Hey, I’m Your Lady [part 3]

Author: Kei
Main Cast: Leeteuk, Eunhyuk
Rating: 15 (marriage life)
Genre: Romance
Ps: Kei is back with new chaptered FF

With new format and hope that you’ll like it
So here it is…

Jieun:

“Tumben kau datang kemari?” Tanya Eunhyuk siang itu sewaktu aku datang ke kantornya membawakan makan siang.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja sudah lama aku tidak kemari.” Jawabku sambil tersenyum. Dekorasi kantor ini tidak banyak berubah. Hanya warna sofanya saja yang berubah dari warna cream menjadi hitam. “Kau pasti belum makan siang kan?”

“Sebenarnya aku ada janji makan siang diluar.” Jawabnya singkat.

“Tidak bisakah kita makan siang bersama?”

“Kita bisa makan bersama besok.”

“Tapi ada sesuatu yang harus kukatakan padamu.”

“Kau bisa mengatakannya sekarang atau nanti di rumah.”

“Kau ada janji dengan siapa sih? Terlihat penting sekali padahal menurut sekretarismu kau tidak ada janji dengan klien.”

“Dengan seseorang.” Jawabnya sambil tersenyum.

Oke, tidak usah ditanya siapa itu karena dari senyumnya aku tahu siapa dia. Pasti Yejin. Tidak mungkin dia bisa tersenyum seperti itu kecuali dia akan bertemu atau setelah bertemu dengan Yejin.

“Batalkan dan makan siang denganku.” kataku memaksanya. Dia melihatku bingung. “Please?!”

Dia melihatku sambil berpikir beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “It should be something really important then.”

Aku tersenyum melihat jawabannya.

Dia mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol. Dia menelpon Yejin untuk membatalkan ‘kencan’ mereka. Terlihat raut kesedihan di wajahnya.

“Ada apa?” tanyanya sewaktu duduk di sofa yang ada didepanku.

“Makanlah. Ini makanan kesukaanmu.” Kataku sambil membukakan plastik yang membungkus mangkuk makanan yang kubawa.

Dia mengambil mangkuk yang kuangsurkan padanya dan mulai memakan makan siangnya.

“Jadi apa yang mau kau bicarakan sih?” tanyanya penasaran sewaktu makan siang kami telah habis.

Aku hanya bisa tersenyum lebar dan ditanggapi dengan kernyitan di dahinya. “Jadi kau tidak mau membicarakan apapun? Kau membuatku membatalkan janjiku dengan Yejin!”

Oke, kau berlebihan.

Dia terlihat marah. Menolak minuman yang kutawarkan dan segera berjalan ke arah mejanya bersiap menenggelamkan diri (lagi) dibalik layar komputernya. “Kalau kau sudah tidak ada urusan, kau bisa meninggalkan ruangan ini.” Ucapnya dingin.

“Aku..” Ucapku terpotong. “Ada yang harus kukatakan padamu.”

“Apa?” tanyanya dingin. Oke dia (memang) marah padaku.

“Kau masih ingat dulu sewaktu aku curiga dengan appa? Ternyata kecurigaanku itu terbukti.”

Dia mengalihkan pandangannya dari layar komputernya dan menatapku. “Maksudmu?”

“Dia menyuruh beberapa orang untuk memata-matai kita dan kemarin beliau menemuiku.” Aku mengambil nafas sebentar sebelum ‘menjatuhkan bom’. “Beliau minta aku hamil.”

“APA?!”

“Jadi kemarin beliau mencurigai hubungan pernikahan kita. Beliau bilang ada yang tidak beres dengan pernikahan kita. Lalu aku menjawab bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi sayangnya beliau tidak percaya sehingga menyuruhku untuk segera memberinya cucu.”

“…”

“Aku sudah berusaha untuk mengelak dan memberikan seribu satu alasan tapi beliau tidak mau percaya. Beliau berkata kalau memang tidak terjadi apa-apa di pernikahan kita pasti sekarang kita sudah mempunyai seorang anak. It’s been a year, Hyuk.”

