Laters

Park Jungsoo

 

Kali ini, kau hanya dapat tersenyum bangga. Melihat pemilik punggung yang sedang kau tatap dengan cermat, sedang mondar-mandir sibuk mengetik segala sesuatu yang diperlukannya. Dia semangat. Dan kau bahagia akan hal itu. Betapa kau mencintainya, bahkan bangga pada dirimu sendiri setelah berhasil memilikinya.

 

Kau berjalan pelan menuju arah dapur. Mengambil satu bungkus teh instan, untuk dirinya yang terlihat lelah akan pekerjaannya. Kau menyeduhnya dengan hati-hati, tidak ingin ada kecacatan dari segala sesuatu yang ingin kau berikan untuknya.

 

Lalu membawanya kesebelah lelaki yang kau cintai, wajahnya lelah, ia terlihat kurang tidur. Dengan manjanya, kau menaruh cangkir beraroma teh hijau kesebelahnya, dan memeluk tangan kekarnya.

 

“Sebaiknya kau tidur, oppa..” ucapmu tersenyum, dan kau hanya mendengar dengusan nafas tak berdaya yang ia keluarkan.

 

“Pekerjaanku masih banyak. Kalau belum selesai.. aish. Jinjja!” Dia merutuk dirinya sendiri. Dengan pelan, kau memijit satu persatu anggota badannya yang lemah. Lengan, bahu, bahkan jari-jemari kakunya secara bergantian. Kau melihat lelakimu menikmati hal itu. Lelaki yang dicintaimu ini, telah berubah menjadi seorang pengusaha besar. Satu investasinya, ada di SM Entertainment, tempat dulu ia bekerja dan menyimpan segudang memori indah bersama dua belas adiknya. Lelaki tertua di Super Junior, Leeteuk. Kau mengingat, betapa ia sibuk saat itu. Betapa ia mencoba membagi waktu untukmu dan pekerjaannya.

“Akan kutemani kau tidur.” Ucapmu pelan. Tak sanggup melihat matanya yang sayu, tubuhnya yang meringkuk bungkuk menulis dan mengetik hal-hal penting dipekerjaannya, “..aku tak mau melihatmu sakit nanti, oppa.”

 

“Pekerjaanku..”

 

“Nanti ku kerjakan sebisaku.” Ucapmu sambil menyodorkan teh hijau yang kau buat. Ia meneguknya perlahan hingga benar-benar habis. Wajahnya terlihat menikmati, meresapi aromanya yang membuat dirinya tenang. Lalu kau merangkul punggungnya, untuk segera pergi kekamarmu. Kamar berwarna putih susu yang kau dan dia pesan saat sebelum pernikahanmu terlaksana. Corak-corak merah marun tercecer disegala perlengkapanmu, lemari, laci, bahkan kepala tempat tidur. Dia terlalu tahu kecintaanmu pada warna gelap gotik itu.

 

Lelakimu mulai duduk diujung tempat tidur, dan kau mendorong dada bidangnya untuk segera mengistirahatkan diri. Kau terlalu takut melihatnya sakit. Dia menikmati waktu istirahatnya, setelah kau menyelimutinya dengan selimut berwarna sama dengan kepala tempat tidur yang ada diatas kepalanya. Kau duduk disebelah tubuhnya yang sedang tertidur. Ia manis. Tampan. Terlihat lebih karismatik ketika tidur terlelap.

 

“Gomawo, jagiya.” Desahnya, lebih tepat berbisik. Kau tersenyum dan mencium dahi lelakimu, lalu beranjak, “..anything for you, oppa..”

 

“hey, mau kemana?” tanyanya sambil menarik lenganmu setelah kau beranjak akan pergi. Melihatnya, lebih baik ia tidur sendirian dan tidak boleh diganggu. Wajahnya menerawang padamu, ia benar-benar tulus untuk mengatakan jangan pergi pada tatapan matanya.

 

“Kekamar Sahye, memastikannya. Ia suka terbangun malam-malam begini, wae?” tuturmu. Leeteuk tersenyum, lalu melepaskan genggaman kerasnya dilenganmu.

 

“Jangan lama-lama. Aku ingin tidur denganmu.” Kau tertawa pelan, dia juga. Lalu kau mengangguk sebisamu, dan melangkah menjauh dari dirinya, pergi ke kamar anakmu yang masih kecil. Ia akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah dasar tahun ini. Kau berjalan sangat pelan, tidak ingin menimbulkan suara apapun untuk mengganggu tidur kedua malaikatmu.

 

Diam-diam, kau menerawang ke masa lalu. Betapa kau.. sejak itu, hingga saat ini, kau mencintainya. Kau mencintai Leeteuk, tanpa perhentian dalam hidupmu.

 

**

 

Kim Heechul

 

Pagi itu menjadi pagi terindah untukmu. Lelaki berwajah manis itu memberikan sebuket bunga diawal pagi milikmu, juga awal tahun yang akan kau pijaki nanti. Ya, pagi ini, kau bertambah usia. Dan lelaki itu, begitu romantis dihadapanmu. Setiap harinya.

 

Heechul, lelaki itu bernama. Kau menggelayut manja dipelukannya. Melihat kesekelilingmu, warna-warni kota metropolitan Seoul, dan bising sana-sini tak beraturan masuk kedalam telingamu. Kau menikmati hal itu, jika kau berada disampingnya.

 

Ia sedang tidak sibuk mengurus pekerjaannya, itu waktu yang langka. Kau benar-benar harus menikmati hal ini. Mengingat, lelaki cantikmu ini memiliki management baru, hampir setara dengan Cube. Lelakimu pintar membuat hal baru. Kau bangga akan hal itu.

 

Kali ini, nama lelakimu sering disebut sebagai seorang pengusaha besar diseluruh dunia. Bahkan disetiap anak buahnya menang dalam pertandingan chart musik yang dinamakan Mutizen, atau Inkigayo, namanya disebut disepatah-duapatah katanya. Kau memikirkan hal itu cermat, lalu kembali mengeratkan pelukanmu ditubuhnya. Angin musim gugur yang kau rasakan, menerpa tubuhmu yang sedang berdiri diluar balkon.

 

“Hey, waeyo?” ucapnya sambil terkikik, merasakan pelukanmu yang semakin erat saja. Kau tersenyum dalam dekapan dadanya yang hangat, sambil memegang juga buket bunga merah mawar yang ia berikan pagi hari tadi, sebangun dari tidurmu.

 

“Gomapta, oppa..” ucapmu menutup mata, merasakan belaian kasihnya dirambut emas bergelombangmu.

 

“kau sudah mengatakannya berkali-kali, dan aku tidak suka hal yang berulang-ulang.” Ucapnya kencang, tapi kau malah menganggapnya lelucon. Oh, Heechul memang seorang yang dingin, tapi hangat untukmu. Tanpa alasan jika kau menganggap itu adalah lelucon pagi untuk hari ulang tahunmu.

 

“Tapi kau suka ciumanku yang berulang-ulang.” Tuturmu menggoda, lalu melepaskan pelukanmu dan pergi berlari kearah pintu dan keluar menuju dapur.  Mendengar suara derap langkah lelakimu yang kencang mengejarmu, kau malah semakin antusias untuk mempercepat langkah kakimu.

 

“hey, aish! Sejak kapan istriku menggoda begitu! Tunggu!” kau terkekeh disela lari-lari kecilmu, lalu menemukan satu sosok lelaki kecil dengan wajah bangun tidurnya, yang membuat kau berhenti berlari, “eomma..” ucapnya pelan.

 

Kau berlutut sambil menaruh buket bunga dari suamimu disebelahnya, kau memeluk lelaki kecilmu sambil menyisir rambutnya dengan jari-jarimu. “hari ini aku sekolah tidak, eomma?” ucapnya pelan dari bibir kecilnya. Kau sadar, ia masih sangat mengantuk.

 

“Ini hari minggu sayang. Kau tidak sekolah hari ini.” Ucapmu sambil membawanya duduk dipangkuanmu. Kau duduk di dinginnya lantai kayu, tapi tidak. selama lelaki kecilmu memelukmu dengan erat, kau tidak merasakan dingin apapun pada tubuhmu.

 

“Seungwonnie! Hari ini hari ulang tahun eomma-mu. Beri ucapan padanya!” kau menoleh kearah belakang asal suara favoritmu, Heechul menatapmu sinis tapi tertawa. Kau kembali menatap lelaki kecil yang manja dipelukanmu. Satu detik, kau terkejut dengan perlakuannya, Seungwon, lelaki kecil berparas mirip dengan suamimu, mengecup bibirmu tiba-tiba.

 

“Saengil chukkae, eomma!” ucapnya bersemangat. Kau menggelitik badannya hingga ia menggelinjang, dan tersenyum terharu disela-sela waktu yang kau jalani, “gomawo sayang.” Katamu sambil mengecup lagi bibir kecil Seungwon.

