Oppa!!

Author: @momonica407
Main Cast:
• Cho Hyemi (OC)
• Cho Kyuhyun
• Park Rahyo (OC)
Support Cast:
• Lee Hyuk Jae [Eunhyuk]
• Shin Dong Hee
• Other SMent artist
Rating: All Age
Genre: Family, Romance, School
Ps: Annyeonghaseyo chingudeul! ^^
sebelumnya perkenalkan, monica imnida *bow* saya pngen coba2 kirim ff kesini, mohon kritik dan saran ny ^^ this is my first ff, jd mianhae kalau banyak kesalahan sana sini dan alur yg pasaran dan gajebo banget -__-
perlu dibilang jg kalo nih ff murni dari otak saya lho ^^ jika ada kesamaan dalam nama, latar, tokoh dan pristiwa, itu hnyalah ketidaksengajaan belaka (?)
yesungdahlah, dripada ditabok readers dripda byk cuap, happy reading ajah. Jgn lupa tinggalkan jejak yaah, komennya titik koma tanda seru atw tnda tanya pun (?) saya terima asalkan ninggalin jejak 
Saturday, 31 Maret 2012
Jika ada yang bertanya “Apa kalian ingin punya oppa?” pada teman-teman perempuanku disini, sebagian besar, ah tidak, hampir semua mengatakan jawaban yang sama “Mau!” dengan nada berapi-api mengalahkan nyala api unggun, kurasa. Dan ketika ditanya apa alasannya, mereka dengan kompak menjawab, “Karena sosok oppa adalah pelindung!”
Kalau ada yang bertanya hal itu padaku, sudah pasti aku menjawab, “Tidak mau!!” dan sukses membuat semua mata tertuju padaku (Author: Kok kyk Miss Indonesia aja ya kata2nya? Hahhaa ._.) #abaikan
“Waeyo?!” Seisi kaum hawa di kelasku sukses membuat kupingku pagi ini sedikit tuli karena teriakan mereka yang kencang.
“Tidak semua oppa itu punya sifat melindungi. Aku salah satunya!”
“Jangan bohong!” Krystal, yang sering curhat padaku tentang kakaknya yang menyebalkan itu langsung protes. “Kau tau, sepupuku, Yunho oppa, ia selalu melindungiku walau aku bukan adik kandungnya! Bayangkan, aku yang bukan adik kandung saja dilindungi seperti itu, bagaimana kalau aku adiknya? Itu semua berbanding terbalik dengan Jessica eonnie yang keras kepala itu!” Ia menggertakkan giginya geram.
“Krystal benar!” Kini giliran Sulli, yang sering kami sebut dengan Giant Baby karena keimutannya itu, menyambung perkataan Krystal. “Minho oppa selalu perhatian dan begitu melindungiku. Aku sangat bersyukur punya oppa seperti dia.”
Sooyoung yang sedaritadi asyik dengan ipodnya langsung menyela. “Siwon oppa juga perhatian denganku, walau aku agak risih juga dengan perhatiannya yang agak berlebihan tapi yaaah…setidaknya aku benar-benar bersyukur punya oppa sebaik dia.”
Aku yang merasa terpojokkan spontan membela diri. “Kalian enak, punya oppa yang begitu perhatian! Sedangkan aku?”
Amber menyela sebelum aku melanjutkan kalimatku. “Huh, kau jangan bohong! Seluruh warga penjuru sekolah ini tau bahwa kau punya oppa yang begitu tampan dan populer pula. Ayolah, siapa yang tak kenal Cho Kyuhyun yang baik hati itu?”
“Itu benar!” Rahyo, sahabatku sejak kecil juga ikut bersuara. “Lebih enak punya oppa ketimbang punya saudara perempuan. Kau tau, aku selalu menderita karena yeodongsaengku yang cerewet itu selalu seenaknya saja mengambil barang kepunyaanku! Untung saja Wookie oppa tidak diembatnya….”
Sunny, si Aegyo Queen menggelengkan kepalanya heran melihatku yang masih saja bersikukuh tentang oppa. “Aku heran denganmu, Hyemi. Kau punya oppa yang bisa dibilang sempurna. Kenapa kau tak bisa juga bersyukur, huh? Aku yang punya Sungmin oppa si pinkyboy saja sudah sangat bersyukur walau kalian menganggapnya aneh. Harusnya kau bersyukur punya oppa seperti Kyuhyun-ssi. Benar kan?” Sunny menatap teman-teman dan diiringi anggukan seisi kelas.
Aku benar-benar naik darah. “Ah, kalian saja yang tak tau dia itu begitu menyebalkan! Dia itu…..”
Taemin si rambut jamur datang terengah-engah sewaktu masuk kelas. Kami semua menatapnya heran. “Hey, duduk semua! Park seonsaengnim datang!”
***
Aku berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Kyuhyun oppa memang menyuruhku menunggu disini begitu mata kuliahnya selesai. Oh, apa kalian ingin tau kenapa Kyuhyun oppa begitu populer disini? Itu karena ia adalah guru honor di sekolahku. Ia mengajar mata pelajaran seni musik, baik vokal maupun alat musik. Kyuhyun oppa yang pembawaannya ramah dan cool dengan sekejap saja menjadi idola, termasuk murid maupun guru perempuan yang sedang lajang. Bahkan ibu penjaga kantin saja mengidolakan Kyuhyun oppa. Astaga, segitu mempesonanyakah oppa ku itu?
Jujur saja, walau banyak yang memuji ketampanan Kyuhyun oppa, aku memandangnya biasa saja tuh. Oke, kuakui ia memang tampan, tapi pujian tentang oppa adalah sosok yang ramah itu yang membuatku sangat sangat tak setuju. Kalian mau tau? Kyuhyun oppa itu berkepribadian ganda! Hanya di sekolah saja ia baik dan ramah pada semuanya, tetapi jika sudah sampai di rumah, jangan harap ia mau tersenyum padaku! Ia akan tersenyum dan tertawa hanya pada orangtuaku saja, selebihnya tidak.
Kyuhyun oppa juga sering, ah bukan, selalu, ingat itu, SELALU berkata kasar padaku. Oh, bukan. Maksudku, jika ia bicara denganku pasti nada bicaranya selalu ketus ataupun kasar. Walau aku bicara dengan nada selembut dentingan piano, tetap saja dijawab dengan nada volume halilintar.
“Aku benar-benar kesal padanya!” curhatku suatu hari di kantin sekolah pada Rahyo. Rahyo yang sedaritadi asyik menikmati segarnya es jeruk kini berganti menatapku geram.
“Aish kau ini, Hyemi… Ini sudah yang keberapa kalinya kau bicara soal oppa mu itu, hah? Kupingku hampir tuli mendengarmu mengoceh terus!!”
“Aku hanya kesal padanya! Kenapa dia tak pernah baik padaku, sementara dengan kalian dia baik, huh?” Aku mengaduk-aduk minumanku dengan sedotan.
Rahyo menyeruput sebentar minumannya. “Mungkin Kyuhyun-ssi punya alasan tersendiri kenapa ia tak pernah ramah denganmu. Atau itu semua hanya perasaanmu saja ya? Bagiku sifat Kyuhyun-ssi yang cool itu sangat keren….”
