Dandelion #10 (Why, Baby? Sequel Edition) -END-

sebelumnya…

#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9

Dandelion #10 (Why, Baby? Sequel Edition)

LAST CHAPTER Special Yunho PoV

…my beautiful girl…

Seperti mimpi, semuanya berjalan seperti sedia kala. Aku dan Sojung, Changmin dan Jung. Aku sedikit tidak mengerti hubungan mereka. Aku sering melihat Jung bersama laki-laki lain yang kuketahui bernama Dongwoon, sedangkan Changmin sering keluar bersama Jonghyun. Bukankah lebih baik jika mereka lebih sering bersama seperti aku dan Sojung? Dengan begitu mereka bisa saling mengenal lebih dekat.

Ah, itu terserah mereka saja. Aku tidak mau ikut campur!

Aku dan Sojung, hubungan kami berjalan dengan lancar. Setelah aku wamil, aku berjanji akan menikahinya. Aku sudah meminta persetujuan dari semua pihak. Agensi, manajer, Changmin, fans, orangtuaku, dan orangtua Sojung. Mereka semua menyetujui kami menikah setelah wamil.

Karena itu mulai bulan depan aku berencana untuk masuk wamil, sehingga aku bisa menikah dengan Sojung secepatnya.

***

2 tahun kemudian…

Aku mencari keberadaannya di antara para fans dan wartawan yang menyambutku keluar dari wamilku. Mencari dan terus mencari, tetapi paras cantiknya tidak dapat kutemukan. Apa dia tidak menyambutku? Seharusnya dia tahu hari ini aku akan keluar dari wamil!

“Yunho-ya!” Manajer hyung memanggilku. “Sampai jumpa lagi!”

Aku segera membungkuk untuk memberi salam kepadanya. Setelah melakukan wawancara singkat dan beberapa kali memberikan fan service, aku berjalan menuju mobil.

Long time no see, oppa…” Suara itu menyambutku sesaat setelah kubuka pintu mobilku.

Aku melihatnya. Sosok yang membuatku resah. Sosok yang membuatku marah, karena aku merindukannya tetapi tidak bisa bertemu dengannya. Sosok yang hampir membuatku gila, karena kami berdua selalu saja dilibatkan pada suatu keadaan yang sangat-sangat menyebalkan.

Aku tersenyum senang. Segera aku naik ke mobil, dan memeluknya erat. “Jagiya~” kulepas pelukanku, dan mencium bibir mungilnya kilat. “Changmin menjagamu dengan baik?”

Sojung mengangguk. “Tetapi dia tidak begitu baik.”

“Mengapa?”

“Sepertinya Jung tidak menyukainya.” Kali ini giliran manajer hyung yang menjawab pertanyaanku. Sesaat setelahnya, manajer hyung segera memacu mobil dengan kecepatan sedang.

Aku mengerti apa yang dikatakan manajer hyung tentang Jung dan Changmin. Sesaat sebelum aku wamil, Changmin pernah mengatakan bahwa Jung masih belum bisa menerimanya. Dan dia tidak ingin memaksa perasaan Jung, meskipun sebenarnya Changmin sangat-sangat ingin menjalin hubungan dengan Jung. Changmin bilang, Jung masih trauma.

Aku masih menggenggam tangan Sojung, dan membelai rambutnya yang hitam pekat itu. Dua tahun tidak bertemu, sepertinya dia hidup dengan sangat baik. Wajahnya masih sama, tetapi auranya sangat berbeda. Sojung yang sekarang, dia seperti sedang menikmati hidupnya dengan baik. Ibunya pun sudah bebas dari penjara, dan saat ini sedang membangun sebuah toko roti. Ayahnya, Sojung pernah mengatakan dia tidak ingin bertemu dengannya lagi.

Sojung yang sekarang, adalah Sojung yang sangat hangat, dewasa, dan periang.

“Jung masih sering bersama namja bernama Dongwoon itu?” tanyaku.

Sojung mengangguk. “Dan Changmin masih sering bersama Jonghyun. Ah, molla. Aku tidak tahu hubungan seperti apa di antara mereka!”

Aku tersenyum jahil. “Ya! Bagaimana jika memikirkan kita saja? Kapan kita akan menikah?”

***

“Pasti melelahkan menjaganya.”

