The Ugly Truth

Author: Kei

Main cast: Hyera, Jina, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Rating: U

Genre: Angst

Ps:

Ini project colabs antara aku dan seorang teman. (Sekali lagi) kalau kalian merasa cerita ini mirip atau merupakan sambungan dari FF lain, Iya emang. Hahahaaa. Aku lagi seneng nih buat bikin sambungan dari FF orang tapi dengan ending yang aku mau. Kalau mau nyaranin aku bikin sambungan dari FF yg kalian suka boleh lhoooo.

(Sekali lagi) kalau kalian tanya FFnya apa. Aku g bakalan ngasih tau. So just enjoy it ^^

 

Aku terduduk diam di meja makan bercat putih yang berada di area antara dapur dan ruang tamu di apartemen Hyera sedangkan laki-laki yang datang bersamaku tadi hanya bisa berdiri menyenderkan tubuh tingginya di antara bak cuci piring dan cabinet yang berada di atasnya sambil menatap hampa lantai kayu yang dijejaknya.

Atmosfer di ruangan ini atau bisa dibilang di apartemen ini menyesakkan dadaku, aku tidak bisa menilai orang lain karena saat ini kepalaku penuh dengan segala fakta yang mulai berputar cepat. Seperti buku gambar anak TK yang penuh dengan titik-titik yang harus disambungkan agar menjadi sebuah pola tertentu, begitu juga dengan isi kepalaku. Peristiwa barusan itu -seperti omma yang hobinya membuka korden jendela dan melepaskan paksa kacamat tidurku agar aku bangun karena sudah terlambat masuk sekolah- menggangguku yang nyaman berada di alam mimpi dan terpaksa harus bangun dan menghadapi kenyataan yang tentunya tidak seindah mimpi-.

Akhirnya perempuan itu datang juga memecah keheningan yang terjadi. Dia memakai kemeja putih kebesaran yang dimasukkan sembarangan ke celana capri ¾ berwarna khaki yang dipakainya dengan sabuk tipis dan topi fedora hitam. Rambut hitam sebahunya dibiarkan agak sedikit messy –menurutnya sih messy tapi menurutku rapi karena rambutnya merupakan tipe rambut model iklan sampo di TV- . Dia berjalan mendekatiku dan melemparkan badannya di kursi kayu yang berada disampingku. Dengan santainya dia mengeluarkan kotak rokok berwarna hijau-hitam yang tersimpan di tas kecil hitam yang berada di meja makan, mengeluarkan isinya dan mulai merokok.

So…” tanyanya (lagi-lagi) santai setelah berhasil menghembuskan asap rokok pertamanya. “Aku tidak tahu kalau kau mau mampir kemari.”

“Aku datang untuk mengambil barangku yang tertinggal kemarin malam. Aku sudah berusaha untuk menelponmu dulu sebelum kemari tapi rupanya kau terlalu sibuk hanya untuk menjawab telpon.” Jawabku berusaha tenang.

“Oh.” Jawabnya dengan asap rokok yang masih saja mengepul dari mulutnya. “Baby, bukannya kau seharusnya baru datang minggu depan?”

Oke, pertanyaan barusan ditujukan untuk laki-laki yang barusan datang bersamaku dan kalau Hyera memanggilnya baby berarti laki-laki ini adalah pacarnya yang merupakan seorang arsitek itu, Cho Kyuhyun.

Surprise!” katanya tersenyum getir sambil memandang Hyera yang terlihat acuh.

“Lalu bagimana bisa kalian datang bersamaan? Jangan-jangan kalian…” Tanya Hyera mencoba untuk melucu disaat yang sangat tidak tepat. Alis matanya naik-turun sebagaimana biasanya dia kalau mengerjaiku.

“Jangan samakan aku dan dirimu. Aku tidak akan melakukan apa yang sudah kau lakukan.” Jawabku tidak terima dengan sikapnya.

Kembali keheningan mengisi ruang. Tidak ada yang berbicara, hanya suara tarikan nafas berat dariku dan Kyuhyun serta suara kepulan asap yang keluar dari mulut Hyera lah yang menandakan adanya kehidupan disini.

So, he’s you prince charming, right?!” tanyanya retorik.

It makes me the dumb-poor-little-miss-fiancée and you are hot-manipulative-witch. Am I right?” jawabku mengingat-ingat julukan yang pernah kami berikan untuk tokoh-tokoh yang ada di cerita kehidupan Hyera.

Dia tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari asbak yang terisi dengan beberapa batang rokok semalam.