“Ah, aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran kalian! Yang begitu dibilang cool? Hah, aku jadi ingat waktu aku kecil, dia membentakku seperti orangkebakaran jenggot……”
[flashback]
Author’s POV
“Yaaa, sebentar!” seorang gadis kecil setengah berlari menuju pintu depan rumahnya. Dengan segera ia membukakan pintu untuk orang yang menyembunyikan bel tersebut.
Tampak seorang ahjussi sedang tersenyum sambil membawa kantong besar. “Nak, orangtuamu ada?”
Hyemi menggeleng. “Aniya. Orangtuaku sedang pergi bekerja, sedangkan di rumah hanya ada aku dan oppa ku, tapi dia sedang mandi. Ada apa, ahjussi?”
“Oh, kalau begitu dengan kau saja ya…” Ahjussi itu pun jongkok lalu membuka kantong besar yang ternyata berisi boneka. “Kau mau pilih yang mana, nak?”
Hyemi takjub melihat boneka-boneka tersebut. Inikan boneka yang sangat diinginkannya? Dengan semangat Hyemi melihat boneka-boneka tersebut, dan pilihannya jatuh pada boneka doraemon yang lumayan besar.
“Ambillah, nak. Itu untukmu.” Ahjussi itu tersenyum.
Hyemi membelalakkan mata. “Jinjja?? Aaah jeongmal gamsahamnida, ahjussi yang baik hati!!” Hyemi memeluk erat boneka itu dengan senang hati. Ahjussi tersebut permisi pulang.
Hyemi yang waktu itu masih kelas 2 SD meloncat-loncat kegirangan sambil berteriak dan memeluk erat boneka doraemon pemberian ahjussi yang baik hati itu. Bahkan Kyuhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi sampai terusik karena teriakan Hyemi.
“Kau ini, kenapa berteriak-teriak seperti orang kesurupan hah?” Kyuhyun mengacak-acak rambutnya dengan handuk, hendak mengeringkannya.
Hyemi menatap Kyuhyun senang. “Oppa, coba tebak apa yang kudapat hari ini!”
Kyuhyun menatap boneka yang dipeluk Hyemi. “Kau mencuri boneka milik Rahyo lagi?” Rahyo yang merupakan sahabat Hyemi dulu rumahnya bertetangga dengan mereka. Hyemi memang suka mencuri boneka milik Rahyo, tapi Hyemi suka sekali mengelak dengan dalih ia meminjam, bukan mencuri.
Hyemi merengut. “Aish, untuk apa aku mencurinya? Aku mendapatkan ini dari ahjussi baik hati!”
“Ahjussi baik hati?” Bocah kelas 6 SD itu menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambut.
Hyemi mengangguk-angguk senang. “Ne! Tadi sewaktu kau mandi, ada ahjussi datang ke rumah kita dan memberikanku boneka ini!” Hyemi menunjukkan boneka doraemon itu di hadapan Kyuhyun.
Kyuhyun hanya menatapnya datar. “Memang siapa ahjussi itu?”
Hyemi terdiam sejenak. “Oh iya, aku lupa menanyakan siapa dia. Ah, yang jelas dia ahjussi baik hati!”
“KENAPA KAU MENERIMA BARANG DARI ORANG TAK DIKENAL, HAH??!” Kyuhyun mengibaskan handuknya kencang ke arah Hyemi. Hyemi kaget setengah mati. Lalu ia menangis sekencang-kencangnya.
“LAIN KALI KAU TANYA DULU SIAPA NAMANYA!” Kyuhyun membentak Hyemi yang malah menangis semakin kencang. Untunglah itu tak berlangsung lama, karena eomma mereka yang baru datang melerai mereka berdua.
“YAK! Kau apakan dongsaengmu, Cho Kyuhyun??”
[end of flashback]
Hyemi’s POV
“Jadi….” Rahyo yang sedang menyantap mie lalu terhenti. “Sebenarnya siapa ahjussi baik hati itu?”
Aku terbatuk sebentar. “Ah itu. Ternyata ia teman bisnis appa. Istri ahhjussi itu mempunyai perusahaan yang memproduksi boneka, jadi ia ingin berterimakasih pada eomma dengan memberi boneka padaku.” Aku menatap gelas minumanku kesal. “Huh, tau begitu kan Kyuhyun oppa tak perlu memukuliku dengan kibasan handuknya!”
Rahyo tertawa. Aish, memang ada yang lucu?
“Hahahaa!! Aku benar-benar tak bisa membayangkan ekspresi wajahmu yang kaget itu.” Rahyo mengapus air matanya yang keluar akibat tertawa terlalu kencang. Aku hanya merengut kesal.
“Oh ya, ngomong-ngomong……memang benar ya kau sering meminjam bonekaku dulu? Seingatku kau tak pernah meminjamnya. Kan kau pernah bilang bahwa kau itu benci boneka.” Rahyo menatapku serius.
“Euuung anuu, itu……ah! Bel masuk sudah bunyi rupanya! Kajja, nanti kita dihukum Cho seonsaengnim!!” aku beranjak dari kursi lalu setengah berlari menuju kelas. Rahyo pun ikut berlari.
“Sejak kapan kau memanggil oppa mu jadi Cho seonsaengnim, huh?”
Aku membalikkan badanku menghadap Rahyo dan menjulurkan lidah. “Terserah aku donk!”
DEG.
“Ugh…..” Aku memegang dadaku erat. Ah, ada apa denganku?
Tiba-tiba saja aku merasa semua menjadi gelap setelah Rahyo berteriak panik dan menghampiriku.
***
“Hyemi!!”
Itulah kata yang pertama kali kudengar begitu aku membuka mata. Tampak Rahyo dengan wajah paniknya memperhatikanku.
Aku duduk di ranjang ruang UKS dan memegang kepala. Sesaat aku mengerang kesakitan.
“Kau berbaring saja, Hyemi-ah. Jangan memaksakan diri.” Rahyo membimbingku supaya berbaring. Aku pun menuruti perintahnya.
“Apa yang terjadi denganku?”
“Aaah… Tadi itu tiba-tiba saja kau pingsan, Hyemi-ah. Kau ini membuatku panik saja. Huuft, syukurlah kau tak apa-apa.”
Aku tersenyum tipis. “Apa Kyunnie oppa tau kalau aku disini?”
“Ya, tentu saja dia tau. Bahkan dia yang menggendongmu kesini, dan dia juga yang menemanimu disini sewaktu aku mengikuti pelajaran. Aku bisa kesini karena sekarang jam istirahat.”
Aku terbelalak. “Jinjja? Kyuhyun oppa menemaniku disini?”
Rahyo mengangguk. “Ne. Asal kau tau, sewaktu ia menggendongmu Kyuhyun-ssi paniiiiiikk sekali, dan lagi ia itu seperti pangeran saja, menolong sang putri yang pingsan. Aaah, aku kini mengerti kenapa banyak yang mengidolakan Kyuhyun-ssi. Dia itu keren sekali!”
Aku bergidik melihat Rahyo yang senyam-senyum sendiri. “Aish kau ini, akan kulaporkan Wookie oppa kalau kau selingkuh!!”
“Huwaaa jangan! Aku kan hanya mengidolakan saja.”
Aku tertawa geli melihat tingkah sahabatku ini. Dia itu berlebihan sekali siih…