Kami sama-sama terdiam. Dia terlihat memandang nanar layar komputernya sedangkan aku hanya memandangnya untuk mengantisipasi setiap gerakannya. Setelah memastikan bahwa dia masih akan dalam posisi yang sama akupun membereskan mangkuk makan siang dan bersiap untuk keluar.

“Aku akan pergi.” Kataku langsung keluar dari kantornya tanpa menunggu reaksinya. Apapun itu.

 

Eunhyuk:

Hamil? Gila! Ini pasti hanya mimpi ataupun gurauannya.

Tidak mungkin aku berhubungan badan dengannya, yah walaupun kita sama-sama tahu kalau kami memang boleh bahkan harus berhubungan badan. Tapi tetap saja aku tidak mencintainya dan tentu saja aku dalam keadaan sangat baik dimana aku bisa mengontrol napsuku padanya.

Oh, Tuhan apa yang harus kulakukan?

 

Jieun:

“Bisa kita bicara?” tanyaku padanya. Dia yang sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya di ruang tengah itu memalingkan wajahnya dari layar untuk menatapku sebentar. Dia mengangguk, sedikit mengutak-atik laptopnya sebelum akhirnya menutup dan menyingkirkan laptopnya.

Aku kembali meneguhkan hatiku untuk membicarakan hal ini lagi. Sudah seminggu semenjak aku mengatakan tentang ‘permintaan’ appa pada kami. Aku duduk di sampingnya dan sangat berusaha untuk tidak memandang matanya. Mungkin kalau memandang matanya aku bisa menarik kembali keputusanku ini. Entah ada apa di matanya yang membuatku tersihir.

“Aku mau membicarakan tentang yang waktu itu.” Dia menghembuskan nafas perlahan. “Kau tahu kan kalau aku tidak akan mau bercerai denganmu apapun yang terjadi. Seperti perjanjian kita sewaktu kita menikah?”

Dia mengangguk.

Let’s just do it, okay?!” kataku cepat.

“Maksudmu?”

“Buat aku hamil atau apapun istilahnya itu. Tapi dengan satu syarat. Sampai anak ini lahir kau harus sudah menyelesaikan perasaanmu pada Yejin. Aku tidak mau anak ini nanti lahir, besar, dan tumbuh dengan ayah yang mencintai istri kakaknya.”

Dia terdiam. Mungkin kaget dan tertegun mendengar kata-kataku. Yah, aku tahu keputusanku ini agak (well, bisa dibilang) aneh dan gila.

“Kau yakin dengan keputusanmu?” tanyanya setelah sekian lama terdiam.

Aku mengangguk. “Tidak ada satupun di keluargaku yang bercerai apapun yang terjadi dan aku tidak berniat untuk menjadi yang pertama. Setahun pernikahan kita ini membuatku berkesimpulan kalau kau teman hidup yang tidak buruk dan lumayan bisa diandalkan walaupun kau sering kali mendahulukan Yejin daripada aku.”

Aku berusaha untuk tidak memandang wajahnya yang terang-terangan memandang wajahku. Aku dengan segera melihat ke arah taman belakang dan melanjutkan omonganku. “Aku rasa kau akan menjadi ayah yang baik dan menyenangkan. Karenanya aku mengambil keputusan ini.”

“Tapi aku tidak mencintaimu.”

“Aku tahu. Karenanya aku tidak memintamu untuk mencintaiku. Aku hanya memintamu untuk menyelesaikan perasaanmu pada Yejin karena semua orang sudah mulai curiga dan aku tidak mau anak ini mencontoh perbuatanmu itu.”

Dia menghela nafas panjang dan membenarkan cara duduknya. Dia berpikir dan tetap bertahan dengan keheningan yang sedari tadi menyelimuti kami.

“Jadi bagaimana?” tanyaku mengakhiri keheningan ini.

Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak tahu. Aku tidak yakin dengan semua ini.”

“Jadi kau lebih suka memelihara perasaanmu itu daripada menyelesaikannya? Kau lebih suka semua orang membicarakanmu?’

“Aku tidak peduli dengan kata orang.”