 

Waktu terasa terhenti ketika Heechul duduk bersila disebelahmu, dan memajukan wajahnya, “aku juga mau, jagiya..”

 

Kau mendengar suara nakalnya, lalu mendorong wajahnya sebisamu, “..bagianmu..” Kau mengerling nakal, memberi satu arti pada tatapanmu, “..nanti malam.”

 

**

 

Hankyung Tan

 

Restoran yang ia bangun beberapa tahun lalu itu semakin ramai. Melihat waktu menunjukkan pukul 12 siang, dan pada waktu itu juga, orang-orang yang bergelut dipekerjaannya masing-masing kelaparan, otomatis tempat miliknya juga milikmu itu benar-benar padat.

 

Kau berpikir, apa seharusnya kau harus menambah lagi para pelayan direstoran milikmu ini?

 

“Apa yang kau pikirkan?” suara yang mengagetkanmu itu membuatmu tersenyum manis kearah lelaki yang memilikimu. Dia melingkarkan tangannya diperutmu yang kecil. Kau membalikkan badanmu, dan memeluknya erat diruangannya. Ia sedang berada diruangan kecil yang sengaja dibangunnya untuk seorang pemilik restoran ini dan istrinya, yang notabenenya adalah.. kau.

 

“Tidak. Makin lama, orang-orang semakin menyukai restoran kita.” Ucapmu sambil berpikir, “apa sebaiknya… kita menambah tempat lagi?”

 

“Kita memikirkan hal itu nanti.” Ucapnya sambil membawamu duduk disofa bersama. Kau menyandar kedadanya, merasakan sentuhan yang ia buat dikepalamu lembut. Kau memejamkan matamu, berusaha terlelap disituasi romantis yang kau buat sendiri, “..siapa  yang akan menjemput Mei hari ini?” katanya pelan. Kau membangunkan dirimu sendiri, terkejut, dan berdiri sambil menatap kearah bawah, dimana lelakimu sedang menatapmu juga.

 

“Oh, aku baru ingat, gege.” Katamu sambil memukul sendiri kepalamu dengan tangan kirimu. Kali ini, kau sibuk dengan dimana tempat tas selempangmu berada, juga kunci mobil yang akan kau pakai untuk menjemput gadis kecilmu yang sedang bermain ditempat les menarinya, “lima belas menit lagi dia akan keluar.”

 

“Bersama, aku sendiri, atau kau sendiri yang akan menjemput, sayang..” katanya lagi sambil berjalan kearahmu, kau merasakannya dari belakang, ada yang menyentuh kedua bahumu dengan lembut.

 

“Aku saja.” Pintamu sambil bersiap pergi dengan kunci mobil yang ada dijari tanganmu, “oh. I hated this romantic scene when I must leave you, gege..” katamu sambil berbalik dan menatapnya, dan menelusuri lekuk wajahnya dengan jari telunjukmu.

 

“Kita punya banyak waktu berdua. Lebih banyak.”

 

“Banyak?” tanyamu nakal.

 

“Banyak-banyak-dan-baaanyak!” Dan anggukan serta kecupan manis dari bibir miliknya mendarat dibibirmu, “cepat pergi. Aku tidak mau Mei menunggu lama mamanya.”

 

Kau tersenyum, lantas pergi menjauh ketempat parkir. Ya, kau tidak ingin Mei nanti menunggu. Toh benar, waktu miliknya dan milikmu masih sangat banyak. Bahkan lebih dari sebelumnya. Hangeng, suamimu, saat ini, hingga nanti.. akan selalu menjadi milikmu.

 

**

 

Kim Joongwoon

 

Satu hal yang sedang kau lihat dan membuatmu ingin tertawa adalah, tingkahnya yang seperti anak kecil. Kau sedang duduk dibelakang tubuh lelaki dan gadis kecil milikmu. Mereka sibuk melihat-lihat dan memilih sesuatu yang bergerak didalam etalase-etalase bening yang memenuhi ruangan yang sedang kau tempati.

 

“Appa, dia tidak menggigit, kan?” ucap gadis kecil didepanmu yang sedang membelakangimu pada ayahnya. Dia menunjuk kearah satu kura-kura berwarna gelap berukuran besar, dan ayahnya menggeleng.

 

“Tapi itu terlalu besar, Hyena..” katanya sambil mengacak rambut pendek gadis kecil tersebut. Ayahnya menarik Hyena pelan ke etalase disebelahnya, “Kita beli yang kecil saja, bagaimana?”

 

Kau menggeleng pelan. Mengingat ketika itu, kura-kuralah yang menjadi satu perantara dimana kau bertemu dengan anggota Super Junior bersuara emas itu. Kaulah yang menemukan ddangkoma ketika ia hilang dan hampir diambil oleh seorang anak kecil. Entahlah, kau hanya menyimpan hati padanya, dan ia juga begitu. Hingga saat ini, namanya takkan terhapus dari hatimu.

 

Hingga kali ini, kura-kura lagi yang menjadi pewarna dihidupnya. Ya, Hyena berhasil menyelesaikan tes pianonya tadi siang. Hasilnya tidak buruk, A- untuk nilai seorang gadis kecil yang berusia lima tahun. Kau bangga. Gadis kecilmu itu sudah berprestasi di usia dini-nya, dan suamimu berjanji membelikan kura-kura dinilai hebatnya itu. Mengingat, Yesung –suamimu- yang membawanya kedunia musik. Dengan alasan, supaya ketika Hyena besar nanti, ia akan mengiringi alunan musik dan menyetarakannya dengan suara emas suamimu.

 

Cih. Kau berpikir, betapa suamimu bodoh atau bagaimana.. Umur dewasa yang dipegangnya, apa masih menjamin suara indahnya?

 

Kali ini kau menunduk. Kau mencintai, bahkan merindukan suaranya. Suara emas yang membuatmu luluh akan permintaan lamaran pernikahan beberapa tahun yang lalu.

 

“mm.. menurut appa bagaimana?” Hyena melirik manis kearah ayahnya. Kau hanya dapat melihat mereka yang sedang mengobrol asik. Sepertinya, acara obrolan mereka asik sekali. Kecemburuan memuncak dirasakan dirimu, kesibukan Yesung pada pekerjaannya, membuatmu tak punya cukup waktu untuk dihabiskan berdua seperti saat itu, saat kau dan dia berdua disatukan dalam paduan suara gereja.

 

“Kita beli yang kecil, ya? biar kau bisa menjaganya sampai dewasa.” Suruh Yesung pada Hyena. Kau tersenyum. Ayah dan anak ini.. oh. Suamimu dan anakmu ini, jarang sekali disatukan dalam satu waktu.

 

“Yeaaay! Gomawo appa!” Hyena menjingkrak, lalu berlari menuju sang penjaga toko, untuk mengambil satu dari banyak kura-kura yang ada dalam etalase bening itu. Yesung tersenyum, dan terlihat berbalik kearahmu. Duduk dan merangkulmu, menarik tubuhmu untuk mendekat dan berada dalam dekapannya. Kau merasa nyaman. Kau bahagia.

 

“Hyena senang sekali mendapat kura-kura, oppa.” katamu sambil berusaha menyadarkannya akan masa lalumu yang dilalui bersama ddangkoma milik suamimu.

 

“Aku senang sekali memilikimu.” Tiba-tiba kau mendapat kecupan kilat dipipimu, yang memerah seketika. Ada rasa malu yang menjalar pada  dirimu, dimana ia tak pernah tahu tempat jika menciummu, “..oppa!”

 

“Kau kenapa? Daritadi tidak ikut berpartisipasi?” tanyanya. Kau semakin menyandarkan tubuhmu kepundaknya, berusaha rileks karena sepertinya ada yang janggal padamu. Tangannya beralih ke lenganmu, dan mengelus lembut.

 

“Dulu, aku diduakan oleh ddangkoma-mu. Sekarang, aku juga akan diduakan oleh anakku sendiri.”

 

“Tapi aku dan kau bersatu karena kura-kuraku, kan?” Kau, yang tadinya merajuk, berubah berseri. Setelah suamimu membuka mulutnya lagi, “..kalau kura-kuraku mati, aku bisa membelinya lagi. Tapi kalau aku kehilanganmu, aku harus bagaimana?”

 

Setelah itu, rasanya tubuhmu melayang entah kemana. Kau, juga akan mati jika ia tak ada disampingmu.

 

**

 

Kim Youngwoon

 

Kau merasakan suasana hening yang cukup menyita waktu. Setelah sibuk dengan memindahkan banyak barang, kali ini kau terpaku pada satu sudut yang membuat mata suamimu sedikit basah. Kau, yang lebih pendek darinya, hanya dapat tersenyum bangga. Sekarang, lelaki yang dibicarakan paling pantas menjadi seorang ayah, adalah suamimu yang akan selalu menemanimu ketika kau membutuhkannya, seperti yang dijanjikannya di altar beberapa tahun yang lalu.