***
Aku merebahkan tubuh di kasur begitu sampai di kamar. Aku memejamkan mata. Sungguh, seumur hidup baru tadi pagi aku pingsan. Dan kau tau apa yang lebih menyebalkan lagi dari itu? Sewaktu aku ingin berterimakasih pada Kyuhyun oppa, dengan nada ketus seperti biasanya ia berkata. “Dasar bodoh. Kau ini merepotkanku saja! Mana badanmu berat lagi, aish.. Aku hampir saja dirawat UKS juga akibat patah tulang waktu menggendongmu.”
Aku benar-benar tak percaya perkataan Rahyo. Ah, bocah itu pasti mengada-ada lagi.
Aku pun bangkit dari tidur. Ah sudahlah, daripada memikirkan itu lebih baik aku mengerjakan PR dulu.
Aku mengambil tas sekolahku yang berwarna hitam itu. Oh iya, kan ada pr matematika! Aku pun meletakkan buku itu di meja belajar dan mulai mengerjakan. Aku membaca soal nomor satu, aah gampang. Aku pun mengerjakannnya dan langsung mendapat jawaban. Nomor dua…. ah ini juga gampang! Aku heran pada Hwang seonsaengnim yang memberi soal segampang ini. Nomor tiga…. tunggu, ini maksudnya apa ya? aku membaca ulang soal tersebut. Ooh, aku tau! Pasti pakai cara ini. Aku menatap kertas coret-coret ku. Kok hasilnya tidak ada di pilihan ya? huh, pasti salah soal! Aku melangkahi soal nomor 3 dan mulai mengerjakan nomor 4. Kenapa sama susahnya seperti nomor 3 ya? kulangkahi lagi dan membaca soal nomor 5. Kenapa makin susah? Akhirnya kubaca kedua puluh soal tersebut, dan parahnya aku sama sekali tak mengerti! Aku menyerah.
Aaarrghh… apa yang harus kulakukan?
Tiba-tiba saja aku tercetus sebuah ide. Kalau digambarkan dalam manga, pasti ada lampu menyala di atas kepalaku. Tring!!
Aku keluar kamar sambil menenteng buku dan masuk ke kamar di sampingku. ah, tanpa kuberitahupun kalian pasti tau kan aku ingin meminta tolong siapa?
“Ada apa?” jawab orang itu ketus. Ia memakai kaus oblong putih dan celana boxer. Oh, kau ingin lihat seperti apa tampangnya saat ini? Kurasa kertas lecek lebih bagus ketimbang wajahnya sekarang.
Sepertinya ia marah karena aku menganggu ‘kencan’ nya bersama ‘pacar’ elektronik nya itu. tapi tetap saja ia fokus menatap PSP nya itu tanpa melihatku.
“Aish, bisakah jika berbicara kau melihat lawan bicaramu sebentar saja? Toh PSP itu takkan mati kalau kau tak menatapnya sedetik saja.”
Kata-kata ku sukses membuatnya menatapku dengan tatapan evilnya. Omo, kurasa aku salah minta bantuan.
“Oppa, tolong ajari aku ya mengerjakan soal-soal ini?” Aku menyodorkan buku pr ku padanya. Ia menatap buku itu lalu berganti menatapku.
“Huh, soal segampang ini pun kau tak bisa mengerjakannya? Memang apa sih ilmu yang kau dapat selama guru menerangkan, ha?”
“Tentu saja aku mendengarkan oppa, hanya saja aku kurang mengerti. Lagipula Hwang seonsaengnim itu menjelaskan pelajaran seperti orang yang dikejar kereta api, kau tau?” Aku tidak bohong. Wanita paruh baya itu memang mengajar seperti itu. entah mengapa ia masih bertahan di sekolah ini.
Kyuhyun oppa mendecak. “Kalau kurang mengerti kan kau bisa bertanya dengannya!”
“Arrgh, sudah kubilang kalau Hwang seonsaengnim itu tak becus mengajar! Otak limitku ini tak mampu menampung ocehannya.”
“Huh, itu kan memang kau saja yang babo.” Ia beralih menatap PSPnya dan mulai bermain.
“Jadi kau ingin mengajariku atau tidak?”
“Aniya. Sampai kau mengerti apa yang diajarkan seonsaengnim, baru aku akan mengajarkan semua itu padamu.”
Aish, menyebalkan sekali dia! Kalau aku mengerti apa yang diajarkan seonsaengnim sih, aku kan tak perlu bertanya lagi dengannya! Argghh, kau oppa yang menyebalkan, Cho Kyuhyun!!
Baiklah. Kalau begini jadinya, akan kukeluarkan jurus ampuhku!
Aku terdiam menatapnya. Dan entah setan apa dia pun menatapku heran.
Aku pun mengeluarkan air mata dan berteriak. “Huwaaa……. Kenapa kau jahat sekali padaku, hiiks hiks…. Memang apa salahku haaah??!”
“Aish! Kau ini anak SMA atau masih TK sih? Kelakuanmu kenanak-kanakan sekali!”
Aku semakin berteriak kencang. “Hiks hiiks…..kau kejam Cho Kyuhyun!! Akan kulaporkan kau pada eomma dan appa!”
Ia menatapku panik lalu membekap mulutku begitu aku akan berteriak lagi.
“Kalau kau berteriak lagi, kubunuh kau!!”
***
Aku berbaring-baring di kasur. Bosan juga setelah mengerjakan pr matematika itu. Ah, aniya. Kurasa aku tak mengerjakannya karena semua itu dikerjakan Kyuhyun oppa kekekkee. Padaahal aku hanya minta diajari, bukan memintanya untuk mengerjakan. Tapi karena ia bilang malas mengajariku, langsung saja dikerjakannya tanpa babibu. Dalam waktu lima belas menit ia sudah selesai. Aku hanya menyalinnya saja. Kuakui otakknya itu cemerlang, tapi aku benar-benar tak yakin ia bisa menjadi guru yang baik.
Ponselku mengeluarkan bunyi nada dering singkat, yang berarti ada pesan masuk. Kubaca sms itu.
From: Demi Lovato ^^
Hey, kau dimana skrg? Aku sdh sampai di toko buku. Kau tidak lupa dgn janji kita kn? ‘Dia’ jg sdh disini lho!
Aku mencerna baik-baik pesan tersebut. Demi Lovato? Seingatku aku tak menyimpan nama artis Disney itu di ponselku… Dan lagi, siapa sebenarnya Demi Lovato di ponselku ini? Aku mengingat-ingat. Aah aku tau! Pasti Rahyo yang mengganti nama kontaknya di ponselku menjadi Demi Lovato -___-
Aku mengganti nama kontaknya di ponselku lalu mengetik balasan.
To: Miss Pede
Kau ini, knpa mengganti nama kontak mu jadi Demi Lovato di ponselku, ha? Ini sdh yg keberapa kali ny! Sebelum ny kw mengganti namamu jadi Selena Gomez,Taylor Swift, Kwon Yuri, dan ini Demi Lovato (-__-“)