But I do care! Bukan hanya kau saja yang dibicarakan. Tapi aku, keluargamu, dan keluargaku juga. Ingat, kita hidup dengan orang lain. Kau tidak bisa menjadi orang yang egois.” Jawabku mulai kesal dengan tingkahnya. “Kau harus memikirkannya karena besok appaku mengundang kita untuk makan malam.”

 

Eunhyuk:

Makan malam kali ini sebenarnya berjalan seperti biasanya. Penuh dengan kehangatan dan canda. Kakak Jieun, Joongki, beserta istri dan si kecil Hara-pun datang. Suasana tambah meriah karena celoteh Hara yang baru beberapa bulan ini masuk TK.

“Jadi kalian kapan menyusul?” Tanya Joongki tiba-tiba dan dengan suksesnya membuat aku dan Jieun salah tingkah.

“Iya, cepatlah punya anak dan beri Hara seorang sepupu.” Kata siomoni (ibu mertua) sambil menaruh Hara di pangkuannya.

Omma…” kata Jieun sambil memandang ommanya itu dengan pandangan putus asa.

“Jangan jadikan pekerjaan kalian berdua menjadi alasan untuk kembali menunda mempunyai anak, Jieun, Eunhyuk.” Kata siomoni lagi. “Kalian tidak mau kan disaat kalian ingin mempunyai anak dan Tuhan menunda keinginan kalian?”

Okay, here we go. Aku rasa kami akan memulai acara inti dari makan malam ini.

“Lihat, Hyuk.” Kata Joongki lagi. “Jieun sudah sangat pantas menjadi ibu Hara.”

Terlihat Jieun yang sedang bermain dengan Hara yang duduk dipangkuan siomoni. Apapun yang mau ditunjukkan oleh Joongki aku sudah menangkapnya dengan jelas. Jieun terlihat bahagia bermain dengan Hara. Tentu saja dia bahagia, Hara kan keponakannya.

“Kalian baik-baik saja kan?” Tanya siaboji yang tentu saja membuatku kaget. Pandangan matanya mengatakan bahwa beliau mengetahui sesuatu tentang pernikahan kami, tepat seperti yang dikatakan oleh Jieun.

“I..Iya, siaboji. Tentu saja.” Jawabku berusaha untuk tenang.

“Lalu buat apa menunda lagi punya anak?” tanyanya lagi. “Aku rasa Jieun juga sudah pantas menjadi ibu. Naluri keibuannya sudah terasah dengan adanya Hara.”

(Kembali) aku hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata apapun sebagai balasannya dan Jieun pun tidak berusahan (seperti biasanya) untuk membantuku menanggapi pertanyaan dan sindiran-sindiran dari orang tua dan kakaknya itu. Mungkin dia masih marah karena sikapku kemarin malam, entahlah.

“Cepatlah buatkan kami cucu kalau memang rumah tangga kalian baik-baik saja.” Kata siaboji sewaktu mengantar kami keluar dari rumah. “Kau tahu akhir-akhir ini bursa saham sedang tidak dalam keadaannya yang menguntungkan.” Beliau menghela nafas sebentar sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya dengan senyuman yang seakan-akan berkata bahwa kau-tahu-kan-apa-yang-kumaksud-jadi-penuhilah-sebelum-aku-melakukan-sesuatu-yang-bisa-membahayakan-bisnismu, “Hati-hati menyetirnya.”

 

Jieun:

“Ayo ikut aku.” Kata Eunhyuk tiba-tiba dari arah pintu dan berjalan cepat ke mejaku untuk mengambil tasku.

“Hoh! Ada apa?” tanyaku bingung dan tentu saja tetap pada posisiku semula yaitu duduk.

“Sudah, cepatlah bereskan barang-barangmu dan ikuti aku.”

“Tapi kita mau kemana? Pekerjaanku masih banyak.”

“Patuhi suamimu dan jangan banyak tanya. Cepat!” katanya tidak sabaran.

Aku benar-benar tidak tahu apa maunya. Dengan langkah yang tidak mantab aku memasukkan beberapa barang ke tas tanganku dan berjalan mengikutinya.

