Hey, I’m Your Lady [Chapter 5]

Author: Kei

 

Main Cast: Leeteuk, Eunhyuk

Rating: 17 (marriage life)

Genre: Romance

Ps: Kei is back with new chaptered FF

With new format and hope that you’ll like it

So here it is…

 

Eunhyuk:

“Bagaimana keadaan Jieun?” Tanya Leeteuk hyung saat kami selesai rapat.

“Dia baik-baik saja seperti biasa.” Jawabku sambil membereskan beberapa kertas yang tersebar di sekitar latopku.

“Kau harus menjaganya dengan baik sekarang. Harus lebih sering perhatian dengannya. Jangan seperti dulu lagi.” Nasehat Leeteuk hyung padaku.

“Aku selalu menjaganya dengan baik.”

“Maksudku lebih baik lagi. Kau juga jangan sering-sering membuatnya kesal. Kau tahu perempuan seperti dia hormonnya sedang tidak dalam keadaan stabil.”

“…”

“Kau tahu? Pak Lee bilang istrinya bisa menangis tiba-tiba hanya karena melihat seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan es krim.” Katanya lagi. “Hahaha. Memang ada-ada saja perempuan. Hormon bisa mempengaruhi segalanya.”

“Oke, hyung! Aku bingung dengan semua kata-katamu barusan. Perempuan seperti Jieun? Hormon?” tanyaku dengan memandang matanya lekat-lekat.

“Oops, aku rasa kau sedang menghadapi hari yang berat ya karena Jieun? Sorry buddy, aku tidak tahu. Jangan dimasukkan ke dalam hati ya.”

“Kau itu aneh.”

Leeteuk hyung hanya tersenyum sambil mengendikkan bahunya dan pergi meninggalkanku.

**

“Tadi siang kau kemana?” Tanya Jieun tepat sewaktu aku menutup pintu depan.

“Di kantor. Setelah rapat bersama Leeteuk hyung, aku makan siang lalu bekerja lagi. Memangnya kenapa?”

“Ponselmu tidak aktif?”

“Oh, tadi aku matikan dan lupa ku hidupkan lagi.”

“Tidak mendapatkan pesan dariku yang kutitipkan pada sekretarismu?”

“Pesan apa? Tidak.”

“Kau ….” Kata Jieun terhenti karena tidak mendapatkan kata-kata yang pas. “Malam ini kau makan ramyun dan tidur di luar.”

Oke, apa lagi salahku kali ini? Tadi pagi moodnya baik-baik saja dan kenapa jadi seperti ini?

“Kau kenapa?” Tanya Leeteuk hyung keesokan paginya saat mampir ke ruanganku untuk mengambil beberapa kertas miliknya yang tertinggal.

“Kemarin apa yang kulewatkan ya, hyung?”

Leeteuk hyung menatapku dengan kerutan di keningnya dan tangannya yang tertengadah menandakan bahwa dia tidak tahu. “Kenapa? Kau bertengkar lagi dengan Jieun? Coba kau ingat-ingat lagi apa saja yang kau lakukan kemarin.”

“Aku kemarin rapat bersamamu, makan siang, dan menghabiskan waktu di kantor sampai sore.”

“Yakin hanya itu saja? Ingat-ingat lagi. Kemarin sewaktu bertengkar Jieun mengucapkan apa saja? Siapa tahu bisa menjadi petunjuk.”

“Dia menanyakan kegiatanku kemarin.” Jawaku sambil mengingat-ingat apa yang terjadi. “Oh, dia bertanya tentang pesan yang dititipkan ke sekretarisku.”

“Kau sudah bertanya dengan sekretarismu?” Tanya Leeteuk hyung tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas laporan yang ada di pangkuannya.

Aku menggeleng dan dengan cepat menelpon sekretarisku menanyakan tentang pesan itu. Lewat interkom, dia bilang bahwa kemarin dia sudah memberikan pesan Jieun yang ditulisnya di kertas kepadaku. Tapi aku sama sekali tidak ingat dimana aku menaruh kertas itu.

Aku mulai merogoh kantong celana, saku, dan jasku tapi hasilnya tidak ada apa-apa.

“Kau mencari apa?”

“Kertas pesan dari Jieun. Kurasa aku menyimpannya di saku kemarin.”