Changmin tersenyum setelah mendengarku mengatakan hal itu. Diaduknya perlahan ramyeon yang katanya khusus dibuatkan untuk menyambut kepulanganku kembali setelah wamil. Penyambutan yang aneh. Mengapa ramyeon?

“Lebih melelahkan jika tidak melihatnya sehari saja, hyung.” Katanya, kemudian melihatku. “Sangat melelahkan.”

Aku pun tersenyum. Changmin sepertinya tahu apa yang aku rasakan. Sehari saja tidak melihatnya, aku merasa ada sesuatu yang sangat kurang. Dan aku tidak melihatnya selama 2 tahun! Itu membuatku sangat lelah dan penat. Mendengar suaranya tidak bisa, memeluknya tidak bisa, membelai rambutnya tidak bisa, semua tidak bisa. Aku menderita, dan itu melelahkan.

“Bagaimana hubunganmu dengan Jung?”

“Begitulah, hyung.”

“Begitulah bagaimana?”

Changmin memberikan semangkuk ramyeon buatannya padaku. “Kau tahu, kami dijodohkan, walaupun sebenarnya aku juga berharap Jung bisa memulai sesuatu yang baru sama sepertiku. Karena itu aku menolak membatalkan pertunangan ini meskipun dia tidak menginginkannya. Tapi… Junhyung sepertinya memberikan kenangan yang terlalu indah untuk dilupakan.”

Aku mengangguk. Changmin sudah memberitahuku tentang Junhyung yang kekasih Jung itu tiba-tiba dijodohkan dnegan kakaknya, lalu mereka menikah. Tetapi, aku masih tidak mengerti. Jika Jung masih menyukai kakak iparnya, lalu mengapa dia pergi bersama Dongwoon? Tidak pergi bersama Changmin, yang adalah tunangannya? Apakah Jung menyukai Dongwoon?

“Mengapa kau membiarkan Jung pergi bersama Dongwoon? Dia lebih menyukainya daripada kau?”

Changmin mengangkat bahu, tanda tidak tahu. “Jika Jung memilih Dongwoon… Aku merelakannya, hyung… Sebelum semuanya terlambat.”

***

Aku sedang melihat-lihat sebuah majalah ketika tirai biru gelap di depanku terbuka. “Bagaimana?”

Aku mendongak. Kulihat seorang perempuan berbalut busana pengantin warna putih yang sangat kontras dengan tirai biru itu, berdiri dan melontarkan pertanyaan tersebut padaku.

“Oppa, bagaimana?” dia mengulangi pertanyaan yang sama karena aku tidak menjawabnya.

“Cantik.” Aku tersenyum, kemudian berjalan ke arahnya dan membisikkan sesuatu. “Tapi lebih cantik jika tanpa busana…”

Bug.

Sojung memukul dadaku keras. “Oppa!”

“Wae? Aku mengatakan yang sebenarnya! Tapi cukup aku yang tahu hal itu, tidak orang lain.”

***

Hari yang kami nantikan telah tiba. Pesta pernikahan kami. Aku dan Sojung.

Tetapi sepertinya ada yang tidak beres. 1 jam berlalu dari waktu yang ditentukan, mereka belum datang juga.

“Yunho-ya. Kau sudah mencoba menelepon Changmin?”

Aku mengangguk. “Tidak dijawab, hyung. Sojung juga.”

Manajer hyung mendengus. “Changmin tidak pernah terlambat se-lama ini. Apa Sojung belum selesai berdandan? Seharusnya dia memberikan kabar jika benar begitu. Tidak membiarkan pengantin pria dan para undangan menunggu disini seperti ini…”

Aku menatap pintu gereja dengan resah. Tidak biasanya. Aku tahu Changmin, dan dia tidak pernah terlambat seperti ini. Apalagi ini hari yang istimewa untukku dan Sojung. Penantian kami, ujian-ujian di setiap tahun, semuanya demi hari ini.

Tapi, ada apa dengan mereka? Apa Changmin membawa Sojung pergi? Tidak! Changmin tidak akan sekejam itu membawa pengantinku pergi!

Tetapi kemarin, Changmin aneh sekali. Dia tiba-tiba mengatakan akan menjemput Sojung ke gereja dengan wajah yang… seakan-akan meminta padaku karena ingin bersama Sojung untuk yang terakhir kalinya.

Bruk!