Dia membawaku ke rumah sakit. Sewaktu kutanya siapa yang sakit dia hanya diam saja sambil menggengam tanganku dan berjalan terus sampai di depan sebuah ruangan. Dia mengetuk pintunya dan berjalan memasuki ruangan tersebut.

“Selamat siang Eunhyuk oppa. Sudah lama tidak bertemu.” Kata dokter perempuan itu pada Eunhyuk sambil tersenyum dan menjabat tangannya.

Eunhyuk tersenyum sambil duduk di kursi yang ada dihadapannya. “Iya, lama tidak bertemu Jiyeong ah.”

“Jadi ini istrimu?” tanyanya ramah. “Silakan duduk. Aku Jiyeong, hoobae Eunhyuk oppa.”

“Aku Jieun. Senang bertemu denganmu.”

“Kalian sudah siap menjalani pemeriksaan?”

What? Pemeriksaan? Pemeriksaan apa? Aku memandang Eunhyuk dengan pandangan panikku. Semoga dia mengerti arti pandanganku ini.

Dia mengelus punggung tanganku yang berada di pangkuanku sambil terus memandang dokter itu. “Aku percayakan dia padamu.”

“Aku mengerti. Memang jaman sekarang ini banyak sekali pasangan yang datang padaku mengatakan keluhan yang sama dengan kalian. Jadi jangan malu karena banyak yang mempengaruhi kecepatan sebuah pasangan dalam menghasilkan anak, faktor internal dan eksternal. Aku akan membantu kalian agar cepat dalam mendapatkan anak.”kata dokter itu sambil berdiri dan memberikan signal melalui tangannya pada perawat yang berdiri dibelakang kami. Perawat itu pun membantuku atau lebih tepatnya sedikit memaksaku berdiri dan berjalan mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.

“Tidak usah khawatir. Aku akan membantu kalian sampai kalian bisa mempunyai anak. Hutang budiku pada Eunhyuk oppa terlalu banyak sehingga ini satu-satunya cara untuk membalas budinya.” Kata dokter itu sewaktu aku kembali ke ruang prakteknya.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku sewaktu dokter itu pergi dari ruangan tersebut untuk mengurus hasil pemeriksaan kami.

“Aku sudah memikirkan semuanya dan aku mengikuti keputusan yang kau tawarkan padaku.” Jawabnya datar.

“Maksudmu? Kau setuju dan mau membuatku hamil?”

Dia mengangguk cepat.

“Jadi aku sudah mendapatkan hasil pemeriksaan kalian. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.”

“Lalu kenapa kami…?” Tanya Eunhyuk tidak mampu menemukan kata-kata untuk menjelaskan maksudnya.

“Biasanya faktor gizi, stamina tubuh, dan waktu.” Jawabnya sambil memandang kertas-kertas yang kukira adalah hasil tes kami.

“Akan kuberi kalian beberapa vitamin. Konsumsilah secara teratur. Ini membantu menaikkan kualitas spermamu. Tapi jangan hanya tergantung dengan vitamin ini. Kalian juga harus menjaga asupan gizi dan lakukanlah hubungan suami-istri di waktu yang tepat. Kau bisa menghitung masa suburmu kan, Jieun-ssi?”

Aku hanya mengangguk walaupun aku tidak begitu yakin dengan semua ini. Oke, memang semua ini adalah ideku. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai di tahapan ini dengan segala hal yang menyertainya.

“Ini resep vitamin yang kukatakan tadi. Datanglah tiga sampai empat bulan lagi apabila Jieun-ssi belum juga hamil sunbae.” Katanya saat mengantar kami keluar dari ruang prakteknya. “Oh ya sunbae. Satu hal lagi. Jangan lupa berdoa pada Tuhan dan juga lakukanlah sesering mungkin.”

Yak, bagus! Kata-kata terakhir dokter itu berhasil membuat kami dalam keadaan yang aneh selama perjalanan pulang. Lakukanlah sesering mungkin? Yeah, right!