“Memangnya kau tidak ganti baju dari kemarin?” Tanya Leeteuk hyung yang membuatku menyadari kebodohanku itu. “Sudah. Ah, aku akan kembali ke ruanganku saja. Good luck dengan pesan dari Jieun. Oh ya, nanti kalau kau mau pulang mampir ke ruanganku dulu dan ambil tonik yang dititipkan omma untuk Jieun.”

“Tonik apa?”

“Aku tidak tahu. Omma membelikannya khusus dari toko obat langganannya. Omma bilang bagus untuk kandungan dan memperkuat janin. Tiga bulan pertama kan rentan.”

“Oh, untuk kandungan dan memperkuat janin.” Kataku ringan sambil tersenyum dan terus mencari. Jangan-jangan terjatuh di bawah meja. Tunggu, kandungan? Memperkuat janin? Khusus untuk Jieun?

“Jieun hamil, hyung?”

“Kau sungguh tidak lucu, Hyuk.” Kata Leeteuk hyung mendengar pertanyaanku.

“Aku benar-benar tidak tahu. Kau barusan bilang kalau Jieun hamil kan? Itulah kenapa omma memberikan tonik padanya.”

“JADI KAU TIDAK TAHU KALAU JIEUN HAMIL?” Tanya Leeteuk hyung kaget. “Kau itu suami macam apa?”

Hyung tahu darimana?”

“Amplop yang ada di mejamu beberapa hari yang lalu. Yang dari rumah sakit itu? Kau tidak tahu?” Tanya Leeteuk hyung menunjuk mejaku. “Aku kira kau sudah membacanya. Ujung amplop itu sudah terbuka dan isinya sedikit keluar. Aku kira itu adalah surat dari klien, jadinya ku buka.”

“Mana..mana?” tanyaku sibuk mengobrak-abrik mejaku yang sudah berantakan.

“Aku tahu kalau penting jadinya kutaruh di laci mejamu. Laci kedua.”

Dengan segera aku membuka laci meja kedua dan menemukan sebuah amplop putih yang ujungnya sudah terbuka. Di kepala suratnya tertulis rumah sakit tempat Jiyeong praktek. Sewaktu kubuka aku melihat sebuah tabel yang aku tidak mengerti artinya dan diakhir surat tersebut tertulis kalau Jieun hamil dan surat itu sudah ada semenjak seminggu yang lalu.

Kemana aku seminggu yang lalu sehingga aku tidak tahu surat ini? Ah, seminggu yang lalu kan sewaktu kami pergi ke restoran organik itu. Pantas aku tidak tahu. Lalu isi pesannya apa? Masa iya hanya memberi tahu ku tentang surat ini. Bodoh, kenapa tidak kutanyakan pada sekretarisku saja. Dia pasti tahu apa isinya.

“Aku tidak dapat menemukan pesan Jieun yang kau berikan kemarin. Bisa kau beritahuku apa isi pesannya?”

“Jieun-ssi bilang kalau jadwal pemeriksaannya tidak jadi hari ini tetapi kemarin siang.” Jawabnya.

“Kenapa kau tidak bilang padaku secara langsung?”

“Kemarin anda sedang rapat dan sewaktu saya mau membisikkan pesan itu pada anda. Anda menyuruh saya menulisnya di kertas.”

“Bodoh kau, Eunhyuk!!!” Runtukku sambil mengacak rambutku sendiri.

 

Jieun:

“Mana Yejin, Leeteuk ah?” Tanya siomoni pada Leeteuk oppa.

“Sebentar lagi sampai omma. Tadi sedang melakukan liputan di pinggiran kota.” Jawab Leeteuk oppa sambil duduk di kursi yang ada di depanku.

“Bagaimana kabar keponakanku, Jieun?” Tanya Leeteuk oppa.

“Dia baik-baik saja.”

“Kau meminum tonik yang kuberikan kan Jieun? Periksa kehamilanmu dengan teratur?” Tanya siomoni.

“Iya, omma.”

“Eunhyuk menemanimu periksa kan?” Tanya siaboji.

“Tentu saja aku menemani.” Sambar Eunhyuk.

“Menemani apa? Kemarin aku yang menemani Jieun periksa.” Kata siomoni memberikan pandangan kau-mau-membohongiku?