Tiba-tiba Jung jatuh terduduk. Ponsel di tangannya jatuh. Wajahnya berubah merah, menahan tangis. Dengan suara bergetar dia berkata, “Op.. pa… Me.. Mereka…”

***

3 tahun kemudian…

Aku membuka mataku perlahan. Sinar mentari yang masuk melalui celah-celah jendela kamar kami menerpaku, membuatku silau. Kulihat jam di dinding, menunjukkan angka 7 pagi. Saatnya aku bersiap menuju kantor. Banyak sekali yang harus kukerjakan hari ini.

Sesaat kulihat sosok di dekapanku yang masih tertidur pulas. Matanya terpejam, tetapi raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kelelahan yang selama ini dirasakannya.

“Tuhan… Mengapa aku tidak bisa melupakannya?” rutukku pada diriku sendiri.

Kuusap wajahnya dengan lembut. Ingin sekali rasanya aku meyakinkan dirinya dan diriku sendiri bahwa semua yang terjadi adalah takdir, tetapi aku tidak bisa. Ketika aku memandangnya sedetik saja, aku seperti memandang Changmin. Memandang kesedihan karena cinta yang tidak tersampaikan, yang terpancar dari mata Changmin. Memandang rasa bersalahnya karena merebut cintaku, dari mata Changmin. Aku memandang semuanya, dan itu membuatku teringat tentang Changmin. Itu membuatku kesal.

Karena menghindarinya, bahkan sekalipun setelah menikah aku tidak pernah menciumnya.

Tubuh di dekapanku itu bergerak perlahan. Kesempatan itu kugunakan untuk bangun dan segera menuju kamar mandi. Aku harus cepat. Sebelum dia terbangun, dan menatapku dengan mata itu lagi.

***

Dia sudah bangun. Aku bisa mengetahuinya karena aku mendengarnya membuka lemari es. Pasti dia sedang meminum jus wortel. Kata orang, wortel sangat baik untuk mata.

Dia ingin mata yang sebenarnya bukan miliknya itu tetap sehat.

Aku merapikan kemejaku. Hari ini aku berangkat ke studio lebih awal karena akan melakukan pengambilan suara dengan seorang artis baru. Setelah peristiwa itu, TVXQ! bubar. Aku beralih menjadi seorang pencipta lagu dan produser di manajemen yang sama dengan TVXQ!.

Aku sedang menyisir rambut ketika dia membuka pintu kamar kami. “Oppa..”

“Oh. Selamat pagi,” balasku.

“Oppa akan pulang cepat kan, hari ini?”

Aku mengangkat bahu. “Aku tidak tahu. Jika Xiah bisa melakukan rekaman dengan baik, aku akan pulang cepat.”

Dia mengangguk lemah. “Oppa…”

“Hm?”

“Kau ingat kan ini hari apa? Aku ingin oppa menemaniku kesana, sekali ini saja…”

***

Aku memarkir mobilku di dekat pintu masuk pekuburan. Hari ini entah mengapa Xiah melakukan semuanya dengan baik, membuatku pulang lebih awal. Sebenarnya aku tidak ingin menemaninya ke tempat ini, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi aku tidak mempunyai alasan untuk menolak, karena itu aku terpaksa menemaninya.

Kami berdua berjalan perlahan menuju sebuah tempat yang terlihat sedikit indah dan rapi dibandingkan dengan pekuburan yang lain. Banyak sekali karangan bunga dari fans dan orang-orang yang mencintainya. Mungkin tadi pagi mereka datang karena merindukannya yang telah meninggalkan kami semua 3 tahun yang lalu.

Sojung berhenti di tempat yang indah dan rapi itu. Dia duduk, kemudian meletakkan sebuah karangan bunga yang lebih sederhana daripada bunga-bunga yang berada di sana. “Changmin-ah, annyeong,” katanya. “Sudah 3 tahun kau disini. Baik-baik saja, kan?”

