The Number 2

Author: Kei
Main cast: Kamu, Yesung, Han Inhyeong
Rating: U
Genre: Angst
Ps:
Heihooo~~
Aku sedang mencoba untuk membuat angst. Hope you’ll like it ^^

**

Aku berdiri tegap menatapnya tanpa mencopot kacamata hitam favoritku. Dia terlihat seolah-olah tersenyum mendapatkan kunjungan dari teman lamanya ini. Ah tidak, bukan teman lama tapi rival seumur hidupnya.

“Hei, In hyong-ah!” sapaku. “Kau pasti sudah tahu tujuanku kemari kan?” tanyaku retorik.

Aku tahu dia pasti menertawakanku, seperti biasanya kalau aku datang dan mempertanyakan tingkah anehnya selama ini.

“Kau ini kenapa tidak pernah puas sih? Kau selalu menempatkanku di posisi kedua. Entah dalam bidang akademik ataupun dalam pergaulan. Sejak SD sampai kuliah dan itu bukan jangka waktu yang sebentar, In hyong-ah.”

Aku menghela nafas sebentar sebelum melanjutkannya. “Aku sudah pindah dari Korea dan sekembalinya aku kemari kau tetap memperlakukanku seperti ini? It’s been more than 5 years, girl. Aku benar-benar tidak habis pikir denganmu. Apa yang membuatmu selalu ingin mengalahkanku? Bukankah kita dulu berteman baik?”

“Kau sudah berhasil membuatku menjadi nomer dua selama bertahun-tahun dan apakah kau ingat apa jawabanmu sewaktu aku bertanya mengapa kau melakukan ini semua kepadaku? Kau tersenyum mengejek sambil berkata hanya karena kau ingin. Kau bilang kalau aku ini adalah mainan terbaikmu sama seperti professor Moriarty yang selalu mengganggu Sherlock Holmes.” Kenangku sambil memandang nanar ke arahnya.

Dia hanya terdiam mendengar semua perkataanku yang seakan-akan itu semua sudah diprediksi olehnya.

“Sekarang aku sudah ada disini. Sudah lebih dari satu tahun kau kembali kesini dan bertemu dengan laki-laki yang dulu sangat kucintai. Kalau kau masih ingat dia pacarku sewaktu kuliah, sebelum akhirnya tahun ketiga aku pindah ke Amerika, yang kau bilang kalau dia aneh tapi menurutku dia manis? Kami bertemu dan akhirnya bertunangan. Dulu kami putus karena aku merasa tidak aman dengan hubungan jarak jauh. Kau tahu kan aku tipe orang yang sedikit pencemburu dan sering tidak merasa aman?” kataku sambil merapatkan jaket model long john karena tiupan angin yang tiba-tiba datang.

“Aku kira kau tidak mengenalnya. Tapi mungkin karena aku ini mainan favoritmu jadinya kau mau tidak mau mengenalnya ya?” Tanyaku miris. “Iya, namanya Yesung oppa. Suaranya sangatlah merdu dan dia juga pekerja keras. Bersikap manis walaupun kadang sombong dan sering berlaku aneh. Orang-orang sering mendapatinya mengganggu tapi aku selalu menganggapnya lucu.”

Aku tertawa membayangkan wajah Yesung oppa saat kami berpacaran dulu. Dia sering membuat wajah aneh saat aku merajuk ataupun kesal dan dia juga sering menggenggam tanganku secara tiba-tiba dan membuatku merasa bagian penting dari hidupnya.

“Dia laki-laki yang baik. Setia dan penyanyang. He’s totally my type.” Kataku lagi menyombong. “Dia sangat patuh dengan orang tuanya, dia juga baik dengan sodara laki-lakinya, dan aku kira dia akan menjadi calon bapak yang baik bagi anak-anaknya kelak.”

