(KyuMao) Behind You [part 1]

Author: Mao-chan
Main Cast: Kang Maori (OC), Cho Kyuhyun
Support Cast: Lee Donghae
Rating: PG
Genre: Romance

Disclaim: ff yang terinspirasi dari lagu Yesung ft. Jang Hye Jin_I’m Behind You… tp tetep ide cerita berasal dari otak 5 watt gue.. u,u’ (bilang aja pengalaman pribadi!)<<-*becek yg ngomong. Jangan percaya! Ini fiktif belakaaaaaaaaa *ngomelin cecek

PS: Ini ff udah lumutan di lappy gara2 gw gak tau mesti gimana (author galau).. inspirasi kelap-kelip. Kadang muncul kadang tenggelem. Yah, apa mau dikata.. ini lah hasilnya. Yang penting tadi udah izin pak erte buat bikin ff romance gagal ini..u,u sekalian ngurus KTP gw. (kartu tanda pengong).. udah mau baca? Beneran? Yakin? Jangan deh u,u. TypoAKUT! Owwyah.. jangan lupa bacanya sambil denger lagu di atas~ *nunjuk2 gaje.. *langsung bunuh author!* Chekidotlahyowissssssss~

Summary:

7 hari..

Saat aku merasa kebodohanku,

Membawaku pada kebahagiaan..

7 hari

Saat dia pertama tersenyum padaku,

Dan menggenggam tanganku..

7 hari

Saat bibirku melukis senyum,

Dengan hiasan darah di garisnya..

7 hari

Saat kami saling mencintai..

 Tidak ada yang pernah berubah pada hidupku, terutama hatiku. Hati yang setiap harinya semakin habis. Seperti digerogoti makhluk menyebalkan yang membuat hidupku berantakan. Siapa peduli tentang hal itu? Bahkan aku sendiri sudah berhenti memperdulikannya ketika eomma dan appa memilih untuk berpisah dan meninggalkanku bersama seorang pembantu di rumah sebesar ini. Apa yang bisa dibanggakan?

Musim dingin kali ini, aku membencinya! Aku membenci setiap hal yang membuatku semakin terlihat seperti pecundang. Bergelut dengan obat-obatan yang setiap harinya secara rutin menjadi sarapan dan makan malamku. Aku muak? Tapi aku bisa apa? Ini lah aku! Gadis 19 tahun yang terlihat aneh dengan penyakit seperti bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak sesuka hatinya.

Sampai saat itu tiba. Perasaan yang harusnya gadis seperti aku ini tidak boleh memilikinya. Cho Kyuhyun, dia pindahan dari Amerika. Baru beberapa pekan dia bersekolah, jumlah penggemarnya sudah tidak bisa dihitung lagi. Aku dapat menyembunyikan perasaanku, aku berusaha sekeras mungkin agar dia tidak mengenalku. Ini konyol, aku tidak sadar mataku membengkak saat melihatnya.  Terkadang rasa seperti itu membuat dadaku sesak.

Pernah saat Kyuhyun mulai menyukai sahabatnya sendiri, seorang yeoja primadona di kampus ini. Tapi malangnya dia ditolak. Setelah kejadian itu jarang sekali aku melihatnya tertawa cerah di ruang olah raga. Biasanya ia bermain basket di waktu senggangnya. Tapi sekarang? Beberapa pekan setelah itu aku sering melihatnya masuk ruang music dan mulai menarikan jarinya di piano tua di sana. Apa sesedih itu? Sesakit itukah hatimu sekarang Cho Kyuhyun? Apa sama seperti yang aku rasakan setiap saat ketika memikirkanmu? Dia menyanyikan lagu dengan mata merah yang semakin lama semakin membengkak. Dan aku? Aku masih dengan bodohnya melekatkan pandanganku dari celah pintu dan setia berdiri meski bayanganku perlahan mulai lenyap.

 

Apakah kau tahu?

Walaupun aku tidak bisa menyadari kesalahanku saat ini,

Dan melihatmu berdiri di sana

Membuatku bernafas..

Bagiku,

Ini adalah perasaan yang berharga..

