I Always Here For You [2/2 END]

Author                        : hgks11
Main Cast       :
–       Lee Jinki – SHINee
–       Park Harin – OC
Support Cast  :
–       SHINee’s members
–       Park Minrin
Length                        : Twoshots
Genre              : AU, Romance
Rating             : T (Teens)
Warning!        : saya tidak menuliskan keterangan pov siapa di sini.. lagi males nulisnya, soalnya sering banget ganti-ganti pov di sini.. *mianhae* *bow*
A.N.                 : also published at blacksmiling.wordpress.com. maaf kalau ceritanya datar, hehe. Hope you’re enjoy it guys ;)

-oOo-

“Eeenngghh..” aku tersentak melihat Harin yang mengerang kecil. Matanya mengerjap-ngerjap terbuka. Ia sadar? Sadar? IA SUDAH SADAR!!

“Harin??” tanyaku tak percaya. Ia menatapku dengan pandangan heran.

“Harin? Chagiyaaaa?? Kau sudah sadar?” ujarku senang, mengusap air mata di wajahku. Ia mengernyit mendengar ucapanku.

“Chagiya? Neo.. nuguya?”

Bayangan akan kejadian itu masih melekat kuat di benakku. Kenapa ia tidak mengigatku?

Flashback

“Chagiya? Neo.. nuguya?”

Aku merasa seperti telah dijatuhkan dari tempat yang begitu tinggi mendengar ucapannya.

“N-nde? Dangsin-eun nal moleunayo?” tanyaku sangsi. Ia menggelengkan kepalanya.

“Geotjimal…” lirihku. Harin menatapku dengan pandangan bertanya-tanya.

“Ah! Minrin eonni?” pekiknya saat melihat Minrin yang tengah tertidur di sofa.

“Cheogiyo, bisa tolong bangunkan eonniku?” pintanya. Aku hanya menatapnya lalu melangkahkan kakiku ke sofa tempat Minrin tertidur. Aku menggoyangkan sedikit badannya.

“Minrin-a.. Ireonaaaaa” ujarku. Minrin mengerjapkan matanya, lalu mengubah posisinya menjadi duduk.

“Minrin-a, Harin tidak mengingatku” ujarku langsung to the point pada Minrin.

“MWO?!” pekiknya kaget

“Jincayo?” tanyanya memastikan. Aku menganggukkan kepalaku dengan berat. Masih belum bisa menerima kenyataan ini.

 

No matter what I say to you right now

It’s going to have no effect, whatsoever

This isn’t right, this isn’t right

I can’t trust this fact

This is all a lie, not the truth

I can’t believe it any longer

[The Fact – BEAST]

-oOo-***still flashback***-oOo-

 “Gwenchanayo?” tanya Minrin menghampiri Harin yang masih berbaring.

“Ya! Eonni~ kenapa aku bisa ada di sini? Aku tidak suka dengan tempat—terkutuk—ini!” ujar Harin tak suka. Minrin menghela nafas lega mendengar ucapan dongsaengnya itu.

“Kau mengingatku?” tanya Minrin memastikan.

“Ne, tentu saja! Eonni kira aku terkena amnesia apa?” ujar Harin sedikit sewot.

“Tentu saja aku mengira kau amnesia! Kau bahkan tak mengingat namjachingumu sendiri!” ujar Minrin menunjuk Onew. Onew hanya tersenyum miris mendengar ucapan Minrin, dan mengiyakannya.

“Mwo? Namjachingu? Memangnya aku punya namjachingu? Aku kan tidak punya namjachingu eonni! Ah, atau.. sebenarnya dia adalah namjachingumu eonni? Ya! Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau sudah mempunyai namjachingu? Tega sekali dirimu Minrin eonni” ujar Harin panjang lebar. Onew merasa seperti ada palu besar yang menghantam dirinya saat mendengar perkataan Harin. Kini hatinya benar-benar hancur berkeping-keping. Ia tersenyum miris menanggapi ucapan Harin.

“Minrin-a, sebaiknya aku pergi sekarang. Lagipula aku masih ada schedule. Annyeong”

-oOo-

BRAAAKK!