 

Kau sedang berdiri disebelahnya, tiba-tiba ia merangkulmu. Kau mengetahuinya, ia sedang menangis melihat satu figura foto yang berukuran besar didinding ruang tengah, tempat kau memijak. Ya, kau baru merapikan barang-barang yang dulu dibelinya dan berguna untuk mengisi rumah lamanya. Kau, dan suamimu, telah berpindah ketempat yang lebih bagus untuk dihuni, bersama satu anak lelaki kalian.

 

Kau kembali melihat-lihat kesekeliling, tanpa berpindah tempat. Ruangan yang cukup besar ini khusus untuk anak-anakmu nanti. Televisi, sofa panjang, untuk bersantai dan bermain anak-anakmu bersama ayahnya nanti. Lalu kau akan cemburu jika anakmu antusias untuk menonton bola bersama ayahnya. Kau tertawa dalam hatimu, betapa hidupmu semakin berwarna saja. Kau merasa, Tuhan memberi banyak keajaiban yang tak henti-hentinya untukmu.

 

Kau berniat untuk pergi kekamar anakmu yang sedari tadi terlelap dalam tidurnya, dari mulai perjalanan menuju rumah barumu. Tidak. Kau terhenti di satu langkah pasti, karena suamimu yang berbadan tegap itu, memelukmu pelan. Dia.. terisak.

 

“Jagiya..” katanya. Kau hanya dapat membelai lembut kepalanya, juga punggungnya. Kau melirik sedikit apa yang membuat lelakimu seperti ini. Tiga foto yang sengaja dicetak besar, fotomu dengan gaun pernikahan terindah juga dirinya yang terbalut tuxedo hitam tampan karismatik, fotomu dengan baju santai bersama anakmu yang masih berumur tiga tahun, juga.. foto dirinya bersama empat belas member lain Super Junior yang mungkin dirindukannya.

 

Suamimu terlalu sensitif jika dipautkan dengan Super Junior. Betapa ia harus pergi wajib militer, lalu rekan-rekan lainnya pergi melakukan kegiatan yang sama secara bergantian. Mungkin, hal-hal seperti saat keempat belas member bersama, akan menjadi moment yang paling indah dalam hidupnya, dan kau tahu itu.

 

“Oppa..” ucapmu tak berdaya, “..wa—waeyo?”

 

“Gomawo sudah menungguku..” Eh. Kau diam. Kau benar-benar tidak mengerti, apa yang membuatnya seperti ini. Sedetik dua detik, kau hanya dapat membeku dalam pelukannya. Setelah ia menarik tubuhnya dari tubuhmu, dan mengangkat satu tanganmu untuk dikecupnya, senyum bahagiamu menetralkan suasana.

 

“Super Junior menungguku. Aku datang, dan mereka harus pergi bergantian. Aku merindukan mereka saat mereka pergi wajib militer, dan ternyata, menunggu itu melelahkan. Mungkin anggota yang lain juga merasakan sama akan hal itu, ya?”

 

“Kau merindukan mereka ya, oppa?” katamu sambil tersenyum, lalu dibalas anggukan, “..hey, lagipula mereka menunggumu dengan tulus, kok!”

 

“Aku juga membuatmu menunggu selama bertahun-tahun. Aku.. tadinya ingin menikahimu sebelum aku masuk ke Super Junior. Maaf jika aku tak pernah ada disaat kau butuh. Maaf jika aku pergi wajib militer dan tak pernah mengirim kabar. Maaf jika aku harus menyimpan erat-erat hubungan kita karena Lee Sooman tidak pernah ingin anak-anaknya memiliki kekasih. Oh, aku punya banyak kesalah—“

 

Kau mendorong dirimu sendiri ketubuhnya. Sebisamu, kau memeluknya dengan tangan kecilmu erat, “I Love you too.”

 

Kau sudah memaafkannya lama, jauh dari waktu ini. Buktinya, kau menerimanya untuk menjadi ayah dari anakmu.

 

**

 

Shin Donghee

 

Choco pie, macarons, juga makanan ringan yang lain sudah habis dilahapmu. Oh, entah apa yang mendorongmu untuk memakan banyak makanan ringan seperti ini. Tapi yang jelas, hal ini hampir sama seperti yang dirasakan olehmu saat kau ngidam di kehamilanmu yang pertama setahun yang lalu. Kau merasakan angin Seoul berhembus kearahmu, dan kau hanya dapat mengeratkan selimut agar bayi yang kau gendong, tidak kedinginan.

 

“Oppa, tidak mau coba?” katamu menawarkan sisa chocopie yang tinggal satu. Dia menggeleng keras, dan memalingkan wajah. Seperti benci terhadap chocopie yang kau tawarkan.

 

“Aish jinjja! Istriku rakus sekali!” katanya membuatmu tertawa. Ini –mungkin- hanya siklus pengembalian dirimu. Toh tiga bulan yang lalu, kau baru melahirkan anakmu. Jadi, kau juga tak bisa heran pada dirimu sendiri yang tak pernah puas memakan cemilan. Tapi, kau melampiaskan heranmu pada suamimu yang sekarang terlihat lebih kurus darimu. Dia malah benci memakan hal-hal seperti itu sejak kau hamil. Kata orang, itu biasa.

 

“Oppa, ayolah coba makan! Temani aku. toh kalau kau makan juga takkan membuatmu kembali gendut seperti dulu, kok!”

 

“Kau tahu, sulit untuk mengecilkan perutku ini, jagi..” katanya sambil memukul-mukul perutnya dengan telapak tangannya. Sepertinya, ia tak rela jika perutnya kembali menggembung dan melebar seperti pertama kali ia masuk ke grup mendunia bernama Super Junior, “dan kau…”

 

Shindong –namanya, lelaki paling berisi diantara lelaki-lelaki lain di Super Junior itu menunjukmu, dan mengisyaratkan dimatanya bahwa dia benar-benar mengejekmu. Kau menatapnya sinis, “APA! AKU GENDUT?”

 

“Ne!”

 

“KAU BENCI JIKA AKU GENDUT?!” kau merajuk, lalu pergi meninggalkannya sendirian dikursi taman. Betapa kesalnya dirimu, dikatakan gendut secara tidak langsung, padahal kau sendiri yang membawa beban anakmu selama sembilan bulan lamanya. Padahal, kau berencana untuk melakukan diet nanti. Tetap saja kau kesal, mentang-mentang suamimu lebih kecil darimu.

 

“hey, hey. Kenapa merajuk?” Tangan besar Shindong menggenggam erat lenganmu. Kau terpaksa menghentikan langkahmu, merasakan lelah dilengan satunya membawa anakmu yang masih kecil sekali. Wajahmu mengisyaratkan kekesalan yang sangat dalam, dan lelakimu hanya tersenyum menggoda dengan tatapan mata indahnya.

 

“SIAPA YANG MERAJUK!” katamu kencang, “..kau tidak merasakan lelahnya aku membawa anak kita selama sembilan bulan, sekarang kau malah mengejekku gendut. Oppa, nanti juga aku kurus huh! Kau benci aku gendut seperti ini?”

 

“Yang bilang aku benci saat kau gendut siapa, jagiya…” Shindong meluncurkan bibirnya dipipimu, lalu mengambil bayi kecil nan cantik kedalam tumpuan tangannya. Kini kau bebas meregangkan tanganmu, “Aku malah semakin cinta padamu jika kau makan seperti tadi.”

 

“Jadi kau hanya cinta padaku saat aku makan?” katamu menggoda, dan suasana tegang cair pada saat itu. Kau tersenyum, dan ikut menghadap kearah bayi yang sedang digendong ayahnya.

 

Shindong berbisik pada bayi kecil yang sedang tertidur digendongannya setelah itu, “..cantik, jika kau suka makan, appa tidak melarang kok!”

 

**

 

Choi Siwon

 

Siwon namanya. Ia sibuk kesana kemari bersama kereta belanja yang didorongnya. Semua mata terpaku pada ketampanannya yang jelas-jelas sudah menjadi milikmu selamanya. Jelas, lelaki milikmu ini tidak memakai perlengkapan apapun seperti masker, syal, atau mantel yang biasa ia pakai saat masih bersama Super Junior ketika itu. Kau malu, atau bangga, rasa itu bercampur jadi satu dan mengoyak tubuhmu menjadi rasa lelah yang sangat menusuk. Bagaimana tidak? Super Junior Siwon, yang ketika itu mendapatkan gelar Prince of Manner dan lelaki yang memiliki karisma paling tinggi diantara yang lainnya, kini berada didalam supermarket bersamamu.

 

Semua orang, terutama wanita-wanita dan gadis-gadis berusaha berfoto dengannya. Dan kau.. jelas dicampakkan.