**

Ah, kepalaku sakit. Aku benci kalau harus bangun dalam keadaan hang over seperti ini. Inilah alasan kenapa aku tidak minum minuman beralkhohol. Kopi pun baru bekerja beberapa saat untuk mengembalikan fungsi semua indraku.

“Kopi?” tanyaku pada Eunhyuk saat dia terlihat berjalan melintasiku yang sedang duduk dan memijit kepala di meja makan. Dia melihatku dengan pandangan kaget.

“I..Iya.” jawabnya dengan singkat.

“Kau kenapa?” tanyaku sambil mengangsurkan mug kopi padanya.

“Ti..tidak apa-apa.” Jawabnya lagi gugup.

**

“Oke sebenarnya ada apa ini? Ada apa dengan sikapmu padaku seharian ini?” tanyaku.

“Ti..tidak ada apa-apa.” Jawabnya singkat tidak mau memandangku padahal aku duduk di depannya.

“Tidak mungkin tidak apa-apa dengan sikapmu yang seperti itu padaku.”

I’m fine.”

“Bohong!! Ada apa sih?” tanyaku merebut paksa surat kabar yang sedang dibacanya. Dia memandangku sebentar lalu beralih mengambil majalah di meja.

Wow, pasti ada yang salah dengannya. Biasanya dia akan berteriak padaku atau setidaknya dia akan marah. Bukannya diam atau mengalah seperti ini.

“Aku melakukan kesalahan?” Tanyaku merebut majalah yang dibacanya. “Lihat aku!!”

Dia hanya menghela nafas dan berdiri dari sofa untuk pindah entah kemana. Tepat sebelum dia jauh dari jangkauan tanganku, aku dengan segera meraih tangannya untuk menghentikan langkahnya.

“Oh, aku tahu sekarang apa yang salah!” kataku sambil memandangnya. “Kau seharian ini mengacuhkanku dan bersikap aneh hanya karena kita melakukannya kemarin malam kan?”

Akhirnya dia membalas tatapan mataku dengan tatapan kagetnya. “A..apa yang kau katakan?”

“Sudahlah tidak usah mengelak lagi. Aku tahu itu kan yang membuat tingkahmu aneh seharian ini. Oke, for your information, aku juga merasa aneh karena kita melakukannya untuk pertama kali kemarin malam. Hanya saja bisakah kau tidak membuatnya menjadi sesuatu hal yang aneh? Mengingat kita harus melakukannya lagi.”

Kurasa aku melihat guratan merah di pipinya. Dia malu.

“Kalau kau saja menganggapnya aneh apalagi aku? Aku yang memberikan ide ini dan menjadikanku orang paling aneh.” Kataku melepaskan tangannya dan menunduk. Oke, aku malu. Pipiku memanas. “Dan kau tahu, aku sangat benci pagi ini karena aku terbangun dengan kepala sakit karena hang over semalam.”

Dan semua ini salahmu Eunhyuk. Aku harus minum wine lebih banyak dari biasanya agar aku tidak malu dan tiba-tiba saja mundur dari apa yang telah kita lakukan semalam. “Aku berharap kau bersikap biasa saja.”

 

Eunhyuk:

“Hai.” Sapaku pagi itu pada Jieun yang tertidur miring menghadapku.

Dia tersenyum sambil mengerjab-kerjabkan matanya menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang masuk ke kamar kami.

“Apa kegiatanmu hari ini?”

“Kerja seperti biasa.” Jawabnya kali ini dengan mata yang sepenuhnya terbuka. “Kenapa?”

“Bukannya nanti sore Hara mengadakan pesta ulang tahunnya?”

Dia mengangguk. “Kau pasti belum mencari hadiah untuknya. Bagaimana kalau nanti sewaktu makan siang kutemani kau membelinya?”

Dia membulatkan matanya dan terkejut dengan kata-kataku. “Kau kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa.” Jawabku sambil tersenyum. Dia yang tidak percaya dengan jawabanku melipat tangan kanannya, membuatnya sebagai bantalan tangannya dan, mendekatiku.