Kututup dengan kasar pintu dorm. Aku tak peduli! Jika pintu itu sampai jebol! Aku segera melangkahkan kakiku ke kamarku. Dan lagi-lagi aku menutupnya dengan kasar. Tak peduli jika pintu itu akan jebol atau rusak. Aku sudah tak peduli!

Sekarang tak ada lagi oksigenku. Aku kehilangannya. Benar-benar kehilangannya. Kenapa ia hanya tidak bisa mengingatku?! Wae?! Apa aku tidak memiliki arti apa-apa baginya?

Drrtt.. Drrtt..

Aku meraih handphoneku dari atas meja dekat ranjangku.

‘Minrin? Kenapa dia menelponku?’ batinku. Jariku bergerak menekan tombol berwarna hijau untuk menerima telpon darinya.

“Yeoboseyo?”

“Yeoboseyo, Onew-ah?”

“Nde? Waeyo?”

“Mianhae Onew-ah.. sepertinya ia memang hanya tidak mengingatmu.. Barusan appa dan eomma baru tiba di rumah sakit, dan Harin mengingat mereka. Dokter bilang, ia terkena amnesia untuk sementara. Mungkin orang yang tak diingatnya adalah orang yang ingin dia lupakan..”

DEG! Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar perkataan Minrin.

 Mungkin orang yang tak diingatnya adalah orang yang ingin dia lupakan.

Ia tidak mengingatku. Apakah itu berarti aku adalah orang yang ingin dilupakannya? Sebesar itukah rasa bencimu padaku? Sebesar itukah luka yang kutorehkan di hatimu, sehingga kau ingin melupakanku?

“Mianhae chagiya.. Jeongmal mianhaeyo.. Mianhae..” lirihku. Dapat kurasakan air mataku yang mengalir di kedua pipiku. Kini aku hancur. Benar-benar hancur. Aku kehilangan oksigenku. Aku kehilangan tempatku untuk bersandar. Aku kehilangan semua perhatian-perhatiannya padaku. Aku, kehilangan dirinya. Dan itu semua karena kebodohanku sendiri.. Mianhae.. Geurigo, nan neorul saranghaeyo, Park Harin..

-oOo-

“Ya! Menurutku ini sudah keterlaluan! Apa kau tega padanya?!”

“Aku harus bagaimana lagi?! Kau tak lihat ini?! Bahkan kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri bukan? Apakah kau tidak tau bagaimana rasanya berada di posisiku sekarang? Biarlah, mungkin ini memang yang terbaik untukku dan dia. Lebih baik kami berpisah saja”

“Geun-geundae—“

“Sudahlah! Aku sudah muak dengannya! Dia benar-benar sudah membuatku hancur! Bisakah kau mengerti perasaanku sekarang?”

“Arasseo.. terserah padamu saja. Tapi aku hanya ingin mengingatkan, jangan sampai kau menyesal dengan keputusan yang kau ambil. Aku tidak mau melihat dongsaeng kesayanganku sedih, ara?”

“Arasseo eonni. Mianhae, geurigo gomawoyo”

 

Percakapanku dengan Minrin eonni terus berputar di otakku. Apakah aku tidak akan menyesal dengan keputusanku ini? Kurasa tidak. Aku tidak dapat hidup tanpanya. Ia adalah sinar matahariku, yang selalu membuatku bersemangat menjalani hari-hariku. Ia adalah oksigenku, yang mampu membuatku tetap bernafas setiap saat. Ia adalah pelindungku, yang selalu ada di saat aku membutuhkannya. Ia adalah orang yang selalu menemaniku di setiap langkahku. Mampukah aku kehilangannya? Kehilangan seorang Lee Jinki, yang jelas-jelas adalah orang yang sangat kubutuhkan? Orang yang sangat kucintai?  Aku tahu dengan pasti jawabannya. Tidak. It’s impossible!