 

Belum lagi setelah ia menikahimu dan meminta ijin untuk melangkahi ketiga hyungnya, Sungmin, Eunhyuk dan Donghae, lalu kau positif hamil, oh. Semua berubah. Siwon berubah menjadi saaaangat protektif padamu. Bahagia, juga risih.

 

Dan kini, Siwon sibuk berada dirak-rak perlengkapan bayi. Kau mengandung 2 bulan, ada calon Choi Junior yang akan membuat keluarga kecilmu menjadi berwarna. Siwon, yang terlalu kaya atau terlalu berlebihan, mengambil dua kereta bayi berwarna biru dan pink sekaligus, baju-baju bayi berwarna-warni dan tak terhitung berapa jumlahnya. Katanya, siap-siap jika kau nanti mengandung anak perempuan atau laki-laki. Kau terenyuh. Dia antusias menjadi seorang ayah.

 

Tapi tidak untuk hal ini. Sedari tadi siang, setelah ia menyelesaikan pekerjaannya menjadi model di satu CF minuman, ia pulang menjemputmu. Lalu mengoceh tentang ‘bagaimana bayi kita nanti’ tanpa henti, hingga waktu menunjukkan pukul enam malam, dia masih sibuk memilah-milih perlengkapan bayi yang sebetulnya tidak diperlukan saat ini. Toh, junior Choi yang tertanam disetiap nafasmu belum tentu akan keluar, kan? Ini masih berumur dua bulan.

 

Satu hal lagi, kakimu sudah tak kuat lagi untuk berdiri mengikuti antusiasme-nya yang tinggi. Didalam tubuhmu ada calon nyawa, dan seharusnya, suamimu tahu akan dirimu yang wajib memperbanyak waktu istirahat.

 

“Oppa..”

 

“Kotak makan untuk bayi laki-laki kita harus warna putih atau biru? Oh! Bagaimana dengan bayi kita yang perempuan? Disini ada warna oranye dan pink?” katanya tanpa henti. Kau menghela nafas, lalu menunduk. Rasa kram yang menusuk-nusuk terus betismu benar-benar tidak bisa dihalau lagi. Lelakimu tetap begitu dari dulu. Dia tidak sadar atau bagaimana, kakinya tidak kuat seperti kakimu.

 

“Oppa, ayo kita makan dulu. Kakiku sakit sekali..” ucapmu mengeluh tak tahan, sambil memijit pelan betismu.

 

“Oh, gwaenchanayo?” katanya sambil mendekatimu. Kau tak tahan lagi, kesal setengah mati. Dia egois atau bagaimana, masak baru kali ini ia menanyakan ‘gwaenchana’ padamu!

 

“Pikir sendiri!” Kau berjalan menuju luar supermarket, dimana di mall yang sedang kau pijak, ada restoran cepat saji. Yang pasti, kali ini, kau juga lapar. Kau meninggalkan Siwon bersama kegiatan ‘menyebalkan’nya itu. Membiarkannya sibuk akan khayalannya dengan bayimu nanti. Mungkin dia sedang sibuk membayar dan juga kesusahan untuk membawa segitu banyak perlengkapan yang ia pilih sendiri.

 

Kau memesan satu porsi nasi dan ayam, juga air putih, simpel. Yang tidak merusak calon bayimu, karena mulai saat ini hingga nanti, kau harus benar-benar teliti dengan apa yang kau makan. Kau duduk dikursi kosong yang tersedia, lalu menidurkan kepalamu yang juga berat. Berpikir, betapa lelakimu menyebalkan sekali.

 

Waktu berjalan tak terasa. Kau menghabiskannya dengan mengistirahatkan diri. Tak lama kemudian, suamimu yang memiliki paras tampan itu mendekatimu, duduk desebelahmu, dan menarikmu ketubuhnya.

 

“Sakit?” tanyanya. Kau mengangguk tak berdaya. Bagaimana lagi? Tingkahnya terlihat kekanakkan sekali disupermarket tadi.

 

“Oppa.. kita belum membutuhkan itu. Junior Choi belum besar. Kita tidak tahu dia akan perempuan atau laki-laki. Kau berlebihan oppa. Aku lelah..” Kau mengeluh ditubuhnya, memejamkan matamu yang begitu berat. Kau memeluk dirimu sendiri dengan tanganmu, mengelus pelan perutmu, dan sedetik kemudian Siwon memelukmu hangat. Kau menerimanya, menikmatinya.

 

“Aku terlalu berlebihan, ya?” katanya. Ia mengeratkan pelukannya. Kau mengangguk didadanya, dan airmata jatuh dari pelupuk matamu, “..oppa hebat. Kau siap menjadi seorang ayah.”

 

“Tapi aku tak hebat menjaga istriku sendiri.” Bisiknya setelah mengecup puncak kepalamu. Kau tak berkata apapun. Diam. Dan dia kembali memecah keheningan, “..mianhata, itu.. oh. mungkin karena aku terlalu menginginkan bayi kita.”

 

“Jangan diulangi ya, oppa. Aku lelah sekali.” Katamu. Dan tanpa diminta, kedua tangannya mengangkatmu dari dudukmu. Tubuhmu ada digendongannya. Kau sempat menolak, tapi dia terlalu kuat, buktinya dua kantong plastik besar juga dibawanya. Kau, bangga memilikinya. Bukan karena dia kuat, tapi keprotektifannya yang begitu besar untukmu, memberikan kesan sendiri untukmu bahwa Siwon adalah suami yang diinginkan oleh semua wanita.

 

“Aku belum memakan pesanan yang kupesan tadi, oppa..” bisikmu dalam gendongannya. Derap langkahnya memecah kerumunan mall yang menjadikan suamimu menjadi pusat perhatian.

 

“Aku akan memasak untukmu nanti. Percayalah.” Kau tersenyum. Siwon, akan menjadi ayah yang baik untuk anakmu kelak. Dan menjadi suamimu yang paling kau cintai.

 

**

 

Lee Sungmin

 

Bantal, guling, dan juga selimut lengkap ada disekitarmu. Kau berusaha menahan apapun yang mengoyak perutmu. Kau menggelinjang tak karuan. Ini benar-benar tidak bisa dihalau lagi, kau membenamkan wajahmu dibantal sampai menangis. Memeluk perutmu kencang, tak biasanya maag milikmu sesakit ini. Toh, kau tidak memakan makanan yang pedas sebelumnya. Atau bahkan, tidak makan sekalipun. Seingatmu, kau sudah makan malam.

 

Mengingat ini tengah malam, kau membiarkan suamimu tetap terjaga dalam tidurnya. Kau berjalan menuju kamar mandi yang tak jauh dari tempat tidurmu. Pelan-pelan, kau melakukan pemijatan disekitar lehermu sendiri. Dan sesuatu naik dari tubuhmu, kau ingin mengeluarkannya, tapi nihil. Tak ada apapun yang kau muntahkan.

 

Suara-suara muntahan pun kau keluarkan. Walau kau berusaha untuk meredamnya agar suamimu itu tak terbangun, ternyata tidak mudah untuk melakukannya.

 

Kau mencengkram kencang pinggiran wastafel dari marmer tersebut, dan kembali memuntahkan isi perutmu. Tidak bisa juga. Kau lemah tak berdaya, memojokkan diri didinding dan menangis. Kau tidak memikirkan apapun, yang pasti, hanya hal negatiflah yang mengisi otakmu dimalam ini. Kau ketakutan sendiri.

 

Tiba-tiba, satu hal merasuki dirimu. Kau sadar, ini tanda-tanda kehamilan awal yang biasanya terjadi pada seorang wanita yang baru pertama kali hamil. Apa mungkin? Ah. Kau tidak mungkin hamil. Kau tidak percaya, secepat inikah kau akan menjadi ibu dari anakmu?

 

Tapi, apa salahnya untuk memastikan? Kau berjalan sebisamu menuju lemari. Mengingat, Lee Sungjin, dongsaeng paling menyebalkan itu menghadiahkan alat tes kehamilan dipernikahanmu saat itu. Kau bahkan ingin mencacinya ketika kau mendapati namanya dikotak yang berisi alat tersebut. Mungkin Lee Sungjin benar, baru sekarang terpakainya. Lelaki bodoh itu pintar juga, pikirmu.

 

Kau kembali kedalam kamar mandi untuk memastikan. Kau tersenyum. Ada dua garis merah disana. Kau mengelus pelan perutmu, tak percaya. Apa ini waktunya? Waktumu untuk menjadi seorang ibu dari anak-anakmu?

 

Kau keluar dari kamar mandi setelah puas menangis bahagia didalam sana. Lalu duduk dihadapan suamimu yang tertidur sambil tersenyum. Kau menelusuri wajahnya dengan jarimu, terharu. Lelaki yang kau pilih itu, akan menjadi seorang ayah. Ia terlalu manis untuk menjadi seorang ayah, bahkan. Sisi aegyo-nya tetap yang paling juara didunia menurutmu. Kau mengecup pipinya kilat.