“Badanmu tidak panas.” Kata Jieun memeriksa suhu tubuhku dengan tangannya.

“Sudah kubilang aku baik-baik saja.”

“Ya ampun, sudah jam segini.” Kata Jieun tiba-tiba.

“Ku jemput nanti di kantor.”

Jieun membalikkan badannya dan bergerak ke pinggiran tempat tidur sambil tetap menjaga agar selimutnya tetap menempel pada badannya. Dengan tetap mengamit selimut, dia mengambil kemeja biru mudaku dan memakainya. “Kau ganti parfum ya?”

“Iya. Kenapa? Kau suka?”

“Aku lebih suka parfummu yang lama.” Jawabnya sambil berjalan memunguti pakaiannya dan berjalan menuju kamar mandi.

“Bagaimana? Aku rasa kita semakin baik saja.”

“Hah? Maksudmu?”

“Aku mengalami banyak kemajuan kan? Tidak lagi membuat pagimu menjadi eum aneh.” Kataku dengan cengiran dan berharap-harap cemas akan jawabannya.

“Oh, itu. Iya. Kau semakin baik saja. Tidak lagi pergi meninggalkanku tidur sendirian di pagi hari setelah kita melakukannya.” Jawabnya menghilang di kamar mandi.

-Tbc-

ps from admin: dear, Kei-ssi. Semoga kamu nanti mengkonfirm kalo ada marriage life dan diatas rating seharusnya kalo mau buat fict semacam ini lagi ya.
Biar kita gak kelabakan untuk contact kamu. 

29 thoughts on “Hey, I’m Your Lady [part 3]

  1. Waw seru, sepertinya eunhyuk oppa dan jieun hubungan sdh sedikit membaik, meskipun eunhyuk oppa msh sk kepikiran dgn Yejin. Smg nanti dgn ada nya anak membuat hubungan mereka semakin harmonis. Ditunggu author part selanjutnya. Thanks

  2. annyeong .. Aku reader baru . Hmm.. Sepertinya mereka (eunhyuk-jieun) udh mulai membaik hubungannya . Tapi apa mereka bener” suka satu sama lain? Hehehe.. Oh iya, sepertinya perlu diberi konflik biar ceritanya lebih bikin penasaran . Good job cingu ! Hwaiting

  3. baru baca part ini sih,,,
    tapi berharap eunhyuk cepet2 ngelupain yejin,,,,trus jatuh cinta ma istrinya,, sebelum istrinya capek n ninggalin dy y chingu,,, *puppy eyes*

  4. For admin :
    ini kei ^^
    dan aq maw mnta maaf bwad lupa g nyantumin married-life *bows*
    (kayakny) other parts g akan ad lagi deh…

  5. Admin,ini kei ^^
    dan aq maw mnta maaf bwad lupa g nyantumin married-life *bows*
    (kayakny) other parts g akan ad lagi deh…

      • iyaaa,ini eunhyuk aka hyukjae
        entah knp aku lebih suka manggil dy hyukjae
        lebih dekat gt.haaaaaa

        Eunhyuk di mata aku tipe2 laki-laki kyk gini
        makanya aku pakai dy buat ja cast

      • hahaha
        tapi iya juga yah dibalik ke-konyol-an dia, kayanya dia tipe pecinta seperti ini
        aku juga sering bayangin gini kei, tp berhubung aku reader sejati, jd aku selalu menanti ada author yg sepemikiran, haaaaaaaaa ahirnyaa ya uri hyukjae xD

  6. woaaaaah
    ahirnya ada perkembangan :)
    hehehe
    aaaaaah hyukie kmu ber hang over ria euy xD
    eunhyukaaaaaa kayanya kamu demen yah melakukan melakukan LOL
    eciye lah jieun haha
    kependekan nh kei
    ayo panjangin :)

  7. hyuk y udah mendingan nih,,, udah baik k jieun y n udah ngelakuin hubungan suami istri walaupun d awal berhubungan tetep jieun y ditinggal gt sedih baca y,,, tp lumayan sikap hyuk y udah berubah……
    Lanjut ah…..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s