Tapi aku harus menerima realita yang sebenarnya. Ia sudah membuatku hancur berkeping-keping dengan tindakannya—you know lah—pada Victoria eonni waktu itu. Apakah ia tidak pernah memikirkan perasaanku? Yeojachingunya? Atau ia sudah tak menganggapku lagi sebagai yeojachingunya? Miris sekali.

Aku muak dengan perasaan ini! Wae? Waeyo? Kenapa aku tak bisa berhenti mencintainya? Mencintai orang yang telah membuatku hancur berkeping-keping, dan merasakan sakit hati? Padahal ia yang berjanji padaku, tidak akan pernah membuatku sakit hati, apalagi karenanya.

 

Flasback

22.00 KST, November 14th 2011, at Central Park

 

Ini adalah hari ulang tahunku yang ke 20—dalam umur korea—dan hari ini Jinki oppa mengajakku untuk pergi bersama! Kyaaa! Aku sangat senang sekali! >.<

Aku masih duduk di bangku panjang ini, menunggu kedatangan Jinki oppa. Sesekali aku merapatkan mantel yang kukenakan. Ini masih musim gugur, tapi ntah kenapa akhir-akhir ini anginnya kencang sekali. Kugosokkan kedua telapak tanganku untuk memperoleh sedikit kehangatan. Berkali-kali aku melirik ke jam tangan di pergelangan tanganku. Aku sudah duduk di sini selama 2 jam, menunggunya dating menemuiku. Tapi ia belum kunjung dating juga.

Kurogoh saku mantelku dan menemukan handphoneku di sana. Segera kutekan speed-dial nomor 4 yang langsung terhubung ke Jinki oppa—karena nomor 1, 2, dan 3 untuk Appa, Eomma, dan Minrin eonni.

Aku mendecak kesal dan memasukkan handphoneku ke dalam saku mantel dengan kasar. Ia tidak mengangkat telponku. Sebenarnya Jinki oppa kenapa sih? Dia yang memintaku untuk menemuinya di sini—Central Park—semenjak jam 19.00 tadi. Tapi bahkan sampai sekarang ia belum kunjung dating juga.

“Sebenarnya apasih maumu oppa?! Ck. Aku sebal padamu” gumamku gondok. Tiba-tiba dapat kurasakan sepasang tangan yang cukup besar menutup ke dua mataku dari belakang.

“Ya! Nuguya?!” seruku panik. Dapat kudengar orang yang merupakan dalang di balik ini sedang tertawa di belakangku.

“Apakah kau tak bisa menebakku, Harin-a?” ujarnya. Aku tersenyum mendengar suara itu. Aku tahu betul suara ini milik siapa. Suara orang yang telah membuatku menunggunya di sini selama 2 jam.

“Ya, oppa! Lepaskan!” rengekku. Ia terkekeh melihat tingkah lakuku. Lalu ia berjalan memutar dan duduk di sampingku.

“Apakah kau sudah menunggu lama chagiya?” tanyanya dengan muka innocentnya. Aku mendengus kesal mendengar pertanyaannya.

“Apakah kau tak mempunyai jam, huh?” ujarku sinis. Aku sebal, sebal, sebal sekali padanya!

“Mianhae chagiya~ aku ada urusan tadi.. mianhae, aku membuatmu menunggu selama 2 jam” jelasnya.

“Hmmm” aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya. ‘Kau ingin aku mati kedinginan di sini hah?! Membuatku menunggu sampai 2 jam’ umpatku dalam hati.

Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah kalung yang baru saja terpasang di leherku. Lengan Jinki oppa kini tengah memelukku, ia menyandarkan dagunya di atas pundakku.

“Saengil chukka nae yeoja, Park Harin. Mianhae membuatmu menunggu selama 2 jam. Aku tadi berputar-putar mencari kalung ini untukmu. Apakah kau menyukainya?” bisiknya ditelingaku. Kulihat bandul kalung yang kini ada di leherku. Bentuk bintang, manis sekali.

“Ne, joahae. Gomawo oppa” ujarku tersenyum senang.

“Cheonma. Kau sudah tidak marah lagi kan?” tanyanya. Aku menganggukkan kepalaku sebagai jawabannya.