“Kau kemana?”

“Heee.” Eunhyuk hanya bisa meringis karena ketahuan telah berbohong. “Aku kemarin rapat, appa.”

“Tidak ada alasan anak bodoh! Rapat bisa diwakilkan atau di tunda.”

“Tidak apa-apa, appa. Yang penting dia besok akan ada disamping saya sewaktu saya melahirkan saja sudah cukup.” Jawabku diplomatis.

“Tidak bisa! Kalian membuatnya berdua dan sekarang kau mau dia lari dari tanggung jawab?”

Appa!!! Jangan berlebihan seperti itu. Appa membuatku tampak buruk seperti aku menelantarkan Jieun saja. Omma lihat suamimu.” Adu Eunhyuk manja pada siomoni. Dia selalu menjadi putra favorit siomoni dan membuatnya bertingkah manja walaupun sudah setua itu.

 

Eunhyuk:

“Lain kali kau harus memberi tahuku kapan jadwal pemeriksaanmu.” Kataku pada Jieun di mobil sepulang dari rumah orang tuaku.

“Aku selalu memberitahumu jawal pemeriksaanku. Kau saja yang terlalu sibuk dengan apapun itu.” Jawab Jieun kesal.

“Jadi kau mau menyalahkan aku? Kau memberitahuku pagi dan sorenya kau ke rumah sakit sendirian? Kau harusnya ingat kalau aku itu sibuk.”

“Memangnya aku itu siapamu? Salah satu klienmu sehingga harus membuat janji dengan sekretarismu hanya untuk menemaniku menjalani pemeriksaan?”

“Bukan begitu maksudku. Tapi kan kau pasti sudah membuat janji beberapa hari sebelumnya. Setidaknya kalau kau memberitahuku sehari sebelumnya aku bisa menemanimu periksa.”

“Kalau saja aku Yejin pasti tidak usah kuberitahu jadwal pemeriksaanku pasti kau yang mengingatkannya.”

“Kenapa kau bawa-bawa Yejin dalam omongan kita ini sih?” tanyaku mulai sebal dengan tingkahnya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir dan tidak sadar kalau ternyata kau mendengarnya.” Jawab Jieun enteng.

“Sudahlah tidak usah membawa orang lain lagi dalam obrolan kita.” Kataku menengahi apa yang terjadi sebelum menjadi runyam. “Jadi kapan lagi kau periksa kehamilanmu?”

“Tidak tahu.”

“Jieun ah…”

“Aku benar-benar tidak tahu. Jadwal hoobae-mu itu sangatlah padat sehingga aku harus mengantri untuk diperiksa olehnya.”

“Baiklah kalau begitu beri tahu aku kalau kau sudah mendapatkan jadwalnya. Akan kuantar kau periksa.”

 

Jieun:

Oppa!! Sini.” Kataku sedikit berteriak di lorong ruangan sambil melambaikan tangan.

“Hai” sapa Leeteuk oppa setelah sedikit berlari ke arahku. “Ini dokumen yang kau butuhkan dan juga bisakah kau kirimkan laporan review pasar China setelah launching produk kita?”

Aku menganggukkan kepala menyetujui permintaan Leeteuk oppa sambil menerima dokumen yang tadi sore kuminta darinya.

“Ayo mrs.Lee silakan masuk. Kita lanjutkan sesi kita.” Kata guru senam hamilku dari dalam kelas. “Ah, ini pasti suamimu? Mari masuk dan bergabung bersama kami. Kebetulan kami sedang mempelajari bagian senam yang membutuhkan partner.”

“Ta..ta..tapi ini..” kataku yang terputus dengan guru senamku yang meraih tangan Leeteuk oppa dan mengajaknya masuk.

Oppa…” kataku pelan.

Dia tersenyum sambil mengatakan gwencanha dengan isyarat mulutnya.

“Pertama-tama saya ingin mengatakan kalau saya bukan suaminya. Saya kakak iparnya dan tentu saja saya punya waktu untuk menemaninya sore ini.”

Guru senamku tersenyum puas dan mengirimnya kembali ke sampingku yang berdiri di atas matras khawatir.

Oppa pulang saja tidak apa-apa. Jangan membuat dirimu repot.”

