong~

 

“Mao-ya? Gwenchanayo?” samar aku melihat wajahnya, wajahnya tampak sama saat pertama kali aku bertemu dengannya. Lagi-lagi kepalaku terasa sangat sakit, “Kyu~”  aku menjambak rambutku kuat. Kyuhyun mencoba menahan tanganku, ia memelukku. Aku sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi, hanya air mataku yang masih mengalir  menelusuri wajahku. “Saranghae~” samar suara Kyuhyun terdengar sebelum semuanya menjadi gelap.

 

 

 

###

 

 

 

Aku membuka mataku dan bibi Jung berada di sampingku, aku melihat sekeliling. “Rumah sakit.” Gumamku lirih. “mau di mana lagi?” sahut bibi Jung ketus. Aku mengabaikannya. Sesaat kemudian dokter yang biasa memeriksaku masuk, ia memandangku lelah. Aku tahu sebentar lagi dia akan berbicara tanpa henti untuk menguliahiku tentang penyakit ini. Ya~ aku siap.

 

“annyeong!” sapanya, raut mukanya masih sangat serius. Aku dan Bibi Jung menunduk. “Mao-ssi, kenapa kau sangat keras kepala? Kau tahu.. kankermu menjalar hampir keseluruh tubuhmu. Kau harus segera operasi, ini keadaan darurat!” Dokter Lee menatapku serius. “shiero!” gumamku. “andwe! Kau harus, bahkan melakukan operasi saja presentasi sembuh sangat kecil. Apa lagi kau tidak melakukan operasi.” Terang dokter Lee kesal. Aku menatapnya, “jika sangat kecil kesempatan untuk sembuh, bukankah lebih baik tidak melakukannya?”. “mao-ssi!”

 

###

 

 

Akhirnya aku bisa pulang, bibi Jung sedang keluar mengurus administrasi. Aku berjalan sendiri di lorong yang cukup panjang. Banyak sekali orang di sini, ya~ ini rumah sakit. Pandanganku tertuju pada seorang namja yang duduk di lorong yang sedikit sepi. “Kyuhyun?” bisikku lirih. Aku tidak berniat menemuinya sekarang, tidak setelah dia melihatku dengan keadaan yang memalukan seperti tadi. Aku berbalik arah tapi terlambat, dia memanggilku. “Mao-ah!” teriaknya untuk kedua kalinya, aku terus berpura-pura tidak mendengar apapun.

 

“Mao-ah, demi apapun berhenti!” teriaknya keras sekali. Aku menghentikan langkahku, dan menoleh kebelakang. “mwo?” tanyaku serak. Kyuhyun hanya menatapku dari jauh. “benarkah yang dikatakan dokter?” suara Kyuhyun melemah. Aku tidak menjawab, aku terlalu takut dia mengetahuinya. “Mao-ya? Jawablah! Apa itu benar?” suaranya parau, dia menangis. Andwe! Kyuhyun! Jebal! Uljima!

Aku menyeka air mata yang mulai deras mengalir di pipiku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi sangat cengeng dan menjijikan. “Mao-ya! sarangaheyo!” teriaknya. Aku hanya membekap mulutku sementara air mataku terus saja mengalir, “arra!”.

 

Kyuhyun berlari mendekatiku, “saranghae~!” dia memelukku, perasaanku bercampur menjadi satu. Kepalaku menjadi sangat pusing sekarang. “Kyu..” bisikku. “jangan menangis.” Mendengar itu Kyuhyun terisak hebat, pelukannya semakin kuat. “mianhae…jeongmal mianhaeyo..”

 

 

 

 

Hari keenam…

 

Bibi Jung membujukku untuk mau melakukan operasi, aku mengabaikannya dan terus terfokus pada layar ponselku. “dengarkan aku! Bagaimana pun hasilnya, kau harus tetap  melakukan operasi itu!” bibi Jung membentakku. “shiero!” gumamku. “Mao Ri!” Bibi Jung mengambil ponsel dari tanganku, matanya berkaca-kaca. “shiero! Aku tidak akan melakukannya, tidak!” aku berjalan meninggalkannya.

 

“apa kau tidak memikirkan perasaan Kyuhyun?” pertanyaan itu menghentikan langkahku. “bagaimana dengannya? Jika kau pergi, bagaimana dengan perasaan Kyuhyun?” tanya bibi Jung lagi. “kau tahu, dia sudah sangat menyukaimu. Dia sudah mengatakannya padaku!”