 

We have Captain Lee in my tummy, dear.. We have. We will have a captain!” ucapmu seru. Kau tak merasa bersalah pada dirimu sendiri, saat suamimu itu bangun dari tidurnya, dan terkejut melihatmu berwajah pucat dan basah.

 

“Eh, jagiya? Kau—bangun?” ucapnya setengah sadar. Kau mengangguk, “wae? Ada masalah?”

 

“Besok kita kerumah sakit, ya?”

 

“eh? Kau kenapa? Ada masalah? Kau.. Kau sakit?” Suamimu langsung bangun dari tidurnya, dan mengangkat tanganmu untuk kembali tidur di tempat tidur. Dia sibuk mengecek keadaan panasnya tubuhmu. Kau hanya bisa terharu disini, bingung.

 

Dan pada waktu yang tepat, kau memperlihatkan alat yang –dengan bodohnya- diberikan oleh adik iparmu itu. Suamimu terbelalak tak percaya. Menganga, memberi tatapan pertanyaan bahwa itu bukan hal palsu atau bahkan mimpi belaka, “JINJJA?!”

 

“Molla. Makanya besok, kita kerumah sakit, ya?” pintamu. Suamimu mengangguk antusias. Dia memelukmu. Malam itu menjadi terasa sangat istimewa bagimu. Kau, memilikinya sebagai ayah dari anakmu, bahkan Tuhan memberimu kepercayaan jika memang benar kau mengandung seorang kapten kecil Lee yang sering kau sebut disetiap doamu.

 

Lee Sungmin, dia.. akan menjadi ayah. Wow. Kau menerawang, bagaimana nanti? Lelaki manis itu akan memiliki anak kecil yang wajahnya tak jauh persis dengan ayahnya. Kau memiliki jackpot dalam hidupmu, kebahagiaan, keceriaan, disetiap waktu yang akan kau langkahi nanti.

 

“Kalau captain Lee kita ini benar ada..” ucap Sungmin sambil tetap menahanmu dalam pelukannya. Kau menjawab, “..bantu aku menjaganya, ya?”

 

Anggukan pelan Sungmin menghangatkan malam dingin itu. Dan nanti Captain Lee-mu itu, harus tahu, betapa ayahnya adalah seorang lelaki yang paling mencintainya selamanya.

 

**

 

Lee Donghae

 

Kau masih terlelap, dan setengah sadar. Selimut yang tadinya ada dikakimu, beranjak menutupi tubuhmu hingga bahu. Kau tersenyum, dia pasti yang melakukannya. Masih dengan mata terpejam, lelaki yang hanya tertutup celana selutut itu memberikan morning kiss mesra dibibirmu. Dia membelai lembut pipimu, lalu rambutmu yang lurus dan tak beraturan. Kau masih tersenyum.

 

“Yeppeo..” ucapnya. Sadar, dia sudah bangun mendahului dirimu, lalu kembali tidur tepat dihadapanmu. Kau membuka matamu, dan matanya menatap tajam. Mengisyaratkan bahwa dia juga bahagia akan hal yang kau dan dia lakukan. Tangan kanannya membelai terus pipi pualammu tanpa henti.

 

“Gomapta..” tuturmu. Kau menyukai belaiannya, tak ingin melewatkan sedetik pun apa yang ia lakukan padamu. Satu kecupan lagi mendarat dipipimu. Sepertinya, itu adalah hobi barunya.

 

“Lelah, ya?” tanyanya penuh perasaan. Kau mengangguk pelan, dan kembali menarik selimut yang menutupi tubuhmu. Yang kau dengar, hanyalah suara kekehan kecil dari bibirnya, “..salah siapa kau begitu liar tadi malam!”

 

“Oppa yang mulai!” katamu sembari memajukan bibirmu. Kesal, tapi juga senang. Donghae, yang sejak dua hari yang lalu mengucapkan janji sakral di altar bersamamu dan harus melangkahi Eunhyuk –hyung kesayangannya-, mengajakmu ke rumah baru yang kau pesan bersamanya. Bertempat di Mokpo, tempat kelahirannya, dia sudah punya ijin untuk memilikimu seutuhnya. Cubitan kecil dihidungmu berakhir dengan tangannya yang mendorongmu untuk duduk. Lelakimu duduk memelukmu dari kanan, dan kau hanya bisa memejamkan matamu, merasakan hangat tangannya

 

Dia benar-benar menggantikan dinginnya pakaianmu. Sadar, kau hanya memakai lingerie hitam tipis, dan dia berhasil menghangatkanmu.

 

“Gomawo ya, jagi.. Maaf membuatmu lelah, haha!” Serunya.  Kau memukul pelan dadanya yang tak ditutupi apapun, sebal, “..Ish!”

 

Donghae-mu itu beranjak dari tempat tidur yang kau tempati. Kau melihatnya heran, untuk apa ia meninggalkanmu?

 

“Mau kemana?” tanyamu. Berharap ia kembali memelukmu seperti tadi, “..mengambilkanmu sarapan. Tunggu disitu. Jangan beranjak!” Donghae pergi menuju keluar kamar dengan pakaian seadanya. Ia memakai kemeja putihnya asal yang tergantung di lemari sebelumnya. Kau mendengus tak berarti, memberikan tatapan bosanmu kearah layar LCD yang kini tak mengeluarkan suara apapun. Kau menyalakannya dengan satu gerakan cepat, menekan tombol merah yang ada di remote control ditanganmu. Merasa bosan, karena tidak ada yang bisa diajak berbicara.

 

Kau menghela nafasmu bosan, sambil memperhatikan ruangan besar yang terwarna oleh sinar matahari terik yang menembus kaca bening kamarmu. Seoul sudah pagi, tapi kau tidak dapat beranjak karena rasa nyeri menjalar keseluruh kakimu. Mungkin kali ini, kau harus melakukan hal yang aneh atau.. sesuatu yang bisa membuatmu tidak bosan seperti ini. Kau memilih untuk menggenggam IPod-mu, mencari lagu yang pas untuk pagi bosanmu.

 

Kau memilih satu lagunya, lagu favoritmu sejak Donghae menjadi kekasihmu ketika itu. My Everything. Karena lagunya-lah, yang kau dengar saat Super Show diadakan pertama kali di Seoul, kau jatuh cinta padanya.

 

The loneliness of nights alone

The search for strength, to carry on

My every hope has seemed to die

My eyes had no more tears to cry

 

Kau meresapi suara lembutnya, lalu tersenyum disela-sela suaranya. Tadinya, kau cukup dengan volume kecil yang tercipta dari benda kecil itu. Tapi, tidak. Pada akhirnya kau menyimpan IPod berwarna pink-mu diatas satu set subwoffer kecil lengkap yang tersedia diatas meja kecil yang ada disebelah tempat tidurmu. Suara Donghae menguasai kamarmu –kali ini-. Kau memejamkan mata, mematikan televisi, mengingat bahwa kau juga kehilangan seorang ibu ketika kau sedang berada dipuncak bahagiamu menjadi seorang model terkenal.

 

Tak disangka, airmatamu jatuh deras setelah suara suamimu masuk ketelingamu, dan membuat hatimu bergetar karena karyanya.

 

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is yours alone

The only love I’ve ever known

 

Kau terdiam sesaat, bahkan menyetarakan suaramu dengan suaramu. Menyadari bahwa suaramu juga tak buruk untuk didengar. Tapi sayang, Donghae datang dan berjalan kearahmu membawa baki dengan dua piring roti panggang. Kau segera mematikannya, tapi tak sempat. Donghae sudah menaruh bakinya dengan cepat dan kembali ketempat tidur. Dia mencolek lenganmu, untuk kembali bernyanyi. Bahkan mengisyaratkan untuk bernyanyi bersama. Kau mengangguk, dan menatap wajahnya dengan seksama. Mungkin Donghae juga sadar bahwa kau habis menangis.

 

Your spirit pulls me through

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be, My everything..

 

Suaranya membuatmu terenyuh. Kau diam dalam hening. Satu yang kurang dari kebahagiaanmu, ijin seorang ibu yang seharusnya menanti pelukan cucunya setelah kau memiliki anak nanti.

 

“Jagi, kenapa memilih lagu ini?” tanyanya sambil membelai lembut garis matamu, menghapus bekas air mata yang ada diwajahmu, “..ani. gwaenchanaya.” Ucapmu tak jujur. Donghae terlalu tahu dirimu, dia pasti bisa menebak apa yang kau pikirkan.

 

“Ibumu tahu bahwa kita bahagia saat ini. Ayahku juga tahu bahwa kita menikmati waktu seperti ini. Jadi, uljimaya jagiya..” katanya. Kau memeluknya. Suasana romantis yang berubah menjadi haru itu, malah membuatmu menyesal. Kenapa harus lagu ini? Oh.