Aku sedang siap-siap berangkat. Ya, tentu sja aku tak lupa! Kw tunggu saja disitu, oke? Soal ‘dia’, nanti kau bantu aku ya?
Kutekan tombol kirim lalu meletakkan ponselku.
Jujur saja, sebenarnya aku lupa ada janji dengan Rahyo. Dan jika ia tak mengirim pesan padaku, kurasa aku takkan ingat sampai sekarang. Hahahaa.
Aku pun bersiap-siap pergi. Kupakai t-shirt biru dan celana jeans tiga per empat. Aku melirik jam tangan. Ah, jika aku berlama-lama disini Rahyo pasti akan mengomel.
“Mau kemana?” Tiba-tiba saja makhluk itu muncul begitu aku berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar. Oh, kurasa aku sedang sial.
“Bukan urusanmu, Cho Kyu….argh, sakit!” Ia mencekal tanganku erat. “Ne, ne, aku cuma ingin pergi ke toko buku kok!!”
Ia pun melepaskan tanganku. Aku mengusap-usap tanganku. Arrr, setan ini benar-benar kelewatan. Tak bisakah ia bersikap lembut padaku?
“Kau sendirian?”
“Ada Rahyo disana. Aku sudah berjanji bertemu dengannya.”
“Baiklah, kalau begitu aku ikut.”
Aku membulatkan mataku. “Mwo? Shireo!”
“Memang apa hakmu melarangku, hmm?” Ia mendekatkan wajahnya di depanku.
Aku menjauh. “Pokoknya tidak boleh!!” Aish, mana boleh iblis ini ikut, bisa-bisa dia mengacaukan rencanaku!
“Memang ada apa? lagipula tak ada salahnya aku ikut denganmu, toh tujuan kita sama. Aku juga ingin membeli buku. Lagipula aku khawatir dengan kondisimu dan aku tak mau kau pingsan di jalan raya.”
“Aniya. Aku baik-baik saja oppa. Lihatlah.”
“Kau bohong! Ah aku tau… kau mau kencan dengan seseorang kan?”
Jleb! Tepat sasaran.
“Aku benar, kan? Hahaha. tenang saja, aku takkan mengganggu kencan bodohmu itu.” Ia mendelik. “Aku akan ikut dan tidak akan mengganggumu, eotokkhae?”
“Jinjja?”
Kyuhyun oppa hanya mengangguk. Okelah, anggap saja ia memberikanku tumpangan gratis. Setidaknya uang jajanku tak terbuang untuk membayar biaya naik bus.
Aku melirik jam tangan. Omo, sudah jam lima sore! Ini berarti aku ngaret lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Aish, pasti Rahyo yang bawel itu akan memarahiku nanti -__-
“Oppa, ppaliwa!!”
***
Aku langsung mengedarkan pandang mencari Rahyo begitu kami menginjakkan kaki di toko buku yang besar ini. Kemana sih anak itu?
Rahyo melambaik-lambaikan tangannya. Ah, itu dia!
“Kau datang dengan siapa?” tanya Rahyo. Oh, syukurlah ia tak marah aku datang terlambat.
Aku mengecilkan volume suaraku. “Dengan Kyuhyun oppa….”
“Jinjja?”
Aku mengangguk-angguk lemah. “Dia pasti akan mengikutiku dan mengacaukan semuanya!”
“Ah, kurasa tidak juga…. Aku janji akan menahannya disini!”
Aku menatapnya girang. “Jinjja?? Ah, kau benar-benar sahabatku!!” Aku memeluknya. Tumben ia tulus membantuku tanpa pamrih. Padahal biasanya ia pasti akan meminta sesuatu padaku begitu ia membantuku.
Rahyo tertawa kecil. “Tentu saja itu semua tidak gratis, Hyemi-ah.”
Aku melepaskan pelukanku. Sudah kuduga…… Dia ini benar-benar…
“Kurasa jika kau meminjam 5 komikmu aku akan membantumu…”
“Aish, arra arra…. Oh ya, dimana dia?” Aku menoleh kiri kanan.
Rahyo menaikkan dagunya. “Di belakangmu…”
Aku membalikkan badan. Namja tampan tampak tersenyum padaku. Aaaaah jantungkuuuu!!!
Aku melambaikan tangan padanya. “Annyeong.” Astaga, kenapa bisa dia setampan itu?
“Annyeong.” Ia menyapaku sambil tersenyum lagi. Aku melongo. Melihat itu Rahyo menyikut lenganku sambil tersenyum menatap namja di depanku.
“Annyeong Hyukie oppa! Oh ya, bagaimana kalau setelah ini kita makan-makan di cafe?” ajak Rahyo.
Aku berbisik. “Hey, kalau kau ikut siapa yang akan mencegah Kyu oppa supaya tidak mengikutiku?”
“Sudahlah, tenang saja.” Rahyo kemudian menatap Eunhyuk. “Kajja, kita pergi!”
Kalian pasti bingung siapa Eunhyuk itu. Iya kan? Oke, akan kuceritakan. Sudah lama aku menyukai Eunhyuk yang merupakan sunbaeku. Pertama aku menyukainya adalah saat aku melihat ia menari di ruang seni. Waktu itu aku yang sedang menunggu Kyuhyun oppa di ruang terpaku dibuatnya. Dan sewaktu aku menceritakan tentang Eunhyuk oppa pada Rahyo, ternyata ia mengenalnya! Eunhyuk oppa adalah tetangga sebelah rumah Rahyo, rumah Rahyo benar-benar tepat di sebelah Eunhyuk oppa. Dan hari ini, Rahyo ingin menjodohkanku dengan Eunhyuk oppa. Yaah, semoga saja berjalan lancar!
Rahyo menarik tanganku keluar dari toko. Dan itu sukses memancing perhatian Kyuhyun oppa.
“Mau kemana?”
Rahyo melepaskan tanganku. Ia membungkuk 90°. “Annyeong oppa. Aku ingin mengajak Rahyo ke cafe sebentar. Cafe nya tidak jauh dari sini kok. Boleh kan?”
Aku mengatupkan tangan padanya. “Aku janji takkan lama, oppa. Jebal…..”
Kyuhyun oppa hanya diam memperhatikanku dan Rahyo, kemudia ia beralih menatap Eunhyuk-ssi. Entah kenapa aku merasa Kyuhyun oppa tak menyukai Eunhyuk begitu aku melihat tatapannya pada Eunhyuk-ssi.
“Baiklah, kau boleh pergi. Tapi kau harus kembali kesini lagi. Arra? Dan juga Rahyo, tolong jaga Hyemi.”
Rahyo mengangguk. Aku menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran. “Arraseo!”
***
Aku berjalan mengendap-endap menuju kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan aku baru pulang sekarang. Itu pertanda bahwa aku akan dimarahi Kyuhyun oppa. Mengobrol dengan Rahyo dan Eunhyuk-ssi membuatku lupa waktu, Semoga saja Kyuhyun oppa tak menyadari kehadiranku. Aku benar-benar lelah malam ini dan tak ingin mendengar ceramahnya saat ini juga.
Yes aman! Aku memegang gagang pintu kamarku sambil bersorak dalam hati.
“Wah, tuan putri sudah datang.”