Can we talk in private?” Tanya Kyuhyun tepat disaat rokok Hyera habis. Hyera menatap laki-laki itu sesaat sebelum akhirnya dia menatapku dan dia yang sedang berdiri menyender jendela dan melihat keramaian lalu lintas di daerah sekitar apartemen.

Not in here. Follow me.” Jawabnya. Hyera berdiri dan meraih tasnya. “Anggap saja rumah sendiri.” Katanya lagi sebelum berjalan keluar apartemen dan diikuti oleh pacarnya itu.  Menyisakan kami berdua di ruangan tersebut.

Aku yang sedari tadi duduk dalam posisi tegak kini menyenderkan punggung di senderan kursi kayu ini dan kembali mengela nafas. Dia membalikkan tubuhnya dan kini berdiri menghadapku.

Oke, aku bisa gila kalau keheningan ini berlanjut tapi aku tidak tahu harus mengucapkan apa. Rasanya tidak ada satupun kata dalam kamus manapun yang bisa mengungkapkan perasaanku. Bayangkan saja cerita hidup temanmu yang selama ini kau dengar, bahkan kau tertawakan, ternyata adalah cerita hidupmu hanya saja dilihat dari sudut pandang lain.

“Kau tidak kasihan dengan little- miss-fiancée dan juga Mr.Game-Freak?” tanyaku sore itu sewaktu Hyera menceritakan kisahnya.

“Sebenarnya aku kasihan dengan mereka tapi mau bagaimana lagi? Aku menyukai situasiku saat ini.”

Crazy witch!” kataku mengoloknya yang kurasa sudah tidak mempan lagi. “Di tangan kanan kau punya Mr.Game-Freak dan di tangan kiri kau punya Mr. Mysterious-gentleman.”

What a great life, right!

“Terserah kau sajalah. Hati-hati karma. I won’t be there if it gets you.”

Yeah,it’s true karena itu adalah cerita hidupku dan yang paling miris adalah gadis yang selama ini selalu kubela haknya ternyata adalah diriku sendiri.

“Aku…” katanya terhenti mengambang.

“Aku sudah tahu semuanya. Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku.”

“Sejak kapan kau mengenalnya?” tanyaku setelah menghela nafas pajang dan perlahan.

“Kami bertemu tiga tahun yang lalu di Paris, disalah satu hotelnya. Dia adalah seorang … ah iya, kau pasti sudah tahu tentang itu.”

“Jadi apakah salah satu dari kalian tahu kalau aku adalah tunanganmu?” tanyaku mengharapkan jawaban tidak.

Dia menggeleng.

Oh Tuhan, terima kasih menjawab doa ku dengan cepat karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi kalau ternyata mereka melakukan semua ini dengan mengetahui fakta tersebut.

“Aku tidak tahu harus mengucapkan apa.” Katanya sambil berjalan mendekatiku dan menaruh kedua tangannya di saku pertanda dia benar-benar bingung.

Aku hanya bisa menarik nafas perlahan sambil memainkan kotak rokok yang ditinggalkan Hyera. Oke, aku butuh sesuatu yang bisa menenangkanku dan membuat otakku bekerja jadi kuputuskan untuk mengeluarkan salah satu batang rokok dan menyelipkannya di antara bibirku.

“Ya!” teriakku saat dia mengambilnya paksa. “Kembalikan!”

“Sejak kapan kau merokok?” tanyanya sedikit menyiratkan kemarahan.

“Kuliah.” Jawabku pendek dan mengambil lagi satu batang rokok.

“Kenapa aku tidak tahu?” tanyanya lagi dan mengambil batang rokok itu.

It’s called dirty little secret, just like yours with her.”

Aku menggoyang-goyangkan kotak rokok itu lagi sampai akhirnya aku membuka tutupnya dan menemukan satu batang rokok terakhir yang tersisa.

“Aku tidak percaya.” Katanya saat batang rokok terakhir itu ada di antara bibirku.

Wanna bet?” tanyaku sambil menantangnya. Dia terdiam melihatku menyalakan rokok dan mulai menghembuskan asap pertamaku.

“Kau cukup terlihat professional, tapi pasti sebentar lagi kau akan tersedak. Kau tidak mungkin pernah merokok.” Katanya menjawab tantanganku.