“Oppa, kenapa kau memilih bentuk bintang?” tanyaku.

“Hmm.. Karena kamu adalah bintang yang selalu bersinar terang di hatiku. Yang selalu menyinari malam-malamku, dan menemaniku. Memberikan keindahan di hidupku” ujar Jinki oppa, yang sontak membuat pipiku merona merah.

“Ya! Dasar oppa gombal ih!” seruku. Ia tertawa mendengar ucapanku.

“Tapi itu memang benar” ujarnya tersenyum, senyum yang selalu membuatku meleleh. Akupun menyunggingkan sebuah senyuman, membalas senyumannya itu.

“Gomawo. Oppa, maukah kau berjanji padaku?”

“Berjanji apa?”

“Jangan pernah biarkan aku merasakan sakit, dan jangan pernah buat hatiku hancur berkeping-keping” ujarku. Ia tersenyum mendengar ucapanku.

“Ne, aku Lee Jinki berjanji tidak akan pernah membiarkan Park Harin merasakan sakit, apalagi karenaku dan membuat hatinya hancur berkeping-keping” ujarnya.

“Tanpa kau memintaku untuk berjanji seperti itu, dengan senang hati aku akan melakukannya” lanjutnya. Aku tersenyum puas mendengar perkataannya.

“Gomawo oppa” ujarku tersenyum senang.

“Cheonmaneyo” ujarnya.

“Saranghae” lanjutnya mencium puncak kepalaku.

-oOo-

“Hyung! Sepertinya kita harus memberitahu yang sebenarnya pada Onew hyung” ujar Minho menepuk pundak Jonghyun.

“Ne, aku setuju dengan Minho. You can see it rite? How’s his condition now” ujar Key prihatin.

“Onew hyung benar-benar terpuruk. Ini sudah 2 bulan semenjak peristiwa itu—kecelakaan Harin. Onew hyung selalu mengurung diri di kamarnya, dan terlihat murung” ujar Taemin ikut berbicara. Jonghyun masih tak bergeming mendengar perkataan-perkataan Key, Minho, dan Taemin. ‘Aku juga sangat mencemaskan keadaan Onew hyung. Tapi apakah memberitahukan yang sebenarnya adalah keputusan yang tepat?’ batin Jonghyun. Jonghyun menghela nafas berat.

“Arasseo.. Jika memberitahu yang sebenarnya pada Onew hyung adalah keputusan yang tepat, ayo kita lakukan. Mianhae Minrin noona” ujar Jonghyun mantap, berdiri dari posisi duduknya, dan beranjak ke kamar Onew, diikuti oleh member yang lain. Jonghyun terpaku saat sampai di depan pintu kamar Onew. Ia merasa enggan untuk masuk ke dalam sana. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Key, Minho, dan Taemin dengan tatapan bertanya sekarang—kah—waktunya?

Key, Minho, dan Taemin mengangguk mantap, mengiyakan arti tatapan dari Jonghyun, menyakinkan Jonghyun akan tindakannya sekarang adalah benar. Dengan ragu Jonghyun menggerakkan tangannya, mengetuk pintu kamar Onew.

Tok.. Tok..

“Onew hyung?” panggil Jonghyun. Namun tak ada jawaban dari orang yang berada di dalam.

“Onew hyung?” panggil Jonghyun sekali lagi. Namun tetap tak ada jawaban yang terdengar.

“Onew hyung, kami masuk ya” ujar Jonghyun akhirnya. Ia memutar kenop pintu, membuka pintu kamar Onew dengan perlahan. Di sanalah, di atas kasur yang cukup besar itu, terlihat seorang namja yang tengah menekuk kedua kakinya, dan membenamkan wajahnya di atas lutunya yang tertekuk.

“Onew hyung” lirih Jonghyun menghampiri hyungnya itu. Onew mendongakkan kepalanya, merasakan kehadiran orang lain di hadapannya. Wajah Onew terlihat begitu pucat. Bahkan sekarang ia benar-benar terlihat seperti mayat hidup.