 

*flash back*

 

“ah.. Kyuhyun-sshi, tunggu, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Bibi Jung menahan Kyuhyun.

 

“ne, ada apa?”

 

“apa kau tertarik dengan Mao? Ah~ maksudku, apa kau menyukai Mao?”

 

“mwo? Kenapa kau menanyakan hal itu?”

 

“kau tahu? Selama ini dia sudah cukup menderita. Dan sampai saat ini yang bisa membuatnya merasa lebih baik hanya kau.”

 

“jeongmal-yo?”

 

“jeongmal! Tapi, Mao punya penyakit yang cukup rumit. Dia sudah bertahan selama ini, setahun ini, menurut dokter adalah waktu maksimum, dia hebat bukan?” Bibi Jung mulai terisak, ia menyeka air matanya yang tak sampai jatuh.

 

“…aku menyukainya..Mao? sejak saat itu aku sudah menyukainya.”

 

 

*flash back end*

 

 

 

Aku tidak percaya dengan cerita Bibi Jung, semua itu sungguh terkesan mustahil bagiku. maksudku bagaimana bisa? Aku tidak pernah melakukan apa-apa dengannya, tidak mungkin. Aku dan Kyuhyun bukan apa-apa. “kalau begitu, dia tidak boleh menyukaiku!” Bibi Jung menatapku pasrah. “Mao-ah, kau sudah sangat jauh.” Isaknya keras.

 

###

 

Terdengar bel berbunyi. Sepanjang aku tinggal di rumah ini, tidak pernah ada yang bertamu sesering ini. Bibi Jung sepertinya sedang berada di dapur. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya. “annyeongha…se..yo.” aku membeku melihat seorang yeoja berdiri di depanku dengan beberapa koper di belakangnya. “Mao-ah!” matanya berkaca-kaca melihatku, ia memelukku yang masih membeku. Ada apa ini? Kenapa begini? Dadaku sesak sekali, sepertinya hidungku berdarah lagi. ia menangis sambil memelukku, “naega dolawasseo!”. “eonnie” bisikku lirih.

 

###

 

 

Bibi Jung masih terkejut dengan kedatangan Hye Ra Eonnie,  ia terlihat sangat gembira. Aku hanya duduk diam, memperhatikan eonnieku yang sudah pergi bertahun-tahun tanpa memperdulikan aku yang kesepian saat itu. “jadi, kenapa kau kembali?” tanyaku menyelidiki. “Mao! Itu tidak sopan.” Bibi Jung menegurku. Hye Ra eonnie hanya tersenyum, dan dengan enteng mengatakan dia merindukanku. Apa itu masuk akal? Cih!

 

Aku keluar rumah, hari ini tidak lebih dingin dari biasanya, aku tidak mengenakan apa-apa kecuali jaket tipis berwarna hijau. Tubuhku rasanya membeku, tapi aku terus berjalan, aku hanya ingin jauh dari eonnie dan semuanya. Aku sudah bilang aku lelah. Aku merasakan darah mengalir dari hidungku. Aku mengusapnya asal, dan terus berjalan. Tanpa sadar aku menabrak seorang, Kyuhyun? Kenapa harus dia?

 

“Mao-ya?” dia melihat wajahku khawatir. “apa yang kau lakukan dengan pakaian seperti ini? Lihat! Hidungmu berdarah!” Kyuhyun mengambil sapu tangan dari sakunya dan menekannya pada hidungku. “gwaenchanahayo.” Jawabku singkat.

 

###

 

Kami berada di taman dekat danau, tempat yang sama seperti pertama kali aku melihat kembang api bersama Kyuhyun. “kau sudah mersa baik?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. “ya! Kyuhyun, apa kau benar-benar menyukaiku?” tanyaku membuatnya terkejut. “mwo?”. “bukan apa-apa.” Lanjutku.

 

“ya! Mao, apa kau mau tahu sesuatu?  Waktu itu aku takut sekali saat kau di sandera oleh Donghae, pikiranku kemana-mana. Aku sungguh takut jika kau benar-benar dilukai olehnya.” Kyuhyun tersenyum kecil. “aku tahu kalau Donghae akan melakukan hal itu, tapi saat tau kau yang jadi korban, aku mendadak menjadi sangat marah dan memukulnya. Awalnya aku juga bingung, kenapa aku harus bersikap seperti itu padamu yang bukan siapa-siapa. Tapi Mao. Sekarang aku tahu, itu semua karena kau berharga.” Kyuhyun menggenggam tanganku, matanya seakan berusaha masuk sampai kedalam perasaanku yang paling dalam. “hentikan!” ucapku pelan. “aku tahu ini bodoh, tapi Mao.. seorang yeoja aneh, penyakitan. Dia mengajarkanku, bahwa tidak ada yang salah pada cinta.”