“Tidak apa-apa. Lagipula sepertinya temanku membatalkan janjinya.” Jawabnya sambil memasukkan ponsel pintarnya ke saku dan membuka jasnya.

“Ayo semua pasangan duduk di sebelah kanan ibu hamil dan bantu ibu hamil dengan memegang tangannya.” Kata guru senamku.

“Memangnya Eunhyuk tidak pernah datang kesini?” Tanya Leeteuk oppa menekan punggungku perlahan mengikuti instruksi.

Aku menjawab hanya dengan gelengan kepala karena aku juga harus melatih pernafasanku yang membuatku tidak bisa berbicara.

“Lalu kalau dia tidak ada siapa yang membantumu kalau ada hal seperti ini?” tanyanya lagi. Kali ini dia berada di depanku memegang pergelangan kakiku.

“Instruktur.” Jawabku setelah mengambil nafas.

“Tapi pasti tidak leluasa kau berpasangan dengan instruktur. Dia harus mengajari kalian dan juga membantumu.”

“Aku tidak pernah memaksanya membantuku.”

“Kau tidak perlu membuat instruktur repot kalau saja Eunhyuk ada disini membantumu.”

 

Eunhyuk:

“Sedang apa kau disini?” Tanya Leeteuk hyung padaku yang sedang makan di kantin.

“Makan. Hyung mau?” tanyaku memamerkan sandwich yang baru setengah kumakan.

“Ini sudah jam tiga, Hyuk. Apa yang kau lakukan disini?”

“Memangnya rapat kita dimajukan ya? Kita kan rapat nanti.”

“Tapi sore ini Jieun ada jadwal senam hamil kan?”

“Heh? Aku rasa dia hanya ada janji periksa dan tadi aku sudah menemaninya kok.”

“Sekarang tanggal 16 kan?” Tanya Leeteuk hyung yang kujawab dengan anggukan perlahan. “Kalau aku tidak salah ingat hari ini dia ada jadwal senam hamil dan membutuhkan partner.”

“Kalau dia membutuhkannya pasti dia menelponku.” Jawabku ringan.

“Aduh!” kataku saat Leeteuk hyung memukul kepalaku. “Ada apa sih hyung?”

“Kau itu bodoh atau bagaimana hah? Tidak bisakah kau sedikit perhatian pada Jieun? Dia itu sedang hamil.”

“Iya, aku tahu itu. Tapi dia tidak suka kalau urusannya aku campuri dan dia pasti akan meminta bantuanku kalau membutuhkannya.”

“Dasar bodoh! Dia itu tipe perempuan yang terbiasa mengurusi segalanya sendiri dan tidak akan meminta tolong walaupun perlu.” Kata Leeteuk hyung dengan kening berkerut. “Kalian ini sudah menikah selama setahun kan? Kenapa begitu saja kau tidak bisa mengerti sih?”

“Tapi…”

“Cepat pergi sana!” Leeteuk hyung mendorongku pergi.

“Aku tidak bisa meninggalkan rapat sore ini. Ini rapat penting hyung.” Kataku menolak perlahan.

“Itu semua bisa diwakilkan. Cepat temani istrimu.”

“Kalau dia membutuhkanku pasti dia menghubungi.” Kataku yakin.

Disinilah aku sekarang. Kolam Renang, yang menurut Leeteuk hyung sore ini Jieun akan melaksanakan senam hamilnya, dan berdiam di kursi penonton. Seharusnya kan aku rapat dengan bagian marketing bukannya seperti orang bodoh memakai jas dan sepatu ke kolam renang. Sial!! Kata-kata Leeteuk hyung tadi membuatku penasaran. Kenapa dia tidak member tahuku kalau dia ada jadwal senam hamil? Apa lagi membutuhkan partner. Apakah dia sudah mempunyai partner? Dia selingkuh di belakangku?

Mana dia? Jangan bilang kalau Leeteuk hyung hanya mengerjaiku.

“Ayo ibu-ibu sebelum mulai masuk ke kolam renang, mari kita melakukan sedikit pemanasan. Bagi para ayah silakan melakukan pemanasan juga sebelum mendampingi istrinya masuk ke kolam.” Kata seorang perempuan yang memakai pakaian renang berwarna biru tua kepada orang-orang yang berada di depannya.