 

Donghae-mu mengecup puncak kepalamu dengan dua jarinya yang menjepit dagumu, “Kau punya aku. Kau bisa andalkan aku jika kau sendirian. Kau bisa berbagi masalah denganku saat ini. Karena—“

 

“Karena aku istrimu.” Ucapmu memotong pembicaraannya. Donghae memamerkan giginya, “..Ne, aku suamimu.”

 

Saat itu, kau tak lagi menunduk, tak lagi menyembunyikan matamu yang disusupi air. Lirih. Kau tersenyum saru, dan Donghae menarik wajahmu lagi dengan tangannya.

 

“Sarapan, ya?” Tahu-tahu, kau mengangguk patuh. Donghae, pasti bisa mewarnai harimu.

 

**

 

Lee Hyukjae

 

Disinilah dirimu saat ini. Menatap siluet tubuhmu yang terbalu gaun putih berenda bunga-bunga dibagian dada, bahumu terekspos mulus karena hanya dua tali kecil yang menahan gaun berat itu. Kau mengikat rambutmu keatas, lalu melepaskannya. Kembali asik memainkan rambutmu, harus diapakan rambutmu nanti? Kau tersenyum.

 

Gaun putih yang kau pakai begitu pas ditubuhmu. Cocok untuk seorang gadis yang bertubuh kecil. Kau keluar dari ruangan kecil sempit, tempat kau berganti pakaian santai dengan gaun indah ini. Kau melihat pusat matamu yang tertuju pada seorang lelaki berpakaian tuxedo hitam dengan kemeja putih didalamnya. Ada dasi berwarna silver juga garis berkilauan dikerah jasnya. Bunga merah kecil yang ada disela saku dadanya juga mempermanis dirinya. Dia, tampan untukmu.

 

Kalian saling tertawa satu sama lain. Kau seperti sedang menikah saja, hanya tanpa make-up, dan persiapan, juga bukan di gereja, melainkan dibutik. Kau sedang berada dalam penyewaan gaun pengantin ternama di Seoul, tempat penyewaan pakaian pengantin hyungnya suamimu sebelumnya. Hyukjae, atau biasa dipanggil Eunhyuk itu, mendekat kearahmu. Membetulkan letak lipatan gaun yang kau pakai, yang terlihat tak beraturan. Lalu kau kembali menatapnya, berada dalam satu garis lurus bersamaan. Bahagia, itu yang memenuhi seluruh darahmu saat ini.

 

“Cantik sekali.” Pujinya. Kau merona, mendengar suara seraknya memujimu dengan tulus, “gomawo.”

 

“Mungkin, aku akan lupa bagaimana cara menjawab pendeta saat aku melihatmu. Kau, akan benar-benar mencuri mataku di gereja nanti!” akunya sambil mengerling nakal. Kau memukul bahunya pelan, lelaki yang akan menjadi suamimu itu benar-benar raja gombal didunia ini.

 

“ish.” Katamu. Kau membalikkan tubuhmu, lalu menemukan seorang designer wanita yang sudah menunggu kritikmu terhadap gaun yang ia gambar sendiri.

 

“Bagaimana? Cukup? Sesuai keinginan?” tanyanya. Eunhyuk mulai mendekatimu, berdiri tepat disebelahmu.

 

“Pas. Calon istriku cantik. Dan aku tampan.” Serunya terlalu tinggi. Wanita berkacamata itu tertawa mendengar seruan polos dari bibir lelakimu, kau juga. Apa-apaan? Belum jadi suamimu saja dia sudah menyebalkan!

 

“Oh onnie, bagaimana dengan sepatu kami?” tanyamu. Wanita itu terlihat lupa, lalu berbalik mengambilkan dua kotak berisi dua pasang sepatu yang akan kau pakai nanti. Kau mengambilkannya untuk calon suamimu, dan untuk dirimu sendiri. Kau memakainya, cukup sulit. Bahkan, kau membutuhkan tangan Eunhyuk untuk memakai sepatu yang cukup tinggi itu.

 

Sekarang tinggimu sudah setara dengan calon suamimu, yang juga memakai sol tambahan. Haha, bagaimana kesan para tamu undangan jika Eunhyuk, sang pengantin lelaki lebih pendek dari istrinya. Kau berpikir sendiri, lalu tersenyum berarti.

 

Tanpa sadar, Eunhyuk memerhatikanmu. Betapa sulitnya kau berdiri dengan gaun berat yang ada ditubuhmu, juga sepatu yang kau pakai.

 

“Noona, sepatu calon istriku jangan terlalu tinggi. Kasihan dia. Aku tak mau dia jatuh digereja nanti.” Kau menatapnya dari pinggir heran, Eunhyuk memerhatikanmu cermat. Bahkan, tadinya kau tak akan merubah ketinggian sepatu hakmu, “..oh. bunga dijasku diganti jadi mawar putih, ya noona?”

 

“Joayo. Nanti ku ganti! Kalian.. terlihat sangat serasi!” ucapnya sebelum pergi menjauhimu dan calon suamimu itu. Kau tersenyum, dan merasakan tangan calon suamimu itu menarik tubuhmu untuk ikut dengannya. Kau patuh mengikutinya.

 

Terhenti di satu sisi dinding yang full dengan cermin. Kau melihat pantulan wajah Eunhyuk, dan dia juga begitu. Menatapmu dalam-dalam. Sadar, dia sudah menggenggam tanganmu dengan kedua tangannya. Kau menerimanya, menerima satu kecupan kilat dipipimu.

 

“Seminggu lagi, jagiya..”

 

“Ne, seminggu.”

 

“Kau akan menjadi milikku. Utuh.” Katanya cepat. Kau menggenggam tangannya erat, tak ingin ia pergi darimu, “aku akan menjadi ratu dari semua Jewels diseluruh dunia!” serumu aktif. Dan kalian tertawa. Sepertinya kau benar-benar harus menunggu seminggu lagi untuk kembali memakai gaun yang sedang kau pakai kali ini. Oh seminggu lagi.

 

Eunhyuk akan jadi milikmu, kan? Sabarlah.

 

**

 

Kim Ryeowook

 

Ini hanya ide gila darimu, yang disetujui oleh tunanganmu. Kau menyuruhnya untuk datang kerumahmu, membawa banyak foto Super Junior dari sejak debut hingga sang leader memiliki anak, bahkan hingga saat ini. Kau menyuruhnya untuk mengarsipkan foto-fotonya kedalam satu tempat, dan menyatukannya menjadi satu mozaik.

 

Kau, yang notabenenya adalah seorang pelukis, mudah untuk melakukannya. Kau menyimpan ratusan foto itu ke berbagai figura yang sudah kau beli sebelumnya. Kau melakukannya sendiri, sedangkan tunanganmu angkat tangan karena tak berhasil membuat satu figura-pun. Akhirnya, hanya kau sendiri yang kini sibuk bergelut dengan puluhan pack foto-foto yang memiliki macam-macam ukuran itu. Sedangkan tunanganmu, bergelut dengan masakan yang sedang ia buat didapur bersihmu. Aroma makanannya selalu membuatmu semangat, bahkan hal berat dan sulit apapun. Dia adalah alasan energimu.

 

Kau mengelompokkan dalam berbagai figura. Ada fotonya yang sibuk di Sukira bersama Sungmin, ada 13 lelaki dalam satu foto berukuran besar di album bertajuk ‘U’, ada juga foto session penuh karisma di album keempat, juga foto yang menurutmu aneh dialbum kelima. Ada juga foto-foto saat berada di konser Supershow, SMtown, bahkan di China bersama Super Junior Mandarin. Ada juga foto-foto selcanya bersama Yesung yang diketahui adalah roommate-nya selama tahun-tahunnya bersama Super Junior.

 

Kau menyelesaikannya dalam waktu singkat. Kau menyisakan dua foto berukuran lebih besar dari yang lainnya, dan menyimpan dalam satu figura. Foto saat ia berlibur ke pantai, dan saat kau bermain piano untuknya. Entahlah, kau mencintai dua foto itu. Sepertinya, kau harus menyimpan figura ini tepat ditengah, sebagai pusat dari figura-figura yang lain nanti, kalau kau jadi membeli apartemen yang pernah direncanakan olehmu dengannya.

 

Tak lama dari itu, lelaki yang sedari tadi kau tatap gambarnya, nyata dihadapanmu. Membawa dua piring makanan favoritmu, Barbeque Ddeukbokki. Dia pandai memasak, bahkan kau harus mengakui bahwa kelihaianmu memainkan spatula tidak lebih baik darinya. Kau masih lupa memasukkan lada, atau garam. Kau tersenyum memamerkan gigimu, menyatakan bahwa kau berterima kasih atas masakannya.