Aku melihatnya. Melihat Sojung yang dengan sangat hati-hati menata karangan bunga yang memenuhi tempatnya itu. Aku pun membaca beberapa tulisan di karangan bunga tersebut, yang kebanyakan bertuliskan kami merindukanmu, Shim Changmin. Walaupun kau tidak berada disini kau berada di hati kami. Dari beberapa fans. itu. Dan juga sebuah karangan yang bertuliskan Jung merindukan Shim Changmin. Keluargamu juga. Fansmu juga. Semuanya merindukanmu. Hal itu membuat dadaku sesak. Ingin sekali meletakkan sebuah karangan bunga yang bertuliskan Changmin-ah bagaimana bisa kau meninggalkan hyung secepat itu? atau Changmin-ah disana tidak enak, kan? Ayo kembali lagi!. Tetapi aku tidak bisa. Benar-benar tidak bisa. Dia masih ada di sekitarku. Dia masih memandangku dengan tatapan sayunya itu. Dia ada di tubuh orang yang sangat kucintai.

“Ayo kita pulang, terlalu lama disini membuat hatiku sakit.” kataku, kemudian berbalik.

Aku hampir melangkahkan kakiku ketika tiba-tiba Sojung berkata, “Changmin-ah. Ini sudah tiga tahun. Dia masih saja tidak memandangku. Bahkan saat ini dia mengajakku pulang. Kau tahu apa artinya itu? Dia marah padaku.”

Aku diam. Menghela napas panjang dan hampir mengatakan sesuatu juga ketika Sojung berkata lagi.

“Aku juga tidak mengharapkan kau menjemputku hari itu! Mengapa tiba-tiba kau menjemputku, hah? Dan mengapa tiba-tiba ada sebuah truk dari arah berlawanan yang menabrak kita? Mengapa aku divonis buta dan kau tidak bisa tertolong? Mengapa sebelum kau pergi kau mengatakan ingin mendonorkan matamu? Aku tidak bisa mengerti, Changmin-ah! Dia juga tidak bisa mengerti!”

Aku menahan amarahku. Benar-benar ingin marah saat ini. Hentikan! Tolong, Sojung-ah! Hentikan berkata seperti itu!

“Kau lihat bagaimana kami sekarang? Lihat bagaimana dia menghindariku dan bagaimana dia jadi pengecut karena tidak bernyanyi lagi!”

Sojung menangis. Suaranya bergetar. Ya Tuhan, aku tidak bisa melihatnya menangis!

Aku berbalik. Kurengkuh tubuhnya dan mendekapnya erat. “Jagiya…”

“Lihat!” katanya lagi. Tangisnya semakin menjadi. “Sekarang dia hanya memelukku ketika menenangkanku! Dia tidak pernah menciumku! Dia pikir hanya memelukku saja membuatku tenang?”

Aku semakin mengeratkan pelukanku. Hentikan… Aku mohon.

Sojung berontak. Dia berusaha lepas dari pelukanku. “Lepas! Aku tidak bisa bernapas! Kau ingin membunuhku, hah? Kau ingin aku yang pergi, bukan Changmin?” teriaknya.

Plak!

Aku tidak sengaja menamparnya. “Apa-apaan kau? Mengapa berpikir aku ingin membunuhmu, hah?”

“Oh… Kau menamparku sekarang…” rintihnya. “Terimakasih, Jung Yunho!”

***

Ini adalah hari ketujuh setelah kejadian itu. Sejak saat itu dia tidak berbicara padaku sama sekali, bahkan memilih untuk tinggal di tempat lain.

Ya. Dia pergi meninggalkan rumah kami. Entah berada dimana.

Bodohnya, aku tidak berusaha meneleponnya, atau berusaha mencarinya. Untuk apa? Dia tidak akan kembali. Dan aku juga tidak menginginkannya kembali, untuk saat ini. Sepertinya kami memang butuh saat-saat sendiri seperti ini.

Aku mencintainya, sangat. Tetapi entah mengapa ketika mengingat hari saat Jung memberitahu bahwa mereka mengalami kecelakaan, yang terpikir saat itu adalah Changmin, bukan Sojung. Aku mengkhawatirkan Changmin, bukan Sojung. Dan di saat Changmin mengatakan bahwa dia ingin mendonorkan matanya pada Sojung, aku merasa sangat marah. Kemarahanku itu membuatku berhenti menyanyi, dan membubarkan TVXQ!

Aku sudah berusaha melupakannya dan menganggap ini adalah takdir, tetapi ketika aku melihat tatapan mata itu, aku mengingat kembali peristiwa mengerikan tersebut. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia, menjadi malapetaka.

Karena itulah aku menghindarinya. Aku tidak ingin mengingat malapetaka itu lagi.