Mungkin itu klub senam hamil Jieun. Tapi mana dia? Jangan-jangan dia membolos kelas ini. Lebih baik aku pergi dari sini.

“Maaf aku terlambat.” Kata seorang perempuan yang suaranya sangat ku kenal, Jieun.

“Tidak apa-apa, nyonya Lee. Silakan bergabung dengan yang lainnya.” Kata instruktur. Jieun yang memakai bathrobe biru muda dengan segera mencopotnya dan ikut pemanasan. Kira-kira sepuluh menit kemudian semua laki-laki turun ke kolam renang dan membantu pasangan mereka. Jieun terlihat mencari-cari seseorang sampai akhirnya menemukannya dan tersenyum.

Apa?! Siapa dia? Siapa yang menjadi pasangan Jieun? Aku tidak bisa melihat wajahnya karena dia berdiri membelakangiku.

“Oke, ibu-ibu taruh tangan anda di pundak pasangan anda dan berusahalah mengambang. Percayalah pada pasangan anda dan gerakan kaki anda.” Kata instruktur.

Jieun terlihat tersenyum pada laki-laki yang menjadi pasangannya. Tangan laki-laki itu berada di atas tangan Jieun yang berada di pundaknya. Mereka tersenyum bersama sambil sesekali tertawa. Kelakuan mereka seperti dua orang yang sedang jatuh cinta saja. Heh, ini tempat umum. Berlakulah lebih terhormat.

“Gerakan selanjutnya adalah berenang gaya punggung. Bagi yang tidak bisa mohon pasangannya membantu dengan memegangi pundak dan tangannya dari belakang.” Kata instruktur yang lagi-lagi diikuti oleh semua orang.

Laki-laki itu menempatkan dirinya di belakang tubuh Jieun. Dia menaruh tangannya di bagian bawah pundak Jieun dan membuat Jieun bersandar padanya. Instruktur datang dan memperbaiki posisi mereka. Tangan Jieun yang awalnya ada di samping tubuhnya menjadi memanjang ke samping dan membuatnya semakin bersandar di dada laki-laki itu.

Hey!!Jadi ini namanya senam hamil? Saling berpegangan dan memegang? Sial!!! Siapa sih laki-laki itu? Kenapa dari tadi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas sih?

“Oke sekarang istirahat sepuluh menit.” Kata instruktur. Laki-laki yang menjadi partner Jieun keluar dari kolam dan membantu Jieun dengan memegangi tangannya. Akhirnya aku bisa melihat wajahnya.

“DIA…” kataku kaget.
-Tbc-

23 thoughts on “Hey, I’m Your Lady [Chapter 5]

  1. akhirnya di post juga :D
    Baru bisa komen d part ini cz part yng sebelum nya di baca ngebut *sorry author

    Nah hyuk rasain tu, cemburu itu enak kan?

  2. hyuk bener2 ga ada rasa peduli ya :(
    aku yg emang lg agak kesel sama dia,
    jd makin kesel deh ..

    ayo part selanjutnya cepet dipublish..
    awas nih hyuk kalo masi bodo amat gitu :|

  3. akhirnya publish juga..
    wooow itu si eunhyuk udah mulai cemburu tuh
    siapa tuh partnernya jieun??
    ditunggu lanjutannya :)

  4. akhrnya publish jg..stlh kmrn2 wff d lock..

    Slalu suka dg bhasa y kmu gunakn..ringn dan tdk belibet..
    Part ni jg nunjukn klo eunhyuk msh cuek. Dan pmtongan misteriny pas. Jd bkin reader pnasarn.
    Well,waitng 4 next..

  5. Kyaaa. . . .kereeennn. . . !!!!!><
    aq selalu suka karakter cwek yg d bkin sma author key. . bukan tipe cwe yg ada d kebanyakan ff yg aq bca. .
    kesannya angkuh,mandiri dan slalu berfikir real. .
    it's complicated. .
    "dia" itu jangan2 leeteuk?
    d tgu next part nya. . ^^

  6. aaa serba salah jadi jieun yaa .
    ngajak salah, gg ngajak juga salah ..
    enyuk juga keteraluan bgt gg pedulinya .hoho gemes

    lanjut yaa author :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s