“Onew hyung, ada sesuatu yang ingin kami beritahukan padamu” ujar Minho angkat bicara, tidak tahan melihat keadaan hyungnya yang sangat miris itu.

“Sebenarnya…”

 

Flashback

 

BRAAKK!!

Minho terlonjak kaget mendengar suara pintu dorm yang ditutup dengan kasar. Perhatian Minho yang tadinya terfokus pada game yang sedang dimainkannya, kini beralih ke arah Onew yang menutup pintu dorm dengan kasar tadi.

BRAAKK!!

Kali ini terdengar suara pintu yang ditutup dengan kasar lagi, namun kali ini pintu kamar Onew lah yang menjadi sasarannya. Key mengelus dadanya, mendengar melihat tingkah Onew. Jonghyun dan Taemin menghentikan aktifitasnya tiba-tiba. Mereka berempat saling berpandangan dengan tatapan bertanya apa—yang—terjadi—pada—onew—hyung?

Kriiing.. Kriiing..

Tiba-tiba telpon dorm berbunyi. Mereka berempat masih saling berpandangan, sampai akhirnya mereka menyadari telpon dorm yang bordering.

“YA!!” pekik mereka bersamaan, menuju ke arah telpon dorm.

Bruuk!

“Aigoo~” pekik mereka bersamaan.

“Ya! Hyung! Appo~!! Jangan menimpaku” rengek Taemin pada Jonghyun yang kini berada di atas tubuhnya.

“Hehe, mianhae magnae-ah” ujar Jonghyun cengengesan. Taemin hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah hyungnya itu, dan berusaha menyingkirkan tubuh Jonghyun dari atas tubuhnya. Sedangkan Minho dan Key sudah berdiri lagi dari posisi jatuh mereka. Key mengambil telepon dan menjawabnya.

“Yeoboseyo?”

“Ne, Yeoboseyo. Minrin noona?” jawab Key, yang sudah hapal diluar kepala dengan suara Minrin.

“Ne, Key? Harin kecelakaan”

“MWO?!!” seru Key kaget. Minho, Jonghyun, dan Taemin melonjak kaget mendengar suara Key. Mereka mendecak kesal mendengar suara Key yang mengerikan itu *mianhae chagiya*

“Aish! Suaramu itu hampir saja membuat gendang telingaku pecah!” protes Minrin di seberang sana.

“Hehe, mianhae noona. Pantas saja Onew hyung uring-uringan. Kalau begitu sebentar lagi kami akan ke sana, ok? Sampai bertemu noona” ujar Key dengan seulas senyum di wajahnya, membayangkan akan bertemu dengan Minrin. Namun, senyum langsung memudar ketika mengingat bahwa dongsaeng kesayangannya—Harin— kecelakaan.

“Kajja! Kita pergi ke rumah sakit. Harin kecelakaan” ujar Key datar.

 

@ Seoul Hospital

“201.. 202.. 203.. ah! Ini dia, 204!” ujar Taemin setelah menemukan nomor kamar tempat Harin di rawat.

“Ah, ne. Sepertinya ini memang kamar tempat Harin di rawat” gumam Jonghyun melihat nama Harin yang tertera di depan pintu.

“Kajja” ujar Minho.

“Chakkam!” ujar Key, ia seperti mendengar percakapan di dalam. Ia member isyarat pada Jonghyun, Minho, dan Taemin agar mendekati pintu dan menguping percakapan orang di dalam. Terdengar sebuah suara dari dalam ruangan tersebut.

“Kenapa kau hanya tidak mengingat Onew?” ‘Minrin noona?’ batin Key, mendengar suara yang sangat dikenalnya itu.

“Hmm.. Sebenarnya.. A..a..ku.. tidak terkena amnesia eonni” ujar Harin.

“MWO?! Jadi kau hanya berpura-pura amnesia?!” seru Minrin kaget mendengar pengakuan dongsaengnya itu.

“Ne, eonni” ujar Harin. Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut Minrin.

“Lalu, kenapa kau berpura-pura tidak mengingat Onew?”