Tok… tok… tok…

Pintu rumah kami diketuk seseorang. Dengan malas aku berjalan untuk membukakan pintu. “Sia…” aku terdiam ketika tidak menemukan siapa-siapa di depan pintu rumah kami. Di sana hanya ada sebuah surat berwarna putih. Kuambil surat tersebut dan membacanya.

Datanglah ke atap gedung tempat kita bertiga bertemu beberapa tahun yang lalu, pukul 4 sore. Sojung~

 

***

Aku naik perlahan menuju atap sebuah gedung tempat kami bertiga –aku, Sojung, dan Changmin- bertemu. Saat itu aku memukul Changmin, sebagai balasan dia merebut Sojung-ku. Aku juga memukulnya lagi, sebagai balasan keinginannya keluar dari TVXQ!. Aku memukulnya karena aku menyayanginya. Beberapa tahun yang lalu.

Ketika sampai di atap, Sojung sudah berada di sana. Hari ini dia memakai kacamata hitam dan pakaian berwarna abu-abu, warna kesukaan Changmin.

Aku berjalan mendekatinya. “Kau sudah datang,” tegurku.

Sojung menoleh sebentar, kemudian membuang muka. Wajahnya terlihat pucat. Pipinya pun menjadi sedikit tirus. “Cepat katakan apa yang ingin kau katakan,” katanya datar.

Aku mengerutkan keningku, tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Bukankah kau menyuruhku datang kesini?”

Aku semakin bingung. “Aku tidak menyuruhmu datang kemari. Kau yang menyuruhku.”

Sojung menoleh lagi. “Jangan bercanda! Aku sedang tidak ingin bercanda denganmu!”

“Aku tidak bercanda!” jawabku. Kukeluarkan surat yang diberikannya pagi tadi. “Ini! kau meninggalkan ini di depan rumah ki…ta…” kata-kataku tercekat ketika mengatakan rumah kita. Seperti sebuah kata yang sangat asing, walaupun ini baru tujuh hari dia meninggalkan rumah tersebut.

Sojung meraih suratku. “Tidak mungkin! Kau yang meninggalkan surat untukku di Candy Bar! Kau menyuruh seorang pelayan untuk menyerahkannya!”

Candy Bar? Jadi selama ini kau berada di sana?”

Dia terdiam. “Ya… Aku selalu berada di sana ketika sedang ada masalah…” jawabnya pelan. Tak berapa lama, dia membuka surat tersebut. “Ini bukan tulisan tanganku.”

Aku merasa janggal. Aneh. Sangat jelas disitu tertulis bahwa Sojung yang mengirimkannya. Jika bukan dia, siapa? “Kau membawa surat itu?”

Sojung mengangguk, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas hitamnya dan memberikannya kepadaku. Aku membukanya perlahan, lalu membacanya. Isi surat tersebut sama dengan apa yang kuterima, hanya saja nama pengirim tertulis Yunho.

“Ini juga bukan tulisan tanganku.” Kataku.

“Lalu? Kau pikir Changmin yang mengirimkan kepada kita, hah?” Sojung tersenyum sinis. Tiba-tiba dia merebut surat tersebut. “Tunggu!”

Kami berdua  memperhatikan surat tersebut dengan seksama.

“Tulisan ini… Changmin…” lirihku perlahan.

“Tempat kita bertiga bertemu… Aku kau dan Changmin…” Sojung menimpali.

Kami diam, hanyut dalam pikiran masing-masing. Bagaimana bisa? Changmin? Apakah benar Changmin yang mengirimkan surat ini?

Sojung memandang surat tersebut sayu. Perlahan tubuhnya bergetar, menangis. Tiba-tiba dia jatuh. Hampir saja dia jatuh ke lantai jika aku tidak menangkapnya. “Changmin-ah…” rintihnya. “Changmin-ah…” kemudian dia memejamkan mata, pingsan.

Aku segera mendudukkannya perlahan. Tubuhnya tidak seberat yang dulu. Dia terlalu banyak berubah untuk ukuran waktu tujuh hari. Sungguh. Kubuka kancing bajunya sedikit, melonggarkan pakaiannya. Badannya sedikit panas. Dia pasti sedang sakit. Kemudian aku membuka kacamata hitamnya. Aku terkejut. Matanya bengkak akibat menangis.