 

Sudah ribuan detik terlewatkan saat aku menatapnya lekat, dia sosok yang terlihat menyenangkan. Sayangnya aku tidak bisa lebih dekat lagi dari ini. Tidak boleh! Mataku mulai memanas, dadaku terasa sesak, entah kenapa, tapi jelas ini bukan karena penyakit sialan yang sudah setahun ini bersarang di tubuhku. Rasanya semakin sakit, sulit sekali bernafas, aku memukul-mukul dadaku pelan. Dan dentingan tuts-tuts piano membuatku menghentikan gerak tanganku. Nada itu? Lagu itu? Aku mengenalnya..

Aku hanya menunggu…

Jika kau merasa kesepian,

Cukup berputar dan lihat kebelakang!

Jika kau sendirian sekarang,

Jika kau sedih,

Cukup berputar dan lihat kebelakang!

 

Suaranya terdengar parau saat menyanyikan lagu itu, air mataku mulai menetes tanpa diperintah. Di sana, aku juga melihat namja itu meneteskan air matanya. Hatiku lebih sakit dari ini, melihatnya menangis seperti itu aku ingin berlari ke arahnya dan membuatnya nyaman dalam pelukanku. Tapi itu tidak mungkin, aku tidak bisa! Aku sadar.

 

###

 

Hari itu, Eun Ra si yeoja primadona sedang menangis dalam pelukan Kyuhyun. Aku menatapnya dari kejauhan, tidak cukup jelas buatku mendengar percakapan mereka. Sepertinya yeoja itu menangis dan menyesali perbuatannya karena sudah menolak namja yang sedang menenangkannya dan lebih memilih sosok  seperti Lee Dong Hae. Kyuhyun terlihat begitu damai sekarang, aku tahu, sesakit apapun hatinya kemarin. Sekarang dia sudah lebih dari ‘baik’. Eun Ra, mungkin dia segalanya untuk Kyuhyun. Dadaku kembali sesak saat Kyuhyun mengecup ujung kepala Eun Ra yang masih sesenggukan di pelukannya. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh, usahaku malah membuat dadaku semakin sesak. Cho Kyuhyun, saranghae~.. aku bergumam seperti orang bodoh, dan tepat saat aku mengatakan itu darah mengalir lancar dari hidungku.

 

 

Apakah kau tahu?

Walaupun aku tidak bisa menyadari kesalahanku saat ini,

Dan melihatmu berdiri di sana

Membuatku bernafas..

Bagiku,

Ini adalah perasaan yang berharga..

 

 

###

 

Bibi Jung menemaniku yang sedang terbaring menjijikan di kamarku yang membosankan. Dia terus mengucapkan kalimat yang mungkin menurutnya bisa membuatku merasa lebih baik, tapi tidak. Aku tidak pernah merasa lebih baik. Bibi Jung merapatkan selimutku saat mengetahui aku mulai menggigil. Dia bersikap hangat padaku, sejak setahun ini aku menjadi semakin dekat dengannya. Tapi tetap saja, siapa dia? Bukan orang tua atau apapun. Hanya orang yang di gaji untuk bersikap seperti itu padaku, palsu? Mungkin.

 

“Mao, berhentilah menjalani hidupmu seperti ini.” Gumamnya tiba-tiba, aku hanya memejamkan mata berharap dia segera pergi dan meninggalkanku sendiri. “jebal! Minumlah obatmu, kau harus rajin untuk check up, dan makan dengan teratur. Tersenyumlah! Tertawa yang banyak dan kau pasti akan sembuh!” suaranya mulai serak, aku tahu dia menangis. Dia membelai rambutku lembut, dadaku sakit sekali, sakit! Sungguh sakit! Bibirku bergetar, sekuat tenaga aku berusaha menahan emosiku. Air mataku seperti berontak ingin keluar, tanganku sudah mengepal sempurna. Hati kecilku ingin sekali menangis, bahkan menjerit memanggil eomma dan appa yang sudah meninggalkanku. “aku lelah..” gumamku lirih, tangis bibi Jung pecah. Aku merasakan ia mengusap sesuatu yang kental mengalir dari hidungku. Terdengar dia sesenggukan di sampingku, “dulu kau anak yang manis mao-ah.”.

Dulu? Bukankah waktu sudah tega menghabisi ‘mao kecil yang manis’ itu? Sekarang aku tidak terlalu peduli.