 

“aku tidak mengajarimu apa-apa!” jawabku. “Jika kau merasa aku menyukaimu, kau salah! Aku tidak menyukaimu!” aku melepas tangan Kyuhyun. “Mao-ya, jangan berbohong lagi!”. “anii! Aku tidak berbohong. Ini benar, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak menyukaimu, dan kau jangan bertindak bodoh dengan menyukai yeoja sekarat seperti aku! Kau! Cho Kyuhyun bab…..” Kyuhyun mengecup bibirku lembut, air mataku mengalir deras. Aku terkejut, seluruh syarafku serasa terputus. Tuhan! Sudah ku bilang ini mimpi yang terlalu indah untukku!!!

 

###

 

 

Aku menutup pintu dan segera merosot kebawah, air mataku langsung tumpah. Bibi Jung menghampiriku khawatir. “Mao Ri-ya? Wae?” tanyanya menyeka air mataku. “Dia menyukaiku bibi! Dia menyukaiku! Kyuhyun menyukaiku~” aku menggigit bibir bawahku, rasanya sakit.. dadaku terasa sesak.

 

“tidak apa-apa..” Bibi Jung memelukku erat. “aku harus bagaimanaa bibi?? Dia tidak boleh menyukaiku? Aku tidak punya waktu!” aku harus sadar, Kyuhyun pasti akan terluka, jika waktuku tiba.

 

“kalau begitu kau harus sehat!” bibi Jung mengguncang tubuhku, “kau harus operasi, dan sehat! Menemui Kyuhyun dan bersenang-senang dengannya!” Bibi Jung tersenyum di sela-sela tangisnya. “setelah kau sembuh, kau tidak perlu lagi berada di belakangnya! Kau bisa berjalan di sampingnya dan tersenyum lebih banyak!”. Aku hanya mengangguk sambil terus menangis, aku mau! Sekali ini aku mau hidup lebih lama! Aku ingin berbahagia, Kyuhyun, aku ingin bersamanya. Tuhan! Biarkan aku terus bermimpi.

 

 

 

Hari ketujuh…

 

 

“benarkah? Baiklah besok kita akan melakukan operasinya!” Dokter Lee tampak sedikit lega mendengar aku bersedia melakukan operasi. kami sedang berada di ruangan Dokter Lee. Sepertinya dokter di depanku ini tampak senang, begitu juga bibi Jung, Hye Ra eonnie yang baru tahu aku mempunyai penyakit seperti ini merasa sangat bersalah dan memutuskan untuk menyendiri dulu. Sementara Kyuhyun belum tahu tentang hal ini.

 

###

 

 

Aku menemuinya di ruang music, syukurlah dia ada di sana. Aku melangkahkan kaki yakin menuju piano itu. “Ya! Kyuhyun-ssi!” tegurku riang. Kyuhyun menoleh dan terkejut melihatku. “woo.. apa aku tuli? Barusan kau memanggilku dengan nada yang lain!” dia tersenyum ke arahku. “jangan berlebihan, aku hanya ingin hari ini berbeda.” Jawabku sambil duduk di sebelahnya. “baiklah, terserah pada si aneh. Hari ini kau tuannya.” Balas Kyuhyun sambil menekan tuts piano dengan nada yang sama seperti dulu. Dia tidak bertanya lebih, tentang penyakitku, atau masalah kemarin. Dia tidak mempermasalahkannya. “gumawo.” Bisikku lirih…

Apakah kau tahu?

Bahkan di dalam mimpi pun

Aku tidak punya kesempatan untuk memberitahumu

Sudah sejak lama, Kau tetap tidak tahu

Seseorang yang selalu ada di sampingmu

Seseorang yang tidak kau ketahui namanya

 

Apakah kau tahu?

Kau bahkan tidak bisa mengetahui

Bahwa selama kau tertidur di malam hari,

Aku ada di dalam pikiranmu

Seseorang yang hatinya sakit, sendiri

 

Mungkin itulah cara untuk

Merasakan dirimu hanyut bersamaku

 

Meskipun kita tidak memiliki keberanian

Aku yang tidak memiliki cukup keberanian ..

untuk dekat denganmu

 

aku hanya menunggu~

jika kau merasa kesepian,

cukup berputar dan lihat kebelakang

jika kau sendirian sekarang

jika kau sedih

cukup berputar dan lihat kebelakang

 

aku hanya mengenalimu,

aku hanya melihatmu

seorang yang ada di sini,

satu-satunya orang yang berdiri di sana

mungkin kau tidak tahu~

 

apakah kau tahu?