 

“Chungbunhi guwojin*, oppa!” Serumu sambil memandangnya dengan wajah ceria. Kau menikmati masakannya. Sekali-kali menatap kearahnya yang malah sibuk memandangmu. Ada rasa malu, juga percaya diri.

(*) well done

 

“Kau lucu sekali jika sedang makan seperti tadi, hahaha!” Kau mendorong lengannya. Dia malah mencubit hidungmu. Kau berpikir, bahkan kau tak pernah memasak secepat dan seenak ini. Kau malu pada dirimu sendiri. Tahu, lelakimu ini lebih pandai darimu. Tapi sebagai wanita, ada rasa ingin juga memiliki bakat sepertinya, “..aish jinjja!”

 

Kau merutuk dirimu sendiri. Tidak fokus memakan ddeukbokki berwarna oranye menyala dihadapanmu.

 

“Nanti ajari aku memasak ya, oppa!” ucapmu meminta. Lelaki disebelahmu memandangmu penuh pertanyaan. Bingung, juga terkejut, “..mwo?”

 

“Ajari aku memasak seperti tadi, ya?” lamat-lamat, dia mengangguk. Kau tersenyum dan mengecup pipinya yang lembut, “..xie-xie!”

 

“Tapi jangan dirumahku. Aku takut dimarahi eomma, nanti aku disalahi merusak dapur.” Katamu jujur. Membuat lelaki dengan watak sangat perhatian dan tak kalah girlie itu tertawa terbahak-bahak. Kau kesal, sudah pasti! Orang yang menertawaimu ini, adalah tunanganmu. Bagaimana kau tidak sebal?

 

“OPPA!!!”

 

“Hey-hey, jangan memukulku dengan sumpit!”

 

“Habisnya, sih.. ish.”

 

“Kita bisa memasak di apartemen baru kita, kalau sudah menikah nanti.” Kau melepaskan sumpitmu, lalu merengkuh kencang lengannya, “..Jinjja?!”

 

“Aku akan mengajarimu memasak makanan Chinese, kalau perlu!” Ya. Dia terlalu tahu kecintaanmu pada budaya China. Dia yang membuatmu jatuh cinta ketika ia berada di china bersama sub-grup Super Junior yang paling dipuja di China. Kim Ryeowook-lah yang membuatmu luluh, bersama suara soprano-nya yang tak kalah megah.

 

Mungkin, kau akan lebih sering mendengar suara favoritmu itu kedepannya. Kim Ryeowook, sudah berjanji akan menikahimu.

 

**

 

Kim Kibum

 

Alicia.. sebutnya. Kau mendekat kearahnya pelan. Memasang wajah terkejut dan tak percaya. Kau mendekat, merasa terpanggil.

 

Aku mencintaimu.. Lelaki itu merengkuhmu dalam satu gerakan, membawamu kedalam ciuman panjang. Kau tersengal, dan kertas-kertas berwarna-warni berjatuhan tanpa diminta.

 

Suara riuh penonton memenuhi seluruh aula pertunjukkan. Kau melepaskan diri, dan lelaki yang merengkuhmu membantumu untuk berdiri, dan membungkuk. Seluruh penonton yang ada dihadapanmu, berdiri dan bertepuk tangan. Kau tetap menggenggam erat satu tangan milik lelaki yang dicintaimu. Beberapa orang keluar dari belakang panggung, ikut membungkuk seperti yang kau lakukan dengan lawan mainmu itu.

 

Ada penonton yang berteriak antusias, bahkan melemparkan bunga mawar keatas panggung, persis kehadapanmu. Kau mengambilnya, dan tersenyum pada semua penonton yang menonton pertunjukkan musikal terakhirmu. Ya, kau seorang aktris yang sudah menyelesaikan drama musikal terakhirmu hari ini, bersama lelakimu yang juga aktor ternama sekaligus eternal magnae Super Junior, Kim Kibum sebagai lawan mainmu, juga kekasihmu. Kau yang berperan sebagai Alicia, gadis desa dengan kepribadian kerasnya untuk mencintai seorang kaisar yang diperankan oleh calon suamimu itu, sukses besar.

 

Kau, yang sedang memakai gaun Sabrina berwarna putih juga biru muda, dan ia yang memakai baju kaisar, terlihat serasi sekali. Tak disangka, hari ini adalah jadwal terakhirmu untuk melakukan drama musikal bersama kekasihmu. Akan ada rasa rindu yang memuncak saat nanti kau menghilangkan satu bagian dari hidupmu, drama musikal ini.

 

Kau melihat tuan Park maju, membawa mikrofon dan bicara. Kau hanya mendengar, dan melihat kesekelilingmu, tua-muda, remaja bahkan orang tua, menonton dramamu yang cukup terkenal di Seoul. Bahkan tiket VIP-nya habis selama dua jam setelah waktu penjualan tiket dibuka. Itu waktu yang fantastis.

 

“Terima kasih pada para hadirin yang sudah datang menyaksikan drama terakhir kami. Antusiasme para hadirin, yang membuat kami semangat untuk membuat drama ini. Terima kasih untuk para sponsorship, para pemain, para panitia dibelakang layar, yang sudah ikut berpartisipasi dalam drama ini. Sekali lagi, terima kasih.” Tuan Park mundur, diakhiri dengan suara tepuk tangan dari segala penjuru aula. Dari mulai yang paling depan, hingga yang benar-benar tak terlihat sama sekali. Kau tersenyum bangga pada dirimu sendiri, tidak sia-sia perjuanganmu untuk mencapai titik keberhasilan.

 

Tiba-tiba tuan Park mendorong Kibum untuk memberikan sepatah-duapatah katanya. Kau diam, melepaskan genggaman tangannya. Tapi Kibum kukuh untuk menggenggam tanganmu. Otomatis, kau ikut maju bersamanya. Malu, pasti! Dia malah tersenyum nakal padamu yang sedang menunduk.

 

“Terima kasih untuk semuanya, yang sudah menonton kami. Aku sangat bahagia disini. Terutama menjadi pemain utama, yang dipasangkan dengan lawan main paling hebat diseluruh dunia.” Ucapnya. Penonton lebih antusias untuk bertepuk tangan lagi setelah kekasihmu yang melamarmu beberapa minggu yang lalu itu menyebutkan namamu dikalimat-kalimatnya, “..aku senang sekali. Ini yang pertama bagiku, melakukan satu proyek bersama kekasihku sendiri.”

 

We need more kiss scene!” Teriak salah satu lelaki bertubuh tegap dengan kemeja putih dan cardigan biru tua yang dipakainya. Apa? Dia meminta apa? Kau terkejut. Semua penonton malah menginginkan hal yang sama. Sial – pikirmu dalam hati.

 

Sekarang bukan hanya penonton, tapi seluruh jajaran panitia yang ada dibelakangmu ikut meminta hal yang sama. Kau malu, tentu saja. Ini bukan bagian tambahan yang tersusun dalam script drama, kan? Oh tidak.

 

Kibum memiringkan kepalanya. Kau tak merespon apapun, melihatnya takut-takut. Sadar, tangan yang sedari tadi digenggam olehmu, terlepas dan meraih tengkukmu. Kau memejamkan matamu, bibirnya hanya menyentuh dahimu kilat. Kau menghela nafas, menghembuskannya lega.

 

Kibum tahu mana yang harus ia lakukan. Kibum tahu dirimu.

 

“Kenapa tidak dibibir?!” Protes lelaki yang meminta adegan tadi. Ada rasa dendam pada dirimu, siapa dia juga menyuruh kekasihmu untuk menciummu lagi? Cih. Seharusnya kau minta saja dengan istrimu! – teriakmu dalam hati.

 

“Mianhae ahjussi. Aku akan menciumnya dibibir, ketika aku menikahinya nanti.” Dia memandangmu tulus, seperti meyakinkan. Dan kau mengangguk, Kibum berkata benar. Kau akan menerima ciumannya lagi nanti, dalam prosesi sakral dalam hidupmu, yang orang-orang sebut pernikahan. Bahagiakah? Tentu saja. Berpacaran dengannya saja bahagia, bagaimana jika kau benar-benar memiliki seorang Kibum dengan senyumannya yang selalu membuatmu menggila? Haha!

 

**

 

Lastly, Cho Kyuhyun

 

Kau masih sibuk dengan agensi ternama milik kekasihmu. Kau sendirian, malam-malam. Terbilang tidak baik memang, dalam gedung yang begitu besar, kau berjalan sendirian menelusuri lorong demi lorong gedung yang sengaja kau buat bersama kekasihmu.

 

Ya, inilah Museum Super Junior. Yang selalu penuh didatangi oleh turis-turis dunia dan domestik. Disinilah Super Junior menyimpan baik hasil karya mereka. Kau melihatnya rinci, ditengah-tengah, ada etalase bening berisi album Super Junior 05 bersama dengan covernya. Lalu album kedua, hingga album ketujuh. Bangga, sebagai seorang idola.