Astaga, aku sial sekali!
Ia mendongakkan daguku dengan paksa sehingga mau tak mau mataku fokus menatapnya. “Kau sebenarnya pergi kemana sampai semalam ini hah? Kau tau kan kalau kau itu sedang sakit??”
“Aku hanya pergi ke kafe! Dan lagi, aku tidak sakit kok. Lihat, aku sehat-sehat saja.”
“Apa kau lupa eomma dan appa tidak mengijinkanmu keluyuran lewat dari jam 6 malam?”
“Oppa…”
“Dan lagi, kenapa kau jalan dengan namja monyet itu? Kau tau, aku juga mengajar kelas dua, dan di kelasnya Eunhyuk itu….”
“Oppa!!”
“DIAM!”
Nyaliku ciut mendengar ia membentak seperti itu. Nafasnya yang tersengal-sengal menyapu wajahku.
Aku tak mau kalah. “Tak bisakah oppa bersikap baik padaku sekali saja? Aku muak denganmu yang selalu bermuka dua! Di hadapan orang lain kau selalu ramah dan baik, tapi mengapa tidak jika denganku? Aku benci oppa!!”
Ia terdiam. Tatapan matanya yang tadi garang berubah menjadi lemah lembut. Ia menatap tepat di manik mataku. Wajahnya menunjukkan kesedihan. Lalu ia melepaskan tangannya dari daguku, kemudian masuk ke dalam kamar.
Huh, dasar menyebalkan!! Aku pun masuk ke dalam kamar.
Author’s POV
Kyuhyun duduk di tepi ranjangnya. Ia menangkupkan wajah di kedua telapak tangannya. Jiwanya mengembara ke masa lalu, tepatnya enam tahun lalu saat Hyemi berumur sepuluh tahun.
[flashback]
“Mwo? Eomma bilang apa?”
“Kondisi Hyemi melemah, Kyuhyun-ah….. Dia perlu ginjal yang cocok dan kita hanya bisa berharap ada yang mau mendonorkan ginjalnya.” Eomma Kyuhyun menangis sejadi-jadinya.
Kyuhyun yang sedang duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menangis. “Kenapa bukan appa dan eomma saja yang mendonorkan ginjal untuk Hyemi?”
“Ginjal eomma tidak cocok, sedangkan appa tak bisa menyumbangkan ginjalnya karena ia habis dioperasi.”
Jawaban appa nya tadi membuat Kyuhyun diam seribu bahasa. Apa yang harus ia lakukan? Sebagai oppa ia merasa sama sekali tak berguna jika adiknya yang lemah itu harus sakit-sakitan di usianya yang masih belia. Ya. Ia harus melakukannya.
“Aku mau menyumbangkan ginjalku.” Kata Kyuhyun mantap.
Eomma dan appa nya kaget. Mereka benar-benar tak menyangka kata itu akan keluar dari mulut anak yang bahkan belum genap berumur tiga belas tahun itu. Mereka kemudian menatap mata Kyuhyun, mencari suatu kepastian apakah putra sulung mereka bersungguh-sungguh. Yang mereka temukan disitu hanyalah suatu ketulusan dan keyakinan untuk menolong adiknya.
“Baiklah, kita periksa dulu apa ginjalmu cocok untuk Hyemi.”
Setelah melakukan pemeriksaan, mereka dengan cemas menunggu hasilnya. Setelah menunggu lumayan lama dokter pun keluar.
“Ginjal anak anda cocok untuk Hyemi.” Dokter itu pun berjongkok agar tingginya menyamai Kyuhyun. “Nak, apa kau yakin ingin menyumbangkan ginjal untuk adikmu?”
“Ne! Tentu saja aku yakin.”
Dokter itu tersenyum lalu berdiri lagi. “Syukurlah. Tadinya aku khawatir dengan kondisi Hyemi sekarang. Kedua ginjalnya memang sudah rusak parah. Dengan begini ia bisa selamat.”
“Tolong sembuhkan putri saya….” pinta eomma Kyuhyun lirih.
Dokter itu mengangguk. “Akan saya lakukan yang terbaik. Kyuhyun, bisa kau ikut ahjussi?”
Kyuhyun dan dokter itu pun masuk ke dalam ruangan ICU untuk mencangkokkan ginjal Kyuhyun pada Hyemi. Walau ginjal seseorang dicabut, mereka dapat bertahan hidup walau di tubuh mereka hanya ada satu ginjal saja.
“Oppa, oppa….. Lihat, aku sudah sembuh dari penyakit demam berdarah.” Hyemi kecil yang sudah keluar dari rumah sakit berlarian hendak memeluk Kyuhyun, oppa yang sangat disayanginya. Orangtua mereka memang sepakat untuk tidak memberitahu Hyemi soal penyakit ginjalnya, makanya mereka bilang bahwa Hyemi sakit demam berdarah. Kyuhyun hanya diam mematung begitu tubuh mungil Hyemi memeluknya erat. Hyemi bingung karena tak biasanya oppa nya tak membalas pelukannya. Ia pun melepas pelukannya dan menatap Kyuhyun, meminta jawaban.
“Aish, kau ini manja sekali!”
JEGER. Hyemi yang baru kali itu mendengar oppa nya yang lembut tiba-tiba berkata kasar padanya bagai tersambar petir. Ia sangat terkejut akan perubahan sikap oppa nya. Lama-lama kedua air mata Hyemi menitikkan air mata. Gadis kecil berlari meninggalkan Kyuhyun yang sedang menahan hati yang pedih melihat adiknya menangis.
Kyuhyun teringat akan perkataan eomma dan appa nya kemarin. “Kyu, boleh kami minta satu hal?”
Ia heran. “Hal apa, eomma?”
Appa nya menghela nafas. “Kami mohon agar kau mengubah sikapmu yang lembut pada Hyemi.”
Kyuhyun mengerutkan kening. “Waeyo? Kenapa aku harus berubah?”
Eomma nya membelai lembut puncak kepala putra mereka. “Kami takut sikapmu itu membuat Hyemi manja sehingga jika terjadi sesuatu yang berbahaya kau tidak bisa tegas padanya. Kau harus tegas, Kyuhyun-ah. Kami tau kau sangat menyayangi Hyemi, tapi tak selamanya kau harus bersikap lembut padanya kan? Dengan sikap tegasmu itu, kau sudah menunjukkan bahwa kau sangat sayang padanya. Kau mengerti, kan?”
Kyuhyun terdiam. Jujur saja, sangat susah mengubah sikap yang sudah terbentuk sejak dulu.
“Baiklah eomma, appa. Mulai hari ini aku akan jadi oppa yang tegas.”
[end of flashback]
Kyuhyun menghela nafas. Ia benar-benar tak menyangka adik yang sangat disayanginya itu begitu membencinya. Appa, eomma, apa aku salah bersikap tegas padanya? Aku kan hanya menjalankan perintah kalian saja, batin Kyuhyun.
Ia menatap kalender yang berada di atas mejanya. Tunggu, bukannya besok bulan April?
Besok itu……