“Dia orangnya sangat memperhatikan detil. Dia tahu makanan yang disukai oleh setiap orang sehingga dia disenangi. Dia juga seorang penghafal yang baik. Baik ulang tahun, anniversary, maupun wajah dan nama orang lain. Tapi kau tahu apa?” tanyaku mulai sesenggukan menahan air mata. “Dia ingat ulang tahunmu bukan ulang tahunku. Dia ingat makanan favoritmu bukan makanan favoritku. Dia ingat kau suka es krim vanilla bukannya gula-gula kapas yang sangat ku suka.”

“Kau selalu berhasil menjadi nomer satu dan mengalahkanku termasuk di hatinya.”

Aku sudah tidak sanggup menahan air mata ini. Aku menangis sejadinya di depannya. Dia tidak mengatakan sepatah kata apapun ataupun berbuat sesuatu untukku.

“Kau jahat Han In hyong!! Aku tidak pernah berbuat jahat padamu lalu kenapa kau selalu mengikutiku? Kau masuk ke sekolah yang sama denganku disaat kau bisa masuk ke sekolah yang lebih baik dari itu. Kau merebut semua perhatian dariku dan sekarang kau telah merebut hati Yesung oppa. Laki-laki yang masih dan selalu kucintai bahkan sampai sekarang. APA SALAHKU, IN HYONG-AH??” teriakku. Aku tidak peduli lagi dengan hujan gerimis yang membuat sepatu boot dan jaketku basah. Aku tidak peduli dengan apapun demi untuk sebuah jawaban.

Kembali dia hanya terdiam tidak menjawabku padahal aku telah berjongkok di depannya tanpa payung.

Aku mungkin terlihat sangat menyedihkan. Sangat kontras sekali sewaktu aku memutuskan pertunanganku dan Yesung seminggu yang lalu. Aku memakai baju terbaikku dan memakai topeng terjahatku untuk memutuskan pertunangan impianku karena perempuan ini. Ya, karena perempuan ini telah menjadi bagian paling penting yang tidak tergantikan, bahkan untuk si nomer dua sepertiku, di dalam hati Yesung.

“Kau tahu betapa menyakitkannya di saat semua orang telah menyelamatimu dan kau tidak mendapatkannya dari seseorang yang sangat kau cintai? Kau tahu bagian terlucunya apa? Yesung oppa tidak ingat sampai ommanya yang tidak sengaja menyingung sewaktu aku bertamu ke Handel and Gratel satu minggu kemudian. SATU MINGGU.” Kataku miris. “Sebegitu tidak signifikannya kah aku di dalam hati dan pikirannya?”

“Dia mengingat kalau kau suka bimbimbab, kau suka strawberry cheese cake, dan juga naik gunung. Dia ingat kalau kau benci serangga, warna hitam, anak kecil, dan kau selalu lupa membawa lip balm sehingga dia selalu menyiapkannya di dashboard mobilnya hanya untukmu.” Kataku sambil menghela nafas dan terduduk di sampingnya.

“Kau sangatlah beruntung bisa mendapatkannya.”

Aku terus memandanginya tanpa kedip mengharapkan sebuah jawaban berupa gerakan ataupun kata-kata. Tapi sayang aku tidak mendapatkan apapun.

“Dan aku sangat bodoh berpikir bahwa aku bisa merebutnya darimu.” Kataku lirih sambil menghapus air mata dengan jari tangan.

Aku berusaha berdiri dengan sisa tenaga yang kumiliki. Aku berusaha sebisa mungkin merapikan bajuku dan menggoyangkan kepalaku memperbaiki penampilanku. Aku tidak mau terlihat menyedihkan di saat aku menyampaikan penghormatan pertama dan terakhirku pada rival seumur hidupku.

“Terim kasih untuk segalanya, Han In hyong.” Kataku sambil tersenyum dan memakai kembali kacamata hitamku. “Sedikit saran untukmu, jangan bawa hati dan pikiran Yesung oppa bersamamu ke surga. Kasihan dia tidak bisa kembali menjadi manusia normal dan menemukan kebahagiannya. Aku tahu kalau kau itu sangat egois tapi tidakkah kau kasihan melihat keadaan Yesung oppa?”

2 thoughts on “The Number 2

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s