Seketika itu juga aku lemas. “Jagiya…”

Aku tidak tahu aku menyiksanya seperti ini. Aku tidak tahu dia sama sedihnya sepertiku, bahkan lebih karena aku ikut memperlakukannya secara tidak baik. Seharusnya aku berusaha menghiburnya, karena dia pasti sangat trauma karena kejadian itu. Tetapi apa yang aku lakukan selama ini? Aku menghindarinya, seolah-oalh menyalahkannya atas semua kejadian yang menimpanya sendiri. Aku tersiksa dengan duniaku, dan dia tersiksa dengan dunianya. Ya Tuhan, suami macam apa aku ini?

Aku memeluknya erat. “Changmin-ah… Maafkan aku… Aku tidak menjaganya dengan baik… Maafkan aku…”

Perlahan Sojung membuka matanya. “Oppa… Oppa… Itu pasti Changmin… Aku yakin itu Changmin…”

Aku tersenyum, mengangguk. Benar. Itu pasti Changmin. Dia tidak menginginkan kita seperti ini, Jagiya. Dia ingin kita bahagia! Dia ingin kita kembali lagi, dan hidup berbahagia!

Aku segera mendaratkan ciumanku di bibirnya, sebagai permohonan maaf. Ciuman pertama kami, setelah kejadian tersebut. Merasakan bibirnya yang bergetar dan hangat, bibir yang masih sama seperti dulu.

Dia tidak menolaknya. Aku semakin dalam menciumnya, dia masih tidak menolak. Aku mengangkat kepalanya sedikit agar bisa membalas ciumanku.

“Saranghae…” bisikku mesra. “Kembalilah ke rumah kita…”

-END-

SELESAI^^

akhirnya ya… kkk gimana2? puas? XP

seri berikutnya infinite yaa.. siapa yg suka angkat kaki hahaha

^^

oiya, yang pengen cari2 info kuliah… kuliah aja di UGM jurusan Bahasa Korea.. pengen tanya2 dulu, mention twitter aja ya, @__10hyun

kkk

12 thoughts on “Dandelion #10 (Why, Baby? Sequel Edition) -END-

  1. Yahhh onnie comeback2 malah end
    Uhuhuhu unexpected ending
    Dugaanku waktu di tengah2 cerita si sojungnya nyeleweng lg atau changminnya in love lg sama sojung. Ah ternyata ngga. Tp kenapa changmin harus mati? TT_TT
    Aku selalu suka penggambaran emosi karakter yg onn tulis. Aku jd ikut emosi jg
    Sayang sekali aku bahkan ngga kenal infinite >,< Tp aku pasti baca kok kalo authornya onnie

  2. Woaaa keren thor endingnya…
    Menguras emosi..

    Aku duga yunho bersikap bgtu sama sunjong krena rasa brsalahnya ma changmin karena kga ngelerail sunjong smpe ajal menjempt changmin…
    Pokoknya keren dah…

    Infinite??
    Hoaa kyknya bkal seru…
    Syp thor main castnya…
    L kah?
    Semoga.. :D

  3. kenama uri changmin pergi ??? huaa*nangis dipelukan junsu… wkwkwkw :)
    keren kka :D
    dapat bnget feel nya :D

    wihiii…
    infinite, keren juga thu kka.. ^ ^ d tunggu chapter perdana na :)

  4. udah lama banget gag baca dandelion… .–. sekalinya baca lagi… malah udah part terakhir + Changmin mati -__-

    pertamanya aku kira si Yunho nikah sama Jung, terus Sojungnya yang mati … .__.v

    infinite mau dibikin serial kayak gini??? o__0 aku tunggu deh ^___^ AUTHOR FIGHTING!!!

  5. huaa ending. mian yaa author saya komen’a dipart ini aja, soal’a baru nemu belom lama ini dandelion’a kkkk
    ending’a miris, aku kira yunho’a nikah sama jung, ehh ternyata sama sojung juga.
    daebak lah, feel’a dapet bahasa’a juga enak.

  6. Aku sedih :'(
    Kenapa changminnya yg meninggal?
    Kenapa gak dua2nya aja bahagia? :'(
    Gantung ah thor
    Sequel lagi dong thor :D

  7. oenni kereennn…
    tapi aku penasaran banget sama ceritanya jung. akhirnya dia sama siapa?? hhh.. masih berharap jung bisa sama junhyung lagi #plakk

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s