Sunday, 1 April 2012

Hyemi’s POV
Sejak kemarin aku melancarkan aksi ‘tutup mulut’ dengan Kyuhyun oppa. Contohnya saja ketika sarapan tadi, kami sama sekali tak ada bicara. Padahal biasanya pagi-pagi begini ia sudah mengoceh tak jelas dan pada ujungnya berakhir dengan kekesalanku yang makin bertumpuk padanya. Aku heran kenapa ia hobi sekali membuatku kesal.
Tapi tidak untuk hari ini.
Sungguh, seorang Cho Kyuhyun yang kesehariannya selalu cerewet dan sukses memancing emosiku tiba-tiba saja mendadak menjadi pendiam. Aku benar-benar merasa kehilangan. Ah, apakah perkataanku semalam terlalu mengena di hatinya?
Drrrt drrt. Ponselku bergetar pertanda ada pesan masuk.
From: Emma Watson
Wanna hangout today? I knew that you’re so boring right now!!
Aku tak langsung membalas pesan tersebut. Tentu saja aku mengubah dulu nama kontak itu lalu mengirim balasan.
To: Rahyo
Haah, dari mna kau tau? Okeee, aku tunggu di kafe seperti biasa skrg!!

“Aku benar-benar kesal padanya!!” tanpa sadar aku memukul meja keras dan tentu saja memancing pandangan mata para pengunjung. Aku yang tersadar hanya menundukkan kepala pada mereka.
“Kau ini…baru saja aku datang kau sudah menyemburku dengan keluhanmu! Memang kenapa lagi sih? Tentang oppa mu itu?” Aku hanya mengangguk pelan. Melihat itu Rahyo hanya menggeleng-geleng heran.
“Kurasa oppa mu itu ada alasan tersendiri kenapa ia selalu begitu denganmu. Kau tau, pikiran laki-laki itu memang sulit ditebak.”
“Aish, kau ini berkata seolah-olah kau laki-laki saja…” Aku mencibir. “Ah, andai saja Cho Kyuhyun bukan oppa ku… andai saja Eunhyuk-ssi yang jadi oppa ku, aku pasti bahagia!”
“Hussh! Kau tak boleh berkata seperti itu, Hyemi-ah!”
“Tapi aku benar-benar membencinya! Kyunnie oppa tak pernah bersikap seperti layaknya oppa kepada dongsaeng nya. Aargh, aku sangat benci padanya!” Aku mengepalkan tinjuku.
“Jangan begitu, Hyemi-ah. Aku yakin suatu saat kau akan menyesal dengan perkataanmu. Biar bagaimanapun Kyuhyun-ssi itu kan saudaramu satu-satunya.”
Aku melipatkan tangan di dada. “Kurasa takkan mungkin. Kalau iya, berarti otakku sudah tertukar dengan kaki! Dan ingat, aku tak sudi punya saudara sepertinya!!”
Rahyo hanya menghela nafas.
***
“Hyemi, aku mau bicara.” Kyuhyun oppa mencegatku tepat di saat aku ingin masuk ke dalam kamar.
“Ada apa?” jawabku ketus.
Ia menghela nafas. “Sebenarnya, aku… Aku bukan oppa mu.”
“Mwo?”
“Aku bukan oppa kandungmu, aku hanya anak angkat.”
Aku berusaha tertawa. “Sudahlah, bercandamu tidak lucu, oppa.”
“Aku serius. Mianhae.. Aku bukan oppa yang baik untukmu. Aku selalu bersikap kasar padamu. Aku tak pantas menjadi oppa mu. Dan mulai hari ini aku akan pergi dari rumah. Aku tau kau membenciku, tapi aku mohon kau memaafkanku. Gomawo.” Kyuhyun oppa membungkuk lalu pergi sambil menggandeng tas hitam berukuran besar.
Aku terdiam. Aku syok akan perkataannya tadi. Dia bukan oppa kandungku? Hey, harusnya aku kan senang karena dia bukan oppa ku. Harusnya aku senang permintaanku jadi kenyataan. Tapi kenapa? Kenapa aku tak rela begini? Aish, aku benar-benar bingung.

“Jangan begitu, Hyemi-ah. Aku yakin suatu saat kau akan menyesal dengan perkataanmu. Biar bagaimanapun Kyuhyun-ssi itu kan saudaramu satu-satunya.”

DEG. Aku jadi teringat ucapan Rahyo tadi. Astaga, apa aku sudah keterlaluan?

Begitu aku ingin mencegah Kyuhyun oppa, aku tau itu sudah terlambat.
Ia sudah pergi.

Aku mengambil ponselku lalu menekan tombol nomor tiga sebagai dial telepon ke nomor Rahyo. Untuk appa nomor satu, dan eomma nomor dua.
“Rahyooooooo, tolong aku!! Huweeeee, hiks hiks…..”

***

“Makanya, sudah kubilang jangan sampai bicara yang tidak-tidak! Akibatnya kan begini….” Rahyo yang datang ke rumahku langsung mengomel habis-habisan.
Aku menghapus air mataku dengan punggung tangan. “Tapi aku kan tak tau begini jadinya….”
Rahyo hanya menghela nafas seraya menatapku iba, sementara aku masih termenung.
Ponselku yang berdering memecahkan keheningan di antara kami. Panggilan telepon. Aku tersentak melihat nama penelepon. EvilKyu. Kyuhyun oppa menelponku! Dengan semnagta aku menjawab telepon tersebut.
“Oppa! Kau kemana, aku…”
“Yeoboseo..” Terdengar suara wanita di seberang sana. Aku langsung patah semangat.
DEG.
Eh? Kenapa jantungku? Ah, kenapa firasatku tak enak ya?
“Yeoboseo.. Mianhae, kau siapa ya?” aku bertanya takut-takut.
“Aku orang yang menemukan ponsel ini. Aku menekan dial nomor 1 karena kurasa itu nomor orang yang penting baginya. Maaf, apa hubunganmu dengan pemilik ponsel ini ya?
Dial nomor teleponku nomor satu? Begitu pentingkah aku bagi oppa? Nomor teleponnya saja ada di dial nomor empat. “Dia oppa ku. Memang kenapa ya?”
“Baru saja oppa mu mengalami kecelakaan. Sekarang ia sedang dibawa ke rumah sakit.”
Air mataku makin mengalir deras. Kecelakaan? Kyuhyun oppa?
DEG.
Tiba-tiba saja semua menjadi gelap.