 

Pagi hari yang cukup dingin, mantelku serasa tidak berguna sama sekali. Aku sudah seperti lemari berjalan, tapi hawa dinginnya tetap saja sukses membekukan setiap persendian tulangku. Aku melangkah gontai melewati lorong yang panjang ini, terkadang terbesit juga kenapa aku masih berada di sini. Mungkin karena Kyuhyun. Sehari saja aku tidak melihatnya maka perasaan khawatir yang ada dalam benakku akan meledak. Tanpa sadar kakiku melangkah menuju ruang music, sepi. Aku mengintip pada celah pintu yang sedikit terbuka, berharap melihatnya di dalam. Kosong. Dimana dia?

 

Aku membuka pintu itu ragu, tapi langkah kakiku mantap menuju piano tua dengan cat yang sedikit mengelupas di sana-sini. Aku menekan tuts-tutsnya dengan sembarangan, Kyuhyun juga pernah memainkan piano ini. Aku mulai menarikan jariku, lagu yang sama dengan namja itu.. aku menyanyikannya dengan senyum miris di ujung bibirku.

 

Mungkin untuk orang lain

Cinta bukanlah sesuatu yang dilakukan sendiri.

Tetapi di depan aku merasa takut,

Aku tidak tahu kenapa..

Aku tidak bisa bicara, aku hanya bisa menyembunyikannya

Jika kau merasa kesepian,

Cukup berputar dan lihat kebelakang!

Jika kau sendirian, jika kau sedih..

………

 

“Cukup berputar dan lihat kebelakang!” suaranya melanjutkan lagu yang aku nyanyikan.

Aku menghentikan jariku dan melihat ke arah pintu, Kyuhyun! Dia Cho Kyuhyun. Aku membuka mataku lebar-lebar, jantungku seperti berhenti bekerja. Darahku serasa mengalir dengan cepat menuju kepala.

 

Tess…

 

Aku segera sadar hidungku mengeluarkan darah lagi, Kyuhyun berlari ke arahku. Dia membantu menyumbat hidungku dengan sapu tangannya. Tangan kirinya membantu kepalaku untuk mendongak ke atas, dengan jarak seperti ini aku bisa melihat wajahnya yang sangat tampan. Apa ini mimpi? Aku berani menukar dengan nyawaku untuk menjadikan ini nyata, jika ini hanya sebuah mimpi.

 

###

 

“kau baik?” tanyanya saat kami keluar dari ruang kesehatan. Aku hanya mengangguk pelan. Betapa aku mencoba mengatur nafas dan detak jantungku yang masih tak karuan. Berada di dekatnya bisa membuatku mati sesak nafas. “kau Mao kan?” tanyanya lagi membuat seluruh nadi di tubuhku seperti terputus. Kyuhyun, dia tahu namaku???

 

“ne, dari mana kau tahu?” tanyaku kikuk. Dia tersenyum, lalu mengacak-acak rambutku. “wae?” aku jamin wajahku sekarang seperti pantat bekantan yang merona itu. Apa yang dia lakukan? Mencoba membunuhku? Nafasku sesak. Tuhan, tolong! Sekarang ini aku terlalu bahagia.

 

“ternyata banar, jadi selama ini. Gadis seperti inilah yang terus mengawasiku.”

Candanya. Aku menatapnya bingung, bagaimana bisa? Aku yakin ini mimpi. Sungguh ini harus menjadi mimpi saja! Dadaku kembali terasa sesak, mataku memanas.

 

Tess…

 

Aku menunduk menyembunyikan airmata yang sudah seenaknya jatuh. Aku mencoba mengendalikan emosiku. Ini memalukan. Hiks…

 

 

 

###

 

Hari pertama..

 

Ku lihat seorang namja sedang duduk di ruang tamu rumahku. Sempat tidak percaya bahwa itu namja yang paling aku cintai, tapi kenyataannya memang Kyuhyun sedang duduk di sana. Aku berjalan ragu ke arahnya. “hai.” Sapaku membuatnya tersenyum. “apa kau ada waktu? Ayo kita melihat kembang api!”

 

Aku masih duduk diam di bangku taman memandangi danau di depanku yang memantulkan cahaya kembang api di atasnya. Itu sungguh indah sekali, aku berdebar. Kyuhyun duduk di sampingku sambil memberikan segelas kopi panas. “apa kau kedinginan?” tanyanya kemudian. aku menggeleng sambil tersenyum meyakinkannya. “ehhm… banyak yang ingin kutanyakan padamu. Tapi udara semakin dingin, sebaiknya kita pulang.” Dia meraih syalku dan membetulkan letaknya. Sesaat aku berhenti bernafas. Dan sampai saat ini, aku masih yakin jika ini adalah mimpi. Ini terlalu indah~

 

 

Hari kedua..