“Aku.. masih merasa sakit karenanya eonni”

“Tapi apa kau tidak melihat betapa ia mencintaimu?” ujar Minrin. Harin terdiam mendengar perkataan eonninya tersebut.

“Kau tak memikirkan perasaannya?” lanjut Minrin.

“Ia pasti mempunyai alasan melakukan itu!” seru Minrin.

“Ya! Menurutku ini sudah keterlaluan! Apa kau tega padanya?!” lanjut Minrin lagi, mengacak-acak rambutnya, frustasi dengan jalan pikiran dongsaengnya itu.

Key menjauhkan telinganya dari pintu, dan member isyarat pada yang lain untuk berhenti menguping.

“Lebih baik kita ke kantin dulu, nanti kita kembali lagi ke sini” ujar Key lemas. Jonghyun dan Minho menganggukkan kepala, mengerti apa maksud Key. Sedangkan Taemin menoleh ke arah hyung-hyungnya dengan pandangan bertanya—tidak mengerti.

“Sudahlah, kajja” ujar Minho menarik Taemin untuk ke kantin, yang diikuti oleh langkah Jonghyun dan Key.

 

End of Flashback

“Jadi.. begitu hyung” ujar Minho, menyudahi ceritanya. Wajah Onew seketika berubah menjadi lebih cerah.

“Geurayo?” tanyanya tidak percaya.

“Ne, hyung” ujar Minho mantap, diikuti anggukan dari Jonghyun, Key, dan Taemin. ‘Aku masih punya harapan’ batinku.

“Jjongie, Key, Minho, Taeminie, sepertinya kalian akan kubuat sibuk hari ini” ujar Onew menebar senyumannya. Jonghyun, Key, Minho dan Taemin hanya bisa melemparkan tatapan heran melihat tingkah hyung mereka ini. Namun, tak dapat dipungkiri, ada sedikit rasa lega di hati mereka, melihat senyuman hyungnya yang sudah kembali lagi kini.

-oOo-

“Annyeong Harin-ssi”

“Annyeong” ujarku membalas sapaan orang-orang dan tersenyum—fake smile. Aku tersenyum miris mengingat senyuman yang akhir-akhir ini kuperlihatkan pada orang lain. ‘Menyedihkan’ batinku. Aku terus melanjutkan langkahku, menyusuri koridor kampusku menuju ke tempat di mana mobilku terparkir.

Klik. Kutekan tombol unlock otomatis mobilku.

“Ige, mwoya?” gumamku melihat sebuah note berwarna putih di dashboard mobilku.

 

Just go to Park’s Villa. There is a surprise that wait for you there

-NN-

 

‘Siapa yang menulis note ini? Ke vila keluarga? Hmm, sudah lama juga aku tak ke sana. Tak ada salahnya jika aku ke sana’ batinku. Akupun segera melajukan mobilku ke tempat tujuan. Park’s Villa

-oOo-

19.00 KST, Park’s Villa

 

‘Finally, I’m arrived’ batinku. Kulangkahkan kakiku ke teras vila keluargaku ini. Alisku bertaut, saat melihat lampu teras yang menyala. ‘Apakah yang dituliskan di note itu benar?’ batinku. Dengan ragu, kulangkahkan kakiku ke depan pintu.

Tok.. Tok..

Aku mengetuk pintu di hadapan.

Tok.. Tok..

Kuketuk sekali lagi.

“Aish, pabo! Di vila ini kan sedang tidak ada orang” ujarku menetup keningku. Kenapa aku jadi pabo seperti ini sih -_-

Kubuka pintu di hadapanku.

“Tidak dikunci? Eh?” gumamku heran. Kulangkahkan kakiku ke dalam dengan ragu. Gelap. Itu adalah kata pertama yang dapat mendiskripsikan tempat ini sekarang. Tanganku meraba-raba dinding, mencoba menemukan stop kontak. And, gotcha! I got it. Klik. Tak ada perubahan significant dengan penerangannya. Kutekan sekali lagi. Namun tetap tak ada yang berubah.