***
“Hyemi? Aah, kau sudah sadar ternyata!!”
Aku mengerjapkan mata. “Dimana ini?”
“Di rumah sakit. Tadi kau pingsan. Karena panik makanya aku membawamu kesini.”
“Ah, begitu ternyata…”
Rahyo tersenyum. “Syukurlah kau sadar. Tadi aku sempat takut karena kau terus mengigau. Kau selalu menyebutkan nama Kyuhyun-ssi.”
“Mwo?”
Rahyo hanya mengangguk pelan. “Aku baru ini melihatmu sepanik itu. Apa segitu pentingnya Kyuhyun-ssi dalam hidupmu?”
Aku terdiam merenungkan perkataannya. Iya juga sih. Aku juga heran kenapa aku bisa sepanik ini. Aku juga heran kenapa aku begitu mengkhawatirkan Kyu oppa, padahal aku sangat membencinya. Aku bingung.
“Kau mau menjenguk Kyuhyun-ssi?”
Aku terbelalak. “Memangnya kau tau dia dirawat dimana?”
“Ne. Dia dirawat disini kok. Mau menjenguknya?” Aku mengangguk cepat.
Kami berjalan menyusuri tangga, dan akhirnya kami sampai di suatu ruangan VIP. Ruangan ini hanya berisi satu pasien saja.
“Annyeonghaseyo.” Begitu kubuka pintu kamar tampak suster sedang merawat Kyuhyun oppa.
“Maaf suster, apa kami boleh menjenguknya?” tanyaku pada wanita berseragam putih itu.
Suster itu tersenyum. “Tentu saja boleh. Tapi pasien belum pulih.”
“Ne, tidak apa-apa. gamsahamnida, suster.” Suster itu tersenyum lagi lalu ia pun meninggalkan ruangan.
“Mianhae, Hyemi. Apa aku boleh meninggalkanmu? Aku juga ingin menjenguk ahjumma yang juga dirawat disini.”
“Tentu saja boleh. Pergilah.”
Rahyo pun pergi. Di ruangan ini hanya ada aku dan Kyuhyun oppa yang terbaring lemah. Aku mendekat dan duduk di kursi yang berada di samping ranjang oppa. Bisa kulihat tangan dan mulutnya diberi infus. Wajahnya yang pucat seakan memberitahuku bahwa kondisinya saat ini sedang lemah.
“Annyeong oppa. Aku disini.”
Walau aku tau ia takkan menjawab, aku tetap meneruskan kalimatku. Kupegang tangannya dan kugenggam erat.
Aku menangis. Air mataku yang jatuh membasahi tangan Kyuhyun oppa yang dingin. “Oppa, mianhaeyo…. Maaf jika aku selalu membentakmu. Maaf jika aku selalu mengeluh tentang kelakuanmu yang tak pernah bersikap lembut padaku. Maaf jika aku selalu merepotkanmu. Jeongmal mianhae, oppa…” Air mataku makin deras dan semakin banyak menetes di punggung tangan Kyuhyun oppa.
“Oppa… Aku memang pernah berkata bahwa aku membencimu. Aku memang pernah berkata bahwa kau bukan oppa yang baik. Tapi aku sadar. Aku sadar bahwa kaulah malaikat pelindung yang telah Tuhan titipkan untukku. Walau kau bukan oppa kandungku, aku tak peduli. Aku benar-benar tak peduli kau siapa, yang jelas aku tau kau adalah oppa ku. Orang yang selalu ada di sisiku untuk melindungiku.”
Aku mengusap lembut tangannya. Aku menatap matanya yang terpejam. “Apa kau ingat waktu kita kecil? Kau pernah melindungiku dari anak berandalan.”
[flashback]
Author’s POV
Hyemi berjalan di sekitar taman sekolahnya. Gadis yang saat itu duduk di kelas satu sekolah menengah pertama takjub melihat keindahan alam di taman sekolah barunya tersebut. Taman yang berukuran besar itu memang menjadi tempat favorit bagi murid-murid di sekolah ini. Walau tempat di sekitar air mancur yang menjadi favorit bagi anak-anak disitu, namun Hyemi lebih tertarik dengan rumah hijau dan pohon besar di sekitarnya. Tapi sayang tempat itu tak dirawat dengan baik sehingga jarang sekali murid-murid yang nongkrong disitu.
“Jebal…. Aku benar-benar tak ada uang, sunbae.”
“Andwae.. Kau harus serahkan uang padaku!”
Hyemi terkejut melihat kejadian di depan matanya. Sahabatnya sedang dipalak oleh seorang namja! Rahyo yang bertubuh mungil hanya bisa meringkuk ketakutan melihat namja di hadapannya memegang erat kerah seragam sekolahnya. Hyemi yang tak tahan melihat itu langsung mendekat dan membentak namja itu!
“Lepaskan dia!!”
Namja bertubuh besar itu melepaskan Rahyo dan berganti menatap Hyemi dengan tatapan ingin melahapnya bulat-bulat. Rahyo langsung bersembunyi ketakutan di balik punggung Hyemi.
“Hyemi, tolong aku…”
Hyemi melirik sekilas sahabatnya. Diliriknya juga para siswa yang mulai mengerumuni mereka. Hyemi kemudian menatap lekat namja di hadapannya. “Sunbae, kau tak boleh memalaknya. Kata orangtuaku, memalak itu tidak baik. Dan kata Kyuhyun oppa, jika kita butuh uang kita bilang saja pada teman kita, pasti mereka akan membantu.”
Namja itu mendengus kesal. “Hah! Anak kecil, tau apa kau tentang aku haah?” Tubuh Hyemi yang memang lebih mungil dari Rahyo langsung bergelantungan begitu sunbae nya mencengkram erat kerah seragam sekolahnya. Lalu ia melempar tubuh mungil Hyemi ke tanah, membuat Hyemi menangis kesakitan. Rahyo yang panik hanya bisa berdiri mematung di tempatnya. Sedangkan para siswa hanya bergidik ngeri sambil agak menjauh. Mereka memang takut dengan sunbae berbadan besar yang terkenal garang itu, jadi tak satupun dari mereka yang mau menolong.
“Kau apakan dia?!”
Semua mata memandang pada sumber suara. Seorang namja yang sangat dikenal Hyemi berdiri gagah di hadapan namja bertubuh besar itu. Sorot mata namja yang tak lain adalah Cho Kyuhyun memandang tajam namja di hadapannya. “Kau apakan dongsaengku, Shin Dong Hee?”
Shindong hanya mendengus. “Bukan urusanmu, Cho Kyuhyun.”