Walaupun aku tidak bisa

Menyadari kesalahanku saat ini

Dan melihatmu berdiri di sana

Membuatku bernafas

 

Bagiku, ini adalah perasaan yang berharga

Mungkin untuk orang lain,

Cinta bukanlah sesuatu yang dilakukan sendiri

Tetapi di depan aku merasa takut,

Aku tidak tahu kenapa

Aku tidak bisa bicara,

Aku hanya bisa menyembunyikannya

 

Jika kau merasa kesepian

Cukup berputar dan lihat kebelakang

Jika kau sendirian, jika kau sedih

Cukup berputar dan lihat kebelakang

 

Seseorang yang ada di sini

Satu-satunya orang yang berdiri di sana,

Mungkin kau tidak tahu~

 

Jika kau sepertiku,

Tolong jangan ragu……………

Jika kau mencintaiku,

Tolong katakan itu sekarang

 

………………………………………..

 

Sekarang,

Perasaan yang tersembunyi dan

Kenangan yang kita rasakan

 

Cinta yang tidak bisa kita katakan…

 

Kini waktunya untuk mengakui

 

Walaupun aku hanya bisa

Mendengar jawaban yang menyakitkan

 

..aku tidak akan menyesal…

 

Itu cukup, selama aku mempunyai cinta

Jika kau merasa kesepian

Jika sekarang kau sedih dan sendirian

Cukup berputar dan lihat kebelakang

Ada seseorang di sana yang tidak berbicara

Tapi hanya melihatmu

 

Orang bodoh yang berdiri di sana..

Mungkin kau tidak tahu~

Karena,

Orang bodoh itu adalah aku..

 

…aku tidak akan menyesal…

 

 

1 tahun kemudian….

 

*Kyuhyun POV*

 

Angin yang berhembus terlalu dingin pagi ini, aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan. Beberapa kali aku harus membetulkan syal yang terus merosot ke bawah..

Aku berjalan mengitari universitas Hwang, mataku tertuju pada bangku coklat di tengah taman itu, “Mao..”  desahku sambil menyunggingkan senyum kecil. Aku menuju ruang music dan yah~ selama setahun ini, setiap hari aku selalu kemari. Berharap ada seorang yeoja aneh yang diam-diam memainkan lagu  yang sama, atau seorang yeoja sekarat yang tanpa aku ketahui berada di balik pintu dan memperhatikanku diam-diam. Yeoja itu, aku merindukannya..

 

###

 

Aku duduk di bangku taman pinggir danau, melihat beberapa bocah sedang bermain dengan balon warna-warni. Dan beberapa lagi sedang sibuk dengan kembang api yang menyala indah. “mao-ya. Saranghae~” bisikku lirih saat salju pertama di bulan ini jatuh di telapak tanganku. Aku merasakan seperti ada seserang yang menyandarkan kepakanya di bahu kiriku. Aku memejamkan mata, dan hembusan angin dingin menerpa wajahku dengan lembutnya. Samar terdengan suara indah yang aku rindukan “nado saranghae~” aku membuka mata, tidak ada…!

Aku tersenyum geli, “arra~” gumamku kemudian. dan salju bulan ini terus turun dengan indahnya.

 

 

=END=

 

*Sujud Syukur u,u

Beri komentar ye.. biar ane tau isi hati para pembaca T^T..

Kkekkekke~ *gila*

11 thoughts on “(KyuMao) Behind You [Chapter 2/END]

  1. nyesek bacanya…
    kupikir bakal ada miracle buat mao, tapi taunya… hiks.. hiks.. #nangis dipelukan kyu..
    keren ff nya
    ditunggu ff lainnya

  2. kasian bgt kyunya
    maonya ninggal
    ngeyel si maonya kesel juga sama maonya
    dan kasian bgt kyunya
    kirain bakalan happy ending

  3. huwaaaaaaa, ff nya nyesek bangettt thor, mao-nya meninggal,Si kyu pasti sedih bangett, kasihan kyu :'(, bayangin kalo orang yg kita bener2 cintai uda gak ada di dunia ini…
    Huwaaaaaaa, nyesek :'(

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s