 

Kau kembali berjalan, dimana disisi kanan dan kirinya terdapat gambar-gambar mereka di dorm, di tempat latihan, saat Supershow, dan masih banyak lagi. Waktu-waktu yang mereka lewati bersama, disimpan dalam memori gambar yang tertata rapi dimuseum yang memiliki dua tingkat ini. Kau kembali memandang cermat sisi kirimu, ada figura super besar yang berisi phootoshoot sub-grup Super Junior, juga gambar studio dari mulai album pertama hingga terakhir. Lagi-lagi, kau hanya dapat tersenyum bangga.

 

Kau menatap satu ruangan yang terkunci, kau hanya dapat melihatnya dari luar walau sebenarnya, bisa saja kau membuka kuncinya. Tidak. ini hanya patung lilin berbentuk kelima belas member Super Junior, yang kau puja dan banggakan setiap harinya. Kau bisa melihat daftar lagu-lagu mereka, bahkan mendengarnya dengan free. Kau bisa melihat semua medali dan trofi yang berhasil dimenangkan oleh Super Junior selama ini. Mungkin mereka, ELF dunia, tak tahu betapa sempitnya dorm mereka dengan trofi-trofi dan kiriman hadiah dari fans mereka. Ya, itu sebabnya kau –yang memiliki gedung kosong untuk investasimu- dan bertempat di tempat strategis, akhirnya berakhir menjadi sebuah gedung berwarna safir berisikan semua yang menyangkut Super Junior.

 

Inilah yang membuatmu sedikit terharu. Betapa mereka tak pernah menyepelekan ELF, mereka tak pernah melupakanmu, mereka tak pernah sedikit pun berpikir untuk melukaimu dan fans mereka. Super Junior terlalu indah untuk membubarkan diri. Bahkan hingga album terakhir, dan seluruh anggota Super Junior harus mengurus kehidupannya masing-masing, mereka masih satu keluarga.

 

Dimatamu, Super Junior masih satu.

 

Seperti yang kau lihat saat ini, sebuah figura besar paling ujung, dimana terjajarnya gambar-gambar anggota Super Junior dengan pakaian warna hijau bercampur hitamnya saat kegiatan wajib militer yang diikuti oleh mereka. Dimana gambar Kangin terpampang paling atas, lalu Heechul, dan seterusnya hingga Kibum. Satu ruang masih kosong untuk si magnae yang belum pulang, Cho Kyuhyun, kekasihmu.

 

Kau bukan orang bodoh yang akan tinggal di museum milikmu sendiri malam-malam begini. Toh, kau tahu. Banyak satpam yang menjaga museum penuh memori ini dengan ketat. Kali ini kau sedang menunggu. Menunggu kekasihmu pulang.

 

Kau kembali keruangan dimana kau berasal. Satu ruangan khusus untuk para anggota Super Junior jika ingin melakukan reuni. Sengaja kau buat supaya para idolamu merasa nyaman dengan tempat yang kau buat bersama kekasihmu itu. Kau membuka pelan pintu berwarna putih bercorak biru itu, melihat sebuah grand piano besar kesukaanmu. Tak lupa menyimpan juga satu buket mawar putih diatas piano yang sekarang ada dihadapanmu, yang kau siapkan untuknya, juga menaruh rapi kotak kecil halus berisi cincin berwarna perak yang diberikannya sebelum pergi dua tahun lalu.

 

Kau duduk meraba pelan setiap jajaran putih hitam itu. Menekannya, mencoba memperkecil suara yang ditimbulkan, dan bernyanyi lagu favoritmu. Favoritnya.

 

It seems as though the accumulated time is being greedy

Seeing as it hurts more today than yesterday

It was after I realized that I couldn’t be totally happy with that smile towards me

That  there was nothing special, baby..

 

Air mata jatuh dari pelupuk matamu. Kau merindukannya. Merindukan suaranya saat bernyanyi lagu ini bersama.

 

What if, it seems like you are going to love me

Because it seems like you are going to come to if I wait just a little

With these anticipations, I can’t leave you

Even though I know that as time accumulates, it becomes pain..

 

Kau tersenyum disela-sela nyanyianmu. Ini hanya masalah waktu. Kau hanya perlu bersabar. Dia berjanji akan datang malam ini, untukmu.

 

Even though I wanted to believe that, that smile was just for me

It probably isn’t, right? But still.. Just Maybe..

 

Sadar, kau bernyanyi sambil terisak. Ada rasa gundah ketika waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Sedangkan lelaki yang seharusnya datang dengan gagahnya untukmu itu, belum juga menampakkan wajah tampannya. Kau merindukan segala yang ada pada dirinya, bahkan sikap menyebalkannya ketika ia menjahilimu.

 

Even though love increases as much as time’s weight, even though pain is heavy

Still, I feel like you will love me

Because it seems like you are going to come to me, if I wait just a little

With these anticipations, I can’t leave you

Even though I know that the accumulated time has made today, oh girl..

 

Kau menghentikan kegiatan bernyanyimu, dan segera mencari dimana ponselmu berada.  Mendengar dering itu tak jauh dari dirimu, kau menemukannya. Dan segera membaca apa isi dari pesan singkat yang membuatmu terkejut.

 

From : Cho

Menungguku? Tempat kesukaanku. Aku mencari kekasihku :]

 

Sial, umpatmu. Si tuan evil itu masih jahil juga setelah pulang wajib militer. Atau mungkin, dia malah sudah menjahili semua anggota militer? Aish.

 

Kau berlari menuju grand piano yang tadi kau mainkan, mengambil kotak cincin dan sebuket bunga mawar putih, lalu benar-benar berlari menuju tempat kesukaannya. Taman belakang. Berpikir didalam lift, untuk apa dia diluar malam-malam. Mengingat kau hanya mengenakan baju seadanya.

 

Kini kau ada ditaman luas, terlihat juga namsan tower jelas dari sudut pandang matamu. Juga lelaki berbadan tegap yang duduk membelakangimu, dengan dua koper besar berdiri disebelahnya. Kau berjalan pelan, menahan haru air matamu yang mengisyaratkan bahwa kau sangat merindukannya.

 

Tiba saatnya, kau memanggilnya, “..oppa..”

 

Lelaki itu menoleh padamu, lalu tersenyum dan merentangkan tangannya, “..merindukanku?” JELAS! Kau berlari kearahnya. Memeluknya seerat yang kau bisa. Menangis didekapannya. Kali ini, kau benar-benar bahagia.

 

“Oppa..” bisikmu dalam tangis. Lelaki itu berkali-kali mengecup puncak kepalamu, membelai kepalamu, mendorong lagi punggungmu supaya jarak diantaramu benar-benar hilang. Kau melepaskan semua penatmu, penat yang mengganjal selama dua tahun terakhir ini.

 

“Uljima..”

 

“Dangsini bogoshippeoyo..” Dia tersenyum melepaskan pelukannya, mengecup dahimu, “..eotokkae?”

 

“Apa?” tanyamu. Dia tertawa menyebalkan, melecehkan dirimu. Kau tidak bodoh seperti dia, kau hanya pura-pura lupa saja. Kau mengeluarkan kotak kecil berwarna putih dari saku jaketmu, dan diperlihatkannya pada seorang Cho Kyuhyun yang suka sekali melecehkanmu, dan menganggapmu lebih bodoh darinya. “Yang ini?”

 

“Oh, kau tidak lupa ya, jagi? Haha.” Kau mengerucutkan bibirmu, lalu kembali mendekatkan diri ketubuhnya, “..bagaimana jawabanmu?” tanyanya.

 

“Jawaban apa?”

 

“ish. Yeoja paboya! Jawabanmu atas pertanyaanku dua tahun lalu!!” Katanya berseru. Kau menahan tawa, hanya saja ia terlalu cepat mengambil kotak kecil yang kau simpan baik selama dua tahun ini, “.. oke. Akan kuulang sekali lagi. Hm.”

 

Kau menunggu. Ini hanya soal waktu. Kau bersabar untuknya.

 

Would you marry me?” tanpa buang waktu lagi, kau mengangguk. Mendaratkan bibirmu dipipinya, dan saat-saat itu menjadi memori terindah dalam hidupmu. Dimana nanti, kekasihmu yang baru pulang itu akan menikahimu. Dimana nanti, kekasihmu yang memiliki suara memikat dan wajah tampan itu berhasil dimilikimu.

 

Dimana nanti, kau akan membawa kehidupan berduamu bersamanya, hingga akhir hayat benar-benar memisahkanmu.

 

-fin-

by: Ghaziana

6 thoughts on “Laters

  1. Gak tw knpa bacs nih ff tiba” aku jd ngerasa sedih gitu… Swtu saat suju oppadeul bkal mngalami hal” kyk gni, jd bsa mmbygkn lha pas bca nih ff :)

    daebak lha pkokny. Pling ska liat kisah yesung sm siwon ><

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s