“Tentu saja itu urusanku karena kau telah membuat adikku menangis!! Apa kau tak tau tangisannya itu sangat menganggu konsentrasiku bermain PSP haah? Padahal aku sengaja datang di taman sepi ini hanya untuk menyelesaikan game ku, dan sekarang kau mengacaukannya! Aku benar-benar marah denganmu!!”
Namja yang sama-sama duduk di kelas tiga SMP ini pun berkelahi. Setelah melewati pertarungan yang cukup sengit, Kyuhyun pun menang. Shindong yang kalah langsung melarikan diri. Sementara itu Hyemi dan para siswa lainnya bertanya dalam hati. ‘Kyuhyun itu berkelahi karena membela Hyemi atau karena konsentrasinya bermain PSP terganggu?’
Kyuhyun yang memasukkan tangannya ke dalam saku celana mendekati Hyemi yang masih menangis dan terduduk di atas tanah. “Hei cengeng! Berhenti menangis sekarang juga atau kubuang semua koleksi komikmu!!”
Hyemi langsung berhenti menangis saat itu juga.
[end of flashback]
Hyemi’s POV
Hyemi tertawa kecil. “Aku sampai sekarang masih bingung dengan kelakuanmu. Kau selalu beralasan begitu, tapi aku mengerti bahwa kau ingin membelaku tapi tidak ingin aku mengetahui itu.”
Air mataku menetes lagi, membuat sungai kecil di wajahku. Aku buru-buru menghapusnya. Aku pun berdoa sambil masih menggenggam tangannya.
“Tuhan, tolong sembuhkan oppa ku ini. Walaupun ia menyebalkan, cerewet dan selalu membuatku kesal, tapi aku mohon sembuhkan dia. Maaf jika selama ini aku selalu egois, tapi ijinkanlah aku egois sekali lagi. Jangan cabut dulu nyawanya, Tuhan. Aku berjanji jika ia bangun nanti, aku takkan pernah mengeluh tentang kelakuannya.”
“Benarkah?”
Aku mengangguk. “Ne. Aku berjanji akan selalu bersyukur punya oppa sebaik dia.”
“Bagaimana jika dia membuatmu kesal?”
Aku menyandarkan tangan Kyuhyun oppa di pipi kananku. “Huh, biarlah. Aku tau ia hanya ingin menghiburku saja…” Sesaat aku memejamkan mata, dan langsung saja kubuka mata begitu sadar siapa yang bertanya tadi.
“Yak, Kyunnie oppa!! Kau mengerjaiku hah?” Aku refleks melepaskan tangannya, sementara itu ia hanya tertawa terbakak-bahak. Ia lalu duduk dari posisi baringnya.
“Sejak kapan kau sadar, huh?” Aku cemberut sambil melihat ke arah lain.
“Sejak tadi. Sejak kau masuk ke ruangan ini. Bahkan kurasa sebelum Seohyun datang.”
Aku mengerutkan kening. “Seohyun? Nugu?”
“Suster yang merawatku tadi.”
“Oooh…. Ternyata walau sedang sakit kau masih sempat menggoda suster disini ya..” Aku mencibirnya.
“Huh, biar saja. Lagipula dia kan yeojachingu ku.”
“Mwo?”
“Lagipula aku tidak sakit.”
Aku makin heran. “Eeh?”
“Apa kau tau ini hari apa?”
“Hari Minggu, memang kenapa?”
Kyuhyun oppa menepuk dahinya. “Astaga, kau masih saja lemot begini. Ini kan hari…….”
“APRIL MOP!!! HAHAHAAA!” Kyuhyun oppa berteriak kencang sambil merentangkan kedua tangannya. Tidak hanya Kyuhyun oppa, tapi Rahyo, suster bernama Seohyun itu dan lebih mengejutkan lagi ada orangtuaku yang juga ikut berteriak dan masuk ke dalam ruangan ini! Astaga, sebenarnya ada apa ini?
“Yaiks, kalian!! Kalian kompak mengerjaiku hah? Dan ini….” Aku menunjuk kedua orangtuaku yang tertawa cekikikan. “Kenapa eomma dan appa bisa disini? Kapan kalian pulang?”
“Sebenarnya appa dan eomma sudah pulang kemarin. Waktu itu kau sudah tidur, dan saat itu Kyuhyun memberitahu kami bahwa kalian berdua sedang bertengkar. Ia bingung bagaimana cara berbaikan denganmu. Kau tau kan ia sangat gengsi untuk meminta maaf denganmu? Terlebih lagi kau bilang bahwa kau membencinya. Kemudian ia mencetuskan ide ini dan kami sepakat untuk membantunya.” jelas appa panjang lebar.
“Astaga…. Aku baru tau akting kalian hebat, terutama kau, Kyuhyun oppa.” Aku melirik Rahyo dan Kyuhyun oppa bergantian. Rahyo hanya memasang tangan dengan pose ‘peace’ dan memamerkan senyum tiga jari.
“Jadi, semua ini bohong? Kau benar-benar oppa kandungku? Kau tidak kecelakaan? Kau baik-baik saja? Jadi ini hanya sandiwara keji yang sengaja mempermainkan perasaanku, begitu?”
Kyuhyun oppa tersenyum. “Kurasa semua pertanyaanmu itu jawabannya sama: Ya!”
“Oppa, kau kejam!!” Aku memukul tubuhnya keras. “Apa kau tak tau aku sangat mengkhawatirkanmu, haa? Apa kau tak tau juga jantungku hampir copot mendengarmu kecelakaan? Apa kau tak tau aku sangat takut kehilanganmu? Apa kau tak tau?!!” Aku semakin keras memukul tubuhnya, membuat Kyuhyun oppa sigap menangkap kedua tanganku sehingga aku terjatuh di ranjang dengan posisi badanku di dada Kyuhyun oppa.
“Aku senang kau mengkhawatirkanku. Gomawo, Hyemi-ah.” Kyuhyun oppa mengecup lembut keningku lalu memeluk erat tubuhku. Pipiku langsung saja bersemu merah.
Kyuhyun oppa melepaskan pelukannya. “Jadi, sekarang otakmu sudah tertukar dengan kaki ya?”
Aku mengerutkan kening. “Mwo?”
Kyunnie oppa mendekatkan wajahnya dengan wajahku. “Rahyo bilang bahwa kau pernah berkata jika kau sampai menyayangiku, otakmu pasti sudah tertukar dengan kaki. Benar kan?”
“Yak, oppa!!”

END
Maaf kalo alurnya gajebo (-__-“) kalo byk yg komen, rencana ny saya pngen bkin sekuel ny nih ^^ ada yg brminat?

34 thoughts on “Oppa!!

  1. hahaha daaeebaakk sempet nyangka kalo kyu suka ma hyemi di tambah ktanya kyu bukan kaka kandungny makin kuat dh dugaannya ternyata hahaha pemikiran konyol
    but finally amazing like it bagus bgt !! ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s