Aku menyunggingkan senyumanku sambil terus menghabiskan rokokku. It’s been more than a year since my last cigarette. Aku bukanlah perokok aktif seperti Hyera, aku hanya merokok kadang-kadang saja lagipula aku juga kurang bisa menikmati kenikmatan yang diagung-agungkan oleh para perokok itu. Tapi benar kata mereka kalau nikotin itu bisa merilekskan syaraf, buktinya sekarang aku bisa bernafas lebih lega dan berpikir lebih santai.

Aku tersenyum sebentar sebelum berkata, “Kau suka interior apartemen ini?”

Dia menatapku aneh dan kubalas dengan pandangan sudah-jawab-saja-pertanyaanku dan dia pun mengganguk pelan.

“Aku yang merancangnya. Hyera selalu berkata kalau dia menyukai tasteku. Dia bilang tasteku yang simple dan elegan ini membuatnya sedikit clingy dalam beberapa hal seperti fashion sampai design interior apartment ini.” Kepulan asap meluncur bebas dari mulutku sebelum akhirnya aku melanjutkan kata-kataku lagi. “And you know the silly thing is she like my preference of a guy, like you, simple and elegant.”

“Kau tahu?! Hyera menceritakan segalanya padaku sedari awal hubungan kalian dan kami pun sering sekali menertawakan kemalangan tunangan dari Mr. Mysterious-gentleman. Bagaimana dia dengan bodoh dan polosnya tidak mengetahui perselingkuhan tunangannya itu. Dia sedang duduk manis di kantornya dan merindukan si tunangan yang sedang bepergian ke New York untuk menyelesaikan bisnisnya sedangkan si tunangan dengan santainya ke Inggris menemuinya.” Kataku sambil tertawa getir.

“Aku sering loh membela hak si tunangan itu dengan mengatakan pada Hyera bagaimana jika dia yang berada di posisi itu.” Kataku bangga. “Bahkan dulu aku juga pernah berandai-andai bagaimana kalau perempuan itu aku dan Hyera pun tertawa sambil berkata tidak mungkin.”

“Miris ya? Ternyata perempuan itu adalah aku. Tahu seperti ini akhirnya seharusnya dulu aku membela mati-matian si tunangan dan menyuruh Hyera melepaskan Mr. Mysterious-gentleman.”

Kami kembali terdiam. Dia memutar-mutarkan batang rokok yang tadi diambilnya dariku sedangkan aku mulai menikmati rokok yang sedang kuhisap ini.

“Oke, cukup! Apapun yang sedang kau coba untuk membuktikannya padaku, kau sudah membuktikannya.” Katanya sambil mengambil rokok yang ada diantara sela jariku dan mematikannya di asbak. Terlihat asap tipis mengebul dari atas batang rokokku.

Aku menghela nafas mencoba untuk menenangkan diri. Dia berhasil memprovokasiku dengan tindakannya barusan tapi aku tidak mau terpancing amarah. Aku mengambil batang rokok yang tidak dimainkannya dan menyalakannya. Tapi dia sekali lagi mengambil batang rokok itu dan mematikannya di asbak.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!!” teriakku marah sambil berdiri. “Aku mencoba untuk tenang menghadapi semua ini and you getting my nerves now.”

Aku memijit kepalaku perlahan dan bergerak-gerak gelisah di tempat mencoba untuk kembali ke kekesadaranku. Sabar, kataku pada diriku sendiri dan mencoba untuk bernafas dari mulut.

“Maaf.” Katanya tiba-tiba dan membuatku mengerutkan dahi.

Cih, dia meminta maaf. Baru sekarang? Untuk apa? Penghiatan yang telah dilakukannya selama kami menjalani hubungan ini?

Damn, you Choi Siwon!! Tiga bulan lagi kita mau menikah!!” bentakku sambil memukul meja. Aku menjatuhkan diri di kursi yang tadi di duduki Hyera dan menghadapnya.

“Kau tahu tiga bulan itu sebentar lagi!! Kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku? Perasaan orang tuaku, hah?!” tanyaku emosi. “Oh, aku tahu! Kau pikir aku terlalu bodoh sehingga tidak bisa mencium perselingkuhanmu ini? Benar aku memang terlalu bodoh tidak bisa mengetahuinya tapi aku kira Tuhan menyayangiku sehingga membuatku tahu sekarang.“

Dering ponselku memecahkan keheningan. Aku mengaduk-aduk tasku untuk mencari benda kotak-pipih-hitam itu sebelum akhirnya menghela nafas kasar (kembali) melihat id callernya, Mrs.Choi. Aku menggeser gambar telpon berwarna hijau dan menempatkannya dalam speaker mode sebelum akhirnya menyerahkannya pada Siwon. Aku mau tahu kebohongan apa lagi yang akan dikatakan kali ini.