 

Pagi ini kepalaku sakit sekali, aku menjerit histeris. Bibi Jung berlari tergesa-gesa ke arahku, ia tampak sangat terkejut. “Mao-ya? Aigoo.. banyak sekali darahnya.” Bibi Jung membersihkan wajahku, dia menangis.

 

“kita harus ke rumah sakit!” bibi Jung menatapku serius. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. “Mao-ya!” dia menggenggam erat lenganku. “aku tidak bisa ahjuma, percuma.” Aku menghapus air mata di pipinya. Tidak ada yang boleh menangis, apalagi untukku. Sekarang aku bersyukur orang tuaku tidak mengeluarkan air matanya untukku. Cukup melegakan.

 

 

###

 

 

“jangan memikirkannya terus Mao-ya.” Terdengar suara bibi Jung dari belakang, ia duduk dan ikut melihat pemandangan malam bersamaku. “jika kau lelah, kenapa tidak berusaha sembuh dan mengejar impianmu? Kau ingin menjadi sutradara kan?” Bibi Jung melingkarkan syal di leherku, aku hanya tersenyum kecil. Untuk apa, dengan keadaanku seperti ini? Konyol sekali.

 

“bukankah salju itu indah sekali ahjuma?” tanyaku mencoba lari dari topik sebelumnya. “benar, apa kau ingat dulu setiap turun salju kau selalu berkata ‘hari ini ulang tahunku.’??” Bibi Jung mencoba menirukan suara kecilku. Aku menggeleng geli, aku benar sudah lupa dengan hal itu. “benarkah?” sahutku. Bibi Jung mengangguk semangat. “bahkan saat turun salju, dan appamu tidak memberikan kado kau merengek dan terus merengek. Sampai eonnie mu Hye Ra ikut merengek mencoba membujuk appamu. Kalian berdua sangat lucu saat itu.” Lanjutnya.

 

“sekarang sudah tidak lagi kan?” aku tersenyum kecil. Bibi Jung menatapku dalam. “Mao-ya…” gumamnya sambil terus melihat ke arahku. “sekarang semuanya sudah berubah. Aku dan Hye Ra eonnie tidak semanis dulu saat kami kecil. Appa dan eomma tidak lagi memberikanku kado saat salju turun. Hye Ra eonnie pergi ke luar negeri karena menolak dijodohkan. Kemudian dokter memfonisku dengan penyakit ini. Appa dan eomma memilih bercerai dan meninggalkanku sendiri. Lucu sekali.. hhaha” aku terkekeh, hatiku terasa sakit. Tapi melihat kenyataan itu, aku merasa lucu. Semuanya terjadi begitu cepat. Bibi Jung menyeka air mata yang tanpa aku sadari sudah cukup membasahi pipinya yang sedikit keriput itu. “Mao-ya.. hentikan..” bisiknya di sela isak tangisnya.

 

“Bibi Jung..” aku tersenyum dan menoleh ke arahnya. “ne?” tanyanya serak. “apa aku terlihat begitu menyedihkan?” air mataku meluncur bebas, jantungku seperti berhenti bekerja membuat darahku seakan juga berhenti mengalir. Kepalaku pusing, dan aku terisak hebat. Bibi Jung tidak menjawab dan memelukku dalam dekapannya yang hangat. Hanya ada bisikan kecil di sela tangisnya, aku tidak tahu dia berkata apa, aku hanya tidak ingin tahu, aku hanya ingin semua ini berakhir. “mianhae~ aku terlalu banyak bicara.” Aku melepas pelukan bibi Jung, dan masuk ke dalam.

TBC~

*sariawan*

14 thoughts on “(KyuMao) Behind You [part 1]

  1. AKU FIRST YEEAAHHHHH…
    uhhhh sedih banget ff nya.. aku terbawa suasana..ini bener-bener bikin nyesek yahhh :’)

  2. aku suka cara penulisannya >< ceritanya juga…sedih banget TT-TT tapi pendek banget thor ._.v part 2 nya ditunggu yow

  3. sakit bgt hatiku pas baca..
    Knpa hdp tu bisa brbh mnjd sgt menyakitkan ya??
    Pgn deh rasa’a kembali ke masa lalu, yg hanya da tawa kebahagiaan n kasih sayang..
    Hiks..hiks.. :(

    Jia Jung

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s