“Sepertinya lampu di sini sudah harus diganti. Aku akan memberitahukannya nanti pada Appa dan Eomma” gumamku. Ujung mataku menangkap sebuah cahaya di tengah ruangan. Ternyata ada sebuah lilin. Kulangkahkan kakiku ke sumber cahaya tersebut. Aku merasa tubuhku menabrak sesuatu saat jarakku dengan lilin tersebut tinggal 30 cm lagi. Tiba-tiba ada lampu sorot yang menerangi tempatku.

“Aigoo” pekikku melihat satu set candle light dinner di hadapanku. Kutarik salah satu kursi, dan duduk di atasnya. ‘Siapa yang menyiapkan ini?’ batinku tak percaya.

Words at the tip of my lips

Words that I want to say only to you

‘Suara ini?’ batinku. Suara yang sangat kurindukan. Suara orang yang sangat kucintai. Yang membuatku bahagia, tapi juga membuatku merasakan sakit. Tiba-tiba sebuah lampu sorot menyala tak jauh dari tempatku. Aku terpaku melihat sosoknya yang tengah duduk di sana, memainkan piano. Ia menoleh ke arahku sebentar, dan tersenyum. Aku masih memasang wajah datarku. Menunjukkan padanya bahwa aku masih marah padanya.

“You’re really precious”

“I will take care of you”

I have been holding back on these words

Words that make me happy when I say them

Words that are sweet to pronounce

The best day, “I want to give you my best”

Those words

“I love you, I love you, I love you”

Saying it once or twice just isn’t enough

I can’t spare it, I can’t hide it

To be open-hearted, I will confess my feelings

Really, only you, only you are everything to me

Even when I see you and when I hold you

It’s difficult for me

Whenever I say them again, I tremble

Words that have never been easy to say,

“I love you”

You’re coming to me, you’re looking at me

My heart is beating

That I get to see you like this everyday

Is it miracle?

Is this a continued dream?

“I love you, I love you, I love you”

No matter how many times you ask

The answer will always be the same

Even if I talk with my back to you or try to pretend

In the end, my heart is like this

Really, only you, only you are everything to me

I see you and hold you again, my tears are falling

How could you come to me?

As unbelievable as that seems to me

I love you

[My Heart Is Beating – K.Will]

Ia menyanyikan lirik terakhir sambil menatap lekat ke arahku. Ia tersenyum mengucapkan kata itu. Oh God! Senyumannya tak pernah berubah, dan selalu sama. Senyuman yang sangat kurindukan. Tuhan, kenapa kau menciptakan manusia seperti dia? Aku sungguh mencintainya.

-oOo-

Aku beranjak dari tempatku, dan menghampiri yeoja yang sangat kucintai. Dapat kulihat samar-samar matanya yang berkaca-kaca. Aku memberikan senyuman terbaikku untuknya. Aku semakin mendekatkan jarakku dengannya. Lalu aku berlutut di hadapannya, dan mengulurkan tanganku.

“Would you forgive me?” tanyaku menatap lekat kedua bola matanya itu. Ia masih diam, tak bergeming sama sekali.

“I’m swear. I only love you. There’s no other girl in my heart. Can you feel it?” ujarku meraih tangannya dan menempelkannya dada kiriku. Tempat di mana jantungku berada.

“My heart is beating. It’s beating abnormal when I with you. You can feel it rite? I’m so sorry for that time. That was just a fake accident that I made to get you envy with me. I’m so sorry. I’m swear, I was not kiss Vic noona at that time. That was all just a fake” ujarku menjelaskan semuanya.

“So, would you forgime me? Please?” tanyaku memohon. Kutatap lekat-lekat kedua bola matanya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan tangis—sepertinya karena aku tdak yakin. Tiba-tiba ia memelukku, terdegar isakan tangis dari mulutnya.

“Ne, aku memaafkanmu oppa, selalu. Mianhae, aku salah paham, mianhae aku pura-pura hilang ingatan. Mianhae, membuatmu sedih. Jeongmal mianhaeyo. Geurigo, gomawoyo.. You want to wait for me. Jeongmal, neomu neomu neomu gomawoyo” ujarnya. Aku tersenyum mendengar perkataannya. Tanganku kini berada di puncak kepalanya, menepuk pelan puncak kepalanya.