“Jina? Hallo?” Tanya Mrs. Choi

Mom, it’s me.” Jawab Siwon setelah aku memaksanya menjawabnya hanya dengan pandangan mataku.

“Siwon? Bagaimana bisa kau menjawab telpon Jina? Bukannya kau baru pulang tiga hari lagi?”

“Urusanku sudah selesai di New York.”

“Ibu tahu kalau kau sangat merindukannya, tapi kau itu seharusnya pulang ke rumah dulu baru ke apartemen Jina. Bukannya seperti ini.” Kata Mrs.Choi yang direspon dengan tawa oleh Siwon. “Tidak bisakah kau menunggu sampai tiga bulan lagi? Setelah itu dia akan jadi milikmu dan kau tidak perlu pulang lagi kesini.”

“Oh ya, mana Jina?” Tanya Mrs. Choi. Siwon mengangsurkan ponselku dan aku menggeleng. Aku tidak mau kalau harus terlibat dalam kebohongan ini.

“Dia sedang keluar sebentar membeli sesuatu.” Jawabnya santai. “Ibu mau titip pesan apa? Nanti akan kusampaikan padanya.”

“Ah, seharusnya dia mendengarnya dari mulut ibu sendiri karena pasti dia akan berteriak kegirangan karena akhirnya ibu bisa mendapatkan Vera Wang sebagai designer baju pengantinnya.“ kata Mrs.Choi gembira. “Bilang padanya minggu depan salah seorang pegawai Vera Wang akan ke Korea hanya untuk mengukurnya.”

Aku membelalakkan mataku tidak percaya dengan ucapan Mrs.Choi barusan. Tapi aku langsung sadar sewaktu melihat wajah Siwon lalu tertawa getir dan menutup mataku dengan tangan kanan.

Ah, benar! Siwon telah menghianatiku disaat gaun Vera Wang impianku sedikit lagi menjadi kenyataan.

Oh, really?” Tanya Siwon gugup melihat tingkahku. “Okay mom, akan kusampaikan padanya.”

Vera Wang, you damn it!!” gerutuku putus asa.

“Kau masih bisa mendapatkannya kalau kau menikah denganku. Maafkan aku dan kita akan menganggap semuanya tidak pernah terjadi.” Katanya sedikit sombong. “Aku tahu kau iri dengan salah satu tokoh drama TV yang sedang kau tonton itu. Siapa namanya?” dia menggerak-gerakkan tangannya mencoba untuk menggingat-ingat.

“Blair Waldorf.” Jawaku singkat. “Apakah kau kira aku sebodoh itu, hah? Aku tahu orang-orang seperti kalian tidak akan bisa berpisah dan aku tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya.”

Siwon memutar-putarkan ponselku di tangannya. Dia terdiam dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.

Entah sudah berapa kali aku menghela nafas dalam kurun waktu kurang dari dua jam ini. Aku rasa aku bisa menjadi pelatih yoga khusus bagian pernafasan dengan rekorku ini.

Oke, ini akan menjadi helaan nafasku terakhir di apartemen ini. Pikirku mantab. Aku harus keluar dari sini untuk menjernihkan pikiranku sebelum aku jadi gila.

“Aku beri kau waktu satu minggu untuk memberi tahukannya ke keluarga kita tentang batalnya pertunangan kita. Aku serahkan padamu tentang alasannya.” Kataku sambil melepaskan cincin pertunangan kami dan menaruhnya di tangannya menggantikan ponselku. “Atau aku sendiri yang akan memberi tahukannya pada keluarga kita tapi aku tidak bertanggung jawab atas alasan yang nanti akan ku kemukakan karena aku akan membuka perselingkuhanmu ini.”

It’s up to you, Mr. Mysterious-gentleman.” Bisikku di telinganya dan segera pergi sebelum aku melakukan sesuatu yang gila seperti mungkin menangisinya?

END

6 thoughts on “The Ugly Truth

  1. wow..
    Singkat, simple tp inti n feel’a dpt bgt..
    Awal’a smpt bingung krn g dksh tau prov nya..
    Kalo ada sequel pasti tmbh seru ni..
    Keren..

    Jia Jung

  2. agak bingung sih pertamanya
    Tp akhirnya lumayan mudeng sih
    Siwon kok jht bgt
    Udah ketahuan selingkuh msh aja bs sombong

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s