“Saranghae”

“Nado oppa”

Klik. Tiba-tiba semua lampu menyala, dan seluruh ruangan menjadi terang. Harin melepaskan pelukanku dan melihat ke sekitarnya.

“CHUKKAEE!!” ujar Minrin, Jonghyun, Key, Minho dan Taemin bersamaan, yang tiba-tiba berada di hadapan kami.

“Finally, kalian berbaikan juga” ujar Jonghyun lega.

“Ne. Chukkae hyung, Harin-a” ujar Taemin tersenyum.

“Kau tau tidak Harin, selama kau mendiamkan onew hyung, ia—“ aku segera membekap mulut Minho agar ia tidak berbicara macam-macam. Aku tidak ingin kegalauanku terekspos di depan Harin.

“Ya! Hyung!” protes Minho saat ia berhasil lepas dariku. Aku melemparkan tatapan tajamku ke arahnya. Dan ia hanya mendengus kesal. Harin tertawa melihat tingkahku dan Minho. ‘Aigoo~ yeppeuda’ batinku.

Kruyuuukk

“Suara apa itu?” tanya Harin menghentikan tawanya.

“Hehe, itu suara perutku” ujar Minrin innocent. Aku dan yang lainnya tertawa melihat tingkah Minrin.

“Dasar” ujar Harin menggelengkan kepalanya melihat tingkah eonninya itu.

“Ya, kenapa noona tidak bilang jika sudah lapar? Kajja! Kita makan” ujar Key menarik tangan Minrin ke sebuah meja besar yang tak jauh dari meja candle light dinnerku dan Harin. Minrin menundukkan kepalanya, merasakan wajahnya yang memerah. Aku tertawa melihat tingkah mereka. Aigoo~

“Hyung, aku juga lapar..” rengek Taemin pada Minho dan Jonghyun.

“Arasseo, kajja! Kita makan” ujar Minho melangkahkan kakinya ke tempat Key dan Minrin, yang diikuti oleh langkah kaki Taemin dan Jonghyun.

“Wanna have a candle light dinner with me?” tanyaku pada yeoja di hadapanku—Park Harin.

“Yes, actually I want” ujarnya tersenyum. Kutarik kursi yang akan di dudukinya, dan mempersilahkannya untuk duduk.

“Gomawo” ujarnya tersenyum. Aku menganggukkan kepalaku dan beranjak untuk duduk di kursi di hadapannya.

“Cieeee” goda Jonghyun. Key, Minho, Taemin dan Minrin padaku dan Harin.

“Ya! Tidak bisakah kalian diam?” protes Harin dengan wajahnya yang sudah seperti kepiting. Aigoo~ neomu kyeopta! >.<

“Kkkk~ biarkan saja mereka” ujarku membelai pipinya yang memerah. Aku terkikik melihat wajahnya yang memerah itu.

“Ya! Oppa kenapa malah tertawa?” protesnya menggembungkan pipinya. Aish! Neomu kyeopta! >.<

Secepat kilat aku mencium pipinya yang memerah.

“Saranghae” bisikku di telinganya. Kucium sekilas bibirnya, lalu menjauhkan wajahku dari wajahnya. Ia masih terpaku dengan apa yang kulakukan tadi padanya.

“Woohoooo~~” terdengar sorak-sorai dari tempat Minho, Jjong, Taemin, Key dan Minrin. Ia seakan tersadar dari dunianya saat mendengar sorak sorai dari Minho dkk. Dapat kulihat kini wajahnya benar-benar merah! Sepertinya jika aku menaruh telur di wajahnya, pasti telur itu akan langsung matang!

“Ya! Lee Jinki pabooo!!”

 

END

One thought on “I Always Here For You [2/2 END]

  1. mian baru comment di part ini.
    endingnya manis bgt deh,,jd pengen. *tarik minho* :D
    di tunggu ff selanjutnya. hwating :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s